Anda di halaman 1dari 20

FORMAT SKENARIO

(Satu dan Setengah Jam serta Telesinema)


Format skenario itu seperti apa, sih? Pasti bingung, ya! Memang beda-beda, kok.
Untuk yang satu dan setengah jam, jelas beda. Coba aja pelototin. Pasti beda. Be
lum lagi yang telesinema seperti FTV (film televisi) atau telesinema (televisi s
inema format layar lebar yang di televisikan).
IKLAN
Dalam konsep industri seperti sekarang, di mana kita disodorkan fenomena para pr
aktisi TV bisa dengan mudah meloncat dari satu TV ke TV tetangga, bahkan pergant
ian menejer serta direktur sudah hal biasa, tayanan sebuah sinetron nggak bisa l
epas dari iklan. No iklan, ya no money. No money, ya no rating. No rating, ambru
klah TV itu. Ujung-ujungnya memang duit. Dari rating yang sudah dibakukan oleh A
C Nielsen (lembaga terpandang made in USA), akan kelihatan kalau sinetron itu bi
sa menguntungkan atau nggak, karena disukai dan ditonton pemirsa.
Apa kontribusi penulis skenario? Ya, jelas ada. Penting banget. Penulislah yang
tahu banget, kapan sebuah adegan dipotong dan digantikan dengan iklan (commercia
l break), sehingga pemirsa kesal dan kecewa , lalu tetep stay tune di TV itu, karena
nggak mau ketinggalan kelanjutan dari adegan yang terpotong iklan itu. Kalau si
pemirsa memindahkan chanel lewat remote controle ke TV lain, celakalah program i
tu! Biasanya bagian yang dipotong iklan ini disebut cliff hanger (adegan yang di
biarkan menggantung).
BABAK
Sinetron bedurasi 30 menit (kadang bersihnya bisa 22 menit kalau standar, tapi k
alau iklannya penuh bisa cuma 18 menit) format skenarionya terbagi 3 babak (act)
. Masing-masing babak (act) bisa terdiri dari kisar 4 sampai 6 scene (adegan). K
alau ditotal bisa berjumlah sekitar 12 - 18 scene/adegan. Tayangan iklannya ada
3 kali plus 1 kali setelah opening di awal cerita (bisa setelah credite title; n
ama-nama pemain dan crew produksi). Jumlah halamannya antara 16 25 halaman. Idea
lnya berkisar 20 halaman. Durasi ini biasanya cocok untuk Serial TV seperti LUV (R
CTI), Saras 008 (IVM) atau komedi situasi.
Durasi 60 menit sebetulnya isi ceritanya bisa saja 48 42 menit. Malah ada yang c
uma 38 menit, karena iklannya penuh. Biasanya ini terjadi pada sinetron yang san
gat digemari pemirsa dengan episode panjang. Di kita ada Tersanjung (IVM) dan Si Do
el Anak Sekolahan (RCTI). , serta yang akan menyusul da Apa dengan Cinta (RCTI), ya
ng sudah ikontrak RCTI sebanyak 1004 episode. Ngggak menutup kemungkinan lho, ji
ka pemirsa remaja suka, episodenya akan diperpanjang.
Skenario 1 jam terdiri dari 5 babak (act). Setiap babaknya terdiri dari 6 8 scen
e/adegan. Kalau ditotal 30 40 scene/adegan. Untuk durasi 1 jam ini, kita mesti p
andai-pandai membentuk plot/struktur cerita, konflik, misteri, percintaan, drama
, persahabatan, komedi, tragedi, dan kejahatan menjadi satu tayangan yang menari
k. Kadangkala kehidupan masa lalu para tokoh juga bisa menjadi bumbu-bumbu penye
dap untuk dituangkan di skenario. Kalau telesinema bisa mencapai 9 babak/act. Du
rasinya mencapai 90 menit plus iklan. Isi ceritanya sih bisa 70 menitan.
MULTIPLOT
Sering kita lihat di opera sabun import seperti Betty La Fea (RCTI), Melrose Pla
ce (SCTV), setiap tokohnya selalu punya alur cerita sendiri. Bayangkan, jika ada
10 okokh, berarti ada 10 cerita. Tapi kita sbagai penonton nggak bingung, karen
a penulis skenario denan piawainya menganyam plot-plot itu jadi sebuah jaring ce
rita, yang enak ditonton. Plot-plot para tokoh itu nggak pada lari sendiri, tapi
justru bermuara pada benang merah atau cerita besarnya. Kalau yang setengah jam
, sebaiknya jangan terlalu banyak tokohnya. Syukur-syukur cuma ada double plot.
Untuk single plot, jangan dicoba, deh. Ntar episodenya pendek dan pemirsa cepat b
osan. Telesinema mungkin cukup sinle plot, karena hanya 1 episode saja langsung
selesai. Focuskan saja konflik ceritanya kepada si tokoh utama.
Biasanya ini disebut multi plot/multi story. Di sinilah kekuatan sinertron seri
berdurasi 1 jam. Semakin banyak tokohnya, maka semakin panjang harapan episodeny
a. Untuk Ada Apa dengan Cinta versi serial TV-nya, tanpa ragu-ragu RCTI mengontrak
nya untuk 2 tahun (104 episode), karena versi layar lebarnya sukses berat.
TEKNIK
Dalam menulis skenario, ada prosedur atau kebiasaan standar yang sudah lazim dil
akukan. Biasnaya mengggunakan kertas ukuran A4 dan 1 spasi. Marjin sisi kanannya
diberi ruang (sekitar 5 centimeter) untuk coretan-coretan si sutradara. Untuk d
ialog sebaiknya diletakkan di tengah. Penulisan scene, nama tokoh, menggunakan h
uruf kapital, sedangkan dialog dan deskripsi dengan hurup kecil.
Contoh yang standar seperti ini:
01. INT. RUMAH JOE, RUANG TENGAH MALAM H1
Pemain: Joe, ayah Joe, ibu Joe
ESTABLISHING SHOT: Rumah Joe di sebuah perumahan menengah. Berukuran sedang. Ada
mobil sedan di garasi.
Joe dengan gembira melintasi ruang tengah. Dia sudah siap hendak keluar rumah. D
ia masih bersiul-siul lagu Melly tadi. Ayah-ibunya ada di sana. Ayahnya membaca
koran sore dan ibunya asyik nonton TV.
(Catatan penulis: Cara bicara Joe juga seperti kebanyakan cowok normal. Ayah-ibu
nya tetap mengira dia pria sejati!)
Joe:
Daaah, Mama! Papa Joe!
Joe mau birthday party dulu!
Ayah Joe yang sedang baca koran mendongak.
Ibu Joe:
Pulangnya jangan malam-malam, Joe!
Ayah Joe:
(Tegas) Joe! Ingat, target kamu!
Bulan depan ada seleksi buat ke Bangkok!
Papa mau kamu ikut!
Joe yang tadinya gembira berubah tegang. Joe berhenti. Dia melihat ke ayahnya. M
amanya menatap ayahnya dengan kesal.
***
Kalau melihat penulisan skenario seperti itu, ada yagn perlu kamu-kamu pahami, y
a. Misalnya, penulisan nomor 01, menunjukan nomor scene/adegan. Berarti akan ada
nomor 02, 03, dst
Penulisan INT. (interior) menunjukan adegan yang berlangsung di dalam ruaangan (
rumah). Kebalikannya EXT.(exterior di luar ruangan).
RUMAH JOE mejelaskan lokasi adegan itu berlangsung secara keseluruhan. Ini diper
jelas dengan pengambilan gambar ESTABLISHING SHOT. Sedangkan RUANG TENGAH dalah
bagian dari lokasi kejadian, yang sedang berlangsung di dalam rumah Joe tadi.
MALAM menunjukan soal waktu dan HARI 1 memperjelas, bahwa scene ini artinya dimu
lai pada hari pertama. Ini akan ada kaitannya dengan kesinambungan (continuity)
kostum, property (handprop-nya seperti jam tangan, topi, serta sepatu), agar ter
hindar dari kerancuan pemakaian kostum dan (hand) property yagn itu-itu saja. Be
gitu juga dengan HARI 2, HARI 3, dst
Penulisan PEMAIN di setiap scene akan membantu sutradara dan asisten sutradara d
alam menentukan ada berapa jumlah pemain di scene ini selain tokoh utama (Joe),
yaitu ayah dan ibunya. Bisa saja pada saat produksi, si sutradara memasukkan fig
uran, yaitu pembantu rumah. Bahkan jangan kaget saat kita menontonnya, adegan di
mulai denan seorang pembantu rumah yang sedang menyuguhkan minuman dan makanan k
ecil pada ayah-ibu Joe!
Nah, bagaimana?
Udah gregetan mau nyoba bikin?
Ayo, siapa takut!

Contoh Skenario Komedi


Posted on 09 May 2009
Tags: Scenario
beos1Skenario ini sudah cukup lama. Yaitu skenario STASIUN BEOS (SCTV -2005). Na
mun mudah-mudahan masih enak untuk belajar karena naskahnya yang hanya berdurasi
24 menit dengan cerita yang tidak terlalu njelimet. Silahkan mencoba (salam -Rud
i Utomo)
SINOPSIS STASION BEOS
Episode; Makelar Bokis
Kali ini BANG MAKSUM mencoba berbisnis keris-keris kuno. Ada beberapa keris yang
telah ia miliki tapi belum laku. Sementara itu ia mempunyai seorang pembeli yan
g memesan keris kuno yang berpamor Ular Naga dengan sisik emas dan bermata berli
an. Keris itu bernama Keris Nogo Sosro.
BANG MAKSUM akhirnya mengambil peluang tersebut, hingga menemukan seseorang yang
mempunyai keris semacam itu. BANG MAKSUM akhirnya mengeluarkan sejumlah modal u
ntuk melancarkan usahanya sebagai broker. Menjamu, menyewa mobil sampai pengelua
ran-pengeluaran tak terduga.
Setelah melalui proses yang memakan banyak biaya, akhirnya transaksi terakhir di
jadwalkan. Pada saat itu BANG MAKSUM telah berani menggunakan uang tabungan BU M
AKSUM untuk membeli peralatan elektronik yang mahal, karena ia yakin akan mendap
at ganti setelah menerima komisi dari transaksi Keris tersebut. BANG MAKSUM juga
tidak sayang mengeluarkan biaya operasional yang mencapai jutaan rupiah, karena
ia yakin keuntungannya lebih besar dari pengeluarannya.
Hari transaksipun tiba. Namun tiba-tiba pembeli keris yang dijanjikan berhalanga
n datang, karena katanya pergi ke Singapura untuk sebuah urusan yang penting yan
g mendadak. Sedangkan perantara pemilik keris ternyata sorang residivis yang ten
gah menjadi buronan Polisi.
Uang sepuluh juta sebagai DP keris amblas, dan pengeluaran lainnyapun amblas pul
a. Sempurnalah kegagalan BANG MAKSUM sebagai Makelar ®
A. PEMAIN TETAP:
1. Nama : BANG MAKSUM
Usia : 50 tahun
Dialek : Betawi Asli
Kostum : Betawi Asli/kadang menyesuaikan cerita
Ciri : Sebelah matanya mengerjap-ngerjap
akibat stroke yang pernah dialaminya.
Berakibat ditafsirkan genit.
Karakter : Pelit, perhitungan.
Kurangnya pendidikan membuat ia
mudah tertipu.
2. Nama : BU MAKSUM (istri)
Usia : 45 tahun
Dialek : Madura kelahiran Jakarta
Kostum : Suka pakaian brandied, sok fashion,
tapi kadang tidak maching.
Ciri : Cerewet. Omongannya tanpa titik koma.
Karakter : Sembrono, pelupa, pesolek & pencemburu
3. Nama : PAK SOLEH (mertua)
Usia : 65 tahun
Dialek : Madura
Kostum : Pengusaha besi tua Madura Cilincing.
Ciri : Perhiasan emasnya sangat dominan.
Karakter : Pintar-Pintar Pikun,
sebagai pengusaha sukses
ia cenderung selalu mengatur, otoriter
dan tidak bisa dibantah.
4. Nama : ABBY (anak)
Usia : 26 tahun
Dialek : Jakarta Gaul
Kostum : Casual aktivis Mahasiswa
Ciri : Genit pada cowok
Karakter : Educated. Tapi pendidikan
yang terlalu obsesive dari ayahnya,
membuatnya tumbuh sebagai pemuda guy.
5. Nama : SARAH (Sepupu jauh)
Usia : 23 tahun
Dialek : Jakarta Gaul
Kostum : Modis dan seksi
Ciri : Goyang pinggulnya aduhai bo !
Karakter : Genit pada semua lelaki
dan sentimentil
6. Nama : Bejo (pembantu setia)
Usia : 40 tahun
Dialek : Jawa
Kostum : Umum
Ciri : Selalu bilang Ya dengan Injiiih
Karakter : Loyal, selalu ingin bertindak benar,
tapi aplikasinya salah. Pintar2 Bodoh
B. PEMAIN PENDUKUNG UTAMA
1. Nama : PAK ANDRE (perantara pemilik keris)
Usia : 40 tahun
Dialek : Indonesian businessman
Kostum : Exsekutive
Ciri : Mata licik
Karakter : Doyan makan, pandai bicara & genit
2. Nama : DIDI (Tukang Ojek Sepeda)
Usia : 40 tahun
Dialek : Betawi
Kostum : Kaos dan celana kumal
Karakter : Kocak dan riang
C. FIGURAN
1. Nama : (?) Tukang Tagih
Usia : Bebas
Dialek : Betawi
Kostum : Kaos dan celana kumal
Karakter : Perhitungan
DESIGN OPENING
THEME SONG
BETAWI OGAH STRESS Olahan menu segerombolan pemusik GOYANG JAKARTA, mengalun denga
n dinamis. Nuansa musik tersebut membawa kepada suasana Betawi yang kental.
STOCK SHOT
Gambar-gambar khas dan unik dari sudut-sudut kota Jakarta yang beraroma Betawi.
Ditambah pernak-pernik Betawi Tempoe Doeloe. Seperti Ondel-ondel, Sado dengan ku
da yang didandani berikut saisnya dll.
Bangunan-bangunan tua di daerah Kota hingga STASION BEOS.
FADE OUT / FADE IN
OPENING TEASE
SCENE 01. INT.CAFE BANG MAKSUM-PAGI
Pemain; Bang Maksum, Abby, Bejo & Sarah
Bang Maksum tengah memberi briefing pada Bejo. Sementara itu Abby tengah sarapan
dan Sarah tengah memasak.
BANG MAKSUM :
Pastiin tamu kita nanti,
bener-bener punya keris sakti
seperti yang dimauin ame pembeli gue !
Tiba-tiba Abby berkomentar dengan mulut penuh nasi. Sementara Bejo masuk kedalam
café.
ABBY :
Keris kuno dicari karena antiknya Beh !
Bukan karena saktinye !
Lagian mane ade keris sakti ?
BANG MAKSUM :
Dasar anak jaman sekarang !
Ngertinye cuman matematika !(MORE)
BANG MAKSUM(CONT D) :
Apa kemarin loe kagak nglihat ?
Kalau keris Babeh yang dirumah itu
bisa pindah sendiri ?
Dari buffet ruang tamu ke kamar loe ?
ABBY :
Oo !, yang kemarin itu ?
Itu mah Abby yang mbawa ke kamar !
Sengaja buat maenan !
Bang Maksum bengong.
CUT TO
ACT 1.
SCENE 02. INT.RUMAH BANG MAKSUM-RUANG TAMU-PAGI
Pemain; Bang Maksum & Bu Maskum
Bu Maksum baru saja selesai mandi. Ia tengah mengeringkan rambutnya di ruang tam
u. Tak lama kemudian muncul Bang Maksum.
BU MAKSUM :
Adoeh doeh dak remak Bang !
Masa pagi-pagi kok sampiyan sudah pulang ?
Siapa yang ngejagain café ?
BANG MAKSUM :
Tenang saja !, ada si Bejo !
Dia lagi mau nemuin tamu penting !
Bang Maksum lalu mendekati istrinya sambil mengerling genit.
BU MAKSUM :
Ngapain sih sampiyan ini ?
Pake larak-lirik kayak orang kelilipan !
BANG MAKSUM :
Tahu kan artinya kalau suami pulang pagi ?
Itu artinya suami pengin duel pagi
Tapi Bu Maksum malah merengut dan menunjukkan rambutnya yang masih basah.
BU MAKSUM :
Ndak remak sampeyan !, lihat saja ini !
Bekas sampeyan semalaman saja belum kering !
Sekarang sudah mau dibasahin lagi !
Bang Maksum bengong dan Bu Maksum masuk ke ruang dalam.
CUT TO
SCENE 03. EXT.JALANAN-PAGI
Pemain; Pak Soleh & Tukang Ojek
Tampak Pak Soleh tengah membonceng ojek sepeda sambil menenteng tas besar serta
beberapa bawaan lain. Sehingga terlihat Pak Soleh begitu repot. Beberapa kali oj
ek sepeda melewati polisi tidur, sepeda langsung berguncang, dan Pak Soleh nyari
s jatuh bersama bawaannya.
PAK SOLEH :
Sampiyan bawa sepeda jangan ngawur ya !
Yang dibelakang ini manusia !,
bukan binatang !
TUKANG OJEK :
Aye tahu Beh !,
masa Aye kagak bisa ngebedain
binatang ame manusie !
Maklum Beh !,
jalannya emang banyak Polisi tidurnye !
PAK SOLEH :
Pantes saja ndak enak te iye !
Sekarang cepet cari jalan
yang banyak Polwan tidurnya !
Tukang Ojek hanya nyengir geli.
CUT TO
SCENE 04. INT.RUMAH BANG MAKSUM-RUANG TAMU-PAGI
Pemain; Bang Maksum & Bu Maskum
Bang Maksum menatap bufetnya yang berisi keris.
Bang Maksum lalu mengambil salah satunya yang terbungkus kain putih. Bang Maksum
lalu mengamat-amati keris kuno yang dililit ikatan dari kembang tujuh rupa itu
sambil bergumam.
BANG MAKSUM :
Dengan berbisnis keris-keris sakti ini,
gua bisa cepet kaya.
Ngga perlu lagi buka café !
Bang Maksum kemudian meletakkan keris itu diatas meja. Ia sendiri kemudian masuk
ke ruang dalam. Bersamaan itu pula muncul Bu Maksum dari ruang dalam dengan waj
ah kesal.
BU MAKSUM :
Bang !, sampiyan lihat pisau dapur ?!!!
Saya mau ngupas bawang !!!
BANG MOHAN(OS) :
Ngga !
Bu Maksum jadi kesal karena dijawab dengan tak acuh.
POV
Tiba-tiba mata Bu Maksum tertuju pada keris yang terletak diatas meja.
Wajah Bu Maksum berubah senang. Ia segera mengambil keris tersebut dan mengeluar
kannya dari sarungnya.
BU MAKSUM :
Tak ada pisau , kerispun jadi
Bu Maksum lalu membawa keris itu ke dalam
CUT TO
SCENE 05. INT.CAFE BANG MAKSUM-PAGI
Pemain; Bejo, Sarah & Pak Andre
Tampak Bejo duduk satu meja berhadapan dengan seseorang yang berpakaian rapi. Be
jo sendiri mengenakan jas, tapi pake dasinya salah.
Di atas meja tampak beberapa piring makanan yang sudah ludes isinya.
PAK ANDRE :
Sebelum kita lanjut pembicaran bisnis ini ,
Boleh saya pesan makanan lagi ?
Wajah Bejo tampak kesal.
BEJO(VO):
Tamunya Bang Maksum rakus bener ya ?!
Sarah muncul untuk mengangkat piring-piring kosong tersebut.
BEJO :
Nanti biar diambilkan makanan lagi ya pak ?
Tapi ngomong-ngomong
apa keris saktinya sudah dibawa pak ?
Tapi sebelum pak Andre menjawab, Sarah menyerobot pembicaran sambil mengerling g
enit pada Pak Andre.
SARAH :
Pak Andre punya keris ya ?
Saya malah punya sarungnya !
Sambil berkata begitu, Sarah membalikkan badan dan melangkah kedalam sambil mene
nteng piring-piring kotor.
Pak Andre tampak menelan ludah ketika menatap pada Sarah yang melangkah gemulai,
hingga teguran Bejo menyadarkannya. Pak Andre lalu menjawab gugup.
PAK ANDRE :
Oh iya , iya !, keris yang saya bawa ini ,
adalah keris kuno dari zaman Ken Dedes.
BEJO :
Setahu saya ,
grup Ken Dedes itu kan belum lama bubarnya .
Jadi keris itu belum bisa dikatakan kuno ?!
Pak Andre hanya bengong.
CUT TO
ACT 2
SCENE 06. EXT.JALANAN-SIANG
Pemain; Pak Soleh dan Tukang Ojek
Pak Soleh masih di bonceng ojek sepeda. Pak Soleh tampak kelelahan dan berkering
at. Begitu juga dengan si Tukang Ojek.
PAK SOLEH :
Gimana sih sampiyan ini ?!
Masa cari rumah anak saya saja
ngga ketemu-temu !!!
TUKANG OJEK :
Babeh sendiri ngga punya alamatnya !
PAK SOLEH :
Saya ngga punya alamatnya,
tapi saya tahu rumah anak saya !
TUKANG OJEK :
Terus dimana rumahnya ?
PAK SOLEH :
Nah itu !, saya lupa !
Si Tukang Ojek merengut kesal.
CUT TO
SCENE 07. INT.RUMAH BANG MAKSUM-RUANG TAMU-SIANG
Pemain; Bang maksum dan Bu Maksum
Bang Maksum muncul lagi dari ruang dalam. Ia terkejut ketika mendapati kerisnya
yang tadi ia letakkan diatas meja hanya tinggal sarungnya saja.
Wajah Bang Maksum seketika itu cemas dan ketakutan.
BANG MAKSUM :
Waduh !, jangan-jangan keris gua kabur !
Mungkin jin penghuninya marah ,
gara-gara gua keluarin dari kain bungkusnya
Bang Maksum segera meraih sarung keris tersebut dan menempelkannya di dahinya sa
mbil dirinya membungkuk-bungkuk hormat pada sarung keris tersebut. Ia lalu memoh
on dengan nada bergetar ketakutan.
BANG MAKSUM :
Maafkan aye Mbah Jin !,
maafkan kelancangan aye !
Sekarang aye mohon,
kembalilah kedalam rumahmu ini Mbah Jin !!!
INSERT
Sementara itu di dapur, Bu Maksum tengah mengiris-iris cabe dan bawang dengan ke
ris kuno Bang Mohan itu.
CUT TO
SCENE 08. INT.CAFE BANG MAKSUM-SIANG
Pemain; Bejo, Sarah & Pak Andre
Piring-piring kosong diatas meja sudah tidak ada lagi. Berganti dengan piring-pi
ring yang berisi makanan yang dihidangkan Sarah. Pak Andre menyantapnya dengan m
atanya yang terus menatap pada Sarah yang semakin genit.
BEJO(VO):
Bisa bangkrut nich cafenya Bang Maksum !
Bejo lalu mencari kesempatan untuk bisa bertanya. Dan saat Pak Andre hendap meny
uap makanan, Bejo bertanya.
BEJO :
Boleh saya lihat kerisnya pak ?
PAK ANDRE :
Boleh !, boleh !!!
Namun Pak Andre tidak langsung membuka kopernya. Ia menyantap dulu kue-kue yang
ada didepannya dengan rakus. Dan Setelah puas, Pak Andre meraih koper dan membuk
anya pelahan. Sementara Bejo menunggu tak sabar. Tak lama kemudian Pak Andre men
geluarkan foto dalam ukuran yang cukup besar. Itu foto keris yang bermotif naga
dengan sisik-sisik berwarna keemasan.
BEJO :
Kok cuma foto ?!, mana keris kunonya ?
PAK ANDRE :
Ini contohnya dulu pak Bejo ,
setelah barangnya cocok dan harganya cocok,
baru saya bawa keris yang sebenarnya
BEJO :
Sekarang kerisnya ada dimana ?
PAK ANDRE :
Masih di Surabaya Pak !
Bejo tercengang sambil menelan ludah.
CUT TO
SCENE 09. EXT.JALANAN-SIANG
Pemain; Pak Soleh, Abby & Tukang Ojek
Tampak Pak Soleh dengan si Tukang Ojek duduk ngedeprok di pinggiran jalan. Merek
a berdua tampak kelelahan.
TUKANG OJEK :
Huh !, ini namanya apes !
Dapet tumpangan orang pikun !
PAK SOLEH :
Jangan ngomong sembarangan sampiyan !
Saya ini tidak pikun !
Saya ini orang kaya !
Saya ini juragan besi tua tahu ?!!!
Kalau perlu sepeda sampiyan saya kiloin !
Si Tukang Ojek terdiam dengan kesal. Tapi tak lama kemudian muncul Abby yang bar
u pulang kuliah. Ia terkejut melihat Pak Soleh ngedeprok di pinggir jalan.
ABBY :
Kakek ?!! Kakek kok ngedeprok disini ?
Abby lalu membangunkan kakeknya untuk berdiri dan memeluknya.
TUKANG OJEK :
By !, ini Engkong loe ?
ABBY :
Iya !, ini kakek gua !, Babehnya emak gua !
tinggalnya di Cilincing sana !
Tukang Ojek lalu bicara pada Pak Soleh.
TUKANG OJEK :
Bilang dari tadi dong Beh !
kalau Babe mertuanya Bang Maksum !
PAK SOLEH :
Saya sudah tahu rumah anak saya !
Buat apa tanya lagi ?!
TUKANG OJEK :
Kalau sudah tahu,
ngapain kita jadi ngedeprok disini ?
(sambil menunjuk ke suatu arah)
Rumah Bang Maksum tuh disitu tuh !
tiga rumah dari sini !
Pak Soleh hanya bengong saja.
CUT TO
SCENE 10. INT.CAFE BANG MAKSUM-SIANG
Pemain; Bejo & Sarah
Bejo terkesima melihat meja didepannya penuh dengan piring yang isinya sudah pad
a ludes. Tak lama kemudian Sarah muncul. Sarah lalu mencoba menghitung dengan ka
lkulatornya.
SARAH :
Gile !, tamunya Bang Maksum kagak kire-kire
Dia udah ngabisin hampir tiga ratus rebu !
BEJO :
Itu yang berupa makanan !,
tapi badanmu yang ditowal-towel tadi
habisnya berapa rebu ?
SARAH :
Ah itu mah gratis !, harga perkenalan !
BEJO :
Waduh !, lha kok sama aku
ngga pernah ngasih harga perkenalan Sar ?
SARAH :
Wah !, kalau sama loe sih
dikasih harga mahal juga gua ogah !
Towelannya sepa !, kagak ade rasanye !
Bejo merengut kesal.
CUT TO
SCENE 11. INT.RUMAH BANG MAKSUM-RUANG TAMU-SIANG
Pemain; Bang Maksum & Bu Maksum
Bang Maksum tengah duduk bersila si atas kursi ruang tamunya dengan tetap menemp
elkan sarung keris itu di dahinya dan matanya terpejam seperti berdoa. Kemudian
Bu Maksum muncul dari ruang dalam dengan membawa keris tersebut. Ia heran meliha
t tingkah suaminya.
BANG MOHAN :
Kembalilah ke dalam sarung !!!
Kembalilah ke dalam sarung !!!
Mendengar ucapan suaminya, Bu Maksum pelahan-lahan lalu berjongkok di depan suam
inya dengan wajah cemas. Ia lalu memasukkan keris itu kedalam sarungnya yang mas
ih dipegangi Bang Maksum. Dan Bang Maksum tidak tahu kalau Bu Maksum melakukan h
al itu.
Setelah itu Bu Maksum lalu menunduk. Dan sedikit demi sedikit membuka kain sarun
g yang dipakai suaminya sambil mengintip ke bagian dalamnya. Tapi Bang Maksum di
am saja karena tengah berkonsentrasi dengan doa untuk kerisnya.
BU MAKSUM :
Kembalilah ke sarung ?
Jangan-jangan punya suamiku ilang ?!!
Tak lama kemudian Bu Maksum muncul kembali dari dalam sarung.
BU MAKSUM :
Apanya yang mesti kembali ke sarung bang ?
Punya abang masih ada tuh !!!
Bu Maksum lalu masuk keruang dalam dengan menggeleng tak mengerti. Meninggalkan
suaminya yang masih terus berdoa sambil menempelkan keris di dahinya.
Tak lama kemudian muncul Abby bersama Pak Soleh. Pada saat yang sama Bang Maksum
membuka matanya. Dan ia melihat keris telah berada di dalam sarung. Bang Maksum
pun menghela nafas lega dengan tanpa memperhatikan mertuanya yang datang.
BANG MAKSUM :
Akhirnya , Jin nya datang juga !!!
Tentu saja Jin yang dimaksud Bang Maksum disalah artikan oleh mertuanya, sehingg
a Pak Soleh marah dan memukulnya dengan tas besar.
PAK SOLEH :
Bo abo !, Dak remak sampiyan !,
dasar mantu kurang ajar !
Mertua datang dikatain Jin !
Bang Maksum merintih kesakitan ketika tas mertuanya yang berat itu menimpa pungg
ungnya.
CUT TO
SCENE 12.INT.RUMAH BANG MAKSUM-KAMAR-SORE
Pemain; Bang Mohan dan Pak Soleh
Bang Mohan memasuki kamarnya dengan merintih kesakitan.
BANG MAKSUM :
Kalau mertua datang , semua bakal kacau !
Baru juga dateng , udah main hajar aja !
Tiba-tiba handphone Bang Mohan berdering. Ia lalu mengangkatnya.
BANG MAKSUM :
Hallo pak !
SESEORANG(OS) :
Sudah dapat contoh kerisnya pak Maksum ?
BANG MAKSUM :
Tenang pak !, asisten saya sedang nyari !
Tapi bapak pasti jadi membelinya kan ?
SESEORANG(OS):
Jangan khawatir , kalau kerisnya sesuai
pasti saya beli diatas satu em !
Bang Maksum lalu mematikan handphonenya dan menghembuskan nafas lega sambil mere
bahkan tubuhnya.
BANG MAKSUM :
Nyantai dulu ahhhh !
Namun tiba-tiba muncul Pak Soleh tanpa mengetuk pintu.
PAK SOLEH :
Bo abo !, laki-laki kok angrem di kamar !
Kerja sana ! Hayo kerja !
BANG MAKSUM :
Tapi Beh , saya kan ,
PAK SOLEH :
Tidak ada tapi-tapian !, pokoknya kerja !
Bu Maksum lalu keluar dari kamarnya dengan bersungut-sungut. Tak lama kemudian m
uncul Bu Maksum.
BU MAKSUM :
Ada apa si Yah ribut-ribut ?
PAK SOLEH :
Bo abo !, suamimu kemana ?,
Semenjak aku datang kok aku belum ketemu ?
Apa dia ngga mau menemui mertuanya ?!
CUT TO
SCENE 13.INT.RUMAH BANG MAKSUM-RUANG TAMU-SORE
Pemain; Bang Maksum & Bejo
Bang Mohan tengah bersiap-siap untuk pergi ke café. Tiba-tiba muncul Bejo.
BANG MAKSUM :
Dapat kerisnya ?
Bejo lalu menyerahkan foto pemberian Pak Andre pada Bang Maksum.
BANG MAKSUM :
Kok foto yang loe kasih ?, kerisnya mana ?
BEJO :
Itu contohnya Bang !
Kerisnya besok datang dari Surabaya
bersama dengan pemiliknya
Bang Maksum tampak gembira. Ia lalu menubruk Bejo dan memeluknya. Sehingga Bejo
kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Bang Maksum ikut terjatuh dan tubuhnya men
impa tubuh Bejo.
FADE OUT / FADE IN
ACT 3
SCENE 14.INT.RUMAH BANG MAKSUM-KAMAR-PAGI
Pemain; Bang Maksum dan Bu Maksum
Bang Maksum tengah tidur diatas ranjangnya. Tiba-tiba Bu Maksum muncul membangun
kannya.
BU MAKSUM :
Bang !, bangun Bang !,
Tadi ada tukang elektronik
nganterin TV sama kulkas !
Memangnya sampiyan yang pesen ya ?
BANG MAKSUM :
(sambil menguap) Iya
Bang Maksum langsung bangun dan beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan kama
rnya.
INTER CUT
Tampak di ruang tamu Bang Maksum ada beberapa kardus elektronik. TV dan Kulkas.
Bu Maksum yang muncul dibelakang suaminya segera bertanya dengan heran bercampur
senang.
BU MAKSUM :
Emangnya bisnis keris yang kemaren
sudah goal ya Bang ?
BANG MAKSUM :
Sebentar lagi !,
paling entar sore , atau besok pagi
tenang saja !
BU MAKSUM :
Terus ini pakai duit siapa ?
BANG MAKSUM :
Pake duit tabungan loe !
Bu Maksum tercengang marah.
CUT TO
SCENE 15.INT.CAFE BANG MAKSUM-PAGI
Pemain; Bejo dan Sarah
Bejo dan Sarah tengah sibuk merapikan café, seperti mau ada tamu istimewa yang aka
n datang.
BEJO :
Mudah-mudahan
pertemuan bisnis hari ini goal !
SARAH :
Ya kalau berhasil !, kalau enggak !,
Tiba-tiba terdengar suara tokek yang ada di atas langit-langit cafe. Bejo langsu
ng menghentikan aktivitasnya dan menyimak suara tokek tersebut.
TOKEK(OS) : Tokeeek .
BEJO : Berhasil !
TOKEK(OS) : Tokeeek..
SARAH : Nggak !
TOKEK(OS) : Tokeeeek
BEJO : Berhasil !
TOKEK(OS) : Tokeeek
SARAH : Nggak !
Tiba-tiba Tokek tersebut diam. Bejo geram dan berdiri menatap keatas plafon
BEJO :
Huhh !, dasar tokek nggak tahu diri !
Sudah numpang, do anya jelek lagi !
Sarah tertawa terbahak-bahak. Bejo jengkel lalu melemparkan sandalnya ke atas un
tuk melempar tokek. Tapi sandal Bejo jatuh kembali menimpa mulut Sarah.
CUT TO
SCENE 16. INT.RUMAH BANG MAKSUM-RUANG TAMU-PAGI
Pemain; Bang & Bu Maksum, Abby & P. Soleh
Tampak Bang Maksum telah mengenakan setelan jas dan dasinya tengah dirapikan Bu
Maksum.
BU MAKSUM :
Abby sampiyan suruh apa ?
BANG MAKSUM :
Sewa sedan !
BU MAKSUM :
Adoeh Bang !, bisnis kan belum goal ?!
Jangan foya-foya dulu !
BANG MAKSUM :
Biar kelihatan bonafide !
Hari ini kan ketemu sama pemilik keris.
Tak lama kemudian Abby muncul.
BANG MAKSUM :
Beh !, Abby sudah sewain kijang bak terbuka
BANG MAKSUM :
Masa sewa mobil yang begituan ?!!
Babeh kan mau bisnis milyaran ,
bukan mau bisnis sayuran !
ABBY :
Kakek ngga ngizinin !,
katanya sewa sedan itu pemborosan.
Pak Soleh muncul dari dalam, lalu ikut bicara.
PAK SOLEH :
Benar itu ta iya !
Saya jadi pengusaha sukses karena irit !
Pake mobil butut dan ngga pake jas begitu !
BANG MAKSUM :
(dengan kesal)
Itu kan bisnisnya babeh !
Buat apa bisnis besi tua pake jas segala ?!
(lalu bicara pada Abby)
Terus mana sisa uang sewanya ?
Abby tidak menjawab, tapi menunjuk ke Pak Soleh yang dengan tenangnya menghitung
uang sisa sewa mobil yang masih banyak itu.
CUT TO
SCENE 17.INT.CAFE BANG MAKSUM-PAGI
Pemain; Bang Maksum, P.Andre, Bejo & Sarah
Tampak Pak Andre tengah menyantap hidangan dengan lahapnya. Sementara itu Bejo d
an Sarah melihatnya dengan kesal. Tak lama kemudian Bang Maksum muncul.
BANG MAKSUM :
Pagi Pak Andre !,
kok ngga sama pembeli kerisnya ?
PAK ANDRE :
Maaf Pak Maksum !,
pemiliknya belum bisa datang !
BANG MAKSUM :
(tampak kecewa)
Pembeli saya setuju
dengan barang tersebut dan harganya.
Tapi beliau harus melihat kerisnya dulu
Pak Andre tersenyum dan kemudian menghentikan santapannya. Ia lalu membuka kopor
nya pelahan, sehingga membuat Bang Maksum penasaran. Tak lama kemudian Pak Andre
mengeluarkan buku kwitansi dari dalam kopernya.
BANG MOHAN :
Lho !, kok kwitansi !, mana kerisnya ?
PAK ANDRE :
Begini pak Mohan !,
penjual saya juga setuju !
Tapi beliau menghendaki DP nya dulu 10 juta,
sebagi bukti kesungguhan untuk membeli !
Bang maksum tercengang sambil menelan ludah.
CUT TO
SCENE 18.INT.RUMAH BANG MAKSUM-RUANG TAMU-PAGI
Pemain; Bu Maksum, P.Soleh & Abby
Bu Maksum menjerit karena kejatuhan cicak.
PAK SOLEH :
katanya ,
kejatuhan cicak itu pertanda apes ?!
ABBY :
Bukan pertanda lagi Kek !,
emang bener-bener apes !
Itu kalau cicaknya jatuh sama atapnya !
CUT TO
SCENE 19.INT.CAFE BANG MAKSUM-SIANG
Pemain; B.Maksum, P.Andre, Bejo & Sarah
Bang Maksum tengah bersalaman dengan Pak Andre.
BANG MAKSUM :
Jangan lupa besok pagi
bawa pemilik kerisnya sekalian ya pak !
PAK ANDRE :
Jangan lupa pula bawa serta pembelinya !
Agar besok langsung dibayar !
Sampai ketemu besok disini pak !
Pak Andre lalu pergi. Bang Maksum lalu bernafas lega. Sementara diatas meja tamp
ak beberapa piring dengan isinya yang telah ludes. Bang Maksum mengernyitkan dah
inya.
BANG MAKSUM :
Makannya pak Andre
sudah habis hampir enam ratus rebu
sewa mobil seratus ribu ,
Yang dua juta buat sewa sedan
dikentit mertua ,
(beat)
Buat DP keris barusan , sepuluh juta !!!
(menghempaskan tubuh ke kursi)
Aje gile !, buat bisnis ini aje ,
gua udah ngeluarin modal kurang lebih
Tiga belas jutaan
FADE OUT/FADE IN
SCENE 20. INT.RUMAH BANG MAKSUM-RUANG TAMU-PAGI
Pemain; Bang Maksum dan Bu Maksum
Bang Maksum yang sudah mengenakan setelan jas tengah menyemir sepatunya dengan k
ain putih. Muncul Bu Maksum dari dalam rumah seperti mencari-cari sesuatu. Matan
ya tertuju pada lap yang dipakai Maksum untuk menyemir.
BU MAKSUM :
Bang !,
Lap yang dipakai nyemir itu lap apaan ?
BANG MAKSUM :
Ini kaos singlet aye sendiri
yang udah bolong !
Bu Maksum lalu menggaruk-nggaruk kepalanya.
BU MAKSUM :
Terus celana dalam saya kemana ya ?
BANG MAKSUM :
Noh !, dibelakang , udah gue rendem
celana dalam kok naruhnya di lantai !!!
BU MAKSUM :
Tapi kan emang mau saya cuci bang !
BANG MAKSUM :
Kelamaan !, keburu disemutin !
BU MAKSUM :
Ah, perasaan tadi nggak disemutin !
BANG MAKSUM :
Iya , semutnya sudah pulang pada keramas
Bu Maksum merengut dan kambali kedalam.
CUT TO
SCENE 21.INT.CAFE BANG MAKSUM-PAGI
Pemain; Bu Maksum, Bejo & Sarah
Bu Maksum, Bejo dan Sarah tampak sibuk membenahi café. Seperti akan datang tamu ag
ung. Bu Maksum telah berpakaian kebaya mahal, tapi kombinasinya norak. Bejo juga
mengenakan jas, tapi tidak mitch dengan calananya. Sarah berpakaian seksi tapi
kelewat seronok.
BU MAKSUM :
Semua dirapikan ya !
Café ini harus terlihat bonafide !
Café ini akan menjadi transaksi bang Maksum
yang bernilai Em eman !
Semua harus beres
sebelum Bang Maksum datang ya !
Bu Maksum lalu menuju ke telepon yang ada di café dan mulai menelpon seseorang.
BU MAKSUM :
Hallo pak Handoko !,
ini saya istrinya pak Maksum,
Saya diminta untuk konfirmasi,
apakah bapak sudah siap untuk berangkat ?
SESEORANG(OS) :
Waduh bu Maksum !, maafkan saya !,
pembelinya tiba-tiba ke Singapura !,
katanya ada acara mendadak begitu !
BU MAKSUM :
Lho !, pembelinya bukannya bapak sendiri ?
SESEORANG(OS) :
Bukan bu !, saya cuman perantara !
Bu Maksum terkejut. Wajahnya pucat.
CUT TO
SCENE 22.INT.RUMAH BANG MAKSUM-RUANG TAMU-PAGI
Pemain; Bang & Bu Maksum, P.Soleh & Bejo
Bang Mohan tampak tergeletak di depan TV. Dan Pak Soleh tengah mengipasinya deng
an kertas sambil menonton TV. Bersamaan dengan itu Bu Maksum muncul ditemani Bej
o. Ia lalu bertanya pada Pak Soleh.
BU MAKSUM :
Bang Maksum kenapa Yah ?
Dan dengan santainya Pak Soleh menunjuk ke TV yang tengah menayangkan sebuah fot
o. Dan ternyata itu adalah foto Pak Andre.
Penayangan foto itu disertai narasi dari penyiar berita.
NARATOR :
Penjahat yang biasa memamakai nama Andre ini
tengah menjadi buronan Polisi.
(beat)
Setelah melakukan
penipuan besar-besaran di Surabaya,
ia kini tengah melakukan aksinya di Jakarta.
Kepada para pemirsa
kami sarankan untuk berhati-hati
jika berhadapan dengan penjahat ini.
Bejo terperangah sambil menunjuk ke layar TV.
BEJO :
Itu kan tamunya Bang Maksum
yang mau membawa si empunya keris !
Bu Maksum ikut terperangah. Sementara Pak Soleh malah tersenyum.
FADE OUT / FADE IN
CLOSING TEASE
SCENE 23.INT.RUMAH BANG MAKSUM-RUANG TAMU-PAGI
Pemain;Bang & Bu Maksum, P. Soleh & T. Tagih
Bu Maksum tampak kesal pada Bang Maksum. Sementara Bang Maksum mengkemas-kemas k
embali barang-barang elektronik yang dibelinya kemarin kedalam kardus dan merapa
tkan kardus itu kembali dengan lakban.
BU MAKSUM :
Kirain mau goal bisnis keris kunonya !
Tahunya malah blong !!!
Uang simpenan saya amblas !
Bisnis amblasss !
Tak lama kemudian Tukang Tagih muncul dengan membawa sejumlah uang lembaran sera
tusan dan menyerahkannya pada Bu Maksum. Bu Maksum heran.
TUKANG TAGIH :
Tagihan belanjaan café seminggu
sudah dibayar ame harga elektronik ini Bu ! Nah itu sisanye segitu !
BU MAKSUM :
Kok ngehargainnya murah amat ?
TUKANG TAGIH :
Dimana-mana namanya barang second
harganya pasti susut Bu !!!
BU MAKSUM :
Tapi barang-barang elektronik ini kan
baru beli kemarin ?!
PEDAGANG :
Sama saja Bu !,
perempuan saja meskipun baru nikah
terus sehari kemudian cerai,
tetap saja namanya janda bukan gadis !!!
Bang Maksum dan Bu Maksum hanya bisa tercengang. Dan tiba-tiba pak Soleh muncul
dari ruang dalam.
PAK SOLEH :
Bo Abo !, daripada susah-susah ,
mendingan barang-barang ini
aku kiloin aja di cilincing !
Bang Maksum menggeram kesal pada Pak Soleh.
STOP MOTION
TAMAT
Bojong Gede, 12 Januri 2005
This post was written by:
Rudi Utomo