Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH

PENGUKURAN SUDUT

KELOMPOK 17

Anita (0906636756)
Tatika Widyasari (0906516120)
Vincent (0906557404)
Windi Silvia (0906637001)

Tanggal Praktikum : 03 Oktober 2010


Asisten Praktikum : Aryasa Pradeni
Tanggal disetujui :
Nilai :
Paraf Asisten Modul :

LABORATORIUM SURVEY DAN PEMETAAN


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2009
A. Tujuan
1. Mengetahui besar sudut horizontal
2. Menetukan letak koordinat satu titik
3. Menghitung azimuth suatu arah
4. Menghitung kesalahan indeks

B. Peralatan
1. Rambu (Pengukur Ketinggian) 1 buah
2. Theodolit 1 buah
3. Patok 6 buah
4. Statif 1 buah
5. Meteran 1 buah
6. Penggaris segitiga 1 buah

C. Teori
Lokasi titik-titik dan orientasi garis-garis sering tergantung pada pengukuran
sudut dan arah. Dalam pengukuran sebidang tanah, arah ditentukan oleh sudut arah
dan azimut.
Pengukuran sudut merupakan bagian dari survey detail dan control. Alat
theodolit juga digunakan untuk mengukur besar sudut, baik sudut vertikal ataupun
sudut horizontal, tergantung pada bidang datar dimana sudut tersebut diukur.. Sudut
horizontal adalah sudut yang dibentuk antara suatu titik dengan garis horizontal.
Jenis-jenis sudut horizontal yang paling biasa diukur dalam pengukuran tanah
adalah :
1. Sudut dalam
2. Sudut ke kanan
3. Sudut belokan
Tiga persyaratan dasar menentukan sebuah sudut yaitu :
1. Garis awal atau acuan
2. Arah perputaran
3. Jarak sudut (harga sudut)
Pada saat pengukuran di lapangan seharusnya dipakai prosedur yang seragam,
misalnya bila mungkin selalu mengukur sudut searah jarum jam, dan arah putaran
ditunjukkan dalam buku lapangan dengan sebuah sketsa. Sudut antara dua jurusan
A dan B dapat diketahui dengan menghitung selisih pembacaan sudut horizontal
pada theodolit yang diarahkan ke A dan B.
Ada empat cara untuk menentukan sudut antara dua jurusan, yaitu:
a) Cara reiterasi
b) Cara repetisi
c) Cara dengan mengukur jurusan
d) Cara dengan mengukur sektor-sektor.
Koordinat suatu titik dapat dihitung berdasarkan suatu titik referensi yang sudah
diketahui titik koordinatnya. Rumus yang digunakan adalah:
XA = XT + dTA sin αTA
YA = YT + dTA cos αTA
Dimana:
α TA = azimuth TA
T = titik referensi
dTA = jarak antara titik A dan B
d dapat dihitung dengan rumus :
d = 100 (a-b) cos2α
beda tinggi dapa dihitung dengan rumus :
Δt = 50 (a-b) sin 2α
Dimana:
a = pembacaan benang atas
b = pembacaan benang bawah
α = sudut vertikal
Sudut vertikal dapat diketahui dengan cara sebagai berikut:
1. Ukur tinggi theodolit dari as teropong (sumbu I) sampai permukaan tanah,
misalnya = y meter
2. Arahkan teropong ke rambu pada ketinggian y meter
3. Baca besar sudut vertikal
Azimuth adalah besar sudut antar utara magnetis (nol derajat) dengan titik
sasaran yang kita tuju, azimuth sering disebut sudut kompas, perhitungan searah
jarum jam.
Ada tiga macam azimuth yaitu :
a) Azimut sebenarnya
b) Azimut magnetis
c) Azimut peta
Azimuth sebenarnya yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya
dengan titik sasaran. Azimuth magnetis adalah sudut yang dibentuk antara utara
kompas dengan titik sasaran. Sedangkan azimuth peta yaitu besar sudut yang
dibentuk peta dengan titik sasaran.
Back azimuth adalah besar sudut atau kebalikan /kebelakang dari azimuth. Cara
menghitungnya bila sudut azimuth lebih dari 180° maka sudut azimuth dikurangi
180°, bila sudut azimuth kurang dari 180° maka sudut azimuth ditambahkan 180° ,
bila sudut aizmuth sama dengan 180° maka sudut back azimuthnya adalah 0° atau
360°

D. Prosedur
1. Pasang statif pada suatu titik (kita asumsikan alat berada pada koordinat X, Y
adalah 0,0 )
2. Atur nivo pada theodolit sampai posisi gelembung berada di tengah dengan
mengatur sekrup pada statif.
3. Pasang 1 pasak di bawah statif dengan melihat lup central point, sehingga
benang silang berada tepat pada kaki pasak.
4. Pasang 5 buah patok secara acak dengan jarak minimal 10 meter dari theodolit.
Sudut Biasa
5. Ukur tinggi theodolit, buka teropong atur sehingga sudut vertikal 90 o00’00”
kunci sudut vertikal agar besarnya tidak berubah.
6. Bidik titik A, kunci titik A lalu baca benang atas, benang tengah, dan benang
bawah pada rambu dengan bantuan penggaris segitiga
7. Jadikan titik A sebagai acuan sudut horizontal, dengan mengubah besar sudut
saat membidik titk I menjadi 0o 0’0”
8. Bidik titik B, dengan mengeser theodolit secara perlahan lalu setelah dapat titik
B, kunci teropong sehingga kita dapat mengetahi besar perpindahan sudut dari
titik acuan, setelah itu baca benang atas, benang tengah, dan benang bawah
pada rambu dengan bantuan penggaris segitiga
9. Lakukan langkah-langkah di titik B pada titik C, D, E, dan F.
Sudut Luar Biasa
10. Putar theodolit 180°, lalu atur sudut vertikalnya menjadi 270°00’00’’, lalu
kunci agar sudut horizontal tidak berubah.
11. Bidik kembali titik A, kunci, lalu lakukan pembacaan benang atas, tengah dan
bawah. Catat hasil pengukuran.
12. Lakukan langkah-langkah seperti pada pengukuran sudut biasa pada titik B, C,
D, E, dan F.
13. Setelah itu, ukur jarak dari theodolit ke masing-masing titik dengan meteran.

E. Data Praktikum
 Tinggi alat : 122.3 cm
D
BA BT BB Sudut HA Sudut HA
Letak alat Titik lapangan
(cm) (cm) (cm) biasa luar biasa
(cm)
I 132.7 129.9 127.3 0o00’00” 543
II 126.6 120.0 115.3 320o39’55” 958
OVA
III 118.3 111.5 110.5 2o42’20” 1333
90o00’00”
IV 126.4 120.4 114.6 33o 37’45” 1174
V 133.3 129.4 125.5 67o40’30” 780
I 132.3 129.3 126.7 178o20’30” 543
II 124.4 119.8 115.0 140o57’10” 958
OVA
III 118.9 112.3 105.7 182o50’05” 1333
270o00’00”
IV 126.6 120.9 115.2 213o47’20” 1174
V 133.0 129.1 125 247o30’45” 780
F. Pengolahan Data

 Perhitungan
1. Jarak Optis
Untuk mencari d jarak titik satu dengan titik lain

D = 100(BA-BB)

Dengan:
BA = benang atas di rambu
BB = benang bawah di rambu
Pengukuran Sudut Biasa
DI = 100 (132.7 – 127.3) = 540 cm = 5.4 m
DII = 100 (126.6 – 115.3) = 1130 cm = 11.3 m
DIII = 100 (118.3 – 110.5) = 780 cm = 7.8 m
DIV = 100 (126.4 – 114.6) = 1180 cm = 11.8 m
DV = 100 (133.3 – 125.5) = 780 cm = 7.8 m
Pengukuran Sudut Luar Biasa
DI = 100 (132.3 – 129.3) = 560 cm = 5.6 m
DII = 100 (124.4 – 115.0) = 940 cm = 9.4 m
DIII = 100 (118.9 – 105.7) = 1320 cm = 13.2 m
DIV = 100 (126.6 – 115.2) = 1140 cm = 11.4 m
DV = 100 (133.0 – 125.0) = 800 cm =8 m

2. Ketinggian tanah
Dengan asumsi bahwa letak theodolit merupakan titik (0,0) maka rumus
untuk menentukan ketinggian tanah (h) relatif terhadap alat adalah :
H = BT – TA
dengan H adalah ketinggian tanah, TA adalah tinggi alat, dan BT adalah
benang tengah.
Pengukuran Sudut Biasa
HI = 129.9 – 122.3 = 7.6 cm
HII = 126.6 – 122.3 = -2.3 cm
HIII = 118.3 – 122.3 = -10.8 cm
HIV = 126.4 – 122.3 = -1.9 cm
HV = 129.4 – 122.3 = 7.1 cm
Pengukuran Sudut Luar Biasa
HI = 129.3 – 122.3 = 7 cm
HII = 119.8 – 122.3 = -2.5 cm
HIII = 112.3 – 122.3 = -10 cm
HIV = 120.9 – 122.3 = -1.4 cm
HV = 129.1 – 122.3 = 6.8 cm
3. Sudut α

α=
Titik sudut biasa sudut luar biasa slb - 180 SB + (SLB-180°)
2
I 0 178.34 1.66 0.83
II 320.66 140.95 320.95 320.805
III 2.71 182.83 -2.83 2.77
IV 33.61 213.79 -33.79 33.7
V 67.67 247.51 -67.51 67.59

4. Plot Titik
X = DLapangan . sin α
Y = DLapangan . cos α

Titik x y
I 7.86 542.94
II 2.42 -957.99
III 64.42 1331.44
IV 651.38 976.71
V 721.09 297.36
Grafik
1400

1200

1000

800

600

400

200

0
-800 -600 -400 -200 0 200 400 600 800

Titik I Titik II Titik III Titik IV Titik V

5. Kesalahan relatif

Kesalahan relatif pada jarak

KR D optis=| D optis−Dlapangan
D lapangan |x 100 %
KR Sudut =¿
 Titik I

KR D optis I = |540−543
543 |
x 100 %=0.55 %

KR Sudut I =¿
 Titik II

KR D optis II = |1130−954
958 |x 100 %=17.95 %
KR Sudut II=¿
 Titik III

KR D optis III = |1333−780


1333 |
x 100 %=41.4 %

KR Sudut III =¿
 Titik IV

KR D optis IV = |1174−1180
1174 |
x 100 %=0.55 %

KR Sudut IV =¿
 Titik V

KR D optis V = |780−780
780 |
x 100 %=0.00 %

KR Sudut IV =¿
G. Analisis

 Analisis Praktikum

Praktikum pengukuran sudut ini dimulai dengan menempatkan patok


di tempat dimana theodolit akan dipasang. Setelah itu patok-patok yang lain
diletakkan di titik-titik yang nantinya akan diukur jaraknya.

Theodolit yang akan digunakan dedirikan diatas statif dengan


diarahkan pada patok yang telah dipasang. Tinggi statif disesuaikan dengan
mengatur panjang ketiga kaki. Sebaiknya agar posisi theodolit tepat pada
patok, sebaiknya digunakan unting-unting, tapi pada praktikum ini, karena
keterbatasan alat, maka tidak digunakan unting-unting. Tapi dengan melihat
lup central point, maka dapat ditentukan posisi theodolit yang tepat di atas
patok. Apabila benang silang berada tepat di patok, maka posisi theodolit
sudah tegak dengan patok.

Agar posisi theodolit tegak lurus dan mendatar, praktikan harus


memperhatikan nivo kotak dan tabung. Baik pada nivo kotak maupun
tabung, gelembung pada nivo harus berada tepat ditengah. Gelembung pada
nivo dicocokan dengan mengatur ketinggian tiga kaki theodolit
menggunakan leveling screw. Ketika gelembung nivo sudah ditengah, maka
posisi theodolit sudah tegak dan mendatar.

Setelah menyetel posisi theodolit, praktikan menyetel sudut vertikal


theodolit pada 90o00’00” dan sudut horizontal 00o00’00”. Lalu praktikan
mengukur tinggi theodolit.

Kemudian pengukuran dimulai, dari titik I, II, III, IV, dan V,


kesemuanya diukur jaraknya dari theodolit dengan melihat angka yang
tampak pada rambu yang telah diletakkan pada titik-titik tersebut. Angka
ratusan (cm) yang terlihat pada theodolit kemudian diberitahukan kepada
pengukur yang memegang rambu, agar kemudian pengukur yang memegang
rambu dapat meletakkan penggaris segitiga pada angka tersebut, lalu angka
pada penggaris segitiga dibaca benang atas, benang tengah, dan benang
bawahnya.

Pada saat rambu diletakkan di salah satu patok, pengukur yang


melihat dari theodolit mencatat benang atas, benang tengah, dan benang
bawah yang terlihat dari theodolit. Pada setiap pengukuran satu titik, dicatat
juga sudut horizontalnya.

Berikutnya, dilakukan pengkuran dengan sudut luar biasa, yaitu


mengubah sudut vertikal theodolit menjadi 270o00’00” dan sudut horizontal
180000’00”. Kemudian mengukur jarak setiap titik dari theodolit dengan
cara yang sama seperti sebelumnya.

 Analisis Hasil

Hasil dari Percobaan yang telah kami lakukan mengenai pengukuran sudut
dengan menggunakan theodolit, diantaranya jarak optis yaitu jarak antara
theodolit dengan tiap titik yang didapatkan dari rumus :
d= 100(BA-BB)
Dengan hasil titik I berjarak 5.4 meter, titik II berjarak 11.3 meter, titik III
berjarak 7.8 meter, titik IV berjarak 11.8 meter, dan titik V berjarak 7.8
meter. Keenam jarak optis ini tentunya berbeda dengan jarak lapangan
(jarak hasil pengukuran di lapangan), dengan perbedaan yang bervariasi dan
salah satu titik memiliki perbedaan yang sangat besar.

Dari pengukuran dengan menggunakan meteran didapatkan letak titik


koordinat dengan menggunakan rumus
X = Dlapangan . sin α
Y = Dlapangan . cos α

Dari perhitungan dengan rumus di atas, maka didapatkan koordinat dalam


grafik sebagai berikut :
1400

1200

1000

800

600

400

200

0
-800 -600 -400 -200 0 200 400 600 800

Titik I Titik II Titik III Titik IV Titik V

Dengan posisi alat berada pada titik (0,0)

 Analisis kesalahan

Kesalahan jarak yang terjadi pada pengukuran jarak relatif besar dengan
yang paling besar kesalahan mencapai 41.4%, tapi ada pengukuran yang
sangat akurat dengan kesalahan 0.00%. Jika dirata-ratakan kesalahan relatif
pada pengukuran jarak adalah 12.09%. Tingkat kesalahan yang besar ini
mungkin terjadi karena hal-hal berikut:

o Pembacaan benang atas, benang tengah, dan benang bawah yang


tidak teliti
o Pengukur yang memegang rambu tidak memegang rambu dengan
tegak

o Mata pengukur yang membaca angka rambu pada theodolit minus

o Pengukur yang memegang rambu tidak meletakkan penggaris


segitiga dengan tepat pada angka yang dicari

o Pengukuran dengan meteran tidak akurat karena ada kesalahan pada


saat menarik meteran, seperti misalnya meteran melilit, bagian
tengah meteran melendut, dan meteran berbelok karena rumput-
rumput di lapangan.

Pada pengukuran sudut, semua persentase kesalahan relatif kecil dengan


rata-rata 0.25%. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada pengukuran sudut,
praktikan mengumpulkan data yang cukup akurat.

H. Kesimpulan

Dengan mengukur sudut dan benang atas, benang tengah, dan benang
bawah, kita dapat mengetahui jarak titik dari alat dan kemudian memplot titik
pada gambar koordinat dengan asumsi bahwa titik dimana alat berada adalah titik
(0,0).
Percobaan ini memiliki banyak error yang terlihat dari tingkat kesalahan
yang mencapai 41.4%. Tapi jika melihat rata-rata kesalahan relatif pada
pengukuran ini yang relatif kecil, yaitu 6.17%, maka dapat dikatakan bahwa
praktikum kali ini cukup akurat.

I. Daftar Pustaka

Pedoman Praktikum Ilmu Ukur Tanah. Laboratorium Survey dan Pemetaan.


Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Anda mungkin juga menyukai