Anda di halaman 1dari 17

ZAKAT DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN

Oleh: Moh. Syafi'i WS al-Lamunjani (Makalah 2009)

A. Pendahuluan

Menunaikan zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan
oleh seorang muslim sebagai penyuci harta mereka, yaitu bagi mereka yang telah
memiliki harta sampai nishab (batas terendah wajibnya zakat) dan telah lewat atas
kepemilikan harta tersebut masa haul (satu tahun bagi harta simpanan dan niaga),
atau saat hasil pertanian telah tiba.

Zakat diwajibkan dengan tujuan untuk meringankan beban penderitaan kaum


dhu’afa, fakir miskin, atau melipur orang-orang yang sengsara, dan membantu orang-
orang yang sangat membutuhkan pertolongan. Di samping itu pemberian zakat dapat
merekat tali kasih sehingga tidak timbul ketegangan atau gejolak di tengah-tengah
masyarakat yang sering terjadi di antara orang-orang kaya dengan orang-orang
miskin.

Zakat adalah ibadah yang memiliki dua dimensi: vertikal (ibadah sebagai
bentuk ketaatan kepada Allah) dan horizontal (sebagai kewajiban kepada sesama
manusia.

Melalui makalah ini akan dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan
zakat yang didasarkan pada ayat-ayat al-Qur'an al-Karim.

B. Pengertian Zakat

Secara bahasa, zakat berarti berkah, tumbuh, bertambah, suci, baik dan
bersih.1 Sedangkan secara istilah, menurut Imam Syarbini zakat adalah suatu nama

1
Ibrahim Musthafa, al-Mu'jam al-Wasith, (Riyadh: Dar al-Da'wah, t.t.), jilid. I, hal. 396

1
untuk seukuran harta tertentu dari harta tertentu yang wajib dikeluarkan pada
golongan-golongan tertentu dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.2

Imam Syamsuddin ar-Ramli mengatakan zakat adalah suatu nama yang


dikeluarkan dari harta benda menurut cara yang telah ditentukan.3

Dari definisi diatas dapat dipahami, bahwa zakat adalah bagian tertentu dari
harta yang dimiliki yang wajib dikeluarkan untuk orang-orang yang berhak
menerimanya yang sesuai dengan tuntunan syariat.

Zakat menurut bahasa al-Qur'an juga disebut sedekah atau infak. Oleh karena
itu Imam Mawardi mengatakan, "Sedekah itu adalah zakat dan zakat itu adalah
sedekah; berbeda nama tetapi sama artinya." Namun makna sedekah dan infak lebih
luas yang mencakup zakat yang wajib dikeluarkan dan juga berarti pemberian yang
sunnah saja.

Sedangkan kata infak berarti membelanjakan. Adapun secara istilah infak


diartikan sebagai sesuatu yang diberikan oleh seorang guna menutupi kebutuhan
orang lain, baik berupa makan, minum, dan sebagainya.

C. Ayat-ayat Zakat

Dalam al-Qur'an, kata zakat disebutkan 32 kali; 30 kali dengan makna zakat
dan 2 kali dengan konteks dan makna yang bukan zakat. 8 ayat itu tergolong
Makkiyah dan sisanya yang 22 tergolong Madaniyah.

Ayat-ayat al-Qur'an yang membahas tentang zakat, di antaranya adalah:

1. Al-Muzammil: 20 (Makkiyah)

2
Asy-Syarbini al-Khatib, al-Iqna' fi Halli Alfadz Abi Syuja' (Bairut: Dar al-Fikr, 1415 H),
jilid. I , hal. 211
3
Syamsuddin al-Anshari ar-Ramli, Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj ((Bairut: Dar al-
Fikr, 1984), jilid. III, hal.43

2
‫وَأَﻗِﯿﻤُﻮا اﻟﺼﱠﻠَﺎةَ وَآَﺗُﻮا اﻟﺰﱠﻛَﺎةَ وَأَﻗْﺮِﺿُﻮا اﻟﻠﱠﮫَ ﻗَﺮْﺿًﺎ ﺣَﺴَﻨًﺎ‬

"Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah


pinjaman yang baik."

2. Al-An'am: 141 (Makkiyah)

‫وَھُ ﻮَ اﻟﱠ ﺬِي أَﻧْ ﺸَﺄَ ﺟَﻨﱠ ﺎتٍ ﻣَﻌْﺮُوﺷَﺎتٍ وَ ﻏَﯿْ ﺮَ ﻣَﻌْﺮُوﺷَ ﺎتٍ وَاﻟﻨﱠﺨْ ﻞَ وَاﻟ ﺰﱠرْعَ ﻣُﺨْﺘَﻠِﻔً ﺎ أُﻛُﻠُ ﮫُ وَاﻟﺰﱠﯾْﺘُ ﻮنَ وَاﻟﺮﱡﻣﱠ ﺎنَ ﻣُﺘَ ﺸَﺎﺑِﮭًﺎ‬
َ‫وَﻏَﯿْﺮَ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﮫٍ ﻛُﻠُﻮا ﻣِﻦْ ﺛَﻤَﺮِهِ إِذَا أَﺛْﻤَﺮَ وَآَﺗُﻮا ﺣَﻘﱠﮫُ ﯾَﻮْمَ ﺣَﺼَﺎدِهِ وَﻟَﺎ ﺗُﺴْﺮِﻓُﻮا إِﻧﱠﮫُ ﻟَﺎ ﯾُﺤِﺐﱡ اﻟْﻤُﺴْﺮِﻓِﯿﻦ‬

"Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung,
pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima
yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari
buahnya (yang bermacam-macam itu) bila ia berbuah, dan tunaikanlah haknya di
hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah
kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-
lebihan."

Sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu
Juraij, "Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Tsabit bin Qais bin Syimas
yang menebang pohon kurma miliknya, kemudian ia bagi-bagikan buahnya hingga
sore hari sesudah itu ia tidak lagi memiliki buah kurma."4

3. Al-Baqarah: 267, 271 dan 274 (Madaniyyah)

4
As-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Bairut: Dar Ihya' al-Ulum, t.t.), hal. 100

3
َ‫ﯾَﺎ أَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠﺬِﯾ ﻦَ آَﻣَﻨُﻮا أَﻧْﻔِﻘُ ﻮا ﻣِ ﻦْ ﻃَﯿﱢﺒَﺎتِ ﻣَ ﺎ ﻛَ ﺴَﺒْﺘُﻢْ وَﻣِﻤﱠﺎ أَﺧْﺮَﺟْﻨَ ﺎ ﻟَﻜُ ﻢْ ﻣِ ﻦَ اﻟْ ﺄَرْضِ وَﻟَﺎ ﺗَﯿَﻤﱠﻤُ ﻮا اﻟْ ﺨَﺒِﯿ ﺚَ ﻣِﻨْ ﮫُ ﺗُﻨْﻔِﻘُ ﻮ ن‬
ٌ‫وَﻟَﺴْﺘُﻢْ ﺑِﺂَﺧِﺬِﯾﮫِ إِﻟﱠﺎ أَنْ ﺗُﻐْﻤِﻀُﻮا ﻓِﯿﮫِ وَاﻋْﻠَﻤُﻮا أَنﱠ اﻟﻠﱠﮫَ ﻏَﻨِﻲﱞ ﺣَﻤِﯿﺪ‬

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang
baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu, dan
janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya,
padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan
mata terhadapnya. Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Sebab turunnya ayat ini, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud,
Nasai dan Hakim dari Sahl bin Hanif, katanya, "Orang-orang sengaja memilih buah-
buahan mereka yang jelek yang mereka keluarkan untuk sedekah. Maka turunlah
ayat, 'Dan janganlah kamu pilih yang jelek di antaranya untuk dinafkahkan.'" (Q.S.
Al-Baqarah 267)5

Dalam riwayat lain, yang diriwayatkan oleh Hakim, dari Jabir, katanya, "Nabi
saw. menyuruh mengeluarkan zakat fitrah sebanyak satu sukat kurma. Maka
datanglah seorang laki-laki membawa kurma yang jelek, hingga al-Quran pun turun
menyampaikan, 'Hai orang-orang yang beriman! Nafkahkanlah sebagian dari hasil
usahamu yang baik-baik...'" (Q.S. Al-Baqarah 267).6

‫إِنْ ﺗُﺒْﺪُوا اﻟ ﺼﱠﺪَﻗَﺎتِ ﻓَﻨِﻌِﻤﱠﺎ ھِ ﻲَ وَإِنْ ﺗُﺨْﻔُﻮھَ ﺎ وَﺗُﺆْﺗُﻮھَ ﺎ اﻟْﻔُﻘَ ﺮَاءَ ﻓَﮭُ ﻮَ ﺧَﯿْ ﺮٌ ﻟَﻜُ ﻢْ وَﯾُﻜَﻔﱢ ﺮُ ﻋَ ﻨْﻜُﻢْ ﻣِ ﻦْ ﺳَ ﯿﱢﺌَﺎﺗِﻜُﻢْ وَاﻟﻠﱠ ﮫُ ﺑِﻤَ ﺎ‬
ٌ‫ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮنَ ﺧَﺒِﯿﺮ‬

Jika kamu menampakkan sedekah, maka itu adalah baik sekali. Jika kamu
menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka

5
Ibid., hal. 37
6
Ibid.

4
menyembunyikan itu lebih baik bagimu, dan Allah akan menghapuskan dari kamu
sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(Q.S. Al-Baqarah 271).7

4. At-Taubah: 103 (Madaniyyah)

ٌ‫ﺧُﺬْ ﻣِ ﻦْ أَﻣْﻮَاﻟِﮭِﻢْ ﺻَﺪَﻗَﺔً ﺗُﻄَﮭﱢﺮُھُﻢْ وَﺗُﺰَﻛﱢﯿﮭِﻢْ ﺑِﮭَﺎ وَﺻَﻞﱢ ﻋَﻠَﯿْﮭِﻢْ إِ نﱠ ﺻَﻠَﺎﺗَ ﻚَ ﺳَﻜَﻦٌ ﻟَﮭُﻢْ وَاﻟﻠﱠﮫُ ﺳَﻤِﯿﻊٌ ﻋَﻠِﯿﻢ‬

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui."

Sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Thabrani
dan Baihaqi, bahwa Tsa'labah ibn Hathab meminta doa Rasulullah, "Ya Rasulullah
berdoalah pada Allah supaya Dia memberi rizki harta pada saya!' ……. Kemudian
berkembang-biaklah domba Tsa'labah hingga dia tidak shalat Jum'at dan ikut
jama'ah, lalu turunlah ayat 'Khudz min amwaalihim…..'"8

5. At-Taubah: 60 (Madaniyyah)

ِ‫إِﻧﱠﻤَ ﺎ اﻟ ﺼﱠﺪَﻗَﺎتُ ﻟِﻠْﻔُﻘَ ﺮَاءِ وَاﻟْﻤَ ﺴَﺎﻛِﯿﻦِ وَاﻟْﻌَ ﺎﻣِﻠِﯿﻦَ ﻋَﻠَﯿْﮭَ ﺎ وَاﻟْﻤُﺆَﻟﱠﻔَ ﺔِ ﻗُﻠُ ﻮﺑُﮭُﻢْ وَﻓِ ﻲ اﻟﺮﱢﻗَ ﺎبِ وَاﻟْﻐَ ﺎرِﻣِﯿﻦَ وَﻓِ ﻲ ﺳَ ﺒِﯿﻞِ اﻟﻠﱠ ﮫ‬
ٌ‫وَاﺑْﻦِ اﻟﺴﱠﺒِﯿﻞِ ﻓَﺮِﯾﻀَﺔً ﻣِ ﻦَ اﻟﻠﱠﮫِ وَاﻟﻠﱠﮫُ ﻋَﻠِﯿﻢٌ ﺣَﻜِﯿﻢ‬

7
Ibid.
8
Ibid., hal. 115

5
"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk
mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan
Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Surat al-Muzammil ayat 20 menunjukkan kewajiban zakat sudah ada sejak di


Makkah. Akan tetapi kadar nisabnya belum ditentukan kecuali ketika masa-masa di
Madinah. Begitu juga pada orang yang berhak menerimanya, baru secara jelas dan
terperinci saat di Madinah, yang demikian dapat dilihat pada Surat Madaniyah,
seperti at-Taubah ayat 60.

Seluruh ajaran yang turun pada masa Madinah bertujuan untuk mewujudkan
masyarakat yang lebih mulia dan berbudi luhur, saling mengasihi dan tidak boleh
yang kaya memakan hak orang-orang yang membutuhkan.

D. Hukum Zakat

Zakat sebagai ibadah maliyah sudah disepakati bahwa hukumnya wajib, baik
berdasarkan nash al-Qur’an maupun nash al-Hadits. Banyak sekali ayat-ayat al-
Qur'an yang menunjukkan kewajiban zakat, di antaranya, "Dirikanlah shalat,
tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik." (Q.S.
Al-Muzammil: 20), dan "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian
dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari
bumi untuk kamu." (Q.S. Al-Baqarah: 267)

Secara eksplisit ayat-ayat ini menunjukkan perintah, dan perintah di dalam


ibadah berarti wajib hukumnya. Oleh karena itu suatu kuwajiban bagi orang yang

6
beriman untuk mengeluarkan zakat dan berdosalah bagi orang yang
meninggalkannya.

Kewajiban zakat sudah ada sebelum masa Hijrah ke Madinah. Yang demikian
dapat dilihat pada ayat yang mewajibkan zakat, yaitu ayat Makkiyah. Allah
berfirman, "Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada
Allah pinjaman yang baik." (Q.S. Al-Muzammil: 20). Ibnu Katsir mengatakan, ayat
ini menunjukkan bagi orang yang berpendapat, bahwa kewajiban zakat turun
semenjak di Makkah. Akan tetapi kadar nisabnya belum ditentukan kecuali ketika
masa-masa di Madinah.9

Sedangkan hukum Infak ada yang wajib dan ada yang sunnah:

- Infaq wajib juga disebut zakat sebagaimana yang diterangkan di atas,


kafarat, nadzar dan sebagainya.

- Infak sunnah yaitu infak kepada fakir miskin sesama muslim, infak bencana
alam, infak kemanusiaan dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah,
"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari
secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di
sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 274)

Dengan demikian infaq lebih luas pengertiannya dibandingkan zakat. Karena


infaq mencakup zakat dan juga non zakat.

E. Jenis-Jenis Zakat

Macam-macam zakat yang wajib dikeluarkan adalah zakat Nafs (juga disebut
zakat fitrah) dan zakat Maal (harta).

9
Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Beirut: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi', 1999), jilid.
8, hal. 259

7
Secara umum jenis-jenis yang wajib dizakati tertera dalam surat al-Baqarah:
267:

َ‫ﻣِ ﻦْ ﻃَﯿﱢﺒَﺎتِ ﻣَ ﺎ ﻛَ ﺴَﺒْﺘُﻢْ وَﻣِﻤﱠﺎ أَﺧْﺮَﺟْﻨَﺎ ﻟَﻜُ ﻢْ ﻣِ ﻦ‬: Pertama: Sebagian dari hasil usahamu yang baik-
baik; dari hasil perdagangan, pertambangan dari emas dan perak,10 dan Kedua:
Sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu; dari biji-bijian dan
buah-buahan."11

Lebih jauh lagi, dalam madzhab Hanafiyah berpendapat, yang demikian


bersifat am (umum) dari hasil bumi baik biji-bijian, sayuran ataupun buah-buahan
untuk dizakati.12

Ayat di atas menjadi dasar wajibnya mengeluarkan beberapa jenis zakat, baik
itu harta tijarah (perdagangan), emas, perak ataupun rojo koyo (sapi, kerbau,
kambing dan unta), serta hasil pertanian. Di samping itu, dalam zakat disyaratkan
dengan suatu yang baik dan diperoleh dengan jalan yang halal.

Adapun jenis-jenis harta yang menjadi sumber zakat yang telah dipraktekkan
pada masa Rasulullah, menurut sebagian ulama pada dasarnya ada 4 jenis yaitu 1.
Tanam-tanaman dan buah-buahan (gandum, jelai, kurma dan anggur), 2. Hewan
ternak (domba atau biri-biri, sapi dan unta), 3. Emas dan perak serta, 4. Harta
perdagangan. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman, zakat-zakat atas
harta benda lain dapat diambil melalui qiyas (persamaan) terhadap harta benda yang
pernah dicontohkan Rasulullah dan para Shahabat. Salah satu jenis zakat yang
pendekatannya adalah melalui qiyas adalah zakat profesi. Karena topik ini sangat
penting maka penulis membahas pada sub judul tersendiri.

10
Ibid.
11
Al-Mahilly dan as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain (Kairo: Dar al-Hadits, t.t.), hal. 56
12
Al-Fakhr ar-Razi, Tafsir al-Fakhr al-Razi (Bairut: Dar al-Nasyr, t.t.), jilid. IV, hal. 66-67

8
F. Zakat Profesi

Zakat profesi yaitu zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi bila telah
mencapai nishab zakat, baik itu profesi sebagai pegawai negeri, swasta, wiraswasta,
dan lain sebagainya.

Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Fiqh al-Zakah menukil pendapat


Abdurrahman Hasan dan Abdulwahab Khallaf, tentang kewajiban mengeluarkan
zakat profesi. Mereka berpendapat bahwa pencarian dan profesi dapat diambil
zakatnya bila sudah setahun dan cukup senisab. Nisab tersebut tidak perlu harus
tercapai sepanjang tahun, tapi cukup tercapai penuh antara dua ujung tahun tanpa
kurang di tengah-tengah.13

Oleh karena itu setiap harta yang memenuhi persyaratan zakat harus
dikeluarkan zakatnya walaupun di zaman Rasulullah saw belum ditemukan contoh
konkretnya. Pendapat ini menjadi salah satu keputusan Muktamar Internasional
pertama tentang zakat di Kuwait tanggal 29 Rajab 1404 H., bertepatan 30 April 1984
M. Demikian pula dalam pasal 11 ayat 2 bab IV Undang-Undang No. 38/1999
tentang Pengelolaan Zakat yang memasukkan obyek zakat yang dianggap baru seperti
perusahaan, pendapat, jasa (profesi).

Di antara yang menjadikan dasar kewajiban untuk mengeluarkan zakata


profesi adalah: ْ‫أَﻧْﻔِﻘُ ﻮا ﻣِ ﻦْ ﻃَﯿﱢﺒَﺎتِ ﻣَﺎ ﻛَ ﺴَﺒْﺘُﻢ‬, Nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu
yang baik-baik." (Al-Baqarah: 267)

Zakat profesi sejalan dengan tujuan disyariatkannya zakat, seperti untuk


membersihkan dan mengembangkan harta serta menolong orang-orang yang berhak
mendapatkannya. Zakat profesi juga mencerminkan rasa keadilan yang merupakan
ciri utama ajaran Agama Islam, yaitu kewajiban zakat pada semua penghasilan dan
pendapatan.

13
Yusuf Qardhawi, Fiqh al-Zakat (Bairut: Muassisah al-Risalah, 1981), hal.157

9
G. Mengeluarkan Zakat secara Terang-tearangan dan Sembunyi-sembunyi

Dalam mengeluarkan zakat atau infak boleh dilakukan dengan cara terang-
terangan di depan umum dengan tujuan supaya dicontoh orang lain. Namun, jika
dilakukan dengan terang-terangan dikhawatirkan dapat menimbulkan riya pada diri si
pemberi dan dapat pula menyakitkan hati orang yang diberi, maka mengeluarkan
infak atau zakat dengan cara sembunyi-sembunyi itu lebih baik dari
menampakkannya. Sebgaimana firman Allah,

ْ‫إِنْ ﺗُﺒْﺪُوا اﻟﺼﱠﺪَﻗَﺎتِ ﻓَﻨِﻌِﻤﱠﺎ ھِﻲَ وَإِنْ ﺗُ ﺨْﻔُﻮھَﺎ وَﺗُﺆْﺗُﻮھَﺎ اﻟْﻔُﻘَﺮَاءَ ﻓَﮭُﻮَ ﺧَﯿْﺮٌ ﻟَﻜُﻢ‬

Ibnu katsir menafsirkan, menampakkan sedekah merupakan hal yang baik,


sedangkan menyembunyikan sedekah lebih utama dari menampakkannya, karena
yang demikian menjauhkan dari riya', kecuali menampakkannya menjadi maslahah
yang diikuti oleh orang lain, maka yang demikian lebih utama. Sedangkan asal mula
yang lebih utama adalah secara sembunyi-sembunyi dalam sedekah (zakat atau
infak).14

H. Larangan Berlebih-lebihan dalam Mengeluarkan Zakat

Ulama tabi'in dan fuqaha sepakat tentang ketentuan haul pada beberapa harta
yang wajib dizakati seperti emas, perak, perdagangan, hewan, dan lainnya yang
didasrkan Hadits, "Tidak wajib membayar zakat sampai sudah berlalu 1 tahun." (HR.
Abu Daud). Sedangkan haul tidak berlaku pada zakat pertanian, akan tetapi
dikeluarkan tiap panen. Allah berfirman,

َ‫وَآَﺗُﻮا ﺣَﻘﱠﮫُ ﯾَﻮْمَ ﺣَﺼَﺎدِهِ وَﻟَﺎ ﺗُﺴْﺮِﻓُﻮا إِﻧﱠﮫُ ﻟَﺎ ﯾُ ﺤِﺐﱡ اﻟْﻤُﺴْﺮِﻓِﯿﻦ‬

Ayat ini selain menunjukkan kewajiban untuk mengeluarkan zakat dari hasil
pertanian, ayat ini juga melarang berlebih-lebihan dalam mengeluarkan zakat.

14
Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Beirut: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi', 1999),
jilid. 1, hal. 701

10
Ibnu Katsir menafsirkan (‫ ) وَﻻ ﺗُ ﺴْﺮِﻓُﻮا‬janganlah berlebih-lebihan dalam
memberikan zakat melebihi batasan yang ma'ruf.15 Sedangangkan as-Sa'di
menafsirkan, larangan memakan berlebih-lebihan dalam makan hasil tanaman
sehingga memberatkan untuk mengeluarkan zakat dan larangan berlebih-lebihan
dalam mengelurkan zakat hasil tanaman melebihi yang diwajibkan, sehingga
membahayakan dirinya dan keluarganya (dalam memenuhi kebutuhan rumah
tangga).16

I. Tempat Pelaksaan Pembayaran Zakat

Menurut mazhab Hanafi zakat harus diberikan kepada amil, karena amil
adalah wakil pemerintah dalam mengurus zakat. Dasar dari pendapat ini adalah
firman Allah,

(103 :‫ﺧُ ﺬْ ﻣِ ﻦْ أَﻣْ ﻮَاﻟِﮭِﻢْ ﺻَ ﺪَﻗَﺔً )اﻟﺘﻮﺑ ﺔ‬. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa zakat itu
diambil oleh pemerintah dan ini pula yang dipraktekkan oleh para khulafah al-
Rasidin. Mazhab Hanafi berpendapat, bahwa zakat bukanlah merupakan masalah
pribadi yang berarti pelaksanaannya diserahkan kepada pribadi masing-masing.
Tetapi pelaksanaan zakat harus diawasi oleh masing-masing penguasa. Dilaksanakan
oleh petugas yang rapi dan teratur yang dipungut dari orang yang wajib
mengeluarkan zakat dan diberikan kepada yang berhak menerimanya.

Adapun menurut mazhab Syafi'ie diperbolehkan bagi muzakki memberikan


langsung kepada yang berhak menerimanya. Dasar dari pendapat ini adalah firman
Allah : “Dan orang-orang yang di dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi
orang (miskin) yang meminta-minta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang
tidak mau meminta." (QS. Al-Ma'arij : 24-25). Ayat ini menerangkan bahwa adanya
kebolehan memberikan zakat secara langsung kepada mustahiqnya karena adanya hak

15
Ibid., jilid. III, hal. 349
16
Abdurrahman bin Nashir bin as-Sa'di, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-
Mannan (Bairut: Muassasah al-Risalah, 2000) , jilid. 1, hal. 276

11
orang yang meminta.17 Pendapat ini banyak dipakai di negara yang tidak berdasarkan
hukum Islam. Karena di negara yang tidak berasas Islam, pemerintah tidak
berwewenang untuk mengambil zakat.

Pada dasarnya dibenarkan oleh syariat Islam apabila muzakki memberikan


langsung zakatnya kepada para mustahiq. Akan tetapi, akan lebih lebih baik jika
zakat itu disalurkan lewat amil zakat yang amanah, bertanggung jawab, dan
terpercaya. Ini dimaksudkan agar distribusi zakat itu tepat sasaran, sekaligus
menghindari penumpukan zakat pada mustahiq tertentu yang dikenal sementara
mustahiq lainnya, karena tidak dikenal maka tak mendapatkan haknya. Disamping
itu, ada mustahiq yang berani terang-terangan meminta dan ada pula mustahiq yang
merasa malu untuk meminta.

I. Keutamaan Zakat

Dalam surat at-Taubah: 103, zakat memiliki keutamaan ( ‫)ﺗُﻄَﮭﱢ ﺮُھُﻢْ وَﺗُ ﺰَﻛﱢﯿﮭِﻢْ ﺑِﮭَ ﺎ‬
membersihkan dari noda dosa, dan memperkembangkan harta benda mereka serta
mengangkat derajat dari ahli nifaq menjadi orang yang ikhlas.18 Sedangkan al-Alusi
menafsirkan, dengan zakat dapat menyucikan dari dosa-dosa dan akhlak yang tercela;
menyuburkan akhlak tepuji dan amal shalih; menambah pahala dunia dan akhirat;
serta harta menjadi bertambah.19

Disamping itu, keutamaan-keutaman zakat atau infaq di dalam al-Qur'an, di


antaranya adalah:

1. Dosa-dosa akan dihapuskan (Q.S. Al-Baqarah 271)

17
Yusuf Qardhawi, Fiqh al-Zakat, h. 759
18
Abu Ja'far al-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an (Bairut: Muassasah al-Risalah,
2000 M), jilid. XIV, hal. 454
19
Abdurrahman bin Nashir bin as-Sa'di, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-
Mannan (Bairut: Muassasah al-Risalah, 2000) , jilid. 1, hal. 350

12
2. Sebagai indikator utama kedudukan seseorang dalam Islam (Q.S. At-Taubah:
5 dan 11)

3. Sebagai ciri orang yang mendapatkan kebahagiaan (Q.S. Al-Mu'minuun: 1-4)

4. Akan mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah SWT (Q.S. At-Taubah: 71)

5. Sebagai orang yang memperhatikan hak fakir miskin dan para mustahiq (Q.S.
At-Taubah: 60)

6. Ciri utama orang yang bertakwa (Q.S. Al-Baqarah: 2-3),

7. Ciri mukmin yang mengharapkan balasan yang abadi dari Allah SWT (Q.S.
Faathir: 29)

8. Pahala yang berlipat ganda (Q.S. Ar-Rum: 39)

K. Yang Berhak Menerima Zakat

Orang-orang yang berhak menerima zakat, baik itu zakat mal atau zakat nafs/
fithrah ada 8 golongan, sebagaimana yang tertera dalam surat at-Taubah: 60:

ِ‫إِﻧﱠﻤَ ﺎ اﻟ ﺼﱠﺪَﻗَﺎتُ ﻟِﻠْﻔُﻘَ ﺮَاءِ وَاﻟْﻤَ ﺴَﺎﻛِﯿﻦِ وَاﻟْﻌَ ﺎﻣِﻠِﯿﻦَ ﻋَﻠَﯿْﮭَ ﺎ وَاﻟْﻤُﺆَﻟﱠﻔَ ﺔِ ﻗُﻠُ ﻮﺑُﮭُﻢْ وَﻓِ ﻲ اﻟﺮﱢﻗَ ﺎبِ وَاﻟْﻐَ ﺎرِﻣِﯿﻦَ وَﻓِ ﻲ ﺳَ ﺒِﯿﻞِ اﻟﻠﱠ ﮫ‬
ٌ‫وَاﺑْﻦِ اﻟﺴﱠﺒِﯿﻞِ ﻓَﺮِﯾﻀَﺔً ﻣِ ﻦَ اﻟﻠﱠﮫِ وَاﻟﻠﱠﮫُ ﻋَﻠِﯿﻢٌ ﺣَﻜِﯿﻢ‬

8 golongan tersebut adalah:

1. ‫ ِ( اﻟْﻔُﻘَ ﺮَاء‬Orang-orang fakir): dalam mazhab Syafi i adalah orang yang tidak punya
harta dan tidak punya usaha atau juga punya harta dan usaha, akan tetapi tidak
mencukupi kebutuhan dengan perbandingan yang sangat jauh, seperti orang yang
kebutuhannya 10, akan tetapi dia hanya punya dua.20

2. ‫( اﻟْﻤَ ﺴَﺎﻛِﯿﻦ‬Orang-orang miskin): dalam mazhab Syafi i adalah orang yang punya
harta dan usaha akan tetapi tidak mencukupi kebutuhannya, seperti orang yang

20
Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ;ala Mazahib al-Arba'ah (Beirut : Dar al-Fikri, 1995), Jilid
II, h. 625

13
kebutuhannya 10 tetapi dia hanya memiliki 7 atau sederhananya dia memiliki harta
separoh atau lebih.21

3. ‫( اﻟْﻌَ ﺎﻣِﻠِﯿ ﻦَ ﻋَﻠَﯿْﮭَ ﺎ‬Para pengurus zakat): orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan
dan membagikan zakat.

4. ْ‫( اﻟْﻤُﺆَﻟﱠﻔَ ﺔِ ﻗُﻠُ ﻮﺑُﮭُﻢ‬Para muallaf): orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang
yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.

5. ِ‫( اﻟﺮﱢﻗَ ﺎب‬Memerdekakan budak): mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang
ditawan oleh orang-orang kafir.

6. َ‫( اﻟْﻐَﺎرِﻣِﯿﻦ‬Orang-orang berhutang): orang yang yang mempunyai hutang karena


untuk kepentingan yang bukan maksiat dan dia tidak sanggup membayarnya.

7. ِ‫( ﻓِ ﻲ ﺳَ ﺒِﯿﻞِ اﻟﻠﱠ ﮫ‬Fisabilillah): Yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum
muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup
juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan
lain-lain.

8. ِ‫( اﺑْ ﻦِ اﻟ ﺴﱠﺒِﯿﻞ‬Ibnu Sabil): orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat
yang mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

Para ulama berbeda pendapat apakah zakat itu wajib diberikan kepada 8
golongan secara merata atau boleh diberikan kepada sebagian saja. Begitu juga ada
perbedaan pendapat dalam pemberian zakat pada masing-masing golongan.

Dalam mazhab Syafi i jumlah orang yang berhak menerima zakat adalah 8
golongan sebagaimana terdapat dalam sura al-Taubah ayat 60. Dasar pendapat ini
adalah karena dalam surat al-Taubah ayat 60 disebutkan dengan memakai ( ِ‫ ) ﻟ ـ‬lam
Tamlik (kepunyaan) yang berarti zakat adalah hak milik dari delapan golongan
tersebut. Hal ini wajib dilaksanakan selama golongan tersebut memang ada akan
tetapi jika tidak ada maka yang ada saja. Dan juga dalam masing-masing asnaf harus

21
Al-Qurthubi, al-Jami' al-Ahkam (Riyadh: Dar 'Alim al-Kutub, 2003), jilid. VIII, h. 169

14
diberikan sekurang-kurangnya tiga orang. Dasar pendapat ini adalah karena dalam
surat al-Taubah ayat 60 disebutkan dengan lafaz jama'. Dalam bahasa Arab, minimal
dari jama adalah 3 (tiga).22

Sedangkan menurut mazhab Hanafi boleh memberikan zakat fitrah kepada


suatu golongan saja. Dasar dari pendapat ini adalah karena dalam surat al-Taubah: 60
tersebut disebutkan untuk takhyir (pilihan) bukan untuk mengkhususkan. Adapun
dalam setiap golongan mustahiq dibolehkan memberikan zakat kepada satu orang
saja. Dasar dari pendapat ini adalah karena dalam ayat tersebut penggunaan lafaz
ma'rifah dengan alim lam ( ‫ ) اﻟـ‬mengandung arti majaz bukan hakiki.

Dari keterangan tersebut ada perbedaan pendapat antara madzhab Syafi'ie dan
madzhab Hanafie, namun kalau dilihat dari dhahir ayat, maka pendapat dalam
madzhab Syafi'ie lebih rajih.

L. Kesimpulan

Islam adalah agama yang memperhatikan kesejahteraan sosial. Hal ini dapat
dilihat dari adanya aturan tentang kewajiban membayar zakat dan memberikan infak.
Zakat dan infak merupakan transfer sederhana dari bagian dengan ukuran tertentu
harta si kaya untuk dialokasikan kepada si miskin

Infak ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Infak yang wajib juga dapat
disebut sebagai zakat.

Secara umum jenis-jenis yang wajib dizakati adalah hasil usaha dan hasil
bumi. Adapun zakat profesi wajib dikeluarkan, karena termasuk pada hasil usaha
yang harus dizakati.

22
Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, (Beirut : Dar al-Fikr al-Mu'ashir, 1998), jilid II, h.
730.

15
Dalam memberikan zakat atau infak sebaiknya secara sembunyi-sembunyi,
dan diperbolehkan secara terang-terangan jika tidak dikhawatirkan akan riya'. Begitu
juga dalam memberikan zakat tidak diperbolehkan secara berlebihan hingga
menyengsarakan muzakki dan keluarganya.

Sebaiknya zakat disalurkan lewat amil zakat yang amanah dan terpercaya,
agar pembagian zakat merata. Sedangkan orang yang berhak menerima zakat ada 8,
yaitu fakir, miskin, amil zakat, mu'allaf, budak, orang berhutang, fi sabilillah dan
ibnu sabil.

16
REFERENSI

Al-Khatib, Asy-Syarbini, al-Iqna' fi Halli Alfadz Abi Syuja' (Bairut: Dar al-Fikr, 1415
H), jilid.I

Al-Jaziri, Abdurrahman, al-Fiqh ;ala Mazahib al-Arba'ah (Beirut : Dar al-Fikri,


1995), Jilid II

Al-Qurthubi, al-Jami' al-Ahkam (Riyadh: Dar 'Alim al-Kutub, 2003), Jilid VIII

Ar-Ramli, Syamsuddin al-Anshari, Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj ((Bairut:


Dar al-Fikr, 1984), jilid.III

Ar-Razi, al-Fakhr, Tafsir al-Fakhr al-Razi (Bairut: Dar al-Nasyr, t.t.), jilid. I

As-Sa'di, Abdurrahman bin Nashir bin, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam
al-Mannan (Bairut: Muassasah al-Risalah, 2000) , jilid. 1

As-Suyuthi, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Bairut: Dar Ihya' al-Ulum, t.t.)

As-Suyuthi, Al-Mahilly dan, Tafsir al-Jalalain (Kairo: Dar al-Hadits, t.t.)

At-Thabari, Abu Ja'far, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an (Bairut: Muassasah al-
Risalah, 2000 M), jilid. V

Az-Zuhaili, Wahbah, Tafsir al-Munir, (Beirut : Dar al-Fikr al-Mu'ashir, 1998), jilid II

Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Beirut: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi',
1999), jilid. 1

Musthafa, Ibrahim, al-Mu'jam al-Wasith, (Riyadh: Dar al-Da'wah, t.t.), jilid I dan II

Qardhawi, Yusuf, Fiqh al-Zakat (Bairut: Muassasah al-Risalah, 1981)

17