Anda di halaman 1dari 25

‫ﻗﺼﺺاﻠﻗﺮاﻦ‬

(KISAH-KISAH AL-QUR’AN)
Oleh: M. Syafi'i WS al-Lamunjani

A. PENDAHULUAN

Kisah-kisah dalam al-Quran (qashash al-Qur’an) merupakan salah satu cara untuk
menyampaikan dakwah Islam. Allah telah mengisahkan kepada kita dengan kisah-kisah yang
sangat banyak dalam al-Qur’an. Yang demikian ini agar kita dapat berpikir, merenungkan kisah-
kisah tersebut dan menemukan hikmah dan nasihat di dalamnya, serta dapat menggali pelajaran-
pelajaran sebagai pedoman hidup.

Begitu juga dalam qashahs al-Qur’an, Allah telah memberikan pada kita hiburan,
ketabahan, keteguhan hati dan kesabaran untuk tetap melakukan usaha dan perjuangan.

Kisah-kisah al-Qur’an dalam tema-temanya, dalam cara penyampaiannya, dan dalam


alur kejadiannya tunduk dengan maksud tujuan keagamaan. Namun demikian masih tidak
menghalangi munculnya benih-benih keistimewaan seni dalam pemapaparannya.

Pemapaparan al-Qur’an menyatukan antara maksud tujuan keagamaan dan maksud


tujuan seni dalam segala gambaran dan fenomena yang dapat dipaparkannya. Bahkan bisa
diperhatikan bahwa al-Qur’an menjadikan keindahan seni sebagai alat untuk mempengaruhi
perasaan.

Dalam makalah ini akan dipaparkan tentang Pengertian Qashash Al-Qur'an, Macam-
macam Qashash Al-Qur'an, Keistimewan-keistimewan Artistik Qashash Al-Qur'an, Tujuan-
tujuan Qashash Al-Qur'an, Faidah Qashash Al-Qur’an Dan Contoh Kisah Nabi Yusuf dalam Al-
Qur'an dan Hikmahnya

1
B. PENGERTIAN QASHASH AL-QUR'AN

Secara etimologi qashash (‫ )ﻗﺼﺺ‬merupakan bentuk jamak dari kata (‫ )ﻗﺼﱠﺔ‬yang berarti
berita, kisah, perkara dan keadaan.1 Sebagaimana firman Allah :

      

"Sesungguhnya ini adalah kisah-kisah yang bear."2

(‫ )ﻗﺼﱠﺔ‬juga berarti mengikuti jejak.3 Sebagaimana firman Allah:

   

"Lalu keduanya mengikuti kembali jejak mereka sendiri."4

Al-Qur’an telah menyebutkan kata kisah dalam beberapa konteks, pemakian dan tashrif
(konjugasi)nya; dalam bentuk fi’il madhi, fi’il mudhari’, fi’il amr dan mashdar.5

Secara terminologi, qashash al-Qur'an adalah kisah-kisah dalam al-Qur'an yang


menceritakan keadaan umat-umat terdahulu dan Nabi-nabi mereka serta peristiwa-peristiwa yang
terjadi masa lampau, masa Sekarang dan masa yang akan datang.6

Sedangkan Mana' al-Qathan mendefinisikan qashash al-Qur'an adalah pemberitaan al-


Qur’an tentang hal-ihwal umat yang telah lalu, kenabian yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa
yang telah terjadi.7

C. MACAM-MACAM QASHASH AL-QUR'AN

1
Luwes, al-Munjid fi al-Lughah (Bairut: Dar al-Masyriq, 1998), hal. 631.
2
Surat Ali 'Imran: 62.
3
Luwes, al-Munjid fi al-Lughah, hal. 631.
4
Surat al-Kahfi: 64.
5
Shalah Abdul Fattah al-Khaldi, Ma’a Qishash al-Sabiqin fi al-Qur’an, alih bahasa: Abdullah, Kisah-
kisah al-Qur’an; Perjalanan dari Orang-orang Dahulu (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), jilid. I, hal. 21.
6
Abdul Djalal, Ulumul Qur’an (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998), hal. 294.
7
Mana’ al-Qathan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an (Bairut: al-Syirkah al-Muttahidah li al-Tauzi’, 1973),
hal. 306.
2
Kisah-kisah di dalam al-Qur'an itu bermacam-macam, ada yang menceritakan para Nabi
dan umat-umat terdahulu, serta ada pula yang mengisahkan berbagai macam peristiwa dan
keadaan, baik dari masa lampau, masa kini, ataupun masa yang akan datang. Ini merupakan
kebenaran kisah-kisah yang mana manusia tidak tahu pada masa Rasulullah kecuali sebagian saja
yang mereka katahui.8 Atau mereka tahu kisah-kisah tersebut akan tetapi banyak
memperselisihkannya.

Dalam hal ini, penulis membagi kisah-kisah dalam al-Qur’an dengan berbagai tinjauan,
yaitu: Ditinjau dari segi waktu, ditinjau dari segi materi dan ditinjau dari segi panjang dan
pendeknya.

1. Ditinjau dari segi Waktu

Ditinjau dari segi waktu terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam al-qur'an, maka
qashash al-Qur'an itu terbagi menjadi tiga macam:

a. kisah-kisah hal-hal ghaib pada masa lalu (al-qashah al-Ghuyub al-madhiyah). Yaitu,
kisah-kisah yang menceritakan kejadian-kejadian yang sudah tidak bisa ditangkap panca
indra yang terjadi pada masa lampau. Contohnya seperti kisah-kisah pada Nabi Nuh,
Nabi Musa, dan kisah Maryam.9 Kisah-kisah ini merupakan hal gahib masa lampau,
karena telah usai dan menjadi kisah-kisah klasik.10 Begitu juga kita tidak
mengalaminya, mendengarnya dan menyaksikannya.

b. Kisah-kisah hal-hal ghaib pada masa kini (al-qashah al-ghuyub al-hadhirah). Yaitu,
kisah-kisah yang menerangkan hal ghaib pada masa Sekarang, meski sudah Sejak
dahulu dan masih akan tetap ada sampai masa yang akan datang. Contohnya seperti
kisah yang menerangkan tentang para Malaikat, Jin, Setan, siksaan Neraka, kenikmatan
Surga dan sebagainya. Kisah-kisah tersebut dari dahulu sudah ada, Sekarang pun masih
ada dan hingga masa yang akan datang pun masih tetap ada.11 Bahkan, eksistensi wujud

8
Abdullah Mahmud Sahatah, Ahdaf Kulli Surah wa Maqashidiha fi al-Qur'an al-Karim (Mesir: al-Haiah
al-Mishriyah al-'Ammah li al-Kitab, 1986), jilid. I, hal. 140.
9
Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, hal. 296.
10
Shalah Abdul Fattah al-Khaldi, Ma’a Qishash al-Sabiqin fi al-Qur’an, hal. 36.
11
Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, hal. 296
3
Allah termasuk dalam hal ghaib masa sekarang, karena Ia ada namun kita tidak bisa
melihatnya di dunia ini.12

c. Kisah-kisah hal-hal ghaib pada masa yang akan datang (al-qashash al-ghuyub al-
mustqbilah). Yaitu, kisah-kisah yang menceritakan peristiwa yang akan datang yang
Belum terjadi pada waktu turunnya al-Qur'an, kemudian peritiwa tersebut betul-betul
terjadi. Contohnya seperti kemenangan bangsa Romawi atas Persia, yang diterangkan
ayat 1-4 surat al-Rum.13

Di antara karekteristik orang mukmin yang paling menonjol adalah beriman kepada hal
ghaib. Rasionalitas Islam adalah rasianalitas ilmiah ghaibiyah.

2. Ditinjau dari segi Materi

Jika ditinjauu dari segi materi yang diceritakan, maka kisah al-Qur'an itu terbagi
menjadi tiga macam:14

a. Kisah-kisah para Nabi. Kisah ini mengandung dakwah mereka pada kaumnya, mu'jizat-
mu'jizat yang memperkuat dakwahnya, kisah sikap orang-orang yang memusuhinya,
tapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat-akibat yang diperkuat oleh
yang mempercayai dan golongan mendustakan. Misalnya, kisah Nuh, Ibrahim, Musa,
Harun, Yusuf dan lain-lainnya.

b. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan orang-
orang yang tidak dipastikan kenabiannya. Misalnya kisah Thalut dan Jalut, penghuni
gua, Zulkaranain dan lain-lainnya.

c. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang tejadi pada masa


Rasulullah. Seperti perang Badar dan perang Uhud dalam surat Ali Imran, Perang
Hunain dan Tabuk dalam surat al-Taubah, Isra', dan lain-lain.

12
Shalah Abdul Fattah al-Khaldi, Ma’a Qishash al-Sabiqin fi al-Qur’an, hal. 36.
13
Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, hal. 296
14
Mana’ al-Qathan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, hal. 306.
4
3. Ditinjau dari segi Panjang dan Pendeknya.

Jika ditinjau dari segi panjang dan pendeknya, maka bisa dibagi menjadi empat macam:

a. Panjang dan berikut rinciannya. Seperrti kisah Nabi Yusuf , Nabi Musa, Nabi Isa dan
lainnya.

b. Kisah yang perinciannya sedang-sedang saja. Dalam hal ini termasuk cerita Nabi Nuh,
Nabi Adam dan lain-lannya.

c. Kisah yang rinciannya pendek, bahkan pendek sekali. Seperti kisah yang pendek adalah
kisah Nabi Hud, Nabi Shaleh dan lainnya. Sedangkan yang pendek sekali, seperti kisah
Nabi Zakariya yang disebutkan hanya ketika kelahiran Yahya dan ketika menanggung
biaya Maryam.

d. Kisah yang hanya diisyaratkan (disinggung) saja. Tidak disinggung kecuali hanya
sekilas sifat pelaku saja. Seperti kisah Nabi Idris, Nabi Ilyas, dan Nabi Zulkifli.

D. KEISTIMEWAN-KEISTIMEWAN ARTISTIK QASHASH AL-QUR'AN

Keindahan kisah-kisah dalam al-Qur’an bisa memudahkan masuk kedalam jiwa dan
mampu meperdalam kesannya dalam perasaan.

Secara umum keistimewaan-keistimewaan artistik kisah al-Quran mencakup empat


tampilan sebagai berikut:

1. Keanekaragaman Cara Penyampaian

Dalam hal ini ada empat cara yang berbeda untuk memulai penyampaian kisah, yaitu:15

a. Menyebut sinopsis kisah, kemudaian setelah itu memaparkan rincian-rinciannya dari


awal hingga akhir. Seperti kisah Penghuni Gua dalam surat al-Kahfi ayat 9-12.

15
Sayyid Quthb, Al-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an, alih bahasa: Fathurrahman, Indahnya al-Qur’an
Berkisah (Jakarta: Gema Insani, 2004), hal. 203-206.
5
b. Menyebutkan kesimpulan kisah dan maksudnya, baru kemudian dimulai kisah itu dari
awal dan terus berlanjut dengan memaparkan rincian-rincian episodenya. Seperti kisah
Nabi Musa dalam surat al-Qashah ayat 2-6.

c. Menyebutkan kisah langsung tanpa pendahuluan, juga tanpa sinopsis. Dalam ketiba-
tibaan ini memiliki keistimewaan tersendiri. Seperti kisah Maryam saat melahirkan
Nabi Isa.

e. Terkadang kisah itu berubah menjadi seperti sandiwara, dan terkadang hanya
disebutkan beberapa lafal yang memberitahukan awal paparan, kemudian kisah
bercerita tentang kisahnya dengan perantara pemainnya. Seperti adegan dari kisah
Ibrahim dan Ismail dalam surat al-Baqarah ayat 127.

2. Keanekaragaman dengan Cara yang Tiba-tiba

Dalam hal ini ada empat cara, yaitu:16

a. Terkadang rahasia secara tiba-tiba disembunyikan dari pemain dan dari pemirsanya,
hingga dibukakan untuk mereka berdua dengan tiba-tiba secara bersamaan dan waktu
yang sama pula. Seperti kisah Musa dan hamba shalih dalam surat al-Kahfi ayat 60-78.

b. Terkadang rahasia dapat ditemukan oleh pemirsa dan para pemain. Mereka bertingkah
laku tanpa diketahui apa rahasianya dan semua manusia menyaksikan akan tingkah laku
mereka tersebut. Seperti kisah pemilik kebun dalam surat al-Qalam ayat 17-27.

c. Terkadang di satu tempat, beberapa rahasia terbuka untuk pemirsa namun masih
menjadi misteri bagi pemainnya, dan ditempat lain menjadi misteri bagi pemirsa dan
juga bagi pemainnya di dalam satu kisah. Sperti kisah singgasana ratu Balqis yang
didatangkan dalam sekejap mata. Kita tahu bahwa singgasana itu ada di hadapan
Sulaiman, tapi saat itu ratu Balqis tidak mengetahui apa yang sudah kita ketahui. Ini
terdapat dalam surat al-Naml ayat 42-44.

d. Terkadang tidak ada rahasia yang tersembunyi, namun di waktu yang sama kekagetan
melanda pemirsa juga pemain, padahal di saat itu keduanya mengetahui akan

16
Ibid., hal. 206-212.
6
rahasianya. Seperti kekagetan kisah Maryam ketika dia membuat tabir yang
melindunginya. Di sana dia di kagetkan dengan munculnya Ruh al-Amin dalam bentuk
seorang laki-laki. Ini terdapat dalam surat Maryam ayat 18-24.

3. Perpindahan Episode

Maksudnya celah-celah antara satu adegan dengan adegan lain yang mengakibatkan
terjadinya pembagian dan pemotongan adegan-adegan, yang dalam kisah sandiwara modern
dilakukan dengan penutupan tirai. Ini bisa diisi dengan hayalan dan dapat dinikmati dengan
menebak-nebak apa yang akan terjadi, dalam waktu antara adegan yang lewat dan adegan yang
akan datang. Seperti kisah Nabi Yusuf dalam surat Yusuf yang bisa terbagi menjadi dua puluh
delapan adegan.17 Sungguh menakjubkan bahwa dengan pemisah adegan-adegan dapat
memberikan nuansa istimewa terhadap alur cerita.

4. Ilustrasi dalam Kisah

Ilustrasi pada adegan-adegan dalam kisah ada beberapa warna. Pertama, tampak pada
kekuatan penyajian dan menghidupkan cerita. Kedua, tampak pada pengimajinasian atau
pengilustrasian perasaan dan imosional. Ketiga, tampak pada pelukisan karekter. Ketiga warna
ini tidak bisa terpisahkan antara satu dengan lainnya, namun salah satunya bisa lebih tampak jelas
di suatu kisah melebihi warna lainnya.

Banyak pengakuan instingtif dari hati nurani insani yang luhur, yang tercengang
menyaksikan keagungan fenomena al-Qur’an. Al-Qur’an adalah bangunan yang tiada
bandingannya yang mempunyai arsitektur dan konstruksi yang artistik, menantang setiap daya
yang pernah dimiliki oleh manusia.18 Rasio insani benar-benar akan berdiri dengan ketakjuban
dihadapan kedalaman dan keluasan al-Qur’an.

17
Ibid., hal. 212.
18
Malik bin Nabi, Dhahirah al-Qur’an, alih bahasa: Saleh Mahfoed, Fenomena al-Qur’an (Bandung: al-
Ma’arif, 1987), hal. 232.
7
E. TUJUAN-TUJUAN QASHASH AL-QUR'AN

Kisah-kisah di dalam al-Qur'an semata-mata untuk mewujudkan maksud tujuan


keagamaan. Tujuan-tujuan ini Sangat banyak sekali hingga sulit untuk dihitung denga jari.19
Menurut al-Biqa’i, tujuan utamanya adalah untuk membuktikan bahwa kitab suci al-Qur’an
benar-benar merupakan penjelasan menyangkut segala sesuatu yang mengatur pada petunjuk
berdasarkan pengetahuan dan kekuasaan Tuhan secara menyeluruh.20

Dalam kisah-kisah al-Qur'an mempunyai tujuan agung yang dapat disimpulkan tujuan
utamanya sebagai berikut:21

1. Membenarkan wahyu dan rízala Allah

2. Menerangkan da'wah yang disampaikan para rasul.

3. Mengisyaratkan kesatuan semua agama samawi (yang disampaikan kepada para Rasul).

4. Sikap umat-umat yang dihadapai para Rasul.

5. Hubungan erat antara semua syariat dan agama.

6. Menerangkan kemenangan para Rasul dan kebinasaan yang mengingkari Para Rasul.

7. Menerangkan kekuasaan Allah dalam menampilkan hal-hal luar biasa (mukjizat).

8. Akibat kebajikan dan kebaikan, dan akiabat kejahatan dan kedurjanaan.

Al-Ghazali mengatakan, dalam kisah-kisah al-Qur’an menjelaskan kondisi orang yang


menjalankan perintah Allah dan orang yang membangkang. Yang dimaksud yang pertama adalah
ahli akhirat dan yang mendapatkan keberuntungan. Sedangkan yang kedua adalah ahli dunia dan
orang yang merugi. Dia mengatakan, kondisi orang yang menjalankan perintah Allah adalah
cerita tentang para Nabi dan orang-orang shalih, seperti cerita Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi
Ibrahim dan lain-lain. Sementara kondisi orang yang mengingkari dan membangkang adalah
seperti cerita Fir’aun, Ad, Namrud, dan lain-lain. Ini perlu untuk menakut-nakuti, memperingati

19
Sayyid Quthb, Al-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an, hal. 158.
20
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, kesan dan Keserasian al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati,
2002), jilid. 6, hal. 377.
21
Muhammad Ali al-Shabuni, al-Nubuwwah wa al-Ambiya’, alih bahasa: Alwi, Kenabian dan Riwayat
para Nabi (Jakarta: Lentera Baritama, 2001), hal. 129.
8
dan memberikan pelajaran.22 Bagian ini juga mencakup misteri, simbol, dan isyarat-isyarat yang
perlu dipikir panjang.

Sedangkan Sayyid Quthb menuliskan tujuan-tujuan kisah-kisah al-Qur'an yang


singkatnya adalah: Penetapan wahyu dan risalah dan penetapan keesaan Allah, menerangkan
pada dasarnya agama seluruhnya satu dasar yang bersumber dari Allah, memberikan penjelasan
metode dakwah para rasul adalah sama dan penerimaan kaum mereka terhadap ajarannya hampir
sama, menerangkan bahwa Allah pada akhirnya akan menolong para Nabinya dan membinasakan
orang yang mendustakannya, menerangkan peringatan dan kabar gembira, menerangkan nikmat
para Nabi dan orang-orang pilihannya yang diberikan oleh Allah, memberikan peringatan kepada
anak Adam terhadap godaan setan, menampakkan permusuhan yang abadi terhadap setan, dan
menerangkan kekuasaan Allah, menerangkan akibat perbuatan baik dan jahat dan juga nasihat
dan wejangan-wejangan lainnya yang mewarnai kisah-kisah dalam al-Qur'an.23

maksud tujuan keagamaan serat dengan tujuan-tujuan moral, semua itu sungguh telah
dicakaup oleh kisah, dan kisah merupakan alat dan jalan untuk semua itu.

F. FAIDAH QASHASH AL-QUR'AN

Kisah-kisah dalam al-Qur'an mempunyai banyak faidah. Dengan mempelajari kisah-


kisah, minimal dapat memberikan informasi tentang kondisi perkembangan sesuatu masyarakat.
Dengan mengetahui konteks kesejarahan mereka dalam ayat al-Qur’an, maka dengan mudah
dapat diterapkan pada setiap ruang dan waktu.24 Dengan kisah-kisah dalam al-Qur’an juga
meberikan kepada kita alur perkembangan sejarah manusia; tentang interaksi manusia bersama
Tuhan dengan ikatan akidah dan interaksi manusia melalui perundang-undangan tata pergaulan
manusia.25

Berikut ini penulis cantumkan faidah-faidah terpenting dengan rincian sebagai berikut:

22
Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali , Jawahir al-Qur’an (Bairut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1983),
hal. 14.
23
Sayyid Quthb, Al-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an, hal. 159-171
24
Umar Shihab, Kontekstualitas al-Qur’an (Jakarta: Pernamadani, 2005), hal. 26-27.
25
Muhammad Syahrur, al-Kitab wa al-Qur’an; Qira’ah wa al-Mu’ashirah (Bairut: Syirkat wa al-
Mathbu’at li al-Tauzi’ wa al-Nasyr, 2000), hal. 675.
9
1. Menjelaskan asas-asas menuju Allah dan menjelaskan pokok syariat yang dibawah oleh
para Nabi. Firman Allah: "Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu
melainkan Kami mewahyukan padanya, bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka
sembahlah olehmu sekalian akan Aku."26

2. Meneguhkan hati Rasulullah dan hati umatnya atas agama Allah, memperkuat
kepercayaan oran mukmin tentang menangnya kebenaran dan para pendukungnya serta
hancurnya kebatilan. Firman Allah: "Semua kisah para Rasul yang Kami ceritakan
kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang
kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang yang beriman."27

3. Membenarkan para Nabi terdahulu, menghidupkan kenangan terhadap mereka serta


mengabadikan jejak peninggalannya.

4. Menampakkan kebeanran Nabi Muhammad dalam dakwahnya dengan apa yang


diberitakannya tentang hal-ihwal orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi.

5. Menyibak kebohongan Ahli Kitab dengan hujjah yang membenarkan keterangan dan
petunjuk yang mereka sembunyikan, dan menantang isi Kitab mereka sendiri sebelum
Kitab itu dirubah dan diganti. Firman Allah: "Semua makanan adalah haram bagi Bani
Israil, melainkan makanan yang diharamkan ole Israil (Ya'Kub) untuk dirinya sendiri
sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: (Jika kamu mengatakan ada makanan yang
diharamkan sebelum Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah ia jika kamu
orang-orang yang benar."28

6. Kisah termasuk salah satu bentuk sastra yang dapat menarik perhatian para pendengar
dan memantapkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya kedalam jiwa. Firman
Allah: "Sesungguhnya pada kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang yang
berakal."29

Orang yang membaca kisah-kisah al-Qur’an dengan penuh tadabbur tentunya akan
menumukan arahan dan petunjuk untuk mengambil manfaat dalam berbagai bentuk.

26
Surat al-Anbiya': 25.
27
Surat Hud: 120.
28
Surat Ali Imran: 93.
29
Surat Yusuf: 111.
10
G. CONTOH KISAH NABI YUSUF DALAM AL-QUR'AN DAN HIKMAHNYA

Ada keistimewaan dalam kisah Nabi Yusuf dalam al-Qura'an dibandingkan dengan
yang lain. Karena dalam kisah ini panjang lebar dan tersusun rapi dalam satu surat, sedangkan
untuk kisah-kisah lainnya hanya sepotong-potong. Seperti kisah kelahiran Nabi Isa, kisah Nabi
Nuh dan lain-lainnya. Sedangkan untuk kisah Nabi Yusuf telah dipaparkan panjang lebar dari
awal sampai akhir dalam satu surat.30 Oleh karena itu Allah menggabarkan bahwa kisah ini
adalah kisah yang terbaik dalam al-Qur'an. Allah berfirman:

"Kami menceritakan kepadamu kisah yang terbaik dalam al-Qur'an ini, dan sesungguhnya
engkau sebelumnya termasuk orang-orang yang tidak mengetahui."31

Kemudian di tutup dengan ayat:

"Sungguh dalam kisah-kisah mereka terdapat pengajaran bagi orang yang berakal."32

Menurut Quraish Shihab, kisah ini dinamakan kisah yang terbaik, karena disamping
kandungannya kaya dengan pelajaran, tuntunan dan hikmah, kisah ini juga kaya dengan
gambaran yang sungguh hidup melukiskan gejolak hati pemuda, rayuan wanita, kesabaran,
kepedihan dan kasih sayang ayah. Kisah ini juga mengandung imajinasi, bahkan memberi aneka
ragam informasi tersurat dan tersirat tentang sejarah masah Islam.33 Karenanya surah ini dibilang
surat yang unik, ia menguraikan pribadi yang sempurnana dalam banyak episode.

Adapun sebab turunnya kisah (surat) Yusuf ini adalah sebagai hiburan bagi Rasulullah
atas perbuatan kaumnya, sebagimana yang telah diperbuat oleh saudara-sadara Nabi Yusuf
padanya.34 Dalam riwayat lain disebutkan, karena orang-orang Yahudi bertanya pada Rasulullah
tentang kisah Yusuf. Diriwayatkan juga, karena orang-orang Yahudi menyuruh orang-orang kafir
pada Rasulullah tentang sebab Bani Israil tingal di Mesir.35

30
Abdullah Mahmud Sahatah, Ahdaf Kulli Surah wa Maqashidiha fi al-Qur'an al-Karim, jilid. I, hal. 139.
31
Surat Yusuf: 3.
32
Surat Yusuf: 111.
33
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, kesan dan Keserasian al-Qur'an, jilid. 6, hal. 377.
34
Sai’id Hawa, al-Asas fi al-Tafsir (Mesir: Dar al-Salam, 1999), jilid. 5, hal. 2622.
35
Ibnu ‘Athiyah al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz (Katar: Muassasah Dar al-
Ulum, 1984), jilid. 7, hal. 430.
11
1. Kisah Nabi Yusuf dalam al-Qur'an

Dalam makalah ini penulis akan menceritakan kisah Nabi Yusuf secara singkat
berdasarkan kisah dalam al-Qur’an sebagai berikut:

Pada suatu hari yusuf bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan yang
semuanya tunduk pada Yusuf. Mimpi ini disampaikan pada ayahnya, lalu ayahnya melarang agar
cerita ini jangan diceritakan pada saudara-saudaranya agar mereka tidak membuat tipu daya.

Saudara-saudara Yusuf merasa bahwa ayah mereka lebih mencintai Yusuf ketimbang
diri mereka. Maka, mereka pun merencanakan untuk menyingkirkan Yusuf. Ayahnya
membiarkan Yusuf dibawah oleh saudara-saudaranya setelah adanya permintaan yang gencar dan
terus menerus dari mereka. Lalu, mereka keluar membawa Yusuf yang kemudian dilemparkan
ke dalam sebuah sumur.Kemudian mereka kembali dan menemui ayah mereka sambil berpura-
pura menangis. Mereka mengatakan bahwa srigala telah menerkam Yusuf.

Saat itu adalah kafilah yang berasal dari Syam menuju Mesir. Mereka mengeluarkan
Yusuf dari sumur dan membawanya ke Mesir. Penguasa Mesir membeli Yusuf dari tangan
kafilah itu yang kemudian memeliharanya dengan sebaik-baiknya.

Yusuf tumbuh dan berkembang dengan fisik yang sangat indah dan ganteng. Istri
penguasa itu pun jaatuh cinta padanya. Namun, Yusuf menolak cintanya. Akibatnaya, istri
penguasa itu mengatakan kepada siapa saja bahwa Yusuflah yang telah berusaha mencuri
cintanya. Akhirnya, mereka menjebloskan Yusuf ke dalam penjara dan mengurung di dalamnya
selama beberapa tahun. Dalam penjara dia menakwilkan mimpi kedua kawannya setawanan.

Yusuf baru dikeluarkan setelah berhasil menafsirkan mimpi penguasa dan kemudian
wanita itu mengakuai kesalahan dan dosanya. Penguasa tadi melihat bahwa Yusuf memiliki
kemampuan untuk menjalankan roda pemerintahan. Makanya, dia ditempatkan dalam bagian
logistik dan ekspor barang.

Saat itu datang kafilah dari Syam yang membeli gandum. Datang pula bersama mereka
saudara-saudara Yusuf. Yusuf mengenali mereka, namun mereka sama sekali tidak mengenali
Yusuf. Yusuf menjual barang-barang kepada mereka dan meminta agar pada saat kedatangannya
yang akan datang membawa saudara mereka yang bungsu.

12
Setelah itu mereka kembali ke Syam dan memberitahukan kepada ayahnya apa yang
menjadi permintaan Yusuf . Namun, sang ayah menolak. Dia tidak menyetujuinya kecuali setelah
melalui perjanjian-perjanjian. Kemudian mereka berangkat ke Mesir dan membeli bahan makan
yang mereka butuhkan. Pada saat akan kembali pulang mereka ditahan dengan tuduhan, bahwa
mereka telah mencuri timbangan raja. Setelah diperiksa ternyata timbangan itu di dalam
bungkusan yang akan dibawah oleh Bunyamin. Dia pun ditangkap. Semua ini merupakan rencana
yang dilakukan oleh Yusuf sendiri. Mereka kembali menemui ayah mereka dan menggambarkan
apa yang terjadi. Ya’qub sangat sedih mendengar berita ini hingga dia harus kehilangan
penglihatannya akibat kesedihan yang sangat mendalam itu. Lalu, dia memerintahkan pada
mereka untuk mencari Yusuf dan adiknya.

Mereka pun kembali ke Mesir dan akhirnya mengenali Yusuf. Yusuf memaafkan apa
yang mereka lakukan dan meminta mereka untuk kembali ke Syam dan datang kembali ke Mesir
dengan membawa semua anggota keluarga mereka. Mereka pun melakukan yang diminta Yusuf.

Akhirnya Nabi Ya’kub beserta keluarga datang ke Mesir. Di Mesir Yusuf mengatakan
pada ayahnya atas kebenaran mimpinya waktu kecil.

2. Pelajaran-pelajaran (Hikmah) dari Kisah Nabi Yusuf dalam al-Qur'an

Banyak sekali pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Yusuf, secara
garis besar sebagai berikut:

1. Mimpi

Dalam kisah Nabi Yusuf, terdapat kebenaran mimpi Nabi Yusuf tatkala dia masih
kecil,36 mimpi shahabat setawanan,37 dan mimpi sang Raja38 ini telah membuktikan bahwa mimpi
adakalanya memang benar-benar suatu isyarat yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Ini
sesuai dengan sabda Rasulullah, "Mimpi ada tiga macam: berita gembira dari Allah Yang Maha
Pengasih, bisikan hati dan sesuatu bisikan dari setan." (HR. Ibnu Majjah)

36
Surat Yusuf: 4.
37
Surat Yusuf: 36.
38
Surat Yusuf: 42.
13
Mimpi yang dialami manusia biasa sering kali dalam bentuk tersirat, dan baru disadari
kebenarannya setelah terbukti dalam kenyataan.39

Dalam Islam mimpi diakui sebagai sumber dan prosedur untuk memperoleh kebenaran.
Tentu saja ini diberikan oleh orang-orang pilihan Allah,40sperti mimpi Nabi Yusuf,41 mimpi
Rasulullah,42 dan mimpi orang-orang shalih. Ini dipertegas lagi dalam sebuah hadits:

"Apabila di antara kalian bermimpi melihat sesuatu yang menyenangkan, maka itu dari
Allah dan hendaknya memuji-Nya. Apabila selain dari itu (tidak menyenangkan), maka itu
merupakan dari setan dan hendaknya dia memohon perlindungan Allah dari keburukan
mimpinya, dan jangan dia sampaikan pada seseorang.” (HR. Bukhari)

Syekh Usamah Muhammad al-Awadi mengklasifikasikan mimpi yang benar menjadi


lima macam:43 (1) ilham yang diberikan oleh Allah kepada hati seorang hamba-Nya; (2) adanya
Malaikat yang membawa mimpi kepada seorang hamba; (3) bertemunya roh yang tidur dengan
arwah orang yang telah wafat; (4) roh orang yang tidur itu naik kehariban Allah dan bercakap-
cakap dengan-Nya; dan (5) masuknya roh orang yang tidur ke dalam surga atau ke tempat lain.
Rasulullah bersabda, "Tidak tersisa dari kenabian kecuali al-mubasysyirat.' Shahabat bertanya,
'Apakah al-mubasysyirat itu?' Beliau menjawab, 'Mimpi baik dari orang shalih." (HR. Bukhari)

Dengan demikian mimpi dianggap sangat berharga karena membantu manusia dalam
perjalanan menuju Allah dan dalam menyingkap benang emas yang menghubungkan manusia
dengan cinta dalam kalbu. Karena mimpi merupakan sebuah bimbingan Allah yang ditujukan
pada hamba pilihan.

2. Hubungan Kasih Sayang Keluarga dan Kedengkian

Dalam surat ini terdapat kasih sayang seorang ayah terhadap anak dan anak terhadap
ayahnya. Kita bisa melihat pemakaian sebutan seorang anak pada ayahnya, ‫( ﯿﺂأﺒﺖ‬wahai

39
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, kesan dan Keserasian al-Qur'an, jilid. 6, hal. 387.
40
Tim UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005), Jilid. 5,
hal. 27.
41
Surat Yusuf: 4.
42
Surat al-Fath: 27.
43
Tim UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam, jilid. 5, hal. 27.
14
ayahku),‫( ﯿﺂأﺒﺎﻧﺎ‬wahai ayah kami), dan panggilan seorang ayah pada anaknya ‫( ﯿﺎﺒﻧﻲ‬wahai anakku),
‫( ﯿﺎﺒﻧﻲ‬wahai anak-anakku).

Quraish Shihab menulis dalam tafsirnya, kedekatan anak kepada ayahnya diakui pada
surat Yusuf ini, sehingga bukan nama ayahnya yang disebut, tetapi kedudukannya sebagai orang
tua.44

Syahatah mengatakan, dalam kisah Nabi Yusuf terdapat unsur kasih sayang yang
beragam; kasih sayang Ya’kub terhadap Yusuf dan saudaranya (Bunyamin), serta kasih sayang
Ya’kub pada saudara-saudara Yusuf lainnya.45

Walaupun secara garis besar Nabi Ya'kub sangat sayang terhadap anak-anaknya akan
tetapi sayangnya pada Yusuf ada nilai lebih. Karena sifat Yusuf dibandingkan dengan saudara-
saudaranya lebih baik maka kasih sayang Nabi Ya'kub terhadap Yusuf lebih besar. Ini sesuai
dengan pengakuan mereka, "Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita
daripada kita."46 Saudara-saudara Yusuf merasa bahwa kasih saying ayah mereka lebih besar
untuk Yusuf daripada untuk mereka. Inilah yang menyebabkan kedengkian mereka, sehingga
timbul rencana-rencana tindak kejahatan.

Dari kisah ini orang tua bisa belajar, agar tidak terlalu tampak kasih sayang pada anak-
anaknya yang tidak seimbang, karena ini akan menimbulkan kecemburaan dan kedengkian.

3. Tipu Daya dan Persatuan dalam Kejahatan

Dalam kisah Nabi Yusuf juga disebutkan tipu daya saudara-saudaranya47 dan Zulaikha48
dan pada akhirnya kebohongan mereka pun terbongkar dan mereka mengakui kesalahan yang
mereka perbuat.49 Sebenarnya dengan kisah ini Allah memperingatkan kita, agar kita menjahui
tipu daya, karena pada akhirnya tipu daya itu akan terungkap juga. Ini sesuai dengan ungkapan,
"Sedalam-dalam mengubur bangkai akan tercium juga baunya." Begitu juga Allah tidak akan

44
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, kesan dan Keserasian al-Qur'an, jilid. 6, hal. 382.
45
Abdullah Mahmud Sahatah, Ahdaf Kulli Surah wa Maqashidiha fi al-Qur'an al-Karim, jilid. I, hal. 141.
46
Surat Yusuf: 8.
47
Surat Yusuf: 16-18
48
Surat Yusuf: 25.
49
Untuk pengakuan tipu daya saudara-saudara Nabi Yusuf, lihat Surat Yusuf: 97 dan Zulaikha, lihat
surat Yusuf: 51.
15
memberi petunjuk bagi orang yang berbuat tipu daya dan kebohongan. Firman-Nya,
"Sesungguhnya Allah tidak menyukseskan tipu daya orang-orang yang berkhianat."50

Dalam kisah ini kita juga bisa mengambil pelajaran untuk waspada dari kekompakan
dan persatuan dalam kejahatan, karena persatuan tersebut akan membuahkan hasil. Seperti
persatuan saudara-saudara Yusuf untuk melemparkan Yusuf ke dalam sumur. Ini membuktikan
bahwa, berapa banyak kejahatan yang tersusun rapi yang bisa mengalahkan kebenaran yang
tidak terkoordinir. Walaupun pada akhirnya kebenaran akan selalu menang. Allah berfirman:
"Telah datang kebenaran dan musnalah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan pastilah binasa."51

4. Demokrasi

Dalam kisah Nabi Yusuf juga dikisahkan, bahwa saudara-saudara Yusuf akan
membunuhnya atau membuangnya pada suatu tempat yang tidak dikenal, sehingga tidak ada
yang mengenal dan dia akhirnya mati di sana. Sesungguhnya mereka tahu dosa, tetapi anggapan
mereka Tuhan Maha Pengampun, tentunya akan memafkan kesalahan jika bertaubat.

Sedangkan usulan salah satu dari mereka, yang rupanya takut melakukan pembunuhan
atau masih ada rasa kasih sayang pada Yusuf berkata, "Kalau maksud kita mengharapkan kasih
sayang dan perhatian ayah pada kita, janganlah membunuh Yusuf. Ini terlalu kejam dan dosanya
amat besar. Tetapi lemparkanlah dia kedalam dasar sumur yang dalam, dengan demikian tujuan
kita tercapai dan Yusuf tidak mati, tapi suatu saat dia akan dipungut oleh orang musafir dan
nanti mereka akan membawanya jauh atau akan menjualnya pada siapapun."52 Akhirnya mereka
setuju dengan usulan yang terakhir yang dasampaikan oleh Yahudi.53

Ini merupakan bentuk demokrasi yang masing-masing orang bisa mengusulkan suatu
pendapat, dan pendapat yang terbaiklah yang dipilih.

50
Surat Yusuf: 52
51
Surat al-Isra': 81
52
Untuk ayatnya dapat dilihat dalam surat Yusuf: 10.
53
Abdullah Mahmud Sahatah, Ahdaf Kulli Surah wa Maqashidiha fi al-Qur'an al-Karim, jilid. I, hal. 143.
16
5. Permainan

Dalam kisah Nabi Yusuf kita juga menjumpai kata ‫ﯿﻟﻌﺐ‬54 (agar Yusuf bisa bermain)
yang saudara-saudara Yusuf ucapkan pada ayahnya agar ayahnya mengizinkan untuk bermain-
main dan Ya'kub pun mengizinkannya.

Bermain adalah suatu kegiatan yang menggembirakan untuk menghilangkan kejenuhan


serta dapat digunakan untuk memperoleh manfaat. Bermain juga merupakan salah satu cara
belajar bagi anak.55

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa permainan dalam agama tidak dilarang
jika pemainan itu tidak mengakibatkan lupa pada kewajiban yang telah ditetapkan.

6. Kesabaran dalam Ujian

Untuk meraih kesuksesan tentunya banyak cobaan yang akan ditemui. Sehingga
dikatakan, "Tidak diperoleh suatu kemulyaan kecuali setelah menempuh berbagai coboaan."
Demikian halnya dengan Yusuf, sebelum dia berhasil, dia telah melewati berbagai cobaan:
semasa kecil dia telah dilempar ke dalam sumur untuk dipisahkan dengan orang tuanya,56
mendapatkan godaan dari wanita yang canti jelita57 dan dipenjara.58 Dengan kesabaran atas ujian-
ujian yang menimpanya akhirnya dia pun bias mencapai puncak kesuksesan. Nabi Yusuf berkata
dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka
sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik"59

Ujian dan cobaan pasti akan menimpa seorang hamba. Syekh Abdul Qadil Jailani
mengatakan, Jika tidak ada ujian dan cobaan tentunya tidak akan diakuai kewaliannya oleh
kebanyakan manusia. Di antara cirri-ciri wali adalah kesabaran atas hinaan orang lain dan dia
memaafkannya. Dia berpura-pura buta dari melihat orang lain dan berpura-pura tuli dari apa yang
didengar dari orang lain. Dia berpaling dari semua itu, karena kecintaanya pada Allah membuat

54
Surat Yusuf: 12.
55
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, kesan dan Keserasian al-Qur'an, jilid. 6, hal. 392.
56
Surat Yusuf: 15.
57
Surat Yusuf: 23.
58
Surat Yusuf: 35.
59
Surat Yusuf: 90.
17
dia buta dan tuli dari selain Dia. Dia menemui orang lain dengan perkataan baik, lemah lembut
dan penuh perhatian.60

Al-Qusyairi mengatakan, sabar terbagi menjadi dua: (1) sabar yang berkaitan dengan
usaha. Ini terbagi menjadi dua: (a) sabar terhadap apa yang diperintah oleh Allah dan (b) sabar
terhadap apa yang dilarang oleh-Nya. (2) sabar yang tidak berkaitan dengan usaha. maksudnya
adalah sabar terhadap penderitaan yang terkait dengan hukum karena mendapatkan kesulitan.61

Sedangkan Said Hawa dalam mukaddimah bab sabar mengatakan, sabar ada tiga
macam: (1) sabar atas ketaatan, (2) sabar dari kema'siatan, dan (3) sabar menerima cobaan.62

Sedangkan mengenai keutamaan sabar, Allah telah menyebutkan dalam al-Qur'an di


sembilan puluh tempat lebih. Allah telah menyandarkan banyak derajat dan kebaikan pada
kesabaran, dan menjadikan semua itu buah darinya.63 Jika seseorang telah dapat bersabar,
sesunggahnya dia mendapatkan anugerah yang sangat besar dari Allah. Rasulullah bersabda:

"Tidaklah seorangpun yang diberi oleh Allah suatu pemberian lebih baik dan luas
daripada sabar." (HR. Bukhari Muslim)64

Sabar itu bagaikan jamu yang pahit, akan tetapi pengaruhnya lebih hebat daripada
madu. Karena sabar adalah sumber segala kebaikan dan keselamatan dunia dan akhirat. Memang
sabar merupakan sikap yang sangat berat atau sangat sulit, tapi masih bisa diperoleh dengan
adonan ilmu dan amal.

7. Cinta Anak Manusia dan Ketakwaan

Dalam kisah ini juga diceritakan kisah anak manusia yang sedang jatuh cinta, yaitu
Zulaikha. Telah dikisahkan dalam surat Yusuf ini, bahwa Zulaikha telah jatuh cint pada Yusuf.
Jika pada mulanya dia bisa merendam perasaannya, namun desakan asmara tidak lagi dapat

60
Abdul Qadir Jailani, al-Fath al-Rabbani wa al-Faid al-Rahmani, alih bahasa: Arif Iskandar, Percikan
Cahaya Ilahi (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hal. 32.
61
Al-Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairiyah, alih bahasa: Umar Faruq, Risalah Qusyairiyah; Sumber Kajian
Ilmu Tasawuf (Jakarta: Pustaka Amani, 1998), hal. 258.
62
Said Hawwa, al-Mustakhlash fi Tazkiyah al-Anfus, alih bahasa: Ainurrafiq Shalih, Mensucikan Jiwa
(Jaktim: Robbani Press, 2006), hal. 370.
63
Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali, Mukasyafah al-Qulub, alih bahasa: M. Syamsi Hasan
(Surabaya: Amelia, t.t), hal. 403.
64
Imam al-Nawawi, Riyadh al-Shalihin; min Kalam Sayyid al-Mursalin (Bairut: Dar al-Fikr, 1993), hal.
28.
18
dibendungnya. Hatinya bergejolak bila memandangnya dan pikirannya kacau bila tidak
melihatnya. Sedangkan keadaan Yusuf jauh berbeda dengan Zulaikha. Sejak kecil hatinya telah
bertalian dengan Allah; hatinya telah diselimuti mahabbatullah dan takwa kepada-Nya.
Pengalaman menghadapi cobaan sudah banyak dan dia berhasil mengahadapi cobaan-cobaan
tersebut. Keberhasilan mengahadapi cobaan diyakininya pertolonan dari Allah.

Ketika tidak mampu menahan perasaannya, Zulaikha akhirnya memberanikan diri untuk
merayu Yusuf yang tinggal di rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat kemudian (mengajaknya
berbuat mesum) dengan berkata, 'Marilah ke sini, aku untukmu.' Akan tetapi Yusuf menjawab,
'Perlindungan Allah. Sungguh Dia adalah Tuhanku, Dia telah memperlakukan aku dengan baik.
Sesungguhnya orang dhalim tidak akan beruntung.' 65

Quraish Shihab mengatakan, Yusuf menyebutkan tiga hal setelah tiga hal pula
dilakukakan oleh wanita itu; merayu, menutup pintu dan mengajak berbuat. Dijawabnya dengan
memohon perlindungan pada Allah, mengingat anugerah Allah dan menyebutkan orang dhalim
tidak akan beruntung.66

Dari sini bisa diambil pelajaran dari sikap Nabi Yusuf ketika mendapatkan godaan dari
wanita, dia langsung teringat Allah dan tidak mau melakukan tindakan yang senonoh. Walaupun
wanita itu (Zulaikha) sangat cantik dan lagi berkuasa, kebaikannya pada Yusuf tentu sangat
banyak, Zulaikha tentu sudah berhias dan memakai wangi-wangian yang sangat menggoda
(karena rencananya sudah terencena), pintu telah ditutup, gorden telah ditarik suasananya tentu
aman dan dengan rayuan yang dilakukan berkali-kali, namun Yusuf masih tidak mau melakukan.

Jadi kunci untuk aman dari godaan wanita dalam kisah ini adalah ingat Allah atas bukti
kebesaran-Nya dan bertakwa kepada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam surat yusuf ini,
"Andakata dia (Yusuf) tidak melihat bukti dari Tuhannya dia akan berbuat juga."67

Wanita adalah godaan yang paling berbahaya bagi pria. Sabda Rasulullah, "Aku tidak
meninggalkan terhadap umatku suatu fitnah (godaan) yang lebih berbahaya bagi seorang laki-
laki dari pada godaan wanita."68 Karenanya bagi yang takut pada Allah daripada mengikuti

65
Surat Yusuf: 23.
66
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, kesan dan Keserasian al-Qur'an, jilid. 6, hal. 412.
67
Surat Yusuf: 24.
68
HR. Bukhari dan Muslim.
19
rayuan wanita, maka Allah menjanjikan akan menaunginya diantara tujuh golongan pada hari
kiamat. Sebagaimana yang tertera dalam hadits:

"Ada tujuh golangan yang mendapatkan naungan dari Allah pada hari kiamat.
Diantaranya…Lelaki jika diajak oleh wanita yang cantik (uuntuk berbuat mesum), dia berkata:
aku takut Allah.

8. Cinta Ilahi

Dalam kisah Nabi Yusuf disebutkan bahwa cinta Nabi Yusuf pada Allah adalah
segalanya. Walaupun dia memiliki birahi sebagai laki-laki normal, karena dia melihat bukti-bukti
yang bersumber dari-Nya yang menyebabkan cintanya pada-Nya di atas segalanya, maka
jangankan tekad atau keinginan, perhatian dan pandangannya pun tak tertuju pada Zulaikha.
Dengan cintanya pada Allah maka Allah pun membalas cintanya dan memberikan kemulyaan
dan kedudukan.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran dari cintanya yusuf pada Allah yang
mengantarkannya pada kedudukan yang dekat dengan-Nya.

Menurut Al-Junaid, “Mahabbah adalah masuknya sifat-sifat Dzat yang dicintai sebagai
pengganti dari sifat-sifat yang dicintai.69 Ini searti dengan sabda Nabi dalam sebuah Hadits
Qudsi: ’’…Sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Maka Aku jadi matanya
yang ia gunakan untuk melihat, telinganya yang ia gunakan untuk mendengar dan tangannya
yang ia gunakan untuk memegang.’’ (HR. Bukhari dan Ahmad)

Maksud dari pernyataan Al-Junaid tersebut adalah bila seorang sufi telah benar-benar
jatuh cinta kepada Tuhan, maka perhatiannya hanya benar-benar tertuju pada-Nya. Tiada lagi
perasan yang tertuju pada hal-hal lain, yang masih tertinggal pada dirinya. Pada saat yang sama,
dia akan menjadikan tempat di segala sudut dalam hatinya hanya untuk Tuhan.70

Al-Ghazali mengatakan, Cinta tidak dapat muncul kecuali setelah terjadi proses
pengenalan. Seseorang tidak akan mencintai kecuali terhadap yang diketahuinya. Maka setiap apa
yang diketahui itu terdapat kelezatan dan kesenangan. Disamping itu terdapat kesakitan dan
69
Abu Nashr al-Sarraj, al-Luma’, alih bahasa: Wasmukan, al-Luma'; Rujukan Lengkap Ilmu Tasawwuf
(Surabaya: Risalah Gusti, 2002), hal. 59
70
Hamdani Anwar, Sufi al-Junaid (Jakarta: Fikahati Aneska, 1995), hal. 73.
20
kepedihan. Maka cinta merupakan ketertarikan watak alami seseorang terhadap perkara yang
menimbulkan rasa lezat. Apabila ketertarikan itu semakin menguat, maka itu disebut dengan
cinta yang meluap-luap (al-‘syq). Adapun benci merupakan penolakan watak seseorang terhadap
perkara yang menderitakannya dan menyusahkannya. Apabila penolakan tersebut semakin kuat,
maka ia di sebut muqt (sangat benci; kesal).71 Dengan demikian, setiap perkara yang dicintai
terasa lezat bagi orang yang mengetahui rasa kelezatannya dan begitu pula sebaliknya.

Kesempurnaan cinta kepada Allah adalah mencintai-Nya sepenuh hati. Selama masih
melirik kepada selain Allah, ruang hati seseorang akan terganggu oleh selain-Nya. Seukuran
ketergangguan hati oleh selain Allah, seukuran itu pula berkurangnya kecintaan seseorang. Jadi,
mencintai Allah harus benar-benar spesial.

9. Da'wah

Dalam kisah Yusuf ini juga disebutkan, bagaimana Yusuf telah berda'wah sebelum
menakwilkan mimpi dalam penjara yang menyerukan pada ajaran tauhid pada dua kawan
setahanan. Dia berkata,

"Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama kaum yang tidak beriman kepada
Allah." Kemudian dipertegas lagi, "Sesungguhnya aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu
Ibrahim, Ishaq dan Ya'kub. Tidaklah bagi kami mempersekutukan dengan suatu apapun dengan
Allah.72

Nabi Yusuf berda’wah sebagaimana para Rasul berda’wah, yaitu menyerukan untuk
menyembah Tuhan Yang Esa (Allah).

Kita bisa melihat bagaimana Nabi Yusuf berdakwah, didalam penjara pun dia juga
berdakwah. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa dalam berdakwa tidak mengenal
tempat, “Dimana kaki menginjak kita bertanggung jawab terhadap Islam”. Dalam artian kita
berdakwah menurut kadar kemampuan kita.

Al-Qur’an telah mengajarkan kepada kita metodologi dakwah dengan jelas dalam
beberapa ayat al-Quran yang banyak, yang secara global tersirat dalam firman Allah:
71
Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din (Bairut: Dar al-Fikr, 1991), jilid. 4, hal.
288.
72
Surat Yusuf: 37-38.
21
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik.”73

“Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat
memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.”74

Dari ayat tersebut di atas, secara garis besar metodologi dakwah sebagi berikut:

a. Membidik hati dan rasio. Maksud dari membidik hati yaitu melalui mau’idhah hasanah.
Sedangkan membidik rasio yaitu dengan hikmah.

Dalam berdakwah tidak ada larangan mengkombinasikan antara rasio dan hati
(mau’idhah dan hikmah).75

b. Berdialog dengan cara yang terbaik. Ini mengindikasikan melalui dialog dengan para lawan
melalui pendekatan dialog yang terbaik.

c. Berkomunikasi dengan bangsa mereka. Petunjuk al-Qur’an dalam berda’wah diserukan


mengunakan bahasa yang mereka pahami. Begitu juga dalam berdakwah diserukan sesui dengan
kapasitas dan level mereka, dengan cara yang pas bagi mereka dan dengan bahasa yang mampu
dicerna.76

Sedangkan tujuan terakhir dalam berda’wah adalah beribadah kepada Allah dengan
menunjukkan manusia ke jalan yang benar, membimbing pada jalan kebaikan dan menerangi
duni dengan cahaya Islam.

G. PENUTUP

Al-Qur’an telah menelusuri sisi-sisi gelap yang terjauh di dalam kalbu insani, dan
menyusup sejauh-jauhnya dalam jiwa orang yang beriman dan orang yang kafir dengan suatu
layang pandang yang menyentuh perasaan yang paling halus dalam jiwa. Al-Qur’an telah
berjalan ke arah masa lampau kemanusiaan yang jauh, dan berjalan pula ke arah depan
kemanusiaan untuk mengajarkan tugas-tugas kehidupan

73
Surat al-Nahl: 125.
74
Surat Ibrahim: 4.
75
Yusuf Qardhawi, Kaifa Nata’amal ma’a al-Quir’an al-‘Adhim, alih bahasa: Abdul Hayyi, Berinteraksi
dengan al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hal. 622.
76
Ibid.
22
Al-Qur’an telah melukiskan suatu lukisan yang menarik dari suatu pemandangan
berbagai peradaban yang beriring-iringan. Kemudian ia mengundang agar kita merenungkannya
sepaya kita dapat mengambil manfaat dari akibat-akibatnya.

Al-Qur’an telah banyak mengisahkan kisah orang-orang dahulu dari para Nabi, orang-
orang shalih, dan juga kisah orang mukmin dan kafir. dengannya Allah memerintahkan kepada
kita untuk meneladani orang-orang shalih dan mushlih dari orang-orang dahulu, yang kisah-
kisahnya telah dipaparkan kepada kita serta telah diajarkan kepada kita metode mereka dalam
berdakwah, ishlah, perlawanan terhadap musuh-musuh Allah, perjuangan jihad dan lain-lain.
Sedangkan dalam kisah orang kafir kita diserukan untuk mengambil ibrah agar kita tidak
mengikuti langkah-langkah mereka. Jadi kisah-kisah dalam al-Qur’an tidak hanya sekedar
dongeng belaka, akan tetapi keberadaannya ada maksud dan tujuan sehingga kita dapat memetik
faidah-faidahnya.

23
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim

Al-Andalusi, Ibnu ‘Athiyah, al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz (Katar: Muassasah
Dar al-Ulum, 1984), jilid. 7

Al-Ghazali, Abu Hamid bin Muhammad, Ihya’ Ulum al-Din (Bairut: Dar al-Fikr, 1991), jilid. 4

----------, Jawahir al-Qur’an (Bairut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1983)

----------, Mukasyafah al-Qulub, alih bahasa: M. Syamsi Hasan (Surabaya: Amelia, t.t)

Al-Khaldi, Shalah Abdul Fattah, Ma’a Qishash al-Sabiqin fi al-Qur’an, alih bahasa: Abdullah,
Kisah-kisah al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani Press, 1999)

Al-Nawawi, Imam, Riyadh al-Shalihin; min Kalam Sayyid al-Mursalin (Bairut: Dar al-Fikr,
1993)

Al-Qathan, Mana’, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an (Bairut: al-Syirkah al-Muttahidah li al-Tauzi’,


1973)

Al-Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairiyah, alih bahasa: Umar Faruq, Risalah Qusyairiyah; Sumber
Kajian Ilmu Tasawuf (Jakarta: Pustaka Amani, 1998)

Al-Sarraj, Abu Nashr, al-Luma’, alih bahasa: Wasmukan, al-Luma'; Rujukan Lengkap Ilmu
Tasawwuf (Surabaya: Risala Gusti, 2002)

Djalal, Abdul, Ulumul Qur’an (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998)

Hawa, Sai’id, al-Asas fi al-Tafsir (Mesir: Dar al-Salam, 1999), jilid. 5

----------, al-Mustakhlash fi Tazkiyah al-Anfus, alih bahasa: Ainurrafiq Shalih, Mensucikan Jiwa
(Jaktim: Robbani Press, 2006)

Jailani, Abdul Qadir, al-Fath al-Rabbani wa al-Faid al-Rahmani, alih bahasa: Arif Iskandar,
Percikan Cahaya Ilahi (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002)

Luwes, al-Munjid fi al-Lughah(Bairut: Dar al-Masyriq, 1998)

24
Muhammad Ali al-Shabuni, al-Nubuwwah wa al-Ambiya’, alih bahasa: Alwi, Kenabian dan
Riwayat para Nabi (Jakarta: Lentera Baritama, 2001)

Nabi, Malik bin, Dhahirah al-Qur’an, alih bahasa: Saleh Mahfoed, Fenomena al-Qur’an
(Bandung: al-Ma’arif, 1987)

Qardhawi, Yusuf, Kaifa Nata’amal ma’a al-Quir’an al-‘Adhim, alih bahasa: Abdul Hayyi,
Berinteraksi dengan al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani Press, 2000)

Quthb, Sayyid, Al-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an, alih bahasa: Fathurrahman, Indahnya al-
Qur’an Berkisah (Jakarta: Gema Insani, 2004)

Sahatah, Abdullah Mahmud, Ahdaf Kulli Surah wa Maqashidiha fi al-Qur'an al-Karim (Mesir:
al-Haiah al-Mishriyah al-'Ammah li al-Kitab, 1986)

Shihab, Umar, Kontekstualitas al-Qur’an (Jakarta: Pernamadani, 2005)

Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Mishbah; Pesan, kesan dan Keserasian al-Qur'an (Jakarta: Lentera
Hati, 2002), jilid. 6

Syahrur, Muhammad, al-Kitab wa al-Qur’an; Qira’ah wa al-Mu’ashirah (Bairut: Syirkat wa al-


Mathbu’at li al-Tauzi’ wa al-Nasyr, 2000)

Tim UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005),
Jilid. 5

25