Anda di halaman 1dari 18

PERKEMBANGAN PERADILAN AGAMA

Makalah:
Yang Dipresentasikan pada tanggal 24 juni 2008
Pada Mata Kuliah Studi Islam Kawasan Nusantara
Sebagai Prasyarat Perkuliahan

Oleh:
Muhammad Syafi’ie WS
Nim: 070303100

DR. Nyimas Anisah Muhammad, MA


Dosen Pengampu

KONSENTRASI TAFSIR HADITS


PROGRAM STUDI SEJARAH PERADABAN ISLAM
PASCASARJANA IAIN RADEN FATAH PALEMBANG
2007-2008

1
PERKEMBANGAN PERADILAN AGAMA
Oleh: M. Syafi'i WS al-Lamunjani

A. PENDAHULUAN

Dalam kehidupan masyarakat manusia, mulai dari komunitas kecil yang


sederhana sampai dengan pergaulan antar bangsa, terdiri atas sekumpulan perorangan atau
kelompok (keluarga, marga, etnik dan bangsa). Mereka memiliki kepribadian yang
beraaneka ragam. Demikian pula tradisi, kemampuan, keahlian, profesi dan kepentingan
mereka beraneka ragam. Keaneka ragaman tersebut dalam masyarakat bangsa Indonesia
mencerminkan masyarakat yang majemuk. Oleh karena itu tatanan hukumnya pun harus
ada pada kehidupan mayarakat.

Peradilan Islam di Indonesia yang selanjutnya disebut dengan peradilan agama


telah ada di berbagai nusantara jauh sejak zaman masa penjajahan Belanda. Bahkan
menurut pakar sejarah peradilan, peradilan agama sudah ada sejak Islam masuk ke
Indonesia, yaitu melalui tahkim, dan akhirnya pasang surut perkembanganya hingga
sekarang.

Peradilan agama sebagai wujud peradilan Islam di Indonesia dapat dilihat dari
berbagai sudut pandang. Pertama, secara filosofis peradilan dibentuk dan dikembangkan
untuk menegakkan hukum dan keadilan; Kedua, secara yuridis hukum Islam (di bidang
perkawinan, kewarisan, wasiyat, hibah, wakaf dan sodaqoh) berlaku dalam pengadilan
dalam lingkungan peradilan agama; Ketiga, secara historis peradilan agama merupakan
salah satu mata rantai peradilan agama yang berkesinambungan sejak masa Rasulullah;
Keempat, secara sosiologis peradilan agam didukung dan dikembangkan oleh masyarakat
Islam.

Dalam makalah ini akan dibahas pengertian peradilan agama, asal-usul peradilan
agama, perkembangan peradilan agama; peradilan agam pada masa kesultanan islam,
peradilan agama pada masa penjajahan, dan peradilan agama pada masa kemerdekaan

2
B. PENGERTIAN PERADILAN AGAMA

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, peradilan adalah segala sesuatu


mengenenai perkara pengadilan. Sedangkan pengadilan memiliki arti yang banyak, yaitu
dewan atau majlis yang mengadili perkara; mahkamah; proses mengadili; keputusan hakim
yang mengadili perkara; mahkamah perkara.1 Peradilan terkadang diartikan sama dengan
pengadilan dan terkadang dikemukakan pengertian yang berbeda.

Sedangkan menurut istilah, peradilan adalah daya upaya untuk mencari keadilan
atau penyelesaian perselisihan hukum yang dilakukan menurut peraturan-peraturan dan
lembaga-lembaga tertentu dalam pengadilan. 2

Adapun Peradilan agama adalah kekuasaan negara dalam menerima, memerikasa,


mengadili, memutuskan, dan menyelesaikan perkara-perkara tertentu antara orang-orang
yang beragama Islam untuk menegakkan hukum dan keadilan. Yang dimaksud perkara-
perkara tertentu di sin yaitu perka dalam bidang: 1) perkawinan, 2) kewarisan, wasiat dan
hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam, 3) wakaf dan shadaqah.

Yang demikian sebagaimana telah termaktub dalam UU nomor 1989, Pasal 49


ayat (1) yang berbunyi: “Pengadilan agama yang bertugas dan berwenagng memeriksa,
memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang
beragama Islam di bidang: a. Perkawinan; b. kewarisan, wasiat dan hibah yang dilakukan
berdasarkan hukum Islam; c. wakaf dan shadaqah.”3

Peradilan agama adalah sebutan resmi bagi salah satu dari empat lingkungan
peradilan negara atau kekuasaan kehakiman yang sah di Indonesia. Tiga lingkungan
peradilan negara lainnya adalah Peradilan umum, peradilan militer, dan peradilan tata
usaha negara.4 Peradilan agama merupakan salah satu dari tiga peradilan khusus (peradilan

1
Depdikbud, 1993, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Renika Cipta), hal. 7
2
Zaini Ahmad Nuh, 1995, Hakim Agama dari Masa ke Masa (Jakarta: Munas Ikaha), hal. 15
3
Cik Hasan Bisri, 2000, Peradilan Agama di Indonesia, (Jakarta: RajaGrafindo Persada), hal. 6
4
Roihan A. Rosyadi, 2003, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: RajaGrafindo Persada), hal.
5

3
militer, dan peradilan tata usaha negara). Dikatakan peradilan khusus karena peradilan
agama mengadili perkara-perkara tertentu atau mengenai golongan rakyat tertentu.

C. ASAL-USUL PERADILAN AGAMA

Tresna berkata, dengan masuknya agama Islam di Indonesia, maka tata hukum di
Indonesia mengalami perubahan. Hukum Islam tidak hanya menggantikan hukum Hindu
yang berwujud hukum Pradata, namun juga memasukkan pengaruhnya dalam berbagai
aspek kehidupan masyarakat pada umumnya. Meskipun hukum asli masih menunjukan
keberadaanya tetapi hukum Islam telah merembes di kalangan para penganutnya terutama
hukum keluarga. Hal ini berdampak pada proses pembentukan dan perkembangan peradilan
agama Islam.5

Peradilan agama sudah ada di Indonesia sejak Islam masuk ke bumi nusantara.
Bentuk peradilan Islam di Indonesia pertama kali adalah tahkim kemudian ahlul hilli wal
qadhi.6 tahkim yakni menunjuk seorang hakim jika ada yang berselisih pendapat untuk
menyelesaikannya. Kemudian setelah tebentuk komunitas Islam dalam suatu kelompok
masyarakat, bentuk peradilan Islam berubah menjadi ahlul hilli wal qadhi, yakni
pengangkatan atas seseorang untuk menjadi hakim yang dilaksanakan oleh majlis orang-
orang terkemuka dalam masyarakat. Kemudian ketika telah terdapat dalam masyarakat
sistem pemerintahan Islam dalam bentuk kesultanan, peradilan agama dapat melalui dengan
cara tauliyah, yakni pemberian kuasa Sultan kepada seseorang untuk melaksanakan tugas
sebagi hakim.

5
Tresna, 1997, Peradilan di Indonesia dari Abad ke Abad, (Jakarata: Pradya Pramita), hal. 17
6
Abdullah Mannan, 2006, Reformasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: RajaGrafindo Persada),
hal. 1

4
D. PERKEMBANGAN PERADILAN AGAMA

1. Peradilan Agama pada masa Kesultanan Islam

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa peradilan agama sudah ada di
Indonesia sejak Islam masuk ke bumi nusantara, dan dengan masuknya Islam ke Indonesia,
maka tata hukum di Indonesia mengalami perubahan. Sedangkan pertumbuhan dan
perkembangan peradilan agama mulai tampak pada masa kesulatanan Islam.

Pertumbuhan dan perkembangan peradilan agama pada masa kesultanan Islam


bercorak majemuk. Kemajemukan ini amat bergantung pada proses Islamisasi yang
dilakukan oleh para pejabat agama dan para ulama dari kalangan pesantren; dan bentuk
integarasi antara hukum Islam dengan kaidah lokal yang hidup dan berkembang
sebelumnya.7 Kemajemukan peradilan agama ini terletak pada otonomi dan
perkembangannya yang terdapat pada lingkungan kesulatanan masing-masing.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung di Mataram (1613-1645), peradilan


pradata menjadi perandilan serambi, yang dilaksanakan di serambi masjid. Pemimpin
peradilan, meskipun pada prinsipnya masih tetap di tangan Sultan, telah beralih ke tangan
penghulu yang di dampingi beberapa para ulama’ dari lingkungan pesantren sebagai
anggota majlis. Keputusan pengadilan serambi berfungsi sebagi nasihat bagi Sultan dalam
mengambil keputusan. Sultan tidak pernah menagambil keputusan yang bertentangan
dengan nasihat pengadilan agama. Menurut Snouck pengadilan tersebut berwenang
menyelesaikan perselisihan dan persengkataan yang berhubungan dengan hukum
kekeluargaan, yaitu perkawinan dan kewarisan. 8

Ketika Amangkurat I menggantikan Sultan Agung pada tahun 1645, pengadilan


pradata dihidupkan kembali untuk mengurangi pengaruh ulama’ dalam pengadilan; dan
Raja sendiri yang menjadi tampuk pemimpinnya.9 Namun dalam perkembangan berikutnya

7
Cik Hasan Bisri, Peradilan Agama di Indonesia, hal. 113
8
Ibid., hal. 114
9
Ibid.

5
pengadilan serambi masih menunjukkan keberadaannya sampai dengan masa penjajahan
Belanda, meskipun dengan kewenangan yang terbatas.

Sedangkan kesultanan Cirebon yang didirikan pada waktu yang hampir bersamaan
dengan kesultanan Banten, masih terikat dengan norma-norma hukum dan adat kebiasaan
Jawa-Kuno. Ini disebabkan kalangan lapisan atas di Cirebon berasal dari Demak.10

Adapun peradilan agama di Banten disusun menurut pengertian Islam. Pada masa
Sultan Hasanudin memegang kekuasaan, pengaruh hukum Hindu sudah tidak berpengaruh
dan tidak lagi berbekas.11 Ini disebabkan peradilan agama dipimpin oleh qadhi sebagai
hakim tunggal.

Menurut Danil, di beberapa tempat pada masa kesultananan ini, seperti di


Kalimantan Selatan dan Timur, Sulawesi Selatan dan tempat-tampat lain, para hakim
biasanya diangkat oleh penguasa setempat. Di daerah-daerah lain, seperti di sulawesi Utara,
Sumatra Utara dan Sumatra Selatan tidak ada kedudukan tersendiri bagi peradilan agama,
namun para pejabat agama langsung melaksanakan tugas-tugas peradilan.12

Demikian beberapa peradilan agama pada masa kesulatanan. Yang demikian


dapat mewakili peradilan agama pada kesultanan-kesultanan dan daerah-daerah yang ada di
Nusantara. Adapun cakupan kekhususannya adalah perkara perkawianan dan kewarisan.
Sedangkan sumber penganbilan hukumnya mayoritas dari kitab-kitab fiqih yang
bermadzhab Syafi’i.

2. Peradilan Agama pada masa Penjajahan

A. Peradilan Agama pada masa VOC dan Penjajahan Belanda

Ketika VOC datang ke Indonesia, kebijakan yang telah dilaksanakan oleh para
Sultan tetap diterapkan dan dipertahankan pada daerah yang dikuasainya. Bahakan dalam

10
Tresna, Peradilan di Indonesia dari Abad ke Abad, hal. 23
11
Cik Hasan Bisri, Peradilan Agama di Indonesia, hal. 114
12
Danil. S, 1973, Peradilan dan Kultur hukum Indonesia, (Jakarta: LP3SE), hal. 10

6
banyak hal, VOC memberiakan kemudahan dan fasilitas agar lembaga peradilan Islam
dapat terus berkembang, karena mereka mengetahui bahwa penegakan hukum melalui
peradilan bagi umat Islam adalah fardhu. Bentuk kepedulian VOC terhadap peradilan
agama adalah menerbitkan buku-buku hukum Islam untuk menjadi pegangan para hakim
dalam memutuskan perkara.13

Sebenarnya VOC menginginkan penerapan hukum sendiri, namun dalam


kenyatannya, penggunaan hukum VOC itu menemukan kesulitan. Ini disebabkan karena
penduduk pribumi berat menerima hukum-hukum yang asing bagi mereka. Akibatnya,
VOC pun membebaskan penduduk pribumi untuk menjalankan apa yang selama ini telah
mereka jalankan.

Adapun Kaitannya dengan hukum Islam, dapat dicatat beberapa kompromi yang
dilakukan oleh pihak VOC, yaitu:14

1. Dalam statuta Batavia yang ditetapkan pada tahun 1642 oleh VOC, dinyatakan
bahwa hukum kewarisan Islam berlaku bagi para pemeluk agama Islam.

2. Adanya upaya kompilasi hukum kekeluargaan Islam yang telah berlaku di


masyarakat. Upaya ini diselesaikan pada tahun 1760. Kompilasi ini kemudian
dikenalkan dengan Compendium Freijer.

3. Adanya upaya kompilasi serupa diberbagai wilayah lain, seperti semarang,


Ciribon, Goa dan Bone.

Namun pada tahun 1880, pengadilan agama di bawah pengawasan pengadilan


kolonial Belanda. Pada tahun 1880-1811 perubahan terahadap peradilan agama belum
dimulai. Di masa itu umumnya hukum Islam adalah hukum asli pribumi. Namun pada
tanggal 13 agustus 1884, setelah Indonesia dikembalikan pada Belanda, maka kolonial

13
Abdullah Mannan, Reformasi Hukum Islam di Indonesia, hal. 1-2
14
Ramli Hutabarat, 2005, Kedudukan Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia dan
Peranannya dalam Pembinaan Hukum Nasional, (Jakarta: UI), hal. 64-66

7
Belanda membuat undang-undang tentang kibajaksanaan pemerintah, susunan pengadilan
(pendeta), pertanian dan perdagangan dalam daerah jajahannya.15

Kebijakan tersebut merupakan kekeliruan, karena dalam agama Islam tidak


dikenal pranata kependetaan. Kekeliruan ini juga dinyatakan oleh Snouck bahwa hal itu
sebagai akibat kedangkalan pengetahuan pemerintah.

Menurut Supomo, pada masa penjajahan Belanda terdapat lima buah tatanan
peradilan:16

1. Peradilan Gubernemen, yang tersebar di seluruh daerah Hindia-Belanda.

2. Peradalan Pribumi, yang tersebar di luar Jawa dan Madura.

3. Peradilan Swapraja, yang tersebar hampir di seluruh Swapraja

4. Peradilan Agama, yang tersebar di daerah-daerah tempat berkedudukan


paradilan Gubernemen.

5. Peradilan Desa, yang juga tersebar di daerah-daerah tempat berkedudukan


paradilan Gubernemen.

Pada masa kolonial Belanda, hukum Islam mengalami pergeseran yang semakin
melemah. Pada awalnya telah dibentuk pengadilan agama yang wewenangnya meliputi
masalah-masalah hukum perkawinan dan kewarisan berdasarkan hukum Islam. Hal ini
diikuti oleh kesimpulan penelitian Williem Christian Van Denberg yang menyatakan bahwa
bangsa Indonesia telah menerima sepenuhnya hukum Islam sebagai hukum yang mereka
anut. Namun kesimpulan ini ditentang oleh Christian Snouck Hurgronje yang melontarkan
teori resepsi. Teori resepsi ini memiliki pengaruh yang besar terhadap kebijakan
pemerintahan kolonial Belanda. Pada tanggal 1 april 1937 diterbitkan ketentuan yang
mencabut wewenang pengadilan agama di Jawa dan Madura untuk menyelesaikan perkara
kewariasan. Kedudukan pengadilan agama selanjutnya diletakkan di bawah pengawasan
15
Muhammad Daud Ali, 2002, Hukum Islam dan Peradilan Agama, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada), hal. 194-195
16
Supomo, 1970, Sistem Hukum di Indonesia sebelum Perang Dunia ke-II, (Jakarta: Praja
Paramita), hal. 20

8
pengadilan negri. Keputusan pengadilan agama hanya dapat di ekskusi jika telah
mendapatkan persetujuan dari pengadilan negri.17

Adapun wewenang peradilan agama di Jawa dan Madura berdasarkan ketentuan


baru yang diatur oleh Belanda pada Pasal 2a, yang meliputi perkara-perkara sebagai
berikut:18

1. Perselisihan antara suami istri yang beragama Islam

2. Perkara tentang: a. Akad nikah, b. Rujuk, dan c. Talak.

3. Menyelenggarakan perceraian

4. Menyatakan bahwa syarat untuk jatuhnya talak digantungkan (ta’liq al-thalaq)


sudah ada.

5. Perkara mahar atau maskawin

6. Perkara tentang keperluan kehidupan istri yang wajib diadakan oleh suami.

Namun demikian, perkara-perkara tersebut tidak sepenuhnya menjadi wewenang


Peradilan agama. Dalam perkara-perkara tersebut, apabila terdapat tuntutan pembayaran
uang dan pemberian harta benda atau barang tertentu, maka harus diperikasa atau
diputuskan oleh landraad.

Sedangkan di luar Jawa dan Madura, khususnya untuk sebagian residensi


Kalimantan, peradilan agama diatur oleh Ordenasi Hindia Belanda, yaitu Staatsblad 1937,
nomor 638 dan 639. dalam ordonasi itu ditetapkan tentang Kerapatan Qadhi sebagai badan
peradilan tingkat pertama; dan Kerapatan Qadhi Besar sebagai badan peradilan tingkat
banding.19

Adapun dalam bidang ibadah, pemerintah kolonial pada dasarnya memberikan


kemerdekaan pada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya, sepanjang tidak

17
Jimly as-Sidqi, 2000, Hukum Islam dan Reformasi Hukum Nasional, (Jakarta: BPHN
Departemen Kehakiman), hal.
18
Cik Hasan Bisri, Peradilan Agama di Indonesia, hal. 120
19
Ibid.

9
mengganggu kekuasaan Belanda. Dalam bidang kemasyarakatan pemerintah memanfaatkan
adat istiadat yang berlaku dengan cara menggalakkan masyarakat supaya mendekati
Belanda; bahkan membantu rakyat yang akan menempuh jalan tersebut. Tetapi dalam
bidang ketatanegaraan, pemerintah harus mencegah setiap usaha yang akan membawa
rakyat pada fanatisme dan pan Islam.

B. Peradilan Agama pada masa Jepang

Penataan pada masa peralihan dari pemerintah Hindia Belanda kepada


pemerintahan Jepang sejalan dengan politik Islam yang ditetapkan. Jepang yang sedang
mengahadapi perang dengan sekutu, menerapkan politik yang simpatik terhadap umat
Islam Indonesia.

Setelah Jendaral Ter Poorten menyatakan menyerah tanpa syarat kepada panglima
militer Jepang untuk kawasan selatan pada tanggal 8 maret 1942, segera pemerintah Jepang
mengeluarkan berbagai peraturan. Salah satu di antaranya adalah undang-undang no 1
tahun 1942, yang menegaskan bahwa pemerintah Jepang meneruskan segala kekuasaan
yang sebelumnya dipegang oleh Gubernur Jendaral Hindia Belanda.20

Namun dalam penetetapan keberlakuan peradilan agama tingkat campur tangan


Jepang sangatlah rendah, sehingga memungkinkan adanya usaha memulihkan kekuasaan
peradilan agama, khususnya mengenai masalah kewarisan dan perwakafan melalui Sanyo
Kaigi (dewan pertimbangan). Usaha memulihkan wewenang peradilan agama itu dilakukan
oleh golongan Islam, namun mengalami kegagalan karena terbentur oleh golongan
nasionalis.

Pertentangan di antara kedua golongan tersebut tercermin dalam pandangan dua


orang tokoh nasional di dalam Dewan Sanyo. Abikusno (golongan Islam) berpendapat
bahwa peradilan agama harus tetap ada dan kewenagannya di bidang kewarisan harus
dipulihkan, di samping itu, peradilan harus diperkuat oleh tenaga yang terdidik dan digaji

20
Ramli Hutabarat, Kedudukan Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia dan Peranannya
dalam Pembinaan Hukum Nasional, hal. 76

10
oleh pemerintah. Sebaliknya Supomo (golongan nasionalis) berpandangan negara yang
sekuler harus bersifat modern dan tidak perlu berdasarkan Islam.21

3. Peradilan Agama pada masa Kemerdekaan

A. Peradilan Agama pada masa Kemerdekaan/ pada masa Orde Lama

Seiring dengan semakin lemahnya langakah strategis Jepang memenagkan perang


yang kemudian membuat mereka membuka lebar jalan untuk kemerdekaan Indonesia,
Jepang memulai mengubah arah kebijakannya. Mereka mulai melirik dan memberi
dukungan kepada para tokoh-tokoh nasionalis Indonesia. Dalam hal ini, nampaknya Jepang
lebih mempercayai kelompok nasionalis untuk memimpin Indonesia masa depan. Maka
tidak mengherankan jika beberapa badan dan komite negara, seperti dewan penasihat sanyo
kaigi dan BPUPKI (dokuritsu zyunbi tyoosakai) kemudian diserahkan kepada kubu
nasionalis. Hingga mei 1945, komite yang terdiri dari 62 orang ini, paling hanya 11 di
antaranya yang mewkili kelompok Islam. Atas dasar itulah, Ramly menyatakan bahaw
BPUPKI bukanlah badan yang dibentuk atas dasar pemilihan yang demokratis, meskipun
Soekarno dan Muhammad Hatta berusaha agar anggota badan ini cukup representatif
mewakili berbagai golongan dalam masyarakat Indonesia.22 Perdebatan panjang tentang
dasar negara di BPUPKI kemudian berakhir dengan lahirnya apa yang disebut dengan
piagam Jakarata. Kalimat kompromi yang paling penting Piagam Jakarta terutama ada pada
kalimat “Negara berdasarkan atas ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam
bagi pemeluk-pemeluknya.”

Setelah Prokalamasi Kemerdekaan Indonesia, terjadi perubahan dalam


pemerintahan, tetapi tidak sendirinya terjadi perubahan yang menonjol dalam peadilan
agama. Hal ini disebabkan karena bangsa Indonesia dihadapkan revolosi fisik dalam
menghadapi Belanda yang akan kemabali menjajah. Di samping itu konstitusi yang menjadi

21
Cik Hasan Bisri, 2000, Peradilan Agama di Indonesia, hal. 122
22
Ramli Hutabarat, 2005, Kedudukan Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia dan
Peranannya dalam Pembinaan Hukum Nasional, hal. 85

11
dasar penyelenggaraan badan-badan kekuasaan negara memungkinkan penundaan
peubahan tersebut.

Selanjutnya pada pada tahun 1957 pemerintah mengeluarkan PP nomor 45 tentang


pembentukan peradilan agama/ mahkamah syar’iyah di luar Jawa-Madura. Adapun
kekuasaan peradilan agama menurut ketetapan pasal 4 PP tersebut adalah sebagai berikut:23

1. Penagadilan agama memerikasa dan memutuskan perselisihan antara suami istri


yang beragama Islam dan semua perkara yang menurut hukum agama Islam yang
berkenaan dengan nikah, thalaq, ruju’ fasakh, nafaqah, mahr, tempat kediaman,
mut’ah dan sebagainya; hadhanah, perkara waris, wakaf, hibah, shadaqah,
baitulmal, dan lainnya yang berhubungan dengan itu. Demikian pula memutuskan
perceraian den menegaskan bahwa syarat ta’liq thalaq sudah berlaku.

2. Pengadilan agama tidak berhak memeriksa perkara-perkara tersebut dalam ayat


(1) jika untuk perkara itu berlaku lain dari pada hukum agama Islam.

Namun pada masa ini tidak terlalu keliru jika dikatakan bahwa Orde Lama adalah
eranya kaum nasionalis dan komunis. Sementara kaum muslim di era ini tertutup untuk
memperjuangkan cita-citanya. Salah satu partai yang mewakili umat Islam kala itu,
Masyumi harus dibubarkan pada tanggal 15 agustus 1960 oleh Soekarno dengan alasan
tokoh-tokohnya terlibat pemberontokan (PRRI di Sumatra Barat).

B. Peradilan Agama pada masa Orde Baru

Menyusul gagalnya kudeta PKI pada 1965 dan berkuasanya orde Baru, banyak
pemimpin Islam Indonesia yang sempat menaruh harapan besar dalam upaya politik
pemerintah mendudukan Islam sebagai mestinya dalam tatanan politik maupun hukum di
Indonesia. Apalagi kemudian Orde Baru membaskan mantan tokoh-tokoh Masumi yang
sebelumnya dipenjara oleh Soekarno. Namun segara saja Orde ini menegaskan perannya

23
Cik Hasan Bisri, Peradilan Agama di Indonesia, hal. 123

12
sebagai pembela Pancasila dan UUD 1945. bahkan di awal 1967, Soeharto menegaskan
bahwa militer tidak akan menyetujui rehabilitasi kembali Paratai Masyumi.24

Namun pada tahun 1970 mengalami perubahan, terutama sejak diundangkan dan
berlakunya UU nomor 14 tahun 1970. Selanjutnya dengan berlakunya UU nomor 7 tahun
1989 posisi peradilan agama semakin kuat dan dasar penyelenggaraannya mengacu pada
peraturan perundang-undangan yang unifikatif. Isi UU nomor 7 tahun 1989 terdiri atas 7
bab, yang meliputi 108 pasal. Ketujuh bab itu adalah Ketentuan Umum, Susunan
Pengadilan, Kekuasaan Pengadilan, Hukum Acara, Ketentuan-ketentuan lain, Ketentuan
Pilihan, dan Ketentuan Penutup.25

Dengan diundangkan dan berlakunya UU tersebut, merupakan peristiwa yang


penting dalam perkembangan peradilan agama. Hal ini dengan ditandai beberapa perubahan
yang meliputi:26

1. Dasar penyelengaraan yang seragam

2. Kedudukan peradilan agam sejajar dengan peradilan lainnya

3. Kedudukan hakim yang semakin kokoh

4. Pemulihan kembali kekuasaan peradilan agama

5. Hukum acara yang lebih jelas dan tertulis

6. Administrasi peradilan lebih proporsional

7. Perlindungan terhadap kaum wanita

Sejak berlakunya UU nomor 7 1989 semua peraturan perundang-undangan


tersebut dinyatakan undang-undang yang lalu tidak berlaku lagi. Dengan demikian, maka
penyelenggaraan peradilan agama didasarkan pada peraturan yang sama atau seragam.
Penyeragaman yang sama ini dilakukan sebagai upaya penerapan konsep wawasan

24
Bakhtiar Efendi, 1998, Islam dan Negara, (Jakarta: Paramadina), hal. 111-112
25
Cik Hasan Bisri, Peradilan Agama di Indonesia, hal. 125
26
Ibid., hal. 136

13
nusantara di bidang hukum, dan sebagai pelakasanaan politik hukum nasional sebagaimana
diamanatkan di dalam GBHN.

Penegasan terhadap berlakunya hukum Islam semakin jelas ketika UU no. 7 tahun
1989 tentang peradilan agama ditetapkan. Hal ini kemudian disusun dengan usaha-usaha
intensif untuk mengoptimalkan hukum Islam di bidang-bidang tertentu. Dan upaya ini
membuahkan hasil saat pada tahun 1991, Soeharto sebagai Presiden menerima hasil
kompilasi hukum Islam (KHI) dan mengintruksikan penyebarluasannya kepada mentri
agama.

Mentri agama, sebagai pembantu presiden, dalam keputusannya nomor 154 tahun
1991 tanggal 22 juli 1991, dalam rangka melaksanakan intruksi Presiden tersebut, meminta
kepada seluruh instansi Departemen Agama, termasuk peradilan agama dan instansi
27
pemerintah lainnya untuk menyebarluaskan KHI yang dimaksud. Kompilasi hukum
Islam, yakni kumpulan atau himpunan kaidah-kaidah hukum Islam yang disusun secara
sitematis terdiri dari tiga buku dan masing-masing buku terdiri dari beberapa bab dan pasal.
Buku I adalah Hukum Perkawinan, terdiri 19 bab dengan 170 pasal. Buku II: Hukum
Kewarisan, terdiri dari 6 bab dengan 44 pasal. Buku III: Hukum Perwakafan, terdiri dari 5
bab debgan 14 pasal.

C. Peradilan Agama pada Era Reformasi

Demokrasi dan kebebasan berkibar diseluruh pelosok Indonesia. Setelah melalui


perjalanan yang panjang. Di era ini setidakany hukum Islam mulai menempati posisinya
secara perlahan tapi pasti. Lahirnya ketetapan MPR no. III-MPR-2000 tentang sumber
hukum dan tata urutan peraturan perundang-undangan semakin membuka peluang lahirnya
aturan ndang-undang yang berdasarkan ukum Islam.28

27
Muhammad Daud, 2005, Hukum Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada), hal. 294
28
Jimly as-Sidqi, Hukum Islam dan Reformasi Hukum Nasional, hal. 11

14
Pada era reformasi ini, terbuka peluang yang luas bagi sistem hukum Islam untuk
memperkaya khazanah tradisi hukum di Indonesia dan dapat melakukan langkah-langkah
pembaruan-pembaruan dan bahkan membentukkan hukum-hukum baru yang bersumber
dan berdasarkan sitem hukum Islam, untuk kemudian dijadikan hukum positif yang berlaku
di negara Indonesia.

Salah satu bukti pada era reformasi ini adalah UU nomor 32 tahun 2004 dan
qanun Propinsi Nanggro Aceh Darussalam dalam pelaksanaan syariat Islam nomor 11
tahun 2002. dengan demikian upaya konkrit dalam merealisikan hukum Islam dalam wujud
unang-undang telah embuahkan hasil yang nyata pada era ini.

E. PENUTUP

Dalam penataan di antara hubungan masyarakat itu perlu adanya patokan tingkah
laku yang disepakati bersama, yang bersumber pada nilai budaya yang dipatuhi dan
mengikat pada semua pihak. Dalam wujudnya yang lebih kongkrit patokan tersebut dikenal
sebagai hukum yang berfungsi sebagi pengendali masyarakat untuk mewujudkan ketertiban
dan keamanan.

Dalam penegakkan hukum dan keadilan bagi masyarakat-bangsa, peradilan


memiliki peranan yang menentukan. Tuntutan terhadap peranan yang dimainkan oleh
badan peradilan semakin meningkat jikalau diferensiasi keahlian profesi samakin braneka
ragam.

Pertumbuhan dan perkembangan peradilan agam di Indonesia berhubungan secara


timabal balik dengan pranata hukum dan pranata sosial lainnya. Ia tumbuh dan berkembang
sejalan perkembangan politik, yang berbasis pada struktur sosial dan pola budaya di dalam
sistem masyarakat-bangsa Indonesia. Ia merupakan perwujudan alokasi nilai-nilai Islami
dalam menata jalinan hubungan antar manusia untuk mewujudkan penegakkan hukum dan
keadilan.

15
Lampiran

SKEMA SISTEM PERADILAN DI INDONESIA

Mahkamah
Agung

Dept. Dept. Dept. PANGAB


Agama Kehakiman Hankam

PTA PT PTTUN Mahmilti

PA PN PTUN Mahmil

Keterangan:

- PTA : Pengadilan/ Peradilan Tinggi Agama

- PT : Pengadilan Tinggi

- PTTUN : Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara

- Mahmilti : Mahkama Tinggi Militer

- PA : Pengadilan/ Peradilan Agama

- PN : Pengadilan Negri

- PTUN : Pengadilan Tata Usaha Negara

16
- Mahmil : Mahkamah Militer

- Dept. : Departemen

- Hankam : Pertahanan dan Keamanan

- PANGAB : Panglima Angkatan Bersenjata

Hubungan ke Mahkamah Agung adalah di bidang teknis fungsional yudikatif

Hubungan ke Departemen Agama adalah di bidang organisatoris, administratif dan


finansia

17
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad Daud, 2002, Hukum Islam dan Peradilan Agama, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada)

Ali, Muhammad Daud, 2005, Hukum Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada)

Bisri, Cik Hasan, 2000, Peradilan Agama di Indonesia, (Jakarta: RajaGrafindo Persada)

Dikbud, 1993, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Renika Cipta)

Efendi, Bakhtiar, 1998, Islam dan Negara, (Jakarta: Paramadina)

Hutabarat, Ramli, 2005, Kedudukan Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia dan


Peranannya dalam Pembinaan Hukum Nasional, (Jakarta: UI)

Mannan, Abdullah, 2006, Reformasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: RajaGrafindo


Persada)

Supomo, 1970, Sistem Hukum di Indonesia sebelum Perang Dunia ke-II, (Jakarta: Praja
Paramita)

Nuh, Zaini Ahmad, 1995, Hakim Agama dari Masa ke Masa (Jakarta: Munas Ikaha)

Sidqi, Jimly, 2000, Hukum Islam dan Reformasi Hukum Nasional, (Jakarta: BPHN
Departemen Kehakiman)

S, Danil., 1973, Peradilan dan Kultur hukum Indonesia, (Jakarta: LP3SE)

Rosyadi, Roihan A., 2003, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada)

Tresna, 1997, Peradilan di Indonesia dari Abad ke Abad, (Jakarata: Pradya Pramita)

18