Anda di halaman 1dari 10

PATRISTIK DAN SKOLASTIK

Makalah Pengantar Filsafat

Kelompok IV
Kelas C Semester I

Di susun oleh;
1. Kholid Nawawi NIM. 2021210109
2. Muhammad Zulqornein NIM. 2021210091
3. Tiyas Dwi kurniasih NIM. 2021210106
4. Sufi Eva Lufita NIM. 2021210121

Jurusan Tarbiyah (Pendidikan Agama Islam)


Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pekalongan
2010
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senatiasa


terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh
panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu banyak
yang berpaling kepada agama atau kepercayaan Ilahiah.

Metode filsafat adalah metode bertanya. Objek formal filsafat adalah ratio
yang bertanya. Obyek materinya semua yang ada. Maka menjadi tugas filsafat
mempersoalkan segala sesuatu yang ada sampai akhirnya menemukan
kebijaksanaan universal.

Sonny Keraf dan Mikhael Dua mengartikan ilmu filsafat sebagai ilmu
tentang bertanya atau berpikir tentang segala sesuatu (apa saja dan bahkan
tentang pemikiran itu sendiri) dari segala sudut pandang.

Meski bagaimanapun banyaknya gambaran yang kita dapatkan tentang


filsafat, sebenarnya masih sulit untuk mendefinisikan secara konkret apa itu
filsafat dan apa kriteria suatu pemikiran hingga kita bisa memvonisnya, karena
filsafat bukanlah sebuah disiplin ilmu. Sebagaimana definisinya, sejarah dan
perkembangan filsafat pun takkan pernah habis untuk dikupas. Tapi justru karena
itulah mengapa fisafat begitu layak untuk dikaji demi mencari serta memaknai
segala esensi kehidupan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Masa Patristik

Istilah Patristik berasal dari kata Latinp a t e r atau bapak, yang artinya
para pemimpin gereja. Para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan atas atau
golongan ahli pikir. Dari golongan ahli pikir inilah menimbulkan sikap yang
beragam pemikaranya. Mereka ada yang menolak filsafat yunani. dan ada yang
menerimanya.

Ketika peradaban yunani sudah tersebar di kalangan mereka, para ahli


pikir dari pemimpin gereja berbeda pendapat mengenai perlu tidak nya filsafat
yunani di gunakan oleh kalangan pemimpin gereja.

Waktu itu para pemimpin gereja sangat mewarnai corak kehidupan


masyarakat . Karena merekalah yang dapat mengeluarkan peraturan-peraturan
gereja sebagai pengamalan terhadap ajaran tuhan.

Tokoh-tokoh Terpenting

Perbedaan pendapat tersebut berkelanjutan, sehingga orang - orang yang


menerima filsafat Yunani menuduh bahwa mereka (orang - orang Kristen yang
menolak filsafat Yunani) itu munafik. Kemudian, orang - orang yang dituduh
munafik tersebut menyangkal, bahwa tuduhan tersebut dianggap fitnah. Dan
pembelaan dari orang - orang yang menolak filsafat Yunani mengatakan bahwa
dirinyalah yang benar - benar hidup sejalan dengan tuhan.

Akibatnya muncul upaya untuk membela agama Kristen, yaitu para


apologis (pembela agama Kristen) dengan kesadarannya membela iman Kristen dari
serangan filsafat Yunani. Para pembela iman Kristen adalah Justinus Martir,
Irenaeus, Klemens, Origenes, Gregorius Nissa, Tertullianus, Diosios Arepagos,
Aurelius Augustinus.
1. Justinus Martir

Nama aslinya ialah justinus, kemudian nama martir di ambil dari istilah
orang-orang yang rela mati hanya untuk kepercayaanya. Ia berpendapat bahwa
filsafat yang digabung dengan ide-ide keagamaan akan menguntungkan asensi
dari pengetahuan ialah pemahaman tentang Tuhan, semakin banyak kita
memikirkan kesempurnaan Tuhan akan semakin bertambah kemampuan
inteleknya.

2.Tertullianus (160 - 222 )

Di antara para pembela iman Kristen adalah Tertullianus ia dilahirkan


bukan dari keluarga Kristen, tetapi setelah melaksanakan pertobatan ia menjadi
gigih membela Kristen secara fanatik. Ia menulak kehadiran filsafat Yunani,
karna filsafat dianggap sesuatu yang tidak perlu. Baginya berpendapat, bahwa
whyu tuhan sudahlah cukup, dan tidak ada hubungan antara teologi dengan
filsafat, tidak hubungan antara Yerussalem (pusat agama) dengan Yunani (pusat
fisafat), tidak ada hubungan antara gereja dengan akedemi, tidak ada hubungan
antara Kristen dengan penemuan baru.

Selanjutnya ia mengatakan, bahwa dibanding dengan cahaya Kristen,


maka segala yang dikatakan oleh para filosof Yunani dianggap tidak penting.
Karna apa yang dikatakan oleh para filosof Yunani tentang kebenaran pada
hakikatnya sebagai kutipan dari kitab suci. Akan tetapi karena kebodohan para
filosof, kebenaran kitab suci tersebut dipalsukan.

Akan tetapi lama kelamaan, Tertullianus akhirnya menerima juga


filsafat yunani sebagai cara berpikir yang rasional. Alasannya, bagaimanapun
juga berpikir yang rasional diperlukan sekali. Pada saat itu, karena pemikiran
filsafat yang diharapkan tidak dibakukan. Saat itu filsafat hanya mengajarkan
pemikiran-pemikiran ahli pikir Yunani saja.
Sehingga, akhirnya Tertullianus melihat filsafat hanya dimensi
praktisnya saja, dan ia menerima filsafat sebagai cara atau metode berpikir
untuk memikirkan kebenaran keberadaan Tuhan beserta sifat-sifatnya.

2.Augustinus (354-430)

Sejak mudanya ia telah mempelajari bermacam-macam aliran filsafat,


antara lain platonisme dan skeptisisme. Ia telah diakui keberhasilannya dalam
membentuk filsafat abad pertengahan, sengga ia dijuluki sebagai guru skolastik
yang sejati. Ia seorang tokoh besar di bidang teologi dan filsafat.

Setelah ia mempelajari aliran Skeptisisme, ia kemudian tidak


menyetujui atau menyukainya, karena di dalamnya terdapat pertentangan
batiniah. Orang dapat meragukan segalanya, akan tetapi orang tidak dapat
meragukan bahwa ia ragu-ragu. Seseorang yang ragu-ragu sebenarnya ia
berpikir dan seseorang yang berpikir sesungguhnya ia berada (eksis).

Menurut Augustinus, daya pemikiran manusia ada batasanya, tetapi


pikiran manusia dapat mencapai kebenaran dan kepastian yang tidak ada
batasnya, yang bersifat kekal abadi. Artinya, akal pikir manusia dapat
berhubungan dengan sesuatu kenyataan yang lebih tinggi.

Dan menurutnya lagi, Allah menciptakan dunia ex nihilo (konsep yang


kemudian juga diikuti oleh Thomas Aquinas). Artinya dalam menciptakan
dunia dan isinya, Allah tidak menggunakan bahan. Jadi, berbeda dengan konsep
pencitaan yang diajarkan Plato bahwa me on merupakan dasar atau materi
segala sesuatu. Dunia diciptakan sesuai dengan ide-ide Allah. Manusia dan
dunia berpatisipasi dengan ide-ide ilahi. Pada manusia partisipasi itu lebih aktif
dibanding dunia materi.
Akhirnya, ajaran Augustinus berhasil menguasai sepuluh abad, dan
mempengaruhi pemikiran Eropa. Perlu diperhatikan bahwa para pemikir
patristik itu sebagai pelopor pemikiran skolastik. Mengapa ajaran Augustinus
sebagai akal dari skolastik dapat mendominasi hamper sepuluh abad, karena
ajarannya lebih bersifat sebagai metode daripada suatu siste, sehingga
ajarannya mampu meresap sampai masa skolastik.

Filsafat patristik mengalami kemunduran sejak abad V hungga abad


VIII. Di Barat dan Timur muncul tokoh-tokoh dan pemikir- pemikir baru
dengan corak pemikiran yang mulai berbeda dengan masa patristik.

B. Masa skolastik

Istilah skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school , yang berarti
sekolah. Jadi skolastik berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah.
perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan.
Terdapat beberapa pengertian dari corak khas skolastik, yaitu:

a. Filsafat Skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata- mata


agama. Karena skolastik ini sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahaan
yang religious.
b.Filsafat Skolastik adalah filsafat yang mengabdi kepada teologi, atau
filsafat yang rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berpikir, sifat
ada, kejasmanian, kerohanian, baik buruk. Dari rumusan tersebut kemudian
muncul istilah: skolastik Yahudi, skolastik arab dan lain-lainnya.
c. Filsafat Skolastik adalah suatu sistem yang termasuk jajaran pengatahuan
alam kodrat, akan dimasukkan ke dalam bentuk sintesa yang lebih tinggi antara
kepercayaan dan akal.
d.Filsafat Skolastik adalah filsafat Nasrani, karena banyak dipengaruhi oleh
ajaran gereja.
Filsafat Skoalistik ini dapat berkembang dan tumbuh kerena
beberapa faktor, yaitu:
1. Faktor Relegius
2. Faktor Ilmu Pengetahuan
Skoalistik Awal

Sejak abad ke-5 hingga ke-8 Maseh, pemikiran filsafat Patristik mulai
merosot, terlebih lagi pada abad ke-6 dan 7 dikatakan abad kacau. Hal ini
disebabkan, karena pada saat itu terjadi serangan terhadap Romawi, sehingga
kerajaan Romawi beserta peradabannya ikut runtuh yang telah di bangun selama
berabad-abad dibangun.

Baru pada abad ke-8 Masehi, kekuasaan berada dibawah Karel Agung
(742-814) baru dapat memberikan suasana ketenangan dalam bidang politik,
kebudayaan, dan ilmu pengetahuan, termasuk kehidupan manusia serta pemikiran
filsafat yang kesemuanya menampakkan mulai adanya kebangkitan. Kebangkitan
inilah merupakan kecemerlangan abad pertengahan,di mana arah pemikirannya
berbeda sekali dengan sebelumnya.

Pada saat inilah merupakan zaman baru bangsa Eropa yang ditandai
dengan skoalistik yang di dalamnya banyak diupayakan ilmu pengetahuan yang
dikembangkan di sekolah-sekolah . Pada mulanya skoalistik ini timbul pertama
kalinya di biara Italia selatan, dan akhirnya sampai berpengaruh ke Jerman dan
Belanda.

Kurikulum pengajarannya meliputi studi duniawi atau artes librales


meliputi: tata bahasa, retorika, dialektika (seni berdiskusi), ilmu hitung, ilmu
ukur, ilmu perbintangan, dan musik.
Diantara tokoh-tokohnya adalah Aquinas (735-805), Johannes Scotes
Eriugena (815-870), Peter Lombard (1100-1160), John Salisbury (1115-1180),
Peter Abaelardus (1079-1180).

Skoalistik Puncak

Masa ini merupakan kejayaan skoalistik yang berlangsung dari tahun


1200-1300, dan masa ini juga disebut masa berbunga. Karena pada itu ditandai
dengan munculnya universitas-universitas dan ordo-ordo, yang secara bersama-
sama ikut menyelenggarakan atau memajukan ilmu pengetahuan, disamping juga
peranan universitas sebagai sumber atau pusta ilmu pengetahuan dan
kebudayaan.

Terdapat beberapa faktor mengapa pada masa skoalistik mencapai pada


puncaknya, yaitu:
a.Adanya pengaruh Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina sejak abad
ke-12, sehingga sampai abad ke-13 telah tumbuh menjadi ilmu
pengetahuan yang luas.
b.Tahun 1200 didirikan Universitas Almamater di Perancis. Universitas ini
merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Almamater inilah sebagai awal
(embrio) berdirinya: Universitas di Paris, di Oxford, di Mont Pellier, di
Camridge dan lain-lainya.
c.Berdirinya ordo-ordo. Ordo-ordo inilah yang muncul karena banyaknya
perhatian orangterhadap ilmu pengetahuan, sehingga menimbulkan dorongan
yang kuat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke-13. Hal ini
akan berpengaruh terhadap kehidupan kerohanian di mana kebanyakan tokoh-
tokohnya memegang peran di bidang filsafat dan teologi, seperti: Albertus de
Grote, Thomas Aquilanus, Binaventura, J.D. Scotus, William Ocham.
Skoalistik Akhir
Masa ini ditandai dengan adanya rasa jemu terhadap segala macam-
macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya, sehingga memperlihatkan stagnasi
(kemandengan). Di antara tokoh-tokohnya adalah William Ockham (1285-1349),
Nicolas Cusasu (1401-1464)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filsafat barat abad pertengahan di awali filsafat eropa (selama 5 abad), muncul lah
filsafat eropa sebagai penjelma filsafat yunani setelah berintegrasi dengan agama Kristen
sehingga membentuk suatu formulasi baru.
Masa abad pertengahan ini terbagi menjadi 2 masa yaitu;
1. Masa Patristik, masa para pemimpin gereja. Para pemimpin gereja ini dipilih dari
golongan atas atau gologan ahli pikir.
2. Masa Skolastik, berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah. perkataan
skoalistik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan.
B. Kata Penutup
Demikianlah makalah yang sangat sederhana ini, penulis berharap semoga
bermanfaat bagi kita. Saran dan kritik kami harapkan demi perbaikan selanjutnya, tak
lupa di ucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA

Delfgaauw Bernard, Sejarah Ringkas Filsafat Barat-penerjemah-


soejono soemargono-cet.1-.CV.Tiara Wacana,
Yogyakarta, 1992.

Hanafi A. M.A, Filsafat Skolastik, Pustaka Alhusna, Jakarta,


1983.

Syadali Ahmad, H. Drs. M.A, Filsafat Umum,CV.Pustaka,


Jakarta, 1997.

Anda mungkin juga menyukai