Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PASCA PANEN PISANG


( Musa Paradisiaca, Linn )

Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Pasca Panen

Disusun Oleh:

LISTIN FITRIANAH
(08.03.1.1.1.00010)

PRODI AGROEKOTEKNOOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO
2010
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pisang merupakan buah yang dikenal paling awal sebagai bahan makanan yang dapat
dikonsumsi segar maupun diolah lebih lanjut, mengenyangkan dan dapat dinikmati oleh bayi
sampai manula. Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin,
mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung
pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol
dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan tradisional
Indonesia.

Potensi buah pisang sebagai sumber pangan, dengan mengambil sudut peninjauan dari aspek
penanganan pascapanen dan teknik pengolahan yang bisa dilakukan masyarakat dalam upaya
menganekaragamkan sumber pangan kita atau sebagai usaha bisnis rumahan melalui pengolahan.
Dengan memandang buah pisang sebagai sumber pangan, maka penanganan di sentra produksi
pisang tidak hanya sekedar ‘tebang dan jual’ tetapi berkembang menjadi sentra industri yang
mengolah buah pisang menjadi tepung pisang sebagai bahan baku industri, dan aneka produk
olahan pisang lainnya.

Peluang pengembangan agribisnis komoditas pisang masih terbuka luas. Untuk keberhasilan
usahatani pisang, selain penerapan teknologi, penggunaan varietas unggul dan perbaikan varietas
harus dilaksanakan. Varietas unggul yang dimaksud adalah varietas yang toleran atau tahan
terhadap hama dan penyakit penting pisang, mampu berproduksi tinggi serta mempunyai kualitas
buah yang bagus dan disukai masyarakat luas.

Di Indonesia, pisang menduduki tempat pertama diantara jenis buah-buahan lainnya baik dari
segi sebaran, luas pertanamannya maupun dari segi produksinya. Total produksi pisang
Indonesia tahun 2006 sekitar 5.037.472 ton dan Lampung menyumbang 535.732 ton, atau 10,6%
dari produksi pisang nasional. Masyarakat dapat menerapkan cara penanganan buah dengan baik
dan menggunakannya sebagai bahan baku produk olahan, sekaligus sebagai buah meja untuk
memenuhi vitamin dan mineral. Dengan sentuhan teknologi, aneka produk dari buah pisang
dapat disajikan dengan cepat dan mudah serta dapat menjadi usaha yang menguntungkan.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa saja jenis-jenis pisang yang di konsumsi masyarakat ?

b. Bagaimana panen dan pasca panen pada tanaman pisang ?

c. Bagaimana proses penyeratan pada tanaman pisang?

1.3 Tujuan

a. Mengetahui jenis-jenis pisang yang di konsumsi masyarakat .

b. Mengetahui panen dan pasca panen pada tanaman pisang .

c. Mengetahui proses penyeratan pada tanaman pisang.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Jenis-jenis Pisang yang yang dikonsumsi

Pisang Ambon Kuning

Pisang Ambon Kuning cocok untuk hidangan buah segar, memiliki ukuran buah lebih besar
daripada pisang ambon lainnya dengan kulit buah tidak terlalu tebal dengan warna kuning muda.
Daging buah yang sudah matang berwarna putih kemerahan. Rasa daging buah pulen, manis,
dan aromanya harum. Dalam satu tandan terdapat 6-9 sisir (satu sisir berisi 15-20 buah) dengan
berat per tandan 18-20 kg.

Pisang Ambon Lumut

Pisang Ambon Lumut cocok untuk hidangan buah segar. Kulit buah berwarna hijau walaupun
sudah matang dan lebih tebal daripada kulit buah pisang ambon kuning. Daging buah hampir
sama dengan pisang ambon kuning hanya sedikit lebih putih. Daging buah agak keras, aroma
lebih harum dan rasanya lebih manis. Dalam satu tandan terdapat 7-12 sisir dengan berat 15 – 18
kg..

Pisang Ambon Putih

Pisang Ambon Putih cocok untuk hidangan buah segar. Ukuran buah lebih besar daripada
pisang ambon lumut. Kulit buah yang sudah matang berwarna kuning keputih-putihan. Daging
buah berwarna puith kekuningan dengan rasa agak asam, dan beraroma harum. Dalam satu
tandan terdapat 10-14 sisir dengan berat 15-25 kg.

Pisang Barangan

Pisang Barangan cocok untuk hidangan buah segar. Pisang Barangan terdiri dari 2 jenis, yaitu
pisang barang yang berwarna kemerah-merahan dan yang berwarna kuning. Pisang Barangan
yang berwarna kemerah-merahan memiliki daging buah yang lebih besar dan rasa yang lebih
enak dan aroma yang lebih harum daripada yang berwarna kuning. Dalam satu tandan terdapat
5-12 sisir degang berat 9-20 kg.

Pisang Raja

Pisang Raja cocok untuk hidangan buah segar maupun olahan. Kulit buah tebal dan berwarna
kuning berbintik hitam pada buah yang telah masak. Ukuran buah cukup besar dengan diameter
3,2 cm dan panjang 12-18 cm. Daging buah yang telah matang berwarna kuning kemerahan bila
dimakan terasa legit dan manis dengan aroma harum. Dalam satu tandan terdapat 6-9 sisir
(setiap sisir berisi 14-16 buah) dengan berat per tandan 12-16 kg. Bunga muncul 14 bulan sejak
anakan dan buah akan masak 5,5 bulan kemudian.
Pisang Kepok

Pisang Kepok cocok untuk makanan olahan. Jenis pisang kepok yang lebih dikenal adalah
pisang kepok putih dan pisang kepok kuning dengan warna daging buah sama seperti namanya.
Daging buah bertekstur agak keras dengan aroma yag kurang harum. Kulit buah sangat tebal dan
berwarna hiaju kekuningan pada buah yang telah masak. Pisang kepok kuning rasanya lebih enak
daripada pisang kepok putih. Dalam satu tandan dapat mencapai 10-16 sisir (satu sisir berisi 20
buah pisang) dengan berat per tandan 14-22 kg.

Pisang Tanduk

Pisang Tanduk cocok untuk makanan olahan. Buahnya berukuran besar dengan panjang lebih
dari 20 cm. Kulit buah tebal dan berwarna kuning kemerahan berbintik hitam. Daging buah
yang sudah matang berwarna putih kemerahan. Dalam satu tandan terdapat hanya sekitar 1-3
sisir (satu sisir terdiri dari 10-15 buah) dengan berat per tandan 7-10 kg.

Pisang Badak

Kulit buah agak tebal, berwarna kuning berbintik hitam. Daging buah berwarna puith
kekuningan. Rasa buah manis agak asam dengan aroma kurang harum. Dalam satu tandan
terdapat 7-9 sisir dengan berat per tandan mencapai 14 – 18 kg.

Pisang Nangka

Pisang Nangka cocok untuk makanan olahan. Buah berukuran agak panjang, sekitar 15 cm.
Kulit buah agak tebal dan berwarna hijau walaupun sudah matang (buah yang sangat masak
berwarna hijau kekuningan). Daging buah berwarna kuning kemerahan dengan rasa manis agak
asam dan beraroma harum. Dalam satu tandan terdapat 7-8 sisir dengan berat tandan 11-14 kg.

Pisang Mas

Pisang Mas cocok untuk hidangan buah segar. Buah berukuran kecil-kecil dengan diameter 3-4
cm. Kulit buah tipis dengan warna kuning cerah pada buah yang masak. Daging buah lunak,
rasanya sangat manis dan aromanya harum. Dalam satu tandan terdapat 5-9 sisir (satu sisir dapat
mencapai 18 buah) dengan berat per tandan 8-12 kg.

Pisang Susu

Pisang Susu cocok untuk hidangan buah segar. Ukuran buah kecil hampir sama dengan pisang
mas. Kulit buah tipis, berwarna kuning berbintik hitam. Daging buah putih kekuningan. Rasa
buah manis, lunak dan berarom harum. Dalam satu tandan terdapat sekitar 8 sisir (satu sisir
berisi 12-16 buah) dengan bertat per tandan 12-16 kg.

Pisang Cavendish
Pisang Cavendish cocok untuk hidangan buah segar. Dari 36 subkultivar pisang cavendish
hanya beberapa subkultivar yang telah diusahakan sebagai tanaman perkebunan, yaitu:

• Grain Naine, berasal dari Perancis. Bentuk buah silindris dari atas ke bawah membentuk
kerucut. Setiap tandap terdiri dari 12 sisir(satu sisir terdiri dari 24-36 buah) dengan
bobot 45-65 kg. Jarak antar sisir cukup longgar sehingga jumlah buah yang salah bentuk
tidak banyak.

• Petit Naine, berasal dari Perancis. Buah berukuran kecil dan cukup ringan. Rasanya
kurang manis. Jarak antar sisir cukup dekat sehingga banyak buah yang salah bentuk.

• Omalag, berasal dari Filipina. Buah di tandan bagian atas berukuran relatif besar
selanjutnya makin ke bawah makin mengecil. Jarak antar sisir berdekatan.

• William, berasal dari Australia. Dibedakan menjadi dua, yaitu william tall dan william
small. Ukuran buah relatif seragam dengan kulit buah tipis berwarna kuning kehijauan
ketika matang. Jarak antar sisir cukup jauh. Bobot buah per tandan 35-50 kg.

• Valery, berasal dari Amerika Tengah. Bentuk buah cukup bagus karena jarak antar sisir
relatif jauh. Setiap tandan terdiri dari 14-20 sisir dengan bobot per tandan 35-50 kg.

2.2 Panen dan Pasca Panen

Umur dan waktu panen

Buah pisang yang akan dipanen disesuaikan dengan tujuannya. Untuk tujuan konsumsi
lokal atau keluarga, panen dilakukan setelah buah tua atau bahkan sudah ada yang masak di
pohon. Sedangkan untuk ekspor, pisang dipanen tidak terlalu tua (derajat ketuaan 75-85%)),
tetapi sudah masak fisiologis (kadar patinya sudah maksimum). Pada keadaan ini kualitas buah
cukup baik dan mempunyai daya simpan cukup lama.
Waktu panen buah pisang dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan menghitung
jumlah hari dari bunga mekar sampai siap dipanen atau dengan melihat bentuk buah. Buah yang
tua biasanya sudut buah tumpul dan membulat, daun bendera mulai mengering, bekas putik
bunga mudah patah.

Cara Panen
Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang diambil
adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan bersih waktu
memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik supaya getah dari bekas
potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah. Dengan posisi ini buah pisang terhindar dari
luka yang dapat diakibatkan oleh pergesekan buah dengan tanah.
Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali. Jika
tersedia tenaga kerja, batang pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari permukaan
tanah. Penyisaan batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tunas.

Periode Panen
Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali tergantung
pengaturan jumlah tanaman produktif.

Kriteria kematangan pisang :

Tingkat Warna Kulit Pati Gula Keterangan


Kematangan Buah (%) (%)
1 Hijau 20 0,5 Keras
2 Hijau Mulai Kuning 18 2,5 -
3 Hijau lebih banyak dari 16 4,5 -
Kuning
4 Kuning lebih banyak 13 7,5 -
dari Hijau
5 Kuning lebih banyak 7 13,5 -
namun ujung buah
masih hijau
6 Seluruhnya kuning 2,5 18,0 Mudah dikupas
7 Kuning sedikit bintik 1,5 19,0 Masak penuh aroma
coklat
8 Kuning dengan banyak 1,0 19,0 Lewat masak, daging
bintik coklat buah gelap, aroma
tinggi sekali
Sumber: Murtiningsih, dkk. (1990).

Penanganan Pasca Panen:

 Pemotongan sisir pisang dari tandannya

 Pencucian sisir dari kotoran dan getah serta dilakukan seleksi buah

 Pencucian sisir pisang yang sudah terseleksi dalam air bersih mengalir

 Penyusunan sisir pada rak terbuka lalu dikeringanginkan dengan mengalirkan udara
kering pada sisir-sisir pisang tersebut

 Pengemasan sisir pisang pada kotak karton per 15 kg (3-5 sisir ukuran besar atau 6-9 sisir
ukuran kecil)
 Penyemprotan fungisida Al2(SO4)3 (120 ml/15 kg pisang)

 Pengepakan pada container

Secara konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk mengurangi
penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan kendaraan terbuka/tertutup.
Untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan dari tandannya kemudian dipilah-pilah
berdasarkan ukurannya. Pengepakan dilakukan dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah
pisang dimasukkan ke dos dengan posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Sebaiknya luka
potongan di ujung sisir buah pisang disucihamakan untuk menghindari pembusukan.

Standar Mutu Pisang berdasarkan RSNI-2005


1. Utuh
2. Kenyal
3. Segar, tidak busuk atau rusak
4. Bersih, bebas dari benda-benda asing yang berpengaruh
terhadap kaulitas buah 5. Bebas memar akibat tergores atau terbentur
6. Bebas dari hama dan/atau penyakit yang mempengaruhi penampilan umum buah

7. Bila dalam bentuk sisiran, tidak ada buah dempet dan bebas dari cendawan dan kering
8. Pistil (bekas putik bunga) sudah lepas

9. Bentuk buah sempurna sesuai dengan karakter jenis buah

10. Bebas dari kerusakan akibat temperature rendah

11. Bebas dari kerusakan akibat kelembaban

12. Bebas dari aroma dan rasa asing

Buah pisang selain banyak dikonsumsi sebagai buah meja, juga dapat dibuat berbagai
produk olahan seperti, tepung bayi, sale, keripik, jam, tape, konsentrat dan lain-lain. Jenis pisang
yang banyak digunakan untuk produk olahan adalah pisang janten, kepok, tanduk, nangka, siem
dan lain - lain. Contohnya keripik pisang yang hasil olahan dari lampung.

Pengemasan
Untuk pisang tropis, kardus karton yang digunakan berukuran 18 kg atau 12 kg. Kardus
dapat dibagi menjadi dua ruang atau dibiarkan tanpa pembagian ruang. Sebelum pisang
dimasukkan, alasi/lapisi bagian bawah dan sisi dalam kardus dengan lembaran plastik/kantung
plastik. Setelah pisang disusun tutup pisang dengan plastik tersebut. Dapat saja kelompok
(cluster) pisang dibungkus dengan plastik lembaran/kantung plastik sebelum dimasukkan ke
dalam kardus karton.

Pada bagian luar dari kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain:
a) Produksi Indonesia
b) Nama kultivar pisang
c) Nama perusahaan/ekspotir
d) Berat bersih
e) Berat kotor
f) Identitas pembeli
g) Tanggal panen
h) Saran suhu penyimpanan/pengangkutan

Usaha pemberdayaan terhadap hasil yang akan di konsumsi sesuai dengan kegunaan dan manfaat
produksi yang di hasilkan antara lain :
Daun
Bahan kertas tissue, Daun pisang abaca di buat pupuk kompos.
Batang (pelepah)
Kertas mata uang (misal Yen, Dollar AS, dll) , Bahan tekstil, Gordyn, kain jok, Tali kapal,
Pembungkus kabel, Popok bayi, Pembalut wanita,Bahan pembungkus (kantung) tea cup,
Disposable napkin(tissue pada toilet)
Pelepah dalam
Pelepah dalam pisang abaca di buat pupuk kompos

3.3 Penyeratan
Teknis penebangan hendaknya dilakukan dengan pisau tajam, untuk menjaga agar
tunggul lekas kering. Setelah di tebang pelepah dilepaskan. Kualitas serat pisang abaca
ditentukan oleh letak pelepah pada batang semu. Pelepah paling luar seratnya kasar, tetapi
seratnya kuat. Makin ke dalam makin serat tersebut makin halus, warnanya makin putih tetapi
kekuatan makin berkurang.
Proses Perkebunan Serat :
a. Pemotongan batang di bagi tiga bagian untuk memudahkan perseratan panjang
potongan batang 1,20 .Masing-masing potongan dibagi 3 tegak untuk mempermudah
pengupasan.
b. Penyeratan dilakukan pada saat pelepah pisang dalam keadaan basah agar lebih
mudah di serat
c. Lembaran-lembaran pelepah kemudian disisir sampai menjadi serat yang masih
basah, kemudian serat dicuci sebelum di keringkan (di jemur)
d. Serat siap di pasarkan di bentuk bantalan serat umumnya dengan berat 125 Kg.
Sedang pengambilan serat dapat di lakukan oleh petani plasma atau oleh perusahaan inti.
Pengambilan serat pisang abaca yang dilakukan oleh petani plasma dapat ditempuh dengan dua
cara, yaitu secara manual dan menggunakan dekortikator semi otomatis. Untuk pengambilan
serat oleh perusahaan inti, dilakukan secara lebih modern dalam bentuk suatu pabrik. Adapun
perkerjaan pengambilan serat oleh petani plasma di uraikan sebagai berikut :
Penyeratan dengan tangan
a.1. Penyeratan Dengan Pisau
Prinsip kerja pengambilan serat pisang abaca dengan cara ini adalah menghancurkan
daging pelepah yang terbawa pada tuxies
Tahap pertama adalah menyayat pelepah-pelepah secara membujur selebar 5 x 7,5 cm.
Setelah itu lapisan kulit yang mengandung serat di pisahkan dari bagian dalam (yang tidak
mengandung serat). Sayatan yang mengandung serat ini dinamakan Tuxies.
Pengambilan serat secara manual ini hanya memerlukan peralatan yang sederhana seperti
pisau penyerat dan meja. Pisau penyerat di buat bergigi kecil tetapi tidak tajam, dengan ukuran
gigi sekitar 15 gigi per cm dan lebar ujung pisau 10 cm.
Dengan alat ini tuxies di letakkan di atas meja, dimana sisi luar menghadap atas. Setelah
itu pisau penyerat di tekan oleh satu tangan, sedangkan ujung tuxies di tarik secara konstan,
sehingga seratnya terpisah dari daging pelepah. Semakin keras penekanan pisau penyerat, maka
semakin bersih serat yang dihasilkan. Dengan cara ini setiap orang (petani plasma) akan mampu
menghasilkan sebanyak 10 x 12 kg per hari.
a.2. Penyeratan Dengan Alat Klem
Cara lain yang lebih praktis adalah dengan menggunakan alat sederhana yang bekerja
seperti alat klem. Dengan alat ini kemungkinan serat putus sebagaimana terjadi pada alat pisau
dapat dperkecil. Adapun alat yang diperlukan adalah Klem yang memiliki pisau bergerigi yang
diletakkan di atas meja.
Tuxies di masukkan di bawah pisau penyerat, kemudian pisau di tekan dengan memutar
skrup diatasnya. Setelah tuxies tertekan kemudian bagian ujungnya di tarik oelh tangan sehingga
serat terpisah. Dengan cara ini, berat tekanan pisau dapat diatur, sehingga rendemen serat dapat
di kontrol dan mutu serat dapat lebih seragam.

Penyeratan dengan Dekorikator


Mesin dikorikator terdiri dari 2 buah drum dengan mata pisau penyerat dari besi tahan
karat. Drum tersebut berputar dengan menggunakan tenaga dari motor berkekuatan sekitar 100
PK. Kapasitas penyeratan dari suatu mesin ini adalah sekitar 180 kg serat per jam atau sekitar 6
ton bahan tanaman segar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
 Buah pisang selain banyak dikonsumsi sebagai buah meja, juga dapat dibuat berbagai
produk olahan seperti, tepung bayi, sale, keripik, jam, tape, konsentrat dan juga makanan
kemasan lainnya.
 Penanganan pasca panen pisang yang benar dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas
mutu tanaman pisang.Pda penyeratan pada tanaman pisang menghasilkan barang barang
industry.
 Waktu panen buah pisang dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan menghitung
jumlah hari dari bunga mekar sampai siap dipanen atau dengan melihat bentuk buah.

3.2 Saran
 Sebaiknya dilakukan penanganan khusus dalam sebelum dan setelah panen tanaman
pisang
 Perlakuan budidaya yang benar dapat meningkatkan harga jual pisang
DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Prospek dan Arah


Pengembangan Agribisnis Pisang (2005-2010). Departemen Pertanian. 36 hal.

Hendro Soenarjono. 1998. Teknik Memanen Buah Pisang agar


Berkualitas Baik.

Rismunandar. 1990. Bertanam Pisang. C.V. Sinar Baru. Bandung