Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I

PENDAHULUAN

Herpes genitalis merupakan infeksi pada genital dengan gejala khas berupa vesikel yang
berkelompok dengan dasar eritem bersifat rekuren. Herpes genitalis terjadi pada alat genital
dan sekitarnya (bokong, daerah anal dan paha). (3)

Ada dua macam tipe HSV yaitu : HSV-1 dan HSV-2 dan keduanya dapat
menyebabkan herpes genital. Infeksi HSV-2 sering ditularkan melalui hubungan seks dan
dapat menyebabkan rekurensi dan ulserasi genital yang nyeri. Tipe 1 biasanya mengenai
mulut dan tipe 2 mengenai daerah genital. (3)

HSV dapat menimbulkan serangkaian penyakit, mulai dari ginggivostomatitis


sampai keratokonjungtivitis, ensefalitis, penyakit kelamin dan infeksi pada neonatus.
Komplikasi tersebut menjadi bahan pemikiran dan perhatian dari beberapa ahli, seperti : ahli
penyakit kulit dan kelamin, ahli kandungan, ahli mikrobiologi dan lain sebagainya. Infeksi
primer oleh HSV lebih berat dan mempunyai riwayat yang berbeda dengan infeksi rekuren. (3)

Setelah terjadinya infeksi primer virus mengalami masa laten atau stadium
dorman, dan infeksi rekuren disebabkan oleh reaktivasi virus dorman ini yang kemudian
menimbulkan kelainan pada kulit. Infeksi herpes simpleks fasial-oral rekuren atau herpes
labialis dikenali sebagai fever blister atau cold sore dan ditemukan pada 25-40% dari
penderita Amerika yang telah terinfeksi. (3)

Herpes simpleks genitalis merupakan penyakit masyarakat yang penting.


Prevalensinya di seluruh dunia meningkat secara bermakna selama 2 dekade terakhir.
Morbiditas penyakit, kekambuhan yang tinggi dan komplikasinya seperti meningitis aseptik
dan transmisi neonatus menyebabkan penyakit ini mendapat perhatian yang besar dari
penderita dan petugas kesehatan. (11)

1
2

Penyebab herpes genitalis yang sering menimbulkan masalah akhir-akhir ini


adalah: (11)

1. Belum ditemukannya obat yang efektif dalam memberantas HSV.


2. Sifat dari penyakit ini sendiri yang mudah terjadi kekambuhan karena adanya fase
laten dan sebagian besar infeksi yang sifatnya subklinik.
3. Diagnosis banyak ditegakkan berdasarkan gejala klinik, sehingga mudah terjadi
kesalahan.

Di negara-negara berkembang cara mendiagnosis belum memenuhi syarat,


misalnya dijumpai kesulitan dalam mengisolasi HSV.(11)

Herpes simpleks fasial-oral biasanya sembuh sendiri. Tetapi pada penderita


dengan imunitas yang rendah, dapat ditemukan lesi berat dan luas berupa ulkus yang nyeri
pada mulut dan esofagus. (3)

Virus herpes merupakan sekelompok virus yang termasuk dalam famili


herpesviridae yang mempunyai morfologi yang identik dan mempunyai kemampuan untuk
berada dalam keadaan laten dalam sel hospes setelah infeksi primer. Virus yang berada dalam
keadaan laten dapat bertahan untuk periode yang lama bahkan seumur hidup penderita. Virus
tersebut tetap mempunyai kemampuan untuk mengadakan reaktivasi kembali sehingga dapat
terjadi infeksi yang rekuren. (3)

Prevalensi yang dilaporkan dari herpes genitalis bergantung pada karakteristik


demografis, sosial ekonomi dan klinis dari populasi pasien yang pernah diteliti dan teknik
pemeriksaan laboratorium dan klinik digunakan untuk mendiagnosa. Studi seroepidemiologi
menunjukkan disparitas yang lebar antara prevalensi antibodi dan infeksi klinis, ini
mengindikasikan bahwa banyak orang mendapat infeksi subklinik. (3)
3

BAB II

DASAR TEORI

A. DEFINISI

Herpes genitalis adalah infeksi pada genitalia yang ditularkan melalui hubungan
seksual, yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (VHS)-Tipe I dan Tipe II dengan gejala
khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekuren. (11)

Herpes genitalis adalah infeksi virus yang ditularkan melalui kontak intim dengan
lapisan mukosa mulut atau vagina atau kulit genital yang dikarakteristikkan dengan erupsi
berulang vesikel kecil dan nyeri pada genital, sekitar rektum, atau area yang menutupi
perbatasan dengan kulit. (11)

B. EPIDEMIOLOGI HERPES GENITALIS

Prevalensi anti bodi dari HSV-1 pada sebuah populasi bergantung pada faktor-faktor seperti
negara, kelas sosial ekonomi dan usia. HSV-1 umumnya ditemukan pada daerah oral pada
masa kanak-kanak, terlebih lagi pada kondisi sosial ekonomi terbelakang. (3)

Kebiasaan, orientasi seksual dan gender mempengaruhi HSV-2. HSV-2


prevalensinya lebih rendah dibanding HSV-1 dan lebih sering ditemukan pada usia dewasa
yang terjadi karena kontak seksual. Prevalensi HSV-2 pada usia dewasa meningkat dan
secara signifikan lebih tinggi Amerika Serikat dari pada Eropa dan kelompok etnik kulit
hitam dibanding kulit putih. Seroprevalensi HSV-2 adalah 5 % pada populasi wanita secara
umum di inggris, tetapi mencapai 80% pada wanita Afro-Amerika yang berusia antara 60-69
tahun di USA. (3)

Herpes genital mengalami peningkatan antara awal tahun 1960-an dan 1990-an.
Di inggris laporan pasien dengan herpes genital pada klinik PMS meningkat enam kali lipat
antara tahun 1972-1994. Kunjungan awal pada dokter yang dilakukan oleh pasien di Amerika
Serikat untuk episode pertama dari herpes genital meningkat sepuluh kali lipat mulai dari
16.986 pasien di tahun 1970 menjadi 160.000 di tahun 1995 per 100.000 pasien yang
berkunjung. (3)

3
4

Beberapa kepustakaan menyatakan terjadinya HSV-II pada wanita lebih tinggi 5-


10% dari laki-laki yang mungkin disebabkan perbedaan anatomi dimana mukosa pada
genitalia wanita lebih luas daripada laki-laki, atau karena transmisi laki-laki kepada wanita
lebih banyak daripada transmisi wanita kepada laki-laki, atau dapat juga disebabkan karena
mereka tidak tahu jika terinfeksi karena mereka memiliki sedikit simptom atau tidak memiliki
simptom. Pada beberapa wanita, mereka “atypical outbreak” dimana mereka hanya memiliki
simptom gatal sedang atau ketidak nyamanan minimalStudi pada tahun 1960 menunjukkan
bahwa HSV-1 lebih sering berhubungan dengan kelainan oral dan HSV-2 berhubungan
dengan kelainan genital. Atau dikatakan HSV-1 menyebabkan kelainan di atas pinggang dan
VHS-2 menyebabkan kelainan di bawah pinggang. Tetapi didapatkan juga jumlah signifikan
genital herpes 30-40% disebabkan HSV-1. (3)

HSV-2 juga kadang-kadang menyebabkan kelainan oral, diduga karena


meningkatnya kasus hubungan seks oral. Jarang didapatkan kelainan oral karena VHS-2
tanpa infeksi genital. Di Indonesia, sampai saat ini belum ada angka yang pasti, akan tetapi
dari 13 RS pendidikan Herpes genitalis merupakan PMS (Penyakit Menular Seksual) dengan
gejala ulkus genital yang paling sering dijumpai. (3)

C. ETIOLOGI HERPES GENITALIS

Penyebab utama herpes simpleks genitalis adalah virus herpes simpleks tipe II (HSV-II),
meskipun ada yang menyatakan bahwa herpes simpleks tipe I (HSV-I) sebanyak kurang lebih
16,1% juga dapat menyebabkan herpes simpleks genitalis akibat hubungan kelamin secara
orogenital atau penularan melalui tangan. HSV-II termasuk dalam DNA virus. HSV terdiri
dari 4 struktur dasar yaitu: envelope, tegument, nucleocapsid, dan DNA-containing core. (11)

Herpes genitalis disebabkan oleh HSV atau herpes virus hominis (HVH), yang
merupakan anggota dari famili herpesviridae. Adapun tipe-tipe dari HSV : (3)

1. Herpes simplex virus tipe I : pada umunya menyebabkan lesi atau luka pada sekitar
wajah, bibir, mukosa mulut, dan leher.

2. Herpes simplex virus tipe II : umumnya menyebabkan lesi pada genital dan sekitarnya
(bokong, daerah anal dan paha).
5

Herpes simplex virus tergolong dalam famili herpes virus, selain HSV yang juga termasuk
dalam golongan ini adalah Epstein Barr (mono) dan varisela zoster yang menyebabkan herpes
zoster dan varicella. Sebagian besar kasus herpes genitalis disebabkan oleh HSV-2, namun
tidak menutup kemungkinan HSV-1 menyebabkan kelainan yang sama. (3)

Pada umumnya disebabkan oleh HSV-2 yang penularannya secara utama melalui vaginal
atau anal seks. Beberapa tahun ini, HSV-1 telah lebih sering juga menyebabkan herpes
genital. HSV-1 genital menyebar lewat oral seks yang memiliki cold sore pada mulut atau
bibir, tetapi beberapa kasus dihasilkan dari vaginal atau anal seks. (3)

D. PATOGENESIS HERPES GENITALIS

HSV-1 dan HSV-2 adalah termasuk dalam famili herphesviridae, sebuah grup virus DNA
rantai ganda lipid-enveloped yang berperanan secara luas pada infeksi manusia. Kedua
serotipe HSV dan virus varicella zoster mempunyai hubungan dekat sebagai subfamili virus
alpha-herpesviridae. (3)

Alfa herpes virus menginfeksi tipe sel multiple, bertumbuh cepat dan secara efisien
menghancurkan sel host dan infeksi pada sel host. Infeksi pada natural host ditandai oleh lesi
epidermis, seringkali melibatkan permukaan mukosa dengan penyebaran virus pada sistem
saraf dan menetap sebagai infeksi laten pada neuron, dimana dapat aktif kembali secara
periodik. Transmisi infeksi HSV seringkali berlangsung lewat kontak erat dengan pasien
yang dapat menularkan virus lewat permukaan mukosa. Genital herpes hanya dapat
ditularkan langsung melalui kontak seksual, termasuk ke-genital-genital, mulut-ke-genital,
(3,15)
atau kontak dengan partner yang terinfeksi.

Infeksi HSV-1 biasanya terbatas pada orofaring, virus menyebar melalui droplet pernapasan,
atau melalui kontak langsung dengan saliva yang terinfeksi. HSV-2 biasanya ditularkan
secara seksual. Setelah virus masuk ke dalam tubuh hospes, terjadi penggabungan dengan
DNA hospes dan mengadakan multiplikasi serta menimbulkan kelainan pada kulit. (3)

Waktu itu pada hospes itu sendiri belum ada antibodi spesifik. Keadaan ini dapat
mengakibatkan timbulnya lesi pada daerah yang luas dengan gejala konstitusi berat.
Selanjutnya virus menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional dan
6

berdiam di sana serta bersifat laten. Infeksi orofaring HSV-1 menimbulkan infeksi laten di
ganglia trigeminal, sedangkan infeksi genital HSV-2 menimbulkan infeksi laten di ganglion
sakral. (3)

Bila pada suatu waktu ada faktor pencetus (trigger factor), virus akan mengalami reaktivasi
dan multiplikasi kembali sehingga terjadilah infeksi rekuren. Pada saat ini dalam tubuh
hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang timbul dan gejala konstitusinya
tidak seberat pada waktu infeksi primer. (3)

Faktor pencetus tersebut antara lain adalah trauma atau koitus, demam, stres fisik atau
emosi, sinar UV, gangguan pencernaan, alergi makanan dan obat-obatan dan beberapa kasus
tidak diketahui dengan jelas penyebabnya. Penularan hampir selalu melalui hubungan seksul
baik genito genital, ano genital maupun oro genital. (3)

Infeksi oleh HSV dapat bersifat laten tanpa gejala klinis dan kelompok ini bertanggung jawab
terhadap penyebaran penyakit. Infeksi dengan HSV dimulai dari kontak virus dengan mukosa
(orofaring, serviks, konjungtiva) atau kulit yang abrasi. Replikasi virus dalam sel epidermis
dan dermis menyebabkan destruksi seluler dan keradangan. (3)

E. MANIFESTASI KLINIS HERPES GENITALIS

Infeksi awal dari 63% HSV-2 dan 37% HSV-1 adalah asimptomatik. Simptom dari infeksi
awal (saat inisial episode berlangsung pada saat infeksi awal) simptom khas muncul antara 3
hingga 9 hari setelah infeksi, meskipun infeksi asimptomatik berlangsung perlahan dalam
tahun pertama setelah diagnosa di lakukan pada sekitar 15% kasus HSV-2. Inisial episode
yang juga merupakan infeksi primer dapat berlangsung menjadi lebih berat. Infeksi HSV-1
dan HSV-2 agak susah dibedakan. (3)

Tanda utama dari genital herpes adalah luka di sekitar vagina, penis, atau di daerah anus.
Kadang-kadang luka dari herpes genital muncul di skrotum, bokong atau paha. Luka dapat
muncul sekitar 4-7 hari setelah infeksi. (3)

Gejala dari herpes disebut juga outbreaks, muncul dalam dua minggu setelah orang
terinfeksi dan dapat saja berlangsung untuk beberapa minggu. Adapun gejalanya sebagai
berikut :
7

• Nyeri dan disuria

• Uretral dan vaginal discharge

• Gejala sistemik (malaise, demam, mialgia, sakit kepala)

• Limfadenopati yang nyeri pada daerah inguinal

• Nyeri pada rektum, tenesmus

Tanda (sign) :

• Eritem, vesikel, pustul, ulserasi multipel, erosi, lesi dengan krusta tergantung pada
tingkat infeksi.

• Limfadenopati inguinal

• Faringitis

• Cervisitis

(3,13,14)

Pembagian tingkatan infeksi virus herpes simpleks:

Manifestasi klinik herpes simpleks genitalis dibagi dalam 3 tingkat, yaitu: (1,3,4,11,14)

a. Herpes genital primer

Infeksi primer yang biasanya disertai gejala ( simtomatik ) meskipun dapat


pula tanpa gejala ( asimtomatik ). Keadaan tanpa gejala kemungkinan karena adanya
imunitas tertentu dari antibodi yang bereaksi silang dan diperoleh setelah menderita
infeksi tipe 1 saat anak-anak. Masa inkubasi yang khas selama 3 – 6 hari ( masa
inkubasi terpendek yang pernah ditemukan 48 jam ) yang diikuti dengan erupsi
papuler dengan rasa gatal, atau pegal-pegal yang kemudian menjadi nyeri dan
pembentukan vesikel dengan lesi vulva dan perineum yang multipel dan dapat
menyatu. (3)

Adenopati inguinalis yang bisa menjadi sangat parah. Gejala sistemik mirip
influenza yang bersifat sepintas sering ditemukan dan mungkin disebabkan oleh
8

viremia. Erupsi dapat didahului dengan gejala prodormal, yang menyebabkan salah
diagnosis sebagai influenza. Lesi berupa papul kecil dengan dasar eritem dan
berkembang menjadi vesikel dan cepat membentuk erosi superfisial atau ulkus yang
tidak nyeri, lebih sering pada glans penis, preputium, dan frenulum, korpus penis
lebih jarang terlihat.Vesikel yang terbentuk pada perineum dan vulva mudah terkena
trauma dan dapat terjadi ulserasi serta terjangkit infeksi sekunder. Lesi pada vulva
cenderung menimbulkan nyeri yang hebat dan dapat mengakibatkan disabilitas yang
berat. (3,4,11)

Retensi urin dapat terjadi karena rasa nyeri yang ditimbulkan ketika buang
air kecil atau terkenanya nervus sakralis. Dalam waktu 2 – 4 minggu, semua keluhan
dan gejala infeksi akan menghilang tetapi dapat kambuh lagi karena terjadinya
reaktivasi virus dari ganglion saraf. Kelainan pada serviks sering ditemukan pada
infeksi primer dan dapat memperlihatkan inflamasi serta ulserasi atau tidak
menimbulkan gejala klinis. (3,11,14)

b. Fase Laten(Subklinis)

Setelah infeksi primer, virus akan laten sampai beberapa bulan hingga
bertahun tahun, hingga ada suatu faktor pencetus yang mampu membangkitakan
infeksi virus tersebut. Pada fase laten ini virus dapat bertahan bertahun tahun dalam
tubuh penderita, bahkan hingga seumur hidupnya. Pada fase ini pada penderita tidak
ditemukan gejala klinis, namun virus HSV dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif
di dalam ganglion dorsalis, sehingga sistem imun sulit untuk melacak dan
mengeliminasinya. (1,4)

c. Herpes genital rekuren

Setelah terjadinya infeksi primer klinis atau subklinis, pada suatu waktu bila ada
faktor pencetus, virus akan menjalani reaktivasi dan multiplikasi kembali sehingga
terjadilah lagi rekuren, pada saat itu di dalam hospes sudah ada antibodi spesifik
sehingga kelainan yang timbul dan gejala tidak seberat infeksi primer. (3,4)
9

Faktor pencetus antara lain: trauma, koitus yang berlebihan, demam,


gangguan pencernaan, kelelahan, makanan yang merangsang, alkohol, dan beberapa
kasus sukar diketahui penyebabnya. Pada sebagian besar orang, virus dapat menjadi
aktif dan menyebabkan outbreaks beberapa kali dalam setahun. HSV berdiam dalam
sel saraf di tubuh kita, ketika virus terpicu untuk aktif, maka akan bergerak dari saraf
ke kulit kita. Lalu memperbanyak diri dan dapat timbul luka di tempat terjadinya
outbreaks. Lesi pada infeksi rekuren umumnya tidak banyak, tidak begitu nyeri serta
melepaskan virus untuk periode waktu yang lebih singkat (2 – 5 hari) dibandingkan
dengan yang terjadi pada infeksi primer, dan secara khas akan timbul lagi pada lokasi
yang sama. Walaupun sering terlihat pada infeksi primer, infeksi serviks tidak begitu
sering terjadi pada infeksi yang rekuren. (2,3)

F. PEMERIKSAAN LABORATORIUM HERPES GENITALIS

Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana adalah Tes Tzank diwarnai dengan
pengecatan giemsa atau wright, akan terlihat sel raksasa berinti banyak. Sensitifitas dan
spesifitas pemeriksaan ini umumnya rendah. Cara pemeriksaan laboratorium yang lain adalah
sebagai berikut. (3)

A. Histopatologis
Vesikel herpes simpleks terletak intraepidermal, epidermis yang terpengaruh dan
inflamasi pada dermis menjadi infiltrat dengan leukosit dan eksudat sereus yang
merupakan kumpulan sel yang terakumulasi di dalam stratum korneum membentuk
vesikel. (3)

B. Pemeriksaan serologis ( ELISA dan Tes POCK )

Pemeriksaan antibodi secara ELISA, dengan sensitivitas 97,5 % dan spesifisitas 98 %


meskipun waktu yang dibutuhkan tetap lebih dari 24 jam. Metode serologi ini banyak
dipakai dalam penelitian epoidemiologi dan secara luas mulai banyak dipakai
meskipun manfaat dalam klinis masih diragukan karena sebagian besar populasi
adalah seropositif untuk virus herpes simpleks tipe 1 sedang reaksi silang dengan
virus herpes simpleks tipe 2 sering terjadi. Bila ditemukan serokonversi atau adanya
IgM spesifik maka kemungkinan infeksi primer harus dipikirkan. (1,15)
10

C. Tzank Test untuk melihat adanya multinucleus giant cell. Dengan cara
melakukan sediaan apus dari bahan yang didapat dari dasar vesikel yang intak, yang
sengaja dipecahkan untuk diperiksa. (1,14)

D. Polymerase Chain Reaction, untuk memeriksa kecocokan DNA HSV.


Spesimen diambil dari lepuh, cairan di papil, atau kadang-kadang cairan tulang
belakang (1,14)

E. Kultur virus

Kultur virus yang diperoleh dari spesimen pada lesi yang dicurigai masih merupakan
prosedur pilihan yang merupakan gold standard pada stadium awal infeksi. Bahan
pemeriksaan diambil dari lesi mukokutaneus pada stadium awal (vesikel atau pustul),
hasilnya lebih baik dari pada bila diambil dari lesi ulkus atau krusta. (3)

Sensitivitas pada pemeriksaan kultur hampir 95 % sebelum lesi tersebut membentuk


krusta saat spesimen diperoleh dan ditangani dengan benar. Pada hakekatnya hasil
positif palsu tidak ditemukan. Sayangnya pemeriksaan ini cukup mahal dan
membutuhkan waktu lebih dari 48 jam, dan bahkan pada yang eksaserbasi
asimtomatik diperlukan waktu yang lebih lama lagi mengingat titer virus yang lebih
rendah. (2)

G. DIAGNOSIS HERPES GENITALIS

Secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan
dasar eritem dan bersifat rekuren. Gejala dan tanda dihubungkan dengan HSV-2. diagnosis
dapat ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisis jika gejalanya khas dan melalui
pengambilan contoh dari luka (lesi) dan dilakukan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis
klinis infeksi herpes genitalis bila ditemukan kelompok vesikel multipel berukuran sama,
timbulnya lama dan sifatnya sama dan nyeri. Infeksi herpes genitalis juga dibedakan dengan
penyebab lain ulkus genital seperti ulkus yang disebabkan Treponema pallidum, walaupun
dapat terjadi koinfeksi antara keduanya. (1,3)

Tes darah yang mendeteksi HSV-1 dan HSV-2 dapat menolong meskipun hasilnya tidak
terlalu memuaskan. Virus kadangkala, namun tak selalu, dapat dideteksi lewat tes
11

laboratorium yaitu kultur. Kultur dikerjakan dengan menggunakan swab untuk memperoleh
material yang akan dipelajari dari luka yang dicurigai sebagai herpes. (3)

Pada stadium dini erupsi vesikel sangat khas, akan tetapi pada stadium yang lanjut tidak khas
lagi, penderita harus dideteksi dengan kemungkinan penyakit lain, termasuk chancroid dan
kandidiasis. Konfirmasi virus dapat dilakukan melalui mikroskop elektron atau kultur
jaringan. (3)

H. DIAGNOSA BANDING HERPES GENITALIS

Beberapa doagnosis banding yang dapat dipikirkan pada penderita yang dicurigai menderita
herpes genitais adalah sebagai berikut: (3,11,14)

• Ulkus durum : ulkus indolen dan teraba indurasi

• Ulkus mole : ulkus kotor, merah dan nyeri

• Sifilis : ulkus lebih besar, bersih dan ada indurasi

• Balanopostitis : biasanya disertai tanda-tanda radang yang jelas

• Skabies : rasa gatal lebih berat, kebanyakan pada anak-anak

• Limfogranuloma venereum : ulkus sangat nyeri didahului pembengkakan kelenjar


inguinal.

I. KOMPLIKASI HERPES GENITALIS

Infeksi herpes genital biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan yang serius pada orang
dewasa. Pada sejumlah orang dengan sistem imunitasnya tidak bekerja baik, bisa terjadi
outbreaks herpes genital yang bisa saja berlangsung parah dalam waktu yang lama. Orang
dengan sistem imun yang normal bisa terjadi infeksi herpes pada mata yang disebut herpes
okuler. Herpes okuler biasanya disebabkan oleh HSV-1 namun terkadang dapat juga
disebabkan HSV-2. Herpes dapat menyebabkan penyakit mata yang serius termasuk
kebutaan. (3)
12

Pada wanita hamil, virus dapat melalui plasenta dan masuk ke dalam peredaran
darah janin sehingga dapat mengakibatkan kerusakan atau kematian pada janin. Hal ini
penting supaya wanita menghindari menderita herpes genital selama kehamilan. Infeksi ini
mempunyai angka mortalitas 60%, separuh dari yang hidup menderita cacat neurologik, atau
kelainan pada mata. Kelainan yang timbul pada bayi dapat berupa encephalitis, meningitis
herpetic, viremia herpetic, erupsi kulit kronis (berupa vesikel herpetiformis),
keratokonjungtivitis, koroidoretinitis, microcephali, atau hepatitis. Beberapa ahli
menganjurkan melakukan sectio caesarea pada ibu yang terinfeksi HSV-II aktif. Angka
kejadian infeksi pada bayi dari wanita yang mengidap infeksi herpes jarang, di AS frekuensi
herpes neonatal adalah 1 per 7500 kelahiran hidup. Sedangkan apabila pada trimester II,
terjadi prematuritas. Selain itu dapat terjadi transmisi pada saat intra partum atau paska
partum. (11)

Virus herpes penting untuk diperhatikan pada pasien wanita. Virus ini memiliki
keterlibatan dengan kanker serviks. Virus dapat menyebar dari vagina ke serviks pada wanita
yang tidak merasakan simptom. Resiko meningkat ketika HSV muncul pada kombinasi
dengan Human Papilloma Virus (HPV), virus ini bertanggung jawab untuk Condyloma. (11)

J. PENATALAKSANAAN HERPES GENITALIS

Sampai sekarang belum ada obat yang memuaskan untuk terapi herpes genitalis, namun
pengobatan secara umum perlu diperhatikan, seperti : (3,11)

• menjaga kebersihan lokal

• menghindari trauma atau faktor pencetus. (3,11)

Penggunaan idoxuridine mengobati lesi herpes simpleks secara lokal sebesar 5% sampai 40%
dalam dimethyl sulphoxide sangat bermanfaat. Namun, pengobatan ini memiliki beberapa
efek samping, di antaranya pasien akan mengalami rasa nyeri hebat, maserasi kulit dapat juga
terjadi. (3)

Meskipun tidak ada obat herpes genital, penyediaan layanan kesehatan anda akan meresepkan
obat anti viral untuk menangani gejala dan membantu mencegah terjadinya outbreaks. Hal ini
13

akan mengurangi resiko menularnya herpes pada partner seksual. Obat-obatan untuk
menangani herpes genital adalah : (3,11)

• Acyclovir (Zovirus)

• Famsiklovir

• Valasiklovir (Valtres)

Herpes genital tidak dapat disembuhkan. Pengobatan dapat mengurangi simptom,


mengurangi nyeri dan ketidak nyamanan secara cepat yang berhubungan dengan
perjangkitan, serta dapat mempercepat waktu penyembuhan. (11)

Tiga agen oral yang akhir-akhir ini diresepkan, yaitu Acyclovir (Zovirax),
Famciclovir (Famvir), dan Valacyclovir (Valtrex). Ketiga obat ini mencegah multiplikasi
virus dan memperpendek lama erupsi. Meskipun terdapat agen topikal, umumnya kurang
efektif daripada pengobatan lain. Serta tidak rutin digunakan. Pengobatan peroral, dan pada
kasus berat secara intravena adalah lebih efektif. Pengobatan hanya untuk menurunkan durasi
perjangkitan. (11)

Pengobatan ini telah menunjukkan kecepatan dalam penyembuhan dan resolusi


simptom pada serangan pertama daripada episode rekuren infeksi genital HSV-I dan HSV-II.
Pengobatan ini tidak dapat menyembuhkan infeksi herpes. Pengobatan ini menekan simptom
nyeri dan menurunkan waktu penyembuhan ulkus. Tapi pengobatan pada infeksi pertama
tidak menurunkan frekuensi episode rekuren. (11)

Jika perlu, terapi supresi sehari-hari dapat digunakan, dan telah menunjukkan
berkurangnya frekuensi rekuren diantara pasien-pasien dengan perjangkitan yang frekuen
herpes genital lebih dari 6 kali dalam 1 tahun. (11)

Untuk keuntungan maksimal selama rekuren, terapi harus dimulai seawal


mungkin saat mulai rasa geli (tingling), rasa gatal dan rasa terbakar; atau seawal mungkin
setelah timbulnya vesikel. Efek samping dari pengobatan ini adalah mual, muntah, rash, sakit
kepala, kelelahan, tremor, dan sangat jarang yaitu kejang. (11)

Obat Obatan Antiviral


14

Asiklovir
Obat-obatan antivirus seperti Acyclovir diindikasikan dalam manajemen infeksi HSV primer
dan pada pasien dengan imunosupresif. Pengobatan antiviral dapat memperpendek dan
mencegah perjangkitan selama periode waktu seseorang mendapat pengobatan. Untuk
episode I herpes genital dapat diberikan Acyclovir 200 mg oral 5 kali sehari selama 7-10 hari.
Untuk rekuren dapat digunakan Acyclovir 200 mg oral 5 kali sehari selama 5 hari. Untuk
mencegah rekuren macam-macam usaha dilakukan dengan tujuan meningkatkan imunitas
seluler, misalnya pemberian lupidon G dalam 1 seri pengobatan. Sebagai tambahan, terapi
supresif sehari-hari untuk herpes simptomatik dapat menurunkan transmisi kepada pasangan.
Pengobatan antiviral dapat juga digunakan dalam dosis supresif, artinya diberikan tiap hari
untuk mensupresi perjangkitan. Terapi supresi ini dapat menurunkan 80-90% perjangkitan,
memotong perjangkitan simptomatis serta penyebaran virus. (2,3,11,14)

Acyclovir dapat digunakan dalam beberapa bentuk preparat antara lain krim untuk topikal,
powder untuk intravena, kapsul oral dan suspensi oral. Preparat topikal digunakan dengan
dioleskan pada daerah terinfeksi setiap 3 jam, 6 kali perhari, selama 7 hari.

Valasiklovir
Valasiklovir adalah suatu ester dari asiklovir yang secara cepat dan hampir lengkap berubah
menjadi asiklovir oleh enzim hepar dan meningkatkan bioavaibilitas asiklovir sampai
54%.oleh karena itu dosis oral 1000 mg valasiklovir menghasilkan kadar obat dalam darah
yang sama dengan asiklovir intravena. Valasiklovir 1000 mg telah dibandingkan asiklovir
200 mg 5 kali sehari selama 10 hari untuk terapi herpes genitalis episode awal. (3)

Famciclovir
Adalah jenis pensiklovir, suatu analog nukleosida yang efektif menghambat replikasi HSV-1
dan HSV-2. Sama dengan asiklovir, pensiklovir memerlukan timidin kinase virus untuk
fosforilase menjadi monofosfat dan sering terjadi resistensi silang dengan asiklovir. Waktu
paruh intrasel pensiklovir lebih panjang daripada asiklovir (>10 jam) sehingga memiliki
potensi pemberian dosis satu kali sehari. Absorbsi peroral 70% dan dimetabolisme dengan
cepat menjadi pensiklovir. Obat ini di metabolisme dengan baik. (3)

Herpes genitalis adalah kondisi umum terjadi yang dapat membuat penderitanya tertekan.
Pada penelitian in vitro yang dilakukan Plotkin (1972), Amstey dan Metcalf (1975), serta
penelitian in vivo oleh Friedrich dan Matsukawa (1975), povidone iodine terbukti merupakan
agen efektif melawan virus tersebut. Friedrich dan Matsukawa juga mendapatkan hasil
15

memuaskan secara klinis dari povidone iodine dalam larutan aqua untuk mengobati herpes
genital. (3)

Pusat pengawasan dan pencegahan penyakit/ CDC (Center For Disease Control and
Prevention), merekomendasikan penanganan supresif bagi herpes genital untuk orang yang
mengalami enam kali atau lebih outbreak per tahun. (3)

Beberapa ahli kandungan mengambil sikap partus dengan cara sectio caesaria bila pada saat
melahirkan diketahui ibu menderita infeksi ini. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum
ketuban pecah atau paling lambat 6 jam setelah ketuban pecah. Pemakaian asiklovir pada ibu
hamil tidak dianjurkan. (3)

Sejauh ini pilihan sectio caesaria itu cukup tinggi dan studi yang dilakukan menggarisbawahi
apakah penggunaan antiviral rutin efektif menurunkan herpes genital yang subklinis, namun
hingga studi tersebut selesai, tak ada rekomendasi yang dapat diberikan. (3)

Berikut adalah terapi yang diambil dari sebuah review artikel dari American Family
Physician, yang diterbitkan pada 15 Oktober 2005. (7)

(7)
Antiviral Agents for Treatment of Genital Herpes Infections
Cost
Drug Side effects Indication Oral dosage (generic)*
Acyclovir Nausea, vomiting, Initial 400 mg three times $63 to 93
(Zovirax) headache, diarrhea, infection daily for 7 to 10 ($45 to 65)
vertigo, myalgia, rash days
200 mg five times 56 to 80
daily for 7 to 10 (36 to 51)
days
Recurrence 400 mg three times 47 (32 to
s daily for 5 days 34)
200 mg five times 40 (25 to
daily for 5 days 28)
800 mg twice daily 60 (40 to
for 5 days 42)
Suppressiv 400 mg twice daily 187 (109)
e therapy
Famciclovir Headache, nausea, Initial 250 mg three times 92 to 132
(Famvir) vomiting, fatigue, infection daily for 7 to 10
paresthesias, pruritus days
16

Cost
Drug Side effects Indication Oral dosage (generic)*
Recurrence 105 mg twice daily 40
s for 5 days
Suppressiv 250 mg twice daily 263
e therapy
Valacyclovi Headache, nausea, Initial 1 g twice daily for 7 110 to 160
r (Valtrex) vomiting, dizziness infection to 10 days
Recurrence 500 mg twice daily 26 to 44
s for 3 to 5 days
1 g daily for 5 days 40
Suppressiv 500 mg daily 131
e therapy 1 g daily (in 239
patients with more
than nine episodes
per year)

• Episode Klinis Pertama

Kebayakan pasien yang menderita herpes genital untuk yang pertama kali membutuhkan
pemberian antiviral. Tujuan utama dari terapi inisial adalah untuk memperbaiki gejala
yang timbul dan mempercepat penyembuhan. Pada sebuah studi terhadap acyclovir
terapi yang diberikan dapat memperbaiki gejala dalam waktu 3 hari setelah obat
diberikan, mengurangi nyeri setelah 2 hari terapi, dan menghentikan viral shedding
setelah 7 hari terapi, memnyebabkan seluruh lesi menjadi krusta setelah 3 hari, dan
menyebabkan lesi sembuh setelah 6 hari. (7)

Rekomendasi WHO 2003 untuk terapi infeksi primer: (12)


• Acyclovir 200 mg po 5 x/hr, selama 7hr, Atau
• Acyclovir 400 mg po 3 x/hr, selama 7hr, atau
• Valaciclovir 1 gr po 2x/hr selama 7 hari

Rekomendasi CDC 2006 untuk terapi infeksi primer: (12)


• Acyclovir 200 mg po 5 x/hr, selama 7-10hr, atau
• Acyclovir 400 mg po 3 x/hr, selama 7-10hr, atau
• Valaciclovir 1 gr po 2x/hr selama 7-10 hari, atau
• Famciclovir 250 mg po 3x/hr selama 7-10 hr

• Terapi Episodik
17

Terapi episodik baik diberikan pada pasien dengan infeksi HSV yang memiliki rekurensi
infrequent dengan derajat serangan sedang. Tujuan utama terapi adalah untuk menurunkan gelaja
dan infektifitas selama rekurensi, dan bukannya untuk menurunkan frekuensi terjadinya
rekurensi. Agar efektif, terapi harus dimulai saat terjadi fase prodormal, atau dalam jangka waktu
24 jam setelah terbentuk lesi yang pertama. Terapi awal memberikan benefit yang signifikan
terhadap pasien. (7)

Valacyclovir tablet 1000 mg yang diberikan dua kali sehari sama efektifnya jika
dibandingkan dengan pemberian acyclovir tablet 200 mg lima kali sehari pada pasien
herpes genitalis rekuren. Sehingga valacyclovir dapat dibuktikan sebagai alternatif yang
berguna untuk menggantikan peggunaan acyclovir dikarenakan mudahnya dosis
pemberian dan hal hal lain yang menjadi pertimbangan pasien dalam menjalani terapi. (13)

Rekomendasi WHO 2003 untuk terapi episodik: (12)

• Acyclovir 200 mg po 5x/hr, 5 hr, atau 400 mg p.o 3 x/hr, 5 hr, atau 800 mg p.o
2 x/hr, 5 hr

• Valacyclovir 500 mg p.o 2 x/hr,5 hr, atau 1 gr p.o 1x/hr,5 hr

• Famciclovir 125 mg p.o 2x/hr,5 hr

Rekomendasi CDC 2006 untuk terapi episodik: (12)

• Acyclovir 400 mg p.o 3 x/hr, 5 hr, atau 800 mg 2 x/hr, 5 hr, atau 800 mg p.o 3
x/hr,3 hr

• Valacyclovir 500 mg p.o 2 x/hr 3 hr, atau 1 gr p.o 1x/hr, 5 hr

• Famciclovir 125 mg p.o 2 x/hr,5 hr, atau 1 gr p.o 2 x/hr,1 hr

• Terapi Supresif

Jika kekambuhan (rekuren) terjadi lebih 6-8 kali dalam setahun, maka perlu dilakukan terapi
supresif selama 6 bulan. Terapi Supresif dapat menurunkan kejadian rekurensi sebesar 70% -
80% pada pasien yang memilki rekurensi yang tinggi selama setahun. Pemberian acyclovir
jangka panjang sudah diteliti pada pasien dan terbukti aman bahkan pada terapi hingga 6 tahun
berturut turut. Selain acyclovir, pemberian Supresif terapi dengan menggunakan valacyclovir dan
18

famcyclovir sekali sehari juga terbukti aman digunakan selama satu tahun terapi. Jarang
ditemukan resistensi obat pada terapi pasien yang terganggu imunnya (immunocompromissed).
Terapi Supresif juga terbukti dapat menurunkan angka kejadian penularan pada pasien
heterosexual. (7,8,9)

Beberapa penelitian membandingkan antara terapi Supresif dengan menggunakan acyclovir,


valacyclovir, dan famcyclovir pada pasien herpes. Namun ternyata tidak ada yang terbukti lebih
superior antara obat antiviral yang satu dengan yang lain. Sehingga pemilihan obat pada pasien
akan sangat tergantung pada pertimbangan seperti biaya, dan pilihan dosis serta frekuensi
pemberian obat. (7)

Namun beberapa artikel lain mengemukakan bahwa valacyclovir mempunyai superoritas


dibandingkan dengan acyclovir dalam hal menurunkan angka kejadian transmisi, atau penularan
antara pasangan seksual pada terapi Supresif. Begitu juga dengan penggunaan Famsiclovir, lebih
direkomendasikan pada pasien rekuren dan pada terapi Supresif karena memiliki superoiritas jika
dibandingkan dengan acyclovir. (8,9)

Pada penelitian randomized controlled trial yang dipublikasi oleh Journal of American
Medical Association membuktikan bahwa terhadap famciclovir ditoleransi dengan baik.
Hanya keluhan berupa nyeri kepala saja yang sering dikeluhkan selama pengobatan
terhadap pasien yang menerima terapi Supresif selama 10 bulan. (6)

Terapi Supresif Rekomendasi WHO 2003 & CDC 2006: (12)

• Acyclovir 400 mg p.o 2 x/hr selama 6 th, atau

• Famciclovir 250 mg p.o 2 x/hr selama 1 th, atau

• Valacyclovir 500 mg p.o¬ 1x/hr selama 1 th, atau

• Valacyclovir 1 gr p.o 1x/hr selama 1 th

• Terapi Antiviral Intravena untuk Kasus Berat

Pada pasien dengan gejala herpes yang berat dan melibatkan bayak organ, sehingga
mengakibatkan pneumoninit, hepatitis, dan keterlibatan central nrvous system, maka terapi yang
diberikan adalah dengan cara intravena. Dosis antiviral intravena yang direkomendasikan adalah
5-10 mg/KgBB setiap 8 jam selama 2 sampai 7 hari pemberian, atau hingga tercapai perbaikan
19

klinis secara nyata. Setelah terjadi perbaikan klinis secara nyata, pengobatan dapat diganti
dengan acyclovir peroral hingga tercapai durasi 10 hari terapi. (7)

• Terapi Self Care

Perawatan yang dapat dilakukan di rumah antara lain sebagai berikut: (5)
• Menghindari paparan sinar matahari yag berlebihan yang bisa memicu iritasi
• Tidak menggunakan sabun antibakteri, deodorant, dan douches
• Menggunakan pakaian yang nyaman dan longgar

K. PENCEGAHAN HERPES GENITALIS

Hingga saat ini tidak ada satupun bahan yang efektif mencegah HSV. Kondom dapat
menurunkan transmisi penyakit, tetapi penularan masih dapat terjadi pada daerah yang tidak
tertutup kondom ketika terjadi ekskresi virus. Spermatisida yang berisi surfaktan nonoxynol-
9 menyebabkan HSV menjadi inaktif secara invitro. Di samping itu yang terbaik, jangan
melakukan kontak oral genital pada keadaan dimana ada gejala atau ditemukan herpes oral.
(3,5)

Secara ringkas ada 5 langkah utama untuk pencegahan herpes genital yaitu: (3,5)

1. Mendidik seseorang yang berisiko tinggi untuk mendapatkan herpes genitalis dan
PMS lainnya untuk mengurangi transmisi penularan dengan cara safe sex, yaitu
memakai kondom jika berhubungan.

2. Mendeteksi kasus yang tidak diterapi, baik simtomatik atau asimptomatik.

3. Mendiagnosis, konsul dan mengobati individu yang terinfeksi dan follow up dengan
tepat.

4. Evaluasi, konsul dan mengobati pasangan seksual dari individu yang terinfeksi.

5. Skrining disertai diagnosis dini, konseling dan pengobatan sangat berperan dalam
pencegahan.
20

L. PROGNOSIS HERPES GENITALIS

Kematian oleh infeksi HSV jarang terjadi. Infeksi inisial dini yang segera diobati mempunyai
prognosis lebih baik, sedangkan infeksi rekuren hanya dapat dibatasi frekuensi kambuhnya.
Pada orang dengan gangguan imunitas, misalnya penyakit-penyakit dengan tumor di sistem
retikuloendotelial, pengobatan dengan imunosupresan yang lama, menyebabkan infeksi ini
dapat menyebar ke alat-alat dalam dan fatal. Prognosis akan lebih baik seiring dengan
meningkatnya usia seperti pada orang dewasa. Terapi antivirus efektif menurunkan
manifestasi klinis herpes genitalis. (3,11)

BAB III
19
KESIMPULAN

Herpes genital merupakan penyakit infeksi akut pada genital dengan gambaran khas berupa
vesikel berkelompok pada dasar eritematosa, dan cenderung bersifat rekuren. Umumnya
disebabkan oleh herpes simpleks virus tipe 2 (HSV-2), tetapi sebagian kecil dapat pula oleh
tipe 1.

Perjalanan Penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan. Umumnya


kelainan klinis/keluhan utama adalah timbulnya sekumpulan vesikel pada kulit atau mukosa
dengan rasa terbakar dan gatal pada tempat lesi, kadang-kadang disertai gejala konstitusi
seperti malaise, demam, dan nyeri otot.

Diagnosis herpes genital secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas
berupa vesikel berkelompok dengan dasar eritem dan bersifat rekuren. Diagnosis dapat
ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik jika gejalanya khas dan pemeriksaan
laboratorium.

Pengobatan dari herpes genital secara umum bisa dengan menjaga kebersihan
lokal, menghindari trauma atau faktor pencetus. Adapun obat-obat yang dapat menangani
herpes genital adalah asiklovir, valasiklovir, famsiklovir.

Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia seperti pada orang
dewasa dan dipengaruhi juga oleh waktu dimulainya pengobatan.

20