Anda di halaman 1dari 18

KORPS PASUKAN KHAS

TENTARA NASIONAL INDONESIA


ANGKATAN UDARA

Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara


(disingkat Korpaskhasau, Paskhas atau sebutan
lainnya Baret Jingga), merupakan pasukan
(khusus) yang dimiliki TNI-AU. Paskhas
merupakan satuan tempur darat berkemampuan
tiga matra: laut, darat, udara. Dalam
operasinya, tugas dan tanggungjawab
Paskhas lebih ditujukan untuk merebut dan
mempertahankan pangkalan udara dari
serangan musuh, untuk selanjutnya
menyiapkan bagi pendaratan pesawat
kawan. Kemampuan ini disebut dengan Operasi
Pembentukan dan Pengoperasian
Pangkalan Udara Depan (OP3UD).
Setiap prajurit Paskhas diharuskan minimal
memiliki kualifikasi Para Komando (Parako) untuk dapat melaksanakan tugas secara
professional, kemudian ditambahkan kemampuan khusus kematraudaraan sesuai dengan
spesialisasinya. Warna jingga sebagai warna baret Paskhas terinspirasi dari sinar cahaya
jingga saat terbitnya fajar di daerah Margahayu, Bandung, yaitu tempat pasukan
komando ini dilatih.

Motto Paskhas ialah "Karmaye Vadikarate Mafalesu Kadatjana", yang artinya bekerja
tanpa menghitung untung dan rugi.
Presiden RI pertama Ir. Sukarno, pada malam ”tirakatan” hari Bhakti AURI di Istana
Negara tanggal 30 Juli 1964, memberikan ungkapan ini secara langsung untuk
memotivasi personil AURI. Sukarno mensitirnya dari kalimat termasyhur pada
Sangkahya-yoga kitab Bhagawadgita, sloka 2.47, yang lengkapnya berbunyi :

"karmaṇy evādhikāras te
mā phaleṣu kadācana
mā karma-phala-hetur bhūr
mā te sańgo 'stv akarmaṇi."

1
Penerjunan pasukan pertama kali

Gubernur Kalimantan Ir. Pangeran Muhammad Noor


mengajukan permintaan kepada AURI agar
mengirimkan pasukan payung ke Kalimantan untuk
tugas membentuk dan menyusun gerilyawan,
membantu perjuangan rakyat di Kalimantan,
membuka stasiun radio induk untuk memungkinkan
hubungan antara Yogyakarta dan Kalimantan, dan
mengusahakan serta menyempurnakan daerah
penerjunan (Dropping Zone) untuk penerjunan selanjutnya. Atas inisiatif Komodor (U)
Suryadi Suryadarma kemudian dipilih 12 orang putra asli Kalimantan dan 2 orang PHB
AURI untuk melakukan penerjunan.
Tanggal 17 Oktober 1947, tiga belas orang anggota berhasil diterjunkan di Sambi,
Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Mereka adalah Heri Hadi Sumantri (montir
radio AURI asal Semarang), FM Suyoto (juru radio AURI asal Ponorogo), Iskandar
(pimpinan pasukan), Ahmad Kosasih, Bachri, J. Bitak, C. Williem, Imanuel, Amirudin,
Ali Akbar, M. Dahlan, JH. Darius, dan Marawi. Semuanya belum pernah mendapat
pendidikan secara sempurna kecuali mendapatkan pelajaran teori dan latihan di darat
(ground training). Seorang lagi yaitu Jamhani batal terjun karena takut.
Mereka diterjunkan dari pesawat C-47 Dakota RI-002 yang diterbangkan oleh Bob
Freeberg yang berkebangsaan Inggris, sekaligus pemilik pesawat, co-pilot Opsir (U) III
Suhodo, dan jump master Opsir Muda (U) III Amir Hamzah. Bertindak sebagai penunjuk
daerah penerjunan adalah Mayor (U) Cilik Riwut yang putra asli Kalimantan. Ini adalah
operasi Lintas Udara pertama dalam sejarah Indonesia.
Pasukan ini awalnya akan diterjunkan di Sepanbiha, Kalimantan Selatan namun akibat
cuaca yang buruk dan kontur daerah Kalimantan yang berhutan lebat mengakibatkan
Mayor (U) Cilik Riwut kebingungan saat memprediksi tempat penerjunan. Setelah
bergerilya didalam hutan pada tanggal 23 November 1947 akibat pengkhianatan seorang
Kepala Desa setempat, pasukan ini disergap tentara Belanda yang mengakibatkan 3 orang
gugur yaitu Heri Hadi Sumantri, Iskandar, dan Ahmad Kosasih. Sedangkan yang lainnya
berhasil lolos namun akhirnya setelah beberapa bulan mereka berhasil juga ditangkap
Belanda.
Dalam pengadilan, Belanda tidak dapat membuktikan
bahwa mereka adalah pasukan payung dan akhirnya
mereka dihukum sebagai seorang kriminal biasa.
Mereka dibebaskan setelah menjalani hukuman 1 tahun
dan langsung diangkat menjadi anggota AURI oleh
Komodor (U) Suryadi Suryadarma
Peristiwa Penerjunan yang dilakukan oleh ke tiga belas
prajurit AURI tersebut merupakan peristiwa yang menandai lahirnya satuan tempur
pasukan khas TNI Angkatan Udara. Tanggal 17 Oktober 1947 kemudian ditetapkan
sebagai hari jadi Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) yang sekarang dikenal
dengan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Korpaskhas).

2
Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP)

Pada masa awal kemerdekaan, dalam


konsolidasi organisasi Badan Keamanan
Rakyat Oedara (BKRO) membentuk
Organisasi Darat yaitu Pasukan Pertahanan
Pangkalan (PPP). PPP dibutuhkan untuk
melindungi Pangkalan-Pangkalan Udara yang
telah direbut dari Tentara Jepang terhadap
serangan Belanda yang pada waktu itu
berusaha ingin kembali menduduki wilayah
Republik Indonesia. Pimpinan BKR saat itu
baik Letjen Soedirman maupun Komodor (U) Suryadi Suryadarma berpendapat bahwa
Belanda pasti akan menyerang ibukota RI di Yogyakarta lewat udara. PPP saat itu masih
bersifat lokal yang dibentuk di Pangkalan-Pangkalan udara seperti di Pangkalan Udara
Bugis (Malang), Maospati (Madiun), Mojoagung (Surabaya), Panasan (Solo), Maguwo
(Yogyakarta), Cibeureum (Tasikmalaya), Kalijati (Subang), Pamengpeuk (Garut), Andir
dan Margahayu (Bandung), Cililitan dan Kemayoran (Jakarta) dan pangkalan- pangkalan
udara diluar pulau Jawa seperti Talang Batutu (Palembang), Tabing (Padang) dll.
Agresi Militer I dan II Belanda
PPP sangat berperan saat terjadi Agresi Militer I dan Agresi Militer II, yang saat itu
hampir seluruh Pangkalan Udara mendapat serangan dari Tentara Belanda, baik dari darat
maupun dari udara. Serangan besar-besaran dilancarkan oleh Belanda pada tanggal 19
Desember 1948 terhadap Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta. Belanda mengerahkan
pesawat P-51 Mustang, P-40 Kitty Hawk dan pembom B-25/B-26. Selain itu diterjunkan
dari pesawat C-47 Dakota sekitar 600 pasukan payung gabungan dari Grup Tempur Para-
1 pimpinan Kapten Eekhout. Pasukan payung ini merupakan bagian dari “Tijger
Brigade”/Divisi B (termasuk didalamnya satuan “Anjing NICA” yang terkenal ganas
serta brutal) pimpinan Kolonel Van Langen yang diperintahkan untuk menguasai
Yogyakarta. Brigade ini masih ditambah satuan elit gabungan pasukan darat dan udara
grup tempur-M. Di Maguwo grup tempur-M menerjunkan 2 kompi pasukan Para
Komando KST (Korps Spesiale Troepen) yang merupakan
penggabungan dari baret merah dan hijau Belanda pada
November 1948.
Pada saat itu PPP bersama kekuatan udara lainnya berusaha
mempertahankan pangkalan sampai titik darah yang
penghabisan. Saat itu Maguwo dipertahankan oleh 150
pasukan PPP dan 34 teknisi AURI pimpinan Kadet
Kasmiran. Dalam pertempuran tidak seimbang ini
mengakibatkan gugurnya 71 personil AURI termasuk Kadet Kasmiran dan 25 orang
lainnya yang tidak dikenal.

3
Penerjunan pertama di Indonesia

PPP inilah yang merupakan cikal bakal dari Pasukan Payung setelah pada tanggal 12
Februari 1946 melakukan percobaan latihan penerjunan yang pertama kali di Pangkalan
Udara Maguwo Yogyakarta dengan menggunakan payung (parasut) dan pesawat terbang
peninggalan Jepang.
Penerjunan pertama yang semuanya dilaksanakan oleh 3
orang putra Indonesia baik penerbangnya maupun
penerjunnya, berlangsung menggunakan tiga buah pesawat
Churen. Penerbang Adisucipto menerjunkan Amir Hamzah,
penerbang Iswahyudi menerjunkan Legino dan penerbang
M. Suhodo menerjunkan Pungut. Penerjunan pertama di
alam Indonesia merdeka yang berlangsung di Pangkalan
Udara Maguwo tersebut disaksikan oleh Kepala Staf
BKRO Komodor (U) Suryadi Suryadarma dan Panglima
Besar Letjen Sudirman serta petinggi BKR lainnya.
Penerjunan yang dilaksanakan pada ketinggian 700 meter,
sebagai pengawas kesehatannya adalah Dr. Esnawan.
Selanjutnya penerjunan kedua di Pangkalan Udara Maguwo
tanggal 8 Maret 1947 pada saat wing day yang merupakan penerjunan free fall pertama di
Indonesia dilakukan oleh Opsir Udara I Soedjono dan Opsir Muda Udara I Soekotjo
dengan penerbang Gunadi dan Adisucipto. Penerjunan ini disaksikan oleh Presiden
Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, para petinggi BKR serta masyarakat luas.
Sedangkan tanggal 24 Maret 1947 dilaksanakan penerjunan kembali oleh Soedjono dan
Soekotjo dalam rangka peresmian Pangkalan Udara Gadut di Bukittinggi.

Air Base Defence Troop (ABDT)

Dalam periode selanjutnya, yaitu sejak tahun 1950


Pasukan Payung yang saat itu masih bernama PPP
berpusat di Jakarta dengan sebutan Air Base Defence
Troop (ABDT) yang membawahi 8 Kompi dan
dipimpin oleh Kapten (U) RA Wiriadinata dengan
Wakilnya Letnan I (U) R Soeprantijo. Kemudian pada
pertengahan Tahun 1950 dibentuk Inspektorat Pasukan
Pertahanan Pangkalan yang disebut dengan IPP yang
bermarkas dijalan Sabang Jakarta, kemudian pada
bulan April 1952 dipindahkan ke Pangkalan Udara
Cililitan Jakarta Timur
Sementara itu, pada tahun 1950 juga diadakan Sekolah
Terjun Payung (Sekolah Para) yang diikuti oleh para
prajurit dalam rangka pembentukan Pasukan Para AURI. Sekolah Para ini dibuka di
Pangkalan Udara Andir Bandung sebagai kelanjutan dari embrio Sekolah Para di
Maguwo.

4
Hasil didik dari Sekolah Para inilah yang kemudian disusun dalam Kompi-Kompi
Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang dibentuk pada bulan Februari 1952 dan Kapten (U)
RA Wiriadinata sebagai Komandannya yang saat itu merangkap sebagai Komandan
Pangkalan Udara Andir di Bandung.
Pada tahun 1950 an Pasukan AURI terdiri dari PPP, PGT dan PSU (Penangkis Serangan
Udara) yang kekuatannya terdiri dari 11 Kompi Berdiri Sendiri (BS), 8 Pleton BS dan 1
Battery PSU.

Resimen Tim Pertempuran PGT (RTP-PGT)

Selanjutnya pada Tahun 1960-an PGT juga ditugaskan dalam rangka operasi pembebasan
Irian Barat (Papua) yang berdasarkan perintah Men/Pangau, maka dibentuklah Resimen
Tim Pertempuran PGT (RTP PGT) yang bermarkas di Bandung dan Kapten (U) Sugiri
Sukani sebagai Komandannya. RTP PGT membawahi 2 Batalyon PGT yaitu Batalyon A
PGT yang dipimpin oleh Kapten (U) Z. Rachiman dan Batalyon B PGT yang dipimpin
oleh Kapten (U) JO. Palendeng.
Komodor (U) RA Wiriadinata adalah
komandan PGT pertama (1952) yang
banyak membawa angin segar terhadap
perkembangan pasukan payung di
Indonesia terutama dalam tubuh AURI.
Konsep PGT dari awal mulanya memang
terkonsep pada kemampuan para dan
komando. Ia juga pernah menjadi Panglima
Gabungan Pendidikan Paratroops
(KOGABDIK PARA).
Pada masa pemerintahan Orde Lama, PGT
AURI bersama KKO (Marinir) dikenal amat loyal dan setia terhadap Presiden Sukarno.
Kedua pasukan elit ini bahkan dianggap menjadi “anak emas”nya Presiden Soekarno.
Hingga saat detik-detik kejatuhan Presiden Sukarno, kedua pasukan ini tetap
menunjukkan kesetiaannya pada Sang Proklamator tersebut.

Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU)

Pada tanggal 15 Oktober 1962, berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor : 195


dibentuklah Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU). Panglima
KOPPAU dirangkap oleh Men/Pangau dan sebagai wakilnya ditetapkan Komodor (U)
RA Wiriadinata. KOPPAU terdiri dari Markas Komando (Mako) berkedudukan di
Bandung, Resimen PPP di Jakarta dan Resimen PGT di Bandung. Resimen PPP
membawahi 5 Batalyon yang berkedudukan di Jakarta, Banjarmasin, Makassar, Biak dan
Palembang (kemudian pindah ke Medan). Resimen PGT terdiri dari 3 Batalyon, yaitu
Batalyon I PGT (merupakan Batalyon III Kawal Kehormatan Resimen Cakra Bhirawa)
berkedudukan di Bogor, Batalyon II PGT di Jakarta dan Batalyon III PGT di Bandung.

5
Berdasarkan Surat keputusan Men/Pangau Nomor : III/PERS/MKS/1963 tanggal 22 Mei
1963, maka pada tanggal 9 April 1963 Komodor (U) RA Wiriadinata dikukuhkan
menjadi Panglima KOPPAU dan menjabat selama 1 tahun. Kemudian pada tahun 1964
digantikan oleh Komodor (U) Ramli Sumardi sampai dengan tahun 1966.

KOPASGAT

Bedasarkan hasil seminar pasukan di Bandung pada tanggal 11


s.d. 16 April 1966, sesuai dengan Keputusan MEN/PANGAU
No. 45 Tahun 1966, tanggal 17 Mei 1966, KOPPAU disahkan
menjadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) yang
terdiri dari 3 Resimen :

Resimen I Pasgat di Bandung, membawahi :


Batalyon A Pasgat di Bogor
Batalyon B Pasgat di Bandung

Resimen II Pasgat di Jakarta, membawahi :


Batalyon A Pasgat di Jakarta
Batalyon B Pasgat di Jakarta
Batalyon C Pasgat di Medan
Batalyon D Pasgat di Banjarmasin

Resimen III Pasgat di Surabaya, membawahi :


Batalyon A Pasgat di Makassar
Batalyon B Pasgat di Madiun
Batalyon C Pasgat di Surabaya
Batalyon D Pasgat di Biak
Batalyon E Pasgat di Yogyakarta

Selanjutnya bedasarkan Keputusan KASAU No. 57 Tanggal 1 Juli 1970, "Resimen"


diganti menjadi "Wing"'
Di era nama Kopasgat lah, korps baret jingga ini sangat terkenal. Bahkan PDL Sus
Kopasgat bermotif macan tutul menjadi acuan pemakaian PDL TNI saat operasi Seroja.
Saat operasi pembebasan sandera pesawat DC-9 Woyla milik Garuda Indonesia di
Bandara Don Muang Thailand tahun 1981 sesungguhnya Kopasgat-lah yang dipersiapkan
untuk beraksi namun akibat berbagai tekanan politik Orde Baru saat itu akhirnya
Kopassus yang diberangkatkan ke Bangkok.

6
PUSPASKHASAU

Sejalan dengan dinamika penyempurnaan organisasi dan pemantapan satuan-satuan TNI,


maka berdasarkan Keputusan KASAU No. Kep/22/III/ 1985 tanggal 11 Maret 1985,
Kopasgat berubah menjadi Pusat Pasukan Khas TNI Angkatan Udara
(PUSPASKHASAU)

KORPASKHASAU

Seiring dengan penyempurnaan organisasi TNI dan TNI Angkatan Udara, maka tanggal
17 Juli 1997 sesuai Skep PANGAB No. SKEP/09/VII/1997, status Puspaskhas
ditingkatkan dari Badan Pelaksana Pusat menjadi Komando Utama Pembinaan
(Kotamabin) sehingga sebutan PUSPASKHAS berubah menjadi Korps Pasukan Khas
TNI AU (KORPASKHASAU).

KUALIFIKASI

Paskhas TNI-AU sebagai pasukan


khusus Angkatan Udara satu-satunya
dan berkualifikasi terlengkap didunia ini
memiliki berbagai kemampuan tempur
khas matra udara seperti Pengendali
Tempur (Dalpur), Pengendali Pangkalan
(Dallan), SAR Tempur, Jumping
Master, Pertahanan Pangkalan yang
meliputi pertahanan horizontal (Hanhor)
dan pertahanan vertikal (Hanver),
Penangkis Serangan Udara, jungle
warfare, Air Assault (Mobud), Raid operation hingga kemampuan anti teror aspek udara
atau yang dikenal sebagai ATBARA (Anti Pembajakan Udara). Selain itu Paskhas TNI-
AU juga mahir untuk bertempur di hutan, perkotaan,laut maupun pantai.
Paskhas TNI-AU juga memiliki kemampuan spesialisasi kematraudaraan untuk
melaksanakan doktrin OP3UD seperti Pengaturan Lalu-Lintas Udara (PLLU), Meteo,
Komunikasi-Elektronika (Komlek), Perminyakan (Permi), Zeni lapangan (termasuk
pionir, tali-temali, dll), Intelijen Tempur, Kesehatan, ground handling, Pemadam
Kebakaran (PK), Angkutan, Perhubungan (PHB) hingga kemampuan khusus untuk
menginformasikan tentang fasilitas penerbangan sebelum pesawat datang, jarak pandang
(visibility), kecepatan dan arah angin, suhu dan kelembaban udara, serta ketinggian dan
jenis awan. Hal ini sangat berkaitan dalam menentukan penembakan sasaran maupun
penerjunan pasukan, dan membantu mengendalikan pesawat tempur untuk
penembakan/pengeboman sasaran (Ground Forward Air Control/GFAC)
Tidak main-main, para personil Paskhas juga memiliki kemampuan khusus sebagai Air
Traffic Controller (ATC) di sebuah bandara. Memang tidak ada satupun pasukan
komando seperti Paskhas didunia saat ini.

7
Karena Paskhas merupakan pasukan komando, maka dalam melaksanakan operasi
tempur, jumlah personel yang terlibat relatif sedikit, tidak sebanyak jumlah personel
infanteri/pasukan reguler dengan kata lain jarang menggunakan ukuran konvensional
mulai dari peleton hingga batalyon. Paskhas jarang sekali (mungkin tidak pernah)
melakukan operasi dengan melibatkan kekuatan satu batalyon sekaligus.

Organisasi pasukan

Setelah berubah status menjadi Kotamabin berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI
Angkatan Udara No. SKEP/73/III/1999 tanggal 24 Maret 1999, Korpaskhas membawahi
WING Paskhas (WING I, WING II, WING III), Detasemen Bravo Paskhas (Den Bravo
Paskhas) dan Detasemen Kawal Protokol Paskhas (Den Walkol Paskhas). Saat ini
Denwalkol berdasarkan Instruksi Kepala Staf Angkatan Udara nomor : Ins/2/III/2008
tanggal 31 Maret 2008 telah beralih pembinaannya dari Korpaskhas kepada Denma
Mabes-AU, sehingga efektif mulai tanggal dikeluarkan Instruksi tersebut pembinaan
Kawal Protokol dibawah Denma Mabesau.

Hirarki

Korps Pasukan Khas TNI-AU adalah satu


satunya wadah berbentuk korps bagi
pasukan berkualifikasi khusus di TNI-AU
bahkan dalam TNI. Korpaskhasau
bersanding dengan Kopassus TNI AD
adalah Pasukan khusus berstatus
KOMANDO resmi yang dimiliki oleh
TNI. Hal ini karena 2 organisasi pasukan
khusus ini bersifat (KOTAMA) BERDIRI
SENDIRI dengan pelatihan dan
kemampuan serang yang sangat lethal
secara individual. Paskhas lahir sebagai
pasukan komando sejak masa
kelahirannya. Mereka diterjunkan dengan
unit kecil di belakang garis pertahanan
lawan dan langsung menusuk jantung
pertahanan musuh. Maka itulah para
personel pasukan payung ini dididik
dengan metode komando yang diadopsi
dari SAS Inggris (melalui pendidikan di
Pusdik RPKAD). Metode pendidikan
komando “ala baret merah” mulai dilakukan di Wing III Diklat sejak Paskhas masih
bernama KOPPAU. Personil Paskhas juga diperkenankan tetap memakai baret jingga
kebanggaannya dan PDH Komando saat mengikuti berbagai upacara resmi
kenegaraan.Korpaskhasau memakai sebutan “Pasukan” untuk jargon korps nya disingkat
(Psk).

8
Struktur pasukan

Wing I/Harda Marutha (para komando) di Jakarta, membawahi :


Batalyon 461/Cakra Bhaskara Jakarta
Batalyon 462/Pulanggeni Riau
Batalyon 465/Brajamusti Pontianak
Kompi A Berdiri Sendiri di Medan
Kompi B Berdiri Sendiri di Subang
Kompi C Berdiri Sendiri di Aceh
Kompi D Paskhas Berdiri di Kupang

Wing II/Harda Marutha [Para Komando] di Malang, membawahi :


Batalyon 463 Trisula di Madiun
Batalyon 464 Nanggala di Malang
Batalyon 466 Pasopati di Makasar
Batalyon 467 Harda Dedali Yogyakarta
Batalyon 468 Sarotama di Biak

Wing III Paskhas Pusdik Paskhas di Margahayu Bandung, membawahi :


Satdik Tempur Darat
Satdik Matra/PSU
Satdik Khusus

Detasemen Bravo 90/Anti Teror Bajak Udara di Rumpin, Bogor.

Sesuai Peraturan Kasau /53/VIII/2008 tertanggal 13 Agustus 2008 tentang


Penyempurnaan Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Korps Paskhas TNI AU, maka
penyebutan "skadron" diubah menjadi "batalyon".
Untuk pengembangan organisasi kedepan saat ini tengah diusulkan ke Mabes TNI-AU
untuk pembentukan Wing III Paskhas di Makassar, Sulawesi Selatan untuk meng-cover
wilayah timur Indonesia. Selain itu direncanakan pula penambahan 3 batalyon baru
Paskhas yaitu Batalyon 468 di Medan, Batalyon 469 di Biak, Papua dan satu Batalyon
lagi di Yogyakarta atau Kupang sehingga nantinya Paskhas akan memiliki 10 Batalyon
pasukan.

9
Kekuatan pasukan

Paskhas saat ini berkekuatan 6.300-an personel. Dalam beberapa waktu kedepan
direncanakan Paskhas TNI-AU akan mendapatkan 40 buah panser buatan Pindad sebagai
cikal bakal Batalyon Kavaleri Paskhas. Namun rencana ini tengah mengalami negoisasi
ulang dikarenakan ranpur sejenis Panser dinilai tidak cocok dengan karakteristik tugas
dari Paskhas. Jika rencana re-negoisasi ini disetujui maka Paskhas berniat mendatangkan
kendaraan taktis sejenis Dirgantara Military Vehicle (DMV) buatan PT DI yang kini telah
dipakai oleh pasukan elit Paskhas Detasemen Bravo-90
Korps baret jingga ini telah diperkuat dengan kedatangan 200 rudal panggul permukaan
ke udara QW (QianWei)-3. Rudal QW-3 dilengkapi penjejak semi-active laser guidance,
cocok untuk menggasak pesawat tempur maupun rudal lain dalam ketinggian rendah
sampai dengan jarak 8 km. Memiliki bobot 13 kg dan kecepatan maksimum 750 km/jam.
Senjata ini dipergunakan untuk menggantikan Triple gun buatan Hispano Suiza
(Switzerland) tahun 1950-an dan DSHK 12,7 mm

Paskhas juga tengah berupaya mendatangkan 4 baterai PSU jarak pendek berupa
Oerlikon kaliber 35 mm untuk hanud titik model komposit yang sudah terintegrasi antara
rudal, meriam, radar dan pos komando taktis. Senjata ini sudah menggunakan teknologi
tercanggih dan telah digunakan oleh banyak negara Eropa. Menurut rencana, senjata PSU
ini akan ditempatkan di 3 Lanud Utama TNI-AU. Salah satu kelebihan utama lainnya
untuk PSU Oerlikon kaliber 35 mm ini adalah kemampuannya untuk dapat dimobilisasi
dengan pesawat Hercules.
Paskhas kini mengupayakan untuk mengganti senjata perorangan SS – 1 yang kabarnya
akan digantikan SiG-552 ataupun SS-2. Jujur saja, senjata SS-1 buatan Pindad memang
sudah tidak layak pakai. Sering macet dengan bekas las di sana – sini.

10
Komandan dari masa ke masa

Pangkat Nama Dari Sampai Keterangan


----- ----- 1946 1952 (masih bersifat lokal /PPP)
Kapten(U) RA Wiriadinata 1952 1960 ABDT (terdiri dari PPP, PGT, PSU)
Kapten (U) Sugiri Sukani 1960 1962 RTP-PGT
Suryadi PANGKOPPAU (masih dirangkap
Laksdya(U) 1962 1963
Suryadarma KSAU)
Komodor(U) RA Wiriadinata 1963 1964
Komodor (U) Ramli Sumardi 1964 1966
Komodor (U) RA Wiriadinata 1966 1967 Pangkopasgat
Komodor (U) Saleh Basarah 1967 1968
Kolonel (U) Soetoro 1968 1973 Danjen Kopasgat (sejak 1 Juli 1970)
Marsma TNI R Suprantijo 1973 1976
Marsma TNI Soemadji 1976 1978
Marsma TNI HJ Soekarseno 1978 1980
Kolonel
Sugiantoro 1980 1984
(Pnb)
Danpuspaskhasau (sejak 11 Maret
Marsma TNI LE Siagian 1984 1988
1985)
Marsma TNI M Suparman 1988 1990
Marsma TNI Eko Budiono 1990 1993
Marsma TNI Maksum Harun 1993 1994
Kolonel (Psk) Pakki Malik 1994 1996
Kolonel (Psk) Budhy Santoso 1996 1998 Dankorpaskhasau (sejak 7 Juli 1997)
Kolonel (Psk) Nanok Suratno 1998 2001
Kolonel (Psk) Daromi 2001 2003
Marsma TNI Subandrio 2003 2004
Kolonel (Psk) I Putu Sulatra 2004 2008
Kolonel (Psk) Harry Budiono 2008 sekarang

11
Operasi Militer

Penumpasan RMS, DI/TII dan PRRI/PERMESTA

Ketika terjadi beberapa pemberontakan di bumi Pertiwi ini, PPP ditugaskan pula untuk
menumpas pemberontakan DI/TII di wilayah Jawa Barat. Personil PPP melakukan
pengejaran di wilayah Tangkuban Perahu, Pegunungan Galunggung, Pegunungan Guntur
dan Pegunungan Tampomas. Selain itu PPP juga ikut melaksanakan penumpasan DI/TII
di Sulawesi Selatan dengan melakukan operasi yang dipimpin langsung oleh Letkol (U)
RA Wiriadinata. Saat penumpasan RMS tahun 1952, PPP mengerahkan 1 kompi
pasukannya di Kendari dan Pulau Buru, Maluku.
Pada peristiwa PRRI di Sumatera, dua kompi PGT pimpinan LU I Sugiri Sukani dan LU
I Rachman bersama 1 kompi RPKAD melakukan penerjunan untuk pertama kali pada 12
Maret 1958 saat Operasi Tegas di Pangkalan Udara Simpang Tiga, Pekanbaru. Empat
hari berselang pada operasi Sapta Marga 16 Maret 1958, pasukan yang sama dari PGT
bersama RPKAD kembali melakukan penerjunan di Medan.
Ketika operasi 17 Agustus di Sumatera Barat, PGT mendapat tugas untuk merebut Lanud
Tabing di Padang. Untuk mengawali operasi ini, delapan personil PGT dipimpin Letkol
(U) RA Wiriadinata ditugaskan melakukan operasi khusus. Tim kecil PGT ini mendapat
tugas menentukan titik penerjunan yang paling aman bagi pasukan TNI. Pendaratan open
sea ini, terbilang berbahaya. Ombak besar menyulitkan pendaratan. Akibatnya, saat regu
PGT mendarat dengan motor-tempel kecil di pantai, perahunya pecah. Sampai di pantai,
mereka bergerak cepat, menyusup, menentukan koordinat, dan membuat kode-kode
rahasia pada DZ. Tentu tidak gampang menentukan lokasi DZ, mengingat pasukan PRRI
tersebar di mana-mana.
Pada 17 April 1958 tepat pukul 06.40 satu batalyon PGT dan satu kompi RPKAD
diterjunkan dan langsung mendapat perlawanan dari pasukan PRRI, akibatnya satu
personil PGT gugur. Selain itu Lanud Tabing juga sudah dipenuhi oleh ranjau paku dan
bambu-bambu runcing yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Pada 20 Mei 1958, satu kompi PGT dipimpin Kapten (U) R Suprantijo kembali
diterjunkan di Morotai saat operasi Merdeka untuk menumpas Permesta di Sulawesi
Utara dan Maluku.

12
Beberapa waktu kemudian satu kompi PGT dipimpin LU I Heru Achjar berhasil merebut
bandara Mapanget di Manado. Begitu gencarnya pertempuran di darat maupun dari
udara, hingga sempat memancing pesawat Lockheed U-2 Dragon Lady milik AU
Amerika (USAF). Pesawat ini pernah dimanfaatkan mengintai pulau Natuna yang
disiapkan untuk menggempur Jakarta

Operasi Trikora

PGT AURI dalam operasi Trikora mengambil porsi terbesar jumlah pasukan yang
diinfiltrasi ke Irian Barat dengan total 532 orang.
Jumlah personil dari TNI, Polri dan relawan yang diinfiltrasikan selama Trikora adalah
1.154 personil dengan jumlah korban jiwa 216 gugur/hilang dan 296 tertangkap.
Pada tanggal 25 April 1962, saat operasi Banteng Ketaton sebanyak 40 orang pasukan
PGT dibawah pimpinan Sersan Mayor (U) J. Picaulima diterjunkan untuk pertama kali di
Irian Barat yaitu di daerah Fak-Fak begitu juga penerjunan yang dilakukan 39 personil
PGT di Kaimana tanggal 26 April 1962 berhasil dengan baik.
Pada 11 Mei 1962, pasukan PGT dibawah pimpinan Letnan Satu (U) Manuhua
melaksanakan penerjunan di Sorong saat Operasi Serigala.

Salah satu kisah


heroik dan
bersejarah adalah
peristiwa
pengibaran Sang
Saka Merah Putih
untuk pertama kali
dipancangkan di
bumi Cendrawasih,
Irian Barat, yang
dilakukan oleh
anggota PGT atas
inisiatif Sersan (U)
M.F. Mengko. Pada
tanggal 19 Mei
1962, sebanyak 81
anggota PGT bertolak dari Pangkalan Udara Pattimura, Ambon, dengan pesawat
Hercules yang dipiloti Mayor (U) T.Z Abidin menuju sasaran daerah penerjunan sekitar
Kampung Wersar, Distrik Teminabuan. Mereka diterjunkan tepat diatas markas tentara
Belanda. Kisah heroik ini mengakibatkan tewasnya 53 anggota PGT AURI termasuk
komandan tim Letnan Dua (U) Suhadi. Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut di
daerah Teminabuan, Sorong kini telah didirikan sebuah monumen yang diberi nama Tugu
Merah Putih.
Untuk memperkuat posisi tentara Indonesia di Irian Barat dilaksanakan operasi Jatayu
pada 14 Agustus 1962 dengan rincian Kelompok Elang dibawah pimpinan Kapten (U)
Radik Sudarsono diterjunkan di Sorong dan Kelompok Alap-alap di daerah Merauke
dipimpin Letnan (U) Benyamin Matitaputty.

13
Suatu hal yang amat mengagumkan adalah kemampuan untuk bertahan hidup
(survival)dari prajurit PGT. Meskipun dengan kondisi alam Irian Barat yang ganas
dimana berhutan lebat dengan ketinggian pohon mencapai diatas 50 meter, langkanya
binatang maupun tumbuhan yang dapat dimakan, ancaman penyakit malaria, kekurangan
logistik dan obat-obatan ditambah serangan gencar dari pesawat tempur maupun tentara
Belanda, namun mereka masih mampu bergerilya didalam hutan sampai menjelang
terjadinya gencatan senjata.
Penerjunan dilaksanakan dini hari menjelang subuh. Prajurit PGT dikepekatan malam
yang amat dingin diterjunkan diatas hutan-hutan belantara di dekat kota-kota kecil Irian
Barat. Para prajurit PGT cukup tangguh untuk berjuang melawan hutan belantara yang
pepohonannya amat tinggi, sehingga sebelum mencapai tanah mereka harus bergelut
dengan tali dan pisau komando agar bisa turun karena rata-rata tersangkut dipepohonan.
Secara total dilakukan 9 kali penerjunan yang dilakukan PGT selama operasi Trikora di
daerah Kaimana, Fak-Fak, Sorong (Sausapor, Klamono dan Teminabuan) serta Merauke
dengan mengakibatkan gugurnya 94 orang prajurit dan 73 orang terluka

Operasi Dwikora

Seperti halnya saat Trikora, pada saat operasi Dwikora PGT AURI juga menjadi pasukan
yang pertama kali diterjunkan ke wilayah Malaysia.
Berbeda dengan Trikora maupun saat penumpasan PRRI/PERMESTA, kali ini PGT
bertindak sebagai pelaku tunggal penerjunan (solo performer) tanpa didampingi kesatuan
lain dari TNI-AD. Selain melalui udara, personil PGT juga melakukan infiltrasi lewat
jalur darat dan laut.
Pada tanggal 31 Januari 1964, PGT
melakukan penyebaran pamflet
dengan pesawat Hercules C-130 di
daerah perbatasan (Sabah, Tawau
dan sekitar Pulau Sebatik)
Sejak bulan April 1964, dua kompi
PGT dibawah pimpinan LMU I
Sutikno dan LMU I Sukimin
dipersiapkan dalam rangka infiltrasi
melalui laut. Pasukan ini kemudian
diberangkatkan ke Tanjung Balai,
Karimun dengan kapal motor.
Untuk pertama kalinya pada tanggal 16 Agustus 1964, satu peleton dipimpin SMU
Sadikin berhasil menyusup lewat laut ke Pontian Kecil, Johor Baru. Keesokan harinya
bertepatan dengan hari kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1964 kembali satu peleton
PGT pimpinan SMU Suparmin disusupkan ke wilayah Malaysia lewat jalur laut.
Sebelumnya pada dini hari sebanyak 17 personil PGT berhasil melakukan penerjunan di
selatan Johor.
Dalam penerjunan pada tanggal 1-2 September 1964 diterjunkan 3 peleton pasukan
terdiri dari 1 peleton dari kompi LU I Suroso,Jakarta dan 2 peleton dari kompi LMU
Sutikno,Bandung.

14
Ironisnya, salah satu pesawat C-130 Hercules yang diterbangkan Mayor (U) Djalaloedin
Tantu bersama 7 awak pesawat jatuh ke selat Malaka. Sebuah sumber menyatakan bahwa
kecelakaan pesawat Hercules yang melakukan terbang malam tersebut akibat terbang
terlalu rendah untuk menghindari deteksi radar lawan. Mayor (U) Sugiri Sukani,
Komandan Resimen PGT dan LU I Suroso ada didalam pesawat malang tersebut. Unsur
yang ikut tewas dalam peristiwa tersebut adalah 47 orang personil PGT ( 40 orang dari
Jakarta dan 7 orang dari Bandung) dan 10 orang Cina Melayu, diantaranya adalah dua
gadis. Sedangkan 2 Hercules lainnya berhasil menerjunkan pasukan PGT di daerah
sasaran. Sasaran penerjunan ini adalah daerah Taiping, Labis dan Ipoh.
Hanya dalam waktu dua hari, hampir semua personil PGT dapat ditangkap akibat
pengkhianatan dari penunjuk jalan yang berasal dari etnis Melayu dan Cina. Mereka baru
dibebaskan dari penjara Malaysia setelah 11 Maret 1966 dan dipulangkan ke Indonesia.
Setiba di Jakarta, akibat efek dari peristiwa G-30S/PKI mereka kembali ditahan di
Cijantung di asrama RPKAD dan diberi julukan ”Tentara Merah”. KU I Sukardi yang
tertangkap dan divonis hukuman gantung oleh pemerintah Malaysia akhirnya dibebaskan
pasca gencatan senjata RI – Malaysia.
Hampir seluruh personil PGT yang diinfiltrasikan ke Malaysia tertangkap akibat
banyaknya operasi yang secara sengaja ”dibocorkan” oleh oknum-oknum di Indonesia.
Sedangkan 4 personil PGT yang kembali dengan selamat dan tidak tertangkap
mendapatkan anugerah Bintang Sakti dari Presiden RI bersama-sama dengan anggota
yang gugur.
Jumlah personil PGT yang gugur/hilang selama operasi Dwikora berjumlah 83 orang
sedangkan yang tertangkap/terluka berjumlah 117 orang.

Operasi Seroja

Dalam Operasi Seroja, Kopasgat tidak berfungsi sebagai pasukan pemukul seperti yang
dilakukan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dalam penumpasan pemberontakan
PRRI/Permesta, perjuangan Trikora dan Dwikora. Kopasgat yang terdiri dari Pengendali
Tempur (Dalpur), Pengendali Pangkalan (Dallan) dan Satuan Tempur (Satpur) bertugas
membentuk pangkalan udara operasi dan
pengamanannya.
Gelaran pertama Kopasgat terjadi tanggal 7 Desember
1975 saat 126 personil Detasemen-B Kopasgat yang
dipimpin Kapten (Psk) Silaen diterjunkan dengan cara
air landed di lapangan terbang Dili, selang dua hari pada
9 Desember 1974 delapan Hercules C-130 menerjunkan
pasukan dari Yonif Linud-328 Kostrad, Grup-1
Kopassus, Yonif 401/Banteng Raiders dan 156 personil
Kopasgat pada pukul 07.25 WIT. Tugas Kopasgat adalah membebaskan lapangan terbang
Baucau, atau lebih populer dengan Villa Salazar dalam bahasa Portugis. Detasemen-A
Kopasgat dipimpin Kapten (Psk) Afendi. Operasi ini sekaligus membuktikan kemampuan
Kopasgat melaksanakan Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara
Depan (OP3UD). Jumlah personil Kopasgat yang luka-luka saat penerjunan di Baucau
adalah 19 orang terdiri dari 2 orang Satpur dan 17 orang Dallan.

15
Jauh sebelum operasi Seroja dimulai, Kopasgat bersama satuan elit lainnya di TNI sudah
terlebih dahulu masuk ke wilayah Timor-Timur untuk membentuk kantong-kantong
gerilya serta mendukung para pejuang pro integrasi
Selama operasi Seroja, kehadiran Kopasgat amat disegani baik oleh rakyat maupun
gerilyawan Fretilin karena sikapnya yang simpatik dan mampu merebut hati rakyat.
Markas Kopasgat seringkali dijadikan tempat perlindungan oleh rakyat untuk
menghindari konflik bersenjata yang terjadi. Warna baret jingga dan loreng komando
khas Kopasgat kala itu amat populer di Timor-Timur. Hal ini berimplikasi pula pada
sedikitnya jumlah personil Kopasgat yang gugur selama operasi Seroja bila dibandingkan
dengan satuan lainnya di TNI.
Jumlah personil TNI yang gugur di Timor-Timur antara tahun 1974-1999 adalah 2.292
orang sedangkan dari pihak pejuang pro integrasi mencapai jumlah 1.527 orang.

Operasi Trisula dan Penumpasan PGRS/Paraku

Kopasgat turut serta dalam operasi Trisula Kodam V Brawijaya tahun 1967 di daerah
Blitar Jawa Timur guna penumpasan sisa-sisa gerakan PKI didaerah tersebut. Dalam
mendukung operasi ini Kopasgat mengerahkan satu kompi pasukannya dari Resimen III
dibawah pimpinan LU II Wim Mustamu. Pada tahun 1967-1969 timbul pergolakan di
Kalimantan Barat yang dikenal dengan nama Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS)
dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) berasal dari warga keturunan Tionghoa
simpatisan komunis diwilayah Kalimantan.
Untuk menghadapi PGRS/Paraku,
pemerintah memutuskan untuk
menggelar operasi Saber Kilat.
Kopasgat sendiri melakukan tugasnya
secara berkala dan diadakan
pergantian pasukan pada periode
tertentu sampai dengan operasi
selesai tahun 1969. Perwira Kopasgat
yang bertugas dalam operasi ini
antara lain Kolonel (U) Z. Rachiman,
Letkol (U) Sudjito, LU I Samadikun,
LU I Mashud, LU I Sudadyo, LU I
Nasroel dan LU II Siswoto Soemali
dan LU II Joenoes. Dalam operasi ini
gugur 2 orang personil Kopasgat asal Resimen I dan 4 orang lainnya gugur saat peristiwa
Lanud Singkawang II

Operasi Sipil

Selain mengabdikan dirinya dalam tugas-tugas operasi militer, prajurit paskhas juga ikut
berpartisipasi dalam misi kemanusiaan seperti operasi Tinombala dan Tampomas
penanggulangan bencana alam, Tentara Masuk Desa dan karya bakti TNI lainnya.

16
Misi Perdamaian

Keterlibatan Paskhas dalam misi perdamaian di luar negeri di bawah bendera PBB seperti
tergabung dalam:
Kontingen Garuda di Vietnam,
Kontingen Garuda XIV dibawah Unprofor di Yugoslavia,
Kontingen Garuda XIV A-B di Bosnia,
Kontingen Garuda XVII dibawah OKI di Filipina,
Kontingen Garuda XXIII di Libanon dan penugasan militer di luar negeri lainnya.

Identitas Korps Baret Jingga

Di era Kopasgat mulai dipergunakan baret berwarna jingga dengan emblem berbentuk
segilima. Dirasa kurang pas, emblem itu diganti dengan bentuk persegi seperti yang saat
ini dipakai Paskhas. Motto yang tertulis pada emblem berbunyi Karmaye Vadikaraste
Mafalesu Kadatjana yang artinya “bekerja tanpa menghitung untung dan rugi”.
Sementara badge yang dipasang di lengan kiri merupakan gambar lama yang digunakan
PGT. Badge itu berupa perisai berwarna merah menyala dengan gambar parasut
mengembang menerjunkan dua jenis senjata ringan dan berat. Dari gambar itu dapat
diartikan bahwa Kopasgat adalah pasukan Linud yang gagah berani. Kedua lambang,
emblem dan badge serta baret berwarna jingga saat ini masih digunakan sebagai ciri
pasukan elit TNI-AU. Selain itu dilengan kanan ditambahkan pula badge dengan tulisan
Para Komando sebagai ciri khas Pasukan Para Komando Udara. Badge ini juga dipakai
dilengan kanan pakaian dinas setiap para KSAU sebagai wujud penghormatan kepada
satuan elit dilingkup TNI-AU ini

Dirangkum dari wikipedia indonesia, www.tni-au.mil.id dan dari berbagai sumber.


SPO-JGAS 2010

17