Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar (KBM),

guru memiliki posisi yang menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi

utama guru ialah merancang, mengelola, dan mengevaluasi pembelajaran. Gagne,

1974 dan Ausubel, 1968 dalam Nugroho (2006) mengatakan bahwa guru

bertugas menyediakan seperangkat pengetahuan yang terorganisasikan sehingga

pengetahuan itu menjadi bagian dari sistem pengetahuan siswa. Sejalan dengan itu

pula, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menegaskan bahwa

kedudukan guru dalam KBM sangat strategic dan menentukan. Strategis karena

auru akan menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Menentukan

karena gurulah yang memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan

kepada peserta didik. Salah satu faktor yang mempengaruhi guru dalam upaya

-lemperluas dan memperdalam materi ialah rancangan pembelajaran yang efektif,

efisien. menarik, dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi dapat dilakukan dan

oleh setiap guru.

Pelaksanaan KBM, pada umumnya guru menggunakan metode yang tidak

emperhatikan kesesuaian antara isi pelajaran dengan kinerja (performansi) yang

sasaran belajar. Padahal keefektifan suatu metode pembelajaran sangat

znentukan oleh kesesuaian antara tipe isi dengan tipe performansi. Gagne dan

-
zzs. 19 - 9 dalam Nugroho (2007) mengatakan bahwa suatu hasil belajar

merneriukan kondisi belajar internal dan kondisi belajar ekstemal yang berbeda.

Suatu metode pembelajaran seringkali hanya cocok untuk belajar tipe isi
tertentu dibawah kondisi tertentu. Hal ini berarti bahwa untuk belajar di bawah
kondisi .ang lain, diperlukan metode pembelajaran yang berbeda.

Tinggi rendahnya mutu pendidikan dalam skala kecil misalnya sekolah

dapat dilihat dari hasil belajar siswanya. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh
beberapa faktor, baik faktor dan dalam (internal) maupun faktor dari luar

leksternal). Menurut Suryabrata (1991) yang termasuk faktor internal adalah

faktor fisiologis dan faktor psikologis. Fisiologis adalah ilmu yang mempelajari

tentang nama-nama organ tubuh manusia dan psikologis adalah ilmu yang

mempelajari jiwa serta sifat manusia. Misalnya kecerdasan, motivasi berprestasi

dan kemampuan kognitif. Sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah

linekungan dan instrumental. Misalnya Guru, kurikulum dan model pembelajaran

iDjamaah, 2001:455). Bloom mengemukakan tiga faktor yang mempengaruhi

basil belajar, yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi dan kualitas

belajar IDjarnaah, 2001:456).

Berdasarkan hasil observasi pada SMP Negeri 4 Palu kelas VIII tentang
data nilai hasil semester ganjil dan genap mata pelajaran IPA Fisika pada tahun

2,;.aran 2005/2006 dan 2006/2007 seperti pada tabel berikut.

Tel 1.1 Data nilai IPA-Fisika semester siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Palu.

Nilai rata-rata kelas


Tahun
No Kelas Kelas Kelas Kelas
ajaran/semester
Manggis Melon Rambutan Sirsak
1 2006/2007
ganjil 69,74 66,50 59,08 68,81
genap 76,76 73.08 66,30 74,00
-. 2007/2008
ganjil 67,88 76,03 64,50 74,46

Sumber : SMP Negeri 4 Palu Tahun 2008

Dari tabel di atas terlihat perolehan nilai. IPA siswa yang dicapai pada

semester 1 tahun ajaran 2007/2008 kurang memuaskan. Berbagai usaha telah

diupayakan untuk meningkatkan pemahaman konsep dan kecerdasan interpersonal

siswa antara lain pemberian tugas-tugas dan memberikan ramedial pada siswa

ang mengalami kesulitan belajar. Usaha-usaha tersebut dirasakan belum mampu

menyelesaikan masalah baik dari segi pengalaman konsep fisika maupun dari segi

guru dalam mengajarnya. Maka dari hasil observasi diperoleh untuk aspek aktif

dalam kelompok, berempati terhadap orang lain, kepemimpinan masih sangat

kurang maksimal. Sedangkan untuk aspek dapat mengajari orang lain dan
diandalkan teman masih dalam kategori cukup. Sehingga kecerdasan interpersonal

siswa masih hams ditingkatkan dalam kegiatan belajar mengajar.

Untuk memecahkan permasalahan yang menyangkut pemahaman belajar

siswa maka salah satu alternatif pembelajaran yang dilakukan adalah dengan

menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Kelebihan dari model ini

adalah cocok untuk togas sederhana, lebih banyak kesempatan untuk kontribusi

masing-masing anggota kelompok, interaksi lebih mudah dan cepat

membentuknya. Dalam penerapan model ini, siswa diharapkan dapat

meningkatkan pemahaman konsep fisika dan kecerdasan interpersonal pada siswa

kelas VIII SMP Negeri 4 Palu.

1_2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka dirumuskan

:errnasalahan dalam penelitian ini yaitu: "Apakah dengan model pembelajaran

kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika dan


kecerdasan interpersonal pada siswa kelas VIII Rambutan di SMP Negeri 4 Palu?"

1.3 Tujuan Penelitian

A-dapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman


konsep fisika dan kecerdasan interpersonal melalui model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw pada siswa kelas VIII Rambutan SMP Negeri 4 Palu.
1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :


a. Bagi Siswa

Memberikan pemahaman konsep fisika dan kecerdasan interpersonal bagi


siswa dalam meningkatkan pemahaman serta hasil belajarnya di sekolah

b. Bagi Guru

Memberikan motivasi bagi guru untuk selalu berusaha dan menggali


metode pembelajaran yang lebih efelctif dan efisien
c. Bagi Sekolah

Memberikan informasi bagi sekolah khususnya dalam rangka perbaikan


pembelajaran di sekolah.

BAB II

KAJIAN PUS TAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan merupakan kata benda yang menerapkan kata kerja atau kata

keterangan. Seseorang menunjukkan Kecerdasannya ketika is bertindak atau

berbuat dalam suatu situasi secara "cerdas" atau "bodoh". Kecerdasan seseorang

umpak dalam cara orang tersebut berbuat atau bertindak.

Kecerdasan merupakan kemampuan intelektual yang berdaya guna

nem elesaikan masalah atau tugas. Misalnya menulis surat, mengarang,

aca, memecahkan suatu masalah, menghadapi ujian dan sebagainya. Jadi

MEW yang kecerdasannya kuat adalah orang yang mampu berbuat

dengan Cana dengan kata lain orang yang berpikir menggunakan pikiran

inteleknya, cepa tidaknya dan terpecah tidaknya suatu masalah tergantung

kepada kanampuan kecerdasannya.

Kemampuan kecerdasan mencakup berbagai aspek baik kemampuan verbal

+"ikir, berpidato, pengetahuan, kejeniusan dan sebagainya) maupun

kanampuan yang berkaitan dengan gerak (melukis, menari, memahat,

=ren2endarai kenderaan dan sebagainya). Dalam tingkat kecerdasan tinggi dapat

menonjol pada suatu bidang kemampuan/keterampilan tertentu.

Kecerdasan dalam arti luas adalah kemampuan untuk mencapai prestasi


N1g. didalamnya memegang peran. Kecerdasan dalam arti sempit adalah

karnampuan untuk mencapai prestasi di sekolah yang didalamnya berpikir

memegang peranan pokok. Kecerdasan dalam arti ini sering disebut kemampuan

intelektual atau kemampuan akademik. Para pakar psikologi (Winkel, 1995),

berpendapat bahwa ada 3 komponen inti dalam intelegensi yaitu kemampuan

untuk menangani representasi mental dalam alam pikiran seperti konsep dan

kaidah berpikir abstrak, kemampuan untuk memecahkan atau mengatasi

problem serta kemampuan untuk belajar.

Kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan mempersepsi dan


membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain.
Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada ekspresi wajah, suara, gerak-
isyarat; ii-,emampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal; dan
kemampuan menanggapi secara efektif tanda tersebut dengan tindakan
pragmatis tertentu lArmstrong, 2002:4).

Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka


perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan
- -E-Interaksi dengan orang lain, sehingga mudah dalam bersosialisasi dengan
=i2kungan di sekelilingnya Kecerdasan semacam ini juga sering disebut sebagai
kecerdasan sosial di mana seorang anak mampu menjalin persahabatan yang
akrab &man teman-temannya, juga termasuk kemampuan seperti
memimpin, tre norganisasi, menangani perselisihan antar teman, memperoleh
simpati dari

_2-, yang lain, dan sebagainya.


Kecerdasan ini terkait dengan bagaimana seseorang memahami perasaan,

scasana hati, keinginan, serta karakter orang lain. Seseorang yang

memiliki

kecerdasan interpersonal memungkinkan dirinya untuk memiliki ikatan dan


interaksi dengan orang lain secara lebih mudah (Subinarto, 2005:84).
Ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan interpersonal antara lain adalah:

• Memiliti banyak teman


• Aktif bersosialisasi, di lingkungan rumah maupun sekolah
• Mengenal dengan balk lingkungannya

• Aktif dalam kegiatan yang melibatkan kelompok


• Diaridalkan teman

• Mampu berempati terhadap orang lain


• Suka memimpin

• Dapat mengajari orang lain


Strategi pengajaran untuk kecerdasan interpersonal adalah:
1. Berbagi rasa dengan teman sekelas

Mengajari teman sebaya (siswa melatih atau mengajarkan materi tertentu


kepada siswa lain) atau berupa tutorial antar angkatan.

§ Formasi patung dari orang

Jika siswa berkumpul dan secara kolektif mempresentasekan bentuk fisik


suatu gagasan, konsep atau tujuan pembelajaran lain, muncullah fonnasi
patung dan orang. Jika siswa mempelajari sistem tengkorak, mereka dapat
membuat representasi tengkorak dan orang, yakni setiap orang
mempresentasikan sebuah tulang atau sekolompok tulang.

3. Kerja Kelompok

Kelompok dapat mengerjakan tugas tertulis secara kolektif, misalnya


dengan setiap anggota menyumbangkan gagasan, persis seperti skenario
ketika mempersiapkan sebuah episode televisi. Dengan kerja kelompok siswa
juga dapat berbagi tanggung jawab dengan berbagai macam cam.

4. Board Games

Cara belajar pada konteks lingkungan sosial informal yang


menyenangkan. Siswa dapat mengobrol, berdiskusi tentang aturan permaianan,
melemparkan dadu dan tertawa. Tapi mereka terlibat dalam proses
mempelajari keterampilan atau topik yang menjadi fokus game tersebut.

Simulasi
Simulasi melibatkan kelompok orang secara bersama-sama
menciptakan lingkungan "serba seandainya". Tatanan sementara ini
mempersiapkan suasana untuk kontak yang lebih langsung dengan materi
yang dipelajari.

2.2 Pemahaman Konsep


Bila seseorang dapat menghadapi benda atau peristiwa sebagai suatu

kelompok, golongan, kelas, atau kategori, maka is telah belajar konsep. Dengan

konsep dimaksud bila sesuatu kita ketahui mempunyai sifat yang terdapat dalam

suatu kelas, kelompok atau kategori yang dinyatakan dengan nama "warna" ,

bentuk", "ukuran" atau nama "binatang", "kucing", "pohon", "kursi", dan

sebagainya. Konsep yang konkrit serupa ini dapat ditunjukkan bendanya,

jadi _ 2eroleh melalui pengamatan. Pada taraf yang lebih tinggi diperoleh konsep

yang Abstrak, yaitu konsep menurut definisi, seperti konsep "massa jenis",

"kalori"

dalam fisika, "akar ", "negatif ", "bilangan imajiner" dalam matemetika ,
"subyek", "obyek" dalam bahasa, dan sebagainya.

Pakar psikologi (Winkel, 1995) menyatakan bahwa pemahaman dapat


dibedakan ke dalam 3 kategori sebagai berikut:

 Pemahaman tingkat pertama adalah pemahaman terjemahan mulai


terjemahan dalam arti yang sebenamya, misalnya menerapkan hukum
kekekalan energi dalam kehidupan sehari-hari

Pemahaman tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yakni


menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui
berikutnya,


misalnya menghubungkan beberapa bagian dan grafik dengan kejadian,
membedakan yang pokok dan yang bukan pokok.

Pemahaman tingkat ketiga atau tingkat tertinggi adalah pemahaman

ekstrapolasi. Dengan ekstrapolasi diharapkan seseorang mampu melihat

dibalik yang tertulis, dapat membuat ramalan tentang konsekuensi atau dapat

memperluas presepsi dalam arti waktu, dimensi kasus ataupun masalahnya.

Berdasarkan definisi diatas, dapat dikatakan bahwa pemahaman itu


emiliki tingkat (level) menurut tahap kesulitannya. Pemahaman
dapat
merupakan kesanggupan untuk menyatakan suatu definisi rumusan,
kata yang
it dengan perkataan sendiri. Dapat pula merupakan kemampuan
untuk
1-neriafsirkan suatu teori atau melihat konsekuensi atau implikasi,
meramalkan
A..e.mungkinan atau akibat sesuatu. Sejalan dengan hal yang telah
dikemukakan di
r. maka dapat dinyatakan bahwa level pemahaman orang itu berbeda-
beda, ada
level pemahaman rendah, sedang dan tinggi sesuai dengan

kemampuan intelektualnya dalam menguasai suatu konsep.

Mengajar menyangkut transfer konsep, keterampilan dan nilai dari


pengajar ke pelajar. Hal yang paling utama dalam pengajaran sehari-hari adalah
konsep. Menurut Ausubel (dalam Setiawan, 2007), "Konsep adalah benda-benda,
kejadian-kejadian, situasi-situasi, yang memiliki ciri-ciri khas dan terwakili dalam
setiap budaya oleh satu benda atau simbol.

Tafsiran mengenai suatu konsep pada tiap orang berbeda-beda. Misalnya


penafsiran konsep Ibu atau Cinta, atau keadilan berbeda untuk setiap orang.
Tafsiran konsep oleh seseorang disebut konsepsi. Walaupun dalam fisika
kebanyakan konsep mempunyai arti yang jelas, yang sudah di sepakati oleh para
tokoh fisika, konsepsi yang dimiliki oleh siswa berbeda-beda. Tafsiran (konsepsi)
siswa mengenai konsep gaya dapat berbeda dari tafsiran guru atau buku. Konsep
massa jenis untuk jenis bahan tertentu adalah hasil bagi massa dan volume adalah
tetap dan tetapan itu berbeda untuk setiap unsur dan senyawa. Untuk itu unsur
atau senyawa dikenal dengan massa jenisnya. Hal seperti ini banyak siswa yang
mempunyai konsepsi yang berbeda, mereka cenderung berpikir bahwa jika
jumlah zat ditambah, maka massa jenisnya bertambah. Inilah merupakan
salah satu contoh salah konsep siswa.
Dan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian pemahaman konsep

adalah kemampuan menangkap pengertian-pengertian seperti mampu

mengungkapkan suatu materi yang disajikan ke dalam bentuk yang Iebih


Dari uraian di atas tampak bahwa pembelajaran kooperatif dalam bekerja
siswa dikehendaki untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama dan harus
mengkoordinasi usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Adapun langkah-
langkah pembelajaran kooperatif (Ibrahim, 2000:10) yaitu:

Tabel 2.1 Langkah-langkah pembelajaran kooperatif

Fase-Fase
Guru menyampaikan semua tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi
siswa belajar

Guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat
bahan bacaan

Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke Guru menjelaskan kepada siswa
dalam kelo mpok-kelompok Fase 1 bagaimana caranya membentuk
belajar Menyampaikan t uj u a n kelompok belajar dan membantu flap
kelompok belajar melakukan transaksi
secara d a n memotivasi siswa efektif

Guru membimbing kelompok-kelompok


belajar Fase 2 pada saat mereka mengerjakan tugas

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau
masingmasing kelompok mempresentasikan hasil kerj anya

Guru menghargai baik upaya maupun basil


belajar individu dan kelompok siswa

Fase 4
Membimbing kelompok

belajar dan bekerja

Fase 5

Fase 6
Memberikan penghargaan
2.4 Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran


kooperatif yang terdiri dan beberapa anggota dalam satu kelompok yang
bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu
mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya
(Arend s,1997).
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model
pembelajaran kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri
dan 4-6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang
positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang hams
dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain
(Arends,1997).
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap
pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya
mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan
dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan
demikian, "siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan hams bekerja sama
secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan" (Lie, A., 1994).

Para anggota dan tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu

untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topik

pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali

pada tim/kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain

tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal
dan kelompok ahli". Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang
beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang
beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli,
yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang
ditugaSkan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan
tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan
kepada anggota kelompok asal.

Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang

sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang

ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain

untuk mempelajari topik mereka tersebut. Setelah pembahasan selesai, para

anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada

teman sekelompokn.ya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di

kelompok ahli. Jigsaw didesain selain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab

siswa secara mandiri juga dituntut saling ketergantungan yang positif (saling

memberi tabu) terhadap teman sekelompoknya. Selanjutnya di akhir

pernbelajaran, siswa diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang

telah dibahas. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependensi setiap siswa terhadap

anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar

dapat mengerjakan kuis dengan baik.

Untuk pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, disusun langkah-

lanakah pokok sebagai berikut; (1) pembagian tugas, (2) pemberian lembar ahli,
(3) mengadakan diskusi, (4) mengadakan kuis. Adapun rencana pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw ini diatur secara instruksional sebagai berikut
(Slavin,1995):

• Membaca: siswa memperoleh topik-topik ahli dan membaca materi tersebut untuk
mendapatkan informasi.

• Diskusi kelompok ahli: siswa dengan topik-topik ahli yang sama bertemu
untuk mendiskusikan topik tersebut.

• Diskusi kelompok: ahli kembali ke kelompok asalnya untuk menjelaskan


topik pada kelompoknya.
♦ Kuis: siswa memperoleh kuis individu yang mencakup semua topik.

e Penghargaan kelompok: penghitungan skor kelompok dan


menentukan penghargaan kelompok.

Setelah kuis dilakukan, maka dilakukan perhitungan skor perkembangan individu


dan skor kelompok. Skor individu setiap kelompok memberi sumbangan pada skor
kelompok berdasarkan rentang skor yang diperoleh pada kuis sebelumnya dengan
skor terakhir. Arends (1997) memberikan petunjuk perhitungan skor kelompok
sebagaimana terlihat dalam Tabel berikut.

Tabel 22 Konversi Skor Perkembangan


Skor Kuis Individu Skor Perkembangan
1. Lebih dan 10 poin di bawah skor awal 5
2. 10 poin sampai 1 poin di bawah skor awal 10 20 30 30
3. Skor awal sampai 10 poin di atasnya
4. Lebih dan 10 di atas skor awal
5. Nilai sempuma (tidak berdasarkan skor awal)
Untuk menentukan tingkat penghargaan yang diberikan untuk prestasi kelompok,

menurut Arends (1997) dapat dilihat dalam Tabel 2.3 berikut.


2.5.1 Bunyi

Bunyi termasuk salah satu jenis gelombang yang dapat dirasakan oleh
indera pendengaran (telinga). Jenis gelombang yang dapat dirasakan indra adalah
cahaya. Cahaya dapat ditangkap oleh indra penglihat (mata). Gelombang bunyi
:riemegang peranan penting dalam komunikasi antar manusia. Manusia dapat
- ercakap-cakap berkat adanya gelombang bunyi. Manusia dapat mendengar berita
televise, radio, atau mendengar musik karma adanya gelombang bunyi.
3ukan hanya manusia, hewan pun membutuhkan bunyi untuk bertahan hidup.
_amber bunyi adalah zat yang dapat menimbulkan getaran (bunyi)

• Getaran menimbulkan bunyi

• Gelombang bunyi merupakan gelombang mekanis yang dapat merambat


melalui berbagai zat antara (medium)

• Gelombang bunyi merupakan gelombang longitudinal


• Bunyi dapat didengar apabila ada medium perantara/zat antara

• Cepat rambat bunyi dapat ditulis:

V = A — atau V = A.f (Rahmini dan Riyanto, 2007:95-118)


Cepat rambat bunyi di udara tidak tergantung pada tekanan, tetapi tergantung pada
suhu (Rahmini dan Riyanto, 2007:95-118)
Tabel 2.4 Cepat Rambat Bunyi Pada Bebera a Medium

No Medium Cepat Raipbat Bunyi (m/s)


1 Udara (0°C) 331
2 Udara (15°C) 340
3 Udara (25°C) 347
4 Gas Hidrogen 1.286
5 Gas Oksigen 317
6 Air (25°C) 1.490
7 Air Laut (25°C) 1.530
8 Timbal (20°C) 1.230
9 Aluminium 5.100
10 Tembaga 3.560
11 Besi (20°C) 5.130
12 Batu Granit 6.000

2.5.2 Batas Pendengaran Manusia

• Bunyi yang dapat didengar mempunyai frekuensi antara 20 Hz-20.000 Hz

• Bunyi yang frekuensinya kurang dari 20 Hz disebut bunyi infrasonik

• Bunyi yang frekuensinya lebih dari 20.000 Hz disebut bunyi ultrasonik

• Kelelawar dan ikan lumba-lumba dapat mendengar bunyi ultrasonik sedangkan


jengkrik dapat mendengar bunyi infrasonik

• Tinggi rendahnya nada (bunyi) tergantung frekuensinya


• Bunyi yang frekuensinya lebih besar akan terdengar dengan nada yang lebih tinggi

• Kuat lemahnya bunyi tergantung kepada amplitudonya. Semakin besar amplitudonya


bunyi terdengar semakin keras

• Desah; bunyi yang nadanya tidak teratur


• Dentum; bunyi yang frekuensinya tinggi dan amplitudonya besar sehingga
masih dapat didengar. Contoh bunyi terompet, born, meriam dll

• Warna bunyi dinamakan timbre (timber) yaitu perbedaan bunyi yang timbul dari
alat yang berbeda walaupun frekuensi dan amplitudonya sama.
• Cepat rambat rambat bunyi bergantung pada suhu udara "Makin tinggi suhu

udara, makin besar cepat rambat bunyi, atau makin rendah suhu udara,

makin kecil cepat rambat bunyi. Contoh:

Suhu Cepat rambat bunyi


0°C

P5°C 340 m/s

25°C .... 347 m/s

2.5.3 Hukum Marsene


Jika senar gitar kita kencangkan (tegangkan. ), bunyi yang dihasilkan

terdengar lebih nyaring. Jika kita perhatikan dengan saksama, kecepatan bergetar

senar yang kencang lebih besar daripada kecepaan bergetar senar yang kendur. Hal

itu menunjukkan bahwa nyaring tidaknya bunyi ditentukan oleh frekuensinya (kecepatan

bergetar). Orang yang pertama kali meneliti hubungan frekuensi nada dan frekuensi

dawai (senar) adalah Marsene (fisikawan Prancis). Alat yang digunakan adalah

sonometer. Adapun bunyi hukum Marsene adalah:

• Panjang dawai: makin pendek dawai, makin tinggi frekuensi yang dihasilkan

• Tegangan dawai: makin tegang dawai, makin tinggi frekuensi yang dihasilkan

• Massa jenis bahan dawai: makin besar massa jenisnya, frekuensi yang

dihasilkan makin rendah

• Penampang dawai: makin besar luas penampang dawai, frekuensi yang

dihasilkan makin rendah

Hukum Marsene dapat ditulis dalambentuk rumus:


Bob Foster, 2004:170)
Dengan:

f frekuensi nada (Hz)


:

/ : panjang senar (m)

: tegangan senar (N)


A : luas penampang senar (m2)
p : massa jenis senar (kg/m3)

2.5.4 Resonansi
Resonansi adalah peristiwa ikut

bergetamya suatu benda akibat getaran

benda lain. Resonansi terjadi apabila frekuensi

alamiah benda yang turut bergetar sama

dengan frekuensi benda yang sedang bergetar

Contoh :
1. Udara di dalam rongga gendang (rebana)

2. Udara di dalam suling yang ditiup

3. Udara di dalam rongga udara (suara) pada binatang dll.

2.5.5 Pemantulan Bunyi

1. Bunyi dapat dipantulkan apabila

mengenai bidang yang keras.

Hukum Pemantulan Bunyi

a Bunyi datang, garis normal dan bunyi

pantul terletak pada sate bidang b.


Sudut datang (i) sama dengan sudut

pantul (r)

_ Bunyi juga dapat diredam apabila mengenai bidang yang lembut. Bahan yang dapat
meredam bunyi disebut akustik. Contoh; gabus, busa, karton, karet, kapas dan lain-
lain

Gema bunyi pantul yang terdengar setelah bunyi ash. Contoh; bunyi yang dipantulkan
oleh lembah yang dalam, tebing tinggi yang jaraknya cukup jauh dan lain-lain

Gaung atau kerdam bunyi pantul yang terdengar sebagian hampir bersamaan dengan
bunyi ash. Gaung dapat menganggu kualitas bunyi

Manfaat pamantulan bunyi:

a. Dapat di pakai untuk mengukur cepat rambat bunyi


Jika jarak dinding pemantul L dan bunyi pantul terdengar t detik setelah

bunyi ash maka cepat rambat bunyi adalah: V = 21"

b. Digunakan untuk mengukur kedalaman laut

Jika cepat rambat bunyi di air V dan bunyi pantul terdengar t sekon setelah bunyi ash
maka:
BAB III

METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

3.1 Rantangan Penelitian


3.1.1 Desain atau Model Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua

siklus. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini mengikuti tahap penelitian tindakan

yang tiap tahap disebut siklus. Penelitian ini mengacu pada model Kurt Lewin yang

dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart (Depdiknas, 2003:19) yang meliputi

tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Diagram

alur pelaksanaan penelitian tindakan ini dapat dilihat pada Gambar 3.1.
3.1.2 Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 4 Palu, kelas yang dijadikan

subyek penelitian adalah kelas VIII Rambutan yang terdaftar pada tahun ajaran

2008/2009 dengan jumlah siswa 38 orang terdiri dan siswa laki-laki 15 orang dan siswa

peretnpuan 23 orang.

3.2 Data dan Tekhnik Pengumpulan Data

3.2.1 Jenis Data


Jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah:

• Data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dan siswa dan guru atau peneliti dalam

kegiatan belajar mengajar.

• Data kuantitatif, diperoleh setelah proses pembelajaran pada setiap siklus

berupa basil tes pemahaman konsep siswa dan interpersonal intelegensi. 3.2.2

Cara Pengumpulan Data

Adapun cara pengumpulan data dalam penelitian adalah sebagai berikut :

• Data aktifitas dalam kegiatan belajar mengajar diperoleh melalui lembar

observasi guru yang diisi oleh pengamat.

• Data pemahaman konsep siswa diperoleh melalui tes yang diberikan kepada siswa

setelah pemberian tindakan setiap siklus.

♦ Data aktifitas (interpersonal intelegensi) siswa dalam kegiatan belajar


mengajar diperoleh melalui lembar observasi siswa yang diisi oleh pengamat. 33

Tahap Tahap Penelitian


-

Secara umum kegiatan penelitian ini dapat dibedakan dalam dua tahap, yaitu

tahap pratindakan dan tahap pelaksanaan tindakan

3.3.1 Tahap Pratindakan

Kegiatan awal yang dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan

adalah observasi awal yang dilakukan pada tanggal 11 dan 12 April 2008.

Pemberian tes awal dilaksanakan pada hari Rabu 16 April 2008. Pemberian

tes ini dimaksudkan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa dan dijadikan

sebagai dasar pembagian kelompok belajar. Hasil analisis tes awal (Pra

Test) merupakan data untuk menentukan rencana tindakan refleksi pada

siklus I.

3.3.2 Tahap Pelaksanaan Tindakan


Berangkat dan hasil pratindakan selanjutnya inelaksanakan tindakan

yang dilaksanakan selama dua siklus, yaitu:

3.3.2.1 Siklus I
a. Perencanaan
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan adalah sebagai
berikut :
1. Menetapkan materi ajar
2. Membuat skenario pembelajaran dengan mengacu pada

model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw


3. Membuat rencana pembelajaran
4. Membuat lembar observasi guru dan siswa selama pelaksanaan

kegiatan belajar mengajar berlangsung

5. Membuat LKS ( Lembar Kerja Siswa )


6. Menyiapkan tes akhir tindakan berupa tes pemahaman konsep siswa

dan kecerdasan interpersonal

b. Pelaksanaan Tindakan

c. Peiaksanaan tindakan siklus I dilakukan pada tanggal 17 April 2008 sampai 24


April 2008 dikelas VIII Rambutan. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini

adalah melaksanakan pembelajaran sesuai skenario pembelajaran yang


telah
dirancang. Pada peneliti an ini digunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
yang disajikan dengan alokasi waktu 3 x 40 menit.
d. Observasi

Kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran berupa pengamatan


terhadap aktivitas siswa dan guru. Dalam melakukan pengamatan, digunakan lembar
observasi yaitu:

• Lembar observasi untuk siswa, yakni lembar observasi aktifitas siswa


selama kegiatan pembelajaran.

• Lembar observasi untuk guru, yakni lembar observasi pengelolaan


pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti.
Kriteria penilaian tiap aspek yang diobservasi ditentukan melalui
mberian skor. Indikator yang dinilai sangat baik oleh observer diberi skor 4.
diberi skor 3, sedang diberi skor 2, dan kurang diberi skor 1. Selanjutnya
data observasi digunakan persamaan persentase nilai rata-rata

tase Nilai Rata-rata — Jumlah Skor x 100%


Skor Maksim al
:araf keberhasilan tindakan dapat ditentukan sebagai berikut:

PNR 5 100%: Sangat baik

50% < PNR 75% :Balk

25% < PNR 50% : Cukup balk

0% < PNR 25% : Kurang baik

d. Refleksi

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menganalisis data yang

diperoleh pada tahap observasi, dan tes, berdasarkan hasil analisis data

dilakukan refleksi guna melihat kekurangan-kekurangan yang terjadi saat

pembelajaran diterapkan. Hasil analisis data yang telah dilakukan pada tahap ini

dijadikan awal untuk merencanakan siklus berikutnya

3.3.2.2 Siklus II

a. Perencanaan

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah

sebagai berikut :

1. Menetapkan materi ajar


2. Membuat skenario pembelajaran dengan mengacu pada

model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw

3. Membuat rencana pembelajaran


4. Membuat lembar observasi guru dan siswa selama pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar berlangsung

5. Membuat LKS ( Lembar Kerja Siswa )


6. Menyiapkan tes akhir tindakan berupa tes pemahaman konsep siswa

dan kecerdasan interpersonal

b. Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan yang dilakukan pada Siklus II tidak berbeda dengan tindakan Siklus

I tetapi dilakukan beberapa perbaikan guna meminimalisir kekurangan-

kekurangan yang terjadi selama tindakan Siklus I. Sesuai dengan tahap

pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan tindakan Siklus II dilaksanakan 3

(tiga) kali pertemuan pada tanggal 30 April 2008 sampai 08 Mei 2008 di kelas

yang sama.

c. Observasi

Seperti halnya pada tindakan Siklus I, pada Siklug II kegiatan yang dilakukan
adalah mengobservasi dan mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang dilakukan
oleh observer yang sama.
d. Refleksi

Berdasarkan hasil refleksi tindakan yang dilaksanakan pada siklus I dilakukan


perbaikan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II. Pelaksanaan tindakan
penelitian siklus II disesuaikan dengan perubahan yang ingin dicapai.

Hasil yang diperoleh pada siklus ini dikumpulkan serta di analisis hasilnya
:.zunakan untuk menetapkan apakah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang
. - ...aksanakan dapat meningkatkan pemahaman konsep dan kecerdasan
- :erpersonal pada siswa kelas VIII Rambutan SMP Negeri 4 Palu.
3.4 Teknik analisa data
Dalam menganalisis data dan persentase ketuntasan belajar digunakan
data lcuantitatif sebagai berikut :

DI

DSI = x100%

3.4.1. Daya Serap Individu M (Depdiknas, 2001: 37) (3.3)


dengan :

DSI : Daya serap individu

M : Skor yang telah diperoleh siswa

SM : Skor maksimal soal

3.4.2. Ketuntasan hasil pemahaman konsep siswa


n
PTK=_____x100% (Depdilcnas, 2001: 37) (3.4)
EN

dengan :

PTK : Persentase tuntas klasikal

n : Banyak siswa tuntas

N : Banyak siswa seluruhnya.

3.4.3. Kecerdasan Interpersonal siswa secara Idasikal

P S_x00%
Lss
dengan:
PII : Persentase kecerdasan Interprsonal

S : Banyak siswa yang aktif dalam setiap aspek

Ss : Banyak siswa seluruhnya

3.4.4. Daya Serap Klasikal

X
E
DSK=x100% (Depdiknas, 2001: 37) (3.5)

dengan :

Liaya serap klasikal


: Skor total persentase

Y : Skor ideal seluruh siswa.

3.5 Indikator Kinerja

3.5.1 Indikator Kualitatif Pembelajaran

Indikator kualitatif pembelajaran pada penelitian ini dapat dilihat dari aspek

yaitu hasil observasi pembelajaran oleh guru dan siswa. Penelitian ini dinyatakan

berhasil, jika aspek tersebut telah berada dalam kategori baik atau sangat baik.

3.5.2 Indikator Kuantitatif Pembelajaran

Indikator yang menunjukan keberhasilan pelaksanaan penelitian tindakan ini

adalah bila hasil pemahaman konsep mencapai tuntas individu minimal 65% dan

tuntas klasikal minimal 85% (Depdikbud, 1995:37).