Anda di halaman 1dari 18

SINTESIS IODOFORM

TUJUAN PERCOBAAN : Membuat Iodoform Dari Aseton Melaui Reaksi


Substitusi Elektrofilik

DASAR TEORI
Pengertian Iodoform
Iodoform adalah senyawa yang dibentuk dari reaksi antara iodin
dengan etanol / aseton dan asetaldehida dalam suasana basa.

Pembuatan Iodoform
Pembuatan Iodoform serupa dengan pembuatan kloroform, karena
merupakan analog iodinnya. Akan tetapi berbeda dengan pembuatan
kloroform, pada pembuatan iodoform pereaksi yang digunakan adalah
natrium hipoiodit. Reaksinya terjadi antara senyawa karbonil yang
memiliki gugus asetil (CH3CO-) dan natrium hipoidoit (NaOI). Iodoform
yang diperoleh berupa kristal berwarna kuning, dengan titik leleh 1200C
dan mempunyai bau yang khas. Iodoform dapat digunakan sebagai
desinfektan dan antiseptik luar.

Reaksi Iodoform
Reaksi Iodoform adalah reaksi haloform dimana dalam reaksi tersebut
digunakan iodida dari larutan alkali hidroksida (NaOH dan KOH) sehingga
menghasilkan Iodoform.

SIFAT-SIFAT IODOFORM
a. Sifat Kimia Iodoform
• Kondensasi lipidine ethiodide dari alkil menghasilkan cis-( 1-
ethylguinoline-4-) trimetinaiomine.
• Iodoform dan kalium poidat membentuk CL4 – (tetraidometane)
• Iodoform dapat di hidrogenasi di itomenasi (metilan iodida)
• Iodoform bila dipanaskan dengan campuran anilin dan larutan
NOH alkoholat karbilamine membentuk isosianida.

• Iodoform dapat di hidrolisis dengan kuat.


• Iodoform bila direduksi dengan Na2As2O4 akan membentuk
metilen iodida.
• Iodoform bila direaksikan dengan dan NaOH akan menghasilkan
warna merah ungu pada lapisan piridin, setelah di panaskan sebentar.
• Jika iodoform di panaskan dalam satu tabung kering, akan timbul
uap yang berwarna violet dari iodium.
• Test larutan AgHO3 reaksi dengan larutan AgHO3 (argentum
nitrat) tidak memberikan endapan kuning perak iodida (Agl).
• Tidak bereaksi dengan kolomel, HgO.

b. Sifat Fisika Iodoform


• Bentuk berupa kristal kuning berkilauan
• Bentuk bangun merupakan heksagonal dengan I sebagai
pusatnya
• Titik lebur 119-1230C
• Berat jenis 4,00 gr/mil
• Berat molekul 393,73
• Komposisi C=3,05g; H=6,266; I=96,496
• Mudah menguap (meyublim) pada suhu kamar
• Terurai oleh pengaruh panas cahaya dan udara membentuk CO2,
CO, I2, H2O
• Memiliki bau yang khas
• Sukar larut dalam air tapi mudah laut dalam akohol
• Berguna dan acetor
• Perlahan-lahan larut dalam petaoida atom

Kegunaan Iodoform
• Sebagai pemusnah baktei iodoform digunakan sebagai antiseptik
terhadap luka-luka lecet, karena membebaskan I2
• Sebagai pencegah keluarnya nanah dan pencegah pertumbuhan
bakteri.

Pembuatan Iodoform
Iodoform dapat dihasilkan dari :
1. Alkohol
Alkohol direaksikan dengan I2 dan KOH, maka mula-mula alkohol
direaksika dengan alkanal.
H-C-CH3 + I2
H-C-CH3 + 2HI

CH
O

Etanol kemudian
beeaksi dengan I
sehingga
terbentuk
triiodeotanol.

O
O
H-C-CH3 + I2
H-C-CH3 + 3HI

Dalam lingkungan KOH


maka triodetanal
berubah menjadi
iodoform dan kalium
metanoat

O
O
H-C-Cl3 + KOH
CH3 + H-C-OH

2. Aseton
Aseton
direaksikan
dengan I2
dan KOH, maka I2 akan mengoksidasi aseton.Dalam lingkungan
basa (KOH) H3C-C-Cl3 di ubah menjadi iodoform dan kalium asetat

O
O
H-C-CH3 + 3I2
H3C-C-Cl3 + 3HI

Dalam lingkungan basa (KOH) H3C-C-Cl3 di ubah menjadi iodoform


dan kalium asetat.

O
O
H3C-C-Cl3 + KOH
H3C-C-OH + CHI3

3. Asam laktat
H3C – C - COOH + 4I2 - 7NaOH
CHI3 + 5NaI + C - C + 6H2O

O

HO

I

O

O

NaO

Ona

4. Secara elektrolisa
Aseton maupun atenal dapat di elektrolisa oleh KI an Na2CO3,
elektrolisa dilakukan dengan elektroda platinum. Larutan yang ada
mengandung K+, Na+, I-, CO2 dan H+ serta O- dari air. Ion-ion akan
kehilangan muatan selama elektrolisa, H+ pada katoda, dan I- serta
OH2 yang dibebaskan pada anoda, bereaksi bersama menghasilkan
iopoiodit CO-. Larutan menjadi mengandung ion NaOI yang bereaksi
dengan atenol atau asenal.
5. Iodoform dapat dibuat dengan semua zat bereaksi positif dengan
positif dengan iodoform test.

Iodoform Test
Senyawa yang mengandung salah satu dari gugus –I-CH3 dan OH-CH3 akan
bereaksi dengan I2 dalam NaOH memberikan endapan kuning iodoform.
Reaksi ini adalah reaksi terhadap test.
Senyawa yang mengandung gugus –CHOHCH3 memberikan hasil positif pada
iodoform test, karena karena itu pertama kali di oksidasi menjadi metal
keton. Metal keton kemudian bereaksi dengan I2 dan ion Hidropodia
menghasilkan iodoform. Gugus fungsional –COCH3, atau CHOHCH3 dapat
diserang oleh anil, alkil, atau hydrogen. Etanol, acetaldehid, acetor, alkohol
sekunder, aceta fenam, isopropyl alkohol, kunder, aceta fenon, metal keton
yang lain, isopropyl alkohol asam laktat, hidrat tekstabil dari acetadehid, CH3
serta karbinal sekunder dimana satu gugusnya yang diserang CH adalah
metal semuanya membuat reaksi positif terhadap iodoform test.
Secara umum senyawa dimana gugus metilnya diserang oleh gugus –
CH3CO-, CH2 ICO-, atau CH2CO- yang ketika bergabung dengan atom
hydrogen atau atom hydrogen/gugus aktif akan memberikan “sterie
hindrance” (gangguan ruang) yang berlebihan.
Iodoform test akan bereaksi positif untuk senyawa apapun yang bereaksi
dengan regent untuk memberikan turunan yang mengandung satu dari
gugus yang di syaratkan. Sebaliknya senyawa yang mengandung satu dari
gugus yang di syaratkan tidak akan memberikan iodoform bila gugus
tersebut dirusak oleh oksihidrolitik dari reagent sebelum iodonasi sempurna.
Jenis-jenis senyawa yang memberikan reaksi positif terhadap iodoform test:
(R= radikal anil atau alkil, kecuali anil di-ortho, tersubtitusi radikal). Hal ini
disebabkan senyawa gugus asetil di atas dipisahkan oleh reagent menjadi
asam asetal yang menahan iodiasi. Iodoform test sering digunakan pula
untuk menentukan kebebasan suatu senyawa suatu zat, dimana senyawa itu
diketahui memberi reaksi positif terhadap test, sering digunakan untuk
membedakan alkohol primer, sekunder, sekunder dan tersier (terutama
melihat ada tidaknya alkohol sekunder). Struktur alkohol sekunder
menghasilkan test positif terhadap iodoform test.
Tahap-tahap kerja rekristalisasi
• Pemilihan pelarut
• Melarutkan senyawa murni dalam senyawa padat atau dekat titik
didihnya
• Penyaringan larutan masih dalam keadaan panas dari partikel zat yang
tidak larut
• Pendinginan larutan yang masih panas tersebut, sehingga senyawa
yang di larutkan akan mengkristal kembali
• Pemisahan kristal dari larutan yang menyertainya
• Pengeringan kristal
Cara pemilihan pelarut
• Mempunyai daya pelarut yang tinggi untuk senyawa yang akan
dimurnikanm pada suhu tinggi, dan mempunyai daya larut yang
rendah pada suhu yang rendah
• Titik didih rendah, untuk dapat mempermudah proses pengeringan
setelah kristal terbentuk
• Titik didih pelarut hendaknya lebih rendah dari titik lebur zat padat
yang di larutkan tidak murni terurai pada saat pelarutan
• Pelarut tidak bereaksi dengan pelarut yang akan di larutkan
• Dapat menghasilkan bentuk kristal senyawa yang dimurnikan
• Mudah dipisahkan dari senyawa yang mudah dimurnikan
• Dapat memisahkan kotoran dari senyawa murninya dengan cepat
• Ekonomis dan mudah diperoleh.

Thermometer

Corong buchner
Labu dasar datar

Erlenmeyer

ALAT DAN BAHAN


Batang pengaduk
Pendingin Liebig
Gelas ukur

Bahan :
• NaOH 10%
o NaOh
merupakan
basa kuat
o Digunakan
dalam
pembersihan
minyak tanah, dalam pembuatan sabun, plastik, dan bahan kimia
lainnya.
• Aseton
o Keton yang paling sederhana
o Diperoleh dari peragian pati
o Bercampur sempurna dengan air
o Merupakan pelarut senyawa organik
• KI
• Etanol 95%
o Memiliki titik didih 78,50C
o Jika dipanaskan pada 1800C dengan sedikit asam hidroklorida
pekat, hasil etilen yang diperoleh cukup banyak.
• NaOCl 5%

CARA KERJA
Iod + 10g Aceton
Dimasukkan dalam labu alas datar
Ditambahkan sedikit demi sedikit 20 ml larutan NaOH melalui corong pisah
Kristal CHI3 warna kuning
Ditambah air 300 cc
Disaring dengan corong buchner
Dicuci kristal kuning dengan air sampai filtrate tidak bereaksi alkalis
Dikristalkan kembali dengan alkohol
Ditentukan titik leburnya
Kristal CHI3 tidak berwarna
HASIL PENGAMATAN
WAKTU PERLAKUAN PENGAMATAN
10 g NaOH dilarutkan
Ditimbang 10 g iodium, 10 g dalam 100 ml
10.00
aseton, dan 10 g NaOH aquadest untuk
diencerkan
10 g iodium ditambahkan 10 Terbentuk perubahan
10.20 g aseton sambil dikocok warna merah kehitam-
sampai iodiumnya larut hitaman
Ditambahkan NaOH 20 ml
Warna kuning, dan
lewat corong pisah sedikit
terdapat endapan
10.30 demi sedikit, bila terjadi
iodium dibagian bawah
panas didinginkan dengan
larutan.
lap basah atau air es
Pada endapan
Larutan disaring dengan
11.30 terdapat kristal CHI3
corong buchner
berwarna kuning
12.00 Endapan yang terdapat Terbentuk kristal
kristal CHI3 warna kuning berwarna putih
dicuci dengan air sampai sebagai endapan dan
filtrate tidak bereaksi alkalis filtratnya sudah tidak
(filtrate tidak berwarna) bereaksi alkalis.
Terbentuk kristal CHI3
Kristal CHI3 dikristalkan warna kuning dan
12.15
kembali dengan alkohol filtratnya berwarna
kuning
Penentuan titik leleh
12.27 Hasil titik leleh 106º C
iodoform

PEMBAHASAN
Iodoform merupakan senyawa yang dibentuk dari treaksi antara iodin
dengan etanol/ aseton dan asetildehida dalam suasan basa. Untuk
membuat iodoform dari aseton digunakan reaksi elektrofilik.
10 gram aseton ditambah 10 gram iod dimasukkan ke dalam labu
dasar datar. Penggunaan labu dasar datar supaya dapat berdiri tanpa
dipegang. Kemudian , ditambahkan 20 ml NaOH sedikit demi sedikit
(lewat corong pisah). Hal yang harus dihindari ialah jangan sampai terlalu
banyak menambahkan NaOH sebab, dapat menyebabkan panas. Namun,
apabila terjadi panas, segera dinginkan dengan lap basah atau dengan
mengalirkan air kran atau air es. Fungsi dari penambahan NaOH adalah
untuk menghasilkan kristal iodoform berwarna kuning. Setelah itu,
dengan segera ditambahkan 300 cc air. Penambahan segera 300 cc air
setelah terbentuk kristal kuning maksudnya untuk mengencerkan NaOH
yang mungkin berlebih dan unutk mencegah kecepatan terhidrolisisnya
iodoform yang terbentuk. Hasil kristal kuning yang diperoleh dan telah
ditambahakan air segera disaring dengan corong buchner. Kemudian
kristal dicuci sampai filtrat tidak bereaksi alkalis, atau bebas NaOH karena
sisa NaOH dikristal dapat menyebabkan penguraian iodoform pada waktu
kristalisasi dengan alkohol. Setelah itu dicuci dengan alkohol dan
ditentukan titik lebur/ titik leleh. Pada percobaan diatas, titik leleh yang
diperoleh yaitu 1060C.
KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum, maka dapat diketahui bahwa iodoform
dapat disintesis atau dibuat dari aseton melalui reaksi elektorilik. Titik
leleh yang diperoleh adalah 1060C.
DAFTAR PUSTAKA
Akhmadi Suminar.______. Kimia dasar prinsip dan terapan modern._____:____
Akhmadi Suminar.______. Kimia organik edisi ke enam._____:_________
Direktorat Jendral POM. 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI
Tim Asistensi Kimia Organik II. 1993. Penuntun Praktikum Kimia Organik.
Bandung: Fakultas MIPA Bandung

Tujuan Percobaan
Diharapkan mahasiswa dapat memahami metoda sintesis ester dengan
melalui reaksi esterifikasi pada percobaan ini.

Teori Dasar

Golongan analgesik non-narkotik seperti asam asetil salisilat ternyata


memiliki khasiat anti inflamasi sehingga dapat digunakan untuk mengobati
arthitis. Mekanisme Kerja obat ini belum jelas, walaupun diperkirakan
dengan hubungan produksi atau penghantar hormon.
Asam salisilat tersedia di alam dalam bentuk ester pada glikosida dan
minyak atsiri. Metil ester terkandung dalam minyak gandapura dan minyak
aromatik tumbuhan lainnya.
Pada percobaan ini akan disintesis metil salisilat. Ester dapat diperoleh
langsung dari asam karboksilat dengan alkohol dengan adanya katalis asam
dan dapat diperoleh juga dari alkoholis asam klorida, asam anhidrat dan
nitril.
Tahapan reaksi esterifikasi dapat diilustrasikan asam asetat dan etanol:
1. Protonisasi gugus karbonil
2. Adisi alkohol dan pemindahan suatu proton ke salah satu gugus hidroksil.
3. Eliminasi air dan deprotonisasi.
Reaksi pada percobaan ini bersifat reversibel maka kesetimbangan harus
dibuat condong ke kanan untuk diperoleh ester dalam jumlah banyak.
Pada kondisi ideal, komposisi campuran kesetimbangan tidak dipengaruhi
ada tidaknya katalis, tapi percobaan telah menunjukkan bahwa nilai
konstanta kesetimbangan akan menjadi dua kali lipat. Jika ditambahkan
sejumlah besar katalis asam maka katalis ini akan mengubah lingkungan
dalam sistem dan sebagian dihilangkan melalui hidrasi air yang terbentuk
dalam reaksi ini.
Asam salisilat berupa hablur putih biasanya jarum halus serta rasanya agak
kemanis-manisan, tajam dan stabil di udara. Warnanya putih dan tidak
berbau serta sukar larut dalam air dan benzen namun mudah larut dalam
etanol dan eter atau air yang mendidih. Jarak titik leburnya 158 derajat
Celcius dan 161 derajat Celcius.
Struktur Kimia Asam Salisilat

Alat dan Bahan

Alat:
1. Corong Pisah
2. Labu Erlenmeyer
3. Batang Pengaduk
4. Pipet Tetes
5. Gelas Kimia
6. Kertas Saring
7. Corong Gelas
8. Labu Bundar 50 mL
9. Kondensor
10. Batu Didih
11. Alat Destilasi
Bahan:
1. 3 mL Asam Sulfat Pekat
2. 14 gr Asam Salisilat
3. 50 mL Metanol
4. Diklorometan
5. Air atau Aquadest
6. Magnesium Sulfat
7. Natrium Bikarbonat

Cara Kerja

Masukkan 14 gr Asam Salisilat dan 50 mL Metanol ke dalam labu bundar 50


mL dan aduk campuran itu. Tambahkan dengan ekstra hati-hati asam sulfat
pekat sebanyak 3 mL (bersifat korosif !!!).
Masukkan batu didih ke dalm labu tadi dan sambungkan dengan kondensor
tegak lalu reflux kira-kira selama 1 1/2 jam. Setelah direflux, dinginkan
larutan pada suhu kamar dan dekantasi ke dalam corong pisah. Yang
didalamnya terdapat 5 mL air dan 5 mL diklorometan.
Bilas labu bundar tadi dengan 2-3 mL diklorometan dan tuang bilasan lalu
kocok campuran. Pisahkan cairan organik dengan kurang lebih 20 mL air/
aquadest dan kurang lebih 20 mL natrium bikarbonat (hati-hati berbusa).
Pisahkan lapisan organik dan masukkan ke dalam labu erlenmeyer.
Tambahkan sedikit magnesium sulfat, aduk dan buka penutup biarkan 20
menit.
Saring larutan tersebut ke dalam destilasi kecil, tambahkan batu didih dan
suling diklorometan. Setelah tidak ada lagi pelarut yang tersuling, biarkan
labu dingin pada suhu ruangan.

Data Pengamatan

Setelah ditimbang, asam salisilat yang digunakan sebanyak 14,0045 gr.


Ketika ditambah dengan 50 mL metanol, asam salisilat ini larut dengan cepat
dan berwarna bening larutannya.
Penambahan 3 mL asam sulfat pekat ke dalam larutan tadi merubah
warnanya menjadi kemerahan walaupun sebentar dan berwarna bening
kembali.
Ketika dimasukkan batu didih dan dipasang kondensor tegak lalu direflux
selama 1 1/2 jam terjadi pemisahan metanol yang dapat digunakan kembali.
Setelah di dekantasi ke dalam corong pisah yang terdapat 5 mL air dan 5 mL
diklorometan didalamnya terjadi pemisahan cairan organik dan air. Namun
secara kasat mata, cairan organik dan air tidak dapat terlihat terpisah
karena larutannya yang sama-sama berwarna bening.
Untuk yang penambahan natrium bikarbonat serta magnesium sulfat dan
penyulingan, tidak dilakukan karena keterbatasannya waktu sehingga
produk belum dihasilkan secara murni.

Pembahasan

Pada pembuatan metil salisilat ini mula-mula dicampurkan 14,0045 gr asam


salisilat dengan 50 mL metanol ke dalam labu bundar. Asam salisilat ini larut
dengan cepat karena pelarutnya menggunakan metanol. Asam salisilat akan
larut dengan cepat jika dilarutkan dalam senyawa etanol.
Penambahan asam sulfat pekat sebanyak 3 mL berfungsi untuk sebagai
katalis yang sifatnya asam dan hanya untuk memepercepat laju reaksi
dengan menurunkan energi aktivasinya. Penambahan asam sulfat ini
dilakukan diawal atau terdahulu pada percobaan ini bertujuan agar tidak
terjadinya prematur, yaitu terbentuk metil salisilat sebelum waktu yang
diinginkan.
Dalam percobaan ini tujuannya untuk mensintesis metil salisilat yang artinya
memebentuk metil salisilat.
Reaksi pembentukan metil salisilat:

Struktur kimia untuk katalis asam atau asam sulfat (H2SO4) :

Pemasukkan batu didih ke dalam larutan tadi dan pemasangan kondensor


secara tegak dapat dinamakan sebagai reaksi soxlet yang cara kerja atau
mekanisme kerjanya sama dengan reaksi destilasi namaun bedanya pada
efisiensi pelarut. Metanol yang digunakan pada percobaan ini dapat
dipergunakan oleh percobaan yang selanjutnya secara layak karena dengan
reaksi soxlet, pelarut dapat terpisah secara efisiensi.

Setelah methanol terpisah secara efisien, larutan yang tadi hanya


mengandung asam salisilat, metil salisilat serta air didekantasi tuang dari
labu bundar ke dalam corong pisah. Dekantasi ini bertujuan untuk
memisahkan pengotor yang dapat terlihat secara kasat mata baik itu
pengotor dari dalam alat ataupun dari bahan-bahan yang digunakan.

Corong pisah yang tadi didalamnya sudah terdapat 5 mL

air dan 5 mL diklorometan yang tujuannya untuk memisahkan cairan-cairan


organik dengan air karena sifat kepolaran dan perbedaan massa jenisnya.
Dalam percobaan ini diklorometan bersifat non polar yang dapat bereaksi
atau mengikat metil salisilat. Sedangkan air itu bersifat polar sehingga akan
terpisah dengan sendirinya setelah dikocok dan didiamkan. Pengocokan
corong pisah tidak boleh kuat-kuat karena untuk mencegah terjadinya
pembentukan emulsi. Setelah dikocok dan didiamkan, cairan-cairan organik
akan terpisah dengan air namun hal ini tidak dapat dilihat secara kasat
mata. Maka dari itu dilakukan pengujian dengan meneteskan air ke dalam
corong pisah untuk mengetahui keberadaan air, serta keberadaan
diklorometan.

Cairan-cairan organik tadi dpisahkan ke dalam labu Erlenmeyer dan setelah


terpisah ditambahkan 20 mL natrium bikarbonat yang berfungsi sebagai
penghilang senyawa yang mengandung CH2 CR2.

Natrium bikarbonat + Metil salisilat


Natrium salisilat + CO2 + H2O

Setelah lapisan organik dipisahkan kembali, ditambahkan magnesium sulfat


(MgSO4) yang bertujuan untuk mengikat air (polar) yang terbawa ketika
pemisahan lapisan organik ke dalam labu Erlenmeyer.

Untuk asam salisilat yang belum teresterifikasi dapat dilakukan destilasi


vakum yaitu dengan adanya tekanan yang benar-benar menekan.

Campuran yang telah ditambah MgSO4 dan dibiarkan 20 menit itu dilakukan
penyaringan ke dalam destilasi kecil untuk memisahkan pengotor-pengotor
yang masih terbawa.

Untuk memurnikan produk atau hasil metil salisilat dilakukan penyulingan


diklorometan.

Reaksi penambahan natrium bikarbonat dan magnesium sulfat serta


pemurnian dengan cara penyulingan tidak dilakukan oleh praktikan karena
keterbatasan waktu.

Gambar 1 Soxlet ketika reaksi reflux

Berkaitan dengan hasil metil salisilat yang dihasilkan kurang memuaskan


ada beberapa hal, diantaranya:

1. Keterbatasan waktu praktikum,

2. Alat-alat yang tidak tercuci sempurna,


3. Keterlambatan penambahan asam salisilat atau penambahan asam sulfat
yang didahulukan,

4. Terbuangnya asam salisilat di dalam labu bundar, ataupun dialat-alat


yang lainnya.

Kesimpulan

Sintesis itu adalah pembuatan suatu zat secara kimiawi. Sintesis metil
salisilat adalah pembuatan metil salisilat dengan cara reaksi kimia.

Dari pembuatan metil salisilat ini dapat disimpulkan:

1. Metil salisilat dapat dibuat dengan cara mereaksikan asam salisilat


dengan metanol dan asam sulfat sebagai katalis.

2. Ester dapat diperoleh dari reaksi esterifikasi langsung dari asam salisilat
dengan metanol dengan katalis asam sulfat.

3. Pemisahan cairan-cairan organik dapat dilakukan dengan cara soxlet dan


perbedaan kepolarannya serta perbedaan titik didih (destilasi).

4. Pemisahan pelarut secara efisien dapat dilakukan dengan cara soxlet.

5. Pemurnian metil salisilat dari diklorometan dapat dilakukan dengan cara


penyulingan, namun reaksi ini tidak dilakukan karena waktu yang terbatas.

6. Produk atau hasil yang diperoleh tidak murni metil salisilat karena
praktikum hanya dilakukan pada sampai penambahan diklorometan. Namun
wanginya telah tercium walaupun hasilnya belum murni.

Daftar Pustaka

1. http://www.chem-is-
try.org/materi_kimia/sifat_senyawa_organik/alkohol1/reaksi_pengesteran_est
erifikasi/ diakses pada tanggal 01 November 2009.

2. American Medical Associated. Drug Evaluations Annual 1993. Chicago:


TheAssociation, 1993. p. 1587.

3. Goodman LS, Gilman A, editors. The Pharmacological Basis of 3rd ed. New
York: The Macmillan Company, 1966.p. 1052.
4. http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/Riski
%20Septiadevana%200606249_IE6.0/halaman_11.html diakses pada tanggal
01 Novemeber 2009.