Anda di halaman 1dari 25

1

A. JUDUL : PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE


THE POWER OF TWO (KEKUATAN DUA KEPALA)
UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
PADA POKOK BAHASAN ALAT – ALAT OPTIK DI
KELAS VIII SMP N MUHAMMADIAH KUOK

B. BIDANG ILMU: Pendidikan Fisika

C. PENDAHULUAN

Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan.

Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut

pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek

organisme atau pribadi (Djamarah, 2006). Hamalik (2007) juga menambahkan

bahwa belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai

tujuan.

Secara tradisional pelaksanaan pembelajaran masih diterjemahkan sebagai

proses mentransfer informasi dari guru kepada siswa, dalam hal ini guru bertindak

sebagai pihak yang berperan aktif sedangkan siswa hanya menerima apa yang

disampaikan oleh guru. Prinsip yang paling penting dalam pendidikan sekarang

adalah guru tidak hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa,

tetapi siswa harus bisa membangun sendiri pengetahuan dari dalam dirinya

sendiri. Guru disini hanya berperan sebagai fasilisator dan motivator dalam proses

belajar siswa. Majid (2007) menyatakan bahwa kedudukan siswa dalam

kurikulum berbasis kompetensi merupakan “produsen” artinya siswa sendirilah

yang mencari tahu pengetahuan yang dipelajarinya.


2

Asumsi yang mendasari pembelajaran berpikir adalah bahwa pengetahuan

itu tidak datang dari luar, akan tetapi dibentuk oleh individu itu sendiri dalam

struktur kognitif yang dimilikinya. Atas dasar asumsi itulah, pembelajaran

berpikir memandang bahwa mengajar itu bukanlah memindahkan pengetahuan

dari guru kepada siswa, melainkan suatu aktivitas yang memungkinkan siswa

dapat membangun sendiri pengetahuannya (Sanjaya, 2008).

Berdasarkan informasi dari salah seorang guru fisika kelas VIII SMP N

Muhammadiah Kuok menyatakan bahwa guru lebih cenderung melaksanakan

proses belajar mengajar yang masih terpusat kepada guru, materi pelajaran

diberikan begitu saja sedangkan siswa tidak dituntut untuk mengolahnya. Lebih

lanjut guru tersebut menambahkan apabila diberikan soal latihan dan siswa

diminta untuk maju menyelesaikan soal tersebut, siswa yang sering maju hanya

siswa-siswa tertentu saja sedangkan siswa yang lain hanya ingin menunggu

jawaban dari temannya tersebut. Interaksi yang terjadi antara guru dan siswa pun

didominasi oleh siswa-siswa tersebut, sehingga tidak semua siswa dapat aktif

dalam proses pembelajaran. Padahal belajar hanya mungkin terjadi apabila anak

aktif mengalami sendiri (Dimyati, 2002). Hal ini mengakibatkan suasana kelas

membosankan dan kurangnya perhatian untuk mengikuti proses pembelajaran

dengan baik.

Untuk mendapatkan prestasi belajar yang memuaskan, seorang guru harus

mengupayakan agar siswa aktif dalam proses belajar. Guru diharapkan mampu

memilih cara mengajar sehingga dapat mengaktifkan siswa, diantaranya :


3

1. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut

pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan

tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di

dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode

pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari

pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1)

pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa

(student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang

berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

2. Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk

mengimplemnatsikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan

nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode

pembelajaran lebih bersifat prosedural, yaitu berisi tahapan tertentu.

3. Teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan

seseorang dalam mengimplentasikan statu metode secara spesifik.

4. Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan

metode atau teknikpembelajaran tertentu yang sifatna individual.

5. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang

bergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.

6. Strategi adalah suatu pola yang direncanakan dan ditetapkan secara

sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Strategi mencakup

tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses

kegiatan, dan sarana penunjang kegiatan (Sudjana, 2000).


4

Dari ke enam jenis pembelajaran diatas yang dapat mengaktifkan siswa

dalam relajar adalah strategi pembelajaran, karena didalam strategi telah disusun

sedemikian rupa agar siswa bias belajar secara aktif dengan menggunakan

pemikirannya artinya mereka diajar tidak hanya menerima dari guru saja. Siswa

dapat aktif jika diberikan strategi pembelajaran yang tepat. Tanpa suatu strategi

yang cocok, tepat dan jitu, tidak mungkin tujuan dari proses pembelajaran dapat

tercapai.

Salah satu alternatif strategi pembelajaran yang diharapkan dapat

mengaktifkan siswa dan mengatasi permasalahan di atas adalah strategi

pembelajaran The Power Of Two. Zaini (2008) menyatakan strategi ini

mempunyai prinsip bahwa berpikir berdua jauh lebih baik daripada berpikir

sendiri. Strategi pembelajaran The Power Of Two ini terdiri dari dua orang

sehingga kerjasama dan komunikasi lebih terjalin dengan baik. Mafatih (dalam

Ramadhan 2009) menambahkan bahwa strategi pembelajaran The Power Of Two

termasuk bagian dari belajar kooperatif adalah belajar dalam kelompok kecil

dengan menumbuhkan kerjasama secara maksimal melalui kegiatan pembelajaran

teman sendiri dengan anggota dua orang didalamnya untuk mencapai kompetensi

dasar.

Strategi pembelajaran The Power Of Two telah diteliti oleh Wahyuningsih

(2008) yang menunjukkan bahwa ada pengaruh penggunaan model pembelajaran

kooperatif The Power Of Two terhadap prestasi belajar matematika. Kelebihan

strategi The Power Of Two ini antara lain siswa tidak terlalu bergantung kepada

guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan dan kemampuan berfikir siswa
5

sendiri. Siswa juga dapat belajar untuk mengungkapkan ide-ide ataupun

gagasannya kepada orang lain. Penelitian ini juga diteliti oleh Eka Yuliana (2009)

juga mengatakan bahwa ada pengaruh terhadap prestasi yang diperoleh siswa

tersebut, yakni siswa belajar menjadi lebih aktif, sehingga tujuan pembelajaran

mudah dicapai.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis tertarik

untuk melakukan penelitian dengan judul ” Penerapan Strategi Pembelajaran

Aktif Tipe The Power Of Two (Kekuatan Dua Kepala) Untuk Meningkatkan

Prestasi Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Alat – Alat Optik Di Kelas Viii

SMP N Muhammadiah Kuok ”

D. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah:

1) Apakah penerapan pembelajaran kooperatif strategi The Power Of Two

dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan alat-alat

optik di kelas VIII SMP N Muhammadiah Kuok?

2) Berapa besar peningkatan prestasi belajar siswa melalui pembelajaran

kooperatif strategi The Power Of Two pada pokok bahasan alat- alat optik

di kelas VIII SMP N Muhammadiah Kuok?


6

E. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka penelitian

ini bertujuan untuk mengetahui:

1. Peningkatan prestasi belajar siswa melalui penerapan pembelajaran

kooperatif strategi The Power Of Two pada pokok bahasan alat-alat optik

di kelas VIII SMP N Muhammadiah Kuok.

2. Besarnya peningkatan prestasi belajar siswa melalui penerapan

pembelajaran kooperatif strategi The Power Of Two pada pokok bahasan

alat-alat optik di kelas VIII SMP N Muhammadiah Kuok.

F. MANFAAT PENELITIAN

Jika hipotesis dari penelitian ini diterima, maka diharapkan dapat

bermanfaat bagi :

1. Siswa, untuk melatih agar dapat belajar secara aktif dan bermakna, belajar

untuk mengemukakan ide/gagasan, menanamkan kepercayaan akan

kemampuan diri sendiri, serta meningkatkan prestasi belajar siswa terutama

mata pelajaran fisika.

2. Guru, untuk bahan pertimbangan sebagai salah satu alternatif strategi

pembelajaran fisika.

3. Sekolah, sebagai salah satu masukan untuk meningkatkan hasil belajar

fisika di sekolah.
7

4. Peneliti, hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan berpijak dalam

rangka menindaklanjuti penelitian ini dengan ruang lingkup yang lebih

luas.

G. LANDASAN TEORI

1. Prestasi Belajar

Slameto (1995) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha

yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang

baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi

dengan lingkungannya. Bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya

perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi

tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti (Hamalik, 2007).

Implikasi dari belajar adalah prestasi belajar. Prestasi belajar dapat

diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh individu, dapat berupa kesenangan yang

mengakibatkan perubahan dalam diri setelah mengalami suatu proses belajar

dalam jangka waktu tertentu. Prestasi belajar juga diartikan sebagai kemampuan

maksimal yang dicapai seseorang dalam suatu usaha yang menghasilkan

pengetahuan atau nilai-nilai kecakapan (Yasa, 2008). Prestasi belajar dapat dilihat

dari nilai siswa setelah mengikuti tes materi pelajaran, baik disetiap akhir

pertemuan, pertengahan semester, maupun pada akhir semester.


8

2. Pembelajaran Aktif tipe The Power Of Two

Pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang mengajak peserta didik

untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti

mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif

menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi yang

disampaikan. Dengan belajar aktif ini peserta didik diajak untuk turut serta dalam

semua proses pembelajaran. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan

merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat

dimaksimalkan.(Zaini,2008)

Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa strategi adalah suatu pola yang

direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau

tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan,

isi kegiatan, proses kegiatan, dan sarana penunjang kegiatan (Sudjana, 2000).

Kemp (dalam Sanjaya 2008) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah

suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan

pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Silberman (2007) menyatakan salah satu cara terbaik untuk

mengembangkan belajar yang aktif adalah memberikan tugas belajar yang

diselesaikan dalam kelompok kecil peserta didik. Dukungan sejawat, keragaman

pandangan, pengetahuan dan keahlian, membantu mewujudkan belajar kolaboratif

yang menjadi satu bagian yang berharga untuk iklim belajar di kelas. Salah satu

diantaranya adalah strategi pembelajaran The Power Of Two. Strategi The Power

Of Two berarti menggabungkan kekuatan dua kepala. Menggabungkan dua kepala


9

dalam hal ini adalah membentuk kelompok kecil, yaitu masing-masing siswa

berpasangan. Kegiatan ini dilakukan agar munculnya suatu sinergi yakni dua

kepala lebih baik dari satu.

Adapun langkah-langkah pelakanaan strategi The Power Of Two ini

adalah:

1. Ajukan satu atau lebih pertanyaan yang menuntut perenungan dan

pemikiran.

2. Peserta didik diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut

secara individual.

3. Setelah semua peserta didik menjawab dengan lengkap semua pertanyaan,

mintalah mereka untuk berpasangan dan saling bertukar jawaban satu

sama lain dan membahasnya.

4. Mintalah pasangan-pasangan tersebut membuat jawaban baru untuk setiap

pertanyaan, sekaligus memperbaiki jawaban individual mereka.

5. Ketika semua pasangan telah menulis jawaban-jawaban baru bandingkan

jawaban setiap pasangan di dalam kelas (Zaini, 2008).

Agar pelaksanaannya dapat menghemat waktu perlu adanya variasi-variasi

yaitu menentukan pertanyaan tertentu untuk pasangan tertentu. Ini lebih baik

daripada tiap pasangan menjawab semua pertanyaan (Silberman, 2007).

Pada akhir setiap pertemuan, guru mengadakan evaluasi berupa kuis yang

dikerjakan oleh siswa secara individu. Skor yang diperoleh siswa dalam evaluasi

tersebut selanjutnya diproses untuk menentukan nilai perkembangan individu

yang akan disumbangkan sebagai skor kelompok.


10

Langkah-langkah menentukan tingkat penghargaan yang akan diberikan

kepada kelompok adalah sebagai berikut :

1. Menghitung skor tes individu dan menentukan nilai perkembangan

individu

Perhitungan skor tes individu ditujukan untuk menentukan nilai

perkembangan individu yang akan disumbangkan sebagai skor kelompok.

Nilai perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih perolehan skor

dasar dengan skor kuis pada setiap kali tatap muka. Selisih skor tersebut

dijadikan patokan untuk menentukan perolehan poin yang akan disumbangkan

setiap anggota kelompok terhadap kelompok masing-masing berdasarkan

kriteria yang ditentukan. Dengan cara ini, setiap anggota kelompok memiliki

kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan skor bagi

kelompoknya. Skor ini turut menentukan tingkat penghargaan yang akan

diterima setiap kelompok.

Nilai individu dalam pembelajaran kooperatif strategi The Power Of Two ini

mengacu pada kriteria model evaluasi cooperative learning yang dibuat oleh

Slavin (2009) pada tabel berikut :

Tabel 2 Nilai perkembangan individu

Skor Poin kemajuan


Lebih 10 poin dibawah skor awal 5

10 sampai 1 poin dibawah skor awal 10

Sama dengan skor awal sampai 10 poin diatasnya 20

Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30


11

Hasil sempurna (tidak berdasarkan skor dasar awal) 30


(Slavin , 2009)

2. Menghitung rata-rata nilai perkembangan individu dan memberi

penghargaan kepada kelompok.

Skor kelompok dihitung berdasarkan rata-rata nilai perkembangan yang

disumbangkan anggota kelompok. Berdasarkan rata-rata nilai perkembangan

individu tersebut maka tingkat penghargaan kelompok dapat ditentukan.

Tingkat penghargaan yang diberikan pada prestasi kelompok dapat dilihat

pada tabel berikut:

Tabel 3 Tingkat penghargaan kelompok

Kriteria (rata-rata tim) Penghargaan


15 Tim baik

16 Tim sangat baik

17 Tim super
(Slavin, 2009)

3. Penerapan Strategi Pembelajaran aktif tipe The Power Of Two Pada


Pokok Bahasan alat-alat optik

Pokok bahasan Alat-Alat Optik merupakan salah satu pokok bahasan yang

dipelajari di kelas VIII dan terdiri dari beberapa sub pokok bahasan, yaitu: Mata,

Kamera, Lup, Mikroskop, Teleskop dan Proyektor.

Penerapan strategi pembelajaran aktif The Power Of Two pada pokok

bahasan alat-alat optik ini dilakukan dalam 2 kali pertemuan, melalui langkah-

langkah sebagai berikut:


12

1. Mengelompokkan siswa secara berpasangan dengan pengelompokkan

heterogen berdasarkan kemampuan akademiknya.

2. Memberi penjelasan mengenai strategi pembelajaran kooperatif The

Power Of Two.

3. Menyampaikan tujuan pembelajaran.

4. Menyampaikan materi kepada siswa.

5. Memberikan LKS kepada siswa.

6. Meminta siswa untuk mengerjakan soal yang terdapat dalam LKS secara

individu. Ajukan satu atau lebih pertanyaan yang menuntut perenungan

dan pemikiran (Zaini, 2008).

7. Setelah semua siswa selesai membuat jawaban, guru mempersilahkan

siswa untuk berpasangan dan saling berbagi mengenai jawaban individu

yang telah mereka kerjakan tadi.

8. Meminta pasangan tadi untuk membuat jawaban baru dari masing-masing

pertanyaan yang diberikan.

9. Ketika semua pasangan telah menulis jawabannya, guru membandingkan

jawaban dari masing-masing pasangan ke pasangan lain dengan cara

diundi. Pasangan yang mendapat undian untuk tampil, akan

mempresentasikan jawabannya di depan kelas, sementara pasangan yang

lain menyimak dan menanggapi presentasi tersebut.

10. Bersama siswa mengukuhkan jawaban yang benar.

11. Bersama siswa merangkum materi pelajaran.

12. Memberikan evaluasi berupa kuis.


13

4. Pengaruh Pembelajaran aktif tipe The Power Of Two Pada Pokok


Bahasan alat- alat Optik Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa
Strategi The Power Of Two ini menekankan pada keaktifan siswa dengan

melibatkan siswa secara aktif melalui diskusi mengenai jawaban dari pertanyaan-

pertanyaan yang diberikan oleh guru dengan pasangannya. Dalam hal ini, siswa

kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah. Dalam proses

tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya

karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih

mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tersebut

(Ibrahim, 2000).

Slameto (1995) menyatakan bahwa penerimaan pelajaran jika dengan

aktivitas siswa sendiri, kesan itu tidak akan berlalu begitu saja, tetapi dipikirkan,

diolah, kemudian dikeluarkan lagi dalam bentuk yang berbeda. Dengan

menggunakan strategi The Power Of Two diharapkan dapat meningkatkan belajar

lebih aktif dengan pemberian tugas belajar yang dilakukan dalam kelompok kecil

siswa (Atik, 2009).

Strategi pembelajaran The Power Of Two memiliki beberapa keunggulan

antara lain:

1. Siswa tidak terlalu menggantungkan guru, akan tetapi dapat menambah

kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dan

belajar dari siswa lain.

2. Mengembangkan kemampuan dalam mengungkapkan ide atau gagasan

kemudian membandingkannya dengan orang lain.


14

3. Membantu siswa untuk dapat bekerjasama dengan orang lain.

4. Membantu siswa untuk lebih bertanggungjawab dalam melaksanakan

tugasnya.

5. Meningkatkan motivasi dan ransangan untuk berfikir.

6. Meningkatkan prestasi akademik serta kemampuan sosialnya.

Secara keseluruhan penerapan strategi pembelajaran The Power Of Two

bertujuan agar membiasakan siswa belajar aktif baik secara individu maupun

berkelompok dan membantu siswa agar dapat bekerja sama dengan orang lain.

Dengan demikian pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran The Power

Of Two pada pokok bahasan alat-alat optik ini diharapkan dapat meningkatkan

pemahaman siswa terhadap materi pelajaran kimia sehingga prestasi belajar yang

diperolehnya juga diharapkan dapat meningkat.

5. Hasil Belajar Kognitif

Menurut Ibrahim (2006) hasil belajar siswa menyangkut semua perubahan

perilaku yang dialami oleh siswa sebagai akibat proses belajar baik sebagai

instructional effect maupun nurturants effect. Tingkah laku yang dimaksud dapat

berupa keterampilan intelektual (kognitif), keterampilan proses (kognitif dan

kinerja), keterampilan psikomotor (kinerja), keterampilan sosial, maupun sikap.

Keterampilan intelektual (kognitif) menurut Anderson dan Krathwol

mencakup:

1. Mengingat (remember) yaitu kemampuan manusia berupa kemampuan untuk

memanggil kembali pengetahuan yang relevan yang tersimpan di dalam

memori jangka panjang. Ada dua macam kemampuan ini yaitu kemampuan
15

memanggil/mengingat (recalling) dan kemampuan mengenal

(mengidentifikasi).

a. Recalling yaitu kemampuan untuk sekedar memanggil kemampuan yang

relevan dari memori jangka panjang.

b. Identifikasi yaitu kemampuan seseorang untuk melokalisasi pengetahuan

yang terdapat di memori jangka panjangnya, yang konsisten dengan materi

yang disajikan.

2. Memahami (understand) yaitu seseorang dikatakan memahami bila dia

mampu membangun pengertian dari pesan pembelajaran dalam bentuk

komunikasi lisan, tertulis maupun gambar. Terdapat tujuh kategori memahami,

mulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

a. Interpretasi yaitu kemampuan seseorang untuk mengubah suatu bentuk

representasi misalnya numerik ke dalam bentuk lain misalnya verbal atau

dari bentuk verbal misalnya ke dalam bentuk grafik dan sebaliknya.

b. Memberi contoh adalah kemampuan seseorang untuk menemukan contoh

spesifik terhadap suatu konsep atau prinsip. Kemampuan ini disebut juga

kemampuan mengilustrasi.

c. Klasifikasi adalah kemampuan seseorang untuk dapat menyatakan apakah

suatu objek itu merupakan anggota atau bukan anggota dari suatu

kelompok atau kategori.

d. Membuat rangkuman atau abstrak atau membuat generalisasi, adalah

kemampuan seseorang untuk abstraksi dari suatu tema umum.


16

e. Membuat referensi yaitu kemampuan seseorang untuk merumuskan

kesimpulan logis berdasarkan pada informasi yang disajikan.

f. Membandingkan yaitu kemampuan seseorang untuk melacak

keterhubungan suatu ide atau konsep, melihat perbedaan dan persamaan

g. Menjelaskan adalah kemampuan seseorang untuk membangun model

sebab akibat terhadap suatu sistem tertentu.

3. Menerapkan (apply) yaitu kemampuan seseorang untuk melakukan atau

menggunakan suatu prosedur pada situasi baru yang disediakan. Terdapat dua

kategori menerapkan yaitu executing (melakukan) dan implementing

(menggunakan).

a. Executing adalah kemampuan seseorang untuk melakukan suatu prosedur

sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya.

b. Implementing adalah kemampuan seseorang untuk menerapkan suatu

prosedur atau pengetahuannya pada tugas-tugas yang baru dan tidak

familiar dengannya.

4. Menganalisis yaitu kemampuan seseorang untuk mengurai suatu material

menjadi bagian-bagian penyusunnya dan dapat menentukan bagaimana

masing-masing bagian berhubungan satu sama lain untuk membangun suatu

struktur atau untuk mencapai tujuan tertentu. Menganalisis terdiri dari tiga

kategori, yaitu membedakan, mengorganisasi dan mendekontruksi atau

merincikan.

a. Membedakan adalah kemampuan seseorang untuk membedakan bagian

yang tidak relevan dan yang relevan dari suatu objek yang disajikan.
17

b. Mengorganisasi adalah kemampuan seseorang untuk menentukan

bagaimana masing-masing bagian itu cocok dan dapat berfungsi secara

bersama-sama di dalam suatu struktur.

c. Mendekonstruksi/mencirikan adalah kemampuan seseorang untuk

menentukan sudut pandang, bias atau nilai objek yang disajikan.

5. Mengevaluasi adalah kemampuan seseorang untuk membuat keputusan

berdasarkan pada kriteria atau standar. Terdapat dua kategori evaluasi yaitu

mengecek dan mengkritisi.

a. Mengecek adalah kemampuan seseorang untuk melacak ketidakefektifan

suatu prosedur. Untuk melakukan pengecekan biasanya menggunakan

kriteria internal.

b. Mengkritisi pada dasarnya sama dengan mengecek, hanya disini

ketidakkonsistenan dilacak dengan menggunakan kriteria eksternal.

6. Mencipta yaitu kemampuan seseorang untuk menggabungkan unsur-unsur

secara bersama-sama sehingga koheren atau dapat berfungsi. Ada tiga kategori

mencipta, yaitu berhipotesis, membuat rancangan, dan producing

(menghasilkan).

a. Berhipotesis (generating) yaitu kemampuan seseorang untuk merumuskan

hipotesis alternatif berdasarkan pada kriteria tertentu.

b. Berencana (planning) yaitu kemampuan seseorang untuk membuat

rancangan cara menyelesaikan suatu tugas yang diberikan.

Menemukan atau menghasilkan produk tertentu atau melaksanakan rencananya

dalam rangka membuat atau berkreasi


18

H. HIPOTESIS

Berdasarkan latar belakang serta tinjauan teoretis yang telah dipaparkan,

maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

”Penerapan Pembelajaran Kooperatif Strategi The Power Of Two Dapat

Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan alat –alat optik di

Kelas VIII SMP N Muhammadiah Kuok”.

I. METODA PENELITIAN

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP N Muhammadiah Kuok di kelas

VIII semester 2 Tahun Ajaran 2009/2010.

2. Bentuk Penelitian

Penelitian ini adalah termasuk jenis penelitian eksperimen, yaitu memberi

perlakuan pada subjek penelitian dengan menerapkan strategi The Power Of Two

pada pelajaran Fisika.

3. Populasi dan Sampel

Penelitian ini akan dilakukan di SMP N Muhammadiah Kuok dengan

subjek penelitian adalah siswa kelas VIII.

4. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

rancangan The one-shot case study. Dalam rancangan ini, perlakuan dikenakan
19

pada suatu kelompok unit percobaan tertentu, kemudian diadakan pengukuran

terhadap variable dependen (M.Nazir, 2005). Sesuai dengan perumusan masalah

yang telah dikemukakan dalam penelitian ini, di mana tahap pelaksanaan

penelitian ini meliputi penyajian pembelajaran dengan menerapkan model

pembelajaran The Power Of Two pembelajaran (X) dan tes hasil belajar sesudah

perlakuan (T).

Rancangan The one-shot case study tersebut dapat digambarkan sebagai

berikut:

Treatment Postest

X
T

Dimana: X = Perlakuan melalui penerapan model pembelajaran Peer Lessons

T = Tes hasil belajar kognitif

5. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini terdiri dari perangkat pembelajaran dan

instrumen pengumpulan data.

1.1 Perangkat Pembelajaran

Silabus

Silabus dan sistem penilaian disusun berdasarkan prinsip yang berorientasi

pada pencapaian kompetensi, yang memuat identitas sekolah, standar

kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok dan uraian materi pokok,


20

pengalaman belajar, indikator, penilaian yang meliputi jenis tagihan,

bentuk instrumen dan contoh instrumen, alokasi waktu, dan sumber

bahan/alat (lampiran 1)

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan

prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih

kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam

silabus. RPP disusun secara sistematis berisi standar kompetensi,

kompetensi dasar, indikator, dan sumber pembelajaran. Kegiatan

pembelajaran yang memuat pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup

dengan berpedoman kepada langkah-langkah penerapan model

pembelajaran The Power Of Two .

c. Lembar Topik Materi

Lembar kegiatan merupakan salah satu sarana yang digunakan guru untuk

meningkatkan keterlibatan siswa atau aktivitas siswa dalam proses belajar

mengajar. Lembar kerja siswa berisi tujuan materi dan soal-soal yang

berhubungan dengan topik materi.

1.2 Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes

hasil belajar (keterampilan kognitif). Instrumen pengumpulan data ini

bertujuan untuk mengetahui daya serap, efektifitas, dan ketuntasan belajar

siswa. Tes hasil belajar ini disusun oleh peneliti berdasarkan tujuan
21

pembelajaran.. Tes ini telah diujikan sebagai pembanding di kelas lain dengan

materi yang sama.

6. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

teknik analisis deskriptif yaitu dengan mendiskripsikan hasil belajar keterampilan

kognitif siswa setelah penerapan metode The Power Of Two yang meliputi :

a. Daya Serap

Daya serap siswa didefinisikan sebagai kemampuan siswa terhadap materi

yang disajikan dalam proses pembelajaran. Daya serap dihitung dari perbandingan

antara skor yang diperoleh siswa terhadap skor maksimum yang ditetapkan.

Untuk mengetahui daya serap yang diperoleh siswa digunakan ketentuan:

skor yang diperoleh siswa


Daya Serap = x100 0
0
skor maksimum

Untuk mengkategorikan daya serap yang diperoleh siswa dari hasil belajar

digunakan kriteria sebagai berikut.

Tabel 1. Kategori Daya Serap Siswa

Interval (%) Kategori


85-100 Amat baik
70-84 Baik
50-69 Cukup baik
0-49 Kurang baik
22

b. Efektifitas Pembelajaran

Efektifitas pembelajaran adalah keberhasilan suatu pembelajaran

berdasarkan daya serap rata-rata kelas. Setelah kegiatan belajar mengajar

dilakukan, maka diketahui efektifitas pembelajaran. Pedoman untuk mengetahui

efektifitas pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kategori Efektifitas Pembelajaran


Daya serap rata-rata kelas Kategori
91-100 Sangat efektif
81-90 Efektif
71-80 Cukup Efektif
61-70 Kurang Efektif
<60 Tidak Efektif
(Depdikbud, 1994)

c. Ketuntasan Belajar

Ketuntasan pembelajaran dapat diartikan sebagai tercapainya tujuan

pembelajaran yang dirumuskan oleh guru pada materi pokok tertentu yang

ditandai dengan tidak perlunya remedial, baik remedial siswa maupun remedial

tujuan pembelajaran. Dengan demikian, suatu pembelajaran dikatakan tuntas jika

ketuntasan siswa dan ketuntasan materi pembelajaran tercapai.

a. Ketuntasan Individu dan Ketuntasan Belajar Klasikal

Jumlah jawaban siswa yang benar


Ketuntasan individu= ×100 0
0
Jumlah soal

Siswa dikatakan tuntas apabila siswa tersebut mencapai skor ≥ 7 00 0


Jumlah siswa yang tuntas
Ketuntasan belajar klasikal = ×100 0
0
Jumlah siswa keseluruha n
Apabila suatu kelas telah mencapai ≥75% maka kelas itu dikatakan tuntas.
23

b. Ketuntasan Tp Individual dan Ketuntasan Tp Klasikal

Jumlah siswa yang menjawab benar 1TP


Ketuntasan TP = ×100 %
Jumlah siswa keseluruha n

Dengan kriteria suatu TP dinyatakan tuntas apabila ≥70% dari jumlah siswa

menjawab benar TP tersebut.

Jumlah TP yang tuntas


Ketuntasan TP klasikal = ×100 %
Jumlah TP keseluruha n

Kriteria ketuntasan TP secara klasikal dinyatakan tuntas bila ≥ 75% dari seluruh

TP tuntas.

J. DAFTAR PUSTAKA
24

Atik Larasati, F., 2009, Keefektifan Strategi Belajar The Power Of Two Dalam
Meningkatkan Keberhasilan Pembelajaran Aqidah Akhlak Di MTS
Darussalam Sukodadi Lamongan, http://digilab.sunan-ampel.ac.id (20
Maret 2010).

Dimyati, dan Mudjiono., 2002, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.

Djamarah, S.B., dan Zain, A., 2006, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta,
Jakarta.

Hamalik, O., 2007, Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta.

Hartono, 2007, Strategi Pembelajaran Active, http://sditalqalam.wordpress.com/


(28 januari 2010)

Ibrahim, M., 2000, Pembelajaran Kooperatif, University Press, Universitas


Negeri Surabaya.

Majid, A., 2007, Perencanaan Pembelajaran, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Nazir, M., 2005, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta.


Ramadhan, T., 2009, Strategi Belajar Kekuatan Berdua (The Power Of Two)
Dalam Pembelajaran Matematika, http://tarmizi.wordpress.com (17 Februari
2010).

Sanjaya, W., 2008, Strategi Pembelajaran, Kencana, Jakarta.

Silberman, M., 2007, Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif, Pustaka
Insan Madani, Yogyakarta.

Slameto, 1995, Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta,


Jakarta.

Slavin, R., 2009, Cooperatif Learning, Teori, Riset dan Praktik, Nusa media,
Bandung.

Sudjana, 2005, Metode Statistik, Tarsito, Bandung.

Sudjana, 2000, Strategi Pembelajaran, Falah Production, Bandung.

Suherman, E., 2008, Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi


Siswa, www.fazridok.blogspot.com (6 Januari 2010).

Wahyuningsih, E., 2009, Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif


Tipe The Power Of Two Dan Jigsaw Terhadap Prestasi Belajar
25

Matematika Ditinjau Dari Aktifitas Siswa, http://etd.eprints.ums.ac.id (20


Maret 2010).

Yasa, D., 2008, Aktivitas dan Prestasi Belajar, www.ipotes.wordpress.com (6


Februari 2010).

Zaini, H., Munthe, B., Ayu, S., 2008, Strategi Pembelajaran Aktif, Pustaka Insan
Madani, Yogyakarta.