Anda di halaman 1dari 109

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA
BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA
2009
BAHAN DIKLAT
UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK
ETIKA BIROKRASI

OLEH
TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI
JAKARTA
2009
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan


Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan
Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf
Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian
Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya
dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika
Birokrasi.

Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan
mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang
bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta
Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V.

Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang
merupakan kesatuan, yaitu:

Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah;


Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian
Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen
Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu
diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas.

Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta
Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik
demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat
dihargai.

Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009


Kepala Pusat

ttd.

Tony Rooswiyanto
NIP 060064640

i
Tinjauan Umum Mata Pelajaran

Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang
terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28
Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme. Kemudian, untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih
dari korupsi, kolusi, dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku
pemerintahan, maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika
Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap
kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009
disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan
mengembangkan pelayanan prima.
Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik, pemerintah bertugas untuk
memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan
melalui aparatur pemerintah, yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi
pemerintah. Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan, maka
diperlukan adanya etika birokrasi; yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri
Sipil dalam melaksanakan tugasnya, dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai
Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum
Penyelenggaraan Pelayanan Publik).
Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang
tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik, cenderung akan memberikan
pelayanan yang tidak jujur, tidak ikhlas, dan diskriminatif. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan
Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang
terbaik, adil, dan merata, maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang
Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri
Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan
keterampilan dalam bidang tugasnya, serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai
dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil.
Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai
Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan
untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam;
penyelenggaraan negara, pemerintahan, dan pembangunan secara; profesional, jujur, adil,
merata, dan tidak diskriminatif. Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan
pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS), maka diharapkan
akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan
oleh masyarakat.
Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini, maka
pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan, sebagai berikut:
a. Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH
Membahas tentang definisi, prinsip, teori-teori, dan pembagian etika, pengertian tentang
moral (yang mencakup kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, nilai
moral), serta tentang etos dan etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika
dengan etiket. Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan
organisasi Pemerintah.

b. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS


Membahas tentang etika, nilai-nilai dasar, prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati,
pelaksanaan etika, dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dalam Modul II
ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS, dan peranan etika dalam
meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik.
MODUL I

ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH

MATERI POKOK:
ETIKA BIROKRASI

UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

OLEH
TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA MANUSIA

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI

JAKARTA
2009
DAFTAR ISI
MODUL I

ETIKA DAN BIROKRASI


ORGANISASI PEMERINTAH

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

1. PENDAHULUAN .................................................................................. 1

1.1. Deskripsi Singkat ................................................................... 1


1.2. Tujuan Pembelajaran Umum ................................................... 1
1.3. Tujuan Pembelajaran Khusus ................................................. 1
2. Kb 1: ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET .................................. 3
2.1. Uraian dan contoh ................................................................... 3
2.2. Etika ...................................................................................... 3
2.3. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral ................. 14
2.4. Etos......................................................................................... 16
2.5. Etiket ...................................................................................... 17
2.6. Rangkuman ............................................................................ 18
2.7. Latihan 1 ................................................................................. 19

3. Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH ..................................... 20


3.1. Uraian dan Contoh .................................................................. 20
3.2. Pentingnya etika dalam organisasi .......................................... 20
3.3 Perwujudan etika organisasi ................................................... 22
3.4 Rangkuman ............................................................................ 25
3.5 Latihan 2 ................................................................................ 26

4. Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN


PEMERINTAHAN ...................................................................... 27

4.1. Uraian dan contoh ................................................................... 27


4.2. Pengertian tentang birokrasi .................................................... 27
4.3. Ciri-ciri pokok birokrasi ......................................................... 27
4.4. Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik ................ 28
4.5. Asas-azas umum penyelenggaraan negara .............................. 30
4.6. Tugas birokrasi ...................................................................... 31
4.7. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat .. 33
4.8. Rangkuman ............................................................................ 35
4.9. Latihan 3 ................................................................................ 36

5. TES FORMATIF .................................................................................. 37

ii
6. KUNCI TES FORMATIF ...................................................................... 39

7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ........................................... 40

8. DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 41

iii
MODUL I
ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH

1. PENDAHULUAN
1.1. Deskripsi singkat
Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi
organisasi pemerintah, yang mencakup pengertian tentang Etika, Moral, Etos,
dan Etiket, serta birokrasi organisasi pemerintah, yang dituangkan dalam tiga
kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut:
(Kb 1) Etika, moral, etos, dan etiket,
(Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah,
(Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan
Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika,
prinsip etika, teori-teori etika, dan pembagian etika. Dilanjutkan dengan
pengertian-pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral,
keberanian moral, nilai moral, serta terakhir tentang etos dan etiket, (termasuk
persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket).
Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika
dalam organisasi, dan cara-cara mewujudkan etika organisasi, pengertian
umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan, sedangkan pada
kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal, seperti: pengertian umum tentang
birokrasi, ciri-ciri pokok birokrasi, azas-azas umum birokrasi pemerintahan
yang baik, azas-azas umum penyelenggaraan negara, tugas birokrasi, dan etika
birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat.
1.2. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mempelajari modul ini, peserta diklat diharapkan mampu
memahami pengertian tentang: etika, moral, etos, dan etiket; alasan-alasan
pentingnya etika dalam organisasi pemerintah; cara mewujudkan etika birokrasi;
birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya; azas-azas umum penyelenggaraan
negaras; serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada
masyarakat.
1.3. Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat:
a. Menjelaskan pengertian tentang etika, moral, etos, dan etiket,
1
b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macam-
macam etika,
c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar
moral, keberanian moral, dan nilai moral,
d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam
hubungannya dengan moral,
e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan
perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral,
f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi,
g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi,
h. Menjelaskan pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi
pemerintahan,
i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas
penyelenggaraan Negara,
j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada
masyarakat.

2
2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET

2.1. Uraian dan contoh


Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan
hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari
sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut;
• Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat,
• Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat,
• Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik,
• Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.
Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan
sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang
dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu.
Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma
moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur
tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga)
membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya
(memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada
sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut
tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak
tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas
kebutuhannya pribadi.

2.2. Etika
a. Definisi etika
1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003)
Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan
pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik
atau buruk, benar atau salah).
‘The normative science of the conduct of human being living in
societies is a science which judge this conduct to be right or
wrong, to be good or bad, or in some similar way.”

3
2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003)
Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran
kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral.
“Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or
philosophical thinking about morality, moral problems, and
moral judgments.”
3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003)
Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat
dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan
sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan
kita menerapkannya pada sesuatu.
“Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of
the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’,
‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in
applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from
Latin mores, customs).”
4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985)
Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam
hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik
pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan,
sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan.

Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah:


1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu
2) berkaitan dengan perilaku manusia
3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku)
4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan
akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.

b. Pengertian lain dari etika


1. Sistem Nilai
Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara
hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan
juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai
nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana

4
manusia harus bersikap dan berperilaku baik, karena etika tersebut memuat
berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh
dilanggar.
2. Filsafat moral
Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena
filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan
mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan
penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak,
baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus.
c. Prinsip-prinsip etika
Adler melalui bukunya “The Great Ideas”, dalam Salomon, R.C (1984)
menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan
prinsipil dari etika, yaitu:
1. Prinsip Keindahan (Beauty)
Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan
keindahan, contoh; adanya rasa kasih sayang antara sesama, kedamaian,
ketentraman, saling bertenggang rasa, bekerja sama, berpenampilan indah,
suasana yang kondusif, berpenampilan menarik, dan lain-lain, yang secara
keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia.
2. Prinsip Persamaan (Equality)
Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa, ras, etnis, sikap, dan pola
pikir yang beragam, tidak sama satu sama lain, namun semua perbedaan
tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama
terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat
yang sama dalam kehidupan. Etika yang dilandasi persamaan
menghapuskan perilaku diskriminatif. Jadi manusia harus diperlakukan
sama, tidak diskriminatif.
3. Prinsip Kebaikan (Goodness)
Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari
sesuatu yang menimbulkan pujian. Sebagai contoh, kebaikan yang
diterima umum, misalnya: saling menghormati, saling berbuat baik, saling
kasih-mengasihi, sayang sesama manusia, dan lain-lain. Prinsip kebaikan
bersifat universal.

5
4. Prinsip Keadilan (Justice)
Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa
yang seharusnya diterima, sehingga merasa adil karena apa yang diterima
sesuai apa yang seharusnya diterima. Keadilan ialah kemauan yang tetap
dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya.
5. Prinsip Kebebasan (Liberty)
Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak
menentukan pilihannya, apa yang baik untuk dirinya. Setiap orang bebas
melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya, dengan ketentuan
jangan melanggar kebebasan orang lain. Tidak ada kebebasan tanpa
tanggung jawab, artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang
merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan, jangan sampai
merugikan orang lain atau masyarakat. Semakin besar kebebasan yang
dimiliki, akan semakin besar tanggung jawabnya. Dengan demikian
kebebasan manusia mengandung pengertian, yaitu :
• Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri.
• Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan, kebebasan untuk
menentukan pilihannya sendiri.
• Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan
kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas
kebebasannya tersebut.
6. Prinsip Kebenaran (Truth)
Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan.
Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa
yakin akan kebenaran tersebut. Kita telah mengenal istilah kebenaran
dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in
reality).
Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika,
yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya, sehingga
etika harus menjamin terciptanya keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan,
kebebasan, dan kebenaran bagi setiap orang.
d. Teori-teori etika
Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus
bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. Teori etika ini terdiri
6
dari: etika deontologi, etika teleologi dan etika keutamaan, yang mempunyai
kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi kritis, sebagaimana
diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003).
Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut:
1. Etika Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti
kewajiban, sedangkan “logos” berarti pengetahuan. Menurut etika
deontologi, suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah
tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Suatu tindakan yang
dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya.
Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral, menjadi kewajiban
kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. Dengan demikian, etika
deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan
tersebut baik atau tidak.
Immanuel Kant (1734-1804), dalam Sonny Keraf (2003), berpendapat
bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah:
a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. Segala tindakan
yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak
baik.
b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus
didasarkan pada kemauan baik, bukan karena paksaan.
Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena
dianggap sebagai perintah tak bersyarat, artinya hukum moral itu berlaku
bagi semua orang pada segala situasi dan tempat, dia mengikat siapa saja
dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam
hati nurani setiap orang.
Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan
perintah tidak bersyarat, yaitu :
1) Prinsip universalitas
Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi
sebuah hukum universal, karena kita mempunyai kewajiban untuk
mematuhi apa yang kita anggap benar, dan karena kita yakin bahwa
apa yang kita anggap benar, juga dianggap benar oleh orang lain.

7
2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya
Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia;
apakah diri kita sendiri, ataupun orang lain, berorientasi kepada tujuan
pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat.
Menurut Kant, manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur
dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil, ditindas atau
diperas demi kepentingan lain. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita
diperalat, diperlakukan secara sewenang-wenang, bahkan kita tidak boleh
memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan
dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya
sendiri. Contoh: Kalau kita melakukan KKN, berarti kita memperalat diri
kita demi uang. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat
akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri.
Menurut etika deontologi, lakukan apa yang menjadi kewajiban
Anda, karena suatu tindakan yang bernilai moral, maka tindakan itu
dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan,
terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu.
2. Etika Teleologi
Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”, yang berarti tujuan. Etika
teleologi berbeda dengan etika deontologi, karena etika teleologi tidak
menilai perilaku atas dasar kewajiban, tetapi atas dasar tujuan atau akibat
dari suatu tindakan. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau
buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. Sebaliknya, suatu
tindakan dinilai buruk, apabila bertujuan atau berakibat buruk.
Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila
tujuan itu dinilai baik, baik bagi siapa: diri sendiri, orang lain, atau banyak
orang? Untuk menjawab pertanyaan ini, etika teleologi dapat
dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu egoisme etis dan utilitarianisme.
a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik, apabila
bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. Meskipun suatu
tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis, tindakan ini
dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh
memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya.

8
Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila
sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara.
b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan
baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut membawa
akibat yang baik bagi banyak orang. Etika utilitarianisme
dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832).
Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana
mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral.
Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang
dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan
publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena
dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena
dianggap merugikan.
Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang
dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk
secara moral, yakni sebagai berikut;
1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu
tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan
publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu
dianggap baik dan benar secara moral.
2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu
kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar
atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya.
Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata
sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik
adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil.
3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi
sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika
manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin
orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik
kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau
tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang
manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah
yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang.
9
Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah
sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar
atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari
norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita
lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar
dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan.
3. Etika Keutamaan
Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan
tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga
tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk
menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan
watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman
hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar
dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup.
Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya
aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan
moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran,
ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di
mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita
jadikan contoh untuk ditiru.
Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral
ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup
baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan
kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang
dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku
terpuji sepanjang hidupnya.
Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan,
excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang
berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana
dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya.
Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya,
bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu
adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang
bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan
10
bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap
dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral
sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan
yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik.
Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu
masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau
cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan
moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat.
Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokoh-
tokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat.
Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan,
tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan
sikap dalam situasi yang dilematis.
Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu
setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral
tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas
bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya
karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki
kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan
berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat
masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau
dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang
belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya.
Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh
masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas
akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita
sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh
tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana
menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan
keuntungan besar tetapi dengan cara curang.
Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu:
menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral,
berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah
pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat
11
diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat
diandalkan.
e. Macam-macam pembagian etika
Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu Etika Umum dan
Etika Khusus.
1. Etika Umum
Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral, kondisi-
kondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis, bagaimana manusia
mengambil keputusan etis, teori-teori etika, lembaga-lembaga normatif
(yang terpenting diantaranya adalah suara hati), dan semacamnya. Etika
umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika
teoritis, kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun
juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual
dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata
bersifat teoritis.
2. Etika Khusus
Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma
moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Dalam hal ini, norma
dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan
manusia. Dengan kata lain, etika sebagai refleksi kritis rasional
meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan
diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus
dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap
orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat.
Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan
normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan
kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu.
Maka, dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika
umum dalam bidang-bidang khusus.
Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu etika individual, etika
sosial, dan etika lingkungan hidup.

12
a) Etika Individual
Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia
terhadap dirinya sendiri. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan
dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi, yang
berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga
dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual.
b) Etika Sosial
Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia
dengan manusia. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas. Ia
menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang
lain, serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai
makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya, termasuk dalam
bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap
kritis terhadap paham atau ideologi tertentu, serta pola perilaku dalam
bidang kegiatan masing-masing.
c) Etika Lingkungan Hidup
Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang
akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. Etika lingkungan hidup
berbicara mengenai hubungan antara manusia, baik sebagai makhluk
individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang
lebih luas dalam totalitasnya, dan hubungan antara manusia yang satu
dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak
langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan.
Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

UMUM ETIKA INDIVIDUAL


ETIKA
ETIKA SOSIAL
KHUSUS

ETIKA LINGKUNGAN
Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis, 2006:34)

13
2.3. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral.
a. Moral
Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. Moral berasal dari
Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”), yang berarti; kebiasaan, adat. Secara
etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan. Secara harfiah, istilah moral
sama dengan etika yang berarti adat istiadat, kebiasaan yang baik, tata cara
hidup yang baik.
Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan
norma-norma yang ada, yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan.
Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu
kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk
segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku
yang bermoral. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh
seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan
perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika.
a. Kesadaran moral
Disamping pengertian tentang moral, perlu juga diketahui pengertian
tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. Kesadaran moral bagi
seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib, suatu hal yang bersifat
rasional, dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut,
sebagaimana diuraikan di bawah ini:
1. Perasaaan Wajib
Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga
kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa
ditawar-tawar.
2. Rasional
Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka
bagi pembenaran atau penyangkalan.
3. Kebebasan
Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral, sehingga akan
menentukan nilai bagi manusia itu sendiri.
c. Kaedah/Norma Dasar Moral
Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk
mengukur sesuatu. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada
14
hakekatnya merupakan pedoman hidup, penuntun, petunjuk hidup, tentang
bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya.
Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar, yaitu: kewajiban, yang
harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan, dan
larangan, yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat, atau
harus dihindari karena kalau dilakukan, akibatnya tidak baik. Norma/kaedah
yang meliputi: sopan santun, norma hukum, dan norma moral, mempunyai
fungsi sebagai pedoman, petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau
perbuatan dilakukan, dan sesudah perbuatan dilakukan. Norma/kaedah adalah
sebagai ukuran, kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan
sesuai, sebagaimana yang diwajibkan.
Di sisi lain, moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat,
kebiasaan yang baik, dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi
seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik.
Dalam hubungan ini, dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan
moral terdapat suatu keterikatan, yaitu: moral sebagai adat istiadat, kebiasaan
dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang
tersebut dalam bentuk norma/kaedah.
d. Keberanian Moral
Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral, sebagaimana
diuraikan sebelumnya, ada juga hal lain yang perlu dipahami, yakni:
keberanian moral. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap
mempertahankan sikap, yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini
sebagai kewajiban dan tanggung jawab, dan merupakan ciri watak yang kuat
dari seseorang.
e. Nilai Moral
Moral, sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu, yang
memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Berkaitan dengan tanggung jawab
Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang
tinggi. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu
bertanggung jawab atau tidak.
2. Berkaitan dengan hari nurani
Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani.
15
3. Bersifat mewajibkan
Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai
moral, bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar.
f. Perbedaan Moral dengan Etika
Moral, adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata, tradisi, kepercayaan,
dan petunjuk hidup), seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu
adalah jelek/tidak baik. Berbeda dengan etika, yaitu sesuatu hal yang
merupakan refleksi kritis, seperti: rasional, alasan logis, keputusan nalar,
kebebasan, dan tanggung jawab, yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan,
seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu
jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan
sebagainya.
2.4. Etos
a. Pengertian tentang etos
Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi
sehari-hari adalah etos. Pemakaian kata etos sering kita dengar, seperti: etos
kerja, etos profesi, dan sebagainya. Etos adalah suatu kata yang telah diterima
dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau
sikap dari individu, masyarakat, atau budaya terhadap kegiatan tertentu.
Apabila ada istilah etos kerja, maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri
atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. Dalam etos kerja
terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan
kerja, seperti: disiplin, tanggungjawab, dedikasi, integritas, transparansi, dan
sebagainya. Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap
seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya
termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno, 1993:120).
b. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika
Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam
melakukan sesuatu pekerjaan. Etos kerja bisa kuat atau lemah, positif atau
negatif, akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau
tantangan dalam pekerjaannya. Etos kerja seorang individu akan sangat
dipengaruhi oleh etos kelompok, yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya.
Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa
berubah menjadi, misalnya: malas, tidak bertanggung jawab terhadap
16
pekerjaannya, atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh teman-
teman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. Etos kerja di sini jelas
menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang
terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral.
Etika (kebiasaan, watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing
pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan, akhlak atau watak tertentu.
Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan
atau adat (Bertens, 2004:5). Sebagai kata sifat, moral mengandung makna
berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. Dalam hubungan ini, etika
merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja
seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri
moralitas, nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada
manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai
kesejahteraan dan kedamaian umat manusia.
2.5. Etiket
Kata lain yang hampir sama dengan etika, yaitu etiket. Etiket berasal dari
bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan
santun. Pemakaian kata etiket, misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan,
etiket makan, dan sebagainya.
Etiket tidak sama dengan etika, meskipun ada kaitannya. Kaitan antara
etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku
manusia, dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral,
sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman).
Sementara perbedaan antara etika dengan etiket, menurut Bertens (2004:
8-11) adalah sebagai berikut:
• Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu
tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu,
misalnya; dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan
tangan kiri dianggap melanggar etiket. Sebaliknya, etika berkaitan dengan
apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. Di sini etika memberi
norma moral pada tindakan itu, misalnya; jangan berbohong, jangan mencuri,
jangan korupsi merupakan norma-norma moral.
• Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu
tindakan, misalnya; ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita
17
dianggap melanggar etiket, apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan
meletakkan kaki di atas meja, tetapi apabila saya makan sendiri, saya tidak
dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu).
Sebaliknya, etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan
maupun tidak. Larangan-larangan untuk mencuri, korupsi, atau menyontek,
dan sebagainya, berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain
atau tidak.
• Etiket bersifat relatif. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau
budaya yang memberlakukan etiket. Misalnya; makan dengan menggunakan
tangan atau tersendawa waktu makan. Sebaliknya, etika lebih bersifat
universal. Larangan-larangan korupsi, mencuri, menyontek, dan sebagainya
berlaku pada semua kalangan dan budaya.
• Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan), sedangkan etika lebih bersifat
kepribadian.
Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut
kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna
keduanya.

2.6. RANGKUMAN
Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang
sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis,
bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit.
Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral, juga
dikenal adanya prinsip-prinsip etika, tiga teori etika, yakni: etika deontologi,
etika teleologi, dan etika keutamaan, serta pembagian etika, yang terdiri dari:
etika umum dan etika khusus. Disamping pengertian tentang etika, ada juga
pengertian-pengertian tentang: moral, moralitas, etos, dan etiket.
Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau
norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia, di sini manusia
mengamati dan menilai perilaku moral. Moral secara etimologi diartikan sebagai
adat kebiasaan. Secara harfiah, istilah moral sama dengan etika yang berarti adat
istiadat, tata cara hidup yang baik. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian
sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada, yang mempunyai
kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan.
18
Di sisi lain, etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya, apabila
ada istilah etos kerja, maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja,
khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja, seperti:
disiplin, tanggung jawab, dedikasi, integritas, transparansi, dan sebagainya.
Sementara itu, etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan
santun. Dari pengertian ini, etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila
dibandingkan dengan etika, yakni:
a. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu
kalangan tertentu, sedangkan etika berkaitan dengan norma moral, apakah
suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak.
b. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan
suatu tindakan, sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak
lain yang menyaksikan atau tidak.
c. etiket lebih bersifat relatif, tergantung pada anggapan dari suatu kalangan
atau budaya yang memberlakukan etiket, sebaliknya, etika lebih bersifat
universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau
budaya, dan keempat, Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan),
sedangkan etika lebih bersifat kepribadian.

2.7. LATIHAN 1
1. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat
moral!
2. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika!
3. Jelaskan prinsip-prinsip etika, menurut Adler!
4. Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang; etika, moral, etos, dan
etiket!
5. Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. Berikan contoh!

19
3. Kegiatan Belajar 2

ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH

3.1. Uraian dan contoh


Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang
menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah
lakunya. Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja
sama untuk mencapai tujuan (Drs. Sutopo, M.A: 1998). Dengan demikian, etika
organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang
menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan.
Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001), etika organisasi adalah pola
sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota
organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang
sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan. Betapapun
besar ataupun kecilnya suatu organisasi, pasti mempunyai nilai-nilai dan norma-
norma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya.
Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota
organisasi tersebut, terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsip-
pinsip etika, prinsip-prinsip organisasi, kejujuran, ketulusan, kesabaran, peraturan
perundang-undangan, dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam
dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi, sehingga
pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif
dalam berorganisasi.
3.2. Pentingnya etika dalam organisasi
Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya
etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. Tony Rooswiyanto, MSc (2005:27)
dan Prof. DR. Sondang Siagian (1996:11), sebagai berikut:
a. Tony Rooswiyanto
Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya
etika dalam kehidupan organisasi. Adapun ketiga alasan tentang pentingnya
etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut:
1. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai
moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota
20
organisasi tersebut, di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama
harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut
bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi;
2. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah
disepakati bersama tersebut, dapat menjembatani konflik moral antara para
anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda, di bidang
agama, suku, sosial, dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan;
3. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan
reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi.
d. Sondang Siagian
Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika
diperlukan dalam organisasi, yakni sebagai berikut:
1. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai
acuan dasar bersikap dan berperilaku, juga menyangkut berbagai prinsip
yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai
hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika
berkaitan dengan sikap dan perilaku;
2. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku, sehingga dapat
menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang
luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi
sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku, sehingga kehidupan
organisasi semakin bermakna;
3. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku
relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang, sehingga
memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang, dan kelompok
organisasi dan masyarakat luas, di mana etika memperlancar interaksi
antar manusia.
4. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai
keyakinan agama, pandangan hidup, dan sosial. Etika berkaitan langsung
dengan sistem nilai manusia. Etika mendorong tumbuhnya naluri
moralitas, nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada
manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-
nilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia.

21
3.3. Perwujudan etika organisasi
Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan
mampu menunjang kualitas, efisiensi, dan kompetensi para anggota organisasi
yang bersangkutan. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman, maka akan
memberikan kesenangan, kegembiraan, dan efektivitas kerja bagi semua yang
terlibat dalam organisasi itu.
Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut,
menurut Suseno SJ, yaitu:
• Adanya etos kerja yang kuat;
• Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan;
• Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu;
• Didukung oleh syarat-syarat sistemik,
yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Etos Kerja
Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu,
sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang
dalam melakukan pekerjaan. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat
orang melakukan kegiatan itu. Etos individu sangat ditentukan oleh etos
kelompok. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan
dan tantangan. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi
oleh pandangan, harapan, dan kebiasaan kelompoknya
b. Moralitas pribadi
Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu
dalam menghadapi pekerjaan, sebagai berikut;
1) Dedikasi
Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap
tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa
memandang jenis pekerjaan.
2) Jujur, tidak korupsi, artinya melaksanakan tugas dengan tidak
menyalahgunakan wewenangnya, melaksanakan tugas dengan ikhlas, dan
hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi, yaitu dalam memutuskan
sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan
aturan itu berdampak pada teman.
22
4) Bertanggung jawab, artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat
pada waktunya, kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan
berani secara ikhlas memikul risiko.
5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan
kecakapannya.
6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan, yaitu harus berlaku
adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau
keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi,
kerajinan, kerapihan, tepat pada waktunya, kesederhanaan, kejujuran/tidak
korup, keputusan diambil secara rasional, bukan emosional atau
berdasarkan nepotisme/kolusi, bersedia untuk berubah, kegesitan, mau
bekerja sama, bersedia memandang jauh ke depan.
c. Kepemimpinan yang bermutu
Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang
disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu, karena wejangan
hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan).
Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah
laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut
lima hal sebagai berikut;
1. Kompetensi
Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya, memahami
secara garis besar maupun detil-detil. Dia ahli mengenai pekerjaan yang
dipimpin. Seperlunya dia harus mempelajarinya.
2. Tertib kerja
Pemimpin harus bisa memimpin, menuntut, harus mempunyai wibawa,
sanggup mengenakan sanksi. Dia memastikan bahwa aturan kerja
dilaksanakan. Selalu, tanpa kecuali. Secara konsisten, dia harus tegas. Dia
juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik, dan dia
harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang
pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka.

23
3. Konsistensi
Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutan-
tuntutan etos kerja yang diharapkan. Sebagai pemimpin harus menuntut
sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen.
4. Menjadi panutan
Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh
para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya.
Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. Seorang
pemimpin yang jujur, adil, bebas dari pamrih, cakap, tegas, komunikatif,
dan bertanggung jawab, kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja
pegawai-pegawainya ke arah positif. Seorang pemimpin yang menjadi
panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi
orang yang baik, bersih, jujur, dan bertanggung jawab.
5. Transparansi
Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak
yang berkepentingan.
d. Syarat-syarat sistemik
Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang
bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika
organisasi. Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang
dibutuhkan, yaitu:
1. Lingkungan kerja yang mendukung
Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung, tetapi di pihak lain
dapat merusak watak moral seseorang. Lingkungan kerja dapat
mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. Etos kerja
hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana
orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. Dalam
lingkungan yang positif, seseorang yang memiliki moral yang baik
dihargai dan dihormati, sehingga didorong untuk lebih baik lagi.
Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung, mendorong orang
tidak bersemangat, malas, korup, bahkan orang yang berwatak baik dapat
berubah menjadi tidak baik. Bagi orang yang berwatak kuat, juga sulit
untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik
karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral. Semakin banyak orang
24
yang terkena erosi moral, etos kelompok sudah merosot, sehingga sangat
sulit dikembalikan lagi. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa
lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat
mempengaruhi etos kerja seseorang.
2. Kontrol
Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas,
termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. Kontrol harus dilakukan
dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk


mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang
sedang berupaya untuk mencapai tujuannya, maka perlu adanya etos kerja yang
kuat dalam organisasi tersebut, didukung moralitas pribadi pegawai, diarahkan
oleh kepemimpinan yang bermutu, didukung lingkungan kerja yang kondusif,
serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan.
3.4. RANGKUMAN
Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan
dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan
akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi
organisasi bersangkutan. Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena
bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. Etika diharapkan menunjang
kualitas, efisiensi, dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah
menjadi pedoman, akan memberikan kesenangan, kegembiraan, dan efektivitas
kerja semua pegawai.
Menurut Franz Magnis Suseno SJ, ada empat unsur utama keberhasilan
perwujudan etika organisasi, yaitu adanya etos kerja yang kuat, moralitas
pegawai bersangkutan diarahkan, kepemimpinan yang bermutu, dan syarat-syarat
sistemik.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk
mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota
organisasi, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi
bersangkutan.

25
3.5. LATIHAN 2

1. Jelaskan tentang pengertian etika organisasi!


2. Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika!
3. Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk
mewujudkan tujuan organisasi!
4. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi!
5. Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting!

26
4. Kegiatan Belajar 3

ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN


PEMERINTAHAN

4.1. Uraian dan contoh

4.2. Pengertian birokrasi

Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’


yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat. Birokrasi adalah tipe
dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk
melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat.
Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terus-
menerus dan cenderung tetap, hanya organisasi birokrasi yang mampu
menjawabnya. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak
tersebut, anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan.
Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan
sebagai pemerintah, yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau
birokrat, bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan
Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai
Pegawai Negeri Sipil”.

4.3. Ciri-ciri pokok birokrasi


Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal
dari tulisan Max Weber, seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996), yang
mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut:
a. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai
tujuan organisasi. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian
tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai
spesialisasinya.
b. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki.
Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa
unit kecil. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak,
wewenang, dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang
dipercayakan kepadanya.

27
c. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut
mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas.
d. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian
yang tinggi.
e. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis
dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. Menganut suatu jenjang
karier berdasar senioritas dan prestasi kerja.
f. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni
berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat
efisiensi yang tertinggi.
4.4. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik
Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di
setiap negara karena adanya perbedaan budaya, kebutuhan masyarakat yang
selalu berubah, dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan.
Dalam konteks negara Indonesia, sebagian besar rakyat Indonesia sepakat
bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme
bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program
pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. Pada masa orde baru rakyat
mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan
stabilitas nasional, tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan
ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung
demokrasi/partisipasi rakyat, banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup
akses keterbukaan.
Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asas-
asas umum pemerintahan yang baik, sebagaimana dikemukakan oleh
Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996), sebagai
berikut:
a. Prinsip demokrasi
Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada
kedaulatan rakyat. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah
yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara, rakyat yang
menentukan jalannya negara dan pemerintahan. Di dalam sistem pemerintahan
yang berasas kedaulatan rakyat, maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan
karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi.
28
Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai
manusia, martabat manusia, dan kesamaan di hadapan hukum. Demokrasi
mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga
negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil.
Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi,
hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan
kepentingan rakyat berjiwa demokrasi, dapat dipertanggungjawabkan, dan
efisien.
b. Keadilan sosial dan pemerataan
Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak
terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok
masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara
perkotaan dengan pedesaan.
Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan
yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat
pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan.
c. Mengusahakan kesejahteraan umum
Suatu kekuasaan negara legitimate, apabila negara tersebut melalui
kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi
rakyatnya. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari
negara yang dibebankan kepada rakyat, asalkan dengan kewajiban tersebut
rakyat menjadi lebih sejahtera.
Oleh karena itu, setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai
komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat.
d. Mewujudkan negara hukum
Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. Maksud
dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan
seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan.
Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus
berdasarkan ketentuan perundang-undangan.
e. Dinamika dan efisiensi
Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi
yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan
29
yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan
yang tepat. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan
prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif
terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang.
Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi
pemerintahan, maka ukuran lain adalah efisiensi. Efisiensi dalam hal ini
diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan
terhadap publik, tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja,
prosedur layanan, dan biaya yang dikeluarkan.
4.5. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara
Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang
Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, dinyatakan bahwa
penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam
penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa
mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut
adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif, atau
yudikatif. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden,
Menteri dan jabatan setingkat Menteri, Kepala Perwakilan Republik Indonesia di
luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa
Penuh, Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah, Bupati dan Wakil Bupati
Kepala Daerah, Walikota dan Wakil Walikota, Direksi, Komisaris pada BUMN
dan BUMD, Pimpinan Bank Indonesia, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri,
Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil, militer,
dan POLRI, Jaksa, Penyidik, Panitera Pengadilan, Ketua, Wakil Ketua, dan
Anggota MPR, Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota DPR, Ketua, Wakil Ketua,
Ketua Muda, dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung, serta Ketua dan Hakim
pada semua Badan Peradilan, Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa
Keuangan.
Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden, maka
pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga
harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor
28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, yaitu:
30
a. Asas Kepastian Hukum, adalah asas dalam negara hukum yang
mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan
keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara.
b. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara, adalah asas yang menjadi landasan
keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian
Penyelenggara Negara.
c. Asas Kepentingan Umum, adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan
umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif.
d. Asas Keterbukaan, adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat
untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif
tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan
atas hak asasi pribadi, dan rahasia negara.
e. Asas Proporsionalitas, adalah asas yang mengutamakan keseimbangan
antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara.
f. Asas Profesionalitas, adalah asas yang mengutamakan keahlian yang
berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
g. Asas Akuntabilitas, adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan
hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang
kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
4.6. Tugas Birokrasi
Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai
perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian), tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI, Anggota POLRI, dan
Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan
kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil, dan merata, menyelenggarakan
tugas negara, menyelenggarakan tugas pemerintahan, dan menyelenggarakan
tugas pembangunan. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa
pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. Oleh
karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai
politik.

31
Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan
sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004)

32
e. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat, lanjut usia, wanita hamil,
dan balita,
f. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP, di rumah sakit, gerbong
eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan,
g. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas,
misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga
pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut,
h. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat,
i. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui:
pengawasan masyarakat, pengawasan melekat, dan pengawasan fungsional,
j. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. Dalam penyelesaian pengaduan
masyarakat, perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan,
sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi
sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum,
k. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. Setiap unit
penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja
penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya
disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan
publik.

4.7. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat


Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan
Aministratif, Kelompok Pelayanan Barang, dan Kelompok Pelayanan Jasa.
Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah:
a. Kelompok Pelayanan Administratif
Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran, akte perkawinan, akte
kematian, sertifikat tanah, izin mendirikan bangunan, surat izin mengemudi,
kenaikan gaji, kenaikan pangkat, pensiun pegawai, pensiun janda/duda, dan
sebagainya.
b. Kelompok Pelayanan Barang
Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok, bahan
bakar minyak, bahan bakar gas, dan sebagainya.
c. Kelompok Pelayanan Jasa
Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang, pengangkutan barang,
kesehatan, pendidikan, perbankan, telepon, listrik, dan sebagainya.
33
Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan
oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang
merupakan haknya sebagai warga negara. Namum sering kita melihat masyarakat
dalam pengurusan hal yang sederhana, misalnya: pengurusan surat izin
mengemudi, pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung, pelayanan
pembuatan kartu tanda penduduk, masih mengalami pelayanan yang kurang baik
dengan: alasan yang mengada-ada, biaya yang melebihi dari tarif resmi, waktu
penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat, dan
sebagainya. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi, melanggar
nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh
aparat birokrasi.
Dalam kegiatan belajar 1, etika diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-
norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam
mengatur tingkah lakunya. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai
pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai
Negeri Sipil (PNS). Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan
norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri
Sipil) dalam menjalankan tugasnya. Dengan kata lain, aparat pemerintah dalam
menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral.
Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat
pemerintah adalah:
1. Nilai-nilai moral, seperti antara lain: kejujuran, keadilan, keikhlasan,
kesamaan, kebenaran, kebaikan, keharusan, kewajiban, menolong, ketertiban,
kesabaran, ramah-tamah, dan lain-lain.
2. Norma-norma moral, seperti antara lain: profesionalisme, akuntabilitas,
transparansi, efisiensi, efektivitas, tidak korupsi, kolusi, dan nepotisme,
menjunjung tinggi supremasi hukum, jangan meminta, jangan mencuri, dan
lain-lain.
Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi
pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun, norma
hukum, dan norma moral. Namun norma moral merupakan norma yang
tingkatannya paling tinggi, sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan
dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum.

34
Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. Menurut norma moral “mencuri itu salah”,
sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan.
Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran,
keadilan, keikhlasan, kesamaan, profesionalisme, akuntabilitas, transparansi,
efisiensi, dan lain-lain) serta asas-asas, prinsip-prinsip, standar, dan biaya
pelayanan yang murah, diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar.
Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi
memperlancar pelayanan kepada masyarakat.

4.8. RANGKUMAN

Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai


sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan
permintaan masyarakat. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering
diterjemahkan sebagai pemerintah, yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau
birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan
sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari
birokrasi, yaitu:
a. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas
dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh
ahlinya;
b. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi;
c. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku
seragam;
d. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi;
e. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier
berdasar senioritas dan prestasi kerja;
f. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu
mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi.
Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip:
demokrasi, keadilan sosial dan pemerataan, mengusahakan kesejahteraan umum,
mewujudkan negara hukum, dinamika dan efisiensi.
Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh
aparatnya, yang disebut Pegawai Negeri. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI,
35
dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah
digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat, melaksanakan
tugas negara, melaksanakan tugas pemerintahan, dan melaksanakan tugas
pembangunan. Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil, maka
yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat, yang harus
dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas, prinsip-prinsip, standar, dan
pola pelayanan yang baik.
Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Etika
birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan
aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya.
Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain
kejujuran, keadilan, keikhlasan, profesional, transparansi, akuntabel, dan lain-
lain), maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada
masyarakat secara lancar dan memuaskan.

4.9. LATIHAN 3

1. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber!


2. Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asas-
asas umum birokrasi pemerintahan yang baik?
3. Sebutkan asas-asas pelayanan publik!
4. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum
penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999?

36
6. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF

I. BENAR/SALAH

1. B
2. A
3. A
4. B
5. B

III. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA

1. D
2. A
3. B

39
7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari
modul ini.
Hitung jumlah jawaban yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk
mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda.

TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100%


Jumlah keseluruhan soal

Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai :

91 % s.d. 100% : Amat Baik


81 % s.d. 90,99 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”), maka disarankan


mengulang materi.

40
8. DAFTAR PUSTAKA

1. Bertens, K. “Etika” PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004.

2. Darmodihardjo Darji, Prof., S.H., Nyoman Dekker, DR., S.H., A.G.


Pringgodigdo, Prof, Mr., Mardojo., S.H., Sulandra J.W., S.H., Kuntjoro
Purbopranoto, Prof., Mr., ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan, penerbit
Karunia Esa, 1985, cetakan VIII.

3. Departemen Keuangan, Inspektorat Jenderal, Majalah Auditor, Vol. 4, No. 8,


Juni-Agustus Tahun 2003.

4. Dwijowijoto, Riant Nugroho, “Kebijakan Publik : Formulasi, Implementasi,


dan Evaluasi” PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 2004.

5. Handayani, Puji, dan Zahar Angga Setiawan, Materi Pokok, Pembinaan Jiwa
Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil, Bahan Diklat Ujian Dinas Tk.I,
Departemen Keuangan, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai, Jakarta,
2005.

6. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002.

7. Keraf, A Sonny, DR., “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi”


Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar, 16 Juli 2003.

8. Kumorotomo, Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT. Rajawali Pers,


Jakarta, 1996.

9. Myrdal, Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New
York: Pantheon, 1968.

10. Rooswiyanto, Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan


Golongan I dan II, Departemen Keuangan, Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Pegawai, Jakarta, 2005.

11. Siagian, Prof. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo,


2006.

12. Soeharyo, Salamoen, Drs., M.P.A., Desi Fernanda, Drs., M.SocSc “Etika
Organisasi” Prajabatan III, LAN, 2001.
13. Soeharyo, Salamoen, Drs., M.P.A dan Sofia Ayu, Drs., M.Ed. “Etika
Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara, 2001.
14. Solomon, R.C., Etika Suatu Pengantar, Jakarta, Penerbit Erlangga, 1984.

15. Suseno S.J., Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius, 1993.
16. Suseno S.J., Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar
Pengembangan Widyaiswara , Jakarta, 20 September 2002.

17. Utomo, Etika dan Hukum Administrasi Publik, Makalah, Bandung, STIA
LAN, 2000.

41
18. Zubair, Achmad Kharis, Pengantar Kuliah Etika, Tiara Wacana, 1988.

PERATURAN-PERATURAN:

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974, sebagaimana telah diubah dengan


Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999.

3. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang


Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara


yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang


Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang


Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.

7. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK.03/2002


tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak
Departemen Keuangan Republik Indonesia.

8. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK.03/2002


tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor: 222/KMK.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan
Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan

9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 tentang Pedoman


Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen
Keuangan, sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 71/PMK.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 72/PMK.01/2007.

10. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK.02/2007


tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran,
Departemen Keuangan Republik Indonesia.

11. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:


63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan
Publik.

12. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002


tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

13. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia


Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal
Departemen Keuangan.

42
MODUL II

ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM


PELAKSANAAN TUGAS

MATERI POKOK:
ETIKA BIROKRASI

UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

OLEH
TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA MANUSIA

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI

JAKARTA
2009
DAFTAR ISI
MODUL II

ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL


DALAM PELAKSANAAN TUGAS

1. PENDAHULUAN ......................................................................... 1
1.1. Deskripsi singkat ............................................................... 2
1.2. Tujuan Pembelajaran Umum ............................................ 2
1.3 Tujuan Pembelajaran Khusus ........................................... 2

2. Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 4


2.1. Uraian dan contoh ............................................................ 4
2.2. Beberapa pengertian ......................................................... 4
2.3. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil ......... 6
2.4. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 7
2.5 Rangkuman ...................................................................... 8
2.6 Latihan 1 .......................................................................... 9

3. Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL .................................. 10


3.1. Uraian dan contoh ............................................................ 10
3.2. Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? .............. 10
3.3. Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil ....................... 11
3.4. Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS ....... 12
3.5. Pelaksanaan etika PNS ..................................................... 14
3.6. Penegakan kode etik PNS ................................................. 16
3.7. Kode etik instansi dan kode etik profesi ............................ 18
3.8. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan ............... 18
3.9. Rangkuman ...................................................................... 29
3.10. Latihan 2 .......................................................................... 30

4. Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS


PELAYANAN ............................................................................... 31
4.1 Uraian dan contoh ............................................................ 31
4.2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi ...................... 31
4.3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan .......................... 33
4.4. Etika meningkatkan kualitas PNS .................................... 38
4.5. Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan .................... 44
4.6 Rangkuman ...................................................................... 45
4.7 Latihan 3 .......................................................................... 46

5. TES FORMATIF ......................................................................... 47

6. KUNCI TES FORMATIF ............................................................. 52

7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT................................... 54

8. DAFTAR PUSTAKA ................................................................... 55


i
MODUL II
ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL
DALAM PELAKSANAAN TUGAS

1. PENDAHULUAN
1.1. Deskripsi Singkat
Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh
semangat pengabdian aparatur pemerintah, dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS)
dalam birokrasi pemerintah. Dalam kepemerintahan yang baik, pemerintah bertugas
mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja, sikap, dan perilaku yang etis dari PNS
yang bersangkutan. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan
pelayanan, merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat
mewujudkan pelayanan prima.
PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya,
namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS,
cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur, tidak ikhlas, tidak hormat, serta
diskriminatif, yang akhirnya akan merugikan masyarakat.
Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat, yaitu: PNS yang kuat,
kompak, dan bersatu padu, memiliki kepekaan, tanggap, memiliki kesetiakawanan yang
tinggi, netral, berdisiplin, profesional, bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas
serta penuh kesetiaan kepada Pancasila, UUD 1945, Negara, dan Pemerintah, maka
oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang
Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.
Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh
tanggung jawab, maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu
memberikan pelayanan yang terbaik, adil, dan merata, serta tidak diskriminatif kepada
masyarakat.
Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas
manusia, maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar, karena
pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral, dapat dikenakan tindakan
administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik.

1
PNS di samping wajib melaksanakan kode etik, juga wajib menjunjung tinggi
nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan
nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan
negara.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku
yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan
kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada
masyarakat.
Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar
(Kb), yaitu:
Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil,
Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil,
Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan.
Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui
sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar. Sebagai tolok
ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi
ini, maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya.
Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami
materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar, yang
akhirnya akan mewujudkan sikap, perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung
dalam etika PNS, baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.
1.2. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta diklat diharapkan mampu
memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS, melaksanakan kode etik
PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik
dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari.
1.3. Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta diklat dapat:
1.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS,
2.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS,
3.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS,

2
4.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS,
5.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode
etik,
6.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah,
7.Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan,
8.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS, yang bersikap disiplin dalam
meningkatkan pelayanan,
9.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS,
10. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS
kepada masyarakat.

3
2. Kegiatan Belajar 1

PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK


PEGAWAI NEGERI SIPIL

1.1. Uraian dan contoh


Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan
tugasnya, yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik, adil dan merata, serta tidak
diskriminatif, setia dan taat kepada Pancasila, UUD 1945, Negara, dan Pemerintah, maka
telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa
Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.
Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan
kode etik PNS, diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat
pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS, sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki
kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS, baik dalam
pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 42 Tahun 2004, sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari
materi modul ini. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps, tujuan, ruang lingkup
pembinaan jiwa korps, kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut:
1.2. Beberapa pengertian
a. Jiwa korps PNS
Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan, kebersamaan, kerja sama,
tanggung jawab, dedikasi, disiplin, kreativitas, kebanggaan dan rasa memiliki organisasi
PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut, maka diharapkan PNS
akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan, kebersamaan, kerja sama,
tanggung jawab, dedikasi, disiplin, kreativitas, kebanggaan dan rasa memiliki organisasi
Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4
a. Pembinaan jiwa korps PNS
Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan,
pengabdian, kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Setiap PNS yang memiliki jiwa korps, perlu memahami bahwa pembinaan jiwa
korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan, pengabdian, kesetiaan dan
ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan
secara terus-menerus dan berkesinambungan, sehingga akan mewujudkan PNS yang
diharapkan masyarakat, yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik, adil, dan
merata.
c. Kode etik PNS
Kode etik PNS adalah pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan PNS di dalam
melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. Pemahaman yang benar
tentang pengertian kode etik PNS, diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan
berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS).
Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan
PNS, baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.
d. Majelis kehormatan kode etik PNS
Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik
adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan
penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh
PNS.
Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang
dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik, sehingga diharapkan PNS tidak akan
melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode
etik termaksud.

a. Pelanggaran kode etik PNS

5
Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan, tulisan atau perbuatan PNS yang
bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik.
Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa
korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik.
b. Pegawai negeri sipil (PNS)
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
(sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan
bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS.
Selanjutnya, pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004
adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999).
c. Pejabat yang berwenang
Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang
berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi
Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan.
1.3. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS
Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk:
a. Membina karakter/watak, memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan
guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta
meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS,
b. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan
tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat,
c. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat, kesadaran, dan wawasan kebangsaan PNS
sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps
sebagaimana tersebut di atas, sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi
berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan
berkesinambungan.

6
1.4. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS
Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup:
a. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas
PNS,
b. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS,
c. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan
dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS,
d. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat,
bangsa, dan negara.
PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup
peningkatan etos kerja, partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan
dengan PNS, peningkatan kerja sama antara PNS, dan perlindungan terhadap hak-hak sipil
atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat, bangsa, dan
negara.
Memperhatikan hal-hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pemahaman-
pemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan
kode etik PNS, yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004,
diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam
birokrasi pemerintah, yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik, adil dan merata, tidak
diskriminatif, melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS,
sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan
Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pemahaman-
pemahaman yang baik dan benar, yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode
etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS,
menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam
birokrasi pemerintah, sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik, adil dan
merata, tidak diskriminatif, melalui kinerja, sikap, dan perilaku yang baik dari PNS.

7
Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS
akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan
masyarakat, diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan,
di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik, apabila diikuti pelaksanaan dan
penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab.

1.5. Rangkuman

Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor
42 Tahun 2004. Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa
kesatuan dan persatuan, kebersamaan, kerja sama, tanggung jawab, dedikasi, disiplin,
kreativitas, kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia, sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan
perjuangan, pengabdian, kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan
Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan PNS di
dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari, sedangkan yang dimaksud
dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural
pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta
menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS.
Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk
ucapan, tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan
kode etik, sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS,
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999).
Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina
Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk.
Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk:
a. Membina karakter/watak, memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan
guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta
meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS,
b. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar
akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat,
8
c. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat, kesadaran, dan wawasan kebangsaan PNS
sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah
1. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan
profesionalitas PNS,
2. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS,
3. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan
dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS,
4. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat,
bangsa, dan negara.

1.6. LATIHAN 1

1. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil!


2. Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil!
3. Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil!
4. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil!
5. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil!

9
3. Kegiatan Belajar 2

ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL

3.1. Uraian dan contoh


Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS
tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps
dan Kode Etik PNS.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut, antara lain dinyatakan
bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar, melaksanakan dan menerapkan etika
PNS dalam bernegara, berorganisasi, bermasyarakat, terhadap diri sendiri, dan terhadap
sesama PNS, untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik, adil
dan merata, melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS.
Menurut DR. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS, maka PNS
perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. Etika
PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin, menaati peraturan perundang-undangan yang
berlaku, sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang
harus melekat pada diri PNS, baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan
sehari-hari.
3.2. Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu?
a. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS

1. Pasal 5 ayat (2), pasal 27 ayat (1), dan pasal 28 UUD 1945,
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian,
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999,
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang
Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme,

10
5. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai
Negeri Sipil.

b. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia


Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004, yang
selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS , wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan
bertanggung jawab.
Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004
berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang
bersangkutan bertugas.
3.3. Nilai-nilai dasar bagi PNS
PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS, juga wajib
menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004.
Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut, meliputi:
a. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
c. Semangat nasionalisme;
d. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan;
e. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan;
f. Penghormatan terhadap hak asasi manusia
g. Tidak diskriminatif;
h. Profesionalisme, netralitas, dan bermoral tinggi;
i. Semangat jiwa korps.

Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan


bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS,
yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan
bekerja.

11
Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat,
bangsa, negara, dan pemerintah.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur
dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS
adalah sebagai berikut:
1. Merupakan pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai
Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia,
2. Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana
Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja,
3. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan
bermasyarakat, bangsa, negara, dan pemerintah.
3.4. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS
Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik, maka PNS bertugas untuk
memberikan pelayanan yang terbaik, pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan
masyarakat. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima
ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut.
Menurut DR. Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi
Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara
nyata, yaitu: profesionalisme, integritas moral yang tinggi, tanggung jawab terhadap
kepentingan publik, berpihak kepada kebenaran dan kejujuran, bertindak secara adil, jangan
menghalalkan cara untuk mencapai tujuan, dan jangan lakukan pada orang lain, apa yang
Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda.
Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut:
a. Profesionalisme
Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional, dalam
pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki, sesuai
dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku, dan mempunyai komitmen moral
yang tinggi untuk membela kepentingan publik.

12
Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam
menjalankan profesinya. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan
segala konsekuensinya, agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan
tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme,
serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya.

b. Integritas moral yang tinggi


Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip, tuntutan
dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. Dia harus melaksanakan tugasnya
sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik, jangan menyelewengkan kekuasaan
dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik.
c. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik
Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang
baik, kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. Kepentingan publik
adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya.
Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari
jabatan, tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk
melayani kepentingan publik.
PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya, karena menjadi PNS
adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik, bangsa dan negara, bukan
untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat.
d. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran
Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas, yaitu:
yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah, yang benar dinyatakan sebagai hal yang
benar. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan
yang berlaku.
Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan, kebenaran dan kejujuran ini
merupakan prinsip paling pokok.
e. Bertindak secara adil

13
Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa
membeda-bedakan, tanpa diskriminasi atas dasar ras, suku, jenis kelamin, agama,
keluarga, dan seterusnya.
Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar, yaitu; harus sesuai
dengan prosedur dan ketentuan yang ada, tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi
perlakuan khusus. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman
yang setimpal tanpa pandang bulu.
f. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan
Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam
pengertian segala cara bisa digunakan, demi mencapai tujuan yang menyimpang dan
merugikan kepentingan publik.
PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai
tujuan yang baik, agar kepentingan semua pihak dijamin.
g. Jangan lakukan pada orang lain, apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada
Anda
Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik
sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. Jangan mempersulit orang lain karena
Anda sendiri tidak ingin dipersulit. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok
dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan, karena Anda sendiri tidak
ingin diperlakukan demikian, apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus
dilakukan tanpa pamrih.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi
pemerintah sebagai unsur aparatur negara, abdi negara, dan abdi masyarakat, perlu memiliki
dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan
yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan
oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat.
3.5. Pelaksanaan etika PNS
Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam
pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari, PNS wajib bersikap dan
berpedoman pada etika dalam bernegara, dalam penyelenggaraan pemerintahan, dalam
berorganisasi, dalam bermasyarakat, serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS.

14
Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut:
a. Etika PNS dalam bernegara
1. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,
2. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara,
3. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,
4. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan
tugas,
5. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih
dan berwibawa,
6. Tanggap, terbuka, jujur, dan akurat, serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap
kebijakan dan program Pemerintah,
7. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan
efektif,
8. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar.
b. Etika PNS dalam berorganisasi
1. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku,
2. Menjaga informasi yang bersifat rahasia,
3. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang,
4. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi,
5. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam
rangka pencapaian tujuan,
6. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas,
7. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja,
8. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan
kinerja organisasi,
9. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja.
c. Etika PNS dalam bermasyarakat
1. Mewujudkan pola hidup sederhana,
2. Memberikan pelayanan dengan empati, hormat dan santun, tanpa pamrih dan tanpa
unsur pemaksaan,

15
3. Memberikan pelayanan secara cepat, tepat, terbuka, dan adil serta tidak
diskriminatif,
4. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat,
5. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan
tugas.
d. Etika PNS terhadap diri-sendiri
1. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar,
2. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan,
3. Menghindari konflik kepentingan pribadi, kelompok, maupun golongan,
4. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan, kemampuan, keterampilan,
dan sikap,
5. Memiliki daya juang yang tinggi,
6. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani,
7. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga,
8. Berpenampilan sederhana, rapih, dan sopan.
e. Etika PNS terhadap sesama PNS
1. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang
berlainan,
2. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil,
3. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal
dalam suatu unit kerja, instansi, maupun antar instansi,
4. Menghargai perbedaan pendapat,
5. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil,
6. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil,
7. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin
terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib
melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara, berorganisasi, bermasyarakat,
terhadap diri sendiri, terhadap sesama PNS, sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi
masyarakat dapat melaksanakan tugasnya, sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan
masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari.

16
3.6. Penegakan kode etik PNS
a. Pelanggaran kode etik PNS
Segala bentuk ucapan, tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan
butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS.
b. Sanksi pelanggaran kode etik
PNS yang melakukan pelanggaran kode etik, selain dikenakan sanksi moral dapat
dikenakan tindakan administratif, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik.

Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa:


1. Sanksi moral,
2. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa:
a) Pernyataan secara tertutup, atau
b) Pernyataan secara terbuka
Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah
hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS, yaitu Peraturan Pemerintah
Nomor 30 Tahun 1980.
c. Pembentukan Majelis Kode Etik
1. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode
Etik,
2. Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian
pada setiap instansi yang bersangkutan,
3. Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari
jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka
melanggar kode etik,
4. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil
yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil
bersangkutan diberi kesempatan membela diri,

17
5. Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila
tidak tercapai, keputusan diambil dengan suara terbanyak,
6. Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final.

18
3.7. Kode etik instansi dan kode etik profesi
Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur
tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut:
1. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik
Instansi;
2. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya
masing-masing;
3. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan
organisasi profesi
3.8. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan
a. Kode etik profesi
Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi
tertentu, misalnya: kode etik kedokteran, kode etik notaris, kode etik PNS, kode etik
pengacara, dan lain-lain.
Kode etik adalah nilai-nilai moral, norma-norma sebagai acuan dasar berpikir, bersikap
dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu.
b. Tujuan utama kode etik
Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik, yaitu:
1. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan
kelalaian, kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari
organisasi profesi bersangkutan,
2. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh
anggota profesi bersangkutan.
Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan, maka ada dua syarat mutlak
yang harus dipenuhi, yaitu:
a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh cita-
cita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan. Agar kode etik dapat
berfungsi sebagaimana diharapkan, maka materi kode etik harus berasal dari

19
organisasi profesi tersebut, atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil
pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut.
b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus, setiap kasus pelanggaran akan
dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu.
Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling
mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik.
c. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan
Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada
ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut:
1. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, sebagaimana telah
diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999,
2. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai
Negeri Sipil,
3. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai
Negeri Sipil,
4. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan,
Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil,
5. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps
Pegawai Negeri Sipil,
6. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005,
7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 tentang Pedoman
Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan,
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
71/PMK.01/2007,
8. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.01/2007 tentang Majelis Kode Etik,
9. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.01/2007 tentang Reformasi
Birokrasi Departemen Keuangan,
10. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK.01/2007 tentang Pendelegasian
Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk
memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan
Departemen Keuangan, dan

20
11. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.01/2003 tentang Pedoman Teknis
Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di
lingkungan Departemen Keuangan.
Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 tentang Pedoman
Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan,
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
71/PMK.01/2007, maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen
Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya, yang disesuaikan
dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap
berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada).
Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum
diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 jo Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007 tersebut, diminta agar menyesuaikan
kembali, sesuai perkembangan yang ada.
Untuk keperluan pembelajaran, maka pada modul ini dikutip secara garis besar
tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan, yakni:
Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak, Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dan
Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran, sebagai berikut:
a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP)
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan
Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang
perpajakan. Pada saat ini, pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri
terbesar dan menjadi tumpuan APBN.
Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat
terhadap kinerja perpajakan sangat besar. Oleh karena itu, penting bagi DJP untuk
selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. Dalam konteks kinerja
Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan
pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang
sebelumnya ditetapkan).
Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target,
dari mulai perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengendalian

21
atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan
berkualitas.
Sebagaimana diketahui, kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor
kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam
organisasi yang bersangkutan. Dalam hal ini, etika seperti telah diuraikan
sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat
(tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi.
Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan
Direktorat Jenderal Pajak, maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu
standar perilaku pegawai. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 1/PM.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal
Pajak, Departemen Keuangan. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan
kewajiban, larangan, dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik. Berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan
kode etik pada PMK No 1/PMK.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantor-
kantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun
vertikal.
Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal
Pajak merupakan pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang mengikat
Pegawai, termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.
Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal
sebagai berikut:
Tujuan:
Tujuan disusunnya kode etik adalah:
a. Meningkatkan disiplin pegawai,
b. Menjamin terpeliharanya tata tertib,
c. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif,
d. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional,
e. Meningkatkan citra dan kinerja pegawai.

22
Kewajiban:
Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah:
a. Menghormati agama, kepercayaan, budaya, dan adat istiadat orang lain,
b. Bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel,
c. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal
Pajak,
d. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak, sesama pegawai, atau pihak
lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya,
e. Mentaati perintah kedinasan,
f. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat
Jenderal Pajak,
g. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor,
h. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban
perpajakan,
i. Bersikap, berpenampilan, dan bertutur kata secara sopan.
Larangan:
Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam
peraturan kode etik pegawai DJP, yakni sebagai berikut:
a. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas,
b. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik,
c. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak
langsung,
d. Menyalahgunakan fasilitas kantor,
e. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun, baik langsung maupun
tidak langsung, dari wajib pajak, sesama pegawai, atau pihak lain, yang
menyebabkan pegawai yang menerima, patut diduga memiliki kewajiban
yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya,
f. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan,

23
g. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan,
kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat
Jenderal Pajak,
h. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma
kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak.
Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik:
Segala bentuk ucapan, tulisan, atau perbuatan pegawai yang melanggar
ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin.
b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)
Selain pajak, penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga
merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. Dari sisi ini, dapat dipahami
pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam
dari masyarakat. Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, yang tertuang dalam Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 01/PM.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya
meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan
profesionalisme pegawai.
Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi, namun satu
hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan
melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama, baik dalam kehidupan
organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam mendukung upaya-
upaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar
perilaku organisasi.
Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam
menjaga citra organisasi.
Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal
Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan pegawai,
termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.

24
Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal
sebagai berikut:
Maksud:
Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung
produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai.
Tujuan:
Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah:
a. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai;
b. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai;
c. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di
lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi
terkait;
d. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang
profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; dan
e. Meningkatkan citra dan kinerja PNS, khususnya PNS di lingkungan
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Kewajiban:
Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib:
a. Menghormati agama, kepercayaan, budaya, dan adat istiadat yang dianut
oleh diri sendiri dan orang lain,
b. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja
serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau
organisasi,
c. Menaati dan mematuhi segala aturan, baik langsung maupun tidak langsung,
mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum,
d. Menaati perintah kedinasan,

25
e. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik,
harmonis, dan sinergis antar pegawai, baik dalam satu unit kerja maupun
diluar unit kerja,
f. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut
bidang tugasnya masing-masing,
g. Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik
dan bertanggung jawab,
h. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya
dan masyarakat,
i. Bersikap, berpenampilan, dan bertutur kata secara sopan dan santun.

Larangan:
Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang :
a. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan
kepada pegawai dan masyarakat,
b. Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik,
c. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar
kedinasan,
d. Menerima pemberian, hadiah, dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari
pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau
patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin
bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan,
e. Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data
dan atau informasi kepabeanan dan cukai,
f. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan,
kerusakan, dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi,
g. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma
kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi.
Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik:

26
Segala bentuk ucapan, tulisan, sikap, perilaku, dan atau tindakan pegawai
yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman
disiplin berdasarkan PP No. 30 Tahun 1980.
Komisi Kode Etik
Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA)
Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan
Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan
kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan
kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut, dibutuhkan
pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip
pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai
yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. Kode
Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 01/PM.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat
Jenderal Anggaran.
Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal
Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku
yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai, termasuk calon pegawai di
lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.
Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain hal-
hal sebagai berikut:
Tujuan:
Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas
Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan
transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan

27
hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat
Jenderal Anggaran.

28
Kewajiban:
a. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan
yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi
Direktorat Jenderal Anggaran,
b. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, bersemangat dan bertanggung jawab,
c. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA
menurut bidang tugas masingmasing,
d. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas
dalam melaksanakan penganggaran,
e. Mentaati ketentuan jam kerja,
f. Berpakaian rapi dan sopan,
g. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan
atasan,
h. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode
Etik,
i. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik,
j. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal
Anggaran.
Larangan:
a. Melakukan perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme,
b. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA,
c. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik,
d. Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran
Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan
Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat
Jenderal Anggaran,
e. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan
(conflict of interest),
f. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau
imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau

29
patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin
bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang
bersangkutan,
g. Memanfaatkan barang-barang, uang atau surat-surat berharga milik
negara tidak sesuai dengan peruntukannya,
h. Membuat, mengkonsumsi, memperdagangkan dan atau mendistribusikan
segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan
psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal,
i. Melakukan perbuatan asusila dan berjudi,
j. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan
pribadi, k atau pihak lain.
Sanksi:
Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman
disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980.
Majelis Kode Etik:
Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik,
yang keanggotaannya terdiri dari:
a. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota;
b. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota, dan
c. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota.

30
3.9. Rangkuman
Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42
Tahun 2004, yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan
bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat
di mana PNS bertugas.
Menurut DR. Sonny Keraf, ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan
dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah, yang dalam hal ini
termasuk PNS. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam
melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral, yaitu: prinsip profesionalisme,
integritas moral yang tinggi, tanggung jawab terhadap kepentingan publik, berpihak kepada
kebenaran dan kejujuran, bertindak secara adil, jangan menghalalkan cara untuk mencapai
tujuan, dan jangan lakukan pada orang lain, apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan
pada Anda.
PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga
berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS, baik dalam pelaksanaan tugas
maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab, maka
bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga
dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat
Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas.
Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara
khusus di lingkungan Departemen Keuangan, maka Menteri Keuangan telah menerbitkan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007, sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 72/PKM.01/2007.
Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I
di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan
karakteristiknya masing-masing, seperti: Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai, dan Direktorat Jenderal Anggaran, yang secara garis besar diuraikan dalam
Modul ini.

31
3.9. LATIHAN 2

1. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil


dalam birokrasi pemerintah!
2. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan
dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah!
3. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang
wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil!
4. Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik
Pegawai Negeri Sipil.
5. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri
Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik
masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan!

32
4. Kegiatan belajar 3

ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM


MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN

4.1. Uraian dan contoh


Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian, menegaskan bahwa
Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara
profesional, adil dan merata, tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara,
pemerintahan, dan pembangunan.
Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43
Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah
Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk
meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan, maka PNS
diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab,
sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik, adil dan
merata, tidak diskriminatif.
Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah
memberikan pelayanan dengan empati, hormat dan santun, tanpa pamrih dan tanpa unsur
paksaan, memberikan pelayanan secara cepat, tepat, terbuka, adil, serta tidak diskriminatif.
Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, telah
ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:
63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik, di mana PNS
sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah, ikhlas, tidak
diskriminatif dalam memberikan pelayanan.

4.2. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah


Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999

33
tentang Pokok-pokok Kepegawaian, Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang
Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS, dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum
Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut:
a. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999
Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa:
Pegawai Negeri terdiri dari:
1. Pegawai Negeri Sipil (PNS);
• PNS Pusat;
• PNS Daerah;
2. Anggota Tentara Nasional Indonesia; dan
3. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang
kedudukan dan tugas PNS, yaitu:
a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam
penyelenggaraan negara, pemerintahan, dan pembangunan,
b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar
tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,
c) Untuk menjamin netralitas, Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau
pengurus partai politik
Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah:
1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara;
2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional, adil,
dan merata;
3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar
tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan.

34
b. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan
PNS adalah sebagai berikut:
1. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara,
2. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik, adil, dan merata.
d. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan
Publik
Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M.PAN/7/2003 adalah sebagai
berikut:
1. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara, aparatur pemerintah, dan abdi
masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas,
2. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin,
sopan dan santun, ramah, ikhlas, dan tidak diskriminatif dalam memberikan
pelayanan.
Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas, dapat dinyatakan
bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur
pemerintah, sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada
masyakarat.

4.3. Etika PNS dalam memberikan pelayanan


Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima, PNS harus bersikap dan berperilaku baik
sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai
kebutuhan dan harapan masyarakat.
Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan
perundang-undangan tersebut di bawah ini, yaitu:
a. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan
Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu
aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara
profesional, produktif, transparan, dan bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Karena PNS

35
sebagai unsur aparatur negara, maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan
MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut.
b. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan, yang
mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat, sehingga mewujudkan pelayanan yang
amanah.
c. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. Dalam pasal 3
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur
negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional, adil dan merata, tidak
diskriminatif.
Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan
pelayanan yang adil, merata, tidak diskriminatif kepada masyarakat.
d. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode
Etik PNS, di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan
pelayanan dengan empati, hormat dan santun, tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan
serta memberikan pelayanan secara cepat, tepat, terbuka, dan adil, serta tidak
diskriminatif.
e. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/
M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik
menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan
pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan
masyarakat, di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan
masyarakat. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin, sopan santun,
ramah, ikhlas, dan tidak diskriminatif.
Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima, maka dalam Surat Keputusan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas
Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur
pemerintah.

36
Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut:
1. Asas Pelayanan Publik
a. Transparansi
Bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang
membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.
b. Akuntabilitas
Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. Kondisional
Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan
dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.
d. Partisipatif
Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik
dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan, dan harapan masyarakat.
e. Kesamaan Hak
Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan,
gender, dan status ekonomi.
f. Keseimbangan Hak dan Kewajiban
Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban
masing-masing pihak.
2. Prinsip Pelayanan Publik
a. Kesederhanaan
Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit, mudah dipahami, dan mudah
dilaksanakan.
b. Kejelasan
1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik;
2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam
memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa
dalam pelaksanaan pelayanan publik;
3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran.

37
c. Kepastian waktu
Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah
ditentukan.
d. Akurasi
Produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat, dan sah.
e. Keamanan
Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian
hukum.

f. Tanggung jawab
Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk
bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian
keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik.
g. Kelengkapan sarana dan prasarana
Tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja dan pendukung lainnya
yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan
informatika (telematika).
h. Kemudahan Akses
Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai, mudah dijangkau oleh
masyarakat, dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan
informatika.
i. Kedisiplinan, Kesopanan, dan Keramahan
Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah, serta
memberikan pelayanan dengan ikhlas.
j. Kenyamanan
Lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan ruang tunggu yang
nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan
fasilitas pendukung pelayanan, seperti parkir, toilet, tempat ibadah, dan lain-
lain.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan
Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999, Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001,

38
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 43 Tahun 1999, Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004, dan
Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:
63/KEP/M.PAN/7/2003, maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang
diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut:
1) Memberikan pelayanan secara adil dan merata,
2) Memberikan pelayanan produktif, transparan, bersih, dan bebas Korupsi, Kolusi,
dan Nepotisme,
3) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan,
4) Memberikan pelayanan dengan empati, hormat dan santun, tanpa pamrih dan
tanpa unsur paksaan,
5) Memberikan pelayanan secara cepat, tepat, terbuka, dan adil, serta tidak
diskriminatif,
6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat, yang
berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi
pelayanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah, serta memberikan
pelayanan dengan ikhlas, tidak diskriminatif. Pegawai Negeri Sipil perlu
memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan
publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan
penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima
pelayanan. Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan
memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. Oleh
karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei
indeks kepuasan masyarakat.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku
positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang
tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk
mewujudkan pelayanan prima. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk
meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat, atau dengan kata
lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk

39
mewujudkan pelayanan yang berkualitas, yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan
prima.
4.4. Etika meningkatkan kualitas PNS

a. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa


Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor
VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir, bersikap, dan berperilaku untuk
meningkatkan kualitas manusia beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia serta
berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. Etika kehidupan berbangsa yang
bersumber dari ajaran agama, khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur
budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir, bersikap,
dan berperilaku bagi negara, pemerintah, dan seluruh rakyat Indonesia, termasuk PNS
dalam kehidupan berbangsa.
Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk
membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan
berbangsa. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran, amanah,
keteladanan, sportivitas, disiplin, etos kerja, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu,
tanggung jawab, menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan
Kode Etik Pegawai Negeri Sipil
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan
jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan
kualitas PNS, sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik, adil, dan
merata, karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat
dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas
memberikan pelayanan.
Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam
melaksanakan tugasnya, dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila, UUD 1945,
Pemerintah, dan Negara, maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004, yaitu:
a. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila, UUD 1945, Negara,
dan Pemerintah,
40
b. Pegawai Negeri Sipil yang kuat, kompak, dan bersatu padu,
c. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan, tanggap dalam melaksanakan
tugasnya,
d. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi,
e. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya,
f. Pegawai Negeri Sipil yang netral, mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,
g. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam
melaksanakan tugasnya.
Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a
sampai dengan g, maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang
tertuang dalam etika bernegara, berorganisasi, bermasyarakat, terhadap diri sendiri, dan
terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab.
Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37
butir, diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya
maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya
etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia, baik dalam pelaksanaan tugas
maupun dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR
Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan
Kode Etik PNS.
c. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin
Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh, taat terhadap peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat
menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin
diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin
merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan
dasar bersikap dan berperilaku.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa
Korps dan Kode Etik PNS, antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan

41
pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang
bersikap disiplin akan berperilaku rajin, taat, tertib, bertanggung jawab, patuh, dan
menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati, antara lain sebagai
berikut:
1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS
PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan
disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS
dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS.
Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil
dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut:
a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir:
i. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945,
Negara dan Pemerintah,
ii. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau
sendiri, serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak
kepentingan negara oleh kepentingan golongan, diri sendiri, atau pihak lain,
iii. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara, Pemerintah dan
Pegawai Negeri Sipil,
iv. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan
sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku,
v. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya.
vi. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang
langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara
umum,
vii. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh
pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab,
viii. Bekerja dengan jujur, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan negara,
ix. Memelihara dan meningkatkan keutuhan, kekompakan, persatuan dan
kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil,

42
x. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat
membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang
keamanan, keuangan, dan materiil,
xi. Mentaati ketentuan jam kerja,
xii. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik,
xiii. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaik-
baiknya,
xiv. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut
bidang tugasnya masing-masing,
xv. Bertindak dan bersikap tegas, tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya,
xvi. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya,
xvii. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap
bawahannya,
xviii. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja,
xix. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan
kariernya,
xx. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan,
xxi. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun
terhadap masyarakat, sesama Pegawai Negeri Sipil, dan terhadap atasan,
xxii. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk
agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan,
xxiii. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat,
xxiv. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan
yang berlaku,
xxv. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang,
xxvi. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan
yang diterima mengenai pelanggaran disiplin.
b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir, yakni:
i. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat
Negara, Pemerintah, dan Pegawai Negeri Sipil,
ii. Menyalahgunakan wewenang,

43
iii. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing,
iv. Menyalahgunakan barang-barang, uang atau surat-surat berharga milik
negara,
v. Memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan atau meminjamkan
barang-barang, dokumen, atau surat-surat berharga milik negara secara tidak
sah,
vi. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman sejawat, bawahan atau
orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk
keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain, yang secara langsung atau
tidak langsung merugikan negara,
vii. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam
terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan
kerja,
viii. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja, dari siapapun yang
patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau
mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil
yang bersangkutan,
ix. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat
Pegawai Negeri Sipil, kecuali untuk kepentingan jabatan,
x. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya,
xi. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang
dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang
dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya,
xii. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan,
xiii. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena
kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi, golongan atau pihak lain
xiv. Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk
mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah,
xv. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada
dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu

44
sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung
atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan,
xvi. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada
dalam ruang lingkup kekuasaannya,
xvii. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan,
menjadi direksi, pimpinan, atau komisaris perusahaan swasta, bagi yang
berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan
eselon I,
xviii. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam
melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi, golongan atau pihak lain.
2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS
Setiap calon PNS, pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan
sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai
penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat.
Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut:
Demi Allah, saya bersumpah/berjanji:
“Bahwa saya, untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, akan setia dan
taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara, dan
Pemerintah;
Bahwa saya, akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya
dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;
Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara,
Pemerintah, dan martabat Pegawai Negeri Sipil, serta akan senantiasa
mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri,
seseorang atau golongan;
Bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau
menurut perintah harus saya rahasiakan;
Bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat
untuk kepentingan negara”.

45
Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut, secara etika sumpah/janji
tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat
dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin, rajin, taat, dan patuh
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, bertanggung jawab dalam
melaksanakan tugasnya, dan lain-lain, karena PNS yang bersikap disiplin akan
bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya, dan selalu berusaha tidak
melakukan pelanggaran, atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu
berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku
baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan
masyarakat.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan
selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan
kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS.

4.5. Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan


Dalam butir 4.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik
dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik, yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada
masyarakat.
Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik
PNS yang meliputi: etika bernegara, berorganisasi, bermasyarakat, terhadap diri sendiri, dan
terhadap sesama PNS dengan baik dan benar, maka pengamalan etika PNS tersebut akan
meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4.3.
Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas
karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam
bidang tugasnya, bersikap dan berperilaku baik, patuh dan setia kepada Pancasila, UUD
1945, Negara, dan Pemerintah, dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada
masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya.
Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004, yaitu:

46
a. Memberikan pelayanan dengan empati, hormat dan santun, tanpa pamrih dan tanpa
unsur paksaan,
b. Memberikan pelayanan secara cepat, tepat, terbuka, dan adil, serta tidak diskriminatif.
Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas
PNS, maka dapat dinyatakan bahwa:
• Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang
tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokok-
pokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor
VI/MPR/2001, maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas,
• Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan
menghasilkan pelayanan yang berkualitas.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan
kualitas PNS, yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada
masyarakat.
Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan, di samping bersikap dan berperilaku baik,
PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur
dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP.M.PAN/7/2003
tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.

4.6. Rangkuman
Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional, diperlukan PNS yang
berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna.
Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat,
kompak dan bersatu padu, memiliki kepekaan, tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang
tinggi, berdisiplin, netral, profesional, dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya, serta
penuh kesetiaan pada Pancasila, UUD 1945, Negara, dan Pemerintah.
Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin, yang sangat
berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya
memberikan pelayanan yang terbaik, adil, dan merata sebagaimana termaksud dalam

47
Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati, hormat
dan santun, tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan, memberikan pelayanan secara cepat,
tepat, terbuka, dan adil, serta tidak diskriminatif. Dengan melaksanakan butir-butir etika
PNS dalam memberikan pelayanan, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan.
Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen
Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 tentang Pedoman
Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan,
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007,
yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM.01/2007
tentang Majelis Kode Etik, maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan
Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai
dengan karakteristik pekerjaannya, dengan tetap berpedoman pada peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

4.7. Latihan 3
1. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah!
2. Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil
dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil!
3. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan
sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara
Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003!
4. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang
bersikap disiplin!
5. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas
pelayanan!

48
5. TES FORMATIF

I. BENAR/SALAH
Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan
Salah.

1. B - A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan


Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan
yang terbaik, adil, dan merata.
2. B - A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai
Negeri Sipil Pusat.
3. B - A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik.
4. B - A Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004
5. B - A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil
dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri
Sipil.
6. B - A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang
paling utama untuk meningkatkan pelayanan.
7. B - A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri
Sipil yang bersikap disiplin.
8. B - A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan.
9. B - A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang
dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara.
10. B - A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk
mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi,
merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai
Negeri Sipil.

49
II. PILIHAN BERGANDA
Pilih satu jawaban yang paling benar.

1. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman, sikap, tingkah laku, dan perbuatan
Pegawai Negeri Sipil:
a. Dalam melaksanakan tugasnya
b. Dalam pergaulan hidup sehari-hari
c. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari
d. Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat

2. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan:


a. Sanksi moral
b. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
c. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku
d. Sanksi pidana dan perdata

3. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi
antara lain tersebut di bawah ini:
a. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas
b. Akuntabel dalam melaksanakan tugas
c. Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.
d. Memiliki daya juang yang tinggi

4. Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan:


a. Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas
b. Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme
c. Memberikan pelayanan dengan empati, hormat dan santun, adil,
tidak diskriminatif
d. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan

50
5. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001
mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat:
a. Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
b. Transparan
c. Profesional
d. Memiliki kepedulian yang tinggi

III. ASOSIASI PILIHAN GANDA


PILIHLAH: A, bila pernyataan 1), 2), dan 3) benar
B, bila pernyataan 1) dan 3) benar
C, bila pernyataan 2) dan 4) benar
D, bila semua pernyataan benar

1. Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah:
1) Rasa kesatuan dan persatuan
2) Rasa kebersamaan, kerja sama, tanggung jawab
3) Rasa dedikasi, disiplin, kreativitas
4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia

2. Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri
Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain
tersebut di bawah ini:
1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas
3) Profesionalisme, netralitas, dan bermoral tinggi
4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah

51
3. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini:
1) Membina karakter, watak, membina rasa persatuan dan kesatuan secara
kekeluargaan
2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil
3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri
Sipil yang bermutu tinggi
4) Meningkatkan produktivitas kerja

4. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan
pelayanan antara lain tersebut di bawah ini :
1) Produktif
2) Transparansi
3) Tanggap
4) Akuntabilitas

5. Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil
meliputi.
1) Etika bernegara
2) Etika berorganisasi
3) Etika bermasyarakat
4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil

6. Menurut DR. Sonny Keraf, prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati
Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini:
1) Profesionalisme
2) Bersih dan bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
3) Intregritas moral yang tinggi

52
4) Produktif dan disiplin

7. Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang
Nomor 43 Tahun 1999 adalah:
1) Profesional
2) Adil dan merata
3) Tidak diskriminatif
4) Transparan

8. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini:
1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa
2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas
3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih
dan berwibawa
4) Membangan etos kerja

9. Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan


sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003, yaitu:
1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat
2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat
3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat
4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat

10. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan:
1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat, kompak, dan bersatu padu
2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan, tanggap
3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi
4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya

53
6. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF

I. BENAR/SALAH

1. B
2. A
3. B
4. B
5. B
6. A
7. A
8. A
9. A
10. A

II. PILIHAN BERGANDA

1. C
2. C
3. A
4. C
5. D

III. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA

1. D 6. B
2. B 7. A

54
3. B 8. B
4. C 9. D
5. D 10. D

55
7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT
Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.
Hitung jumlah jawaban yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk
mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda.

TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100%

Jumlah keseluruhan soal

Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai :

91 % s.d. 100% : Amat Baik


81 % s.d. 90,99 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”), maka disarankan mengulang materi.

56
8. DAFTAR PUSTAKA

1. Darmodihardjo Darji, Prof., S.H., Nyoman Dekker, DR., S.H., A.G. Pringgodigdo,
Prof . Mr. Mardojo., S.H., Sulandra J.W., S.H., Kuntjoro Purbopranoto, Prof., Mr.,
Santiaji Pancasila, kumpulan karangan, penerbit Karunia Esa, 1985, cetakan VIII.
2. Hardijanto, Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik, dalam
jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN, 1 Maret 2003.
3. Kansil, C.S.T., Prof., Drs., S.H., Pancasila dan UUD 1945 Bagian I, P.T. Pradya
Paramita, Jakarta, 2002.
4. Kansil, C.S.T., Prof., Drs., S.H., Pancasila dan UUD 1945 Bagian II, P.T. Pradya
Paramita, Jakarta, 2002.
5. Keraf, A. Sonny, DR., Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi, Makalah
yang disampaikan dalam Top Management Seminar, 16 Juli 2003.
6. Keraf, A. Sonny, DR., ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah,’ Makalah yang
disampaikan dalam Top Management Seminar, 16 Juli 2003.
7. Suseno S.J., Franz Magnis, Etika Dasar, Penerbit Kanisius, 1993.
8. Suseno S.J., Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar
Pengembangan Widyaiswara , Jakarta, 20 September 2002.
9. Pendidikan Pancasila, Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada, Pusat
Penerbitan Universitas Terbuka, Yogyakarta, Mei 2002.
10. Rooswiyanto, Tony, Etika Organisasi Pemerintah, Bahan Diklat Prajabatan
Golongan I dan II, Departemen Keuangan, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai,
Jakarta, 2005.
11. Soeharyo, Salamoen, Drs., M.P.A dan Sofia Ayu, Drs., M.Ed., Etika Kepemimpinan
Aparatur, Lembaga Administrasi Negara, 2001.
12. Soeharyo, Salamoen, Drs., M.P.A., Desi Fernanda, Drs., M.Soc., SC., Etika
Organisasi, Prajabatan III, LAN, 2001.
13. Solomon, R.C., Etika Suatu Pengantar, Jakarta, Penerbit Erlangga, 1984.
14. Supriyadi, Gering, Drs., M.M., Etika Organisasi, Prajabatan III, LAN, 1998.
15. Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Balai Pustaka, 1990
16. Tjiptoherjanto, Prijono, Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan
Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan, dalam jurnal “Good
Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN, 1 April 2002.
17. Triguno, Dipl.Ec., Drs., LLM., Budaya Kerja dan Disiplin, Pusat Pendidikan dan
Pelatihan BAPPENAS.
18. Winarty, Army, Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan
Kinerja Organisasi Publik, dalam jurnal ilmiah “Good Governance”, terbitan
Program Magister STIA-LAN, 1 Maret 2003.

57
PERATURAN-PERATURAN:

1. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat.


2. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih
dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
3. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004.
4. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa.
5. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan.
6. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan
Pemerintahan.
7. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang
Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS.
10. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) 2004-2009.
11. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan,
Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.
12. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai
Negeri Sipil.
13. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003
tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.
14. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan
Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan, sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007.
15. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.01/2007 tentang Majelis Kode Etik,
16. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai
Direktorat Jenderal Anggaran.
17. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai
Direktorat Jenderal Pajak.
18. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik
Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak.

19. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

58
20. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai
Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan.
21. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi
Departemen Keuangan.
22. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK.01/2007 tentang Pendelegasian
Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan
Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan.
23. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.01/2003 tentang Pedoman Teknis
Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan
Departemen Keuangan.

59