Anda di halaman 1dari 2

PENGEMBANGAN SDM

Oleh: H.Supardi

Di masa lalu sering kita atau lebih sering mengatakan pembinaan SDM. Joke yang berkembang
dengan istilah pembinaan adalah pembinasaan. Pembinaan SDM menjadi pembinasaan SDM.
Oleh sebab itu joke tersebut terus menjadi kenyataan sampai sekarang. SDM pada setiap
organisasi termasuk organisasi perusahaan terrus saja terpuruk baik menjadi SDM yang tidak
productive, menjadi SDM sering berperilaku yang disebut human error. Selama masa mudik
sampai sekarang kita melihat tayangan televisi, mendengar berita radio, membaca surat
kabar/majalah berbagai musibah dan peristiwa yang disebabkan karena adanya human error.
Di angkutan darat misalnya, ada saja kendaraan BUS umum yang mengalami peristiwa
kecelakaan lalu lintas jalan raya yang disebabkan oleh kurang hati-hati dan pengendalian
SDMnya. Rem ‘blong” tentu bukan semata-mata mesin yang rusak tetapi SDM yang tidak
melakukan pengecekan (ceking) terhadap peralatan, mesin kendaraan secara baik. Kendaraan
angkutan barang (truk), truk besar (tronton) dan truk-truk kecil sering dijumpai mengalami
kecelakaan lalu lintas yang disebabkan karena rem “blong”, pengemudi ngantuk tetapi terus
memaksakan diri terus melaju di jalan raya tanpa sadar kegiatan ini sangat membahayakan diri
sendiri maupun orang lainnya.
Yang paling dekat ingatan kita adalah secara beruntun adanya musibah kecelakaan
kendaraan umum angkutan darat yang selama ini dianggap paling aman dari resiko kecelakaan
yaitu jasa kereta api (KA). KA Argo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya menyeruduk (menabrak
dari belakang) KA Senja Utama Jakarta-Semarang di Pemalang. Musibah ini sementara
mengakibatkan 36 orang meninggal dunia dan puluhan luka berat serta seorang masinis menjadi
tersangka. Belum lagi kerugian hancurnya sarana dan prasarana perjalanan KA. Di tempat
terpisah juga terjadi kecelakaan angkutan KA di Solo yaitu KA Gaya Baru Malam disrempet
bagian rangkaian gerbong paling belakang oleh KA Bima dengan akibat 1 orang tewas dan
beberapa luka serta kerugian sarana dan prasarana. Memang belum dibuktikan kesalahan siapa
atas kedua peristiwa yang membuat miris perasaan kita ini. Namun segalanya rasanya tidak akan
jauh dari peran SDM yang disebut dengan human error.
Kelalaian SDM sering berakibat fatal. “Rasa ego” diri sang driver atau masinis bisa
membuat fatal dalam kecelakaan transportasi KA ini. Jalan sudah diatur dan pasti pilihannya.
Kalau SDM masinisnya tidak menggunakan”kebajikan” dalam menjalankan tugasnya, maka
apa saja bisa terjadi. Merasa sudah diberikan lampu hijau maka KA tetap dijalankan secara
kencang walaupun akan melewati sebuah stasiun KA. Kalau SDM menyadari melewati sebuah
stasiun yang nota-bene dipastikan banyak orang dan kerumunan, maka kalau dikurangi
kecepatannya akan bijak dan akan sedikit dikurangi resiko kecelakaan. Inilah mentalitas
kebajikan SDM dalam menjalankan tugas-pokok dan fungsinya. Namun kalau dia menggunakan
pendekatan mentalitas “aku yang berkuasa” maka jalan ini jalanku maka aku bebas
menggunakan sehingga musibah akan menghadang kita semua.
Oleh sebab itu, kalau kata pembinaan SDM sudah tidak tepat dipergunakan dalam
kasanah manajemen SDM, maka kita bisa menggunakan istilah pengembangan SDM. Pengunaan
pengembangan SDM tidak bisa lagi diplesetkan atau dibuat joke lagi. Pengembangan SDM
sebuah upaya yang kontinyu dan berkelanjutan dalam meningkatkan kemampuan kerja SDM.
Pengembangan SDM bukan semata-mata menambah kemampuan kerja dalam istilah lain
ketrampilan kerja, namun pengembangan SDM juga menambah pengetahuan, menambah
penguatan mentalitas dan spiritualitas kerja SDM. Membangun mentalitas dan spiritualitas kerja
SDM dewasa ini menjadi sangat penting dan strategic. Hal ini dapat diuraikan bahwa
pengembangan SDM bukan saja hanya ketrampilan kerja yang cenderung membuat SDM hanya
seperti robot saja, akan tetapi membangun ketramnpilan dengan pengetahuan dan mentalitas
yang sesuai dengan kebajikan dalam kerja. SDM yang trampil tetapi juga memiliki rasa dan hati
nurani atas resiko yang akan menimpa pada diri sendiri maupun orang lain manakala SDM tidak
melaksanakan ketrampilan kerjanya dengan mentalitas yang baik.
Pengembangan SDM pada ranah ketrampilan dan perilaku kerja sangat penting untuk
efektivitas dan efisiensi kerja, namun juga penting adanya pengembangan SDM pada ranah
mentalitas dan spiritualitas agar hasil kerja tetap efektive dan efisien serta mendapat barakhah
dari Sang Pencipta Manusia dan alam seisinya. Semoga.
Penulis adalah
Dosen Pascasarjana dan
Direktur PusBEK FE UII