Anda di halaman 1dari 24

ILMU PENGETAHUAN DAN AKTIVITAS PENELITIAN

SERTA TELAAH PUSTAKA

Makalah
Yang dipresentasikan pada tanggal 14 april 2008
Pada mata kuliah Metode Penelitian Sejarah dan Pemikiran Islam
Sebagai prasyarat perkuliahan

Oleh:

Muhammad Syafi’ie WS
Nim: 070303100

Prof. DR. H. Jufri Suyuthi Pulungan, MA


Dosen Pengampu

KONSENTRASI TAFSIR HADITS


PROGRAM STUDI SEJARAH PERADABAN ISLAM
PASCASARJANA IAIN RADEN FATAH PALEMBANG
2008
1
ILMU PENGETAHUAN DAN HUBUNGANNYA
DENGAN AKTIVITAS PENELITIAN SERTA TELAAH PUSTAKA
Oleh: M. Syafi'i WS al-Lamunjani

A. PENDAHULUAN

Hasrat ingin tahu manusia terpuaskan kalau dia memperoleh pengetauan mengenai hal
yang dipertanyakannya. Pengetahuan yang diinginkannya adalah pengetahuan yang benar.
Pengetahuan yang benar atau kebenaran memang secara inhaerent dapat dicapai manusia, baik
melalui pendekatan non-ilmiah maupun pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah menuntut
dilakukannya cara-cara atau langkah-langkah tertentu dengan perurutan tertentu agar dapat
dicapai pengetahuan yang benar itu. Yang tidak lain di antaranya yaitu dengan penelitian.

Dengan penelitian ilmiah secara terancang dan sistimatis, maka akan muncul ilmu
pengetahuan baru yang akan bermanfaat bagi manusia. Oleh karena itu, agar seorang peneliti
mencapai maksimal dalam penelitiannya, seharusnya ia mengatahui aktivitas-aktivitas dalam
penelitian dengan sebaik mungkin.

Begitu halnya dalam telaah pustaka, seorang peniliti dalam penelitian apapun sebaiknya
tidak lepas dari studi pustaka. Ini dikemukakan agar seorang peneliti mencapai penelitiannya
secara optimal.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang ilmu pengetahuan, hubungan ilmu
pengetahuan dengan penelitian, aktivitas-aktivitas penelitian (yang meliputi: persiapan dan
perencanaan aktivitas penelitian, pelaksaan aktivitas penelitian, dan aktivitas akhir penelitian)
dan telaah pustaka.

B. ILMU PENGETAHUAN

Ilmu secara etimologis adalah tahu. Kata ilmu bersal dari bahasa Arab ‘alima-ya’lamu-
‘ilman. Sedangkan secara terminologis ilmu adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-
ciri, tanda dan sarat-sarat tertentu.1

1
Rosjidi, Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), hal. 42.

2
Dalam kamus bahasa Indonesia, ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang
disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala tertentu di bidang penegtahuan itu.2

Sebagai hasil atau produk berpikir, maka ilmu adalah merupakan sekumpulan
pengetahuan yang tersusun secara sistematis, memiliki data, objektif, rasional, bermetode dan
kebenarannya serta ketepatannya dapat diuji secara emperis.

Sedangkan pengetahuan (knowledge) menurut DR. M.J. Langevela adalah kesatuan


kesatuan subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui satu kesatuan dalam nama objek itu
dipandang oleh subjek sebagai diketahuinya.3

Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu sistem yang bersal dari
pengamatan studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang
sedang dipelajari.

Untuk memperoleh pengetahuan yang benar, salah satunya adalah dengan menggunakan
ilmu. Sesuatu yang bersifat ilmu adalah ilmiah. Ilmu yag diperoleh dari hasil penelitian atau studi
disebut ilmu pengetahuan.4 Di sini terdapat perbedaan antara penegtahua dan ilmu penegetauan.
Pengetahuan bisa disebut sebagai ilmu jika pengetahuan itu sistematis, metodis, koheren.
Sistematis dalam arti penegetauan itu disusun dalam sistem tertentu. Metodis dalam arti bahwa
pengetahuan itu diperoleh dan dikembangkan berdasarkan metode tertentu. Yang terakhir,
koheren dalam arti bahwa pengetauan itu merupakan suatu kesatuan yang padu yang masing-
masing bagiannya saling mendukung sampai terbentuk suatu harmoni (tumbuhan pengetahuan
yang kompak).

Sedangkan komponen utama dari sistem ilmu pengetahuan adalah: a) perumusan


masalah, b) pengamatan dan deskripsi, c) penjelasan, d) perumusan dan control.5

Ilmu pengetahuan merupakan kebenaran dan keyakinan yang bersesuaian dengan


realitas serta dapat dibuktikan kebenarannya. Ilmu merupakan salah satu hasil usaha manusia
untuk memparadab dirinya.
2
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), hal. 370.
3
Rosjidi, Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat, hal. 40.
4
Husain Umar, Metode penelitian Aplikasi dalam Pemasaran (Jakarta: Gramedia,1999), hal. 13
5
Jujun, Ilmu dalam Perspektif (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994), hal. 111.

3
C. HUBUNGAN ILMU PENGETAHUAN DENGAN PENELITIAN

Ilmu pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu yang merupakan ciri khas manusia
dan juga manusia butuh terhadap ilmu tersebut. Manusia selalu ingin berupaya untuk menemukan
landasan pikiran baru untuk mengantisipasi perubahan dan perkembangan kebutuhan berdasarkan
penelitian yang memunculkan pengetahuahuan baru yang memperluas cakrawala-cakrawala
pengetahuan dari batas-batas ketidaktahuan. Dari sini tampak jelas, bahwa hubungan antara
penelitian dan pengetahuan sangat erat.

Aristoteles mengawali metafisikanya dengan pernyataan, “Setiap manusia dari


kodratnya ingin tahu.” Dia begitu yakin mengenai hal itu sehingga dorongan untuk tahu ini tidak
hanya disadari, tetapi benar-benar diwujudkan di dalam karyanya sendiri. Bukannya tanpa alasan
bahwa dia disebut “master” dari yang tahu.6

Penelitian merupakan aktivitas menelaah suatu masalah dengan menggunakan metode


penelitian ilmiah secara terancang dan sistimatis untuk menemukan ilmu penetahuan baru yang
terandalkan kebenarannya (objektif dan shahih) mengenai dunia alam atau dunia sosial.7 Menurut
Karlinger, penelitian ilmiah adalah penelitian yang sistimatis, terkontrol, emperis, dan
penyelidikan kritis dari proposisi-proposisi hipotesis tentang hubungan yang diperkirakan antara
gejala alam. Definisi ini telah banyak dianut (diakui di mana-mana) oleh para ahli peneliti.8

Dengan demikian penelitian merupakn usaha untuk menemukan, mengembangkan dan


menguji suatu kebenaran ilmu pengetahuan yang dilaksanakan dengan mengunakan metode
penelitian ilmiah.

Semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi, semakain tampak dan terasa jelas
perpaduan atantara ilmu dan penelitian. Karena itu, sulitlah kiranya bagi kita untuk
memisahkannya.

Paduan ilmu dan penelitian dapat diibaratkan tajamnya sebilah keris, mesti mempunyai
dua sisi yang masing-masing tajam, dan ketajaman itu terpadu pula dengan ujungnya yang
runcing. Keruncingan ujungnya sebagai penentu sasaran yang kejituan serat efektifitasnya sangat

6
Hardono Hadi, Epistemologi, Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisus, 1994), hal. 13.
7
Samapiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial: Dasar-dasar dan Aplikasi (Jakarta,1989), hal. 10.
8
Consuelo G. Sevilla, Pengantar Metode Penelitian (Jakarta: UI, 1993), hal. 2.

4
ditentukan oleh ketajaman kedua sisinya. Begitulah ilmu penelitian, kualitas ilmu dan penelitian
akan sangat menetukan kejituan dan efektifitas praktek penggunaan ilmu itu. Jadi tugas ilmu dan
penelitian sangat identik.9

Tanpa adanya penelitian, pengetahuan tidak akan bertambah maju. Padahal pengetahuan
adalah dasar semua tindakan dan usaha. Jadi penelitian sebagi dasar untuk meningkatkan
pengetahuan yang harus diadakan agar meningkat pula pencapaian usaha-usaha manusia.

Adapun tugas-tugas ilmu dan penelitian dapat disebut sebagi berikut:10

1. Tugas mengadakan deskripsi; ilmu dan penelitian bertugas untuk menggambarkan


secara jelas dan cermat tentang hal-hal yang dipersoalkannya. Tugas ini anatara lain
meliputi mencatat gejala-gejala, menggolong-golongkan gejala/data dan memberi ciri
khusus terhadap gejala-gejala yang khas atau istemewa.

2. Tugas menerangkan (ekspansi); tugas ini meliputi usaha-usaha untuk menerangkan


sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang mendasar munculnya gejal-gejala dan terjadinya
peristiwa-peristiwa serta akibat-akibat yang mungkin timbul dari adanya gejal-gejala
itu.

3. Tugas menyusun teori; tugas ini meliputi usaha-uisaha untuk mencari dan merumuskan
hukum-hukum atau atauran-aturan mengenai hubungan antara gejala yang satu dengan
gejala yang lain atau kondisi yang satu dengan kondisi yang lain atau peristiwa yang
satu dengan peristwa yang lain.

4. Mencari hukum berarti berusaha untuk mendapat aturan-aturan baru atau berusaha
untuk menemukan pengimbangan hukum-hukum baru berdasar hukum-uhkum atau
aturan-atuaran lama yang mendahului. Merumuskan hukum atau aturan berarti berusaha
untuk menyusun rumusan, definisi atau dalil tentang hubungan dengan gejala, peristiwa
dengan peristiwa kindisi dengan kodisi.

5. Tugas prediksi; tugas prediksi berarti tugas untuk membuat ramnalan serta menyusun
estimasi dan proyeksi mengenai peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi atau gejala-
gejala yang mungkin muncul dari suatu proses tentang suatu hal. Sebagai missal kiranya

9
Cholid Narbuko, Metodologi penelitian (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), hal. 32.
10
Ibid., hal. 32-34.

5
sudah baik bila seseorang dapat menjelaskan bahwa jika anak makan-makanan yang
cukup bergizi akan sehat jasmaninya dan baik pertumbuhannya. Tetapi tugas prediksi
tidak hanya membuat lamaran seprti itu saja. Disamping itu diperlukan pula suatu
konsep tentang kondisi-kondisi yang bagaimanakah makanan dikatakan bergizi dan
dikatakan sehat serta pertumbuhan dikatakan baik.

6. Tugas pengendalian; ilmu dan penelitian tidak hanya bertugas untuk menggambarkan,
menerangkan, menysun teori, membuat lamaran, estimasi dan proyeksi seperti yang
telah diuraiukan. Lebih dari itu, tugas yang tidak kalah penting dibandingkan dengan
tugas-tuigas tersebut ialah tugas untuk melaksanakan tindakan-tindakan atau koreksi
untuk menegen dalikan gejal-gejala, kondisi-kondisi atau kejadian-kejadian.

D. AKTIVITAS PENELITIAN

Aktivitas-aktivitas penelitian dalam makalah ini dibagi menjadi tiga bagian: 1)


Persiapan dan Perencanaan Aktivitas Penelitian, yang meliputi: memilih masalah, studi
pendahuluan, merumuskan masalah, merumuskan anggapan dasar dan hipotesis, menyusun
proposal dan memilih pendekatan, b) Pelaksaan Aktivitas Penelitian, yang meliputi: menentukan
variabel dan sumber data, menentukan dan menyusun instrumen, mengumpulkan data dan
analisis data, dan c) Aktivitas Akhir Penelitian, yang meliputi: menarik kesimpulan dan
menyusun laporan.

A. Persiapan dan Perencanaan Aktivitas Penelitian

1. Menemukan dan Menetapkan Masalah

Masalah merupakan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor
atau lebih yang menghasilkan situasi yang mebingungkan. Faktor yang berhubungan tersebut
dalam hal ini mungkin berupa kosep, data emperis, pengalaman, atau unsur lainnya. Jika dua
faktor itu didudukkan berpasangan akan mengahasilkan jumlah kesukaran, yaitu suatu yang tidak
dipahami atau tidak diterangkan pada waktu itu.11

11
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hal. 62.

6
Sedangkan Fred N. mengatakan, masalah adalah sebuah kalimat tanya atau pertanyaan
yang menanyakan: Hubungan apakah yang terdapat antara dua variabel atau lebih? Jawabnya
adalah yang dicari di dalam penelitian.12

Titik tolak penelitian jenis apapun tidak lain bersumber pada masalah. Tanpa masalah
penelitian itu tidak dapat dilaksanakan.13 Besar maupun kecil, sedikit maupun banyak, setiap
orang mesti memiliki masalah. Hanya bedanya, ada masalah yang dapat seketika diatasi, tetapi
ada pula yang memerlukan penelitian. Akan tetapi ada masalah penelitian yang juga tidak dapat
dipecahkan melalui penelitian karena berbagai sebab, antara lain karena tidak tersedia datanya.
Memilih masalah bukanlah pekerjaan yang terlalu mudah terutama bagi oran-orang yang belum
banyak berpengalaman meneliti. Untuk ini diperlukan kepekaan dari calon peneliti.

Adapun beberapa karekteristik masalah yang baik yaitu: topik atau judul yang kita pilih
harus menarik, pemecahan masalah itu harus bermanfaat bagi orang-orang yang berkepentingan,
masalah itu merupakan hal yang baru, mengandung rancangan yang lebih kompleks, dapat
diselesaikan tepat pada waktu yang diinginkan dan yang tidak bertentangan dengan moral.14

Seorang peneliti harus benar-benar memahami permasalahan penelitiannya. Masalah


penalitian dapat diambil dari berbagai sumber, baik itu dari pengalaman pekerjaan dalam sehari-
hari, hasil membaca (menelaah buku-buku) atau masalah yang diperoleh dari orang lain.

2. Studi Pendahuluan

Walaupun sudah diperoleh suatu masalah untuk diteliti, sebelum mengadakan penelitian
yang sesungguhnya, peneliti mengadakan suatu studi pendahuluan, yaitu menjaga kemungkinan
diteruskannya pekerjaan peneliti. Prof. DR. Winarno menyebutnya sebagai studi eksplotaris.
Studi pendahuluan juga dimaksudkan unutuk mencari informasi yang diperlukan oleh peneliti
agar masalahnya menjadi lebih jelas kedudukannya.15

12
Fared N. Kalinger, Asas-asas Penelitian Behavioral, (Yogyakarata: Gajah Mada University Press,
1986), hal. 28.
13
Ibid., hal. 61.
14
Consuelo G. Sevilla, Pengantar Metode Penelitian, hal. 5-6.
15
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, hal. 22.

7
Sumber pengumpulan informasi untuk mengadakan studi pendahuluan ini dapat
dilakukan tiga objek yang disingkat dengan 3P, yaitu: 1) paper; yang berupa tulisan-tulisan di
atas kertas, 2) person; bertemu, bertanya dan berkonsultasi dengan para ahli atau manusia
sumber, 3) place; tempat, lokasi atau benda-benda yang terdapat di tempat penelitian.16

Di dalam mengadakan studi pendahuluan, mungkin ditemukan bahawa orang lain sudah
berhasil memecahkan masalah yang ia ajukan sehingga dia mebatalakan penelitiannya. Mungkin
juga ditemukan masalah yang diteliti hampir sama atau sama tapi belum terjawab persoalannya,
sehingga calon peneliti bisa dapat mengetahui metode apa yang digunakan oleh peneliti
sebelumnya, apa saja yang sudah dicapainya, bagian mana yang belum terjawab dan faktor apa
yang mendukung serta hambatan-hambatannya.

3. Merumuskan Masalah

Apabilah telah diperoleh informasi yang cukup dari studi pendahuluan/studi eksplotaris,
maka masalah yang akan diteliti menjadi jelas.

Sebagaiman disebutkan bahwa, titik tolak penelitian jenis apapun tidak lain bersumber
pada masalah. Tanpa masalah penelitian itu tidak dapat dilaksanakan. Masalah tersebut sudah
harus dipikirkan dan dirumuskan secara jelas, sederhana dan tuntas. Hal itu disebabakan oleh
seluruh unsur penelitian lainnya akan berpangkal pada perumusan masalah tersebut.17

Adapaun penjelasan tentang permasalahan yang akan dirumuskan meliputi:18 1)


penegasan judul; dengan penegasan judul, maka akan menjadi jelas apa yang akan diteliti, dari
mana data diperoleh, bagaimana mengumpulkan data, bagai mana menganalisis data dan
sebagainya, 2) alasan pemilihan judul; yang demikian, peneliti diharapkan dapat memberikan
sebab-sebab ia memberi judul atas permasalah tersebut. Alasan tersebut antara lain; pentingnya
masalah tersebut diteliti, karena akan membawa pelaksanaan kerja yang lebih efektif, menarik
minat peneliti dan sepanjang pengetahuan peneliti belum ada orang lain yang meneliti, 3)
problematika; ini merupakan bagian pokok dari suatu kegiatan penelitian. Langkahnya disebut

16
Ibid., hal. 41.
17
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, hal. 61.
18
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hal. 48-53.

8
perumusan masalah atau perumusan problematika. Di dalam langkah ini peneliti mengajukan
pertanyaan terhadap dirinya tentang hal-hal yang akan dicari jawabannya melalui kegiatan
penelitian, 4) tujuan penelitian; apakah probelematika penelitian dikemukakan dalam kalimat
pertanyaan, maka tujuan penelitian dirumuskan dalam kalimat pertanyaan. Tujuan penelitian
adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian
selesai, dan 5) kegunaan hasil penelitian; rumusan kegugunaan hasil penelitian adalah kelanjutan
dari tujuan penelitian. Apabila peneliti telah selesai mengadakan penelitian dan memperoleh
hasil, ia diharapkan dapat menyumbangkan hasil itu pada Negara, atau khususnya pada bidang
yang diteliti.

Seluruh unsur penelitian lainnya akan mengacu pada perumusan masalah. Oleh
karenanya, agar penelitian dapat dilaksanakan sebaik-baiknya, maka peneliti harus merumuskan
masalahnya sehingga jelas dari mana harus dimulai, kemana harus pergi, dan dengan apa proses
penelitian.

4. Menyusun Proposal

Dalam aktivitas penelitian, sebelum melangkah lebih lanjut, seorang peneliti harus
terlebih dahulu mendeskripsikan segala masalah-masalah yang berkaitan dengan penelitian
tersebut, yaitu penyusunan proposal.

Salah satu terpenting dalam tahap persiapan penelitian adalah penyusunan proposal
penelitian (research proposal). Proposal peneliian adalah pedoman kerja dalam melaksanakan
keseluruhan kegiatan penelitian dan bertujuan untuk memberikan penjelasan secara rinci
mengenai seluk beluk penelitian yang direncanakan.19 Proposal merupakan rancangan tertulis
yang sedapat mungkin disusun oleh peneliti, baik sendiri maupun bersama dengan orang lain.20

Melly Tan mengemukakan delapan langkah penyusunan proposal penelitian, yaitu: 1)


latar belakang pemasalahan, 2) penentuan ruang lingkup penelitian, 3) pemeriksaan tulisa-tulisan
yang berkenaan dengan masalah tersebut, 4) perumusan kerangka teoritis, 5) penentuan kosep-

19
Zulkifli, Penyusunan Proposal Pene;itian (Sumsel: Unsri, 2001), hal. 39.
20
Suharismi Arikunto, Manajemen Penelitian, hal. 25.

9
konsep, 6) perumusan hipotesis, 7) pemilihan metode pelaksanaan penelitian, dan 8) perencanaan
sampeling.21

Sedangkan format proposal penelitian yang cukup memadai dan teruji dikutip dari
pedoman usulan penelitian yang sudah dibakukan oleh Dektorat Penelitian dan Pengabdian pada
Masyarakat, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdikbud RI mengandung unsur-unsur
sebagi berikut: 1) judul penelitian dan nama peneliti, 2) bidang ilmu/teknolgi, 3)
pendahuluan/latar belakang masalah, 4) perumusan masalah, 5) tinjauan pustaka, 6) tujuan
penelitian, 7) manfaat hasil penelitian, 8) metode penelitian, 9) jadwal waktu penelitian, 10)
personalia penelitian, 11) perkiraan biaya penelitian, 12) lampiran-lampiran.22

Sebagai sebuah pedoman, proposal penelitian tentunya harus disusun secara oprasional
dan jelas sehingga betul-betul dapat dijadikan pedoman kerja bagi peneliti dan dapat dipahami
oleh pihak penilai atau pemberi dana. Penyusunan proposal yang baik membutuhkan aktivitas
dan kreativitas intelektual yang berdasar atas kehandalan logika, pemahaman metodologi ilmiah
dan wawasan keilmuan. Dengan memiliki proposal penelitian peneliti telah memiliki peta
perjalanan yang mantap.

5. Merumuskan Anggapan Dasar dan Hipotesis

Anggapan Dasar

Anggapan dasar (asumsi) adalah kenyataan penting yang dianggap benar tetapi belum
terbukti kebenarannya,23 yang akan berfungsi sebagai hal-hal yang dipakai bentuk tempat
berpijak bagi peneliti didalam melaksakan penelitiannya. Misalakan kita akan mengadakan
tentang prestasi belajar siswa, kita mempunya anggapan dasar bahwa prestasi belajar siswa
adalah berbeda-beda, tidak seragam. Jika prestasi belajar ini seragam, maka bukanlah merupakan
variabel yang perlu diteliti.24

21
Zulkifli, Penyusunan Proposal Pene;itian, hal. 44.
22
Sayuti Ali, Metodologi Penelitian Agama; Pendekatan Teori dan Praktek (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2002), hal. 149.
23
Consuelo G. Sevilla, Pengantar Metode Penelitian, hal. 17.
24
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, hal. 23.

10
Jadi, tujuan peneliti perlu merumuskan anggapan dasar adalah; 1) agar ada dasar
berpijak yang kukuh bagi masalah yang sedang diteliti, 2) untuk mempertegas variabel yang
menjadi pusat perhatian, dan 3) guna menentukan dan merumuskan hipotesis.

Dengan demikian anggapan dasar dapat dikatakan asumsi dasar. Anggapan dasar harus
didasarkan atas kebenaran yang telah diyakini oleh peneliti. Untuk dapat merumuskan anggapan
dasar, seorang peneliti harus banyak-banyak mencari informasi dari berbagai sumber.

Hipotesis

Setelah peneliti mengadakan penelaahan yang mendalam terhadap berbagai sumber


untuk menentukan anggapan dasar, maka langkah berikutnya adalah merumuskan hipotesis.

Ditinjau dari segi etimologis, kata hipotesis bersal dari akarkata hypo yang berarti sub-
(contoh subordinasi) dan tithenai yang berarti to place, meletakkan, menempatkan. Kata ini
kemudian manjadi thesis yang artinya dalil, proposisi atau suatu pernyataan.25

Hipotesis adalah pernyataan dugaan tentang hubungan antara dua vareabel atau lebih.
Hipotesis selalu mengambil bentuk kalimat pernyataan dan menghubungkan-secara umum atau
khusus-variabel yang satu dengan yang lain.26

Jika anggapan dasar merupakan dasar pikiran yang memungkinkan kita mengadakan
penelitian tentang permasalahan kita, maka hipotesis merupakan kebenaran sementara yang
ditentukan oleh peneliti, tetapi harus dibuktikan dengan atau dites kebenarannya.

Cukup jelas, bahwa hipotesis merupakan alat yang penting dalam penelitian ilmiah. Ada
tiga alasan utama yang menopang pandangan ini: Pertama, hipotesis dapat dikatakan sebagai
piranti kerja teori. Hipotesis dapat dirunut atau dijabarkan dari teori dan dari teori hipotesis lain.
Kedua, hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan betul dan salahnya. Fakta-fakta yang
yang terisolasi tidaklah diuji dengan cara relasi (hubungan), karena hipotesis adalah proposisi
relasional. Ketiga, hipotesis merupakan alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan,

25
Talizuduhu Ndraha, Research; Teori Metodologi Administrasi (Jakarta: Bina Aksara, 1985), hal. 50.
26
Fared N. Kalinger, Asas-asas Penelitian Behavioral, hal. Hal. 30.

11
kareana membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Sungguhpun disusun manusia,
hipotesis itu ada dan dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan betul atau salahnya.27

Adapun persyaratan dalam hipotesis, menurut Borg yang dibantu oleh temannya (Gall)
sebagai berikut: Pertama, hipotesis harus dirumuskan dengan singkat dan jelas. Kedua, hipotesis
harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua atau lebih variable. Ketiga,
haipotesis harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian
yang relevan.28

Sedangkan jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian ada dua:29 1) hipotesis kerja
atau disebut dengan hipotesis alternatif, disingkat Ha. Hipotesis kerja menyatakan adanya
hubungan antara variable X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok, dan 2) hipotesis
nol, disingkat Ho. Hipotesis nol sering juga disebut dengan hipotesis statistik, karena biasanya
dipakai dalam penelitian statistik; yaitu diuji dengan perhitungan statistik. Hipotesis nol
menyatakan tidak adanya perbedaan antara dua variable atau tidak adanya pengaruh variable X
terhadap variable Y.

Ada bebarapa fungsi hipotesis dalam penelitian, yaitu: 1) hipotesis memperkenalkan


peneliti untuk berpikir dari awal suatu penelitian, 3) hipotesis menentukan tahap-tahap atau
prosedur suatu penelitian, dan 4) hipotesis membantu menetapkan bentuk untuk penyajian,
analisis dan interpretasi data.30

Hipotesis merupakan harapan-harapan yang dinyatakan oleh peneliti mengenai


hubungan antara variable-variabel di dalam masalah penelitian. Jadi hipotesis ini suatu
pernyataan masalah yang spesifik, karena di dalamnya terdapat penjelasan sementara tentang
suatu gejala-gejala atau kejadian-kejadian tertentu.

27
Fared N. Kalinger, Asas-asas Penelitian Behavioral, hal. Hal. 32-33.
28
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, hal. 66.
29
Ibid., hal. 67.
30
Consuelo G. Sevilla, Pengantar Metode Penelitian, hal. 15-16.

12
6. Memilih Pendekatan

Yang dimaksud dengan “Pendekatan” disini adalah metode atau cara mengadakan
penelitian seperti halnya: eksprimen atau non-eksprimen. Tetapi di samping itu juga
menunjukkan jenis atau tipe penelitian yang diambil, dipandang dari segi tujuan misalnya
deskriptif atau histories. Masih ada lagi pandanga pendekatan ini akan sangat menentukan subjek
penelitian atau sumber di mana kita memperoleh data.31

Adapun factor-faktor yang mempengaruhi jenis pendekatan antara lain: 1) tujuan


penelitian, 2) waktu dan dana yang tersedia, 3) tersedianya subjek penelitian, dan 4) minat atau
selera peneliti.32

Dengan demikian ada beberapa alternatif pendekatan yang dapat diambil oleh peneliti
dalam membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan. Jenis pendekatan dapat ditinjau dari segi
timbulnya variable (eksprimen atau non-eksprimen). Pemilihan pendekatan ini tergantung dari
tujuan penelitian, waktu dan dana yang tersedia, tersedianya subjek penelitian dan minat peneliti.

B. Pelaksaan Aktivitas Penelitian

7. Menentukan Variabel dan Sumber Data

Langkah ke tujuh ini menjawab pertanyaan: a) apa yang akan diteliti?, dan b) dari mana
data diperoleh?

Kedua hal ini harus diidentifikasikan secara jelas agar dengan tepat dapat ditentukan
alat apa yang akan kita gunakan untuk mengumpulkan datanya. Kedua langkah ini dilaksakan
dalam waktu yang bersamaan begitu peneliti menyebutkan satu macam apa yang akan diteliti,
seyogyanya langsung menentukan dari mana data untuk vareabel tersebut akan diperoleh.33

31
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, hal. 23.
32
Ibid., hal. 86
33
Ibid., hal. 23.

13
Variabel

Di dalam penelitian, salah satu gejala yang mebuat orang tertarik adalah penggunaan
variable. Kehidupan ini mebosankan dan sepi bila semua orang sama. Perkataan ,”Variasi adalah
bumbu kehidupan” yang dibuktikan oleh penggunaan variable. Jadi variabel merupakan suatu
karekteristik yang memeliki dua atau lebih nilai atau sifat yang berdiri sendiri-sendiri.

Kalau diungkapkan secara berlebihan, variabel adalah sesuatu yang bervariasi. Cara
ungkap tersebut memberi kita gagasan intuitif tentang variable, tapi masih dibutuhkan wawasan
yang lebih umum dan sekaligus lebih tepat.34

Varibel merupakan simbol/lambang yang padanya kita lekatkan bilangan atau nilai.
Misalnya, X adalah sebuah variable; ia adalah suatu simbol/lambaang yang padanya kita lekatkan
nilai berupa angka.35

Variabel dapat dibedakan atas yang kuantitatif dan kualitatif. Contoh variabel kuantitatif
adalah luasnya kota, umur, banyaknya jam dalam sehari dan sebagainya. Sedangkan contoh
variabel kualitatif adalah kemakmuran, kepandian dan sebagainya.

Lebih jauh variable kuantitatif diklasifikasikan menjadi dua kelompok:36

1. Variabel diskrit; disebut juga variabel nominal atau variabel kategorik. Karena hanya
dapat dikategorikan atas dua kutub yang berlawanan. Yakni “ya” dan “tidak”.

2. Variabel kontinum; variabel ini dibagi menjadi 3 variabel kecil, yaitu: 1) variabel
ordinal, variable yang menunjukkan tingkatan-tingkatan, misalnya panjang dan pendek,
2) variabel interval, variabel yang mempunyai jarak, sedangkan jarak ini bisa diketahui
dengan pasti. Misalnya, jika Semarang–Magelang 70 km, sedangkan Magelang-Jogja
101 km. maka selisih Magelang Jogja 31 km, dan 3) variabel ratio, yaitu variabel
perbandingan. Misalnya, berat pak Karto 70 kg sedangkan anaknya 35 kg.

Seorang peneliti dituntut untuk mampu menjabarkan variable penelitian, karena benyak
dan sempitnya sub variable akan menentukan hipotesis, aspek dalam instrument dan banyak
ragam data yang dikumpulkan serta luas-sempitnya sebuah kesimpulan dalam penelitian.

34
Fared N. Kalinger, Asas-asas Penelitian Behavioral, hal. 49.
35
Ibid.
36
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, hal. 94.

14
Sumber Data

Yang dimaksud dengan sumber data adalah subjek penelitian dari mana data dapat
diperoleh. Untuk memprmudah mengindentifikasi sumber data, dapat diklasifikasikan menjadi
3P, yaitu: 1) person, sumber data beupa orang, 2) place, sumber data berupa tempat, dan 3) paper,
sumber data berupa simbol.37

Sehubungan dengan wilayah sumber data yang dijadikan sebagai subjek penelitian,
maka dikenal 3 jenis penelitian: 1) penelitian populasi, 2) penelitian sampel, dan 3) penelitian
kasus.38

Apabila seorang peneliti menggunakan koesener atau wawancara dalam mendapatkan


sumber data disebut responden. Apabila dengan teknik observasi, maka sumber datanya bisa
berupa benda, gerak atau prose sesuatui. Apabila menggunakan dokumentasi, maka dokumen
atau catatanlah yang menjadi sumber.

8. Menentukan dan Menyusun Instrumen

Setelah peneliti mengetahui dengan pasti apa yang akan diteliti dan dari mana data bisa
diperoleh, maka langkah yang segera diambil adalah menentukan dengan apa data akan
dikumpulkan.

Berikut ini adalah kriteria-kriteria tertentu untuk menilai instrumen yang baik: 1)
reliabilitas; derajat ketepatan dan ketelitian atau akurasi yang ditunjukkan instrumen pengukuran.
Istilah lain yaitu stabilitas, dapat dipercaya dan dapat diramalkan, 2) validitas; derajat ketepatan
suatu alat ukur tentang pokok isi atau arti sebenarnya yang diukur. Validitas berkenaan dengan
keterkaitan data yang diperoleh dengan sifat variabel yang diteliti.39

Sedangkan Fox menambahkan kriteria lain, yaitu: 1) sensitivitas; kemampuan suatu


instrument untuk melakukan diskriminasi yang diperlukan untuk masalah peneliti, 2) objektivitas;
derajat di mana pengukuran yang dilakukan bebas dari pendapat dan penelitian subjektif, bebas
dari bias dan persaan orang-orang yang menggunakan tes. Objektivitas ini dalam pelaksanaan tes,

37
Ibid., 107.
38
Ibid., 108.
39
Consuelo G. Sevilla, Pengantar Metode Penelitian, hal. 175-176.

15
scoring dan penafsiran, dan 3) fasibilitas; berkenaan dengan aspek-aspek ketrampilan, biaya dan
waktu.40

Instrumen merupakan alat Bantu yang digunakan dalam mengumpulkan data,


bisa.melalui angket (kuesioner), tes, interview dan observasi.41 Instrumen ini sangat tergantung
dari jenis data dan dari mana diperoleh. Sebagai contoh, data tingkah laku siswa; tentu hanya
dapat diperoleh dari siswa dengan cara mengobservasi, atau diperoleh dari guru yang bergaul
sehari-hari dengan siswa melalui interviu atau questioner.

9. Mengumpulkan Data

Mengumpulkan data adalah mengamati variabel yang akan diteliti dengan metode tes,
angket (kuesioner), interview, observasi, dokumentasi, dan lainnya.42

Apabila peneliti sudah menentukan data apa yang akan dikumpulkan, dari mana data
tersebut dapat diperoleh dan dengan cara apa, maka dirinya sendiri maupun orang lain yang akan
membantu sudah menegtahui dengan pasti apa yang berikutnya dilakukan. Mengumpulkan data
merupakan pekerjaan yang sukar, karena apabila diperoleh data yang salah, tentu saja
kesimpulannya pun salah pula, dan hasil penelitiannya menjadi palsu.

Menyusun instrumen adalah aktivitas penting dalam penelitian. Namun pengumpulan


data lebih penting lagi.

10. Analisis Data

Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola,
kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis
kerja.43

40
Ibid., hal. 177-178.
41
Luis Cohen, Research Methods in Education (London: RoudledgeFalmer, 2001), hal. 246.
42
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, hal 207.
43
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, hal. 103.

16
Tugas menganilisis data tidak seberat mengumpulkan data, baik tenaga maupun
pertanggung jawaban. Akan tetapi menganilisis data membutuhkan ketekunan dan pengertian
terhadap jenis data. Jenis data akan menuntut teknik analisis data. Sebagai misal, hubungan
antara data nominal dengan nominal tidak dapat dianalisis denga teknik korelasi product-moment,
tetapi sangat sesuai jika dianalisis dengan teknik chi-kuadrat. Demikian pula dengan jenis data
yang lain.44 Analisa data yang terkukmpul ini memberikan arti tertentu, yang mana orang bisa
mengadakan interpretasi.45

Secara garis besar, aktivitas analisis data meliputi tiga langkah, yaitu:46

Persiapan, kegiatan dalam hal ini meliputi: a) mengecek identitas pengisi. Apalagi
dalam instrumennya anonim perlu sekali dicek sejauh mana atau identitas apa saja yang sangat
diperlukan bagi pengolahan lebih lanjut, b) mengecek kelengkapan data, artinya menegcek isi
instrumen pengumpulan data, c) mengecek macam isian data. Yang dilakukan dalam hal ini
adalah memilih data sedemikian rupa sehingga hanya data yang terpakai yang tertinggal.

Tabulasi, termasuk dalam aktivitas tabulasi data ini antara lain: a) memberikan sekor
terhadap item-item yang diberikan skor. Misalnya tes, angket dan lainnya, b) memberikan kode-
kode terhadap item-item yang tidak diberi sekor. Misalnya jenis kelamin laki-laki diberi kode 1
dan jenis kelamin perempuan diberi kode 0, c) mengubah jenis data, disesuaikan atau
dimodifikasikan dengan teknik analisis yang digunakan. Misalnya data interval diubah menjadi
data ordinal dengan membuat tingkatan dan data ordinal diubah menjadi data diskrit, d)
memberikan kode dalam hubungan dalam pengolahan data jika akan menggunakan komputer

Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian. Maksud dari bagian ini adalah
pengolahan data yang diperoleh dengan menggunakan rumus-rumus atau aturan-aturan yang ada
dengan pendekatan penelitian yang diambil. Yaitu: a) penelitian deskriptif: persentase dan
komparasi dengan kriteria yang telah ditentukan, b) penelitian komparasi dengan berbagai teknik
korelasi sesuai dengan jenis data, dan c) penelitian eksprimen diuji dengan hasil tes.

Jadi aktvitas analisis data dalam hal ini adalah mengataur, mengurutkan,
mengelompokkan, memberikan kode dan mengategorikannya. Analisis data ini dilakukan dalam

44
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, hal. 24.
45
Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial (Bandung: Bandar Maju, 1990) hal. 384.
46
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, hal. 209-308.

17
suatu proses, maksudnya pelaksanaan sudah dimulai sudah dilakukan sejak pengumpulan data
dilakukan dan dikerjakan secara intensif sesudah meninggalkan lapangan.

C. Aktivitas Akhir Penelitian

11. Menarik Kesimpulan

Langkah ini sebenarnya sudah merupakan langkah terkhir dari kegiatan penelitian.
Pekerjaan meneliti telah selesai dan peneliti tinggal mengambil konklusi dari hasil pengolahan
data, dicocokkan dengan hipotesis yang telah dirumuskan. Sesuaikah data yang terkumpul
dengan hipotesis suatu dugaan peneliti sebelumnya? Di sinilah peniliti bisa merasa lega karena
hipotesisnya terbukti atau kecewa karena tidak terbukti.

Dalam hal ini penelitian harus tampak jelas hubungan antara problematik, hipotesis dan
kesimpulan. Apabila kesimpulan penelitian merupakan jawaban dari problematik yang
dikemukakan, maka isi maupun banyaknya kesimpulan yang dibuat harus sama dengan isi dan
banyaknya problematika.47

Satu hal yang harus dimiliki yaitu sifat jujur dalam menarik sesuatu kesimpulan
penelitian, ia tidak boleh mengarahkan agar hipotesisnya terbukti. Tidak terbuktinya suatu
hipotesis bukanlah suatu pertanda bahwa apa yang dilakukan peneliti itu salah dan harus merasa
malu. Merupakan suatu kesalahan besar bagi peneliti yang membuat kesimpulan bertujuan
menyenangkan hati pemesan dengan cara manipulasi data.

12. Menyusun Laporan

Tujuan utama laporan penelitian adalah untuk mengkomunikasikan hal-hal yang


menarik dari masalah yang diselidiki, metode-metode yang digunakan, penemuan yang diperoleh,
penafsiran hasil dan pengintegrasiannya dengan teori. Laporan penelitian adalah penyajian ilmiah
dari apa yang diteliti oleh peneliti; mengapa dia melakukan hal itu, apa hasilnya, kesimpulan apa
yang ditarik pada bagian akhir dan bagaimana temuan-temuan baru itu dihubungkan dengan
penelitian terdahulu.

47
Ibid., 311

18
Struktur penyelidikan seharusnya dekat sekali dengan penulisan laporan. Hal ini karena
laporan merupakan catatan dari penelitian itu sendiri. Tidak sama dengan penulisan cerita
dongeng. Laporan ini singkat dan komprehensif, langsung mengena dan sama sekali tidak
mengenal perasaan yang rendah.48

Sedangkan format laporan banyak sekali yang dapat digunakan, yang sebenarnya dalam
cakupannya itu sama. Yang menyebabkan perbedaanya adalah: a) urutan penyajian, b) penekanan
materi yang dilaporkan, dan 3) pandangan perlu tidaknya suatu bagian disampaikan kepada
pembaca. Sehubungan dengan format laporan penelitian ini, Burroughs mengatakan, bahwa
perbedaan format bukanlah hal begitu penting untuk dimasalahkan, yang terpenting harus
diperhatikan yaitu: Pertama, bahwa pembaca dapat memahami dengan jelas apa yang dilakukan
oleh pennealiti , apa tujuannya dan bagaimana hasilnya. Kedua, bahwa langkah dan mediannya
jelas sehingga pembaca dapat mengulangi proses penelitian itu apabila ia menghendaki.49

Berikut ini akan disajikan sebuah model format laporan penelitian yag dikutip oleh
Suharsimi dari Borg dan Gall:50

- Preliminary Materials (Bahan Pendahuluan): 1) halaman judul, 2) pengantar kata, 3)


daftar isi, 4) daftar table, dan 5) daftar gambar/ilustrasi atau diagram-diagram

- Body of the Paper (Gambar Laporan): Bab I. Pendahuluan: a) permaslahan, b) rumusan


permasalahan, dan c) tujuan Penelitian. Bab II. Penelaahan Kepustakaan/ Kajian
Pustaka: a) penemuan yang lalu, b) teori yang mendasari, c) ringkasan dan rangka
pikiran peneliti, dan d) hipotesis. Bab III. Metodologi: a) pemilihan subjek (populasi,
sampel atau cuplikan dan teknik sampling atau teknik pencuplikan), b) desain dan
pendekatan penelitian, dan c) pengumpulan data. Bab IV. Pelaksanaan Penelitian, a)
validasi instrumen, b) pengumpulan dan penyajian data, c) analisis data, dan d) hasil
analisis. Bab V. Hasil Penelitian dan Pembahasan, a) hasil penelitian, b) pembahasan,
dan c) diskusi.

- Bahan penunjang, a) kepustakaan, dan b) indeks.

48
Consuelo G. Sevilla, Pengantar Metode Penelitian, hal. 275.
49
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, hal. 322-323.
50
Ibid.

19
Kegiatan penelitian menuntut agar hasilnya disusun, ditulis dalam bentuk laporan
penelitian agar hasilnya diketahui orang lain serata prosedurnya pun diketahui orang lain pula,
sehingga dapat mengecek kebenaran aktivitas penelitian tersebut.

E. TELAAH PUSTAKA

A. Hubungan Telaah Pustaka dengan Penelitian

Telaah pustaka adalah proses umum yang dilalui untuk mendapatkan teori terdahulu.
Mencari kepustakaan yang terkait adalah tugas yang segera dilakukan, lalu menyusunnya secara
teratur dan rapi untuk dipergunakan dalam keperluan penelitian.

Hubungan penelitian dengan telaah pustaka sangat erat sekali, dan hampir semua jenis
penelitian memerlukan telaah pustaka. Walaupun orang sering membedakan antara penelitian
kepustakan (library reseach) dan penelitian lapangan (field reseach), keduanya tetap melakukan
penelusuran pustaka.

Idealnya sebuah penelitian profesional menggunakan kombinasi penelitian pustaka dan


lapangan atau dengan penekanan pada salah satu di antaranya. Namun begitu sejumlah ilmuwan
(dari berbagai bidang disiplin), terutama dari kelompok kajian sejarah, sastra dan studi agama,
bahkan juga kedokteran dan biologi tidak selamanya tergantung dengan data primer dari
lapangan. Setidakanya ada tiga alasan tentang eratnya hubungan antara penelitian dengan telaah
pustaka :51

1. Karena persolan penelitian tersebut hanya bisa dijawab lewat penelitian pustaka dan
sebaiknya tidak mungkin mengharapkan datanya dari penelitian lapangan. Studi sejarah
umumnya, termasuk sejarah kedokteran, sejarah sensus, sejarah pemikiran atau sejarah
ekonomi, tidak bisa lain, kecuali dengan mengandalkan penelitian pustaka. Namun
begitu sejumlah disiplin tertentu seperti studi Islam atau sastra adakalnya juga berurusan
dengan penelitian pustaka

2. Telaah pustaka diperlukan sebagai salah satu tahap tersendiri, yaitu studi pendahuluan
untuk memahami lebih dalam gejala baru yang tengah berkembang dilapangan atau

51
Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), hal. 2.

20
dalam masyarakat. Para pakar Islam juga terdorong mempelajari kembali idiologi-
idiologi agam Islam di masa lalu pada saat maraknya aliran-aliran Islam dewasa ini.

3. Data pustaka tetap handal untuk menjawab persoalan penelitiannya. Bukankah


perpustakaan merupakan tambang emas yang sangat kaya untuk penelitian ilmiah? Lagi
pula, informasi atau data empirik yang telah dikumpulkan orang lain, baik berupa hasil
laporan penelitian atau laporan-laporan resmi, buku-buku yang tersimpan di
pepustakaan tetap dipergunakan oleh peneliti kepustakaan.

Selain bahan cetak atau grafis buku, jurnal, majalah, koran, perbagai jenis laporan dan
dokumen (baik yang belum atau sudah diterbitkan), perpustakan biasanya juga menyimpan karya
non-cetak seperti hasil rekaman audio seperti kaset, dan video film, seperti mikro film, mikrofis
dan bahan elektronik lainnya, seperti disket atau pita magnetik.

B. Fungsi Telaah Pustaka pada Penelitian

Dengan melakukan telaah pustaka peneliti dapat memahami betul muatan khasanah
ilmu pengetahuan yang ada sehingga mempunyai kesempatan untuk berkali-kali mengadakan
peninjauan di mana letak permasalahan yang akan diteliti tersebut di dalam lingkup yang ada.

Gay berpendapat bahwa telaah pustaka meliputi pengindentifikasian secara sistimatis,


penemuan dan analisis dokumen-dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan
masalah penelitian. Telaah pustaka memeiliki beberapa fungsi sebagai tersebut dibawah ini:52

a. Menyediakan kerangka konsepsi atau kerangka teori untuk penelitian yang


direncanakan.

b. Menyediakan informasi tentang penelitian-penelitian yang lampau yang berhubungan


dengan penelitian yang akan dilakukan. Proses ini menghindari pengulangan yang tidak
disengaja dari penelitian-penelitian terdahulu dan membimbing kita pada apa yang perlu
di selidiki.

52
Consuelo G. Sevilla, Pengantar Metode Penelitian, hal. 31

21
c. Memberikan rasa percaya diri, sebab melalui kajian pustaka semua konstruk yang
berhubungan dengan penelitian telah tersedia. Oleh karena itu kita menguasai informasi
mengenai subjek tersebut.

d. Memberikan inforamasi tentang metode-metode penelitian, populasi dan sampel,


instrumen pengumpulan data dan perhitungan statistik yang digunakan pada penelitian-
penelitian sebelumnya. Jika kita berhasil dalam kajian pustaka maka kita membutuhkan
bimbingan yang sedikit dari pembimbing karena pertanyaan yang akan dijawab dapat
terjawab melalui kajian pustaka yang dilakukan pada tahap penelitian awal.

e. Menyediakan penemuan-penemuan dan kesimpulan-kesimpulan penyelidikan terdahulu


yang dapat dihubungkan dengan penemuan dan kesimpulan kita.

Adapun strategi dan langkah-langkah penelitian kepustakan meliputi antara lain:53 a) ide
umum tentang topik penelitian, b) cari informasi yang mendukung, c) pertegas fokus penelitian
dan organisasikan bahan bacaan, d) cari dan temukan bahan bacaan: artikel jurnal, buku-buku,
dokumen, yang sudah diterbitkan, manuskrip dan lain-lain, e) reorganisasi bahan bacaan dan
membuat catatan penelitian, f) review dan perkaya lagi bahan bacaan, dan g) reorganisasikan
bahan/catatan dan mulai menulis

Setiap penelitian sedikit banyak akan bersandar dan tergantung pada kepustakaan.
Sebagaimana seorang peneliti dalam aktivitas awal penelitiannya dia membutuhkan telaah
kepustakan, begitu juga sebaiknya seorang peneliti untuk mengadakan telaah pustaka dalam
mengevaluasi hasil penelitiannya. Yang demikian bisa dimaklumi karena hasil penelitiannya
yang sudah ada belumlah bersifat final, artinya masih terbuka kesempatan bagi peneliti untuk
mengoreksi dan bila perlu menguji kembali hasilnya agar ada kesempurnaan.

F. KESIMPULAN

Manusia adalah makhluk yang bersifat ingin tahu. Ada pelbagai cara yang dapat
ditempuh untuk bisa memperoleh pengetahuan yang benar tentang suatu hal. Pengetahuan yang
benar ini hanya dapat diketemukan bila usaha-usaha menemukannya dilakukan menurut cara-cara

53
Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, hal. 81.

22
berdasarkan aturan-aturan tertentu. Cara-cara berdasarkan aturan-aturan itu bisa disebut ilmu
dengan ilmu pengetahuan.

Adapun aktivitas-aktivitas penelitian meliputi: memilih masalah, studi pendahuluan,


merumuskan masalah, merumuskan anggapan dasar dan hipotesis, menyusun proposal, memilih
pendekatan, menentukan variabel dan sumber data, menentukan dan menyusun instrumen,
mengumpulkan data, analisis data, menarik kesimpulan dan menyusun laporan.

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik seseorang dituntut dalam aktivitas-
aktivitas penelitiannya dengan baik pula; mengadakan kegiatan penelitian secara sistimatis,
berencana, dan mengikuti kosep ilmiah. Sistimatis: artinya dilaksanakan menurut pola tertentu,
dari yang paling sederhana sampai kompleks hingga tercapai tujuan secara efektif dan efesien.
Berencana: artinya dilaksanakan dengan adanya unsur dipikirkan langkah-langkah
pelaksanaannya. Mengikuti konsep ilmiah: artinya mulai awal sampai akhir kegiatan penelitian
mengikuti cara-cara yang sudah ditentukan, yaitu prinsip yang digunakan untuk memperoleh
ilmu pengetahuan.

Dalam aktivitas penelitian sedikit banyak akan bersandar dan tergantung pada
kepustakaan. Telaah pustaka meliputi pengindentifikasian secara sistimatis, penemuan dan
analisis dokumen-dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian
yang dilakukan

23
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Sayuti, Metodologi Penelitian Agama; Pendekatan Teori dan Praktek (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2002)

Arikunto, Suharismi, Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 1993)

Cohen, Luis, Research Methods in Education (London: RoudledgeFalmer, 2001)

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991)

Faisal, Samapiah, Format-format Penelitian Sosial: Dasar-dasar dan Aplikasi (Jakarta,1989)

Hadi, Hardono, Epistemologi, Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisus, 1994)

Jujun, Ilmu dalam Perspektif (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994)

Kalinger, Fared N., Asas-asas Penelitian Behavioral, (Yogyakarata: Gajah Mada University
Press, 1986)

Kartono, Kartini, Pengantar Metodologi Riset Sosial (Bandung: Bandar Maju, 1990)

Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002)

Narbuko, Cholid, Metodologi penelitian (Jakarta: Bumi Aksara, 1997)

Ndraha, Talizuduhu, Research; Teori Metodologi Administrasi, (Jakarta: Bina Aksara, 1985)

Rosjidi, Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat (Jakarta: Bulan Bintang, 1988)

Sevilla, Consuelo G., Pengantar Metode Penelitian (Jakarta: UI, 1993)

Umar, Husain, Metode penelitian Aplikasi dalam Pemasaran (Jakarta: Gramedia,1999)

Zulkifli, Penyusunan Proposal Pene;itian (Sumsel: Unsri, 2001)

Zed, Mestika, Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004)

24