Anda di halaman 1dari 14

I.

KEESAAN
( AHDIYAH )

1. Hakikat setiap kata adalah Alif, Hakikat daripada Alif adalah Titik, Hakikat daripada titik adalah
Tinta, Hakikat daripada tinta adalah Asap, Hakikat daripada Asap adalah Benih biji-bijian, Hakikat
daripada Benih biji-bijian adalah Unsur-unsur (hawa, cuaca) dan Hakikat daripada Unsur adalah
Cahaya Tuhan.

Kegelapan adalah cahaya daripada Dzaat (zat)


Dalam kegelapan adalah air dari kehidupan
Jika engkau memandang Tinta, Huruf-huruf menghilang
Jika engkau memandang Huruf-huruf, Tinta menghilang

2. Zat jelas kelihatan dengan dua kesempurnaan-Nya, yakni zat menyatakan diri dalam dirimu
dengan Jamal (keindahan-Nya) dan Jalal (keagungan-Nya). Jika Dia tidak menyatakan diri dalam
dirimu, dimana lagi Dia akan menyatakan dirinnya ? Maulana berkata :

Jika engkau hasrat akan pemunculan-Nya, pandanglah wajah manusia

3. Zat dalam tahap Ghaib tidak menyadari sesuatu, maka siapakah sang pencipta. Apapun yang
menyatakan diri adalah Shifat. Keberadaan menjadi disadari karena akibat daripada sifat-sifat
kehidupan. Pengetahuan menjadi ilmu gerak oleh sifat Pengetahuan / mengetahui. Apapun yang ada
dari Bik dan Jahat adalah akibat daripada sifat, bukan daripada Dzaat. Bagaimana dunia ini menjadi
ada dari sifat ? Kemampuan-kemampuan dari sifat ingin menyatakan diri misalnya :
Kemampuan keberadaaan menyatakan diri menjadi kehidupan, kemampuan kehendak menjadi
keinginan, kekuasaan menjadi kekuatan, dan begitu seterusnya. Dimanapun engaku menemukan
kehidupan, itu adalah akibat daripada keberadaaan. Dimanapun engkau menemukan intelek, itu
adalah akibat dari pengetahuan.

Keberadaan mendapat bentuk Kehidupan


Kehendak mendapat bentuk Akal
Kekuasaan mendapat bentuk Otak
Pendengaran mendapat bentuk Telinga
Penglihatan mendapat bentuk Mata
Berbicara mendapat bentuk Lidah

4. Setiap Objek adalah bentuk daripada sifat, seluruh alam terdiri dari bentuk-bentuk sifat
5. Keduanya, Keberadaan Yang Mesti dan A’yaan (kemampuan) tersembunyi dalam Ghaib. Yang
jelas kelihatan adalah pernyataan diri dari Zat Mutlak dalam bentuk A’yaan. Keduanya Zat Mutlak dan
A’yaan adalah tersembunyi. Apapun yang menyatakan diri adalah pemunculan dan tamsilan-tamsilan.
Seorang Salik bukan keberadaan dan bukan A’yaan , tapi hanya akibat-akibatnya.
6. Cinta adalah Rahasia daripada Dzaat dalam intisasri. Dia tidak dibukakan daripada seseorang
sekalipun dari Nabi dan Auliya. Pengetahuan yang paling sempurna tentang Dia adalah Kekaguman.
Dia tidak terkandung sekalipun dalam Wahyu maupun pengetahuan. Dia tidak bisa masuk dalam
lingkungan keindahan. Apa pun oleh para Pecinta dan kaum Gnostisi (Filosof) dikatakan mengenai
mereka tak lebih dan tak kurang hanyalah pemunculan-pemunculan dan tamsilan-tamsilan. Seorang
yang melihat refleksi dalam matahari dalam air, tak bisa dikatakan telah melihat matahari.
Pengetahuna tentang Diri-Nya adalah pada Diri-Nya dan tidak pada seorang lain pun.

LAA YA’RIFULLAAHU GHAIRALLAAHU

7. Tahap dalam mana keberadaan tidak dinyatkaan pada dirinya sendiri, dimana GHAIBULGHAIB
MAN QATUL ISYAARAT dan seterusnya. Tahap dimana dinyatakan pada Diri-Nya sendiri dinamakan
AHDIYAAH, Keterbatasan Pertama, Kenyataan Muhammad, dan seterusnya.Tahap dalam mana Dia
dinyatakan kepada Diri-Nya sendiri dan kepada yang lain secara terinci dinamakan Keterbatasan
Kedua. Tahap dimana Dia dinyatakan pada Diri-Nya dan kepada yang lain secara terinci didalam
pengetahuan adalah Realitas daripada umat manusia- Nafas Suci. Tahap-tahap dalam mana Dia
begitu dinyatakan secara terinci pada Zahir-Nya adalah Alam Arwah (alam roh) Alam Mitsal (dunia
tamsilan) dan Alam Ajsam (dunia badan), dan ini yang membentuk “Yang diciptakan”.

1
8. Apabila Keberadaan (Wujud) adalah dengan sendirinya, Dia hanya hadir bagi Diri-Nya sendiri dan
hanya bisa mengamati Diri-Nya sendiri. Tidak ada yang tidak ada baginya. Dia pengtahuan yang tidak
bertentangan dengan ketidak tahuan. Dia menyadari Aku-Nya yang Abadi. Keraguan dalam
keberadaan-Nya adalah mustahil. Dia adalah kesempurnaan itu sendiri. Ketidak sempurnaan hanya
terikat pada bentuk. Dia adalah Abadi dan tak berubah dan senantiasa ada. Kesempurnaan dan
perubahan-penuh dan kelenyapan melekat pada bentuk.

Huu (Dia) yang dalam ketidak hadiran bagi diri-Nya sendiri menjadi “Aku” menghadirkan diri-Nya
sendiri. Adalah membuang-buang waktu Meditasi, mengikuti peniadaan, sebab adalah
meniadakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Adalah seperti menghidupkan kuda yang mati
dalam Imajinasi (hayalan) dan mencampakkannya.

9. Dzaat itu adlah mutlak, dia tidak dibatasi oleh sesuatu bentuk sebab Dia tidak mempunyai bentuk.
Bila Dia mempunyai bentuk maka itu adlah bentuk Mutlak. Seperti kata sya’ir Akbar Muhhyyuddin Ibnu
‘Ali Ul Arabi, kepada mana semua bentuk-bentuk terbatas bergantung.

KHALAQAL INSAANU ‘ALAA SHUURATIRRAHMAANI

( Dia telah menciptakan manusia dalam bentuk (imaji) dari Rahman (Tuhan)

Kayu mempunyai bentuk sendiri. Bentuk-bentuk lain diambil dari situ, tapi bentuk-bentuk ini tidak ada
sangkut pautnya dengan bentuk kayu dalam mutlaknya. Tapi bila Dia menginginkan, Dia mengambil
suatu betuk dalam pemunculan-pemunculan, kata Rasul :

“Aku melihat Tuhan ku dalam bentuk pemuda kelimis”

Ini adalah tamsilan, kalau tidak, orang bisa sesat. Tapi bagaimanapun bukanlah bentuk mutlak yang
terlihat dalam tamsilan.
10. Ide keberadaan dari Syai’ (sesuatu) adalah lebih dahulu daripada ide Syai’ itus sendiri. Bila Syai’
tidak ada maka terjadilah Adum (ketidak adaan). Suatu ketiadaan tidak bisa mendahului keberadaan.
Ini adalah prinsip pertama. Bila engkau mengatakan “Zaid berdiri” ide dari tokoh Zaid mendahului
berdirinya, kecuali keberadaannya. Semua sifat-sifat yang lain dari Tuhan dating debelakang Dzat-
Nya. Maka keberadaan itu sendiri adalah Dzat. Kaum Mutakallimin mengatakan Dzat adalah
mendahului keberadaan.
11. Yang paling nyata ada hanyalah Tuhan. Adanya benda-benda adalah karena Cahaya tuhan. Bila
engkau mati, pertama-tama engkau merasakan Cahaya Tuhan, dan kemudian adanya bentuk yang
dijadikan oleh cahaya itu. Bentuk adalah Adum (tidak ada sesungguhnya) sedang gula dan lilin dalam
missal adalah keberadaan rupa luar. Dengan begitu keberadaan dan sifat-sifat Tuhan hanya
dijelmakan. Jika engkau melihat dirimu sendiri dan objek-objek, engkau akan mengamati keberadaan
Tuhan.

Penglihatan akan dirimu sendiri adalah penglihatan akan Tuhan


MAN ‘ARAFA NAFSAHU FAQAD ‘ARAFA RABBAHU

Dia yang mengenal Nafs (dirinya, dia mengenal Tuhannya, merupakan keghaiban dari proses ini.
Sebab penglihatan akan dirimu adalah penglihatan akan Nafs-mu sendiri yang adalah suatu
kekosongan, dan penglihatan akan Haqq adalah penglihatan akan keber-Adaan-Nya.

12. Ser (kesadaran Kosmik) adalah Haqiqat Muhammadi (Realitas Muhammad) atas mana adalah
yang tak terbatas. “Aku” petunjuk ke arah yang tak terbatas.
13. Dalam tahap Ghaibul Huyyuuyah (ke Dia-an yang tak terlihat) atau Majhuullu’nah (yang tak
dikenal) Dzat tidak bisa ditujukan sebagai sesutau. Dia tak mempunyai tindakan (perbuatan). Lalu dari
apa-apa dunia muncul dalam penjelmaan ? Sifat-sifat telah menyatakan dunia dan bukan Dzat.
Kehidupan dunia adalah pengaruh (Atsar) dari sifat-sifat kehidupan. Pengetahuan menyatakan diri
dalam dunia adalah pengaruh (akibat) dari difat pengetahuan dari Dzat, sama dengan kehendak,
kekuasaan, penglihatan, berkata-kata adalah pengaruh dari difat yang aktif. Karena itu baik dan jahat
adalah karena sifat bukan karena Dzat.
14. Apabila Dzat tak terbatas itu mempunyai pengetahuan akan ketak terbatasan-Nya, maka Dzat
menjadi terbatas oleh pengetahuan. Jika Dia tidak mempunyai pengetahuan semacam itu, maka
pengetahuannya mejadi tidak sempurna. Jika pengetahuan / yang diketahui itu tak terbatas lalu
bagaimana pengetahuan bisa meliputinya?

2
Dzat yang mutlak mempunyai pengetahuan yang mutlak dalam tahap ini, dalam mana hubungannya
dengan pengetahuan semacam itu adalah juga mutlak, dan mengetahui diri-Nya sendiri adalah
sebagai mutlak. Keterbatasan tidak menemukan suatu bentuk disini. Dzat yang mutlak adalah
terbatasa oleh pengetahuan mutlak dalam tahap yang dinamakan “Majhuullu’nah” TAk ada jangkauan
bagi yang mengetahui dan diketahui dalam tahap itu. Bila Dia turun dari tahap itu maka dari yang
diketahui itu muncul, dan itu adalah keterbatasan pertama. Jadi dalam tahap mutlak, pengetahuan dan
sifat-sifat lain melenyap kedalam Dzat, dan Dzat tidak dibatasi oleh pengetahuan. Dalam tahap ini
maka dia adalah Bathin bagi dirinya sendiri.
Faktanya adalah bahwa ada Zahir dan ada Bathin, yakni yang terbats dan yang mutlak. Yang satu
jangan dikacaukan dengan yang lain. Yang terbatas mempunyai keterbtasannya. Tetesan yang pergi
ke lau menyadari akan Ketetesannya dan juga akan kesamuderaannya. Suatu macam pengetahuan
tidak bertentangan dengan yang lain. Dia menyadari akan kekecilan Finalitinya dan keterbatasan akan
infinalitinya. Apabila Dzat dan pengetahuan menjadi satu maka tak ada yang melingkupi dan
dilingkupi. Yang menunjukkan kepada sesuatu yang lain. Disini Dzat dan Sifat menjadi satu (adalah
satu).
15. Realitas daripada Syai’ (benda, sesuatu) adalah bebas dari sifat-sifat dan tak terlukiskan. Zaid
mempunyai sifat hidup, berkehendak, berkuasa, melihat, mendengar, dst. Bila dia menanggalkan sifat-
sifat ini dia tidak mengetahui apakah dia. Bila dia terus menyelidiki ini dalam waktu yang lama, maka
dia akan menjadi gila. Bila dalam kegilaan itu dia mengerti sesuatu, dia hanya mengerti bahwa dia
tidak mengerti. Sebab itu mencoba untuk mengerti realitas daripada Dzat dilarang.

WAYAHIDZKMULLAAHU NAFSAHU
Dia memperingatkan kamu terhadap diri-Nya.
Pengetahuan itu sendiri adalah dalam keheranan dan realitasnya. Sebab dia larut ke dalamnya.
Dalam taraf Dzat, pengetahuan menjadi realitas dirinya sendiri. Dan kecuali kalau/ hingga ada
deferensiasi (perbedaaan) sari padanya, dia tak mengetahui Dzat. Tapi itu bukan suatu kekurangan
pada pengetahuan bahwa dia tidak memahami Dzat. Jika pengetahuan berada dalam “Pemusnahan”,
pencariannya juga berada dalam pemusnahan, tak ada pengaruhnya lagi. Disini penemuan bukanlah
penemuan. Puncak dari pengetahuan seseorang tentang Dia adalah Non pengetahuan dan
keheranan.
Dzun-Nun Al Misri berkata, “Pengetahuan dalam Dzat Tuhan adalah ketidak tahuan”. Tak ada
pandangan pernah melihat Tajalli dari Zat. Jika pernah ia mencapai Tajalli ini, maka dia sendiri telah
punah (Fana), sebab Tajalli daripada Dzat melarutkan semua cermin pernyataan diri.
Rasulallah dan Auliya berhubungan. Rasulallah adalah penjelmaan pertama, dan wali yang kedua.
Tahap kedua dari penjelmaan larut kedalam tahap yang pertama, dan kemudian tahap pertamam itu
melarut dan keduanya bergabung dalam yang tak terbatas. Tajalli dari sifat-sifat begitu juga larut
dalam sifat-sifat Dzat, dan hanya yang Mutlak saja yang tetap, dan tak mempunyai yang kedua. Dan
pintu-pintu dari kamar-kamar pribadiNya tertutup bagi semua orang luar.
Sesungguhya yang lepas dari Nafsnya/ dirinya/ akunya, dan menjadi tanpa aku mendapat izin masuk
ke sini.
16. INNAHU BIKULLI SYAI’IN MAHIITH
“Sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu”.
Meliputi ini adlah dalam pengertian seperti air meliputi ombak, salju, embun, hujan, es, dan
sebagainya.
17. Dengan Huu dimaksud Dzat Mutlak yakni tanpa perhatian pada sifat. Nama Allah menunjukkan
Dzat dengan semua sifatNya. Ahad adalah dalam tahap yang semua petunjuk telah dihapuskan.
Engkau tidak bisa memakai kata ini dan itu kepadaNya. Waahid adalah dalam tahap hanya ada satu
penegasan dari keberadaanNya.
18. Tuhan dengan sifat-sifatNya yang tak terbatas dan tak terhingga. Tentang mana kita tidak
mempunyai konsepsi, yaitu Dia adalah tanpa sifat-sifat terbatas seperti yang kita berikan kepadanya
(amma yasifuun). Tak ada keberadaan yang Ghair (lain). Keberadaan ghair hanya mungkin kalau
keberadaan Tuhan itu bisa dibatasi. Dzat Mutlak menyatakan diri dalam setiap objek. Orang bisa
mengatakan setiap objek itu zat yang terpisah danmenggandakan jumlah Tuhan. Islam adalah Dzat
yang serupa, sama seperti menyatakan diri dalam sebutir pasir seperti juga dalam sebuah gunung.
19. ISM (nama) bukanlah suatu kata semata-mata. Dia adalah Dzat dari yang di Namai bersama
dengan Sifat-sifat.
20. Dzat dan Sifat adalah satu sejauh yang mengenai keberadaan, dan berbeda sejauh mengenai
kesadaran (pengertian). Seperti muskus dan aromanya, yang adalah satu dalam keberadaan (wujud).
Perbedaannya terletak pada apresiasinya (pengertian dan penghargaan). Jadi ada identitas (cirri-ciri
khas) yang sebenarnya/ nyata dan perbedaan yang diandaikan dalam Dzat. Pengetahuan yang
mengelilingi objek yang tertentu, dia tak bisa mengelilingi objek yang tak terbatas. Dengan begitu

3
dalam ke-Mutlakan, Tuhan sadar akan diriNya sendiri, yang mengetahui dan yang dikethaui adalah
dia sendiri.
21. Dzat adalah bebas dan murni sekalipun dari Uluhiyah (ketuhanan) dan Rububiyah (penguasaan).
Yakni dari jadi “Pencipta” dan “dicipta”, yang mempunyai sumber dalam asma’ (nama-nama). Tuhan
adalah babas dari semua ini.
“FAINNALLAAHA GHANIYYUN ‘ANIL ‘AALAMIIN” (Ali ‘Imraan:97)

Dia mempunyai dua aspek Tanzih dan Tasbih.


Asma’ Salbi’i adalah nama yang tidak bergantung pada nama lain, seperti Qawi (maha kaut) dan
Ghani (bebas).
Asma’ Tsubuti adalah tergantung pada nama lain, seperti Razzaaq (pemberi rizki), Khaliq (pencipta),
dan Ghaffar (pengampun).
22. Ta’iyyun adalah pembatasan dari sesuatu (Syai’)/ objek dengan suatu taksiran apakah dalam
pengetahuan atau dalam pernyataan. Tuhan dibatasi pengertian/ pengenalan bahwa wujudNya/
keberadaanNya adalah tanpa batas, dan bahwa apapun yang ada dalam keterbatasan adalah
pernyataan/ penjelmaan. WujudNya yang mutlak adalah keberadaan dalam pengetahuan dan bukan
keberadaan dalam pernyataan/ penjelmaan. Apabila pembatasan-pembatsan ini hilang, maka itulah
Mutlak dan tanpa taksiran.
23. Dzat dalam hubungan keterbatasannya yang pertama adalah penyebutan “Aku” ( bi syarth laa
syai’ )

Kebenaran jadi terbatas dalam keterbatasan


Yang dalam berbicara kau menyebut “Aku”

Apabila itu dinyatakan beberapa bentuk terbatas, penyebutannya ialah Engkau ( bi syarth syai’ ).
Apabila itu diluar keterbatasan dan pengertian, maka penebutannya menjadi Dia/ Huu ( laa bi syarth
laa bi syai’ ). Sebutan Huu juga deberikan apabila tiada penyebutan bisa dibikin terhadap Dzat.
Dimana kata ganti Dia tak dapat digunakan. Apabila tiada pengetahuan tentang dirinya sendiri pada
Dzat, maka itu adalah Majhuulunnaat, demikian dikemukakan Junaid. Dengan demikian Dia sekaligus
berkualitas dan tanpa kualitas. Dia berkualitas dalam ketiadaaan kualitasdan tanpa kualitas dalam
kekualitasan. Dia keduanya hadir dan absen/ tidak hadir, sekaligus tunggal dan jamak. Dengan begitu
Dia mempertemukan dalam dirinya kebaikan dan pertentangan.
Dengan begitu nama-namaNya adalah Al-Qabidh (yang memborong) dan Al-Baasith (yang
melapangkan), Al-Muiz (yang memberi kemuliaan) dan Al-Muzil (yang menghinakan). Pertentangan-
pertentangan ini tidak menghalangi ke esaanNya. Nama-naa ini menggabung dalam ke esaanNya,
dan menjadi tunggal. Dua disini menjadi satu. Dia adalah “yang pertama” dalam segi ini, bukan dalam
segi yang lain. Dia adalah “yang terakhir”. Pertamanya adalah yang terakhir, dan terakhirnya adalah
yang pertamaNya. Rupa luarNya (zahir) menjadi tersembunyi (bathin). Sifat dalam hubungan
kejamakannya adalah bertentangan dan berlawanan, hal ini adalah buka yang sesungguhnya.
Sebaliknya mereka akan merusak Dzat. Mereka hanya pengandaian dan pemunculan, oleh karenanya
dunia ini muncul/ menyatakan diri dan tidak. Pertentangan-pertentangan terjadi dalam pemunculan-
pemunculan dan bukan dalam adanya. Ghazali berkata bahwa Nabi-nabi dating untuk menyerukan
Tauhid dan mencegah orang daripada syirik dan kufur, untuk mengangkat pandangan orang dari
pertentangan terhadap Tauhid. Oleh karena itu amatilah terus bahwa Sifat melarut kedalam Dzat, dan
bebas dari syirik jail dan khafi, dan menemukan yang satu dalam kesemuanya.
24. Ism bukanlah semata-mata suatu kata yang menunjuk Dzat yang dinamai begitu. Tapi dia adalah
penyifatan dari Dzat dengan suatu sifat dalam keberadaan, seperti ‘Alim yang mengetahui), atau
dengan suatu sifat yang tidak ada, seperti Quddus 9yang suci). Naat adalah penyifatan zat dengan
suatu kualitas yang ditemukan dimana-mana, seperti keberadaan.
25. Realitas dari Tuhan adalah keberadaanNya yang sesungguhnya yaitu DzatNya. Keberadaan/
wujud mutlak tak mempunyai bentuk model, tak ada batasan, tak ada pula permulaan dan akhir. Dan
kendatipun ini semua, Dia menjelmakan dirinya dalam berbagai bentuk tanpa suatu perubahan dalam
DzatNya. Seperti seorang dikelilingi oleh cermin warna. Muncul dicermin-cermin itu sesuatu dengan
perlengkapan tanpa suatu perubahan dalam kepribadiannya sendiri.

AL AANA KAMA KAANA

Dia sekarang seperti dia yang dahulu.

4
26. Kata Huu (Dia) adalah untuk suatu yang tersembunyi. Tuhan tersembunyi dari suatu kemampuan
penglihatan dalam segi DzatNya. Dia disini dinamakan Majhuulunnaat (yang tak bisa diterangkan
bats-batasnya).
27. Tasbih adalah penjelmaan Tuhan dalam keterbatasan
Tanzih adalah kemutlakanNya dari yang menyamai
Dia di dalam Tasbih berada ditengah-tengah Tanzih, dan begitu sebaliknya. Dalam semua kitab yang
diwahyukan, dibicarakan dalam istilah Tasbih dan Tanzih.

LAISA KAMITSLIHI SYAI’UN WAHUASSAMII’UL BASHIIR (Asyura’:11)

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia maha mendengar dan maha melihat.
Lukisan dari keadaan ini adalah,

LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAAHIL ‘ALIYIL ‘AZHIIMI


2. KEBERADAAN YANG WAJIB
( WAJIBUL WUJUD )
1. Segi yang tidak dinyatakan daripada Tuhan ialah Jalal/ keagungan, dan yang dinyatakan adalah
Jamal/ keindahan. Hal ini adalah tahap dari kesempurnaan jiwa bagi Saalik/ musyafir untuk berada di
antara dua segi ini:
Ilumnisasi terkadang karena Agung, terkadang karena Indah
Rangkain dari kedua ini menghasilkan kesempurnaan
2. Ghair / yang lain/ yang asing, adalah sebuah nama yang salah. Sebab dia tidak mempunyai
keberadaan. Inilah sebabnya kaum Sutari hanya percaya pada datu ke-Akuan. Tauhid berarti
3. Dalam dirimu ada barang tertentu:
1. Tubuh
2. Pikiran / akal
3. Ruh / jiwa
4. Sirr / rahsia
5. Nur / Cahaya
6. Realitas / Dzat Mutlak
Kegandaan ini dikarenakan gradasi-gradasi (erubahan bertahap), kalau tidak, realitasmu adalah satu.
Realitasmu yang dalam alasan-alasan tertentu diberi nama Haqq, Allah, Dzat Mutlak, Wujud Mutlak,
mempunyai gradasi dalam manifestsainya. Tetapi itu adalah realitasmu sendiri.
Nuur adalah tahap sifat-sifat dalam abstraksi
Sirr adalah tahap yang sama dalam rincian
Jiwa adalah tahap dari Alam Arwah
Yang keempat adalah Qalb
Yang kelima adalah Alam Mitsal
Dan yang keenam adalah Tubuh
Tubuh dan pikiran bisa terlihat
Jiwa dan Sirr dan Nuur tidak terlihat
Untuk mencapai Haqq seorang harus lulus melewati ini semua berturut-turut.
Amatilah bagaimana Khatra/ pikiran berpura-pura menurun mula-mula turun ke Nuur, kemudian ke
Sirr, kemudian ke Roh, kemudian ke Qalb dan akhirnya ke Qaalib/ tubuh.
Khatra ini sebenarnya adalah suatu sifat daripada Kalam atau perkataan Tuhan. Dia dating melalui
gradasi dari kehendak. Realitasmu bukanlah suatu dari gradasi ini, tapi Dzat Bahat/ Dzat Mutlak
sendiri. Jika kebajikan formal menghilang, tak begitu bayak ruginya dari pada kebajikan yang
sebenarnya yang hilang.

Emas campuran dituang dalam dapur pembakaran


Campuran itu habis menguap dan sisanya emasa murni

Begitulah kebajikan sebenarnya adalah emas, kebajikan yang kelihatan adalah campuran. Jika emas
sebenarnya hancur, itu adalah kerugian. Neraka adalah tempat pembakaran campuran.
4. Hakikat Muhammad adalah sumber asli dari semua pernyataan diri.
ANAA MINNUURILLAAHI WAKHALAQA KULLUHUM MINNUURII

Aku adalah berasal dari cahaya Tuhan dan seluruh dunia berasal dari cahayaku.
Cahaya adalah menyatkan dirinya sendiri dan menyatakan benda-benda lain. Tuhan menjadikan
dunia ini dalam kegelapan. Tak ada yang bisa disembunyikan dari Tuhan. Apabila Dia adalah dalam
5
manifestasi yang terbatas dengan cara pertentangan. Aku Ahmad tanpa huruf mim adalah sumber
pertentangan atau pernyataan yang bertentangan di dunia ini. Yakni dalam lautan tentram Ahdiyah,
susatu gelombang Wahdah timbul, dari mana menjelma gelombang-gelombang tak terhitung/
Wahdiyyah yang menjadi sumber daripada sifat-sifat yang bertentangan.
5. Sekalipun Muhammad dalam tubuh kebenaran, Realitasnya adalah realitas dari penciptaan. “Aku
berasal dari cahaya Tuhan dan seluruh dunia bersal dari chayaku”. Keterangannya terdiri dari 4
macam.
1. Seluruh dunia
2. Semua orang Suci
3. Malaikat
4. Ketentuan yang lahir dari tubuhkebendaannya
6. Kaum Fuqaha tidak mengakui Auliya. Mereka mempertahankan bahfwa keberadaan ada dua; satu
original dan datunya sementara. Yang terakhir ini datangnya dari Adum/ tidak ada, sekalipun mereka
mengatkaan bahwa tuhan tidak berkuasa untuk menciptakan Ghair yang tak tak pernah bisa ada.
Benda-benda menjadi terjelma kedalam keberadaan, bukanlah dari ketiadaan, tapi dari A’yaan Tsabita
Ilmiyah (bentuk-bentuk yang sudah ditetapkan dalam pengetahuan). Yang luar adalah Adum Idhafii
(ketiadaan hubungan). A’yaan muncul bila menyakan diri memberikan kepadanya Wujud Idhafi-Nya
(keberadaan hubungan). Yakni mereka dari luar adalah Adum, tapi ada dalam pengetahuan. Oleh
karena itu obek-obyek tidak bersal dari ketiadaan, tapi dari keberadaan Tuhan. Dalam pengetahuan
Tuhan mereka ada bersama keberadaan Tuhan, tapi sepanjang pengetahuan mereka dari keadaan
luar mereka sendiri, mereka tidak mencium bau keberadaan dari luar. Oleh karena itu perintah jadilah
(KUN) dituukan bukan kepada Adum tapi kepada A’yaan Tsabita. Yang adalah bakatNya pribadi yang
adalah asli, dan pemunculan saja dalam rupa luar dari ini adalah sementara dan fana. Realitas dari
Adum tidak bisa berubah manjadi kebenaran dan sebaliknya.
7. Kau Filosofi, Mutakallimin dan Sufi mempertahankan bahwa akibat0akibat perbuatan Tuhan tidak
mempunyai manifestasi tanpa bentuk daripada yang dimanifestasikan. Pernyataan ini menunjukkan
suatu kekurangan dalam Uluhiyah/ Ketuhanan. Karena itu bentuk-bentuk itu adalah Dia sendiri dalam
rupa luar dana adalah realitas-realitasNya. Dengan begitu Dia tidak bergantung pada yang lain untuk
menyatakan diri.
8. Jika seorang memperlakukan aengakau dalam cara Nafs, maka perlakukanlah dia dengan cara
Ruh, yakni balasa kejahatan dengan kebaikan. Ini adalah cara Ruh. Melihat kejahatan dalam yang lain
adalah melihat Ghair. Suatu hadis Qudsi menyatakan:
“Jangan menyalahkan waktu, sebab waktu adalah dari Tuhan”.
9. Yang pertama kali diakui adalah Dzat, dan yang kedua adalah sifat. Engkau pertama kali
menggapai Dzat dari pada Zaid dan kemudian sifatnya, seperti pengetahuan, intelegensina.
10. Semua objek adalah dari Wujud Tuhan. Mereka sendiri adalah Adum. Surat-surat adalah
ketiadaan, mereka ada karena keberadaan tinta. Bukanlah bahwa surat-surat itu terjadi oleh dirinya
sendiri dan digabungkan dengan tinta, dengan man dua wujud akan dinyatkan sebagai kebenaran.
11. ”Yang tidak ada” adalah cermin dari keberadaan mutlak. Dari padanya dinyatkan refleksi dan
cahaya dari Tuhan.
Mumtanul Wujud (kebenaran yang negatif) adalah cermin
Mumkinul Wujud (kebenaran yang mungkin) adalah refleksi, dan
Wajibul Wujud (yang wajib ada) adalah pribadi.
Dalam keberadaan yang negatif, yang wajib itu direfleksikan. Jika tidak non entiti, bagaimana yang
positif bisa direfleksikan. Maka Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Jika yang lain itu tak mempunyai
keberadaan, bagaimana dia bisa menjadi cermin dari wujud Tuhan.
12. Kaum Mutakallimin berpendapat bahwa wujud yang biasa, yang adalah dunia ini terwujud, adalah
tambahan pada Dzat. Keberadaan yang tepat adalah keberadaan Tuhan, dan pembatasan-
pembatasannya adalah dirNya sendiri.
13. Dzat mengenal diriNya sendiri, maka Dia menjadi waijb. Yang berbuat ”tanpa kualitas” pencipta
seseorang dengan kekuasaan. Dan segi keadaannya yang diketahui, Dia menjadi Yang diketahui,
Yang Berkehendak, Yang Berkualitas. Yang dicipta tanpa kekuasaan. Kedaunya membentuk Haqiqat
Insaniyah (realitas dari kemanusiaan). Mi’raj yang tertinggi dari nabi-nabi. Segi pertama membentuk
Asma’ ILAAHI atau Asma’ KIYANI atau Asma’ KUUNI.
Yang pertama adalah keberadaan yang dinyatakan, dan yang kedua pengetahuan yang dinyatkan.
Kumpulan Asma’ adalah ”Yang berbuat” tanpa kualiatas,”Yang menyatakan diri” aktif, dan kumpulan
kedua adalah ”Yang bertindak” berkualitas, ”dinyatakan” pasif. Ke-Akuan yang mutlak adalah hasil dari
perangkaian keduanya, dan dunia dalah sumber dari pada perangakaian ini.
Ke-Akuan dari segi sifat-sifat yang ”wajib” aktif menjadi Rab (Penguasa) yang tanpa kualitas ”Yang
berbuat” dan ”Pencipta” dan ”Yang berkuasa”,”Yang abadi”. Dan dari segi ”kemungkinan”, sifat-sifat
pasif menjadi berkualitas ’Abd (yang diperintah, hamba) dan alat-alat yang ditindak dan yang dicipta

6
dan yang tak berkuasa dan sementara. Maka dia menjadi wajib bagi Abd untuk menyenangkan
Rabnya.
14. Dalam bahasa Arab, seorang laki-laki diperlakukan sebagai pecinta, dan permpuan sebagai yang
dicinta. Cinta datangnya dari wajib dalam pembatasan pertama. Oleh karena itu Wajib adalah Pecinta
dan Mumkin adalah Yang dicinta. Jika didalam pembatasan kedua, Mumkin dinyatkan Pecinta dan
Wjib menjadi Yang dicinta. Bila dalam Tajalli dari pada Dzat, wajib dan mumkin menghilang. Pecinta
dan dicinta juga menghilang, ini lingkungan tanpa warna.
15. WAHUA MA’AKUM AINAMAA KUNTUM

Dalam Dia bersama engkau, dimanapun engkau berada. (Ala Hadid:4)


Tuhan ada realitas dari semua. Jika Tuhan bersama engan semua, Dia juga tidak bersama dengan
semua. Sebab kalau tidak kontinuitas dari Wujud Yang mungkin dan Wujud Yang Wajib, bisa dibikin
dalil, dan dengan itu Huluul (masuknya sasuatu kedalam yang lain) harus bisa diterima.
Sesuatu itu mestinya berdampingan dengan yang lain, dan bimbingan dalam raung akan menjadi
keharusan. Dia menghilang, jika tidak maka Dia ada. Kalau tidak ada dua keberadaan akan
bergabung atau saling menolak, dalam hal mana ada cukup tempat dalam ruang. Dan akan ada dua
keberadaan yang akan bertentangan dengan Tauhid. Fana adalah negasi/ sangkalan dari pada Maiyat
(iring-iringan) dari yang lain.
16. Tuhan-tuhan palsu, seperti patung/ berhala, pohon dsb. sudah dibuang. Sebab hal itu lahir dari
pembatasan keberadaan pada objek-objek yang khusus. Tuhan sekaligus tanpa kualitas dan
berkualitas. Dia tidak bisa dibatasi pada salah satu dari keadaan itu. Dia berada di luar dari keadaan
ini. Tuhan menyatakan diri di dalam objek yang dicari orang. Musa melihatnya di suatu hutan yang
terbakar. Ahli Tasybiih (antropumorfis) terlihat dalam Tasybiih (kekualitasan). Ahli Tanzih menyangkut
dalam Tanzih (tanpa kekualitasan). Tuhan adalah suatu realitas yang tanpa kualitas dalam Tanzih dan
berkualitas dalam Tasybiih. Abadi dalam keabadianNya, dan sementara dalam kesementaraan.
Pernyataandirinya menjadi komplit dari dau keadaan, dari keabadaian (yang meluas dari pembatasan
pertama, ketahap Rububiyyah) dan kesementaraan (yang meluas dari ‘Aqlikul ke dalam lingkungan
debu). Dia menemukan diriNya sendiri abadi, sebagai mana juga Dia menemukan diriNya sendiri
sementara.
17. Sumber dari semua gerak adalah gerak dari Adum Idhafi, yaitu bentuk dalam pengetahuan ke arah
keberadaan luar/ manifestasi keberadaan. Jadi gerakan dari dalam ke arah apersepsi/ pengamatan
yang sadar ini adalah cinta. Tuhan berfirman “Aku adalah harta yang tersembunyi, dan mencintai
untuk diketahui”. Kecintaan ini adalah keinginan untuk menyatakan diri. Jika cinta tak ada, maka Dia
berada dalam pengetahuan tanpa gerak untuk selama-lamanya. Gerakan daripada ‘Aalam adalam
dari ‘Adum Idhafi/ ketiadaan hubungan ke arah manifestasi luar. Gejolak ini adalah cinta dari pecinta
ke arah manifestasi dari pada ‘Aalam dari ‘Adum Idhafi kedalam keberadaan. Sebab dalam ingin
terlihat Dzatnya sendiri dalam bentuk luar, seperti yang dilihatnya dalam yang telah dipositifkan dalam
pengetahuan. Keberadaan tanpa awal itulah keberadaan Tuhan. Itulah Kamal ZatiNya atau
kesempurnaan pribadi. Sebegitu jauh hubungan dengan Zatnya, dan keberadaan dengan awal itulah
keberadaan Tuhan dalam bentuk Alam yang dipositifkan dalam pengetahuan Tuhan. Dinamakan
keberadaan sementara dan mumkin. Tuhan menyatakan diriNya sendiri dalam bentuk Alam, yaitu
Kamal Asma’i/ kesempurnaan namaNya. Maka Dia abadi dalam keabadian dan sementara dalam
kesementaraan.
18. Harits Muhasibii berkata, “Janganlah anggap kerugian atau keuntungan kepada seorang sebagai dari
dirimu sendiri”. Sebab dalam keberadaan dan kualitasNya hanay dipinjamkan kepada mumkin. Dan
apa yang dinamakan pinjaman harus ada hubungannya dengan keharusan dan bukan dengan yang
mungkin. Apa yang tanpa kualitas tak bisa melakukan tuntutan atas kualitas atau sifat. Tuntutan Adum
atas kualitas adalah Syrik. Inilah sebabnya maka ulama mengatkan bahwa keberadaan adalah suatu
tambahan pada zat. Dalam kemutlakan, keberadaan bahkan tak dipikirkan. Hanya dalam Wahdiyyah
ada Tjalli dari keberadaan. Oleh karena itukeberadaan adalah tambahan ulama menganai Wahdiyyah
bila mereka meningakt, mereka akan menemukannya semata-mata sebagai Tajalli, dan Tjalli menjadi
realitas sesuatu dalam dalam tajalli. Tajalli dan pembatasan adalah Zat itu sendiri, dan kemudian teori
tentang adanya sebagai tamabahan akan lenyap.

3. KEBENARAN YANG MUNGKIN


( MUMKINUL WUJUD )

7
1. Cinta : Tidak tepat untuk menamakan kecedrungan seseorang ini dengan nama cinta. Dan tidaklah
pula tepat untuk menamakan pohon gandum (pohon pengetahuan) dengan nama pohon sorga.
”Jangan dekati pohon itu, agar kau tidak menjadi zalim” (Al Baqarah:35)
Cinta adalah suatu tarikan kearah yang benar-benar indah. Pengamatan dari pada yang indah dalam
keindahanNya sendiri tanpa gangguan objek dunia, dinamakan keadaan dalam Jam’. Syaikh Akbar
menamakan keadaan ini Jam’ atau pembatasan pertama dari realitas Muhammad, ini adalah cinta
kepada zat karena zat itu sendiri. Cinta kepada zat untuk dunia dinamakan Jam bajam’. Cinta kepada
dunia karena dunia yakni cinta individu karean individu dinamakan Jam ba farq.
2. Tuhan dalam manifestsainya yang pertama adalah A’yan/ bentuk-bentuk kemampuanNya
menjadai ternyatakan dalam cermin A’yaanNya. Oleh karena itu tuhan adalah bapak daripada A’yaan,
A’yaan itu dipelihara dalam manifesetasi eksternal oleh ibu tetek Asmaa dan Shifaat.
3. Yang dinyatakan datangnya dari yang tak dinyatakan, dan yang tak dinyatakan lahir dari yang
dinyatakan. Manifestasi itu hanyalah mengambil bentuk LAM YALID WLAM YUULAD. Dia tidak
beranak dan tidak diperanakan.
Zat itu adalah absolut/ mutlak, dan apa-apa yang bersal darinya adalah terbatas. Rasulullah adalah
terbatas, dan apapun yang berasal darinya adalah tak terbatas dan absolut. Keberadaan yang terbtas
tak bisa lain dari keberadaan itu sendiri. Adapun yang berasal dari gelombang hanyalah samudera itu
sendiri. Dalam cermin dunia tak seorangpun yang kelihatan kecuali Tuhan sendiri, dalam manifestasi
kedua. Dan didalam cermin Tuhan yang lain dari dunia, kelihatan dalam manifestasi pertama. Dengan
begitu dunia berasal dari Tuhan dan tak ada selain Tuhan yang didapat dari dunia. Benih dinyatakan
dalam pohon dan pohon dinyatakan dalam benih.

4. Muhammad adalah dari cahaya berkah dari kedua dunia.

WAMAA ARSALNAAK ILLA RAHMATAN LIL ’AALAMIIN

Berkah adalah sifat jamal/ keindahan. Iblis adalah dari api gengsi. Jamal melindungi Jalal dalam
manifestasi. Kita mencari perlindungan dari perbuatan-perbuatan setan, oleh karena itu jangan
perlakukan kejam orang yang berbuat jahat, tapi mintalah perlindungan dari tindakan-tindakannya.
5. “Semua hal kembali pada sumber asalnya”. Sumber semua benda dalam hubungan keberadaan
adalah Tuhan. Darimana mereka datang dan kepada siapa mereka kembali. Karena itu wujud yang
tergantung kepada wujud yang wajib. Zat dari benda adalah ketiadaan/ Adum, yang adalah ghair dari
wujud. Setiap saat benda-benda meminjamkan keberadaannya dari Tuhan, dan setiap saat mereka
kembali kepada ketiadaan. Sebegitu jauh mengenai keberadaan, mereka kembali kepada keberadaan
yang wajib, dan sebegitu jauh mengenai keberadaan mereka kembali kepada ketiadaan. Wujud yang
mungkin, mempunyai dua fase atau aspek. Pertama terhadap Tuhan dan terhadap dirinya sendiri.
Dalam aspek pertama dia tidak ada apa-apa kecuali Tuhan, dan dalam aspek kedua di ada semua
kecuali tidak ada absolut atau pengahpusan diri sendiri. ”Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah
(wajahNya). Dalam dirinya sendiri, suatu benda itu adalah ketiadaan yang abadi. Tapi wajahnya, yakni
aspeknya terhadap Tuhan bukanlah suatu noneksistensi. Kedua esensi dari benda-benda itu adalah
sifat Jamal dan Jalal. Makanya benda itu adalah manifestasi dari dua sifat ini. Segala sesuatu apakah
dia baik dan buruk, keluar dari jendela sifat-sifat ini. Dan akan kembali melalui jendela yang sama.
Segala sesuatu dalam meminjam suatu sifat menyukai sifat itu. Dan kesukaan ini membentuk suatu
hubungan dengan sifat yang tealh dipinjamnya, dan hal ini membentuk kemampuan benda itu. Segala
suatu adalah bentuk dari sifat. A’yaan adalah bentuk-betuk sifat. Apapun yang keluar dari sifat ia
adalah penyempurnaan dari sifat itu. Segala suatu akan kembali dari kesementaraan kepada dunia
yang abadi dengan kesempurnaan yang telah didapat disini. Bila benda-benda membebeaskan dirinya
dari sifat-sifat mereka (dan hal ini tak lbih dari satu menit, sehingga yang internal menjadi eksternal)
kesastuan yang benar muncul. ‘Aarif menyadari ini dalam semenit di dunia. Benda itu tidak kembali
kepada zat, tapi hanya kepada sifat dari mana dia datang. Sifat membentuk kondisi dunia yang akan
datang, karena itu kemestian adanya hari kiamat, bila sifat-sifat yang masih tersembunyi dengan
menjadi manifestasi.
6. Dalam pandangan Gazuur, keberadaan dalam mana akibat-akibat dinyatkan, dan yang dinamakan
keberadaan biasa adalah suatu bagian dari keberadaan mutlak. Seperti air dari gelombang adalah
bagian samudra. Ini dinamakan Wujud mutlak dan Dzat Bahat/ zat murni. Keberadaan yang bisa ini
adalah mumkinul wujud, seperti yang dikatakan kaum Mutakallimin dan Makhluq Mujid/ pencipta yang
dicipta, Musyayin dan Muhiyyat, dan kaum Isyraaqin. Oleh karena itu keberadaan biasa sebenarnya
Haqq. Keberadaan objek-objek adalah wujud Tuhan. “Tidak ada yang maujud kecuali Tuhan sendiri”.
Jangan abaikan samudera oleh karena gelombang.
7. Keberadaan yang mungkin adalah Tjalli dari Tuhan dalam bentuk A’yaan denga keanehan-
keanehan mereka. Dan ini dinamakan Wujud Idhafii, yaitu keberadaan yang dimanifestasikan. Hal ini
juga dinamakan bayangan/ Dzil.

8
“Apakah kamu tidak memperhatikan Tuhanmu. Bagaimana Tuahanmu memanjangkan bayangan-
bayanganNya”. (Al Furqan:45)

4. shifaat
( sifat-sifat )

1. Tiga tahap pertama mengenai Tnazzulaat/ penyerahan/ penurunan, adalah tahap internal, dan
ketiganya itu-itu juga. Ahdiyyah adalah sifat dari pda Wahdah, dan Wahdah adalah sifat dri
Waahidiyyah. Maka Ahdiyyah juga menjadi sifat dari pada Waahidiyyah. Dalam Waahidiyyah semua
asma’ tersembunyi. Asma’ itu mula-mula dinyatakan ke dalam alam arwah, kemudian ke alam Mitsal
dan kemudian ke alam Kautsal/ sebab akibat. Dalam realitas Muhammad Saw, semua asma’ ada
tersembunyi. Dia berkata,”Aku adalah cahaya dari Tuhan dan semua benda adalah dari cahayaku”.
Dalam pernyataan Rasaul ini, semua nama disatukan, kecuali nama Haadii. Dan dalam hal iblis
semua disatukan kecuali nama Mudzil/ yang menyesatkan.
2. ”Sesungguhnya Tuhan itu indah dan Dia mencintai keindahan”. Indah adalah sifat dari zat. Tuhan
menciptakan manusia menurut wajahnya. Dia memakainya dengan sifat keindahanNya yang utama.
Oleh karena itu manusia cenderung kepada keindahan. Tuhan mencintai keindahan
sebelummenciptakan dua dunia itu. Maka Tuhan adalah keindahan dan kecintaan. keindahanNya
adalah cinta, dan cintaNya adlah keindahan. Dia adalah pecinta dan yang dicinta dalam waktu yang
sama. Dia menyaksikan dirinya sendiri didalam cermin keindahanNya, Dia mencintai dirinya sendiri.
LAA YUHIBBULLAAHU GHAIRALLAAHU. Tuhan tidak mencintai yang lain dari dirinya sendiri.
3. Adu (ketiadaan) adalah suatu yang diluar penciptaan Tuhan.

WAMAA KHALAQNASSAMAA AWAL ARDHA WAMAA BAINAHUMAA BAATHILAN

Tuhan adalah kebaikan yang mutlak. Dari kebaikan tak bisa keluar kejahatan. Apa yang kelihatan
jahat adalah suatu hubungan antara Asma’ yang bertentangan dan dia bukanlah dari keberadaaan itu
sendiri, atau hal itu timbul dari Adum. Seperti pedang yang memotong. Memotong dalam dirinya
bukanlah suatu kejahatan. Dia memperlihatkan kesempurnaan dari sebilah pedang. Pemotongan dari
suatu anggota badan pada anggota badan yang lain mempunyai pemunculan kejahatan, dan ini
adalah bertaliandengan Adum. Sesungguhnya ini adalah suatu hubungan dari salah satu sifat Asma’
Jalaali/ nama keagungan, dengan yang lain. Bertentangan nama yang agung kelihatannya sebagai
kejahatan, sebaliknya dalam dirinya sendiri hal itu adalah kebaikan yang absolut.
4. Ruumi berkata,”Aththar pergi melalui tujuh kota dari pada cinta, kita baru sampai di tikungan
pertama dari satu jalan”. Tujuh kota itu adalah tujuh sifat dari Tuhan yang ditapaki oleh seorang yang
mahir, dan yang lain-lain hanya menapaki satu jalan. Musa di hubungakan dengan sifat Kalam/
berbicara, Isa dengan Hayat/ hidup. Atau hal itu bisa menunjuk pada tujuh sarung yaitu; Mitsal, Arwah,
Waahidiyyah, Wahdah, Ahdiyyah, Mutlaq.
5. Muhaqiqin/ Sufi memperthankan bahwa sifat-sifat adalah abadi dan suatu tambahan pada zat.
Hukamaa’/kaum Filosofi memperthankan bahwa sifat-sifat sesungguhnya adalah zat, bukan karena
dia mempunyai zat dan sifat yang bfercampur dan tersusunpadanya.
6. Suatu hadis mengatakan,”Ada sebuah pasar di surga, dimana wajah-wajah/ gambaran dijual. Ini
menunjukkan kepada Tajalliyat atau pemunculan Tuhan. Syaikh Abdul Qadir Jailani berkat,”Aku
melihat Tuhan dalam mimpi dalam rupa Rasul”.

9
7. Tahap dari Wahdah sampai kepada pemunculan Rasul dinamakan pemunculan daripada ”Realitas
Muhammad” dalam teknologi kaum sufi.
8. Kemampuan-kemampuan dinamakan malaikat-malaikat dalam syari’at. Misalnya; malaikat nagin
dan api. Telinga adalah suatu manifestasi, dan pendengaran adalah kemampuannya. Jika tak ada
seorangpun maka taka ada manifestasi dalam sifat. Sifat dimanifestasikan dalam kemampuan, dan
kemampuan dimanifestasikan dlam tubuh, dan perbuatan dimanifestasikan dalam akibat/ atsar. Zat
tidak mempunyai manifestasi tanpa manifestasi dari pada sifat.
9. ’Ilmu/ pengetahuan, maksudnya konsepsi dan verifikasi/ gambaran dan pembuktian, dan
aktualitas/ perwujudan dari pada objek-objek yang diketahui. Nuur adalah manifestasi dari pada diri,
sehingga dia kelihatan sebagai Ghair/ yang lain. Syuhud/ penyaksian adalah ekspresi/ keluarnya yang
ghaib/ tak kelihatan dan internal/ ynag bathin. Wujud/ keberadaan adalah manifestasi dari sesuatu
yang sebelumnya tak ada. A’yaan Tsabita adalah bentuk-bentuk dalam pengetahuan dan reslitas
serta kebenaran dari pada objek-objek dan persenyawaan Asma’ dan Wujud. Dalam tahap ini mereka
bukan diciptakan oleh pencipta, tapi mereka tak bisa timbul ke keadaan luar oleh dirinya sendiri.
Penciptalah yang menjadikan mereka wujud. Realitas-realitas itu menjadi tergantung kepada aktor/
pelaku. Apakah itu akan membikin realitas itu menjadi wujud secara eksternal/ bentuk dalam
keberadaan, seperti yang diajarkan oleh aliran Wujudiyah (melimpahakan keberadaanNya pada
mereka yang Adum), seperti yang diajarkan oleh aliran Syuhudiyah (hanya dia yan gmnjeadi sebab
pada Atsak/ efek mereka. Bila engkau melangkahi batas ini, kau akan berada dalam keadaan
(kedauan). Seperti tinta dan kata-kata. Keberadaan tinta menjadi kelihatan dalam kata-kata. Kata-kata
tak mempunyai keberadaan sendiri.
10. sifat tak diharuskan mempunyai keberadaan sendiri dalam tambahan pada zat. Dalam hal
mengetahui, zat adalah pengetahuan itu sendiri. Bila sifat mempunyai realitasnya sendiri, maka
mereka akan menjadi tambahan yang sungguh-sungguh dan itu mustahil. Zat hidup, mengetahui,
mendengar dan berbicara dengan sendirinya.
11. Mawahid adalah seorang yang tidak melihat Gahir. Artinya dia telah menjadi kenyataan dalam
zatnya sendiri, tak menemukan zat lain, dari waktu tanpa awal kepada waktu tanpa khir. Ini hanyalah
suatu Tajalli (iluminasi) dari pada zat, yang menyingsing dari, pada dan melalui dirinya sendiri. Tak
ada tempat untuk sifat dalam hal ini. “Tidak ada Tuhan selain Aku, Aku adalah Esa, tidak ada sekutu
bagiKu”. Inilah daerah bahaya, dlam mana orang bisa direjam sampai mati. Inilah tahap Jam ba jam
dan Farq bad’ul jam. Disini ’Ainiyah/ identitas yang sesungguhnya daripad sifat jadi satu. Yang satu
tidak melindungi yang lainnya. Keesaan dari zat tidak emlindungi kejamakan daripada sifat dan
sebaliknya. Kejamakan sifat adalah suatu soal yang imajiner dalam pengetahuan. Artinya dia tidak
mempunyai keberadaan/ wujud di luar ini. Sementara itu keesaan dari zat adalah suatu realitas yang
mempunyai wujud tidak saj diluar, tapi juga dalam pengetahuan. Misal Zaid mempunyai seratus ribu
sifat. Kejamakan ini tidak membuat zatnya lebih dari satu sebab penambahan dari satu soal imajiner
tak bisa menjamakkan realitas dari sastu sola yang riil. Seperti 1+0+0=1. di pihak lain zat itu
melarutkan kejamakan soal-soal yang imajiner menjadi bahan ayng daripadanya mimpi dibuat. Bila
soal yang imajiner/ hayal itu berubah menjadi realitas, dia menjadi tabir eksternal, penyakit mental,
dan menimbulkan keraguan dan kecurigaan. Dan proses ini dalam penyempurnaan menjadi Kufur,
yang berarti menyembunyikan suatu realitas dalam kegelapan, keraguan dan ketahayulan.
12. Tuhan tidak berkualitas/ tidak bersifa (dalam Tanzih) dalam kekualitasanNya (kebersifatanNya)
(Tasbih), dan berkualitas (Tasbih) dalam ketidak berkualitasanNya (Tanzih).Sekalipu Tasbih, Dia
mempunya Tanzih dan sebaliknya. Dia tidak terbatas pad salah satu ini. Kekualitasan dan ketidak
berkualitasan adalah dengan jalan Tanazzal- Dia adalah mutlak dari kedua ini. Dia tidak esa tidak pula
jamak dalam zatnya.
13. zat sesungguhnya adalah sifat menurut kaum sufu dan filosof. Zatmu tidak bisa dengan sendirinya
membuat kamu mampu, misalnya melihat. Tapi Tuhan tidak tergantung pada penglihatan. Dia melihat
dengan zatNya. Zat dan Sifat adalah satu dalam realitas dan terpisah dalam pengertianmu. Sifat
hanyalah segi-segi dari zat. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa mereka dalam realitas adalah zat,
atau bahwa mereka dalam pengertianmu terpisah daripada zat. Syaikh Dawud Qaysari mengatakan
bahwa pengetahuan tentang Tuhan adalah sesungguhnya tetang zat. Sebagaiman sesungguhnya
yang diketahui (A’yaan/ bentuk) adalah zatnya. Jadi apapun yang ada dilangit dan dibumi diketahui
olehNya sampai kepada atom sekalipun. Dia adalah satu bersam zatNya dan dengan
pengetahuanNya. A’yaan itu sesungguhnya satu dengan Dia dalam segi keberadaan/ wujud, dan
ghair/ terpisah dalam segi keterbatasan. Jadi tak ada wadah tanpa isi, tapi hanya satu realitas yang
dinyatkan sebagai wadah dan isi. Kegandaan hanyalah dalam hayalan dan bukan dalam kenyataan.
14. Cahaya gelap adalah manifestasi dari pada Jalal, cahaya terang adalah manifestasi dari pada
Jamal. Kegelapan, bila engkau mengerti, adalah cahaya zat. Dalam kegelapan berada sumber
kehidupan
15. Zat (Lahuut) adalah sumber sifat. Sifat (Jabaruut) adalah suber af’al.Dan Af’al (Malakuut) adalah
sumber dari Atsar (Naasuut).
10
16. Kaum Mutakallimin/ Skolastik berpendapat,”Waktu adalah suatu imajiner/ hayal”. Kaum Filosofis
mengetakan,”Waktu disebabkan oleh revolusi dari pada langit dan planet-planet”. Dan kaum Sufi
mengatakan,”Waktu adalah keabadian itu sendiri/ azali”. Azali adalah masa tanpa awal, dan abadi
adalah asa tanpa akhir (bergabung). Penciptaan dan pengah ncuran ada di dalamnya. Kesebeluman
dan kesudahn benda-benda hanyalah secara hubungan. Kalau tidak, penciptaan dan pengahncuran
berada dalam sastu saat yang sama. ”Waktu adalah sifat yang abadi dari Tuhan. Barang itu tak
mempunyai dua ujung”.
17. Waktu adalah revolusi dari ”titik”. Tahun, bulan, hari, menit, dan detik adalah perincian dari masa
yang abadi, masa lalu dan masa kini. Oleh karena itu bukalah persolan. LAA ‘INDA RABBI
SOBAAHUN WAMASAA UN. ”Tidak ada bagi Tuhan pagi dan petang”. Waktu adlaah abadi dalam
keabadian, dan sementara dalam kesementaraan. Titik itu senantiasa hadir.

5. realitas-realitas (a’yaan)
( kenyataan-kenyataan )
1. WA LILLAHIL MASYRIQI WAL MAGHRIB. FA AINAMAA TUWALLUU FA SAMMA WAJHULLAH.
INNALLAAHA WAA SI’UN ’ALIIM

”Kepunyaan Tuhan lah timur dan barat. Kemanapun engkau menghadapkan mukamu, disitulah wajah
Allah. Sesungguhnya tuhan maha luas dan maha mengetahui”.
Timur menggambarkan Asma’ dan sifat Tuhan, dan barat adalah syarat-syarat dan manifestasi dari
hal yang sama dalam alam sebab musabab dan alam mitsal. Setiap sifat timbul dan bersinar dari
timurnya sendiri (ismi ilahi) dan terbenam dalam objek yang dimanifestasikan di baratnya sendiri (ismi
kiyaani). Bila Qiyamat atau Fana, biasanya di namakan hari akhir, maka matahari akan terbit dari
barat. Yakni realitas-realitas asma’ dan sifat akan mempunyai orientasi mereka di tempat mereka
terbenam dan menjadi nampak jelas. Dengan kata lain adanya suatu keberadaan, yang timurnya
adalah sifat dan baratnya adalah manifestasdi dari dunia ini. Ada kepastian dan ada kemungkinan
pada setiap sisinya. Bila engkau melihat melalui tiap sisi, engkau akan menemukan keberadaan/
wujud Tuhan, yang adalah kekal dalam kekekalan dan fana dalam kefana’an. Seperti yang dikatakan
oleh Syaikh Ibnu arobi,”Alwujud fil qadim qadim, wafil hadits hadits”.
2. Asma’ Tuhan adalah bentuk-bentukyang dapat dibedakan dalam pengertianNya, yang oleh kaum sufi
dinamakan A’yaan Tsabita. Kaum Mutakallimin menakannya Ma’lumaat/ yang diketahui, dan kaum
Filosof menamakannya Maahiyaat/ realitas. Tuhan adalah mencintai dirinya sendiri melimpahkan
TajalliNya yang pertama pada mereka, dinamakan Faidhi Muqaddas/ berkah suci, dan mereka
menjadi menjelma di luar sesuai dengan perlengkapan dan syarat-syarat mereka, yang menunjukkan
perlawanan dan pertentangan dalam manifestasi sebagai sifat.
3. Maahiyah/ realitas/ bakat dari benda-benda tidaklah diciptakan oleh perbuatan kreatif dari pencipta.
Maahiyah menerima kebaikan dan kebajikan dari pencipta sesuai dengan bakat mereka. Oleh karena
itu manifestasi mereka berbeda-beda. Misalnya setiap bagian dan alat badan menerima kekuatannya
dari roh. Tapi manifestasi bakatnya sendiri. Mata menunjukkan bakatnya sendiri untuk melihat dan
bukan untuk mendengar, telinga mendengar bukan melihat. Bakat-bakat ini adalah Qadim/ kekal.
Realitas-realitas tidak diciptakan oleh pencipta. Perbuatan dari pelaku tidak bertentangan dengan
bakat.
* Bakat itu asli dan abadi adanya. Ia muncul pertama sebagaimana ia ada di dalam Alam Mitsal, dimana ia dapat berubah
menurut lingkungannya di Alam Ajsam. Sebutir kelapa jika ditanam akan menumbuhkan kelapa. Ia dapat mempunyai batang
yang lempeng atau bengkok, menghasilkan buah yang besar atau kecil, yang akan tergantung pada posisi penanamannya di
tanah, pupuk dsb. Maka keadaannya bergantung pada lingkungan dimana ia dibibitkan. Lingkungan bergantung pada masa di
mana ainnya menerima perintah “menjadi ada”. Perubahannya berada di dalam Qadhaa/ masa ia diperintah, dan tidak di dalam
Qadar (bakat), sebagaimana kat Hafiz,”ereka tidak memberi aku izin untuk berada dijalan kemasyhuran. Dan jika engkau tidak
setuju ini, maka salhkan/ ubahlah Qadhaa (masa).
4. Ummul Kitaab/ induk dari pad kitab, adalah buku catatan dari pengetahuan Tuhan. Dia manifestasikan
seperti dalam Kitabul Mubiin/ buku yang nyata, Lauhul Mahfuz/ catatan yang terpelihar. Disini Jibril
11
membaca kata-kata Tuhan dan membawanya kepada Rasul. Tajalli/ sorot cahaya dari Tuhan mula-
mula mencapai Ummul Kitaab (tahap Jabaruut), dari sana ia menurun ke Lauhul Mahfuz yang
merupakan batas tebawah dari tahap Malakuut (yang juga dinamakan Alam Mitsal dan Nafsi-Kul).
Terminal Jibril di daerah perbatasan antara Malakuut dan Jabaruut (yakni dunia mitsal dan arwah).
Apapun yang dimanifestsikan dalam dunia material pertama-tama akan terukir pada buku catatan ini.
Tak ada sesuatu yang bsah atau kering melainkan tertulis di dalam kitab yang nyata, maupun wahyu
atau Rasul dalam makrokosmos (alam semesta). Dalam hal ilham/ inspirasi dari awaliyaa dalam
mikrokosmos (alam kecil) mereka, dia menurun dari Haqq melalui tahap Ser (kesadaran kosmis) dan
Khafii (roh) yang keduanya berada dalam tahap Malakuut/ kepada Qalb/ hati. Qlab adalah Lauhil
Mahfuz dari pada Alam Mitsal para Wali.
5. Jilaa adalah kata tehnis untuk manifestasi dari pada wujud dalam bentuk. Istijlaa adalah pengamatan
oleh keberadaan dari bentuk ini tentang dirinya sendiri. Benih ini menyatakan dirinya akar dalam akar,
sebagaimana batang dalam batang, dan dahan dalam dahan. Ini adalah Istijlaa’nya/ pengamatannya
tenatang dirinya sendiri dalam Tanazzuul (penyerahan, penurunan) tidak dalam Uruuj (pendakian,
mi’raj). Pengamatan ini menimbulkan kelalaian, yang hanya akan dihalau oleh pengetahuan kedua
(dlam Uruuj). Dualiti/ rangkap, ke-lain-an, dan perhambaan adalah hasil dari pengamatan ini.
6. Menyingsingnya zat pada dirinya sendiri adalah Tajalli peratama/ iluminasi, yang sepenuhnya murni
dari suci. Secara tehnis dinamakan Faidhi Aqdas/ kebajikan murni. Disini A’yaan yang merupakan
kamampuan yang paling dalam dari Asmaa’ dan sifat adalah tegabung dalam Zat bathin. Seperti juga
Asmaa’ dan sifat adalah kemampuan dari Zat zahir dan tergabung di dalamnya, dan hanya Zat lah
yang diketahui. Bila zat diketahui/ dikenal itu adalah zahir (yakni dalam eksternaliti) dan A’yaan.
Asmaa’ dan difat adalah bathin/ dalam pengetahuan. Mereka diketahui oleh zat sebagai keseluruhan.
Pengenalan dari pengetahuan tentang Asmaa’ dan sifat oleh zat dinamakan Wahdah atau Haqiqat
Muahammadi, yang merupakanpembatsan pertama daripada Wujud yang zahir. Maka Wujud bathin
adalah tak terbatas, dimanifestasikan dalam pengetahuan dengan pembatasan dari Asmaa’ dan sifat
sebagai keseluruhan. Bila hal ini sampai kepada rincian, dia menampakkan 4 hypotesa (i’tibaarat
arba’a) yaitu Ilmu, Cahaya/ Nuur, Pengamatan/ Syuhuud, dan Keberadaan/ Wujud. Bila sifat dan
Asma’ mengambil bentuk mereka, A’yaan Khariji lahir dari mereka, dan menjadi objek-objek dalam
pengetahuan. Tahap ini dinamaka Waahidiyyah atau pembatasan kedua dalam pengetahuan abstrak.
Sesudah dua tahap ini dalam pengetahuan, Uluyhiyah (keadaan pengetahuan Ilahi) dibedakan dari
Rubuubiyah (keadaan manifestasi dari penguasaan), dan tahap dari pada Asma’ Ilahi (nama yang
memerintah) dan Asma’ Kiyaani (nama yang diperintah) mulai. Bila Rubuubiyah mulai, maka tahap
manifestasi itu dinamakan Faidh muqaddas (kebajikan yang suci). Dan dia meluas dari Waahidiyyah
sampai kepada tahap menjadi Debu/ abu. Ini adalah detil-detil dari Haqiiqati Muhammadi, maka Rasul
berkata,”Aku berasal dari cahaya Tuhan dan seluruh penciptaan berasal dari cahayaku”. Oleh karena
itu adalah tepat untuk menamakan setiap objek Rasuul (yang dikirim Tuhan) atau Barzakh (pembagian
dari dua keadaan). Sementara Rasuul adalah Barzakhi Jamii’ (Barzakh kolektif) di mana semua
barzakh dimanifestasikan. Jika suatu barzakh mengambil bentuk, dia akan mengambil suatu bentuk
yang lebih tertentu dari yang sebelumya. Yang pada gilirannya menjadi Bathinnya. Dengan begitu kau
menemukan semuanya direfleksikan ke dalam setiap atom.
7. Bentuk-bentuk mempunyai tempat dalam pengetahuan Tuhan. Mereka bukanlah ketiadaan
(kekosongan) yang mutlak, sebab kekosongan dan kehampaan tak bisa menjadi sesuatu. Keberadaan
dimana benda-benda turut ambila bagian adalah keberadaan biasa. Sebagai lawan dari Wujud Mutlak/
absolut/ keberadaan dari zat.
KUNTUM AMWAATAN FA AHYAAKUM

“Kau telah mati, dan Dia memberi kamu hiduop”. Artinya kamu tidaklah diluarNya. Dia membikin kamu
ada dilur dengan keberadaanNya, serupa seperti Dia membikin kamu ada dalam pengetahuan.
8. Kata Ism (jamaknya Asmaa’) adalah berasal dari “Wasam” yang berarti mengecat/ membingiki, atau
dari kat “samu” yang berarti peninggian/ terkemuka. Asmaa’ memberi ketermukaan bagi suatu aspek
zat yang khusus. Merka bukanlah tambahan atau tumbuhan dalam arti padanya. Mereka adalah salah
satu dari perbuatan, sifat atau zat. Aspek manapun yang lebih penting/ terkemuka pada saat itu.
Asmaa’ dari perbuatan membutuhkan objek, dimana perbuatan berakhir dan tak ada akibat yang
nampak jelas. Seperti kebajikan/kebaikan, yang dibutuhkan oleh suatu ojek dimana telah dilimpahkan
kebajikan.
Al Baats (penyebab), ALHafiz (penjaga), Al Khaliq (pencipta), Al Musawwir (pembentuk), dsb,
termasuk dalam katagori ini. Jika mereka tidak membutuhkan objek seperti itu, tapi memberi arti suatu
sifat, mereka dinamakan Asmaa’ dari pada sifat, seperti Al Hayy (pemberi hidup). Bila mereka tidak
mengartikan apa-apa kecuali zat itu sendiri, mereka dinamakan Asmaa’ Dzaati, seperti Al Muhaimin
(pelindung), Ar-Rab (pemelihara). Tak ada nam Tuhan yang tidak menunjukkan suatu sifat. Nama itu
terutama menonjolkan suatu aspek yang husus dari zat ke depan. Jadi nama-nama itu bukanlha
tambahan bagi zat.

12
9. Faidh Muqaddas adalah keberadaan yang dilimpahkan pada a’yaan dalam eksternaliti (rupa luar)
dalah tahap Wahidiyyah saat mereka ditentukan (A’yaan Tsabita). Ini adalah keberadaan umum.
Melewati inilah keberadaan absolut. Syaikh Ibnu Hasan Asy’ari menamakan ini keberadaan umum-
realitas a’yaan dalam eksternaliti. Jiwa (roh) refleksi yang telah menimpa cermin dari realitas. Yang
absolut tidak dihubungkan dengan keberadaan umum sebelum manifestasi ini.
10. Perintah apapun yang sampai pada a’yaan dalam pengetahuan, yang sama telah mengambil bentuk
luar. Setiap a’yaaan adalah manifestasi dari suatu anam. Maka setiap objek adalah manifestasi dari
suatu nama yang memeliharanya. Nama itu telah memgang gembok dari objek itu dan memimpinnya.

WAMAA MIN DAABBATIN ILAHUWWAHIDUN BINAASIYATIHAA,


INNARABBI ‘ALAA SHIRAATIN MUSTQIIM
”Apapun yang menjalar gemboknya ada dalam tangan Rabnya. Dan bahwa Rab itu berada di jalan
yang lurus”.
Ini dinamakan jalan Asmaa’. Ism Haadii memimpin orang menjadi lurus, Ism Mudzil membawa orang
sesat, yang satu tidak mengganggu yang lain. ” Siapa yang disesatkanNya, tak seorangpun bisa
memimpinnya menjadi lurus”. Orang yang telah sesat itu diakui oleh Rabnya sendiri. Tapi dikutuk oleh
Rab dari pada Rab. Apabila yang terkutuk itu ingin mengadukan tentang nasib mereka pada hari
qiyaat, realitas daripada A’yaan mereka akan ditunjukkan pada mereka. Pengetahuan tuhan adalah
subyek/ pokok bagi realitas (yang diketahui). LAA TABDIILA LIKALIMATILLAAHI. ”Tidakd ada
perubahan bagi kata-kata Tuhan. Yang terkutuk itu akan menyerah pada realitas, dan azab mereka
akan terasa manis bagi mereka. Sebab penyerahan ini (Ridha bil Qadhaa) akan membawa damai dan
kemanisan. Seperti api yang menjadi menyenangkan bagi seekor kadal, yang mempunyai unsurnya
didlamnya. Dalam keesaan, zat tidaklah berjenis-jenis karena keragaman sifat sebab dalam keesaan.
Akhirnya adalah awalnya dan sebaliknya. Bathinnya adalah zahirnya dan sebaliknya semua aspekNya
adalah satu aspek. Sebaliknya aspek-aspek yang beragam tidak akan bergabung dalam kesatuan.
Disini sifat yang beragam menjadi satu dalam aspek keesaan dari zat, oleh karena itu manifestasi
mereka (pertentangan dan kebalikan) adalah satu didalam aspek dari keesaan zat. Syaikh Akbar
mengatakan.”Semua benda dalam semua benda”. Semua dalam satu keberadaan dan satu zat.
11. I’tibaaraat (pengandaian). Pengetahuan dari syarat-syarat dari bakatnya secara abstrak adalah suatu
i’tibaar. Dalam tahap Wahdah mereka menjadi ”yang diketahui”. Apabila mereka dimanifestasikan/
dinyatakan, mereka adalah A’yaan dari objek-objek yang diciptakan. Dalam tahap terakhir
keseragaman yang diandalkan menjadi kebereagaman yang sebernarnya. Sebab zat sendiri
menyatakan dirinya sendiri dalam keberagaman ini dan keberagaman zat dari zat akan tetap selama-
lamanya.
12. Sesudah A’yaan-tsabita, yang adalah realitas dalam pengetahuan Tuhan sesudah mengambil bentuk
dalam pengethuan (wujud ’ilmi). Keberadaan absolut muncul ke luar sesuai dengan bentuk mereka
dan syaratnya (wujud zahir). Dengan begitu dalam eksternaliti (rupa luar) tak ada yang lain dari Wujud
Tuhan dan A’yaan adalah masih adum/ tak bernama dan tak membaui bau keberadaan dan oleh
karena itu berada di luar oleh karena mereka sendiri.
13. Pengetahuan bagi ulamaa ”berarti kata-kata dan artinya”, dan bagi urafaa artinya pengenalan dari
pada Asmaa’ dan objek yang mereka tunjukan.
14. Rupa luar dari Nafs adalah rangkap dua (ganda) dalam batinnya adalah Tauhid. ’ARAFTU RABBI
BIRABBI, aku mengenal Tuhan dengan Tuhan.

6. DUNIA RUH
( ALAM ARWAH )

1. Ruuh dari manusia tidak dengan alami ruuh dari pada malaikat, sebab dia mencappai tahp tertinggi dari
Jabaruut dan lahuut. Malaikat mempunyai posisi yang sudah ditetapkan. Oleh karena itu di malam Mi’raj,
Jibril berkata kepada Rasul sebgai jawaban dari permintannya untuk menemani dia lebih tinggi dari pohon
Sidratul Muntaha yang besar.
”Bila aku terbang lebih tinggi hanya serambut, semarak keagungan akan menghanguskan sayapku”
Roh (jiwa) manusia adalah suatu rahsia ilahi, satu rupa/ gambaran, dan pembatsan dari Tuhan dalam
rahsia dari Ana/ Aku. Rupa disni adalah realitas itu sendiri.
2. Tajalli artinya memperlihatkan suatu benda tunggal/ syai’ pada dirinya sendiri dalam berbagai dan
beragam bentuk. Seperti benih mempelihatkan dirinya sebagai berbagai bidang, dan seorang
13
memperlihatkan dirinya sebagai berbagai orang. Ini bukanlah pengulangan dan bukan Hulul/ reinkarnasi.
Dengan begitu roh itu dalam tajalli adalah dalam bentuk tubuh, dan terkadang dalam suatu bentuk lain dari
tubuh dan muncul terpisah dari tubuh, mengambil bentuk di luar tubuh, memperlihatkan dirinya sendiri.
Dengan begitu dia berada didalam tubuh di luar tubuh. Sesungguhnya semua tubuh pakainnya adalah roh.
Roh itu mempunyai tiga macam pakaian; 1) elemen/ dasar, 2) Mitsaalii/ barzakhi, 3) Roh/ tubuh malaikat.
Orang hanya melihat tubuh material/ jasmaniah. Tapi bila dia melakukan latihan dan ketaatan, maka
bentuk Mitsaali keluar dari tubuh elemental/ dasar.
3.

14