Anda di halaman 1dari 4

Hari yang apes

Suatu hari, di suatu daerah di Cicalengka, Omen seorang pemuda tanggung,


peranakan sunda-betawi, menelepon temannya Omo, seorang pemuda asli bandung
yang penakut, untuk merencanakan kegiatan apa yang akan mereka lakukan esok hari.
Dalam percakapan tersebut Omen mengajak Omo untuk sekedar lari pagi dan
sekalian jalan-jalan di Gasibu esok pagi, Omo menanggapinya dengan antusias karena
dia tahu di Gasibu banyak gadis cantik yang juga sering jalan-jalan. Pembicaraan pun
berakhir dengan keputusan waktu dan tempat di mana mereka akan bertemu esok.
Pendek cerita, merekapun pergi bersama ke Gasibu, dan tiba di sana sekitar
pukul delapan pagi. Mereka pun melakukan olah raga kecil, dan duduk-duduk di
taman untuk beristirahat diselingi kegiatan mencuci mata dan candaan ringan untuk
membuat hari itu menjadi lebih berwarna.
Kemudian muncul pemuda tinggi, yang nampak penasaran meminta api untuk
rokok yang akan dia nyalakan. Mereka bertiga pun terlibat pembicaraan tentang
keponakan orang tersebut yang kemarin dipalak oleh preman Gasibu, dan pemuda
tersebut mencurigai Omen dan Omo lah premannya. Tentu saja Omen dan Omo
membantahnya, pemuda itu ingin meyakinkannya dengan mengajak dua pemuda itu
ke belakang untuk dipertemukan dengan keponakannya, merasa yakin tidak bersalah
mereka mengikuti saja ajakannya.
Di daerah yang nampak sepi pemuda itu berbalik mencekik Omo dan meminta
telepon genggam dan dompet Omo dengan ancaman kulitnya akan dibakar dengan
rokok. Omo dan Omen kaget bukan kepalang, Omo tidak begitu saja menuruti
permintaan pemuda yang ternyata adalah preman tersebut, akan tetapi preman tersebut
memanggil temannya yang bernama Ucok, preman keturunan batak berperawakan
kecil namun berperangai agak seram, Ucok pun dengan logat bicaranya yang keras
dan tegas meminta telepon genggam dan dompetnya Omen.
Karena keduanya bersikeras untuk tidak memberikan harta mereka begitu saja,
si preman menyentuhkan api rokok di pipi kanan Omo, karena tak kuat menahan
perihnya kulit terbakar, Omo pun berteriak dan dengan spontan memukul si Preman
dengan sekuat tenaga ke arah hidung sehingga berdarah. Setelah merasa tak dikekang
lagi Omo pun berlari tanpa memikirkan Omen yang masih berada diantara kedua
preman itu. Beberapa saat kemudian Omen pun menghampiri Omo, dan mengejek
Omo yang dia anggap sangat tega meninggalkan temannya sendirian, Omo hanya
tertawa setelah Omen harus merelakan uang dua puluh ribunya.
Hari yang apes

Suatu hari, di suatu daerah di Cicalengka, Omen seorang pemuda tanggung,


peranakan sunda-betawi, sedang mengisi waktu dengan membacakan puisi
fenomenal, puisi fenomenal yang diciptakannya setiap empat minggu sekali (batu), di
sela-sela penjiwaan pembacaan puisi tersebut, tiba-tiba seorang temannya bernama
Omo menelepon, Omo adalah seorang pemuda asli bandung yang penakut, dalam
percakapan mereka merencanakan kegiatan apa yang akan mereka lakukan esok hari.
(Omo/omen masuk, musik pengiring ngejreng….)

Omo : Assalamualaikum.. Men..


Omen : Walaikumsalam.. Omo ya..
Omo : Lagi ngapain men?
Omen : Biasa.. lagi iseng baca puisi..
Omo : yups, men, besok kan hari minggu, ada kegiatan tidak untuk esok?
Omen : hmmm… sedang nganggur nih..
Omo : Bagaimana kalau besok kita lari-lari di Gasibu… sekaligus mejeng
Omen : wah bagus tuh, banyak ceweknya kan? Bagus tuh sekalian cuci mata.
Omo : Okeh lah kalau begitu mah. Besok kita barengan aja ke sana. Gimana kalau
jam 7 kita berangkat dari terminal?
Omen : Sip lagh, dah dulu ya.. Mau benerin antenna dulu.
Omo : Nyantai aja, sok benerin dulu.
Omen : Assalamualaikum..
Omo : Walaikumsalam..
Dalam percakapan tersebut Omo mengajak Omen untuk sekedar lari pagi dan
sekalian jalan-jalan di Gasibu esok pagi, Omo menanggapinya dengan antusias karena
dia tahu di Gasibu banyak gadis abg cantik yang juga sering jalan-jalan. Pembicaraan
pun berakhir dengan keputusan waktu dan tempat di mana mereka akan bertemu esok.
Keesokan harinya di terminal Cicalengka…
Omo : si Omen ngaret sialan, gw ga suka nunggu and gw ga suka buat orang
lain nunggu (sasori).
Calo : Kalapa, kalapa, bandung, kalapa, lapa lapa lapa, hayu neng kalapa
Neng, kalapa bu, jang kalapa jang
Omo : bentar lagi nunggu teman (sambil mencoba menghubungi Omen),
Omo : halo Men, ah kampret lo gw duluan aja..
Calo : hayu jang, tah kanan kosong, ayo lapa lapa lapa tarik

Pendek cerita, Omo tiba Gasibu sekitar pukul delapan pagi. Di tengah
keramaian Gasibu yang khas tibalah Omen yang ditunggu.

Omo : kemana aja lo, gw dah nunggu sampe kering..


Omen : lagh kamu yang kepagian…
Omo : Bodo lah, ayo cuci mata..

Mereka pun melakukan olah raga kecil, dan duduk-duduk di taman untuk
beristirahat diselingi kegiatan mencuci mata dan candaan ringan untuk membuat hari
itu menjadi lebih berwarna.

Omen : Aaaaarrrrgghh, istirahat dulu mo… capek


Omo : Hu uh, duduk-duduk disini aja men…
Omen : Wah mo liat mo, tuh cewek cantik lagi jogging…
Omo : mana? Ah lo mah itu mah biasa, noh yang itu tu baru mantap.
Omen : Asyik nih, seger..bener… prikitiew

Berlanjut dengan canda-canda ringan khas pemuda tanggung dari Cicalengka,


merekapun menggoda dua cewek yang saat itu juga sedang berolahraga
Omo : Neng mau saya bacakan puisi fenomenal neng..?
Cewek 1 : apaan ini..
Omen : hahahahahahaha
Cewek 2 : sorry ya, kita gag ada waktu

Kemudian muncul pemuda tinggi, yang nampak penasaran meminta api


kepada mereka berdua untuk rokok yang akan dia nyalakan.

Pemuda1 : kang, tau ga kemaren ada dua preman yang malak ponakan gue,
kalian kan pelakunya?
Omo : Nggak bang, kemaren kita ga’ kesini, iya kan men..?
Omen : bener bang,
Pemuda1 : kalo kalian bukan premannya, gue minta maaf, tapi kalian harus
ketemu ponakan gue dulu, biar gue yakin..
Omen : hayoo, orang kita ga’ salah..

Di daerah yang nampak sepi pemuda itu berbalik mencekik Omo dan meminta
telepon genggam dan dompet Omo dengan ancaman kulitnya akan dibakar dengan
rokok. Omo dan Omen kaget bukan kepalang,
Pemuda1 : Mana Hape, ma dompetnya!!! CEPETAN!
Omo : Apaan ini bang, koq jadi gini??
Omen : apa-apaan ini bang?
Pemuda1 : Jangan banyak tanya… Cok!! UCOOOK!!
Ucok, preman keturunan batak berperawakan kecil namun berperangai agak
seram, Ucok pun dengan logat bicaranya yang keras dan tegas meminta telepon
genggam dan dompetnya Omen.
Ucok : Ini mangsanya bang?
Pemuda1 : Lu sikat si belel itu..
Ucok : Oke lah bang…
Pemuda1 : Cepet Hape, mana hape…
Omo : Gue gag bawa hape bang
Pemuda1 : Gue bakar pipi lo biar bolong
Ucok : Lu juga mana dompetnya..
Omen : Ampun bang, jangan sakiti aku bang..
Pemuda1 : Alah lelet lo
si preman menyundutkan rokok di pipi kanan Omo, Omo pun berteriak dan
dengan spontan memukul si Preman dengan sekuat tenaga ke arah hidung sehingga
berdarah. Setelah merasa tak dikekang lagi Omo pun berlari tanpa memikirkan Omen
yang masih berada diantara kedua preman itu. Beberapa saat kemudian Omen pun
menghampiri Omo,
Omen : Kampret lo, ga setia kawan.. Noban gue melayang, hape gw jg.
Omo : ha ha ha, sorry gue bener-bener ketakutan tadi…. Lo yang takwa aja..