Anda di halaman 1dari 6

STATISTIK RADIOAKTIF

Aulia Desiani Carolina, Bagus Tri Nurcahya, Erliansyah Widi Putra, Reza Rendian Septiawan,
Yudhita Kusumawati
10208014, 10207023, 10207009, 10208045, 10208019
Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia
E-mail : auliadesiani@gmail.com

Asisten : Lorentia Agustin Atika Susilo/10207083


Tanggal Praktikum : 27 September 2010

Abstrak

Radioaktivitas atau peluruhan radioaktif adalah peristiwa pemancaran energi dalam bentuk sinar
radioaktif dari inti yang tidak stabil emnjadi inti yang lebih stabil dengan memancarkan partikel
tertentu seperti , , . Dalam Peluruhan radioaktif, partikel radiasi ini dipancarkan secara acak
ke sembarang arah oleh karena itu kita harus bisa menentukan pola sebarannya dengan statistika.
Sebelum menentukan pola sebarannya terlebih dahulu kita tentukan detektor yang digunakan yang
dalam hal ini adalah Geiger Muller Counter. Metode pertama yang dilakukan pada percobaan ini
adalah dengan mencari tegangan plateau dari GM counter ini untuk selanjutnya digunakan pada
percobaan kedua dalam menentukan distribusi dan statistik radioaktivitasnya.

Kata kunci : Detektor Geiger Muller, Ionisasi, Distribusi normal dan poissons, tegangan plateau ,
cacahan

I Pendahuluan tegangan keluaran tinggi sehingga mudah


dilakukan pencacahan.
Radioaktivitas atau peluruhan radioaktif
adalah peristiwa pemancaran energi dalam Pencacah Geiger Muller bekerja berdasarkan
bentuk sinar radioaktif dari inti yang tidak ionisasi gas. Alat pencacah Geiger Muller
stabil untuk membentuk inti yang stabil. terdiri dari tabung yang diisi gas argon
Peristiwa ini berlangsung secara spontan dan bertekanan rendah. Saat partikel positif atau
biasanya disertai dengan pemancaran partikel negatif atau partikel bermuatan lain masuk
, , [1]. melalui pintu tipis terbuat dari lempengan
mika, maka lempengan tersebut akan
Adapun untuk mendeteksi partikel radiasi mengionisasi gas argon sehingga atom dari
yang dipancarkan oleh unsur radioaktif yaitu gas argon akan melepas elektronnya. Medan
dengan menggunakan detektor radiasi. listrik antara anoda dan katoda menyebabkan
Detektor radiasi ada beberapa macam elektron bergerak ke arah anoda. Energi yang
diantaranya detektor ruang ionisasi, counter dibawa elektron cukup besar sehingga terjadi
proporsional, Geiger Muller counter, dll. proses ionisasi ganda. Akibatnya sebagian
Detektor yang paling sering digunakan untuk besar elektron akan tiba di anoda dan
mendeteksi partikel hasil radiasi adalah menimbulkan satu pulsa listrik. Pulsa listrik
detektor Geiger Muller yang memiliki akan dicatat oleh alat pencacah yang
dihubungkan pada rangkaian luar. Selain itu, enter itu tentukan selang waktu yang akan
pulsa ini juga dihubungkan dengan suatu digunakan dan pada percobaan bagian ini
kumparan penguat yang memberikan bunyi waktunya adalah 10 s. Kemudian tekan
“tik” setiap kali satu pulsa lewat[2]. Berikut tombol enter sehingga lampu pada bagian
adalah gambar dari pencacah Geiger Muller : continous padam. Tekan tombol start untuk
mulai mencacah bahan radioaktif yang
terdeteksi oleh G-M Counter yang
sebelumnya sudah dikondisikan berada di
tengah-tengah alat G-M Counter. Kemudian
saat dilakukan pencacahan, dicatat berapa
jumlah radioaktif yang terdeteksi pada Excel.
Percobaan ini dilakukan sebanyak 3 kali.
Setelah percobaan selesai lalu dalam excel
dihitung tegangan plateaunya untuk
kemudian dipakai pada bagian percobaan
selanjutnya.
Gambar 1 : Pencacah Geiger Muller

Metode II : Mengetahui distribusi dan


Detektor Geiger Muller ini bekerja pada
statistik radioaktif
daerah tegangan plateau. Tegangan plateau
adalah tegangan yang menyebabkan
Karena dalam pencacahan ini kita sebenarnya
peluruhan berada pada suatu keadaan stabil.
tidak mengetahui secara pasti kemana
Oleh karena itu sebaiknya pencacahan
distribusi dan statistik radioaktif tersebut oleh
dilakukan pada daerah tegangan ini.
karena itu pada bagian ini kita pertama-tama
set G-M Counter pada bagian tegangan
plateaunya. Selanjutnya melakukan
pencacahan untuk m=50 dan m=100 dengan
masing-masing menggunakan selang waktu 10
s. Selain itu dilakukan pula pencacahan
dengan m=25 untuk waktu 1 s dan 10 s serta
dilakukan pula pencacahan tanpa bahan
radioaktif untuk m=25. Dimana m disini
menyatakan jumlah pencacahan.
Gambar 2 : Tegangan Plateau
III Data dan Pengolahan

II Metode Percobaan Mencari tegangan plateau

Metode I : Menentukan Tegangan Kerja GM


Counter

Pertama-tama kita nyalakan terlebih dahulu


GM counter dengan menekan tombol On/Off
lalu pilih bagian G-M Voltage hingga lampunya
berkelap kelip, selanjutnya kita tekan tombol
adalah tegangan plateau berdasarkan Curve
100 Fitting Exponensial dengan R-square: 0.8836.

90 Sedangkan dari hasil plot grafik excel


80 diperoleh :
70
105
cacahan vs. voltage
60
fit 1
100
50
95
40
90
30

20 85
0 200 400 600 800
10

350 400 450 500 550 600


Gambar 5 : Plot Cacahan Vs Tegangan

Gambar 3 : Hasil Regresi Tegangan Plateau Dari gambar diatas diperoleh bahwa tegangan
plateau adalah 510 Volt.
Analysis of fit "fit 1" for dataset "cacahan vs. voltage"
F it w ith 9 5 % p re d b o u n d s

150 Distribusi dan Statistik Radioaktif

100 Untuk M = 50

50 fit 1 Untuk M = 50 diperoleh grafik antara Jumlah


95% prediction bounds cacahan dengan frekuensi munculnya.
0 cacahan vs. voltage
10
0.1 m50 data
1 s t d e riv

fit 1
0.09
fit 2
5 0.08

0.07

0.06
Density

4
0 x 10 0.05
3
In te g ra l fro m 3 5 0

0.04

0.03
2
0.02

0.01
1
0
80 85 90 95 100 105 110 115 120
Data
0
350 400 450 500 550 600
Gambar 6 : Kurva Frek terhadap N untuk M = 50

Gambar 4 : Analisis Curve Fitting Tegangan Plateau Dengan Keterangan sebagai berikut :

Dari hasil analisis curve fitting diperoleh Distribution: Normal


bahwa sistem mengalami kestabilan mulai Log likelihood: -185.188
dari V = 475 Volt terbukti dari hasil turunan Domain: -Inf < y < Inf
pertamanya adalah nol artinya V = 475 Volt ini Mean: 93.9
Variance: 98.4592
Distribution: Poisson 0.25

Log likelihood: -184.913 t1s data


fit 1
fit 2
Domain: 0 <= y < Inf 0.2

Mean: 93.9
Variance: 93.9 0.15

Density
0.1
Untuk M = 100
0.05
0.08 m100 data
fit 1
0.07 fit 2 0
4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Data
0.06

0.05
Density

0.04
Gambar 8 : Kurva Frek terhadap N untuk M = 25
dan t = 1 s
0.03

0.02

0.01 Keterangan grafiknya adalah sebagai berikut :


0
75 80 85 90 95 100 105 110 115 120
Distribution: Normal
Data
Log likelihood: -63.5964
Gambar 7 : Kurva Frek terhadap N untuk M = 100 Domain: -Inf < y < Inf
Mean: 9.04
Variance: 9.87333
Dengan keterangan sebagai berikut :
Distribution: Normal
Distribution: Poisson
Log likelihood: -368.228
Log likelihood: -63.6615
Domain: -Inf < y < Inf
Domain: 0 <= y < Inf
Mean: 92.21
Mean: 9.04
Variance: 93.3797
Variance: 9.04
Distribution: Poisson
Untuk t = 10s dan M=25
Log likelihood: -367.798
Domain: 0 <= y < Inf
Mean: 92.21 0.12 t10s data

Variance: 92.21 fit 1


fit 2
0.1

Untuk t = 1s dan M=25 0.08


Density

0.06

Diperoleh grafiknya adalah sebagai berikut :


0.04

0.02

0
75 80 85 90 95 100 105 110 115 120 125
Data

Gambar 9 : Kurva Frek terhadap N untuk M = 25


dan t = 10 s

Keterangan gambarnya adalah sbb :


Distribution: Normal IV Pembahasan
Log likelihood: -94.4942
Domain: -Inf < y < Inf Dari hasil curve fitting dengan menggunakan
Mean: 92.76 MATLAB diperoleh hasil bahwa tegangan
Variance: 116.94 plateau berkisar antara 475 V sampai 550 V.
Hal ini didasarkan atas analisis curve fit pada
Distribution: Poisson turunan pertama yang hasilnya nol serta
Log likelihood: -94.3252 integralnya yang stabil. Jika kita berasumsi
Domain: 0 <= y < Inf bahwa pada daerah ini ada tegangan plateau
Mean: 92.76 maka memang seharusnya turunan
Variance: 92.76 pertamanya nol karena grafiknya datar. Sulit
memang jika kita harus mencari bagian datar
Untuk Latar dari hasil distribusi scatter-nya dengan
T = 10 s Tidak ada bahan radioaktif menggunakan mata telanjang, kita harus
benar-benar memperkirakan daerah kerja dari
0.25
detektor ini dengan analisis matematis. Akan
latar data
fit 1
tetapi perkiraan awal dengan menggunakan
fit 2
0.2 excel bahwa tegangan plateau adalah 510 V
tidak begitu salah karena masih berada pada
0.15
range yang diperbolehkan.
Density

Untuk mencari distribusi dan statistik


0.1
radioaktif yang dihasilkan dengan jumlah data
0.05 m = 50 maka baik distribusi normal maupun
poissons menunjukkan harga mean yang sama
0
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 yaitu 93.3, bedanya hanya pada nilai variance
Data
yang dihasilkan distribusi normal (98.46) lebih
Gambar 10 : Kurva Frek terhadap N untuk Latar
besar dari variance yang dihasilkan poissons
(93.9).
Keterangan Grafiknya adalah sbb : Grafik yang dihasilkan untuk jumlah data 100
Distribution: Normal juga tidak jauh berbeda fitting nya. Baik
Log likelihood: -54.2914 distribusi normal maupun distribusi poissons
Domain: -Inf < y < Inf menunjukkan nilai mean yang sama yaitu
Mean: 5.76 92.21 yang beda hanyalah variansinya dimana
Variance: 4.69 distribusi normal sedikit lebih besar (93.37)
dibanding poissons (92.21). Karena kedua
Distribution: Poisson distribusi memberikan efek yang hampir sama
Log likelihood: -54.2973 apalagi untuk dua jumlah data yang diambil
Domain: 0 <= y < Inf yaitu 50 dan 100, dapat diambil kesimpulan
Mean: 5.76 bahwa baik distribusi poissons maupun
Variance: 5.76 distribusi normal keduanya dapat digunakan
untuk menunjukkan pola acak/random dari
suatu gejala radioaktivitas.
Sedangkan untuk perbedaan waktu cacah
(untuk t = 1s) diperoleh grafik hasil fitting
distribusi normal dan poissons dengan mean
yang sama lagi yaitu 9.04 sedangkan untuk sistem kerjanya ia akan terhubung
waktu cacah t = 10 s diperoleh hasil fitting dengan suatu alat pencacah yang
distribusi normal dan poissons dengan mean dihubungkan dari luar dan akan
92.76 tidak jauh berbeda dengan hasil yang berbunyi “tik” bila satu pulsa dari hasil
diperoleh untuk t = 1 s. Untuk t = 1 s mean ionisasi radioaktif masuk.
yang dihasilkan adalah 9.04 artinya terdapat  Jenis distribusi yang dapat digunakan
9.04 cacahan per 1 detik sedangkan t = 10 s untuk mengetahui pola sebaran dari
mean yang dihasilkan adalah 92.76 artinya gejala radioaktivitas ini bisa dengan
terdapat 92.76 cacahan per 10 detik atau distribusi normal bisa juga dengan
9.276 cacahan per detik. Tentunya hasil ini distribusi poissons. Sedangkan dalam
tidak jauh berbeda apalagi dengan hasil yang pengambilan cacahannya lebih baik
diperoleh untuk pengambilan data m =50 dan dilakukan dengan waktu t yang
m=100. Semuanya mirip. panjang agar pencacah geiger dapat
Sedangkan untuk statistik berlatarbelakang mendeteksi dengan lebih akurat.
nilai mean yang dihasilkan baik dari distribusi Sedangkan nilai N nya jangan terlalu
normal maupun poissons menjadi berkurang besar agar sebarannya tidak terlalu
yaitu hanya sekitar 5.76 cacahan per 10 detik luas dan fitting dengan menggunakan
atau 0.576 cacahan per 1 detik. Hal ini distribusi normal maupun poissons
dikarenakan bahan radioaktif yang tadinya akan menjadi lebih pas.
dipasang sekarang sudah tidak ada jadi jumlah
cacahannya pun berkurang walaupun tidak VI Pustaka
nol sama sekali karena bahan radioaktif tadi [1]
sudah sedikitnya menyebar dilingkungan http://www.anma13.co.cc/2010/06/radioakti
sekitar pencacah geiger sehingga masih vitas.html
terdeteksi walaupun sedikit. [2] Goris et all. 2007. Fisika untuk SMA/MA
Jika kita membandingkan nilai t yang diambil kelas XII. Jakarta : Grasindo
yaitu t kecil atau t besar sebenarnya yang
paling tepat adalah t yang besar. Dengan t
yang besar pencacah geiger dapat mendeteksi
kemungkinan deteksi radioaktif secara lebih
akurat dibandingkan dengan pengambilan
waktu t yang singkat. Selain itu nilai N yang
diperoleh alangkah lebih baik jika N nya kecil
karena sebarannya tidak terllau luas sehingga
fitting distribusi baik oleh distribusi normal
maupun poissons akan lebih baik
dibandingkan nilai N yang besar dan
sebarannya sangat luas.

V Simpulan
 Detektor Geiger Muller bekerja
sebagai pendeteksi adanya bahan
radioaktif dengan prinsip ionisasi gas.
Detektor ini akan bekerja baik pada
tegangan plateau nya dan dalam