Anda di halaman 1dari 8

STEP 3

1.Memahami dan menjelaskan epidemiologi, etiologi, patofisiologi, dan


klasifikasi karsinoma mammae
1.1 Definisi
Carsinoma mammae merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel normal
mammae dimana sel abnormal timbul dari sel – sel normal, berkembang biak dan
menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah

1.2 Epidemiologi
Kanker kedua yang paling sering terjadi pada wanita adalah karsinoma
payudara (setelah kanker paru). Karsinoma payudara merupakan 27 % dari kanker
pada wanita dan menyebabkan 20 % kematian akibat kanker. Sekitar 1 dari 11 wanita
akan mengalami kanker payudara selama kehidupannya.

1.3 Etiologi
Penyebab kanker payudara belum dapat ditentukan namun terdapat beberapa
faktor risiko yang telah ditetapkan, keduanya adalah lingkungan dan genetik. Faktor-
faktor yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara adalah tempat
tinggal di negara berkembang bagian barat, keadaan sosial ekonomi yang rendah, ras,
riwayat penyakit payudara proliferatif, awitan dini menarke, terlambatnya kelahiran
anak pertama, menopause yang terlambat, keadaan nulipara, terapi hormon eksogen,
terpajan radiasi, dan faktor-faktor makanan (obesitas dan asupan alkohol yang tinggi)

1.4 Patofisiologi
Carsinoma mammae berasal dari jaringan epitel dan paling sering terjadi pada
sistem duktal, mula – mula terjadi hiperplasia sel – sel dengan perkembangan sel – sel
atipik. Sel - sel ini akan berlanjut menjadi carsinoma insitu dan menginvasi stroma.
Carsinoma membutuhkan waktu 7 tahun untuk bertumbuh dari sel tunggal sampai
menjadi massa yang cukup besar untuk dapat diraba ( kira – kira berdiameter 1 cm).
Pada ukuran itu kira – kira seperempat dari carsinoma mammae telah bermetastasis.
Carsinoma mammae bermetastasis dengan penyebaran langsung ke jaringan
sekitarnya dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah

1.5 Klasifikasi
1.karsinoma in situ
Karsinoma in situ artinya adalah kanker yang masih berada pada tempatnya,
merupakan kanker dini yang belum menyebar atau menyusup keluar dari
tempat asalnya.

1.karsinoma duktal
Karsinoma duktal berasal dari sel-sel yang melapisi saluran yang menuju ke
puting susu. Sekitar 90% kanker payudara merupakan karsinoma duktal.
Kanker ini bisa terjadi sebelum maupun sesudah masa menopause. Kadang
kanker ini dapat diraba dan pada pemeriksaan mammogram, kanker ini tampak
sebagai bintik-bintik kecil dari endapan kalsium (mikrokalsifikasi).
Kanker ini biasanya terbatas pada daerah tertentu di payudara dan bisa
diangkat secara keseluruhan melalui pembedahan.
Sekitar 25-35% penderita karsinoma duktal akan menderita kanker invasif
(biasanya pada payudara yang sama).
1. Karsinoma lobuler
Karsinoma lobuler mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, biasanya terjadi
setelah menopause. Kanker ini tidak dapat diraba dan tidak terlihat pada
mammogram, tetapi biasanya ditemukan secara tidak sengaja pada
mammografi yang dilakukan untuk keperluan lain. Sekitar 25-30% penderita
karsinoma lobuler pada akhirnya akan menderita kanker invasif (pada
payudara yang sama atau payudara lainnya atau pada kedua payudara).
2. Kanker invasif
Kanker invasif adalah kanker yang telah menyebar dan merusak jaringan
lainnya, bisa terlokalisir (terbatas pada payudara) maupun metastatik
(menyebar ke bagian tubuh lainnya). Sekitar 80% kanker payudara invasif
adalah kanker duktal dan 10% adalah kanker lobuler.
3. Karsinoma meduler
Kanker ini berasal dari kelenjar susu.
4. Karsinoma tubuler
Kanker ini berasal dari kelenjar susu.

2. Memahami dan menjelaskan manifestasi klinik karsinoma mammae

1. Terdapat benjolan keras yang lebih melekat atau terfiksir.

2. Tarikan pada kulit di atas tumor.

3. Ulserasi atau koreng.

4. Peau’d orange.

5. Discharge dari puting susu.

6. Asimetri payudara.

7. Retraksi puting susu.

8. Elovasi dari puting susu.

9. Pembesaran kelenjar getah bening ketiak.

10. Satelit tumor di kulit.

11. Eksim pada puting susu.

12. Edema.

3.Mampu memilih dan menginterpretasikan pemeriksaan penunjang dasar yang


diperlukan untuk menegakkan diagnosis banding karsinoma mamme

3.1 Pemeriksaan fisik


1) Mammografi
Suatu teknik pemeriksaan soft tissu teknik. Adanya proses keganasan akan
memberikan tanda-tanda primer dan skunder. Tanda-tanda primer berupa fibrosis
reaktif, comet sign, adanya perbedaan yang nyata ukuran klinik dan rontgenologik dan
adanya mikrokalsifikasi. Tanda-tanda sekunder berupa retraksi, penebalan kulit,
bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi papilla dan aerola adanya bridge of
tumor, keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglanduler tidak teratur, inflitrasi dalam
jaringan lunak dibelakang mamma dan adanya metastasis ke kelenjar. Mammografi
dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak teraba.

2) Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini hanya dapat dibedakan lesi solid dan kistik. Pemeriksaan lain
dapat berupa termografi, xerografi.

7. Penemuan Dini
Penemuan dini merupakan upaya penting dalam penanggulangan karsinima payudara.
Untuk menemukan penyakit ini lebih awal dikembangkan berbagai metode sebagai
berikut :
a. Pemeriksaan payudara sendiri ( SADARI )
Pemeriksaan ini dilakukan sendiri setiap bulan secara teratur. Bagi wanita masa
reproduksi, pemeriksaan dilakukan 5-7 hari sesudah haid berhenti. Tindakan
pemeriksaan payudara sendiri :
1) Melihat di depan cermin
Duduk didepan caermin dengan dada terbuka. Perhatikan apakah simetris antara
payudara kanan dan kiri, bagaimana bentuk puting susu. Gerakkan tangan ke atas-
samping sambil memperhatikan keikutsertaan payudara. Perhatikan perubahan kulit
yang terjadi : apakah normal, keriput/terdapat perubahan warna, terdapat luka, putting
susu masuk ke dalam.
2) Meraba sendiri payudara
Raba secara berurutan dari putting susu keluar sampai mencapai ketiak dengan
gerakan melingkar. Perhatikan benjolan yang mungkin ada : besarnya, gerakan bebas
atau terbatas, nyeri atau tidak, kulit diatas benjolan ( merah dan sakit, keriput seperti
kulit jeruk, benjolan pada ketiak [ sudah ada penyebaran ]).
3) Pijatan puting susu
Pijat puting susu seperti mengeluarkan air susu, apakah mengeluarkan cairan jernih
atau berdarah,apakah sakit saat di pijat.
b. Pemeriksaan payudara secara klinis ( SARANIS )
Pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter, bidan dan paramedis wanita terlatih ataua
terampil. Saranis sebaiknya dilakukan sistematis dan berurutan mulai dari inspeksi
sampai palpasi

3.2 Diagnosa
a. Pemeriksaan fisik, meliputi:
1) Anamnesis yang lengkap :
a) Mengenai keluhan -keluhan
b) Keluhan tambahan
d) Faktor-faktor risiko tinggi
e) Tanda-tanda umum kegansan yang berhubungan dengan berat badan dan nafsu
makan
2) Pemeriksaan fisik yang sistematis
Sebaiknya pemeriksaan payudara dilakukan di saat pengaruh hormon seminimal
mungkin, yaitu setel;ah menstruasi lebih kurang satu minggu dari hari pertama
menstruasi

3.3 Diagnosis banding

4.Memahami dan mampu menjelaskan penatalaksanaan karsinoma mamme

4.1 Penatalaksanaan

1. Mastektomi

Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara. Ada 4 jenis mastektomi


(Hirshaut & Pressman, 1992):

Modified Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan


seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka
dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.
a. b. Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan
seluruh payudara saja, tetapi bukan kelenjar di ketiak.
b. Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari
payudara. Biasanya disebut lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya
pada jaringan yang mengandung sel kanker, bukan seluruh payudara.
Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya
lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya
kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.
2. Penyinaran/radiasi

Yang dimaksud radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena
kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan
membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah operasi (Denton,
1996). Efek pengobatan ini tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang,
warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit
cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.

3. Kemoterapi

Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil
cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker.
Tidak hanya sel kanker pada payudara, tapi juga di seluruh tubuh (Denton,
1996). Efek dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta
rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan pada saat
kemoterapi.

5.Memahami dan mampu menjelaskan pencegahan dan prognosis karsinoma


mamme
5.1 Pencegahan

Pencegahan primer

Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi
kesehatan karena dilakukan pada orang yang "sehat" melalui upaya menghindarkan
diri dari keterpaparan pada berbagai faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat.

Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena
kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid normal
merupakan populasi at risk dari kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan
dengan melakukan deteksi dini. Beberapa metode deteksi dini terus mengalami
perkembangan. Skrining melalui mammografi diklaim memiliki akurasi 90% dari
semua penderita kanker payudara, tetapi keterpaparan terus-menerus pada
mammografi pada wanita yang sehat merupakan salah satu faktor risiko terjadinya
kanker payudara. Karena itu, skrining dengan mammografi tetap dapat dilaksanakan
dengan beberapa pertimbangan antara lain:
• Wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun dianjurkan melakukan cancer risk
assessement survey.
• Pada wanita dengan faktor risiko mendapat rujukan untuk dilakukan
mammografi setiap tahun.
• Wanita normal mendapat rujukan mammografi setiap 2 tahun sampai
mencapai usia 50 tahun.

Foster dan Constanta menemukan bahwa kematian oleh kanker payudara lebih sedikit
pada wanita yang melakukan pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)
dibandingkan yang tidak. Walaupun sensitivitas SADARI untuk mendeteksi kanker
payudara hanya 26%, bila dikombinasikan dengan mammografi maka sensitivitas
mendeteksi secara dini menjadi 75%.

Pencegahan Tertier

Pencegahan tertier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita
kanker payudara. Penanganan yang tepat penderita kanker payudara sesuai dengan
stadiumnya akan dapat mengurangi kecatatan dan memperpanjang harapan hidup
penderita. Pencegahan tertier ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita
serta mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan. Tindakan
pengobatan dapat berupa operasi walaupun tidak berpengaruh banyak terhadap
ketahanan hidup penderita. Bila kanker telah jauh bermetastasis, dilakukan tindakan
kemoterapi dengan sitostatika. Pada stadium tertentu, pengobatan diberikan hanya
berupa simptomatik dan dianjurkan untuk mencari pengobatan aiternatif.

5.2 Prognosis
Angka kelangsungan hidup 5 tahun pada penderita kanker payudara yang telah
menjalani pengobatan yang sesuai mendekati:
- 95% untuk stadium 0
- 88% untuk stadium I
- 66% untuk stadium II
- 36% untuk stadium III
- 7% untuk stadium IV

Staging kanker payudara (American Joint Committee on Cancer):


- Stadium 0 : Kanker in situ dimana sel-sel kanker berada pada tempatnya di dalam
jaringan payudara yang normal
- Stadium I : Tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm dan belum menyebar
keluar payudara
- Stadium IIA : Tumor dengan garis tengah 2-5 cm dan belum menyebar ke kelenjar
getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm tetapi sudah
menyebar ke kelenjar getah bening ketiak
- Stadium IIB : Tumor dengan garis tengah lebih besar dari 5 cm dan belum menyebar
ke kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah 2-5 cm tetapi sudah
menyebar ke kelenjar getah bening ketiak
- Stadium IIIA : Tumor dengan garis tengah kurang dari 5 cm dan sudah menyebar ke
kelenjar getah bening ketiak disertai perlengketan satu sama lain atau perlengketah ke
struktur lainnya; atau tumor dengan garis tengah lebih dari 5 cm dan sudah menyebar
ke kelenjar getah bening ketiak
- Stadium IIIB : Tumor telah menyusup keluar payudara, yaitu ke dalam kulit
payudara atau ke dinding dada atau telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam
dinding dada dan tulang dada
- Stadium IV : Tumor telah menyebar keluar daerah payudara dan dinding dada,
misalnya ke hati, tulang atau paru-paru

1. Stadium I: T1a/bNoMo
T1a/bNoMo
2. Stadium II: ToN1bMo
T1a/bNIbMo
TIIa/bNo/1aMo
TIIa/bN1/bMo
3. Stadium III: TIIINo-1Mo
TIIINII-IIIMo
TIVwith every Nmo
Every T with NII-IIIMo
4. Stadium IV: Tumor yang sudah lanjut

Keterangan:

• TIS: Carcinoma in situ adalah non infiltrating intraductal carcinoma atau


paget's disease dimana tak teraba tumor.
• To: Tumor tak teraba, tetapi dapat dilihat pada mamografi
• T1: Tumor kurang dari 2 cm
• T1a: Tidak ada perlengketan dengan fascia pectoralis atau otot
• T1b: Adanya fixasi dengan fascia pectoralis atau otot
• T2: Tumor antara 2 sampai dengan 5 cm
• T2a: Belum adanya perlengketan dengan fascia pectoralis atau otot
• T2b: Sudah ada fixasi dengan fascia pectoralis atau otot
• T3: Tumor lebih dari 5 cm penampangnya.
• T3a: Belum ada perlengketan dengan fascia pectoralis atau otot
• T3b: Sudah ada fiksasi dengan fascia pectoralis atau otot
• T4: Tumor dengan segala ukuran dimana extensinya telah mencapai dinding
toraks atau kulit (dinding toraks di sini termasuk iga otot-otot intercostal dan
musculus serratus anterior tapi belum musculus pectoralis).
• T4a: Sudah ada fiksasi dengan dinding toraks
• T4b: Terdapat oedema, infiltrasi atau ulcerasi dari kulit payudara atau satelit
nodul pada payudara yang sama.
• No: Kelenjar getah bening homolateral tak dapat diraba
• N1: Kelenjar getah bening homolateral dapat digerakkan
• N1a: Kelenjar getah bening dianggap tidak membesar
• N1b: Kelenjar getah bening dianggap dapat membesar
• N2: Kelenjar getah bening homolateral yang melekat satu sama lain atau pada
jaringan sekitarnya.
• N3: Kelenjar getah bening supraclavicular homolateral atau infra claviculer
homolateral atau oedema di lengan.
• Mo: Tidak terdapat metastase jauh
• M1: Sudah terdapat metastase jauh.
6.Memahami dan mampu menjelaskan sikap tindakan positif yang harus
diambil pasien dalam stadium terminal dengan tawakal dan tobat

6.1 Tawakal
Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki
menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. (Munawir, 1984 : 1687). Seseorang
yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan
mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT
Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 8 : 61)
‫سكككككككككككككككككِميُع اْلَعِليكككككككككككككككككُم‬
ّ ‫لككككككككككككككككك ِإّنكككككككككككككككككُه ُهكككككككككككككككككَو ال‬
ِّ ‫عَلكككككككككككككككككى ا‬
َ ‫ل‬
ْ ‫َوَتَوّكككككككككككككككككك‬
“Dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.”

6.2 Taubat
Taubat adalah kembali tunduk kepada Allah dari bermaksiat kepada-Nya
kepada ketaatan kepada-Nya. Taubat ada dua macam: taubat mutlak dan taubat
muqayyad (terikat). Taubat mutlak ialah bertaubat dari segala perbuatan dosa.
Sedangkan taubat muqayyad ialah bertaubat dari salah satu dosa tertentu yang pernah
dilakukan.

َ ‫حو‬
‫ن‬ ُ ‫ن َلَعّلُكْم ُتْفِل‬
َ ‫جِميعًا َأّيَها اْلُمْؤِمُنو‬
َ ‫ل‬
ِّ ‫َوُتوُبوا ِإَلى ا‬

“Dan bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian
beruntung.” (QS. An Nuur: 31)