Anda di halaman 1dari 2

BISAKAH PNS MENJADI PROFESIONAL??

Di salah satu sudut ruangan kerja suatu instansi terdengar beberapa pegawai yang sedang
berbincang-bincang. Salah satu orang bertanya kepada yang lainnya. “ Tahu gak formasi 7-
0-4?”. Pegawai yang ditanya bingung menjawabnya. Lalu pertanyaan tersebut dijawab
sendiri oleh yang bertanya. “Formasi 7-0-4 itu artinya masuk jam 7 pagi, pulang jam 4 sore
dan diantara jam 7 menuju jam 4 sore nol pekerjaan yang bagus alias produktivitas rendah.
Perbincangan ringan yang terjadi itu merupakan suatu sindiran diantara mereka yang
diungkapkan oleh mereka sendiri. Hal ini merupakan indikasi ada sesuatu di dalam jiwa
pegawai tersebut berkenaan dengan keadaan yang dialaminya.

Bekerja bukan hanya mencari suatu materi untuk penghidupan akan tetapi kepuasan batin
secara psikologis juga sangat dibutuhkan. “Kenyamaan” dalam bekerja terutama di instansi
pemerintah merupakan hal yang sangat penting yang mungkin hingga saat ini kurang
diperhatikan. Kenyamaan untuk bekerja menjadi pns yang professional yang dapat
menimbulkan kepuasan batin sekaligus dapat membangkitkan kinerja kerja yang lebih
efektif.Bukan kenyamanan yang semu dengan titel pns yang setiap tahun perekrutannya di
serbu oleh ribuan pencari kerja baru.

Stigma terhadap pns oleh masyarakat hingga saat ini kiranya masih banyak belum berubah.
Anggapan birokrasi yang masih berbelit-belit, pelayanan public yang terkesan masih lambat,
pekerjaan pns yang terlihat santai, dan lain lain (walaupun hal ini tidak terjadi seluruhnya
pada instansi pemerintah). Ada juga instansi yang memang sudah lebih baik kinerjanya. Di
sisi lain masyarakat mengharapkan pns dapat bertugas dengan professional terutama dapat
melayani masyarakat dengan baik dan penyelenggaraan urusan pemerintahan lainnya
sebagai abdi negara bukan sebaliknya meminta untuk dilayani.

Sesungguhnya apa yang terjadi pada dunia pns hingga saat ini bukanlah akibat kejadian-
kejadian sementara saja, akan tetapi lebih dari itu. Kebiasaan-kebiasaan negative yang
masih melekat pada citra pns bila ditinjau antara lain disebabkan adanya situasi di dalam
lingkungan kerja yang tidak kondusif. Bagaimana senior-senior yang ada pada suatu
instansi biasanya memiliki tekanan pada junior dibawahnya (ada kesan bila seorang
junior/staf tidak mengikuti perintah atasannya atau kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di
lingkungan kerjanya maka secara tidak langsung ia harus siap-siap untuk terkucilkan dari
lingkungan kerjanya, bagaimanapun bentuknya).

Ada pendapat yang menyatakan bahwa salah satu penyebab kurang profesionalnya pns
hingga saat ini adalah karena belum tingginya imbalan yang diterima (gaji) atas kerja
mereka (walaupun belakangan ini remunerasi diterapkan di beberapa instansi). Menurut
penulis, masalah tidak profesionalnya pns lebih dikarenakan oleh aspek psikologis. Bisa
dibandingkan jika seorang pns dengan seorang pegawai swasta dengan tingkat penghasilan
yang sama umumnya kinerja pns tersebut akan lebih rendah daripada pegawai swasta.
Bahkan walaupun pegawai swasta tersebut kemudian pindah dan diangkat menjadi pns
maka kinerjanya yang tadinya tinggi menjadi menurun. Ada apakah ini? Bisakah sebenarnya
pns menjadi profesioanal menjadi pelayan public yang handal?

Contoh lainnya; di suatu instansi A yang memiliki jumlah pns sebanyak 100 orang dilakukan
perekrutan cpns baru sebanyak 10 orang. Sebanyak 10 orang cpns baru tersebut ternyata
berasal dari fresh graduate S1 perguruan tinggi ternama. Para pegawai baru tersebut
terkesan memiliki idealisme dan harapan gembira dapat memasuki instansi pemerintah
dalam rangka mengabdi kepada negara. Setelah masuk ke dalam lingkungan kerja tersebut
para cpns itu mengalami situasi yang bertolak belakang dengan apa yang mereka harapkan.
Budaya kerja yang dinamis, penuh tantangan, adanya tingkat partisipatif dan inovatif dari
para pegawai kiranya sulit ditemui. Budaya kerja yang ada (dengan 100 orang senior
mereka) menyebabkan mereka menemui kondisi dilematik antara mengikuti kebiasaan yang
ada ataukah menolak kebiasaan yang ada sementara para pegawai baru tersebut memiliki
harapan-harapan perubahan pada citra pns supaya menjadi lebih baik. Dengan
keterbatasan yang ada, dipastikan sebagian besar cpns tersebut mau tidak mau mengikuti
mekanisme kerja termasuk kebiasaan-kebiasaan non produktif dan mungkin negative
seperti formasi 7-0-4 dan lainnya. Hal seperti ini bisa terjadi baik di institusi pusat ataupun
daerah.Jadi akan menjadi sia-sia jika hanya slogan-slogan semata mengenai
profesionalisme pns digalakkan tetapi kondisi real yang benar-benar terjadi di dalam
lingkungan kerja tidak ditangani dengan serius. Hal ini dapat terus menerus terjadi bila tidak
ada penanganan yang komprehensif terutama dari pengambil kebijakan.

Tingkat partisipatif pegawai, tantangan-tantangan kerja, situasi kerja yang dinamis sekiranya
dapat menjadi factor-faktor yang mengakibatkan kenyamaan kerja yang baik untuk para
pegawai sehingga diharapkan bisa menjadi pegawai yang profesional. Ketika pegawai
secara psikologis merasakan nyaman untuk bekerja di lingkungan kerjanya maka bisa
dipastikan kinerja pribadi dan kolektif organisasi dapat meningkat lebih baik secara
signifikan.

Alangkah indahnya jika setiap aktor dalam negara ini bisa berperanan sesuai tugas, hak,
dan kewajibannya. Bagi pns sebagai pelayan public harus dapat menghindari kepentingan-
kepentingan pribadi, golongan ataupun politik berkaitan dengan jabatan atau kekuasaan
yang dimilikinya. Jangan pula menjadikan suatu jabatan sebagai suatu “kesempatan” untuk
meraih sesuatu yang menyalahi aturan hukum dan aturan nurani. Struktur kolektif pns
secara keseluruhan perlu mendapat pembinaan bukan hanya sekedar pemenuhan materi
belaka.

Jika memang setiap aktor-aktor ini bisa berperan sebagaimana peran yang seharusnya
maka pns yang profesional pasti bisa terwujud dan masyarakat pun pasti senang memiliki
pelayan public yang sesungguhnya. Semoga.