Anda di halaman 1dari 204

Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun
ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam
mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr.
Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar
biasa.

"Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta
menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu
lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed
Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan
orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil
menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya:

"Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?"

"Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan
nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah
dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka
bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya
Dia maha Penerima Taubat."

"Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed
Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha
mengasihi."

"Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya.
Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?"

Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan
tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang
mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga.

"Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha


Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat
ajalnya."

Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.


"Apakah yang tuan Sheikh katakan?"

"Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun,
untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti
datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini
dapat hidup lebih dari empat puluh hari."

Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat
Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan.
Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya.

"Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, 2
berilah hamba kekuatan."

Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah
desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed
Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya
pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin
bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan
menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara
berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan
bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya
yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess
datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati
Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka
mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa
Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak
pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan
lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi
keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan
rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua
tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu
siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari
sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan
ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan
malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang
disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa
dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed
Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut
pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang
bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni
kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau
karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati
masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan
karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai --
baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan
yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya
tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada
waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku.

Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?


Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia
bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id
dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan
kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan
oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess
sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas
sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus
tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi
menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk
mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak
yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang
untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk 3
perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh
kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya
berpisah dari jasadnya.

Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul
Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk
sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat
suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess.
Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah
pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan
pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan
sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada
persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman,
dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpah-
sumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang
baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess
dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang
terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada
keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh
Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku.

Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh,
dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku
sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil
menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia
selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh
aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya.

Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari
orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki
Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan
denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan
dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua,
pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu
tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! "

Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran
Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya
seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya,
yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam
waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil
mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku,
karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumen-
argumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan
menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang
menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi
tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni
Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed
Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah,
aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku.

Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku 4
telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air.
Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman
rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah
menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang
perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed
Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati
Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah
sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku
mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa
keras:

"Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess"

Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya.

"Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku
melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam
ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat
mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara:

"Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain
al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui
Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia
adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah
satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat
sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah
akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya."

Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya
semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin
tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku
mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia
menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar.

"Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang."

"Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."


Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. Tetapi, karena kuatir kesan yang
diharapkan itu akan hilang, aku lantas berkata:

"Buatlah tayamum, Mohamed Weess, ini dibenarkan dalam Qur'an. Tekankan kedua
telapak tanganmu ke tanah."

Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Kami bersembahyang dua


rakaat. Dalam rakaat pertama, dia membaca kesemua surah al-Nasr. Selepas itu aku terus
pulang ke sekolah menunggu hari siang.

Dalam tempo sejam, seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed
Weess. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess, kini berhimpun 5
di halaman sekolah, masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain al-
Abidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. Pada ketika
itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas
Sheikh Mohamed Sa'id. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di
halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. Malah hewan ternak tersebut diserahkan
kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah, Naji, guru
sekolah keturunan Zain al-Abidin!

Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti.
Keraguanku akan nilai kemenangan ini, bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal
mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang
bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id. Sebaliknya, bilangan jemaahnya telah
bertambah satu lagi, yaitu aku sendiri. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku, yaitu
sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu, aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di
belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya, dan
bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka, Syria pada tahun 1918.
Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik. Berkali-kali ia pernah men-
duduki jabatan sebagai menteri, termasuk sebagai Menteri Kebudayaan. Diterjemahkan
oleh Nikmah Sarjono.
Komplikasi
Oleh: Naguib Mahfouz

Pagi itu, dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. Kemudian masuk pasien
keenam, seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Parasnya cantik. Tapi terselip
guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya, bak mawar putih berlepotan debu
jalanan.

"Tolong, Pak Dokter!" teriaknya segera.

Dokter menghampiri. Tenang sedikit tersenyum.

"Ada apa, Bu?" tanya dokter.

Keduanya duduk berhadapan. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan
penyakit kronisnya. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Dokter terperanjat
mendengar ceritanya. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya.

Dokter segera memeriksa. Rupanya keraguan dokter terbukti.

"Gawat, Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. Penyakit kelamin!" gusar dokter.

Perempuan itu tersentak seketika. Matanya berkaca-kaca. Takut dan gelisah. Derita
yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru.

"Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya.

''Ya. Yang saya katakan benar, Bu. Tenangkan diri. Kendalikan emosi, agar kesedihan ini
tak menambah kesedihan lain. Saya ingin tanya, apakah ibu sudah bersuami?"

Perempuan itu menganggukkan kepala. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.

"Oh…. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. Tak terkecuali mereka yang sudah
berkeluarga. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada
suami. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. Ibu harus mengingatkan
perbuatan terlarang itu. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Kalau tidak, pengobatan penyakit
ibu akan sia-sia," lanjut dokter.

Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu.


"Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya, Dokter! Jangan libatkan suami
saya!" rengek perempuan itu.

"Tapi…."

"Demi Tuhan, jangan, Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini. Lakukan saja
tugasmu. Tentu masalah ini akan selesai."

Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Jiwanya seakan lebih menderita
dibanding rasa sakit di tubuhnya. Kepedihan, kecemasan, rasa bersalah bersemayam dalam
dirinya.
7
Keresahan mencengkeram jiwa dokter. Dadanya sesak.

"Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang
dokter. Tak pantas melampaui batas kewenanganku. Aku harus mengobati perempuan
lemah ini. Ah... Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan," batin dokter.

Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang. Dokter langsung bekerja. Mendadak
pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu. Akhirnya ia mengambil jalan
tengah.

"Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. Bahwa ia dalam bahaya besar.
Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini, toh akhirnya akan ketahuan juga," saran
dokter.

Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa.

"Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini, Dok?" tanyanya.

"Kurang lebih dua mingguan, itu harus intens."

"Oh…. Mati aku!!"

"Tentunya suami ibu juga terjangkit."

"Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual. Kami akan
menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh."

"Meski sudah terlambat?"

"Yah …saya tak punya pilihan lain, Dok. Suami saya orang baik-baik. Sulit rasanya
meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini. Sudahlah, semua ini terserah Tuhan.
Barangkali Dia akan melindungi suami saya. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar
pada keluarga kami."

"Suasana hening mencekam. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. Dengan


memelas, ditatapnya dokter itu.

"Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya.


"Tentu. Tentu. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya."

Lalu perempuan itu menghela nafas.

"Saya rasa cukup sampai di sini dulu, Dok. Saya usahakan tiap hari datang ke sini.
Selain Jumat. Akan kuusahakan semampu saya," ucapnya dengan hati yang terluka.

Pekerjaan dokter telah selesai. Ketika perempuan itu beranjak keluar, dokter
menghentikan langkahnya.

"Siapa nama Ibu?" tanya dokter.


8
Wajah perempuan itu tampak ketakutan.

"Untuk apa?" tanyanya.

"Tak perlu takut, tak perlu sedih. Ini hanya formalitas belaka. Coba Ibu lihat daftar ini!
Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut, saya hanya seorang
dokter," hibur dokter.

"Ibu Muhammad Abbas Efendi, pegawai DPU," jawabnya sembari menarik nafas.

***

Esoknya, perempuan itu datang. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja.

Menjelang petang, datang pasien berumur 30 tahunan. Badannya tinggi tegap. Raut
mukanya tampak cerdas dan berani.

"Selamat sore," sambut dokter.

"Sore," jawab lelaki itu.

Lelaki itu tertawa. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti


dirinya.

"Saya mengidap penyakit, Dok," katanya.

"Penyakit apa?"

"Penyakit yang banyak dikeluhkan orang."

"Oh…kasihan sekali."

"Saya benar-benar menyesal, Dok."

"Menyesal?"
"Menyesal. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu
akan berkurang?"

"Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. Silahkan ke kamar itu! Tunggu
sebentar. Tolong sebutkan nama Saudara!"

"Muhammad Abbas, mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. Dokter segera
melihat dengan seksama daftar nama-nama. Mendadak jiwanya bergejolak, begitu tahu
bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu. Giginya geregetan. Kepalanya
tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. Dokter
menyembunyikan wajahnya.
9
Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek, Abbas merengek.

"Dok, saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk."

Dokter menerawang. Lantas bertanya, "Memangnya kenapa?"

"Saya sudah berkeluarga, dokter. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan
yang bisa terperosok dalam dosa," jelas Abbas.

"Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!"

"Ya. Saya benar-benar terjepit. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga
mengalami hal yang sama. Apa yang harus saya perbuat, Dok?"

Kini rahasia itu telah terbongkar. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. Mereka
menyesali diri.

Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya, kalau tak mendengar pertanyaan Abbas.

"Saya harus bagaimana, Dok?" tanya Abbas berulang-ulang.

"Tenang saja. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Usahakan ajak istri
Saudara ke sini. Jangan sampai dia curiga."

Abbas bingung.

"Saya usahakan, Dok," jawabnya lemah.

Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. Pergi.

"Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya, hingga persoalan ini
selesai. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. Akan kuterangkan ihwal
penyakit yang diderita istrinya. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah
korbannya. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. Dengan demikian lelaki itu mau
kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih
menderita dibanding dirinya," kata dokter dalam hati.

***
Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Dokter mengira sore ini, ia
akan datang bersama Abbas. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. Abbas dirundung
ketakutan. Wajahnya pucat. Tatapan matanya layu. Seolah tampak lebih tua dari biasanya.

"Ada apa?" tanya dokter terperangah.

Abbas menggelangkan kepalanya. Sedih.

"Menurut Dokter apa?" baliknya.

"Kukira Saudara mengajak istri Saudara. Mana?"


10
"Yah….bagaimana lagi, Dok?"

"Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. Tapi sayang, Saudara tidak bisa
meyakinkannya. Ya….beginilah jadinya!"

Abbas diam sejenak. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa.

"Oh…hidup di dunia memang susah."

Dokter membungkukkan bahunya.

"Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Saya yakin
menusianyalah yang menyebabkannya. Parahnya, mereka justru melalaikan dan
membebankan pada dunia!" kata dokter.

"Entahlah. Perlu Dokter ketahui, belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa
menyedihkan. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. Impian untuk menimang
anak, kini telah hilang. Entah sampai kapan, saya harus menjalani masa sulit ini."

Hati Abbas penuh teka-teki. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa
itu. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. Kebingungan mendekap. Sinar
matanya menyimpan banyak pertanyaan.

"Singkatnya begini, Dok. Kemarin malam, saya berniat mengajak istri saya kemari
untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. Tapi saya bingung, bagaimana harus
menjelaskan padanya. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. Lalu dengan hati-
hati, kudekati istri saya. Tiba-tiba istri saya gelisah. Saya mengira dia gelisah karena
kegelisahan saya. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. Tapi ia tak
melakukannya. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan?
Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. Lalu dengan ragu-ragu, Istri saya menjawab:
'Alhamdulillah, tidak'. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini, wajahmu pucat dan sedikit
berubah. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak
keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. Pokoknya tidak. Aku benci dokter. Aku ragu dan bosan
mendengar nasihat mereka," tutur Abbas.

"Semakin banyak saya menuntut, semakin keras istri saya menolak. Saya terus
mendesaknya. Saya coba memohon dengan baik-baik, istri saya malah melawan dan
bersikeras pada pendiriannya. Usaha saya sia-sia. Saya bingung, bagaimana saya harus
meyakinkannya. Dada saya sesak. Hati saya dongkol. Rasanya sakit dan ingin marah.
Karena saking suntuknya, saya berteriak keras. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan
jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang
kau derita.' Belum selesai saya bicara, istri saya bicara menantang bagai ular yang siap
mematuk mangsanya. Matanya melotot, tak mampu kuasai diri. Tubuhnya menggigil. Saya
bingung dibuatnya. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa, Istriku?' Saya coba mengulang
pertanyaan dengan lembut, tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. Tubuhnya
mengejang. Raut mukanya berubah aneh. Bengis. Saya semakin bingung dan bertanya-
tanya: 'Apa yang membuatmu takut, Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya
justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. Tak ada kata 'tidak'
dalam diri saya. Dengan murka, saya melangkah ke arahnya. Istri saya menjerit: 'Ampun,
Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu
semuanya. Aku telah bersumpah pada Tuhan. Tolong! Jangan sentuh aku. Ceraikan saja 11
aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan," lanjut Abbas.

"Apa maksud semua ini, Dok? Saya hanya menduga. Otak saya ragu. Kepala saya
panas.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak," tambah Abbas.

Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak
melampui batas kewenangan. Pengakuan dosa, permintaan ampun dan pingsannya itu yang
jelas hanya karena satu hal.

"Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. Saya telah ingkar, Dok.
Karenanya, saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya,
Dok?"

"Dosa telah memperdaya dan menjerat saya. Saya terjerumus dalam jurang yang
curam. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah
menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi, Dok?"

"Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. Musnah sudah bayangan hidup bersama
buah hati saya. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. Kini saya
ingin pikiran saya terbuka. Perasaan tentram. Membuang semua kemarahan yang ada
dalam diri saya. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini. Tuhan, bimbinglah jalan
hidupku.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911, dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel.
Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un, dari Judul asli al-
Maradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif.
Para Pemburu
Oleh: Agus Noor

12

Purnama mengapung di telaga, sesekali meleleh oleh arus gelombang. Kami


memandanginya dengan gamang. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Seperti juga
semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Hingga kami merasa
benar-benar sendiri, ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami beristirahat di
pinggir telaga itu, hanyut oleh pikiran kami. Meletakkan semua senjata yang selama ini
kami jinjing dan gendong. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau
bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Sebagian lagi menyempatkan diri
membersihkan wajah terlebih dahulu, melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang
bengkak.

Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami, sebelum sampai ke telaga ini. Inilah
pertama kali kami merasa begitu lelah, setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang
bergerak begitu cepat. Kami seperti mengejar kilat. Seluruh kekuatan dan pengalaman
kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas, tetapi kali ini, buruan kami
tetap saja melenggang bebas. Membuat kami begitu merasa terhina. Seakan sia-sia
kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan
peradaban kami hanya untuk berburu. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Siapakah
yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Telah kami jelajahi
seluruh hutan. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Telah kami sibak semua palung
lautan. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung.

Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Legenda kami adalah penaklukan puluhan
binatang buruan. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Tak ada yang
lebih terhormat bagi kami, nenek moyang dan anak cucu kami, selain menjadi seorang
pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Cerita-cerita
penaklukan, mengantar tidur anak-anak kami. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam
kepala mereka. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Kami sudah tahu bagaimana
menyembelih wildebeest, sejak kami masih dalam kandungan. Kami mengembara dari satu
benua ke benua lainnya, untuk memburu binatang-binatang, bukan sebagai cara kami
bertahan menghadapi hidup, tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan.

Sampai kemudian kami menyadari, betapa binatang-binatang di dunia ini perlahan-


lahan telah habis kami buru. Membuat kami cemas, melihat kehormatan kami akan goyah
suatu ketika. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Barangkali, binatang-
binatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Maka mereka buru-buru menjauh pergi,
begitu tercium bau kami. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis
kami bunuhi. Gajah, badak, macan, rusa, ular, serigala dan segala macamnya. Sampai
kelinci, tupai dan tikus, telah lenyap kami tangkap. Maklumlah, dari tahun-ketahun, jumlah
kami memang makin membesar. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir, sementara
orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Mereka sudah renta, tapi tak gampang mati.
Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun, tetapi masih sanggup berlari
mengejar entelope, kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan,
hingga pecah berantakan. Dan itulah kehormatan.

Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Karena, seperti
kami katakan tadi, semua binatang telah habis kami buru, kami bunuh.

“Perburuan tak mungkin berhenti!”

“Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!”
13
“Takdir tak bisa dihentikan.”

“Lantas bagaimana?”

“Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!”

“Memburu apa?”

Itu membuat kami terdiam. Sampai kemudian ide brilian terlontar. Kami akan memburu
manusia, untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Maka kami pun membeli
ratusan budak. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas, dengan cara melarikan diri.
Mereka kami lepas ke tengah hutan, membiarkan mereka lari dan menghilang, baru
kemudian kami memburu mereka. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Bahkan membuat
kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Memburu budak-budak itu lebih
mengasyikkan dari pada memburu binatang. Mereka lebih menantang untuk kami takluk-
kan. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Lantas,
perlahan-lahan, kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Menjadi tradisi. Kami tak
lagi memburu binatang, tapi manusia. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis
mati. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan, “Masuklah dalam hutan, lari. Selamatkan
kehidupanmu. Jangan cemas, meski kami akan memburu kalian, kalian masih punya
kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Meskipun kalian juga tak luput dari
kematian. Tapi itu lebih baik bagi kalian, dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya
pilihan. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Anggap semua ini hanya
permainan. Semoga nasib baik bersama kalian...”

Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Kami iringi dengan
lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Selamat jalan. Inilah hidup yang
sesungguhnya, yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesaki-
tan. Adakah yang lebih menyenangkan, selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka
kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Setiap detik adalah pertarungan. Banyak
juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Para penjahat itu, memang makhluk yang
tak gampang menyerah. Liat dan sigap. Dan itu, sungguh, sasaran perburuan yang
menggairahkan.

Rupanya, tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Ketika kisah-kisah
kami menjalar ke banyak negara, banyak orang di luar suku kami, mendatangi kami, untuk
ikut menikmati perburuan itu. Mula-mula, banyak di antara kami yang menolak, karena hal
itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Tetapi kami tak bisa
menolak, ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral, orang-orang
besar di negara mereka, para raja, puluhan kepala negara, para bangsawan dan pengusaha
besar. Para bangsawan, yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan
memiliki lahan-lahan perburuan yang luas, mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami
kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menye-
nangkan. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Para
jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Para pengusaha mensubsidi
kami modal bermilyar-milyar. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk
memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan.
Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati, tetapi
kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Malah sering para
raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk
menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai, para demonstran untuk kami habisi. 14
Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. Ah, begitu melimpah buruan kami.

Kami bangun juga istana-istana, tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami
menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Kami perlahan-lahan
meninggalkan cara hidup kami di hutan, dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih
dan nyaman. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang, tetapi juga denting gelas
dalam kehangatan pesta.

“Ini darah seorang penyair untukmu, jangan sedih...” Gelas kami beradu, dan kami
tertawa bahagia. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair puja-
puji bagi keagungan kami. Hidup pemburu agung!

Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar, yang melintas bagai badai dan
gelombang, menggulung apa pun yang kami sukai. Di antara kemeriahan pesta, kami terus
menuliskan sejarah kami yang agung. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan
kehormatan, tetapi juga, terkadang, keisengan. Kami, yang telah menjadi sekelompok
pemburu yang paling kuat, dengan dukungan dana yang melimpah, pasokan senjata yang
bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami, menjadi tak tertandingi. Kami berdiri di
puncak menara peradaban, sendiri. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Apakah arti
kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami.
Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak, ketika kami memburu ribuan
orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi, ketika kami menembaki anak-anak
Palestina, ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia, ketika kami
mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja, tak ada
lagi kegairahan karena kemenangan. Tak ada lagi yang berani menggertak kami, sehingga
permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Kami terus memburu, kami terus bergerak
dari benua ke benua dari zaman ke zaman, melintasi gelombang waktu, menumpuk
tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan, tetapi kami
selalu dirundung sunyi. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan
lagi gairah petualangan dan tantangan, tetapi penaklukan yang membosankan. Karena kami
sudah terlalu kuat, hingga pertarungan menjadi tak sepandan. Kami seperti kehilangan
buruan yang mengasyikkan.

“Kita harus melakukan sesuatu. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi.
Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini.”

Lalu seseorang yang paling tua di antara kami, yang sudah berumur 100 juta tahun
lebih, menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Suaranya sudah gemetar, seakan
maut sudah menyentuh bibir orang tua itu.
“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?”

“Aku sudah mencium ajalku. Dan aku ingin, sebelum maut menjemputku, aku ingin
menikmati perburuan yang paling menggairahkan.”

“Apa hubungannya dengan para kiai itu?”

“Kumpulkan mereka, dari seluruh dunia. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk
kita buru!”

Kami terpukau oleh gagasan itu. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa
pemburu kami. Gairah menjalar, membangkitkan imajinasi kami. Ya, malaikat, kenapa kami
15
tak memburu malaikat?

“Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!”

“Kami bersorai, anggur segera kami tuang dalam gelas, bersulang, menyambut hari
depan kami yang gilang gemilang. Panji perburuan berkibar. Kami segera menghimpun
topan. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. Dan tentu, kami segera
mengumpulkan para kiai. Mereka kami datangkan dari semua penjuru, kalau perlu dengan
paksa dan kekerasan.

“Kami ingin Jibril,” kata kami kepada mereka. “Kami tak mau tahu, bagaimana cara
kalian mendatangkan Jibril bagi kami. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah
kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril
dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Sekarang, katakan
kepada kami, kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?”

Kami tatap wajah para kiai itu, mencari kepastian dalam mata mereka.

“Baiklah,” tegas kami, “kalian kami beri waktu satu bulan. Bila selama ini kalian tak bisa
mendatangkan Jibril bagi kami, kami akan membikin perhitungan sendiri...”

Mereka, para kiai itu, kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Tetapi
mereka menolak, dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana
ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Kami turut kemauan mereka, meski sesung-
guhnya heran. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Benar-benar masjid kecil yang
tak terawat. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu, telah lapuk. Luasnya tak lebih
dari lima kali lima tombak. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami
himpun dari seluruh penjuru ini.

“Kalian jangan bercanda!” teriak kami.

“Kalianlah yang bercanda, dengan meminta kami mendatangkan Jibril.”

“Baiklah...”

Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu, membuat
kami begitu ternganga, ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam
masjid, tetapi masjid itu tak juga penuh. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun
masuk ke dalamnya. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu, berkelok-kelok mengikuti
gigir bukit, seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . Jutaan
kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang, itu
pun pasti sudah berhimpitan, bagaimana mungkin? Tapi, itulah yang kami saksikan. Sampai
kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Dan kami mendengar gema dzikir dari
dalam sana, mengalun menidurkan rerumputan, sepanjang hari sepanjang malam. Gema
itu melambung, menyentuh langit. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam
hati kami karena gema itu. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu, seperti daun
yang melayang-layang itu, yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Kami memagarbetis masjid
itu, tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami tak mau kecolongan. Kami
tak mau di tipu para kiai itu, jangan-jangan semua itu sihir belaka. Kami terus berjaga,
takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur.
16
Satu bulan lewat, menguap begitu cepat, bersama angin dan embun. Membuat kami
cemas, sekaligus marah, ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Segera
kami kirim seseorang untuk menemui mereka. Namun orang itu tak kembali. Membuat kami
tambah cemas menunggu, kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di
dalam masjid itu. Tetapi seperti yang pertama, orang kedua kami pun tak kembali. Kami
panggil namanya, tetapi tak kunjung keluar jua. Kami kirim utusan kembali, memper-
ingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Tapi seperti yang pertama dan
kedua, utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari.
Begitulah berkali-kali, setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai, tak pernah
muncul kembali. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema, membuat udara bergetar
dan perasaan kami gemetar. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Kami berteriak menyuruh para
kiai itu keluar, tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Kami sudah cukup punya
pengertian, bukan?

Jangan salahkan kami. Dan kami segera menyerbu, masuk dalam masjid itu, tetapi, luar
biasa, semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu, lenyap seketika, raib begitu saja.
Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas, bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada
dimensi lain, tertelan dan lenyap. Kami panik. Kemarahan kami menyalakan api di tangan,
berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Kami bakar masjid itu, hingga kayu-kayu
bergemeretakan, dan api melahap cepat, membumbung.

Namun dzikir itu masih kami dengar, di pucuk api berkobar.

Pada saat itulah, seseorang di antara kami berteriak, membuat kami tengadah ke
puncak api. Dan, ya Allah, di sana, di puncak kobaran api, kami melihat selesat biru cahaya
menatap kami, dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta.

“Jibril!!”

“Jibril!!”

Seketika kami berteriak, antara takjub dan panik, gembira dan tak percaya, melihat
impian kami sudah di depan mata. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami?

“Buru!”

Teriakan itu, mendadak menyadarkan kami, betapa memang inilah yang selama ini kami
tunggu-tunggu. Jibril, kini telah muncul di hadapan kami, kenapa kami malah bengong
begitu? Maka, dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Tombak, anak
panah, desing senapan mesin, roket dan basoka, dengan cepat berlesatan ke arah selesat
cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak.

“Kejar!”

Kami pun melesat, mengejar Jibril. Bertahun-tahun kami memburu. Membiarkan kaki
kami koyak oleh duri, membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Kami
tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah
perburuan kali ini. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Setelah berabad-abad
kami hidup sebagai pemburu, setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami
jadi pemburu sejati, inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Tombak terus
beterbangan, roket terus berlesatan, jaring-jaring baja telah kami rentangkan, ranjau- 17
ranjau telah kami tanam, perangkap telah kami pasang, agar kami mampu meringkus Jibril.
Inilah buruan kami yang abadi. Kemanapun Jibril melesat, kami memburunya.

Sampai kami tiba di pinggir telaga ini, yang menyimpan bayangan bulan. Sebagian
besar dari kami kini benar-benar renta. Kami tak sempat istirahat. Kami tak pernah tidur di
satu tempat, hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami begitu sibuk memburu Jibril.
Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini, dan kami pun tak sempat
menguburkannya. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Kami tak mau kehilangan jejak.
Dan memang, kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Ketika kami baru saja
rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun, mengharap kesegaran akan
membuat tenaga kami kembali muda, kami sudah harus kembali pergi ketika pada
bayangan bulan, kami lihat jejak cahaya.

“Kesana!” seseorang dari kami berteriak, dan langsung melesat. Di seberang telaga
sana, kami melihat buruan abadi kami, mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya.

Maka kami pun kembali bangkit, meraih peralatan berburu kami. Segera menghambur,
melanjutkan pemburuan abadi kami.***

Yogyakarta, 1995-1998

(Dongeng Buat Mas Danarto)


Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira 18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah
pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di
depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesua-
tu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahan-
lahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan
tarian yang terluka. Entah tentang apa.

Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan


tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batin-
ku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku.

Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan
tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu.
Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus
kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah
basah. Kesunyian kian lengkap.

Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala.
Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang
menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu
yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita
tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu.
Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup.

Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana.

“Selamat malam, Dianing.”

“Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.”

“Engkau sesungguhnya, Dianing.”

Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.


“Di mana Lismatano sekarang Dianing.”

Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku.

“Pergilah ke hutan Para, Dianing.”

Aku menautkan kening.

“Kau akan tahu.”

Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku


19
dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para.

Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku.
Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan
gelisah.

“Inikah hutan.”

“Ya. Hutan Para.”

Suara burung hantu.

“Apa yang aku tahu.”

“Ikuti aku.”

Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu.

Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita.
Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku
akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan
kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku
bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!!

Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali.
Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik
aku kembali berada di ketinggian menara.

Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku
yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku.

“Untuk apa kau bawa aku.”

“Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.”

Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus.

Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.
“Apakah aku terlambat, Dianing.”

“Sama sekali tidak.”

“Mengapa batinmu begitu luruh.”

“Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.”

Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia


yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak
kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama.
20
Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia
mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin.

“Selamat malam.”

Aku membalasnya dengan menguap.

“Selamat malam, Dianing.”

Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku.

“Tidurlah dengan damai.”

Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam.

Di ketinggian menara ini.

Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan


aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau.
Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu
mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para
bidadari tersenyum ramah.

“Oh kehidupan yang menyenangkan.”

Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini.

Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi
nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju
serba putih.

“Aku akan menjemputmu, Dianing.”

“Menjemputku!?”

“Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.”

Aku tak mengerti.


Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku.

“Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.”

“Ia masih terlalu muda.”

“Kehendak Tuhan.”

Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara
aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka.
21
Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali
padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku
tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas
kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah.

Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka.
Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh.
Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan
jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit.

Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan
sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benar-
benar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah
diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti.

Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang
menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku
dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat.

Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika
jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung
semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah.
Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit.

Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di
depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan
Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain
ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku.

Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung
hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku.

“Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.”

“Tentang apa.”

Aku menatap burung hantu.

“Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”


“Maksudku melihat dunia.”

“Ya.”

“Baik karena cintaku aku merestui Dianing. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia.”

Aku terpana.

Burung hantu mengepakkan sayapnya. Tersenyum dan memberi salam padaku. Aku
membalasnya dengan anggukan tulus.
22
“Aku tunggu kedatanganmu di dunia, Dianing.”

“Bila Tuhan mengizinkan.”

“Tentu.”

Burung hantu terbang. Ia menembus awan, mega, bintang, bulan menuju ke dunia.

UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia. Atas izin Tuhanku. Aku lewati langit demi
langit. Gemerlap bintang menyambutku, langit cerah. Bulan bulat penuh. Ia bugil di malam
yang damai itu. Aku bertemu dengan mega.

“Cukup lama kami menunggu, Dianing.”

“Oh ya.”

“Cepatlah kau temui burung hantu. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu.”

“Ya.”

Aku lihat burung hantu terpekur sendiri. Aku lihat wajahnya sepi. Seperti menunggu
kedatangan.

“Gerangan siapa membuatmu sepi.”

Matanya berpendar. Indah sekali. Ia menjerit.

“Dianing.”

“Ya.”

Kami berpelukan. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria.

Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya.
Seperti berabad-abad lalu.

“Boleh aku tahu dukamu.”


Burung hantu menatapku. Tatapan yang sulit aku urai.

“Maukah kau ke hutan Para.”

“Hutan Para!?”

“Lismatano ada di sana dengan perempuan itu.”

Aku lunglai.

Tiba-tiba begitu sepi.


23
“Dianing,” panggil burung hantu lirih.

“Untuk apa.”

Burung hantu masih bertengger di pohon randu.

“Bila kau berkenan. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia.”

Aku luruh.

“Bukankah mereka telah menikah.”

Burung hantu menggeleng.

Aku terpana.

“Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu.”

“Lalu?”

“Lismatano memilih jalan buruk. Tak sekedar gelap, terjal dan mendaki.”

“Bicaralah.”

“Mereka seatap tanpa ikatan.”

“Maksudmu...”

“Ya.”

Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif. Serumah tanpa ikatan
sah sebagai suami istri.

“Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri.”

Aku kembali ke hutan Para. Lismatano, laki-laki yang pernah aku dambakan jadi
suamiku. Telah berpaling dengan perempuan lain. Hidup bersama tanpa kata yang jelas. Di
hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang
sama. Pergulatan yang dahsyat. Aku tak kuasa melihatnya. Tapi, entahlah mengapa tiba-
tiba aku terpaku di depan mereka.

Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Saling menumpahkan nafsu. Deru nafas
memburu. Tiba-tiba... Aku tak percaya melihatnya. Tubuh Lismatano mengeras. Ia berubah
jadi batu. Ya. Lismatano telah membatu. Kini tak bisa bergerak. Ia dalam keadaan yang
mengerikan ketika membatu. Tubuhnya tumbuh lumut. Lebat dan kotor.

Aku terpana. Ngeri. Perempuan itu.

“Yuniz nama perempuan itu, Dianing.” 24

Aku hanya mengangguk. Ia tak membatu, tetapi tubuhnya berubah. Ia berkaki empat.
Besar. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Perempuan itu berubah binatang yang sangat
mengerikan. Aku yang terpaku. Mulutnya lebar ke arahku. Siap menerkamku. Tapi burung
hantu segera menerbangkan aku.

Aku di atas pohon randu. Lismatano telah membatu dan berlumut. Sementara
perempuannya berubah binatang.

“Mengapa dengan mereka.”

“Itulah yang pantas mereka terima.”

Aku menghela nafas.

“Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka.”

Aku menekuri tanah.

Aku berada di ketinggian menara. Sebentar lagi aku harus kembali. Menikah dengan
Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan
angin. Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Ya. Dan aku kini mulai belajar untuk damai
dan bahagia dalam sendiri.***

Jakarta, Mei 1997.


Horison, Februari 2000

Pistol
Oleh: Ode Barta Ananda 25

Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran. Mlah..., dor! Dor!
Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran. Ada yang
menembus kepala. Ada yang menusuk jantung. Ada yang mengelupaskan bahu. Tapi tidak
ada satu pun yang meleset.

“Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja
berhasil menembus jantung sasaran. “Selain pintar mengejar berita, sebagai wartawan,
ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran.”

Wartawan mendengus. Menghapus peluh pada hidung. Dan berdehem, “Mudah-


mudahan bukan hanya kebetulan, Pak. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa
secepatnya membukakan mata Bapak, untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat
saya.”

“Tentu..., tentu..., asal tahu saja....” Pelatih mengedipkan sebelah mata.

***

“Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol, benar berasal atas usul
Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat.

Pejabat yang berdasi kuning, berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu, tersenyum
lebar sebelum menjawab, “Begitulah. Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi
korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini.”

“Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?”

“Secara prinsip sudah.”

“Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk?


Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan, misalnya?”

Pejabat tergelak. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban.
“Tapi, hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak
yang cukup tinggi. Harga pistol yang mahal. Dan....”

Belum selesai pertanyaan itu, sudah ditukas pertanyaan lain, “Padahal menurut
selentingan kabar, sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?”

“Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain.

“Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?”

Pejabat mengerutkan kening, “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan
langsung memasuki mobil sambil membanting pintu.
26

***

Dor! Tembakan wartawan meleset.

“Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang.

“Saya sedang tidak konsentrasi.”

“Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?”

“Jangan terus bercanda. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura
marah.

“Silahkan,” sang rekan merentangkan tangan. Lalu mengangguk-angguk, memasang


wajah serius, “OK. Apa yang telah merusak konsentrasimu?”

“Pembayaran pajak pistol ini. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi. Padahal, menurut
perkiraan dokter, istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang.”

Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan
keluar.

Namun wartawan telah kembali berujar, “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya
belikan alat perekam baru. Kau sudah lihat kan?”

“Wow! Canggih, Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat
seimbang dengan harganya yang mahal.”

“Untuk melunasi kreditnya, saya harus menggadaikan pistol ini.”

***

Saat panas menukik terik. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. Waktu
angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik. Saat itulah para pencari berita
berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya.
“Kelihatannya biaya latihan, harga pistol, nilai pajak, dan biaya administrasi lainnya,
semakin tak menentu, Pak?”

Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng. Malah semakin menekan gas
mobilnya sambil menginjak rem. Melihat para wartawan tidak mengerti, dia beralih
membunyikan klakson.

“Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?”

“Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras.

Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik, yang terlambat datang,
27
menyeruak kerumunan, dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam,
“Apakah Bapak, akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu, sesuai dengan jabatan
Bapak?”

Pejabat terbelalak. Dia langsung mengangguk keras-keras. Menutup kaca jendela mobil.
Dan menekan gas dalam-dalam.

***

Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. Saat fajar bergerak sembunyi.
Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi. saat itulah wartawan dan pejabat,
asyik berbincang-bincang dekat telepon umum.

“Kau kan sudah menelepon tadi malam. Kenapa sekarang masih mengganggu lari
pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab.

Wartawan tergelak, “Tak enak rasanya, kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak,
untuk minta maaf,” diulurkan tangan untuk berjabat.

“Harus kuakui, ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam,” pejabat
tergelak juga. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri.

"Setibanya di rumah, saya baru menyadari, ternyata alat perekam saya yang mirip
pistol ini,” wartawan mengeluarkan alat perekam itu, “yang membuat Bapak ketakutan dan
tergesa meninggalkan kami kemarin?”

Pejabat mengangguk. tapi belum sempurna anggukannya, wartawan telah menukas


sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol, “Benarkah tidak ada
keterlibatan oknum tertentu, yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan
dengan pistol? Atau....”

Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan. Wajahnya memucat,


“Jjjangan! Dddia bukan mengancam!”

Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan. Dia tertelungkup. Dan
darah mempermerah jaketnya yang sudah merah.***
Teater Dewala
Oleh: Doddi Achmad Fawdzy

28

Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day, Prabu Kresna masih meng-
umpat-ngumpat kepada para Punakawan. “Sebel gua, lagi-lagi propaganda Amerika. Apa
sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!”

“Tapi Prabu, saya tidak melihatnya dari sisi itu. Ajakan untuk berdamai dan bersatu me-
lawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk
bersatu melawan musuh dari laur angkasa, dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga.

“Dalam dunia pewayangan, tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. Dewa
jangan diberontak, mereka sponsor kita kok.”

Sesaat hening. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. Melewati
Alun-alun Bandung, tiba-tiba Kresna, gerombolan Pandawa, dan Punakawan itu merasa
dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG,
begitu ngepop. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. Nakula dan
Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. Astrajingga dan
Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal,
“Kramotak, kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem, tidak
terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. Tiba-tiba beberapa orang merasa
lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky.

“Siape ni nyang ngulang tahun, mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan
Sadewa bertanya kepada rombongan.

“Bukan mau nraktir, BM dong!” balas Kresna.

“Belum begitu laper gua ini, kita masuk pub dulu!” ajak Bima.

“Sambil makan malam, kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari
kemerdekaan negeri kita. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi,” sahut Kresna.

“Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja, terlihat gairahnya kalau diajak
berpikir serius.

“Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. Kan kemarin
kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian
daerahnya masing-masing. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta
yang Hilang, apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat
sudah turun seperti itu? Rusak Re, Rusak!”

“Inilah salahnya Prabu, kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik,” Dewala men-
coba menjelaskan.

“Jangan sok tahu Kau. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir.”

Dibentak seperti itu, Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Punakawan yang lain
menyikutnya, bahkan Semar menjewer kupingnya.

Seperti biasa, Gareng kebagian memesan hidangan. Para pengunjung tanpa disuruh
29
segera meninggalkan makanannya. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah
membayar makanan. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa,
segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. Rupanya dia dan pemilik
rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. Hasil pembicaraan
pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana.

“Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang
akan melibatkan personal dari berbagai negara. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus
menyambutnya. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh ren-
cana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti,” demikian Kombayana punya usul.

“Kukira tidak mesti seperti itu. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita teri-
ma. Takdir kita untuk menerima kekalahan. Apa pun yang kita rencanakan, Dewata telah
memutuskannya,” Bisma mengingatkan.

Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. Mereka mendengar laporan
bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca
melaporkan kejadian sesungguhnya. Bima menggebrak meja.

“Misi ujicoba kita gagal.”

“Ini kehendak Dewata. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh.” Semar mengingat-
kan.

“Tidak, Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan. Karena itu, misi per-
damaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala
hanya omong kosong. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. Tak ada kesenian
dalam merebut kemenangan. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi
satu arah untuk mencapai kemenangan.” Arjuna bersungut-sungut. Tangannya masih
menggenggam paha ayam.

Bima meraung-raung, suasana rapat menjadi lebih kacau. Nakula dan Sadewa ikut naik
pitam. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. Ia membubarkan rapat dan memohon
Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain. Acara untuk menyambut hari ulang
tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif
untuk mencapai perdamaian. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada
Batara Guru.
Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Ke-
bangkitan Asia. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi, dari kopi dan dari
rokok. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. Kalau sudah seperti itu, ia
biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan, ia lebih
suka berhadapan dengan komputer dan internet. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga
didapatnya. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. Dipanggilnya Dewala saat itu
juga.

“Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu, tapi tidak
ada sponsor sampai saat ini. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa
adanya. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja, sekarang rakyat sudah menjadi mate-
rialis, segala benda serba diuangkan. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi 30
saya.”

“Bagi saya, pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah, tetapi yang bisa
membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia,” jelas Yudistira.

“Justru naskah ini tepat sekali, Prabu. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. Cerita
kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. Kita harus
mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan.
Kita mengalah untuk menang, mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti
mereka akan kalah, itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. Dengan
dibahagiakan, insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan
Dewata dengan dada yang lapang.”

“Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?”

“Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri, kalau memang
bakatnya membelot ya membelotlah. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara
mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. Sebenarnya waktu Pandawa
mau diajak main dadu, mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman
Sengkuni. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak
terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. Saya punya teknik, selain nanti para pembe-
sar dari berbagai negara diundang, juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain
dalam pementasan ini. Dengan demikian, silaturahmi antarseniman pun terbina. Konon
katanya menurut mitos, seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan
dan kebersamaan.”

“Tapi saat ini saya ragu, soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gon-
tokan.”

“Itu wajar karena mereka punya ideologi. Tetapi kita juga tahu, bahwa mereka saling
menghargai pendapat dan karya seniman lain. Eu begini Prabu, dalam akhir cerita, saya
akan membalikkan fakta. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan.”

“Apa itu?”

“Ada saja. Pokoknya rahasia. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu
dari sekarang.”

***
Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena
dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi
setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi
komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi
Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini.

Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka
tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca
karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari
fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lem-
paran kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan
Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung 31
mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai
taruhannya, dan kalah.

“Mustahil,” gumam Arjuna.

Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi
sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa
dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan
telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang
paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan
Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina.

Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya
dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan
baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat
apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya.

Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditang-
galkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam
penjara sebagai tawanan taruhan.

Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dur-
sasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh se-
mangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat
harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama,
keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!”

Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang me-
rasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak.

“Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelas-
kan lewat mikropon.

Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana
langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya sen-
jata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari
jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa men-
jadi kebal.
Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sam-
pai saat ini belum ada yang kalah. ***

32
Ondol
Oleh: A. Hidayat

33

Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali.
Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan
tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati
Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu.
Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.

Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai
Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup
dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga
hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya
yang tembam dan kebiruan.

Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbul-
kan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja
hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan
tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius
dan kematiannya yang mengenaskan itu.

***

Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di
desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan
peristiwa itu.

Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna
senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi
kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana.
Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa
pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi
mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam
Soe.

“Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya.

Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.


Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu
orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang
yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci
menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit.

“Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit
sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang
terparkir di halaman.

Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang
melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang
bersandal jepit, lalu duduk lagi. 34

“Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit.

“Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya.
“Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah
tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi
kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu
dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati
Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu.
Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.”

Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil.

“Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak
dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa
luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya.
Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena
tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.”

Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras.

“Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu
menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba
saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol
ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya
yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....”

“Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang
menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang,
tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.”

Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor
kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang
dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus
lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit.

“Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya,
yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.
“Hei, nih ada laporan kriminil,” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada
keduanya.

“Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis, sedang yang berkaos
oblong langsung masuk ke ruang lain.

“Iya, Pak. Begini, Pak. Di tepi kali di desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga
kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol
ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali
cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya
menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari
tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir 35
memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.”

Yang berkumis batuk-batuk kecil, berdiri dan mondar-mandir.

“Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak
dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa
luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya.
Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena
tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.”

Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras, duduk sebentar dan kemudian berdiri
mondar-mandir lagi.

“Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu
menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba
saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol
ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya
yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....”

“Sebentar, sebentar,” yang berkumis memotong. “Sorri, sorri, sorri yeah, urusan
kriminal itu banyak macamnya. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. Urusan saya
adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja.
Kalau kalian punya narkotika, hubungi saya yeah. He he he. Kalau yang menangani urusan
bunuh-membunuh, yang berkaos oblong tadi. Nah, kalian dengar, dia lagi mandi dulu.
Tunggu yeah.”

Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. Salah seorang yang melapor
segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. Yang bersandal jepit
dan yang berkumis menemani mereka merokok. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak
terlalu luas itu.

Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya. Mulutnya bersiul
sumbang entah lagu apa.

“Nah, ini dia selesai mandi. Ayo sekarang lapor sama dia,” kata yang berkumis kepada
orang-orang yang melapor.

“Terima kasih. Begini, Pak.”


“Nanti dulu,” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan
tangannya, “laporan kriminalitas?”

“Iya, Pak.”

“Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di


hadapan yang berkumis.

“Iya, Pak.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus
rokok kepada yang berkaos oblong.

“Ya, ya, ya... ayo mulai,” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok.
36

“Begini, Pak. Di tepi kali di desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang
sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati
di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih
kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa
sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas
godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang
rusuknya.”

Yang bersandal jepit bersin, bunyinya mengagetkan yang melapor.

“Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak
dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa
luka yang cukup mendalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya.
Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena
tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.”

Yang bersandal jepit bersin lagi, bunyinya kembali mengagetkan yang melapor.

“Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu
menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba
saja hilang, Ondol, selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol
ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya
yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu...”

“Baik, telah saya dengarkan,” kata yang berkaos, “apa kalian bawa berita acara
kematiannya?”

Orang-orang yang melapor kaget dan bingung.

“Wah, kami tidak membawanya, Pak. Bagaimana, ya. Apakah tidak cukup dengan
laporan lisan saya tadi, Pak?”

“Tentu saja tidak. Harus ada berita acara tertulis. Laporan lisan saja tidak cukup,
walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun. Apalagi kalian cuma
warga desa biasa! Sebuah laporan, apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan
dengan pembunuhan, mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. Ya, dengan menyerahkan berita
acara kematian itu. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!”
Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. Orang-
orang yang melapor menunduk semua.

“Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan, itu namanya baru disebut is-
syu. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78, sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai
is-syu. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya
sedikit pun. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. Apalagi tanpa bukti. Ada bukti pun,
jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih, ya hanya bisa dianggap sebagai
kebohongan. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim
di sini: di-tam-pung. Nah, karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diis-
syukan tadi. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas, ya tass.”
37
“Caranya bagaimana, Pak?”

“Menurut peraturan nomor 23456/7/89, berita acara itu sekurang-kurangnya ditandata-


ngani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu, Ketua RW
beserta ibu, Kepala Desa beserta ibu, Camat juga beserta ibu, Kepala Kepolisian beserta
ibu, dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. Lalu dikukuhkan oleh
seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh.
Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian, visum dokter, keterangan kelakuan baik
sepanjang hayat, keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah, tidak
pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan, dan syarat lain yang tercantum di sini,
nih.”

Yang berkaos menyerahkan selembar kertas.

“Nah, karena sekarang malam Minggu, sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan
tutup. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam
panjang. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan, he he he... pasti dia kesepi-
an, kan?”

***

Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol, orang-orang yang melapor menceritakan apa
yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas.
Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah
merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. Tetapi orang-orang yang melapor
meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol.

“Ingat, sodara-sodara. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan
setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius,” kata salah seorang. “Menurut yang
berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas. Dan yang lebih penting
lagi, kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan, orang yang kita harapkan
suatu saat bisa memimpin desa ini. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol
untuk memimpin dan memajukan desa ini.”

“Betul. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan
terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. “Kalau soal ini dibiarkan, tak akan ada yang
berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi.
Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri, tetapi saya tidak
berani kalau risikonya harus seperti Ondol. Jelas bukan, ini bukan lagi soal kriminal biasa?
Yang berwajib saja mengatakan, ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif. Karena itu,
pengusutan perlu dilakukan.”

Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan. Salah seorang,


yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa, berbaik hati
mengurus berita acara kematian Ondol. Namun pembuatan berita acara itu memakan
waktu dan biaya yang tidak sedikit. Untuk mendapatkan visum dokter, mayat yang telah
dikubur digali kembali, dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. Kerabat
Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang
menandatangani berita acara itu. Menurut salah seorang kerabat Ondol, lebih kurang satu 38
juta habis digunakan untuk berita acara itu. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu
bisa didaftarkan di pengadilan.

Pada hari itu juga, dengan semangat 45, orang-orang yang melapor kembali datang ke
kantor yang berwajib di kabupaten. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui.

“Begini, Pak. Sesuai dengan petunjuk Bapak, sekarang kami serahkan berita acara
kematian Ondol,” kata salah seorang, “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan
segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya.”

Yang berkaos oblong mengerutkan dahi.

“Aduh, kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali, ya sayang
sekali. Menurut peraturan nomor 34567/8/90, sebuah peristiwa kriminal pembunuhan
dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya
masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini.
Kalau kemarin datang ke sini, tentu berita acara kematian ini, atas nama hukum, bisa saya
terima.”

Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu.

“Sekarang kami tidak punya banyak waktu. Kami lagi sibuk, supersibuk. Sebuah
kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan
penanganan yang tidak main-main. Lihat, berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami
terima," yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja.

Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata.

“Jadi, lebih baik kematian e... siapa namanya itu, kalian lupakan saja. Bukan kami tidak
ingin mengusut, tetapi kalian yang teledor, tidak disiplin dengan waktu. Jaman sekarang
kita harus berpacu dengan waktu! Ya, kami tidak punya waktu banyak. Selain harus
mengusut perkara minggu lalu, kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin
brengsek setahun yang lalu itu," kata yang berkaos setengah marah-marah. “Sekali lagi,
lupakan saja kematian si Podol itu, ya! OK?”

Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara
kematian.
Dalam terik matahari yang membakar tubuh, mereka melangkah menuju sebuah
warung kecil. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar.
Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan. Karena plastik
pembungkus di warung itu habis, mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas
segel berita acara kematian Ondol. Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara.
Kertas-kertas warna-warni berhamburan, melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi
jalan, ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan, sebagian lainnya hanyut di selokan.
Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan.***

39
Horison, Maret 2000

Nuh 40

Oleh: Isworo Haris Sunardi

"Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?"
tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. Kuusap-usap dengan keras dan
kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini, tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku.
Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya. Aku
jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu
besar, di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya.

"Kaukah itu? Jawablah!"

Lelaki itu tetap diam. Bisukah? Tanyaku dalam hati. Tapi dia memandangku terus dan
tersenyum mengejek. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. Tongkat
penyangganya menebar harum bau cendana, tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap.
Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada.
Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati.

"Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi.

Lelah rasanya aku memanggil, tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak
kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan. Barangkali dia tidak tahu bahasaku
yang berasal dari Indonesia, bahasa yang sangat asing ditelinganya. Ataukah senyumnya
itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati?
Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka.

Dia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

"Ya. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu," jawabnya tenang. Aku
hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh.

"Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?"

"Ya," dia mengangguk. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian."

"Kalian?" aku heran. Kulihat di sekelilingku, tapi yang kutemui hanya diriku sendiri.
"Ya . Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. Aku berlayar
di lautan tiada berpantai itu, seperti katamu, hanya untuk umatku. Tugasku telah selesai
dan tinggal santai. Bukan untuk kalian. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan
waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. Beda sekali dengan lautan yang aku layari,"
katanya menjelaskan.

"Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami, Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini
berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini, Nuh? Aku mohon?"

Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Ada guratan gelombang di keningnya. Alis
putihnya mengumpul, seperti dia sedang serius berfikir. Lama aku menunggu jawabannya.
41
"Tidak, tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu," katanya menggeleng. Aku sangat
kecewa.

"Kenapa?"

"Kronologi perjalanannya berbeda. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah
Tuhan dan nasihatku. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Bahkan tahi, bahkan tahi
dilemparkan ke muka ini. Istriku sendiri yang mengajari. Karena lamanya aku membuat
kapal, aku jadi kebal. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. Di
antara mereka banyak yang saleh-saleh. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa
sendiri. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang.
Jembatan waktu yang kau tuju, telah berubah arah. Semua karena hanya ingin mengikuti
kata hati tanpa kau fikirkan. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti
kemauan mereka. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat
warna."

Aku terdiam. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh
lapar yang sangat. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. Setiap kali kutapaki
jalan sambil memanggul sepi. Aku rindu harapan. Aku berjalan di bawah penindasan. Dan
matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengat-
nyengat pikiranku.

Akhirnya aku harus memilih jalan, ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara
perang dan perang. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. Sementara di
atasku beribu peluru mendesing memburu. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Kukejar
dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku
berhasil menang.

Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. Aku
sering mendiamkan atau mendamaikan. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. Saat
kuketahui mereka curang dan membahayakan, mereka kusikat. Kubabat tanpa sisa.
Akhirnya sampai juga aku menguasainya. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan
sambil meraba-raba bangunan, dengan tanah-tanah yang kubangun rumah, juga kuda-kuda
liar yang bisa kutundukkan.

Aku dan anak buahku, juga familiku, aku bagi kebahagiaan. Mereka bebas makan,
berpakaian, kadang rumah yang berlebihan. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai
banyak lupa, mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja.
Mereka punjung kata dengan emas. Aku ditandu dan dielu-elu, kedua tanganku mengepak
serupa sayap. Kulambaikan tangan pada orang-orang.

Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet
dan perang-perangan. Mereka tampak menyongsong, tapi di belakang disiapkan
membokong. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. Aku jadi sendiri, tepekur
melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi.

Berjalan menyusuri ujung penantian.

"Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggil-
manggil orang yang kukagumi itu. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Orang yang 42
sabar berlayar itu akan kupungut hatinya. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari
petunjuknya.

Lama kucari-cari dan kunanti, tapi tak juga muncul dalam benakku. Kureka-reka dalam
khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu
ada di sana. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku, tapi malah
tersasar dalam lembah kurang ajar. Aku berlari di hutan-hutan, tapi hutan itu malah terba-
kar, dan gunung-gunung yang kupijak meledak. Bencana-bencana beruntun melanda. Tapi
yang kucari tak ketemu juga.

Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. Kesunyian-kesunyian
yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku.

Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. Sambil berlari Dia kuhampiri. Kuulurkan
tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. Tapi layaknya sekat, betapa
sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. Aku gagal
menyentuhnya.

"Ketegaranmu, Nuh, akan kutempuh!" kataku.

Dia tersenyum.

"Jangan mengejek, Nuh."

Nuh yang tua itu menggeleng. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. Bibirnya lembut
mengurai suara.

"Tabah," katanya. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. "Tanpa ketabahan kau takkan
mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. Ketabahan yang kau
pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat."

Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya.

"Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. "Kau pasti akan merdeka
seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu."

"Lalu, Nuh?" tanyaku tak sabar. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit.
Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas.
"Tenang!" katanya. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya. "Ya, ke sana!"
katanya menjelaskan. Dia menyuruhku memandang ke atas.

"Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. Kendali
emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan."

Aku termangu dalam buaian nasihatnya. Mataku terus saja menatapnya. Tapi Nuh tiba-
tiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku.
Aku terdiam tenang. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan. Kupandangi dia
saat berjalan meninggalkan.

"Terima kasih Nuh, terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam 43
yang mulai merayap meranggas gelap.***
Pada Sebuah Taman, Mei
Oleh: Moch. Hasymi Ibrahim

44

Di taman kota, senja beringsut perlahan, lamban, bahkan nyaris lunglai. Senja yang
kemarin juga, tapi. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana.

Pagi sekali, mereka yang hanya mengenal canda dan birahi, telah bergegas pergi dari
situ. Terbang ke tempat-tempat yang jauh, mungkin ke wilayah-wilayah yang belum
dikenalnya. Asing. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama
naluri? Kukira tak ada. Ning juga pernah bilang begitu, dulu, ketika kami tidur bersama
pertama kali, pada sebuah flat sederhana di Brooklynn, NY.

Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang
bisanya bersemangat menjemput malam, turun amat perlahan, lesu, meninggalkan gerah –
juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. Kota sedang terbakar. Revolusi, mungkin,
sedang bermula.

Usai mengantar Ning, aku segera terbang ke sini. Bau tubuhnya masih tersisa dalam
ketergesaan langkahku: asin, berkeringat, beraroma perempuan dengan keliaran
tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. Bukan hal mudah mencapai
taman ini. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan,
perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. Jalan raya
yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap, lenggang, menyisakan cungkup-
cungkup api dari mobil-mobil terbakar.

Lalu di sini, senja mulai nyungsep, dan Yogo telah datang.

“Kita evaluasi perkembangan, di sana. Pergilah,” ungkapnya tadi subuh sebelum


berpisah. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap
menunggu. Kekuasaan, kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap
Yogo, sepanjang malam, tadi. Dia hanya mengenakan T-shirt polos, sepatu karet dan
celana jeans. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik, lenyap sama
sekali. Sambil mengontrol radio, memberi komando, mematangkan dan memberi perintah
“start”, dia bagai berada dalam situasi ekstase. Persis ketika suatu malam, nun beberapa
tahun lampau, ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye, Paris, meneguk
perlahan hangat tequilla. “Perjumpaan dengan calon presiden,” aku menyebut pertemuan
malam itu. Dia datang dari jauh, pedalaman Irian, usai membebaskan sandera. Bau hutan
tropis masih lekat di wajahnya. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari
seorang prajurit lapangan, juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. ”Anda
bantu saya. Tak perlu kontak, kukira. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan,
persahabatan. Juga keagungan sebuah cita-cita. Kamu pasti setuju, persahabatan adalah
ikatan kita.” Singkat, simpel, khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan
menengah di negeri-negeri asing.

Dan malam tadi, hingga subuh ketika kami pisah, Yogo tampak angker. Lambaian
tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. Persahabatan itu, segera akan
terbukti, kelak, tapi rencana masih sedang berlangsung. Belum perlu ada kalkulasi menang
atau kalah. Presiden memang sudah terpojok, tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. Juga
kedatangan Yogo yang telat.

Malam kemudian tiba dengan diam. Malam yang sepi.


45
Ning menelepon.

“Bang, Presiden mundur besok. Yogo tak mungkin datang. Pulanglah,” katanya simpel.
Tak ada basa-basi, seperti irama tubuhnya: simpel, langsung, tegas dan banal.

Aku kontan diserang frustasi. Lesu, habis, pupus. Sebuah persilatan virtual telah
berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya, bahkan dua tahun
sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan.
Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen, mengamati penampilan sekian ratus
tokoh di depan publik dari waktu ke waktu, menganalisis arah perkembangan berbagai
kelompok. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci, sampai ke gelagat seksualnya di ranjang,
telah aku rekam di luar kepala. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. Para
pemain valas telah terkuasai. Beberapa buah bank sudah ambruk. Markas keuangan sudah
terbakar, diliputi misteri. Para aktivis telah diamankan. Sabotase, demonstrasi, dan
berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Bahkan picu massa telah berhasil melalui
eksekusi mahasiswa. Presiden yang ternyata sangat lemah, masih mampu tampil sebagai
satu-satunya pilar penentu. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. Demi Yogo, demi
kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris, dan demi keagungan. Oh, betapa
menggairahkan.

Di ufuk, bayang kegagalan mulai tampak. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan
panglima. Dia berada satu level di bawah, tapi aku punya keyakinan, juga kepercayaan atas
nama keagungan, bahwa dia takkan menyerah begitu saja. Langkah presiden selamanya
memang tak terduga. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. Akan
menyetop aksi, akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami.
Ini harus dicegah. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan, rupanya tak
dapat dipercaya; dia memilih mengalah sebelum bertempur. Dia ternyata bukan prajurit
sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. Dia tak lebih seorang tua pikun yang
sedang kehabisan cita-cita, —lampu teplok kehabisan minyak; faktor yang kami tak hitung
selama ini.

“Ning, kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning.

“Ia. Kamu kok diam saja?”

“Aku bingung. Ada kontak dengan Yogo?”

“Belum, tapi kuusahakan. Mungkin dia sedang di istana.”


“Pulanglah segera, pulang. Di sini kita bisa berpikir jernih.”

Suara Ning tetap empuk. Menggairahkan. Memanggil. Tak ada kegetiran, apalagi
kegentaran. Dia memang lebih matang. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya
seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Sebaliknya, aku yang justru panik dan
gamang. Bukan karena risiko yang mesti datang, balas dendam kalangan militer, bukan.
Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan
sempurna. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks, lantaran aktornya bermain tak
terkendali. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama
ilusi revolusi, seperti Che Guevara, Castro, dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan
menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Aku benar-benar
frustasi, kini. 46

"Kamu masih di situ?" tanya Ning. Kali ini suaranya bernada khawatir.

“Iya,” balasku memencet “off” pada hand-phone.

Malam sudah bertahta. Udara gerah berbau asap. Taman benar-benar muram. Durja.
Reranting tampak seram memantulkan malam hari. Kota masih terbakar, menghanguskan
sisa rencana.

Hand-phoneku bertulilit. Suara Yogo; “Tunggu sampai besok,” katanya singkat.

Tak ada besok, Yogo: gumamku membatin. Seperti yang sering kamu katakan,
sekarang atau tidak sama sekali. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi, dan
tak ada rencana ulang.

Di sini, di taman tempat burung-burung bersenggama, bertelur dan berkembang biak –


dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. Keagungan itu
memang ilusi, kini. Bagi Yogo, utamanya. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Kami akan
segera terbang ke negeri lain, di sana prarencana sudah tersusun. Sasaran tembak:
Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional, alumni
Oxford, almamaterku. Ini tentu akan lebih menggairahkan. Biarlah persahabatan dengan
Yogo berakhir. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Dia terlampau cerdas untuk
dihentikan. Tapi tidak malam ini.

“Ning, kamu masih di situ?”

“Ya, aku sudah mandi.”

“Sekarang pakai handuk?”

‘Ya, cuma handuk. Duduk menunggumu.”

“Sebentar lagi aku datang. Aku ingin berendam.”

“Kalau begitu aku mandi lagi.”

“Berendam bersama-sama.”

“Iya.”
“Terus?”

“Terus larut seperti biasa.”

“Aku meresapkan bau mulutmu, kini.”

“Aku juga.”

“Tunggu, ya!”

“Cepat.”
47
Malam, di taman ini, kurasakan gairah yang lain. Gairah bulan Mei. Seperti gairah
sebuah musim panas, di Brooklynn, NY, nun bertahun lampau.***

Jakarta, Juni 1998


Pemahat Abad
Oleh: Oka Rusmini

48

Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. Hampir saja pisau itu memahat
kakinya. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Seperti bau daun-
daun kering dan kayu basah. Aneh, dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu
gelisah? Bau itu semakin mendekat.

“Siapa itu?”

“Titiang.1 Luh Srenggi.”

“Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Bau itu semakin mendekat dan
menyesakkan dadanya. Tangannya jadi lapar. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Pisau-
pisau yang runcing tebayang di otaknya. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar
menelanjangi wujud laki-lakinya.

Katakan padaku, siapa kau?!”

Titiang yang akan melayani seluruh keperluan, Ratu.2 Mulai hari ini dan seterusnya,”
Suara itu terdengar gugup.

"Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri.

“Luh Srenggi.” Suara itu terde-ngar bergetar. Suara itu adalah suara perempuan. Apa
yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Aneh sekali, tiba-tiba saja dia
seperti ditenggelamkan ke lautan. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran, kasih
sayang, dan sangat tulus. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Inilah perempuan itu,
perempuan yang dicarinya berabad-abad. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya.
Seorang perempuan, benarkah suara ini milik seorang perempuan?

Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Tangan
mereka bersentuhan. Kopag semakin gelisah. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu.
Luar biasa. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang
pohon, atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun.

Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Dia bisa memberikan penilaian
yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Biasanya dia hanya
dijadikan objek, sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Apa pun yang
dikatakan orang-orang di sekitarnya, Kopag harus patuh. Kali ini, dia merasa menemukan
kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini
rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka.

“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam, Gubreg?” Suara Kopag
terdengar getir, “bahkan untuk menilai keindahan itu, aku juga harus memakai kriteria
mereka?"

"Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup
ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Pikirannya kacau!

Kopag sadar, sangat sadar. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak 49
menggairahkan. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan
matanya. Tapi, apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia
ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat
digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan
kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran,
perasaan, dan keindahannya sendiri. Salahkah?

Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Tubuhnya
seperti lekukan kayu. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Dia adalah kayu terindah dan
tercantik. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Menghargai
keindahan yang dititipkan alam padanya. Bahkan Gubreg, pelayan tua itu, juga tidak
berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Apa yang
sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan?

***

Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag,
agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia
lainnya. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Gelar Ida Bagus
menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana, kasta tertinggi
dalam struktur masyarakat Bali. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki
kedudukan tinggi di pemerintahan. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung.
Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Laki-laki itu adalah binatang yang
paling mengerikan. Kata orang, laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Dia tidak
pernah peduli, cantikkah perempuan itu, sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag, setiap makhluk
yang memiliki lubang bisa dimasuki. Suatu hari, setelah berbulan-bulan tidak pulang, laki-
laki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Tubuhnya kurus dan pucat. Belum lagi
hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Seluruh kekayaan ludes. Dalam kondisi seperti
itu, laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Perempuan itu
menolak. Dia tahu, laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. Apa artinya
kekuatan seorang perempuan? Terlebih, sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan
bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Dia hamil. Lahirlah seorang laki-laki yang
merenggut nyawa perempuan itu.

Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan
hidupnya sendiri. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan, bisa dibuat sebuah
pementasan. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan, di
sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi
dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya, hidupnya. Kehidupan yang
sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Dia memberi Kopag poin, yang tentu saja
tidak dimiliki orang-orang. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang
memikat para intelektual seni rupa. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. Kopag
tidak saja memahat kayu, dia memahat pikirannya, otaknya, juga impian-impiannya. Untuk
pertama kali, alam menyerah pada kekuasaanya, seperti Kopag juga menyerah pada
kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus.

***
50
Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu
mengantarnya ke mana dia pergi. Jujur saja, Kopag sangat menyukai kayu yang
mengenalkannya pada dunianya. Dunia yang diinginkan. Sebuah kesunyian dengan pagar-
pagar keindahan. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping.

“Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu
selalu menggelisahkannya. Ada-ada saja yang diributkannya. Tanaman di halaman samping
rusak atau terinjak kakinya, kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu
tersangkut tongkatnya, atau posisi piring dan gelas berubah di dapur.

Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Bagaimana mungkin
perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata
begitu kasar. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Nama perempuan itu Ni
Luh Putu Sari. Karena dia bukan kaum Brahmana, perempuan itu harus mengubah
namanya menjadi Jero Melati. Karena perempuan Sudra, perempuan kebanyakan itu telah
menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya.

Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa, kulitnya
yang sering jadi pujian, pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan
kaum laki-laki. Aneh sekali, Kopag sering berpikir, bagaimana sesungguhnya sebuah
penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Iparnya yang luar biasa
kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya.

Bagi Kopag, perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Saat ini dia sangat
mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Perempuan itu
benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana, dia harus
menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam
lingkungan keluarga bangsawan. Itu yang dirasakan Kopag, ketika untuk pertama kali
iparnya itu menyalaminya. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang
membusuk. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka, dia mencium bau
darah. Anyir. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat
mungil, merah, dan sangat pas. Bahkan Gubreg, parekan, pelayan setia yang merawat
Kopag sejak kecil, selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan
perempuan tercantik di desa.

Masih kata Gubreg, Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga
Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Postur tubuhnya seperti
putri-putri raja Bali.
“Luar biasa kecantikan Jero Melati, Ratu.”

“Seperti apa perempuan cantik itu, Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Aku ingin
tahu, aku juga ingin merasakan. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu.”

Laki-laki tua itu terdiam. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Ada rasa sakit
mengelus dada tuanya. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Tinggi,
dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Sejak kecil kakeknya hanya
mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Atau
sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca.

“Anak itu buta, Gubreg. Menanggung dosa ayahnya. Pertumbuhannya selalu 51


mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. Karmanya jatuh pada
anaknya sendiri. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Aku masih percaya
kehidupan itu bisa diajak bicara. Kau bisa lihat, kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah
yang luar biasa. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Lihat, dia
mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Juga dia baik-baik,
Gubreg. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai, sebelum berpulang.

“Gubreg, kau belum jawab pertanyaanku. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti
bongkahan kayu beringin ini? Dingin, tapi mampu memikatku. Lihat, Gubreg, aku selalu
tersentuh. Gubreg, rasa apa yang sering membuatku meluap, apa ini rasa yang dimiliki laki-
laki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan.

Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar, sudah menjelang dua puluh
lima tahun. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Atau sesekali dia
dikunjugi orang asing dari Prancis, Frans Kafkasau.

Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg, jengkel! Ada-ada saja yang
dibawanya. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing, yang diterjemahkannya,
tentang Michelangelo Buonorrty, yang konon, kata Frans, pematung jaman Renaisans.

Susah. Susah. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag
padanya.

“Kau tidak ingin menjawabnya, Gubreg?”

“Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang, Ratu. Titiang tidak bisa menjelaskan
seperti Frans. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada
kecemburuan.

Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Dadanya sering mendidih. Rasanya baru
mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti
keluar. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Laki-laki bule itu telah
memberinya didikan yang baru, perhatian yang lain. Kopag tidak lagi membutuhkannya.
Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Kehilangan yang dalam. Bagi Gubreg, Kopag
sudah bagian dari nafasnya. Sejak kecil, dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur
kayu. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu.
Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa, termasuk rangkaian pisau-
pisau pahatnya. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat, dan
menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Dia ingat teriakan Kopag ketika
pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Waktu itu umur Kopag tujuh
tahun.

“Gubreg, tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Keruncingannya,


ketajamannya, begitu indah. Begitu penuh misteri. Luar biasa, Gubreg.”

Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Gubreg menyaksikan, betapa
sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit
saja keruncingannya. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Di tangan
Kopag pisau itu jadi begitu dingin, angkuh dan selalu lapar.

Sampai menjelang tengah malam, Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi laki- 52
laki. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Takut sekali
menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki.

***

Pagi-pagi sekali, Kopag sudah membuka jendela studionya.

“Aku ingin bercerita padamu,” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu.

“Tentang apa lagi, Ratu?”

“Kecantikan perempuan.”

“Titiang...Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Semua


orang, Ratu, memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Perempuan itu....”

Suara Gubreg terdengar patah. Berkali-kali dia menarik nafas. Dia mengerti. Sangat
paham. Dia juga laki-laki, dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika
pertama kali menampar wujud manusianya. Begitu parah, dan teramat menggelisahkan
ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Rasa itu tiba-tiba
saja muncul kembali dalam otak, dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya
merangkai masa lalunya kembali.

Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Sering sekali dia disuruh
mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Tubuh perempuan itu seperti ular yang
melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah
itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Kaki perempuan itu putih, dan
mampu meledakkan otaknya. Terlebih, Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok
punggungnya dengan batu kali. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat
erat di tubuhnya. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup.
Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Dia gelisah, dia
luka, karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Sebagai laki-laki
Sudra, kebanyakan, dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana.
Perempuan junjungannya, perempuan yang sangat dihormatinya. Tak ada yang bisa
diceritakan kegelisahannya, dia adalah laki-laki tak berguna, yang hidup dari belas kasihan
keluarga Dayu Centaga. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu
Centaga, Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Dia sering terjaga tengah malam
dengan nafas yang memburu. Hyang Widhi, Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa
dibendung lagi. Tubuhnya jadi pucat. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian, dukun.

Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat
menyesakkan aliran pernafasannya. Kata Balian itu, Gubreg sempat membuang kotoran di
pinggir sungai. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Masih kata Balian tua itu,
tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Berkat kekuatan
Gubreg, Dayu Centaga tidak terkena. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu
sungai. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg, keluarga Griya membawa sesaji untuk
penunggu sungai.

Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Dia pasrah ketika 53
Balian tua...memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Katanya agar roh jahat tidak
mengenai keluarga Griya. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya, Gubreg bersedia
menjalankan runtutan upacara itu.

Tak seorang pun tahu, komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg tidak
sakit, tidak juga kesambet setan. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya, karena aliran
sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil, tetapi sudah menyerupai air bah. Dan
Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Demi Hyang Widhi, dia merasakan
cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Cinta yang
membuatnya jadi batu, dingin, tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai
manusia. Sampai sekarang, menjelang tujuh puluh lima, Gubreg masih setia mengabdi di
Griya. Tanpa istri, tanpa kegairahan sebagai laki-laki.

Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu, Gubreg paham. Sesuatu
yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya.

Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya.

“Gubreg, kau belum juga jawab pertanyaanku,” suara Kopag terdengar pelan. Dia
menarik nafas berkali-kali, "Gubreg, kau ingat kata-kata Frans?”

“Yang mana?”

“Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu


mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso, Guemica. Pada dasarnya aku selalu
penasaran, Gubreg. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi, mengajakku
bicara, berdialog, dan berpikir. Aku selalu ingin tahu, selalu ingin mengupas dan melukai
kayu-kayu itu. Rasa ingin tahu yang begitu besar, sampai menguliti otakku, tanganku,
tubuhku. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon
ketika dia membesarkan ranting-rantingnya, membesarkan tubuhnya, sampai akhirnya
potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Aku juga memiliki impian-impian sendiri
pada patahan tubuh pohon itu. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan,
pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Kata mereka, sangat surealis. Kecantikan
perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran
Martha Graham, yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh
yang dimainkan. Gubreg, aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku.
Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain.”
Gubreg tetap diam. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu
dalam ingin disampaikan Kopag, seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya, diajar
memahami kehidupan. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar
rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya
untuk mengabdi.

Berkat Kopag, keluarga besar ini kembali bisa hidup. Patung-patung Kopag laku keras
dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Sekarang ini keluarga ini tentram.
Jero Melati tidak pernah ceriwis, perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semau-
nya. Bahkan, kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Saat ini galeri
itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena
karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Bulan 54
kemarin, ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis.

Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada
uang atau tidak ada uang. Hanya satu yang ditangkap Gubreg, Kopag memerlukan
perempuan.

***

“Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu,” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati.
Mendengar komentar itu, Jero Melati tersenyum.

“Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan.”

“Jero sudah punya calon?”

“Ya. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari.”

“Siapa?”

“Adik perempuanku,” jawab perempuan itu serius. Gubreg menatap mata perempuan itu
tajam. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh
cantik itu. Benar kata Kopag, perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik.
Otaknya hanya berisi kehormatan.

“Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya.” Suara
perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Gubreg diam. Dia tahu, adik Jero
Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Kata orang-orang kampung, adik Jero Melati
bisa menjual tubuhnya. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Sayang, dia
tidak tahan miskin. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri.

***

“Gubreg. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Gubreg mencoba
memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Lima menit tanpa hasil. Kopag
seperti linglung, dia terus mengelilingi studionya.

“Ratu. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Ratu terlihat sangat gelisah.”
“Ya. Aku ingin kawin, Gubreg.” Suara Kopag terdengar sangat serius.

“Maaf Ratu, titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.”

“Apa kata mereka.”

“Mereka setuju. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.”
Gubreg mengangkat wajahnya, ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Aneh! Wajah itu
tetap seperti batu.

“Aku sudah memiliki calon. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!”
55
“Siapa?”

“Luh Srenggi.”

“Ratu...?!” Gubreg seperti tercekik. Luh Srenggi, apakah kuping tuanya tidak salah
dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan
Kopag, membersihkan studionya menyiapkan makan, dan mengambilkan pisau-pisau
pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan, dia lebih mirip makhluk yang mengerikan,
kakinya pincang, punggungnya bongkok, ada daging besar tumbuh di atasnya, matanya
yang kiri bolong, dia hanya memiliki satu mata. Wajahnya juga rusak berat. Kulitnya begitu
kasar. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Sadarkah dia, tahukah dia
makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat.

“Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam, Gubreg. Tubuhnya benar-benar
lekukan kayu. Kulitnya juga kulit kayu. Kau tahu, ketika kujatuhkan tubuhku memasuki
tubuhnya, aku tenggelam dan habis. Dia adalah perempuan tercantik. Perempuan yang
mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Ketika dia telanjang, tak ada sebuah pisau pun bisa
menandingi ketajamannya. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku.”

Gubreg ambruk. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. ***

1. Saya

2. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali


Horison, April 2000

56

Mayat
Oleh: Putu Wijaya

Mayat itu mengeluh.

“Aku yang mati. Aku yang terdera. Aku yang menjadi korban. Aku menderita. Aku yang
sudah kesakitan. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Aku diberitakan, diperdebatkan,
dipergunjingkan, diselidiki dan dipakai sebagai contoh, sebagai obyek untuk berbagai
penyelidikan, analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya.
Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik
seluruh peristiwa yang dahsyat ini, sehingga mereka menjadi terkenal, terkemuka,
memegang posisi puncak dan akhirnya menang. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apa-
apa. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. Yang akhirnya tak lebih penting dari
segala manipulasi orang-orang tersebut. Ini sama sekali tidak adil!”

Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. Ia menggugat
perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan
manusia.

“Peradaban sudah merosot. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran, tetapi


membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. Dunia sudah menjadi
sebuah pasar besar. Semua orang berdagang. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang
tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan, saling bergotong-royong, tetapi sudah
menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. Kehidupan sudah
rusak. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan
kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra,“ kata mayat itu.

Ia berdiri di pinggir jalan. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai
keluhan, kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang
terdengar tidak bedanya dengan kutukan.

“Aku yang mati, kamu yang enak. Aku yang kejepit, kamu yang melejit. Kamu semua
kelihatan saja menangis, meringis, tapi sebetulnya kamu semua tertawa, kamu terus hidup
ngakak. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. Air
matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual
berita-berita perih, menciptakan esai-esai, elegi-elegi, balada-balada dan orasi-orasi yang
meratapi dan menggugat kematianku. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan
dari orang yang mati!”

Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika
memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. Para wartawan yang ditemuinya
semua menghindar, menutupi hidungnya, mengangkat bahu dan menunjuk atasannya.

“Tanya Bapak, aku kan hanya menjalankan assignment.”

Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat 57
yang cerewet itu.

Akhirnya sekretaris redaksi, terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. Ia
menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. Sama-sama wanita, mungkin dapat
diselesaikan secara baik-baik.

“Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. Kalau memang
ada yang salah, meskipun kami sudah sangat berhati-hati, kami bersedia untuk meralatnya
untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana,” katanya mempersilahkan mayat itu
menumpahkan semua sumpah-serapahnya.

Mayat itu langsung duduk di depan komputer. Seperti bendungan ambrol, ia


menembakkan seluruh unek-unek perutnya. Apa saja yang sudah menyakitkan, apa saja
yang sudah menyinggung, semua yang tidak adil, seluruh ketidak-benaran,
kesalahkaprahan, bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari, ia beberkan
dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. Ia menguras seluruh dendam, luka, prasangka
dan kesakitannya.

Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. Komputer penuh dengan kata-
kata kotor. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh
bandit-bandit tengik. Moral, susila, tata krama, kepatutan, keluhuran budi apalagi
kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini, ternyata hanya sebuah koteka, untuk
membungkus kebiadaban.

“Semuanya busuk,” erang mayat itu. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram


seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. Akhirnya ia menggigit
kursi sampai cabik-cabik, untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh
layar komputer.

Sekretaris panik. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya, telepon
berbunyi. “Biarkan saja, dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. Nanti
setelah kempes dia kan pergi sendiri.”

“Tapi kursinya rusak, Pak. Itu kan baru dibeli. Bagaimana kalau dia menghancurkan
komputer.”

“Biar saja. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. Ini justru bagus untuk publikasi
kita!”
Sekretaris bengong. Mayat itu berdiri, karena mencabik kursi itu, juga tidak bisa
mengurangi tegangan dadanya. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. Sekretaris
menutup matanya, lalu lari keluar.

Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan.
Di antaranya ada gambar garuda. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Mayat
itu baru menjadi sedikit tenang. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya, ia
kembali ke kursi. Di situ ia menangis tersedu-sedu.

Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia


lemparkan keluar dari perut, hati dan otaknya. Ia menoleh kembali ke layar komputer
dengan lebih santai. Seperti balon kempes, ia menggepeng di atas kursi. Nampak begitu 58
lelah namun damai.

Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan


sesuatu. Minuman panas, air dingin untuk penyegar. Mungkin juga makanan, semacam roti
bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. Sekaligus
mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur.

Mayat itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Seluruhnya


mampetan pikirannya sudah tersalurkan. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang.
Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi.

Penjaga kantor itu mengerti. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang
diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu, ia sempat
mengerling ke atas layar komputer. Ia berdecak-decak kagum. Seakan-akan ikut menikmati
kepuasan mayat tersebut. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. Ia menoleh pada
penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat.

“Kamu mengerti?”

“Ya, saya mengerti sekali.”

“Kamu bisa merasakan.”

“Kenapa tidak? Jelas sekali.”

“Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?”

“Tidak. Itu memang benar.”

Mayat itu menjadi amat girang, menemukan untuk pertama kalinya, orang yang mampu
memahami segala tuntutannya.

“Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?”

“Saya percaya.”

Mayat itu mengulurkan tangannya. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya.
Keduanya berjabatan tangan, seperti orang yang mau bersekongkol. Tapi tangan penjaga
malam itu dingin seperti beku. Mayat itu terkejut.
“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?”

“Tidak.”

“Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?”

“Ya memang begini keadaannya?”


59
“Tapi kenapa?”

“Karena inilah hidup saya.”

Mayat itu terkejut. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam.
Siapa tahu itu agen polisi. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor. Tetapi
ketika ia memandangi mata penjaga itu, ia hampir terpekik. Karena di kedua mata nampak
ruang kosong.

“Astaga kamu tidak punya mata lagi?”

“Tidak.”

“Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?”

“Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata.”

“Kenapa?”

“Karena itu kewajiban saya.”

Mayat itu bergidik. Bulu kuduknya meremang.

“Apa lagi kewajiban kamu?”

“Semuanya!”

Mayat itu tercengang.

“Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!”

“Ya memang.”

“Apa? Kamu budak?”

“Betul. Saya budak.”


“Budak apa? Budak siapa?”

“Budak segala-galanya. Saya budak komplit.”

Mayat itu bingung. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. Tak puas
hanya melihat, ia lalu menyentuh, kemudian meraba-raba, selanjutnya merogoh tubuh
penjaga malam itu. Tiba-tiba ia terpekik ngeri.

“Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. Daging kamu bonyok!”

“Memang!”
60
“Bukan cuma itu, aku jadi curiga, jangan-jangan kamu, maaf boleh aku kobok sekali
lagi?”

“Silakan.”

Mayat itu mendekat, lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu. Ia terpekik kembali
dan meloncat keluar. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub.

“Ya Tuhan, kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak.”

“Memang begitu.”

“Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?”

“Betul.”

“Edan!”

“Ya. Jangankan perasaan dan pikiran. Apa pun saya tidak punya. Lihat kemaluan juga
tidak ada lagi. Maaf ya... .”

Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. Mayat itu menggigil. Orang itu
memang sudah dikebiri total. Seluruh kemaluannya, termasuk kedua biji buah ampulurnya
sudah dicomot. Ia tak punya segala-galanya.

“Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Kamu tidak punya apa-apa kamu


sudah kalah komplit. Apa kamu bukan manusia?”

“Saya manusia.”

“Apa kamu sakti?”

“Tidak!”

“Lha kenapa kamu bisa hidup?”

“Ya begitulah. Saya harus hidup, meskipun tidak punya semua itu lagi.”
“Tidak mungkin!”

“Memang tidak mungkin, tetapi apa boleh buat, wong ini harus, kok. Ini kewajiban
saya.”

Mayat itu berpikir keras. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Siapa sih sebenarnya kamu?”

“Boleh panggil saya siapa saja, saya tidak pilih-pilih nama. Terserah orang, suka
manggil saya apa saja, silahkan, saya manut-manut saja.”
61
“Itu namanya pasrah. Apa kamu orang Jawa?”

Penjaga malam itu berpikir.

“Nah sekarang kamu berpikir!”

“Bukan begitu. Saya memang telmi, telat mikir.”

“Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. Gaji kamu berapa sih. Pasti besar sekali
karena kewajiban kamu begitu berat. Berapa?”

“Tiga puluh.”

“Tiga puluh juta?”

“Bukan tiga puluh saja.”

“Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?”

“Ya.”

“Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?”

“Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Bukan hanya saya yang harus hidup. Istri saya
dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup.”

Mayat itu ternganga. Ia pelan-pelan duduk kembali. Ia tidak bisa membayangkan


bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak
bisa hidup. Pasti penjaga malam itu korupsi.

“Kamu pasti korupsi?”

“Tidak, Pak. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai.”

“Kalau begitu kamu ngobyek!”

“Terserah, Pak.”
“Kamu korupsi!”

“Apa itu korupsi, Pak?”

“Jelas!”

“Ya sudah.”

Mayat itu termenung. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. Memang pada
orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat.
62
"Kamu luar biasa," gumam mayat itu terpesona. “Orang lain sudah mati kalau
kondisinya seperti kamu ini.”

“Memang saya sudah mati.”

“Ah! Apa?”

“Kata saya, saya sudah mati.”

“Kamu sudah mati.”

“Ya.”

“Jadi kamu ini mayat?”

“Betul sekali.”

“Mayat seperti gua ini?”

“Benar!”

“Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa
mendapat seorang teman secara tiba-tiba, sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan.

Tetapi sekali ini, penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya.

“Ayo salaman, kita sama! Tadinya kukira aku sendirian. Sekarang aku tahu masih ada
orang lain. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan. Ayo salaman!”

Penjaga malam itu menggeleng.

“Tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi, jangan
takut, tidak akan dituntut.”

“Tidak bisa. Saya tidak bisa salaman. Jangan keliru.”


“Keliru bagaimana?”

“Saya bukan mayat seperti situ.”

“Lho tadi kamu bilang kamu mayat?”

“Betul.”

“Tetapi bukan?”

“Betul sekali. Saya memang mayat, tetapi bukan.”


63
“Kenapa bukan?”

“Karena meskipun saya mayat, tempat saya tidak di kuburan. Tetapi di kantor ini.”

“O kalau begitu kamu hantu?”

“Apa saya hantu?”

“Ya kamu hantu kalau begitu!”

“Ya sudah. Boleh juga saya disebut begitu.”

Mayat itu berpikir.

“Kamu jangan main-main. Ini bukan waktunya untuk guyonan.”

“Tidak. Sumpah, saya sungguh-sungguh. Boleh saja tidak percaya. Tidak apa. Saya
sudah biasa tidak dipercayai. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati. Dipercaya atau
tidak, memang beginilah saya. Saya mayat yang harus hidup. Harus. Saya tidak boleh
istirahat. Mati pun saya tetap harus bertugas."

Mayat itu bengong.

"Jadi kamu mayat hidup?"

"Ya itu."

"Kenapa kamu mau?"

"Kalau tidak, siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak
menguntungkan dan menyakitkan ini. Baik, Pak. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak.
Mayat kok banyak bicara. Selamat beristirahat, kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu
memanggil saya. Saya tidak tidur, mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi, saya hanya parkir
di situ supaya tidak mengganggu.”

Penjaga malam itu pasang tabek, lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya, lalu
ditangkap oleh gelap.
Mayat itu terpesona.

“Ya Tuhan, kalau begitu, kalau begitu, nasibku tidak terlalu jelek. Ada yang lebih jelek.
Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu,” desis
mayat itu. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. Remang-remang dalam kegelapan, ia melihat
tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap.

“Kasihan...”.

Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri.

“Maaf, memanggil saya, perlu sesuatu?”


64

Mayat itu terkejut.

“O tidak, tidak, sudah cukup. Aku tidak perlu apa-apa lagi!”

Penjaga malam itu mengangguk, lalu kembali lagi ke tempatnya. Waktu itu mayat itu
merasa malu hati. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. Setelah
melihat nasib penjaga malam itu, apa yang dirasanya sebagai kesakitan, seperti tidak ada
artinya sama sekali. Ia merasa sudah terlalu cengeng.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang


fatal, mayat itu lalu kembali kepada komputernya. Disertai penyesalan penuh, hanya
dengan satu gerakan, ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluh-
kesahnya.

Tetapi apa daya, seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek, sama sekali tidak
bisa dihapus lagi. Ia abadi.***

Jakarta, 3 - 11 – 1997
Rumah Tuhan
Oleh: Muhammad Ali

65

Sampai saat ini, seperempat abad setelah ia meninggal dunia, masih terang terngiang di
telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang, nyaris berteriak,
seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia, ia berkata:
"Atur sendiri-sendiri!"

Demikian dikatakannya setiap kali, berkali-kali, di mana pun kebetulan ia berada. Di


trotoar-trotoar, di emperan-emperan toko, di perempatan jalan, di depan teras-teras rumah
yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi.

Seorang laki-laki tua, lebih separo abad usianya, ditandai oleh kerit-merut di wajahnya.
Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu
besar menyungkup pundaknya. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah
seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. Ia mengenakan topi
koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. Memakai sarung
Samarinda biru yang juga telah memat. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar
yang kumal dan entah apa isinya.

Meskipun tua, tapi pengawakannya tegap dan kekar. Sorot matanya memancar
berbinar. Karenanya ia ditakuti orang, terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya.
Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang
amat disegani orang. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini
mengelilingi kota. Masuk-keluar kampung. Sekali-sekali berhenti di depan kantor, tempat
orang lagi sibuk bekerja. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam
kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. Kemudian seperti biasa ia
menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga
pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar.

Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya, karena
kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan, sekedar iseng semata tanpa maksud
tujuan tertentu. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna, tidak ada artinya.

Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. Sesuatu yang punya
arti, begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. Hanya kata-kata itu yang selalu
diucapkannya, selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh.

Sepintas lalu, bila direnungkan, seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna
yang sulit ditebak artinya. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!"
"Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu
sendiri, jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!"
"Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu, jangan
sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik
dan disimpulkan dari kata-kata tersebut.

Oh ya, belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Siapa namanya. Dari mana asal-
usulnya. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari
itu. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin, Saridin, Sidin, Brodin atau
Ilmudin, tak ada yang tahu.

Ada selentingan, konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang
subur di desanya. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Di sampingnya
mengalir sungai kecil yang jernih airnya. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan 66
makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya.

Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara
Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. Mereka membumihanguskan seluruh
desa, tak terkecuali gubuknya. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anak-
bininya. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu.

Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Diam-
diam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit, lalu berkelana
tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya.

Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan


bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah,
penuh bertabur onak dan duri. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau.

Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi
hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya, karena
penampilannya yang tidak lazim. Kusir-kusir dokar, tukang-tukang becak, lebih-lebih anak-
anak jalanan, mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya.

Tapi semua itu tak dihiraukannya. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orang-
orang gila. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran, meskipun
agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu.

Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya


beberapa tahun lalu. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Bila malam tiba
ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. Tempat
peristirahatannya tidak tetap, selalu berpindah-pindah. Karena ada saja orang yang
mengusirnya dari tempat itu. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang
merasa lebih berhak menguasai tempat itu.

Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Di emperan super market. Di


bawah pohon di taman hotel berbintang. Di halte-halte bus kota. Di emper stasiun kereta
api. Di pemakaman-pemakaman umum. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu.
Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang
kebetulan tidak dijaga, karena walikota tidak pernah tidur di situ.

Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Dari mana
diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu
menghalaunya, ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadang-
kadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya, yang tentu
disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar.

Entah darimana, suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Setelah selalu
mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman,
senantiasa dihalau, diusir dari satu tempat ke tempat lain. Maka teringatlah ia pada Rumah
Tuhan. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu.

Mengapa ia tidak ke sana saja, pikirnya, untuk beristirahat di malam hari, sekadar
numpang tidur sejenak, minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah, yaitu
Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba 67
Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya?

Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu
masjid agung di kota itu. Tapi sial, ia tak bisa masuk ke dalam masjid, karena ada pagar
tinggi menghadangnya. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya
serupa tombak lagi terkunci rapat.

Dengan hati sendu dan putus asa, ia surut, lalu mencoba mencari tempat lain utuk
istirahat. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. Letak surau itu di pinggiran kota
yang terpencil, jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang
ujungnya lancip serupa tombak.

Surau itu lengang dan kosong. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka
lebar. Berlampu suram, lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di
sana-sini. Surau itu tampak kurang terpelihara. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat
air wudu yang kotor dan bau pesing.

Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya, lalu naik ke serambi
surau. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. Tak lama kemudian
terdengar dengkurnya. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan
nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu.

Kebanyakan orang, lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi,
yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup.
Mereka sulit tidur, bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun.

Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. Di surau itu telah
berkumpul sejumlah orang, kebanyakan orang-orang tua, yang akan melakukan salat
subuh berjamaah. Cepat ia bangkit, lari ke kolam mengambil air wudu, lalu melangkah ke
dalam surau, mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam.

Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan
kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. Ketika sujud ia di
bawah cerpu-Nya, sesaat ia tersedak, teringat akan nasibnya yang malang-melintang.
serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Sampai
akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. Sebenarnya tak pernah ia dengan
sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah, apalagi kejahatan.
Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang
memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Dan ketika salat rampung sudah, para jamaah sama
mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Sama sekali tidak terbayang raut
kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. Mereka hanya memandang sesaat lamanya.

Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. Lalu menyalaminya


dengan akrab seraya berkata, "Saya adalah penjaga surau ini. Jika Saudara kehendaki,
Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam...."

Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Bibirnya
terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu
menciumnya. 68

Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Setiap malam ia
langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau
melakukan kebiasaannya, berkeliling kota tanpa tujuan.

Suatu ketika, tidak seperti biasanya, ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Ia
duduk bersandar ke dinding papan. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas
panjang, walau angin sejuk berhembus mengipasinya.

Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Agak lama matanya terpejam. Seakan-
akan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang
sedang berputar. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. Keluarganya
punah. Hartanya musnah. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak
berbelas kasih.

Harapan-harapan, ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah


meninggalkannya. Ia tersingkir, terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup
manusia. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Satu-satunya yang masih
tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan, kepasrahan dan ketergantungannya
pada kekuasan-Nya. Keyakinan dan kebesaran-Nya, limpahan karunia kasih sayang-Nya
serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya.

Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana, ia mengelana seorang diri. Tak seorang
pun peduli. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. Kepercayaan kepada Tuhan
merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan
kehidupannya, selalu dipupuknya, melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup.

"Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya, "Cukup bagiku Tuhan melihatku."
jawabnya. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya,
menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada.

Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang, terutama mereka yang termakan oleh
apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang
telah diberkati.

Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad
yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-- yang sekaligus membelakangi norma-norma
agama. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang
kepalanya ubanan.
Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu, hai pengelana. Ini merupakan masa paling
buruk. Hal ini tentu telah engkau ketahui. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan
menyatakan, bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi, tapi
tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. Sungguh keterlaluan! Padahal ia
dapat menemukan Tuhan dalam dirinya, dalam hati nurani dan jiwanya, bahkan di urat-
nadinya.

"Belum lama ini, dan akan selalu terjadi, ketika manusia sama ketakutan, hingga
menggigil sekujur sendinya, ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. Tapi
akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa
takut kepada Tuhan. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin
topan dan tidak lagi menggubris Tuhan. 69

"Mereka telah mendarat di permukaan bulan. Mereka coba mendekati planet Mars.
Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. Padahal mereka masih
tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. Mereka malah sama sekali belum menyentuh
tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. Sebenarnya mereka belum
berbuat sesuatu yang berarti, tapi telah keburu sombong dan berlagak.

"Kini, mari kita tinggalkan dunia yang fana ini," kata sosok penjaga surau, "Bukankah di
sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. Di
sana segala sesuatu kekal abadi, indah sempurna tiada tara...."

Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang
lapang tak terbatas.

Ketika saat salat Zuhur tiba, orang-orang datang bergerombol ramai-ramai


mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. Kedua belah
matanya rapat terpejam, seolah-olah ia tertidur lelap. Tapi ia takkan pernah bangun dari
tidurnya. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah
menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk
dan damai.***
Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas 70

Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari
ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan
murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya.

Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya
yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!"

"Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung.

"Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru.
Aku pikir itu lebih masuk akal."

"Jadi, Andalah orangnya?"

"Anda masih ingat hal itu?"

"Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!"

"Sekarang pun aku masih tetap kecil."

"Dan sekarang Anda tinggal di sini?"

"Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu.
"Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja,
sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya.

Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama
dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di
samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan
akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu.

"Anda mau cerutu?"

"Aku tidak akan menolaknya."

Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan
bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan
menghembuskan nafas dengan lega.

"Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak
71
nyaman."

"Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu."

"Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk
kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya."

"Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak
ada lagi."

"Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang
memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang
sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!"

"Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan
kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak
berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan."

"Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu
sejak waktu kecil?"

"Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis
musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali
pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa
disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..."

"Hm?"

"Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!"

Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada
seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu
kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ."

"Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum
seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November,
tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak
ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu
segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk
transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus
memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku
menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh."

"Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?"

"Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai
Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari
menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan
Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal
menjadi semakin mahal!"
72
"Tentu saja."

"Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat
dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau
tidak, kontak dengan langganan akan terputus."

"Logis."

"Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku."

Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan
pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni
mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat
menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil
"menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku
celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun
aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu
posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang
pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia
pergi.

Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot
kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak
bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?"

"Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya."

"Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak
untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda."

Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku.


"Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu.

"Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku
mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi.
Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas
kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di
jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus
pergi."
Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju
dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya.
Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol
itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru?
Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda
pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku
akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera.

"Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan.

"Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku.


73
"Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan
sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu
artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok
dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang
besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau
pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku.

Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi


bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi
lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa?
Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau
ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya
rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

Kisah-kisah dari Buku Bacaan

Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan


Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar
untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas,
Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa
kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik.

"Bom," kata Penemu.

"Perang," kata Jenderal

"Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.


Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. Dia menambahkan huruf-
huruf yang sangat kecil dan halus. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu
jam merawat bunga yang ada di ambang jendela. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati,
dia sedih sekali dan menangis.

Dan di atas kertas ada angka-angka. Kemudian hanya dengan setengah gram, seribu
orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam.

Matahari menyinari bunga.

Dan kertas.
74

***

Dua laki-laki bercakap-cakap.

"Ongkosnya?"

"Dengan ubin?"

"Dengan ubin hijau, tentu. "

"Empat ribu."

"Empat ribu? Baiklah. Ya, Sobat, jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu
pada waktu yang tepat, saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini."

"Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi."

"Dengan ubin hijau."

"Dengan ubin hijau."

Kedua laki-laki itu berpisah.

Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan.

Saat itu zaman perang.

***
Lintasan boling. Dua laki-laki bercakap-cakap.

"Nah, Pak Guru, berpakaian hitam-hitam, sedang berkabung?"

"Sama sekali tidak.… Sama sekali tidak. Ada upacara. Para pemuda maju ke garis
depan. Berpidato pendek. Ingat Sparta. Mengutip Clausewitz. Menyampaikan beberapa
istilah: kehormatan, tanah air. Membacakan Hölderlin. Mengingatkan pada Langemarck.
Upacara yang mengharukan. Sangat mengharukan. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang
memberi senjata. Banyak mata bersinar. Mengharukan. Sangat mengharukan."

"Demi Tuhan, Pak Guru, berhentilah. Menyeramkan."


75
Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri. Sambil bercerita dia menggambar banyak
salib kecil di atas kertas. Banyak salib kecil. Dia bangkit dan tertawa. Dia mengambil bola
baru dan menggelindingkannya di atas lintasan. Menimbulkan gemuruh halus. Lalu, di
belakang, gada-gada kecil berjatuhan. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil.

***

Dua laki-laki bercakap-cakap.

"Nah, bagaimana?"

"Tidak begitu sukses."

"Anda masih punya berapa?"

"Kalau lancar: empat ribu."

"Berapa Anda bisa memberi saya?"

"Paling banyak delapan ratus."

"Pasti akan habis."

"Jadi, seribu."

"Terimakasih.'

Kedua laki-laki itu berpisah.

Mereka berbicara tentang manusia.

Mereka adalah para jenderal.

Saat itu adalah zaman perang.


***

Dua laki-laki bercakap-cakap.

"Sukarelawan?"

"Tentu."
76
"Berapa umurmu?"

"Delapan belas. Dan kamu?"

"Sama."

Kedua laki-laki itu berpisah.

Mereka adalah prajurit.

Yang satu rubuh. Dia mati.

Saat itu adalah zaman perang.

Ketika perang berakhir, prajurit itu pulang ke rumah. Tapi dia tidak punya roti. Pada
waktu itu dia melihat seorang yang punya roti. Orang itu dibunuhnya.

"Kamu tidak boleh membunuh," kata Hakim.

"Kenapa tidak," tanya Prajurit.

***

Ketika konferensi perdamaian berakhir, para menteri jalan-jalan di kota. Pada waktu itu
mereka melewati sebuah stand menembak.

"Mau menembak, Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah.

Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton.

Ketika mereka sedang menembak, seorang perempuan tua datang dan mengambil
senjata mereka. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya, perempuan itu
menamparnya.
Dia adalah seorang ibu.

***

Pada suatu ketika ada dua manusia. Waktu mereka berumur dua tahun, mereka saling
memukul dengan tangan.
77
Waktu mereka dua belas tahun, mereka saling memukul dengan tongkat dan saling
melempar batu.

Waktu mereka dua puluh dua tahun, mereka saling menembak dengan senjata.

Waktu mereka empat puluh dua tahun, mereka saling melempar bom.

Waktu mereka enam puluh dua tahun, mereka menggunakan bakteri.

Waktu mereka delapan puluh dua tahun, mereka mati. Mereka dikuburkan
berdampingan.

Ketika seratus tahun berlalu, seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. Cacing
tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda
dikuburkan. Tanahnya sama. Semuanya tanah yang sama.

Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah, dia mengamati dengan
tenang:

Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon.

Burung-burung gagak masih menggaok.

Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya.

Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang.

Lumut dan laut

dan nyamuk-nyamuk:

Semuanya masih tetap yang sama.

Dan kadang-kadang -

kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai.*** Judul asli: "Interview mit einem
Weihnachtsmann". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman,
Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-
bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Birgit Lattenkamp, Beate Meik, di bawah
bimbingan Dewi Noviami).

78
Abadku
Oleh: Günter Grass ( 1927 - ... )

79

1914

Akhirnya, setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia
berusaha, pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua
pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. Mungkin saya lebih
beruntung karena saya perempuan dan masih muda, apalagi saya warga negara Swiss -
suatu negara yang netral. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian
kami hanya sesuai ketentuan umum, mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan
takut-takut lembut di pintu; dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua
surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima.

Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan
kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang
di hotel “Zum Storchen”. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue,
sambil memandang sungai Limnat, balai kota dan hotel “Zum Rueden”. Remarque—waktu
itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. Ia jelas kelihatan
sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup; tampaknya lebih tua dan lemah
daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh
puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. Karena tinggal di daerah
Wuerttemberg, Juenger datang liwat kota Basel, sesudah berjalan kaki mendaki bukit
Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf, yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan
sengit, dengan banyak pertumpahan darah.

Pada pertemuan pertama, percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. Tamu-tamu
kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil
beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji
berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin, sedangkan Juenger lebih suka
welsche Dole. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan
santun dan daya pikat mereka masing-masing. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu
schwaetze” amat lucu, akan tetapi sekaligus menyusahkan. Namun, ketika saya mengutip
awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui
penciptanya, yaitu “Flandrischer Totentanz”, pertama-tama Remarque mulai bersenandung;
tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih
dan mencekam. Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait:
“Flandern in Not, in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya, di Flandern maut
merajalela”). Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster; puncak-
puncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan
Schiffslaende.
Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem, Remarque mulai
bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota
Osnabrueck, ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang
mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara
sukarela Jerman; juga, bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck, yang mengabarkan
bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil
menyanyikan lagu kebangsaan*, memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya.
Barangkali sebab itu, juga karena disemangati oleh para guru, banyak murid sekolah
menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. Dari tiap dua
orang, satu tidak kembali. Dan mereka yang kembali, seperti Remarque sendiri, yang tidak
berkesempatan masuk sekolah menengah umum, sampai sekarang hancur jiwa raganya.
Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. Juenger 80
sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada
Remarque; meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum
nasionalis”, ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang, ia sudah sangat
ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar
biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya
perang meletus, kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. Meskipun perang itu
kemudian membawa penderitaan, pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat
saya, bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. Akui
sajalah, Remarque, bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda
yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang
persahabatan sehidup semati di antara para prajurit.” Novel ini, kata Remarque, isinya
bukan kumpulan pengalaman pribadi, melainkan pengalaman di garis depan dari suatu
generasi yang diperalat. “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham
saya.”

Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih, akan tetapi mereka
menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda, bahwa gaya penulisan
mereka berlawanan, dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. Kalau yang satu masih
tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah
ataupun diubah”, yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”.

“Omong kosong!” teriak Remarque. “Dalam Stahlgewittern, sampai serangan terakhir


yang diperintahkan Ludendorff, Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. Tanpa
pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur,
hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis
dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di
buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit, bahkan juga ciri-ciri
pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu, dengan sangat teliti.

Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah


menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua
tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck, kami
menemukan senapan, kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran
tahun empat belas. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan, perlengkapan tentara sukarela
yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …”

1915
Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon, sebuah kafe yang sejak dulu sudah
terkenal. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang
dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan
surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi. Sebaliknya pikiran kami bertiga
bukan mengenai masa depan, melainkan seputar masa lalu. Namun, pertama-tama kedua
tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai
minuman anggur. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk.

Seakan-akan menjadi saksi, kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit
antara kubu pro dan kontra perang, terletak di atas meja marmer di antara roti croissant
dan keju. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In
Stahlgewittern. “Betul,” kata Remarque, “buku itu laris. Padahal buku saya dalam tahun 81
1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi, sehingga selama dua belas tahun terpaksa
berhenti beredar di pasaran buku Jerman; terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing
mengalami nasib yang sama, sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah
terhambat penerbitannya.”

Juenger tidak menjawab. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang


parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne, sambil meletakkan beberapa
bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi
disingkirkan. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai
diperbincangkan, Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari
pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini, yang sudah tidak
dipakai lagi ketika Anda jadi tentara, Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di
garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. Helm baja itu hasil
percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan
sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan. Kami berlomba dengan orang Prancis
yang juga mulai memakai helm baja. Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran
logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat, perusahaan-perusahaan lain yang
mendapat ordernya, antara lain pabrik besi Thale. Mulai enam belas Februari semua divisi di
garis depan memakai helm baja. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir
sungai Somme mendapat prioritas, yang berada di front Timur terpaksa palinglama
menunggu. Andaikan Anda tahu, Remarque, berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena
helm kulit yang tidak ada gunanya itu, apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena
kekurangan kulit, bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat
lain yang dipres. Setiap tembakan jitu, berkurang satu orang. Setiap pecahan peluru
tembus.”

Kemudian ia berbicara langsung kepada saya. Juga Schweizerhelm yang sampai


sekarang dipakai militer, bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi, pada
dasarnya mengikuti model helm baja kami, meskipun bentuknya agak diubah.”

Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuran-
pertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda
gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. Remarque
sengaja tetap membisu. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai
keterangan rinci; mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang
kusam berwarna kelabu, sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi
tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran
wol dan serat-serat lain yang dipres. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di
waktu pertempuran parit; hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke
depan, karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung.
“Nah, Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur, topi baja
yang hebat ini sangat mengganggu. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh, saya
lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua - sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia
teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya, di meja tulis saya ada kenang-
kenangan, sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain, hampir pipih; ada lubang
bekas peluru tentu.”

Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati
Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16, sesudah
itu M 17, jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda
yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih. Melorot terus.
Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu, yang 82
tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang
gemetar. Lucu dan memelas sekaligus. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan
infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu,
mestinya Anda ketahui juga... .”

Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. Juenger juga. Saya, si none,
dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami.
Jak, Sang Calo
Oleh: Heinrich Böll (1917 - 1985)

83

Bersama petugas pengantar makanan, dia datang pada malam hari untuk menggantikan
Gornizek yang berjaga di belakang, di pos komando. Malam-malam itu begitu gelap dan
rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing. Aku berdiri di
depan, di pos pengintaian, dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suara-
suara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu, juga ke arah depan yang gelap
dan sunyi, di mana orang-orang Rusia berada.

Gerhard, dialah yang mengantarkan orang itu, dan selain membawa peralatan makan,
dia pun membawa rokok. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard, "atau kusimpankan
sampai besok pagi?" Dari nada suaranya, aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali
ke pos komando.

"Tidak usah," kataku, "kemarikan, semuanya akan segera kumakan."

Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak, sebungkus
permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton. "Ini... ."

Selama itu, si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu.

"Dan ini," kata Gerhard, "orang baru yang menggantikan Gornizek ... Letnan mengirim
dia kepadamu, untuk pos pengintaian... ."

"Ya," kataku; adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. Gerhard
kemudian menyelinap kembali ke pos komando.

"Ayo, ke mari," kataku perlahan, "jangan terlalu keras, sialan!" Peralatan kopelrimnya,
sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya. Dengan canggung dia masuk ke
lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. "Idiot," gumamku dan
bergeser untuk memberinya tempat. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan
penglihatan, aku tahu bagaimana dia, sesuai dengan aturan, melepaskan kopelrimnya,
meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping, masker gas di sebelahnya dan pada
tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh, dan
bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi. Sop buncis sudah dingin, dan bagus
juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu
dimasak. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah
dengan nikmat. Dan daging kalengan itu pun kumakan, begitu saja dari kertas
pembungkusnya, kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. Orang
itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku, dengan muka selalu menghadap ke
musuh, dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil, dan jika dia menoleh ke samping,
terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda, helm bajanya hampir seperti tameng
punggung seekor kura-kura. Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat
khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah
lapangan di pinggiran kota. "Saudara merahku, Winnetou," tampaknya itulah yang selalu
mereka ucapkan. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani.
Anak-anak muda yang malang itu ...

"Duduklah yang tenang," kataku pelan-pelan, dengan tekanan yang sudah kupelajari
dengan susah payah. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak
bisa terdengar dalam jarak satu meter.
84
"Sini," tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah
memaksanya untuk menduduki bangku. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan
berdiri... ."

"Tapi di pos," kata sebuah suara yang lemah. Suara yang rapuh seperti seorang
penyanyi tenor yang sentimental.

"Diam!" aku membentaknya.

"Di pos," bisiknya, "kan tidak boleh duduk."

"Tak ada yang boleh, juga tidak boleh memulai peperangan."

Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya, tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti
seorang prajurit baru di sebuah kelas, tangan di lutut, sangat tegak dan setiap detik siap
meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting. Aku membungkuk, menarik
kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok.

"Kamu mau merokok juga?"

"Tidak." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik.

"Kemari," kataku, "minum seteguk."

"Tidak," katanya lagi, tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke
mulutnya - sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya, dia
membiarkan beberapa tegukan tertelan, lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku
harus melepaskannya.

"Tidak enak?"

"Enak," katanya menggagap, "tapi aku tersedak."

"Kalau begitu, minum sendiri."

Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik.

"Terima kasih," gumamnya.


Aku pun minum.

"Sekarang lebih baik, kan?"

"Ya ... jauh lebih baik ..."

"Tidak begitu takut lagi, kan?"

Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan, tapi memang begitulah mereka
semua.
85
"Aku juga takut," kataku karenanya, "selalu malah... oleh sebab itu aku mencari
keberanian dari botol ini... ."

Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku, dan aku
membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya. Tapi aku tak melihat apapun
kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya, dan hanya siluetnya
yang buram dan gelap, tapi aku bisa mencium baunya. Dia menyebarkan bau ruang
penyimpanan pakaian, bau keringat, lalu ruang penyimpanan pakaian lagi, lalu sisa-sisa
sop, juga sedikit berbau minuman keras. Dia sangat ... sangat diam, juga di pos komando
di belakang kami, tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. Dia
menoleh lagi ke arah musuh. "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?"

Dia malu lagi, aku merasakannya, tapi lalu dia berkata: "Ya."

"Sudah berapa lama jadi tentara?"

"Delapan minggu."

"Kalian datang dari mana?"

"Dari St. Avold."

"Dari mana?"

"St. Avold, Lothringen, kamu tahu..."

"Berapa lama di perjalanan?"

"Empat belas hari."

Kami diam beberapa saat, dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus
kegelapan yang meliputi di depan kami. Ah, kalau saja hari menjadi siang, pikirku, kalau
saja bisa melihat sesuatu, setidaknya remang-remang atau berkabut, sedikitnya sesuatu,
melihat sesuatu, agak terang... Tetapi kalau terang, aku pasti akan berpikir: kalau saja
gelap, kalau saja sedikitnya remang-remang, atau kalau saja tiba-tiba kabut datang; selalu
begitu...

Di bagian depan tidak ada apapun. Di kejauhan terdengar derum halus motor
kendaraan. Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka. Di suatu tempat, di
depan sana, terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan,
seolah seseorang membungkam mulut itu. Tetapi itu bukan apa-apa... .

"Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. Ah, betapa indahnya bahwa aku tidak
sendirian lagi. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia, merasakan bau
apeknya, bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak
berniat membunuh kita.

"Ya," katanya, "pos pengintaian." Lagi-lagi aku heran, betapa baiknya dia bisa berbisik,
hampir lebih baik daripada aku. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya, untukku hal itu
selalu memakan tenaga. Aku paling senang kalau bisa meraung, berteriak atau berseru
sehingga malam membuyar seperti busa hitam, untukku hal itu melelahkan dan bikin 86
sinting. Berbisik, untuk mengekang suaraku. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi,
membuat suara gemuruh atau berteriak histeris... .

"Bagus," kataku, "pos pengintaian. Artinya, kita harus mengawasi bila orang-orang
Rusia itu datang, menyerang. Lalu kita menembakkan peluru asap merah, menembak-
nembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi, ke pos komando, mengerti? Tapi kalau yang
datang hanya beberapa orang saja, pasukan pengintai, maka kita harus tutup mulut,
biarkan mereka lewat, kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang
dan memberitahukan kepada yang lain, kepada Letnan. Kamu sudah bertemu dia, kan?"

"Ya," katanya dengan suara bergetar.

"Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita, kita harus membunuh mereka,
sampai mampus, mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai, mengerti kan?"

"Ya," katanya, dan suaranya bergetar lagi, lalu aku mendengar suara yang mengerikan:
giginya bergemelutuk.

Aku pun minum lagi...

"Kalau ... ini kalau ...," gagapnya, "kalau kita tidak melihat mereka datang..."

"Habislah kita. Tapi tenang, kita pasti melihatnya, mendengarnya..."

"Dan kalau kita mencurigai sesuatu, bolehkah kita menembakkan roket isyarat, supaya
bisa melihat..."

Dia diam lagi; sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan.

"Tapi mereka tidak datang," omongku terus, "mereka tidak datang pada malam hari,
paling-paling pagi hari. Dua menit sebelum fajar..."

"Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku.

"Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan, artinya mereka sampai di sini ketika hari
mulai menjadi terang..."

"Tapi kan itu sudah terlambat?"


"Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah, lalu pergi ... jangan
takut, artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci. Dan sebelumnya kita toh
bisa mendengar mereka. Ngomong-ngomong, siapa namamu?" Benar-benar
menjengkelkan, setiap kali kalau mau berbicara dengannya, aku harus menyikut tulang
rusuknya, itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan
susah-payah memasukkannya lagi, supaya menjadi hangat lagi...

"Aku," katanya, "aku bernama Jak..."

"Seperti orang Inggris, ya?"

"Tidak," katanya. "Dari Jakob ... J...A....K, bukan Jeck, Jak, Jak saja." 87

"Jak," tanyaku lagi, "sebelum ini kamu kerja apa?"

"Aku," katanya, "jadi calo."

"Apa?"

"Calo."

"Jadi calo apa sih?"

Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku, dengan sangat tiba-tiba, dan aku merasakan
bahwa dia sangat heran.

"Calo apa ... calo apa ... yah, calo saja..."

"`Gimana," tanyaku. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu."

Dia diam sesaat, melihat lagi ke depan, lalu dalam kegelapan, kepalanya dipalingkannya
lagi kepadaku.

"Yah," katanya, "...calo apa...," dia mengeluh dalam-dalam, "aku berdiri di stasiun,
setidaknya hampir selalu... dan kalau seseorang datang, seseorang dari rombongan orang-
orang yang lewat, seseorang yang aku pikir cocok, biasanya tentara, jadi kalau seseorang
datang, lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan, sangat pelan, kamu mengerti?
Tuan, ingin bersenang-senang...? Begitulah aku bertanya.…" suaranya bergetar lagi dan
mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu... .

Karena tegang aku lupa meneguk minuman. "Dan," kataku parau, "kalau orang itu mau
bersenang-senang?"

"Lalu," katanya dengan susah payah, dan sekali lagi tampaknya kenangan
menguasainya lagi, "lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan ... yang sedang
kosong... ."

"Ke tempat pelacuran, kan...?"


"Bukan," katanya datar, "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran, aku punya
beberapa perempuan tidak terikat, kamu mengerti, beberapa perempuan bebas yang
menghidupiku. Tiga orang, mereka tidak punya surat izin, Käthe, Lili dan Gottliese..."

"Siapa?" potongku...

"Ya, dia bernama Gottliese. Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya
menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan, karena kalau anak laki-laki maka
bisa dinamainya Gottlob, tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese. Aneh, ya...?"
dia benar-benar tertawa sedikit...

Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini. Dan sekarang aku 88
tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet, dia mengoceh hampir
dengan sendirinya.

"Gottliese," sambungnya, "adalah yang paling baik. Dia selalu murah hati dan
melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik ... dan."

"Dan," potongku, "dan artinya kamu dulu seorang germo, kan?"

"Bukan," katanya dengan nada yang untukku agak menggurui, "bukan, ah...," dia
berkesah lagi, "germo adalah tuan-tuan besar, tiran, dengan paksa mereka mengutip uang
banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka... ."

"Dan kamu tidak mencicipi mereka?"

"Tidak, aku kan hanya seorang calo. Aku yang harus memancing ikannya untuk
kemudian mereka bakar dan makan, dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya... ."

"Tulang-tulang ?"

"Ya," dia tertawa lagi sedikit, "tepatnya uang persen, mengerti, dan dari itu aku hidup,
sejak ayahku gugur dan ibuku hilang. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku.
Tidak, perempuan-perempuan itu, untuk siapa aku bekerja, tidak punya germo, syukurlah!
Kalau punya, aku pasti harus berkelahi dengan yang lain. Tidak, mereka bekerja mandiri,
lepas, kamu mengerti, tanpa izin apa pun. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri
di jalan seperti yang lain ... terlalu berbahaya, dan karena itu aku jadi calo untuk mereka,
ya," dia mendesah lagi, "eh, boleh aku minum lagi?"

Ketika aku membungkuk untuk meraih botol, dia bertanya, "Ngomong-ngomong, siapa
namamu?"

"Hubert," kataku sambil memberikan botol kepadanya.

"Enak sekali," katanya, tapi aku tidak bisa menjawab, soalnya aku sedang meneguk dari
botol itu. Sekarang, botol itu kosong, lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke
samping.

"Hubert," katanya kemudian, dan suaranya sekarang bergetar hebat. "Lihat itu!" Dia
menarik aku ke depan, ke tanggul di mana dia sedang tiarap. "Lihat!" Kalau diperhatikan
dengan sangat ... sangat sungguh-sungguh, di suatu tempat yang sangat ... sangat jauh,
terlihat sesuatu seperti horison, sebuah garis hitam pekat. Di atas garis itu kelihatan agak
terang. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu, sesuatu
bergerak ... jauh, jauh sekali, betul-betul jauh sekali ... seperti ayunan lembut jerami ... itu
bisa juga manusia yang diam-diam mendekat, manusia dalam jumlah yang sangat banyak
yang sedang mendekat diam-diam, sama sekali tanpa suara...

"Ayo, tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin
menghilang.

"Anak muda," kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya. "Jak, itu bukan apa-apa;
itu perasaan takut kita yang sedang bergerak, itu neraka, itu perang, itu setumpuk tahi
yang bikin kita gila ... itu ... itu bukan sesuatu yang nyata..." 89

"Tapi lihatlah, itu pasti sesuatu ... sesuatu yang nyata ... mereka datang ... mereka
datang..." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk.

"Ya," kataku, "diamlah. Itu sesuatu yang nyata. Itu tangkai-tangkai bunga matahari,
besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa. Kalau hari sudah sangat terang, kamu
akan melihatnya dan tertawa, itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin
satu kilometer dari sini, dan itu terlihat ada di ujung dunia, kan? Aku tahu itu tangkai-
tangkai bunga matahari yang mengering, hitam -- kotor dan sebagian hancur tertembak.
DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu, dan bikin kita takut karena
tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang..."

"Ah ... tembakkan yang putih ... tembakkan yang putih ... aku melihatnya ..."

"Aku kan kenal mereka, Jak."

"Tembakkan yang putih. Satu saja..."

"Ah, Jak," balasku berbisik, "kalau mereka benar-benar datang, kita bisa juga
mendengarnya, coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan; sepi, sepi
sekali, dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan.

"Ya," bisiknya, dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang
maut, "ya, aku bisa mendengar mereka... mereka datang.... mereka mengendap-endap...
mereka merangkak di tanah... ada sedikit suara gemerincing ... dengan sangat pelan-pelan
mereka datang, dan kalau mereka sudah dekat, maka sudah terlambat..."

"Jak," kataku, "aku tidak bisa menembakkan yang putih. Aku hanya punya dua peluru,
mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi, subuh, kalau pesawat pembom
kita datang, supaya mereka bisa tahu di mana kita berada. Supaya mereka tidak membom
kita ... dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius. Besok pagi
kamu akan tertawa... ."

"Besok pagi," katanya dengan sangat dingin, "besok pagi aku sudah mati."

Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran, aku begitu kaget. Dia
mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap.

"Jak," kataku, "kamu gila."


Dia diam, dan kami duduk lagi menyandar. Begitu ingin aku melihat wajahnya. Wajah
seorang calo tulen, dari dekat. Setiap kali, aku hanya mendengar mereka berbisik, di
pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu
aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di
hatiku... .

"Jak," aku ingin mulai... .

"Tembakkanlah yang putih," bisiknya seperti seorang sinting.

"Jak," kataku, "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih, kita
masih punya waktu empat jam, kamu tahu, dan suara tembakannya akan keras sekali, aku 90
tahu itu. Sekarang tanggal 21, artinya hari ini, orang-orang Rusia itu mendapat jatah
minuman keras mereka. Barusan tadi, mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman
keras mereka, kamu mengerti? Dalam setengah jam, mereka akan mulai berteriak dan
bernyanyi dan menembak; dan mungkin sesuatu akan terjadi. Besok pagi-pagi, kalau
pesawat pembom kita datang, baru keringat dinginmu mengucur deras, pesawat-pesawat
itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita, baru kemudian aku harus
menembakkan yang putih, karena kalau tidak, bisa-bisa kita jadi selai. Dan kamu akan
mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang, ketika tidak terjadi apa-apa,
percayalah kepadaku; lebih baik kamu cerita lagi. Di mana kamu terakhir kali .... jadi calo?"

Dia mendesah dalam-dalam. "Di Köln," katanya.

"Di Stasiun Pusat?"

"Tidak," sambungnya dengan suara capek, "tidak selalu. Kadang-kadang di Stasiun


Selatan. Yah, itu lebih praktis, karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah
itu. Lili di dekat Gedung Opera, Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. Ya, kamu tahu,"
suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur, "kalau aku kadang-kadang mendapatkan
seseorang di Stasiun Pusat, di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu, mereka
suka melarikan diri. Dan itu bikin jengkel. Di tengah jalan, karena ketakutan atau karena
sesuatu yang lain, tak tahulah aku, mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun.
Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh, karena itu aku sering
nongkrong di Stasiun Selatan. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena
mereka berpikir bahwa itu sudah Köln, Stasiun Pusat maksudku. Dan dari Stasiun Selatan
ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek, karena itu orang tidak cepat jadi
panik. Awalnya," dia membungkuk lagi ke arahku, "awalnya aku selalu mengantarkan
mereka kepada Gottliese, dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada
cafe, kemudian cafe itu terbakar. Gottliese, kamu tahu, dia yang paling baik. Dia yang
selalu paling banyak memberiku uang. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi
kepadanya terlebih dahulu, betul bukan, kamu pasti tidak mempercayainya. Ah, kamu tidak
percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak, kamu
percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak, sehingga aku
terpaksa untuk menjawab ya.

"Tetapi Gottliese sering mendapat tamu, aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu.
Dia punya banyak langganan tetap, dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama
tidak mendapat tamu. Dan kalau Gottliese mendapat tamu, aku sedih, lalu aku pergi
kepada Lili. Lili juga orangnya tidak menyebalkan, tapi dia sering minum. Dan perempuan
yang mabuk sungguh mengerikan; tidak bisa ditebak, kadang kasar, kadang ramah. Tapi
Lili selalu lebih baik daripada Käthe. Käthe orangnya sangat dingin. Dia memberi aku
sepuluh persen... sudah, itu saja. Sepuluh persen! Sementara, aku kadang harus berjalan
setengah jam dalam malam yang dingin, berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di
bar minum bir murahan, menghadapi bahaya ditangkap polisi, dan hanya mendapat sepuluh
persen! Tahi, aku bilang sama kamu. Maka Käthe selalu yang terakhir. Dan uang
persenannya baru kuterima di hari berikutnya, ketika aku membawa tamu lagi untuk dia.
Kadang hanya lima puluh sen, sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen, kamu mengerti,
sepuluh sen... ."

"Sepuluh sen?" tanyaku terkejut.

"Ya," katanya, "dia hanya mendapat satu Mark. Laki-laki itu tidak punya uang lagi."
91
"Seorang tentara?"

"Bukan, seorang sipil, tambahan lagi sudah tua. Dan Käthe masih juga memakiku. Ah,
Gottliese berbeda. Dia selalu memberi banyak kepadaku, setiap kali setidaknya dua Mark.
Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali. Dan kemudian... ."

"Jak," tanyaku, "dia tidak meminta uang sama sekali?"

"Ya, kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali. Aku percaya bahkan
sebaliknya. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah."

"Menghadiahi?"

"Ya. Menghadiahi. Dia sangat pemurah. Seorang perempuan yang sungguh melankolis.
Dan dia pun lumayan mengurus aku. Bagaimana tempat tinggalku, apa aku punya rokok
dan lain-lain, kamu mengerti. Dan dia cantik. Sebenarnya, yang paling cantik."

"Bagaimana," aku ingin bertanya, "bagaimana rupanya?"

Tapi pada saat itu, orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila. Suaranya
membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. Dan
tembakan pertama pun meletus. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak, dengan
satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian, lalu akan menjadi sasaran
tembak orang-orang Rusia itu. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran
tembak. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu, sangat dekat ke arahku. "Diamlah,
itu bukan apa-apa. Mereka hanya sedikit mabuk, lalu mereka berteriak dan akan
menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta. Kamu harus menunduk, karena
tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena... ."

Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan, dan walaupun kami tidak
mengerti sepatah kata pun, kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu
yang jorok. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping... .

"Tenanglah," kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerang-
ngerang itu, "tidak akan lama, paling hanya beberapa menit, sampai komisar mereka
mengetahuinya, lalu dia akan menonjok mulut mereka. Mereka kan tidak boleh begitu, dan
apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat, persis seperti pada kita... ."
Tapi teriakan itu tidak berhenti, juga lengkingan liar itu. Dan yang paling sial, salah
seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak. Aku berpegang erat pada
anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu. Di depan terdengar teriakan lalu
jeritan ... sekali lagi teriakan ... tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan
yang mabuk. Lalu sangat sepi, betul-betul sepi... .

"Kamu lihat," kataku...

"Sekarang ... sekarang mereka datang... ."

"Tidak ... dengarkan dong!"


92
Kami mendengarkan lagi, dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiang-
ngiang menakutkan.

"Ayo, pakai otak dong," sambungku, karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku
sendiri. "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu, sedikitnya mereka dua ratus meter
dari sini, dan kalau mereka datang, kamu akan mendengarnya, sangat pasti bahwa kamu
akan mendengarnya."

Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun. Dia berjongkok kaku sambil
membisu di sampingku.

"Bagaimana," sekarang aku bertanya, "bagaimana parasnya, Gottliese itu... ."

Dengan segan dia menjawab, "Cantik," katanya pendek. "Rambut hitam dan dengan
mata yang besar dan terang. Dia sangat mungil, sungguh mungil, kamu tahu," tiba-tiba dia
bisa bicara lagi, "dan sedikit gila. Tidak bisa lain. Sering dia memakai nama lain ... Inge
Simone, Kathlene, entah siapa lagi, setiap hari nama baru ... atau Susemarie. Dia sedikit
gila, dan dia sering tidak meminta bayaran... ."

Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang, "Jak," kataku, "sekarang aku akan


menembakkan yang putih. Aku pikir, aku mendengar sesuatu."

Nafasnya tersendat. "Ya," bisiknya, "tembakkanlah yang putih, aku mendengar mereka
datang, kalau tidak aku bisa gila... ."

Aku memegang erat lengannya, menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru,
mengacungkannya di atas kepala lalu menembak; suara gemuruhnya seperti kiamat, dan
ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut - seperti kelap-kelip hujan
salju di Hari Natal, seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi - aku tidak
punya waktu lagi untuk melihat wajahnya. Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun, sama
sekali, dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya, wajah
seorang calo tulen. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu, karena dari tempat di mana
tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu, di situ,
dalam terang, muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian
tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila, mereka menyerbu maju. Aku pun tidak
sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah, karena di belakang dan di depan kami,
menyibak tirai perang menyelimuti kami... .
Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil
menariknya, sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya, supaya
setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya, dia berbisik pelan: "Tuan, ingin
bersenang-senang...?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas
tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan. Tetapi mataku tidak melihat apa pun
lagi kecuali darah, lebih hitam dari pada malam, dan wajah seorang pelacur yang
menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun, malah masih memberi sesuatu....*** Judul
asli: "Jak, der Schlepper", diterjemahkan oleh Dewi Noviami.

93
Horison, Juli 2000

(Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison)

94
Potret Itu, Gelas Itu, Pakaian Itu
Oleh: Budi Darma

Sungguh menakjubkan, bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai
dinyalakan, perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. Alis perempuan itu
hitam tebal, melindungi matanya, dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Ketika
melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan, mata perempuan itu
bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri.

Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini,
kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman, pagar tanaman yang sebetulnya
tidak begitu tinggi.

Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Dengan tangan
gemetar, perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati, dengan sebelumnya menyelidik
cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. Laki-laki bertubuh kurus
jangkung itu juga gemetar.

Lampu di dalam kamar sudah menyala, tapi sangat samar. Dengan tidak memandang ke
arah laki-laki itu, perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Di bawah potret
ada sebuah gelas, terletak di sebuah rak buku kecil. Dan di dalam rak terdapat beberapa
buku, dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar.

Laki-laki itu mengangguk mengerti. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. Matanya
berganti-ganti melihat potret laki-laki itu, kemudian gelas, dan kemudian beberapa buku.
Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak.

Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya, perhatian laki-laki bertubuh kurus
jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Agak terkejut juga dia
ketika dia merasa dijawil. Dan tahulah dia sekarang, bahwa perempuan itu sedang me-
nuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil.

Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. Di dekat tempat
tidur ada pula sebuah kursi. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah, mengapa di dekat
tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki, misalnya saja potret laki-laki yang tergan-
tung di dinding sebelah kiri. Tapi laki-laki itu tidak bertanya, karena perempuan itu sudah
menjelaskan:

"Dia tidak mau potretnya dipasang di sini."

Belum sempat bertanya apa-apa, laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk
mendekati sebuah almari. Dan ketika perempuan itu membuka almari, terasalah bau enak
menebar di dalam kamar remang-remang itu. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat,
beberapa pakaian laki-laki di dalam almari.

Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari 95
dalam almari. Meskipun demikian, laki-laki itu agak terkejut, ketika melihat pakaian di
sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. Dan segeralah perempuan itu
mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu.

Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur,
perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik, dan mematikan lampu bercahaya lemah itu.

"Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya
perempuan itu.

"Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. Sungguh agung dia. Jengkal demi
jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa."

"Apa lagi?"

"Apa lagi? Ya, apa lagi? Tentu saja saya mengagumi dia. Matanya sungguh
menakjubkan. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya."

"Apa lagi?"

"Apa lagi? Ya, apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah, kendatipun nampaknya tubuhnya
hanyalah kurus jangkung. Dia pasti laki-laki ramah."

"Apa lagi?"

"Apa lagi? Ya, apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. Dia pasti mempunyai wibawa
besar, wibawa tinggi. Saya mengaguminya."

"Hanya itu?"

Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. Maka berbicaralah dia asal berbicara,
tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya:

"Tentu saja tidak. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang
kanker. Heran. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang, untuk
memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam
mengangkat harkat, martabat, dan derajat sesamanya."
"Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?"

Laki-laki itu diam. Dia ingat, pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan
kecil memotret dirinya. Kalau tidak keliru, dia dipotret sekitar tiga bulan lalu, di Balai
Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. Begitu
cepat anak perempuan itu memotretnya, kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di
antara sekian banyak orang. Akhirnya laki-laki itu tahu, bahwa anak perempuan itu datang
bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Ketika laki-laki itu
berusaha menemui anak perempuan itu, pertemuan dinyatakan bubar. Dan karena dia
harus menemui beberapa temannya, perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam
serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya.
96
"Laki-laki itulah yang saya cintai," kata perempuan itu. "Karena itulah potretnya saya
pasang di situ. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya.
Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. Bekas-bekas bibirnya masih
ada di situ. Dan setiap kali saya merindukannya, selalu saya usap-usap mulut gelas itu
dengan pinggiran mulut saya. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya
seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. Dan sering juga mulut gelas itu saya
gosok-gosokkan ke payudara saya, seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara
saya. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Setiap kali dia ke sini
selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Begitu gemar dia membuka-bukanya,
segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan."

Laki-laki itu diam. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia
menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. Ketika dia menanyakan
kepada sekretarisnya, beberapa bawahannya, dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan
yang menaruhkan surat itu di atas mejanya, tidak seorang pun tahu. Laki- laki itu hanya
tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala
mengitari kantornya. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor, laki-laki mencurigakan
selalu menghadangnya dekat pintu, kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak
enak. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor, laki-laki mencurigakan selalu
menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. Kemudian dia
sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memi-
sahkan kantornya dengan kebun kacang. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu,
laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun.

Surat itulah, yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu, yang
telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam.

"Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal, dialah laki-laki yang saya cintai," kata
perempuan itu lagi. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi,
mengenai buku-buku itu lagi, dan akhirnya mengenai payudaranya.

"Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya.
Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia
menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. Senang sekali dia membanding-
bandingkan payudara saya dengan payudara mereka, dan tentu saja tubuh saya dengan
tubuh mereka. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka,
dengan nada sangat melecehkan mereka, dan tentu saja dengan nada mengagung-agung-
kan saya. Betul yang kau katakan tadi, dia laki-laki mengagumkan, sangat mengagumkan.
Bagi saya, mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan
Nabi Yusuf. Ingat, Nabi Yusuf tidak suka merayu, sementara dia suka merayu, yaitu merayu
sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya.
Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mende-
katinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati
kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut
Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan
berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika
seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan
wajah saya.'

Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa
mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan
kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, 97
dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi
kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai
mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu
dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu,
mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia
sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus
sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia
mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan
bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih
bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya
adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya."

"Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?"

"Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu."

Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah
menyodorkan tangan kirinya.

"Ulangilah pertanyaanmu tadi."

"Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?"

"Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau
bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat
menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan
suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai
anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret."

"Mengapa?"

"Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap
orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan,
sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga
tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang."

"Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"


"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya
berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak
otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya
sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak
menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau
dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas,
sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung.

Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya
adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk
melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya,
justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan 98
Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur
lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan
ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah,
seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk
menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga
perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu
mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk
memperbudak nafsu laki-laki."

Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai
dan menjilati kakinya.

"Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya.

Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai
mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup
dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman.

Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia
berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya
masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya
terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu.

Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan
itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah.
Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya
pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah.

Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya
tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah
suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuk-
nyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu.

Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan
itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada
seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata
bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sa-
na lagi.
Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang
dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa
dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke
tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa
keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena
baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi.

Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki


itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa
haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan
bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku.
99
Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi,
seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke
kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan
untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar.

Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari
dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah
lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya
sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia
tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum?

"Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar
dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia.

"Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?"

Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata
burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik tu-
run, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangan-
tangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu menga-
wasinya di kantor.

"Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan


sekali lagi.

Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan
ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi
memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu
memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah
terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang
berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi.
Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, ke-
mudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat.

Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus


kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan
sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain
dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu,
karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain
kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk
menghidupkan kenang-kenangan.

Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan
tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata:

"Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini ada-
lah milik saya."

Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika laki-
laki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak
mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai 100
akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke
atas.

Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang
tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perke-
lahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah
lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah
miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki
bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau
percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor
untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu.

Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak
segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya.
Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas
rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan di-
jilat-jilat.

Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali
ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki
mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki
mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang
diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah
kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi
manusia entah sampai kapan.

Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sem-
pat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke
arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras
mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri.

Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa


punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa
membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah
menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik
tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana.
Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah.
Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.
Dengan tenang, laki-laki mencurigakan menggumam:

"Ketahuilah, masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Perkelahian dengan


pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat, Memang saya sering
berkelahi, tapi perkelahian-perkelahian itu, sekali lagi, bukan apa-apa bagi saya. Bagi
musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. Saya
hanya menikmati satu hal, yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Dan saya
bangga akan jiwa iblis saya. Kamu pun sebenarnya iblis. Ketahuilah, sesama iblis belum
tentu bisa bersekutu. Sesama iblis bisa saling mengganyang. Sudah semenjak pertama kali
saya melihat kamu, saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa
iblis kebanggaan saya. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. Dan setiap kali
merasa takut, pasti saya bertindak terlebih dahulu, tentu saja dengan persiapan cermat 101
agar saya menang."

Dia menggumam dengan kesadaran penuh, bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi
mendengarnya. Meskipun demikian, laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa kata-
kata perempuan tadi:

"Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering
dipergunjingkan. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. Saya selalu
menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah."

Bulan tetap berputar-putar di atas sana.***

(Dimuat dalam Horison, Juli 1990)


Jaring-jaring Merah
Oleh: Helvy Tiana Rosa

Apakah kehidupan itu? Cut Dini, temanku, selalu saja marah bila mendengar 102
jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. Serpihan tanpa makna. Hari-hari yang meranggas
lara.

Ya, sebab aku hanya bisa memendam amarah. Bukan, bukan pada rembulan yang
mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang
diri. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Seperti juga hidup itu.

Dan kini hari telah semakin gelap. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer
dari Seurueke, menuju Buket Tangkurak, bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini.
Dadaku telah amat sesak, tetapi langkahku makin kupercepat. Lolong anjing malam bersa-
hut-sahutan, seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Perih. Airmataku
berderai-derai.

“Ugh!”

Aku tersandung gundukan tanah. Dalam remang malam, kulihat dua ekor anjing hutan
mengorek-ngorek sesuatu, dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. Mereka
menatapku seolah aku akan berteriak kengerian.

Ngeri?

Oi, tahukah anjing-anjing buduk itu, aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari
mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas
lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Aku melihat orang- orang
ditembak di atas sebuah truk kuning. Darah mereka muncrat ke mana-mana. Aku melihat
tetang–gaku Rohani ditelanjangi, diperkosa beramai-ramai, sebelum rumah dan suaminya
dibakar. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak ber-
ulangkali. Aku melihat semua itu! Ya, semuanya. Juga saat mereka membantai … keluarga-
ku, tanpa alasan.

Ffffffhuuih, kutarik napas panjang. Jangan menangis lagi, Inong! Kering airmatamu
nanti. Meski lelah, lebih baik meniru anjing-anjing itu.

Aku merangkak dan maju perlahan. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah me-
rah di hadapanku. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Keringatku mengu-
cur deras, wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Sedikit pun tak kuhiraukan
bau bangkai manusia yang menyengat hidung.
Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Tulang.
Banyak tulang. Cakarku terus menggali. Kutemukan beberapa tengkorak, lalu remah-remah
daging manusia. Ah, di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin
khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orang-
orang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. Di mana? Di mana tangan-
tangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah?
Yang mana tengkoraknya?

Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Aku menggali, terus menggali.
Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. Meratapi orang-orang yang
kukasihi, yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini.
103
Sssssssttt!

Tiba-tiba, di antara suara serangga malam, kupingku mendengar langkah-langkah


orang. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. Mereka menuju ke
arahku!

Aku harus menyanyi. Ya, menyanyi nyaring, dengan iringan dawai kepedihan dari
sanubari sendiri.

“Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar.

“Sayang, dulu ia cantik…,” ujar yang lain.

“Ya, juga sangat muda. Ah, sudahlah, biarkan saja,” kata yang ketiga. “Ia tak
berbahaya. Hanya tertawa dan menangis. ”

Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. Mereka gila karena
mengira aku gila. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi ber-
sama bulan, awan dan udara malam. Bersama desir angin, burung hantu dan lolong anjing
hutan. Bersama bayangan Ayah, Mak, Ma’e dan Agam. Kami menyanyi, kami menari
bungong jeumpa. Lalu aku tersenyum malu, saat Hamzah yang telah meminangku, melintas
di depan rumah dengan sepedanya. Dahulu. Ya, dahulu….

***

“Inong….”

Aku menggeliat. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. Hangat. Ah, di mana aku?
Dipan ini penuh kutu busuk. Berarti…, ya, aku di rumah. Aku bangkit, mencoba duduk.

“Dari mana, Inong? Aku mencarimu seharian. Ureung-ureung menemukanmu di tepi


jalan ke Buket Tangkurak, subuh tadi.”

Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. Cut Dini. Tangannya
lembut membelai kepalaku.

“Aku cuma jalan-jalan. Aku tidak mengganggu orang," jawabku sekenanya.


“Aku tahu. Kau anak baik. Kau tak akan mengganggu siapa pun…, tetapi jangan pergi ke
bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. Berbahaya. Lagi pula kau seorang muslimah.
Tidak baik pergi sendirian,” kata Cut Dini sambil memberiku minum.

Kugaruk-garuk kepalaku. “Therimoung… ghaseh…,” kuteguk minuman itu.

Cut Dini. Ia sangat peduli. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih.

Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang
Cut Dini. Aku belum begitu lama mengenalnya. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu …
LSM? Juga aktivis masjid. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. Dan … cuma
dia, di antara para tetangga, yang sudi berteman denganku. Ia memberiku makan, mem- 104
perhatikanku, menceritakan banyak hal. Aku senang sekali.

Dulu, setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai, aku seperti
terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul,
menggapai-gapai permukaan. Namun tiada tepi. Aku tak bisa bangkit, bahkan menyentuh
apa pun, kecuali semua yang bernama kepahitan. Aku memakan dan meminum nyeri setiap
hari. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. Segalanya terasa lebih ri-
ngan.

Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. Aku melempari atau memukul orang-
orang yang lewat. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Kata mereka
aku gila! Hah, dasar orang- orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. Cut Dini juga yang
mengingatkanku untuk mandi dan makan. Ia menyisir rambutku, mengajakku ke dokter, ke
pengajian, atau sekedar jalan-jalan.

“Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi,” kata Cut Dini suatu ketika.

“Aku suka,” kataku pendek. “Ini baju yang dijahitkan Mak. Aku memakainya ketika
orang-orang jahat itu datang.”

“Itu baju yang tak pantas dilihat. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi,” katanya
pelan.

Kupandang baju ungu muda yang kupakai. Tangannya koyak, ketiaknya juga. Lalu di
dekat perut, di belakang…, bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana.

“Aku ingin memakainya,” lirihku. “Apa aku gila?” tanyaku.

Cut Dini menatap bola mataku dalam. “Menurutmu?”

Aku menggeleng kuat-kuat. Menggaruk-garuk kepalaku.

“Kau sakit. Kau sangat terpukul,” ujar Cut Dini. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat.
Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran.

Aku mengangguk-angguk. Terus mengangguk-angguk, sambil menggoyang-goyangkan


kedua kakiku. Aku suka membantah orang, tetapi tidak Cut Dini.

“Sudahlah.”
Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al- Quran mungilnya dan membacanya deng-
an syahdu. Suaranya kadang berubah. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pe-
ngeras suara— di musala.

Ah, meski tak mengerti, aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran.

***

105
Siang itu aku sedang menjadi burung. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika.
Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. Huh, se-
muanya busuk. Aku jadi ingin marah. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng
dan kubakar. Hua…ha…ha, aku tertawa gelak-gelak.

“Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar, di ruang tamu yang
merangkap kamar tidurku.

Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah, lalu mengintip ke dalam
lewat jendela yang rapuh. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu
pada Cut Dini.

“Kami orang baik-baik. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ri-
bu rupiah pada Inong.”

Aku nyengir. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap?

“Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. Ia atau bisa saja anda se-
bagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini.”

Cut Dini membaca kertas itu. Kulihat wajahnya marah. Mengapa? Kugerak-gerakkan
kepalaku menatap mimiknya, lebih lekat dari jendela.

“Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini, penjagalan di


rumoh geudong, mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak, Jembatan Kuning,
Sungai Tamiang, Cot Panglima, Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini
meninggi. “Lalu perkampungan tiga ribu janda, anak-anak yatim yang terlantar…, keji that!
Tidak!”

Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. “Kami hanya
menindak para GPK. Ini daerah operasi militer. Kami menjaga keamanan masyarakat.”

“Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu,
banyak yang terpaksa menjadi cuak, memata-matai dan menganggap teman sendiri
sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. Tetapi sekarang semua usai. Tak
ada tempat bagi orang seperti kalian di sini.”

“Sudahlah, ambil saja uang ini buat anda. Lupakan saja gadis gila itu.”
Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Kulempar
mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Aku berlari ke dapur, dan
kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. Mereka berteriak-teriak
seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku!
Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-na-
kuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak!

“Inong….”

Aku berhenti melempar. Aku berhenti jadi burung ajaib. Orang-orang itu kini hanya titik
di kejauhan.
106
“Masya Allah, nanti perabotan itu rusak,” suara Cut Dini, tetap lembut. “Benahi yang
rapi lagi, ya. Aku mau shalat lohor dulu,” katanya.

“Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku. “Dulu aku shalat bersama keluargaku,
sebelum aku bisa jadi burung,” tukasku.

“Jangan menjadi burung, bila ingin shalat seperti manusia,” kata Cut Dini tersenyum.

***

“Keluar, Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!”

Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-ge-
dor. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Lalu Ma’e dan Agam, abang dan adikku.

Ketika pintu dibuka, tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar, juga Agam dan Ma’e! Beberapa
orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak, beberapa tangan
kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Dzikir
itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati.

“Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. Kurasa ia seorang
pemimpin. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!”

Warga desa menunduk. Mereka tak mampu membela kami. Dari kejauhan kulihat api
berkobar. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah!

“Jangan ada yang menunduk!”

Aku gemetar mendengar bentakan itu.

“Ayo lihat mereka. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!”
suaranya lagi.

“Kami bukan GPK!”suara Ma’e. Ulon hana teupheu sapheu!”


“Lepaskan mereka. Kalian salah sasaran!” Ya Allah, itu suara Hamzah!

“Angkut orang yang bicara itu!”

Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung, lalu…ia diinjak-injak! Dan
diseret pergi. Airmataku menderas.

“Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah.

“Kami tidak membela, mereka memang bukan orang jahat,” suara Geuchik Harun. “Pak
Zakaria hanya seorang muadzin. Jiibandum ureung biasa.” Samar-samar kulihat kepala de-
sa kami itu diikat pada sebatang pohon.
107

Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun, lalu Ma’e abangku!
Aku histeris. Tak jauh, kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi, lalu Ayah yang
berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk.

“Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!”

Aku meronta, menendang, menggigit, mencakar, hingga aku letih sendiri. Dan aku tak
ingat apa-apa lagi, saat tak lama kemudian, nyeri yang amat sangat merejam-rejam
tubuhku!

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya.

“Astaghfirullah, Inong! Inong, bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku.

Airmataku menganak sungai, tetapi aku tak bisa bangun, sebab aku berada di dalam
jaring! Banyak orang sepertiku di sini, di dalam jaring-jaring merah ini.

“Inong, istighfar….”

Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Aku dan kumpulan manusia di


sini berjatuhan ke sana ke mari. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di
mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku
ingin menggenggamnya. Di mana Ayah, Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik
Hamzah? Di mana tengkoraknya?

Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari. Aku jatuh lagi. Merah.
Silau. Pusing. Pedih. Wajah-wajah dalam jaring pias. Wajah-wajah itu retak, terkelupas dan
berdarah. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari
sini! Oiiii, tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku
hanya tersisa nestapa!!

Tak ada yang mendengar. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Lalu airmata
seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku.

“Allah tak akan membiarkan mereka, Inong! Tak akan! Kau harus sembuh, Inong!
Semua sudah berlalu. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. Tegar, Inong! Tegar! La
hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah….”
Kabur. Samar kulihat Cut Dini. Wajah tulus dengan kerudung putih itu. Ia mengusap
airmataku.

Lalu tak jauh di hadapanku, kulihat beberapa o-rang. Di antaranya berseragam. Tiba-
tiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat.

“Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu, Pak. Tolong, beri kami keadilan.
Bapak sudah lihat sendiri. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!”

Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Apakah ia membawa
jaring-jaring untuk menangkapku lagi?
108
“Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya.
"Pergiiiiii!" aku menceracau. Sekujur badanku bergetar, terasa berputar. Orang-orang ini
tersentak, menatapku kasihan. Hah, apa peduliku?! Aku ingin berteriak, mengamuk, mem-
porakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku….

Tiba-tiba suaraku hilang. Aku berteriak, tak ada suara yang keluar. Aku menangis
tersedu-sedu, tak ada airmata yang mengalir. Aku mengamuk panik, tetapi kaku. Aku
mencari bunyi, mencari bening, mencari gerak. Tak ada apa pun. Cuma luka nganga.

“Inong…, mereka akan membantu kita….”

Aku terkapar kembali. Menggelepar. Berdarah dalam jaring.***

Cipayung, 1998

Referensi:

- Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh, 5 Agustus 1998.

- Gatra, Republika, Terbit, Kompas ( semua terbitan Agustus 1998).

- Buletin Kontras no 1/Agustus 1998.

Daftar istilah:

Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak

Geuchik : Kepala Desa

Cuak : orang yang jadi mata-mata tentara


Ma’e : panggilan untuk Ismail

Mak : Mak

rumoh geudong : rumah gedung (tempat penjagalan)

Mane : nama desa di Pidie

ureung-ureung : orang-orang

that : sekali
109
ulon hana teupheu sapheu : saya hanya orang biasa

therimoung ghaseh : terima kasih

kherudoung : kerudung

(Dimuat dalam Horison, April 1999)


Pemahat Abad
Oleh: Oka Rusmini

Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. Hampir saja pisau itu memahat 110
kakinya. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Seperti bau daun-
daun kering dan kayu basah. Aneh, dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu
gelisah? Bau itu semakin mendekat.

“Siapa itu?”

“Titiang.1 Luh Srenggi.”

“Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Bau itu semakin mendekat dan
menyesakkan dadanya. Tangannya jadi lapar. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Pisau-
pisau yang runcing terbayang di otaknya. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar
menelanjangi wujud laki-lakinya.

"Katakan padaku, siapa kau?!”

"Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu.2 Mulai hari ini dan seterusnya.”
Suara itu terdengar gugup.

“Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri.

“Luh Srenggi.” Suara itu terdengar bergetar. Suara itu adalah suara perempuan. Apa
yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Aneh sekali, tiba-tiba saja dia
seperti ditenggelamkan ke lautan. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran, kasih sa-
yang, dan sangat tulus. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Inilah perempuan itu,
perempuan yang dicarinya berabad-abad. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya.
Seorang perempuan, benarkah suara ini milik seorang perempuan?

Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya, Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Tangan
mereka bersentuhan. Kopag semakin gelisah. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu.
Luar biasa. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang
pohon, atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun.

Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Dia bisa memberikan penilaian
yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Biasanya dia hanya
dijadikan objek, sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Apa pun
yang dikatakan orang- orang di sekitarnya, Kopag harus patuh. Kali ini, dia merasa
menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang
yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka.
“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam, Gubreg?” Suara Kopag
terdengar getir, “bahkan untuk menilai keindahan itu, aku juga harus memakai kriteria
mereka?”

“Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup
ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Pikirannya kacau!

Kopag sadar, sangat sadar. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak
menggairahkan. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan
matanya. Tapi, apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia
ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat
digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan 111
kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran,
perasaan, dan keindahannya sendiri. Salahkah?

Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Tubuhnya
seperti lekukan kayu. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Dia adalah kayu terindah dan
tercantik. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Menghargai
keindahan yang dititipkan alam padanya. Bahkan Gubreg, pelayan tua itu, juga tidak
berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Apa yang
sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan?

***

Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag,
agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia
lainnya. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Gelar Ida Bagus
menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana, kasta tertinggi da-
lam struktur masyarakat Bali. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki ke-
dudukan tinggi di pemerintahan. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung.
Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Laki-laki itu adalah binatang yang
paling mengerikan. Kata orang, laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Dia tidak
pernah peduli, cantikkah perempuan itu, sehatkah dia? Bagi ayah Kopag, setiap makhluk
yang memiliki lubang bisa dimasuki. Suatu hari, setelah berbulan-bulan tidak pulang, laki-
laki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Tubuhnya kurus dan pucat. Belum lagi
hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Seluruh kekayaan ludes. Dalam kondisi seperti
itu, laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Perempuan itu
menolak. Dia tahu, laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. Apa artinya
kekuatan seorang perempuan? Terlebih, sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan
bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Dia hamil. Lahirlah seorang laki-laki yang
merenggut nyawa perempuan itu.

Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan
hidupnya sendiri. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan, bisa dibuat sebuah
pementasan. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan, di
sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi
dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya, hidupnya. Kehidupan yang
sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Dia memberi Kopag poin, yang tentu saja
tidak dimiliki orang-orang. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang
memikat para intelektual seni rupa. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Kopag
tidak saja memahat kayu, dia memahat pikirannya, otaknya, juga impian-impiannya. Untuk
pertama kali, alam menyerah pada kekuasaannya, seperti Kopag juga menyerah pada
kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus.

***

Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu
mengantarnya ke mana dia pergi. Jujur saja, Kopag sangat menyukai kayu yang
mengenalkannya pada dunianya. Dunia yang diinginkan. Sebuah kesunyian dengan pagar-
pagar keindahan. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. 112

“Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu
selalu menggelisahkannya. Ada-ada saja yang diributkannya. Tanaman di halaman samping
rusak atau terinjak kakinya, kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu
tersangkut tongkatnya, atau posisi piring dan gelas berubah di dapur.

Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Bagaimana mungkin
perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata
begitu kasar. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Nama perempuan itu Ni
Luh Putu Sari. Karena dia bukan kaum Brahmana, perempuan itu harus mengubah
namanya menjadi Jero Melati. Karena perempuan Sudra, perempuan kebanyakan itu telah
menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya.

Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa, kulitnya
yang sering jadi pujian, pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan
kaum laki-laki. Aneh sekali, Kopag sering berpikir, bagaimana sesungguhnya sebuah
penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Iparnya yang luar biasa
kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya.

Bagi Kopag, perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Saat ini dia sangat
mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Perempuan itu
benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana, dia harus
menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam
lingkungan keluarga bangsawan. Itu yang dirasakan Kopag, ketika untuk pertama kali
iparnya itu menyalaminya. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang
membusuk. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka, dia mencium bau
darah. Anyir. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat
mungil, merah, dan sangat pas. Bahkan Gubreg, parekan, pelayan setia yang merawat
Kopag sejak kecil, selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan
perempuan tercantik di desa.

Masih kata Gubreg, Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga
Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Postur tubuhnya seperti
putri-putri raja Bali.

“Luar biasa kecantikan Jero Melati, Ratu.”

“Seperti apa perempuan cantik itu, Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Aku ingin
tahu, aku juga ingin merasakan. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu.”
Laki-laki tua itu terdiam. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Ada rasa sakit
mengelus dada tuanya. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Tinggi,
dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Sejak kecil kakeknya hanya
mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Atau
sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca.

“Anak itu buta, Gubreg. Menanggung dosa ayahnya. Pertumbuhannya selalu


mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Karmanya jatuh pada
anaknya sendiri. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Aku masih percaya
kehidupan itu bisa diajak bicara. Kau bisa lihat, kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah
yang luar biasa. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Lihat, dia
mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Jaga dia baik-baik, 113
Gubreg. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai, sebelum berpulang.

“Gubreg, kau belum jawab pertanyaanku. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti
bongkahan kayu beringin ini? Dingin, tapi mampu memikatku. Lihat, Gubreg, aku selalu
tersentuh. Gubreg, rasa apa yang sering membuatku meluap, apa ini rasa yang dimiliki laki-
laki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan.

Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar, sudah menjelang dua puluh
lima tahun. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Atau sesekali dia
dikunjungi orang asing dari Prancis, Frans Kafkasau.

Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg, jengkel! Ada-ada saja yang
dibawanya. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing, yang diterjemahkannya,
tentang Michelangelo Buonorrty, yang konon, kata Frans, pematung jaman Renaisans.

Susah. Susah. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag
padanya.

“Kau tidak ingin menjawabnya, Gubreg?”

“Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang, Ratu. Titiang tidak bisa menjelaskan
seperti Frans. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada
kecemburuan.

Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Dadanya sering mendidih. Rasanya baru
mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti ke-
luar. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Laki-laki bule itu telah
memberinya didikan yang baru, perhatian yang lain. Kopag tidak lagi membutuhkannya.
Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Kehilangan yang dalam. Bagi Gubreg, Kopag
sudah bagian dari nafasnya. Sejak kecil, dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur
kayu. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu.
Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa, termasuk rangkaian pisau-
pisau pahatnya. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat, dan
menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Dia ingat teriakan Kopag ketika
pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Waktu itu umur Kopag tujuh
tahun.

“Gubreg, tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Keruncingannya,


ketajamannya, begitu indah. Begitu penuh misteri. Luar biasa, Gubreg.”
Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Gubreg menyaksikan, betapa
sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit
saja keruncingannya. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Di tangan
Kopag pisau itu jadi begitu dingin, angkuh dan selalu lapar.

Sampai menjelang tengah malam, Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi laki-
laki. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Takut sekali
menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki.

***

114

Pagi-pagi sekali, Kopag sudah membuka jendela studionya.

“Aku ingin bercerita padamu,” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu.

“Tentang apa lagi, Ratu?”

“Kecantikan perempuan.”

“Titiang...titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Semua


orang, Ratu, memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Perempuan itu....”

Suara Gubreg terdengar patah. Berkali-kali dia menarik nafas. Dia mengerti. Sangat
paham. Dia juga laki-laki, dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika
pertama kali menampar wujud manusianya. Begitu parah, dan teramat menggelisahkan
ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Rasa itu tiba-tiba
saja muncul kembali dalam otak, dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya
merangkai masa lalunya kembali.

Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Sering sekali dia disuruh
mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Tubuh perempuan itu seperti ular yang
melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah
itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Kaki perempuan itu putih, dan
mampu meledakkan otaknya. Terlebih, Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok
punggungnya dengan batu kali. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat
erat di tubuhnya. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup.
Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Dia gelisah, dia
luka, karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Sebagai laki-laki
Sudra, kebanyakan, dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana.
Perempuan junjungannya, perempuan yang sangat dihormatinya. Tak ada yang bisa
diceritakan kegelisahannya, dia adalah laki-laki tak berguna, yang hidup dari belas kasihan
keluarga Dayu Centaga. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu
Centaga, Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Dia sering terjaga tengah malam
dengan nafas yang memburu. Hyang Widhi, Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa
dibendung lagi. Tubuhnya jadi pucat. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian, dukun.

Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat
menyesakkan aliran pernafasannya. Kata Balian itu, Gubreg sempat membuang kotoran di
pinggir sungai. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Masih kata Balian tua itu,
tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Berkat kekuatan
Gubreg, Dayu Centaga tidak terkena. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu
sungai. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg, keluarga Griya membawa sesaji untuk
penunggu sungai.

Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Dia pasrah ketika
Balian tua...memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Katanya agar roh jahat tidak
mengenai keluarga Griya. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya, Gubreg bersedia
menjalankan runtutan upacara itu.

Tak seorang pun tahu, komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg tidak
sakit, tidak juga kesambet setan. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya, karena aliran 115
sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil, tetapi sudah menyerupai air bah. Dan
Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Demi Hyang Widhi, dia merasakan
cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Cinta yang
membuatnya jadi batu, dingin, tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai
manusia. Sampai sekarang, menjelang tujuh puluh lima, Gubreg masih setia mengabdi di
Griya. Tanpa istri, tanpa kegairahan sebagai laki-laki.

Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu, Gubreg paham. Sesuatu
yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya.

Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya.

“Gubreg, kau belum juga jawab pertanyaanku,” suara Kopag terdengar pelan. Dia
menarik nafas berkali-kali, “Gubreg, kau ingat kata-kata Frans?”

“Yang mana?”

“Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu


mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso, Guemica. Pada dasarnya aku selalu
penasaran, Gubreg. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi, mengajakku
bicara, berdialog, dan berpikir. Aku selalu ingin tahu, selalu ingin mengupas dan melukai
kayu-kayu itu. Rasa ingin tahu yang begitu besar, sampai menguliti otakku, tanganku,
tubuhku. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon
ketika dia membesarkan ranting-rantingnya, mem-besarkan tubuhnya, sampai akhirnya
potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Aku juga memiliki impian-impian sendiri
pada patahan tubuh pohon itu. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan,
pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Kata mereka, sangat surealis. Kecantikan
perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran
Martha Graham, yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh
yang dimainkan. Gubreg, aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku.
Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain.”

Gubreg tetap diam. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu
dalam ingin disampaikan Kopag, seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya, diajar
memahami kehidupan. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar
rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya
untuk mengabdi.
Berkat Kopag, keluarga besar ini kembali bisa hidup. Patung-patung Kopag laku keras
dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Sekarang ini keluarga ini tentram.
Jero Melati tidak pernah ceriwis, perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semau-
nya. Bahkan, kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Saat ini galeri
itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena
karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Bulan
kemarin, ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis.

Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada
uang atau tidak ada uang. Hanya satu yang ditangkap Gubreg, Kopag memerlukan
perempuan.
116

***

“Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu,” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati.
Mendengar komentar itu, Jero Melati tersenyum.

“Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan.”

“Jero sudah punya calon?”

“Ya. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari.”

“Siapa?”

“Adik perempuanku,” jawab perempuan itu serius. Gubreg menatap mata perempuan itu
tajam. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh
cantik itu. Benar kata Kopag, perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik.
Otaknya hanya berisi kehormatan.

“Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya.” Suara
perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Gubreg diam. Dia tahu, adik Jero
Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Kata orang-orang kampung, adik Jero Melati
bisa menjual tubuhnya. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Sayang, dia
tidak tahan miskin. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri.

***

“Gubreg. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Gubreg mencoba
memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Lima menit tanpa hasil. Kopag
seperti linglung, dia terus mengelilingi studionya.

“Ratu. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Ratu terlihat sangat gelisah.”

“Ya. Aku ingin kawin, Gubreg.” Suara Kopag terdengar sangat serius.
“Maaf Ratu, titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.”

“Apa kata mereka.”

“Mereka setuju. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.”
Gubreg mengangkat wajahnya, ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Aneh! Wajah itu
tetap seperti batu.

“Aku sudah memiliki calon. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!”

“Siapa?”
117
“Luh Srenggi.”

“Ratu...?!” Gubreg seperti tercekik. Luh Srenggi, apakah kuping tuanya tidak salah
dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan
Kopag, membersihkan studionya menyiapkan makan, dan mengambilkan pisau-pisau
pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan, dia lebih mirip makhluk yang mengerikan,
kakinya pincang, punggungnya bongkok, ada daging besar tumbuh di atasnya, matanya
yang kiri bolong, dia hanya memiliki satu mata. Wajahnya juga rusak berat. Kulitnya begitu
kasar. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Sadarkah dia, tahukah dia
makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat.

“Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam, Gubreg. Tubuhnya benar-benar
lekukan kayu. Kulitnya juga kulit kayu. Kau tahu, ketika kujatuhkan tubuhku memasuki
tubuhnya, aku tenggelam dan habis. Dia adalah perempuan tercantik. Perempuan yang
mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Ketika dia telanjang, tak ada sebuah pisau pun bisa
menandingi ketajamannya. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku.”

Gubreg ambruk. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis.***

1. Saya

2. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali

(Dimuat dalam Horison, Maret 2000)


Menjadi Batu
Oleh: Taufik Ikram Jamil

Dinihari. 118

“Pasti dari Jim,” kata hatiku.

Sambil mengangkat gagang telepon itu, aku membayangkan Jim kembali tercungap-
cungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa
terjadi, mengapa harus menjadi batu, dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu
mereka. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut, ditingkahi desah ketakutan dan
keasingannya menghadapi kenyataan itu.

“Ketika kutinggalkan sekejap tadi, hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum
menjadi batu,” kata Jim seperti yang sudah kuduga, ya seperti yang sudah kuduga. “Aku
kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu, tergolek bagai barang tak
berguna. Tapi mereka manusia kan?”

Aku diam, tetapi aku sudah membayangkan, pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh
Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia. Tetapi manusia
yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya, padahal bagian terpenting
dalam hidup adalah memfungsikan diri. Sampai pada kalimat tersebut, Jim akan tersentak
sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak. Jangan-
jangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga.

“Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. “Bagaimana caranya mereka menjadi
batu?” lanjutnya. “Tak masuk akal, menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati,”
kata Jim.

Beberapa saat ia terdiam.

“Ya, mereka membunuh diri,” simpul Jim. Cepat-cepat ia mengatakan, “Oh, betapa
mengerikan. Aku takut....”

“Jim...!” panggilku. Tak ada jawaban. “Jim!” ulangku.

“Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. Lima belas tahun yang
lalu, bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. Ketika ia masih
bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku,” kata Jim datar. “Niru telah mengantarkan
aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat
menjadi profesor. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku,
tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku,
sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian, aku merasa meneliti diriku
sendiri,” kata Jim.

Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru, se-
kitar 150 km dari sini, lantas berkenalan dengan Niru. Ya, Niru masih bujang bedengkang
waktu itu; tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim, ia yang kawin dengan orang se-
kampungnya, tetap memandu Jim di lapangan. Tak mengherankan kalau di antara ke-
duanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas. Ketika Jim
kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru, aku menjadi perantara
hubungan mereka berdua. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya
yakni antropologi ekonomi, Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut. Sayang, Niru
tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung 119
oleh Jim.

Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku, barangkali
disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya
sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. Dalam kerangka yang lebih kecil dan
sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa
Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi, tetapi masyarakatnya
terbelakang. Suku Montai, begitu orang menamakan asal Niru, sebenarnya hampir
tergolong primitif, tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan
canggihnya. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan
sebelumnya. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu, namun jarak di
antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik, tetapi oleh waktu.
Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai,
tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa
membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun.

“Halo..., Hallo...,” Jim agak berteriak. “Kau dengar atau tidak?”

“Teruskan, teruskan....”

“Aku takut, sangat takut. Aku belum pernah setakut ini.”

Aku menarik napas. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia
menelepon, ketakutannya terasa semakin besar. Tetapi belum sempat aku menyelidiki
keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku, hubungan kami terputus.
Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim
berbicara lagi, tetapi yang terdengar hanya tut ... tut ... tut....

***

Dinihari.

Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak
sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu, menuju
rumah sahabat kami tersebut. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya,
dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja
ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk, cahaya pelita sudah menyergap mukanya.
Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita
yang merah kekuning-kuningan. Angin berkibar, wajahnya pun terlihat berayun. Jim
kembali memutarkan badannya, turun ke tanah. Ia mencangkung pada pipa minyak yang
bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah
Niru. Menengadah. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan
hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya, malah ia semakin gelisah.

Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali
masuk ke dalam rumah Niru. Berat. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek
di sudut. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu, tinggal mukanya yang ranum seperti
tidak mengalami apa-apa, mengajak Jim berbincang. Tak jauh dari Niru, enam anak kecil
juga dalam keadaan demikian, menusuk-nusuk hati Jim. Juga Siah istri Niru yang tergeletak 120
dekat dapur, membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang
terasa amat asing.

“Aku panggil Tuk Batin ke sini,” kata Jim.

“Jangan!”

“Bontik?”

“Jangan. Duduk saja di sini, sebelum fajar menyingsing,” kata Niru.

“Atau Katik, Leman, Raut, dan... .”

Terdengar Niru ketawa kecil. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah
membatu. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya.
Terasa begitu cepat waktu berlalu, padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru
masih berbicara perkara biasa-biasa saja. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam
pertemuan dua sahabat lama itu. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti
sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar. Dulu,
menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar, ke pinggir hutan selatan. Sinar maupun
cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipan-
dang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup, juga mampu
menghidangkan suasana lain. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada
bidang Niru maupun Jim.

Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi, Jim memang mengatakan bahwa apa yang
terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. Setelah berkali-kali mengajak
berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru, lelaki itu akhimya mengeluarkan
kakinya. Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu. Jim terpelanting, tetapi tak lama
kemudian ia cepat menguasai. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya, Jim pun
sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim
setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota
keluarganya yang menjadi batu.

“Tapi Niru, anak-anak, dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa,” kata Jim lewat
telepon beberapa jam lalu. “Sungguh, semula aku tak percaya. Tetapi mana mungkin aku
mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri
bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. Aku memegang batu itu,
keras sebagaimana layaknya batu. Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubi-
tubi. Cepat pula ia bertanya, “Kau percaya cerita ini?”

“Percaya.”

“Kau percaya?”

“Karena kau tak mungkin berbohong.”

“Ya, aku tak mungkin berbohong.”


121
“Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa. Ia akan
menceritakan ikan yang menghilang dari sungai, damar yang sulit dicari, dan....”

“Bagaimana kau tahu?”

Aku berdehem.

“Bagaimana kau tahu?” desak Jim.

“Lantas, apa lagi yang dapat dikatakan Niru?”

“Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? Tetapi mengapa mereka menjadi
batu?”

Aku ingin menjawab pertanyaan itu, tetapi hujatan Jim _ya, aku katakan sebagai
hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya. Aku ingin
mengatakan, tapi nantilah .... Ya, nanti saja. Apalagi waktu itu, tiba-tiba saja sambungan
telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut ... tut ... tut ....

“Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan.”

Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu, sementara sekian pertanyaanku
kepada Niru hanyalah sia-sia. Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. Ia hanya
mau mengenang masa-masa lampau, soal-soal kemesraan, dan bercerita tentang kayangan
yang sudah hilang,” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang
dalam telingaku. “Ini sungguh amat menakutkan aku. Aku takut,” sambung Jim, terdengar
suaranya tersendat-sendat.

***

Sampai menjelang subuh, telepon masih terlentang. Belum ada lagi panggilan dari Jim,
tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon. Barangkali selama menunggu ini aku sempat
tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku. Kudengar juga suara anakku mengerang.
Kendaraan mulai lewat di depan rumah. Dari jendela, aku melihat bulan tergantung yang
cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan. Bayangan Jim
menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini. Ia seperti duduk di ruang
tengah, membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. Kakinya terkepang, kadang-kadang
bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu.

“Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia
dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam, mungkin tujuh tahun
yang lalu. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepada-
ku. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah ter-
sebut sambil lewat saja, tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar
hamparan batu tersebut. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan
pertanyaan serupa, “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk
manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?”
122
Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit, kemudian kembali memandang
majalah itu dan mencari nama penulisnya. Tanpa sengaja aku memandang gambar batu-
batu yang berbentuk manusia, tilam, sendok, lesung, bantal, bahkan alat kelamin lelaki
maupun perempuan, yang pernah kusaksikan beberapa kali. Ada juga batu berbentuk
kapal, limau, dan entah apa lagi. Konon, batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan
sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang
hidup terutama dalam menolak perintah raja. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon
pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin
mempersempit lahan yang ada. Setahuku, ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di
sini. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan
lebat.

Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya,
malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke
sini. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. Bau parfumnya menyengat
sampai aku harus mendengus-denguskan hidung. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil
melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. Menyulut rokok sebatang dan
menghisapnya dalam-dalam, ia kemudian mengatakan ingin keluar. Tak diajaknya aku,
tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku
menunggu tamu, seorang teman lama. Dini hari, ketika mataku sudah terlayang, baru Jim
pulang dengan bau penuh bir.

Keesokannya, pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. Aku agak
terkejut karena hal ini di luar programnya semula. Katanya, ia akan berada di sini barang
sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai, tetapi baru tiga hari
ia sudah merindukan keluarganya. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya
karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal
walaupun aku sudah mengingatkannya. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan
kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. Sampailah beberapa hari lalu saat ia
meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini.

“Aku ingin reuni di Montai, tentu terutama dengan Niru dan keluarganya,” kata Jim
seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. Di bandar udara
Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang
penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang
karier seperti sekarang.

Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon, Niru maupun orang sedesanya
tetap seperti dahulu. Tak ada perubahan. Kalaupun ada perubahan, kelapa sawit di sana
sudah menghasilkan sekian kali panen, jalan yang lebar, dan tanah yang kelihatan semakin
tandus. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang, kendaraan tiada henti-
hentinya lalu-lalang di desa itu. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan
berbagai fasilitas, termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu
jauh dari rumah Niru.

Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya,
Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki
listrik. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali,
sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan
perkebunan. Jim juga mengatakan, tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan
sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser
pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel. “Ketika kutanyakan hal ini, Niru 123
hanya mengatakan: payah, payah...,” kata Jim.

Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga
kampung itu, bahkan kami di kota ini. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada
Jim, tidak cukup hanya melalui telepon. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya
ketika ia pulang nanti. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak
pernah menyerah kepada keadaan. Baiklah, setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua
kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu.

***

Ternyata penantianku tidak sia-sia. Persis saat azan subuh mulai berkumandang,
telepon berderak. Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku, sementara
benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru.
Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap, menelan air
liurnya beberapa kali, dan tak henti-hentinya mengusap muka. Ketika kutanyakan
khabarnya, Jim menjawab dengan sedu-sedan.

“Sudahlah Jim, bawa bertenang.”

Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang.

“Bertenang?” tanyanya kemudian.

“Pulanglah dulu ke sini.”

“Bertenang dan pulang?”

Aku mengogam.

“Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?”

“Ya, memang sulit. Aku akan menjemputmu.”

“Kemudian membawa aku pulang?”

“Ya.”
“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu, ketika....” Kalimat Jim terputus.

“Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim.
Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian
tersebut, bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya
yang lain menjelang subuh itu.

“Ya. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik. Tetapi aku melihat, Bontik
dan keluarganya juga sudah menjadi batu. Aku pergi ke rumah Tuk Batin, ia dan
keluarganya juga begitu. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini
sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan
langsung. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu,” kata Jim. 124

Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu. Pada beberapa
rumah yang penghuninya tak dikenal Jim, orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu
pun dalam berbagai pose. Ada yang sedang mencangkung, berdiri bercekak pinggang, dan
entah macam mana lagi. Bontik, kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim, salah se-
orang manusia yang menjadi batu di halaman, sedangkan istri dan tiga orang anaknya
berada di belakang rumah. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan
berbagai macam pose. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka
tegang, sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman.

Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati, ia melihat Niru yang sudah menjadi batu
lebih dulu. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. Tetapi Niru
setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit
kaki kiri; sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. Tangan kanan
menopang kepalanya, sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. Tetapi
mata Niru.... Matanya memandang tembus ke langit. Atap rumah yang terbuat dari daun
nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar, ternyata bocor. Cahaya
bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru,
sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit
dilukiskan kata-kata.

Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan
napas terengah-engah. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat
dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak
terasakan lagi. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka, tetapi semakin
besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya, semakin besarlah
kesadarannya tentang kenyataan ini. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia
tergantung dan saling tarik-menarik. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak,
dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut. Sebaliknya belum
sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih, ia
meluncur pula ke rentangan yang menolak.

Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus
menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak
demikian. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. Ketika kakinya
melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam, bahkan kadang-kadang terasa
kalau kaki kanan ingin ke depan, kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan
maupun ke samping kiri, sementara otaknya melayang entah ke mana. Walhasil ia harus
mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. Ia merasa amat letih, tetapi ia
tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. Ia seperti orang
sasau --di antara gila dengan waras.

Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan.
Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras, selanjutnya ia memekik keras berkali-
kali. Entah apa yang dipekiknya, ia tak tahu. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengan-
tarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku.

“Tapi aku bertambah kecewa, bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang;
seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini. Seharusnya, kita berbuat sesuatu
menghadapi kenyataan ini. Bukan bermaksud menjemputku pulang. Di mana letak dirimu
sebagai manusia?” 125

Aku diam.

“Kemanusiaanmu sudah tak berguna. Kau sudah mati. Kau sedikit pun tidak memiliki
perasaan,” Jim marah besar. Suaranya lantang berkumandang, terasa seperti jarum
menusuk telingaku.

“Kau bangsat, taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon.

Tanpa merasa tersinggung sedikit pun, aku juga meletakkan gagang telepon. Meraih
kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi, kemudian menyandarkan tubuhku ke
sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. Memandang ke langit-langit, aku berkata
pelan, “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam, giliranku, keluargaku, dan para tetangga
yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya. Kalau saja Jim
tahu, semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku
mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon.”

Sungguh, hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan.***

(Dimuat dalam Horison, September 1997)


Para Pemburu
Oleh: Agus Noor

Purnama mengapung di telaga, sesekali meleleh oleh arus gelombang. Kami meman- 126
danginya dengan gamang. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Seperti juga semua
makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Hingga kami merasa benar-benar
sendiri, ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami beristirahat di pinggir telaga
itu, hanyut oleh pikiran kami. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan
gendong. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang
pohon dan gundukan batu. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih
dahulu, melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak.

Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami, sebelum sampai ke telaga ini. Inilah
pertama kali kami merasa begitu lelah, setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang
bergerak begitu cepat. Kami seperti mengejar kilat. Seluruh kekuatan dan pengalaman
kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas, tetapi kali ini, buruan kami
tetap saja melenggang bebas. Membuat kami begitu merasa terhina. Seakan sia-sia
kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan
peradaban kami hanya untuk berburu. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Siapakah
yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Telah kami jelajahi
seluruh hutan. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Telah kami sibak semua palung
lautan. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung.

Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Legenda kami adalah penaklukan puluhan
binatang buruan. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Tak ada yang
lebih terhormat bagi kami, nenek moyang dan anak cucu kami, selain menjadi seorang
pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Cerita-cerita
penaklukan, mengantar tidur anak-anak kami. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam
kepala mereka. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Kami sudah tahu bagaimana
menyembelih wildebeest, sejak kami masih dalam kandungan. Kami mengembara dari satu
benua ke benua lainnya, untuk memburu binatang-binatang, bukan sebagai cara kami
bertahan menghadapi hidup, tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan.

Sampai kemudian kami menyadari, betapa binatang-binatang di dunia ini perlahan-


lahan telah habis kami buru. Membuat kami cemas, melihat kehormatan kami akan goyah
suatu ketika. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Barangkali, binatang-
binatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Maka mereka buru-buru menjauh pergi,
begitu tercium bau kami. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis
kami bunuhi. Gajah, badak, macan, rusa, ular, serigala dan segala macamnya. Sampai
kelinci, tupai dan tikus, telah lenyap kami tangkap. Maklumlah, dari tahun ke tahun, jumlah
kami memang makin membesar. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir, sementara
orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Mereka sudah renta, tapi tak gampang mati.
Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun, tetapi masih sanggup berlari
mengejar antelope, kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan,
hingga pecah berantakan. Dan itulah kehormatan.

Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Karena, seperti
kami katakan tadi, semua binatang telah habis kami buru, kami bunuh.

“Perburuan tak mungkin berhenti!”

“Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!”

“Takdir tak bisa dihentikan.”


127
“Lantas bagaimana?”

“Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!”

“Memburu apa?”

Itu membuat kami terdiam. Sampai kemudian ide brilian terlontar. Kami akan memburu
manusia, untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Maka kami pun membeli
ratusan budak. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas, dengan cara melarikan diri. Me-
reka kami lepas ke tengah hutan, membiarkan mereka lari dan menghilang, baru kemudian
kami memburu mereka. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Bahkan membuat kami lebih
merasa sempurna sebagai pemburu. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari-
pada memburu binatang. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Anak-anak kami
pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Lantas, perlahan-lahan, kebiasa-
an baru tumbuh dalam kehidupan kami. Menjadi tradisi. Kami tak lagi memburu binatang,
tapi manusia. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Kepada mereka
kami tawarkan kebebasan, “Masuklah dalam hutan, lari. Selamatkan kehidupanmu. Jangan
cemas, meski kami akan memburu kalian, kalian masih punya kesempatan untuk memper-
panjang kehidupan. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Tapi itu lebih baik bagi
kalian, daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Mati dalam perburuan ini
lebih terhormat bagi kalian. Anggap semua ini hanya permainan. Semoga nasib baik ber-
sama kalian... .”

Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Kami iringi dengan
lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Selamat jalan. Inilah hidup yang
sesungguhnya, yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesaki-
tan. Adakah yang lebih menyenangkan, selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka
kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Setiap detik adalah pertarungan. Banyak
juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Para penjahat itu, memang makhluk yang
tak gampang menyerah. Liat dan sigap. Dan itu, sungguh, sasaran perburuan yang meng-
gairahkan.

Rupanya, tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Ketika kisah-kisah
kami menjalar ke banyak negara, banyak orang di luar suku kami, mendatangi kami, untuk
ikut menikmati perburuan itu. Mula-mula, banyak di antara kami yang menolak, karena hal
itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Tetapi kami tak bisa
menolak, ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal, orang-
orang besar di negara mereka, para raja, puluhan kepala negara, para bangsawan dan
pengusaha besar. Para bangsawan, yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami
dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas, mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami
kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenang-
kan. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Para jen-
deral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Para pengusaha mensubsidi kami
modal bermilyar-milyar. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih
rakyat mereka sebagai binatang buruan. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. Kami tak
hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati, tetapi kami
bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Malah sering para raja dan
kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para
tokoh oposisi yang tak mereka sukai, para demonstran untuk kami habisi. Juga kaum
intelektual yang selama ini mereka benci. Ah, begitu melimpah buruan kami.
128
Kami bangun juga istana-istana, tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami
menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Kami perlahan-lahan
meninggalkan cara hidup kami di hutan, dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih
dan nyaman. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang, tetapi juga denting gelas
dalam kehangatan pesta.

“Ini darah seorang penyair untukmu, jangan sedih... .” Gelas kami beradu, dan kami
tertawa bahagia. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair puja-
puji bagi keagungan kami. Hidup pemburu agung!

Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar, yang melintas bagai badai dan
gelombang, menggulung apa pun yang kami sukai. Di antara kemeriahan pesta, kami terus
menuliskan sejarah kami yang agung. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan
kehormatan, tetapi juga, terkadang, keisengan. Kami, yang telah menjadi sekelompok
pemburu yang paling kuat, dengan dukungan dana yang melimpah, pasokan senjata yang
bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami, menjadi tak tertandingi. Kami berdiri di
puncak menara peradaban, sendiri. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Apakah arti ke-
kuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami.
Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak, ketika kami memburu ribuan
orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi, ketika kami menembaki anak-anak Pa-
lestina, ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia, ketika
kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja, tak
ada lagi kegairahan karena kemenangan. Tak ada lagi yang berani menggertak kami,
sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Kami terus memburu, kami terus
bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman, melintasi gelombang waktu,
menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan,
tetapi kami selalu dirundung sunyi. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua
itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan, tetapi penaklukan yang membosankan.
Karena kami sudah terlalu kuat, hingga pertarungan menjadi tak sepadan. Kami seperti
kehilangan buruan yang mengasyikkan.

“Kita harus melakukan sesuatu. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi.
Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini.”

Lalu seseorang yang paling tua di antara kami, yang sudah berumur 100 juta tahun
lebih, menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Suaranya sudah gemetar, seakan
maut sudah menyentuh bibir orang tua itu.

“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?”


“Aku sudah mencium ajalku. Dan aku ingin, sebelum maut menjemputku, aku ingin
menikmati perburuan yang paling menggairahkan.”

“Apa hubungannya dengan para kiai itu?”

“Kumpulkan mereka, dari seluruh dunia. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk
kita buru!”

Kami terpukau oleh gagasan itu. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa
pemburu kami. Gairah menjalar, membangkitkan imajinasi kami. Ya, malaikat, kenapa kami
tak memburu malaikat?
129
“Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!”

“Kami bersorai, anggur segera kami tuang dalam gelas, bersulang, menyambut hari
depan kami yang gilang gemilang. Panji perburuan berkibar. Kami segera menghimpun
topan. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. Dan tentu, kami segera
mengumpulkan para kiai. Mereka kami datangkan dari semua penjuru, kalau perlu dengan
paksa dan kekerasan.

“Kami ingin Jibril,” kata kami kepada mereka. “Kami tak mau tahu, bagaimana cara
kalian mendatangkan Jibril bagi kami. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah
kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril
dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Sekarang, katakan
kepada kami, kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?”

Kami tatap wajah para kiai itu, mencari kepastian dalam mata mereka.

“Baiklah,” tegas kami, “kalian kami beri waktu satu bulan. Bila selama ini kalian tak bisa
mendatangkan Jibril bagi kami, kami akan membikin perhitungan sendiri... .”

Mereka, para kiai itu, kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Tetapi
mereka menolak, dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana
ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Kami turut kemauan mereka, meski sesung-
guhnya heran. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Benar-benar masjid kecil yang
tak terawat. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu, telah lapuk. Luasnya tak lebih
dari lima kali lima tombak. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami
himpun dari seluruh penjuru ini.

“Kalian jangan bercanda!” teriak kami.

“Kalianlah yang bercanda, dengan meminta kami mendatangkan Jibril.”

“Baiklah... .”

Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu, membuat
kami begitu ternganga, ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam
masjid, tetapi masjid itu tak juga penuh. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun
masuk ke dalamnya. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu, berkelok-kelok mengikuti
gigir bukit, seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka. Jutaan
kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang, itu
pun pasti sudah berhimpitan, bagaimana mungkin? Tapi, itulah yang kami saksikan. Sampai
kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Dan kami mendengar gema dzikir dari
dalam sana, mengalun menidurkan rerumputan, sepanjang hari sepanjang malam. Gema
itu melambung, menyentuh langit. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam
hati kami karena gema itu. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu, seperti daun
yang melayang-layang itu, yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Kami memagarbetis masjid
itu, tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami tak mau kecolongan. Kami
tak mau ditipu para kiai itu, jangan-jangan semua itu sihir belaka. Kami terus berjaga,
takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur.

Satu bulan lewat, menguap begitu cepat, bersama angin dan embun. Membuat kami
cemas, sekaligus marah, ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Segera 130
kami kirim seseorang untuk menemui mereka. Namun orang itu tak kembali. Membuat kami
tambah cemas menunggu, kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di
dalam masjid itu. Tetapi seperti yang pertama, orang kedua kami pun tak kembali. Kami
panggil namanya, tetapi tak kunjung keluar jua. Kami kirim utusan kembali, memper-
ingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Tapi seperti yang pertama dan
kedua, utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari.
Begitulah berkali-kali, setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai, tak pernah
muncul kembali. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema, membuat udara bergetar
dan perasaan kami gemetar. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Kami berteriak menyuruh para
kiai itu keluar, tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Kami sudah cukup punya
pengertian, bukan?

Jangan salahkan kami. Dan kami segera menyerbu, masuk dalam masjid itu, tetapi, luar
biasa, semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu, lenyap seketika, raib begitu saja.
Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas, bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada
dimensi lain, tertelan dan lenyap. Kami panik. Kemarahan kami menyalakan api di tangan,
berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Kami bakar masjid itu, hingga kayu-kayu
bergemeretakan, dan api melahap cepat, membumbung.

Namun dzikir itu masih kami dengar, di pucuk api berkobar.

Pada saat itulah, seseorang di antara kami berteriak, membuat kami tengadah ke
puncak api. Dan, ya Allah, di sana, di puncak kobaran api, kami melihat selesat biru cahaya
menatap kami, dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta.

“Jibril!!”

“Jibril!!”

Seketika kami berteriak, antara takjub dan panik, gembira dan tak percaya, melihat
impian kami sudah di depan mata. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami?

“Buru!”

Teriakan itu, mendadak menyadarkan kami, betapa memang inilah yang selama ini kami
tunggu-tunggu. Jibril, kini telah muncul di hadapan kami, kenapa kami malah bengong
begitu? Maka, dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Tombak, anak
panah, desing senapan mesin, roket dan basoka, dengan cepat berlesatan ke arah selesat
cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak.
“Kejar!”

Kami pun melesat, mengejar Jibril. Bertahun-tahun kami memburu. Membiarkan kaki
kami koyak oleh duri, membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Kami
tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah
perburuan kali ini. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Setelah berabad-abad
kami hidup sebagai pemburu, setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami
jadi pemburu sejati, inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Tombak terus
beterbangan, roket terus berlesatan, jaring-jaring baja telah kami rentangkan, ranjau-
ranjau telah kami tanam, perangkap telah kami pasang, agar kami mampu meringkus Jibril.
Inilah buruan kami yang abadi. Ke mana pun Jibril melesat, kami memburunya.
131
Sampai kami tiba di pinggir telaga ini, yang menyimpan bayangan bulan. Sebagian
besar dari kami kini benar-benar renta. Kami tak sempat istirahat. Kami tak pernah tidur di
satu tempat, hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami begitu sibuk memburu Jibril.
Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini, dan kami pun tak sempat menguburkan-
nya. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Kami tak mau kehilangan jejak. Dan
memang, kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Ketika kami baru saja
rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun, mengharap kesegaran akan
membuat tenaga kami kembali muda, kami sudah harus kembali pergi ketika pada
bayangan bulan, kami lihat jejak cahaya.

“Ke sana!” seseorang dari kami berteriak, dan langsung melesat. Di seberang telaga
sana, kami melihat buruan abadi kami, mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya.

Maka kami pun kembali bangkit, meraih peralatan berburu kami. Segera menghambur,
melanjutkan pemburuan abadi kami.***

Yogyakarta, 1995-1998

(Dongeng Buat Mas Danarto)

(Dimuat dalam Horison, Januari 2000)


Gank
Oleh: Syahril Latif

1 132

Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan
Karet yang terkenal itu. Sebuah gang sempit yang tak berarti, sehingga kau tidak akan
menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata, seperti Taman Mini,
Monas, Dunia Fantasi Ancol, Hotel Indonesia, dan lain sebagainya. Tapi inilah gambaran
kota yang sebenarnya, di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan.

Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k, sehingga menjadi Gank.
Tak tahu siapa yang mengubahnya. Tapi semua orang seperti sudah maklum, dapat
menduganya, siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami.

Belakangan, ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. Namun, apa pun
namanya, semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. Kadang-kadang, untuk
cepat dan mudahnya, oleh tukang, beca terutama, disingkat saja menjadi Gang Jalil.

Apalah arti sebuah nama.

Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. Di sana, di jalanan yang
sempit itu, anak-anak bermain gundu, main bola kaki, berkejaran, main layangan, main
petak-umpet, main galasin. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masak-
masakan, main congklak, atau melompat-lompat main engklek. Dan apabila ada mobil
lewat, yang terpaksa merayap pelan bagai keong, anak-anak menyibak ke tepi. Kemudian
mengumpul kembali memenuhi jalanan, setelah mobil berlalu. Seakan, seperti setelah biduk
lalu kiambang bertaut.

Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku, yang bercampur-baur menjadi satu dengan
penduduk asli Betawi, sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. Kami telah lebur jadi
satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil.

4
Rata-rata, semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu
sama lain.

Sebagai gambaran kemiskinan, rumah-rumah, kami pun sederhana, berukuran kecil dan
tak teratur bentuk dan susunannya.

Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman, membuat
kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel, yang segera mengundang tamu
133
atau teman kami yang datang berkunjung, bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?”

“Itu rumah pegawai pajak,” begitu kami selalu menjelaskan.

“Pantas!” jawab mereka. Dan tanya lagi, “Yang di sebelahnya?”

“Rumah pegawai Bea Cukai.”

“Lebih pantas lagi,” kata mereka, dan tanya lagi, “Yang di seberangnya?”

“Itu mah, pegawai negeri biasa saja.”

“Kok sama hebatnya?”

“Maklum, menjabat bagian basah.”

“Bagian apa?”

“Tau, dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan. Tak tahulah. Kok, ngurus hal
orang lain, sih?

Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu, tukang kayu, montir,
kenek, pedagang kaki lima, penjual nasi Padang dan Tegal, tukang cukur, guru sekolah,
dosen, pelayan toko, sopir, makelar, satpam, tukang listrik, pegawai negeri dan swasta,
bidan, perawat dan lain sebagainya.

Jika lagi kehabisan, ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu
masakan kepada tetangga. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau
makanan kecil. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya
mesin jahit. Dan andaikata ada pompa air yang rusak, atau listrik yang korsleting, tetangga
lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan.

Sesekali, ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. Biasanya, soal anak-anak,
yang berantem. Anehnya, sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut, anak-anak
mereka sudah berbaikan kembali.

134

Kurasa gang kami tak pernah sepi. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau
kaset yang tak henti-hentinya distel, teriakan anak-anak bermain, teriakan penjaja sayuran
dan makanan. Dan lepas tengah hari, di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat
panas Jakarta, terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah:

“Aanakum, Ainakum, Iinakum, Aunakum, Uunakum, Baanakum, Bainakum, Biinakum,


Baunakum, Buunakum, Taanakum, Tainakum, Tiinakum, Taunakum, Tuunakum,
Tsaanakum, Tsainakum, Tsiinakum, Tsaunakum, Tsuunakum ....”

Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas, mengasyikkan, mengantar kantuk,
melayang jauh dihantar angin siang.

10

Apa saja yang dimasak tetangga, tak bisa dirahasiakan. Aromanya akan mengambang
ke mana-mana, ke sepanjang gang. Yang paling cepat ketahuan, kalau ibumu menggoreng
ikan asin. Yang ini, sungguh menitikkan air liur.

11

Lepas Isya dan makan malam, boleh dikata selalu ada permainan domino, lebih
terkenal: gaple, di luar pekarangan rumah. Pada malam minggu, bisa-bisa berlangsung
hingga beduk subuh. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian
mencari nafkah membanting tulang. Atau juga, begitulah cara mereka membanting kesal ke
atas meja gaple. Tak tahulah.

12
Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa, sekali sebulan pada petang Jumat, orang tua-tua
kami mengadakan pengajian di mesjid. Kami yang muda-muda, sebagai basa-basi, ikut
hadir. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka.

Di tengah pengajian sedang berlangsung, ayah-ayah kami pada mengantuk. Heran,


kalau main gaple semalam suntuk, mata itu bisa melotot terus sampai pagi, ditingkah senda
gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. Menurut Ustadz Malik, setengah melucu, setengah
menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian, tanda setan sedang
mengencinginya!”

Tiba-tiba, semua membuka matanya lebar-lebar, sedikit kaget dan lantas tertawa.
Menertawakan siapa? 135

13

Jika yang tua-tua senang gaple, kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk
menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul, menyanyi dan main gitar, persis pengamen jalanan.
Tempatnya: gardu jaga siskamling. Kami menyebutnya ‘markas’.

Semua jenis lagu kami senang, mulai dari dangdut, pop sampai keroncong. Tapi yang
mendapat tempat di hati kami, agaknya dangdut dan pop itulah. Sekali-sekali ada juga
yang mencoba seriosa, atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya, tapi tak kena:
sumbang, dan yang lain segera menyorakinya. Sesekali kami larut juga dalam irama
gambus.

14

Sekali-sekali, anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami, tak sampai larut. Sebentar
mereka sudah dipanggil ibu mereka. Atau disusul adiknya disuruh pulang.

15

Bagiku, semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. Tapi rasanya lebih intim
dengan Hamzah, Martin, Najib, Tony Handoko dan beberapa anak tertentu.

Usia kami tak jauh beda, hampir sebaya. Dulu ketika masih kecil, kami sering berantem.
Sekarang tidak, kami saling menjaga, saling menenggang. Dan kalau bisa ingin berbuat
lebih baik kepada yang lain.

16
Hamzah gitaris andalan kami, sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi
Inggris. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu
Barat melulu. “Inggris, ni yee?!” ejek anak-anak.

“Maklum, deh,” tambah yang lain.

Tapi Hamzah tidak marah. Tak acuh.

Dan sekarang, bacaannya bukan komik lagi, bukan cerita silat lagi. Pokoknya, berat,
deh! Bayangin, kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya, kalian tahu, dia sedang baca
apa?
136
George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter
Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot!

Pokoknya: berat!

17

Kalau si Martin lain lagi. Sejak jadi pemain teater, gayanya overacting. Selangit. Ia ikut
salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. Di situlah ia bercokol.

Gaya bicaranya, gerak tangan, jalannya, cara tersenyum, ekspresi wajah dan lain
sebagainya, kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan
agak pemalu. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. Merasa
lebih penting dan menonjol dari yang lain. Gayanya mirip-mirip Rendra, maunya.

Kalau ia bicara, seakan ia jauh dari kita, nada suaranya agak dilantunkan bagaikan
orang berdiri di atas panggung. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. Kami tak
tahu pasti, apakah dia masih bisa berbisik.

Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa.

Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM,


disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain!

18

Kukira, si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. Itu, Najib anak Ustadz
Malik, guru ngaji di gang kami. Soalnya setelah gagal sipenmaru, benar-benar ia putus
sekolah. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta, ia tahu diri, tak mungkin, biaya
kuliah terlalu tinggi, di luar jangkauan.

Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. Maka dengan
senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. Masuk kantor keluar
kantor. Akan hasil perburuannya itu, bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah
tahu jalan ceritanya, tentu kau sudah dapat menebak. Tapi Allah memang Maha Pemurah,
Pengasih dan Penyayang, akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya, kalau itu
diartikan secara harfiah: kerja. Pokoknya, kerja. Apakah ia suka atau tidak.

Nah, bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib, menguji keimanannya.
Agaknya ia kalah. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub,
rumah minum. Artinya, setelah Najib ditest, kemudian ikut training untuk jadi Bartender,
Najib mulai bekerja di sana.

Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. Karena Najib bekerja malam hari
hingga subuh. Siang hari ia tidur, seperti musang.
137
Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. Yang ia tahu,
sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya, Najib bekerja
sebagai Satpam di sebuah perusahaan. “Jangan lupa shalat,” pesan ayahnya.

Jelas Najib berbohong. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. Bekerja di bar itu dosa.
Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. Lingkungannya tak memungkinkan, dan di mana
mau shalat, dan tak ada tempo, dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya.

Sebenarnya, Najib merasa sangat terhimpit, tapi dilakoninya terus. Sampai kapan?

Dan kami, dan semua orang di gang, merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini
kepada Ustadz Malik. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya.

19

Sebaliknya, siapa sangka, jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya,
Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu, anak pegawai pajak yang gedongan itu, bersike-
ras pada papanya mau masuk pesantren. Ketika hal itu disampaikan, bukan main kagetnya
sang papa, bagaikan disambar petir di siang bolong. Kaget, heran, berang, bingung, tak
alang kepalang.

Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar
sepanjang gang. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan,
bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film
Rambo, atau kayak petasan gantung waktu sunatan. Papanya menyesalkan sangat
keinginan Tony itu. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan
mengirimnya ke Amerika. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila.

Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan,


Tony bungkem, merunduk terus, tak membantah sepatah pun, sampai papanya reda dan
terhenyak di kursi.

Beberapa hari kemudian, kami, Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur,
ke Pesantren Bangil. Tony memintaku. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. Bahkan
ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. Untunglah hal itu diizinkan Pak
Kiai, pimpinan pesantren itu.
20

Sehari setelah keberangkatan Tony, papanya jatuh sakit. Begitu Surat Kilat Khusus yang
kami terima, pada hari ketiga, dari ibu Tony. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk
menjenguk papanya. Tapi Tony tak mau. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat
kepada ibunya, kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. Papa
memang selalu begitu. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut.”

Aku mencoba melunakkan hatinya, “Toh tidak apa pulang buat sebentar, bukan?”
138
“Tidak sekarang,” jawabnya pasti. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. Coba, Ma,
saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? .... Dalam batin, saya
bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu ...
seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi, martabat, kesenangan ... tapi miskin
rohani. Dunia, dunia dan kesenangan melulu.… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli
kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu, hanya
mencari kesenangan dunia…. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan
suasana rumah!”

Tony menarik nafas panjang, nampak kesal. Dan katanya: “Coba fikir, masak papa tega
menuduh saya subversif. Ikut pengajian gelap, pengajian subversif, pengajian yang
disusupi faham komunis. Jelas ini fitnah! .... Ya, Allah. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan
papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib, agar
semua kami ditangkap, guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah.

Kini, kulihat air matanya menggenang, hampir menangis.

Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa, menjadi anak durhaka, hampir saya tidak
bisa memaafkan papa. Saya hanya bisa berdoa, semoga Allah memberi papa taufiq dan
hidayah. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. Sekarang
sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia

21

Sebenarnya, yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. Ada lagi. Kau lihatlah si
Aisah, teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu), teman kami juga. Nah,
Aisah yang satu ini, sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang, tak lain tak
bukan, itu kata lain dari pada kerudung). Dan kesan pertama kita melihatnya, persis seperti
kaum wanita pasidaran Iran, anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini, sebagaimana
yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. Belakangan ada lagi yang
menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir, pimpinan Imam Hassan Al-Banna.
Tapi, apa pun namanya, menurut Ustadz Malik, “Itulah pakaian Muslimah yang
sebenarnya.”

Pakaian yang menutup aurat. Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran, surah
Al-Ahzab ayat 59: “Hai, Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu,
istri-istri orang mu'min. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke
seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, agar mereka
tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw.
dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r.a.: suatu
ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang
tipis (membayang tubuhnya), maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma,
wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini,” dan beliau me-
nunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya.

Sebenarnya, masih ada beberapa ayat dan hadis, tapi Saudara-saudara dapat menca-
rinya sendiri dalam Al-Quran, misalnya pada An Nur ayat 31, Al A’raaf ayat 26 dan
beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad!
139
Pokoknya, sejak Aisah menjadi eskrim, maaf, ekstrim itu, di mana saja, kapan saja, ia
selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng, menjulukinya dengan “pakaian ninja”. Tapi Aisah
tak acuh saja.

Dan sejak itu, kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain.
Kayaknya semua pakaian rok, blus yang dulu, baik yang maxi, midi, apalagi mini, sudah
dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami).

“Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan, barangkali, Aisah?” Suatu
kali aku coba menduga kepadanya.

“Itu namanya, sama saja kita membagi dosa kepada yang lain,” jawabnya. “Menyuruh
orang membuka aurat, ia berdosa dan aku pun berdosa. Dan dosaku dua kali lipat: dosa
karena telah memberi yang salah, dan dosa yang dilakukan orang itu.”

“Kau ini aneh, Aisah,” kataku pula. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis,
perancang busana.... Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya
jilbab melulu?”

“Lupakanlah itu,” katanya. “Itu waktu saya masih jahiliyah. Semoga Allah
mengampunkan ketidaktahuanku. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya?
Terserahlah, siapa yang mau saja. Rezeki di tangan Allah.”

Mantap sekali ia, fikirku.

Aisah boleh bermantap-mantap. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya. Gara-
gara pakaian jilbab itulah, Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di
bilangan Kebayoran Baru). Oleh kepala sekolah, ia dianggap melanggar peraturan seragam
sekolah, walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan
Aisah). Namun ia tetap dianggap melanggar. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu, baju
lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu!

Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali, lisan dan tulisan, dengan
ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. Aku tak tahu bagaimana kesudah-
annya. Yang kutahu Aisah tetap tegar. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang.

“Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh, hal itu dijamin oleh
Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2, bahwa negara menjamin
kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper-
cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan
itu! Nah, mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Se-
kolah?!”

“Jelas UUD 45, dong,” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah.
Dan bertepuk tangan serempak.

Aisah melanjutkan: “Itu tuh, kalau mau ditertibkan juga, tertibkanlah siswa-siswa yang
suka berantem itu, yang terlibat narkotik itu, yang mabuk-mabukan itu, yang merokok itu,
yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat
penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita
ini lagi, ini enggak ge-er, ya (senyum, aduh manisnya)....” 140

Lagi-lagi kami keplok, senang sekali. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk
pra-mu-ka!” Plok plok plok... plok plok plok... plok plok plok plok plok plok plok. Semua
bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka.

Rupanya Aisah belum selesai, belum merasa puas, katanya sambil setengah berbisik,
mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu
bekas PKI, ‘kali. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?”

“Ya, ‘kali,” celetuk kami, membenarkan.

Mengembangkan kedua tangannya, mengangkat bahu, Aisah mengeluh: “Boleh jadi


semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut. Tilawatul
Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan, tak tanggung-tanggung!
Tetapi sebaliknya, pengamalannya kita jegal. Kita curiga dengan berbagai prasangka.
Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?”

“Munafiiiik...!” teriak anak-anak serempak.

“PKIiiiiiiii...!” tambah kami lagi.

22

Di mana pun, dasar anak-anak, suka becanda, suka menggoda. Apabila Aisah lewat di
depan ‘markas’, tak pernah luput ia jadi godaan. Begitu ia lewat, anak-anak yang tadinya
asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop, segera mengalihkan iramanya ke kasidahan:

“Indung-indung kepala lindung

Hujan di udik di sini mendung

Anak siapa pakai kerudung

Mata melirik kaki kesandung...”


Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. Mungkin, dalam hati masing-
masing kami, berkata: “Alangkah manisnya anak ini...?”

23

Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil,
kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah. Serombongan cowok SMA yang
berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan, mengitarinya
seakan hendak memangsa, persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang.
141
“Waduh, alimnya.”

“Sorangan wae?”

“Mari, gue anterin, yuk?”

“Ntar lu digampar bokapnya!”

“Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em.”

Dan macam-macam lagi.

Namun Aisah diam saja. Jalan terus.

“Wah, kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya.
“Ucapin salam dulu, dong.”

“O ya lupa, assalamu'alaikum, Neng?”

Dengan lembut Aisah menjawab, “Wa'alaikum salam.”

Anak-anak pada sorak kegirangan.

Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi, buru-buru aku keluar, kupanggil Aisah dengan
suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. Aku sudah siap menghadapi segala
kemungkinan. Aku berhasil. Mereka menyingkir secara teratur. Sekilas kudengar.

“Ada cowoknya, Mek!”

Lalu kutarik Aisah ke toko kaset.

“Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku.

“Tidak.”

“Anak-anak berengsek!”

“Mereka cuma iseng.”


“Kurang ajar,” kataku, geram. “Tapi, ya ampun, kenapa anak-anak gituan kau kasih
hati?”

“Kasih hati bagaimana?”

“Salam mereka kau jawab. Cuekin aja!”

“Dosa lho, salam tak dijawab. Bukankah salam itu doa, yang artinya selamat dan
sejahteralah anda. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula.”

“Ya, ampun...,” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini.
142

24

Lain Aisah, lain pula Maryam. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan,
masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya, main engklek, main loncat
karet, tiba-tiba seperti disunglap, dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. Gadis kecil
itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. Dan Maryam sadar akan
perubahan dirinya.

Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut
acara perkenalan penyanyi remaja di TV. Sejak itu ia dikenal secara luas. Semua orang
kagum padanya. Bukan pada nyanyian, melainkan kecantikannya yang membius itu.

Maka sejak itu, kami tak merasa heran, kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar
datang berkunjung ke rumahnya. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah
untuk latihan menyanyi. Di lain waktu, ada lagi yang mengajaknya pergi menonton, ke
restoran, dan macam-macam acara lain. Dan, selalu dengan muka baru: penyanyi tenar
ibukota, pemain film yang sedang in, anak teater yang lagi ngepop, pemain tenis yang lagi
ngetop.... Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. Pokoknya selalu
dengan cowok baru!

Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’, maka terdengar
bisik-bisik yang dikeraskan:

“Baru lagi, ni yee?!”

25

Maryam memang cantik. Yang tercantik di gang kami. Bahkan yang tercantik di ibukota
republik ini, demikian menurut Hamzah.

Kukira, Hamzah menaruh hati pada Maryam. Hamzah belum pernah mengatakan secara
terus terang.
“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’,”
kata Hamzah pula, berfilsafat. Kali ini tampak serius dengan muka murung.

Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu,
aku tak tahu.

26

Suatu hari, berani-berani takut, kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam.

“Tidak!” jawabnya tegas.


143
Aku terperangah.

27

Tapi akhimya aku tahu juga, mungkin anak-anak lain tidak, ketika Maryam
menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate, yang ber-Baby
Benz itu, Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. Indekos di sebuah kamar yang seder-
hana. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. Sekarang ia bekerja di sebuah
majalah.

Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya
ke mana pun ia pergi, seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang, yang tak mungkin
dapat diraih kembali.

28

Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun
mencintai Hamzah. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. Ia tak hendak dan berani
menyatakan kepada ayah ibunya. Maryam seorang anak yang baik, seorang anak yang
patuh. Dan terlebih dari semua itu, ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Untuk itu
ia siap berkorban. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah
payah, membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan.

29

Akhir-akhir ini, aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. Dalam
senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. Di antara
kawan tak kulihat lagi Hamzah, yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar
indekosnya jauh di Rawamangun sana. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik
puisi-puisi atau cerpen-cerpen, tempat di mana ia melarikan kepedihannya.
Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul.
Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. Nun jauh di desa Bangil, terpencil,
jauh dari keramaian kota.

Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya, sambil
mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. Batinnya tertekan. Namun ia tak bisa
berbuat lain.

Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya


sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. Aku tak tahu
sedang mentas di kota mana ia sekarang.
144
Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri.

30

Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu, apakah kau tak
merasa malu, nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah
pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula, ayah sudah tak sanggup lagi membiayai
sekolahmu. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan.”

31

Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan, aku
selalu lewat di depan ‘markas’. Ramainya masih seperti biasa. Tapi sudah tentu tak kulihat
lagi di sana Najib, Tony Handoko, Martin dan Hamzah. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi,
tertekan sedikit oleh perasaan rindu.***

(Dimuat dalam Horison, Agustus 1990)


Lonceng
Oleh: Motinggo Busye 145

Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. Istriku menjadi
perempuan yang bawel. Ini karena ulah jam itu. Padahal barang itu kami beli untuk me-
nambah kebahagiaan istriku dan aku. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. Bila loncengnya ber-
bunyi, maka terdengarlah sebuah nyanyi. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku
sendiri.

Walaupun akhirnya mengesalkan, tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama
yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. Kami dulu memper-
timbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar
itu. Jika ditaruh di ruang tamu, kelak tamuku akan cepat pulang, sebab kehadirannya me-
rasa dikontrol oleh jam. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu.

“Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima,
ya Sam?” ujar istriku suatu sore. Sore itu, aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua
sembari minum teh dan makan jeruk. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita.”

“Kamu tentu ingat tanggalnya, Ina,” kataku.

“Betul, Sam. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu.”

“Kalau begitu tinggal 4 hari lagi.”

“Ingat enggak, siapa yang datang pada pesta kita itu?”

“Mantan pacarmu,” kataku.

“Juga mantan pacarmu,” katanya.

Kami ketawa bersama. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas
teman sekelas hadir. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. Orang yang kurang
rasa humor mungkin heran. Mereka harus diberitahu, bahwa mantan pacar istriku adalah
aku, dan mantan pacarku adalah istriku Ina.

Kuingat sekali, hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk.
Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di
rumah dan punya kesan abadi. Setelah dua tiga toko kami masuki, tak ada satu pun benda
yang berkenan di hati kami berdua. Ketika kami lewati beberapa toko, secara mendadak
dan serentak langkah kami berhenti. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh
perasaan kami. Aku dan istriku saling menatap.

“Kita menemukan pilihan jam antik,” ujar istriku.

“Ini benar-benar abadi,” kataku.

“Tanyakan harganya, Sam,” kata istriku. Makin larut perkawinan kami, makin sering aku
disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. Apa suami-suami yang lain di dunia ini 146
juga seperti itu, aku tak tahu dan tak perlu tahu.

Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu.

“Merknya Junghun,” ujar sang pemilik toko. "Merk ini nomor satu. Di toko saya cuma
tinggal satu ini.”

“Ya kurangilah separohnya,” ujar istriku.

Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: me-
nawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. Kadang sudah pergi
kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu.

“Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. Cuma saya yang jual merk Junghun ini, dan ini
juga satu-satunya.”

Istriku telah dikunci tanpa alternatif. Lalu, ketika uang dihitung, kurang sedikit. Sebagai-
mana biasa, aku menggenapi kekurangan itu. Ketika setiba di rumah, istriku bilang,
“Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. Maka kutinggalkan beberapa lembar di
tasku agar kamu ikut membayar juga, Sam.”

Memang begitu. Dari masa berpacaran dulu, kami menganut aliran navy-navy. Kami
meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. Kebiasaan ini
bukan selalu buruk. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy.

Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. Dia selama tiga hari kami tunggu berbu-
nyi. Saat itu adalah pukul 00.00 pada hari 10 November.

Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu, aku meremas jari tangan
istriku. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali, remasanku lebih kuat lagi. Dan ketika gema 12
kali masih mendengung, aku dan istriku berpelukan.

Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. Kebetulan kami berdua
menyukai musik klasik. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik ke-
sukaan kami.

Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi
setiap seperempat jam. Ketika pada seperempat jam, dia menyanyikan satu bait saja. Ke-
tika setengah jam, dia menyanyikan dua bait. Ketika tiba tiga perempat jam, tiga bait, dan
pada waktu satu jam, empat bait komplit.

“Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya, Sam?” kata istriku.

“Ya. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita,” kataku.

“Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini,” kata istriku lagi.

“Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. Aku betah di rumah karena
sudah memasuki pensiun, dan terutama karena adanya kamu.”
147
“Sudah gaek masih gombal,” kata istriku.

Pernah juga istriku bertanya, “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja, Sam?”

Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di
telingaku.

“Aku tahu, ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang
gadis yang senang,” katanya.

”Si Aimah,“ sambungnya.

Peraturan kantor memang, jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja, yang
perempuan harus diberhentikan dengan hormat. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja.

Orang yang sama sekelas di SMA, sama pula di perguruan tinggi, dan sama pula
selesainya, akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama
pula: jika menikah, yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah.

“Kalau aku bicara soal si Aimah, kamu suka membisu. Padahal dia amat mencintaimu,
Sam.”

Aku memilih diam. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama
Aimah.

“Kalau kamu kawin sama Aimah, mungkin kamu sudah punya anak dan cucu.
Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu,” ucapnya. Dan inilah yang bikin aku marah
dan kami bertengkar.

Ketika pertengkaran itu terjadi, lonceng jam menyanyikan lagu itu. Sebelum empat bait
lagu itu bergetar, aku dan Ina sudah berpelukan.

“Kita tak perlu bertengkar lagi. Yang ada di sini adalah aku, kamu dan jam dengan
loncengnya itu.”

Tetapi, ajaib sekali. Biasanya kalau jam itu mati, aku bisa memperbaikinya. Yaitu
menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu, lalu menyetel jarum panjang dan jarum
pendeknya untuk menyesuaikan waktu. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi
dengan waktu. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12.

“Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah.
Bahkan ngawur. Pukul 12 bunyinya 6 kali.”

“Sudahlah. Jangan jadi nenek sihir lagi, Ina,” kataku.

“Itu logis saja, Sam. Aku kan tidak bilang kamu tolol.”

“Sudah, diam kamu. Kamu makin tua makin cerewet.”


148
“Kamu makin tua makin tolol.”

“Aku mau keluar.”

“Mau cari Aimah?”

“Bawel kamu.”

Aku mencari ahli jam. Menurut pemilik toko di Glodok itu, ada orang Arab di Tanah
Abang, namanya Mahboub Assegaf, ahli pembetulan jam dan piano. Ketika aku tiba di
rumah Arab itu, orang di rumah itu mengatakan, bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Kalau
mau beli buah kurma dan kismis, ada dijual di sini.

“Aku tak bertemu dengan orang Arab itu,” kataku pada Ina.

“Oh si Aimah itu turunan Arab ya?”

“Coba tenang, Ina. Kita jual saja jam Junghun ini. Kita beli yang baru,” kataku.

Dia marah. Bahkan mencak-mencak. Dia katakan, "Jam ini penuh kenangan. Bertahun-
tahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi
merdu. Jangan, Sam, kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya.”

Aku mengalah. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. Dan aku
gigih terus memperbaikinya. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa
perkataan “tolol”.

Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami, aku terus berusaha agar jam
Junghun itu bisa menyanyi lagi, dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00.00 tengah
malam 10 November. Dimulai dengan cekcok mulut lagi, aku pergi ke Jatinegara. Seorang
tukang arloji kubawa ke rumahku. Istriku senyum mencemoohinya.

“Tenang dulu, Ina. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya. Bahkan dia mengenal Ami
Mahboub Assegaf,” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina.

Istriku mendehem. Anak muda itu bekerja keras. Keringat membasahi bajunya,
sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman. Akhirnya dia
berkata putus asa: “Maaf, jam ini berbunyi 36 kali."
“Cukup, Nak. Memang dia gila,” kata istriku.

Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina. Dia mulai berlangganan dokter
spesialis penyakit dalam. Ia menderita tekanan darah tinggi. Suatu malam dia menjerit
karena satu mimpi buruk. Katanya, jam gila itu berbunyi 120 kali.

“Sabar, Ina. Kita jangan panik. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang
bermerk Junghun. Aku akan coba perbaiki sendiri. Manusia harus mengalahkan benda mati
ini,” kataku yakin.

Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. Ini menambah semangatku, sampai aku
berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. Tengah malam pukul 149
00.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit, lalu mendentingkan loncengnya 12 kali. Sa-
yang, saat itu istriku tidak mendengarnya, dan tak 'kan pernah mendengarnya.

Ya, kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri, diiringi kemerduan lonceng jam
Junghun yang amat sangat indah.***

(Dimuat dalam Horison, September 1999)


Lelaki Tua dari Noumea
Oleh: Waluya DS

150

Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu
mengambil bubble bath. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan
buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan
melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Buih-buih sabun
itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung.

Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang
memantulkan warna-warni pelangi. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa
gelembung melayang berputar-putar. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu
pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan.
Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea, dengan
pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung
beterbangan dipermainkan angin. Suatu kali, satu gelembung tetap bergantung di ujung
pipa rumput kering itu tak mau pergi. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang
semakin membesar. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya. Juga nampak
bayangan dirinya yang lucu. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret
dirinya itu, dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah, pepohonan serta sungai-sungai dari
angkasa. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu
nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung
itu, mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu. Dengan hati-hati
ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. Dan dia begitu tertegun, permainan dan
impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri.

“Di negeri leluhur kita, Nak, kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri.” Begitu tutur
ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa
saudara tuanya tak ada di rumah, sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha
dagang mereka.

“Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku, Ibu?”

Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji, Ken
Arok, Damarwulan, Joko Tingkir, Aryo Jipang, Ki Pemanahan, Sutawijoyo, bahkan juga
bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. Dongeng-dongeng itu begitu
indah dan memukau. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri
Leluhur yang begitu mempesona. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa
terjawab.

Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan
pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan.
“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu, Rio.”

“Namaku Aryo dan bukan Rio,” protesnya. Dia lebih senang dipanggil dengan nama
sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan
yang mengalir di tubuhnya.

“Nah, apa kataku, Rio. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali
di sini. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri
nanti.”

“Tapi namaku bukan Rio,” potongnya.


151
“Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?”

Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada
mempertengkarkan namanya.

“Bagus. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan
realistis. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. Lebih baik kau coba
membina hidupmu di sini; itu lebih penting.”

“Tapi itu hidupku sendiri.”

“Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti. Setiap adat dan kebudayaan punya
kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini. Kau hanya harus terima
utuh.”

“Maksudmu?”

“Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu, dia merasa terpenjara oleh adat dan
kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan
hidupnya. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir, bapak
merasa tidak punya tempat dan hak.

Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout, pendeta Belanda yang akhirnya


membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya.
Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong, bapak mela-
kukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. Sebagai keluarga bangsawan jadi
Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga. Banyak
usaha dilakukan untuk mendepak bapak. Salah satu di antaranya, waktu itu kau masih
dalam kandungan, ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda
yang didalangi Tuan Sneevliet. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena
pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. Dan
juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk
memudahkan gerakan kader-kader Komunis. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai
untuk membiayai kegiatan mereka. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan
untuk ikut mengeruhkan suasana, bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di
inginkan, karena cintanya pada kita semua, bapak membawa kita untuk memulai hidup
baru di Noumea.
Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama
sekali meninggalkan Jawa. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum
tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea, bapak
dengar khabar bahwa orang- orang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibu-
ang ke Digul oleh pemerintah penjajahan.”

Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. Kenapa harus
merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya
sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya
pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk
membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis. Dengan
melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya, bukan? 152

Semua perayaan itu selalu menggodanya, namun dia hanya diam saja karena sudah
berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. Memang tidak gampang memisahkan benang yang
kusut. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. Tapi tak
bisa di sini, di Noumea yang semasa bukan tempatnya. Dia betul-betul merasa tersisih
mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan
kerinduan pada Ratu Adil. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak
pernah ada. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi
setiap kali melihat sekelilingnya, orang-orang Perancis, orang-orang Kanak, dan dirinya
begitu berbeda. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. Orang Perancis datang dari Eropa
dan dirinya pasti punya tanah asal.

Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang
bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. Kapal itu bernama Dewa
Ruci, sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. Dan para kelasi itu bilang
kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. Dia merasa tidak begitu akrab
dengan nama Indonesia. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi
sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian
kecil dari Indonesia. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan
lagi. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Sedang Nga-
yogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku
Buwono.

Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong
belaka. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya
kekuasaan di pulau Jawa. Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden.
Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan
mutlak Sri Sultan.

“Kau sudah gila, Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. Kita semua punya hidup yang
harus diurus di sini. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan
hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa
sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke
tanah leluhur.

“Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. “Lihatlah orang-orang Perancis ke
mana mereka berkiblat. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik, tapi daerah Perancis Selatan.
Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan
pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan
perjuangan melawan kekuatan Komunis. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul
kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja, kita tak akan jauh berbeda dengan orang
Kanak. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri.
Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari mana-
mana.”

“Bicaramu sudah begitu ngawur. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk
memeriksamu.

Dengarkan kami baik-baik, Rio. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir
tentang kegilaanmu yang semakin parah. Kami sadar menghadapi beban mental merawat
Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak, begitu berat. Apalagi masih harus menga-suh
cucumu Dewi bukan soal yang gampang. 153

Sadarlah, Rio, dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut. Cobalah turun
tangan bersama kami mengembangkan keluarga. Dengan melakukan hal-hal yang positif
akan mengembangkan self esteemmu.”

Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka. Tak ada seorang pun
selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya.

Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko,
anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut. Dia ditemukan dalam
keadaan lumpuh. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. Jatmiko
memang masih hidup. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya
melepaskan dunia yang fana.

Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya


tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Tumbuh harapannya suatu
hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan
menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Dewi memang tumbuh menjadi
wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping
otaknya yang cukup cemerlang.

Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya
ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash. Dari seorang kawan dia
mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di
Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. Namun
setelah beberapa tahun di Melbourne, lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan
pengetahuan barunya soal Jawa. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi
padanya:

Jangan marah, Kakek, dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali.
Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku.
Soalnya setiap orang bisa punya pendapat. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam
perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. Aku lebih menemukan arti serta diriku
sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts.

Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak. Tapi dia masih belum merasa bahwa
impian itu sudah di luar jangkauannya. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi
beberapa petunjuk pada Dewi.
“Jangan tergesa-gesa marah, Rio. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti
rencanamu. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir
atau mengajukan pertanyaan.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perka-
winan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan
pendapat sendiri.

Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. Banyak garis bengkok yang masih bisa
diluruskan pikirnya. Tanpa memberi khabar pada Dewi, dia dan istrinya menuju ke
Australia. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju
Hotel Windsor di bilangan kota. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi. Sedang kesan
pertamanya seperti begitu formal dan konservatif. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor
adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. Tidak seperti hotel-hotel modern yang 154
baru yang begitu trendi.

Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa
kakek dan neneknya ada di Melbourne.

“Kakek dan nenek menginap di hotel apa?”

“Windsor di Spring Street,” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka.

“Wah, itu hotel yang mewah. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja,”
goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. “Untung
tidak ke Southern Cross, salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang.”

Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. Dia pikir kalau Dewi memang
tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. Di situ ada perguruan
tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa
yang adi luhung. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal
dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang
Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar.

“What a lovely surprise,” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar
ketika dia membuka pintu, langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. “I have a
surprise for both of you too. Tapi kenalkan dulu, John. Ini Rio dan Handayani, kakek dan
nenekku.”

Ya Allah ya Rabbi. Tak ada angin, tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera
menyambar. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. Mungkin karena ada John;
tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. Tapi ma-
salah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan
bom atom Perancis di Atol. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya!

Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebe-
narnya. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang
eyang buyut. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama
dua tahun belakangan ini. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama
sekali. Sebelum mereka pergi, karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah
jam lagi, ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama
malam nanti.
“Ya, Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan,” ucap
Dewi sebelum pergi.

Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa
rasa rikuh atau malu, bahkan seperti bangga sekali. Dihempaskannya badannya ke kasur
dan langit-langit kamar seolah berputar. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka.
Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya.

“Lebih baik kau mandi dulu, Rio. Air sudah kusiapkan semua,” kata istrinya sambil men-
ghampirinya. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti.”

Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet. Sebentar lagi 155
istrinya pasti akan membenahi. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju
ke bathroom. Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca, masih
nampak cukup tampan untuk seumurnya. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan
hanya kepalanya yang menyembul keluar. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan
baik menyiapkan air untuknya, tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy
dan kaya akan buih.

“Mandi yang bersih, Rio, kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah
mandi.” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath
tub. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. Biasanya bila sudah
terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau
piyama.

“Rio, kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya
membangunkannya dari segala kenangan.

“Beri aku pakaian yang bersih, aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street.”

Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon ber-
dering. Dia tersenyum sendiri, ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti
dan setia seperti istri Arjuna. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya
dengan talek yang lembut baunya.

“Dewi yang baru saja telpon,” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang
bersih. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street,
ke restauran Vietnam. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak
terlalu formal, lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai
entree, kita bisa ke Grill Room di basement, pintu masuknya dari Little Collins. Lalu kita bisa
dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano.” Dia
tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang
bersih.

“Rio kau dengarkan aku atau tidak?”

Lama tak ada jawaban. Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya.

“Ya. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya
pendapat sendiri.”
“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya.

“Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?”

“Kau jangan membentakku seperti itu, Rio.”

Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya.

“Dewi! Dia, dia....”

“O, itu. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab,” potong istrinya. Dia begitu
156
geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam.

“Sejak kapan kau ikut memusuhiku?”

“Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?”

Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya
adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya.

“Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya.
Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak. Aku tak
mau bicara, aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur
itu. Tapi soal Dewi, ya dia hamil, Rio. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri.

Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri, Rio. Tapi kau tak
boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain.”

Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata
pada dirinya sendiri, “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudara-
saudara bapakku di Jawa. Kalau aku tahu mereka, dulu Dewi pasti kukirim ke sana.”

“Kau tahu, Rio, kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak
pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain.”

Hening dan mereka berdua saling bertatapan.

“Aku mau pesan minuman, kau mau juga?” tanya istrinya.

Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur
kesenangannya dan minta diberi dua gelas.

“Jangan kau anggap aku melawanmu, Rio. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena
aku mencintaimu. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. Apakah kau anggap
aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa
pamrih. Ia adalah pengorbanan itu sendiri.”

Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya. Namun ia mencoba
menutupi keharuannya. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya.
Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti. Pelayan
itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan.

“Shall I open the bottle now, Sir?”

Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke
kedua gelas untuk dia dan istrinya. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi.

“Rio, apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak
soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri.”

Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan.
157
Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya.***

(Dimuat dalam Horison, Maret 1990)


Tempat yang Terindah untuk Mati
Oleh: Seno Gumira Ajidarma

158

Kami, 10.000 pasukan berkuda, akhirnya keluar dari hutan itu. Di hadapan kami kini
terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. Setelah hampir
berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak
belukar, padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk
melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan, lepas dari kungkungan jurang dan tebing
yang serba menjulang dan mencekam.

“Pacu!”

Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah
untuk memacu kudanya, bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perin-
tah untuk segera memacu diri mereka, melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan
angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang.

“Pacu! Pacu! Pacu!”

Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak
menuntaskan kegembiraan kami. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang, dengan tenaga
baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. Kuda-kuda kami menggebu, melesat
dan menggebu, seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam
perjalanan berat menempuh hutan yang rapat, gelap, dan penuh dengan rintangan. Kami
menggebu begitu laju, seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan,
mendesing menuju kebebasan. Namun sekarang, cuma inilah yang bisa kami lakukan,
berpacu melawan angin, dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami.

“Huuuu! Huuuuu! Huuuu!”

Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. Kami, 10.000
pasukan berkuda, berderap melaju menuju cakrawala. Padang stepa diselimuti salju yang
tipis, dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak
matanya saja. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat.
Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. Semuanya
terbungkus, begitu juga tangan kami yang memegang kendali. Para pembawa panji,
bendera, dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. Bendera raksasa yang berkibar
dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan
perkasa, bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu.
Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah, berpacu dan berpacu, surai kuda-
kuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka
bagaikan menari dengan indah. Langit hanya biru. Cahaya matahari menyiram padang.
Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. Hutan di
belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam, dan segera lenyap di balik kaki langit. Kami
bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan
kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. Di telinga kami angin
bersiut dan menderu. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. Kami bersedia
membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. Jangankan berpacu
yang begitu menggembirakan, bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang
melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. Kami tahu,
perjalanan kami masih jauh lagi, kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. 159
Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar
bagian hidup kami. Tanpa kuda, apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa
yang kami inginkan, dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan
memuaskan. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. Kami selalu
bepergian, selalu berpindah, selalu bertualang. Kami selalu berpindah sesuai dengan
pergantian musim, perjalanan angin, dan peredaran bintang. Semua ini tak bisa lancar
tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan
yang terakhir, dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. Kuda-kuda
kami masih terus berderap, bagai berpacu dengan angin. Telinga kami semua penuh de-
ngan desau, yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan, namun yang
maknanya seperti selalu menghindari kepastian.

Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan ber-
akhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara
dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. Kami me-
ngembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir, namun
sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. Kami menyeberangi
sungai, kami mendaki celah-celah gunung, kami mengarungi gurun pasir, dan kini kami
berpacu di tengah padang tanpa tepi, tapi kami tidak juga ingin berhenti. Kami bisa
berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu, dua, bahkan bisa lima tahun, namun
kami selalu berangkat kembali. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri.

Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan
rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga
kami merasa berjalan di tempat. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami
berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami
berpacu. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara
yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan
tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Benarkah seekor gajah menegakkan
belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu?
Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu.

Kami berpacu, berpacu, dan berpacu.

“Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!”

Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala.
Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. Matahari
terasa betapa berat, menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap
penjuru bumi. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. Langit masih membara.
Kami, 10.000 pasukan berkuda, menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu
arah. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala, kami harus memburunya ke balik
cakrawala.

***

Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. Ada sepuluh danau di lembah yang
luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh
danau. Namun, ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu, musim dingin belum berakhir 160
sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. Bila bulan yang perak itu muncul
di langit malam, cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti
salju. Di setiap danau itu setiap 1.000 orang dari kami berkemah. Di Lembah Sepuluh Rem-
bulan inilah kami akan menunggu 100.000 saudara-saudara kami.

Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu. Ia meniup seruling sambil
duduk di sebuah batu di atas tebing, seolah-olah berhadapan dengan rembulan - bahkan
rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling.

Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang
riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri. Apakah rembulan bisa memahami,
betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas
untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan
mengerti, betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu,
menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan
mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa
orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke
kampung, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit, semenjak begitu banyak tahun yang
telah lama berlalu.

Ia meniup seruling di atas tebing. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi
gurun, orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk, dan anak-anak yang tidur
dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan, sementara
seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka
tinggalkan.

Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat
luas. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. Kami
siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. Bukit-bukit batu yang menjulang dan
membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api ung-
gun. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging per-
bekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. Beberapa orang masih minum susu
hangat yang beraroma teh, dan mendengarkan seseorang bercerita.

"Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu...."

Kami selalu membutuhkan cerita, seruling, dan kuda. Kami memuja rembulan dan
matahari. Kami menyembah langit, kami menyembah bumi. Kami mencintai keindahan se-
perti mencintai kehidupan itu sendiri.
Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda
adalah suatu siksaan yang berat bagi kami, karena musim dingin yang selalu berangin akan
terus-menerus menguji ketabahan hati kami. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu
untuk berburu, bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk
menimbun perbekalan yang mulai menipis, tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal
kami butuhkan untuk membuat tenda. Apabila 100.000 saudara-saudara kami tiba, mereka
yang sebagian terdiri dari wanita, anak-anak, dan orang tua, akan membutuhkan tenda-
tenda itu. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat, sudah berabad-abad
bentuk tenda kami tidak pernah berubah. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus
menghangatkan diri kami.

Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit, peniup 161
seruling itu masih di sana, melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman
kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai, dengan latar belakang pe-
gunungan yang menjulang megah. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada
kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku, di mana bila senja
tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi, sementara di
kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci.
Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan
serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -- inikah sebabnya suara seruling itu membuat
kami diam? Kami sedih. Kami pasrah. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami
perbuat.

Kemudian, ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih
mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami, menjelma gambar-gambar yang berkelebat
dari masa lalu kami. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami, dan kami menyukai-
nya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari
serasa semakin indah.

Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. Angin masih
terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. Kami mengerti betapa angin akan mengembara
ke segenap penjuru bumi, bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas, menghubungkan
kami dengan segenap unsur kehidupan. Betapa segala hal di muka bumi ini saling
berkaitan.

Kemudian, tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami, 10.000 pasukan


berkuda, tertidur dengan pulas, tiada yang mendengkur sama sekali. Di Lembah Sepuluh
Rembulan hanya terdengar desau angin. Gemeretak api unggun segera berakhir. Tinggal
bara api menyala diam-diam, makin lama makin menghilang. Maka terlihatlah gerak cahaya
rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. Rupa-rupanya bulan yang turun
mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. Bertengger di atas sana. Sesekali
tertutup awan.

***

Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak.

“Hooooiiiii! Mereka sudah datang!”


Kami semua segera melompat ke atas kuda, dan memacunya ke tempat-tempat yang
tinggi. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah, dan terbentanglah di
hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu, pemandangan yang kami nantikan.
Tak kurang dari 100.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki
langit.

Hari sudah menjelang senja, langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. Saudara-
saudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat.
Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu, kami berlari-lari turun dari
bukit, langsung melompat ke atas kuda kami. Dengan segera, kami menggebu menyambut
100.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu.
Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka, sebagian dari 162
mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera
bertemu dengan kami.

Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. Tiada yang lebih menggairahkan selain
kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. Mereka semua telah
menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. Tentulah jumlah
mereka sudah tidak genap 100.000 orang lagi. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang
perjalanan, seperti yang sudah-sudah, kami baru akan mengetahuinya nanti.

Kemudian kami melihat panji, bendera, dan umbul-umbul yang sama. Berkibar dengan
megah, bergetar-getar dalam tiupan angin. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami
merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. Kami menggebu
dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. Seperti apakah mereka kini?

“Huuu! Huuuu! Huuuu!”

Kaki-kaki kuda, berderap dan berpacu. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin mem-
besar. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. Masing-masing dari
kami kemudian berhenti dan berhadapan. Rombongan yang terdepan itu masih menanti
mereka yang terseok di belakang, dengan gerobak, kereta, gajah dan unta. Lebih banyak
lagi yang berjalan kaki.

Kami semua turun dari kuda.

“Akbar!"

“Abdul!”

Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. Kami tahu hari-hari
akan menjadi lebih berat, namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih
menggembirakan. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama.
Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu, seluruh pakaian mereka usang dan kelabu,
penuh dengan debu, namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan
ikhlas, siap menempuh perjalanan untuk mati. Kami menyatu kembali dalam gairah
kehidupan yang panas. Angin begitu dingin, namun tiada akan ada satu pun halangan kini
bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami.

Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau, menari di atas perahu, memetik
kecapi di puncak bukit, dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah
rembulan dan matahari. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa
sedih meskipun gembira. Betapa mereka begitu tabah, dan kini begitu kurus. Wanita dan
anak-anak kami berambut kasar dan merah. Semua orang tampak tak terurus, tapi
siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang, menyeberang dari
benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali?

Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi.

“Sarita!”

“Maneka!”
163
Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu
jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya
susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan
yang terus-menerus berubah warna? Namun, betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. Kami
semua menemukan masing-masing keluarga, kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh
Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Langit memberkati kami. Paduan
suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya
mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki.

Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap
10.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap
1.000 orang dari pasukan berkuda kami. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam
ini. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. Kami akan
membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang
merah berasap membangkitkan lapar.

Kami begitu siap untuk bahagia, tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai
bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. Kami tidak bermabuk-
mabukan dan lupa daratan, kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang
hanya kami bisa melakukannya. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah
Sepuluh Rembulan. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit, kami mengatur
pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. Saudara-
saudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami
masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat
kembali.

Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami yang telah tinggal di
sini selama setahun, bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas
sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. Saudara-saudara kami yang
100.000 orang itu datang pada musim dingin, jadi mereka hanya melihat sepuluh danau
yang membeku. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang
berjalan di atasnya. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal, begitu juga unta dan kuda-
kuda kami. Mereka begitu jinak, begitu mengerti, dan begitu penurut sehingga kami
sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami.

Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal, dan kami menguburkannya di
tengah jalan, sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang
baru datang itu tetap genap berjumlah 100.000 orang. Adapun pasukan berkuda yang
merintis jalan masih tetap berjumlah 10.000 orang.
Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh
Rembulan. Pada musim semi danau masih membeku, namun rerumputan menjadi lebih
hijau. Ketika tiba musim panas, kami semua, 110.000 orang, berkemas dan bersiap melan-
jutkan perjalanan.

Kami berangkat pada pagi subuh. Bulan masih menggantung di langit. Dari atas tebing
kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. Kami melihat sepuluh
rembulan mengapung di atas sepuluh danau, dan setiap orang yang melihatnya tersenyum
dalam hati.

164
***

Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. Ketika matahari terbenam kami semua
beristirahat dan tidur. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. Kami semua,
110.000 orang, melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi
kami. Begitulah kami berjalan, berjalan, dan berjalan mengarungi gurun, menempuh
ngarai, menembus badai, dan menyeberangi sungai. Kami tidak pernah memacu kuda kami
kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Kami terus-menerus berjalan
dengan hati yang terpaut kepada cahaya. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang
terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. Kami, 110.000 anak
manusia terus-menerus melangkah, kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa
yang diucapkan perlahan, khusyuk dan meyakinkan.

Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi
penyerahan diri kepada kehidupan. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis,
bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. Barangkali
mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa
masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi.
Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah, mendaki gunung-gunung batu, dan mena-
paki gigir-gigirnya yang mengerikan. Kami, 110.000 orang, dengan bayi di gendongan,
orang sakit dalam tanduan, dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan,
merayap di jurang yang curam, jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu se-
ring memelesetkan.

Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan, maka
sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya, sementara yang lain meneruskan
perjalanan. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang
curam, menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. Mereka yang telah menjadi
tua, lemah, dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. Gajah-
gajah ini berbadan besar, namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam
hutan, kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan
gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. Tentu mereka
tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri
untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berhari-
hari lamanya, tapi kami rombongan 110.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak
pernah benar-benar saling terpisah.

Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera
menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. Semua orang yang pergi
mendahului mati dalam pelukan cahaya. Mata mereka mengatakannya. Mereka yang mati
dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. Arwah mereka membubung
menyusuri cahaya, menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah
kematian. Itulah dunia yang kami rindukan, dunia yang kami impikan dari abad ke abad,
dari dongeng ke dongeng, dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di
gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian.

Kami melangkah, menapak pelan, terus-menerus berjalan, dengan kepastian bahwa


jalan cahaya itu akan kami temukan. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang
serasa alangkah panjang dari benua ke benua, kami kemudian merasa terbimbing oleh tan-
da-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. Dari gurun ke gurun
rombongan kami berjalan, sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman
maupun binatang. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempat- 165
tempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala
merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. Namun kami tahu,
meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu, ini
bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terin-
dah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini.

Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa
menggemparkan. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang
segera menjadi kosong. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami
lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. Sebegitu
buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110.000
orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang
pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia
entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan
kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapat-
kan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami.

Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat
untuk diberi tanggapan. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam
ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari
seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan
menyejukkan. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti
lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. Dari hari ke hari,
semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua
semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak
arti kehidupan kami. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua
harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama
dan kapan akan berakhir. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami
selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. Kami
tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan
ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan.

Langit merah di kaki langit. Kami, 110.000 anak manusia, masih terus-menerus berjalan
di atas bumi yang fana.

***
Kemudian, tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang
panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. Kami tahu betapa ketika kami
menutup mata dan kemudian membukanya lagi, kami telah melakukan perjalanan bersama
cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. Memang
masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung, memang masih seperti
hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi
bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbu-
lu tebal, memang, memang, memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki
langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu
membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi.

Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. Tanpa diperintah 166
setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. Kami membasuh
wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami.
Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan
perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat
terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa
kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran
kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa
kami.

Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan
siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. Dari balik kabut itu, tampak kuda-kuda
kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala
hal yang akan terjadi. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan
sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110.000 orang seketika
lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. Kemudian
kabut menjadi semakin tipis, mengambang, dan pergi. Kami tahu semuanya akan pergi dan
berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan
dengan kata-kata.

Langit ungu muda. Tiada mega di langit -- kami merasa saat-saat itu memang segera
akan sampai. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami
miliki, kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. Kami belum
lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam ke-
hidupan yang abadi. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan
diri. Gajah-gajah, unta-unta, dan kuda-kuda, mereka pun banyak yang mati sepanjang
perjalanan, namun kami selalu mendapatkan gantinya. Kami merasa sangat berterima kasih
kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya
membubung ke Negeri Cahaya.

Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. Kami hanya bisa menunduk dan
merendahkan diri, hanya tegak di atas lutut kami. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan
kami merasa kecut. Tiada suara yang menggelegar, namun dada kami berdebar bagaikan
terdengar suara yang menggelegar. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan
dunia kami. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat, namun kami melihat segala-
galanya memutih diserap cahaya. Padang rumput memutih, panji, bendera dan umbul-um-
bul kami yang berwarna merah pun memutih, segala-galanya memutih. Kami mencoba
mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami, namun
cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami
pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. Kulit hewan peliharaan
kami pun memutih, seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan, sepatu, kulit
dan rambut kami, segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu
sendiri.

Begitulah kami semua, kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya
cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama
kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama
semenjak dilahirkan di kampung kami. Tiada lagi angin bertiup, tiada lagi debu mengepul,
kuda-kuda berpacu, bayi menangis, dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan
purnama. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan, namun seperti juga air
sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan, begitu
pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan
perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. Begitulah 167
kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh
cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami.

Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. Dari kelam ke kelam, dari cahaya
ke cahaya, kelak-kelok labirin yang memusingkan, gua pelangi yang menyilaukan.

Kami berangkat melewati tujuh rembulan, tujuh matahari, dan berdoa di dalam tujuh
kuil di atas awan. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa
mampu berada di segala arah, dari barat sampai ke timur, dari selatan sampai ke utara,
secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. Begitulah
rombongan kami, 110.000 anak manusia, bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan
kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di
hadapan kami.

Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal
perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling
menyilaukan dan saling melupakan. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan
yang terindah menuju kematian. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan
perjalanan, dengan atau tanpa badan, sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Tiada
yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. Tiada yang lebih berharga
lagi selain keindahan dalam kematian.

***

Kulihat di sepanjang langit, kemah-kemah awan. Apakah aku harus berhenti, atau
meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan
panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. Se-
makin jauh aku berjalan, semakin aku terikat kepada kenangan, semakin aku merasa diriku
bukan bagian dari rombongan. Sudah begitu jauh aku berjalan, dengan segala derita dan
pengabdian, dalam penyucian cahaya berkilatan, betapa bisa cahaya kesaksian tiada
melihat kebohongan?

Kulihat satu per satu dari kami, 109.999 anak cahaya, ditelan gua-gua kebahagiaan di
atas awan. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. Aku melihat seribu
cahaya berenang dan berkelebatan. Kulihat 109.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya
gemerlapan. Tinggal aku sendirian, menaiki kuda putih di atas awan, melihat-lihat peman-
dangan.***
Ulaanbaatar - Jakarta, Maret-Juni 1996

(Dimuat dalam Horison, Juli 1996)

168
Enclave*
Oleh: Ramadhan KH

“Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!), Okayama-san 169
mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam, beberapa kali.
Sungguh, dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus.
Ia merasa benar-benar gembira. Gembira sekali. Wajahnya jadi cerah seperti langit yang
ada di atasnya.

Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih
Okayama itu.

“Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo, ke sana lagi! Lihat dari sana, dari tepian
yang lebih jauh.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh, melihat
lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai, sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

“Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil, mengikuti anjuran Pak Marta. Ia senang
mengikuti petunjuk Pak Marta, sahabat besannya, orang yang dirasakannya benar menjadi
penolongnya di hari tua.

Di sebuah onggokan ia berhenti, lalu menatap ke kejauhan. Nikmat benar dirasakannya


menerawang, mengikuti goresan kaki langit, menyapu lautan yang biru dan mengikuti
gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai.

“Tempat ini bagus sekali. Negeri ini indah sekali,” gumamnya, lalu menarik senyum
sendirian.

Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya, tetapi sudah
mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh, bagusu-neh,” (Bagus, bagus) sambil
melambai-lambaikan tangannya.

Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam


bersama menantunya, Subarkah, membicarakannya. Dan tentu saja ia pernah
merundingkannya juga dengan anaknya, Michiko, yang kali ini tertinggal di Osaka, tidak
ikut terbang ke Jakarta.

“Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta.

“Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang.

“Aaahh, senang, senang,” kata Okayama. “Tetapi ... tetapi ... ini bukan tanah saya. Ini
tanah Subarkah dan Michiko. Bukan tanah saya.” Ia seperti mau menjelaskan kepada
semua pihak, kepada penduduk di kampung itu, kepada pepohonan dan binatang-binatang
yang ada di sana, bahwa tanah itu bukan miliknya, melainkan milik anaknya dan
menantunya. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. Ia merasa, ia memilikinya
juga, karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. Dan ia gembira,
sangat gembira, bahwa Subarkah menetapkan, tanah itu atas nama istrinya, Michiko, di da-
lam surat-surat jual belinya. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya,
bahwa tanah itu milik Michiko, Nyonya Subarkah.

Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. Ia masih bisa berbicara
dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. Waktu itu
ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya
sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya.
170
Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan, kemungkinan besar
ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya.

Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan
terima kasih kepada Pak Marta-san, sudah menolong anak-anak saya, sehingga mereka
mendapatkan tanah ini. Bagus sekali tanah ini. Kalau terlaksana, anak-anak saya akan
mendirikan rumah di sini, dengan kebunnya yang bagus. Apa pohon kaki (kesemek, bahasa
Jepang) bisa tumbuh di sini?”

“O, bisa tentu bisa. Disebutnya di sini, pohon kesemek,” jawab Pak Marta.

“Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?”

“Bisa, bisa,” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. “Semua tanaman
bisa hidup di sini. Lihat itu, pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. Lihat, pohon pisang,
pisang yang disukai Okayama-san, pisang raja, pisang ambon, pisang lumut, bisa hidup di
sini. Asal diurus. Tanahnya, dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat. Bakal
jadi bagus. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini. Tapi jangan minta pohon
sakura tentunya. Hahahaha,” Pak Marta tertawa, diikuti oleh Okayama-san. Juga Subarkah,
sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua, tertawa lebar. Ia pun
senang bisa membuat mertuanya gembira. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah
itu di sana, melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya:
bercocok tanam, di hari tuanya.

Bahwa Okayama-san, kini merasa senang, uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli
tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu, adalah disebabkan pengetahuannya
bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. Di Jepang, apalagi di seputar
Tokyo, orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan, bukan meteran, karena mahalnya,
sejuta Yen sejengkal. Sekarang, di tepi Samudera Hindia yang elok itu, Michiko, anaknya,
bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan
untuk Michiko (anak tunggalnya),” Okayama pernah berpikir. Sebab itu ia berikan uang
senilai empat puluh juta rupiah, sebegitu yang diperlukan Michiko, untuk membeli tanah di
kampung Sindanglaut, di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. Okayama yang sudah pensiun
dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu, punya rencana berlibur tiga kali
dalam setahun, dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan.

Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu, sekarang sudah ada rumah kecil
yang masih sederhana. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang
bagus. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah
milik keturunannya itu. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap
potongan khas Jepang. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang, dengan uang yang
sudah diperhitungkannya cukup, bukan mimpi pagi. Rencananya pun sudah bisa mulai
dilaksanakan.

***

Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san. Mereka sama-sama duda.


Tinggal tidak berjauhan. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka, segera ia
bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. Ia ceritakan de-
ngan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya, atas nama siapa, di mana 171
letaknya Sidanglaut itu, pemandangan seputar itu, dan sebagainya dan sebagainya.

“Dan bagusnya, bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan
suka,” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang
simpanannya.

“Dan istimewa lagi,” cerita Okayama kepada Kakutani, “dari tempat itu, selain ada laut
yang bagus, ada daerah yang masih dihuni oleh badak, badak yang terkenal. Kesukaan
kamu kan masuk hutan, melihat binatang langka?”

“Ya, ya. Apa sungguh begitu?”

“Sungguh!” kata Okayama meyakinkan.

“Tapi, bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu
orang Indonesia,” kata Kakutani dengan nada rendah, seperti sudah tidak punya harapan.

“Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. “Kamu kan belum punya istri lagi.
Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--), saya akan kawin lagi. Dan... akan
mengambil wanita Indonesia. Cantik-cantik lho, hahaha....”

Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar. Ia pun pernah bertemu de-
ngan ibu Subarkah, besan Okayama, waktu datang di Osaka. Dan terkenang sampai
sekarang, bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia. “Pasti ia cantik sekali
waktu mudanya,” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya.
Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh, karena ayah Subarkah masih ada.

“Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan, dengan nada suara seperti
berhasrat.

“Beneran. Cantik-cantik. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu, kita bisa lewat di sebuah
kampung yang namanya Kadupandak. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana.
Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat
di kampung itu. Saya pun waktu lewat di sana, merasa jadi muda kembali. Hahaha! Dan...
dengan uangmu yang ada di bank sekarang, kamu bisa dapatkan seorang. Kebiasaan
mereka pun baik-baik. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah. Itu sudah
kebiasaan mereka.”
Kakutani jadi berpikir beneran. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia, dan mau
menerima kebiasaanku, dan bisa membeli tanah yang luas, mengapa pula aku mesti simpan
uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri
ini. Kalau istriku menyenangkan, mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang
kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus, dengan pemandangan yang
indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya.” Ia pun ingat,
bahwa ia sekarang sudah sebatang kara.

***
172
Saatnya pun tiba. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta.

Malahan ini yang kedua kalinya sudah. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan
Thamrin, dan sudah pergi ke Sindanglaut.

Cepat sekali prosesnya, Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan


cantiknya kepada Okayama. Ia, pada mulanya, tidak ceritakan bahwa Nurseha, begitu
nama perempuan yang dibawanya, ditemukannya di sebuah panti pijat.

“Kami akan kawin,” kata Kakutani kepada Okayama.

Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama, Kakutani bercerita bahwa Nur-
seha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. “Hanya meminta supaya saya
masuk agamanya. Dan saya sepakati. Nampaknya agamanya kuat. Cuma keadaan ekono-
minya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat,” kata Kakutani setelah didesak
di mana mereka bertemu.

“Kalau sudah begitu, apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu.

“Ia berjanji. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di
rumah, bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji, cuma kalau
bersama saya ia akan ke luar rumah.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah
terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah. Yang
dipentingkannya hari depannya.

“Bagus, bagus kalau begitu,” kata Okayama. ”Dan soal tanah itu, bagaimana?” tanya
Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama, di samping tanah
Michiko.

“Jadi. Tentu saja jadi. Itu kan benar bagus. Dan benar murah,” kata Kakutani. “Sesudah
kami nikah, saya akan belikan istri saya tanah yang itu.” Kakutani menarik wajah bangga
dan serius.

“Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san.

“Secepatnya,” jawab Kakutani-san.


***

Benar juga. Tidak lama setelah itu. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di
Sukabumi, disaksikan oleh Okayama. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu,
setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya.

Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli
Nurseha atas namanya. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya.
Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji, bahwa kalau sampai ia dan suaminya
bercerai, uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. Nurseha merasa pintar. Ia
sudah menghitung, bahwa nilai tanah akan cepat naik, dan uang rupiah tak akan bisa
mengejar harga tanah. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga, ia merasa senang, bahwa ia 173
nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu, di tepi pantai yang lautnya biru, cerah langit-
nya, dan gelombangnya amat memikat. Apalagi di pagi hari, atau di sore menuju senja.
Dan ia pegang surat-surat tanah itu.

“Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri,” pikir
Kakutani. “Aku akan sering saja berada di sana.”

***

Di sebuah organisasi di kotanya, Kakutani punya sahabat akrab, Kanazawa-san, tempat


ia menceritakan rahasia hidupnya. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang
tanah yang dibelinya, atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat,
tapi sekarang sudah jadi istrinya.

Kanazawa-san, pemborong bangunan, tergerak juga hatinya. Ia pun ingin memiliki


tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. “Benar murah,” pikirnya, setelah ia
membandingkan dengan harga tanah di negerinya. Soal jarak Jepang - Indonesia, tak
dirasakannya jauh. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan
ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu.

“Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman
akrabnya.

“Bisa. Pasti bisa. Kata orang di sana, di sana segala bisa diatur. Pasti ada cara-caranya.
Apalagi sekarang, segala di sana sudah terbuka. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke
sana, untuk usaha. Tetapi yang pasti lagi, kita bisa tinggal di sana semusim-semusim. Kalau
musim dingin di sini, dan kamu merasa encok di sini, kita bisa tinggal di sana. Di sana kan
selalu ada matahari. Percayalah, kamu akan senang tinggal di sana. Pantainya bagus.
Lautnya bagus, bagus sekali. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan
seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. Tentu yang ukurannya luas yah,” kata
Kakutani.

***
Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta. Lalu mereka pergi
ke Sindanglaut. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu.

“Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa.

“Ini, ini orangnya yang bisa membantu kita,” kata Kakutani sambil menunjuk seorang
laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut, yang tempo hari mengatur pembelian
tanah untuk Michiko dan Nurseha.

“Bapak ini, Pak Kosasih, bisa menolong kita,” kata Okayama sambil memegang tangan
Kosasih.
174
Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana, dengan
kebutuhannya, tersenyum lebar. Ia tentu saja senang. Sudah dua kali ia pernah mengatur
jual beli tanah dengan orang- orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya
sendiri lebih dari lumayan. Tetapi, sebenamya hati nuraninya pernah goyang, terasa tak
menentu, tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. “Tak ada
kesalahan saya,” pikirnya. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya. Yang
kedua kali untuk istrinya. Orang kita-kita juga. Sah-sah saja,” pikirnya.

Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu.
Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak
lagi. Ia mengetahui, ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah
Michiko. Tanah itu bekas perkebunan kecil, tapi sudah tidak terurus. Dan akan dijual. Tetapi
terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko.

“Tidak jadi soal. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan,” kata Kosasih dengan
menarik senyum lebar. Ia pun yakin, bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan.
“Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya.

Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu, dibarengi oleh
Kosasih dan dua orang kawannya, seorang yang lebih tua, Ramdan, seorang lagi yang lebih
muda, Garnida.

Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san.
Tetapi Kosasih, lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia, bisa
meyakinkan, bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. Tanah
itu tidak nempel pada pantai.

Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana.

“Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut,” kata Kanazawa kepada Okayama
dan Kakutani.

Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa. Sebab itu ia cepat
berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. Tanah
yang menghalang-halangi itu, antara lahan ini dan laut, bisa diatur supaya jadi jalan ke
pantai. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini,” kata Kosasih sambil menarik wajah
senyum dan meyakinkan. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. Ia merasa, bahwa
atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju, sehamparan tanah
yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu.
Ia berpikir lagi. “Ini jadinya proyek pembangunan.” Kata "pembangunan" itu melintas
sejenak saja di kepalanya, tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. Kata pembangunan itu
mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya.

“Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. Kemudian kepalanya
digerakkannya menghadap ke arah Kakutani, lalu ke arah Okayama, meminta dukungan. Ia
menunggu kepastian.

Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. Lalu mereka berbicara dalam bahasa
mereka. Kosasih mendengarkan saja, tak mengerti sepatah kata pun, tapi harapan
menyelinap di antara perasaannya.
175
“Ya, asal benar bisa diatur begitu, tuan Kanazawa tertarik," kata Okayama.

***

Selang beberapa waktu, Okayama-san, Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada


di Indonesia lagi. Mereka tidak membuang waktu. Sindanglaut mereka tuju.

Masing-masing mengatur kepemilikannya. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko


dan suaminya, Subarkah, sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka cita-
citakan. Rumah tua sudah dibongkar. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. Kakutani-san
pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal
dihuni bersama Nurseha. Ia tidak kepalang bergerak, segala bahan yang diperlukannya
sudah ia siapkan dari dan di negerinya. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang
bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu.

Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. Beberapa


orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya.

Rencana bangunan hotel sudah siap. Soal tanah yang menghalang-halangi sudah
terpecahkan. Dengan duit, apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini, pikirnya. Dan ia
sudah jadi lebih pandai, atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta
penguasa penting.

Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan


Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. Entah berapa ongkos memindahkan mereka
yang sebenarnya. Orang-orang Jepang itu tidak tahu. Uang siluman tak jelas masuk ke kan-
tong saku siapa. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun
sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan, di kantor Kabupaten, malahan di
kantor Gubernuran, sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang
banyak. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. Sebab memang setelah
diperhitungkannya, masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya.

Maka pembangunan dimulai di daerah itu.

Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. Dan bertambah lagi
kericuhan di daerah itu, karena bukan saja Okayama-san, Kakutani-san dan Kanazawa-san
yang membangun di sana, melainkan ada Saito-san, ada Tanaka-san, Takahashi-san dan
beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik, melainkan sudah mulai membangun
di daerah yang tadinya masih ladang tegalan, sawah musiman dan kebun terlantar itu.

Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut.


Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. Dan semua menghitung: tanah di
Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo, atau
yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. Mereka seperti sudah berpikir, bahwa dunia
ini untuk kita semua, untuk semua penghuni bumi. “Untuk siapa saja, untuk kita, yang bisa
membelinya dan membangunnya,” pikir mereka. Untuk pihak yang pintar, pikirnya. Ya,
semua kedudukan pun bisa kita capai, pikir mereka. Dan mereka ingat pada beberapa kursi
yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa
mereka, keturunan mereka. 176

***

Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. Kebanyakan peralatan dan malahan


bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat
menantu, istri, sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_
memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung
asal mereka. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan
berbentuk bangunan Jepang.

***

Pak Marta datang di Sindanglaut. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua
Subarkah, sahabat kentalnya, bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri
satu daerah enclave, daerah kantong Jepang.

“Siapa yang salah?” pikirnya, lalu ia sebentar merenung.

Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. Michiko adalah istri


Subarkah. Nurseha adalah istri Kakutani. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak
datang untuk menanam modal. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di
Jakarta. Saito-san idem dito. Okahara-san sami mawon. Anaka-san menempuh jalan yang
juga tidak seberapa sulit dirasakannya. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di
Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. Garnida sudah naik
motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya.

Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu, di atas
tanah yang lebih dari dua ratus hektar. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun
sudah berubah catatannya.

Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkat-


angkat kayu dan besi itu dari kejauhan. Bukan saja hatinya terganggu, gamang, untuk ikut
serta dalam pembangunan itu, tetapi ia sudah tua. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. Di
hatinya ia merasa tertinggal, karena rumahnya pun sudah tergusur.
“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur, Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak
Marta yang duduk di kursi di depannya. Suara Ramdan terdengar melas sekali, menyayat
hati orang yang diajaknya bicara.

Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu. Ia
arahkan tatapannya ke kejauhan, ke langit yang bersih, ke kaki langit, ke lautan yang biru,
ke ombak yang bergelombang.

“Pilihanku benar,” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya.
“Tempat ini bagus, benar bagus. Tetapi....” Ia tidak meneruskan ingatannya. Ia seperti
menelannya.
177
“Jangan jongkok terus begitu, Bapak,” ajak Pak Marta kepada Ramdan. “Duduklah di
sini. Di sini masih ada kursi.”

Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta, bangkit dan duduk di kursi.

“Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. Ia
sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. Ia gundah, terjepit
antara sesal dan senang. Ia ingat, permulaannya amat sederhana. Kelanjutannya jadi amat
serius.

Dengan ragu, Ramdan, orang tua itu, menjawab: “Entahlah. Dulu saya pernah benci
kepada orang-orang Jepang itu, Pak Marta.”

Pak Marta cepat mengerti.

Sementara itu Kosasih datang. Ia menarik wajah gembira. Mukanya pun nampak licin,
bersih. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu.
Pakaiannya serba baru dan mencolok. Kendaraannya, mobil Suzuki diparkirnya di halaman
kantornya. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa. Ia merasa berjasa,
terutama kepada istri-istrinya, anak-anaknya, orang tuanya, mertua-mertuanya. Ia sudah
bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia
saksikan di rumahnya.

“Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. “Tidak mengalami jaman
Jepang?”

“Ah, saya belum lahir waktu itu,” jawab Kosasih.

“Bapak bekerja di Kecamatan, kan?” kata Pak Marta.

“Ya, Pak. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi, tapi saya menolak. Daerah ini
mesti dibangun, Pak.” Ia setengah membusungkan dada. Hati kecilnya berbisik jujur. “Di
sini lebih menguntungkan.”

Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya.

“Wah, kamu sudah punya motor segala sekarang, yah,” kata Pak Marta.

“Alhamdulillah, Pak,” kata Garnida.


“Maju yah. Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta.

Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu. Maka ia menyelip menyambung


pembicaraan: “Rumahnya, rumah orang tuanya, digusur, Pak. Ia pindah ke kampung di
balik bukit itu.”

“Ya, Pak Kosasih membujuk kami, Pak,” kata Garnida. Ia bicara sesungguhnya. Ia tidak
menatap ke masa depan, juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa
lampau. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang
jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini, hari ini, saat ini, detik ini.

Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. Masing-masing dengan pikirannya 178
sendiri. Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara
mereka. Dan yang tua serta yang muda, sudah seperti kelelahan jika harus berpikir.

Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian.

Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus, mengikuti pihak yang
menginginkan. ***

*) Enclave = Daerah kantong.

(Dimuat dalam Horison, September 1997)


Horison, Agustus 2000

Jati Diri
Oleh: Nh Dini 179

Pak RT tergesa masuk, bertanya kepada istrinya:

“Mana Iwan?”

“Belum kelihatan.”

“Jum’atan apa tidak dia.”

Istrinya tidak menanggapi, karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri.

Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang.
Satu on, seperempat, setengah dan satu kilo-an. Kini masing-masing mengelompok, ditata
di rak warung. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo. Maka kantung-kan-
tung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu.

Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. Karena dekat dengan Pak Lurah, dia
sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana. Dia
memang mahir mempengaruhi calon pembeli. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai
makelar tanah dan rumah.

Pada suatu ketika, uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di
pinggir jalan, tidak jauh dari pasar Jatingaleh. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak
Lurah, mendirikan usaha penjualan kayu, paving, ubin, semua keperluan MCK. Dan bila
orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ, Pak RT sanggup mencarikan. Semua
tergantung pada komisi yang disepakati.

Iwan adalah sulung dari empat anak.

Pak RT bukan kepala keluarga teladan, karena anaknya lebih dari dua, lebih dari tiga.
Sekarang setelah rezeki semakin deras datang, dia bahkan semakin mengkhianati program
pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi. Dia pikir, buat apa rezeki kalau
tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal, tempat yang telah dia miliki itu sudah
sangat pas. Dua anak lelaki, dua perempuan. Kebetulan yang perempuan berada di tengah-
tengah. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran.1
Ketika ayahnya menjadi RT, usia Iwan 16 tahun. Dia baru lulus SLTP. Adiknya yang
terkecil delapan tahun. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut, sekaligus
mengurusi muda-mudi kampung, sekaligus selalu repot di toko material bangunan, semua-
nya berubah bagi Iwan.

Dia merasa hidup lebih leluasa. Dia bebas, karena bisa berbuat apa pun sesuai
kemauannya. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan
siang. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul, Pak RT masih mengurusi usahanya.
Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh, dia bergegas mandi lalu pergi lagi memim-
pin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan.

Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah, 180
jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan.”

Atau:

“Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan.”

Adik Iwan sudah berangkat remaja, menjadi gadis kecil dan berani memprotes:

“Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko, selalu di kelurahan!”

Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT:

“Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!”

Yuni, adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke
sekolah mengambil rapor seperti orang tua- orang tua lain.

“Aku tidak punya waktu,” itulah jawaban Pak RT. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang
pergi.”

Iwan hidup di luar, nyaris menjadi anak jalanan, menggerombol bersama teman-teman
sesama seragam SMU di perhentian bis, di warung-warung kopi atau di kios rokok yang
juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. Rokok yang dihisap bukan lagi merk
dikenal, melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayang-
layang. Tubuh Iwan kurus kering. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan.

Semua nampak bahagia. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera. Penduduk sekitar tetap
banyak yang tidak mampu. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian.

Rumah berganti ubin. Kini lantainya keramik putih berkilau. Bagian depan, seluruh
kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama, sehingga terang memantulkan cahaya
hari. Ketika rumah di samping dijual, Pak RT langsung membelinya. Dia bikin sebuah
ruangan polos, menjadi bangsal aula cukup besar. Di situ tikar digelar. Lalu dilengkapi
meja-meja pendek. Katanya, “Ini untuk pertemuan-pertemuan. Pintu-pintu bisa dipasang
atau dicopot. Bapak-bapak, PKK, muda-mudi rapat di sini. Dengan begitu, Mak kalian dan
aku tidak akan sering berada di luar.”
Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya, “Bikinkan aku warung. Sekarang
anak-anak sudah besar, aku tidak perlu memngawasinya. Aku ingin mencari uang sendiri.
Beri aku modal. Kecil-kecilan saja. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari.”

Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. Yang dijajakan di warung bertambah: alat-
alat tulis, bahkan perangko, meterai, obat-obatan.

Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. Dan karena rezeki
berlimpahan, pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. Kadang-kadang menjadi tiga
jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. Kemenakan, adik atau
saudaranya ipar, siapa saja yang berasal dari desa sama. Pembantu itu bisa bertambah lagi
di saat tetangga datang mengobrol. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung 181
keluarga Pak RT. Mereka selalu kekurangan. Selalu ada yang lewat, lalu singgah, lalu
membantu mengerjakan ini atau itu. Kemudian, tiba-tiba, dia ingat harus menanak nasi
atau menjemur cucian. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam
genggaman si tetangga. Di lain waktu, ada tetangga yang berani berkata, “Kalau boleh,
minta gula dan kopinya saja sedikit.”

Dan kalau itu sudah diberikan, ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak,
sambil katanya:

“Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja.”

Ibunya Iwan baik hati.

Sama seperti suaminya, dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. Pasangan itu
banyak menolong dan membantu penduduk sekitar. Itulah salah satu sebab mengapa
bapaknya Iwan menjadi RT, dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana.

Pada suatu siang, Iwan sengaja memperlihatkan diri, turut bersembahyang Jum’at di
belakang ayahnya. Mereka pulang bersama, berjalan kaki menuju rumah yang terletak
tidak jauh dari masjid. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga. Yang terkumpul
adalah ibu, ayah dan dua adiknya.

Sambil makan, Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan
teman-temannya. Dia minta dibelikan kendaraan.

"Tidak usah baru, Pak. Asal masih bagus jalannya. Buat sekolah.”

Pak RT punya sebuah kijang. Untuk toko, semula dia sediakan satu kendaraan bak
terbuka. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi, karena seorang kenalan terdesak
kebutuhan uang, menawarkannya kepadanya. Bisa dibayar dua kali. Kebetulan memang ba-
paknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang
semakin sering datang. Orang terus membangun. Di mana-mana orang memerlukan kayu,
batu atau pasir. Sekarang, kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut
bahan-bahan kotor. Sedangkan yang pertama, selain buat keperluan toko, akan lebih
mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih.

“Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan,” suara Pak RT tidak
bertanya. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek
sekali, bukan?”
Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di
bawah sedang di catur wulan yang lalu. Hal ini agak mengejutkan Iwan. Karena dalam
keseharian, Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya. Lebih-
lebih menyuruhnya belajar.

“Kalau punya kendaraan sendiri, aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi,” Iwan
kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya.

“Itu benar,” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara. “Apa lagi ini nanti musim hujan, kendaraan
umum selalu datang terlambat karena jalan macet. Anak-anak repot, kena hujan...”.

“Di kelas, tinggal aku yang belum punya kendaraan,” kata Iwan lagi. Dan dia tidak 182
khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya. Kebohongan memang sudah mendasari
hidup Iwan. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang
dia ucapkan sejak pagi hari itu. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya
terjadi di kepalanya. Yang dia inginkan demikian. Kadang-kadang, kenyataan dan
harapannya sudah begitu menyatu, sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya. Mana
yang sungguh ada, atau mana yang dia harap ada, ruwet menjadi satu.

Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak. Kini teman-teman


itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT:

“Ayahmu kaya. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya. Padahal seharusnya
kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua, kita bisa cari
uang. Bisa turut berpacu di Jatidiri,” begitu kata Herman, temannya yang paling menonjol.
Di mana ada kegiatan berkelompok, Herman-lah yang mengepalai.

Stadion Jatidiri besar. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi.
Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang.
Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana, barulah bagian-bagian tertentu dirapikan.
Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan, sehingga tanaman dan perdu liar berduri
berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata. Di sanalah, di waktu malam, terjadi
kebut-kebutan. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau
dua, sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. Mereka
tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan. Di sana mereka juga
menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi.

“Benar,” kata kawan Iwan yang lain. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu, pasti kita
menang. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang
datang dari gunungkidul...,” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. Dia yang paling
lama memiliki kendaraan. Seusai sekolah, menjadi kernet omprengan. Karena badannya le-
bih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu, semua teman Iwan sungkan kepada Khodir.

Iwan termakan oleh gosokan itu.

Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. Dan karena merasa permintaannya
tidak bakal terpenuhi, Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah
pisang. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya, “Sampeyan3 ini
bagaimana! Punya anak lelaki, sulung, tidak dimanja. Minta kendaraan saja...”.

Lalu alur keseharian kembali seperti semula, berlanjut biasa.


Hanya, pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung, terkejut bukan kepalang
karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. Sampul coklat
masih ada tetapi kosong. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam, jumlahnya men-
dekati tujuh ratus ribu.

“Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. Dia mengira anaknya marah
karena permintaannya ditolak Pak RT.

Mak tunggu anak sulung itu seharian. Baru muncul hampir petang. Mak takut bicara
kasar, dia tunggu lagi sampai anak itu mandi, lalu akan mengenakan baju. Mak turut masuk
kamar. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat, dadanya kerempeng.
Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia bangga- 183
banggakan.

Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu. Biasanya, pagi Iwan dan Yuni
disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. Tidak banyak. Paling-paling lima
ribu. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu. Mak bertanya lembut,
bahkan nyaris merayu si anak, untuk apa uang itu.

Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut, “Kuberikan kepada Herman. Dia mau buka
usaha, kasihan tidak punya modal,” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai,
dia keluarkan gumpalan uang lusuh. Diberikan kepada Mak, meneruskan bicaranya, “Ini
sisanya.”

Mak menghitung, dua ratus ribu lebih sedikit.

“Nanti kalau usahanya berjalan, Herman akan mengembalikan. Malahan mungkin


dengan bunga,” kata Iwan lagi.

Mak lega.

“Apa usaha temanmu?”

“Bengkel kecil-kecilan, di muka sekolah, bersama tukang pompa ban.”

Lalu Iwan terburu-buru, menutup kancing baju, menggosok rambut dengan kain apa
saja yang tersampir di sana.

“Mau ke mana?” Mak bertanya. “Makan dulu! Kamu kurus. Mukamu pucat. Tadi siang
kamu juga tidak pulang makan.”

“Aku jajan bakso tadi,” Iwan menyahut, sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu
kamar akan keluar, berhenti lalu katanya “Minta Rp 10.000, Mak”.

“Ke mana?” Mak masih mengikuti, tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan.

“Mau belajar bersama teman-teman. Besok pagi langsung ke sekolah.”

Mak harus puas dengan jawaban tersebut, karena si sulung sudah berlalu. Rambutnya
masih basah dan belum disisir. Tapi tidak apa-apa, Iwan pergi untuk belajar di rumah
kawannya. Hati Mak tenang. Di sana tentu disuguhi makanan. Apa lagi, anaknya bawa
uang, bisa jajan. Banyak makanan dijajakan di malam begitu. Mak berpikir, lebih baik
mengetahui anaknya berada di rumah teman, tidak keluyuran. Itu baik.

Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. Dan yang se-
sungguhnya terjadi ialah, dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor.
Seperti biasa, Mak yang berangkat. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok
orang tua lain di ruang tersendiri. Juga hadir dua guru.

Rupanya, anak-anak mereka tidak naik kelas. Rapor anak-anak itu semakin lama
semakin jelek. Khodir berkali-kali mangkir, Herman sudah dua bulan tidak masuk. Iwan
sendiri, tidak nampak di sekolah sejak empat hari.
184
“Dia berangkat sekolah setiap pagi,” istri Pak RT berkata membela anaknya.

Seorang guru melihat ke buku catatan, menanggapi, “Hari Senin masih masuk, tapi
Selasa, Rabu sampai hari ini tidak kelihatan.”

Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan, ialah anak-anak
mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah.

“Kami menerima uang tes, maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir
catur wulan. Kami kira, ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang,” kata kepala sekolah.

“Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu
mengutarakan pengetahuannya.

“Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. Yang paling
nampak adalah ibu Herman.

Mendengar itu, Maknya Iwan menjadi ragu. Dengan suara terbata-bata, katanya, “Buka
reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban...” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat,
bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada te-
mannya itu.

Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka, dia
memutuskan:

“Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. Jangan sampai terlanjur


mendapat pengaruh buruk dari jalanan. Kecuali Anda, Ibunya Iwan. Anak Ibu pulang ke
rumah setiap hari, bukan?”

Mak kebingungan, tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat. Sejak si sulung
lulus SLTP, dia menganggapnya sudah besar. Sudah tahu sendiri apa yang harus
dikerjakan. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. Jadi
Mak juga meniru suaminya. Sekarang, kalau Iwan pulang makan, mandi atau untuk
keperluan lain, Mak senang. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan, ya dia pasrahkan saja ke
bawah Lindungan Yang Maha Kuasa.

“Dia pulang sore. Katanya banyak tambahan pelajaran,” akhirnya itulah yang dikatakan
Mak.
“Memang banyak ekstra kurikuler, Bu. Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti
tambahan pelajaran itu,” sahut seorang guru.

Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. Tergesa-
gesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat, lalu mengenakan baju berkerah dan sarung.

Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. Kaum muda lelaki
dan perempuan, pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka
menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak
RT.

Tanpa menunggu lama, masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. Gelas- 185
gelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah,
mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan. Para pelayan sudah terdidik. Begitu pula
para pendatang. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna
membantu kelancaran organisasi kampung, tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan
di rumah Pak RT tidak pernah rugi. Selain di situ suasana cerah, juga selalu banyak
makanan dan rokok. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek
atau filter, sesuai pilihan masing-masing.

“Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam
ruangan.

Dan selalu ada yang menjawab, “Tidak apa-apa. Pak RT orang yang sibuk. Kami
mengerti.”

Disambut dari sisi lain:

“Ya benar. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu.
Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!”

“Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT. Kami minta maaf, selalu
merepotkan ibu. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan,” kata-kata lain yang
dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain.

“Silahkan! Silahkan! Direruskan saja,”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di


atas tikar, lalu mendongak ke arah dalam, serunya, “Bu! Tehnya ditambah!”

Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman.

Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan.

“Anu 4, Pak RT, ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok
di depan Karangrejo. Ada sopir taksi yang dirampok katanya.”

“Ya, saya juga dengar,” sahut Pak RT, mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung
penuh minyak. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?”

“Kok belum ada. Padahal katanya, sopir taksinya ditusuk pakai obeng,” seseorang
menjelaskan.
“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya.

“Di situ saja! Di dekat Jatidiri!”

“Wah, dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya.”

“Yang saya dengar, satu pelaku sudah diringkus. Yang lain-lain kabur!”

“Ya, mengenai itu juga saya dengar. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang
cerita begitu.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi, menyumpalkannya di antara gigi
besarnya.
186
“Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. Itu biar
diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk.

“Betul! Betul! Kalau tidak, kita tidak akan selesai sampai besok pagi,” sahut suara lain.

Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. Serius atau santai. Yang penting Pak RT
tidak makan lagi. Dia kelihatan sibuk, berbicara, membantah, mengatakan gagasannya.
Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu,
tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. Dia juga belum
diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu.

Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. Atau paling lambat setengah
sepuluh. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. Mereka ngelantur
mengobrol. Televisi di sudut ruang dinyalakan, mereka santai menonton, tiduran atau ber-
sandar ke dinding. Pak RT membiarkan pintu terbuka, memanggil penjaja makanan apa
saja: mi kopyok, bakso atau sate. Mereka makan dan berbicara, sementara kotak kaca
dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih.

Malam itu, tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. Mereka bersama Pak RT
menikmati sate ayam dengan lontong kenyal.

Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. Satu kali bertanya kepada
tukang becak, kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. Dua orang turun, langsung
menuju pintu yang terbuka. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab.

“Selamat malam,” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi
salam.

Pak RT bangkit dari tikar, menemui si pendatang. Mata bapak itu melirik ke kejauhan.
Ada tiga lelaki lain. Seorang di tengah-tengah halaman, seorang di pagar, seorang lagi
duduk di belakang kemudi.

“Bapak Rajiman?”

“Ya, saya sendiri,” sahut Pak RT.

Terdengar suara bebincang rendah. Kelihatan kepala Pak RT tertegak. Satu kali
menengok ke arah dalam rumah. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang, me-
nariknya menjauhi pintu.
Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali, langsung menuju ke rumah induk. Dia
memanggil-manggil. Sesaat berlalu, jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah
terganggu. Nama Iwan disebut-sebut. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di an-
tara penghuni. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas, “Sudah hampir seminggu
Gus Iwan tidak pulang.”

Lalu Pak RT muncul di pintu, sudah mengenakan celana panjang. Katanya singkat
kepada tamunya yang baru menikmati daging sate, “Maaf, saya harus pergi. Silakan Anda
pulang. Biar pintu ditutup.”

Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu, Pak RT menyetir kendaraannya
mengikuti jip keluar kampung. Seorang tetangga duduk di sampingnya. Dia menawarkan 187
diri menemani Pak RT ke kantor polisi.

Serse memberitahu bapaknya Iwan, bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. Dia
berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari
sebelumnya. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil, kakinya ditembak. Maka
ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi
lintingan ganja siap pakai. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang.
Belum ketahuan pasti jenis apa.

Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan. Pak
RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan
tempat bersembunyi kedua remaja itu.

“Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri.
“Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang. Supaya mereka
hidup layak, bisa sekolah. Tetapi nyatanya... .”

Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. Dia adalah satu dari
mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. Tugasnya malam itu
adalah menemani Pak RT. Bukan untuk berbicara.***

1. Sumber air/telaga terletak di antara dua pancuran.

2. Teh kental

3. Kamu

4. Kata tambahan dalam bahasa Jawa, biasanya dipakai karena gugup atau
sungkan
Horison, September 2000

Upacara Hitam 188

Oleh: Abrar Yusra

Langit di atas kepalaku terpentang biru, mengirimkan sinar matahari yang menerobos
menyilaukan mata. Dan panas terik seolah membakar udara pantai. Namun di bagian kota
lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan.
Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil.

Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. Namun ia adalah salah seorang tokoh
masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400.000 jiwa
itu. Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. Lihatlah, di bawah matahari
silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. Maka bukit-
bukit kuburan seperti jadi lautan manusia. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak
dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang
panjang dan entah kapan habisnya. Tapi apa peduliku. Siapa tahu, jangan-jangan mereka
justru tertawa di hati masing-masing!

Di deretan depan kulihat adik-adikku. Masing-masing memasang muka dan pakaian


berkabung yang sedemikian pantas, katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil.
Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. Sebab yang
paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan, melawan
penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. Dengan datangnya kematian ayah kami
maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. Sebaliknya justru merupakan
permulaan bagi kesedihan besarku.

Aku menatap matahari. Silau.

Aku memandang khalayak. Gelap. Tidak, silau juga.

Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat
itu terbaring sehat-sehat saja. Ganjilnya, sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun
berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit. Ayah berkata, bagaikan
organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak
kelihatan.

“Di sini,” bilang ayah, sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan, “tapi
sudah hilang sendiri!”
Ayah malah mencoba tertawa. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. Ya, serangan
sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit,
perlu diobati atau tidak. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter
spesialis di pusat kota.

“Tak ada gejala penyakit apa-apa,“ kata dokter.

Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Sebab seperti
semacam misteri, nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. Maka
ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. Lalu kami
mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota, juga tanpa hasil apa pun.
189
Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentah-
mentah.

“Jangan,” cemooh ayah tertawa, seolah ia sudah sembuh. “Masa panitia yayasan rumah
sakit diobati dukun kampung?”

Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. Tapi makin lama makin
sering. Baru saja sekali enam hari, lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa
terserang rasa sakit, kapan saja di mana saja. Kami benar-benar kalang kabut. Sesudah
berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit
ayah, apalagi mengobatinya. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika
sedang berpidato, maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri.

“Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja,” kataku.

Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya
tak pernah dilakukannya.

Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. Maka para pengunjung pun
pada berdatangan ke rumah. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja.
Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus. Namun jika serangan
penyakitnya datang, makin sering saja, tak peduli sedang ada tamu atau tidak, ketika
sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik, tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan
berteriak-teriak keras kesakitan, lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas
yang berlepotan dari mulutnya.

Makin lama muka tua itu makin berkerumuk. Makin cekung dan sepi. Penyakit itu
menganiaya ayah dengan semena-mena benar, sehingga membuatnya capek. Maka hidup
ayah jadi aneh. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit
menyerang lagi tanpa ampun.

Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. Yang tinggal hanya para tetangga, di
antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Nampaknya seperti untuk
bersenang-senang. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. Mereka datang
memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan
menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. Siapa pun maklum bahwa kematian
ayah memang tinggal soal waktu saja lagi.
Sudah larut dinihari. Adik-adik sudah pada tidur. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi
perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. Dan di
ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah
sedang menutup daun-daun jendela.

Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. Nah, si kakek itu lagi, rupanya
ia sudah selesai menutup jendela-jendela. Konon ia teman ayahku dulu.

“Bagaimana beliau?” ia bertanya. “Kambuh lagi?”

Aku mengangguk. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu
serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benar- 190
benar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti
kepompong busuk. Seperti digerogoti setan, tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput.
Muka cekung ayah sudah menghitam. Sinar hidup dari matanya sudah padam!

Aku serasa mau gila. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepar-
gelepar. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. Yah, seolah mataku dapat
mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah
seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. Seolah menampik hidup dan
penderitaan, maka:

“Jangan!” rintih ayah tak jelas. “Ampun, ampun!”

Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah, ayah seperti memohon:

“Biarkan aku mati, mati!”

Maka ayahku menangis, barangkali juga pingsan lagi. Keterlaluan penderitaan orang tua
itu. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. Hanya kematian yang mungkin
mengakhiri penderitaannya. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya
demikian. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. Tapi kematian rupanya tidaklah
ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. Ayahku meraung lagi. Seolah raung itu
pun menghabiskan cadangan tenaganya.

“Harus kaulakukan sesuatu, Nak!” suara si kakek lagi. “Saya bisa membantumu.”

Aku menatapnya tak berdaya. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku
tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi.

Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang,

“Kamu kenal siapa ayahmu. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. Yang gereseh-
peseh bahasa Inggeris, punya mobil, pemimpin masyarakat yang modern. Tapi aku lebih
kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur.
Segala cara kami lakukan untuk itu. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan, bahkan ilmu-
ilmu hitam, ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?”

Aku hanya melongo. Tak tahu aku, apakah harus menerima atau membantah kisahnya.
Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. Ia tersenyum.
“Sederhananya ilmu iblis. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya
memelihara iblis dalam dirinya, itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si
Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!”

Panjang juga uraiannya. Tapi sejauh yang dapat kutangkap, cukuplah di sini kukatakan
bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku, karena
iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari
kiamat, sebab demikian firman Tuhan tentang iblis. Lalu ditambahkannya dengan suara
tenang juga:

“Si iblis itulah yang menzalimi beliau. Maka jalan terbaik bagimu, yah, kaupungut saja Si
Hitam. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” 191

Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar
sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. Sebab kubayangkan, _tidak, seolah kulihat
nyata_, Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana. Tak dapat
kubayangkan bahwa iblis itu, benar-benar iblis, akan terus memperkosa ayahku. Tapi Si
Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. Maka
tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam, jika memang
hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan
ayahku!

Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu, kami berhasil
membebaskan ayah dari penderitaannya. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku,
meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun, yang sempat sadar pada detik-detik
terakhir, akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat, serta
mulut komat-kamit begitu lemah...!

Kini di bawah matahari, di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan
jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya.
Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. Tapi itulah suatu kematian paling
ganjil yang pernah kukenal, bahkan paling terkutuk. Aku sendiri, betapa terkutuk, justru
tidak sedih atas kematian ayahku. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian
ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara
paling gila malam itu. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa
depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri, betapa
terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu.

Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang
terhormat, yang berjuang dengan cara-cara terhormat, apa pun artinya. Bahkan aku ingin
seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan
menjahanamkan aku, anaknya, karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong
kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap, hina dan
memalukan. Kalau aku tidak malu, malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang
mayatnya dengan pisau, atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat?

Maka matahari yang menyilaukan ini, upacara pemakaman dan khalayak ini pun
kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku,
benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpah-
nyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri. Betapa terkutuk nasibku!***
Jakarta, 1992

Menyiram Bunga di dalam Cermin


Oleh: Yus R. Ismail 192

“Bercerminlah dengan khusuk, maka kamu akan melihat diri sendiri,” kata suara entah
dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini.

Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. Betapa sunyi keinginan
ini. Bukankah setiap hari aku menjadi aku, menjadi diri sendiri, karena aku memang bukan
seorang pemain sinetron atau drama. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan
Naga Bonar atau apa dan siapa saja.

Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. Begitu banyak perilaku yang tidak
bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku
lakukan. Aku tidak bebas lagi bergerak, berekspresi, menerjemahkan hati menjadi apa saja.

Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. Di dalamnya, bisa jadi telah
dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah
apa dan siapa. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu.
Maka tanganku, mulutku, kakiku, mataku, lidahku, bisa bergerak selain diperintah olehku.

Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin, setidaknya untuk mengetahui


siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat
kukosongkan itu. Bila sudah mengetahuinya, aku ingin mengusirnya, dengan kekerasan
atau tanpa kekerasan.

Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku, aku
pontang-panting mencari cermin. Aku memasuki wc-wc umum, mushola, gereja, candi,
hotel, diskotik, tapi selalu berakhir dengan kelelahan. Semua cermin yang kutemukan tidak
bisa lagi dipergunakan. Semua cermin telah retak dan pecah.

Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang
pantang menyerah. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu
menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. Seluruh anggota tubuhku
mengalirkan darah. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur
setetes demi setetes. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku
melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti.
Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu, tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah
cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata.
Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu
benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. Perubahan keyakinan
itu memang begitu menyakitkan. Kesedihan, kepapaan, kesendirian, kesunyiaan,
ketakberdayaan, ketaksempurnaan, kepedihan, semuanya menjadi silet-silet yang tanpa
henti menoreh-noreh tubuhku. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan
yang tiada bandingannya. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang
menempati satu ruang kesadaran.

Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. Tubuhku telah
terpantul di mana-mana. Di tanah, angin, kabut, daun, batang, sampah, air, api, tubuhku
terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa.
193

***

PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. Namaku memang tidak jelas. Tapi
ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. Bila bertemu denganku, di mana saja, jangan
ragu-ragu untuk menyapa. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. Tapi bila
ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran, temui
saja aku di kebun bunga.

Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. Aku selalu terkenang dengan sebuah
lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang
menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. Aku tak pernah lupa
bagaimana air menetes dari ujung daun, bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar,
bagaimana tanah menguapkan bau yang khas, dsb.

Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di
mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di
mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin.

“Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub
dengan matanya. Di matanya, aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna
yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. Ada pucuk yang diam-diam
menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim
gugur. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopak-
kelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. Dan begitu banyak lagi
metamorfosa lainnya.

“Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. Dengan gembira aku
mengangguk dan menghampiri. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari
banyak hal itu. Tapi begitu air jatuh dari gayungku, aku lupa dengan metamorfosa itu. Aku
telah terbawa air, mengalir ke mana saja yang kumau. Aku menyusuri daun dan batang
sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. Aku meresap ke dalam
tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus.

Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. Eh, aku
tak yakin, ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. Aku tidak bisa membedakan suara
keduanya. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku, mengobrak-abrik
ruang-ruang tubuhku. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. Entah
berapa lama aku pingsan, karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi
yang anggun. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit, begitu lelah. Pantai apakah ini?

“Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang
mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh.

“Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya.

“Kuta.”

Beberapa jenak aku tercenung. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya
aku merasa ini Pantai Panjang.
194

“Ya, Pantai Panjang juga bisa. Atau Pangandaran. Atau Pelabuhan Ratu.”

Aku memandang orang yang aneh itu.

“Apa perlunya nama. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. Karena semua
nama akan cocok dengan pantai ini.”

Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku
diamkan cukup lama, orang beransel besar itu terbang. Saat itulah aku yakin bahwa orang
itu adalah angin. Aku menyusulnya sambil berteriak, “Aku ikut!”

Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong.


Bertahun-tahun kami mengembara. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk
mengembara. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno
Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana.
Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat, kami merasa begitu banyak tempat
yang belum kami kunjungi.

Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara.
Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. Kami merasa peristiwa
itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. Tapi sayang kami tidak mencatat
peristiwa-peristiwa itu. Tidak bisa terbayangkan, berapa banyak kertas dan tinta yang akan
kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang
tepat mengapa kami tidak mencatat. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya
memang tidak dicatat dan dibicarakan. Kami tidak bisa membayangkan, bila seluruh
peristiwa itu tercatat, berapa milyar pembaca yang akan sakit.

Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. Sepanjang sejarah,
rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Sungai-sungai mengalirkan air mata. Suara tangis
terdengar di mana-mana. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita, karena hanya kita
yang menghuni dunia ini. Maka kami, aku dan angin, pergi dari tempat yang satu ke tempat
yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri.

Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat, kami merasa begitu banyak tempat
yang belum kami kunjungi. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan
kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang, tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi
tempat-tempat itu. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang
berbeda itu adalah hidup kami.
Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku
tahan. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. Aku
pingsan entah berapa lama. Dan begitu terbangun, aku berada di sebuah taman yang entah
bernama apa dan di mana. Saat kulihat ke sekeliling, aku yakin bahwa taman ini adalah
lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu.

“Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal


sebagai si penyiram bunga itu. Tapi aku tidak mengacuhkannya. Aku lebih tertarik dengan
matahari yang membuat langit memerah itu. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah
yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. Eh, aku baru sadar di taman ini pun
ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang. Memandangnya sambil
mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. Atau aku 195
pun adalah ulat? Ah, aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu. Aku tak
mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin.

Aku berdiri dan pergi.

“Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram, kamu bisa pergi ke mana
saja. Ingatlah, kita tidak bisa tidak pergi. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih. Karena
sakit dan perih adalah hidup kita....”

Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu.
Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah
pengembaraan.***
Horison, Oktober 2000

Segenggam Kurma
Oleh: Tayih Salih 196

Ketika itu aku pasti masih sangat muda. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku, tetapi
aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku, mereka akan menepuk
kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. Yang
aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku, kakekkulah yang akan
membawaku ke mana pun ia pergi, kecuali pada pagi hari, ketika aku ke mesjid untuk
belajar Quran. Mesjid, sungai, dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam
kehidupan kami. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke
mesjid untuk belajar Quran, aku malah senang melakukannya. Sebabnya, aku cepat
menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari
Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu, yang akan menepuk kepala dan
pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku.

Sungguh, aku dulu mencintai mesjid, dan aku juga mencintai sungai itu. Segera setelah
selesai membaca Quran pada pagi hari, aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan
melesat menuju ibuku, cepat seperti jin, dengan tergesa-gesa menelan sarapanku, dan
berlari untuk menyelam di sungai. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari, aku duduk di
pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur, dan
bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. Aku suka
membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang
hutan itu, orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam, seperti
kakekku. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak, ia akan menyeka
ujung hidungnya dengan jari telunjuknya, terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain
wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih
indah. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi, karena aku tidak pernah melihat orang di
seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya, atau belum
pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu
rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang
hutan kecil pepohonan akasia. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku, pada
saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa, tinggi dan langsing sepertinya, berjalan dengan
langkah-langkah yang lebar.

Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya, tidak heran, karena sepupu-
sepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak
yang pandai. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa, saat untuk diam;
juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah
dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. Ketika ia tidak
memiliki kegiatan lain, ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara
penuh irama, dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh.

Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami, Masood. Aku berkata pada kakekku,
“Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?”

Yang dijawabnya, sesudah menyentuh ujung hidungnya, “Orang itu culas dan aku tidak
suka orang macam itu.”

Aku berkata kepada kakek, “Apa sih orang culas itu?”

Kakekku menundukkan kepalanya sejenak, kemudian, memandangi luasnya ladang, ia


197
berkata, “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan
feddans. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant, akasia, dan
sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood, diwarisi olehnya dari ayahnya.”

Memanfaatkan kakekku yang membisu, aku mengalihkan pandanganku darinya ke


daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya. “Aku tidak peduli,” aku berkata
pada diriku sendiri, “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu, semua pohon itu ataupun
tanah hitam yang pecah-pecah ini, yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku
dan tempatku bermain.”

Kakekku kemudian melanjutkan, “Ya, anakku, empat puluh tahun yang lalu semua ini
menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku.”

Ini jadi berita untukku, karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek
sejak Tuhan menciptakannya.

“Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini.
Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini. Posisinya berubah sekarang, dan
kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga.”

Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa
kasihan kepada tetangga kami Masood. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang
dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi, suaranya yang indah dan tawanya yang keras
yang menyerupai suara air yang berdeguk. Kakek tidak pernah tertawa.

Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya.

“Perempuan,” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan”
adalah sesuatu yang buruk sekali. “Masood, anakku, adalah lelaki yang doyan kawin. Setiap
kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku.” Aku dengan cepat menghitung
bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan. Lalu kuingat
tiga istrinya, penampilannya yang jorok, keledainya yang lambat dan pelananya yang tak
terpelihara, galabia-nya dengan lengan baju yang robek. Aku sudah melakukan semua
kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku
pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami, dan kakek dan aku saling bertukar
pandangan.

“Kami akan memanen kurma hari ini,” kata Masood. “Kalian tidak ingin ke sana?”
Walaupun begitu, aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di
sana. Namun, kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan
kecerahan yang luar biasa. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma
milik Masood.

Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi,
sementara aku tetap berdiri. Di sana ada begitu banyak orang, tetapi biarpun aku kenal
mereka semua, aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood, jauh dari
kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya, walaupun kenyataannya
pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. Terkadang perhatiannya tersita
pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. Sekali ia meneriaki
seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai 198
menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam, “Awas jangan
sampai kau potong jantung kurmanya.”

Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk
di puncak pohon kurma, dengan cepat dan penuh tenaga, menggarap cabang dengan
sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga.

Namun, aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma.” Aku
membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan, sesuatu yang memiliki
jantung yang berdetak. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku
mempermainkan cabang pohon kurma muda, “Pohon kurma, anakku, seperti manusia,
merasakan kebahagiaan dan penderitaan.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri
yang tidak beralasan.

Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku, aku
melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma,
mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. Kurma-kurma dikumpulkan
menjadi tumpukan yang tinggi. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke
dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung, yang kuhitung ada
tiga puluh. Kerumunan orang bubar, kecuali Hussein si pedagang, Mousa si pemilik ladang
di sebelah ladang kami sebelah Timur, dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat
sebelumnya.

Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. Lalu aku
perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya, kecuali ia memasukkan potongan
tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya
kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang
masih penuh.

Tiba-tiba kakek bangun, melompat di atas kakinya, dan berjalan menuju kantung-
kantung kurma. Ia diikuti Hussein si pedagang, Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang
kami, dan dua orang yang tak dikenal. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang
mendekati kami dengan luar biasa perlahan, seperti seseorang yang ingin mundur tetapi
kakinya memaksa maju. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai
memeriksanya, beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. Kakek memberiku
segenggam penuh, yang kemudian kukunyah. Aku melihat Masood memenuhi kedua
tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya, lalu mengembalikannya.

Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka.


Hussein si pedagang mengambil sepuluh; masing-masing orang tak dikenal itu mengambil
lima, Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima, dan
kakek mengambil lima. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan
menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang
tidak tahu jalan pulang ke rumah.

“Kau masih berhutang lima puluh pound padaku,” kata kakekku kepada Masood. “Kita
bicarakan itu nanti.”

Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai, dua orang


asing itu membawa unta, dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung
binatang-binatang itu. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat
mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. Aku merasa mendekati Masood, 199
merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya.
Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang
akan dijagal. Untuk alasan yang tak kuketahui, aku merasakan sakit yang teramat sangat di
dadaku.

Aku berlari ke kejauhan. Mendengar kakekku memanggilku, aku sedikit ragu, kemudian
melanjutkan perjalanan. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. Aku
mempercepat langkahku, sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang
ingin kuhindari. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon
akasia. Kemudian, tanpa tahu mengapa, aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku
dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih),
dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. Tentang desanya itu, ia
pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana.
Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. Keluarganya adalah petani dan guru. Ia
mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum, yang kemudian dilanjutkannya di
beberapa universitas di Inggris. Ia pernah menjadi guru di Sudan, namun sebentar
kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. Salih
mulai menulis tahun 1953, tetapi kumpulan cerpennya yang pertama, yang hanya berisi
tiga cerpen baru terbit tahun 1968. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan
tersebut, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies, yang
kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R. Larson dalam
Under African Skies. Mo-dern African Stories, 1997, Edinburg: Payback Press. Cerpen ini
diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono.
Horison, November 2000

Syahdan Pada Dahulu Kala 200

Oleh: Nadine Gordimer

Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anak-


anak. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. Orang itu mengatakan bahwa
dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini, seorang
pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita
anak-anak. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan
bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. Aku boleh menulis apa saja yang
kuinginkan.

Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan
diriku.

Sebuah suara dalam diriku?

Suatu bunyi.

Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah
membawa beban yang berat. Kupasang telinga. Kupusatkan pendengaran. Bunyi berderat-
derit itu bergema lagi. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang
menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. Aku tidak
memiliki terali besi. Tak ada pistol di bawah bantalku. Namun aku juga kini merasa cemas
seperti orang-orang lain yang serba waspada. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan
embun, mudah pecah seperti gelas anggur. Tahun lalu, seorang perempuan telah dibunuh
(kata orang) di siang bolong. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi
jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK
tanpa dibayar upahnya.

Kupandangi pintu, sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya


melihat-- di dalam gelap. Kutentramkan diri, tetapi degup jantungku tak menentu seperti
menghantami jantungku. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan
yang ada pada siang hari. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun, mengenalinya
baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya.

Namun, aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. Tak ada bobot manusia
yang menekan di papan itu. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan.
Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku
sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. Nun jauh di bawah kamarku, di
dasar rumah ini, penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan
tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi
berongga. Jika ada permukaan yang bergetar, ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke
bawah. Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu, semen, kayu, dan kaca
yang menyangga rumah menjadi longgar. Degupan jantungku menurun seperti ayunan
terakhir di atas zilofon, kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga
yang pernah berada di bawah sana, di bawahku, dalam perut bumi. Tingkat tempat adanya
runtuhan mungkin tak digunakan lagi, air bertetesan dari rekahannya, atau mungkin ada
orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan.
201
Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku.
Merelakan diri tidur kembali. Akupun bercerita pada diriku sendiri; kisah dalam tidur.

Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan, tinggallah sepasang suami-istri yang


saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. Mereka memiliki seorang anak
lelaki yang amat mereka cintai. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang
amat disayangi anak kecil itu. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan
yang digunakan untuk pergi berlibur. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk
mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan
mati lemas. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya, serta
seorang tukang kebun yang rajin. Jadi, manakala mereka hendak memulai kehidupan yang
bahagia untuk selama-lamanya, mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang
bijaksana, yaitu ibu sang suami, agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. Mereka
tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan, anjing peliharaan
mereka diberi peneng, diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran, kerusakan akibat
banjir, dan perampokan, serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi
mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan
Keamanan", mencegah kemungkinan perampokan, yang mungkin bertopeng hingga sulit
diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam.

Sukar untuk mengasuransikan rumah, kolam renang, atau mobil mereka dari kerusakan
akibat kerusuhan. Kerusuhan memang terjadi, tapi di luar kota, di mana orang kulit hitam
ditempatkan. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar, kecuali
pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. Oleh sebab itu, tak ada
yang perlu dicemaskan, ucap sang suami pada istrinya. Namun sang istri masih merasa
cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan
bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. Membuka pintu pagar, lalu memaksa
masuk. Jangan mengomel saja, ucap sang suami, di sana ada polisi dan tentara, gas air
mata dan senapan untuk mengusir mereka. Namun, saking cintanya, untuk menenangkan
hati sang istri, juga karena bus-bus dibakar, mobil-mobil dilempari batu, dan anak-anak
sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana, jauh dari pandangan dan
pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar, sang suami telah memasang pagar
berlistrik. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan
membuka pintu pagar, mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara
melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. Anak kecil itu sungguh tertarik
dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi
dan pencuri, bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya.

Kerusuhan telah dapat ditanggulangi, tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian
kota besar, dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci
di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya.
Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib
malang yang menimpa rekannya. Seperti biasa, dengan tanggung jawab menjaga harta
pasangan itu dan anak kecil mereka, pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya
untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah, serta memasang alarm. Sang istri
berkata, benar ucapan pembantu itu. Ikutilah nasihatnya. Maka pada setiap pintu dan
jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya
itu, mereka melihat pohonan dan langit melalui terali, dan jika kucing piaraan anak mereka
coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam
sebagaimana yang biasa ia lakukan, kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan
seisi rumah.
202
Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain
yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. Bunyi alarm yang nyaring,
meraung dan menjerit, bersipongang satu sama lain, dan berselang-seling di halaman-
halaman rumah, hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu.
Bunyinya dianggap biasa, sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan
para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi, lantas
menerobos masuk, mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi, televisi, tape recorder,
kamera, radio, barang-barang berharga dan pakaian, serta kadang-kadang membongkar
apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar, bahkan berani istirahat
sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. Perusahaan
asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun, kerugian besar
hanya diketahui oleh pemiliknya saja. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa
yang telah diminum oleh mereka.

Akhirnya, tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak
dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu, akibat
menganggur. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput, mengecat
atap; atau apa saja. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan
mengambil orang yang tak dikenal. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan
mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. Sebagian lagi meminta sedekah,
menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. Mereka
duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan
raya. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka. Kadang
mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. Sang istri tidak sampai hati melihat orang
yang kelaparan. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. Tetapi
pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan
menguncinya dalam lemari. Sang suami berkata, betul katanya, ikuti nasehatnya. Kau
hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu. Mereka mencari
peluang kalau-kalau… . Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya
dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat, setelah dikunci rapat-
rapat dan alarm dinyalakan, seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar
yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman.

Benar katamu, ucap sang istri, kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. Dan
perempuan sihir tua yang bijak itu, yaitu ibu sang suami, membayar untuk tambahan batu
bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Si anak kecil pun
mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng.

Tetapi, setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan
di malam yang sepi, bahkan pada waktu subuh, meskipun pada bulan purnama di musim
panas yang indah, sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di
tingkat atas dibongkar. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan
bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing
peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu, berkali-kali,
mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok,
kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibas-
ngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak
kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah
merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur
yang membuang waktu tanpa tujuan.

Ketika sang suami, sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di 203
kawasan kediaman mereka, mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan
pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta tembok-
tembok dengan peralatannya. Sang suami, sang istri, dan anak kecil mereka membuat
pilihan menakjubkan. Sebuah pilihan yang murah, yaitu memasang pecahan kaca yang
ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. Ada juga
usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi
tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan
lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih).
Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor
telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. Sedang anak
lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka, sang suami dan istri membandingkan setiap
bentuk yang paling berkesan, dan selang beberapa minggu, saat mereka sedang berhenti di
hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata, keduanya membuat keputusan untuk
memilih sebuah bentuk yang paling baik saja, yakni bentuk yang paling sederhana namun
luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga, kuat dan
sederhana. Di sepanjang tembok, terbentang gulungan besi yang keras, berkilat, tajam
bergerigi serta bercabang mata pisau. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat
dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. Sama sekali
tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. Setiap percobaan hanya akan
menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. Semakin terkait, kulit makin terkoyak dan
luka makin jadi dalam. Sang istri terpesona memandangnya. Betul katamu, ucap sang
suami, siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang
tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. Hubungi GIGI NAGA. Masyarakat
ingin keselamatan yang mutlak.

Keesokan harinya, sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan


berpisau di sekeliling tembok rumah, di mana tempat sang suami, sang istri dan anak lelaki
mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka
dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. Cahaya matahari memancar dan
cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut, menyilaukan.
Sang suami berkata, tak mengapa. Kilau itu akan hilang nanti. Sang istri berkata, tidak
mungkin, mereka menjamin gulungan itu tahan karat. Dan sang istri menunggu hingga si
anak kecil pergi bermain, lalu berkata, saya harap si kucing peka. Sang suami berkata,
jangan cemas sayang, kucing selalu melihat sebelum melompat. Mereka benar, karena
sejak hari itu, kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja, tidak
pernah coba melanggar pagar keamanan itu.

Pada suatu malam, sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari
buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. Pada keesokan
harinya, si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan
membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur
serta menyadarkannya kembali. Si anak membawa tangga ke tembok. Ia menyusupkan diri
ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. Kaitan yang pertama
mengenai lututnya. Lalu tangannya, kepalanya. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin
ke dalam gelungan itu. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali
melihat peristiwa itu, lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersama-
sama dengannya. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba
menyelamatkan si anak. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh
menuju taman. Dalam pada itu, entah apa sebabnya (mungkin kucing, agaknya) alarm pun
menggila di tengah-tengah jeritan mereka, sementara si anak yang bermandi darah
dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji, pemotong kawat, kapak, dan
sebagainya. Mereka -sang suami, sang istri, pembantu rumah yang dipercayai yang tengah 204
diserang histria, dan tukang kebun yang menangis- membawa anak itu masuk ke dalam
rumah.*** Nadine Gordimer, lahir di Transvaal, 1923. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan
ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra, antara lain: Booker Prize, the W.H.
Smith Commmonwealth Literature Award, dan the Scottish Arts Council Neil M. Gunn
Fellowship. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature, dan anggota kehormatan
American Academy and Institute of Art and Letters. Kumpulan cerpennya antara lain
Livingstone Companions, Not dor Publication, Friday's Footprint, Selected Stories, A
Soldier's Embrace, Jump and Other Stories, dan Something Out There. Nobel Sastra
diraihnya pada tahun 1991. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono