Anda di halaman 1dari 7

Down to Earth Nr.

63 November 2004

Konferensi perempuan dan


pertambangan dalam
hubungannya dengan
ketenagakerjaan di Indonesia
MENUNTUT KEADILAN BAGI PEREMPUAN
Pertambangan mempunyai pengaruh yang merusak dan

mengganggu keseimbangan bagi perempuan, termasuk perempuan adat

dan perempuan pekerja tambang. Pertambangan menimbulkan masalah

sosial dan lingkungan yang serius, menciptakan kemiskinan dan

senantiasa tidak menghargai budaya setempat serta hak-hak hukum adat.

Inilah kesimpulan dari Konferensi ke-3 Jaringan Internasional Perempuan

dan Pertambangan, yang diadakan di Visakhapatnam, India, pada bulan

Oktober 2004.

Konferensi itu melahirkan 6 resolusi, menuntut hak dan meminta

tindakan nyata pemerintah, perusahaan dan lembaga keuangan.

• Resolusi tersebut meliputi:

• Perempuan dan masyarakat adat;

• Perempuan dan komunitas lokal;

• Pekerja tambang perempuan;

• Tambang yang diterlantarkan dan penutupan tambang;

• Pertambangan, kesehatan, lingkungan dan perempuan, serta


• Konflik, hak asasi manusia dan perempuan.

Resolusi tentang masyarakat adat dan perempuan mengakui dan

menghormati tuntutan masyarakat adat atas moratorium atau pelarangan

atas proyek pertambangan baru dan perluasan tambang yang telah ada

yang bisa memberi dampak terhadap penduduk asli dan masyarakat adat

hingga semua hak asasi manusia telah diperhatikan dan dihormati serta

dijamin pemenuhannya. Mereka menuntut pengakuan atas hak kolektif

masyarakat adat untuk menentukan nasib sendiri, dan hak-hak mereka

atas tanah mereka dan sumber-sumber alam dan menuntut tidak

dilakukannya pemindahan paksa dari tanah mereka. Hak-hak masyarakat

adat, termasuk perempuan adat, atas pemberian persetujuan tanpa

paksaan (free prior informed consent) yang harus dihormati dan dijunjung

tinggi dan tidak dimanipulasi. Bagi perempuan terutama, tuntutan resolusi

atas posisi perempuan sebagai kepala keluarga sepatutnya dihargai dan

diperlakukan serupa dengan perlakuan terhadap rumah tangga yang

dikepalai oleh laki-laki dalam pengambilan keputusan dan kompensasi.

Resolusi juga menuntut perusahaan untuk menyadari bahwa HIV/AIDS

bukanlah penyakit masyarakat adat dan mereka harus menyediakan

program preventif dan penyuluhan kepada karyawan begitu juga untuk

perempuan dan komunitas adat.

Resolusi tentang perempuan dan komunitas lokal menuntut

pemerintah dan perusahaan pertambangan menghargai keinginan

masyarakat untuk moratorium pembangunan pertambangan baru dan


perluasan tambang. Resolusi ini juga menuntut pengakuan bahwa

'komunitas lokal' tidak terbatas pada mereka yang tinggal di kawasan

konsesi pertambangan atau area yang disewa, tetapi juga termasuk

penduduk yang terkena dampak operasi tambang, mereka yang tinggal di

hilir dan diluar batas wilayah pertambangan.

Pemerintah dan industri pertambangan harus memastikan bahwa

seluruh proyek peka gender dan menjamin partisipasi aktif dalam

pembuatan keputusan dari perempuan lokal yang terkena dampak proyek

pertambangan. Mereka harus mendapat izin dari perempuan pemilik

lahan dan perempuan adat setempat untuk setiap eksplorasi dan aktifitas

pertambangan, dan harus menerima saran perempuan lokal tentang cara-

cara yang tepat untuk memastikan bahwa pandangan mereka didengar

dan hak-hak mereka tidak dilanggar selama kegiatan pertambangan.

Resolusi tentang perempuan pekerja tambang menyatakan bahwa

sektor pertambangan resmi berskala besar mempunyai tingkat

keterlibatan perempuan yang rendah yang disebabkan oleh lokasi kerja

dan jam kerja yang mengabaikan kepentingan keluarga, perilaku

diskriminatif, kondisi kerja dan upah yang tidak adil. Sebaliknya, sektor

informal menyerap lebih banyak tenaga kerja perempuan yang

menjadikan sektor pertambangan sebagai sandaran hidup mereka.

Resolusi ini menuntut adanya hukum ketenagakerjaan yang melindungi

tenaga kerja dan hukum keselamatan dan kesehatan kerja yang

memadai, serta kesempatan untuk berpartisipasi penuh dalam komite

penyelidikan dan pengawasan kondisi keselamatan kerja dan kesempatan


yang maksimal bagi karyawan, tidak hanya dalam pekerjaan tradisional

yang dijatahkan untuk perempuan.

Resolusi tentang pertambangan, kesehatan, dan lingkungan

menuntut prinsip-prinsip pencegahan dalam semua operasi

pertambangan, dengan mengingat dampak kesehatan dan lingkungan

yang mengganggu keseimbangan. Termasuk didalamnya adalah

melarang praktik-praktik yang merusak seperti mengalirkan limbah tailing

ke sungai, membuang ke dasar laut, dan penambangan bahan sulfida

yang menyebabkan air asam tambang (acid mine drainage).

Resolusi tentang konflik, hak asasi manusia dan perempuan

mendapati bahwa kebijakan pertambangan, hukum dan peraturan yang

ada tidak berperspektif gender dan tidak peka terhadap hak-hak

perempuan. Hal itu mencakup tuntutan kepada perusahaan

pertambangan supaya jangan beroperasi di kawasan dimana mereka

memerlukan penggunaan kekuatan militer, tentara bayaran, paramiliter,

polisi, atau petugas keamanan yang bertindak berlebihan untuk menjaga

operasi mereka karena situasi tersebut menyebabkan pelanggaran Hak

asasi manusia, khususnya terhadap perempuan dan anak-anak.


Sumber : Resolution of III International Women and Mining Conference.

Untuk deklarasi konferensi, pernyataan lihat

www.mmpindia.org/womenmining.htm

Perempuan adat - kelengkapan untuk


advokasi

Sebuah ornop yang berbasis di Inggris Raya, Forest


Peoples Programme (FPP), telah menerbitkan sebuah
panduan bagi perempuan adat untuk memanfaatkan
CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of
Discrimination Against Women atau Konvensi
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap
Perempuan) untuk memprotes pelanggaran atas hak-
hak mereka. CEDAW merupakan salah satu dari enam
perangkat HAM internasional dan satu-satunya yang
secara khusus berfokus pada penghapusan diskriminasi
terhadap perempuan. Konvensi ini bersifat mengikat
bagi negara yang telah meratifikasi (termasuk
Indonesia). Sebuah komite dibentuk untuk mengawasi
pelaksanaannya dan pemenuhan kesepakatan dari
negara terhadap CEDAW. Prosedur pemenuhannya
baru-baru ini telah ditetapkan sehingga memungkinkan
perempuan untuk mengajukan keluhan atas
pelanggaran hak-hak mereka.

Buku Panduan FPP memaparkan informasi tentang


CEDAW dan Komite dan memberi panduan bagaimana
menggunakan prosedur yang ditawarkan. Tujuannya
adalah untuk memberi perempuan adat pemahaman
yang lebih baik tentang konvensi dan memberi mereka
dukungan dalam melakukan prosedur internasional
untuk memperoleh ganti rugi. Lebih jauh lagi, tujuannya
adalah untuk memacu negara mereformasi hukum
negara dan prosedur pengadilannya sehingga
perempuan memperoleh perlindungan yang efektif dan
berarti atas hak-hak perempuan adat.

A Guide to Indigenous Women's Rights under the


International Convention on the Elimination of All Forms
of Discrimination Against Women, Ellen-Rose Kambel,
FPP 2004. 73 halaman, GBP 5.00. Hubungi FPP, 1c
Fosseway Business Centre, Stratford Road, Moreton in
Marsh, GL56 9NQ, UK, info@forestpeoples.org ;
www.forestpeoples.org/

TUGAS TERSTRUKTUR I
HUKUM EKONOMI
“Hukum Ketenagakerjaan”

Disusun oleh :
Andres Bonifacio
0610113022

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2007