Anda di halaman 1dari 24

Nur Hidayat

Departemen Teknologi Industri Pertanian


Institut Pertanian Bogor
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Penimbangan
Proses penimbangan TBS pada pabrik kelapa sawit dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu penimbangan yang dilakukan langsung ketika truk masuk
pabrik atau bisa dengan penimbangan langsung ketika TBS telah dimuat ke dalam
keranjang rebusan (lori). Menurut Mangoensoekarjo dan Haryono (2000), kedua
cara penimbangan TBS tersebut sama-sama dapat diketahui secara langsung
hasilnya, hanya saja bedanya untuk cara penimbangan pertama berat kosong truk
juga harus diketahui saat itu juga saat proses penimbangan TBS, sedangkan untuk
penimbangan cara kedua berat kosong lori cukup diketahui secara berkala saja,
yang umumnya setahun sekali. Pabrik kelapa sawit Rama Rama menggunakan
cara penimbangan pertama yaitu ketika truk TBS masuk ke pabrik, hal ini
dikarenakan selain menerima TBS dari kebun inti, PKS Rama Rama juga
menerima TBS dari kebun plasma (kebun masyarakat mitra PKS) yang sistem
pembelian dan pembayarannya dilakukan berdasar hasil pengukuran bobot ketika
TBS tiba di pabrik. Apabila TBS ditimbang di atas lori maka TBS akan tercampur
dan akan sulit melakukan penghitungan TBS milik mitra yang masuk ke dalam
pabrik.

B. Sortasi (Grading)
Sortasi TBS dengan pemeriksaan fisik buah bertujuan untuk mengetahui
kualitas dan kuantitas buah yang diolah, yang juga berkorelasi terhadap kualitas
dan kuantitas CPO yang dihasilkan. Selain itu juga sebagai informasi umpan balik
kepada kebun (inti dan plasma) sehingga dapat memperbaiki kualitas buah yang
dikirim ke pabrik. Sortasi TBS di PKS Rama Rama dilakukan pada semen area
loading ramp (lantai grading) yang terdapat pada line A dan line B.
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Gambar 13. Sortasi TBS

Sortasi TBS dibedakan berdasarkan asal TBS yaitu dari kebun inti dan
kebun plasma. Sistem grading TBS inti adalah dilakukan secara sampling, dengan
TBS yang disortasi minimal 10% dari total tonase TBS yang dikirim dengan
pengambilan sampel secara acak. Aktual grading TBS inti yang dilakukan adalah
dengan mengambil sampel satu truk TBS dari masing-masing divisi kebun inti.
Adapun sortasi TBS plasma dilakukan secara sortasi total (100% janjang), artinya
adalah semua TBS yang masuk disortasi satu-persatu ketika diturunkan dari truk.

33
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Tabel 3. Penggolongan kriteria TBS inti
No Kriteria Grading Ciri-ciri

1 Buah Mentah Merupakan Janjangan yang hanya memiliki brondolan


kurang sama dengan 3 berondol per janjang

2 Buah Kurang Matang Merupakan Janjangan yang memilki berondolan lebih dari 3
berondol per janjang dan kurang dari standar minimum

3 Buah Matang Merupakan Janjangan yang mempunyai jumlah brondolan


lepas sebanyak 2 kali berat janjangnya sampai 50 %
berondolan lepas dari total berondolan per janjang

4 Buah Terlalu Matang Merupakan Janjangan yang memiliki 50% berondolan lepas
dari total berondolan perjanjang

5 Janjangan Kosong Merupakan Janjangan yang memiliki beberapa brondolan


tersebar (25 %) sampai total brondolan lepas habis

6 Buah Keras Merupakan Janjangan yang memiliki beberapa brondolan


yang tidak mau lepas berwarna hitam dan pecah-pecah,
apabila ditekan pada ujung berondolan lembek

7 Tangkai Panjang Merupakan Janjangan yang memiliki panjang tangkai lebih


dari 2,5 cm diukur dari pangkal tangkai

34
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Tabel 4. Penggolongan kriteria TBS plasma
No Kriteria Grading Ciri-ciri

1 Buah Mentah Merupakan Janjangan yang brondolan lepasnya kurang dari


10 brondol per janjang

2 Buah Peraman Merupakan janjangan yang memiliki 3 kriteria:


-Warna Brondolan Hitam
-Warna Mesocarp kuning pucat
-Tangkai kisut

3 Buah Matang Merupakan Janjangan yang memilki brondolan lepas minimal


10 brondol per janjang

4 TBS Tangkai Panjang Merupakan Janjangan yang memiliki panjang tangkai lebih
dari 2,5 cm diukur dari pangkal tangkai

5 TBS Janjang Kosong Merupakan Janjangan dimana beberapa brondolan tersebar


(25 %) sampai total brondolan lepas habis

6 TBS Kecil Merupakan Janjangan yang memiliki ukuran berat < 6 Kg per
janjang

7 Sampah Pasir, calix (kelopak), batu dan potongan tangkai yang ikut
terbawa bersama TBS didalam truk TBS

TBS yang masuk ke pabrik tentunya tidak terlepas dari kerusakan baik
fisik, biologis, maupun kimiawi. Kerusakan fisik disebabkan karena faktor-faktor
mekanis, seperti tekanan fisik (dropping atau jatuhan; shunting atau gesekan) dan
juga adanya vibrasi atau getaran, benturan antara bahan dan wadah atau alat
selama perjalanan dan distribusi. Kerusakan fisik yang disebabkan oleh pengaruh
luar yang lain adalah serangan serangga pada biji-bijian (Syarif dan Hariyadi,
1992). Sebagian besar kerusakan fisik yang terjadi pada TBS disebabkan karena
penanganan bahan yang kasar ketika pemanenan, distribusi dan penimbunan.

35
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Menurut Mangunsoekarjo dan Susanto (2002) dalam upaya menjaga
kebersihan tandan yang diangkut dapat menggunakan jala plastik untuk alas atau
pelapis tempat penimbunan, sekaligus menjadi pembungkus kemasan panen pada
waktu pengangkutan. Namun, dalam praktek di lapangan, tidak dilakukan
pemberian alas pada tempat penimbunan dan TBS diangkut menuju pabrik dengan
cara ditumpuk-tumpuk di dalam truk.

C. Penimbunan dan Pemuatan


TBS hasil sortasi ditimbun sementara di loading ramp, yang termasuk juga
semen area loading ramp (lantai grading). Umumnya loading ramp pabrik kelapa
sawit memiliki sisi kemiringan 25-30 derajat dan dipasang platform atau besi ”T”
yang berjarak 10 mm guna menyaring sampah/kotoran yang terikut saat
pengangkutan TBS. Namun, aktualnya loading ramp pada PKS Rama Rama
memiliki sisi kemiringan 45o dan tanpa terpasang platform penyaring sampah
yang terikut, sehingga pada proses pengolahan terdapat banyak sampah yang juga
ikut terolah.
Menurut Tim penulis PS (1998) TBS yang tidak segera diolah, maka
kandungan ALB-nya semakin meningkat. Untuk menghindari hal tersebut,
maksimal delapan jam setelah dipanen, TBS harus segera diolah, kebalikan dari
pembentukan minyak adalah penguraian atau hidrolisis lemak menjadi gliserol
dan asam lemak bebas. Proses ini dalam TBS terjadi sejak mulai berlangsungnya
proses ”kematian”, yaitu saat TBS mulai membrondol atau saat tandan dipotong
dan terlepas hubungannya dengan pohon. Oleh karena itu menginapnya TBS akan
menyebabkan penurunan mutu bahan baku karena cenderung mengandung ALB
yang tinggi (Mangoensoekarjo dan Haryono, 2000).
Penimbunan TBS pada lantai grading diusahakan berlangsung dalam
waktu sesingkat mungkin. Namun, terkadang ketika TBS yang masuk pabrik
melimpah, penimbunan dapat berlangsung lebih lama khusunya pada saat panen
raya. Beberapa dampak penimbunan TBS yang melebihi kapasitas penampungan
dan akibat terlalu lamanya penimbunan di loading ramp, TBS akan rusak,
sehingga pada saat TBS didorong masuk ke bidang luncur dengan menggunakan
alat berat seperti Wheel Loader banyak brondolan yang tergilas roda dan akan

36
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
menjadi memar. Dengan sendirinya penimbunan TBS yang terlalu lama akan
mudah sekali terjadi perlukaan pada buah yang akibatnya dapat mempercepat laju
kenaikan asam lemak bebas (FFA). Selain itu akibat penumpukan buah yang
melebihi kapasitas maksimum loading ramp, akan menyebabkan semakin
bertambah beratnya beban Elektromotor dan Hidraulik Pump saat membuka atau
menutup pintu loading ramp.
Pemuatan TBS ke dalam lori berkapasitas 3,75 Ton dilakukan melalui
pintu-pintu (bays) yang digerakkan dengan bantuan Elektromotor dan Hidraulik
Pump. Pada proses pemuatan TBS yang dilakukan dengan menumpahkan melalui
bays menyebabkan adanya sebagian brondolan yang tercecer ke lantai.
Pembersihan brondolan yang tercecer tersebut dilakukan secara berkala
menunggu hingga jumlah brondolan yang tercecer sudah banyak, atau bisa
dilakukan pada pagi hari sebelum proses produksi dimulai. Adanya penyumbatan
aliran TBS ketika pemuatan dapat diatasi secara manual menggunakan galah besi,
yaitu dengan memindahkan TBS yang membuat aliran menjadi macet. Operator
akan mengumpulkan TBS dan sesekali memasukan TBS yang tercecer ke dalam
lori berikutnya.
Sampai saat ini belum dilakukan cara pemuatan yang dapat meminimasi
tercecernya brondolan. Beberapa teknik lain yang dapat digunakan adalah
penuangan TBS melalui wadah penampung menyerupai corong besar dengan
ujung bawah berbentuk kerucut atau menyempit. Namun, teknik tersebut
sepertinya lebih cocok untuk bahan yang berbentuk cair atau butiran kecil. Bentuk
TBS yang besar akan meyebabkan kemacetan aliran TBS lebih mudah terjadi dan
lebih sulit diatasi.

D. Perebusan
Teknologi perebusan yang digunakan di PKS Rama Rama adalah dengan
steam memakai ketel uap. Tujuan dilakukannya perebusan TBS dengan steam
antara lain adalah untuk mengurangi kadar air TBS, me-non-aktifkan enzym-
enzym lipase yang dapat menyebabkan kenaikan FFA (Free Fatty Acid),
memudahkan pemipilan brondolan, melunakkan brondolan untuk memudahkan
pelepasan/pemisahan daging buah dari Nut di digester, memudahkan proses

37
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
pemisahan molekul-molekul miyak dari daging buah (St.Press) dan
mempercepat proses pemurnian minyak (St.Klarifikasi), serta untuk mengurangi
kadar air (Dehidrasi) biji sawit (Nut) sampai < 20%, untuk meningkatkan efisiensi
pemecahan Nut di Nut Cracking.
Pemanasan yang terjadi pada perebusan TBS terjadi secara konveksi dan
konduksi. Uap yang digunakan dapat masuk ke dalam lori melalui lubang-lubang
yang ada pada bagian bawah lori, sehingga uap dapat merembes masuk hingga ke
dalam lori dan menjangkau TBS yang berada pada dasar lori dan proses perebusan
dapat berlangsung secara optimal. Proses inaktivasi enzim dapat terjadi karena
suhu uap yang mencapai 143 oC. Suhu yang tinggi dalam ketel perebusan tersebut
menyebabkan enzim terdenaturasi sehingga menjadi tidak aktif. Karena kerja
enzim dimulai ketika TBS mulai lepas dari pohon maka TBS yang dipanen harus
secepatnya disterilisasi agar peningkatan ALB tidak semakin tinggi. Sebagaimana
diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim diantaranya
adalah kadar air, tersedianya oksigen, suhu , pH, lama penyimpanan. (Syarif dan
Hariyadi, 1992).
Standar hasil rebusan pada PKS Rama Rama adalah didapatkan 88%
tandan rebus, dengan rincian 66% brondolan dan 22% janjangan kosong. Menurut
Pahan (2006), selama proses perebusan kadar air dalam TBS akan berkurang
karena proses penguapan, dengan berkurangnya air susunan daging TBS
(pericarp) berubah. Perubahan tersebut memberikan efek positif, yaitu
mempermudah pengambilan minyak selama proses pengempaan dan
mempermudah pemisahan minyak dari zat non lemak. Pada perebusan terjadi
pengeringan pendahuluan dari biji serta inti mulai lekang dari biji.
Menurut Hartoyo dan Abdi (1993), udara merupakan penghantar panas
yang buruk karena dapat menghambat transfer panas dari uap ke tandan-tandan
TBS dan juga akan berpengaruh kepada pembacaan manometer rebusan. Oleh
karena itu perlu dilakukan pembuangan udara dan uap air kondensat yang
terperangkap dalam ketel rebusan. Adanya kondensat juga akan dapat
mempengaruhi volume bejana rebusan sehingga pasokan uap tidak dapat
dilakukan sesuai kebutuhan untuk jangka waktu tertentu. Pembuangan kondensat
dilakukan melalui pipa pada bagian dasar ketel.

38
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Selain menggunakan uap, proses pematangan TBS juga dapat dilakukan
dengan memanaskan udara ruang ketel (pemanggangan) yang pada prinsipnya
sama dengan teknik pengeringan. Suhu udara pada proses pengeringan tidak
hanya berpengaruh pada waktu pengeringan tapi juga berpengaruh pada kualitas
hasil pengeringan. Sifat minyak CPO yang sangat sensitif terhadap panas
menjadikan sterilisasi dengan udara kering dapat merusak komponen minyak.
Sedangkan pada proses sterilisasi dengan perebusan, suhu perebusan dapat lebih
mudah dikendalikan, yaitu dengan mengatur debit uap yang masuk ke dalam
ketel. Sterilisasi dengan udara panas tidak mampu menyebabkan selulosa
terhidrolisis sehingga buah belum dapat dengan mudah lepas dari cangkangnya.
Menurut Marliyati (1992), selain metode sterilisasi dengan uap terdapat
juga metode sangrai sebagai perlakuan pendahuluan sebelum proses ekstraksi
bahan-bahan yang mengandung minyak. Penyangraian merupakan proses
pemasakan menggunakan panas kering dengan suhu sekitar 100 oC. Selama proses
pemasakan terjadi dekstruksi tosin, inaktivasi enzim, dan penurunan nilai gizi.
Proses ini ternyata lebih cocok untuk bahan yang berupa biji-bijian kering.
Disamping itu, proses perpindahan panas dengan metode sangrai berlangsung
secara konduksi dan menghendaki adanya kontak langsung antara media pemanas
dengan bahan. Suhu pemanasan tidak dapat diatur, sehingga memungkinkan
panas yang dihasilkan oleh media pemanas melebihi batas toleransi bahan yang
disangrai sehingga memungkinkan bahan yang disangrai menjadi rusak dan
gosong. Jumlah TBS yang mencapai lebih dari 20 Ton untuk satu kali proses
sterilisasi akan menyulitkan dalam hal peralatan yang akan digunakan untuk
proses sangrai.
Dengan membandingkan beberapa teknik sterilisasi yang dapat dilakukan,
maka dapat disimpulkan bahwa teknik sterilisasi dengan uap merupakan yang
paling cocok dilakukan untuk perlakuan pendahuluan sebelum ekstraksi minyak
sawit. Sehingga umumnya pabrik kelapa sawit menggunakan teknik uap untuk
sterilisasi, begitupun dengan PKS Rama Rama yang juga menggunakan teknik
uap dengan sistem tiga puncak (triple peak). Dari pengalaman diketahui bahwa
sistem perebusan triple peak ini menghasilkan TBS rebus dengan kualitas lebih
baik dibandingkan sistem perebusan single peak dan double peak.

39
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Menurut Pahan (2006), tata cara yang harus dilakukan untuk mendapatkan
hasil perebusan yang normal adalah:
• 13 menit pemasukan uap pertama dari 0-2,3 kh/cm2, termasuk menguras
udara 2 menit.
• 2 menit pembuangan uap pertama sampai tekanan menjadi 0.
• 12 menit pemasukan uap kedua kali sampai tekanan 2,5 kg/cm2.
• 2 menit pembuangan uap kedua kali sampai tekanan menjadi 0.
• 13 menit pemasukan uap ketiga kali sampai tekanan 2,8 kg/cm2.
• 43 menit tekanan uap ditahan pada 2,8 kg/cm2.
• 5 menit pembuangan akhir uap sampai tekanan menjadi 0.
Dengan demikian perebusan dengan sistem triple peak membutuhkan waktu
standar 90 menit. Hal ini pun yang diterapkan pada proses perebusan di PKS
Rama Rama, yang setiap tahapannya berlangsung secara otomatis dengan bantuan
program Automatic St. Control.

E. Pemipilan/Perontokan
Proses perontokan dimaksudkan untuk melepaskan brondolan yang akan
diekstrak minyaknya dari janjangannya. Proses perontokan buah dari tandan
dilakukan dengan bantuan mesin thresher. Proses perontokan yang dilakukan
dapat berlangsung lebih mudah karena TBS sudah direbus sebelumnya. TBS yang
sudah lemah dan mudah lepas dari tandan dapat rontok karena TBS mengalami
gaya sentrifugal terbanting-banting dalam striper drum yang berputar.
Menurut Pahan (2006), kecepatan putaran dinding silinder harus
sedemikian rupa sehingga semua tandan berulang kali terangkat setinggi mungkin
pada dinding silinder untuk kemudian jatuh. Dengan demikian akan diperoleh
efek pemipilan yang dikehendaki.
Pabrik kelapa sawit Sinar Mas grup menentukan kecepatan putar drum
thresher dengan rumus sebagai berikut :
40 x (D - d) / 2
N = ---------------------------------
(D - d)
dimana : N = rpm Threshing D = diameter drum
d = diameter TBS 40=konstanta

40
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Keberhasilan perontokan yang dilakukan sangat ditentukan oleh proses
perebusan sebelumnya. Proses perebusan yang kurang sempurna dapat
meyebabkan TBS sulit dirontokan sehingga akan terjadi kehilangan minyak
karena TBS ikut terbuang bersama tandan kosong. Hal ini terjadi karena keadaan
TBS yang mentah atau perebusan yang terlalu sebentar. Namun hal ini pun dapat
diminimalkan dengan adanya dua kali tahap perontokan yang dilakukan.
Brondolan yang masih terikut pada janjangan setelah perontokan pertama dapat
kembali dirontokan pada second thresher. Berikut adalah material ballance proses
perontokan dengan thresher pada PKS Rama Rama.

Gambar 14. Neraca Massa Proses Rebusan

Proses perontokan TBS oleh mesin thresher harus berjalan secara


kontinyu untuk menjaga keseimbangan dalam keseluruhan proses pengolahan.
Secara umum parameter keberhasilan proses cook fruit bunch pada stasiun ini
sesuai target manajemen Sinar Mas adalah sebagai berikut :

To FFB To sample

- Oil loss pada fruit in empty bunch 0,05 % 0,60 %

41
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
- Oil loss pada empty bunch stalk 0,30 % 4,00 %

- Kernel loss pada fruit in empty bunch 0,02 % 0,60 %

- USB (Un-Strip Bunch) 5,00 % 5,00 %

Keberhasilan proses cook fruit bunch pada stasiun ini sangat didukung oleh
beberapa faktor, antara lain adalah kualitas TBS yang masuk ke PKS, cara
perebusan pada perebusan yang baik, serta manajemen pergerakan lori-lori teratur
dan baik.
Untuk dapat mengetahui apakah proses perebusan dan pemipilan telah
terlaksana dengan baik maka tandan yang keluar dari pemipil harus diteliti dan
dianalisis (Pahan, 2006). Tandan yang belum cukup terpipil direbus ulang.
Dengan mengambil contoh tandan yang keluar dari pemipil, dapat diteliti hal-hal
sebagai berikut :
• Banyaknya tandan kosong yang harus direbus ulang dalam satu hari. Hal
ini dipakai dalam menghitung berkurangnya kapasitas PKS karena
pekerjaan ulangan (rework).
• Brondolan yang masih terdapat dalam tandan kosong dianalisis secara
teratur untuk mengetahui kerugian yang timbul. Hal ini berhubungan
dengan efisiensi/ekstraksi PKS.
• Dalam jangka waktu tertentu, tandan kosong harus diambil untuk
dianalisis minyak yang terserap oleh tandan kosong tersebut. Hal ini
berhubungan dengan ekstraksi yang dihasilkan PKS.
Dari data tersebut, dapat diketahui kerugian minyak dalam buah yang
tidak terpipil, disamping kerugian minyak dalam tandan kosong. Data tersebut
ditambah data kerugian pada tahap pengolahan yang lain akan memberikan
gambaran ekstraksi dari proses pengolahan secara keseluruhan. Hal ini sangat
penting untuk mengadakan perbaikan pada proses pengolahan, baik mengenai
cara kerja maupun efisiensi peralatan pengolahan.

F. Pelumatan dan Pengempaan

42
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Brondolan hasil pemipilan pada thresher selanjutnya diangkut menuju
digester menggunakan fruit elevator untuk dicacah/dilumatkan. Digester
merupakan alat pencacahan/pelumatan yang merupakan sebuah tangki vertikal
yang dilengkapi dengan lengan-lengan pencacah di bagian dalamnya. Proses
pelumatan akan berlangsung relatif lebih mudah karena brondolan sudah melunak
setelah melalui perebusan. Brondolan diaduk-aduk dengan bilah-bilah yang
berputar pada poros tanki digester sehingga terjadi gesekan antara buah dengan
bilah pengaduk, sesama buah dan dengan dinding tanki. Tujuan dari pelumatan
adalah untuk menghancurkan brondolan/buah sehingga daging buah lepas dari biji
dan menghancurkan sel-sel yang mengandung minyak, agar minyak dapat diperas
sebanyak-banyaknya pada pengempaan berikutnya. Suhu dijaga agar tetap tinggi
90-95 oC untuk menghindari efek pelumasan dari minyak (Mangoensoekarjo dan
Haryono ,2000).
Untuk menjaga agar suhu di dalam digester tetap 80-90 oC, stasiun ini juga
membutuhkan steam dari boiler unutk pemanas. Pengisian steam pada digester
menggunakan teknik injeksi langsung, dan untuk menjaga agar panas steam tidak
keluar melalui dinding-dinding tangki digester maka tangki digester dilengkapi
dengan insulator untuk mencegah kehilangan panas. Menurut Hartoyo dan Abdi
(1993), temperatur massa dalam digester harus dipertahankan minimal 90 oC agar
pemecahan sel-sel minyak dapat sempurna. Oleh karena itu proses pelumatan
sangat penting karena akan memudahkan ekstraksi minyak pada proses
selanjutnya.
Brondolan yang telah mengalami pelumatan dan keluar melalui bagian
bawah digester sudah berupa ”bubur” dan diteruskan ke alat pengempaan yang
berada persis di bagian bawah digester. Umumnya alat pengempaan yang
digunakan pada pabrik kelapa sawit berupa screw press untuk memisahkan
minyak dari daging buah (Pahan, 2006). Proses pemisahan minyak terjadi akibat
putaran screw mendesak bubur buah, sedangkan dari arah berlawanan tertahan
oleh sliding cone. Screw dan sliding cone ini berada di dalam sebuah selubung
baja yang disebut press cage, dimana dindingnya berlubang-lubang di seluruh
permukaannya. Dengan demikian, minyak dari bubur buah yang terdesak ini akan

43
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
keluar melalui lubang-lubang press cage, sedangkan ampasnya keluar melalui
celah antara sliding cone dan press cage.
Menurut Tim Penulis PS (1992), ada beberapa cara dan alat yang
digunakan dalam proses ekstraksi minyak, yaitu seperti berikut:
1. ekstraksi dengan sentrifugasi
2. ekstraksi dengan screw press
3. ekstraksi dengan bahan pelarut
4. ekstraksi dengan tekanan hidrolis
Proses ekstraksi dengan empat teknik tersebut masing-masing disesuaikan
dengan bahan yang akan diekstraksi. Ekstraksi dengan pelarut, biasanya
digunakan untuk mengekstrak minyak dari biji-bijian. Menurut Goldman (1949)
bahan dicampur dengan pelarut dan kemudian diekstraksi, larutan ekstraksi
kemudian dipisahkan melalui penyaringan sehingga didapatkan residu dan filtrat.
Kemudian filtrat dan pelarut dipisahkan dengan cara penyulingan. Metode ini
membutuhkan pelarut dalam jumlah yang sangat banyak dan sisa pelarut akan
menjadi limbah dan memperbanyak jumlah limbah yang dihasilkan pabrik.
Ekstraksi dengan tekanan hidrolik berlangsung dalam sebuah peti
pemeras, bahan ditekan secara otomatis dengan tekanan hidrolik (Tim Penulis PS,
1992). Apabila diterapkan untuk mengkestrak minyak kelapa sawit, teknik
hidrolik ini akan menyebabkan biji ikut tertekan dan pecah sehingga minyak
kelapa sawit bercampur dengan minyak inti sawit. Disamping itu, teknik ekstraksi
dengan hidrolik press tidak dapat dilakukan secara kontinyu serta membutuhkan
perlakuaan pendahuluan dengan mengupas serabut dari ini kelapa sawit agar tidak
tercampur. Perlakuan tersebut tentu sulit dilakukan karena jumlah buah yang
begitu banyak.
Ekstraksi dengan metode sentrifugasi dan hidrolis sulit untuk dilakukan
secara kontinyu. Pengolahan dalam jumlah massa yang besar membutuhkan alat
sentrifuse dan bejana yang besar. Pengempaan dengan menggunakan screw press
merupakan teknik yang lebih efisien dibandingkan teknik lainnya, karena dapat
dilakukan secara kontinyu. Sehingga PKS Rama Rama pun menggunakan screw
press untuk mengekstrak minyak dari bubur buah. Total rangkaian digester dan
screw press yang terpasang pada PKS Rama Rama sebanyak 6 unit dengan

44
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
kapasitas masing-masing 15 Ton/jam. Pada saat pengolahan hanya 4 unit yang
beroperasi, masing-masing 2 unit pada line A dan line B sedangkan yang lain
stand by, sehingga total brondolan yang dapat diolah per jam sebanyak 60 Ton,
sesuai dengan kapasitas pabrik.

G. Pemurnian (Klarifikasi)
Minyak kasar (crude oil) hasil ekstraksi dari pengempaan masih
mengandung kotoran yang terikut, baik berupa padatan (solid) yang termasuk ke
dalam lumpur (sludge) maupun air. Adapun komposisi minyak kasar yang
dihasilkan adalah minyak 40 - 50% minyak dalam DCO (35% - 39%), air 30 -
35%, dan padatan 30 - 35%. Tujuan dari proses pemurnian ini adalah untuk
mendapatkan minyak dengan kualitas sebaik mungkin dan dapat dipasarkan
dengan harga yang layak.
Menurut Pahan (2006), ada tiga metode yang dapat dilakukan untuk
pemurnian minyak kasar di PKS, yaitu metode pengendapan, metode pemusingan,
dan metode pemisahan biologis.
• Metode pengendapan (settling) yaitu pemisahan minyak dan air karena
terjadi pengendapan bagian yang lebih berat. Minyak berada di bagian atas
karena berat jenisnya lebih kecil.
• Metode pemusingan (centrifuge) yaitu pemisahan dengan cara
memusingkan minyak kasar sehingga bagian yang lebih berat akan
terlempar lebih jauh akibat adanya gaya sentrifugal.
• Metode pemisahan biologis yaitu pemecahan molekul-molekul minyak
sebagai akibat dari proses fermentasi.
Proses klarifikasi diawali dari pengendapan pasir pada sand trap tank.
Viskositas minyak diturunkan untuk pengendapan yang maksimal, karena
Menurut Mangoensoekarjo dan Haryono (2000) makin tinggi viskositas cairan
makin besar gaya gesekan yang timbul. Penurunan viskositas dilakukan dengan
cara penambahan air panas ke dalam minyak kasar saat proses ekstraksi serta saat
minyak ditampung dalam oil gutter, dengan penambahan air yang baik menurut
manajemen Sinar Mas adalah 1:1.

45
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Menurut Hartoyo dan Abdi (1993), pemisahan minyak dan sludge sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu temperatur dan kekentalan (viskositas).
Makin tinggi temperatur makin cepat terjadi pemisahan minyak, dan makin besar
viskositas maka akan makin sulit pemisahan minyak dan slugde.
Hampir setiap tangki pengolahan pada pabrik kelapa sawit dipertahankan
suhunya antara 90-95ºC dengan cara injeksi steam. Hal ini dilakukan untuk
mencegah agar minyak tidak membeku dan memadat sehingga minyak tetap
dalam fase cair dan aliran minyak tidak akan terhambat. Titik didih dari asam-
asam lemak akan semakin meningkat dengan bertambah panjangnya rantai karbon
asam lemak tersebut. Titik cair minyak kelapa sawit sebelum dimurnikan sebesar
21-24 ºC dan setelah dimurnikan sebesar 26-29 ºC. Asam lemak yang derajat
ketidakjenuhannya semakin tinggi mempunyai titik cair yang semakin rendah
(Ketaren, 1986). Karena panjangnya rantai karbon pada minyak kelapa sawit,
maka akan sulit memutus ikatan kimia serta titik cair minyak kelapa sawit cukup
tinggi dan akan memadat pada suhu kamar.
Minyak yang keluar dari overflow sand trap tank selanjutnya diteruskan
menuju vibrating screen untuk perlakuan pemisahan lanjutan. Fungsi vibrating
screen ini adalah untuk memisahkan Non Oil Solid (NOS) yang terdiri dari
sampah, serabut (fibre) yang berukuran besar serta pasir yang terikut bersama
crude oil karena tidak mengendap di sand trap tank. Vibrating screen yang
terpasang di stasiun kalrifikasi PKS Rama Rama merupakan tipe single deck
dengan ukuran 40 mesh. Prinsip kerja vibrating screen ini adalah dengan
memanfaatkan perbedaan ukuran, dimana sel-sel yang lebih halus (minyak kasar)
akan menembus lubang saringan dan diteruskan pada crude oil tank, sedangkan
sel-sel yang kasar (NOS) akan tertahan pada deck tersebut dan dialirkan dengan
getaran ke arah luar deck menuju ke sludge waste conveyor yang akan mengirim
kembali ke fruit elevator.
Teknik pemisahan yang dilakukan di PKS Rama Rama adalah secara
kontinyu dengan menampung minyak kasar pada CST (continuous settling tank).
Proses pemisahan tersebut dilakukan berdasar perbedaan berat jenis minyak dan
padatan. Menurut Ketaren (1986), berat jenis minyak kelapa sawit pada suhu 15oC

46
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
sebesar 0.859-0.870 kg/L, artinya lebih kecil dibandingkan air dan sludge
sehingga lapisan minyak akan berada pada bagian atas CST.
Minyak yang berada pada bagian atas CST secara alami akan terbagi
menjadi dua lapisan, yaitu minyak kasar dan minyak yang lebih murni. Minyak
yang lebih murni akan dikutip menggunakan alat skimmer, kemudian disalurkan
menuju oil tank. Proses pengutipan di dalam CST membutuhkan waktu tunggu
hingga terdapat lapisan minyak yang lebih murni pada permukaan minyak kasar.
Secara umum teknik ini merupakan teknik yang efektif untuk melakukan
pemisahan minyak kasar yang berada pada fase cair. Kendala yang dihadapi
adalah teknik ini belum sepenuhnya dapat mengendapkan padatan dalam minyak
kasar sehingga minyak hasil pengutipan masih harus dimurnikan kembali, yaitu
dengan oil purifier.
Minyak yang masuk ke dalam oil purifier memiliki kadar air rata-rata
0,6% dan kotoran 0,07%. Proses pemurnian yang dilakukan dalam oil purifier
akan dapat menurunkan kadar air minyak menjadi 0,4% dan kotoran hanya
0,02%. Dari oil purifier minyak akan diteruskan menuju vacuum drier untuk
dilakukan lanjutan penurunan kadar air. Tekanan yang digunakan pada vacuum
drier adalah -76 cmHg dengan temperatur berkisar 80 oC. Cara kerja vacuum
drier adalah diawali dari masuknya minyak yang dipompakan dari oil purifier. Di
dalam vacuum drier terdapat nozle yang berfungsi untuk mengkabutkan minyak.
Akibat pengkabutan tersebut butir-butir air akan memisah dengan butiran minyak.
Oleh karena kondisi minyak yang dikabutkan dalam kondisi panas, maka butir-
buttir air akan mudah menjadi uap air yang akhirnya akan mudah dihisap oleh
kondisi vacum. Minyak dengan kadar air 0,15% kemudian akan turun ke dasar
tangki yang sudah dilengkapi dengan floating valve untuk selanjutnya dikirim ke
storage tank, sedangkan uap air yang terikat akan diisap keluar.
Untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi, perlu dilakukan
pengutipan yang optimal pada stasiun pemurnian, termasuk terhadap sludge yang
keluar pada masing-masing alat dan mesin pemisah. Ada tiga mesin yang dapat
digunakan untuk melakukan pengutipan minyak dari sludge, yaitu sludge
separator, decanter, dan LSC (low speed centrifuse). Berdasarkan efektifitasnya
mesin decanter merupakan mesin yang memberikan hasil yang paling efektif

47
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
dibanding sludge separator dan LSC. PKS Rama Rama merupakan salah satu
pabrik yang menggunakan decanter dalam pengutipan minyak pada sludge.
Penggunaan decanter tersebut juga dapat meminimalisir pemakaian energi listrik,
yaitu dengan adanya pengurangan pemakaian mesin, yaitu sludge separator dan
dicoba tanpa pemakaian CST.

H. Penyimpanan Minyak
CPO hasil produksi pada pabrik kelapa sawit selanjutnya ditimbun
sementara pada storage tank (tanki timbun) sebelum dilaksanakan pengiriman.
Umumnya setiap PKS menggunakan storage tank dengan kapasitas yang
bervariasi antara 300 - 5000 Ton. Adapun PKS Rama Rama memiliki 2 unit
storage tank CPO dengan kapasitas 2000 Ton dan 1 unit storage tank PKO 2000
Ton. Untuk menjaga agar minyak tidak membeku selama penyimpanan, bagian
dalam tangki dipasang steam coil untuk menjaga agar temperatur tetap pada
kisaran 45 – 55 oC.
Pengukuran hasil produksi CPO harian PKS dilakukan setiap pagi sebelum
dimulainya produksi hari berikutnya. Kegiatan pengukuran produksi harian ini
dinamakan sounding, yaitu dengan mengukur ketinggian CPO dan mengukur suhu
CPO di dalam storage tank. Angka-angka hasil pengukuran tersebut kemudian
dihitung dengan rumus dan tabel konversi sebagai panduan perusahaan. Kegiatan
sounding tersebut juga termasuk mengambil sampel CPO untuk dianalisis
kualitasnya, utamanya adalah untuk mengetahui kadar ALB, kadar air, dan
kotoran.
Selama penyimpanan CPO dapat mengalami kenaikan ALB, terlebih
apabila minyak disimpan dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu
manajemen PKS Rama Rama selalu menargetkan sebisa mungkin untuk
meminimalkan jumlah CPO dalam storage tank, dengan melakukan pengiriman
CPO ke bulking di Dumai sesering mungkin. Hampir setiap hari minyak
didistribusikan menggunakan truk tangki. Pengisian minyak ke dalam tangki
dilakukan tanpa menggunakan pengukur volume dan hanya dengan mengukur
bobot minyak yang diangkut oleh tangki. Mobil tangki akan mengangkut minyak
sesuai dengan permintaan pengiriman yang ditentukan dalam mekanisme delivery

48
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
order, setelah mendapat informasi dari Dumai bahwa pengapalan CPO sudah
dibuka.
Untuk menjaga kualitas CPO yang masih disimpan, manajemen hanya
mencampurkan CPO kualitas baik dan kurang baik, terutama kadar ALB CPO.
Cara yang dilakukan untuk menurunkan ALB CPO adalah hanya dengan
melakukan pencampuran CPO dengan kadar ALB rendah sehingga diperoleh
minyak dengan kadar ALB tertentu yang memenuhi syarat untuk masuk pasar.
Kadar air minyak produksi diusahakan sekecil mungkin pada proses klarifikasi
dengan menggunakan mesin oil purifier dan sludge separator, karena kadar air
yang tinggi akan meyebabkan reaksi hidrolisis selama penyimpanan dan
mengakibatkan peningkatan ALB berlangsung cepat. Kadar ALB yang tinggi
akan berpengaruh pada harga minyak karena kandungan ALB yang tinggi
menunjukkan bahwa mutu minyak kurang bagus. Manajemen Sinar Mas
menargetkan kadar ALB CPO yang diproduksi hanya 3% dan dengan kadar air
hanya 0,15%. Angka-angka tersebut cukup diatas kualitas rata-rata CPO yang
beredar di pasaran.

I. Laboratorium
Laboratorium merupakan pusat kontrol terhadap proses dan kualitas
produk selama dan setelah proses produksi berlangsung. Analisis dilakukan
terhadap setiap stasiun kerja pada pengolahan, mulai dari penerimaan bahan baku
TBS sampai produk berupa CPO yang dihasilkan. Laboratorium PKS Rama Rama
selain melakukan kontrol terhadap produksi CPO juga melakukan pengendalian
terhadap proses pengolahan inti sawit (kernel) menjadi Palm Kernel Oil (PKO).
Target kualitas CPO dan PKO yang diproduksi oleh PT. Ramajaya Pramukti –
Rama Rama Mill/KCP dapat dilihat pada Tabel 5.

49
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Tabel 5. Standar Kontrol Proses Produksi CPO & PKO
Kehilangan Minyak
To FFB To ODM
Target Target
% OER 22.000 0.600
Brondolan di JJK 0.050 4.000
Empty Bunch Stalks 0.300 1.000
Nut From Press Cake 0.050 8.000
Fibre From Press Cake 0.580 17.000
Final Efluent 0.420
Total 1.400 13.000
Sludge 0.320 0.600

Kehilangan Kernel
To FFB To Sample
Target Target
% KER 5.00
Fruit In Empty Bunch 0.020 0.60
Fibre Cyclone 0.110 1.00
LTDS 0.060 1.40
Claybath 0.020 2.00
Total 0.210

Produksi CPO
Kualitas CPO Target
% FFA 3.000
% Moisture 0.150
% Dirt 0.015
% Dobi 2.800
Beta Carotine 500

Produksi PKO
Kualitas PKO Target
% Moisture 7.000
% Dirt 6.000
% Broken Kernel 15.000

Efisiensi Sterilizer, Threshing dan SSBC


Target
%USB sebelum SSBC 5.00
%USB setelah SSBC
% O/TBS Di JJK sebelum
SSBC

Pengamatan Visual Terhadap Kolam Limbah


Condensate Inspection Target
Visualy Oily NO

J. Power Plant (Boiler & Engine Room)

50
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Ketel uap (boiler) merupakan suatu bejana yang digunakan sebagai tempat
untuk memproduksi uap (steam) sebagai hasil pemanasan air pada temperatur
tertentu untuk kemudian digunakan di luar bejana tersebut. Bahan bakar yang
digunakan untuk pengoperasian boiler ini adalah serabut dan cangkang hasil
samping produksi CPO. Tekanan yang dihasilkan di dalam boiler PKS Rama
o
Rama dapat mencapai 30 bar dengan panas antara 1300-1500 C untuk
menghasilkan steam karena pemanasan air dalam boiler tipe pipa air.

Gambar 15. Stasiun Boiler

Steam yang dihasilkan oleh boiler selanjutnya digunakan untuk proses


produksi yang memerlukan steam serta untuk pengoperasian turbin untuk
menghasilkan listrik pabrik pada engine room. Terdapat tiga turbin yang ada pada
PKS Rama Rama, dengan dua beroperasi dan satu stand by. Dari masing-masing
turbin dapat dihasilkan daya listrik sebesar 900 KW, sehingga dengan
beroperasinya dua turbin akan dapat menghasilkan 1800 KW yang dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik PKS sebesar 1050 KW dan listrik
KCP sebesar 750 KW. Prinsip pembentukan energi listrik pada power plant
adalah diawali dari energi panas hasil pembakaran pada boiler menghasilkan
energi potensial yang kemudian menghasilkan energi kinetik pada turbin,
sehingga bisa menimbulkan adanya energi mekanis dan terakhir dapat
memproduksi listrik untuk memenuhi kebutuhan pabrik.

K. Pengolahan Air (Water Treatment)


Air merupakan kebutuhan vital bagi sebuah PKS karena hampir semua
proses pengolahan yang dilakukan memerlukan air. Air yang digunakan harus
memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti kesadahan dan kadar silika. Jika kurang

51
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
memenuhi syarat, air harus diolah sebelum digunakan (Pahan, 2006). Umumnya
air yang diperoleh dari sumbernya seperti air hujan, air sungai, air sumur bor, dan
lain-lain belum memenuhi persyaratan teknis untuk keperluan PKS dan
persyaratan higienis untuk keperluan air minum.
Pengolahan air yang dilakukan di PKS Rama Rama dibagi menjadi
pengolahan air eksternal (external treatment) dan pengolahan air internal (internal
treatment). Pengolahan air eksternal dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan
pengolahan TBS di pabrik dan kebutuhan air bersih di perumahan karyawan.
Sedangkan pengolahan air internal bertujuan untuk menghasilkan air guna
memenuhi kebutuhan konsumsi ketel uap/boiler. Hal ini dibedakan karena boiler
memerlukan bahan baku air dengan perlakuan khusus karena air yang masuk akan
berpengaruh dalam proses pembentukan uap dan perawatan terhadap boiler itu
sendiri.
Pengolahan air pada PKS Rama Rama diawali dari penampungan air
sungai pada sebuah waduk. Air dari waduk kemudian dipompakan ke tangki
pengendapan/penjernihan (clarifier tank). Tangki penjernihan berbentuk silinder
di bagian bawah membentuk kerucut. Di dalam tangki tersebut dilakukan proses
penjernihan berupa penghilangan padatan tersuspensi, padatan halus (kekeruhan
dan warna) dan juga koloid. Penjernihan dilakukan dengan penambahan bahan
kimia yaitu tawas/alum (Al2SO4), soda ash (Na2CO3) dan multifloc. Penambahan
bahan kimia mula-mula alum pada pipa keluar raw water, soda di pertengahan
pipa antara raw water tank dengan clarifier tank. Terakhir adalah multifloc yang
diinjeksikan di bagian paling bawah sebelum masuk clarifier tank berakibat
mudah terbentuknya flok-flok di dalam tangki penjernihan yang akan bersatu
membentuk flok yang lebih besar dan akan mengendap. Sedangkan flok yang
lebih kecil akan terbawa bersama air ke dalam bak pengendapan.

52
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Gambar 16. Unit Pengolahan Air

Air yang telah dikirim ke bak pengendapan (treated water tank) akan
mendapat perlakuan pengendapan lebih lanjut dan kemudian dialirkan menuju
saringan pasir (sand filter) untuk dilakukan penyaringan zat tersuspensi.
Pengolahan air sand filter berfungsi untuk mengendapkan koloidal yang terbentuk
dari flok yang terlalu kecil atau untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang masih
terikut serta partikel-partikel yang tidak diinginkan dari proses pengendapan.
Susunan sand filter dari lapisan atas ke bawah adalah pasir kuarsa. Air hasil
penyaringan pada sand filter selanjutnya dipompakan menuju menara air (water
tower). Saringan pasir yang telah kotor oleh flok-flok bahan lain akan
menghambat proses penyaringan dan perlu dibersihkan. Proses pembersihan
dilakukan setiap pagi dengan memompakan air bertekanan melalui pipa keluar
bagian bawah sehingga flok-flok akan lepas meninggalkan pori-pori pasir dan
keluar melalui pipa masuk di bagian atas tangki, selanjutnya dibuang melalui pipa
pembuangan.
Menurut Pahan (2006), untuk kebutuhan boiler diperlukan air yang bebas
dari kandungan mineral atau mendekati murni (kadar silika dan hardness rendah).
Silika menyebabkan terbentuknya kerak-kerak pada pipa-pipa boiler yang
menurunkan kemampuan perpindahan panas pipa-pipa boiler sehingga efisiensi
boiler menurun. Unsur-unsur kesadahan (seperti Mg, Ca, dan lain – lain)
menyebabkan erosi pada sudut-sudut turbin. Dengan demikian, diperlukan proses
pelunakan air, yaitu demineralisasi atau softener untuk menghilangkan unsur-
unsur perusak tersebut. Alat atau bagian yang ditempuh dalam pengolahan air
internal adalah tangki softener, tangki vacuum degasifer, tangki air umpan (feed
tank) dan deaerator. Penggunaan bahan kimia air internal dimaksudkan untuk
mencapai standar kualitas air boiler. Parameter kualitas dari air boiler mencakup
pH, alkalinitas, klorida, silika, pospat, total dissolved solid (TDS), kesadahan
(hardness), sulphite dan iron.
Scalrid 33 merupakan bahan kimia yang dipakai untuk mengatur kondisi
pH, hidrat alkalinity dan phenol alkalinity. Scalrid 44 digunakan untuk mengatur
klorida, silika, dan pospat. Sedangkan scalrid 45 untuk mengatur TDS dan

53
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
hardness. Ketiga bahan kimia tersebut dicampur dengan perbandingan tertentu
dengan memperhatikan analisa kondisi air boiler sebelumnya. Bahan kimia
lainnya, scalrid 66 digunakan untuk mengatur sulphite dan iron.

L. Pengolahan Limbah
Limbah terbanyak dari pabrik kelapa sawit adalah limbah cair yang
merupakan faktor penyebab pencemaran pada media penerima. Untuk mengatasi
pencemaran, air limbah pabrik harus diproses terlebih dahulu sebelum digunakan
pada land application untuk pupuk cair kebun sawit. Komposisi limbah cair PKS
antara lain berasal dari kondensat perebusan 17 %, Stasiun Klarifikasi 38%, dan
limbah cair dari proses lain 5%.
Bisa dikatakan PKS Rama Rama tidak menghasilkan limbah atau sangat
minimal dalam pengolahannya. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan kembali
hasil samping produksi CPO pada PKS. Janjangan kosong misalnya bisa
dimanfaatkan menjadi mulsa yaitu sebagai pupuk padat pada kebun, begitupun
limbah cair juga dimanfaatkan sebagai pupuk cair setelah mengalami perlakuan
pada kolam limbah. Adapun standar kualitas limbah cair pabrik kelapa sawit Sinar
Mas dapat dilihat pada Tabel 6.
Limbah pengolahan sawit yang dirasa cukup merugikan lingkungan adalah
berupa polusi udara. Asap yang keluar dari boiler harus dilakukan penanganan
agar tidak merusak lingkungan. Walaupun saat ini belum ada komplain
masyarakat terkait polusi udara tersebut, namun suatu hari nanti dimungkinkan
akan adanya protes dari masyarakat karena semakin tingginya kesadaran
masyarakat akan kelestarian lingkungan. Manajemen perlu melakukan
penanganan yang tepat dalam mengatasi polusi udara yang keluar dari pabrik,
sebelum adanya teguran dari pihak lain.
Tabel 6. Parameter Limbah Cair PKS Rama Rama
Kandungan Unsur Hara Influent dari PKS (Raw Effluent menuju LA
Effluent) (Digested Effluent)
PH 4.18 7.21
BOD (mg/ltr) 18950 759
COD (mg/ltr) 60886 7703
TS (%) 4.65 1.07
N-Total (mg/ltr) 943 616
P (mg/ltr) 139 92

54
Nur Hidayat
Departemen Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor
K (mg/ltr) 1990 1645
Mg (mg/ltr) 380 330
Ca (mg/ltr) 235 165
Zn (mg/ltr) 1.8 0.78
Cu (mg/ltr) 0.82 0.41
Mn (mg/ltr) 3.15 1.34
Fe (mg/ltr) 68 21.0
Cl (mg/ltr) 1014 1162
Mn (mg/ltr) 3.15 1.34
Fe (mg/ltr) 68 21.0
Cl (mg/ltr) 1014 1162

55