Anda di halaman 1dari 11

IMPLEMENTASI POLMAS DI POLSEK SUKOHARJO

I. PENDAHULUAN

Perpolisian masyarakat adalah sebuah strategi kolaborasi antara polisi dan masyarakat yang
bertujuan untuk mengindentifikasi masalah kamtibmas yang ada di wilayah komunitasnya dan
bersama-sama mencari solusi mengatasi permasalahan tersebut. Keuntungan timbal balik yang
diperoleh dalam penerapan strategi tersebut dapat membangun kekuatan dalam menghadapi
permasalahan yang sesulit apa pun yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang berkembang
dalam wilayahnya.

Konsepsi Polmas sebenarnya berangkat dari beberapa kesamaan anggapan yaitu : masyarakat
dengan segala potensi / sumber daya dan kekuatannya dapat berkontribusi untuk tugas-tugas
kepolisian, dalam mewujudkan kontribusi tersebut santa diperlukan terjalinnya hubungan polisi dan
masyarakat yang bersifat kemitraan sederajad, intim dan saling membutuhkan, masyarakat
membutuhkan fasilitas dan bimbingan dari polisi agar terwujud kontribusinya serta hubungan
kemitraan sederajad dalam keadaan yang saling bersinergi dan saling melengkapi.

Polsek Sukoharjo merupakan salah satu Polsek yang berada dalam wilayah hukum Polres
Tanggamus. Wilayah Hukum Polsek Sukoharjo terdiri dari 3 kecamatan (Kecamatan Sukoharjo,
Kecamatan Adiluwih dan Kecamatan Banyumas ) dan 33 Desa. Dengan luas wilayah 305,76 KM2
dan jumlah penduduk + 35.103 jiwa serta berbatasan langsung dengan 2 Kabupaten lain.
Berdasarkan demografi penduduk wilyah hukum Polsek Sukoharjo pada umumnya tinggal di
wilayah pedesaan yang mata pencahariannya adalah petani yang bekerja di persawahan dan
perkebunan . Hal inilah yang menyebabkan wilayah hukum Polsek Sukoharjo sangat rentan
terjadinya gangguan kamtibmas.

Dengan melihat permasalahan yang disampaikan penulis diatas, penulis akan berusaha
menjabarkan sejauh mana implementasi Polmas telah dilakukan oleh Polsek Sukoharjo pasca
terbitnya Skep Kapolri No. Pol. : Skep/737/X/2005 tanggal 13 Oktober 2005 tentang Kebijakan
dan strategi penerapan model Polmas dalam penyelenggaraan Tugas Polri yang wilayahnya
terdiri komunitas penduduk yang tinggal di pedesaan dimana sebelum menjadi mahasiswa PTIK
penulis bertugas menjadi Kapolsek Sukoharjo.

II. PEMBAHASAN
Polsek merupakan organisasi Polri yang terdepan pada tingkat kecamatan yang tentunya
sangat bersentuhan dengan segala dinamika masyarakat yang berkembang di wilayah
kecamatan tersebut. Pelaksanaan implementasi konsep Pemolisian Masyarakat di tingkat
Polsek Sukoharjo dimulai pada Bulan Desember 2005 dengan ditandai dikeluarkan Perintah
Kapolres Tanggamus melalui Telegram Kapolres No. Pol. : TR/1144/XII/2005 tanggal 3
Desember 2005 tentang Pelaksanaan Implementasi Konsep Polmas di wilayah hukum Polres
Tanggamus. Setelah menerima Telegram Kapolres tersebut, Kapolsek menjalankan perintah
tersebut dengan membuat Konsep Rencana Implementasi Polmas di Wilayah Hukum
Polsek Sukoharjo kedalam tiga tahapan yaitu Tahap Persiapan, Tahap Pelaksanaan dan
Tahap Pemantapan.

Pentahapan tersebut diatas disesuaikan dengan kondisi dan situasi masyarakat serta
kebijaksanaan pimpinan Polri dimana pentahapan tersebut dibagi kedalam rentang waktu
tertentu. Hal ini dilakukan untuk menjamin kontinuitas pelaksanaan Implementasi Konsep
Polmas di Wilayah Hukum Polsek Sukoharjo walaupun pimpinan Polsek (Kapolsek) berganti.

1. Tahap Persiapan
Dalam tahap persiapan tersebut Kapolsek Sukoharjo merencanakan kegiatan tersebut
dilaksanakan pada rentang waktu satu tahun yaitu Th. 2005 – 2006. Adapun kegiatan yang
dilaksanakan antara lain :
a. Pengarahan dan Paparan Konsep Polmas di Internal Polsek dan Masyarakat
Pengarahan dan paparan ini dilaksanakan dengan mengambil materi dari Penjabaran
Konsep Polmas dari Skep Kapolri No. Pol. : Skep/737/X/2005 tanggal 13 Oktober
2005 tentang Kebijakan dan strategi penerapan model Polmas dalam penyelenggaraan
Tugas Polri. Pada awalnya pemaparan konsep tersebut dilakukan oleh Polres
Tanggamus ( Kapolres dan Kabag Binamitra ). Kemudian setelah menerima silabus
tersebut Kapolsek mensosialisasikan kepada seluruh anggota Polsek Sukoharjo secara
berkala dan pada setiap kesempatan APP Kapolsek kemudian setelah anggota
memahami konsep tersebut. Kapolsek merencanakan kegiatan sosialisasi konsep
Polmas yang ditujukan kepada Aparat Pemerintahan Kecamatan, Kepala Desa se-
wilayah hukum Polsek Sukoharjo dan perwakilan tokoh agama, tokoh masyarakat
masing-masing desa. Kemudian setelah melaksanakan sosialisasi Polmas dengan
metode mengundang mereka Kapolsek merencanakan kegiatan sosialisasi Konsep
Polmas dengan mengadakan kunjungan langsung / sambang ke desa-desa secara
terjadwal dengan pelaksana utama yaitu petugas Babinkamtibmas Polsek Sukoharjo
dan Pos Pol.

b. Mengukur dan mengidentifikasikan Antusiasme Tokoh Masyarakat


Setelah mengadakan sosialisasi sampai ke tingkat desa pada jangka waktu tertentu.
Kapolsek bersama Babinkamtibmas mengukur sejauh mana interpretasi para tokoh
masyarakat yang ada di masing-masing desa terhadap Konsep Polmas yang telah
disosialisasikan tersebut dengan cara menyebar kuisoner kepada Tomas yang telah
dikunjungi apakah mereka antusias mendukung Program tersebut atau tidak.
Apabila masih ditemukan antusiasme yang tergolong rendah pada tokoh masyarakat
tersebut maka dilakukan sosialisasi kembali kepada mereka dan apabila tomas tersebut
antusias dengan program tersebut maka Babinkamtibmas merencanakan pemantapan
sosialisasi Polmas tersebut untuk merealisasikan kegiatan implementasi konsep Polmas
di desa tersebut.

c. Pemetaan Kekuatan Potmas dan Identifikasi masalah Kamtibmas Komunitas


Dengan mendasari tingkat pemahaman tokoh masyarakat terhadap Konsep Polmas
dinilai telah baik. Kapolsek bersama anggota Polsek melakukan pemetaan Potmas yang
sudah ada di desa tersebut. Hal ini penting dalam rangka mempersiapkan
pengorganisasian FKPM di desa-desa dengan dilandasi kekuatan Potmas yang sudah
ada di wilayah tersebut. Kegiatan yang dilakukan yaitu pendataan ulang Tokoh
Masyarakat, Tokoh Agama dan Tokoh Pemuda dengan menggolongkan sifat ketokohan
mereka dimasyarakatnya, pendataan Siskamling yang ada berdasarkan keaktifan
pelaksanaannya, pendataan para informan kepolisian yang ada di pedesaan dan
pendataan sumber daya yang ada di masing-masing desa.
Selain itu pula dirumuskan identifikasi permasalalahan yang sering timbul di masing-
masing desa dan kerawanan kamtibmas yang terjadi pada masa satu tahun kebelakang
dengan mendasari dari Laporan Polisi yang ada di Polsek Sukoharjo. Setelah dilakukan
pendataan di Laporan Polisi Polsek Sukoharjo ditemukan pada umumnya permasalahan
Kamtibmas yang sering muncul yaitu pencurian dan perkelahian antar pemuda
kampung serta penipuan/penggelapan. Kemudian pula Polsek Sukoharjo menyusun
SWOT dalam pengimplementasian Konsep Polmas .

d. Penyusunan Konsep Pelatihan dan Penyusunan Silabus Pelatihan Polmas


Konsep Polmas pada hakekatnya bagaimana masyarakat dan polisi menyelesaikan dan
mememcahkan permasalahan Kamtibmas yang ada di wilayahnya sehingga untuk dapat
menjalankan dan melaksanakannya personil Polri dan masyarakat yang tergabung
dalam FKPM perlu dibekali pengetahuan yang cukup tentang tugas yang akan
dijalankannya. Untuk itu Polsek Sukoharjo menyusun beberapa silabus untuk dapat
meningkatkan pengetahuan mereka dengan memberikan beberapa materi yang
berhubungan dengan tugas kepolisian. Beberapa instrument ajaran yang telah dibuat
Polsek sukoharjo di sesuaikan dengan tingkat pengetahuan masyarakat serta
kewenangan yang akan dijalankan kepada mereka dengan maksud agar materi tersebut
dapat dicerna dan dipahami.
Selain materi yang berhubungan dengan Konsep Polmas dan Operasionalisasi Polmas ,
Polsek Sukoarjo menyusun materi lain antara lain :
1) Pengetahuan tentang KUHAP ,KUHP, Perda Kabupaten Tanggamus dan UU No. 2
Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI .
2) Pengetahuan tentang Hak Asasi Manusia (HAM)
3) Pengetahuan tentang Tehnis Kepolisian dan Pencegahan Kejahatan.
4) Pengetahuan Tehnik Psikologi Massa, Cara Penyelesaian Masalah ( Problem
Solving ), Komunikasi Sosial.
5) Pengetahuan tentang Etika Kepribadian Pancasila.
6) Pengetahuan lokal lainnya yang berhubungan dengan kondisi sosial
kemasyarakatan di Kabupaten Tanggamus.
Pengetahuan-pengetahuan tersebut disusun dalam bentuk buku dan slide paparan.
Selain itu pula menyusun piranti keras dan piranti lunak dengan disesuaikan dengan
sumber daya dimiliki Polsek Sukoharjo dan Pemerintah Kecamatan Sukoharjo.

2. Tahap Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan Kapolsek Sukoharjo merencanakan kegiatan tersebut
dilaksanakan pada rentang waktu satu tahun yaitu Th. 2006 – 2007. Adapun kegiatan yang
dilaksanakan antara lain:
a. Pengorganisasian FKPM
Untuk dapat melaksanakan Konsep Polmas di wilayah hukum Polsek Sukoharjo
diperlukan pembentukan FKPM di masing-masing desa sehingga perencanaan yang
telah disusun sebelumnya dapat berjalan dengan sesuai alur yang telah disusun. Oleh
sebab itu dengan berdasarkan Telegram Kapolres Tanggamus No.Pol.: TR/891/XI/2006
tanggal 23 November 2006 tentang Pembentukan FKPM di masing Desa / Kelurahan di
wilayah Hukum Polres Tanggamus maka Kapolsek Sukoharjo menjalan perintah
tersebut dengan cara sebagai berikut :
1) Koordinasi dengan Camat dan Kepala Desa di wilayah hukum Polsek Sukoharjo
Koordinasi yang dilakukan oleh Polsek Sukoharjo kepada mereka yaitu bertujuan
untuk menyusun orang-orang yang duduk dalam Forum Komunikasi Perpolisian
Masyarakat (FKPM) di masing-masing desa dan meminta masukan sehubungan
dengan profil para Tomas/Toga tersebut.
Bentuk Koordinasi lainnya yang dilakukan yaitu penentuan lokasi Balai FKPM di
masing-masing desa dan penyusunan Rencana Kebutuhan FKPM dalam bentuk
proposal kepada Polres Tanggamus , dimana dalam pertemuan tersebut diputuskan
bahwa sambil menunggu bantuan dari Pemda Tanggamus Balai FKPM disediakan
oleh masing-masing Kades di Kantor Desa dan mencari lokasi/ tanah yang akan
dijadikan sebagai Balai FKPM

2) Pembuatan Skep Penunjukan Anggota FKPM


Setelah mengkoordinasikan nama-nama masyarakat yang akan menjadi anggota
FKPM kepada para kepala desa, maka anggota masyarakat yang terpilih tersebut
didatangi Petugas Babinkamtibmas ke rumah masing-masing dan menanyakan
kesediaan mereka untuk menjadi anggota FKPM kemudian setelah mereka
menyatakan bersedia maka dibuatkan Skep Penunjukan oleh Kapolsek Sukoharjo
berdasarkan Skep Kapolri No. Pol. : Skep/433/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 tentang
Panduan Pembentukan dan Operasional Polmas yaitu Pelindung, Ketua, Sekertaris,
Bendahara dan Anggota FKPM

3) Pembuatan Administrasi FKPM


Agar dalam pelaksanaan Polmas oleh FKPM dapat berjalan dengan baik maka
diperlukan persiapan dan pembuatan Administrasi FKPM sebagaimana diatur dalam
Skep Kapolri No. Pol. : Skep/433/VII/2006. Administrasi FKPM yang dibuat yaitu
berupa :
a) Format Laporan Pengaduan Masyarakat
b) Format Laporan Informasi
c) Format Laporan Hasil Pelaksanaan Tugas FKPM
d) Format Surat Perjanjian Perdamaian.
e) Format Administrasi Perencanaan Kegiatan FKPM lainnya
Berhubung pembiayaan untuk operasional FKPM ini belum disediakan oleh
anggaran Polri maka pembiayaan pembuatan format tersebut dilakukan secara
swadaya dari Kepala Desa..

4) Pelantikan Pengurus FKPM Polsek Sukoharjo


Pada dasarnya pelantikan pengurus FKPM tidak diatur dalam Skep Kapolri tentang
operasionalisasi Polmas akan tetapi tujuan utama dari pelaksanaan Pelantikan
Pengurus FKPM yaitu untuk menumbuhkan kebanggaan dan kehormatan serta
menumbuhkan jiwa tanggung jawab sebagai pengurus FKPM. Aspek Psikologis
yang dapat timbul dari pelantikan tersebut dikarenakan masyarakat pedesaan
merasa terhormat dan bangga bila mereka diangkat menjadi anggota FKPM terlebih
lagi pada pelantikan tersebut dilakukan langsung oleh Kapolres Tanggamus.

b. Pelatihan Pengurus/Anggota FKPM


Untuk memiliki kemampuan / kompetensi sebagai petugas Polmas dan pengurus
FKPM, Polsek Sukoharjo mempersiapkan pelatihan bagi mereka dan untuk tahap awal
pelatihan dilakukan oleh Babinkamtibas yang juga merupakan Sekertaris FKPM di
SPN Kemiling Bandar Lampung. Selain itu pula Polsek dengan bekerja sama dengan
Polres melaksanakan pelatihan khusus bagi Ketua FKPM masing-masing desa. Adapun
Bahan yang diajarkan yaitu sesuai dengan materi pelatihan yang telah disusun
sebelumnya oleh Polsek dan pelaksanaannya dilaksanakan 2 kali seminggu di Aula
Kecamatan Sukoharjo.

c. Kegiatan Pembinaan Kamtibmas Bersama


Dengan terbentuknya FKPM maka Babinkamtibmas dan tokoh masyarakat yang
termasuk dalam FKPM dapat melaksanakan kegiatan secara bersama-sama. Beberapa
kegiatan yang dilakukan secara bersama antara lain :
1) Membuat Portal pada setiap jalan Kampung yang rawan kejahatan
Pada setiap Dusun di wilayah hukum Polsek Sukoharjo pada umumnya telah
membuat Pos Ronda dan pada umumnya terletak di perbatasan Kampung ( Dusun ).
Untuk itu berdasarkan pengamatan bersama (Babinkamtibmas dan FKPM ) dan
kesepakatan masyarakatnya maka begotong royong membuat Portal di depan Pos
Ronda. Kegunaan Portal tersebut yaitu membuat akses masuk ke kampung dapat
lbih mudah dipantau apalagi pada saat malam hari.
2) Melaksanakan Patroli Dialogis ke rumah-rumah penduduk dan Pos Ronda
Pada saat tertentu ketika melaksanakan Patroli di kampung, Babinkamtibmas dan
FKPM melaksanakan patroli bersama. Dikarenakan kesibukan masyarakat yang
umumnya petani maka pelaksanaannya dilakukan pada malam hari. Tehnis
pelaksanaan patroli dialogis tersebut antara lain :
a) Dilaksanakan 2-3 orang pengurus FKPM termasuk juga Babinkamtibmas
Polsek. Pada saat tertentu bersama – sama petugas Poskamling
b) Menggunakan sepeda motor ataupun berjalan kaki bersama keliling kampung.
c) Mengunjungi rumah penduduk dan pos ronda. Kegiatan yang dilakukan yaitu
berbincang-bincang dengan mereka yang berhubungan dengan masalah
kambtibmas ( keluh kesah ) dan meminta saran kebutuhan mereka untuk
meningkatkan pola pengamanan kampung.
d) Sebelum membuka pembicaraan di rumah penduduk. Memperkenalkan
keberadaan FKPM dan siapa saja yang menjadi pengurus FKPM.
e) Babinkamtibmas mencatat masukan, keluh kesah dan saran/masukan di dalam
buku Patroli.

3) Penyelesaian pertikaian antar warga kampung


Pada umumnya laporan tentang pertikaian masyarakat yang berupa penganiayaan
yang bersifat ringan diadukan oleh pelapor kepada Polsek Sukoharjo.Untuk itu
sebelum dilakukan penyidikan oleh reskrim, Kapolsek menindak lanjuti laporan
tersebut dengan memanggil Babinkamtibmas yang wilayahnya terjadi pertikaian
tersebut dan menugaskannya bersama pengurus FKPM untuk mencoba
menyelesaikan permasalahan tersebut Kemudian Babinkamtibmas dan pengurus
FKPM lainnya mempertemukan kedua belah pihak yang bertikai dan dilakukan
perundingan. Apabila telah ditemukan kata sepakat maka FKPM membuat Surat
Perjanjian dan membuat Laporan hasil pelaksanaan tugas kepada Polsek Sukoharjo
dan diteruskan ke Bagian Binamitra Polres Tanggamus. Untuk diketahui dalam
penyelesaian masalah oleh FKPM tersebut tidak dikenai biaya sedikitpun baik bagi
pelapor dan terlapor kecuali dalam hal si korban meminta ganti rugi kepada si
terlapor.

4) Ikut serta mengamankan kegiatan sosial kemasyarakatan


Pada umumnya di bulan-bulan tertentu ketika masyarakat telah menikmati hasil
panen biasanya masyarakat menyelenggarakan pesta perkawinan untuk itu dengan
telah terbentuknya FKPM di masing-masing biasanya si pemilik acara tersebut
memasukkan pengurus FKPM sebagai panitia keamanan dalam pesta perkawinan
tersebut. Sehingga pelaksanaan pesta dapat berjalan dengan aman dan arus lalin
dapat berjalan dengan lancer dengan kehadiran FKPM dalam pengamanan itu. Pada
acara masyarakat yang bersifat besar seperti konser musik petugas Polsek
Sukoharjo bekerjasama dengan FKPM wilayah tersebut melaksanakan pengamanan
bersama pada tempat parkir begitu pula dalam hal pelaksanaan shalat jum’at.
FKPM berkoordinasi dengan Pemuda Mesjid ( RISMA ) untuk melaksanakan Pam
Parkir Ranmor pada Shalat Jumat.

5) Pelaksanaan Operasi Pekat secara bersama-sama


Untuk meminimalisir tingkat kejahatan yang terjadi yang disebabkan oleh semakin
maraknya peredaran miras, perjudian dan prostitusi. Polsek Sukoharjo pada waktu-
waktu tertentu melaksanakan Operasi Pekat dengan bekerja sama dengan FKPM.
Dimana FKPM dijadikan sebagai Informan bila ada penjual miras, permainan judi
dan prostitusi yang ada di wilayah kampungnya. Apabila terdapat informasi maka
FKPM menyampaikan langsung kepada Kapolsek untuk dilakukan tindakan
kepolisian.

3. Tahap Pemantapan
Pada tahapan ini dirancang agar FKPM yang sudah terbentuk dimasing-masing desa akan
sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang ada di masing-masing kampung dan
kehadirannya sangat dipercaya dan dibutuhkan oleh masyarakat komunitasnya. Rentang
waktu pelaksanaannya yaitu Th. 2007 s.d. 2009 disesuaikan dengan ketersediaan anggaran
bagi FKPM dari Polri dan Pemerintah Daerah. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara
lain :
a. Pemenuhan sarana/prasarana, dana operasional FKPM dan Honor FKPM
Tokoh masyarakat yang tergabung dalam FKPM di Wilayah Hukum Polsek Sukoharjo
diharapkan dapat menyampaikan kepada Bupati dan Wakil Rakyat (anggota DPRD)
yang berasal dan tinggal di Kecamatan Sukoharjo, Banyumas dan Adiluwih agar
Pelaksanaan FKPM/Polmas dimasukkan dalam mata anggaran Pemerintahan Daerah
Tanggamus. Hal ini penting demi keterlangsungan program Polmas yang sudah
dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

b. Pembuatan Pamflet atau Berita Kamtibmas pada masing-masing FKPM.


Untuk lebih memperluas pemahaman masyarakat tentang kamtibmas dan kesadaran
hukum masyarakat lebih baik, maka FKPM masing-masing desa bila telah mampu
secara financial maka membuat Pamflet/Berita kamtibmas dalam komunitasnya.

c. Pemberdayaan FKPM untuk ikut serta dalam program pembangunan Desa.


Program pemerintah yang dilaksanakan saat ini telah banyak dilakukan sampai
ditingkat pedesaan seperti Program Pendidikan, Program Pertanian dan Program
pengentasan kemiskinan. Dimana untuk lebih memaksimalkan pelaksanaannya
dilapangan diperlukan pengawasan oleh masyarakat itu sendiri. FKPM sebagai
kekuatan masyarakat di bidang kamtibmas dapat ikut serta dalam melakukan
pengawasan tersebut.

d. Ikut Serta membantu masyarakat dalam Meningkatkan Pelayanan Kepolisian


Untuk memaksimalkan pelayanan kepolisian sampai ke pelosok desa, FKPM dapat
menjadi mitra polisi dalam membantu masyarakat dalam bentuk pelayanan SKCK,
Surat Keterangan Kepolisian dan Surat Ijin Keramiaan. Sehingga masyarakat yang
membutuhkan pelayanan kepolisian tidak perlu lagi mendatangi Polsek untuk mengurus
pelayanan surat-surat tersebut. Dengan cukup meminta bantuan FKPM yang ada di
masing-masing desa maka masyarakat tetap dapat menjalankan aktifitas ekonominya.

e. Memberikan Penghargaan bagi FKPM yang terbaik


Pemberian apresiasi terhadap kinerja FKPM oleh Polri adalah sangat penting untuk
dapat lebih memberikan penghargaan terhadap hasil yang telah dilakukan oleh FKPM.
Harapan dari pemberian penghargaan ini adalah agar lebih memotivasi FKPM yang ada
untuk lebih meningkatkan kinerjanya kepada masyarakat.

f. Pengawasan dan Pengendalian Kinerja FKPM


Pengawasan dan Pengendalian Kinerja bagi implementasi Konsep Polmas yang
dilakukan oleh FKPM sangat penting untuk mengontrol kinerja dan moral anggota
masyarakat yang trgabung dala FKPM Desa. Untuk itu dalam masa pemantapan ini
Polsek Sukoharjo mengadakan Rapat Koordinasi/Anev setiap bulannya dan
melaksanakan Supervisi di FKPM setiap triwulan. Selain itu pula Polsek Sukoharjo
membuka layanan SMS interaktif untuk mengontrol kinerja FKPM di lapangan
sehingga menutup kesempatan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh FKPM.
III. PENUTUP
Implementasi Konsep Polmas ditingkat Polsek Sukoharjo dengan mengedepankan petugas
Babinkamtibas telah dirancang dengan matang oleh Polsek Sukoharjo dengan menyesuaikan
kondisi masyarakat rural ( pedesaan ) yang ada wilayah hukum Polsek Sukoharjo. Melalui
pembagian pentahapan tersebut diharapkan Konsep Polmasini akan lebih terasa di masyarakat
sehingga tujuan yang diharapkan yaitu menciptakan kemitraan yang seimbang dan selaras antara
Polri dan Masyarakat dalam membina Kamtibmas dapat terjalin dengan baik.

Hambatan-hambatan yang terjadi masih tetap ada dalam pelaksanaan Implementasi Konsep
Polmas di wilayah hukum Polsek Sukoharjo terutama dalam hal pembiayaan operasional sehingga
masih diakui pelaksanaannya masih belum maksimal, namun dengan segala keterbatasan yang ada
Polsek Sukoharjo bersama dengan seluruh elemen masyarakat tetap menjalankan kegiatan Polmas
tersebut secara Swadaya. Salah satu hal yang sangat positif dalam implementasi Konsep Polmas
ini adalah semakin menurunnya tingkat kriminalitas di wilayah hukum Polsek Sukoharjo.
Berdasarkan data yang pada Tahun 2004 ( sebelum pelaksanaan Konsep Polmas ) tingkat
kriminalitas di Polsek Sukoharjo adalah 134 Kasus dan pada Tahun 2005 – 2006 jumlah kejahatan
mengalami penurunan sekitar 15 % yaitu 113 Kasus dan Pada tahun 2006-2007 kejahatan
mengalami penurunan sekitar 6 % yaitu 107 Kasus. Hambatan lainnya yang cukup mengganggu
dalam pelaksanaan Konsep Polmas yaitu masih sulitnya perubahan kultur polisi dan masih adanya
image negatif masyarakat tentang polisi untuk itu peran kehumasan Polri untuk tetap memberikan
kesan positif di masyarakat sampai dengan tingkat desa dan peran Propam dan pengawasan
pimpinan untuk memperkecil ruang gerak anggota Polri untuk melakukan perbuatan menyimpang
dan penyalahgunaan wewenang.

Disarankan dalam kegiatan Implementasi Konsep Polmas yang dilakukan oleh petugas
Babinkamtibmas dilakukan dengan prinsip transparansi, partisipasi dan kesetaraan serta
otonomisasi sehingga implementasinya dapat lebih menyesuaikan dengan kondisi kemasyarakatan
yang ada di masing-masing wilayah Indonesia. Kemudian juga diharapkan program Polmas ini
tidak hanya menjadi Program Polri semata tetapi pula menjadi Program Pemerintah sehingga
pembiayaan Implementasi Polmas lebih dapat dialokasikan dalam anggaran pemerintah pusat
sampai dengan pemerintah daerah.

Demikian Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas yang dberikan oleh Dosen Mata Kuliah
Polmas, penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna maka penulis meminta koreksi,
saran dan kritik yang membangun dari para dosen dan pembaca demi lebih baiknya makalah ini
dikemudian hari. Jakarta, Juli 2008
PENULIS

DOLLY GUMARA
NO. MHSW 6496