Opini Publik dan Demokrasi Sudah menjadi karakternya bahwa opini publik merupakan pendapat publik yang muncul

secara bebas dan bertanggung jawab sebagai respons atas kebijakan yang dibuat pemerintah; opini tersebut disatukan oleh suatu isu tertentu dan saling mengadakan kontak satu sama lain yang biasanya melalui media massa. Dari karakter itu terdapat tiga hal penting yang perlu digarisbawahi, yakni adanya hak kebebasan mengemukakan pendapat, adanya isu tertentu yang dilemparkan oleh opinion leader ke tengah publik, dan adanya peran media massa untuk mentransformasi sebuah opini menjadi opini publik. Ketiga hal tersebut sangat sulit berkembang bahkan sulit terjadi di sebuah negara yang tertutup dengan sistem yang totaliter. Kebebasan mengemukakan pendapat, berkembangnya sebuah isu ke tengah publik dan peran media massa yang bebas namun bertanggung jawab hanya mungkin terjadi di sebuah negara yang menganut sistem demokrasi. Pada era Orde Baru banyak hal, terutama yang bersinggungan dengan kepentingan dan kebijakan pemerintah, dilarang untuk didiskusikan secara terbuka. Di samping itu, media massa juga dikontrol dengan sangat ketat sehingga tidak dapat menjadi media yang saling menyampaikan informasi dan membentuk opini publik. Begitupun di negara-negara yang masih menganut sistem diktator atau totaliterianisme, opini publik sulit untuk berkembang karena besarnya peran pemerintah dalam mengontrol isu dan media massa. Opini publik dianggap sebagai cerminan “kehendak rakyat”; opini publik dapat dilukiskan sebagai proses yang menggabungkan pikiran, perasaan, dan usul yang diungkapkan oleh warga negara secara pribadi terhadap pilihan kebijakan yang dibuat oleh pejabat pemerintah yang bertanggung jawab atas dicapainya ketertiban sosial dalam situasi yang mengandung konflik, perbantahan, dan perselisihan pendapat tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Dengan kata lain, opini publik dapat menimbulkan kontroversi antara pemerintah dan masyarakat sendiri mengenai sebuah kebijakan yang dibuat pemerintah. Namun, tidak jarang juga opini publik justru diarahkan untuk menguatkan kebijakan pemerintah. Dalam sistem demokrasi, ada kesepakatan bahwa publik berhak mengetahui berbagai kebijakan yang diambil pemerintah karena menyangkut kehidupan masyarakat secara umum. Kebijakan pemerintah itu disampaikan secara luas melalui media massa, kemudian publik memberikan responsnya apakah setuju atau tidak dengan kebijakan yang diambil pemerintah. Pada waktu tertentu, kebijakan yang telah diambil pemerintah dapat dianulir atau dikoreksi

Lebih jauh. yaitu etika publik. politik dihidupkan sebagai soal ”konfrontasi etik”. Untuk kebutuhan semacam itulah kita mengaktifkan kontra pikiran dari opini publik. dan bukan ”konfirmasi statistik”. Sampai di sini. pada konteks yang kedua ini. masalahnya baru menjadi kritis bila seseorang hendak memandang politik dengan cara lain. Tetapi ia dapat menonaktifkan politik. Tapi juga dengan menunggangi opini publik. Opini publik selalu bertalian sangat erat dengan kemampuan para penulis dan . atas nama opini publik. demokrasi terselenggara secara teknis melalui opini publik. opsi kebijakan dipilih. Jadi. Namun pada waktu yang lain bisa saja pemerintah tetap menjalankan kebijakan yang telah diputuskannya meski opini publik yang berkembang sangat menolak kebijakan itu. tanpa mempersoalkan fungsi etisnya.oleh opini publik yang berkembang. Artinya. kepentingan politik diselundupkan. prosedur dan fungsi opini publik. Jadi. tidak mengherankan jika pemerintahan demokratis memiliki kebiasaan untuk bercermin dan mengukur kinerja pemerintahan negaranya melalui parameter opini publik. publik dianggap mempunyai posisi yang penting. Membiarkan opini publik bersifat dominan akan memberikan ekses yang kurang menguntungkan dalam proses perngambilan keputusan dan pembuatan kebijakan. Pada konteks ini. Dalam bahasa dan simbol demokrasi universal. bahkan sangat penting dalam proses demokrasi sebuah negara. wacana demokrasi telah memposisikan opini publik sebagai landasan dasar utama pemerintahan sebuah negara. melalui etika publik. karena hanya berhenti dalam rutinitas institusional. dengan mempertanyakan isi. yaitu sebagai sebuah proyek transformasi. pemerintahan dibentuk oleh dukungan orang-orang yang diperintah (the government by the consent of the governed). tapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengamankan kepentingan pembuat kebijakan yang karena dengan itu seolah-olah bersifat representatif dan legitimate. Opini publik mengaktifkan demokrasi. opini publik harus berjalan bersamaan dengan etika publik. Jika ini terjadi. Opini publik diperlukan untuk mendasarkan penyelenggaraan kebijakan yang merupakan suatu pekerjaan rutin demokrasi. Media yang bebas dan bertanggung jawab dijamin dalam sistem demokrasi. etika publik mengaktifkan kembali politik. Opini publik acapkali difungsikan sebagai landasan moralitas sekaligus rambu demokrasi oleh pemerintah dan masyarakat di berbagai negara yang menganut demokrasi. Artinya. Di samping itu. karena menganggap demokrasi telah menjadi malas. pemerintah biasanya akan membuat opini tandingan (counter opinion) di tengah masyarakat. Yang kemudian perlu diperhatikan lagi adalah peran media dalam demokrasi dan pembentukan opini publik. Namun yang perlu dicatat adalah opini pubik harus tetap berada pada posisinya yang proporsional.

Karena itu.id/index.pdf http://suaramerdeka. Pustaka Nurudin. kelompok kepentingan dan tokoh-tokoh berpengaruh. di saat lain dia dapat mendekat ke bawah. Perkembangan opini publik di tengah-tengah masyarakat harus selalu dicermati sebagai sebuah keadaan yang merangsang kreativitas para politisi dalam melakukan trik-trik politiknya.com/v1/index.pengelola media massa (cetak dan elektronik) dalam menyajikan pemberitaan.php/read/cetak/2009/11/12/87788/Opini-Publik-atauSupremasi-Hukum http://www.php?option=com_content&task=view&id=7137&Itemid=44 . menjadi fasilitator kepentingan massa. Satu saat dia dapat menempel ke atas menjadi corong pemerintah. ruang gerak dan gaya berpolitiknya terasa lebih leluasa dibandingkan aktor-aktor politik lain. Media melihat celah ini dan “memanfaatkannya. Komunikasi Propaganda (Bandung: Rosdakarya. Bahkan sering diakui bahwa demokrasi merupakan “pemerintahan oleh opini publik”. Dibandingkan aktor penyampai yang lain. gambar ataupun berbagai analisis dan pandangan mengenai suatu keadaan. keleluasaan bergerak dari aktor-aktor politik yang datang dari dunia pers. 2001) http://salihara.co. posisi media massa dipandang sangat unik.org/media/documents/2010/06/30/r/o/rockygerung-opinipublik.” Kondisi atau keadaan ini menurut kalangan ahli merupakan cerminan kehidupan di suatu negara demokratis yang sebenarnya. seperti partai politik. menurut ahli politik dari Universitas Gajah Mada (UGM) Riswandha Imawan.waspada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful