TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.

01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 1 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
PENENTUAN POTENSI SUMUR MINYAK VERTIKAL


1. TUJUAN

Menghitung potensi suatu sumur minyak yang mencerminkan kemampuan reservoir mengalirkan
minyak ke dalam sumur tersebut. Kemampuan ini dinyatakan dalam hubungan antara tekanan alir
dasar sumur terhadap laju produksi (kurva IPR).


2. METODE DAN PERSYARATAN
2.1. METODE
Penentuan potensi sumur menggunakan :
1. Persamaan Darcy untuk aliran minyak.
2. Persamaan Vogel
1)
dan Perluasan Persamaan Vogel
2)
untuk aliran gas dan minyak.
3. Perhitungan berdasarkan hasil uji Back Pressure dan Isochronal.

2.2. PERSYARATAN
1. Untuk aliran minyak, tekanan statik dan tekanan alir dasar sumur lebih besar dari tekanan
jenuh.
2. Khusus untuk persamaan Vogel, harga faktor skin sama dengan nol.
3. Kadar air tidak lebih dari 40%, baik untuk persamaan Vogel maupun perluasan persamaan
Vogel.


3. LANGKAH KERJA
3.1. PENENTUAN KURVA IPR UNTUK ALIRAN SATU FASA
3.1.1. Berdasarkan Data Uji Tekanan dan Produksi
1. Siapkan data hasil uji tekanan dan produksi yaitu : P
s
, P
wf
, dan q
o
pada P
wf
.
2. Hitung indeks produktivitas (J) dengan menggunakan persamaan :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 2 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

wf s
o
P P
q
J

= (1)
3. Pilih tekanan alir dasar sumur (P
wf
).
4. Hitung laju aliran (q
o
) pada P
wf
tersebut dengan menggunakan persamaan :
q
o
= J (P
s
− P
wf
) (2)
5. Kembali ke langkah 3.
6. Plot q
o
terhadap P
wf
yang diperoleh dari langkah 3 dan 4 pada kertas grafik kartesian,
dengan q
o
sebagai sumbu datar dan P
wf
sebagai sumbu tegak.

3.1.2. Berdasarkan Parameter Batuan dan Fluida Reservoir
1. Siapkan data yang diperlukan sebagai berikut :
a. Parameter batuan reservoir, yaitu :
k
o
, h, dan r
e

b. Parameter fluida reservoir, yaitu :
B
o
dan u
o

c. Parameter sumur yaitu : r
w

d. Tekanan statik dan faktor skin dari uji tekanan yaitu :
P
s
dan S
2. Hitung J dengan menggunakan persamaan :

) 472 . 0 (ln
00708 . 0
S
r
r
B
k
J
w
e
o o
o
+
=
u
(3)
3. Pilih tekanan alir dasar sumur (P
wf
).
4. Hitung laju aliran (q
o
) pada P
wf
tersebut dengan menggunakan persamaan :
q
o
= J (P
s
− P
wf
) (4)
5. Kembali ke langkah 3.
6. Plot q
o
vs P
wf
yang diperoleh dari langkah 3 dan 4 pada kertas grafik kartesian,
dengan q
o
sebagai sumbu datar dan P
wf
sebagai sumbu tegak.



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 3 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.2. PENENTUAN KURVA IPR UNTUK ALIRAN DUA FASA PADA FAKTOR SKIN = 0
3.2.1. Jika Tekanan Statik Lebih Kecil dari Tekanan Jenuh (P
s
< P
b
)
1. Siapkan data hasil uji tekanan dan produksi, yaitu P
s
, P
wf
, dan q
o
@ P
wf

2. Hitung P
wf
/P
s

3. Hitung laju produksi maksimum (q
max
) berdasarkan data dari langkah 1 dan
menggunakan persamaan berikut :

2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 0 . 1
s
wf
s
wf
o
P
P
P
P
q
q
− −
= (5)
4. Pilih tekanan alir dasar sumur (P
wf
) dan hitung P
wf
/P
s

5. Hitung q
o
pada P
wf
tersebut dengan menggunakan persamaan :

)
`
¹
¹
´
¦
− − =
2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 0 . 1
s
wf
s
wf
o
P
P
P
P
q q (6)
6. Kembali ke langkah 4.
7. Plot q
o
terhadap P
wf
yang diperoleh dari langkah 4 sampai dengan 6 pada kertas
grafik kartesian dengan q
o
sebagai sumbu datar dan P
wf
sebagai sumbu tegak.
Catatan :
Apabila dipilih harga q
o
dan akan ditentukan harga P
wf
-nya, langkah 4 s/d 6 diganti
dengan langkah berikut :
4. Pilih laju aliran (q
o
) dan hitung q
o
/q
max

5. Hitung P
wf
dengan menggunakan persamaan berikut :
{ } ) / ( 80 81 1 125 . 0
max
q q P P
o s wf
− + − = (7)
6. Kembali ke langkah 4.

3.2.2. Jika Tekanan Statik Lebih Besar daripada Tekanan Jenuh (P
s
> P
b
)
3.2.2.1. Jika tekanan alir dasar sumur dari uji produksi lebih besar dari tekanan jenuh
(P
wf
> P
b
)
1. Dari uji tekanan dan produksi, diperoleh :
P
s
, P
wf
dan q
o
@ P
wf
Dalam hal ini P
wf
> P
b
dan P
b
harus diketahui.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 4 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
2. Hitung indeks produktivitas sumur untuk P
wf
> P
b
(kondisi aliran satu fasa)
dengan menggunakan persamaan berikut :

wf s
o
P P
q
J

= (8)
3. Dengan menggunakan harga J tersebut hitung q
b
@ P
wf
= P
b
menurut
persamaan di bawah ini:
q
b
= J (P
s
− P
b
) (9)
4. Hitung q
x
, yaitu :

8 . 1
) (
b
x
P J
q = (10)
5. Hitung q
max
= q
b
+ q
x
(11)
6. Pilih P
wf
yang lebih kecil dari tekanan jenuh (P
b
) dan hitung P
wf
/P
b

7. Hitung laju produksi pada P
wf
tersebut dengan menggunakan persamaan :


)
`
¹
¹
´
¦
− − − + =
2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1 ) (
b
wf
b
wf
b b o
P
P
P
P
q q q q (12)
8. Kembali ke langkah 6.
9. Plot P
wf
terhadap q
o
yang diperoleh dari langkah 6 sampai dengan 8, pada
kertas grafik kartesian dengan menggunakan q
o
sebagai sunibu datar dan P
wf

sebagai sumbu tegak.

3.2.2.2. Jika tekanan alir dasar sumur dari uji produksi lebih kecil dari tekanan jenuh
(P
wf
< P
b
)
1. Dari uji tekanan dan produksi diperoleh :
P
s
, P
wf
, dan q
o
@ P
wf
Dalam hal ini P
wf
< P
b

2. Hitung P
wf
/P
b
dan tentukan harga A
di mana :

2
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1
b
wf
b
wf
P
P
P
P
A − − = (13)
3. Hitung harga J untuk kurva IPR di atas tekanan jenuh, yaitu :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 5 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

)
`
¹
¹
´
¦
+ −
=
) (
8 . 1
A
P
P P
q
J
b
b s
o
(14)
4. Hitung laju produksi pada P
wf
= P
b
, yaitu :
q
b
= J (P
s
− P
b
) (9)
5. Hitung q
x
dari persamaan :

8 . 1
) (
b
x
P J
q = (10)
6. Hitung q
max
= q
b
+ q
x
(11)
7. Pilih P
wf
yang lebih kecil dari tekanan jenuh dan hitung P
wf
/P
b
.
8. Hitung laju produksi pada P
wf
tersebut dengan menggunakan persamaan
berikut :

)
`
¹
¹
´
¦
− − − + =
2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1 ) (
b
wf
b
wf
b b o
P
P
P
P
q q q q (12)
9. Kembali ke langkah 7.
10. Plot P
ws
vs q
o
yang diperoleh dari langkah 7 sampai dengan 9 pada kertas
grafik kartesian dengan q
o
sebagai sumbu datar dan P
wf
sebagai sumbu
tegak.


3.3 PENENTUAN KURVA IPR DUA FASA UNTUK TEKANAN STATIK DI BAWAH
TEKANAN JENUH DAN FAKTOR SKIN TIDAK SAMA DENGAN NOL
1. Dari uji tekanan tentukan P
s
dan S.
2. Dari uji produksi tentukan harga P
wf
dan q
o
@ P
wf
.
3. Hitung konstanta persamaan kurva IPR, yaitu :
a
1
, a
2
, a
3
, a
4
dan a
5
masing-masing dengan menggunakan persamaan : (41), (42), (43), (44)
dan (45) pada Lampiran (harga a
1
sampai a
5
dapat juga ditentukan secara grafis dengan
menggunakan Gambar 1 sampai 5, untuk masing-masing a
n
, apabila harga faktor skin
antara (− 4) sampai dengan 10).
4. Hitung P
wf
/P
s
berdasarkan data uji tekanan dan produksi.
5. Hitung harga ruas kanan dari pada persamaan kurva IPR, yaitu :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 6 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

2
4 2
2
5 3 1
) / ( ) / ( 1
) / ( ) / (
s wf s wf
s wf s wf
P P a P P a
P P a P P a a
A
+ +
+ +
= (15)
6. Hitung laju produksi maksimum (q
max
) apabila S = 0, yaitu :
q
max
@ S = 0 =
A
q
o
(16)
dimana q
o
adalah laju dari uji produksi.
7. Pilih harga P
wf
dan hitung P
wf
/P
s
, kemudian hitung harga A, seperti pada langkah 5.
8. Hitung laju produksi, q
o
pada P
wf
tersebut, yaitu :
q
o
= q
max
@ S = 0 (A) (17)
9. Kembali ke langkah 7.
10. Plot P
wf
terhadap q
o
yang diperoleh dari perhitungan pada kertas grafik kartesian dengan q
o

sebagai sumbu datar dan P
wf
sebagai sumbu tegak.


3.4. PENENTUAN KURVA IPR BERDASARKAN UJI ISOCHRONAL
1. Dari uji Isochronal diperoleh 3 atau lebih laju produksi dengan masing-masing P
wf
-nya.
2. Untuk masing-masing harga P
wf
, hitung P
2
s
− P
2
wf
.
3. Plot (P
2
s
− P
2
wf
) terhadap q pada kertas grafik log-log.
4. Tarik garis lurus terbaik yang mewakili titik-titik tersebut.
5. Tentukan kemiringan garis lurus dari langkah 4 dengan prosedur sebagai berikut :
• Pilih dua titik sembarang yang terletak pada garis dari langkah 4.
• Baca harga-harga (P
2
s
− P
2
wf
) dan q, yaitu :
(P
2
s
− P
2
wf
)
1
dan q
o1
(P
2
s
− P
2
wf
)
2
dan q
o2

• Kemudian dari garis lurus tersebut dapat dihitung sebagai berikut :
2 1
2
2 2
1
2 2
log log
) log( ) log(
Kemiringan
o o
wf s wf s
q q
P P P P

− − −
= (18)
6. Harga n dari persamaan kurva IPR dapat dihitung sebagai berikut :
n = l/(kemiringan) (19)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 7 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
7. Tentukan konstanta J dari persamaan kurva IPR dengan prosedur sebagai berikut :
• Perpanjang garis dari langkah 4, sampai memotong sumbu datar.
• Baca harga perpotongan tersebut, misalkan X STB/hari.
• Baca harga (P
2
s
− P
2
wf
) yang sesuai dengan X STB/hari tersebut, misalkan Y (psi
2
).
Maka harga J dapat dihitung sebagai berikut :

n
Y
X
J = (20)
8. Pilih berapa harga P
wf
dan hitung laju alirannya dengan menggunakan persamaan kurva
IPR :
q
o
= J (P
s
2
− P
wf
2
)
n
(21)
9. Plot P
wf
terhadap q
o
, pada kertas grafik kartesian; q
o
pada sumbu datar dan P
wf
sebagai
sumbu tegak.


3.5. PENENTUAN KURVA IPR DUA FASA DI KEMUDIAN HARI DENGAN METODE
"PIVOT - POINT"
3.5.1. Pemecahan Secara Numerik dengan Menggunakan Metoda "Pivot - Point"
1. Dapatkan dua data uji tekanan dan produksi yang dilakukan pada waktu berbeda.
2. Tentukan laju produksi maksimum dari dua data uji tersebut dengan menggunakan
persamaan Vogel :

2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 0 . 1
s
wf
s
wf
o
P
P
P
P
q
q
− −
= (5)
dengan demikian diperoleh q
max
,
1
dan q
max, 2
untuk masing-masing data uji.
3. Hitung P
*
wf
dengan menggunakan persamaan berikut ini :

2
1 2 max,
2
2 1 max,
2
2 1 1 max,
2
1
2
1 2 max, *
) ( ) ( 8 / 1
s s
s s s s
wf
P q P q
P P q P P q
P


= (22)
4. Hitung (
wf
o
dP
dq
*
− ) dengan menggunakan persamaan di bawah ini :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 8 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

*
2
1 1
1 max,
*
)
6 . 1
2 . 0
( ) (
s
wf
s wf
o
P
P
P
q
dP
dq
+ = − (23)
5. Tentukan tekanan statis di kemudian hari, P
sf
yang mana kurva IPR-nya akan
dibuat.
6. Hitung(-dq
o
/dP
wf
)
f
dengan menggunakan persamaan
berikut :


sf
wf
wf
o
Pwf f
wf
o
P
P
dP
dq
dP
dq
*
*
0
1
) (
) (
+

= −
=
(24)

7. Hitung laju produksi maksimum di kemudian hari, q
max, f
, sebagai berikut :
2 . 0
) / (
0
max,
=

=
Pwf f wf o sf
f
dP dq P
q (25)

8. Buat kurva IPR di kemudian hari, berdasarkan harga P
sf
(dari langkah 5) dan q
max,f

(dari langkah 7) dengan menggunakan persamaan Vogel. Langkah perhitungan
dilakukan seperti langkah 4 sampai dengan 7 dari sub judul 3.2.1

3.5.2. Pemecahan Secara Numerik dengan Menggunakan Persamaan Ps-envelope
1. Dapatkan dua data uji tekanan dan produksi yang dilakukan pada waktu yang
berbeda.
2. Tentukan laju produksi maksimum dari dua data uji tersebut dengan menggunakan
persamaan Vogel, yaitu :

2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 0 . 1
s
wf
s
wf
o
P
P
P
P
q
q
− −
= (5)
Dengan demikian diperoleh q
max,1
dan q
max,2
untuk masing-masing data uji.

P
wf
= 0
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 9 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3. Hitung konstanta A dengan menggunakan persamaan berikut :

) / ( ) / (
2 max,
2
2 1 max,
2
1
2 1
q P q P
P P
A
s s
s s


= (26)
4. Hitung konstanta n, sebagai berikut :

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
− = 1
1 max,
1
1
q
P A
P n
s
s
(27)
5. Tentukan tekanan statis di kemudian hari (P
sf
) yang mana kurva IPR akan dibuat.
6. Hitung q
max,f
dengan menggunakan persamaan berikut :

n P
P A
q
sf
sf
f
+
=
2
max,
(28)
7. Buat kurva IPR di kemudian hari berdasarkan harga P
sf
(dari langkah 5) dan q
max,f

(dari langkah 7) dengan menggunakan persamaan Vogel. Langkah perhitungan
dapat dilihat pada sub-judul 3. 2. 1. dari langkah 4 sampai dengan 7.

3.6. PENENTUAN KURVA IPR DUA FASA DI KEMUDIAN HARI DENGAN
MENGGUNAKAN FUNGSI TEKANAN SEMU
1. Dapatkan satu data uji tekanan dan produksi pada waktu sekarang dan tentukan pula faktor
skin. Selain itu API minyak perlu diketahui.
2. Dengan menggunakan prosedur perhitungan pada sub-judul 3.3 dari langkah (1) sampai
dengan (6), tentukan laju produksi maksimum untuk S = 0, pada saat sekarang (q
max,p
)
3. Sesuai dengan API dari minyak, tentukan x
p
, yaitu perbandingan m(P
sp
)/m dengan (P
sp
)
menggunakan persamaan berikut :
Untuk API < 40 :
x
p
= 0.033210
) / ( 429922 . 3
sp sf
P P
e
= 1.025333 (29)
Untuk API > 40 :
x
p
= 0.015215
) / ( 152343 . 4
sp ssf
P P
e
= 0.967412 (30)
4. Tentukan harga tekanan statis di kemudian hari, P
sf
, yang mana kurva IPR-nya akan
dibuat.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 10 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. Hitung harga x
f
, yaitu :

) (
) (
sp
sf
f
P m
P m
x = (31)
dengan menggunakan persamaan yang sesuai dengan API minyak, yaitu :
Untuk API < 40 :
x
f
= 0.033210
) / ( 429922 . 3
sp sf
P P
e
Untuk API > 40
x
f
= 0.015215
) / ( 152343 . 4
sp sf
P P
e

Hitung laju aliran maksimum di kemudian hari (q
max,f
) untuk S = 0, yaitu :
p
p
f
f
q
x
x
q
max, max,
. = (34)
dimana q
max,p
telah diperoleh dari langkah 2.
7. Buat kurva IPR di kemudian hari berdasarkan P
sf
(dari langkah 5) dan q
max,f
(dari langkah
6) dengan menggunakan prosedur perhitungan pada 2.3, langkah 7 sampai dengan 9.

3.7. PENENTUAN KURVA IPR DI KEMUDIAN HARI DENGAN MENGGUNAKAN DATA
UJI ISOCHRONAL
1. Persamaan kurva IPR dapat dapat ditentukan berdasarkan data isochronal, yaitu:
q
o
= J (P
2
sp
− P
2
wf
)
n
(35)
2. Tentukan tekanan statik di kemudian hari (P
sf
).
3. Buat kurva IPR untuk tekanan statik (P
sf
) dengan menggunakan persamaan :
) ( ) (
2 2
wf sf
n
sp
sf
o
P P
P
P
J q − =
(36)
dimana P
sp
adalah tekanan statik pada saat sekarang, yaitu pada waktu uji isochronal
dilakukan (langkah 1).




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 11 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. DAFTAR BACAAN

1. Vogel, J. V. : "Inflow Performance Relationships For Solution Gas Drive Wells", Journal
Petroleum of Technology, Jan. 1968, pp. 83-92.
2. Sukarno, Pudjo : "Inflow Performance Relationship Curves in Two-Phase and Three-Phase Flow
Conditions", Ph. D. Dissertation, The University of Tulsa, 1985, Tulsa, Ok.
3. Fetkovich, M. J. : "The Isochronal Testing of Oil Wells", SPE Reprint Series No. 14, Pressure
Transient Testing Method, 1980 Edition.
4. Earlougher, Robert C., Jr. : "Advances in Well Test Analysis", Monograph Vol. 5, SPE of AIME.
5. Uhri, D. C. dan Blount, E. M. : "Pivot Point Method Quickly Predicts Well Performance", World
Oil Vol.194, No 6. May 1982 pp. 153 - 164.
6. Brown, K. E. : "The Technology of Artificial Lift Methods", Vol. IV, PennWell Books, Tulsa,
Oklahoma, 1984.



















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 12 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. DAFTAR SIMBOL

B
o
= faktor volume formasi, bbl/STB
h = tebal lapisan, ft
J = Indeks Produktivitas, STB/hari/psi
k
o
= permeabilitas efektif minyak, mD
k
ro
= permeabilitas relatif minyak
m(P) = fungsi tekanan semu
n = l/kemiringan kurva dari plot
(P
s
2
− P
wf
2
) terhadap q
o
pada kertas grafik log-log
P
b
= tekanan jenuh, psi
P
s
= tekanan statik, psi
P
sf
= tekanan statik di kemudian hari, psi
P
sp
= tekanan statik saat ini, psi
P
wf
= tekanan alir dasar sumur, psi
q
b
= laju aliran minyak pada P
wf
= P
b
, STB/hari
q
max
= laju aliran minyak maksimum, STB/hari
q
o
= laju aliran minyak, STB/hari
r
e
= jari-jari pengurasan, ft
r
w
= jari-jari sumur, ft












TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 13 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6. LAMPIRAN
6. 1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
6.1.1. Pendahuluan
Kurva IPR dinyatakan sebagai hubungan tekanan alir dasar sumur (P
wf
) terhadap laju
produksi (q
o
). Hubungan ini diperoleh dari uji sumur, yaitu :
(1) Uji produksi sebelum uji tekanan bentuk dilakukan.
(2) Uji "draw down" (UDD).
(3) Uji Isochronal.
Selain berdasarkan uji sumur tersebut kurva IPR dapat pula diperkirakan dengan
menggunakan persamaan aliran Darcy.

6.1.2. Penentuan Kurva IPR dengan Persamaan Darcy
Persamaan aliran untuk minyak dalam media berpori adalah sebagai berikut :

) / 472 . 0 (ln
) ( 10 08 . 7
3
S r r B
P P h k
q
w e o o
wf r o
o
+
− ×
=

u
(37)
Apabila indeks produksi (J) didefinisikan sebagai :

wf r
o
P P
q
J

= (38)
maka dari persamaan (1) dapat diturunkan harga J :

) / 472 . 0 (ln
10 08 . 7
3
S r r B
h k
J
w e o o
o
+
×
=

u
(39)

Oleh karena persamaan (39) diturunkan dari persamaan aliran Darcy, maka
pemakaiannya sesuai dengan anggapan yang digunakan oleh persamaan (37), yaitu
antara lain aliran satu fasa.






TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 14 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.1.3. Penentuan Kurva IPR untuk Aliran Dua Fasa (Gas dan Minyak) dengan Faktor Skin = 0
Untuk aliran dua fasa Vogel menurunkan persamaan kurva IPR yang tidak berdimensi
dengan menggunakan simulator untuk reservoir solution gas drive. Persamaan tersebut
adalah :

2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1
s
wf
s
wf
o
P
P
P
P
q
q
− − = (40)
Pembuatan kurva IPR dengan persamaan ini memerlukan satu data uji produksi (q
o
dan
P
wf
) dan uji tekanan statik.
Sesuai dengan penurunannya, persamaan (40) hanya berlaku apabila tidak terjadi
kerusakan atau perbaikan formasi. Persamaan ini dikembangkan untuk menentukan
kurva IPR, apabila tekanan statik lebih besar daripada tekanan jenuh. Pada kondisi ini
kurva IPR terdiri dari dua bagian, yaitu :
1. Kurva IPR yang linier, apabila tekanan alir dasar sumur lebih besar dari tekanan
jenuh. Pada kondisi ini persamaan (38) digunakan untuk membuat kurva IPR.
2. Kurva IPR yang tidak linier, apabila tekanan alir dasar sumur lebih kecil dari tekanan
jenuh. Pada kondisi ini persamaan kurva IPR berupa :

)
`
¹
¹
´
¦
− − − + =
2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1 ) (
b
wf
b
wf
b b o
P
P
P
P
q q q q (12)
Harga q
b
ditentukan menurut persamaan (38) sebagai berikut :
q
b
= J (P
s
– P
b
) (9)
Harga J lebih dahulu dihitung berdasarkan data uji tekanan dan produksi sebagai berikut
:
1. Apabila dari uji produksi diperoleh P
wf
> P
b
, maka :

wf s
o
P P
q
J

=
2. Apabila dari uji produksi diperoleh P
wf
< P
b
, maka :

{ } ) ( 8 . 1 / A P P P
q
J
b b s
o
+ −
= (7)
dimana :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 15 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

2
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1
b
wf
b
wf
P
P
P
P
A − − = (13)
Pemakaian persamaan (12) memerlukan harga q
max
dihitung menurut persamaan :

8 . 1
max
b
b
P J
q q + = (41)
6.1.4. Penentuan Kurva IPR untuk Aliran Dua Fasa (Gas dan Minyak) Apabila Terjadi
Kerusakan atau Perbaikan Formasi
Persamaan kurva IPR, yang dipengaruhi skin factor, dikembangkan dari simulator
reservoir 3-fasa dengan memasukkan pengaruh skin.
Persamaan tersebut berbentuk :

2
4 2
2
5 3 1
0 max,
) ( ) ( 1
) ( ) (
s
wf
s
wf
s
wf
s
wf
S
o
P
P
a
P
P
a
P
P
a
P
P
a a
q
q
+ +
+ +
=
=
(42)
di mana a
1
sampai dengan a
5
adalah konstanta persamaan yang tergantung dari harga
faktor skin. Konstanta ini dihitung dengan menggunakan persamaan-persamaan berikut :
a
1
= 0.182922 e
-0.36438

S
+ 0.814541 e
-0.055873 S
(43)
a
2
= −1.476950 e
−0.456632 S
+ 1.646246 e
−0.442306 S
(44)
a
3
= −2.149274 e
−0.195976 S
+ 2.289242 e
−0.220333 S
(45)
a
4
= −0.0217831 e
0.088286 S
– 0.260385 e
−0.210801

S
(46)
a
5
= −0.5524470 e
−0.032449 S
− 0.583242 e
−0.306962 S
(47)
Untuk harga faktor skin antara −4 sampai dengan 10, konstanta a
1
sampai a
5
dapat
ditentukan secara grafis dengan menggunakan Gambar 1 sampai dengan 5.

6.1.5. Penentuan Kurva IPR Berdasarkan Uji Isochronal
Cara ini dikembangkan oleh Fetkovich, yang menganggap bahwa kelakuan aliran cairan
dalam media berpori adalah sama seperti aliran gas. Persamaan kurva IPR untuk aliran
cairan adalah :
q
o
= J (P
2
s
− P
2
wf
)
n
(21)
Harga J dan n dari persamaan (21) diperoleh dari plot (P
2
s
− P
2
wf
) terhadap q
o
dari data
uji isochronal. Plot tersebut dibuat pada kertas grafik log-log.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 16 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.1.6. Perencanaan Kurva IPR Dua Fasa di Kemudian Hari dengan Metoda "Pivot Point"
Metode Pivot Point dikembangkan oleh Uhri dan Blount dan digunakan untuk
meramalkan kurva IPR di kemudian hari untuk sumur-sumur yang berproduksi dari
reservoir solution gas drive, tanpa memerlukan data PVT dan saturasi atau permeabilitas
relatif.
Persamaan kurva IPR dari Vogel, masih tetap digunakan untuk membuat kurva IPR
dikemudian hari, di mana laju aliran maksimum (q
max
) diramalkan dengan metode "Pivot
Point" ini. Untuk peramalan laju aliran maksimum ini diperlukan paling sedikit dua uji
tekanan dan produksi yang dilaksanakan pada waktu yang berbeda.
Metode ini dikembangkan dari persamaan Vogel yang diturunkan terhadap tekanan alir,
yaitu :

)
`
¹
¹
´
¦
+ = −
2
max
6 . 1
2 . 0
s
wf
s wf
o
P
P
P
q
dP
dq
(48)
atau dapat pula dituliskan sebagai :

wf
s s wf
o
P
P
q
P
q
dP
dq
2
max max
6 . 1 2 . 0
+ = − (49)
Persamaan tersebut menunjukkan hubungan yang linier (dq
o
/dP
wf
) terhadap P
wf
. Dengan
demikian grafik (dq
o
/dP
wf
) terhadap P
wf
akan menghasilkan garis lurus. Kemudian
diketemukan bahwa garis-garis lurus tersebut semuanya berpangkal dari satu titik,
(Pivot Point), seperti terlihat pada Gambar 6.
Untuk membuat garis lurus tersebut diperlukan dua harga (dq
o
/dP
wf
) yang ditentukan dari
dua harga P
wf
, yaitu :
1. Untuk P
wf
= 0 :

) (
wf
o
dP
dq

s
P
q
max
2 . 0
= (50)


2. Untuk P
wf
= P
s
P
wf
= 0
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 17 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
) (
wf
o
dP
dq

s
P
q
max
2 . 0
= (51)

atau
) (
wf
o
dP
dq

0
9
=
− =
Pwf
wf
o
dP
dq
(52)

Dengan demikian dari satu uji tekanan dan produksi serta menggunakan persamaan (50)
dan (51) dapat dibuat garis lurus yang sesuai dengan persamaan (49).
Dengan cara yang sama dibuat garis lurus yang lain berdasarkan uji tekanan dan
produksi yang diambil pada saat yang berbeda. Perpotongan kedua garis lurus itu adalah
titik pangkal dari semua garis lurus untuk harga P
s
yang berbeda-beda. Apabila dibuat
beberapa garis seperti itu, maka titik ujung garis-garis tersebut akan membentuk suatu
kurva yang disebut P
s
-envelope (lihat Gambar 7).
Untuk meramalkan kurva IPR di kemudian hari, titik pangkal (Pivot Point) dan P
s
-
envelope harus dibuat lebih dahulu. Penentuan kedua hal ini dapat dilakukan secara
analitis seperti tercantum dalam prosedur perhitungan.

6.1.7. Peramalan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Fungsi
Tekanan Semu (Pseudo Pressure Function)
Metode ini dikembangkan berdasarkan persamaan aliran radial dua fasa semi mantap,
yaitu :



×
=
− s
wf
P
P o o
ro
w e
o
o
dP
B
k
r r
h k
q
u 5 . 0 ) / (ln(
10 08 . 7
3
(53)
Dalam bentuk fungsi tekanan semu, persamaan (53) dapat dituliskan sebagai :
| | ) ( ) (
5 . 0 ) / (ln(
10 08 . 7
3
wf s
w e
o
o
P m P m
r r
h k
q −

×
=

(54)
Apabila P
sf
dan P
sp
masing-masing adalah tekanan reservoir statik di kemudian hari dan
saat ini, maka perbandingan antara q
max,f
dan q
max,p
untuk faktor skin = 0 dapat
dinyatakan sebagai :
P
wf
= P
s
P
wf
= P
s

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 18 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

) (
) (
max,
max,
sp
sf
p
f
P m
P m
q
q
= (55)
Dari hasil simulasi reservoir, diperoleh hubungan (k
ro
/u
o
B
o
) terhadap tekanan dan fungsi
tekanan semua dihitung berdasarkan integrasi secara numerik.
Untuk bermacam-macam jenis minyak dan parameter batuan reservoir ternyata
kedudukan kurva dari hubungan m(P
sf
)/m(P
sp
) terhadap P
rf
/P
ri
adalah saling berdekatan,
seperti ditunjukkan pada Gambar 8 dan 9, masing-masing untuk API > 40 dan API < 40.
Analisa regresi terhadap kurva tersebut menghasilkan persamaan-persamaan sebagai
berikut :
API > 40
) / ( 429922 . 3
033210 . 0
) (
) (
Psp Psf
sp
sf
e
P m
P m
= (56)

API < 40
) / ( 152343 . 4
015215 . 0
) (
) (
Psp Psf
sp
sf
e
P m
P m
= (57)

Dengan menggunakan persamaan (56) atau (57) tersebut serta persamaan (42), maka laju
produksi maksimum di kemudian hari untuk faktor skin = 0 dapat ditentukan. Kurva IPR
dapat dibuat berdasarkan q
max,f
ini dengan menggunakan persamaan (42).











TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 19 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 20 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 21 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 22 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 23 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 24 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 25 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 26 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 27 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu











TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 28 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2. CONTOH PERHITUNGAN
6.2.1. Penentuan Kurva IPR Untuk Aliran Satu Fasa (Berdasarkan Data Uji Tekanan dan
Produksi)
a. Dari uji tekanan dan produksi, diperoleh :
P
s
= 1,500 psi
P
wf
= 1,200 psi
q
o
= 150 STB/hari
Tekanan jenuh = 750 psi.
b. Penentuan Kurva IPR :
1. P
s
= 1,500 psi
P
wf
= 1,200 psi
q
o
@ P
wf
= 150 STB/hari
2. J = 150/(1,500 − 1,200) = 0.50 STB/hari/psi
3. P
wf
= 1,400 psi
q = 0.50 (1,500 − 1,400) = 50 STB/hari
P
wf
= P
b
= 750 psi
q
o
= 0.50 (1,500 − 750) = 375 STB/hari
4. Plot kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 10.

6.2.2. Penurunan Kurva IPR Untuk Aliran Satu Fasa (Berdasarkan Parameter Batuan dan
Fluida Reservoir)
1. Parameter batuan reservoir :
k
o
= 14.5 mD
h = 20 ft
r
e
= 900 ft
2. Parameter fluida reservoir :
B
o
= 1.1200 bbl/STB
u
o
= 0.40 cp
3. Parameter sumur :
r
w
= 0.33 ft
S = + 2
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 29 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. Tekanan Statik, P
s
= 1,500 psi
5. Hitung J :

{ } 0 . 2 ) 33 . 0 / 900 ( 474 . 0 ln ) 12 . 1 )( 40 . 0 (
) 20 )( 5 . 14 ( 00708 . 0
+
= J
6. P
wf
= 1,200 psi
q
o
= 0.50 (1,500 − 1,200) = 150 STB/hari
P
wf
=

1,000 psi
q
o
= 0.50 (1,500 − 1,000) = 250 STB/hari
7. Plot kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 11.






















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 30 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 31 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 32 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.3. Kurva IPR Untuk Aliran Dua Fasa (Gas-Minyak) dan P
s
< P
b

1. Dari data uji tekanan dan produksi, diperoleh. :
P
s
= 1,500 psi
P
wf
= 1,200 psi
q
o
= 150 STB/hari
2. P
wf
/P
s
= 1,200/1,500 = 0.80
3.
2
max
) 80 . 0 ( 80 . 0 ) 80 . 0 ( 20 . 0 0 . 1
150
− −
= q
4. P
wf
= 1,400 psi
P
wf
/P
s
= 1,400/1,500 = 0.9333
5. q
o
= 457.32 {1.0 – 0.20 (0.9333) – 0.80 (0.9333)
2
}
= 53.25 STB/hari
6. Untuk berbagai harga P
wf
diperoleh harga-harga q
o
sebagai berikut :

P
wf
P
wf
/P
s
q
o

1,500.0 1.0000 0.00
1,400.0 0.9333 53.25
1,200.0 0.8000 150.00
1,000.0 0.6667 233.74
800.0 0.5333 304.47
600.0 0.4000 362.20
400.0 0.2667 406.91
200.0 0.1333 438.62
0.0 0.0000 457.62

7. Plot Kurva IPR ditunjukkan oleh Gambar 12.





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 33 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu





6.2.4. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa (P
wf
> P
b
)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 34 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
1. Dari uji tekanan dan produksi diperoleh :
P
s
= 4,000 psi
P
wf
= 3,000 psi , q
o
= 200 STB/hari @ P
wf
P
b
= 2,000 psi
2. Indeks Produktivitas untuk P
wf
> P
b
, dapat dihitung sebagai berikut :
2 . 0
000 , 3 000 , 4
200
=

= J
3. Laju produksi pada P
wf
= P
b
adalah :
q
b
= 0.2 (4,000 − 2,000) = 400 STB/hari
4. Hitung q
x
:
22 . 222
8 . 1
) 000 , 2 )( 2 . 0 (
= =
x
q STB/hari
5. Hitung q
max
:
q
max
= 400 + 222.22 = 622.22 STB/hari
6. Pilih P
wf
= 1,000 psi, dan hitung P
wf
/P
b
:
5 . 0
000 , 2
000 , 1
= =
b
wf
P
P

7. Laju produksi pada P
wf
= 1,000 psi adalah :
q
o
= 400 + (622.22 − 400) (1.0 – 0.2(0.5) – 0.8(0.5)
2
)
= 555.55 STB/hari
8. Pilih harga P
wf
yang lain dan hasil hitungan adalah sebagai berikut :
P
wf
P
wf
/P
b
q
o

4,000 - 0.0
3,000 - 200.0
2,000 - 400.0
1,600 0.80 472.89
1,200 0.60 531.55
1,000 0.50 555.55
600 0.30 592.89
200 0.10 616.00
0 0.0 622.22
9. Plot P
wf
terhadap q
o
dapat dilihat pada Gambar 13.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 35 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



6.2.5. Perhitungan Kurva IPR Dua Fasa (P
wf
< P
b
)
1. Dari uji tekanan dan produksi diperoleh :
P
s
= 4,000 psi
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 36 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
P
wf
= 2,000 psi , q
0
@ P
wf
= 200 STB/hari
P
b
= 3,000 psi
2. Hitung P
wf
/P
b
= 6667 . 0
000 , 3
000 , 2
=
A = 1.0 – 0.2(0.6667) – 0.8(0.6667)
2
= 0.5111
3. Hitung harga J untuk P
wf
> P
b
:
1080 . 0
)) 5111 . 0 (
8 . 1
000 , 3
000 , 3 000 , 4 (
200
=
+ −
= J
4. Hitung q
b
:
q
b
= 0.1080(4,000 − 3,000) = 108.0 STB/hari
5. Hitung q
x
:
q
x
= 0 . 180
8 . 1
) 000 , 3 ( 1080 . 0
= STB/hari
6. Pilih P
wf
= 1,000 psi :
P
wf
/P
b
= 3333 . 0
000 , 3
000 , 1
=
7. q
o
= 108 + (288 − 100) {1 – 0.2(0.3333) – 0.8 (0.3333)
2
}
= 260.0 STB/hari
8. Hasil perhitungan untuk berbagai harga P
wf
adalah sebagai berikut :
P
wf
P
wf
/P
b
q
o

4,000 - 0.0
3,000 - 108.0
2,500 0.8333 158.0
2,000 0.6667 200.0
1,500 0.5000 234.0
1,000 0.3333 260.0
500 0.1667 278.0
0 0.0 288.0
9. Kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 14.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 37 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



6.2.6. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa (Gas dan Minyak) Dengan P
s
< P
b
dan S ≠ 0
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 38 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
a. Untuk harga S positif
1. Dari uji tekanan diperoleh :
P
s
= 1,590 psi
S = 2.43 (FE = 0.7880)
2. Dari uji produksi diperoleh :
P
wf
= 240 psi
q
o
= 924 STB/hari
3. Hitung konstanta persamaan Kurva IPR sebagai berikut :
a
1
= 0.182922 e
− 0.364438(2.43)
+ 0.814541 e
− 0.055873(2.43)
= 0.78658
a
2
= −1.476950 e
– 0.456632(2.43)
+ 1.646246 e
– 0.442306(2.43)
= 0.07504
a
3
= −2.149274 e
– 0.195976(2.43)
+ 2.289242 e
– 0.022033(2.43)
= 0.00522
a
4
= −0.0217833 e
– 0.088286(2.43)
– 0.260395 e
– 0.210801(2.43)
= −0.18300
a
5
= 0.5524470 e
– 0.032449(2.43)
– 0.583242 e
– 0.306962(2.43)
= −0
.
78719
4. Hitung P
wf
/P
s
, yaitu :
15094 . 0
590 , 1
240
= =
s
wf
P
P

5. Hitung ruas kanan dari pada persamaan Kurva IPR :

2
2
) 15094 . 0 ( 18300 . 0 ) 15094 . 0 ( 07504 . 0 1
) 15094 . 0 ( 7819 . 0 ) 15094 . 0 ( 00522 . 0 78658 . 0
− +
− +
= A
= 0.76396
6. Hitung laju produksi maksimum pada S = 0, (q
max,,S = 0
), yaitu :
48 . 209 , 1
76396 . 0
924
0 max,
= =
= S
q STB/hari
7. Pilih harga P
wf
= 1,400 psi,
88050 . 0
590 , 1
400 , 1
= =
s
wf
P
P

Harga A adalah :

2
2
) 88050 . 0 ( 18300 . 0 ) 88050 . 0 ( 07504 . 0 1
) 88050 . 0 ( 78719 . 0 ) 88050 . 0 ( 00522 . 0 78658 . 0
− +
− +
= A
= 0.19572
8. Laju produksi pada P
wf
= 1,400 psi adalah :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 39 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
q
o
= (1,209.48) (0.19572) = 236.71 STB/hari
9. Untuk harga P
wf
yang berbeda diperoleh hasil perhitungan laju produksi sebagai
berikut :

P
wf
q
o

1,590 0.0
1,400 236.71
1,200 436.38
1,000 595.39
800 720.93
600 817.05
400 886.49
200 930.94
0 951.19

10. Plot P
wf
terhadap q
o
dapat dilihat pada Gambar 15.

b. Untuk S negatif
1. Dari uji tekanan diperoleh :
P
s
= 3,548 psi
S = −3.60 (FE = 1.6558)
2. Dari uji produksi diperoleh :
P
w:f
= 3,118 psi
q
o
= 107 STB/hari
3. Hitung konstanta persamaan Kurva IPR sebagai berikut :
a
1
= 0.182922 e
(−0.364438) (−3.60)
+

0.814541 e
– 0.055872(−3.60)
= 1.67530
a
2
= −1.476950 e
– 0.456632 (−3.60)
+ 1.646246 e
(– 0.442306) (−3.60)
= 0.44789
a
3
= −2.149274 e
– 0.195976 (−3.60)
+ 2.289242 e
(– 0.220333) (−3.60)
= 0.70823
a
4
= −0.0217831 e
– 0.088286(−3.60)
– 0.260385 e
– 0.21080(−3.60)
= −2.38195
a
5
= −0.5524470 e
– 0.032449(−3.60)
– 0.583242 e
– 0.306962 (−3.60)
= −2.38195

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 40 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



4. Hitung P
wf
/P
s
, yaitu :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 41 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
8788 . 0
548 , 3
118 , 3
= =
s
wf
P
P

5. Hitung harga A :

2
2
) 8788 . 0 ( 57201 . 0 ) 8788 . 0 ( 44789 . 0 1
) 8788 . 0 ( 38195 . 2 ) 8788 . 0 ( 70823 . 0 67530 . 1
− +
− +
= A
= 0.48130
6. Laju produksi maksimum pada harga S = 0 adalah :
32 . 222
48130 . 0
107
0 max,
= =
= S
q STB/hari
7. Pilih P
wf
= 3,300 psi
P
wf
/P
s
= 0.93010
Harga A adalah :

2
2
) 8788 . 0 ( 57201 . 0 ) 8788 . 0 ( 44789 . 0 1
) 93010 . 0 ( 38195 . 2 ) 93010 . 0 ( 78823 . 0 67530 . 1
− +
− +
= A
= 0.29664
8. Laju produksi pada P
wf
= 3,300 psi adalah :
q
o
= (222.32) (0.29664) = 65.95 STB/hari
9. Untuk harga P
wf
yang lain diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut :

P
wf
q
o

3,548 0.0
3,000 65.95
2,900 149.68
2,500 213.41
2,100 262.54
1,500 315.86
1,100 340.61
700 357.93
300 368.18
0 372.44

10. Plot P
wf
terhadap q
o
dapat dilihat pada Gambar 16.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 42 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 43 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.7. Penentuan Kurva IPR Berdasarkan Data Uji Isochronal
3

1. Data Uji Isochronal : P
s
= 1,345 psi

Test Aliran q
o
P
wf

1 66 1,242
2 134 1,142
3 137 1,123
4 229 921
5 93 1,178
6 321 719
7 341 638

2. Hitung (P
2
s
– P
2
wf
) :

q
o

P
2
s
– P
2
wf

66 266,461
134 504,861
137 547,896
229 960,784
93 421,341
321 1,292,064
341 1,401,981

3. Plot (P
2
s
– P
2
wf
) terhadap q
o
dapat dilihat pada Gambar 17.










TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 44 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 45 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. Buat garis lurus yang mewakili ke tujuh titik tersebut.
5. Kemiringan garis lurus dihitung sebagai berikut :
q = 10 STB/hari , (P
2
s
– P
2
wf
) = 40,500 psi
2
q = 100 STB/hari , (P
2
s
– P
2
wf
) = 410,000 psi
2

Kemiringan =
10 log 100 log
500 , 40 log 000 , 410 log


= 1.005329
6. Harga n adalah :
n = 0 . 1 9947 . 0
005329 . 1
1
= =
7. Konstanta J dihitung sebagai berikut :
• Perpanjang garis lurus sampai memotong sumbu tegak di Y = 40,500 psi
2

• Dan harga X = 10 STB/hari
• Jadi J adalah :

4
0 . 1
10 46914 . 2
) 500 , 40 (
10

× = = J
8. Jadi persamaan kurva IPR :
q
o
= 2.46914 × 10
-4
(P
2
s
– P
2
wf
)
1.0

9. Harga laju aliran minyak untuk berbagai P
wf
adalah sebagai berikut :

P
wf
q
o

1,345 0.00
1,200 91.12
1,000 199.76
800 288.65
600 357.78
400 407.17
200 436.80
0 446.67

10. Plot P
wf
terhadap q
o
dari hasil perhitungan di langkah 9 menghasilkan kurva IPR
seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 18.

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 46 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 47 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.8. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Pivot - Point
Contoh soal dikutip dari :
World Oil, May 1982, halaman 155, "Pivot-Point Method Quickly Predicts Well
Performance", Uhri. , D. C. , dan Blount, E. M.
a. Data Uji Sumur :
Uji #1 Uji #2
q
o
, bpd 50 50
P
wf
, psi 1,765 1,578
P
s
, psi 2,090 1,960

b. Tentukan Kurva IPR pada P
sf
= 1,260 psi .
c. Langkah Perhitungan :
1. Data uji sumur untuk waktu yang berbeda telah ditunjukkan oleh Tabel
terdahulu.
2. Hitung laju produksi maksimum :
Untuk Uji #1 :
89 . 191
090 , 2
765 , 1
8 . 0
090 , 2
765 , 1
2 . 0 1
50
2
1 max,
=

− −
= q bpd

Untuk Uji #2 :
84 . 156
)
960 , 1
765 , 1
( 8 . 0
960 , 1
578 , 1
2 . 0 1
50
2
2 max,
=
− −
= q bpd
3. Hitung P
*
wf
, yaitu :

{ }
2 2
2 2
*
) 090 , 2 ( 04 . 156 ) 960 , 1 ( 192
) 960 , 1 )( 090 , 2 ( 89 . 191 ) 960 , 1 ( ) 090 , 2 ( 04 . 156 8 / 1


=
wf
P
= − 457.10274
4. Hitung (−
wf
o
dP
dq
) * , yaitu :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 48 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
)
`
¹
¹
´
¦ −
+ = −
2
) 2090 (
) 10274 . 457 ( 6 . 1
090 , 2
2 . 0
89 . 191 )* (
wf
o
dP
dq

5. P
sf
= 1,260 psi.
6. Hitung
f
wf
o
dP
dq
) (− ,yaitu :

f
wf
o
dP
dq
) (−
260 , 1
) 10274 . 457 (
8 1
013766 . 0

+

=

= 0.007237
7. Hitung q
max,f
, yaitu :
59 . 45
2 . 0
) 007237 . 0 ( 260 , 1
max,
= =
f
q bpd

8. Hasil perhitungan kurva IPR adalah sebagai berikut :
P
wf
q
o

1,260 0.00
1,200 3.825
1,000 15.381
800 25.099
600 32.979
400 39.021
200 43.225
0 45.59

9. Hasil plot q
o
terhadap P
wf
dapat dilihat pada Gambar 19.






P
wf
= 0
P
wf
= 0
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 49 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 50 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.9. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari Dengan Menggunakan Persamaan P
s
-
envelope
Catatan:
Soal sama seperti pada contoh 6.2.8
1. Data uji sumur seperti tercantum pada contoh perhitungan 6.2.8.
2. Hitung laju produksi maksimum untuk masing-masing uji sumur. Berdasarkan hasil
perhitungan pada contoh soal 6.2.8 diperoleh :
q
max,1
= 191.89 bpd
q
max,2
= 156.04 bpd
3. Hitung konstanta A,
070052 . 0
04 . 156
) 960 , 1 (
89 . 191
) 090 , 2 (
960 , 1 090 , 2
2 2
− =


= A
4. Hitung konstanta n,

)
`
¹
¹
´
¦


= 1
89 . 191
) 090 , 2 ( 070052 . 0
090 , 2
2
n
= −3,684.6317
5. P
sf
= 1,260 psi.
6. Hitung q
max
,
f

87 . 45
6317 . 684 , 3 260 , 1
) 260 , 1 ( 070052 . 0
2
max,
=


=
f
q STB/hari
7. Hasil perhitungan Kurva IPR pada P
sf
= 1260 psi sama seperti hasil perhitungan
pada contoh soal 6.2.8.

6.2.10. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Dikemudian Hari dengan Menggunakan Fungsi
Tekanan Semu
a. Soal sama seperti contoh soal 6.2.7 di mana diperoleh
P
s
= 1,345 psi
P
wf
= 719 psi
q = 321 STB/hari
b. Tentukan kurva IPR pada P
sf
= 1,000 psi.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 51 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
c. Langkah perhitungan
1. P
s
= 1,345 psi
P
wf
= 719 psi
q = 321 STB/hari
API < 40 dan S = 0 (dianggap)
2. Hitung q
max,,p
pada saat P
s
= 1,345 psi
a
1
= 0.182922 e
0
+ 0.81451 e
0
= 0.997463
a
2
= −1.476950 + 1.64626 = 0.169296
a
3
= 2.144274 + 2.289242 = 0.139968
a
4
= −0.0217831 – 0.260385 = −0.282168
a
5
= −0.5524470 – 0.583242 = −1.135689
P
wf
= 719 psi
534572 . 0
345 , 1
719
= =
s
wf
P
P

2
2
) 534572 . 0 ( 282168 . 0 ) 534572 . 0 ( 169296 . 0 1
) 534572 . 0 ( 135689 . 1 ) 534572 . 0 ( 139968 . 0 997463 . 0
− +
− +
= A
= 0.740437
q
max,,p
=
740437 . 0
321
= 433.53 STB/hari
3. Untuk API < 40
x
p
= 1.025333
4. P
sf
= 1,000 psi
5. Untuk API < 40
x
f
= 0.033210 e
3.429922 (1,000/1,345)
= 0.425378
6. ) 53 . 433 (
025333 . 1
425378 . 0
max,
=
f
q
= 179.86 STB/hari




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 52 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
7. Berdasarkan q
max,f
serta konstanta-konstanta a
1
, a
2
, a
3
, a
4
dan a
5
kurva IPR pada
tekanan statik = 1,000 psi dihitung sebagai berikut :

P
wf


s
wf
P
P

A

q
o


1,000 1.00 0.00 0.00
800 0.80 0.3653 65.71
600 0.60 0.6726 120.97
400 0.40 0.8914 160.33
300 0.30 0.9610 172.85
0 0.00 1.0 179.40

8. Kurva IPR diperoleh dari plot P
wf
terhadap q
o
dari hasil perhitungan di langkah
7. Hasil plot ditunjukkan oleh Gambar 20.



















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 53 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 54 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.11. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Uji
Isochronal
a. Soal sama seperti pada contoh soal 6.2.7 dimana diperoleh :
q = 2.46914 × 10
-4
(P
2
s
– P
2
wf
)
untuk P
s
= 1,345 psi
b. Tentukan kurva IPR pada tekanan statik = 1,000 psi
c. Langkah perhitungan :
1. Persamaan kurva IPR pada tekanan statik = 1,345 psi adalah :
q = 2.46914 × 10
-4
(P
2
s
– P
2
wf
)
2. P
sf
= 1,000 psi
3. Persamaan kurva IPR pada tekanan statik = 1,000 psi adalah :

0 . 1 2 2 4
) )(
345 , 1
000 , 1
( 10 46914 . 2
wf sf
P P q − × =


= 1.83579 × 10
-4
(1,000 – P
2
wf
)
1.0

4. Perhitungan kurva IPR pada P
sf
= 1,000 psi :

P
wf
q
o

1,000 0
800 66.09
600 117.49
400 154.21
200 176.24
0 183.58

5. Kurva IPR diperoleh dengan membuat plot P
wf
terhadap q
o
, seperti tercantum
pada Gambar 21.





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 55 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 1 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK HORISONTAL


1. Penentuan Luas Daerah Pengurasan

Setiap sumur minyak atau sumur gas mempunyai daerah dan luas pengurasan tertentu. Daerah
pengurasan yaitu reservoir atau bagian reservoir yang memberikan kontribusi aliran fluida ke lubang
sumur produksi. Dalam hal sumur horizontal, daerah pengurasan dipengaruhi oleh distribusi
permeabilitas arah lateral. Arah sumbu sumur horizontal sebaiknya tegak lurus terhadap arah
permeabilitas lateral terbesar agar produktivitasnya maksimal.

Pada umumnya daerah pengurasan sumur horizontal berbentuk elips. Bila sumbu terpanjang suatu
elips adalah a dan sumbu pendeknya adalah b maka luas elips adalah ( ) |
.
|

\
|
× |
.
|

\
|
× b
2
1
a
2
1
π . Kemudian
bilamana jari-jari pengurasan (drainage radius) suatu sumur vertikal adalah r
ev
di suatu reservoir dan
kita ingin membor sumur horizontal dengan panjang L di reservoir ini, maka luas pengurasan sumur
horizontal ini (A
h
) dapat diperkirakan :
( ) sqft 2
2
1

+ × × =
ev ev h
r L r π A atau
( )
acre
560 43
2
2
1
,
r L r π
A
ev ev
h

+ × ×
=

2. Persamaan Laju Alir Sumur Horizontal

Ada 2 (dua) anggapan kondisi aliran yang berbeda di dalam reservoir, yaitu aliran mantap (atau steady
state flow) dan aliran semi-mantap (atau pseudo-steady state flow). Kondisi aliran mantap, yaitu suatu
kondisi aliran dimana tekanan reservoir dan drawdown tetap terhadap waktu. Sedangkan kondisi
aliran semi-mantap, yaitu kondisi dimana tekanan reservoir berubah dengan waktu tetapi drawdown
dapat dipertahankan konstan.




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 2 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
A. Aliran Mantap (Steady State Flow)

Persamaan untuk menentukan laju alir produksi suatu sumur horizontal pada kondisi steady-state
flow di antaranya adalah :

Untuk Sumur Minyak :
a. Persamaan Sada Joshi (modifikasi oleh Economides) :
( )
( )

|
|
.
|

\
|
+
+
|
|
|
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
− +

=
1 β r
βh
ln
L
βh
2
L
2
L
a a
ln B
P P h k
q
w
2
2
o o
wf s h
u
00708 . 0

dimana :
5 . 0
4
2
25 . 0 5 . 0
2
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
+ + =
L
h r L
a
e

b. Persamaan Pudji Permadi :
( )

|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
+ −

=
m
w
e
e e o o
wf s h
S L h
r
Y
h L h Y X B
P P L h k
q
/
2
ln /
00708 . 0
β u

atau
( )

|
|
.
|

\
|
+ −
|
|
.
|

\
|
+ −

=
m
w
o o
wf r h
S L h
r
Ye
h L h Ye Xe B
P P hL k
q
2
1
/
2
ln /
00708 . 0
β u

dimana :
q = laju produksi, STB/hari
k
h
= permeabilitas horizontal efektif, mD
h = tebal bersih zona minyak, ft
P
s
= tekanan statik reservoir, psi
r
P = tekanan rata-rata reservoir, psi
P
wf
= tekanan alir dasar sumur, psi
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 3 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
L = panjang efektif sumur horizontal, ft
B = faktor volume formasi, bbl/STB
r
w
= jari-jari lubang sumur horizontal, ft
r
eh
= jari-jari pengurasan sumur horizontal, ft
= π /
h
A
S
m
= skin faktor mekanik, tidak berdimensi
X
e
= lebar daerah pengurasan, ft
Y
e
= panjang daerah pengurasan sejajar sumbu sumur horizontal, ft
β = faktor anisotropi vertikal, tidak berdimensi
=
v
h
k
k

u = viskositas minyak, cp
k
v
= permeabilitas vertikal, mD


B. Aliran Semi-Mantap (Pseudo-Steady State Flow)

a. Persamaan Babu-Odeh :
( ) ( )

+ + − +
|
|
.
|

\
|

=
m
e
R H
w
e
o o
wf r v h e
S
L
Y
S C
r
h X
B
P P k k Y
q
75 . 0 ln ln
00708 . 0
5 . 0
u


TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 4 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


Gambar 1. Skematik Sumur Horizontal

088 . 1 ln 5 . 0
180
sin ln
3
1
28 . 6 ln
0
0
2
0 0


|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
+ − =
x
z e
e e x
z e
H
k
k
h
X
h
Z
x
x
x
x
k
k
h
X
C

dimana x
o
dan z
o
adalah koordinat pusat sumur pada bidang vertikal (di sini k
z
= k
v
). S
R
adalah skin
factor yang ekivalen dengan partial penetration lateral, karena L < Y
e
. Hanya S
R
= 0 bila L = Y
e
.
Perhitungan S
R
terbagi atas 2 (dua) kasus, salah satu yang memenuhi, yaitu :
kasus - 1 :
z y
e
x
e
k
h
k
Y
k
X
75 . 0 75 . 0 >> ≥
kasus - 2 :
z x
e
y
e
k
h
k
X
k
Y
>> > 33 . 1
Bilamana kasus-1 yang berlaku, maka perhitungan S
R
sebagai berikut :
xy xyz R
' P P S + =
dimana :
Xe
Ye
X
y
0
0
Z
h
kz ky
kx
L
(xo, y1, zo)
(xo, y2, zo)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 5 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


|
|
.
|

\
|
− + |
.
|

\
|
− = 84 . 1
180
sin ln ln 25 . 0 ln 1
h
z
k
k
r
h
L
Y
P
o
z
x
w
e
xyz

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦

|
|
.
|

\
| −

|
|
.
|

\
| +
+
|
|
.
|

\
|
=
e
mid
e
mid
e y
z e
xy
Y
L y
F
Y
L y
F
Y
L
F
k
k
hL
Y
P
2
4
2
4
5 . 0
2
2
'
2

dan y
mid
= 0.5 (y
1
+ y
2
), sedangkan F menyatakan fungsi seperti di bawah ini :

|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
− =
|
|
.
|

\
|
2
2
137 . 0
2
ln 145 . 0
2 2
e e e e
Y
L
Y
L
Y
L
Y
L
F
kemudian bilamana argumen
|
|
.
|

\
| +
e
mid
Y
L y
2
4
dan/atau argumen
|
|
.
|

\
| −
e
mid
Y
L y
2
4
lebih kecil atau sama
dengan 1, maka persamaan persis di atas ini dapat digunakan dengan mengganti argumennya saja.
Tetapi bila argumen tersebut > 1, maka persamaan di bawah ini berlaku :
( ) ( ) ( ) | |
2
2 137 . 0 2 ln 145 . 0 2 ) ( x x x x F − − − + − =
dimana x =
|
|
.
|

\
| +
e
mid
Y
L y
2
4
, atau
|
|
.
|

\
| −
e
mid
Y
L y
2
4
, dengan x > 1.

Bilamana kasus-2 tersebut di atas yang berlaku, maka :
xy y xyz R
P P P S + + =
dimana P
xyz
dihitung seperti di atas dengan P
y
serta P
xy
berturut-turut dihitung seperti di bawah ini :

|
|
.
|

\
|
− +
|
|
.
|

\
|
+ − × = 3
24 3
1 28 . 6
2
2 2
e e e
mid
e
mid
y
z x
e
e
y
Y
L
Y
L
Y
y
Y
y
k
k k
h X
Y
P
|
|
.
|

\
|
+ −
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
− =
2
2
3
1 28 . 6
1
e
o
e
o
x
z e e
xy
x
x
x
x
k
k
h
X
L
Y
P

b. Persamaan Pudji Permadi :
( )
( )

|
|
.
|

\
|
+ −
|
|
.
|

\
|
+ −

=
m
w
e
e e o o
wf s h
S L h
r
Y
h L h Y X B
P P L h k
q
2
1
/
2
ln / 523 . 0
00708 . 0
β u

atau :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 6 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
( )
( )

|
|
.
|

\
|
+ −
|
|
.
|

\
|
+ −

=
m
w
e
e e o o
wf r h
S L h
r
Y
h L h Y X B
P P L h k
q
4
3
/
2
ln / 523 . 0
00708 . 0
β u


3. Indeks Produktivitas dan Dimensionless IPR

Untuk reservoir minyak, dimensionless IPR dari sumur horizontal tidak banyak berbeda dari sumur
vertikal. Karena itu persamaan Vogel yang untuk sumur vertikal dapat digunakan juga untuk sumur
horizontal. Namun demikian, khusus untuk sumur horizontal persamaan Bendakhlia – Azis adalah
sebagai berikut :
( )
n
r
wf
r
wf
max o
o
P
P
V
P
P
V
q
q
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
− −
|
|
.
|

\
|
− =
2
1 1
dimana parameter n dan V merupakan fungsi dari recovery factor dan dapat diperoleh melalui Gambar
1.















Gambar 2. Korelasi untuk parameter V dan n, sebagai fungsi dari Recovery Factor
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 7 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. Peramalan Produksi versus Waktu

Peramalan produksi sumur horizontal dapat dilakukan dengan menggunakan metode Decline Curve
Analysis seperti yang umum digunakan untuk sumur vertikal. Jenis decline-nya tergantung kepada
mekanisme pendorong dalam reservoir yang bersangkutan.

Khusus untuk sumur horizontal pada reservoir dengan tenaga pendorong yang bekerja gas terlarut
(solution gas drive), metode Plahn et. al. di bawah ini dapat juga digunakan. Kelemahannya adalah
bahwa daerah pengurasannya berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi X
e
.
2
*
00633 . 0
e oi
ri w roi
D
X h
t P L r k k
t
u φ
=
oi
or oi e
m
B
S S h X
N
615 . 5
) (
2

=
φ

m D p
N N N × =

dimana :
*
D
t = waktu produksi tak berdimensi
k = permeabilitas absolut, mD
k
roi
= permeabilitas relatif minyak mula-mula, tak berdimensi
r
w
= jari-jari lubang sumur, ft
L = panjang efektif sumur horizontal, ft
i r
P = tekanan reservoir mula-mula sebelum sumur diproduksi, psi
t = waktu produksi, hari
φ = porositas, fraksi
u
oi
= viskositas minyak mula-mula, cp
h = tebal bersih zona minyak, ft
X
e
= panjang sisi pengurasan, ft
B
oi
= faktor volume formasi, bbl/STB
S
oi
= saturasi minyak mula-mula, fraksi
S
or
= saturasi minyak residual, fraksi
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 8 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
N
m
= moveable oil in place mula-mula, STB
N
p
= produksi kumulatif minyak, STB
N
D
= dimensionless recovery, dihitung seperti di bawah ini.

Bila y = log N
D
dan x
1
= log
*
D
t , maka ada 2 (dua) kondisi aplikasi :
A. Untuk harga Critical Gas Saturation (S
gc
) antara 0 - 5% :
i) bila x
1
≤ −2.2078 :
y = 1.2071 – 0.41104 x
1
– 1.1078 x
2
1

ii) bila x
1
> −2.2078 :
y = 1.5526 + 0.06502 x
1

B. Untuk harga Critical Gas Saturation (S
gc
) antara 6% - 10% :
i) bila x
1
≤ −1.9469 :
y = 1.2504 – 0.3903 x
1
– 0.1097 x
2
1

ii) bila x
1
> −1.9469 :
y = 1.6663 + 0.03701 x
1


Kemudian bila kita definisikan ∆t = t
i+1
– t
i
dan ∆N
p
= N
pi+1
– N
pi
, maka
t
N
q
p
oil


= , maka kita dapat
membuat peramalan laju produksi minyak q
oil
terhadap waktu, t.

t
(hari)
∆t
(hari)
t
*
D

N
D
N
p
(STB)
∆N
p

(STB)
t
N
q
p
oil


=
(STB/hari)
- - - - - - -
- - - - - - -
- - - - - - -





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 9 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. Sumur Horizontal pada Reservoir Bottom Water Drive

Sumur horizontal dapat meningkatkan perolehan minyak dari reservoir bertenaga dorong air-bawah
(bottom-water drive) karena kapasitas produksinya lebih besar dan dapat memperlambat
terproduksinya air dibanding sumur vertikal dengan drawdown yang sama. Posisi sumur horizontal
sebaiknya ditempatkan jauh di atas bidang WOC.

A. Penentuan laju produksi kritis q
c

Laju produksi kritis adalah laju produksi terbesar yang menyebabkan bidang WOC dapat bergerak
ke atas melengkung agak datar tanpa membentuk kerucut (coning atau cresting). Bila q
oil
≤ q
c

maka recovery minyak akan tinggi.
1) Metode Giger - Karcher :
L
Y
h
Y
h
B
k
q
e e o o
h
c
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
| ∆
|
|
.
|

\
|
× =

6
1
1 10 888 . 4
2
4
ρ
u

dimana :
q
c
= laju produksi kritis, STB/hari
k
h
= permeabilitas efektif arah lateral, mD
B
o
= faktor volume formasi, bbl/STB
h = tebal zona minyak, ft
Y
e
= panjang daerah pengurasan, ft
L = panjang efektif sumur horizontal, ft
∆ρ = ρ
w
− ρ
o
= perbedaan densitas, gr/cc
u
o
= viskositas minyak, cp

2) Metode Pudji Permadi :

|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
+ −

=
2
1 '
2
ln '
'
00708 . 0
/
L
h
r
Y
h
L
h
Y X B
d L h k
q
w
e
e e o o
woc o w h
c
β u
γ

dimana :
q
c
= laju produksi kritis, STB/hari
k
h
= permeabilitas efektif terhadap minyak, mD
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 10 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
h = tebal zona minyak, ft
L = panjang efektif sumur horizontal, ft
B
o
= faktor volume formasi, bbl/STB
h’ = 1.5 h – d
1

d
1
= jarak vertikal terdekat dari sumbu sumur ke batas atas/bawah reservoir, ft
d
woc
= jarak dari sumbu sumur ke WOC, ft
r
w
= jari-jari lubang sumur, ft
X
e
= lebar daerah pengurasan, ft
Y
e
= panjang daerah pengurasan, ft
∆γ
w/o
= perbedaan gradien tekanan statik air dengan minyak, psi/ft
u
o
= viskositas minyak, cp
β = faktor anisotropik =
v
h
k
k

k
v
= permeabilitas vertikal, mD

3) Metode Guo - Lee :
v h
k . k ' k =
v
k
' k
d ' d =
( )( ) ( ) |
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
− + ∆ − =
2
log 14 . 8 ' log 67 100 77 . 0 286 . 2 ' 00246 . 0 18 . 1 033 . 0
/
e
o w D
X
k
d
c
d H γ
|
|
.
|

\
|
∆ × =

o
D
o w
q
d k q
u
ρ
/
5
1
' ' 10 943 . 4
|
|
.
|

\
|
=
o
c
B
L
q q
1


dimana :
c = jarak dari sumbu sumur ke WOC, ft
d = tebal zona minyak, ft
B
o
= faktor volume formasi, bbl/STB
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 11 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
q
1
= laju produksi per satuan panjang sumur horizontal, bbl/hari
L = panjang sumur horizontal, ft
q
c
= laju produksi kritis, STB/hari
X
e
= lebar daerah pengurasan, ft
∆γ
w/o
= perbedaan gradien tekanan statik air dengan minyak, psi/ft
u
o
= viskositas minyak, cp
∆ρ
w/o
= perbedaan densitas air dengan minyak, lb/cuft

Harga q
D
diperoleh melalui Gambar 2. Setelah menghitung H
D
untuk harga c/d yang
bersangkutan.














Gambar 3. Hubungan antara q
D
dengan H
D
, untuk berbagai harga c/d.

B. Penentuan Waktu Tembus Air (Water Breakthrough Time), t
BT

Bilamana laju produksi yang diinginkan melebihi laju produksi kritis-nya, yaitu q
o
> q
c
, maka
bidang WOC menjadi tidak stabil dan akan membentuk kerucut (coning/cresting). Air kemudian
akan segera terproduksi dan kadar air (water cut) akan meningkat cepat dengan waktu. Pertama
kali air masuk ke dalam sumur disebut water breakthrough. Lamanya waktu bagi air untuk
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 12 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
breakthrough disebut water breakthrough time. Ada beberapa metode untuk memperkirakan
breakthrough time ini.
1) Metode Papatzacos et al.
( )
v h o w
o o o
D
k k h L
B q
q
ρ ρ
u

=
86 . 325

D
DBT
q
t
6
1
=
( )
o w v
DBT o
BT
k
t h
t
ρ ρ
u φ

= 72 . 364 (hari)
Semua parameter mempunyai satuan lapangan kecuali ρ
w
dan ρ
o
dalam gr/cc. Metode ini
menganggap bahwa breakthrough time tidak dipengaruhi oleh lebar atau luas daerah
pengurasan.

Reservoir Minyak dengan Tudung Gas (Gas Cap)

Estimasi waktu tembus gas (gas breakthrough) dapat dilakukan dengan menggunakan metode
Papatzacos et al. di atas dengan mengganti (ρ
w
− ρ
o
) dengan (ρ
o
− ρ
g
) dimana ρ
g
adalah densitas gas
dalam satuan gram/cc.

Dalam hal reservoir minyak dengan gas cap, penempatan sumur horizontal pada zona minyak
sebaiknya pada posisi dengan jarak sejauh 2/3 tebal zona minyak diukur dari Gas-Oil Contact,
atau sejauh 1/3 tebal zona minyak diukur dari Water-Oil Contact. Ini memperhitungkan bahwa
mobilitas air lebih kecil dibanding mobilitas gas.

2) Metode Pudji Permadi :
( ) ( )
( )
woc o w d v
woc or w o
BT
d P k
d S
t
× ∆ − ∆
− +
=
/
2
1 99 . 78
γ
φ u u
(hari)
dimana :
( )
wf r D
P P drawdown P − = = ∆
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 13 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
L h k
q B
L
h
r
Y
h
L
h
Y X
P
h
o o o
w
e
e e
D
00708 . 0
2
1 '
2
ln '
'
u β

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦

|
|
.
|

\
|
+ −
= ∆

Semua parameter mempunyai arti dan satuan yang sama dengan sebelumnya.

3) Metode Rochan :
( )
v h o w
o o o
D
k k h L
B q
q
ρ ρ
u

=
86 . 325

h
v e
D
k
k
h
X
X =
ro w
rw o
k
k
M
u
u
=
5397 . 0 929 . 0 675 . 4
253 . 0
094 . 1 88 . 0
5
1 1
1 1 1
10 13 . 5
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
− |
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
× =

h
bp ap
D D
BT
k L
h
h
h
h
h
M X q
t (hari)

dimana h
ap
= jarak dari sumbu sumur horizontal ke batas atas reservoir dan h
bp
= jarak dari
sumbu sumur ke bidang WOC, dalam satuan feet.

C. Peramalan Kinerja Produksi

Peramalan kinerja produksi sumur horizontal pada reservoir bottom water drive secara cepat dapat
dilakukan dengan cara empirik, walaupun belum banyak metode yang tersedia. Berikut di bawah
ini adalah metode-metode yang dapat dipilih dan digunakan.

1) Metode Decline Curve Analysis
Seperti untuk sumur vertikal, metode ini dapat juga digunakan untuk sumur horizontal.
Persamaan decline curve analysis adalah :
( )
b
i
i
t
t D b
q
q
/ 1
1+
=
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 14 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
dimana :
q
t
= laju produksi harian, STB/hari
q
i
= laju produksi awal, STB/hari
t = waktu produksi, hari
b = eksponen decline, tidak berdimensi
D
i
= koefisien decline awal, 1/hari

Harga eksponen decline, b ≤ 0.5 untuk reservoir bottom water drive. Untuk laju produksi yang
jauh lebih besar dari laju produksi kritisnya, harga b < 0.5 sebaiknya digunakan. Bilamana
belum ada data produksi, harga koefisien D
i
dapat didekati dengan :
( )
( ) ( ) | | 5 . 0 / ln
000264 . 0 2
2 2
− −
×
=
w e we eh t o
o
i
r r r r C
k
D
u φ


dimana π = / A r
eh
dan A = luas daerah pengurasan dalam satuan sqft. Sedangkan r
2
w
adalah
jari-jari sumur ekivalen, yaitu :

|
|
.
|

\
|
)
`
¹
¹
´
¦

|
|
.
|

\
|
+ −
=
5 . 0
2
1
exp
L
h
r
Y
h
L
h
Y X
L
r
r
w
e
e e
w
we
β

dan r
w
= jari-jari lubang sumur aktual, ft.

2) Metode Pudji Permadi :
Anggapan dalam metode ini yaitu tekanan pada bidang WOC konstan, laju alir total tidak
terlalu besar atau kira-kira q
t
< 15q
c
. Prosedur peramalan adalah sebagai berikut :
1. Hitung waktu water breakthrough, t
BT
, berdasarkan data yang dimiliki.
2. Bila laju produksi sebelum breakthrough adalah q
o
, maka produksi kumulatif pada saat t
BT

adalah
BT o p
t q N × = (STB).
3. Hitung tebal zona minyak rata-rata yang telah didesak oleh air (bottom water) :

( )
or e e
BT o o
WBT
S Y X
t B q
h

=
1
615 . 5
φ

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 15 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. Setelah breakthrough tentukan sembarang harga (asumsi trial & error) water cut (kadar air,
WC) dan hitung faktor volume formasi campuran mniyak dan air B
t
:
( ) WC B WC B B
o w t
− + = 1
5. Pada suatu harga waktu produksi t dan laju produksi total cairan q
t
, hitung tebal rata-rata
zona minyak yang sudah terdesak oleh air :

( )
( )
or e e
BT t t
wBT w
S Y X
t t B q
h h


+ =
1
615 . 5
φ

6. Hitung Q
w
/Q
o
:

( )
5 . 0
3
ln
'
'
|
|
.
|

\
|
×

×

× =
h
v
woc
e e
w woc
w
w ro
o rw
o
w
k
k
L d
Y X
h d
h
k
k
Q
Q
u
u

dimana k
r
’ adalah end-point permeability.

7. Hitung Water Cut (WC) :

|
|
.
|

\
|
×
=
o
w
w
o
B
B
Q
Q
WC
1

Hasil hitungan ini dibandingkan dengan WC yang diasumsikan pada langkah 4 di atas.
Apabila bedanya lebih besar dari toleransi yang diberikan, maka gunakan WC hasil hitungan
ini sebagai WC asumsi baru dan kembali ke langkah 4. Bila toleransinya δ (yaitu WC
hitungan

– WC
asumsi
≤ δ), maka langsung ke langkah 8.
8. Hitung laju produksi minyak harian (dan laju produksi air bila perlu) :
( ) WC q q
t o
− = 1
WC q q
t w
× =
9. Hitung produksi kumulatif minyak :

o pBT p
q t N N Σ∆ + =





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 16 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Untuk Sumur Gas
1. Persamaan laju alir gas (q
g
) untuk sumur horizontal adalah sebagai berikut :
A. Kondisi aliran mantap (steady-state flow) pada tekanan reservoir P
e
≤ 2,000 psia :
( )

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
+
|
|
.
|

\
|
+ −

=
'
2
ln
000703 . 0
2 2
S
L
h
r
Y
h
L
h
Y X T Z
P P L h k
q
w
e
e e g
wf e h
g
β u

dimana :
q
g
= laju alir gas pada kondisi standar, MSCF/hari
u
g
= viskositas gas rata-rata pada kondisi reservoir, cp
Z = faktor kompresibilitas gas rata-rata, tidak berdimensi
β = faktor anisotropi
|
|
.
|

\
|
v
h
k
k
, tidak berdimensi
T = temperatur reservoir,
o
R
S’ = S
m
+ S
q

S
m
= skin karena kerusakan formasi (damage), tidak berdimensi
S
q
= skin karena non-darcy effect
= Dq
g

q
g
= laju produksi gas, MSCF/hari
D = no-darcy flow coefficient, hari/MSCF
=
gw w
v h e g
r L
k k Y
u
γ β
2
15
' 10 225 . 2

×

u
gw
= viskositas gas pada tekanan alir dasar sumur, cp
β ' = turbulence factor
=
53 . 0 47 . 1 10
10 88 . 1
− −
× φ k
dan parameter yang lain mempunyai arti dan satuan yang sama dengan sebelumnya.





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 17 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
B. Kondisi aliran mantap (steady-state flow) pada semua tekanan reservoir :
( ) ( ) ( )

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
+
|
|
.
|

\
|
+ −

=
'
2
ln
000703 . 0
S
L
h
r
Y
h
L
h
Y X T
P m P m L h k
q
w
e
e e
wf e h
g
β


dimana m(P) adalah pseudo-pressure function dengan satuan psi
2
/cp.

C. Kondisi aliran semi mantap (Pseudosteady - state flow) pada tekanan reservoir
r
P ≤ 2,000
psia :
( )

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
+ −
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|


=
'
4
3
2
ln 523 . 0
000703 . 0
2 2
S
L
h
r
Y
h
L
h
Y X T Z
P P L h k
q
w
e
e e g
wf r h
g
β u


D. Kondisi aliran semi mantap (Pseudosteady - state flow) pada semua tekanan reservoir :
( ) ( ) ( )

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
+ −
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|


=
'
4
3
2
ln 523 . 0
000703 . 0
S
L
h
r
Y
h
L
h
Y X T
P m P m L h k
q
w
e
e e
wf r h
g
β

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal

NO : TR 07.01 Halaman : 2 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003

J=

qo Ps − Pwf

(1)

3. Pilih tekanan alir dasar sumur (Pwf). 4. Hitung laju aliran (qo) pada Pwf tersebut dengan menggunakan persamaan : qo = J (Ps − Pwf) 5. Kembali ke langkah 3. 6. Plot qo terhadap Pwf yang diperoleh dari langkah 3 dan 4 pada kertas grafik kartesian, dengan qo sebagai sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak. 3.1.2. Berdasarkan Parameter Batuan dan Fluida Reservoir 1. Siapkan data yang diperlukan sebagai berikut : a. Parameter batuan reservoir, yaitu : ko, h, dan re b. Parameter fluida reservoir, yaitu : Bo dan µo c. Parameter sumur yaitu : rw d. Tekanan statik dan faktor skin dari uji tekanan yaitu : Ps dan S 2. Hitung J dengan menggunakan persamaan : (2)

J=

0.00708 k o r µ o Bo (ln 0.472 e + S ) rw

(3)

3. Pilih tekanan alir dasar sumur (Pwf). 4. Hitung laju aliran (qo) pada Pwf tersebut dengan menggunakan persamaan : qo = J (Ps − Pwf) 5. Kembali ke langkah 3. 6. Plot qo vs Pwf yang diperoleh dari langkah 3 dan 4 pada kertas grafik kartesian, dengan qo sebagai sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak. (4)

Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal

NO : TR 07.01 Halaman : 3 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003

3.2. PENENTUAN KURVA IPR UNTUK ALIRAN DUA FASA PADA FAKTOR SKIN = 0 3.2.1. Jika Tekanan Statik Lebih Kecil dari Tekanan Jenuh (Ps < Pb) 1. Siapkan data hasil uji tekanan dan produksi, yaitu Ps, Pwf, dan qo @ Pwf 2. Hitung Pwf/Ps 3. Hitung laju produksi maksimum (qmax) berdasarkan data dari langkah 1 dan menggunakan persamaan berikut :

q max =

qo Pwf Pwf 2 1.0 − 0.2( ) − 0.8( ) Ps Ps

(5)

4. Pilih tekanan alir dasar sumur (Pwf) dan hitung Pwf/Ps 5. Hitung qo pada Pwf tersebut dengan menggunakan persamaan :

Pwf Pwf 2   ) − 0.8( )  q o = q max 1.0 − 0.2( Ps Ps  
6. Kembali ke langkah 4.

(6)

7. Plot qo terhadap Pwf yang diperoleh dari langkah 4 sampai dengan 6 pada kertas grafik kartesian dengan qo sebagai sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak. Catatan : Apabila dipilih harga qo dan akan ditentukan harga Pwf-nya, langkah 4 s/d 6 diganti dengan langkah berikut : 4. Pilih laju aliran (qo) dan hitung qo/qmax 5. Hitung Pwf dengan menggunakan persamaan berikut :

Pwf = 0.125 Ps − 1 + 81 − 80(q o / q max )
6. Kembali ke langkah 4.

{

}

(7)

3.2.2. Jika Tekanan Statik Lebih Besar daripada Tekanan Jenuh (Ps > Pb) 3.2.2.1. Jika tekanan alir dasar sumur dari uji produksi lebih besar dari tekanan jenuh (Pwf > Pb) 1. Dari uji tekanan dan produksi, diperoleh : Ps, Pwf dan qo @ Pwf Dalam hal ini Pwf > Pb dan Pb harus diketahui. Manajemen Produksi Hulu

Hitung qx. pada kertas grafik kartesian dengan menggunakan qo sebagai sunibu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak.2. Pwf.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.2( Pb Pb   8.8( Pwf Pb )2 (13) 3. yaitu : Manajemen Produksi Hulu . Hitung laju produksi pada Pwf tersebut dengan menggunakan persamaan : Pwf Pwf 2   ) − 0. dan qo @ Pwf Dalam hal ini Pwf < Pb 2. Hitung qmax = qb + qx 6.01 Halaman : 4 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 2.8( )  q o = qb + (q max − qb )1 − 0. yaitu : (9) qx = J ( Pb ) 1. Dengan menggunakan harga J tersebut hitung qb @ Pwf = Pb menurut persamaan di bawah ini: qb = J (Ps − Pb) 4. Hitung Pwf/Pb dan tentukan harga A di mana : A = 1 − 0.8 (10) (11) 5.2. Dari uji tekanan dan produksi diperoleh : Ps .2( Pwf Pb ) − 0. Pilih Pwf yang lebih kecil dari tekanan jenuh (Pb) dan hitung Pwf/Pb 7. Hitung harga J untuk kurva IPR di atas tekanan jenuh. Plot Pwf terhadap qo yang diperoleh dari langkah 6 sampai dengan 8. 3.2. (12) 9. Hitung indeks produktivitas sumur untuk Pwf > Pb (kondisi aliran satu fasa) dengan menggunakan persamaan berikut : J= qo Ps − Pwf (8) 3. Kembali ke langkah 6. Jika tekanan alir dasar sumur dari uji produksi lebih kecil dari tekanan jenuh (Pwf < Pb) 1.

4. Hitung Pwf/Ps berdasarkan data uji tekanan dan produksi.8   (14) 4. 8.01 Halaman : 5 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 J= qo Pb   ( A)  Ps − Pb + 1. 5. a3. Hitung qx dari persamaan : (9) qx = J ( Pb ) 1 . Hitung qmax = qb + qx 7.2( Pb Pb   9. Kembali ke langkah 7.8( )  q o = qb + (q max − qb )1 − 0.8 (10) (11) 6. (42). 2.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07. Dari uji produksi tentukan harga Pwf dan qo @ Pwf. 3. 3. a4 dan a5 masing-masing dengan menggunakan persamaan : (41). Hitung laju produksi pada Pwf tersebut dengan menggunakan persamaan berikut : Pwf Pwf 2   ) − 0. (12) 10. yaitu : Manajemen Produksi Hulu . Hitung konstanta persamaan kurva IPR. Plot Pws vs qo yang diperoleh dari langkah 7 sampai dengan 9 pada kertas grafik kartesian dengan qo sebagai sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak. Dari uji tekanan tentukan Ps dan S. a2. Hitung laju produksi pada Pwf = Pb. (44) dan (45) pada Lampiran (harga a1 sampai a5 dapat juga ditentukan secara grafis dengan menggunakan Gambar 1 sampai 5.3 PENENTUAN KURVA IPR DUA FASA UNTUK TEKANAN STATIK DI BAWAH TEKANAN JENUH DAN FAKTOR SKIN TIDAK SAMA DENGAN NOL 1. untuk masing-masing an. yaitu : qb = J (Ps − Pb) 5. Pilih Pwf yang lebih kecil dari tekanan jenuh dan hitung Pwf/Pb. Hitung harga ruas kanan dari pada persamaan kurva IPR. apabila harga faktor skin antara (− 4) sampai dengan 10). yaitu : a1. (43).

kemudian hitung harga A. Tentukan kemiringan garis lurus dari langkah 4 dengan prosedur sebagai berikut : • Pilih dua titik sembarang yang terletak pada garis dari langkah 4. • Baca harga-harga (P 2 − P 2 ) dan q. sebagai sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak. qo pada Pwf tersebut. Pilih harga Pwf dan hitung Pwf/Ps. 8.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal a1 + a3 ( Pwf / Ps ) + a 5 ( Pwf / Ps ) 2 1 + a 2 ( Pwf / Ps ) + a 4 ( Pwf / Ps ) 2 NO : TR 07. Hitung laju produksi. 9. seperti pada langkah 5.01 Halaman : 6 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 A= 6. wf s Tarik garis lurus terbaik yang mewakili titik-titik tersebut. 2. yaitu : qmax @ S = 0 = qo A (16) dimana qo adalah laju dari uji produksi. 3. (15) Hitung laju produksi maksimum (qmax) apabila S = 0. (17) 10.4. PENENTUAN KURVA IPR BERDASARKAN UJI ISOCHRONAL 1. 7. Dari uji Isochronal diperoleh 3 atau lebih laju produksi dengan masing-masing Pwf -nya. 2 2 log( Ps2 − Pwf )1 − log( Ps2 − Pwf ) 2 log q o1 − log q o 2 (18) Harga n dari persamaan kurva IPR dapat dihitung sebagai berikut : n = l/(kemiringan) (19) Manajemen Produksi Hulu . wf s Plot (P 2 − P 2 ) terhadap q pada kertas grafik log-log. Untuk masing-masing harga Pwf. yaitu : wf s (P 2 − P 2 )1 dan qo1 s wf (P 2 − P 2 )2 dan qo2 s wf • Kemudian dari garis lurus tersebut dapat dihitung sebagai berikut : Kemiringan = 6. hitung P 2 − P 2 . 4. Plot Pwf terhadap qo yang diperoleh dari perhitungan pada kertas grafik kartesian dengan qo 3. 5. yaitu : qo = qmax @ S = 0 (A) Kembali ke langkah 7.

X Yn (20) Pilih berapa harga Pwf dan hitung laju alirannya dengan menggunakan persamaan kurva IPR : qo = J (Ps2 − Pwf2)n (21) 9.5. qo pada sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak.Point" 1. 3.8( Pwf Ps (5) ) 2 dengan demikian diperoleh qmax. pada kertas grafik kartesian. 2 untuk masing-masing data uji.0 − 0. 2 Ps2 Ps2 ) − (q max. 2 Ps2 2 1 * dq o ) dengan menggunakan persamaan di bawah ini : dPwf (22) 4. misalkan X STB/hari. Hitung ( − Manajemen Produksi Hulu . Pemecahan Secara Numerik dengan Menggunakan Metoda "Pivot .1 Ps1 Ps2 ) 1 1 2 q max. 2. Dapatkan dua data uji tekanan dan produksi yang dilakukan pada waktu berbeda. misalkan Y (psi2).2( qo Pwf Ps ) − 0.1 Ps2 − q max. Hitung P * dengan menggunakan persamaan berikut ini : wf P = * wf 1 / 8(q max.01 Halaman : 7 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Tentukan konstanta J dari persamaan kurva IPR dengan prosedur sebagai berikut : • Perpanjang garis dari langkah 4. • Baca harga perpotongan tersebut. • Baca harga (P 2 − P 2 ) yang sesuai dengan X STB/hari tersebut.POINT" 3.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 7. NO : TR 07.1 dan qmax. PENENTUAN KURVA IPR DUA FASA DI KEMUDIAN HARI DENGAN METODE "PIVOT . 3.1. Tentukan laju produksi maksimum dari dua data uji tersebut dengan menggunakan persamaan Vogel : q max = 1. sampai memotong sumbu datar.5. Plot Pwf terhadap qo. wf s Maka harga J dapat dihitung sebagai berikut : J= 8.

2 untuk masing-masing data uji.1 ( ) + dPwf Ps1 Ps2 1 NO : TR 07.2 1. Dapatkan dua data uji tekanan dan produksi yang dilakukan pada waktu yang berbeda. Langkah perhitungan dilakukan seperti langkah 4 sampai dengan 7 dari sub judul 3.0 − 0. Pemecahan Secara Numerik dengan Menggunakan Persamaan Ps-envelope 1.01 Halaman : 8 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 (− 5. f = Psf (− dq o / dPwf ) f 0. 6.1 dan qmax.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal dq o * 0. Buat kurva IPR di kemudian hari. Manajemen Produksi Hulu .f (dari langkah 7) dengan menggunakan persamaan Vogel. Hitung laju produksi maksimum di kemudian hari.5.2. Psf yang mana kurva IPR-nya akan dibuat.2( ) − 0.1 3.2.2 Pwf = 0 (25) 8.8( ) Ps Ps (5) Dengan demikian diperoleh qmax. Tentukan laju produksi maksimum dari dua data uji tersebut dengan menggunakan persamaan Vogel. 2. (23) Tentukan tekanan statis di kemudian hari. berdasarkan harga Psf (dari langkah 5) dan qmax. sebagai berikut : q max. f . Hitung(-dqo/dPwf)f berikut : dengan menggunakan persamaan Pwf = 0 (− (− dq o )f dPwf Pwf = 0 = dq o * ) dPwf * Pwf (24) 1+ Psf 7.6 Pwf * ) = q max. yaitu : q max = qo Pwf Pwf 2 1. qmax.

tentukan laju produksi maksimum untuk S = 0. 1.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 3. f = 7.01 Halaman : 9 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Hitung konstanta A dengan menggunakan persamaan berikut : A= 4.429922 ( Psf / Psp ) (29) (30) Tentukan harga tekanan statis di kemudian hari. KURVA IPR DUA FASA DI KEMUDIAN HARI DENGAN MENGGUNAKAN FUNGSI TEKANAN SEMU Dapatkan satu data uji tekanan dan produksi pada waktu sekarang dan tentukan pula faktor skin. Manajemen Produksi Hulu 4. Dengan menggunakan prosedur perhitungan pada sub-judul 3. dari langkah 4 sampai dengan 7. 2. 3.967412 4. Selain itu API minyak perlu diketahui.033210 e = 1. Psf. sebagai berikut :  A Ps1    − 1 n = Ps1  q max. Langkah perhitungan dapat dilihat pada sub-judul 3.6.1 ) − ( Ps2 / q max.1     5. NO : TR 07. 6. 2 q max. dibuat.025333 Untuk API > 40 : xp = 0. PENENTUAN 1. 2. Hitung qmax. Ps1 − Ps 2 ( P / q max.f dengan menggunakan persamaan berikut : (27) Tentukan tekanan statis di kemudian hari (Psf) yang mana kurva IPR akan dibuat. pada saat sekarang (qmax. A Psf Psf + n (28) Buat kurva IPR di kemudian hari berdasarkan harga Psf (dari langkah 5) dan qmax.2 ) 2 2 s1 (26) Hitung konstanta n. 3.3 dari langkah (1) sampai dengan (6).152343 ( Pssf / Psp ) 3.015215 e = 0.p) Sesuai dengan API dari minyak. yang mana kurva IPR-nya akan . yaitu perbandingan m(Psp)/m dengan (Psp) menggunakan persamaan berikut : Untuk API < 40 : xp = 0. tentukan xp.f (dari langkah 7) dengan menggunakan persamaan Vogel.

f) untuk S = 0. p (34) dimana qmax. PENENTUAN KURVA IPR DI KEMUDIAN HARI DENGAN MENGGUNAKAN DATA UJI ISOCHRONAL 1. Buat kurva IPR untuk tekanan statik (Psf) dengan menggunakan persamaan : (35) qo = J ( Psf Psp 2 ) n ( Psf2 − Pwf ) (36) dimana Psp adalah tekanan statik pada saat sekarang.7.429922 ( Psf / Psp ) Hitung laju aliran maksimum di kemudian hari (qmax.152343 ( Psf / Psp ) 3. Tentukan tekanan statik di kemudian hari (Psf).q max. yaitu pada waktu uji isochronal dilakukan (langkah 1). yaitu : Untuk API < 40 : xf = 0.015215 e 4. yaitu: qo = J (P 2 − P 2 )n sp wf 2. langkah 7 sampai dengan 9.p telah diperoleh dari langkah 2. Buat kurva IPR di kemudian hari berdasarkan Psf (dari langkah 5) dan qmax. 3.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 5. f = xf xp . Manajemen Produksi Hulu .3. 3.f (dari langkah 6) dengan menggunakan prosedur perhitungan pada 2.033210 e Untuk API > 40 xf = 0. Hitung harga xf. yaitu : q max. 7. yaitu : NO : TR 07.01 Halaman : 10 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 xf = m( Psf ) m( Psp ) (31) dengan menggunakan persamaan yang sesuai dengan API minyak. Persamaan kurva IPR dapat dapat ditentukan berdasarkan data isochronal.

1984. Sukarno. dan Blount. IV. M. E. : "The Technology of Artificial Lift Methods". Brown. Tulsa. No 6. 14. V. Pudjo : "Inflow Performance Relationship Curves in Two-Phase and Three-Phase Flow Conditions". 83-92. 1985. K. J. Ok. 1980 Edition. : "Pivot Point Method Quickly Predicts Well Performance". 1968. 4. SPE of AIME. Vogel. The University of Tulsa. SPE Reprint Series No. Jr.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 4. Earlougher. 5. Ph. Fetkovich. pp. Uhri. 5. Vol.164. Robert C. World Oil Vol. May 1982 pp. Oklahoma. Tulsa. Jan. Manajemen Produksi Hulu . : "Advances in Well Test Analysis". : "The Isochronal Testing of Oil Wells". : "Inflow Performance Relationships For Solution Gas Drive Wells". M.194.01 Halaman : 11 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 1. Monograph Vol. J. 3. E.. 2. 153 . D. C. Dissertation. 6. Journal Petroleum of Technology. DAFTAR BACAAN NO : TR 07. D. PennWell Books. Pressure Transient Testing Method.

psi = laju aliran minyak pada Pwf = Pb. ft = Indeks Produktivitas. bbl/STB = tebal lapisan. STB/hari = jari-jari pengurasan. STB/hari = laju aliran minyak maksimum. psi = tekanan alir dasar sumur. ft = jari-jari sumur. psi = tekanan statik saat ini. mD = permeabilitas relatif minyak = fungsi tekanan semu = l/kemiringan kurva dari plot (Ps2 − Pwf2) terhadap qo pada kertas grafik log-log Pb Ps Psf Psp Pwf qb qmax qo re rw = tekanan jenuh. psi = tekanan statik di kemudian hari. STB/hari/psi = permeabilitas efektif minyak. psi = tekanan statik.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 5.01 Halaman : 12 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Bo h J ko kro m(P) n Manajemen Produksi Hulu . ft NO : TR 07. STB/hari = laju aliran minyak. DAFTAR SIMBOL = faktor volume formasi.

yaitu antara lain aliran satu fasa. LATAR BELAKANG DAN RUMUS 6. Pendahuluan NO : TR 07.1. maka pemakaiannya sesuai dengan anggapan yang digunakan oleh persamaan (37).TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 6. 6.08 × 10 −3 k o h µ o Bo (ln 0.08 × 10 −3 k o h( Pr − Pwf ) µ o Bo (ln 0.472 re / rw + S ) (37) Apabila indeks produksi (J) didefinisikan sebagai : J= (38) maka dari persamaan (1) dapat diturunkan harga J : J= (39) Oleh karena persamaan (39) diturunkan dari persamaan aliran Darcy. 1.1.1. LAMPIRAN 6. Penentuan Kurva IPR dengan Persamaan Darcy Persamaan aliran untuk minyak dalam media berpori adalah sebagai berikut : qo = 7. Manajemen Produksi Hulu .01 Halaman : 13 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Kurva IPR dinyatakan sebagai hubungan tekanan alir dasar sumur (Pwf) terhadap laju produksi (qo).2. (3) Uji Isochronal. yaitu : (1) Uji produksi sebelum uji tekanan bentuk dilakukan. Selain berdasarkan uji sumur tersebut kurva IPR dapat pula diperkirakan dengan menggunakan persamaan aliran Darcy. (2) Uji "draw down" (UDD).472 re / rw + S ) qo Pr − Pwf 7. Hubungan ini diperoleh dari uji sumur.

apabila tekanan alir dasar sumur lebih kecil dari tekanan jenuh.8( A)} (7) Manajemen Produksi Hulu .2( ) − 0. Penentuan Kurva IPR untuk Aliran Dua Fasa (Gas dan Minyak) dengan Faktor Skin = 0 Untuk aliran dua fasa Vogel menurunkan persamaan kurva IPR yang tidak berdimensi dengan menggunakan simulator untuk reservoir solution gas drive.8( )  Pb Pb   Harga qb ditentukan menurut persamaan (38) sebagai berikut : qb = J (Ps – Pb) : 1. apabila tekanan alir dasar sumur lebih besar dari tekanan jenuh. persamaan (40) hanya berlaku apabila tidak terjadi kerusakan atau perbaikan formasi. Kurva IPR yang linier.3.01 Halaman : 14 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6. Apabila dari uji produksi diperoleh Pwf > Pb. Persamaan tersebut adalah : Pwf Pwf 2 qo = 1 − 0.1. Pada kondisi ini kurva IPR terdiri dari dua bagian. maka : (12) (9) Harga J lebih dahulu dihitung berdasarkan data uji tekanan dan produksi sebagai berikut J= 2. Persamaan ini dikembangkan untuk menentukan kurva IPR. yaitu : 1. apabila tekanan statik lebih besar daripada tekanan jenuh. maka : J= dimana : qo {Ps − Pb + Pb / 1. Pada kondisi ini persamaan (38) digunakan untuk membuat kurva IPR. (40) Pembuatan kurva IPR dengan persamaan ini memerlukan satu data uji produksi (qo dan Sesuai dengan penurunannya. 2. Kurva IPR yang tidak linier.2( ) − 0. Pada kondisi ini persamaan kurva IPR berupa : Pwf Pwf 2   q o = qb + (q max − qb )1 − 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07. qo Ps − Pwf Apabila dari uji produksi diperoleh Pwf < Pb.8( ) q max Ps Ps Pwf) dan uji tekanan statik.

6.S =0 a1 + a3 ( = 1 + a2 ( Pwf Ps Pwf Ps ) + a5 ( ) + a4 ( Pwf Ps Pwf Ps )2 (42) ) 2 di mana a1 sampai dengan a5 adalah konstanta persamaan yang tergantung dari harga faktor skin. Penentuan Kurva IPR untuk Aliran Dua Fasa (Gas dan Minyak) Apabila Terjadi Kerusakan atau Perbaikan Formasi Persamaan kurva IPR.1.055873 S a2 = −1. Manajemen Produksi Hulu .36438 S + 0.8( Pwf Pb )2 (13) Pemakaian persamaan (12) memerlukan harga qmax dihitung menurut persamaan : q max = qb + J Pb 1. konstanta a1 sampai a5 dapat Cara ini dikembangkan oleh Fetkovich. dikembangkan dari simulator reservoir 3-fasa dengan memasukkan pengaruh skin.5.260385 e −0.1.583242 e−0.210801 S a5 = −0. Persamaan tersebut berbentuk : qo q max.8 (41) 6. Plot tersebut dibuat pada kertas grafik log-log.032449 S − 0.442306 S a3 = −2.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07. Penentuan Kurva IPR Berdasarkan Uji Isochronal Untuk harga faktor skin antara −4 sampai dengan 10.476950 e −0.5524470 e−0.4.306962 S ditentukan secara grafis dengan menggunakan Gambar 1 sampai dengan 5.220333 S a4 = −0.01 Halaman : 15 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 A = 1 − 0. yang dipengaruhi skin factor. yang menganggap bahwa kelakuan aliran cairan dalam media berpori adalah sama seperti aliran gas. Konstanta ini dihitung dengan menggunakan persamaan-persamaan berikut : a1 = 0.195976 S + 2.646246 e – 0.289242 e−0.814541 e-0.088286 S −0.456632 S (43) (44) (45) (46) (47) + 1. Persamaan kurva IPR untuk aliran cairan adalah : qo = J (P 2 − P 2 )n wf s (21) Harga J dan n dari persamaan (21) diperoleh dari plot (P 2 − P 2 ) terhadap qo dari data s wf uji isochronal.2( Pwf Pb ) − 0.0217831 e 0.182922 e-0.149274 e−0.

masih tetap digunakan untuk membuat kurva IPR dikemudian hari. Untuk Pwf = 0 : −( dq o ) dPwf 0.2q max 1. di mana laju aliran maksimum (qmax) diramalkan dengan metode "Pivot Point" ini. Metode ini dikembangkan dari persamaan Vogel yang diturunkan terhadap tekanan alir. Untuk Pwf = Ps Manajemen Produksi Hulu . tanpa memerlukan data PVT dan saturasi atau permeabilitas relatif. yaitu : − Pwf   0 .6 2  dPwf Ps   Ps (48) atau dapat pula dituliskan sebagai : − dq o 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07. Persamaan kurva IPR dari Vogel. Perencanaan Kurva IPR Dua Fasa di Kemudian Hari dengan Metoda "Pivot Point" Metode Pivot Point dikembangkan oleh Uhri dan Blount dan digunakan untuk meramalkan kurva IPR di kemudian hari untuk sumur-sumur yang berproduksi dari reservoir solution gas drive.2 dq o = q max  + 1 . yaitu : 1. Kemudian diketemukan bahwa garis-garis lurus tersebut semuanya berpangkal dari satu titik.6q max Pwf = + dPwf Ps Ps2 (49) Persamaan tersebut menunjukkan hubungan yang linier (dqo/dPwf) terhadap Pwf. Untuk peramalan laju aliran maksimum ini diperlukan paling sedikit dua uji tekanan dan produksi yang dilaksanakan pada waktu yang berbeda.01 Halaman : 16 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6. (Pivot Point). seperti terlihat pada Gambar 6.1.6. Untuk membuat garis lurus tersebut diperlukan dua harga (dqo/dPwf) yang ditentukan dari dua harga Pwf. Dengan demikian grafik (dqo/dPwf) terhadap Pwf akan menghasilkan garis lurus.2q max Ps Pwf = 0 = (50) 2.

7.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 0.f dan qmax. 6.5 [ ] (54) Apabila Psf dan Psp masing-masing adalah tekanan reservoir statik di kemudian hari dan saat ini.08 × 10 −3 k o h m( Ps ) − m( Pwf ) (ln(re / rw ) − 0.5 P∫ µ o Bo wf P (53) Dalam bentuk fungsi tekanan semu. yaitu : qo = 7. Perpotongan kedua garis lurus itu adalah titik pangkal dari semua garis lurus untuk harga Ps yang berbeda-beda.p untuk faktor skin = 0 dapat dinyatakan sebagai : Manajemen Produksi Hulu . maka perbandingan antara qmax. Dengan cara yang sama dibuat garis lurus yang lain berdasarkan uji tekanan dan produksi yang diambil pada saat yang berbeda.1.01 Halaman : 17 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 −( dq o ) dPwf = (51) Pwf = Ps atau −( dq o ) dPwf =9 − Pwf = Ps dq o dPwf Pwf = 0 (52) Dengan demikian dari satu uji tekanan dan produksi serta menggunakan persamaan (50) dan (51) dapat dibuat garis lurus yang sesuai dengan persamaan (49). Peramalan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Fungsi Tekanan Semu (Pseudo Pressure Function) Metode ini dikembangkan berdasarkan persamaan aliran radial dua fasa semi mantap.2q max Ps NO : TR 07.08 × 10 −3 k o h s k ro dP (ln(re / rw ) − 0. Untuk meramalkan kurva IPR di kemudian hari. titik pangkal (Pivot Point) dan Psenvelope harus dibuat lebih dahulu. Apabila dibuat beberapa garis seperti itu. persamaan (53) dapat dituliskan sebagai : qo = 7. Penentuan kedua hal ini dapat dilakukan secara analitis seperti tercantum dalam prosedur perhitungan. maka titik ujung garis-garis tersebut akan membentuk suatu kurva yang disebut Ps-envelope (lihat Gambar 7).

Untuk bermacam-macam jenis minyak dan parameter batuan reservoir ternyata kedudukan kurva dari hubungan m(Psf)/m(Psp) terhadap Prf/Pri adalah saling berdekatan. p = m( Psf ) m( Psp ) (55) Dari hasil simulasi reservoir. masing-masing untuk API > 40 dan API < 40.033210e 3. maka laju produksi maksimum di kemudian hari untuk faktor skin = 0 dapat ditentukan.152343( Psf / Psp ) (57) Dengan menggunakan persamaan (56) atau (57) tersebut serta persamaan (42).f ini dengan menggunakan persamaan (42).429922 ( Psf / Psp ) (56) m( Psf ) m( Psp ) = 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.015215e 4. diperoleh hubungan (kro/µoBo) terhadap tekanan dan fungsi tekanan semua dihitung berdasarkan integrasi secara numerik. f q max.01 Halaman : 18 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 q max. seperti ditunjukkan pada Gambar 8 dan 9. Manajemen Produksi Hulu . Kurva IPR dapat dibuat berdasarkan qmax. Analisa regresi terhadap kurva tersebut menghasilkan persamaan-persamaan sebagai berikut : API > 40 m( Psf ) m( Psp ) API < 40 = 0.

01 Halaman : 19 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 20 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

01 Halaman : 21 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 22 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal

NO : TR 07.01 Halaman : 23 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003

Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal

NO : TR 07.01 Halaman : 24 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003

Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal

NO : TR 07.01 Halaman : 25 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003

Manajemen Produksi Hulu

01 Halaman : 26 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 27 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

diperoleh : Ps Pwf qo = = = 1.50 (1.200) = 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 6. Parameter batuan reservoir : ko = 14.40 0. Plot kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 10.500 psi 1. = 1.400) = 50 STB/hari = Pb = 750 psi = 0. 3.2. 6.33 ft +2 cp µo = 3. Penentuan Kurva IPR : 1.400 psi = 0.500 − 750) = 375 STB/hari 4.50 (1.2.5 mD h = 20 ft re = 900 ft 2.500 psi = 1. Penentuan Kurva IPR Untuk Aliran Satu Fasa (Berdasarkan Data Uji Tekanan dan Produksi) a.50 STB/hari/psi Pwf q Pwf qo = 1.1200 bbl/STB 0.200 psi 150 STB/hari Tekanan jenuh = 750 psi.200 psi = 150 STB/hari J = 150/(1. b.2. Dari uji tekanan dan produksi.500 − 1. CONTOH PERHITUNGAN NO : TR 07.500 − 1. Ps Pwf qo @ Pwf 2. Parameter fluida reservoir : Bo = 1. rw = S = Manajemen Produksi Hulu Parameter sumur : . Penurunan Kurva IPR Untuk Aliran Satu Fasa (Berdasarkan Parameter Batuan dan Fluida Reservoir) 1.01 Halaman : 28 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6.1.2.

000) = 250 STB/hari Pwf = 1.01 Halaman : 29 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 J= 6.200 psi qo = 0.00708(14. 5.000 psi qo 7.12){ln 0.500 − 1.40)(1. Ps = 1. 0.50 (1.50 (1. Plot kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 11.500 − 1.33) + 2.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 4.200) = 150 STB/hari = 0.500 psi Hitung J : NO : TR 07.474(900 / 0.5)(20) (0. Manajemen Produksi Hulu .0} Pwf = 1. Tekanan Statik.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 30 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 31 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

80 NO : TR 07.400 psi Pwf/Ps = 1.1333 0.200 psi = 150 STB/hari = 1. Manajemen Produksi Hulu .3.9333)2} = 53.200. Kurva IPR Untuk Aliran Dua Fasa (Gas-Minyak) dan Ps < Pb 1.20(0. 5.2667 0.47 362.500 = 0.9333) – 0.0 1.400/1.9333 qo = 457.6667 0.74 304.25 STB/hari Untuk berbagai harga Pwf diperoleh harga-harga qo sebagai berikut : Pwf/Ps 1.91 438.9333 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 6.8000 0. Dari data uji tekanan dan produksi.80) 2 = 1.400. 4.0 − 0.80(0.500 = 0.80) − 0.4000 0.0 0.500.20 (0.500 psi = 1.0000 0. 6.0 – 0. 3.0 7. qo 0.2.80 (0.0 400.0 200.00 233.0000 Pwf 1.01 Halaman : 32 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 q max = Pwf 150 1.200/1.62 Plot Kurva IPR ditunjukkan oleh Gambar 12.25 150.20 406.00 53. : Ps Pwf qo 2.0 800. diperoleh.0 1.0 600.000.5333 0.32 {1. Pwf/Ps = 1.0 1.62 457.

2.4.01 Halaman : 33 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa (Pwf > Pb) Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

000) = 222.0 400. dapat dihitung sebagai berikut : J= 3.5 2.000 1.8(0.2)(2.22 STB/hari 1.000 Laju produksi pada Pwf = Pb adalah : qb = 0. = 1.8 Hitung qmax : qmax = 400 + 222.55 555.01 Halaman : 34 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Indeks Produktivitas untuk Pwf > Pb.000) = 400 STB/hari Hitung qx : qx = 5.22 9. (0.89 616. Plot Pwf terhadap qo dapat dilihat pada Gambar 13.80 0.200 1.60 0.2 4.22 STB/hari Pilih Pwf = 1. Pilih harga Pwf yang lain dan hasil hitungan adalah sebagai berikut : Pwf 4. 200 = 0.000 = 0.000 Laju produksi pada Pwf = 1.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 1.2 (4. 6.000 psi.5)2) = 555.2(0.0 200.50 0.000 600 200 0 Pwf/Pb 0.000 3.22 − 400) (1.600 1.000 psi adalah : qo = 400 + (622.000 2. Dari uji tekanan dan produksi diperoleh : Ps Pwf Pb 2.000 − 3.0 472.5) – 0. 4.0 qo 0.10 0.55 STB/hari 8.22 = 622. = 4.000 psi NO : TR 07. qo = 200 STB/hari @ Pwf = 2. dan hitung Pwf/Pb : Pwf Pb 7.000 psi = 3.89 531.0 – 0.00 622.55 592.000 psi .30 0.000 − 2. Manajemen Produksi Hulu .

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.5. Perhitungan Kurva IPR Dua Fasa (Pwf < Pb) 1.01 Halaman : 35 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6.2. Dari uji tekanan dan produksi diperoleh : Ps = 4.000 psi Manajemen Produksi Hulu .

3333) 2 } = 260.1080(3.000) = 180.000 6.2(0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal Pwf = 2.000 − 3. 5.0 STB/hari 1.000 = 1.500 2. NO : TR 07. Pilih Pwf = 1.0 qo 0.0 108.6667) – 0. 8. Manajemen Produksi Hulu . Hitung qb : qb = 0.1667 0.6667 0.0 STB/hari Hitung qx : qx = 0.000 2.000 psi : Pwf/Pb = 7.000) = 108.0 9.8333 0.000 psi 2.0 278.0 200.5111 Hitung harga J untuk Pwf > Pb : J= 200 = 0.000 psi .000 1.000 − 3.3333) – 0.5000 0.000 500 0 Pwf/Pb 0. Hitung Pwf/Pb = A 3.3333 3.6667 3.2(0.8 4.000 = 0.3333 0.000 (4.0 234.0 288. qo = 108 + (288 − 100) {1 – 0.8 (0.1080 3.000 + (0.6667)2 = 0. Kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 14.01 Halaman : 36 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 2.0 – 0. q0 @ Pwf = 200 STB/hari Pb = 3.0 260.000 = 0.000 3.5111)) 1.8 1.8(0.0 158.500 1.1080(4.0 STB/hari Hasil perhitungan untuk berbagai harga Pwf adalah sebagai berikut : Pwf 4.

Penentuan Kurva IPR Dua Fasa (Gas dan Minyak) Dengan Ps < Pb dan S ≠ 0 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.6.01 Halaman : 37 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6.2.

78658 = −1.456632(2.0217833 e – 0.88050 1.289242 e – 0.400 = 0.7819(0.78658 + 0.7880) 2.590 Harga A adalah : A= 0. = 0.76396 Pilih harga Pwf = 1.15094) 2 = 0.S = 0).43) + 2.15094 1. 924 = 1. Pwf Ps = 1.43) = 0.18300 = 0.15094) 2 1 + 0. Untuk harga S positif 1.88050) 2 1 + 0.07504(0.032449(2.07504 = −2.5524470 e – 0. (qmax.19572 8.442306(2.76396 6.15094) − 0. Dari uji tekanan diperoleh : Ps = 1.18300(0.646246 e – 0.78719(0.209. yaitu : q max.78719 Hitung Pwf/Ps.78658 + 0.88050) 2 = 0.182922 e − 0.814541 e − 0.07504(0. Hitung konstanta persamaan Kurva IPR sebagai berikut : a1 a2 a3 a4 a5 4.583242 e – 0.260395 e – 0.43) – 0. Hitung laju produksi maksimum pada S = 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal a.195976(2.18300(0.022033(2.590 Hitung ruas kanan dari pada persamaan Kurva IPR : A= 0.43) + 0.88050) − 0. Dari uji produksi diperoleh : Pwf qo = 240 psi = 924 STB/hari NO : TR 07.43) = −0.S =0 = 7.400 psi adalah : Manajemen Produksi Hulu .210801(2..00522(0.43) – 0.590 psi S = 2. yaitu : Pwf Ps 5.88050) − 0.43) = 0.00522 = −0.43) + 1.43) = −0.476950 e – 0.00522(0. = 240 = 0.43) = 0.306962(2.48 STB/hari 0. Laju produksi pada Pwf = 1.088286(2.01 Halaman : 38 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 3.400 psi.149274 e – 0.055873(2.364438(2.43 (FE = 0.15094) − 0.

149274 e – 0.49 930.60) + 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal qo = (1.60) = −2.220333) (−3. NO : TR 07.289242 e (– 0.19 10.05 886. Untuk S negatif 1.195976 (−3.01 Halaman : 39 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Untuk harga Pwf yang berbeda diperoleh hasil perhitungan laju produksi sebagai berikut : Pwf 1.364438) (−3.60) = 1.60) – 0.306962 (−3.260385 e – 0.60 (FE = 1.60) = −2.0217831 e – 0.476950 e – 0.5524470 e – 0.70823 a4 = −0.088286(−3.67530 a2 = −1.200 1.182922 e (−0.38195 Manajemen Produksi Hulu .60) + 2.590 1.814541 e – 0.48) (0.19572) = 236.39 720.71 STB/hari 9.60) = 0.400 1.646246 e (– 0.0 236.94 951.93 817.38 595. Dari uji tekanan diperoleh : Ps = 3.6558) 2.209. Plot Pwf terhadap qo dapat dilihat pada Gambar 15.21080(−3.442306) (−3.548 psi S = −3.60) = 0. Dari uji produksi diperoleh : Pw:f = 3.032449(−3.71 436.055872(−3. Hitung konstanta persamaan Kurva IPR sebagai berikut : a1 = 0.456632 (−3.38195 a5 = −0.60) + 1.60) – 0.44789 a3 = −2. b.000 800 600 400 200 0 qo 0.583242 e – 0.118 psi qo = 107 STB/hari 3.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07. yaitu : Manajemen Produksi Hulu . Hitung Pwf/Ps.01 Halaman : 40 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 4.

32 STB/hari 0.48130 6.38195(0.93010) − 2.38195(0. 107 = 222.8788) − 2.300 psi adalah : qo = (222.67530 + 0.67530 + 0.78823(0.300 psi Pwf/Ps = 0.57201(0.548 1.8788) 2 = 0.29664 8.44789(0.68 213.100 1.548 3. Hitung harga A : A= = 0.93 368.500 2. Manajemen Produksi Hulu .44 10.32) (0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07. Plot Pwf terhadap qo dapat dilihat pada Gambar 16.44789(0.54 315.500 1.118 = 0.61 357.S =0 = 7. Laju produksi pada Pwf = 3.93010) 2 1 + 0. Laju produksi maksimum pada harga S = 0 adalah : q max.000 2.48130 Pilih Pwf = 3.8788) − 0.41 262.95 149.0 65.8788 3.8788) 2 1 + 0.8788) − 0.93010 Harga A adalah : A= 1.18 372.29664) = 65.01 Halaman : 41 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Pwf Ps = 3.900 2.8788) 2 5.70823(0.57201(0. 9.86 340.95 STB/hari Untuk harga Pwf yang lain diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut : Pwf 3.100 700 300 0 qo 0.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 42 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

123 921 1.064 1.7.341 1.401. Hitung (P 2 – P 2 ) : wf s NO : TR 07. wf s Manajemen Produksi Hulu .01 Halaman : 43 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 qo 66 134 137 229 93 321 341 Pwf 1. Penentuan Kurva IPR Berdasarkan Data Uji Isochronal3 1.2.178 719 638 qo 66 134 137 229 93 321 341 3.896 960.861 547.981 Plot (P 2 – P 2 ) terhadap qo dapat dilihat pada Gambar 17.784 421. P2 – P2 s wf 266.292.345 psi Test Aliran 1 2 3 4 5 6 7 2. Data Uji Isochronal : Ps = 1.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 6.461 504.242 1.142 1.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 44 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

005329 log 100 − log 10 1 = 0.000 psi2 s wf Kemiringan = 6.67 10.80 446.46914 × 10 − 4 (40.00 91.01 Halaman : 45 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 log 410.345 1.500 = 1. Harga laju aliran minyak untuk berbagai Pwf adalah sebagai berikut : Pwf 1.9947 = 1.500 psi2 wf s q = 100 STB/hari .500 psi2 • Dan harga X = 10 STB/hari • Jadi J adalah : J= 8.0 wf s 9. Manajemen Produksi Hulu . (P 2 – P 2 ) = 40.500)1.46914 × 10-4 (P 2 – P 2 )1. Buat garis lurus yang mewakili ke tujuh titik tersebut.200 1. NO : TR 07. 10 = 2. Kemiringan garis lurus dihitung sebagai berikut : q = 10 STB/hari .65 357.0 Jadi persamaan kurva IPR : qo = 2.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 4.000 800 600 400 200 0 qo 0. Harga n adalah : n= 7.17 436. 5.0 1.12 199. (P 2 – P 2 ) = 410.78 407. Plot Pwf terhadap qo dari hasil perhitungan di langkah 9 menghasilkan kurva IPR seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 18.000 − log 40.005329 Konstanta J dihitung sebagai berikut : • Perpanjang garis lurus sampai memotong sumbu tegak di Y = 40.76 288.

01 Halaman : 46 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

578 1.090 Uji #2 50 1.765  1. Data uji sumur untuk waktu yang berbeda telah ditunjukkan oleh Tabel terdahulu.2 − 0. halaman 155. . Uhri. May 1982.090  2.Point Contoh soal dikutip dari : World Oil.2.04(2. Langkah Perhitungan : 1. Hitung laju produksi maksimum : Untuk Uji #1 : q max. "Pivot-Point Method Quickly Predicts Well Performance". Hitung (− dq o ) * .578 1.090)(1. E.89(2. dan Blount.090) 2 = − 457.960) − 191.2 − 0. psi Uji #1 50 1.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.8. M. yaitu : dPwf Manajemen Produksi Hulu . Hitung P * . bpd .090  2 = 191.765 2. . D. c. Tentukan Kurva IPR pada Psf = 1. C. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Pivot .960 3.01 Halaman : 47 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6. a.1 = 50 1.765 2 1 − 0.8  2.960 b.765  1 − 0.04(2.960) 2 − 156.090) 2 (1.10274 4.84 bpd 1. Data Uji Sumur : qo Pwf Ps .2 = 50 = 156. 2.960 1. yaitu : wf * Pwf = 1 / 8{ . psi .960) 2 } 156 192(1.8( ) 1.260 psi .89 bpd Untuk Uji #2 : q max.

10274) 1+ 8 1.59 9.89  dPwf (2090) 2  2.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.59 bpd 0.225 45.01 Halaman : 48 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 (− 5.260(0.00 3.  0 .013766 (−457.021 43.979 39. Hitung (− dq o )f dPwf Pwf = 0 .yaitu : (− dq o )f dPwf − 0. Hasil plot qo terhadap Pwf dapat dilihat pada Gambar 19.260 Pwf = 0 = = 0.007237) = 45.6(−457.10274)  + )* = 191. Hasil perhitungan kurva IPR adalah sebagai berikut : Pwf 1.000 800 600 400 200 0 qo 0.2 dq o 1. Manajemen Produksi Hulu .825 15.381 25.007237 7.090  Psf = 1. yaitu : q max. f = 1.2 8.099 32.200 1.260 1. 6.260 psi.f . Hitung qmax.

01 Halaman : 49 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

070052 (2.260 psi. Soal sama seperti contoh soal 6. Hitung qmax.04 bpd 3.8. Hitung laju produksi maksimum untuk masing-masing uji sumur.  − 0. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari Dengan Menggunakan Persamaan Psenvelope Catatan: Soal sama seperti pada contoh 6.87 STB/hari 1. A= 2.2.2.345 psi Pwf = 719 psi q = 321 STB/hari b.260) 2 = 45. 6.7 di mana diperoleh Ps = 1. − 0.8 1.684.2.090) 2 (1.090 − 1 191.2.6317 5. Tentukan kurva IPR pada Psf = 1. 6.8.6317 Hasil perhitungan Kurva IPR pada Psf = 1260 psi sama seperti hasil perhitungan pada contoh soal 6.89 156.89 bpd qmax.960 = −0.090 − 1. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Dikemudian Hari dengan Menggunakan Fungsi Tekanan Semu a.000 psi.2.01 Halaman : 50 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6. Berdasarkan hasil perhitungan pada contoh soal 6.2.9.1 = 191.04 4.260 − 3. Hitung konstanta n.960) 2 − 191. Data uji sumur seperti tercantum pada contoh perhitungan 6.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.89   = −3.684.8 diperoleh : qmax. f = 7.070052(2. Hitung konstanta A. Manajemen Produksi Hulu . Psf = 1.10.2. 2.2 = 156.070052(1.f q max.090) 2  n = 2.

169296 = 2.345) = 0. Untuk API < 40 xf = 0.583242 = −1.289242 = 0. Hitung qmax.345 psi a1 a2 a3 a4 a5 Pwf = 0.p pada saat Ps = 1. q max.997463 + 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal c.282168 = −0.144274 + 2.86 STB/hari Manajemen Produksi Hulu .345 0.139968(0.425378 (433. Untuk API < 40 xp = 1.182922 e0 + 0.429922 (1.476950 + 1.64626 = 0.345 psi = 719 psi = 321 STB/hari NO : TR 07.534572) − 1.01 Halaman : 51 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 API < 40 dan S = 0 (dianggap) 2.139968 = −0.740437 qmax.135689(0. Langkah perhitungan 1. f = 0.534572) − 0. Ps Pwf q = 1.033210 e3.282168(0.740437 = 0.425378 6.534572 1.53 STB/hari 0.5524470 – 0.0217831 – 0..025333 4.000 psi 5.534572) 2 1 + 0.135689 = 719 psi Pwf Ps A= = 719 = 0.000/1.997463 = −1.025333 = 179.53) 1.81451 e0 = 0..p = 3.169296(0.260385 = −0. Psf = 1.534572) 2 321 = 433.

33 172.40 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.71 120. a3. Manajemen Produksi Hulu .40 0.60 0.8914 0. Kurva IPR diperoleh dari plot Pwf terhadap qo dari hasil perhitungan di langkah 7.000 psi dihitung sebagai berikut : Pwf 1. Berdasarkan qmax.00 A qo 0.0 8.00 0.3653 0.9610 1.f serta konstanta-konstanta a1.80 0. Hasil plot ditunjukkan oleh Gambar 20.00 65.97 160. a2. a4 dan a5 kurva IPR pada tekanan statik = 1.6726 0.000 800 600 400 300 0 Pwf Ps 1.01 Halaman : 52 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 7.85 179.30 0.00 0.

01 Halaman : 53 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

345 = 1.24 183. Tentukan kurva IPR pada tekanan statik = 1. Persamaan kurva IPR pada tekanan statik = 1.2.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07. Langkah perhitungan : 1.345 psi adalah : q = 2.000 800 600 400 200 0 5. Manajemen Produksi Hulu .000 psi 3.2.58 Kurva IPR diperoleh dengan membuat plot Pwf terhadap qo.000 2 )( Psf2 − Pwf )1.000 psi c.83579 × 10-4 (1.46914 × 10-4 (P 2 – P 2 ) s wf 2.000 psi : Pwf 1.11.0 1.21 176. Psf = 1. seperti tercantum pada Gambar 21.09 117. Perhitungan kurva IPR pada Psf = 1.01 Halaman : 54 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6.000 psi adalah : q = 2.49 154. Persamaan kurva IPR pada tekanan statik = 1. Soal sama seperti pada contoh soal 6. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Uji Isochronal a.46914 × 10-4 (P 2 – P 2 ) wf s untuk Ps = 1.7 dimana diperoleh : q = 2.0 wf 4.345 psi b.000 – P 2 )1.46914 × 10 − 4 ( 1. qo 0 66.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 55 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.560 Ada 2 (dua) anggapan kondisi aliran yang berbeda di dalam reservoir. Sedangkan kondisi aliran semi-mantap. Penentuan Luas Daerah Pengurasan Setiap sumur minyak atau sumur gas mempunyai daerah dan luas pengurasan tertentu. yaitu kondisi dimana tekanan reservoir berubah dengan waktu tetapi drawdown dapat dipertahankan konstan. Arah sumbu sumur horizontal sebaiknya tegak lurus terhadap arah permeabilitas lateral terbesar agar produktivitasnya maksimal. Kondisi aliran mantap.02 Halaman : 1 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK HORISONTAL 1. Persamaan Laju Alir Sumur Horizontal 1  π × rev ×  (L + 2rev ) 2  acre 43. maka luas pengurasan sumur horizontal ini (Ah) dapat diperkirakan : 1  Ah = π × rev ×  (L + 2rev ) sqft atau Ah = 2   2. Pada umumnya daerah pengurasan sumur horizontal berbentuk elips. Daerah pengurasan yaitu reservoir atau bagian reservoir yang memberikan kontribusi aliran fluida ke lubang sumur produksi. daerah pengurasan dipengaruhi oleh distribusi permeabilitas arah lateral. yaitu aliran mantap (atau steady state flow) dan aliran semi-mantap (atau pseudo-steady state flow). Dalam hal sumur horizontal. Manajemen Produksi Hulu . Bila sumbu terpanjang suatu elips adalah a dan sumbu pendeknya adalah b maka luas elips adalah (π ) ×  1  1  a  ×  b  . Kemudian 2  2  bilamana jari-jari pengurasan (drainage radius) suatu sumur vertikal adalah rev di suatu reservoir dan kita ingin membor sumur horizontal dengan panjang L di reservoir ini. yaitu suatu kondisi aliran dimana tekanan reservoir dan drawdown tetap terhadap waktu.

5 4  L  2r h   dimana : a = 0. mD Ps = tekanan statik reservoir.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.00708 k h h L(Ps − Pwf   )   Y µ o Bo  X e − Ye h / L + β h ln e h / L  + S m     2r      w     atau q= 0. psi Manajemen Produksi Hulu .02 Halaman : 2 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 A.5 +  0.25 +  e    2  L     b. Persamaan Sada Joshi (modifikasi oleh Economides) : q= 0.00708k h h(Ps − Pwf ) 2     a + a2 −  L      2 µ o Bo ln L    2         βh  βh   ln +    L  rw ( β + 1)      0.00708k h hL Pr − Pwf ( ) µ o Bo  Xe − Ye h / L + βh ln     dimana : q h = laju produksi. STB/hari = tebal bersih zona minyak. psi Pwf = tekanan alir dasar sumur. Aliran Mantap (Steady State Flow) Persamaan untuk menentukan laju alir produksi suatu sumur horizontal pada kondisi steady-state flow di antaranya adalah : Untuk Sumur Minyak : a. Persamaan Pudji Permadi : q= 0. psi Pr = tekanan rata-rata reservoir. ft    Ye   2rw   1 h / L  − + S m   2     kh = permeabilitas horizontal efektif.

cp kv = permeabilitas vertikal.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. ft B = faktor volume formasi. mD B.5 (P − P ) r wf µ o Bo ln    X eh   + ln C H − 0.75 + S R + Ye S m  L    rw      Manajemen Produksi Hulu . ft Ye = panjang daerah pengurasan sejajar sumbu sumur horizontal.00708Ye (k h k v ) 0. tidak berdimensi = kh kv µ = viskositas minyak. Aliran Semi-Mantap (Pseudo-Steady State Flow) a. Persamaan Babu-Odeh : q= 0. bbl/STB rw = jari-jari lubang sumur horizontal. tidak berdimensi Xe = lebar daerah pengurasan. ft reh = jari-jari pengurasan sumur horizontal. ft β = faktor anisotropi vertikal. ft = Ah / π Sm = skin faktor mekanik.02 Halaman : 3 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 L = panjang efektif sumur horizontal.

28 e h kz kx 1 x  x  2   180 0 Z 0  − 0 +  0   − ln sin    h  3 xe  xe      X   − 0.2 : > 1.5 ln  e   h   kz kx   − 1. zo) L (xo.75 Ye ky Xe kx >> 0. salah satu yang memenuhi. yaitu : kasus . karena L < Ye.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. y1. Hanya SR = 0 bila L = Ye. Skematik Sumur Horizontal X ln C H = 6. Perhitungan SR terbagi atas 2 (dua) kasus. zo) Z y h 0 0 X Xe kz ky Ye kx Gambar 1. SR adalah skin factor yang ekivalen dengan partial penetration lateral.75 h kz h kz kasus .088   dimana xo dan zo adalah koordinat pusat sumur pada bidang vertikal (di sini kz = kv). maka perhitungan SR sebagai berikut : S R = Pxyz + P' xy dimana : Manajemen Produksi Hulu . y2.1 : Xe kx Ye ky ≥ 0.02 Halaman : 4 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 (xo.33 >> Bilamana kasus-1 yang berlaku.

Tetapi bila argumen tersebut > 1.25 ln − ln sin  kz h  L   rw    2Ye hL 2 P ' xy = kz ky   L  F     2Ye    4y + L    4 y − L     + 0. maka persamaan persis di atas ini dapat digunakan dengan mengganti argumennya saja.00708 k h h L(Ps − Pwf )   1 h / L  − + S m   2     µ o Bo 0.5 (y1 + y2).523 X e − Ye h / L + β h ln     atau : Manajemen Produksi Hulu  ( )   Ye   2rw .145 + ln (2 − x ) − 0.02 Halaman : 5 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Pxyz   180 o z  kx  Ye  h  − 1. dengan x > 1.145 + ln 2Y    e    L  − 0. Persamaan Pudji Permadi : kz kx 2  1 xo xo   − + 2  3 x xe  e   q= 0. maka : S R = Pxyz + Py + Pxy dimana Pxyz dihitung seperti di atas dengan Py serta Pxy berturut-turut dihitung seperti di bawah ini : Py = k k 6.28 Ye2 × x z Xe h ky 2  1 y mid y mid + 2  −  Ye  3 Ye   L +  24 Y e  L   − 3  Y   e   Y  6.28 X e Pxy =  e − 1 h L   b.84 =  − 1 ln + 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.137   2Y   e          4y + L   4y − L   dan/atau argumen  mid  lebih kecil atau sama kemudian bilamana argumen  mid  2Y   2Y  e e     dengan 1. sedangkan F menyatakan fungsi seperti di bawah ini :  L F  2Y  e   L   = − 2Y    e   L   0.5 F  mid  − F  mid     2Y   2Y  e e         2 dan ymid = 0.137(2 − x )  4y + L   .  2Y  e   Bilamana kasus-2 tersebut di atas yang berlaku. atau dimana x =  mid  2Y  e   [ 2 ]  4 y mid − L    . maka persamaan di bawah ini berlaku : F ( x) = (2 − x ) 0.

Korelasi untuk parameter V dan n.523 X e − Ye h / L + β h ln      ( )   Ye   2rw 3. Karena itu persamaan Vogel yang untuk sumur vertikal dapat digunakan juga untuk sumur horizontal. dimensionless IPR dari sumur horizontal tidak banyak berbeda dari sumur vertikal. sebagai fungsi dari Recovery Factor Manajemen Produksi Hulu .00708 k h h L Pr − Pwf ( )   3 h / L  − + S m   4     µ o Bo 0. Namun demikian.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.02 Halaman : 6 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 q= 0. Gambar 2. Indeks Produktivitas dan Dimensionless IPR Untuk reservoir minyak. khusus untuk sumur horizontal persamaan Bendakhlia – Azis adalah sebagai berikut : qo q o max   Pwf = 1 − V    P   r  P   − (1 − V ) wf  P   r      2      n dimana parameter n dan V merupakan fungsi dari recovery factor dan dapat diperoleh melalui Gambar 1.

ft = tekanan reservoir mula-mula sebelum sumur diproduksi.02 Halaman : 7 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 4. ft = panjang sisi pengurasan. Khusus untuk sumur horizontal pada reservoir dengan tenaga pendorong yang bekerja gas terlarut (solution gas drive). bbl/STB = saturasi minyak mula-mula.615 Boi N p = ND × Nm dimana : * tD = waktu produksi tak berdimensi = permeabilitas absolut. mD = permeabilitas relatif minyak mula-mula. psi = waktu produksi. fraksi k kroi rw L Pr i t φ µoi h Xe Boi Soi Sor Manajemen Produksi Hulu . al. di bawah ini dapat juga digunakan. Peramalan Produksi versus Waktu Peramalan produksi sumur horizontal dapat dilakukan dengan menggunakan metode Decline Curve Analysis seperti yang umum digunakan untuk sumur vertikal.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. tak berdimensi = jari-jari lubang sumur. fraksi = viskositas minyak mula-mula. ft = panjang efektif sumur horizontal. metode Plahn et. Kelemahannya adalah bahwa daerah pengurasannya berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi Xe. Jenis decline-nya tergantung kepada mekanisme pendorong dalam reservoir yang bersangkutan.00633 k k roi rw L Pri t φ µ oi h X e2 Nm = X e2 h φ ( S oi − S or ) 5. cp = tebal bersih zona minyak. fraksi = saturasi minyak residual. * tD = 0. hari = porositas. ft = faktor volume formasi.

maka kita dapat (hari) (hari) (STB) (STB) q oil = ∆N p ∆t (STB/hari) - Manajemen Produksi Hulu .9469 : 2 y = 1. maka ada 2 (dua) kondisi aplikasi : A.02 Halaman : 8 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Nm Np ND = moveable oil in place mula-mula.6663 + 0.06502 x1 B.1097 x 1 ii) bila x1 > −1.1078 x 1 ii) bila x1 > −2. t ∆t t* D ND Np ∆Np ∆N p ∆t .2504 – 0. t.5526 + 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. Untuk harga Critical Gas Saturation (Sgc) antara 0 .03701 x1 Kemudian bila kita definisikan ∆t = ti+1 – ti dan ∆Np = Npi+1 – Npi. * Bila y = log ND dan x1 = log t D . Untuk harga Critical Gas Saturation (Sgc) antara 6% .9469 : y = 1.3903 x1 – 0.2078 : 2 y = 1. STB = produksi kumulatif minyak.2071 – 0.5% : i) bila x1 ≤ −2. STB = dimensionless recovery.10% : i) bila x1 ≤ −1.2078 : y = 1. maka q oil = membuat peramalan laju produksi minyak qoil terhadap waktu. dihitung seperti di bawah ini.41104 x1 – 1.

STB/hari = permeabilitas efektif arah lateral. cp µo 2) Metode Pudji Permadi : qc = 0. Sumur Horizontal pada Reservoir Bottom Water Drive Sumur horizontal dapat meningkatkan perolehan minyak dari reservoir bertenaga dorong air-bawah (bottom-water drive) karena kapasitas produksinya lebih besar dan dapat memperlambat terproduksinya air dibanding sumur vertikal dengan drawdown yang sama. ft = ρw − ρo = perbedaan densitas. mD Manajemen Produksi Hulu . ft = panjang efektif sumur horizontal. bbl/STB = tebal zona minyak. ft = panjang daerah pengurasan.00708 k h h L ∆γ w / o d woc µ o Bo  X e − Ye   dimana : qc kh   Y h' + β h'  ln e   2rw L   h'  1    −  L  2    = laju produksi kritis.02 Halaman : 9 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 5.888 × 10 − 4  h µ B  o o dimana : qc kh Bo h Ye L ∆ρ  ∆ρ h 2   Y  e  1  h 1 −   6  Y  e    L   = laju produksi kritis. Posisi sumur horizontal sebaiknya ditempatkan jauh di atas bidang WOC.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. mD = faktor volume formasi.Karcher :  k q c = 4. A. gr/cc = viskositas minyak. STB/hari = permeabilitas efektif terhadap minyak. 1) Metode Giger . Penentuan laju produksi kritis qc Laju produksi kritis adalah laju produksi terbesar yang menyebabkan bidang WOC dapat bergerak ke atas melengkung agak datar tanpa membentuk kerucut (coning atau cresting). Bila qoil ≤ qc maka recovery minyak akan tinggi.

ft = lebar daerah pengurasan.77 )100 − 67  (log k '+8.Lee : k' = k h .943 × 10 −5 k ' d ' ∆ρ w / o  D µ  o  L q c = q1  B  o dimana : c d Bo         = jarak dari sumbu sumur ke WOC. ft = faktor volume formasi. ft = panjang daerah pengurasan. ft = perbedaan gradien tekanan statik air dengan minyak.18 − 0. psi/ft = viskositas minyak.14 ) log e     d   2   q q1 = 4.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.5 h – d1 = jarak vertikal terdekat dari sumbu sumur ke batas atas/bawah reservoir. bbl/STB Manajemen Produksi Hulu . ft = tebal zona minyak.286 ∆γ w / o + 0.k v d' = d k' kv  X   c  H D = 0. cp = faktor anisotropik = kh kv µo β kv = permeabilitas vertikal.02 Halaman : 10 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 h L Bo h’ d1 dwoc rw Xe Ye ∆γw/o = tebal zona minyak. ft = faktor volume formasi. ft = jari-jari lubang sumur. mD 3) Metode Guo . ft = jarak dari sumbu sumur ke WOC. bbl/STB = 1.033(1. ft = panjang efektif sumur horizontal.00246 d ')(2.

maka bidang WOC menjadi tidak stabil dan akan membentuk kerucut (coning/cresting).02 Halaman : 11 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 q1 L qc Xe ∆γw/o = laju produksi per satuan panjang sumur horizontal. Penentuan Waktu Tembus Air (Water Breakthrough Time). lb/cuft µo ∆ρw/o Harga qD diperoleh melalui Gambar 2. Pertama kali air masuk ke dalam sumur disebut water breakthrough. Gambar 3. Hubungan antara qD dengan HD. Lamanya waktu bagi air untuk Manajemen Produksi Hulu . ft = laju produksi kritis. tBT Bilamana laju produksi yang diinginkan melebihi laju produksi kritis-nya. psi/ft = viskositas minyak. untuk berbagai harga c/d. ft = perbedaan gradien tekanan statik air dengan minyak. Setelah menghitung HD untuk harga c/d yang bersangkutan. yaitu qo > qc.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. bbl/hari = panjang sumur horizontal. STB/hari = lebar daerah pengurasan. cp = perbedaan densitas air dengan minyak. B. Air kemudian akan segera terproduksi dan kadar air (water cut) akan meningkat cepat dengan waktu.

Reservoir Minyak dengan Tudung Gas (Gas Cap) Estimasi waktu tembus gas (gas breakthrough) dapat dilakukan dengan menggunakan metode Papatzacos et al.02 Halaman : 12 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 breakthrough disebut water breakthrough time.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. 1) Metode Papatzacos et al.86 µ o q o Bo t DBT = t BT = 364. penempatan sumur horizontal pada zona minyak sebaiknya pada posisi dengan jarak sejauh 2/3 tebal zona minyak diukur dari Gas-Oil Contact. di atas dengan mengganti (ρw − ρo) dengan (ρo − ρg) dimana ρg adalah densitas gas dalam satuan gram/cc. Ada beberapa metode untuk memperkirakan breakthrough time ini. atau sejauh 1/3 tebal zona minyak diukur dari Water-Oil Contact. Ini memperhitungkan bahwa mobilitas air lebih kecil dibanding mobilitas gas. Metode ini menganggap bahwa breakthrough time tidak dipengaruhi oleh lebar atau luas daerah pengurasan.72 Semua parameter mempunyai satuan lapangan kecuali ρw dan ρo dalam gr/cc. Dalam hal reservoir minyak dengan gas cap.99(µ o + µ w ) φ (1 − S or ) d woc (hari) k v (∆Pd − ∆γ w / o × d woc ) ∆PD = drawdown = Pr − Pwf ( ) Manajemen Produksi Hulu . qD = L h (ρ w − ρ o ) k h k v 1 6 qD h φ µ o t DBT (hari) k v (ρ w − ρ o ) 325. 2) Metode Pudji Permadi : t BT = dimana : 2 78.

253  hap 1 −  h      4.094  1    M  −0. Berikut di bawah ini adalah metode-metode yang dapat dipilih dan digunakan.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. metode ini dapat juga digunakan untuk sumur horizontal. dalam satuan feet.675  hbp 1 −  h      0.88  1  X  D     1.929  h  Lk h      0.00708 k h h L Semua parameter mempunyai arti dan satuan yang sama dengan sebelumnya. 1) Metode Decline Curve Analysis Seperti untuk sumur vertikal. C. Persamaan decline curve analysis adalah : qt = (1 + b Di t )1 / b qi Manajemen Produksi Hulu .5397 (hari) dimana hap = jarak dari sumbu sumur horizontal ke batas atas reservoir dan hbp = jarak dari sumbu sumur ke bidang WOC. walaupun belum banyak metode yang tersedia.86 µ o q o Bo M = µ o k rw µ w k ro 5 t BT  1 = 5.02 Halaman : 13 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003    h' h '  1    Y  −  µ o Bo q o + β h' ln e  X e − Ye  2 2r L   w L     ∆PD =  0. Peramalan Kinerja Produksi Peramalan kinerja produksi sumur horizontal pada reservoir bottom water drive secara cepat dapat dilakukan dengan cara empirik.13 × 10  q  D     0. 3) Metode Rochan : qD = XD = L h( ρ w − ρ o ) k h k v Xe h kv kh 325.

1/hari Harga eksponen decline.02 Halaman : 14 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 dimana : qt qi t b Di = laju produksi harian. berdasarkan data yang dimiliki. harga koefisien Di dapat didekati dengan : Di = 2 × (0. 2. 2) Metode Pudji Permadi : Anggapan dalam metode ini yaitu tekanan pada bidang WOC konstan.615 q o Bo t BT X e Ye φ (1 − S or ) Manajemen Produksi Hulu . tidak berdimensi = koefisien decline awal. STB/hari = laju produksi awal. STB/hari = waktu produksi. Prosedur peramalan adalah sebagai berikut : 1. ft. tBT. Untuk laju produksi yang jauh lebih besar dari laju produksi kritisnya.5 sebaiknya digunakan. harga b < 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. Bila laju produksi sebelum breakthrough adalah qo.000264 ) k o 2 2 φ µ o C t reh − rwe [ln(re / rw ) − 0. hari = eksponen decline. b ≤ 0. Bilamana belum ada data produksi. laju alir total tidak terlalu besar atau kira-kira qt < 15qc. maka produksi kumulatif pada saat tBT adalah N p = q o × t BT (STB). Hitung tebal zona minyak rata-rata yang telah didesak oleh air (bottom water) : hWBT = 5. Hitung waktu water breakthrough.5   L      dan rw = jari-jari lubang sumur aktual. Sedangkan r 2 adalah w jari-jari sumur ekivalen. yaitu : rwe = rw 1  exp   X e − Ye h + β L L     Y h  e   2rw   h  − 0. 3.5] ( ) dimana reh = A / π dan A = luas daerah pengurasan dalam satuan sqft.5 untuk reservoir bottom water drive.

5 WC = 1  Qo B w    Q × B  o   w Hasil hitungan ini dibandingkan dengan WC yang diasumsikan pada langkah 4 di atas. Bila toleransinya δ (yaitu WChitungan – WCasumsi ≤ δ). maka gunakan WC hasil hitungan ini sebagai WC asumsi baru dan kembali ke langkah 4. maka langsung ke langkah 8. Hitung produksi kumulatif minyak : N p = N pBT + Σ∆t q o Manajemen Produksi Hulu . WC) dan hitung faktor volume formasi campuran mniyak dan air Bt : Bt = Bw WC + Bo (1 − WC ) 5.02 Halaman : 15 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 4.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. 7. Hitung Water Cut (WC) :     0. Setelah breakthrough tentukan sembarang harga (asumsi trial & error) water cut (kadar air. Hitung Qw/Qo : 5. 8. Hitung laju produksi minyak harian (dan laju produksi air bila perlu) : q o = q t (1 − WC ) q w = qt × WC 9. hitung tebal rata-rata zona minyak yang sudah terdesak oleh air : hw = hwBT + 6. Apabila bedanya lebih besar dari toleransi yang diberikan. Pada suatu harga waktu produksi t dan laju produksi total cairan qt.615 qt Bt (t − t BT ) X e Ye φ (1 − S or )  X e Ye Qw k rw ' µ o hw kv = × × ln 3 d − L × k Qo k ro ' µ w (d woc − hw ) h  woc dimana kr’ adalah end-point permeability.

MSCF/hari = no-darcy flow coefficient. tidak berdimensi = faktor anisotropi   µg Z β T S’ Sm Sq qg D  kh  kv   . hari/MSCF = 2. MSCF/hari = viskositas gas rata-rata pada kondisi reservoir.02 Halaman : 16 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Untuk Sumur Gas 1. cp = faktor kompresibilitas gas rata-rata.53 dan parameter yang lain mempunyai arti dan satuan yang sama dengan sebelumnya. tidak berdimensi   = temperatur reservoir.000703 k h h L Pe2 − Pwf qg = ( )  h  + S '  L    µ g Z T  X e − Ye   dimana : qg    Y h  + β h ln  e L   2 rw   = laju alir gas pada kondisi standar. oR = Sm + Sq = skin karena kerusakan formasi (damage).88 × 1010 k −1. Manajemen Produksi Hulu . Persamaan laju alir gas (qg) untuk sumur horizontal adalah sebagai berikut : A. tidak berdimensi = skin karena non-darcy effect = Dqg = laju produksi gas.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. cp = turbulence factor = 1.47φ −0. Kondisi aliran mantap (steady-state flow) pada tekanan reservoir Pe ≤ 2.000 psia : 2 0.225 × 10 −15 β ' γ g Ye L2 rw µ gw kh kv µgw β' = viskositas gas pada tekanan alir dasar sumur.

000703 k h h L Pr2 − Pwf ( )  h 3  − + S '   4 L   µ g Z T 0.state flow) pada tekanan reservoir Pr ≤ 2. Kondisi aliran semi mantap (Pseudosteady .state flow) pada semua tekanan reservoir : qg = 0. Kondisi aliran mantap (steady-state flow) pada semua tekanan reservoir : qg = 0. C.523  X e − Ye       h +β  L   Y  h ln e   2 rw   D.523  X e − Ye  L       Y  h ln  e   2 rw   (( ) ))  h 3  − + S '  L 4    Manajemen Produksi Hulu .000703 k h h L m Pr − m(Pwf   h +β T 0.000 psia : qg = 2 0. Kondisi aliran semi mantap (Pseudosteady .000703 k h h L (m(Pe ) − m(Pwf  Y  h ln  e   2rw   ))  h T  X e − Ye +β L    h  + S '  L    dimana m(P) adalah pseudo-pressure function dengan satuan psi2/cp.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.02 Halaman : 17 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 B.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful