P. 1
PRAGMATISME POLITIK

PRAGMATISME POLITIK

|Views: 1,919|Likes:
Dipublikasikan oleh ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Oct 08, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2013

pdf

text

original

PRAGMATISME POLITIK : Buah Ideologi Kapitalisme Oleh Rum Rosyid, Pendidikan Sosiologi, Untan – Pontianak Pendahuluan Pragmatisme berasal

dari bahasa Yunani pragma berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Isme berarti ajaran, aliran, paham. Dengan demikian, pragmatisme berarti ajaran/aliran/paham yang menekankan bahwa pemikiran itu mengikuti tindakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pragmatisme berarti kepercayaan bahwa kebenaraan atau nilai suatu ajaran (paham/doktrin/gagasan/pernyataan/dan sebagainya) bergantung pada penerapannya bagi kepentingan manusia. Sedangkan pragmatis berarti bersifat praktis dan berguna bagi umum; bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); mengenai/bersangkutan dengan nilai-nilai praktis. Karena itu, pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah faedah atau manfaat. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar jika membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar jika berfungsi. Jadi, pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran.(epistemology). Pragmatis adalah suatu sifat, ciri yang menyatakan seseorang lebih cenderung bersifat praktis, terbingkai,dan kaku. Contoh : apabila seseorang berencana, atau memiliki suatu planning dalam kehidupannya misalnya masuk partai, aktif berorganisasi dsbnya, namun punya tujuan yang jelas, sehingga tujuan yang ditetapkannya semula harus dicapainya dengan keterlibatannya langsung dan dengan sesegera mungkin dicapai, tanpa mau menunggu proses atau melewati proses yang lama, apalagi berbelit-belit. Biasanya identik dengan orang yang kurang penyabar, selalu ingin simple, praktis sehingga kadang menjadi meleset dari sasaran awal. Bahkan dapat menjadi bias, karena ambisius tadi karena umumnya org yang pragmatis selalu super ambisius. Karakteristik lain golongan ini seperti ini juga cepat puas dan cepat bosan karena tidak melalui proses. Orang-orang yg memiliki sifat seperti ini cenderung apabila misalkan ingin melakukan perubahan akan menempuh Revolusi (perubahan secara cepat) bukan dengan Evolusi ) perubahan secara lamban. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal Abad 20. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Pierce yang kemudian dikembangkan oleh William James dan John Dewey. Munculnya paham tersebut tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ajaran/paham lainnya pada Abad Pertengahan (Renaissance), yaitu ketika terjadi pertentangan yang tajam antara gereja dan kaum intelektual. Pertentangan itu menghasilkan kompromi: pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme), sebuah asas yang dianut ideologi kapitalisme. Pragmatisme merupakan pemikiran cabang kapitalisme. Landasan pemikirannya pun sama, yakni pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Hal ini tampak dari perkembangan sejarah kemunculan pragmatisme yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari empirisme. Empirisme adalah paham yang memandang bahwa sumber pengetahuan adalah empiri atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. Dalam konteks ideologis, pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber

ilmu pengetahuan. Kebenaran, menurut James dalam bukunya, The Meaning of Truth, adalah sesuatu yang terjadi pada ide, yang sifatnya tidak pasti. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi maka tidak diketahui kebenaran teori itu. Kebenaran akan selalu berubah sejalan dengan perkembangan pengalaman. Sebab, yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu, paham pragmatisme tidak mengenal adanya kebenaran mutlak. Kebenaran ditentukan oleh kemanfaatan. Konstalasi politik pasca tumbangnya rezim orde baru menimbulkan euforia demokrasi yang dasyat. partai politik menjamur dimana-mana, kebebasan berbeda pendapat menjadi hal yang lumrah dan lembaga legislatif tidak lagi menjadi setempel pemerintah tetapi terlihat aktif mengkritisi kebijakan pemerintah. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan pembentukan karakter politik yang bermartabat. Dasar pengambilan kebijakan para politisi bukanlah pada kepentingan rakyat banyak tetapi lebih pada kepentingan kelompok atau partainya masing-masing. Ambisi kekuasaan seakan mengalahkan flat form dan kebenaran hakiki. Magnet kekuasaan menarik semua kelompok untuk tampil pada posisi eksekutif. Politik yang mestinya bermazhab netral bermetaforfosis menjadi monster mengerikan yang membungkus kejahatan dengan label untuk rakyat, meninabobokan idealisme atas nama kekuasan dan jabatan. Ketika hasrat berkuasa merampok ideologi dan cita-cita politik, peluang yang selalu terbuka adalah sebentuk oportunisme politik yang mendorong elite politik bertingkah sebagai perampok kekuasaan. Sosok perampok kekuasaan selalu berhitung dengan realitas yang mengitarinya, bukan dengan memuliakan idealitas yang menjadi keyakinannya. Bukan gejala yang janggal jika realpolitik membinasakan idealpolitik. Sebab, realpolitik merupakan rujukan bagi politik atau diplomasi yang secara primer didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan praktis ketimbang gagasan ideologis. Realpolitik hanya berhitung pada kekuasaan yang ingin didapatkan sambil dengan aneka tipu daya mematikan idealitas, moralitas, dan prinsip-prinsip humanitas. Realpolitik berkaitan erat dengan filsafat politik yang bernama realisme politik. Pada aliran filsafat politik ini, ungkap Alexander Moseley (2006), kekuasaan menjadi dan bahkan keharusan untuk dijadikan sebagai tujuan utama tindakan politik. Sadar atau tidak, filsafat realisme politik itu sangat kuat tertancap dalam diri kalangan elite politik negeri ini. Memburu kekuasaan sesuai dengan kepentingan egoisme mereka telah demikian nyata terlihat, bahkan telah menjadi banalitas. Dan, setiap banalitas politik tidak hanya menyajikan kevulgaran tindakan meraih kekuasaan, tetapi juga kekasaran dalam mereduksi prinsip-prinsip etika politik. Pertarungan Ideologi Peta perpolitikan di Indonesia saat ini dan akan datang tidak akan banyak berubah. Pertarungan antara Islam dengan sekulerisme terus terjadi. Dalam realitasnya, sekularisme terwujud dalam dua bentuk, yakni Kapitalisme Liberal, dan Sosialis Kanan (Soska). 1. Kapitalisme Liberal Dalam bidang politik, penganut idiologi kapitalisme liberal selalu menggunakan

demokrasi sebagai jargon dan alat demi mewujudkan dan mempertahankan kemenangan politik. Dalam bidang ekonomi, penganut idiologi kapitalisme liberal (neolib) sangat percaya pada legitimasi pasar bahwa pasar bebas adalah prekondisi yang esensial bagi terlaksananya sebuah distribusi yang adil untuk kesejahteraan dan demokrasi politik. Secara epistemology dengan munculnya gerakan Neoliberalisme, membuat masyarakat Indonesia menjadi semakin tidak berdaya. Karena ilmu ekonomi indigenous yaitu Sistem Ekonomi Pancasila semakin menjadi tidak berdaya. Sebagai akibatnya, gerakan Neoliberalisme tidak semata melanda dunia perekonomian bahkan menjalar dalam bidang kependidikan. Inti ideology neoliberalisme adalah liberalisasi perdagangan dan investasi yang berbasis spekulasi. Secara keseluruhan badan-badan dunia seperti APEC, WTO, GATT pada dasarnya bungkus dari ideology neoliberalisme. Ada banyak asumsi yang harus dipenuhi untuk menyesuaikan dengan model peningkatan anggaran yang ditetapkan oleh DPR, seperti pertumbuhan ekonomi, pemasukan negara, dan lainnya. Jadi tidak dapat dipastikan jumlahnya secara tepat, kata Indra. Ia mengatakan pemerintah akan lebih menekankan pada upaya mengembangkan model peningkatan anggaran pendidikan yang lebih efektif dan efisien, dengan menjalankan banyak program secara terpadu (Media Indonesia 18 Agustus 2004). Karena penyerahan diri pada peranan pasar itulah, maka mereka langsung ataupun tidak meminta pemotongan pengeluaran-pengeluaran publik untuk pelayanan-pelayanan sosial. Atas nama efisiensi yang lebih besar, berbagai BUMN, pengelolaan barang dan jasa, sebaiknya diserahkan pada investor-investor swasta. Kemudian, mereka juga umumnya mengeliminasi konsep the public good atau community dan menggantinya dengan konsep individual responsibility. Kelompok ini, saat ini sedang mengendalikan kekuasaan dan menjadi penopang penguasa sekarang. Secara politik mereka ditopang oleh kelompok pro demokrasi seperti Andi Mallarangeng yang meraih gelar Doctor of Philisophy di bidang ilmu politik dari Northern Illinois University (NIU) Dekalb, Illinois, Amerika Serikat pada tahun 1997 dan Rizal Mallarangeng adiknya yang menyelesaikan MA dan PhD dalam bidang ilmu politik di Universitas Negeri Ohio, Amerika Serikat (1999). Rizal mendirikan Freedom Institute bekerjasama dengan Friedrich Naumann Stiftung, juga (save our nation). Mereka juga ditopang berbagai lembaga riset dan LSM. Secara ekonomi, mereka ditopang oleh kelompok Mafia Berkeley, seperti Poernomo Yusgiantoro, Boediono, Sri Mulyani, dll. Kelompok kapitalisme liberal ini lebih banyak berkiblat ke AS. Neo liberalisme adalah versi liberalisme klasik yang dimodernisasikan. Neo liberalisme berisi tema-tema liberal klasik tentang pasar bebas, peran negara yang terbatas dan individualisme (yakni, kebebasan dan tanggung jawab individu) yang disesuaikan dengan kondisi modern. Dunia sekarang sangat berbeda dari dunia awal abad ke –19, dan neoliberlisme merupakan cerminan baik dari pengalaman dan perkembangan teroretis yang silih berganti maupun masalah yang muncul didunia kita sekarang. Perbedaan antara neo liberalisme dan liberlisme klasik tercermin dalam karya tokoh gerakan neo liberal yang berpengaruh, Friedrcih von Hayek.

Ide-ide ekonomi Hayek sangat dipengaruhi oleh tradisi intelektual negeri kelahirannya, Austria. Ilmu ekonomi Austria memusatkan dirinya pada analisis sosialisme dan peran negara dalam ekonomi. Ilmu ekonomi di dunia berbahasa Inggris tidak pernah menghasilkan penolakan yang jelas terhadap pikiran ekonomi Marx. Pikiran ekonomi Marx diabaikan, karena alasan yang sederhana bahwa Marxisme hanya memiliki sedikit pengaruh di Inggris, AS dan bagian dunia berbahasa Inggris yang lain. Keadaan ini tidak tejadi di Eropa kontinental. Ilmu ekonomi Austria menghasilkan kritik besar terhadap marxisme dan ilmu ekonomi sosialis secara umum, dengan menyatakan bahwa kontrol negara tidak akan menguntungkan ekonomi atau masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian teori neo liberal digambarkan sebagai sintesis liberalisme klasik, ilmu ekonomi Austria dan bebarapa tambahan teoretis kemudian, terutama tambahan dari Amerika. Dalam consensus ini privatisasi, liberalisasi, dan stabilitas makro diyakini sebagai unsur yang bisa menarik investasi. Investasi inilah yang nantinya akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya memulihkan perekonomian. Ada 10 langkah baku yang walaupun terbukti selalu gagal terus ditetapkan di negaraneara berkembang, termasuk Indonesia yang mengadopsinya melalui letter of intent (LoI) dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Dari 10 langkah itu, tiga diantaranya merupakan bagian dari kebijakan makro.Yaitu, disiplin anggaran, liberalisasi suku bunga, dan kebijakan nilai tukar berbasis pasar. Sedangkan tujuh langkah lain merupakan bagian dari kebijakan structural. Yaitu, privatisasi, deregulasi, liberalisasi impor, liberalisasi investasi asing langsung, reformasi perpajakan , penjaminan hak kepemilikan, dan redistribusi dana-dana publik pada sektor pendidikan serta kesehatan. Paket pemulihan ekonomi tersebut disebut Washington Consensus (consensus Washington) karena konsepnya dibicarakan di Washington DC, tempat lembaga-lembaga keuangan dunia seperti IMF dan Bank Dunia bermarkas. Menurut pencetusnya, John Wiliamson, consensus ini pada mulanya diterapkan untuk negara-negara di Amerika Latin yang dilanda krisis ekonomi. IMF dan Bank dunia kemudian menjadikan konsensus ini sebagai resep bagi negaranegara lain yang mengalami nasib serupa. Antara lain di Indonesia, Filipina, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand. Tetapi, dalam perjalannya, tidak ada satupun negara yang terbukti sukses menerapkannya. Indonesia, misalnya, diakui IMF sendiri gagal menerapkan paket ini karena memang resepnya tidak cocok. Hanya negara-negara yang lari dari consensus itulah yang kemudian terbukti berhasil memulihkan perekonomian . Antara lain, Malaysia dan Korea Selatan. Sementara, negara-negara seperti Indonesia yang patuh kepada IMF tebukti malah semakin dibebani krisis yang semakin parah hingga menjadi krisis multidimensional. Kegagalan demi kegagalan itulah yang kemudian memicu perlawanan dari berbagai kalangan yang kemudian tergabung dalam Kelompok Antiglobalisasi. Mereka menyebut consensus ini sebagai gerakan neoliberalisme atau, meminjam istilah George soros, fundamentalisme.

2. Sosialis Kanan (Soska) Dalam bidang politik, Soska sama dengan kapitalisme liberal, menggunakan demokrasi sebagai jargon dan alat untuk mewujudkan dan mempertahankan kemenangan politik. Karenanya, Soska sering dikenal dengan sebutan sosialis demokrat (Sosdem). Sementara itu, dalam bidang ekonomi Soska menggunakan ekonomi sosialisme sebagai pijakan untuk mewujudkan apa yang mereka sebut kesejahteraan rakyat. Kaum sosialis selalu menyatakan mendukung nilai-nilai persamaan, keadilan sosial, kerjasama, kebebasan individu, dan kebahagiaan. Mereka umumnya berusaha mencapai nilai-nilai ini dengan mengabolisi perekonomian privat dan menggantinya dengan kepemilikan publik, suatu sistem sosial atau kontrol negara terhadap produksi dan distribusi. Penopang utama kelompok Soska adalah Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang sampai saat ini orang-orangnya masih aktif dalam percaturan politik dan ekonomi Indonesia. Mereka terus memainkan peran mulai dari orde lama hingga orde reformasi. Penggeraknya antara lain idiolog PSI Rahman Toleng, penggerak media Goenawan Mohammad dan penghuni Watimpres, Adnan Buyung Nasution (bidang hukum), Subur Budi Santoso (sosial budaya), TB Silalahi (pertahanan keamanan), Rachmawati Soekarnoputri (politik), dan Syahrir (ekonomi). Pengamat politik dari Universitas Bengkulu (Unib), Lamhir Syam Sinaga, menilai bahwa pembentukan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) selain sebagai amanat undang-undang juga merupakan salah satu bentuk penetrasi politik. Juga ekonom Rizal Ramli, aktifis angkatan 66 Hariman Siregar dan Arief Budiman serta tokoh-tokoh Indemo Muslim Abdurrahman, Amir Husein Daulay, Sunardi, Bitor, dan Ray Rangkuti. Kelompok Soska umumnya berkiblat ke Uni Eropa. Namun, dalam prakteknya juga tetap menginduk kepada AS. 3. Perseteruan Kapitalisme Liberal, Sosialis Kanan (Soska) dan Islam. Kapitalis liberal dan Soska secara bersama-sama membela demokrasi dan secara bersama-sama pula berusaha menyingkirkan Islam. Contoh kasus ini adalah sikap kelompok AKKBB dalam mendukung Ahmadiyah hingga terjadi insiden Monas 1 Juni 2008, penolakan terhadap UU perbankan syariah dan penolakan Kelompok 17 terhadap RUU APP sekaligus memproklamirkan Maklumat Keindonesiaan yang menuding Islam sebagai ancaman. Walaupun cara menyikapinya kadang nampak berbeda sesuai kepentingan masing-masing. Dalam bidang ekonomi, Kapitalis liberal, Soska dan Islam saling bersaing untuk menerapkan sistem ekonomi masing-masing. Kasus berbagai demo kenaikan harga BBM yang berakhir anarkis di DPR adalah contoh perseteruan soska dengan kapitalis liberal. Dengan berbagai demo, Soska berusaha menggusur kekuasaan neolib. Demo BBM yang dilakukan mahasiswa didepan DPR yang berakhir rusuh pertengahan Juni 2008 lalu tampak digerakkan salah seorang aktivis soska yang kini sedang diincar kepolisian. Sebagai contoh, kasus kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Pada tahun 2005 pemerintah menaikkan harga BBM hingga 124 persen sebagai bentuk liberalisasi pasar. Masyarakat umum dan ormas Islam menolak. Namun, pentolan-pentolan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang umumnya mendapat dana dari negara asing mengeluarkan iklan di beberapa koran nasional. Isinya: Mendukung kenaikan BBM.

Pertarungan yang sama terjadi antara Islam dengan sekulerisme liberalisme pada kasus Rancangan Undang-Undang Antipornografi Pornoaksi (RUU-APP). Pada satu sisi, pihak sekuler mengerahkan pelacur, homoseks, lesbian, dan sebagian artis menolak disahkannya RUU-APP. Alasannya, ini penerapan bentuk penerapan syariat Islam dan membahayakan kesatuan. Mereka menamakan diri Aliansi Kebangsaan. Tokohnya banyak tokoh-tokoh yang menandatangani kenaikan BBM tahun 2005. Pada sisi lain, umat Islam yang dipelopori oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Forum Umat Islam (FUI) melakukan aksi dengan kekuatan 1,2 juta umat menyatakan perang terhadap pornografi dan pornoaksi. Namun, hingga kini RUU tersebut belum disahkan. Ketua Pansus RUU-APP Dewan Perwakilan Rakyat mengaku ada beberapa negara yang menekan DPR dan pemerintah untuk tidak mengesahkannya. Ketika persoalan Ahmadiyah mencuat kembali sejak tahun 2005, pertarungan kembali terjadi. Kelompok sekuler yang pada saat kasus RUU-APP menamakan diri Aliansi Kebangsaan kini menamakan diri Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). AKKBB terdiri dalam kelompok sekuler, liberal, Kristen dan Ahmadiyah. Mereka mendukung Ahmadiyah yang telah nyata-nyata mengacak-acak ajaran Islam denga menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan buku Tadzkirah sebagai kitab sucinya. Didalamnya juga disebut, siapapun yang menolak kenabian Mirza dia adalah kotor, seperti babi, dilaknat Allah dan musuh Islam. Dalih mereka adalah kebebasan beragama dan Indonesia bukan negara agama. Padahal, alasan sebenarnya adalah ketakutan mereka terhadap syariat Islam dan kesatuan umat dalam khilafah seperti dimuat didalam situs mereka pada tanggal 15 Mei 2008. Begitu juga, iklan mereka di beberapa media massa nasional menyatakan pihak yang menolak Ahmadiyah membahayakan Indonesia. Berseberangan dengan AKKBB, rmas/lembaga/gerakan/partai Islam justru menuntut pemerintah membubarkan Ahmadiyah. Klimaks perseteruan terkait Ahmadiyah itu terjadi pada 1 Juni 2008. Hari itu terjadi insiden Monas, pihak AKKBB bentrok dengan massa beratribut Front Pembela Islam (FPI). Berdasarkan pengakuan polisi dan peserta di lapangan, insiden ini terjadi karena adanya provokasi dari pihak AKKBB. Yang menarik, menanggapi insiden ini pihak AKKBB menganggap bahwa ini pelecehan terhadap Pancasila, dilakukan oleh kalangan Islam radikal dan membahayakan Indonesia. Padahal, tidak ada satu katapun Pancasila didalam iklan mereka di berbagai koran nasional iru. Bahkan, Goenawan Mohamad (pemilik koran Tempo, penggerak AKKBB) menuntut pembubaran organisasi-organisasi Islam yang disebutnya radikal, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Padahal, organisasi-organisasi tersebut tidak terlibat sama sekali dalam insiden. Tuntutan ini persis sama dengan tuntutan mereka saat kasus RUU-APP dan keluarnya fatwa MUI tentang haramnya sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Semua ini memberikan gambaran bahwa yang sebenarnya sedang terjadi adalah pertarungan antara Islam dengan sekulerisme. Sejarah Pendirian Partai Politik Jika ditelusuri sejarah kelahiran partai politik, pada mulanya terinspirasi oleh bagaimana sejatinya elemen kemasyarakatan menyalurkan aspirasinya kepada penguasa.

Itu terjadi disejumlah negara Eropa yang menganut sistem monarki, dimana kekuasaan atas negara dan pemerintahan secara absolut dipegang oleh kerajaan yang berkuasa secara mutlak. Maka untuk menyalurkan aspirasi mereka dalam kekuasaan negara yang begitu kuat, oleh segolongan masyarakat kemudian menggabungkan dirinya dalam kelompok-kelompok untuk secara bersama-sama menyalurkan aspirasinya, yang dalam perkembangannya kelompok-kelompok itu kemudian mendapatkan pengakuan dalam sistem politik kenegaraan, yang pada bentuknya disebut dengan “Partai Politik”. Pada perkembangan selanjutnya, partai politik tidak lagi diorientasikan semata untuk penyaluran aspirasi, tetapi pada prakteknya juga dimanfaatkan oleh elitnya untuk menjadi instrumen pencapaian posisi dan kedudukannya di lembaga formal, baik di lembaga perwakilan aspirasi pendukungnya (legislatif), maupun di jajaran pemerintahan (eksekutif), dengan dalih bahwa aspirasi yang disampaikan hanya mungkin efektif pencapaiannya, jika kedudukan dalam kekuasaan legislatif dan eksekutif dapat diraih, untuk berfungsi mensejah-terakan pendukung dan anggotanya. Ironisnya karena para ahli ilmu politik dalam merumuskan definisinya, tidak mempetakan antara “tujuan” dan “fungsi” partai politik itu sendiri. Sebutlah misalnya definisi yang dikemukakan dua ilmuan politik terkemuka. Carl J. Friedrich mendifinisikan partai politik pada tujuannya untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan, untuk maksud mensejahterakan anggotanya, baik untuk kebijaksaanaan keadilan, maupun untuk hal-hal yang bersifat materil. “A political party is a group of human beings, stably organized with the objective of securing or maintaning for its leaders the control of a government, with the farther objective of giving to members of the party, through such control ideal and material benefits and advantages”. Sementara lebih jauh oleh R. H. Soltau mengemukakan definisinya tentang partai politik sebagai organisasi yang dimanfaatkan untuk menguasai pemerintahan dalam menjalankan kebijaksanaan umum: “A group of citizens more or les organized, who act as a political unit and who, by the us of their voting power, aim to control the government and carry out their general policies”. Jika rumusan dari dua definisi itu dicermati, jelas bahwa antara tujuan dan fungsi semakin tidak nyata pembedaannya, sehingga sadar atau tidak sadar dalam prakteknya, menjebak para pelaku politik (elit partai politik) tidak lagi mementingkan pembedaan itu, sehingga dapat mengaburkan cita-cita ideal ideal pendirian suatu partai politik, dan dalam prakteknya untuk tujuan kemaslahatan pendukungnya. Bergesernya Peranan Partai Politik Mengapa para elite politik begitu mudah terkena bujuk rayu kekuasaan. Dan, setelah mereka mendapatkan kekuasaan politik itu, mengapa mereka begitu enggan melepaskannya. Jawaban menarik diberikan Vaclav Havel ketika menerima Sonning Prize pada 28 Mei 1991 untuk kontribusinya bagi peradaban Eropa. Havel, sang sastrawan yang pernah menjadi Presiden Cekoslowakia (periode 1989-1993) dan Presiden Republik Ceko (periode 1993-2003), menyatakan, ada tiga dorongan yang menjadikan seseorang berkeinginan kuat menggapai kekuasaan politik. Pertama, gagasan-gagasan lebih baik untuk mengorganisasikan masyarakat. Nilai- nilai dan idealideal politik itu diperjuangkan ke dalam kenyataan sosial. Kedua, motivasi peneguhan diri. Kekuasaan memberikan peluang besar untuk membentuk dunia sebagaimana yang telah digambarkan dalam diri seseorang. Ketiga, menggapai berbagai keuntungan yang

diberikan oleh kekuasaan politik. Pada alasan inilah akan terlihat betapa kejamnya bujuk rayu kekuasaan. Dirumuskan dalam bahasa yang lebih transparan, dorongan pertama bernama ideologi, dorongan kedua berupa cita-cita, dan dorongan ketiga adalah oportunisme. Dalam perpolitikan kita, apa yang disebut sebagai ideologi telah sirna karena ideologi tidak lebih berkedudukan sebagai label dagangan politik belaka. Mewujudkan cita-cita merupakan dorongan yang paling sering didengungkan, setidaknya fenomena ini tampak dalam sekian slogan kampanye dan iklan-iklan politik. Namun, bukankah jargon dan iklan sekadar perkakas muslihat untuk meraih simpati massa? Jadi, dorongan ketiga, yakni oportunisme, merupakan hal yang paling sering dilakukan elite politik kita yang dibungkus dalam ideologi dan cita-cita. Pada situasi itulah menarik menyimak apa yang dikatakan Havel bahwa ketiga dorongan kuat tersebut berjalinan. Selalu ada ambiguitas yang terdapat dalam kekuasaan politik. Pada satu sisi, kekuasaan memberikan peluang untuk meneguhkan diri, menyajikan identitas yang tidak mungkin disangkal, dan meninggalkan jejak yang begitu kasatmata. Namun, pada sisi lain, kekuasaan juga menciptakan kebohongan yang berbahaya, yakni seakan- akan menegaskan eksistensi dan identitas kita, padahal kenyataannya justru merampok kita. Idealnya, keberadaan partai politik dibedakan atas dua peranan; yaitu “tujuan” di satu sisi, dan “fungsi” pada sisi yang lain, meskipun kenyataannya pembedaan itu semakin dikaburkan. Tujuan partai politik, adalah sarana untuk mencapai kedudukan atas dukungan pengikut dan pendukungnya. Sementara fungsi partai politik adalah untuk memperjuangkan aspirasi bagi kesejahteraan para pengikut dan pendukungnya, yang telah mempercayakan kepadanya melalui pemberian suara dalam pelaksanaan pemilu. Jika pembedaan antara tujuan dan fungsi itu coba disepadankan dengan realitas dalam praktek politik, maka berdasar kesimpulan empiris terutama dalam tradisi politik keIndonesia-an kontemporer ternyata peranan partai politik mengalami pergeseran. Para elit dan pelaku politik lebih mengedepankan tujuan partai politik ketimbang pada fungsinnya, yang justru dijadikan hal yang kesekian. Akibatnya, rakyat pemilih sebagai konstituen pemegang kedaulatan atas pilihan politik diposisikan semata untuk di eksploitir sebagai alat legitimasi atas posisi kedudukan yang diraih elitnya. Dalam prakteknya, partai politik lebih berorientasi tujuan daripada proses. Pembuktian terhadap kenyataan seperti itu, semakin nyata di Indonesia dimasa kepemimpinan era orde baru, dengan politik massa mengambang (floating mass). Pada masa itu, pilihan rakyat didasarkan atas order dari kekuasaan yang dimobilisasi secara sistemik melalui otoritas kekuasaan single majority, maupun dengan praktek mobilisasi massa dengan jargon-jargon verbal yang mengawang-awang. Misalnya melalui praktek money politic untuk upaya pemenuhan kebutuhan rakyat secara jangka pendek, serta upaya peningkatan kesejahteraan rakyat secara jangka panjang dalam bentuk harapan-harapan yang terlalu sulit untuk menunggu realisasi sebagai pembuktiannya. Pergeseran seperti itu, masih tetap membias dalam praktek politik multi partai era reformasi, sekelompok orang beramai-ramai mendirikan partai politik, dengan rumusan

flaform yang begitu ideal, tetapi kenyataannya dari sekitar 10 partai politik yang mampu mencapai tujuan untuk memposisikan elit-nya di sejumlah lembaga legislatif di tanah air, secara praksis ikut-ikutan terjebak dalam menjalankan fungsi-fungsi keterwakilannya. Belum lagi menyebut peranan partai politik itu sendiri, platform kemudian hanya menjadi rumusan ideal di atas kertas, tanpa ada lagi korelasinya dengan program pencapaiannya. Ramai-ramai berprogram menjelang pelaksanaan pemilu, semata hanya untuk tujuan mengakses kader-kadernya dalam pencapaian tujuan partai politik, pasca pemilu aktivitas partai politik ikut menurun kalau tidak dikatakan terhenti padahal idealnya sejarah partai politik didirikan untuk menjalankan fungsi-fungsinya, sementara untuk pencapaian tujuan adalah sasaran antara. Partai politik idealnya harus bergerak secara terus menerus untuk menjalankan aktivitasnya untuk menjalankan fungsi-fungsinya untuk mengakses problematika sosial yang dihadapi masyarakatnya, untuk dapat diartikulasikan dan diperjuangkan para wakilwakilnya di parlemen. Pakar ilmu politik ternama dari Universitas Indonesia Miriam Budiardjo mengemukakan setidak-tidaknya ada empat fungsi partai politik, yaitu; (1) sebagai sarana komunikasi politik; (2) sebagai sarana sosialisasi politik, (3) sebagai sarana rekruitmen politik; dan (4) sebagai sarana pengatur konflik. Radikalisasi Peran Rakyat Salah satu yang menjadi problem besar dari demokratisasi di Indonesia adalah ketidakmampuan rakyat bersikap secara mandiri, rasional dan kritis dalam melihat permasalahan bangsanya. Rakyat tidak memiliki kekuatan yang utuh dan hegemonik untuk melakukan perlawanan menuju kemandirian dan kebebasan bersikap. Sebagian masyarakat kita masih memiliki nalar pragmatisme yang cukup akut. Salah satu indikasinya adalah ketika menentukan hak-hak politiknya dan pilihan politiknya kepada partai politik, rakyat tidak berangkat dari sebuah pemahaman yang utuh tentang makna dan fungsi partai politik, visi partai politik beserta calegnya. Pilihan dan sikap politik tidak berangkat dari kesadaran kritis. Sehingga kita sulit menemukan masyarakat yang secara sukarela bergerak dalam aktivitas dukung mendukung kepentingan politik tertentu (Peserta Pemilu). Pilihan rakyat tidak hanya didasari kriteria kualitas kesalehan dan karisma sang capres, cawapres, dan caleg (calon anggota legislatif). Sering kali pilihan politik didasari alasan pengenalan dan kedekatan hubungan pemilih dengan tokoh yang dipilih. Melalui kedekatan dan pengenalan itu rakyat meyakini tokoh pilihannya adalah bagian dirinya sehingga dipercaya akan memperjuangkan kepentingannya. Rasionalitas politik rakyat kebanyakan-yang secara akademik disebut proletar di atastampaknya berfungsi efektif dalam pilpres 2004. Rasionalitas ini telah "memaksa" sikap lebih pragmatis seorang capres dan partai yang mencalonkan, baik di saat memilih pasangan cawapresnya ataupun ketika meyakinkan rakyat pemilih seperti terlihat dalam kampanye pilpres yang sudah berlangsung sejak 1 Juni. Karena itu, hasil pilpres 2004 bisa mengubah peta politik dalam pemilu legislatif dan pilpres 2009. Koalisi antarpartai yang sudah dimulai dari kerja sama beberapa partai dalam pencalonan capres dan cawapres tampak mengkristal pasca pilpres. Boleh jadi muncul dua atau tiga koalisi besar antarpartai peserta pemilu legislatif 2009 sebagai dasar pencapresan dalam pilpres

2009. Mereka akan bergerak kalau dibayar, diberikan dukungan materi yang membuat hidup mereka senang dan survive. Dengan demikian, apapun yang dilakukan oleh gerakan Pro Demokrasi termasuk dalam halnya GM akan tertolak oleh pragmatisme masyarakat, karena mereka tidak memerlukan gagasan-gagasan yang berat dan bagi mereka utopis. Mereka berprinsip bagaimana saya bisa makan dan kenyang hari ini. Sehingga tidak mengherankan, ketika kekuatan orde baru mencoba mengajak masyarakat mengingat kembali kemakmuran semu yang dibangun oleh Suharto, masyarakat langsung tersadarkan dan merasa rindu dengan kondisi ketika Suharto berkuasa. Di sinilah mainstream penguatan, penyadaran dan pendidikan politik rakyat sebagai bagian dari proses radikalisasi peran rakyat menjadi penting. Ada beberapa alasan mainstream ini menjadi fokus Pertama, Kran demokratisasi yang mulai terbuka lebar pasca lengsernya Suharto, yang diiringi oleh kebebasan partisipasi yang luar biasa, tidak diiringi oleh mental dan sikap yang demokratis. Kebebasan berpolitik, tidak ditopang oleh rasionalitas, kekritisan dan kemandirian berpikir dan bersikap. Sehingga Demokratisasi yang muncul adalah anarkisme, kekerasan, perpecahan tapi bukan perubahan yang paradigmatik dan konstruktif. Kenyataan tersebut diperparah oleh faktor kedua yakni semakin menguatnya penjajahan yang dilakukan kapitalisme dengan Neo Liberal nya. Kapitalisme menawarkan dan meninabobokan masyarakat dengan cara menggembar-gemborkan sikap hidup yang hedonis, serba mewah dan menempatkan materi di atas segala-galanya. Semua level masyarakat, berkompetisi untuk meraih materi sebanyak-banyaknya dan bersaing untuk mendapatkan kehidupan ekonomi yang layak. Kapitalisme menjadikan segala sesuatu harus dihargai dengan materi. Sehingga tidak mungkin mengajak apalagi menggerakkan masyarakat yang sedang kelaparan untuk memikirkan format serta bangunan demokratisasi di Indonesia. Masyarakat dengan kungkungan kapitalisme, tidak memiliki ruang-ruang berpikir rasional dan kritis. Faktor ketiga, Ketergantungan masyarakat kepada kaum kapital itu diperparah lagi oleh pragmatisme negara dalam memberikan ruang pastisipasi secara sehat kepada masyarakat. Negara gagal dalam menciptakan ruang-ruang berpikir rasional kepada masyarakat, akan tetapi justru sebaliknya negara mempertontonkan sikap dan budaya kapitalistik dan feodalistik dalam mengurus negara. Fenomena Korupsi dan Nepotisme menunjukkan betapa negara tidak pernah memiliki keberpihakan terhadap rakyat. Birokrasi yang kaku dan korup yang diperagakan negara tidak memberi ruang partisipasi yang sehat di tengah ruang demokrasi yang seharusnya mengalami keterbukaan. Negara lewat kebijakan – kebijakan dan Undang-undangnya kebih banyak memihak kepada kaum kapital daripada memberdayakan masyarakat. Sementara itu sistem politik saat ini sama sekali tidak memberikan jalan alternatif untuk keluar dari permasalahn-permasalahan di atas. Partai Politik sebagai salah satu instrumen dan infrastruktur demokrasi, gagal melakukan pendidikan dan komunikasi politik yang sehat kepada masyarakat. Bahkan ada beberapa partai politik yang sangat memanfaatkan,

kebodohan, ketidakberdayaan serta irrasonalitas masyarakat pemilihnya. Karena dengan demikian mereka begitu mudah mendapat dukungan hanya dengan memberikan masyarakat kepuasan materi, tapi tidak menjalankan kewajibannya yakni melakukan pendidikan politik Dari ekplorasi di atas, maka Reposisi Gerakan Mahasiwa Pasca Pemilu 2004 adalah dengan mengagendakan penguatan basis dan radikalisasi peran rakyat dalam mewujudkan demokratisasi di Indonesia. KEPUSTAKAAN Achmad An'am Tamrin Demokrasi “voorskot”: strategi resistensi terhadap politik uang, Wednesday, 01 April 2009 20:44, http://www.jakartabeat.net/politika Achwan, Rochman, "Good Governance": Manifesto Politik Abad Ke-21 , google 2010 Administrator, Peran Pemuda Terjebak Pragmatisme Sesaat , 05 August 2009, http://www.hmifebugm.com Admin, Pragmatisme Partai Ancam Bangsa, 08 Apr 2010 admin on Sun, 02/15/2009, Hak Asasi Manusia dalam Bayang-bayang Pragmatisme, Litbang Kompas, http://cetak.kompas.com/read/ Admin(2008), Politik yang Berorientasi Nilai: Kuliah Umum Akbar Tandjung di SSS Jakarta, 7 Juni 2005 Akbar Tandjung Chairman Akbar Tandjung Institute. Ahmad Suaedy(2008) Peta Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia: Masa Depan Islam Indonesia, http://www.gusdur.net Alfan Alfian, Dilema Golkar, Dilema Jusuf Kalla, Selasa, 06 November 2007 ariedjito, Orde (paling) Baru , Wednesday, 07 May 2008 Budi Mulyana, Pragmatisme Polugri Indonesia, google 2010. Chazizah Gusnita , Artis Jadi Caleg, Politik Indonesia Pragmatis, detikNews, Kamis, 17/07/2008 08:49 WIB Dimas Bagus Wiranata Kusuma , Pragmatisme Politik Pemuda, Thursday, 15 October 2009 09:11 Duesseldorf, Nov 8, '06 4:13 AM, http://ediwahyu.multiply.com/journal/ Dodi Ambardi, IDEOLOGI, KONSTITUEN, DAN PROGRAM PARPOL, Bukit Talita, 27 Februari - 1 Maret 2009freedom.institute.org/id Ediwahyu, Mendayung Diantara Dua Karang: Pemuda, Nasionalisme dan Pragmatisme, ediwahyu.multiply.com/journal Endrizal, MA, Century, Koalisi dan Pragmatisme Politik, 02 Maret 2010 | BP Erlangga Ida Fauziah , Julia Perez Wujud Pragmatisme, Selasa, 06/04/2010 Iwan Januar , BAHAYA PRAGMATISME, Friday, 01 May 2009, KapanLagi.com Makmur Keliat, Peta Kekuasaan dan Kemiskinan, 2009 08 Tuesday, 31 March:01 Kompas Marinus W, Koalisi Pragmatisme Vs Koalisi Deontologisme, . (Artikel April, 2009) Masdiana, Sarana Pragmatisme Politik, 06 april 2009 ,http://m.suaramerdeka.com/ Max Regus , "Pragmatisme Religius", Menuju Sinkretisme Destruktif? , : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0410/15/opini/1262288.htm M. Fadjroel Rahman, 2001 Pelopor dan Pengawal Revolusi Demokrasi: Gerakan Mahasiswa Sebagai Gerakan Politik Nilai, PSJ, 2001. Nova Kurniawan, Pragmatisme Politik ‘09, Maret 26, 2009, Nova Kurniawan's Weblog NU Online , Ideologi Modal Jadikan Pragmatisme Politik , Kamis, 17 Juli 2008 Pandu Oscar Siagian , Koalisi dalam Ruang Pragmatisme Elit, Redaksi on Mei 5th, 2009

Peter G. Riddel, "The Diverse Voices of Political Islam in Post-Suharto Indonesia", Islam and Christian - Muslim Relations, Vol. 13, No. 1, 2002, hlm. 65 – 83 Redaksi(2008), Maklumat Politik Indonesia, 11 Aug , http://swaramuslim.net/ Utama Manggala(2007), Memilih Demokrasi untuk Indonesia, October 8. Sanusi Uwes PR(2009), Pragmatisme Partai Politik dan Bendera Islam , Thursday, 15 October. Todung Mulya Lubis(2008), Negara Pragmatis, Thu Nov 20. VIVAnews , Politik Kartel Atau Dinasti? Indonesia pasca reformasi bergerak ke arah format poltik baru. Perlu kritik dan refleksi. Dari Diskusi P2D, Senin, 26 Oktober 2009, 10:05 WIB Wishnugroho akbar(2010), Birokrasi Harus Steril dari Kepentingan Politik, Jakarta Wemmy al-Fadhli , Fenomena Koalisi Pragmatis, Monday, 27 April 2009 20:33 Woodward, M., (Summer-Fall 2001), "Indonesia, Islam and the Prospect of Democracy" SAIS Review Vol. XXI, No. 2, hlm. 29-37. Zaenal Abidin EP, Majelis Ulama Indonesia: Pelanggeng Pragmatisme Religius, 24 Pebruari 2006 M Ismail Yusanto: Pragmatisme Menggusur Idealisme Islam, Monday, 10 August 2009 Afan Gaffar. Javanese Voters: A Case of Election Under A Hegemonic Party System, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1992. A. S. Hikam. Demokrasi dan Civil Society, LP3S, Jakarta,1996 Burhanuddin (Editor), Mencari Akar Kultural Civil Society di Indonesia, INCIS, Jakarta 2003. Carl J. Friedrich. Constitutional Governt and Democracy: Theory and Practice in Europe and America, Waltham, Mass : Blaisdell Publishing Company, 1967. Miriam Budiardjo. Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 1988. Jakob Oetama.Perspektif Pers Indonesia?, LP3S, Jakarta 1987. Max Webwr. Wirschaft und Gesellschaft, Tuebingen, JCB Mohr, 1956. (khususnya pada Bab I) Ignas Kleden. Budaya Politik atau Moralitas Politik, (Artikel), Harian Kompas, 12 Maret 1998. Ben Anderson. The Pemuda Revolution: Indonesian Politics 1945-1945 (Disertasi) pada Universitas Cornell Amerika Serikat, 1967. Frans Neumann (Ed). Politische Theorien und Ideologien, Baden-baden, Signal-Verlag. Idrus Marham, Pemuda dan Jebakan Penjara Pragmatisme, Artikel dalam Jurnal Resonansi, volume 1 nomor 2 tahun 2003. Anderson, Benedict dan Audrey Kahin (eds.), Interpreting Indonesian Politics: Thirteen Contribution to the Debate. New York: Cornell Modern Indonesia Project, 1982.Booth, Anne dan Peter McCawley (eds.), Boediono (penerjemah), Ekonomi Orde Baru: The Indonesian Economics During the Soeharto Era Jakarta: LP3ES, 1981. Crouch, Harold, The Army and Politics in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1978. Hill, Hal (ed), Indonesia’s New Order: The Dynamics of Socio-Economic Transformation. Honolulu: University of Hawaii Press, 1994.Karim, Muhammad Rusli, Peranan ABRI dalam Politik dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan Politik di Indonesia (1965-1979), Jakarta: Yayasan Idayu, 1981.Liddle, R. William, Cultural and Class Politics in New Order Indonesia. Singapore, Institute of Southeast Asian Studies, 1977.

Mas’oed, Mohtar, Negara, Kapital dan Demokrasi. Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1994. Pabottinggi, Mochtar Sihbudi, Syamsuddin Haris, Riza (eds), Menelaah Kembali Format Politik Orde Baru. Jakarta: PPW-LIPI Yayasan Insan Politika, 1995. Sanit, Arbi, Sistem Politik Indonesia: Penghampiran dan Lingkungan. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial & FIS-UI, 1980. Van Der Kroef, J.M., Indonesia after Sukarno. Van Couver: Univ. of British Columbia Press, 1971. Ardianto, Elvinaro dan Bambang Q-Anees. 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Effendy, Onong Uchjana. 1989. Kamus Komunikasi. Bandung: Mandar Maju, hlm 264. Kam. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ke-3 – Cetakan 1. Jakarta: Balai Pustaka, hlm 828. Rogers, Everett. M. 1994. A History of Communication Study: A Biographical Approach. New York:The Free Press. West, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Buku 1 edisi ke-3. Terjemahan. Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta: Salemba Humanika. Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Cetakan ke-3. Jakarta: PT. Grasindo-Gramedia Widiasarana Indonesia. Afan Gaffar. “Javanese Voters: A Case of Election Under A Hegemonic Party System”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1992. A. S. Hikam. “Demokrasi dan Civil Society”, LP3S, Jakarta,1996 Burhanuddin (Editor), “Mencari Akar Kultural Civil Society di Indonesia”, INCIS, Jakarta 2003. Carl J. Friedrich. “Constitutional Governt and Democracy: Theory and Practice in Europe and America”, Waltham, Mass : Blaisdell Publishing Company, 1967. Miriam Budiardjo. “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, Gramedia, Jakarta, 1988. Jakob Oetama.“Perspektif Pers Indonesia”, LP3S, Jakarta 1987. Max Weber. “Wirschaft und Gesellschaft”, Tuebingen, JCB Mohr, 1956. (khususnya pada Bab I) Ignas Kleden. “Budaya Politik atau Moralitas Politik?”, (Artikel), Harian Kompas, 12 Maret 1998. Ben Anderson. “The Pemuda Revolution: Indonesian Politics 1945-1945” (Disertasi) pada Universitas Cornell Amerika Serikat, 1967. Frans Neumann (Ed). ”Politische Theorien und Ideologien”, Baden-baden, Signal-Verlag. Idrus Marham, “Pemuda dan Jebakan Penjara Pragmatisme”, Artikel dalam Jurnal Resonansi, volume 1 nomor 2 tahun 2003. Harry Truman, Golkar Dalam Pusaran Politik Indonesia, Mar 22, '07 10:24 AM http://adetaris.multiply.com Berger, Arthur Asa. 1991. Media Analysis Techniques. California:Sage Publication Bignell, Jonathan. 2001. Media Semiotics, An Introduction. London: Manchaster University Press Chomsky, Noam dan Edward S. Herman, 1988. Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. New York:Pantheon

Currant, James and Michael Gurevitch. 1991. Mass Media and Society .London :Edward Arnold Curran, James and Richard Collins, 1986. Media, Culture and Society: A Critical Reader. London:Sage Publication Denzin, Norman K. (eds). 2000. Handbook of Qualitative Research. California:Sage Public Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisa Teks Media. Yogyakarta:LKIS Fairclough, Norman. 1998. Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language. London:Longman Fairclough, Norman. 1995. Media Discourse. New York:Edward Arnold Fiske, John. 1982. Introduction of Communication Studies. London:Routledge Guba, Egon. G,. 1990. The Paradigm Dialog. New York:Sage Books Hall, Stuart. 1992. Culture, Media dan Language. London:Routledge Hardiman, Budi Francisco, 1990. Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta:Kanisius Kolakowski, Leszek. 1978. Main Currents of Marxisme III. Oxford:Clarendon Press Latif, Yid dan Idi Subandy Ibrahim (eds). 1996. Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru. Jakarta:Mizan Littlejohn, Stephen. 2002. Theories of Human Communication. California:Wadsworth Publishing Company Lull, James. 1998. Media, Komunikasi, Kebudayaan; Suatu Pendekatan Global. Jakarta:YOI Magnis-Suseno, Franz. 1992. Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta:Kanisius Magnis-Suseno, Franz. 1991. Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral dan Dasar Kenegaraan modern. Jakarta:Gramedia Mannheim, Karl. 1979. Ideologi dan Utopia. An Introduction to the Sociology of Knowledge. London:Routledge Mcdonnell, Diane. 1986. Theories of Discourse: An Introduction. Oxford:Basil Blackwall Mcquail, Dennis (ed). 2002. McQuail’s Reader in Mass Communication Theory. London:Sage Publications Mills, Sara. 1991. Discourse. London:Routledge Neuman, Lawrence W. 2000. Social Research Methods. London:Allyn and Bacon Raboy, Marc dan Bernard Dagenais (eds). 1995. Media, Crisis and Democracy: Mass Communication and the Disruption of Social Order. London:Sage Publication Reese, Stephen D,. 2001. Framing Public Life. New Jersey:Lawrence Earlbaum Publisher Riggins, Stephen H,. 1997. The Language and Politics of Exclusion: Others in Discourse. London:Sage Publication Rogers, Everett. M. 1994. A History of Communication Study. New York:The Free Press Saverin, Werner. 1997. Communication Theories: Origins, Methods and Uses in the Mass Media. New York:Longman Sen, Krishna dan David T. Hill. 2001. Media, Budaya dan Politik di Indonesia. Jakarta:PT Media Lintas Inti Nusantara Shoemaker, Pamela cs (eds). 1991. Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content. London:Longman Group

Shoemaker, Pamela cs (eds). 1996. Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content. London:Longman Group Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya Wimmer, Roger D. 2000. Mass Media Research: An Introduction. Singapore:Wadsworth PC Vatikionis, Michail R.J. 1993. Indonesian Politics under Soeharto, Order, Development and Pressure for Change. New York:Routledge Almond, Gabriel A. and G Bingham Powell, Jr., Comparative Politics: A Developmental Approach . New Delhi, Oxford & IBH Publishing Co, 1976 Anderson, Benedict, R. O’G., Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia . Ithaca: Cornell University Press, 1990. Emmerson, Donald, K., Indonesia’s Elite: Political Culture and Cultural Politics. London: Cornell University Press, 1976. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pokok-pokok pikiran sekitar penyelenggaraan pemilu 1987: Laporan Kedua, Bagian I, Transformasi Budaya Politik. Jakarta: LIPI, 1987. Rosenbaum, Wolter, A., Political Culture, Princeton. Praeger, 1975. Suryadinata, Leo, Golkar dan Militer: Studi Tentang Budaya Politik . Jakarta: LP3ES, 1992. Widjaya, Albert, Budaya Politik dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta: LP3ES, 1982

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->