Anda di halaman 1dari 2

INTELIJEN KITA PERLU DI PERKUAT

Prabugomong.wordpress.com.- Kejadian kerusuhan massa dan terorisme di negara


kita semakin menggeliat. Akar masalahnya banyak. Berbagai ahli dari berbagai
bidang ilmu, tentu memiliki teori untuk menjelaskan “mengapa” kerusuhan massa
dan terorisme semakin “berani”.

Eksistensi intelijen di negara kita berikut “kinerjanya”, menjadi sorotan beberapa


pihak. Jendral (Purn. TNI) Kiky Sahnarcki dalam wawancara interaktif di Metro TV
pada hari Jum’at (1 Oktober 2010) mengungkapkan, bahwa penanganan kejahatan
terorisme tidak bisa dilakukan hanya oleh kepolisian khususnya Densus 88.
Berbagai pihak dan lembaga terkait milik negara mesti kerjasama dan beroperasi
secara nyata dalam sebuah komando dan kooordinasi terpadu.

Pertanyaan yang menyebutkan intelijen kita lemah, menimbulkan pro dan kontra.
Satu hal yang menjadi ukuran umum adalah terjadinya peningkatan tindak kriminal
khususnya kerusuhan massa dan aksi terorisme menunjukkan bahwa ada sesuatu
yang kurang di dalam antisipasi terhadap Ancaman, Tantangan, Ganguan dan
Hambatan (ATGH).

Agar intelijen kita bisa lebih efektif dan produktif di dalam melaksanakan tugas
penggalangan, deteksi dini dan pengumpulan informasi secara akurat, harus diakui
secara jujur adanya kekurangan atau kelemahan. Dengan demikian akan ada
upaya-upaya untuk memperbaiki kelemahna dan kekurangan tersebut.

Meskipun banyak kajian yang mungkin dikemukakan untuk menjelaskan adanya


kelemahan dan kekurangan intelijen kita, dalam tulisan ini setidak-tidaknya ada tiga
aspek yang harus dibenahi alam dunia intelijen kita. Ketiga hal tersebut adalah::

1. Intelijen kita lemah di dalam jumlah dana operasional.


2. Intelijen kita lemah dalam sumber daya manusia
3. Intelijen kita lemah didalam sistem koordinasi

1. Kelemahan di dalam jumlah dana operasional.


Satu hal sederhana yang bisa dinyatakan disini terkait jumlah dana
operasional adalah terbatasnya kemampuan anggota komunitas intelijen
untuk melakukan operasi penggalangan dan deteksi dini.
Bagaimana bisa diperolah hasil maksimal bila seorang anggota intel, hanya
mendapat dana BINJARING (pembinaan jaring), jika jumlahnya hanya Rp.
150.000/bulan. Bisakah uang sejumlah itu memberikan hasil maksimal, jika
harus menggalang seseorang untuk menjadi jaring intel?
Keterbatasan atau kurangnya dana operasional ini menjadi salam satu alasan
mengapa kinerja anggota secara individu untuk melakukan tugas-tugas
intelijen menjadi minim.
2. Kelemahan di dalam kualitas SDM.
SDM yang terlibat di dalam aktivitas dunia intelijen berikut tugas yang
melekat pada seorang anggota intel, boleh dibilang cukup merisaukan. Untuk
mengumpulkan BAKET (Bahan Keterangan) yang mengandung SIABIDIBAM
(siapa, apa, bilamana, dimana dan bagaimana), terkadang tidak bisa
dilakukan secara optimal. Hal ini terkait dengan kualitas “inteligensia”
seorang anggota intelijen di dalam melihat, mendengar dan menulis fakta
apa yang didengarnya. Sementara fakta menunjukkan perkembangan
teknologi dan informasi dunia sangat pesat.
Seorang anggota intelijen yang tidak mengikuti perkembangan berita dan
informasi, bisa di pastikan akan berada pada situasi seperti “kodok dalam
tempurung”.
Banyak hal yang bisa dikemukakan tentang kualitas SDM anggota intelijen
yang harus di perbaiki.

3. Kelemahan dalam sistem koordinasi.


Ini merupakan bagian yang paling penting. Sering terjadi di lapangan, gugus
tugas berbagai komunitas intelijen, mengalami semacam “gesekan” karena
masing-masing merasa adanya egoisme kelembagaan. Sering juga
dilupakan oleh sebagian anggota komunitas intelijen, bahwa tugas yang
melekat pada dirinya adalah “tugas negara” yang dibutuhkan oleh User,
dalam hal ini Presiden. Sistem koordinasi di lapangan yang notabene di
lembagakan melalui KOMINDA (Komunitas Intelijen Daerah), sering tidak
maksimal oleh adanya “egoisme” kelembagaan masing-masing.

Dari kupasan singkat di atas, maka untuk membantah lemahnya intelijen negara
kita, harus dilakukan terobosan-terobosan kontstruktif tanpa merusak tatanan yang
ada. Koordinasi komunitas intelijen yang ada di kepolisian, BAIS, BIN, Depdagri,
Kejaksaan, Deplu, Depkeu, Kodam dan lain-lain lembaga terkait harus di evaluasi
ulang serta ditata lebih baik dengan memperhatikan kekurangan yang ada.(*)