P. 1
perhitungan minyak

perhitungan minyak

|Views: 2,858|Likes:
Dipublikasikan oleh toygazt

More info:

Published by: toygazt on Oct 09, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/16/2015

pdf

text

original

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.

01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 1 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
PENENTUAN POTENSI SUMUR MINYAK VERTIKAL


1. TUJUAN

Menghitung potensi suatu sumur minyak yang mencerminkan kemampuan reservoir mengalirkan
minyak ke dalam sumur tersebut. Kemampuan ini dinyatakan dalam hubungan antara tekanan alir
dasar sumur terhadap laju produksi (kurva IPR).


2. METODE DAN PERSYARATAN
2.1. METODE
Penentuan potensi sumur menggunakan :
1. Persamaan Darcy untuk aliran minyak.
2. Persamaan Vogel
1)
dan Perluasan Persamaan Vogel
2)
untuk aliran gas dan minyak.
3. Perhitungan berdasarkan hasil uji Back Pressure dan Isochronal.

2.2. PERSYARATAN
1. Untuk aliran minyak, tekanan statik dan tekanan alir dasar sumur lebih besar dari tekanan
jenuh.
2. Khusus untuk persamaan Vogel, harga faktor skin sama dengan nol.
3. Kadar air tidak lebih dari 40%, baik untuk persamaan Vogel maupun perluasan persamaan
Vogel.


3. LANGKAH KERJA
3.1. PENENTUAN KURVA IPR UNTUK ALIRAN SATU FASA
3.1.1. Berdasarkan Data Uji Tekanan dan Produksi
1. Siapkan data hasil uji tekanan dan produksi yaitu : P
s
, P
wf
, dan q
o
pada P
wf
.
2. Hitung indeks produktivitas (J) dengan menggunakan persamaan :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 2 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

wf s
o
P P
q
J

= (1)
3. Pilih tekanan alir dasar sumur (P
wf
).
4. Hitung laju aliran (q
o
) pada P
wf
tersebut dengan menggunakan persamaan :
q
o
= J (P
s
− P
wf
) (2)
5. Kembali ke langkah 3.
6. Plot q
o
terhadap P
wf
yang diperoleh dari langkah 3 dan 4 pada kertas grafik kartesian,
dengan q
o
sebagai sumbu datar dan P
wf
sebagai sumbu tegak.

3.1.2. Berdasarkan Parameter Batuan dan Fluida Reservoir
1. Siapkan data yang diperlukan sebagai berikut :
a. Parameter batuan reservoir, yaitu :
k
o
, h, dan r
e

b. Parameter fluida reservoir, yaitu :
B
o
dan u
o

c. Parameter sumur yaitu : r
w

d. Tekanan statik dan faktor skin dari uji tekanan yaitu :
P
s
dan S
2. Hitung J dengan menggunakan persamaan :

) 472 . 0 (ln
00708 . 0
S
r
r
B
k
J
w
e
o o
o
+
=
u
(3)
3. Pilih tekanan alir dasar sumur (P
wf
).
4. Hitung laju aliran (q
o
) pada P
wf
tersebut dengan menggunakan persamaan :
q
o
= J (P
s
− P
wf
) (4)
5. Kembali ke langkah 3.
6. Plot q
o
vs P
wf
yang diperoleh dari langkah 3 dan 4 pada kertas grafik kartesian,
dengan q
o
sebagai sumbu datar dan P
wf
sebagai sumbu tegak.



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 3 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3.2. PENENTUAN KURVA IPR UNTUK ALIRAN DUA FASA PADA FAKTOR SKIN = 0
3.2.1. Jika Tekanan Statik Lebih Kecil dari Tekanan Jenuh (P
s
< P
b
)
1. Siapkan data hasil uji tekanan dan produksi, yaitu P
s
, P
wf
, dan q
o
@ P
wf

2. Hitung P
wf
/P
s

3. Hitung laju produksi maksimum (q
max
) berdasarkan data dari langkah 1 dan
menggunakan persamaan berikut :

2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 0 . 1
s
wf
s
wf
o
P
P
P
P
q
q
− −
= (5)
4. Pilih tekanan alir dasar sumur (P
wf
) dan hitung P
wf
/P
s

5. Hitung q
o
pada P
wf
tersebut dengan menggunakan persamaan :

)
`
¹
¹
´
¦
− − =
2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 0 . 1
s
wf
s
wf
o
P
P
P
P
q q (6)
6. Kembali ke langkah 4.
7. Plot q
o
terhadap P
wf
yang diperoleh dari langkah 4 sampai dengan 6 pada kertas
grafik kartesian dengan q
o
sebagai sumbu datar dan P
wf
sebagai sumbu tegak.
Catatan :
Apabila dipilih harga q
o
dan akan ditentukan harga P
wf
-nya, langkah 4 s/d 6 diganti
dengan langkah berikut :
4. Pilih laju aliran (q
o
) dan hitung q
o
/q
max

5. Hitung P
wf
dengan menggunakan persamaan berikut :
{ } ) / ( 80 81 1 125 . 0
max
q q P P
o s wf
− + − = (7)
6. Kembali ke langkah 4.

3.2.2. Jika Tekanan Statik Lebih Besar daripada Tekanan Jenuh (P
s
> P
b
)
3.2.2.1. Jika tekanan alir dasar sumur dari uji produksi lebih besar dari tekanan jenuh
(P
wf
> P
b
)
1. Dari uji tekanan dan produksi, diperoleh :
P
s
, P
wf
dan q
o
@ P
wf
Dalam hal ini P
wf
> P
b
dan P
b
harus diketahui.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 4 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
2. Hitung indeks produktivitas sumur untuk P
wf
> P
b
(kondisi aliran satu fasa)
dengan menggunakan persamaan berikut :

wf s
o
P P
q
J

= (8)
3. Dengan menggunakan harga J tersebut hitung q
b
@ P
wf
= P
b
menurut
persamaan di bawah ini:
q
b
= J (P
s
− P
b
) (9)
4. Hitung q
x
, yaitu :

8 . 1
) (
b
x
P J
q = (10)
5. Hitung q
max
= q
b
+ q
x
(11)
6. Pilih P
wf
yang lebih kecil dari tekanan jenuh (P
b
) dan hitung P
wf
/P
b

7. Hitung laju produksi pada P
wf
tersebut dengan menggunakan persamaan :


)
`
¹
¹
´
¦
− − − + =
2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1 ) (
b
wf
b
wf
b b o
P
P
P
P
q q q q (12)
8. Kembali ke langkah 6.
9. Plot P
wf
terhadap q
o
yang diperoleh dari langkah 6 sampai dengan 8, pada
kertas grafik kartesian dengan menggunakan q
o
sebagai sunibu datar dan P
wf

sebagai sumbu tegak.

3.2.2.2. Jika tekanan alir dasar sumur dari uji produksi lebih kecil dari tekanan jenuh
(P
wf
< P
b
)
1. Dari uji tekanan dan produksi diperoleh :
P
s
, P
wf
, dan q
o
@ P
wf
Dalam hal ini P
wf
< P
b

2. Hitung P
wf
/P
b
dan tentukan harga A
di mana :

2
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1
b
wf
b
wf
P
P
P
P
A − − = (13)
3. Hitung harga J untuk kurva IPR di atas tekanan jenuh, yaitu :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 5 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

)
`
¹
¹
´
¦
+ −
=
) (
8 . 1
A
P
P P
q
J
b
b s
o
(14)
4. Hitung laju produksi pada P
wf
= P
b
, yaitu :
q
b
= J (P
s
− P
b
) (9)
5. Hitung q
x
dari persamaan :

8 . 1
) (
b
x
P J
q = (10)
6. Hitung q
max
= q
b
+ q
x
(11)
7. Pilih P
wf
yang lebih kecil dari tekanan jenuh dan hitung P
wf
/P
b
.
8. Hitung laju produksi pada P
wf
tersebut dengan menggunakan persamaan
berikut :

)
`
¹
¹
´
¦
− − − + =
2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1 ) (
b
wf
b
wf
b b o
P
P
P
P
q q q q (12)
9. Kembali ke langkah 7.
10. Plot P
ws
vs q
o
yang diperoleh dari langkah 7 sampai dengan 9 pada kertas
grafik kartesian dengan q
o
sebagai sumbu datar dan P
wf
sebagai sumbu
tegak.


3.3 PENENTUAN KURVA IPR DUA FASA UNTUK TEKANAN STATIK DI BAWAH
TEKANAN JENUH DAN FAKTOR SKIN TIDAK SAMA DENGAN NOL
1. Dari uji tekanan tentukan P
s
dan S.
2. Dari uji produksi tentukan harga P
wf
dan q
o
@ P
wf
.
3. Hitung konstanta persamaan kurva IPR, yaitu :
a
1
, a
2
, a
3
, a
4
dan a
5
masing-masing dengan menggunakan persamaan : (41), (42), (43), (44)
dan (45) pada Lampiran (harga a
1
sampai a
5
dapat juga ditentukan secara grafis dengan
menggunakan Gambar 1 sampai 5, untuk masing-masing a
n
, apabila harga faktor skin
antara (− 4) sampai dengan 10).
4. Hitung P
wf
/P
s
berdasarkan data uji tekanan dan produksi.
5. Hitung harga ruas kanan dari pada persamaan kurva IPR, yaitu :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 6 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

2
4 2
2
5 3 1
) / ( ) / ( 1
) / ( ) / (
s wf s wf
s wf s wf
P P a P P a
P P a P P a a
A
+ +
+ +
= (15)
6. Hitung laju produksi maksimum (q
max
) apabila S = 0, yaitu :
q
max
@ S = 0 =
A
q
o
(16)
dimana q
o
adalah laju dari uji produksi.
7. Pilih harga P
wf
dan hitung P
wf
/P
s
, kemudian hitung harga A, seperti pada langkah 5.
8. Hitung laju produksi, q
o
pada P
wf
tersebut, yaitu :
q
o
= q
max
@ S = 0 (A) (17)
9. Kembali ke langkah 7.
10. Plot P
wf
terhadap q
o
yang diperoleh dari perhitungan pada kertas grafik kartesian dengan q
o

sebagai sumbu datar dan P
wf
sebagai sumbu tegak.


3.4. PENENTUAN KURVA IPR BERDASARKAN UJI ISOCHRONAL
1. Dari uji Isochronal diperoleh 3 atau lebih laju produksi dengan masing-masing P
wf
-nya.
2. Untuk masing-masing harga P
wf
, hitung P
2
s
− P
2
wf
.
3. Plot (P
2
s
− P
2
wf
) terhadap q pada kertas grafik log-log.
4. Tarik garis lurus terbaik yang mewakili titik-titik tersebut.
5. Tentukan kemiringan garis lurus dari langkah 4 dengan prosedur sebagai berikut :
• Pilih dua titik sembarang yang terletak pada garis dari langkah 4.
• Baca harga-harga (P
2
s
− P
2
wf
) dan q, yaitu :
(P
2
s
− P
2
wf
)
1
dan q
o1
(P
2
s
− P
2
wf
)
2
dan q
o2

• Kemudian dari garis lurus tersebut dapat dihitung sebagai berikut :
2 1
2
2 2
1
2 2
log log
) log( ) log(
Kemiringan
o o
wf s wf s
q q
P P P P

− − −
= (18)
6. Harga n dari persamaan kurva IPR dapat dihitung sebagai berikut :
n = l/(kemiringan) (19)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 7 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
7. Tentukan konstanta J dari persamaan kurva IPR dengan prosedur sebagai berikut :
• Perpanjang garis dari langkah 4, sampai memotong sumbu datar.
• Baca harga perpotongan tersebut, misalkan X STB/hari.
• Baca harga (P
2
s
− P
2
wf
) yang sesuai dengan X STB/hari tersebut, misalkan Y (psi
2
).
Maka harga J dapat dihitung sebagai berikut :

n
Y
X
J = (20)
8. Pilih berapa harga P
wf
dan hitung laju alirannya dengan menggunakan persamaan kurva
IPR :
q
o
= J (P
s
2
− P
wf
2
)
n
(21)
9. Plot P
wf
terhadap q
o
, pada kertas grafik kartesian; q
o
pada sumbu datar dan P
wf
sebagai
sumbu tegak.


3.5. PENENTUAN KURVA IPR DUA FASA DI KEMUDIAN HARI DENGAN METODE
"PIVOT - POINT"
3.5.1. Pemecahan Secara Numerik dengan Menggunakan Metoda "Pivot - Point"
1. Dapatkan dua data uji tekanan dan produksi yang dilakukan pada waktu berbeda.
2. Tentukan laju produksi maksimum dari dua data uji tersebut dengan menggunakan
persamaan Vogel :

2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 0 . 1
s
wf
s
wf
o
P
P
P
P
q
q
− −
= (5)
dengan demikian diperoleh q
max
,
1
dan q
max, 2
untuk masing-masing data uji.
3. Hitung P
*
wf
dengan menggunakan persamaan berikut ini :

2
1 2 max,
2
2 1 max,
2
2 1 1 max,
2
1
2
1 2 max, *
) ( ) ( 8 / 1
s s
s s s s
wf
P q P q
P P q P P q
P


= (22)
4. Hitung (
wf
o
dP
dq
*
− ) dengan menggunakan persamaan di bawah ini :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 8 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

*
2
1 1
1 max,
*
)
6 . 1
2 . 0
( ) (
s
wf
s wf
o
P
P
P
q
dP
dq
+ = − (23)
5. Tentukan tekanan statis di kemudian hari, P
sf
yang mana kurva IPR-nya akan
dibuat.
6. Hitung(-dq
o
/dP
wf
)
f
dengan menggunakan persamaan
berikut :


sf
wf
wf
o
Pwf f
wf
o
P
P
dP
dq
dP
dq
*
*
0
1
) (
) (
+

= −
=
(24)

7. Hitung laju produksi maksimum di kemudian hari, q
max, f
, sebagai berikut :
2 . 0
) / (
0
max,
=

=
Pwf f wf o sf
f
dP dq P
q (25)

8. Buat kurva IPR di kemudian hari, berdasarkan harga P
sf
(dari langkah 5) dan q
max,f

(dari langkah 7) dengan menggunakan persamaan Vogel. Langkah perhitungan
dilakukan seperti langkah 4 sampai dengan 7 dari sub judul 3.2.1

3.5.2. Pemecahan Secara Numerik dengan Menggunakan Persamaan Ps-envelope
1. Dapatkan dua data uji tekanan dan produksi yang dilakukan pada waktu yang
berbeda.
2. Tentukan laju produksi maksimum dari dua data uji tersebut dengan menggunakan
persamaan Vogel, yaitu :

2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 0 . 1
s
wf
s
wf
o
P
P
P
P
q
q
− −
= (5)
Dengan demikian diperoleh q
max,1
dan q
max,2
untuk masing-masing data uji.

P
wf
= 0
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 9 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3. Hitung konstanta A dengan menggunakan persamaan berikut :

) / ( ) / (
2 max,
2
2 1 max,
2
1
2 1
q P q P
P P
A
s s
s s


= (26)
4. Hitung konstanta n, sebagai berikut :

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
− = 1
1 max,
1
1
q
P A
P n
s
s
(27)
5. Tentukan tekanan statis di kemudian hari (P
sf
) yang mana kurva IPR akan dibuat.
6. Hitung q
max,f
dengan menggunakan persamaan berikut :

n P
P A
q
sf
sf
f
+
=
2
max,
(28)
7. Buat kurva IPR di kemudian hari berdasarkan harga P
sf
(dari langkah 5) dan q
max,f

(dari langkah 7) dengan menggunakan persamaan Vogel. Langkah perhitungan
dapat dilihat pada sub-judul 3. 2. 1. dari langkah 4 sampai dengan 7.

3.6. PENENTUAN KURVA IPR DUA FASA DI KEMUDIAN HARI DENGAN
MENGGUNAKAN FUNGSI TEKANAN SEMU
1. Dapatkan satu data uji tekanan dan produksi pada waktu sekarang dan tentukan pula faktor
skin. Selain itu API minyak perlu diketahui.
2. Dengan menggunakan prosedur perhitungan pada sub-judul 3.3 dari langkah (1) sampai
dengan (6), tentukan laju produksi maksimum untuk S = 0, pada saat sekarang (q
max,p
)
3. Sesuai dengan API dari minyak, tentukan x
p
, yaitu perbandingan m(P
sp
)/m dengan (P
sp
)
menggunakan persamaan berikut :
Untuk API < 40 :
x
p
= 0.033210
) / ( 429922 . 3
sp sf
P P
e
= 1.025333 (29)
Untuk API > 40 :
x
p
= 0.015215
) / ( 152343 . 4
sp ssf
P P
e
= 0.967412 (30)
4. Tentukan harga tekanan statis di kemudian hari, P
sf
, yang mana kurva IPR-nya akan
dibuat.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 10 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. Hitung harga x
f
, yaitu :

) (
) (
sp
sf
f
P m
P m
x = (31)
dengan menggunakan persamaan yang sesuai dengan API minyak, yaitu :
Untuk API < 40 :
x
f
= 0.033210
) / ( 429922 . 3
sp sf
P P
e
Untuk API > 40
x
f
= 0.015215
) / ( 152343 . 4
sp sf
P P
e

Hitung laju aliran maksimum di kemudian hari (q
max,f
) untuk S = 0, yaitu :
p
p
f
f
q
x
x
q
max, max,
. = (34)
dimana q
max,p
telah diperoleh dari langkah 2.
7. Buat kurva IPR di kemudian hari berdasarkan P
sf
(dari langkah 5) dan q
max,f
(dari langkah
6) dengan menggunakan prosedur perhitungan pada 2.3, langkah 7 sampai dengan 9.

3.7. PENENTUAN KURVA IPR DI KEMUDIAN HARI DENGAN MENGGUNAKAN DATA
UJI ISOCHRONAL
1. Persamaan kurva IPR dapat dapat ditentukan berdasarkan data isochronal, yaitu:
q
o
= J (P
2
sp
− P
2
wf
)
n
(35)
2. Tentukan tekanan statik di kemudian hari (P
sf
).
3. Buat kurva IPR untuk tekanan statik (P
sf
) dengan menggunakan persamaan :
) ( ) (
2 2
wf sf
n
sp
sf
o
P P
P
P
J q − =
(36)
dimana P
sp
adalah tekanan statik pada saat sekarang, yaitu pada waktu uji isochronal
dilakukan (langkah 1).




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 11 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. DAFTAR BACAAN

1. Vogel, J. V. : "Inflow Performance Relationships For Solution Gas Drive Wells", Journal
Petroleum of Technology, Jan. 1968, pp. 83-92.
2. Sukarno, Pudjo : "Inflow Performance Relationship Curves in Two-Phase and Three-Phase Flow
Conditions", Ph. D. Dissertation, The University of Tulsa, 1985, Tulsa, Ok.
3. Fetkovich, M. J. : "The Isochronal Testing of Oil Wells", SPE Reprint Series No. 14, Pressure
Transient Testing Method, 1980 Edition.
4. Earlougher, Robert C., Jr. : "Advances in Well Test Analysis", Monograph Vol. 5, SPE of AIME.
5. Uhri, D. C. dan Blount, E. M. : "Pivot Point Method Quickly Predicts Well Performance", World
Oil Vol.194, No 6. May 1982 pp. 153 - 164.
6. Brown, K. E. : "The Technology of Artificial Lift Methods", Vol. IV, PennWell Books, Tulsa,
Oklahoma, 1984.



















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 12 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. DAFTAR SIMBOL

B
o
= faktor volume formasi, bbl/STB
h = tebal lapisan, ft
J = Indeks Produktivitas, STB/hari/psi
k
o
= permeabilitas efektif minyak, mD
k
ro
= permeabilitas relatif minyak
m(P) = fungsi tekanan semu
n = l/kemiringan kurva dari plot
(P
s
2
− P
wf
2
) terhadap q
o
pada kertas grafik log-log
P
b
= tekanan jenuh, psi
P
s
= tekanan statik, psi
P
sf
= tekanan statik di kemudian hari, psi
P
sp
= tekanan statik saat ini, psi
P
wf
= tekanan alir dasar sumur, psi
q
b
= laju aliran minyak pada P
wf
= P
b
, STB/hari
q
max
= laju aliran minyak maksimum, STB/hari
q
o
= laju aliran minyak, STB/hari
r
e
= jari-jari pengurasan, ft
r
w
= jari-jari sumur, ft












TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 13 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6. LAMPIRAN
6. 1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
6.1.1. Pendahuluan
Kurva IPR dinyatakan sebagai hubungan tekanan alir dasar sumur (P
wf
) terhadap laju
produksi (q
o
). Hubungan ini diperoleh dari uji sumur, yaitu :
(1) Uji produksi sebelum uji tekanan bentuk dilakukan.
(2) Uji "draw down" (UDD).
(3) Uji Isochronal.
Selain berdasarkan uji sumur tersebut kurva IPR dapat pula diperkirakan dengan
menggunakan persamaan aliran Darcy.

6.1.2. Penentuan Kurva IPR dengan Persamaan Darcy
Persamaan aliran untuk minyak dalam media berpori adalah sebagai berikut :

) / 472 . 0 (ln
) ( 10 08 . 7
3
S r r B
P P h k
q
w e o o
wf r o
o
+
− ×
=

u
(37)
Apabila indeks produksi (J) didefinisikan sebagai :

wf r
o
P P
q
J

= (38)
maka dari persamaan (1) dapat diturunkan harga J :

) / 472 . 0 (ln
10 08 . 7
3
S r r B
h k
J
w e o o
o
+
×
=

u
(39)

Oleh karena persamaan (39) diturunkan dari persamaan aliran Darcy, maka
pemakaiannya sesuai dengan anggapan yang digunakan oleh persamaan (37), yaitu
antara lain aliran satu fasa.






TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 14 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.1.3. Penentuan Kurva IPR untuk Aliran Dua Fasa (Gas dan Minyak) dengan Faktor Skin = 0
Untuk aliran dua fasa Vogel menurunkan persamaan kurva IPR yang tidak berdimensi
dengan menggunakan simulator untuk reservoir solution gas drive. Persamaan tersebut
adalah :

2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1
s
wf
s
wf
o
P
P
P
P
q
q
− − = (40)
Pembuatan kurva IPR dengan persamaan ini memerlukan satu data uji produksi (q
o
dan
P
wf
) dan uji tekanan statik.
Sesuai dengan penurunannya, persamaan (40) hanya berlaku apabila tidak terjadi
kerusakan atau perbaikan formasi. Persamaan ini dikembangkan untuk menentukan
kurva IPR, apabila tekanan statik lebih besar daripada tekanan jenuh. Pada kondisi ini
kurva IPR terdiri dari dua bagian, yaitu :
1. Kurva IPR yang linier, apabila tekanan alir dasar sumur lebih besar dari tekanan
jenuh. Pada kondisi ini persamaan (38) digunakan untuk membuat kurva IPR.
2. Kurva IPR yang tidak linier, apabila tekanan alir dasar sumur lebih kecil dari tekanan
jenuh. Pada kondisi ini persamaan kurva IPR berupa :

)
`
¹
¹
´
¦
− − − + =
2
max
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1 ) (
b
wf
b
wf
b b o
P
P
P
P
q q q q (12)
Harga q
b
ditentukan menurut persamaan (38) sebagai berikut :
q
b
= J (P
s
– P
b
) (9)
Harga J lebih dahulu dihitung berdasarkan data uji tekanan dan produksi sebagai berikut
:
1. Apabila dari uji produksi diperoleh P
wf
> P
b
, maka :

wf s
o
P P
q
J

=
2. Apabila dari uji produksi diperoleh P
wf
< P
b
, maka :

{ } ) ( 8 . 1 / A P P P
q
J
b b s
o
+ −
= (7)
dimana :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 15 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

2
) ( 8 . 0 ) ( 2 . 0 1
b
wf
b
wf
P
P
P
P
A − − = (13)
Pemakaian persamaan (12) memerlukan harga q
max
dihitung menurut persamaan :

8 . 1
max
b
b
P J
q q + = (41)
6.1.4. Penentuan Kurva IPR untuk Aliran Dua Fasa (Gas dan Minyak) Apabila Terjadi
Kerusakan atau Perbaikan Formasi
Persamaan kurva IPR, yang dipengaruhi skin factor, dikembangkan dari simulator
reservoir 3-fasa dengan memasukkan pengaruh skin.
Persamaan tersebut berbentuk :

2
4 2
2
5 3 1
0 max,
) ( ) ( 1
) ( ) (
s
wf
s
wf
s
wf
s
wf
S
o
P
P
a
P
P
a
P
P
a
P
P
a a
q
q
+ +
+ +
=
=
(42)
di mana a
1
sampai dengan a
5
adalah konstanta persamaan yang tergantung dari harga
faktor skin. Konstanta ini dihitung dengan menggunakan persamaan-persamaan berikut :
a
1
= 0.182922 e
-0.36438

S
+ 0.814541 e
-0.055873 S
(43)
a
2
= −1.476950 e
−0.456632 S
+ 1.646246 e
−0.442306 S
(44)
a
3
= −2.149274 e
−0.195976 S
+ 2.289242 e
−0.220333 S
(45)
a
4
= −0.0217831 e
0.088286 S
– 0.260385 e
−0.210801

S
(46)
a
5
= −0.5524470 e
−0.032449 S
− 0.583242 e
−0.306962 S
(47)
Untuk harga faktor skin antara −4 sampai dengan 10, konstanta a
1
sampai a
5
dapat
ditentukan secara grafis dengan menggunakan Gambar 1 sampai dengan 5.

6.1.5. Penentuan Kurva IPR Berdasarkan Uji Isochronal
Cara ini dikembangkan oleh Fetkovich, yang menganggap bahwa kelakuan aliran cairan
dalam media berpori adalah sama seperti aliran gas. Persamaan kurva IPR untuk aliran
cairan adalah :
q
o
= J (P
2
s
− P
2
wf
)
n
(21)
Harga J dan n dari persamaan (21) diperoleh dari plot (P
2
s
− P
2
wf
) terhadap q
o
dari data
uji isochronal. Plot tersebut dibuat pada kertas grafik log-log.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 16 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.1.6. Perencanaan Kurva IPR Dua Fasa di Kemudian Hari dengan Metoda "Pivot Point"
Metode Pivot Point dikembangkan oleh Uhri dan Blount dan digunakan untuk
meramalkan kurva IPR di kemudian hari untuk sumur-sumur yang berproduksi dari
reservoir solution gas drive, tanpa memerlukan data PVT dan saturasi atau permeabilitas
relatif.
Persamaan kurva IPR dari Vogel, masih tetap digunakan untuk membuat kurva IPR
dikemudian hari, di mana laju aliran maksimum (q
max
) diramalkan dengan metode "Pivot
Point" ini. Untuk peramalan laju aliran maksimum ini diperlukan paling sedikit dua uji
tekanan dan produksi yang dilaksanakan pada waktu yang berbeda.
Metode ini dikembangkan dari persamaan Vogel yang diturunkan terhadap tekanan alir,
yaitu :

)
`
¹
¹
´
¦
+ = −
2
max
6 . 1
2 . 0
s
wf
s wf
o
P
P
P
q
dP
dq
(48)
atau dapat pula dituliskan sebagai :

wf
s s wf
o
P
P
q
P
q
dP
dq
2
max max
6 . 1 2 . 0
+ = − (49)
Persamaan tersebut menunjukkan hubungan yang linier (dq
o
/dP
wf
) terhadap P
wf
. Dengan
demikian grafik (dq
o
/dP
wf
) terhadap P
wf
akan menghasilkan garis lurus. Kemudian
diketemukan bahwa garis-garis lurus tersebut semuanya berpangkal dari satu titik,
(Pivot Point), seperti terlihat pada Gambar 6.
Untuk membuat garis lurus tersebut diperlukan dua harga (dq
o
/dP
wf
) yang ditentukan dari
dua harga P
wf
, yaitu :
1. Untuk P
wf
= 0 :

) (
wf
o
dP
dq

s
P
q
max
2 . 0
= (50)


2. Untuk P
wf
= P
s
P
wf
= 0
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 17 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
) (
wf
o
dP
dq

s
P
q
max
2 . 0
= (51)

atau
) (
wf
o
dP
dq

0
9
=
− =
Pwf
wf
o
dP
dq
(52)

Dengan demikian dari satu uji tekanan dan produksi serta menggunakan persamaan (50)
dan (51) dapat dibuat garis lurus yang sesuai dengan persamaan (49).
Dengan cara yang sama dibuat garis lurus yang lain berdasarkan uji tekanan dan
produksi yang diambil pada saat yang berbeda. Perpotongan kedua garis lurus itu adalah
titik pangkal dari semua garis lurus untuk harga P
s
yang berbeda-beda. Apabila dibuat
beberapa garis seperti itu, maka titik ujung garis-garis tersebut akan membentuk suatu
kurva yang disebut P
s
-envelope (lihat Gambar 7).
Untuk meramalkan kurva IPR di kemudian hari, titik pangkal (Pivot Point) dan P
s
-
envelope harus dibuat lebih dahulu. Penentuan kedua hal ini dapat dilakukan secara
analitis seperti tercantum dalam prosedur perhitungan.

6.1.7. Peramalan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Fungsi
Tekanan Semu (Pseudo Pressure Function)
Metode ini dikembangkan berdasarkan persamaan aliran radial dua fasa semi mantap,
yaitu :



×
=
− s
wf
P
P o o
ro
w e
o
o
dP
B
k
r r
h k
q
u 5 . 0 ) / (ln(
10 08 . 7
3
(53)
Dalam bentuk fungsi tekanan semu, persamaan (53) dapat dituliskan sebagai :
| | ) ( ) (
5 . 0 ) / (ln(
10 08 . 7
3
wf s
w e
o
o
P m P m
r r
h k
q −

×
=

(54)
Apabila P
sf
dan P
sp
masing-masing adalah tekanan reservoir statik di kemudian hari dan
saat ini, maka perbandingan antara q
max,f
dan q
max,p
untuk faktor skin = 0 dapat
dinyatakan sebagai :
P
wf
= P
s
P
wf
= P
s

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 18 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

) (
) (
max,
max,
sp
sf
p
f
P m
P m
q
q
= (55)
Dari hasil simulasi reservoir, diperoleh hubungan (k
ro
/u
o
B
o
) terhadap tekanan dan fungsi
tekanan semua dihitung berdasarkan integrasi secara numerik.
Untuk bermacam-macam jenis minyak dan parameter batuan reservoir ternyata
kedudukan kurva dari hubungan m(P
sf
)/m(P
sp
) terhadap P
rf
/P
ri
adalah saling berdekatan,
seperti ditunjukkan pada Gambar 8 dan 9, masing-masing untuk API > 40 dan API < 40.
Analisa regresi terhadap kurva tersebut menghasilkan persamaan-persamaan sebagai
berikut :
API > 40
) / ( 429922 . 3
033210 . 0
) (
) (
Psp Psf
sp
sf
e
P m
P m
= (56)

API < 40
) / ( 152343 . 4
015215 . 0
) (
) (
Psp Psf
sp
sf
e
P m
P m
= (57)

Dengan menggunakan persamaan (56) atau (57) tersebut serta persamaan (42), maka laju
produksi maksimum di kemudian hari untuk faktor skin = 0 dapat ditentukan. Kurva IPR
dapat dibuat berdasarkan q
max,f
ini dengan menggunakan persamaan (42).











TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 19 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 20 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 21 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 22 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 23 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 24 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 25 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 26 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 27 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu











TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 28 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2. CONTOH PERHITUNGAN
6.2.1. Penentuan Kurva IPR Untuk Aliran Satu Fasa (Berdasarkan Data Uji Tekanan dan
Produksi)
a. Dari uji tekanan dan produksi, diperoleh :
P
s
= 1,500 psi
P
wf
= 1,200 psi
q
o
= 150 STB/hari
Tekanan jenuh = 750 psi.
b. Penentuan Kurva IPR :
1. P
s
= 1,500 psi
P
wf
= 1,200 psi
q
o
@ P
wf
= 150 STB/hari
2. J = 150/(1,500 − 1,200) = 0.50 STB/hari/psi
3. P
wf
= 1,400 psi
q = 0.50 (1,500 − 1,400) = 50 STB/hari
P
wf
= P
b
= 750 psi
q
o
= 0.50 (1,500 − 750) = 375 STB/hari
4. Plot kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 10.

6.2.2. Penurunan Kurva IPR Untuk Aliran Satu Fasa (Berdasarkan Parameter Batuan dan
Fluida Reservoir)
1. Parameter batuan reservoir :
k
o
= 14.5 mD
h = 20 ft
r
e
= 900 ft
2. Parameter fluida reservoir :
B
o
= 1.1200 bbl/STB
u
o
= 0.40 cp
3. Parameter sumur :
r
w
= 0.33 ft
S = + 2
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 29 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. Tekanan Statik, P
s
= 1,500 psi
5. Hitung J :

{ } 0 . 2 ) 33 . 0 / 900 ( 474 . 0 ln ) 12 . 1 )( 40 . 0 (
) 20 )( 5 . 14 ( 00708 . 0
+
= J
6. P
wf
= 1,200 psi
q
o
= 0.50 (1,500 − 1,200) = 150 STB/hari
P
wf
=

1,000 psi
q
o
= 0.50 (1,500 − 1,000) = 250 STB/hari
7. Plot kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 11.






















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 30 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 31 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 32 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.3. Kurva IPR Untuk Aliran Dua Fasa (Gas-Minyak) dan P
s
< P
b

1. Dari data uji tekanan dan produksi, diperoleh. :
P
s
= 1,500 psi
P
wf
= 1,200 psi
q
o
= 150 STB/hari
2. P
wf
/P
s
= 1,200/1,500 = 0.80
3.
2
max
) 80 . 0 ( 80 . 0 ) 80 . 0 ( 20 . 0 0 . 1
150
− −
= q
4. P
wf
= 1,400 psi
P
wf
/P
s
= 1,400/1,500 = 0.9333
5. q
o
= 457.32 {1.0 – 0.20 (0.9333) – 0.80 (0.9333)
2
}
= 53.25 STB/hari
6. Untuk berbagai harga P
wf
diperoleh harga-harga q
o
sebagai berikut :

P
wf
P
wf
/P
s
q
o

1,500.0 1.0000 0.00
1,400.0 0.9333 53.25
1,200.0 0.8000 150.00
1,000.0 0.6667 233.74
800.0 0.5333 304.47
600.0 0.4000 362.20
400.0 0.2667 406.91
200.0 0.1333 438.62
0.0 0.0000 457.62

7. Plot Kurva IPR ditunjukkan oleh Gambar 12.





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 33 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu





6.2.4. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa (P
wf
> P
b
)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 34 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
1. Dari uji tekanan dan produksi diperoleh :
P
s
= 4,000 psi
P
wf
= 3,000 psi , q
o
= 200 STB/hari @ P
wf
P
b
= 2,000 psi
2. Indeks Produktivitas untuk P
wf
> P
b
, dapat dihitung sebagai berikut :
2 . 0
000 , 3 000 , 4
200
=

= J
3. Laju produksi pada P
wf
= P
b
adalah :
q
b
= 0.2 (4,000 − 2,000) = 400 STB/hari
4. Hitung q
x
:
22 . 222
8 . 1
) 000 , 2 )( 2 . 0 (
= =
x
q STB/hari
5. Hitung q
max
:
q
max
= 400 + 222.22 = 622.22 STB/hari
6. Pilih P
wf
= 1,000 psi, dan hitung P
wf
/P
b
:
5 . 0
000 , 2
000 , 1
= =
b
wf
P
P

7. Laju produksi pada P
wf
= 1,000 psi adalah :
q
o
= 400 + (622.22 − 400) (1.0 – 0.2(0.5) – 0.8(0.5)
2
)
= 555.55 STB/hari
8. Pilih harga P
wf
yang lain dan hasil hitungan adalah sebagai berikut :
P
wf
P
wf
/P
b
q
o

4,000 - 0.0
3,000 - 200.0
2,000 - 400.0
1,600 0.80 472.89
1,200 0.60 531.55
1,000 0.50 555.55
600 0.30 592.89
200 0.10 616.00
0 0.0 622.22
9. Plot P
wf
terhadap q
o
dapat dilihat pada Gambar 13.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 35 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



6.2.5. Perhitungan Kurva IPR Dua Fasa (P
wf
< P
b
)
1. Dari uji tekanan dan produksi diperoleh :
P
s
= 4,000 psi
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 36 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
P
wf
= 2,000 psi , q
0
@ P
wf
= 200 STB/hari
P
b
= 3,000 psi
2. Hitung P
wf
/P
b
= 6667 . 0
000 , 3
000 , 2
=
A = 1.0 – 0.2(0.6667) – 0.8(0.6667)
2
= 0.5111
3. Hitung harga J untuk P
wf
> P
b
:
1080 . 0
)) 5111 . 0 (
8 . 1
000 , 3
000 , 3 000 , 4 (
200
=
+ −
= J
4. Hitung q
b
:
q
b
= 0.1080(4,000 − 3,000) = 108.0 STB/hari
5. Hitung q
x
:
q
x
= 0 . 180
8 . 1
) 000 , 3 ( 1080 . 0
= STB/hari
6. Pilih P
wf
= 1,000 psi :
P
wf
/P
b
= 3333 . 0
000 , 3
000 , 1
=
7. q
o
= 108 + (288 − 100) {1 – 0.2(0.3333) – 0.8 (0.3333)
2
}
= 260.0 STB/hari
8. Hasil perhitungan untuk berbagai harga P
wf
adalah sebagai berikut :
P
wf
P
wf
/P
b
q
o

4,000 - 0.0
3,000 - 108.0
2,500 0.8333 158.0
2,000 0.6667 200.0
1,500 0.5000 234.0
1,000 0.3333 260.0
500 0.1667 278.0
0 0.0 288.0
9. Kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 14.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 37 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



6.2.6. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa (Gas dan Minyak) Dengan P
s
< P
b
dan S ≠ 0
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 38 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
a. Untuk harga S positif
1. Dari uji tekanan diperoleh :
P
s
= 1,590 psi
S = 2.43 (FE = 0.7880)
2. Dari uji produksi diperoleh :
P
wf
= 240 psi
q
o
= 924 STB/hari
3. Hitung konstanta persamaan Kurva IPR sebagai berikut :
a
1
= 0.182922 e
− 0.364438(2.43)
+ 0.814541 e
− 0.055873(2.43)
= 0.78658
a
2
= −1.476950 e
– 0.456632(2.43)
+ 1.646246 e
– 0.442306(2.43)
= 0.07504
a
3
= −2.149274 e
– 0.195976(2.43)
+ 2.289242 e
– 0.022033(2.43)
= 0.00522
a
4
= −0.0217833 e
– 0.088286(2.43)
– 0.260395 e
– 0.210801(2.43)
= −0.18300
a
5
= 0.5524470 e
– 0.032449(2.43)
– 0.583242 e
– 0.306962(2.43)
= −0
.
78719
4. Hitung P
wf
/P
s
, yaitu :
15094 . 0
590 , 1
240
= =
s
wf
P
P

5. Hitung ruas kanan dari pada persamaan Kurva IPR :

2
2
) 15094 . 0 ( 18300 . 0 ) 15094 . 0 ( 07504 . 0 1
) 15094 . 0 ( 7819 . 0 ) 15094 . 0 ( 00522 . 0 78658 . 0
− +
− +
= A
= 0.76396
6. Hitung laju produksi maksimum pada S = 0, (q
max,,S = 0
), yaitu :
48 . 209 , 1
76396 . 0
924
0 max,
= =
= S
q STB/hari
7. Pilih harga P
wf
= 1,400 psi,
88050 . 0
590 , 1
400 , 1
= =
s
wf
P
P

Harga A adalah :

2
2
) 88050 . 0 ( 18300 . 0 ) 88050 . 0 ( 07504 . 0 1
) 88050 . 0 ( 78719 . 0 ) 88050 . 0 ( 00522 . 0 78658 . 0
− +
− +
= A
= 0.19572
8. Laju produksi pada P
wf
= 1,400 psi adalah :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 39 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
q
o
= (1,209.48) (0.19572) = 236.71 STB/hari
9. Untuk harga P
wf
yang berbeda diperoleh hasil perhitungan laju produksi sebagai
berikut :

P
wf
q
o

1,590 0.0
1,400 236.71
1,200 436.38
1,000 595.39
800 720.93
600 817.05
400 886.49
200 930.94
0 951.19

10. Plot P
wf
terhadap q
o
dapat dilihat pada Gambar 15.

b. Untuk S negatif
1. Dari uji tekanan diperoleh :
P
s
= 3,548 psi
S = −3.60 (FE = 1.6558)
2. Dari uji produksi diperoleh :
P
w:f
= 3,118 psi
q
o
= 107 STB/hari
3. Hitung konstanta persamaan Kurva IPR sebagai berikut :
a
1
= 0.182922 e
(−0.364438) (−3.60)
+

0.814541 e
– 0.055872(−3.60)
= 1.67530
a
2
= −1.476950 e
– 0.456632 (−3.60)
+ 1.646246 e
(– 0.442306) (−3.60)
= 0.44789
a
3
= −2.149274 e
– 0.195976 (−3.60)
+ 2.289242 e
(– 0.220333) (−3.60)
= 0.70823
a
4
= −0.0217831 e
– 0.088286(−3.60)
– 0.260385 e
– 0.21080(−3.60)
= −2.38195
a
5
= −0.5524470 e
– 0.032449(−3.60)
– 0.583242 e
– 0.306962 (−3.60)
= −2.38195

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 40 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



4. Hitung P
wf
/P
s
, yaitu :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 41 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
8788 . 0
548 , 3
118 , 3
= =
s
wf
P
P

5. Hitung harga A :

2
2
) 8788 . 0 ( 57201 . 0 ) 8788 . 0 ( 44789 . 0 1
) 8788 . 0 ( 38195 . 2 ) 8788 . 0 ( 70823 . 0 67530 . 1
− +
− +
= A
= 0.48130
6. Laju produksi maksimum pada harga S = 0 adalah :
32 . 222
48130 . 0
107
0 max,
= =
= S
q STB/hari
7. Pilih P
wf
= 3,300 psi
P
wf
/P
s
= 0.93010
Harga A adalah :

2
2
) 8788 . 0 ( 57201 . 0 ) 8788 . 0 ( 44789 . 0 1
) 93010 . 0 ( 38195 . 2 ) 93010 . 0 ( 78823 . 0 67530 . 1
− +
− +
= A
= 0.29664
8. Laju produksi pada P
wf
= 3,300 psi adalah :
q
o
= (222.32) (0.29664) = 65.95 STB/hari
9. Untuk harga P
wf
yang lain diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut :

P
wf
q
o

3,548 0.0
3,000 65.95
2,900 149.68
2,500 213.41
2,100 262.54
1,500 315.86
1,100 340.61
700 357.93
300 368.18
0 372.44

10. Plot P
wf
terhadap q
o
dapat dilihat pada Gambar 16.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 42 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 43 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.7. Penentuan Kurva IPR Berdasarkan Data Uji Isochronal
3

1. Data Uji Isochronal : P
s
= 1,345 psi

Test Aliran q
o
P
wf

1 66 1,242
2 134 1,142
3 137 1,123
4 229 921
5 93 1,178
6 321 719
7 341 638

2. Hitung (P
2
s
– P
2
wf
) :

q
o

P
2
s
– P
2
wf

66 266,461
134 504,861
137 547,896
229 960,784
93 421,341
321 1,292,064
341 1,401,981

3. Plot (P
2
s
– P
2
wf
) terhadap q
o
dapat dilihat pada Gambar 17.










TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 44 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 45 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. Buat garis lurus yang mewakili ke tujuh titik tersebut.
5. Kemiringan garis lurus dihitung sebagai berikut :
q = 10 STB/hari , (P
2
s
– P
2
wf
) = 40,500 psi
2
q = 100 STB/hari , (P
2
s
– P
2
wf
) = 410,000 psi
2

Kemiringan =
10 log 100 log
500 , 40 log 000 , 410 log


= 1.005329
6. Harga n adalah :
n = 0 . 1 9947 . 0
005329 . 1
1
= =
7. Konstanta J dihitung sebagai berikut :
• Perpanjang garis lurus sampai memotong sumbu tegak di Y = 40,500 psi
2

• Dan harga X = 10 STB/hari
• Jadi J adalah :

4
0 . 1
10 46914 . 2
) 500 , 40 (
10

× = = J
8. Jadi persamaan kurva IPR :
q
o
= 2.46914 × 10
-4
(P
2
s
– P
2
wf
)
1.0

9. Harga laju aliran minyak untuk berbagai P
wf
adalah sebagai berikut :

P
wf
q
o

1,345 0.00
1,200 91.12
1,000 199.76
800 288.65
600 357.78
400 407.17
200 436.80
0 446.67

10. Plot P
wf
terhadap q
o
dari hasil perhitungan di langkah 9 menghasilkan kurva IPR
seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 18.

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 46 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 47 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.8. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Pivot - Point
Contoh soal dikutip dari :
World Oil, May 1982, halaman 155, "Pivot-Point Method Quickly Predicts Well
Performance", Uhri. , D. C. , dan Blount, E. M.
a. Data Uji Sumur :
Uji #1 Uji #2
q
o
, bpd 50 50
P
wf
, psi 1,765 1,578
P
s
, psi 2,090 1,960

b. Tentukan Kurva IPR pada P
sf
= 1,260 psi .
c. Langkah Perhitungan :
1. Data uji sumur untuk waktu yang berbeda telah ditunjukkan oleh Tabel
terdahulu.
2. Hitung laju produksi maksimum :
Untuk Uji #1 :
89 . 191
090 , 2
765 , 1
8 . 0
090 , 2
765 , 1
2 . 0 1
50
2
1 max,
=

− −
= q bpd

Untuk Uji #2 :
84 . 156
)
960 , 1
765 , 1
( 8 . 0
960 , 1
578 , 1
2 . 0 1
50
2
2 max,
=
− −
= q bpd
3. Hitung P
*
wf
, yaitu :

{ }
2 2
2 2
*
) 090 , 2 ( 04 . 156 ) 960 , 1 ( 192
) 960 , 1 )( 090 , 2 ( 89 . 191 ) 960 , 1 ( ) 090 , 2 ( 04 . 156 8 / 1


=
wf
P
= − 457.10274
4. Hitung (−
wf
o
dP
dq
) * , yaitu :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 48 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
)
`
¹
¹
´
¦ −
+ = −
2
) 2090 (
) 10274 . 457 ( 6 . 1
090 , 2
2 . 0
89 . 191 )* (
wf
o
dP
dq

5. P
sf
= 1,260 psi.
6. Hitung
f
wf
o
dP
dq
) (− ,yaitu :

f
wf
o
dP
dq
) (−
260 , 1
) 10274 . 457 (
8 1
013766 . 0

+

=

= 0.007237
7. Hitung q
max,f
, yaitu :
59 . 45
2 . 0
) 007237 . 0 ( 260 , 1
max,
= =
f
q bpd

8. Hasil perhitungan kurva IPR adalah sebagai berikut :
P
wf
q
o

1,260 0.00
1,200 3.825
1,000 15.381
800 25.099
600 32.979
400 39.021
200 43.225
0 45.59

9. Hasil plot q
o
terhadap P
wf
dapat dilihat pada Gambar 19.






P
wf
= 0
P
wf
= 0
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 49 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 50 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.9. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari Dengan Menggunakan Persamaan P
s
-
envelope
Catatan:
Soal sama seperti pada contoh 6.2.8
1. Data uji sumur seperti tercantum pada contoh perhitungan 6.2.8.
2. Hitung laju produksi maksimum untuk masing-masing uji sumur. Berdasarkan hasil
perhitungan pada contoh soal 6.2.8 diperoleh :
q
max,1
= 191.89 bpd
q
max,2
= 156.04 bpd
3. Hitung konstanta A,
070052 . 0
04 . 156
) 960 , 1 (
89 . 191
) 090 , 2 (
960 , 1 090 , 2
2 2
− =


= A
4. Hitung konstanta n,

)
`
¹
¹
´
¦


= 1
89 . 191
) 090 , 2 ( 070052 . 0
090 , 2
2
n
= −3,684.6317
5. P
sf
= 1,260 psi.
6. Hitung q
max
,
f

87 . 45
6317 . 684 , 3 260 , 1
) 260 , 1 ( 070052 . 0
2
max,
=


=
f
q STB/hari
7. Hasil perhitungan Kurva IPR pada P
sf
= 1260 psi sama seperti hasil perhitungan
pada contoh soal 6.2.8.

6.2.10. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Dikemudian Hari dengan Menggunakan Fungsi
Tekanan Semu
a. Soal sama seperti contoh soal 6.2.7 di mana diperoleh
P
s
= 1,345 psi
P
wf
= 719 psi
q = 321 STB/hari
b. Tentukan kurva IPR pada P
sf
= 1,000 psi.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 51 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
c. Langkah perhitungan
1. P
s
= 1,345 psi
P
wf
= 719 psi
q = 321 STB/hari
API < 40 dan S = 0 (dianggap)
2. Hitung q
max,,p
pada saat P
s
= 1,345 psi
a
1
= 0.182922 e
0
+ 0.81451 e
0
= 0.997463
a
2
= −1.476950 + 1.64626 = 0.169296
a
3
= 2.144274 + 2.289242 = 0.139968
a
4
= −0.0217831 – 0.260385 = −0.282168
a
5
= −0.5524470 – 0.583242 = −1.135689
P
wf
= 719 psi
534572 . 0
345 , 1
719
= =
s
wf
P
P

2
2
) 534572 . 0 ( 282168 . 0 ) 534572 . 0 ( 169296 . 0 1
) 534572 . 0 ( 135689 . 1 ) 534572 . 0 ( 139968 . 0 997463 . 0
− +
− +
= A
= 0.740437
q
max,,p
=
740437 . 0
321
= 433.53 STB/hari
3. Untuk API < 40
x
p
= 1.025333
4. P
sf
= 1,000 psi
5. Untuk API < 40
x
f
= 0.033210 e
3.429922 (1,000/1,345)
= 0.425378
6. ) 53 . 433 (
025333 . 1
425378 . 0
max,
=
f
q
= 179.86 STB/hari




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 52 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
7. Berdasarkan q
max,f
serta konstanta-konstanta a
1
, a
2
, a
3
, a
4
dan a
5
kurva IPR pada
tekanan statik = 1,000 psi dihitung sebagai berikut :

P
wf


s
wf
P
P

A

q
o


1,000 1.00 0.00 0.00
800 0.80 0.3653 65.71
600 0.60 0.6726 120.97
400 0.40 0.8914 160.33
300 0.30 0.9610 172.85
0 0.00 1.0 179.40

8. Kurva IPR diperoleh dari plot P
wf
terhadap q
o
dari hasil perhitungan di langkah
7. Hasil plot ditunjukkan oleh Gambar 20.



















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 53 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 54 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
6.2.11. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Uji
Isochronal
a. Soal sama seperti pada contoh soal 6.2.7 dimana diperoleh :
q = 2.46914 × 10
-4
(P
2
s
– P
2
wf
)
untuk P
s
= 1,345 psi
b. Tentukan kurva IPR pada tekanan statik = 1,000 psi
c. Langkah perhitungan :
1. Persamaan kurva IPR pada tekanan statik = 1,345 psi adalah :
q = 2.46914 × 10
-4
(P
2
s
– P
2
wf
)
2. P
sf
= 1,000 psi
3. Persamaan kurva IPR pada tekanan statik = 1,000 psi adalah :

0 . 1 2 2 4
) )(
345 , 1
000 , 1
( 10 46914 . 2
wf sf
P P q − × =


= 1.83579 × 10
-4
(1,000 – P
2
wf
)
1.0

4. Perhitungan kurva IPR pada P
sf
= 1,000 psi :

P
wf
q
o

1,000 0
800 66.09
600 117.49
400 154.21
200 176.24
0 183.58

5. Kurva IPR diperoleh dengan membuat plot P
wf
terhadap q
o
, seperti tercantum
pada Gambar 21.





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.01

JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI
SUMUR MINYAK
SUB JUDUL : Sumur Vertikal

Halaman : 55 / 55
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 1 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK HORISONTAL


1. Penentuan Luas Daerah Pengurasan

Setiap sumur minyak atau sumur gas mempunyai daerah dan luas pengurasan tertentu. Daerah
pengurasan yaitu reservoir atau bagian reservoir yang memberikan kontribusi aliran fluida ke lubang
sumur produksi. Dalam hal sumur horizontal, daerah pengurasan dipengaruhi oleh distribusi
permeabilitas arah lateral. Arah sumbu sumur horizontal sebaiknya tegak lurus terhadap arah
permeabilitas lateral terbesar agar produktivitasnya maksimal.

Pada umumnya daerah pengurasan sumur horizontal berbentuk elips. Bila sumbu terpanjang suatu
elips adalah a dan sumbu pendeknya adalah b maka luas elips adalah ( ) |
.
|

\
|
× |
.
|

\
|
× b
2
1
a
2
1
π . Kemudian
bilamana jari-jari pengurasan (drainage radius) suatu sumur vertikal adalah r
ev
di suatu reservoir dan
kita ingin membor sumur horizontal dengan panjang L di reservoir ini, maka luas pengurasan sumur
horizontal ini (A
h
) dapat diperkirakan :
( ) sqft 2
2
1

+ × × =
ev ev h
r L r π A atau
( )
acre
560 43
2
2
1
,
r L r π
A
ev ev
h

+ × ×
=

2. Persamaan Laju Alir Sumur Horizontal

Ada 2 (dua) anggapan kondisi aliran yang berbeda di dalam reservoir, yaitu aliran mantap (atau steady
state flow) dan aliran semi-mantap (atau pseudo-steady state flow). Kondisi aliran mantap, yaitu suatu
kondisi aliran dimana tekanan reservoir dan drawdown tetap terhadap waktu. Sedangkan kondisi
aliran semi-mantap, yaitu kondisi dimana tekanan reservoir berubah dengan waktu tetapi drawdown
dapat dipertahankan konstan.




TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 2 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
A. Aliran Mantap (Steady State Flow)

Persamaan untuk menentukan laju alir produksi suatu sumur horizontal pada kondisi steady-state
flow di antaranya adalah :

Untuk Sumur Minyak :
a. Persamaan Sada Joshi (modifikasi oleh Economides) :
( )
( )

|
|
.
|

\
|
+
+
|
|
|
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
− +

=
1 β r
βh
ln
L
βh
2
L
2
L
a a
ln B
P P h k
q
w
2
2
o o
wf s h
u
00708 . 0

dimana :
5 . 0
4
2
25 . 0 5 . 0
2
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
+ + =
L
h r L
a
e

b. Persamaan Pudji Permadi :
( )

|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
+ −

=
m
w
e
e e o o
wf s h
S L h
r
Y
h L h Y X B
P P L h k
q
/
2
ln /
00708 . 0
β u

atau
( )

|
|
.
|

\
|
+ −
|
|
.
|

\
|
+ −

=
m
w
o o
wf r h
S L h
r
Ye
h L h Ye Xe B
P P hL k
q
2
1
/
2
ln /
00708 . 0
β u

dimana :
q = laju produksi, STB/hari
k
h
= permeabilitas horizontal efektif, mD
h = tebal bersih zona minyak, ft
P
s
= tekanan statik reservoir, psi
r
P = tekanan rata-rata reservoir, psi
P
wf
= tekanan alir dasar sumur, psi
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 3 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
L = panjang efektif sumur horizontal, ft
B = faktor volume formasi, bbl/STB
r
w
= jari-jari lubang sumur horizontal, ft
r
eh
= jari-jari pengurasan sumur horizontal, ft
= π /
h
A
S
m
= skin faktor mekanik, tidak berdimensi
X
e
= lebar daerah pengurasan, ft
Y
e
= panjang daerah pengurasan sejajar sumbu sumur horizontal, ft
β = faktor anisotropi vertikal, tidak berdimensi
=
v
h
k
k

u = viskositas minyak, cp
k
v
= permeabilitas vertikal, mD


B. Aliran Semi-Mantap (Pseudo-Steady State Flow)

a. Persamaan Babu-Odeh :
( ) ( )

+ + − +
|
|
.
|

\
|

=
m
e
R H
w
e
o o
wf r v h e
S
L
Y
S C
r
h X
B
P P k k Y
q
75 . 0 ln ln
00708 . 0
5 . 0
u


TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 4 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


Gambar 1. Skematik Sumur Horizontal

088 . 1 ln 5 . 0
180
sin ln
3
1
28 . 6 ln
0
0
2
0 0


|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
+ − =
x
z e
e e x
z e
H
k
k
h
X
h
Z
x
x
x
x
k
k
h
X
C

dimana x
o
dan z
o
adalah koordinat pusat sumur pada bidang vertikal (di sini k
z
= k
v
). S
R
adalah skin
factor yang ekivalen dengan partial penetration lateral, karena L < Y
e
. Hanya S
R
= 0 bila L = Y
e
.
Perhitungan S
R
terbagi atas 2 (dua) kasus, salah satu yang memenuhi, yaitu :
kasus - 1 :
z y
e
x
e
k
h
k
Y
k
X
75 . 0 75 . 0 >> ≥
kasus - 2 :
z x
e
y
e
k
h
k
X
k
Y
>> > 33 . 1
Bilamana kasus-1 yang berlaku, maka perhitungan S
R
sebagai berikut :
xy xyz R
' P P S + =
dimana :
Xe
Ye
X
y
0
0
Z
h
kz ky
kx
L
(xo, y1, zo)
(xo, y2, zo)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 5 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


|
|
.
|

\
|
− + |
.
|

\
|
− = 84 . 1
180
sin ln ln 25 . 0 ln 1
h
z
k
k
r
h
L
Y
P
o
z
x
w
e
xyz

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦

|
|
.
|

\
| −

|
|
.
|

\
| +
+
|
|
.
|

\
|
=
e
mid
e
mid
e y
z e
xy
Y
L y
F
Y
L y
F
Y
L
F
k
k
hL
Y
P
2
4
2
4
5 . 0
2
2
'
2

dan y
mid
= 0.5 (y
1
+ y
2
), sedangkan F menyatakan fungsi seperti di bawah ini :

|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
− =
|
|
.
|

\
|
2
2
137 . 0
2
ln 145 . 0
2 2
e e e e
Y
L
Y
L
Y
L
Y
L
F
kemudian bilamana argumen
|
|
.
|

\
| +
e
mid
Y
L y
2
4
dan/atau argumen
|
|
.
|

\
| −
e
mid
Y
L y
2
4
lebih kecil atau sama
dengan 1, maka persamaan persis di atas ini dapat digunakan dengan mengganti argumennya saja.
Tetapi bila argumen tersebut > 1, maka persamaan di bawah ini berlaku :
( ) ( ) ( ) | |
2
2 137 . 0 2 ln 145 . 0 2 ) ( x x x x F − − − + − =
dimana x =
|
|
.
|

\
| +
e
mid
Y
L y
2
4
, atau
|
|
.
|

\
| −
e
mid
Y
L y
2
4
, dengan x > 1.

Bilamana kasus-2 tersebut di atas yang berlaku, maka :
xy y xyz R
P P P S + + =
dimana P
xyz
dihitung seperti di atas dengan P
y
serta P
xy
berturut-turut dihitung seperti di bawah ini :

|
|
.
|

\
|
− +
|
|
.
|

\
|
+ − × = 3
24 3
1 28 . 6
2
2 2
e e e
mid
e
mid
y
z x
e
e
y
Y
L
Y
L
Y
y
Y
y
k
k k
h X
Y
P
|
|
.
|

\
|
+ −
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
− =
2
2
3
1 28 . 6
1
e
o
e
o
x
z e e
xy
x
x
x
x
k
k
h
X
L
Y
P

b. Persamaan Pudji Permadi :
( )
( )

|
|
.
|

\
|
+ −
|
|
.
|

\
|
+ −

=
m
w
e
e e o o
wf s h
S L h
r
Y
h L h Y X B
P P L h k
q
2
1
/
2
ln / 523 . 0
00708 . 0
β u

atau :
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 6 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
( )
( )

|
|
.
|

\
|
+ −
|
|
.
|

\
|
+ −

=
m
w
e
e e o o
wf r h
S L h
r
Y
h L h Y X B
P P L h k
q
4
3
/
2
ln / 523 . 0
00708 . 0
β u


3. Indeks Produktivitas dan Dimensionless IPR

Untuk reservoir minyak, dimensionless IPR dari sumur horizontal tidak banyak berbeda dari sumur
vertikal. Karena itu persamaan Vogel yang untuk sumur vertikal dapat digunakan juga untuk sumur
horizontal. Namun demikian, khusus untuk sumur horizontal persamaan Bendakhlia – Azis adalah
sebagai berikut :
( )
n
r
wf
r
wf
max o
o
P
P
V
P
P
V
q
q
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
− −
|
|
.
|

\
|
− =
2
1 1
dimana parameter n dan V merupakan fungsi dari recovery factor dan dapat diperoleh melalui Gambar
1.















Gambar 2. Korelasi untuk parameter V dan n, sebagai fungsi dari Recovery Factor
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 7 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. Peramalan Produksi versus Waktu

Peramalan produksi sumur horizontal dapat dilakukan dengan menggunakan metode Decline Curve
Analysis seperti yang umum digunakan untuk sumur vertikal. Jenis decline-nya tergantung kepada
mekanisme pendorong dalam reservoir yang bersangkutan.

Khusus untuk sumur horizontal pada reservoir dengan tenaga pendorong yang bekerja gas terlarut
(solution gas drive), metode Plahn et. al. di bawah ini dapat juga digunakan. Kelemahannya adalah
bahwa daerah pengurasannya berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi X
e
.
2
*
00633 . 0
e oi
ri w roi
D
X h
t P L r k k
t
u φ
=
oi
or oi e
m
B
S S h X
N
615 . 5
) (
2

=
φ

m D p
N N N × =

dimana :
*
D
t = waktu produksi tak berdimensi
k = permeabilitas absolut, mD
k
roi
= permeabilitas relatif minyak mula-mula, tak berdimensi
r
w
= jari-jari lubang sumur, ft
L = panjang efektif sumur horizontal, ft
i r
P = tekanan reservoir mula-mula sebelum sumur diproduksi, psi
t = waktu produksi, hari
φ = porositas, fraksi
u
oi
= viskositas minyak mula-mula, cp
h = tebal bersih zona minyak, ft
X
e
= panjang sisi pengurasan, ft
B
oi
= faktor volume formasi, bbl/STB
S
oi
= saturasi minyak mula-mula, fraksi
S
or
= saturasi minyak residual, fraksi
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 8 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
N
m
= moveable oil in place mula-mula, STB
N
p
= produksi kumulatif minyak, STB
N
D
= dimensionless recovery, dihitung seperti di bawah ini.

Bila y = log N
D
dan x
1
= log
*
D
t , maka ada 2 (dua) kondisi aplikasi :
A. Untuk harga Critical Gas Saturation (S
gc
) antara 0 - 5% :
i) bila x
1
≤ −2.2078 :
y = 1.2071 – 0.41104 x
1
– 1.1078 x
2
1

ii) bila x
1
> −2.2078 :
y = 1.5526 + 0.06502 x
1

B. Untuk harga Critical Gas Saturation (S
gc
) antara 6% - 10% :
i) bila x
1
≤ −1.9469 :
y = 1.2504 – 0.3903 x
1
– 0.1097 x
2
1

ii) bila x
1
> −1.9469 :
y = 1.6663 + 0.03701 x
1


Kemudian bila kita definisikan ∆t = t
i+1
– t
i
dan ∆N
p
= N
pi+1
– N
pi
, maka
t
N
q
p
oil


= , maka kita dapat
membuat peramalan laju produksi minyak q
oil
terhadap waktu, t.

t
(hari)
∆t
(hari)
t
*
D

N
D
N
p
(STB)
∆N
p

(STB)
t
N
q
p
oil


=
(STB/hari)
- - - - - - -
- - - - - - -
- - - - - - -





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 9 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
5. Sumur Horizontal pada Reservoir Bottom Water Drive

Sumur horizontal dapat meningkatkan perolehan minyak dari reservoir bertenaga dorong air-bawah
(bottom-water drive) karena kapasitas produksinya lebih besar dan dapat memperlambat
terproduksinya air dibanding sumur vertikal dengan drawdown yang sama. Posisi sumur horizontal
sebaiknya ditempatkan jauh di atas bidang WOC.

A. Penentuan laju produksi kritis q
c

Laju produksi kritis adalah laju produksi terbesar yang menyebabkan bidang WOC dapat bergerak
ke atas melengkung agak datar tanpa membentuk kerucut (coning atau cresting). Bila q
oil
≤ q
c

maka recovery minyak akan tinggi.
1) Metode Giger - Karcher :
L
Y
h
Y
h
B
k
q
e e o o
h
c
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
| ∆
|
|
.
|

\
|
× =

6
1
1 10 888 . 4
2
4
ρ
u

dimana :
q
c
= laju produksi kritis, STB/hari
k
h
= permeabilitas efektif arah lateral, mD
B
o
= faktor volume formasi, bbl/STB
h = tebal zona minyak, ft
Y
e
= panjang daerah pengurasan, ft
L = panjang efektif sumur horizontal, ft
∆ρ = ρ
w
− ρ
o
= perbedaan densitas, gr/cc
u
o
= viskositas minyak, cp

2) Metode Pudji Permadi :

|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
+ −

=
2
1 '
2
ln '
'
00708 . 0
/
L
h
r
Y
h
L
h
Y X B
d L h k
q
w
e
e e o o
woc o w h
c
β u
γ

dimana :
q
c
= laju produksi kritis, STB/hari
k
h
= permeabilitas efektif terhadap minyak, mD
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 10 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
h = tebal zona minyak, ft
L = panjang efektif sumur horizontal, ft
B
o
= faktor volume formasi, bbl/STB
h’ = 1.5 h – d
1

d
1
= jarak vertikal terdekat dari sumbu sumur ke batas atas/bawah reservoir, ft
d
woc
= jarak dari sumbu sumur ke WOC, ft
r
w
= jari-jari lubang sumur, ft
X
e
= lebar daerah pengurasan, ft
Y
e
= panjang daerah pengurasan, ft
∆γ
w/o
= perbedaan gradien tekanan statik air dengan minyak, psi/ft
u
o
= viskositas minyak, cp
β = faktor anisotropik =
v
h
k
k

k
v
= permeabilitas vertikal, mD

3) Metode Guo - Lee :
v h
k . k ' k =
v
k
' k
d ' d =
( )( ) ( ) |
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
− + ∆ − =
2
log 14 . 8 ' log 67 100 77 . 0 286 . 2 ' 00246 . 0 18 . 1 033 . 0
/
e
o w D
X
k
d
c
d H γ
|
|
.
|

\
|
∆ × =

o
D
o w
q
d k q
u
ρ
/
5
1
' ' 10 943 . 4
|
|
.
|

\
|
=
o
c
B
L
q q
1


dimana :
c = jarak dari sumbu sumur ke WOC, ft
d = tebal zona minyak, ft
B
o
= faktor volume formasi, bbl/STB
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 11 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
q
1
= laju produksi per satuan panjang sumur horizontal, bbl/hari
L = panjang sumur horizontal, ft
q
c
= laju produksi kritis, STB/hari
X
e
= lebar daerah pengurasan, ft
∆γ
w/o
= perbedaan gradien tekanan statik air dengan minyak, psi/ft
u
o
= viskositas minyak, cp
∆ρ
w/o
= perbedaan densitas air dengan minyak, lb/cuft

Harga q
D
diperoleh melalui Gambar 2. Setelah menghitung H
D
untuk harga c/d yang
bersangkutan.














Gambar 3. Hubungan antara q
D
dengan H
D
, untuk berbagai harga c/d.

B. Penentuan Waktu Tembus Air (Water Breakthrough Time), t
BT

Bilamana laju produksi yang diinginkan melebihi laju produksi kritis-nya, yaitu q
o
> q
c
, maka
bidang WOC menjadi tidak stabil dan akan membentuk kerucut (coning/cresting). Air kemudian
akan segera terproduksi dan kadar air (water cut) akan meningkat cepat dengan waktu. Pertama
kali air masuk ke dalam sumur disebut water breakthrough. Lamanya waktu bagi air untuk
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 12 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
breakthrough disebut water breakthrough time. Ada beberapa metode untuk memperkirakan
breakthrough time ini.
1) Metode Papatzacos et al.
( )
v h o w
o o o
D
k k h L
B q
q
ρ ρ
u

=
86 . 325

D
DBT
q
t
6
1
=
( )
o w v
DBT o
BT
k
t h
t
ρ ρ
u φ

= 72 . 364 (hari)
Semua parameter mempunyai satuan lapangan kecuali ρ
w
dan ρ
o
dalam gr/cc. Metode ini
menganggap bahwa breakthrough time tidak dipengaruhi oleh lebar atau luas daerah
pengurasan.

Reservoir Minyak dengan Tudung Gas (Gas Cap)

Estimasi waktu tembus gas (gas breakthrough) dapat dilakukan dengan menggunakan metode
Papatzacos et al. di atas dengan mengganti (ρ
w
− ρ
o
) dengan (ρ
o
− ρ
g
) dimana ρ
g
adalah densitas gas
dalam satuan gram/cc.

Dalam hal reservoir minyak dengan gas cap, penempatan sumur horizontal pada zona minyak
sebaiknya pada posisi dengan jarak sejauh 2/3 tebal zona minyak diukur dari Gas-Oil Contact,
atau sejauh 1/3 tebal zona minyak diukur dari Water-Oil Contact. Ini memperhitungkan bahwa
mobilitas air lebih kecil dibanding mobilitas gas.

2) Metode Pudji Permadi :
( ) ( )
( )
woc o w d v
woc or w o
BT
d P k
d S
t
× ∆ − ∆
− +
=
/
2
1 99 . 78
γ
φ u u
(hari)
dimana :
( )
wf r D
P P drawdown P − = = ∆
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 13 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
L h k
q B
L
h
r
Y
h
L
h
Y X
P
h
o o o
w
e
e e
D
00708 . 0
2
1 '
2
ln '
'
u β

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦

|
|
.
|

\
|
+ −
= ∆

Semua parameter mempunyai arti dan satuan yang sama dengan sebelumnya.

3) Metode Rochan :
( )
v h o w
o o o
D
k k h L
B q
q
ρ ρ
u

=
86 . 325

h
v e
D
k
k
h
X
X =
ro w
rw o
k
k
M
u
u
=
5397 . 0 929 . 0 675 . 4
253 . 0
094 . 1 88 . 0
5
1 1
1 1 1
10 13 . 5
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
− |
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
× =

h
bp ap
D D
BT
k L
h
h
h
h
h
M X q
t (hari)

dimana h
ap
= jarak dari sumbu sumur horizontal ke batas atas reservoir dan h
bp
= jarak dari
sumbu sumur ke bidang WOC, dalam satuan feet.

C. Peramalan Kinerja Produksi

Peramalan kinerja produksi sumur horizontal pada reservoir bottom water drive secara cepat dapat
dilakukan dengan cara empirik, walaupun belum banyak metode yang tersedia. Berikut di bawah
ini adalah metode-metode yang dapat dipilih dan digunakan.

1) Metode Decline Curve Analysis
Seperti untuk sumur vertikal, metode ini dapat juga digunakan untuk sumur horizontal.
Persamaan decline curve analysis adalah :
( )
b
i
i
t
t D b
q
q
/ 1
1+
=
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 14 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
dimana :
q
t
= laju produksi harian, STB/hari
q
i
= laju produksi awal, STB/hari
t = waktu produksi, hari
b = eksponen decline, tidak berdimensi
D
i
= koefisien decline awal, 1/hari

Harga eksponen decline, b ≤ 0.5 untuk reservoir bottom water drive. Untuk laju produksi yang
jauh lebih besar dari laju produksi kritisnya, harga b < 0.5 sebaiknya digunakan. Bilamana
belum ada data produksi, harga koefisien D
i
dapat didekati dengan :
( )
( ) ( ) | | 5 . 0 / ln
000264 . 0 2
2 2
− −
×
=
w e we eh t o
o
i
r r r r C
k
D
u φ


dimana π = / A r
eh
dan A = luas daerah pengurasan dalam satuan sqft. Sedangkan r
2
w
adalah
jari-jari sumur ekivalen, yaitu :

|
|
.
|

\
|
)
`
¹
¹
´
¦

|
|
.
|

\
|
+ −
=
5 . 0
2
1
exp
L
h
r
Y
h
L
h
Y X
L
r
r
w
e
e e
w
we
β

dan r
w
= jari-jari lubang sumur aktual, ft.

2) Metode Pudji Permadi :
Anggapan dalam metode ini yaitu tekanan pada bidang WOC konstan, laju alir total tidak
terlalu besar atau kira-kira q
t
< 15q
c
. Prosedur peramalan adalah sebagai berikut :
1. Hitung waktu water breakthrough, t
BT
, berdasarkan data yang dimiliki.
2. Bila laju produksi sebelum breakthrough adalah q
o
, maka produksi kumulatif pada saat t
BT

adalah
BT o p
t q N × = (STB).
3. Hitung tebal zona minyak rata-rata yang telah didesak oleh air (bottom water) :

( )
or e e
BT o o
WBT
S Y X
t B q
h

=
1
615 . 5
φ

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 15 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
4. Setelah breakthrough tentukan sembarang harga (asumsi trial & error) water cut (kadar air,
WC) dan hitung faktor volume formasi campuran mniyak dan air B
t
:
( ) WC B WC B B
o w t
− + = 1
5. Pada suatu harga waktu produksi t dan laju produksi total cairan q
t
, hitung tebal rata-rata
zona minyak yang sudah terdesak oleh air :

( )
( )
or e e
BT t t
wBT w
S Y X
t t B q
h h


+ =
1
615 . 5
φ

6. Hitung Q
w
/Q
o
:

( )
5 . 0
3
ln
'
'
|
|
.
|

\
|
×

×

× =
h
v
woc
e e
w woc
w
w ro
o rw
o
w
k
k
L d
Y X
h d
h
k
k
Q
Q
u
u

dimana k
r
’ adalah end-point permeability.

7. Hitung Water Cut (WC) :

|
|
.
|

\
|
×
=
o
w
w
o
B
B
Q
Q
WC
1

Hasil hitungan ini dibandingkan dengan WC yang diasumsikan pada langkah 4 di atas.
Apabila bedanya lebih besar dari toleransi yang diberikan, maka gunakan WC hasil hitungan
ini sebagai WC asumsi baru dan kembali ke langkah 4. Bila toleransinya δ (yaitu WC
hitungan

– WC
asumsi
≤ δ), maka langsung ke langkah 8.
8. Hitung laju produksi minyak harian (dan laju produksi air bila perlu) :
( ) WC q q
t o
− = 1
WC q q
t w
× =
9. Hitung produksi kumulatif minyak :

o pBT p
q t N N Σ∆ + =





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 16 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Untuk Sumur Gas
1. Persamaan laju alir gas (q
g
) untuk sumur horizontal adalah sebagai berikut :
A. Kondisi aliran mantap (steady-state flow) pada tekanan reservoir P
e
≤ 2,000 psia :
( )

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
+
|
|
.
|

\
|
+ −

=
'
2
ln
000703 . 0
2 2
S
L
h
r
Y
h
L
h
Y X T Z
P P L h k
q
w
e
e e g
wf e h
g
β u

dimana :
q
g
= laju alir gas pada kondisi standar, MSCF/hari
u
g
= viskositas gas rata-rata pada kondisi reservoir, cp
Z = faktor kompresibilitas gas rata-rata, tidak berdimensi
β = faktor anisotropi
|
|
.
|

\
|
v
h
k
k
, tidak berdimensi
T = temperatur reservoir,
o
R
S’ = S
m
+ S
q

S
m
= skin karena kerusakan formasi (damage), tidak berdimensi
S
q
= skin karena non-darcy effect
= Dq
g

q
g
= laju produksi gas, MSCF/hari
D = no-darcy flow coefficient, hari/MSCF
=
gw w
v h e g
r L
k k Y
u
γ β
2
15
' 10 225 . 2

×

u
gw
= viskositas gas pada tekanan alir dasar sumur, cp
β ' = turbulence factor
=
53 . 0 47 . 1 10
10 88 . 1
− −
× φ k
dan parameter yang lain mempunyai arti dan satuan yang sama dengan sebelumnya.





TEKNIK RESERVOIR NO : TR 07.02

JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR
SUB JUDUL : Sumur Horizontal

Halaman : 17 / 17
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
B. Kondisi aliran mantap (steady-state flow) pada semua tekanan reservoir :
( ) ( ) ( )

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
+
|
|
.
|

\
|
+ −

=
'
2
ln
000703 . 0
S
L
h
r
Y
h
L
h
Y X T
P m P m L h k
q
w
e
e e
wf e h
g
β


dimana m(P) adalah pseudo-pressure function dengan satuan psi
2
/cp.

C. Kondisi aliran semi mantap (Pseudosteady - state flow) pada tekanan reservoir
r
P ≤ 2,000
psia :
( )

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
+ −
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|


=
'
4
3
2
ln 523 . 0
000703 . 0
2 2
S
L
h
r
Y
h
L
h
Y X T Z
P P L h k
q
w
e
e e g
wf r h
g
β u


D. Kondisi aliran semi mantap (Pseudosteady - state flow) pada semua tekanan reservoir :
( ) ( ) ( )

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
+ −
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|


=
'
4
3
2
ln 523 . 0
000703 . 0
S
L
h
r
Y
h
L
h
Y X T
P m P m L h k
q
w
e
e e
wf r h
g
β

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal

NO : TR 07.01 Halaman : 2 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003

J=

qo Ps − Pwf

(1)

3. Pilih tekanan alir dasar sumur (Pwf). 4. Hitung laju aliran (qo) pada Pwf tersebut dengan menggunakan persamaan : qo = J (Ps − Pwf) 5. Kembali ke langkah 3. 6. Plot qo terhadap Pwf yang diperoleh dari langkah 3 dan 4 pada kertas grafik kartesian, dengan qo sebagai sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak. 3.1.2. Berdasarkan Parameter Batuan dan Fluida Reservoir 1. Siapkan data yang diperlukan sebagai berikut : a. Parameter batuan reservoir, yaitu : ko, h, dan re b. Parameter fluida reservoir, yaitu : Bo dan µo c. Parameter sumur yaitu : rw d. Tekanan statik dan faktor skin dari uji tekanan yaitu : Ps dan S 2. Hitung J dengan menggunakan persamaan : (2)

J=

0.00708 k o r µ o Bo (ln 0.472 e + S ) rw

(3)

3. Pilih tekanan alir dasar sumur (Pwf). 4. Hitung laju aliran (qo) pada Pwf tersebut dengan menggunakan persamaan : qo = J (Ps − Pwf) 5. Kembali ke langkah 3. 6. Plot qo vs Pwf yang diperoleh dari langkah 3 dan 4 pada kertas grafik kartesian, dengan qo sebagai sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak. (4)

Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal

NO : TR 07.01 Halaman : 3 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003

3.2. PENENTUAN KURVA IPR UNTUK ALIRAN DUA FASA PADA FAKTOR SKIN = 0 3.2.1. Jika Tekanan Statik Lebih Kecil dari Tekanan Jenuh (Ps < Pb) 1. Siapkan data hasil uji tekanan dan produksi, yaitu Ps, Pwf, dan qo @ Pwf 2. Hitung Pwf/Ps 3. Hitung laju produksi maksimum (qmax) berdasarkan data dari langkah 1 dan menggunakan persamaan berikut :

q max =

qo Pwf Pwf 2 1.0 − 0.2( ) − 0.8( ) Ps Ps

(5)

4. Pilih tekanan alir dasar sumur (Pwf) dan hitung Pwf/Ps 5. Hitung qo pada Pwf tersebut dengan menggunakan persamaan :

Pwf Pwf 2   ) − 0.8( )  q o = q max 1.0 − 0.2( Ps Ps  
6. Kembali ke langkah 4.

(6)

7. Plot qo terhadap Pwf yang diperoleh dari langkah 4 sampai dengan 6 pada kertas grafik kartesian dengan qo sebagai sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak. Catatan : Apabila dipilih harga qo dan akan ditentukan harga Pwf-nya, langkah 4 s/d 6 diganti dengan langkah berikut : 4. Pilih laju aliran (qo) dan hitung qo/qmax 5. Hitung Pwf dengan menggunakan persamaan berikut :

Pwf = 0.125 Ps − 1 + 81 − 80(q o / q max )
6. Kembali ke langkah 4.

{

}

(7)

3.2.2. Jika Tekanan Statik Lebih Besar daripada Tekanan Jenuh (Ps > Pb) 3.2.2.1. Jika tekanan alir dasar sumur dari uji produksi lebih besar dari tekanan jenuh (Pwf > Pb) 1. Dari uji tekanan dan produksi, diperoleh : Ps, Pwf dan qo @ Pwf Dalam hal ini Pwf > Pb dan Pb harus diketahui. Manajemen Produksi Hulu

Hitung qx.8( Pwf Pb )2 (13) 3. Dari uji tekanan dan produksi diperoleh : Ps .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.8( )  q o = qb + (q max − qb )1 − 0. yaitu : (9) qx = J ( Pb ) 1. Kembali ke langkah 6.2( Pwf Pb ) − 0. Hitung indeks produktivitas sumur untuk Pwf > Pb (kondisi aliran satu fasa) dengan menggunakan persamaan berikut : J= qo Ps − Pwf (8) 3. (12) 9. Jika tekanan alir dasar sumur dari uji produksi lebih kecil dari tekanan jenuh (Pwf < Pb) 1. Plot Pwf terhadap qo yang diperoleh dari langkah 6 sampai dengan 8. Hitung harga J untuk kurva IPR di atas tekanan jenuh. Hitung Pwf/Pb dan tentukan harga A di mana : A = 1 − 0. yaitu : Manajemen Produksi Hulu .01 Halaman : 4 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 2. Dengan menggunakan harga J tersebut hitung qb @ Pwf = Pb menurut persamaan di bawah ini: qb = J (Ps − Pb) 4. Hitung laju produksi pada Pwf tersebut dengan menggunakan persamaan : Pwf Pwf 2   ) − 0.8 (10) (11) 5. Pilih Pwf yang lebih kecil dari tekanan jenuh (Pb) dan hitung Pwf/Pb 7.2. Hitung qmax = qb + qx 6. dan qo @ Pwf Dalam hal ini Pwf < Pb 2.2( Pb Pb   8. Pwf.2.2. 3. pada kertas grafik kartesian dengan menggunakan qo sebagai sunibu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak.

Dari uji tekanan tentukan Ps dan S. Plot Pws vs qo yang diperoleh dari langkah 7 sampai dengan 9 pada kertas grafik kartesian dengan qo sebagai sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak. 8. yaitu : qb = J (Ps − Pb) 5. Hitung konstanta persamaan kurva IPR. Dari uji produksi tentukan harga Pwf dan qo @ Pwf. 3.2( Pb Pb   9. 2. Hitung qx dari persamaan : (9) qx = J ( Pb ) 1 . a4 dan a5 masing-masing dengan menggunakan persamaan : (41). 4. Hitung Pwf/Ps berdasarkan data uji tekanan dan produksi. Hitung laju produksi pada Pwf = Pb. (12) 10. Hitung harga ruas kanan dari pada persamaan kurva IPR.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07. (44) dan (45) pada Lampiran (harga a1 sampai a5 dapat juga ditentukan secara grafis dengan menggunakan Gambar 1 sampai 5. Hitung laju produksi pada Pwf tersebut dengan menggunakan persamaan berikut : Pwf Pwf 2   ) − 0. a3. (43). apabila harga faktor skin antara (− 4) sampai dengan 10). Hitung qmax = qb + qx 7. (42). yaitu : a1. 5.8   (14) 4. 3.3 PENENTUAN KURVA IPR DUA FASA UNTUK TEKANAN STATIK DI BAWAH TEKANAN JENUH DAN FAKTOR SKIN TIDAK SAMA DENGAN NOL 1.8( )  q o = qb + (q max − qb )1 − 0. yaitu : Manajemen Produksi Hulu . Pilih Pwf yang lebih kecil dari tekanan jenuh dan hitung Pwf/Pb.01 Halaman : 5 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 J= qo Pb   ( A)  Ps − Pb + 1. Kembali ke langkah 7.8 (10) (11) 6. a2. untuk masing-masing an.

4. 8. 5. Untuk masing-masing harga Pwf.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal a1 + a3 ( Pwf / Ps ) + a 5 ( Pwf / Ps ) 2 1 + a 2 ( Pwf / Ps ) + a 4 ( Pwf / Ps ) 2 NO : TR 07. 7. Tentukan kemiringan garis lurus dari langkah 4 dengan prosedur sebagai berikut : • Pilih dua titik sembarang yang terletak pada garis dari langkah 4. yaitu : wf s (P 2 − P 2 )1 dan qo1 s wf (P 2 − P 2 )2 dan qo2 s wf • Kemudian dari garis lurus tersebut dapat dihitung sebagai berikut : Kemiringan = 6. kemudian hitung harga A. qo pada Pwf tersebut. Pilih harga Pwf dan hitung Pwf/Ps. • Baca harga-harga (P 2 − P 2 ) dan q. Plot Pwf terhadap qo yang diperoleh dari perhitungan pada kertas grafik kartesian dengan qo 3.01 Halaman : 6 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 A= 6. 2 2 log( Ps2 − Pwf )1 − log( Ps2 − Pwf ) 2 log q o1 − log q o 2 (18) Harga n dari persamaan kurva IPR dapat dihitung sebagai berikut : n = l/(kemiringan) (19) Manajemen Produksi Hulu . PENENTUAN KURVA IPR BERDASARKAN UJI ISOCHRONAL 1. wf s Plot (P 2 − P 2 ) terhadap q pada kertas grafik log-log. yaitu : qo = qmax @ S = 0 (A) Kembali ke langkah 7. (17) 10. seperti pada langkah 5. sebagai sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak. (15) Hitung laju produksi maksimum (qmax) apabila S = 0. 3. 4. 9. yaitu : qmax @ S = 0 = qo A (16) dimana qo adalah laju dari uji produksi. Hitung laju produksi. 2. Dari uji Isochronal diperoleh 3 atau lebih laju produksi dengan masing-masing Pwf -nya. wf s Tarik garis lurus terbaik yang mewakili titik-titik tersebut. hitung P 2 − P 2 .

Plot Pwf terhadap qo. PENENTUAN KURVA IPR DUA FASA DI KEMUDIAN HARI DENGAN METODE "PIVOT . 3. X Yn (20) Pilih berapa harga Pwf dan hitung laju alirannya dengan menggunakan persamaan kurva IPR : qo = J (Ps2 − Pwf2)n (21) 9.2( qo Pwf Ps ) − 0. qo pada sumbu datar dan Pwf sebagai sumbu tegak. misalkan Y (psi2). 2 Ps2 Ps2 ) − (q max. 2.0 − 0. Hitung ( − Manajemen Produksi Hulu . Pemecahan Secara Numerik dengan Menggunakan Metoda "Pivot . misalkan X STB/hari.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 7. sampai memotong sumbu datar. wf s Maka harga J dapat dihitung sebagai berikut : J= 8.1 Ps2 − q max.5.5. Dapatkan dua data uji tekanan dan produksi yang dilakukan pada waktu berbeda. pada kertas grafik kartesian. NO : TR 07.01 Halaman : 7 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Tentukan konstanta J dari persamaan kurva IPR dengan prosedur sebagai berikut : • Perpanjang garis dari langkah 4.1 dan qmax. 3. 2 untuk masing-masing data uji. 2 Ps2 2 1 * dq o ) dengan menggunakan persamaan di bawah ini : dPwf (22) 4.Point" 1. • Baca harga perpotongan tersebut. Hitung P * dengan menggunakan persamaan berikut ini : wf P = * wf 1 / 8(q max. • Baca harga (P 2 − P 2 ) yang sesuai dengan X STB/hari tersebut. Tentukan laju produksi maksimum dari dua data uji tersebut dengan menggunakan persamaan Vogel : q max = 1.1.1 Ps1 Ps2 ) 1 1 2 q max.8( Pwf Ps (5) ) 2 dengan demikian diperoleh qmax.POINT" 3.

Pemecahan Secara Numerik dengan Menggunakan Persamaan Ps-envelope 1. sebagai berikut : q max. Tentukan laju produksi maksimum dari dua data uji tersebut dengan menggunakan persamaan Vogel.5.1 dan qmax. (23) Tentukan tekanan statis di kemudian hari. f = Psf (− dq o / dPwf ) f 0.8( ) Ps Ps (5) Dengan demikian diperoleh qmax.2. 2.2 1. berdasarkan harga Psf (dari langkah 5) dan qmax.0 − 0. Hitung(-dqo/dPwf)f berikut : dengan menggunakan persamaan Pwf = 0 (− (− dq o )f dPwf Pwf = 0 = dq o * ) dPwf * Pwf (24) 1+ Psf 7. Langkah perhitungan dilakukan seperti langkah 4 sampai dengan 7 dari sub judul 3.2 Pwf = 0 (25) 8.1 ( ) + dPwf Ps1 Ps2 1 NO : TR 07. Buat kurva IPR di kemudian hari.2( ) − 0. Hitung laju produksi maksimum di kemudian hari.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal dq o * 0. f . yaitu : q max = qo Pwf Pwf 2 1.2. Manajemen Produksi Hulu . Psf yang mana kurva IPR-nya akan dibuat.6 Pwf * ) = q max.2 untuk masing-masing data uji. qmax.1 3. 6.01 Halaman : 8 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 (− 5. Dapatkan dua data uji tekanan dan produksi yang dilakukan pada waktu yang berbeda.f (dari langkah 7) dengan menggunakan persamaan Vogel.

f = 7. dari langkah 4 sampai dengan 7.152343 ( Pssf / Psp ) 3. NO : TR 07. yaitu perbandingan m(Psp)/m dengan (Psp) menggunakan persamaan berikut : Untuk API < 40 : xp = 0. Selain itu API minyak perlu diketahui. Ps1 − Ps 2 ( P / q max. yang mana kurva IPR-nya akan . Langkah perhitungan dapat dilihat pada sub-judul 3. Hitung qmax. 2 q max. 3. tentukan xp.025333 Untuk API > 40 : xp = 0.967412 4.01 Halaman : 9 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Hitung konstanta A dengan menggunakan persamaan berikut : A= 4.3 dari langkah (1) sampai dengan (6). KURVA IPR DUA FASA DI KEMUDIAN HARI DENGAN MENGGUNAKAN FUNGSI TEKANAN SEMU Dapatkan satu data uji tekanan dan produksi pada waktu sekarang dan tentukan pula faktor skin. tentukan laju produksi maksimum untuk S = 0.p) Sesuai dengan API dari minyak.6. pada saat sekarang (qmax.f (dari langkah 7) dengan menggunakan persamaan Vogel. Dengan menggunakan prosedur perhitungan pada sub-judul 3. 2.2 ) 2 2 s1 (26) Hitung konstanta n.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 3. 2.1 ) − ( Ps2 / q max.033210 e = 1. Manajemen Produksi Hulu 4. dibuat. 3. A Psf Psf + n (28) Buat kurva IPR di kemudian hari berdasarkan harga Psf (dari langkah 5) dan qmax. Psf. sebagai berikut :  A Ps1    − 1 n = Ps1  q max.015215 e = 0.f dengan menggunakan persamaan berikut : (27) Tentukan tekanan statis di kemudian hari (Psf) yang mana kurva IPR akan dibuat. 6.1     5. PENENTUAN 1.429922 ( Psf / Psp ) (29) (30) Tentukan harga tekanan statis di kemudian hari. 1.

033210 e Untuk API > 40 xf = 0. Tentukan tekanan statik di kemudian hari (Psf).TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 5. yaitu : NO : TR 07.f (dari langkah 6) dengan menggunakan prosedur perhitungan pada 2.f) untuk S = 0. p (34) dimana qmax.q max. Hitung harga xf. f = xf xp .152343 ( Psf / Psp ) 3. Persamaan kurva IPR dapat dapat ditentukan berdasarkan data isochronal. yaitu: qo = J (P 2 − P 2 )n sp wf 2. PENENTUAN KURVA IPR DI KEMUDIAN HARI DENGAN MENGGUNAKAN DATA UJI ISOCHRONAL 1.3. 3. Manajemen Produksi Hulu . Buat kurva IPR untuk tekanan statik (Psf) dengan menggunakan persamaan : (35) qo = J ( Psf Psp 2 ) n ( Psf2 − Pwf ) (36) dimana Psp adalah tekanan statik pada saat sekarang. yaitu : q max.01 Halaman : 10 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 xf = m( Psf ) m( Psp ) (31) dengan menggunakan persamaan yang sesuai dengan API minyak. yaitu pada waktu uji isochronal dilakukan (langkah 1). 3.p telah diperoleh dari langkah 2.015215 e 4.7. Buat kurva IPR di kemudian hari berdasarkan Psf (dari langkah 5) dan qmax.429922 ( Psf / Psp ) Hitung laju aliran maksimum di kemudian hari (qmax. langkah 7 sampai dengan 9. 7. yaitu : Untuk API < 40 : xf = 0.

May 1982 pp. Jan. World Oil Vol. : "Inflow Performance Relationships For Solution Gas Drive Wells". Ok. SPE of AIME. The University of Tulsa. 1984. J. Journal Petroleum of Technology. V. Manajemen Produksi Hulu .164.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 4. E. No 6. 153 . : "The Technology of Artificial Lift Methods". Dissertation. 3. Pressure Transient Testing Method. : "The Isochronal Testing of Oil Wells". Brown. Monograph Vol. Vol. PennWell Books. 5. Tulsa. Ph. Fetkovich. : "Pivot Point Method Quickly Predicts Well Performance". D. C. Earlougher. 83-92. Jr. 4. 1968. 1980 Edition. 5. 6. Tulsa. Pudjo : "Inflow Performance Relationship Curves in Two-Phase and Three-Phase Flow Conditions". D. 2.. DAFTAR BACAAN NO : TR 07. M. pp.01 Halaman : 11 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 1. Robert C. SPE Reprint Series No. Uhri. Sukarno. K. dan Blount. IV. E. 1985. Vogel. 14.194. J. Oklahoma. M. : "Advances in Well Test Analysis".

STB/hari = laju aliran minyak. psi = tekanan statik di kemudian hari.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 5. STB/hari = laju aliran minyak maksimum. psi = tekanan statik saat ini. psi = laju aliran minyak pada Pwf = Pb. ft NO : TR 07. mD = permeabilitas relatif minyak = fungsi tekanan semu = l/kemiringan kurva dari plot (Ps2 − Pwf2) terhadap qo pada kertas grafik log-log Pb Ps Psf Psp Pwf qb qmax qo re rw = tekanan jenuh. STB/hari/psi = permeabilitas efektif minyak. DAFTAR SIMBOL = faktor volume formasi. psi = tekanan alir dasar sumur. STB/hari = jari-jari pengurasan. ft = jari-jari sumur. ft = Indeks Produktivitas. bbl/STB = tebal lapisan.01 Halaman : 12 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Bo h J ko kro m(P) n Manajemen Produksi Hulu . psi = tekanan statik.

yaitu : (1) Uji produksi sebelum uji tekanan bentuk dilakukan. Selain berdasarkan uji sumur tersebut kurva IPR dapat pula diperkirakan dengan menggunakan persamaan aliran Darcy.1.08 × 10 −3 k o h µ o Bo (ln 0. Manajemen Produksi Hulu . LATAR BELAKANG DAN RUMUS 6. Hubungan ini diperoleh dari uji sumur. (2) Uji "draw down" (UDD).08 × 10 −3 k o h( Pr − Pwf ) µ o Bo (ln 0.472 re / rw + S ) qo Pr − Pwf 7. maka pemakaiannya sesuai dengan anggapan yang digunakan oleh persamaan (37). yaitu antara lain aliran satu fasa. 6. LAMPIRAN 6.01 Halaman : 13 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Kurva IPR dinyatakan sebagai hubungan tekanan alir dasar sumur (Pwf) terhadap laju produksi (qo). (3) Uji Isochronal. Pendahuluan NO : TR 07.1.2.1.472 re / rw + S ) (37) Apabila indeks produksi (J) didefinisikan sebagai : J= (38) maka dari persamaan (1) dapat diturunkan harga J : J= (39) Oleh karena persamaan (39) diturunkan dari persamaan aliran Darcy.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 6. 1. Penentuan Kurva IPR dengan Persamaan Darcy Persamaan aliran untuk minyak dalam media berpori adalah sebagai berikut : qo = 7.

Pada kondisi ini persamaan kurva IPR berupa : Pwf Pwf 2   q o = qb + (q max − qb )1 − 0. (40) Pembuatan kurva IPR dengan persamaan ini memerlukan satu data uji produksi (qo dan Sesuai dengan penurunannya. Pada kondisi ini persamaan (38) digunakan untuk membuat kurva IPR.2( ) − 0. 2.3.8( ) q max Ps Ps Pwf) dan uji tekanan statik. qo Ps − Pwf Apabila dari uji produksi diperoleh Pwf < Pb. apabila tekanan alir dasar sumur lebih besar dari tekanan jenuh. apabila tekanan alir dasar sumur lebih kecil dari tekanan jenuh. Apabila dari uji produksi diperoleh Pwf > Pb.8( A)} (7) Manajemen Produksi Hulu . maka : J= dimana : qo {Ps − Pb + Pb / 1. Pada kondisi ini kurva IPR terdiri dari dua bagian. persamaan (40) hanya berlaku apabila tidak terjadi kerusakan atau perbaikan formasi. Kurva IPR yang tidak linier. Kurva IPR yang linier.1.8( )  Pb Pb   Harga qb ditentukan menurut persamaan (38) sebagai berikut : qb = J (Ps – Pb) : 1. Persamaan ini dikembangkan untuk menentukan kurva IPR.2( ) − 0. apabila tekanan statik lebih besar daripada tekanan jenuh.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 14 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6. Penentuan Kurva IPR untuk Aliran Dua Fasa (Gas dan Minyak) dengan Faktor Skin = 0 Untuk aliran dua fasa Vogel menurunkan persamaan kurva IPR yang tidak berdimensi dengan menggunakan simulator untuk reservoir solution gas drive. yaitu : 1. Persamaan tersebut adalah : Pwf Pwf 2 qo = 1 − 0. maka : (12) (9) Harga J lebih dahulu dihitung berdasarkan data uji tekanan dan produksi sebagai berikut J= 2.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07. konstanta a1 sampai a5 dapat Cara ini dikembangkan oleh Fetkovich. Penentuan Kurva IPR untuk Aliran Dua Fasa (Gas dan Minyak) Apabila Terjadi Kerusakan atau Perbaikan Formasi Persamaan kurva IPR.8 (41) 6. Konstanta ini dihitung dengan menggunakan persamaan-persamaan berikut : a1 = 0.1. Persamaan tersebut berbentuk : qo q max.814541 e-0.5524470 e−0.646246 e – 0.36438 S + 0.4.195976 S + 2. yang menganggap bahwa kelakuan aliran cairan dalam media berpori adalah sama seperti aliran gas.S =0 a1 + a3 ( = 1 + a2 ( Pwf Ps Pwf Ps ) + a5 ( ) + a4 ( Pwf Ps Pwf Ps )2 (42) ) 2 di mana a1 sampai dengan a5 adalah konstanta persamaan yang tergantung dari harga faktor skin. Plot tersebut dibuat pada kertas grafik log-log.055873 S a2 = −1.220333 S a4 = −0. Manajemen Produksi Hulu .260385 e −0. Penentuan Kurva IPR Berdasarkan Uji Isochronal Untuk harga faktor skin antara −4 sampai dengan 10.210801 S a5 = −0.476950 e −0. dikembangkan dari simulator reservoir 3-fasa dengan memasukkan pengaruh skin.289242 e−0.306962 S ditentukan secara grafis dengan menggunakan Gambar 1 sampai dengan 5.8( Pwf Pb )2 (13) Pemakaian persamaan (12) memerlukan harga qmax dihitung menurut persamaan : q max = qb + J Pb 1.456632 S (43) (44) (45) (46) (47) + 1.5.182922 e-0.442306 S a3 = −2. 6.583242 e−0. Persamaan kurva IPR untuk aliran cairan adalah : qo = J (P 2 − P 2 )n wf s (21) Harga J dan n dari persamaan (21) diperoleh dari plot (P 2 − P 2 ) terhadap qo dari data s wf uji isochronal.032449 S − 0.2( Pwf Pb ) − 0.1.088286 S −0.149274 e−0.0217831 e 0.01 Halaman : 15 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 A = 1 − 0. yang dipengaruhi skin factor.

Metode ini dikembangkan dari persamaan Vogel yang diturunkan terhadap tekanan alir. Untuk Pwf = Ps Manajemen Produksi Hulu . Kemudian diketemukan bahwa garis-garis lurus tersebut semuanya berpangkal dari satu titik. di mana laju aliran maksimum (qmax) diramalkan dengan metode "Pivot Point" ini.6 2  dPwf Ps   Ps (48) atau dapat pula dituliskan sebagai : − dq o 0. Perencanaan Kurva IPR Dua Fasa di Kemudian Hari dengan Metoda "Pivot Point" Metode Pivot Point dikembangkan oleh Uhri dan Blount dan digunakan untuk meramalkan kurva IPR di kemudian hari untuk sumur-sumur yang berproduksi dari reservoir solution gas drive. yaitu : 1. yaitu : − Pwf   0 . masih tetap digunakan untuk membuat kurva IPR dikemudian hari.1. Dengan demikian grafik (dqo/dPwf) terhadap Pwf akan menghasilkan garis lurus.2q max 1.2q max Ps Pwf = 0 = (50) 2. seperti terlihat pada Gambar 6. Untuk membuat garis lurus tersebut diperlukan dua harga (dqo/dPwf) yang ditentukan dari dua harga Pwf. (Pivot Point).TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07. Untuk Pwf = 0 : −( dq o ) dPwf 0. tanpa memerlukan data PVT dan saturasi atau permeabilitas relatif.6q max Pwf = + dPwf Ps Ps2 (49) Persamaan tersebut menunjukkan hubungan yang linier (dqo/dPwf) terhadap Pwf.2 dq o = q max  + 1 . Untuk peramalan laju aliran maksimum ini diperlukan paling sedikit dua uji tekanan dan produksi yang dilaksanakan pada waktu yang berbeda.01 Halaman : 16 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6.6. Persamaan kurva IPR dari Vogel.

5 [ ] (54) Apabila Psf dan Psp masing-masing adalah tekanan reservoir statik di kemudian hari dan saat ini. yaitu : qo = 7.p untuk faktor skin = 0 dapat dinyatakan sebagai : Manajemen Produksi Hulu . persamaan (53) dapat dituliskan sebagai : qo = 7. Penentuan kedua hal ini dapat dilakukan secara analitis seperti tercantum dalam prosedur perhitungan.2q max Ps NO : TR 07. Apabila dibuat beberapa garis seperti itu. titik pangkal (Pivot Point) dan Psenvelope harus dibuat lebih dahulu.f dan qmax.01 Halaman : 17 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 −( dq o ) dPwf = (51) Pwf = Ps atau −( dq o ) dPwf =9 − Pwf = Ps dq o dPwf Pwf = 0 (52) Dengan demikian dari satu uji tekanan dan produksi serta menggunakan persamaan (50) dan (51) dapat dibuat garis lurus yang sesuai dengan persamaan (49).TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 0.1. Perpotongan kedua garis lurus itu adalah titik pangkal dari semua garis lurus untuk harga Ps yang berbeda-beda. maka titik ujung garis-garis tersebut akan membentuk suatu kurva yang disebut Ps-envelope (lihat Gambar 7).08 × 10 −3 k o h s k ro dP (ln(re / rw ) − 0.5 P∫ µ o Bo wf P (53) Dalam bentuk fungsi tekanan semu. maka perbandingan antara qmax. Untuk meramalkan kurva IPR di kemudian hari.08 × 10 −3 k o h m( Ps ) − m( Pwf ) (ln(re / rw ) − 0. 6.7. Dengan cara yang sama dibuat garis lurus yang lain berdasarkan uji tekanan dan produksi yang diambil pada saat yang berbeda. Peramalan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Fungsi Tekanan Semu (Pseudo Pressure Function) Metode ini dikembangkan berdasarkan persamaan aliran radial dua fasa semi mantap.

seperti ditunjukkan pada Gambar 8 dan 9.01 Halaman : 18 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 q max.152343( Psf / Psp ) (57) Dengan menggunakan persamaan (56) atau (57) tersebut serta persamaan (42). p = m( Psf ) m( Psp ) (55) Dari hasil simulasi reservoir.429922 ( Psf / Psp ) (56) m( Psf ) m( Psp ) = 0. maka laju produksi maksimum di kemudian hari untuk faktor skin = 0 dapat ditentukan.f ini dengan menggunakan persamaan (42). Analisa regresi terhadap kurva tersebut menghasilkan persamaan-persamaan sebagai berikut : API > 40 m( Psf ) m( Psp ) API < 40 = 0. Untuk bermacam-macam jenis minyak dan parameter batuan reservoir ternyata kedudukan kurva dari hubungan m(Psf)/m(Psp) terhadap Prf/Pri adalah saling berdekatan.033210e 3. f q max. Kurva IPR dapat dibuat berdasarkan qmax. diperoleh hubungan (kro/µoBo) terhadap tekanan dan fungsi tekanan semua dihitung berdasarkan integrasi secara numerik.015215e 4. masing-masing untuk API > 40 dan API < 40. Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 19 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 20 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

01 Halaman : 21 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

01 Halaman : 22 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal

NO : TR 07.01 Halaman : 23 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003

Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal

NO : TR 07.01 Halaman : 24 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003

Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal

NO : TR 07.01 Halaman : 25 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003

Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 26 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

01 Halaman : 27 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

2. CONTOH PERHITUNGAN NO : TR 07.33 ft +2 cp µo = 3. Plot kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 10.500 − 1.200) = 0. diperoleh : Ps Pwf qo = = = 1.200 psi 150 STB/hari Tekanan jenuh = 750 psi. Parameter batuan reservoir : ko = 14.40 0.50 STB/hari/psi Pwf q Pwf qo = 1.1.2.500 psi = 1.500 − 1.400 psi = 0.5 mD h = 20 ft re = 900 ft 2.2. Penentuan Kurva IPR Untuk Aliran Satu Fasa (Berdasarkan Data Uji Tekanan dan Produksi) a.200 psi = 150 STB/hari J = 150/(1.500 psi 1. = 1.400) = 50 STB/hari = Pb = 750 psi = 0.2. 6. 3. Penentuan Kurva IPR : 1.50 (1.50 (1. b. Penurunan Kurva IPR Untuk Aliran Satu Fasa (Berdasarkan Parameter Batuan dan Fluida Reservoir) 1. Parameter fluida reservoir : Bo = 1. Dari uji tekanan dan produksi.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 6. Ps Pwf qo @ Pwf 2.01 Halaman : 28 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6. rw = S = Manajemen Produksi Hulu Parameter sumur : .1200 bbl/STB 0.500 − 750) = 375 STB/hari 4.

Plot kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 11.5)(20) (0. Manajemen Produksi Hulu .50 (1.000) = 250 STB/hari Pwf = 1. Tekanan Statik.12){ln 0.500 − 1.500 psi Hitung J : NO : TR 07.500 − 1.0} Pwf = 1.000 psi qo 7. 0.50 (1.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 4.200 psi qo = 0. Ps = 1.200) = 150 STB/hari = 0.474(900 / 0. 5.40)(1.01 Halaman : 29 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 J= 6.33) + 2.00708(14.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 30 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

01 Halaman : 31 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

0 − 0.01 Halaman : 32 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 q max = Pwf 150 1.1333 0.0 0.200 psi = 150 STB/hari = 1.00 53. 5.9333) – 0.0 1.500 = 0.500 = 0.8000 0.2667 0. 6.32 {1.400 psi Pwf/Ps = 1. Manajemen Produksi Hulu . Kurva IPR Untuk Aliran Dua Fasa (Gas-Minyak) dan Ps < Pb 1.80) − 0.3.20(0.9333 0. diperoleh.400/1.0 200.91 438.25 150.0 1.0 – 0. 3.200/1.25 STB/hari Untuk berbagai harga Pwf diperoleh harga-harga qo sebagai berikut : Pwf/Ps 1. Dari data uji tekanan dan produksi.80 (0.5333 0.000.47 362.80 NO : TR 07.9333)2} = 53.0 400.200.20 (0.80(0.0 800.500 psi = 1.4000 0.9333 qo = 457. Pwf/Ps = 1.62 Plot Kurva IPR ditunjukkan oleh Gambar 12.2. 4.0 1. : Ps Pwf qo 2.500.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 6.0000 0.400.6667 0.74 304.0000 Pwf 1.62 457.00 233. qo 0.0 7.0 600.20 406.80) 2 = 1.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.2.4.01 Halaman : 33 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa (Pwf > Pb) Manajemen Produksi Hulu .

5 2.10 0.000 2. 4. Dari uji tekanan dan produksi diperoleh : Ps Pwf Pb 2.000 3.00 622.2 4.000 psi adalah : qo = 400 + (622. = 1.30 0. Pilih harga Pwf yang lain dan hasil hitungan adalah sebagai berikut : Pwf 4.0 400.600 1.2(0.5)2) = 555. Manajemen Produksi Hulu .000 − 2.000 1.22 9.000) = 400 STB/hari Hitung qx : qx = 5.89 531.22 = 622. 6.2 (4.22 STB/hari 1.8(0. Plot Pwf terhadap qo dapat dilihat pada Gambar 13.000 = 0.200 1.5) – 0.0 – 0. dapat dihitung sebagai berikut : J= 3.000 psi NO : TR 07.55 STB/hari 8.000 psi = 3.55 592.0 qo 0.000 psi.22 − 400) (1. (0.000 psi .0 472.000 600 200 0 Pwf/Pb 0. 200 = 0.000 Laju produksi pada Pwf = 1.01 Halaman : 34 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Indeks Produktivitas untuk Pwf > Pb.000) = 222.55 555.8 Hitung qmax : qmax = 400 + 222.80 0.000 Laju produksi pada Pwf = Pb adalah : qb = 0. = 4.000 − 3.2)(2.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 1. dan hitung Pwf/Pb : Pwf Pb 7.22 STB/hari Pilih Pwf = 1.89 616. qo = 200 STB/hari @ Pwf = 2.50 0.0 200.60 0.

Dari uji tekanan dan produksi diperoleh : Ps = 4.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.2. Perhitungan Kurva IPR Dua Fasa (Pwf < Pb) 1.01 Halaman : 35 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6.000 psi Manajemen Produksi Hulu .5.

0 – 0.01 Halaman : 36 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 2.6667 0.8(0.8333 0.8 1.000 (4.5000 0.5111 Hitung harga J untuk Pwf > Pb : J= 200 = 0.3333) – 0. qo = 108 + (288 − 100) {1 – 0. Pilih Pwf = 1. NO : TR 07.8 4.0 STB/hari 1.0 288.2(0.0 STB/hari Hitung qx : qx = 0.3333 0.8 (0.000 psi .000) = 108.0 234.000 6.000 − 3. Manajemen Produksi Hulu .000 1. Hitung qb : qb = 0.3333) 2 } = 260. Hitung Pwf/Pb = A 3. 8.000 psi 2.000 − 3.1080(4.6667 3.6667)2 = 0. 5.0 STB/hari Hasil perhitungan untuk berbagai harga Pwf adalah sebagai berikut : Pwf 4.0 qo 0.1667 0.1080 3.5111)) 1.000 500 0 Pwf/Pb 0.000 + (0.000 = 0.000 = 0.000 3.0 158.0 278. q0 @ Pwf = 200 STB/hari Pb = 3.000 psi : Pwf/Pb = 7.000 2.500 2.0 108.000) = 180.000 = 1.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal Pwf = 2.0 260. Kurva IPR dapat dilihat pada Gambar 14.2(0.6667) – 0.0 200.0 9.1080(3.500 1.3333 3.

2.01 Halaman : 37 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa (Gas dan Minyak) Dengan Ps < Pb dan S ≠ 0 Manajemen Produksi Hulu .6.

= 240 = 0.43) = 0.476950 e – 0.43) = −0.590 Hitung ruas kanan dari pada persamaan Kurva IPR : A= 0.00522(0.07504 = −2.400 psi adalah : Manajemen Produksi Hulu .583242 e – 0.149274 e – 0.43) + 2.032449(2.15094) 2 1 + 0.88050 1. Pwf Ps = 1.15094) − 0.43) – 0.19572 8.18300(0.646246 e – 0.055873(2. Untuk harga S positif 1.7880) 2.78658 + 0.182922 e − 0.195976(2. (qmax.07504(0.88050) 2 = 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal a.S =0 = 7.210801(2. yaitu : q max. Hitung konstanta persamaan Kurva IPR sebagai berikut : a1 a2 a3 a4 a5 4.456632(2. yaitu : Pwf Ps 5.48 STB/hari 0.209.88050) 2 1 + 0.78658 = −1.590 psi S = 2.088286(2.400 = 0.78658 + 0. Hitung laju produksi maksimum pada S = 0. 924 = 1. Dari uji produksi diperoleh : Pwf qo = 240 psi = 924 STB/hari NO : TR 07.5524470 e – 0.43) + 0.0217833 e – 0.43) – 0.43 (FE = 0.88050) − 0.15094 1.00522 = −0..S = 0).78719 Hitung Pwf/Ps.590 Harga A adalah : A= 0.18300 = 0.442306(2. = 0.7819(0.78719(0.43) = 0.15094) 2 = 0.260395 e – 0.15094) − 0.88050) − 0.43) + 1.289242 e – 0.00522(0.76396 6.364438(2.76396 Pilih harga Pwf = 1.306962(2.18300(0. Dari uji tekanan diperoleh : Ps = 1.400 psi. Laju produksi pada Pwf = 1.07504(0.022033(2.43) = 0.01 Halaman : 38 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 3.43) = −0.814541 e − 0.

0 236.182922 e (−0.44789 a3 = −2.306962 (−3.60) + 1.71 STB/hari 9.055872(−3. NO : TR 07. Hitung konstanta persamaan Kurva IPR sebagai berikut : a1 = 0.60) = −2.814541 e – 0. Dari uji tekanan diperoleh : Ps = 3.60 (FE = 1.0217831 e – 0.70823 a4 = −0.209.200 1.60) + 0. Dari uji produksi diperoleh : Pw:f = 3.60) + 2.01 Halaman : 39 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Untuk harga Pwf yang berbeda diperoleh hasil perhitungan laju produksi sebagai berikut : Pwf 1.646246 e (– 0.442306) (−3. b.48) (0.260385 e – 0.456632 (−3. Untuk S negatif 1.548 psi S = −3.583242 e – 0.289242 e (– 0.67530 a2 = −1.6558) 2.60) = −2.476950 e – 0.60) = 0.19572) = 236.38195 a5 = −0.149274 e – 0.000 800 600 400 200 0 qo 0.088286(−3.60) – 0.60) = 0.032449(−3.60) = 1.118 psi qo = 107 STB/hari 3.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal qo = (1.94 951.93 817.71 436.400 1.38 595. Plot Pwf terhadap qo dapat dilihat pada Gambar 15.05 886.38195 Manajemen Produksi Hulu .19 10.220333) (−3.49 930.590 1.21080(−3.5524470 e – 0.364438) (−3.60) – 0.39 720.195976 (−3.

yaitu : Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 40 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 4. Hitung Pwf/Ps.

8788) 2 5.67530 + 0.86 340.93010 Harga A adalah : A= 1.100 700 300 0 qo 0.548 1.95 149.67530 + 0.8788 3.93010) 2 1 + 0.8788) 2 = 0.57201(0.000 2.93 368.93010) − 2.32 STB/hari 0.500 2.8788) 2 1 + 0.70823(0.57201(0. Plot Pwf terhadap qo dapat dilihat pada Gambar 16.44789(0.29664) = 65.41 262.900 2.0 65. 9.44 10.48130 6.95 STB/hari Untuk harga Pwf yang lain diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut : Pwf 3.38195(0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.78823(0. Laju produksi pada Pwf = 3.500 1.118 = 0.54 315.300 psi adalah : qo = (222.8788) − 0.100 1. 107 = 222.32) (0.44789(0.18 372. Manajemen Produksi Hulu .300 psi Pwf/Ps = 0. Hitung harga A : A= = 0.61 357.548 3. Laju produksi maksimum pada harga S = 0 adalah : q max.8788) − 0.38195(0.68 213.S =0 = 7.01 Halaman : 41 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Pwf Ps = 3.48130 Pilih Pwf = 3.29664 8.8788) − 2.

01 Halaman : 42 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

461 504.123 921 1.345 psi Test Aliran 1 2 3 4 5 6 7 2.01 Halaman : 43 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 qo 66 134 137 229 93 321 341 Pwf 1.142 1. Penentuan Kurva IPR Berdasarkan Data Uji Isochronal3 1.7.341 1.178 719 638 qo 66 134 137 229 93 321 341 3. Hitung (P 2 – P 2 ) : wf s NO : TR 07.064 1.784 421.292.981 Plot (P 2 – P 2 ) terhadap qo dapat dilihat pada Gambar 17.242 1. Data Uji Isochronal : Ps = 1.896 960.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 6.401. wf s Manajemen Produksi Hulu . P2 – P2 s wf 266.861 547.2.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 44 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

Plot Pwf terhadap qo dari hasil perhitungan di langkah 9 menghasilkan kurva IPR seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 18. Harga laju aliran minyak untuk berbagai Pwf adalah sebagai berikut : Pwf 1.000 psi2 s wf Kemiringan = 6.000 800 600 400 200 0 qo 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal 4.0 1.65 357.80 446.67 10. (P 2 – P 2 ) = 40.01 Halaman : 45 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 log 410.500 psi2 • Dan harga X = 10 STB/hari • Jadi J adalah : J= 8.0 Jadi persamaan kurva IPR : qo = 2. Harga n adalah : n= 7. (P 2 – P 2 ) = 410. Manajemen Produksi Hulu .17 436.78 407.46914 × 10 − 4 (40.000 − log 40.12 199.005329 log 100 − log 10 1 = 0.0 wf s 9.46914 × 10-4 (P 2 – P 2 )1.500 = 1. NO : TR 07.200 1. 5.005329 Konstanta J dihitung sebagai berikut : • Perpanjang garis lurus sampai memotong sumbu tegak di Y = 40. 10 = 2. Kemiringan garis lurus dihitung sebagai berikut : q = 10 STB/hari .00 91.500)1.76 288.500 psi2 wf s q = 100 STB/hari .345 1. Buat garis lurus yang mewakili ke tujuh titik tersebut.9947 = 1.

01 Halaman : 46 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

bpd . "Pivot-Point Method Quickly Predicts Well Performance".090) 2 (1. halaman 155. May 1982. D.260 psi . yaitu : wf * Pwf = 1 / 8{ . Tentukan Kurva IPR pada Psf = 1. a.04(2. Data uji sumur untuk waktu yang berbeda telah ditunjukkan oleh Tabel terdahulu. Data Uji Sumur : qo Pwf Ps . psi .765 2 1 − 0.960) 2 } 156 192(1. yaitu : dPwf Manajemen Produksi Hulu .960 1.090)(1. C. E.090) 2 = − 457.1 = 50 1.090  2 = 191.960 3.89(2.765  1 − 0. Hitung P * .2.10274 4. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Pivot .960) − 191. c.765 2. Langkah Perhitungan : 1.2 = 50 = 156. psi Uji #1 50 1. Hitung laju produksi maksimum : Untuk Uji #1 : q max.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.090 Uji #2 50 1.578 1. Hitung (− dq o ) * . . dan Blount.Point Contoh soal dikutip dari : World Oil. Uhri. M.960 b. 2. .8  2.090  2.01 Halaman : 47 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6.89 bpd Untuk Uji #2 : q max.578 1.84 bpd 1.04(2.8.2 − 0.8( ) 1.960) 2 − 156.765  1.2 − 0.

f .007237 7.10274)  + )* = 191. 6.225 45.099 32.260(0. Hasil plot qo terhadap Pwf dapat dilihat pada Gambar 19. f = 1.021 43. Hasil perhitungan kurva IPR adalah sebagai berikut : Pwf 1.59 bpd 0.200 1.260 Pwf = 0 = = 0.89  dPwf (2090) 2  2.825 15.59 9.979 39.090  Psf = 1.10274) 1+ 8 1. Hitung (− dq o )f dPwf Pwf = 0 .01 Halaman : 48 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 (− 5.2 dq o 1. yaitu : q max.013766 (−457.381 25.000 800 600 400 200 0 qo 0.260 1. Hitung qmax.  0 .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.yaitu : (− dq o )f dPwf − 0.00 3.007237) = 45. Manajemen Produksi Hulu .2 8.260 psi.6(−457.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 49 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

8 diperoleh : qmax.89   = −3. Manajemen Produksi Hulu . − 0. Hitung konstanta n. Data uji sumur seperti tercantum pada contoh perhitungan 6.8.090 − 1 191. Hitung laju produksi maksimum untuk masing-masing uji sumur. Hitung qmax. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari Dengan Menggunakan Persamaan Psenvelope Catatan: Soal sama seperti pada contoh 6.10.090) 2  n = 2.070052(1.89 156.2.8 1.260 psi. Psf = 1.260 − 3. Soal sama seperti contoh soal 6.1 = 191.070052(2.345 psi Pwf = 719 psi q = 321 STB/hari b. A= 2.2.2.2. 2.2.87 STB/hari 1. 6.2 = 156.04 4.260) 2 = 45.090 − 1. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Dikemudian Hari dengan Menggunakan Fungsi Tekanan Semu a.8.960 = −0.000 psi.01 Halaman : 50 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6. Hitung konstanta A. Berdasarkan hasil perhitungan pada contoh soal 6.7 di mana diperoleh Ps = 1.2.2.9. Tentukan kurva IPR pada Psf = 1.070052 (2.960) 2 − 191.  − 0.f q max. f = 7.6317 5.684. 6.6317 Hasil perhitungan Kurva IPR pada Psf = 1260 psi sama seperti hasil perhitungan pada contoh soal 6.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.04 bpd 3.89 bpd qmax.684.090) 2 (1.

000/1.583242 = −1.64626 = 0.282168 = −0.135689(0.534572) − 0.025333 4.169296 = 2.86 STB/hari Manajemen Produksi Hulu .534572 1.169296(0.0217831 – 0.740437 qmax. Psf = 1.260385 = −0.81451 e0 = 0. Ps Pwf q = 1.182922 e0 + 0. q max.135689 = 719 psi Pwf Ps A= = 719 = 0.425378 6.. Untuk API < 40 xf = 0.000 psi 5.345 psi a1 a2 a3 a4 a5 Pwf = 0.345) = 0.139968 = −0.033210 e3.345 0. Untuk API < 40 xp = 1.997463 = −1.740437 = 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal c. f = 0.p pada saat Ps = 1. Langkah perhitungan 1.534572) − 1..289242 = 0.345 psi = 719 psi = 321 STB/hari NO : TR 07.144274 + 2.53 STB/hari 0.025333 = 179.01 Halaman : 51 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 API < 40 dan S = 0 (dianggap) 2.282168(0.429922 (1. Hitung qmax.425378 (433.139968(0.534572) 2 321 = 433.476950 + 1.5524470 – 0.53) 1.997463 + 0.534572) 2 1 + 0.p = 3.

00 0.8914 0.01 Halaman : 52 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 7.00 0. Hasil plot ditunjukkan oleh Gambar 20.80 0.33 172.71 120.40 0.000 psi dihitung sebagai berikut : Pwf 1.97 160.40 0. a2. a3.9610 1.00 A qo 0.3653 0.000 800 600 400 300 0 Pwf Ps 1.0 8.f serta konstanta-konstanta a1.00 65.30 0. a4 dan a5 kurva IPR pada tekanan statik = 1.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.85 179. Manajemen Produksi Hulu . Berdasarkan qmax.60 0. Kurva IPR diperoleh dari plot Pwf terhadap qo dari hasil perhitungan di langkah 7.6726 0.

01 Halaman : 53 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.

21 176.01 Halaman : 54 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 6. qo 0 66. Penentuan Kurva IPR Dua Fasa Di Kemudian Hari dengan Menggunakan Uji Isochronal a.345 = 1. Persamaan kurva IPR pada tekanan statik = 1.000 psi 3. Manajemen Produksi Hulu .58 Kurva IPR diperoleh dengan membuat plot Pwf terhadap qo. Persamaan kurva IPR pada tekanan statik = 1.09 117.7 dimana diperoleh : q = 2. Soal sama seperti pada contoh soal 6.46914 × 10-4 (P 2 – P 2 ) s wf 2.83579 × 10-4 (1. seperti tercantum pada Gambar 21.46914 × 10 − 4 ( 1. Psf = 1. Tentukan kurva IPR pada tekanan statik = 1.000 psi : Pwf 1.000 psi adalah : q = 2.24 183.345 psi b.000 800 600 400 200 0 5.2.000 2 )( Psf2 − Pwf )1.0 wf 4. Langkah perhitungan : 1.345 psi adalah : q = 2.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.2.0 1.000 psi c.11.000 – P 2 )1. Perhitungan kurva IPR pada Psf = 1.46914 × 10-4 (P 2 – P 2 ) wf s untuk Ps = 1.49 154.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK SUB JUDUL : Sumur Vertikal NO : TR 07.01 Halaman : 55 / 55 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Manajemen Produksi Hulu .

02 Halaman : 1 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 PERHITUNGAN POTENSI SUMUR MINYAK HORISONTAL 1. Kemudian 2  2  bilamana jari-jari pengurasan (drainage radius) suatu sumur vertikal adalah rev di suatu reservoir dan kita ingin membor sumur horizontal dengan panjang L di reservoir ini. maka luas pengurasan sumur horizontal ini (Ah) dapat diperkirakan : 1  Ah = π × rev ×  (L + 2rev ) sqft atau Ah = 2   2. daerah pengurasan dipengaruhi oleh distribusi permeabilitas arah lateral. yaitu aliran mantap (atau steady state flow) dan aliran semi-mantap (atau pseudo-steady state flow).560 Ada 2 (dua) anggapan kondisi aliran yang berbeda di dalam reservoir. Persamaan Laju Alir Sumur Horizontal 1  π × rev ×  (L + 2rev ) 2  acre 43. Pada umumnya daerah pengurasan sumur horizontal berbentuk elips. Dalam hal sumur horizontal. Penentuan Luas Daerah Pengurasan Setiap sumur minyak atau sumur gas mempunyai daerah dan luas pengurasan tertentu. Bila sumbu terpanjang suatu elips adalah a dan sumbu pendeknya adalah b maka luas elips adalah (π ) ×  1  1  a  ×  b  .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. Daerah pengurasan yaitu reservoir atau bagian reservoir yang memberikan kontribusi aliran fluida ke lubang sumur produksi. yaitu kondisi dimana tekanan reservoir berubah dengan waktu tetapi drawdown dapat dipertahankan konstan. Arah sumbu sumur horizontal sebaiknya tegak lurus terhadap arah permeabilitas lateral terbesar agar produktivitasnya maksimal. yaitu suatu kondisi aliran dimana tekanan reservoir dan drawdown tetap terhadap waktu. Sedangkan kondisi aliran semi-mantap. Kondisi aliran mantap. Manajemen Produksi Hulu .

Persamaan Sada Joshi (modifikasi oleh Economides) : q= 0. STB/hari = tebal bersih zona minyak.5 +  0.25 +  e    2  L     b. ft    Ye   2rw   1 h / L  − + S m   2     kh = permeabilitas horizontal efektif.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. psi Pwf = tekanan alir dasar sumur. mD Ps = tekanan statik reservoir.00708k h h(Ps − Pwf ) 2     a + a2 −  L      2 µ o Bo ln L    2         βh  βh   ln +    L  rw ( β + 1)      0. psi Pr = tekanan rata-rata reservoir.5 4  L  2r h   dimana : a = 0. psi Manajemen Produksi Hulu .00708 k h h L(Ps − Pwf   )   Y µ o Bo  X e − Ye h / L + β h ln e h / L  + S m     2r      w     atau q= 0. Persamaan Pudji Permadi : q= 0.00708k h hL Pr − Pwf ( ) µ o Bo  Xe − Ye h / L + βh ln     dimana : q h = laju produksi. Aliran Mantap (Steady State Flow) Persamaan untuk menentukan laju alir produksi suatu sumur horizontal pada kondisi steady-state flow di antaranya adalah : Untuk Sumur Minyak : a.02 Halaman : 2 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 A.

tidak berdimensi = kh kv µ = viskositas minyak. ft Ye = panjang daerah pengurasan sejajar sumbu sumur horizontal. ft reh = jari-jari pengurasan sumur horizontal.75 + S R + Ye S m  L    rw      Manajemen Produksi Hulu . mD B.00708Ye (k h k v ) 0. Aliran Semi-Mantap (Pseudo-Steady State Flow) a. bbl/STB rw = jari-jari lubang sumur horizontal. ft = Ah / π Sm = skin faktor mekanik. ft β = faktor anisotropi vertikal. Persamaan Babu-Odeh : q= 0. cp kv = permeabilitas vertikal.5 (P − P ) r wf µ o Bo ln    X eh   + ln C H − 0. ft B = faktor volume formasi.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.02 Halaman : 3 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 L = panjang efektif sumur horizontal. tidak berdimensi Xe = lebar daerah pengurasan.

28 e h kz kx 1 x  x  2   180 0 Z 0  − 0 +  0   − ln sin    h  3 xe  xe      X   − 0.75 Ye ky Xe kx >> 0.088   dimana xo dan zo adalah koordinat pusat sumur pada bidang vertikal (di sini kz = kv).5 ln  e   h   kz kx   − 1.33 >> Bilamana kasus-1 yang berlaku. zo) L (xo.02 Halaman : 4 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 (xo.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.1 : Xe kx Ye ky ≥ 0.2 : > 1. SR adalah skin factor yang ekivalen dengan partial penetration lateral. maka perhitungan SR sebagai berikut : S R = Pxyz + P' xy dimana : Manajemen Produksi Hulu . yaitu : kasus .75 h kz h kz kasus . Perhitungan SR terbagi atas 2 (dua) kasus. Skematik Sumur Horizontal X ln C H = 6. Hanya SR = 0 bila L = Ye. y1. salah satu yang memenuhi. zo) Z y h 0 0 X Xe kz ky Ye kx Gambar 1. karena L < Ye. y2.

00708 k h h L(Ps − Pwf )   1 h / L  − + S m   2     µ o Bo 0.  2Y  e   Bilamana kasus-2 tersebut di atas yang berlaku.5 (y1 + y2). sedangkan F menyatakan fungsi seperti di bawah ini :  L F  2Y  e   L   = − 2Y    e   L   0.523 X e − Ye h / L + β h ln     atau : Manajemen Produksi Hulu  ( )   Ye   2rw .84 =  − 1 ln + 0.5 F  mid  − F  mid     2Y   2Y  e e         2 dan ymid = 0.28 Ye2 × x z Xe h ky 2  1 y mid y mid + 2  −  Ye  3 Ye   L +  24 Y e  L   − 3  Y   e   Y  6. maka persamaan di bawah ini berlaku : F ( x) = (2 − x ) 0.28 X e Pxy =  e − 1 h L   b. Tetapi bila argumen tersebut > 1.137   2Y   e          4y + L   4y − L   dan/atau argumen  mid  lebih kecil atau sama kemudian bilamana argumen  mid  2Y   2Y  e e     dengan 1.145 + ln (2 − x ) − 0.137(2 − x )  4y + L   .02 Halaman : 5 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Pxyz   180 o z  kx  Ye  h  − 1. atau dimana x =  mid  2Y  e   [ 2 ]  4 y mid − L    .25 ln − ln sin  kz h  L   rw    2Ye hL 2 P ' xy = kz ky   L  F     2Ye    4y + L    4 y − L     + 0.145 + ln 2Y    e    L  − 0. Persamaan Pudji Permadi : kz kx 2  1 xo xo   − + 2  3 x xe  e   q= 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. maka persamaan persis di atas ini dapat digunakan dengan mengganti argumennya saja. dengan x > 1. maka : S R = Pxyz + Py + Pxy dimana Pxyz dihitung seperti di atas dengan Py serta Pxy berturut-turut dihitung seperti di bawah ini : Py = k k 6.

Gambar 2.02 Halaman : 6 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 q= 0. sebagai fungsi dari Recovery Factor Manajemen Produksi Hulu . dimensionless IPR dari sumur horizontal tidak banyak berbeda dari sumur vertikal. Korelasi untuk parameter V dan n.00708 k h h L Pr − Pwf ( )   3 h / L  − + S m   4     µ o Bo 0. Indeks Produktivitas dan Dimensionless IPR Untuk reservoir minyak. khusus untuk sumur horizontal persamaan Bendakhlia – Azis adalah sebagai berikut : qo q o max   Pwf = 1 − V    P   r  P   − (1 − V ) wf  P   r      2      n dimana parameter n dan V merupakan fungsi dari recovery factor dan dapat diperoleh melalui Gambar 1.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. Namun demikian. Karena itu persamaan Vogel yang untuk sumur vertikal dapat digunakan juga untuk sumur horizontal.523 X e − Ye h / L + β h ln      ( )   Ye   2rw 3.

fraksi = saturasi minyak residual. ft = panjang sisi pengurasan. psi = waktu produksi. tak berdimensi = jari-jari lubang sumur. cp = tebal bersih zona minyak. fraksi k kroi rw L Pr i t φ µoi h Xe Boi Soi Sor Manajemen Produksi Hulu . ft = tekanan reservoir mula-mula sebelum sumur diproduksi. di bawah ini dapat juga digunakan. fraksi = viskositas minyak mula-mula. hari = porositas. Kelemahannya adalah bahwa daerah pengurasannya berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi Xe.00633 k k roi rw L Pri t φ µ oi h X e2 Nm = X e2 h φ ( S oi − S or ) 5.615 Boi N p = ND × Nm dimana : * tD = waktu produksi tak berdimensi = permeabilitas absolut. bbl/STB = saturasi minyak mula-mula.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. Jenis decline-nya tergantung kepada mekanisme pendorong dalam reservoir yang bersangkutan. Khusus untuk sumur horizontal pada reservoir dengan tenaga pendorong yang bekerja gas terlarut (solution gas drive).02 Halaman : 7 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 4. * tD = 0. metode Plahn et. al. ft = panjang efektif sumur horizontal. Peramalan Produksi versus Waktu Peramalan produksi sumur horizontal dapat dilakukan dengan menggunakan metode Decline Curve Analysis seperti yang umum digunakan untuk sumur vertikal. mD = permeabilitas relatif minyak mula-mula. ft = faktor volume formasi.

2504 – 0.1078 x 1 ii) bila x1 > −2. maka q oil = membuat peramalan laju produksi minyak qoil terhadap waktu.5% : i) bila x1 ≤ −2. dihitung seperti di bawah ini.3903 x1 – 0. Untuk harga Critical Gas Saturation (Sgc) antara 6% . STB = dimensionless recovery. Untuk harga Critical Gas Saturation (Sgc) antara 0 .5526 + 0.2071 – 0. STB = produksi kumulatif minyak.2078 : 2 y = 1.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.1097 x 1 ii) bila x1 > −1.02 Halaman : 8 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Nm Np ND = moveable oil in place mula-mula. t.10% : i) bila x1 ≤ −1. maka kita dapat (hari) (hari) (STB) (STB) q oil = ∆N p ∆t (STB/hari) - Manajemen Produksi Hulu .41104 x1 – 1.9469 : 2 y = 1.6663 + 0. t ∆t t* D ND Np ∆Np ∆N p ∆t . maka ada 2 (dua) kondisi aplikasi : A.2078 : y = 1. * Bila y = log ND dan x1 = log t D .9469 : y = 1.06502 x1 B.03701 x1 Kemudian bila kita definisikan ∆t = ti+1 – ti dan ∆Np = Npi+1 – Npi.

1) Metode Giger . A. ft = ρw − ρo = perbedaan densitas.02 Halaman : 9 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 5. Bila qoil ≤ qc maka recovery minyak akan tinggi. Posisi sumur horizontal sebaiknya ditempatkan jauh di atas bidang WOC.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.Karcher :  k q c = 4. STB/hari = permeabilitas efektif terhadap minyak. gr/cc = viskositas minyak. mD Manajemen Produksi Hulu . ft = panjang efektif sumur horizontal. cp µo 2) Metode Pudji Permadi : qc = 0.888 × 10 − 4  h µ B  o o dimana : qc kh Bo h Ye L ∆ρ  ∆ρ h 2   Y  e  1  h 1 −   6  Y  e    L   = laju produksi kritis. Sumur Horizontal pada Reservoir Bottom Water Drive Sumur horizontal dapat meningkatkan perolehan minyak dari reservoir bertenaga dorong air-bawah (bottom-water drive) karena kapasitas produksinya lebih besar dan dapat memperlambat terproduksinya air dibanding sumur vertikal dengan drawdown yang sama. Penentuan laju produksi kritis qc Laju produksi kritis adalah laju produksi terbesar yang menyebabkan bidang WOC dapat bergerak ke atas melengkung agak datar tanpa membentuk kerucut (coning atau cresting).00708 k h h L ∆γ w / o d woc µ o Bo  X e − Ye   dimana : qc kh   Y h' + β h'  ln e   2rw L   h'  1    −  L  2    = laju produksi kritis. bbl/STB = tebal zona minyak. mD = faktor volume formasi. ft = panjang daerah pengurasan. STB/hari = permeabilitas efektif arah lateral.

77 )100 − 67  (log k '+8. mD 3) Metode Guo .k v d' = d k' kv  X   c  H D = 0. ft = jarak dari sumbu sumur ke WOC.943 × 10 −5 k ' d ' ∆ρ w / o  D µ  o  L q c = q1  B  o dimana : c d Bo         = jarak dari sumbu sumur ke WOC. ft = tebal zona minyak. ft = panjang daerah pengurasan. ft = faktor volume formasi. psi/ft = viskositas minyak. cp = faktor anisotropik = kh kv µo β kv = permeabilitas vertikal. bbl/STB Manajemen Produksi Hulu . ft = faktor volume formasi. ft = panjang efektif sumur horizontal. ft = perbedaan gradien tekanan statik air dengan minyak.033(1.14 ) log e     d   2   q q1 = 4.00246 d ')(2.18 − 0.5 h – d1 = jarak vertikal terdekat dari sumbu sumur ke batas atas/bawah reservoir.286 ∆γ w / o + 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. ft = lebar daerah pengurasan.Lee : k' = k h .02 Halaman : 10 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 h L Bo h’ d1 dwoc rw Xe Ye ∆γw/o = tebal zona minyak. bbl/STB = 1. ft = jari-jari lubang sumur.

TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. bbl/hari = panjang sumur horizontal. lb/cuft µo ∆ρw/o Harga qD diperoleh melalui Gambar 2. Air kemudian akan segera terproduksi dan kadar air (water cut) akan meningkat cepat dengan waktu. B. ft = laju produksi kritis. Pertama kali air masuk ke dalam sumur disebut water breakthrough. Hubungan antara qD dengan HD. tBT Bilamana laju produksi yang diinginkan melebihi laju produksi kritis-nya. Gambar 3. Penentuan Waktu Tembus Air (Water Breakthrough Time).02 Halaman : 11 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 q1 L qc Xe ∆γw/o = laju produksi per satuan panjang sumur horizontal. maka bidang WOC menjadi tidak stabil dan akan membentuk kerucut (coning/cresting). yaitu qo > qc. Setelah menghitung HD untuk harga c/d yang bersangkutan. Lamanya waktu bagi air untuk Manajemen Produksi Hulu . cp = perbedaan densitas air dengan minyak. untuk berbagai harga c/d. psi/ft = viskositas minyak. ft = perbedaan gradien tekanan statik air dengan minyak. STB/hari = lebar daerah pengurasan.

1) Metode Papatzacos et al. penempatan sumur horizontal pada zona minyak sebaiknya pada posisi dengan jarak sejauh 2/3 tebal zona minyak diukur dari Gas-Oil Contact. qD = L h (ρ w − ρ o ) k h k v 1 6 qD h φ µ o t DBT (hari) k v (ρ w − ρ o ) 325. Metode ini menganggap bahwa breakthrough time tidak dipengaruhi oleh lebar atau luas daerah pengurasan.86 µ o q o Bo t DBT = t BT = 364. Reservoir Minyak dengan Tudung Gas (Gas Cap) Estimasi waktu tembus gas (gas breakthrough) dapat dilakukan dengan menggunakan metode Papatzacos et al. 2) Metode Pudji Permadi : t BT = dimana : 2 78. Dalam hal reservoir minyak dengan gas cap. Ada beberapa metode untuk memperkirakan breakthrough time ini. di atas dengan mengganti (ρw − ρo) dengan (ρo − ρg) dimana ρg adalah densitas gas dalam satuan gram/cc.72 Semua parameter mempunyai satuan lapangan kecuali ρw dan ρo dalam gr/cc. atau sejauh 1/3 tebal zona minyak diukur dari Water-Oil Contact. Ini memperhitungkan bahwa mobilitas air lebih kecil dibanding mobilitas gas.02 Halaman : 12 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 breakthrough disebut water breakthrough time.99(µ o + µ w ) φ (1 − S or ) d woc (hari) k v (∆Pd − ∆γ w / o × d woc ) ∆PD = drawdown = Pr − Pwf ( ) Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.

253  hap 1 −  h      4. metode ini dapat juga digunakan untuk sumur horizontal. Peramalan Kinerja Produksi Peramalan kinerja produksi sumur horizontal pada reservoir bottom water drive secara cepat dapat dilakukan dengan cara empirik. dalam satuan feet. Persamaan decline curve analysis adalah : qt = (1 + b Di t )1 / b qi Manajemen Produksi Hulu .13 × 10  q  D     0.675  hbp 1 −  h      0. Berikut di bawah ini adalah metode-metode yang dapat dipilih dan digunakan. C. 1) Metode Decline Curve Analysis Seperti untuk sumur vertikal.02 Halaman : 13 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003    h' h '  1    Y  −  µ o Bo q o + β h' ln e  X e − Ye  2 2r L   w L     ∆PD =  0.00708 k h h L Semua parameter mempunyai arti dan satuan yang sama dengan sebelumnya.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.88  1  X  D     1.5397 (hari) dimana hap = jarak dari sumbu sumur horizontal ke batas atas reservoir dan hbp = jarak dari sumbu sumur ke bidang WOC.094  1    M  −0. walaupun belum banyak metode yang tersedia.86 µ o q o Bo M = µ o k rw µ w k ro 5 t BT  1 = 5. 3) Metode Rochan : qD = XD = L h( ρ w − ρ o ) k h k v Xe h kv kh 325.929  h  Lk h      0.

5] ( ) dimana reh = A / π dan A = luas daerah pengurasan dalam satuan sqft.02 Halaman : 14 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 dimana : qt qi t b Di = laju produksi harian. Sedangkan r 2 adalah w jari-jari sumur ekivalen. ft. Prosedur peramalan adalah sebagai berikut : 1. harga b < 0. tBT. STB/hari = waktu produksi. 3. maka produksi kumulatif pada saat tBT adalah N p = q o × t BT (STB). laju alir total tidak terlalu besar atau kira-kira qt < 15qc. 2. 2) Metode Pudji Permadi : Anggapan dalam metode ini yaitu tekanan pada bidang WOC konstan. 1/hari Harga eksponen decline. Untuk laju produksi yang jauh lebih besar dari laju produksi kritisnya.000264 ) k o 2 2 φ µ o C t reh − rwe [ln(re / rw ) − 0. hari = eksponen decline.5 untuk reservoir bottom water drive. harga koefisien Di dapat didekati dengan : Di = 2 × (0. STB/hari = laju produksi awal. berdasarkan data yang dimiliki.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.5 sebaiknya digunakan. yaitu : rwe = rw 1  exp   X e − Ye h + β L L     Y h  e   2rw   h  − 0. Hitung tebal zona minyak rata-rata yang telah didesak oleh air (bottom water) : hWBT = 5. Hitung waktu water breakthrough.5   L      dan rw = jari-jari lubang sumur aktual.615 q o Bo t BT X e Ye φ (1 − S or ) Manajemen Produksi Hulu . b ≤ 0. Bilamana belum ada data produksi. Bila laju produksi sebelum breakthrough adalah qo. tidak berdimensi = koefisien decline awal.

7.615 qt Bt (t − t BT ) X e Ye φ (1 − S or )  X e Ye Qw k rw ' µ o hw kv = × × ln 3 d − L × k Qo k ro ' µ w (d woc − hw ) h  woc dimana kr’ adalah end-point permeability. Hitung laju produksi minyak harian (dan laju produksi air bila perlu) : q o = q t (1 − WC ) q w = qt × WC 9. maka gunakan WC hasil hitungan ini sebagai WC asumsi baru dan kembali ke langkah 4. Hitung Qw/Qo : 5. maka langsung ke langkah 8. 8.02 Halaman : 15 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 4. Setelah breakthrough tentukan sembarang harga (asumsi trial & error) water cut (kadar air. hitung tebal rata-rata zona minyak yang sudah terdesak oleh air : hw = hwBT + 6.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. Hitung produksi kumulatif minyak : N p = N pBT + Σ∆t q o Manajemen Produksi Hulu . Bila toleransinya δ (yaitu WChitungan – WCasumsi ≤ δ). Apabila bedanya lebih besar dari toleransi yang diberikan. Pada suatu harga waktu produksi t dan laju produksi total cairan qt. Hitung Water Cut (WC) :     0. 5 WC = 1  Qo B w    Q × B  o   w Hasil hitungan ini dibandingkan dengan WC yang diasumsikan pada langkah 4 di atas. WC) dan hitung faktor volume formasi campuran mniyak dan air Bt : Bt = Bw WC + Bo (1 − WC ) 5.

Kondisi aliran mantap (steady-state flow) pada tekanan reservoir Pe ≤ 2. cp = turbulence factor = 1. cp = faktor kompresibilitas gas rata-rata. tidak berdimensi = skin karena non-darcy effect = Dqg = laju produksi gas.225 × 10 −15 β ' γ g Ye L2 rw µ gw kh kv µgw β' = viskositas gas pada tekanan alir dasar sumur. tidak berdimensi   = temperatur reservoir.02 Halaman : 16 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 Untuk Sumur Gas 1. MSCF/hari = viskositas gas rata-rata pada kondisi reservoir. oR = Sm + Sq = skin karena kerusakan formasi (damage). Manajemen Produksi Hulu .TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07. tidak berdimensi = faktor anisotropi   µg Z β T S’ Sm Sq qg D  kh  kv   .000703 k h h L Pe2 − Pwf qg = ( )  h  + S '  L    µ g Z T  X e − Ye   dimana : qg    Y h  + β h ln  e L   2 rw   = laju alir gas pada kondisi standar. MSCF/hari = no-darcy flow coefficient.47φ −0.000 psia : 2 0. hari/MSCF = 2. Persamaan laju alir gas (qg) untuk sumur horizontal adalah sebagai berikut : A.53 dan parameter yang lain mempunyai arti dan satuan yang sama dengan sebelumnya.88 × 1010 k −1.

000703 k h h L (m(Pe ) − m(Pwf  Y  h ln  e   2rw   ))  h T  X e − Ye +β L    h  + S '  L    dimana m(P) adalah pseudo-pressure function dengan satuan psi2/cp.000 psia : qg = 2 0.state flow) pada semua tekanan reservoir : qg = 0.523  X e − Ye  L       Y  h ln  e   2 rw   (( ) ))  h 3  − + S '  L 4    Manajemen Produksi Hulu .state flow) pada tekanan reservoir Pr ≤ 2. Kondisi aliran semi mantap (Pseudosteady .000703 k h h L m Pr − m(Pwf   h +β T 0.000703 k h h L Pr2 − Pwf ( )  h 3  − + S '   4 L   µ g Z T 0. Kondisi aliran mantap (steady-state flow) pada semua tekanan reservoir : qg = 0.TEKNIK RESERVOIR JUDUL : PENENTUAN POTENSI SUMUR SUB JUDUL : Sumur Horizontal NO : TR 07.02 Halaman : 17 / 17 Revisi/Thn : 2/ Juli 2003 B.523  X e − Ye       h +β  L   Y  h ln e   2 rw   D. Kondisi aliran semi mantap (Pseudosteady . C.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->