Anda di halaman 1dari 19

Materi Kuliah Teknik Tenaga Listrik

Oleh : Ir. Ahmad Syuhri, MT

1. SISTEM TENAGA LISTRIK


1.1. Elemen Sistem Tenaga
Salah satu cara yang paling ekonomis, mudah dan aman untuk
mengirimkan energi adalah melalui bentuk energi listrik. Pada pusat
pembangkit, sumberdaya energi primer seperti bahan baker fosil (minyak, gas
alam, dan batubara), hidro, panas bumi, dan nuklir diubah menjadi energi
listrik. Generator sinkron mengubah energi mekanis yang dihasilkan pada
poros turbin menjadi energi listrik.
Melalui transformator penaik tegangan (step-up transformer), energi listrik
ini kemudian dikirimkan melalui saluran transmisi bertegangan tinggi menuju
pusat-pusat beban. Peningkatan tegangan dimaksudkan untuk mengurangi
jumlah arus yang mengalir pada saluran transmisi yang dengan demikian
berarti rugi-rugi panas (heat-loss) I2R dapat dikurangi. Ketika saluran
transmisi mencapai pusat beban, tegangan tersebut kembali diturunkan
menjadi tegangan menengah, melalui transformator penurun tegangan (step-
down transformer).
Di pusat-pusat beban yang terhubung dengan saluran distribusi, energi
listrik ini diubah menjadi bentuk-bentuk energi terpakai lainnya seperti energi
mekanis (motor), penerangan, pemanas, pendingin, dan sebagainya.

Satuan listrik :
Arus listrik (I) => ampere
Tegangan listrik (V) = beda potensial => volt
Tahanan (R) = resistansi => ohm
Reaktansi (X)=> ohm
Impedansi (Z)= R ± jX => ohm
Daya (S) = P ± jQ => volt ampere
Daya aktif (P) => watt
Daya reaktif (Q) => volt ampere reaktif
Energi (E) => watt-hour (watt-jam)
Faktor daya (cos ϕ) => tidak ada satuan

1.2. Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU)


Pembangkit listrik jenis ini memanfaatkan bahan bakar minyak, gas alam,
atau batubara untuk membangkitkan panas dan uap pada BOILER. Uap ini
kemudian dipergunakan untuk memutar turbin yang dikopelkan langsung
dengan sebuah generator sinkron. Uap yang telah melalui turbin kemudian
menjadi uap bertekanan dan bersuhu rendah. Uap ini kemudian dilewatkan
melalui kondenser yang menyerap panas uap tersebut sehingga uap tersebut
berubah menjadi air yang kemudian dipompakan kembali menuju boiler.

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 1


Gambar : Skema PLTU

1.3. Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG)


Sebagaimana halnya Pusat Listrik Tenaga Diesel, PLTG merupakan mesin
dengan proses pembakaran dalam (internal combustion). Bahan baker berupa
minyak atau gas alam dibakar di dalam ruang pembakar (combustor). Udara
yang memasuki kompresor setelah mengalami tekanan bersama-sama dengan
bahan baker disemprotkan ke ruang pembakar untuk melakukan proses
pembakaran. Gas panas sebagai hasil pembakaran ini kemudian bekerja
sebagai fluida yang memutar roda turbin yang terkopel dengan generator
sinkron.

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 2


Gambar : Skema PLTG

1.4. Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)


Pada reactor air tekan (pressurized water reactor) terdapat dua rangkaian
yang seolah-olah terpisah. Pada rangkaian pertama bahan baker uranium-235
yang diperkaya dan tersusun dalam pipa-pipa berkelompok, disundut untuk
menghasilkan panas dalam reactor. Karena air dalam bejana penuh, maka
tidak terjadi pembentukan uap, melainkan air menjadi panas dan bertekanan.
Air panas yang bertekanan tersebut kemudian mengalir ke rangkaian kedua
melalui suatu generator uap yang terbuat dari baja. Generator uap ini
kemudian menghasilkan uap yang memutar turbin dan proses selanjutnya
mengikuti siklus tertutup sebagaimana berlangsung pada turbin uap PLTU.

Gambar : Skema PLTN

1.5. Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA)


Penggunaan tenaga air mungkin merupakan bentuk konversi energi tertua
yang pernah dikenal manusia. Perbedaan vertical antara batas atas dengan
batas bawah bendungan di mana terletak turbin air, dikenal sebagai tinggi
terjun. Tinggi terjun ini mengakibatkan air yang mengalir akan memperoleh

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 3


energi kinetic yang kemudian mendesak sudu-sudu turbin. Bergantung kepada
tinggi terjun dan debit air, dikenal tiga macam turbin yaitu: Pelton, Francis dan
Kaplan.

Gambar : Skema PLTA

2. DASAR ELEKTROMEKANIK
2.1. Konversi Energi Elektromekanik
Konversi energi baik dari energi listrik menjadi energi mekanik (motor)
maupun sebaliknya dari energi mekanik menjadi energi listrik (generator)
berlangsung melalui medium medan magnet. Energi yang akan diubah dari
satu system ke system lainnya, sementara akan tersimpan pada medium
medan magnet untuk kemudian dilepaskan menjadi energi system lainnya.
Dengan demikian, medan magnet di sini selain berfungsi sebagai tempat
penyimpanan energi juga sekaligus sebagai medium untuk mengkopel
perubahan energi.
Dengan mengingat hukum kekekalan energi, proses konversi energi
elektromekanik dapat dinyatakan sebagai berikut (untuk motor):

(Energi Listrik sebagai input) = (Energi Mekanik sebagai output + Energi


panas) + (Energi pada medan magnet dan rugi-rugi magnetic)

atau dalam persamaan differensial, konversi energi dari elektris ke mekanis


adalah sebagai berikut:
dWE = dWM + dWF

Ini hanya berlaku ketika proses konversi energi sedang berlangsung pada
keadaan dinamis yang transient. Untuk keadaan tunak, dimana fluks
merupakan harga yang konstan, maka
dWF = 0
dWE = dWM

2.2. Gaya Gerak Listrik


Apabila sebuah konduktor digerakkan tegak lurus sejauh ds memotong
suatu medan magnet dengan kerapatan fluks B, maka perubahan fluks pada
konduktor dengan panjang efektif l adalah:
dφ = B l ds
Dari Hukum Faraday diketahui bahwa gaya gerak listrik (ggl)
E = dφ/dt

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 4


Maka e = B l ds/dt; dimana ds/dt = v = kecepatan
Jadi, e = B l v

2.3. Kopel
Arus listrik I yang dihasilkan di dalam suatu medan magnet dengan
kerapatan fluks B akan menghasilkan suatu gaya F sebesar:
F=BIl
Jika jari-jari rotor adalah r, maka kopel yang dibangkitkan adalah
T=Fr
Perlu diingat bahwa saat gaya F dibangkitkan, konduktor bergerak di dalam
medan magnet da seperti diketahui akan menimbulkan gaya gerak listrik yang
merupakan reaksi (lawan) terhadap tegangan penyebabnya. Agar proses
konversi energi listrik menjadi energi mekanik (motor) dapat berlangsung,
tegangan sumber harus lebih besar daripada gaya gerak listrik lawan.
Begitu pula, suatu gerak konduktor di dalam medan magnet akan
membangkitkan tegangan e = B l V dan bila dihubungkan dengan beban, akan
mengalir arus listrik I atau energi mekanik berubah menjadi energi listrik
(generator). Arus listrik yang mengalir pada konduktor tadi merupakan medan
magnet pula dan akan berinteraksi dengan medan magnet yang telah ada (B).
Interaksi medan magnet merupakan gaya reaksi (lawan) terhadap gerak
mekanik yang diberikan. Agar konversi energi mekanik ke energi listrik dapat
berlangsung, energi mekanik yang diberikan haruslah lebih besar dari gaya
reaksi tadi.

2.4. Mesin Dinamik Elementer


Pada umumnya mesin dinamik terdiri atas bagian yang berputar disebut
rotor dan bagian yang diam disebut stator. Di antara rotor dan stator terdapat
celah udara. Stator merupakan kumparan medan yang berbentuk kutub sepatu
dan rotor merupakan kumparan jangkar dengan belitan konduktor yang saling
dihubungkan ujungnya (lihat gambar) untuk mendapatkan tegangan induksi
(ggl).

Jika kumparan rotor diputar dengan arah berlawanan dari arah jarum jam,
tegangan akan dibangkitkan dengan arah yang berlawanan pada kedua ujung
rotor yang tidak dihubungkan.
Simulasi mesin dinamis (generator) dapat dilihat pada situs ini.

2.5. Interaksi Medan Magnet


Kerja suatu mesin dinamis dapat juga dilihat dari segi adanya interaksi
antar medan magnet stator dan rotor, yaitu:
F=BIl

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 5


Seperti diketahui, arus listrik (I) pada persamaan di atas akan
menimbulkan fluks juga di sekitar konduktor yang dilalui. Bila kerapatan fluks
akibat arus listrik dinyatakan dengan Bs (pada stator), sedang kerapatan fluks
akibat kumparan medan adalah Br (pada rotor), maka dapat dituliskan:
T = K Br Bs sin δ
Dimana
δ adalah sudut antara kedua sumbu medan magnet Br dan Bs
K adalah konstanta l x r
Sudut δ dikenal sebagai sudut kopel atau sudut daya dengan harga
maksimum δ = 90o. Dengan menganggap Br dan Bs sebagai fungsi arus rotor
dan arus stator, persamaan kopel menjadi:
T = K Ir Is sin δ
Dengan demikian, kopel terjadi sebagai interaksi antara dua medan magnet
atau dua arus.

2.6. Derajat Listrik


Pada setiap satu kali putaran mesin, tegangan induksi yang ditimbulkan sudah
menyelesaikan p/2 kali putaran. Maka untuk mesin 4 kutub, satu kali putaran
mekanik mesin (360o) berarti sama dengan dua kali putaran listrik (720o).
Persamaan umumnya adalah sebagai berikut:
θe = (p/2) θm
p = jumlah kutub mesin
θe = sudut listrik
θm = sudut mekanik

2.7. Frekuensi
Dari persamaan di atas, diketahui bahwa untuk setiap satu siklus tegangan
listrik yang dihasilkan, mesin telah menyelesaikan p/2 kali putaran. Karena itu
frekuensi gelombang tegangan adalah:
f = (p/2) (n/60)
n = rotasi per menit
n/60 = rotasi perdetik
Kecepatan sinkron untuk mesin arus bolak-balik lazim dinyatakan dengan
ns = 120 (f/p)
Jadi misalnya untuk generator sinkron yang bekerja dengan frekuensi 50
putaran per detik dan mempunyai jumlah kutub p=2, maka kecepatan
berputar mesin tersebut adalah:
ns = (120 x 50)/2 = 3000 rpm.
Sumber lainnya tentang elektromagnetik:

3. MOTOR INDUKSI
Motor induksi merupakan motor arus bolak balik (ac) yang paling luas
penggunaannya. Berdasarkan penggunaannya, motor induksi paling banyak
digunakan karena memiliki keuntungan, antara lain :
- Konstruksinya sederhana dan dapat diandalkan

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 6


- Harganya murah
- Mempunyai effisiensinya tinggi
- Tidak menggunakan sikat sehingga rugi yang ditimbulkan akibat gesekan
sangat kecil.
- Power Faktor (PF) cukup baik.
- Perawatannya muda
- Penggunaan peralatan asut sangat sederhana.
Walaupun memiliki kelebihan, pada kenyataannya motor induksi mempunyai
kekurangan/kerugian yaitu:
- Pengaturan kecepatannya tidak dapat dilaksanakan tanpa mengurangi
effisiensinya.
- Kecepatan akan menurun seiring dengan pertambahan beban.
- Arus asutnya besar dan torsi startingnya kecil.
Penamaannya berasal dari kenyataan bahwa arus rotor motor ini bukan diperoleh
dari sumber tertentu, tetapi merupakan arus yang terinduksi sebagai akibat adanya
perbedaan relative antara putaran rotor dengan medan putar (rotating magnetic field)
yang dihasilkan oleh arus stator.
Belitan stator yang dihubungkan dengan suatu sumber tegangan tiga fasa akan
menghasilkan medan magnet yang berputar dengan kecepatan sinkron (ns =
120f/2p). Medan putar pada stator tersebut akan memotong konduktor-konduktor
pada rotor, sehingga terinduksi arus; dan sesuai dengan Hukum Lentz, rotor pun akan
ikut berputar mengikuti medan putar stator.
Perbedaan putaran relative antara stator dan rotor disebut slip. Bertambahnya
beban, akan memperbesar kopel motor, yang oleh karenanya akan memperbesar pula
arus induksi pada rotor, sehingga slip antara medan putar stator dan putaran rotor
pun akan bertambah besar. Jadi , bila beban motor bertambah, putaran rotor
cenderung menurun. Dikenal dua tipe motor induksi yaitu motor induksi dengan rotor
belitan dan rotor sangkar.

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 7


Gambar : Motor Induksi.
3.1 Medan Putar
Sebelum kita membahas bagaimana rotating magnetic field (medan putar)
menyebabkan sebuah motor berputar, marilah kita tinjau bagaimana medan
putar ini dihasilkan. Gambar berikut menunjukkan sebuah stator tiga fasa
dengan suplai arus bolak balik tiga fasa pula.
Belitan stator terhubung wye (Y). Dua belitan pada masing-masing fasa
dililitkan dalam arah yang sama. Sepanjang waktu, medan magnet yang
dihasilkan oleh setiap fasa akan tergantung kepada arus yang mengalir melalui
fasa tersebut. Jika arus listrik yang melalui fasa tersebut adalah nol (zero),
maka medan magnet yang dihasilkan akan nol pula. Jika arus mengalir dengan
harga maksimum, maka medan magnet berada pada harga maksimum pula.
Karena arus yang mengalir pada system tiga fasa mempunyai perbedaan 120o,
maka medan magnet yang dihasilkan juga akan mempunyai perbedaan sudut
sebesar 120o pula.
Ketiga medan magnet yang dihasilkan akan membentuk satu medan, yang
akan beraksi terhadap rotor. Untuk motor induksi, sebuah medan magnet
diinduksikan kepada rotor sesuai dengan polaritas medan magnet pada stator.
Karenanya, begitu medan magnet stator berputar, maka rotor juga berputar
agar bersesuaian dengan medan magnet stator.

Gambar belitan stator tiga fasa.


Pada sepanjang waktu, medan magnet dari masing-masing fasa bergabung
untuk menghasilkan medan magnet yang posisinya bergeser hingga beberapa
derajat. Pada akhir satu siklus arus bolak balik, medan magnet tersebut telah
bergeser hingga 360o, atau satu putaran. Dan karena rotor juga mempunyai
medan magnet berlawanan arah yang diinduksikan kepadanya, rotor juga akan
berputar hingga satu putaran. Penjelasan mengenai ini dapat dilihat pada
gambar selanjutnya.

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 8


Putaran medan magnet dijelaskan pada gambar di bawah dengan
“menghentikan” medan tersebut pada enam posisi. Tiga posisi ditandai dengan
interval 60o pada gelombang sinus yang mewakili arus yang mengalir pada
tiga fasa A,B, dan C. Jika arus mengalir dalam suatu fasa adalah positif, medan
magnet akan menimbulkan kutub utara pada kutub stator yang ditandai
dengan A’, B’, dan C’.

Gambar putaran motor induksi dan medan putar.


Pada posisi T1, arus pada fasa C berada pada harga positif maksimumnya.
Pada saat yang sama, arus pada fasa A dan B berada pada separuh harga
negative maksimumnya. Medan magnet yang dihasilkan terbentuk secara
vertical dengan arah ke bawah, dengan kekuatan medan maksimum terjadi
sepanjang fasa C, antara kutub C (utara) dengan C’ (selatan). Medan magnet
ini dibantu oleh medan-medan yang lebih lemah yang dihasilkan sepanjang
fasa A dan B, dengan kutub-kutub A’ dan B’ menjadi kutub-kutub utara dan
kutub-kutub A dan B menjadi kutub-kutub selatan.
Pada posisi T2, gelombang sinus arus telah berotasi sebanyak 60 derajat
listrik. Pada posisi ini, arus dalam fasa A telah naik hingga harga negative
maksimumnya. Arus pada fasa B mempunya arah yang berlawanan dan berada
pada separuh harga maksimum positifnya. Begitu pula arus pada fasa C telah
turun hingga separuh dari harga maksimum positifnya. Medan magnet yang
dihasilkan terbentuk ke kiri arah bawah, dengan kekuatan medan maksimum
sepanjang fasa A, antara kutub-kutub A’ (utara) dan A (selatan). Medan
magnet ini dibantu oleh medan-medan yang lebih lemah yang timbul
sepanjang fasa B dan C, dengan kutub-kutub B dan C menjadi kutub-kutub
utara dan kutub-kutub B’ dan C’ menjadi kutub-kutub selatan. Di sini terlihat
bahwa medan magnet pada stator motor secara fisik telah berputar sebanyak
60o.
Pada posisi T3, gelombang sinus arus berputar lagi 60 derajat listrik dari
posisi sebelumnya hingga total rotasi pada posisi ini sebesar 120 derajat listrik.
Pada posisi ini, arus dalam fasa B telah naik hingga mencapai harga positif
maksimumnya. Arus pada fasa A telah turun hingga separuh dari harga
negative maksimumnya, sementara arus pada fasa C telah berbalik arah dan
berada pada separuh harga negative maksimumnya pula. Medan magnet yang

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 9


dihasilkan mengarah ke atas kiri, dengan kekuatan medan maksimum
sepanjang fasa B, antara kutub B (utara) dan B’ (selatan). Medan magnet ini
dibantu oleh medan-medan yang lebih lemah sepanjang fasa A dan C, dengan
kutub-kutub A’ dan C’ menjadi kutub-kutub utara dan kutub-kutub A dan C
menjadi kutub-kutub selatan. Sehingga terlihat di sini bahwa medan magnet
pada stator telah berputar 60o lagi dengan total putaran sebesar 120o.
Pada posisi T4, gelombang sinus arus telah berotasi sebanyak 180 derajat
listrik dari titik T1 sehingga hubungan antara arus-arus fasa adalah indentik
dengan posisi T1 kecuali bahwa polaritasnya telah berbalik. Karena fasa C
kembali pada harga maksimum, medan magnet yang dihasilkan sepanjang
fasa C kembali berada pada harga maksimum, medan magnet yang dihasilkan
sepanjang fasa C akan memiliki kekuatan medan maksimum. Meskipun
demikian, dengan arus yang mengalir dalam arah yang berlawanan pada fasa
C, medan magnet yang timbul mempunyai arah ke atas antara kutub C’
(utara) dan C (selatan). Terlihat bahwa medan magnet sekarang telah berotasi
secara fisik sebanyak 180o dari posisi awalnya.
Pada posisi T5, fasa A berada pada harga positif maksimumnya, yang
menghasilkan medan magnet ke arah atas sebelah kanan. Kembali, medan
magnet secara fisik telah berputar 60o dari titik sebelumnya sehingga total
rotasi sebanyak 240o. Pada titik T6, fasa B berada pada harga maksimum
negative yang menghasilkan medan magnet ke arah bawah sebelah kanan.
Medan magnet pun telah berotasi sebesar 60o dari titik T5 sehingga total rotas
adalah 300o.
Akhirnya, pada titik T7, arus kembali ke polaritas dan nilai yang sama
seperti pada Posisi T1. Karenanya, medan magnet yang dihasilkan pada posisi
ini akan identik dengan pada posisi T1. Dari pembahasan ini, terlihat bahwa
untuk satu putaran penuh gelombang sinus listrik (360o), medan magnet yang
timbul pada stator sebuah motor juga berotasi satu putaran penuh (360o).
Sehingga, dengan menerapkan tiga-fasa AC kepada tigfa belitan yang
terpisah secara simetris sekitar stator, medan putar (rotating magnetic field)
juga timbul.

3.2. SLIP
Jika arus bolak balik dikenakan pada belitan stator dari sebuah motor
induksi, sebuah medan putar timbul. Medan putar ini memotong batang rotor
dan menginduksikan arus kepada rotor. Arah aliran arus ini dapat ditentukan
dengan menggunakan aturan tangan kiri untuk generator.
Arus yang diinduksikan ini akan menghasilkan medan magnet di sekitar
penghantar rotor, berlawanan polaritas dari medan stator, yang akan mengejar
medan magnet pada stator. Karena medan pada stator terus menerus
berputar, rotor tidak pernah dapat menyamakan posisi dengannya alias selalu
tertinggal dan karenanya akan terus mengikuti putaran medan pada stator
sebagaimana ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 10


Gambar Induction Motor
Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa rotor pada motor induksi tidak
pernah dapat berputar dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan medan
putar. Jika kecepatan rotor sama dengan keceparan medan putar stator, maka
tidak ada gerak relatif antara keduanya, dan tidak akan ada induksi EMF
kepada rotor. Tanpa induksi EMF ini, tidak akan ada interaksi medan yang
diperlukan untuk menimbulkan gerak. Rotor, karenanya ahrus berputar dengan
kecepatan yang lebih rendah dari kecepatan medan putar stator jika gerak
relatif tersebut harus ada antara keduanya.
Persentase perbedaan antara kecepatan rotor dan kecepatan medan putar
disebut dengan slip. Semakin kecil slip, semakin dekat pula kecepatan rotor
dengan kecepatan medan putar. Persen slip dapat dicari menggunakan
Equation (12-1).

dimana

NS= kecepatan sinkron (rpm) ; NR= kecepatan rotor (rpm)


Kecepatan medan putar atau kecepatan sinkron dari suatu motor dapat
dicari dengan menggunakan Equation (12-2).

dimana

Contoh:
Sebuah motor induksi dua kutub, 60 Hz, mempunyai kecepatan pada beban penuh
sebesar 3554 rpm. Berapakah persentase slip pada beban penuh?

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 11


Solusi:

3.3. Torque
Torque motor induksi AC tergantug kepada kekuatan medan rotor dan
stator yang saling berinteraksi dan hubungan fasa antara keduanya. Torque
dapat dihitung dengan Equation (12-3).

dimana

Selama operasi normal, K, , dan cos adalah konstan, sehingga torque


berbanding lurus dengan arus rotor. Arus rotor meningkat dengan proporsi
yang sama dengan slip. Perubahan torque terhadap slip menunjukkan bahwa
begitu slip naik dari nol hingga –10%, torque naik secara linier. Begitu torque
dan slip naik melebihi torque beban penuh, maka torque akan mencapai harga
maksimum sekitar 25% slip. Torque maksimum disebut breakdown torque
motor. Jika beban dinaikkan melebihi titik ini, motor akan stall dan segera
berhenti. Umumnya, breakdown torque bervariasi dari 200 hingga 300%
torque beban penuh. Torque awal (starting torque) adalah nilai torque pada
100% slip dan normalny 150 hingga 200% torque beban penuh. Seiring
dengan pertambahan kecepatan dari rotor, torque akan naik hingga breakdown
torque dan turun mencapai nilai yang diperlukan untuk menarik beban motor
pada kecepatan konstan, biasanya antara 0 – 10%. Gambar berikut
menunjukkan karakteristik Torque terhadap slip.

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 12


3.4. Motor Satu Fasa
Jika dua belitan stator dengan impedansi yang tidak sama dipisahkan
sejauh 90 derajat listrik dan terhubung secara parallel ke sumber satu fasa,
medan yang dihasilkan akan tampak berputar. Ini disebut dengan pemisahan
fasa (phase splitting).

Pada motor fasa terpisah (split-phase motor), dipergunakanlah lilitan


starting untuk penyalaan. Belitan ini mempunyai resistansi yang lebih tinggi
dan reaktansi yang lebih rendah dari belitan utama. Jika tegangan yang sama
VT dikenakan pada belitan starting dan utama, arus pada belitan utama (IM)
tertinggal dibelakang arus pada belitan starting (IS). Sudut antara kedua
belitan mempunyai beda fasa yang cukup untuk menimbulkan medan putar
untuk menghasilkan torque awal (starting torque). Ketika motor mencapai 70
hingga 80% dari kecepatan sinkron, saklar sentrifugal pada sumbu motor
membuka dan melepaskan belitan starting. Motor satu fasa biasanya
digunakan untuk aplikasi kecil seperti peralatan rumah tangga (contoh mesin
pompa).

3.5. Motor Sinkron


Motor sinkron serupa dengan motor induksi pada mana keduanya
mempunyai belitan stator yang menghasilkan medan putar. Tidak seperti
motor induksi, motor sinkron dieksitasi oleh sebuah sumber tegangan DC di
luar mesin dan karenanya membutuhkan slip ring dan sikat (brush) untuk
memberikan arus kepada rotor. Pada motor sinkron, rotor terkunci dengan
medan putar dan berputar dengan kecepatan sinkron. Jika motor sinkron
dibebani ke titik dimana rotor ditarik keluar dari keserempakannya dengan
medan putar, maka tidak ada torque yang dihasilkan, dan motor akan
berhenti. Motor sinkron bukanlah self-starting motor karena torque hanya akan
muncul ketika motor bekerja pada kecepatan sinkron; karenanya motor
memerlukan peralatan untuk membawanya kepada kecepatan sinkron.
Motor sinkron menggunakan rotor belitan. Jenis ini mempunyai kumparan
yang ditempatkan pada slot rotor. Slip ring dan sikat digunakan untuk
mensuplai arus kepada rotor.

Penyalaan Motor Sinkron


Sebuah motor sinkron dapat dinyalakan oleh sebuah motor dc pada satu
sumbu. Ketika motor mencapai kecepatan sinkron, arus AC diberikan kepada
belitan stator. Motor dc saat ini berfungsi sebagai generator dc dan
memberikan eksitasi medan dc kepada rotor. Beban sekarang boleh diberikan

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 13


kepada motor sinkron. Motor sinkron seringkali dinyalakan dengan
menggunakan belitan sangkar tupai (squirrel-cage) yang dipasang di hadapan
kutub rotor. Motor kemudian dinyalakan seperti halnya motor induksi hingga
mencapai –95% kecepatan sinkron, saat mana arus searah diberikan, dan
motor mencapai sinkronisasi. Torque yang diperlukan untuk menarik motor
hingga mencapai sinkronisasi disebut pull-in torque.
Seperti diketahui, rotor motor sinkron terkunci dengan medan putar dan
harus terus beroperasi pada kecepatan sinkron untuk semua keadaan beban.
Selama kondisi tanpa beban (no-load), garis tengah kutub medan putar dan
kutub medan dc berada dalam satu garis (gambar dibawah bagian a). Seiring
dengan pembebanan, ada pergeseran kutub rotor ke belakang, relative
terhadap kutub stator (gambar bagian b). Tidak ada perubahan kecepatan.
Sudut antara kutub rotor dan stator disebut sudut torque .

Gambar sudut torque (torque angle)


Jika beban mekanis pada motor dinaikkan ke titik dimana rotor ditarik
keluar dari sinkronisasi , maka motor akan berhenti. Harga maksimum
torque sehingga motor tetap bekerja tanpa kehilangan sinkronisasi disebut
pull-out torque.

4. GENERATOR AC (ALTERNATOR)
Hampir semua tenaga listrik yang dipergunakan saat ini bekerja pada sumber
tegangan bolak balik (ac), karenanya, generator ac adalah alat yang paling penting
untuk menghasilkan tenaga listrik. Generator ac, umumnya disebut alternator,
bervariasi ukurannya sesuai dengan beban yang akan disuplai. Sebagai contoh,
alternator pada PLTA mempunyai ukuran yang sangat besar, membangkitkan ribuan
kilowatt pada tegangan yang sangat tinggi. Contoh lainnya adalah alternator di mobil,
yang sangat kecil sebagai perbandingannya. Beratnya hanya beberapa kilogram dan
menghasilkan daya sekitar 100 hingga 200 watt, biasanya pada tegangan 12 volt.
Sumber lain : http://www.rowand.net/Shop/Tech/AlternatorGeneratorTheory.htm

Dasar-dasar Generator AC
Berapapun ukurannya, semua generator listrik, baik ac maupun dc,
bergantung kepada prinsip induksi magnet. EMF diinduksikan dalam sebuah
kumparan sebagai hasil dari (1) kumparan yang memotong medan magnet,
atau (2) medan magnet yang memotong sebuah kumparan. Sepanjang ada
gerak relative antara sebuah konduktor dan medan magnet, tegangan akan
diinduksikan dalam konduktor. Bagian generator yang mendapat induksi
tegangan adalah armature. Agar gerak relative terjadi antara konduktor dan

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 14


medan magnet, semua generator haruslah mempunyai dua bagian mekanis
yaitu rotor dan stator.

ROTATING-ARMATURE ALTERNATOR
Alternator armature bergerak (rotating-armature alternator) mempunyai
konstruksi yang sama dengan generator dc yang mana armature berputar
dalam sebuah medan magnet stasioner. Pada generator dc, emf dibangkitkan
dalam belitan armature dan dikonversikan dari ac ke dc dengan menggunakan
komutator (sebagai penyearah). Pada alternator, tegangan ac yang
dibangkitkan tidak diubah menjadi dc dan diteruskan kepada beban dengan
menggunakan slip ring. Armature yang bergerak dapat dijumpai pada
alternator untuk daya rendah dan umumnya tidak digunakan untuk daya listrik
dalam jumlah besar.

ROTATING-FIELD ALTERNATORS
Alternator medan berputar mempunyai belitan armature yang stasioner
dan sebuah belitan medan yang berputar. Keuntungan menggunakan system
belitan armature stasioner adalah bahwa tegangan yang dihasilkan dapat
dihubungkan langsung ke beban.
Jenis armature berputar memerlukan slip ring dan sikat untuk
menghantarkan arus dari armature ke beban. Armature, sikat dan slip ring
sangat sulit untuk diisolasi, dan percikan bunga api dan hubung singkat dapat
terjadi pada tegangan tinggi. Karenanya, alternator tegangan tinggi biasanya
menggunakan jenis medan berputar. Karena tegangan yang dikenakan pada
medan berputar adalah tegangan searah yang rendah, problem yang dijumpai
pada tegangan tinggi tidak terjadi.
Armature stasioner, atau stator, pada alternator jenis ini mempunyai
belitan yang dipotong oleh medan putar (rotating magnetic field). Tegangan
yang dibangkitkan pada armature sebagai hasil dari aksi potong ini adalah
tegangan ac yang akan dikirimkan kepada beban.
Stator terdiri dari inti besi yang dilaminasi dengan belitan armature yang
melekat pada inti ini.

Sumber : http://www.adtdl.army.mil/cgi-bin/atdl.dll/fm/55-509-1/Ch13.htm

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 15


4.2. Fungsi-Fungsi Komponen Alternator
Secara umum generator ac medan berputar terdiri atas sebuah alternator dan
sebuah generator dc kecil yang dibangun dalam satu unit. Keluaran dari
alternator merupakan tegangan ac untuk menyuplai beban dan generator dc
dikenal sebagai exciter untuk menyuplai arus searah bagi medan putar.

Gambar : Ggenerator AC dan Schematic-nya


Exciter adalah sebuah generator dc eksitasi sendiri dengan belitan shunt.
Medan exciter menghasilkan intensitas fluks magnetic antara kutub-kutubnya.
Ketika armature exciter berotasi dalam fluks medan exciter, tegangan
diinduksikan dalam belitan armature exciter. Keluaran dari komutator exciter
dihubungkan melalui sikat dan slip ring ke medan alternator. Karena arusnya
adalah arus searah, maka arus selalu mengalir dalam satu arah melalui medan
alternator. Sehingga, medan magnet dengan polaritas tetap selalu terjadi
sepanjang waktu dalam belitan medan alternator. Ketika alternator diputar,
fluks magnetiknya dilalukan sepanjang belitan armature alternator. Tegangan
bolak balik pada belitan armature generator ac dihubungkan ke beban melalui
terminal.

PRIME MOVER (Penggerak Utama)


Semua generator, besar dan kecil, ac dan dc, membutuhkan sebuah
sumber daya mekanik untuk memutar rotornya. Sumber daya mekanis ini
disebut prime mover. Prime mover dibagi dalam dua kelompok yaitu untuk
high-speed generator dan low-speed generator. Turbin gas dan uap pada PLTG
dan PLTU adalah penggerak utama berkecepatan tinggi sementara mesin
pembakaran dalam (internal combustion engine), air pada PLTA dan motor
listrik dianggap sebagai prime mover berkecepatan rendah.
Jenis prime mover memainkan peranan penting dalam desain alternator
karena kecepatan pada mana rotor diputar menentukan karakteristik operasi
dan konstruksi alternator.

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 16


ROTOR ALTERNATOR
Ada dua jenis rotor yang digunakan untuk alternator medan berputar yaitu
turbine-driven dan salient-pole rotor. Jenis turbine-driven digunakan untuk
kecepatan tinggi dan salient-pole untuk kecepatan rendah. Belitan pada
turbine-driven rotor disusun sedemikian rupa sehingga membentuk dua atau
empat kutub yang berbeda. Belitan-belitan tersebut dilekatkan erat-erat di
dalam slot agar tahan terhadap gaya sentrifugal pada kecepatan tinggi.
Salient-pole rotor seringkali terdiri dari beberapa kutub yang dibelit
terpisah, dibautkan pada kerangka rotor. Salient-pole rotor mempunyai
diameter yang lebih besar dari turbine-driven rotor. Pada putaran per menit
yang sama, salient-pole memiliki gaya sentrifugal yang lebih besar. Untuk
menjaga keamanan dan keselatan sehingga belitannya tidak terlempar keluar
mesin, salient-pole hanya digunakan pada aplikasi keceparan rendah.

4.3. Karakteristik Alternator dan Batasannya


Alternator di-rating berdasarkan tegangan yang dihasilkannya dan arus
maksimum yang mampu diberikannya. Arus maksimum tergantung kepada
rugi-rugi panas dalam armature. Rugi panas ini (rugi daya I2 R) akan
memanaskan konduktor, dan jika berlebihan akan merusak isolasi. Karenanya,
alternator di-rating sesuai dengan arus ini dan tegangan keluarannya dalam
volt-ampere atau untuk skala besar dalam kilovolt-ampere.
Informasi mengenai kecepatan rotasinya, tegangan yang dihasilkan, batas
arusnya dan karakteristik lainnya biasanya ditempelkan pada badan mesin –
name plate.

4.4. Frekuensi
Frekuensi keluaran dari tegangan alternator tergantung kepada kecepatan
rotasi dari rotor dan jumlah kutubnya. Semakin cepat, semakin tinggi pula
frekuensinya. Semakin lambat, semakin rendah pula frekuensinya. Semakin
banyak kutub pada rotor, semakin tinggi pula frekuensinya pada kecepatan
tertentu.
Ketika rotor telah berotasi beberapa derajat sehingga dua kutub
berdekatan (utara dan selatan) telah melewati satu belitan, tegangan yang
diinduksikan dalam belitan tersebut akan bervariasi hingga selesai satu siklus.
Untuk suatu frekuensi yang ditentukan, semakin banyak jumlah kutub,
semakin lambat kecepatan putaran. Prinsip ini dapat dijelaskan sebagai
berikut, misalkan; sebuah generator dua kutub harus berotasi dengan
kecepatan empat kali lipat dari kecepatan generator delapan kutub untuk
menghasilkan frekuensi yang sama dari tegangan yang dibangkitkan.
Frekuensi pada semua generator ac dalam satuan hertz (Hz), yaitu banyaknya
siklus per detik, berkaitan dengan jumlah kutub dan kecepatan rotasi sesuai
dengan persamaan berikut:

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 17


dimana P adalah jumlah kutub, N adalah kecepatan rotasi dalam revolusi per
menit (rpm) dan 120 adalah sebuah konstanta untuk konversi dari menit ke
detik dan dari jumlah kutub ke jumlah pasangan kutub. Sebagai contoh,
sebuah alternator dua kutub, 3600 rpm mempunyai frekuensi 60 Hz,
ditentukan sebagai berikut:

Sebuah generator empat kutub dengan kecepatan 1800 rpm juga bekerja pada
frekuensi 60 Hz.

Sebuah generator enam kutub 500 rpm mempunyai frekuensi

Sebuah generator 12 kutub dengan kecepatan 4000 rpm mempunyai frekuensi

4.5. Pengaturan Tegangan


Sebagaimana yang telah kita lihat, ketika beban pada generator berubah,
tegangan terminal pun ikut berubah. Besarnya perubahan tergantung pada
desain generator.
Pengaturan tegangan pada sebuah alternator adalah perubahan tegangan
dari beban penuh ke tanpa beban, dinyatakan sebagai persentase tegangan
beban penuh, ketika kecepatan dan arus medan dc tetap konstan.

Anggap bahwa tegangan tanpa beban generator adalah 250 volt dan
tegangan beban penuh adalah 220 volt. Persen regulasi adalah:

Untuk diingat, bahwa semakin kecil persentase regulasi, semakin baik pula
regulasinya untuk kebanyakan aplikasi.

Prinsip Pengaturan Tegangan AC


Di dalam sebuah alternator, tegangan bolak balik diinduksikan dalam
belitan armature ketika medan magnet melewati belitan ini. Besarnya
tegangan yang diinduksikan ini tergantung kepada tiga hal yaitu: (1) jumlah
konduktor dengan hubungan seri pada setiap belitan, (2) kecepatan (rpm
generator) pada mana medan magnet memotong belitan, dan (3) kekuatan
medan magnet. Salah satu dari factor ini dapat digunakan untuk pengaturan
tegangan yang diinduksikan dalam belitan alternator.
Jumlah belitan, tentu saja tidak berubah tetap ketika alternator diproduksi.
Juga, jika frekuensi keluaran harus konstan, maka kecepatan medan putar

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 18


haruslah konstan pula. Ini mengakibatkan penggunaan rpm alternator untuk
pengaturan tegangan keluaran menjadi tidak diperbolehkan.
Sehingga, metode praktis untuk melakukan pengaturan tegangan adalah
dengan mengatur kekuatan medan putar. Kekuatan medan elektromagnetik ini
dapat berubah seiring dengan perubahan besarnya arus yang mengalir melalui
kumparan medan. Ini dapat dicapai dengan mengubah-ubah besarnya
tegangan yang dikenakan pada kumparan medan.

4.7. Operasi Paralel Alternator


Alternator dapat dihubungkan secara parallel untuk (1) meningkatkan
kapasitas keluaran dari suatu system melebihi apa yang didapat dari satu unit,
(2) berfungsi sebagai daya cadangan tambahan untuk permintaan yang suatu
ketika bertambah, atau (3) untuk pemadaman satu mesin dan penyalaan
mesin standby tanpa adanya pemutusan aliran daya.
Ketika alternator-alternator yang sedang beroperasi pada frekuensi dan
tegangan terminal yang berbeda, kerusakan parah dapat terjadi jika
alternator-alternator tersebut secara mendadak dihubungkan satu sama lain
pada satu bus yang sama (satu titik hubung). Untuk menghindari ini, mesin-
mesin tersebut harus disinkronkan dahulu sebelum disambungkan bersama-
sama. Ini dapat dicapai dengan menghubungkan satu generator ke bus (bus
generator), dan mensinkronkan generator lainnya sebelum keduanya
disambungkan. Generator dikatakan sinkron jika memenuhi kondisi berikut:
1. Tegangan terminal yang sama. Diperoleh dengan menyetel kekuatan
medan bagi generator yang hendak masuk ke dalam rangkaian
(disambungkan).
2. Frekuensi yang sama. Diperoleh dengan menyetel kecepatan prime mover
dari generator yang hendak disambungkan.
3. Urutan fasa tegangan yang sama.

Referensi:
Dasar Teknik Tenaga Listrik dan Elektronika Daya – ZUHAL
http://www.tpub.com/neets/book5/17.htm
http://www.tpub.com/doeelecscience/electricalscience2143.htm

Teknik Tenaga Listrik, Teknik Mesin, FT, UNEJ ‘08 19