Anda di halaman 1dari 15

SISTEM SYARAF CHOLINERGIC (PARASIMPATIS)

DAN ADRENERGIC (SIMPATIS)

Tugas Ini Di Buat Guna Memenuhi Tugas

Dari Mata Kuliah Fisiologi Olahraga

Oleh:

Agus Wiyanto

6301508024

PROGRAM PASCA SARJANA

PENDIDIKAN OLAHRAGA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2009
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Fisiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang fungsi atau kerja

tubuh manusia dalam keadaan normal, ilmu ini sangat erat kaitannya dengan

pengetahuan tentang semua makhluk hidup yang tercakup dalam pelajaran

biologi, dan bersamaan dengan itu juga erat hubungannya dengan tugas ahli

sitologi yang mempelajari detail struktur sel, dan ahli biokimia yang berurusan

dengan perubahan kimiawi dan kegiatan sel serta menyelidiki proses jasad kimia

hidup yang serba kompleks.

Tubuh terbentuk atas banyak jaringan dan organ, masing-masing

mempunyai tugas yang khusus untuk dilaksanakan berdasarkan fungsinya sendiri-

sendiri. Ketika tubuh merubah suatu posisi, keanekaragaman dari aksi-aksi terjadi

yang melibatkan semua bagian-bagian dari sistim kardiovaskular serta sistim

syaraf autonomik (autonomic nervous system) yang membantu mengatur fungsi

mereka.

Sistem syaraf otonom merupakan bagian sistem syaraf yang mengatur

fungsi fisceral tubuh. Sistem ini mengatur tekanan arteri, motilitas dan sekresi

gastrointestinal, pengosongan kandung kemih, suhu tubuh dan aktivitas lain.

Di dalam Sistem saraf otonom, Jalur saraf otonom terdiri dari suatu

rantai neuron,dengan neurotransmitter terakhir yang berbeda antara saraf simpatis

dan parasimpatis. Sistem saraf otonom terdiri dari system saraf simpatis dan
parasimpatis, serat-serat saraf simpatis berasal dari daerah torakal dan lumbal

korda spinalis.

Sistem saraf otonom mengatur aktivitas alat-alat dalam (visceral) yang

dalam keadaan normal di luar kesadaran dan control volunter, misalnya sirkulasi,

pencernaan, keringat dan ukuran pupil. Dengan demikian, system ini dianggap

sebagai cabang involunter divisi eferen, berbeda dengan cabang volunteer somatic

yang mempersarafi otot rangka dan dapat dikontrol secara volunteer. Namun,tidak

seluruhnya benar bahwa individu tidak memiliki kontrol terhadap aktivitas yang

diatur oleh system otonom. Informasi aferen visceral biasanya tidak mencapai

tingkat kesadaran, sehingga individu tidak mungkin secara sadar mengontrol

keluaran eferen yang timbul. Namun,dengan teknik-teknik biofeedback individu

dapat diberi suatu sinyal sadar mengenai informasi aferen visceral. misalnya

dalam bentuk suara, cahaya, atau tampilan grafik pada latar computer.

Secara fisiologis, sistem parasimpatis lebih digunakan pada

penyimpanan dan pemulihan energi, oleh karena itu, maka akan mengurangi

frekuensi detak jantung dan tekanan darah, menghambat lancarnya penghantaran

impuls melalui jarak atrioventikular, memfasilitasi digestif dan absorpsi nutrien,

maka dari itu akan mengekskresikan produk buangan, menyempitkan diameter

pupil, melebarkan pembuluh darah, menyempitkan lumen bronkioli,

menggalakkan sekresi air liur dan air mata, menggalakkan peristaltik dan

melonggarkan sfinkter saluran pencernaan, menggalakkan otot detrusor kandung

kemih, dan sekresi insulin, sehingga menurunkan gula darah.


Permasalahan

Pada dasarnya system syaraf memiliki prinsip kerja berdasarkan

fungsinya sendiri-sendiri, dalam hal ini penulis memaparkan bagaimanakah

system kerja syaraf cholinergic (parasimpatis) dan syaraf adrenergic (simpatis)

serta fungsi dan system kerja dari system syaraf tersebut.

PEMBAHASAN

Sistem saraf otonom tergantung pada sistim saraf pusat, dan antara

keduanya dihubungkan dalam urat-urat saraf aferen dan eferen. Dalam hal ini juga
memiliki sifat-sifat yang seolah-olah sebagai bagian system saraf pusat yang telah

bermigrasi dari saraf pusat guna mencapai kelenjar, pembuluh darah, jantung,

paru-paru dan usus. Oleh karena sistem syaraf otonom itu terutama berkenaan

dengan pengendalian organ-organ dalam secara tidak sadar, maka kadang-kadang

juga disebut susunan saraf tak sadar. Menurut fungsinya , susunan saraf otonom

dibagi dalam dua bagian:

Sistem simpatis yang terletak didepan kolumna vertebra dan berhubungan serta

bersambung dengan sum-sum tulang belakang melalui serabut-serabut saraf.

Sistem parasimpatis yang terbagi dalam dua bagian yang terdiri dari saraf otonom

kranial dan saraf otonom sacral.

Sistem simpatis terdiri dari serangkaian urat kembar yang bermuatan

ganglion-ganglion. Urat-urat itu bergerak dari dasar tengkorak yang terletak

didepan kolumna vertebra, kemudian berakhir dalam pelvis didepan koksigis

sebagai ganglion koksigeus. Ganglion-ganglion itu tersusun berpasangan dan

disebarkan dari daerah-daerah berikut:

Daerah leher : Tiga pasang ganglion servikal

Daerah dada : Sebelas pasang ganglion torakal

Daerah pinggang : Empat pasang ganglion lumbal

Daerah pelvis : Empat pasang ganglion sakral


Didepan koksigis : Ganglion kogsigens

Ganglion-ganglion ini bersambung erat dengan sistem saraf pusat

melalui sumsum tulang belakang dengan menggunakan cabang-cabang

penghubung yang bergerak keluar dari sumsum tulang belakang menuju ganglion,

dan dari ganglion menuju sumsum tulang belakang.

Ganglion simpatis lainnya berhubungan dengan dua rangkaiaan besar

ganglia dan bersama serabut-serabutnya membentuk plexus-plexus simpatis.

Plexus kardiak terletak dekat dasar jantung serta mengarahkan cabang-cabangnya

keparu-paru.

Plexus seliaka (coeliak) terletak sebelah belakang lambung, dan melayani organ-

organ dalam rongga abdomen.

Plexus mesenterikus (hipogatelus) terletak didepan sakrum dan melayani organ

dalam pelfis.

Fungsi serabut-serabut saraf simpatis mensarafi otot jantung, otot-otot

tak sadar semua pembuluh darah, serta semua alat-alat dalam seperti lambung,

pancreas dan usus. Melayani serabut motorik sekretorik pada kelenjar keringat,

serabut-serabut motorik pada otot tak sadar dalam kulit yaitu arektores pilorum

serta mempertahankan tonus semua otot termasuk tonus otot sadar.

Sistem parasimpatis, saraf kranial otonom adalah saraf kranial ketiga,

ketujuh, kesembilan dan kesepuluh. Saraf-saraf ini merupakan penghubung,

dalam perjalanannya keluar dari otak menuju organ yang sebagian dikendalikan
olehnya. Serabut-serabut yang mencapai serabut otot sirkuler pada iris, dan

dengan demikian merangsang gerakan-gerakan yang menentukan ukuran pupil

mata, menggunakan saraf cranial ketiga, yaitu saraf okulumotorik. Serabut-

serabut otot motorik sekretorik mencapai kelenjar ludah melalui saraf ketuju,

fasial, serta saraf kesembilan, glusofaringeus.

Saraf fagus atau saraf kranial kesepuluh adalah serabut saraf otonom

terbesar. Daerah layanannya luas, serta serabut-serabutnya disebarkan kepada

sejumlah besar kelenjar dan organ. Penyebaran ini sejalan dengan penyebaran

serabut simpatis.

Saraf parasimpatik sakral keluar dari sumsum tulang belakang melalui

daerah sakral. Saraf-saraf ini membentuk urat-urat saraf pada alat-alat dalam

pelvis, dan bersama saraf simpatis membentuk plexus yang melayani kolon,

rectum dan kandung kencing.

Dalam Sistem pengendalian ganda (simpatis dan parasimpatis), hal ini

cuma sebagian kecil organ dan kelenjar yang memiliki satu sumber palayanan,

yaitu simpatis atau parasimpatis. Sebagian besar organ dan kelenjar memiliki

pelayanan ganda, yaitu menerima beberapaa serabut dari system simpatis

disampaing beberapa serabut dari saraf otonom sakral atau kranial. Keaktifan

organ dirangsang oleh sekelompok urat saraf, sementara dilain pihak dilambatkan

atau diberhentikan oleh sekelompok urat saraf lain, dengan kata lain masing-

masing kelompok bekerja berlawanan.

Hubungan yang terjadi antara saraf adrenergic dan cholinergic ada


keseimbangan antara sympathetic sistem (saraf-saraf adrenergic), yang

mempercepat berbagai hal-hal, dan parasympathetic system (syaraf-syaraf

cholinergic) yang memperlambat berbagai hal-hal. nama-nama ini berdasarkan

pada tipe dari kimia yang digunakan untuk mengirim sinyal-sinyal pada ujung-

ujung syaraf.

Adrenaline (dari sympathetic nervous system) mengizinkan tubuh untuk merespon

pada stress. Bayangkan melihat seekor beruang dalam hutan; jantung anda

bedenyut lebih cepat, telapak-telapak tangan anda berkeringat, mata-mata

anda membesar, dan rambut-rambut anda berdiri pada ujungnya.

Acetylcholine adalah kimia yang adalah anti-adrenaline dan terlibat pada

parasympathetic nervous system.

Kedua sistim-sistim ini berada dalam keseimbangan, dan tetap perlu

untuk merespon pada perubahan-perubahan yang rutin dalam tubuh yang terjadi

sepanjang hari.

Ketika tubuh bergerak ke posisi berdiri, monitor-monitor tekanan (sel-sel

baroreceptor) yang berlokasi pada arteri-arteri carotid dan aorta merasakan

kejatuhan yang hampir tak kentara dalam tekanan darah karena gaya berat,

yang menyebabkan darah mengalir menuju kaki-kaki.

Hampir dengan seketika, sympathetic system distimulasi, menyebabkan denyut

jantung meningkat, otot jantung berkontraksi atau menekan lebih kuat, dan

pembuluh-pembuluh darah mengerut atau menyempit.


Semua dari aksi-aksi ini melayani untuk meningkatkan tekanan darah sehingga

jumlah darah yang cukup masih dapat dipompa ke otak dan organ-organ lain.

Tanpa perubahan-perubahan ini, gaya berat akan menyebabkan darah tetap pada

baian yang paling bawah dari tubuh dan jauh dari otak, menyebabkan gejala-

gejala kepeningan atau bahkan pingsan.

Syaraf Simpatis (Torakolumbal, Adrenerjik) Syaraf bermyelin yang

keluar dari syaraf spinal torakal 1 sampai dengan lumbal 2 atau 3. Neuron neuron

preganglionik dan post ganglilonik simpatis setiap jarak simpatis dari medulla.

jaringan yang terangsang terdiri atas dua neuron yakni neuron preganglionik dan

neuron postganglionik.

Serat-serat praganglion simpatis dan parasimpatis mengeluarkan

neurotransmitter yang sama, yaitu asetilkolin, tetapi ujung-ujung pascaganglion

kedua system ini mengeluarkan neurotransmitter yang berlainan (neurotransmitter

yang mempengaruhi organ efektor).

Serat-serat pascaganglion parasimpatis mengeluarkan asetilkolin.

Dengan demikian, serat-serat itu bersama dengan semua serat praganglion otonom

disebut sebagai kolinergik. Sebaliknya,sebagian serat pascaganglion simpatis

disebut serat adrenergic karena mengeluarkan noreadrenalin (norepinefrin).Baik

asetilkolin maupun norepinefrin juga berfungsi sebagai zat perantara kimiawi di

bagian tubuh lainnaya.

Serat-serat otonom pascaganglion tidak berakhir pada sebuah tonjolan

seperti kepala sinaps (synaptic knob), namun cabang-cabang terminal dari serat
otonom mengandung banyak tonjolan (varicosities) yang secara simultan

mengeluarkan neurotransmitter ke daerah luas pada organ yang dipersarafi dan

bukan ke sebuah sel. Pelepasan neurotransmitter yang bersifat difus ini, disertai

kenyataan bahwa di otot polos atau jantung setiap perubahan aktivitas listrik akan

disebarkan melalui gap junction, memiliki arti bahwa keseluruhan organ biasanya

dipengaruhi aktivitas otonom bukan sel satu per satu.

Sistem saraf simpatis dan parasimpatis bersama-sama mempersarafi

sebagian besar organ visceral

Sebagian besar organ visceral dipersarafi oleh serat saraf simpatis dan

parasimpatis. Sistem saraf simpatis dan parasimpatis menimbulkan efek yang

bertentangan pada organ tertentu. Stimulasi simpatis meningkatkan kecepatan

denyut jantung, sementara stimulasi parasimpatis menurunkannya. Stimulasi

simpatis memperlambat gerakan saluran pencernaan, sedangkan stimulasi

parasimpatis meningkatkan motilitas saluran pencernaan.

Dalam hal ini bahwa satu system tidak selalu bersifat eksitatorik dan

yang lain inhibitorik. Kedua system meningkatkan aktivitas beberapa organ dan

menurunkan aktivitas organ-organ yang lain.

Sistem saraf simpatis meningkatkan respons-respons yang

mempersiapkan tubuh untuk melakukan aktivitas fisik yang berat dalam

menghadapi situasi penuh stress atau darurat, misalnya ancaman fisik dari

lingkungan luar. Respons semacam ini biasanya disebut sebagai fight or flight

response, karena system simpatis mempersiapkan tubuh untuk melawan atau


melarikan diri dari ancaman.

Respon tanda bahaya atau respon stress dari sistem syaraf simpatis bila

syaraf simpatis melepaskan impuls pada saat yang bersamaan maka terjadi:

1. Peningkatan tekanan arteri

2. Peningkatan aliran darah untuk mengaktifkan otot-otot dan menurunkan aliran

ke organ yang tidak diperlukan seperti Traktus gastrointestinal (menyebabkan

aktivitas motorik yang cepat)

3. Peningkatan kecepatan metabolisme sel di seluruh tubuh

4. Peningkatan konsentrasi glukosa darah

5. Peningkatan proses glikolisis di hati dan otot

6. Peningkatan kekuatan otot

7. Peningkatan aktivitas mental

8. Peningkatan kecepatan koagulasidarah

Jantung berdenyut lebih cepat dan lebih kuat, tekanan darah meningkat

karena konstruksi umum pembuluh darah, saluran pernafasan terbuka lebar untuk

memungkinkan aliran udara maksimal, glikogen dan simpanan lemak dipecahkan

untuk menghasilkan bahan bakar tambahan dalam darah, dan pembuluh-pembuluh

darah yang mendarahi otot-otot rangka berdilatasi.

Semua respons ini ditujukan untuk meningkatkan aliran darah yang kaya

oksigen dan nutrisi ke otot-otot rangka sebagai antisipasi terhadap aktivitas fisik

yang berat. Selanjutnya pupil berdilatasi dan mata menyesuaikan diri untuk

melihat jauh, yang memungkinkan individu membuat penilaian visual yang cepat
mengenai situasi keseluruhan yang mengancam. Terjadi peningkatan berkeringat

sebagai antisipasi terhadap peningkatan produksi panas yang berlebihan akibat

aktivitas fisik. Karena aktivitas pencernaan dan berkemih kurang penting dalam

menghadapi ancaman, system simpatis menghambat aktivitas-aktivitas ini.

Sistem parasimpatis, di pihak lain mendominasi pada situasi yang tenang

dan rileks. Pada keadaan-keadaan yang tidak mengancam, tubuh dapat

memusatkan diri pada aktivitas “rumah tangga umum”nya sendiri, misalnya

pencernaan dan pengosongan kandung kemih. Sistem parasimpatis mendorong

fungsi-fungsi tubuh seperti ini, sementara memperlambat aktivitas-aktivitas yang

ditingkatkan oleh system simpatis .Sebagai contoh, tatkala seseorang sedang

dalam keadaan tenang, jantung tidak perlu berdenyut dengan cepat dan kuat.

Inhibisi system saraf parasimpatis oleh kokain mungkin merupakan

faktor utama dalam kematian mendadak yang disebabkan oleh kelebihan dosis

kokain. Apabila kokain menghambat rem parasimpatis yang bersifat protektif,

system simpatis dapat meningkatkan kecepatan denyut jantung tanpa kendali.

Kematian mendadak timbul jika denyut jantung menjadi terlalu cepat dan tidak

teratur, sehingga daya pompa jantung tidak kuat.

Terdapat beberapa pengecualian terhadap sifat umum persarafan timbal

balik ganda oleh kedua cabang system saraf otonom tersebut, yang paling

menonjol adalah sebagai berikut:

• Pembuluh darah yang dipersarafi (sebagian besar arteriol dan vena dipersarafi,

arteri dan kapiler) tidak hanya menerima serat saraf simpatis. Pengaturan
dilakukan dengan meningkatkan atau menurunkan kecepatan pembentukan

potensial aksi diatas atau dibawah tingkat tonik serat simpatis tersebut. Satu-

satunya pembulh darah yang mendapat persarafan parasimpatis adalah

pembuluh darah yang mendarahi klitoris dan penis. Kontrol vaskuler yang

akurat di kedua organ ini oleh persarafan ganda penting untuk menimbulkan

ereksi.

• Kelenjar keringat hanya dipersarafi oleh saraf simpatis

• Kelenjar liur dipersarafi oleh kedua divisi otonom, tetapi tidak seperti di

tempat lain, aktivitas simpatis dan parasimpatis tidak antagonistik. Keduanya

merangsang sekresi air liur, tetapi komposisi dan volume air liur yang

terbentuk berbeda, bergantung dari cabang otonom mana yang dominan.

PENUTUP

Kesimpulan

Ada keseimbangan antara sympathetic sistem (saraf-saraf adrenergic),

yang mempercepat berbagai hal-hal, dan parasympathetic system (syaraf-syaraf

cholinergic) yang memperlambat berbagai hal-hal. Nama-nama ini berdasarkan

pada tipe dari kimia yang digunakan untuk mengirim sinyal-sinyal pada ujung-

ujung syaraf.
Adrenaline (dari sympathetic nervous system) mengizinkan tubuh untuk merespon

pada stress. Bayangkan melihat seekor beruang dalam hutan; jantung anda

bedenyut lebih cepat, telapak-telapak tangan anda berkeringat, mata-mata

anda membesar, dan rambut-rambut anda berdiri pada ujungnya.

Acetylcholine adalah kimia yang adalah anti-adrenaline dan terlibat pada

parasympathetic nervous system.

Kedua sistim-sistim ini berada dalam keseimbangan, dan tetap perlu

untuk merespon pada perubahan-perubahan yang rutin dalam tubuh yang terjadi

sepanjang hari.

DAFTAR PUSTAKA

C Pearce Evelyn. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. 2006. Jakarta: PT.

Gramedia

Sherwood lauralee .fisiologi manusia, dari sel ke system,ed 2. 2001. EGC:

Jakarta.bab 7.hal 197-201.

Tortora, G. J. & Derrickson, B. H. (2007). Principles of Anatomy and Physiology.

11th Edition. Dikutip dari http://www.google.com