Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Laporan keuangan merupakan media komunikasi yang digunakan untuk


menghubungkan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Hal ini
disebabkan karena di dalam laporan keuangan terdapat informasi-informasi yang
dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Pihak-
pihak yang berkepentingan terbagi menjadi dua yaitu pihak internal dan pihak
eksternal1. Laporan keuangan ini nantinya akan digunakan untuk memenuhi
kebutuhan informasi para pemakainya. Laporan keuangan yang lengkap biasanya
meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas dan
catatan atas laporan keuangan.
Fokus utama pelaporan keuangan adalah informasi tentang laba dan
komponen-komponennya karena informasi ini memainkan suatu peranan yang
signifikan dalam proses pengambilan keputusan oleh pihak eksternal. Informasi
laba merupakan komponen laporan keuangan perusahaan yang bertujuan untuk
menilai kinerja manajemen, membantu mengestimasi kemampuan laba yang
representatif dalam jangka panjang, dan menaksir risiko investasi atau
meminjamkan dana. Hal ini menyebabkan para investor lebih cenderung
memperhatikan laba dalam laporan laba rugi untuk keperluan pengambilan
keputusan.
Perilaku investor inilah yang disadari oleh manajemen yang akhirnya
mendorong untuk melakukan perilaku yang tidak semestinya (dysfunctional
behaviour). Di lain pihak terdapat asimetri informasi antara manajemen dengan
pengguna laporan keuangan lainnya seperti investor. Asimetri informasi
memberikan kesempatan pada manajemen unutk menetralisir ketidakpastian
lingkungan dan memperkecil variabilitas dalam kinerja operasi perusahaan. Hal
ini disebabkan karena dengan adanya asimetri informasi, manajemen merasa

1
Pihak internal yaitu manajemen sedangkan pihak eksternal adalah
pemegang saham, kreditur, pemerintah, karyawan, pemasok, konsumen, dan
masyarakat umum lainnya.

1
leluasa untuk memilih berbagai alternatif metoda akuntansi. Hal ini dapat
mempengaruhi kualitas laba dalam laporan keuangan.
Cara yang biasa dilakukan manajemen untuk mempengaruhi angka pada
laporan keuangan adalah dengan melakukan manajeman laba (earning
management). Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapat
mengurangi kredibilitas laporan keuangan karena ada earning smoothing
hypothesis dan income smoothing hypothesis yang menaksir bahwa laba
dimanipulasi untuk mengurangi fluktuasi sekitar tingkat yang dipertimbangkan
normal bagi perusahaan.
Manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat
mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai sepenuhnya pada
angka laba hasil rekayasa tersebut. Bahkan aktivitas manajemen laba juga
dinyatakan dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan dan kadangkala
merupakan indikasi terjadinya tindakan ilegal yang serius dalam pelaporan
keuangan2. Berdasarkan pada pengaruh manipulasi terhadap laba usaha
manajemen laba itu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu usaha memaksimumkan
atau meminimumkan laba dan usaha untuk mengurangi fluktuasi laba (perataan
laba).
Tindakan manajemen laba telah memunculkan beberapa kasus skandal
pelaporan akuntansi yang secara luas diketahui, antara lain Enron, Merck, World
Com dan mayoritas perusahaan lain di Amerika Serikat. Beberapa penelitian di
Indonesia juga menemukan indikasi dilakukannya tindakan perataan laba oleh
perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Salah satu teknik yang dilakukan daam manajemen laba yaitu perataan
laba (income smoothing). Teknik perataan laba yaitu perilaku meratakan laba dari
waktu ke waktu sehingga pelaporan nilainya tidak berfluktuasi, manajer yang
menolak risiko memiliki daya dorong untuk melakukan perataan laba. Manajer
yang menolak resiko, yaitu manajer yang menghindari pinjaman dan pemberian
pinjaman di pasar modal.

2
Syukriy, The National Commision on Fraudulent Financial Reporting
(Treadway Commision), International Edition, 2005.hlm.43.

2
Besarnya kesempatan dan insentif bagi para manajer untuk melakukan
perataan laba mendorong peneliti-peneliti untuk mengevaluasi praktik perataan
laba dan faktor-faktor yang diduga berpengatuh terhadap perataan laba.
Manajemen diuntungkan dengan adanya praktik perataan laba, yaitu : (1)
skema kompensasi dihubungkan dengan kinerja perusahaan yang disajikan dalam
laba akuntansi yang dilaporkan, karena setiap fluktuasi dalam laba akan
berpengaruh langsung dalam kompensasi. (2) fluktuasi dalam kinerja manajemen
dapat mengakibatkan intervensi pemilik untuk mengganti manajemen dengan cara
pengambilan atau penggantian manajemen secara langsung. Selain itu pemilik
mendukung perataan penghasilan karena adanya motivasi internal dan motivasi
eksternal3.
Alasan perataan laba bertujuan memperbaiki hubungan dengan kreditur,
investor dan karyawan serta meratakan siklus bisnis melalui proses psikologis.
Sedangkan proposi yang diajukan berkaitan dengan perataan laba adalah : (1)
kriteria yang digunakan manajemen perusahaan dalam memilih metode akuntansi
adalah untum memaksimumkan kepuasan atau kemakmuran. (2) kepuasan
merupakan fungsi dari keamanan pekerjaan, level dan tingkat pertumbuhan
besaran perusahaan. (3) Kepuasan pemegang saham dan kenaikan performa
perusahaan dapat meningkatkan status dan reward bagi manajer. (4) Kepuasan
yang sama tergantung pada tingkat pertumbuhan dan stabilitas laba perusahaan.
Perataan laba dianggap suatu tindakan yang umum dilakukan untuk
mencapai suatu aliran yang stabil selama beberapa periodetertentu atau dalam satu
periode. Oleh sebab itu, perataan laba dapat diartikan sebagai suatu sarana yang
digunakan manajemen untuk mengurangi variabilitas pelaporan penghasilan
relatif terhadap target yang terlihat karena adanya manipulasi variabel-variabel
(akuntansi) semu atau (transaksi) riil.
Berdasarkan dari uraian tersebut di atas. Penulis tertarik untuk membuat
karya tulis berbentuk makalah mengenai creative accounting atas penggunaan

3
Motivasi internal menunjukan maksud pemilik untuk meminimalisasi biaya
kontrak manajer dengan membujuk manajer agar melakukan perataan laba.
Motivasi eksternal ditunjukan oleh usaha pemilik saat ini untuk mengubah
persepsi investor terhadap nilai perusahaan.

3
earning smoothing dengan judul “Earning Smoothing dan Pelaporan
Keuangan”

BAB II
KONSEP DAN TEORI

4
Laba merupakan salah satu informasi potensial yang terkandung di dalam
laporan keuangan yang sangat penting bagi pihak internal dan eksternal. Informasi
laba merupakan komponen laporan keuangan perusahaan yang bertujuan menilai
kinerja manajemen, membantu mengestimasi kemampuan laba yang representatif
dalam jangka panjang dan menaksir resiko investasi atau meminjamkan dana.
Income smoothing sangat berkaitan dengan kandungan informasi atas
laba sehingga penelitian tentang kandungan informasi atas laba sangat
mendukung karena bila pengumuman laba tahunan mengandung informasi,
variabilitas perubahan akan nampak lebih besar pada saat laba diumumkan
daripada saat lain selama tahun yang bersangkutan karena terdapat perubahan
dalam keseimbangan nilai harga saham selama periode pengumuman.
Pengumuman laba dikatakan mengandung informasi jika laba yang diumumkan
berbeda dengan laba yang diprediksikan oleh investor.

2.1 Kinerja Saham


Suatu perusahaan dapat menjual kepemilikannya dalam bentuk saham.
Saham merupakan tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu
perseroan terbatas4. Sedangkan menurut Anaroga (2001:58) saham adalah surat
berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan individu atau institusi dalam
suatu perusahaan. Saham juga didefinisikan sebagai unit kepemilikan dalam
senuah perusahaan. Saham menarik investor karena adanya keuntungan yang
dapat dinikmati. Harapan keuntungan yang dapat dinikmati dari investasi anatara
lain :
1. Dividen merupakan bagian dari keuntungan perusahaan yang
dibagiakn pada pemilik saham.
2. Capital Gain merupakan keuntungan yang diperoleh dati selisih jual
dengan harga belinya.
3. Manfaat non financial yaitu timbul kebanggan dan kekuasaan
memperoleh suara dalam menentukan jalannya perusahaan.

4
Bambang Riyanto, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi 4, Penerbit
BPFE, Yogyakarta, 2001. Hlm.240

5
Berdasarkan fungsinya nilai suatu saham dapat dibagi atas tiga5, yaitu :
1. Par Value (nilai nominal)
Nilai nominal merupakan nilai yang tercantum pada saham untuk
tujuan akuntansi. Nilai ini tidak digunakan untuk mengukur sesuatu.
2. Base Price (harga dasar)
Harga perdana (untuk mentukan) nilai dasar dipergunakan dalam
perhitungan indeks harga saham. Harga dasar akan berunag sesuai
dengan aksi emiten.
3. Market Price (harga pasar)
Harga pasar merupakan harga pada pasar riil dan merupakan harga
yang paling mudah di tentukan karena merupakan harga dari suatu
saham pada pasar yang sedang berlangsung atau jika pasar sudah
ditutup maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price).
Harga pasar ini merupakan harga jual dari investor yang satu dengan
investor yang lain. Harga pasar inilah yang menentukan naik atau
turunnya suatu saham dan setiap hari harga saham ini diumumkan
pada media.

Saham pada umunya mempunyai tiga karakteristik utama yang


membedakan dengan kesempatan investasi yang lain :
1. Saham tidak menjanjikan pendapatan yang bersifat tetap atau pasti,
2. Pemilik atau pemegang saham biasa akan memiliki hak untuk ikut
serta dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),
3. Saham biasa tidak memiliki masa jatuh tempo tertentu.

Jenis saham dibedakan menjadi dua saham biasa (common stock) dan
saham preferen (preferred stock). Saham biasa merupakan saham yang tidak
memperoleh hak istimewa. Pemegang saham biasa mempunyai hak untuk

5
Anaroga, Panji dan Piji Pikarti. Pengantar Pasar Modal. STIE BPD Jateng.
Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.2006. hlm.76.

6
memperoleh dividen selama perseroan memperoleh keuntungan. Pemilik saham
mempunyai hak suara dalam RUPS sesuai dengan jumlah saham yang
dimilikinya. Apabila perusahaan hanya mengeluarkan satu kelas atau satu jenis
saham saja, saham ini disebut saham biasa (common stock). Untuk menarik
investor potensial lainnya suatu perusahaan mungkin juga mengeluatkan kelas
lain dari saham yaitu yang disebut dengan saham preferen (preffered stock).
Saham preferen erupakan saham yang diberikan atas hak untuk mendapatkan
deviden atau bagian kekayaan pada saat perusahaan dilikuidasi terlebih dahulu
dari saham biasa. Saham preferen mempunyai hak-hak prioritas lebih dari saham
biasa. Hak-hak priorotas dari saham preferen yaitu hak atas dividen yang tetap
dan hal terhadap aktiva jika terjadi likuidasi. Akan tetapi pada umumnya,saham
preferen tidak mempunya hak veto seperti yang dimilki oleh saham biasa.
Dividen sifatnya tidak relevan didalam menentukan nilai dari perusahaan,
namun masih banyak perusahaan yang membayar dividen bahkan meningkatkan
nilai devidennya. Dalam suatu penelitian tidak ditemukan bukti bahwa dividen
mengandung informsi. Akan tetapi hasil studi yang terbaru lebih mendukung
bahwa deviden mengandung informasi. Beberapa pendekatan telah digunakan
untuk menguji kandungan informasi dari dividen. Pendekatan yang dilakukan
adalah memasukan dividen kedalam model laba untuk memperediksi laba masa
depan. Dividen mempunyai informasi jika kekuatan prediksi model laba menjadi
meningkat dan menyebabkan laba. Deviden yang diperoleh oleh investor
dipengaruhi oleh kemampuan manajemen perusahaan untuk beroperasi secar
menguntungkan ditangah-tengah lingkungan usaha yang semakin kompetitif.
Dengan kinerja yang baik maka kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan
juga akan lebih terkamin sehingga harapan investor untuk mendapatkan
keuntungan jangka panjang terpenuhi.

Beberapa faktor yang mempengaruhi harga saham, antara lain :


1. Harapan investor terhadap tingkat pendapatan deviden untuk masa
yang akan datang. Apabila tingkat pendapatan dan deviden suatu saat
stabil maka harga saham cenderung stabil. Sebaliknya jika tingkat

7
pendapatan dan deviden berfluktuasi karena siklus perusahaan atau
perubahan teknologi maka harga saham berfluktuasi juga.
2. Tingkat pendapatan perusahaan. Tingkat pendapatan perusahaan
tercermin dari earning per share (EPS) terkait dengan kenaikan harga
saham. Apabila fluktuasi dari EPS semakin besar maka harga saham
akan semakin besar pula.
3. Kondisi perekonomian. Kondisi yang akan datang selalu dipengaruhi
oleh kondisi perekonomian saat ini. Apabila kondisi perekonomian
saat ini stabil dan mantap maka investor optimis terhadap kondisi
yang akan datang sehingga harga saham cenderung stabil dan
demikian sebaliknya.

2.2 Informasi Laba


Laba secara akuntansi merupakan perbedaan antara realisasi penghasilan
yang berasal dari transaksi perusahaan apada periode tertentu dikurangi dengan
biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan tersebut. Tetapi IAI
memiliki pengertian sendiri mengenai income. IAI justru tidak menterjemahkan
income sebagai laba tetapi dengan istilah penghasilan. Dalam konsep Penyusunan
dan enyajian Laporan Keuangan income diartikan sebagai kenaikan manfaat
ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau
penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan
ekuitas yang tidak berasal dari kontribus penanam modal. Menurut Belkaoui laba
adalah hal yang mendasar dan penting dari laporan keuangan dan memiliki
banyak kegunaan di berbagai konteks6. Laba pada umumnya dipandang sebagai
dasar untuk perpajakan, penentu dari kebijakan, pembayaran deviden, panduan
dalam melakukan investasi dan pengambilan keputusan dan satu elemen dalam
peramalan masa depan. Laba akuntansi secara operasioanal dapat didefinisikan
sebagai perbedaan antara realisasi laba yang tumbuh dari transaksi-transaksi
selama periode berlangsung dan biaya-biaya histori yang berhubungan. Definisi

6
Ahmed Riahi Belkaoui. Accounting Theory, Teori Akuntansi, Buku 2, Edisi 5,
Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2007, hlm 226.

8
tersebut menunjukan adanya lima karakteristik yang terdapat dalam laba
akuntansi :
1. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi aktual yang dilakukan oleh
perusahaan (laba muncul dari penjualan barang atau jasa dikurangi
biaya-biaya yang dibutuhkan untuk melakukan penjulan tersebut).
2. Laba akuntansi didasarkan pada postulat periode dan mengacu pada
kinerja keuangan dari perusahaan selama satu periode tertentu.
3. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip laba dan membutuhkan
definisi pengukuran dan pengakuan pendapatan.
4. Laba akuntansi meminta adanya pengukuran beban-beban dari segi
biaya historinya terhadap perusahaan, yang menunjukan ketaatan
yang tinggi pada prinsip biaya.
5. Laba akuntansi meminta penghasilan yang terealisasi diperiode
tersebut dihubungkan dengan biaya-biaya relevan yang terkait.

Tidak adanya persamaan pendapat untuk mendefinisikan laba secara


tepat disebabkan oleh luasnya penggunaan konsep laba. Para pemakai laporan
keuangan mempunyai konsep laba sendiri yang dianggap paling cocok untuk
pengambilan keputusan mereka. Nilai pada laporan keuangan seperti laba bersih
perusahaan dianggap sebagai sinyal yang menunjukan nilai dari perusahaan. Hal
ini menjasikan perhatian investor dan calon investor terpusat pada laba suatu
perusahaan. Seoarang investor yang rasioanal akan membuat prediksi terlebih
dahulu sebelum membuat keputusan dengan mengamati sinyal yang di berikan
perusahaan. Investor sering memusatkan perhatiannya hanya pada informasi laba
tanpa memperhatikan prosedur yang digunakan untuk menghasilkan informasi
laba tersebut. Hal ini mendorong manajer untuk melakukan manajemen atas laba
(earning management) dan menyebabkan manajemen untuk mnegelola laba dalam
usahanya membuat entitas tampak bagus secara finansial. Salah satu tindakan
manajemen atas laba yang dapat dilakukan adalah tindakan income smoothing.

9
BAB III
PEMBAHASAN

Pembahasan dari makalah ini dimulai dari penjelasan konsep earning


management yang dapat dimulai dari pendekatan agency dan signalling theory.

10
Kedua teori ini membahas masalah perilaku manusia yang memiliki keterbatasan
rasional (bounded rationallity) dan menolak resiko (risk averse). Teori keagenan
(agency theory) menyatakan bahwa praktik earning management (dalam makalah
ini income smoothing) dipengaruhi oleh adanya konflik kepentingan antara agen
(manajemen) dengan pricipal (pemilik) yang timbul ketika setiap pihak berusaha
untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya,
sedangkan teori signal (signalling theory) membahas bagaiman seharusnya signal-
signal keberhasilan atau kegagalan manajemen (agen) disampaikan kepada
pemilik atau prinsipal.
Penyampaian laporan keuangan dapat dianggap sebagai signal mengenai
kinerja manajemen. Dalam hubungan keagenan, manajer mempunyai asimetri
informasi terhadap pihak eksternal perusahaan sperti investor dan kreditor.
Asimetri informasi terjadi ketika manajer mempunyai informasi internal
perusahaan yang relatif lebih banyak dan mengetahui informasi tersebut relatif
lebih cepat dibandingkan pihak eksternal. Kondisi ini memberikan kesempatan
kepada manajer untuk menggunakan informasi yang diketahuinya untuk menata
pelaporan keuangan sebagai usaha untuk memaksimalkan kemakmurannya.
Batasan yang mungkin mempengaruhi para manajer untuk melakukan
perataan laba adalah :
1. Mekanisme pasar yang kompetitif sehingga mengurangi jumlah
pilhan yang tersedia bagi manajemen.
2. Skema kompensasi manajemen yang tehubung langsung dengan
kinerja perusahaan.
3. Ancaman penggantian manajemen.

Faktor-faktor yang memepengaruhi income smoothing antara lain ukuran


perusahaan, profitabilitas, sektor industri, harga saham, leverage operating,
rencana bonus. Apabila dipandang dari sisi manajemen, para manajer yang
termotivasi melakukan perataan laba atau penghasilan pada dasaranya ingin
mendapatkan berbagai keuntungan ekonomi dan psikologis, antara lain :
mengurangi total pajak terutang, meningkatkan kepercayaan diri manajer yang

11
bersangkutan karena penghasilan yang stabil mendukung kenijakan deviden yang
stabil pula, meningkatkan hubungan manajer dengan karyawan karena pelaporan
penghasilan yang meningkat tajam memberi kemungkinana munculnya tuntutan
kenaikan gaji dan upah, siklus peningkatan dan penurunan penghasilan dapat
ditandingkan dan gelombang optimisme atau pesimisme dapat diperlunak.
Sedangkan tujuan lainnya adalah untuk memberikan kesan baik pada pemilik
kreditor terhadap kinerja manajemen untuk menjaga posisi atau kedudukan
mereka dalam perusahaan. Untuk itu diusulkan :
1. Kriteria yang dipakai oelh manajemen perusahaan dalam memilih
prinsip-prinsip akuntansi adalah untuk memaksimalkan kegunaan dan
kesejahteraan.
2. Kegunaan yang sama adalah suatu fungsi keamanan pekerjaan,
peringkat dan tingkat pertumbuhan gaji serta peringkat dan tingkat
pertumbuhan ukuran perusahaan.
3. Kepuasan dari pemegang saham terhadap kinerja perusahaan
meningkatkan status dan penghargaan dari para manajer.
4. Kepuasan yang sama tergantung pada tingkat pertumbuhan dan
stabilitas dari pendapatan perusahaan.
Perataan laba mungkin terkait dengan ukuran perusahaan, keberadaan insentif
bonus dan penyimpangan laba aktual dengan laba ekspektasi yang telah
disebutkan di atas.
Media yang biasanya digunakan oeleh manajemen dalam melakukan
income smoothing yaitu real smoothing dan artificial smoothing. Perataan riil
mengacu pada transaksi aktual yang terjadi maupun tidak terjadi dalam hal
pengaruh perataan sedangkan perataan artifisial mengacu pada prosedur akuntansi
yang diimplementasikan terhadap pergeseran biaya dan pendapatan dari satu
periode ke periode yang lain. Namun disamping kedua media tersebut masih
terdapat dimensi atau media lain untuk melakukan income smoothing, yaitu :
1. Perataan melalui adanya kejadian dan atau pengakuan.

12
Manajemen dapat menentukan waktu transaksi aktual terjadi sehingga
pengaruhnya terhadap pelaporan pendapatan akan cenderung mengurangi
variasi dari waktu ke waktu.
2. Perataan melalui alokasi terhadap waktu.
Melalui kejadian dan pengakuan atas suatu peristiwa, manajemen
memiliki kendali yang lebih bebas terhadap determinasi atas periode-
periode yang dipengaruhi oelh kuantifikasi dari peristiwa.
3. Perataan melalui klasifikasi.
Dilakukan melalui pengklasifikasian pos-pos laporan intralaba untuk
menurunkan variasi yang terjadi dari waktu ke waktu dalam statistik.

Pendapat tersebut sependapat dengan tulisan Sofyan Safiri (2003:232)


yakni income smoothing dapat dilakukan dengan tiga cara mengatur waktu
kejadian transaksi, memilih prinsip atau metode alokasi, mengatur penggolongan
laba yanki antara laba operasi normal dengan laba yang bukan dari operasi
normal. Perataan laba yang melalui periode waktu tertentu dapat dilakukan
dengan tiga cara :
1. Manajemen dapat menentukan waktu terjadinya kejadian tertentu
melaui kebijakan yang dimiliki untuk mengurangi variasi laba yang
dilaporkan.
2. Manajemen dapat mengalokasikan pendapatan atau biaya tertentu
utnuk beberapa periode akuntansi.
3. Manajemen memilki kebijakan sendiri untuk mengklaisfikasikan pos-
pos laba atau rugi tertentu dalam kategori yang berbeda.

Unsur laporan keuangan yang sering dijadikan sasaran perataan laba


adalah unsur penjualan ( saat membuat faktur, pembuatan pesanan atau penjualan
fiktif, down grading penurunan produk) dan unsur biaya (memecah-mecah faktur,
mencatat prepaymen atau biaya dibayar dimuka sebagai biaya). Selain itu bentuk-
bentuk manipulasi laba adalah sebagai berikut :

13
1. Kalsifikasi berita baik dan buruk
Dimana manajemen cenderung melaporkan berita baik sebagai
bagian dari operasi dan melaporkan berita buruk sebagai pos-pos luar
biasa.
2. Perataan laba dimana manajemen dalam tahun-tahun yang baik
mengurangi laba (menunda pendapatan atau keuntungan dan
mengakui segera biaya atau kerugian).
3. Bigh bath behaviour yang merupakan kontras dari perataan laba
dimana pada tahun yang suram manajemen cenderung mengakui
kerugian potensial sehingga pada tahun-tahun berikuntany tersebut
tidak muncul.
4. Perubahan akuntansi
Stabilitas laba dapat diukur dengan menggunakan beberapa ukuran
stabilitas :
a. Rata-rata laba (average reported earning)
Rata-rata laba yang dicari dengan menjumlahkan semua laba
yang hendak diamati dan dibagi dengan jumlah periode
pengamatan.
b. Rata-rata laba pesimis (average pessimistic earning)
Rata-rata laba pesimis didasarkan atas kemungkinan terburuk
yang dapat dialami perusahaan, penggunaan laba minimum ini
berguna ketika perusahaan beresiko tinggi. Hal ini dilakukan
dengan menyatakan kembali laba menjasi laba minimum dari
periode-periode yang hendak diamati. Dari laba minimum
tersebut di cari rata-ratanya.
c. Standar deviasi
Standar deviasi dicari untuk laba atau laba pesismi. Standar
deviasi yang semakin besar menunjukan variabilitas yang lebih
besar (laba yang lebih tidak stabil).
d. Indeks instabilitas laba (instability index of eraning)

14
Indeks ini mencerminkan deviasi antara laba aktual dan laba
trend. Semakin tinggi indeks maka semakin rendah kualitas laba
perusahaan.
e. Beta
Beta merupakan ukuran resiko sistematis yang tidak dapat
dihilangkan dengan melakukan diversifikasi. Apabila beta
meningkat maka variabilitas perusahaan lebih besar jika terjadi
perubahan dalam pasar.
Tidak semua negara menganggap income smoothing sebagai tindakan
manipulasi yang dilarang, contohnya adalah Swedia, sepanjang dilakukan dan
dibuat secara transparan hal tersebut boleh dilakukan.

BAB IV
KESIMPULAN

15
Berdasarakan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa income
smoothing adalah salah satu teknik manipulasi laporan keuangan dengan
menyusun laporan keuangan menjadi sedemikian rupa sehingga laba menjadi
lebih besar misalnya dengan mencatat pendapatan fiktif pada laporan keuangan
atau bisa juga di sebut perataan laba. Income smoothing merupakan salah satu
bentuk kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan. Ketika perusahaan berusaha
menutupi adanya hutang, menyajikan ulang laba, menggelembungkan pendapatan
maupun biaya, mengecilkan jumlah pengeluaran dengan mengkapitalisasi biaya
dan mendepresiasi asset dalam jangka waktu yang sangat panjang, maka terjadi
pemalsuan dasar penilaian sebuah perusahaan. Dan hal ini berdampak besar pada
valuasi nilai perusahaan, perpajakan, kredibilitas perusahaan, perlakuan tidak adil
terhadap pemangku kepentingan (stakeholders) lain, bahkan dapat menyebabkan
kebangkrutan perusahaan.
Untuk mencegah adanya praktek income smoothing maka perusahaan
harus menerapkan GCG, karena GCG memfasilitasi adanya sistem check and
balance serta didukung transparansi yang memungkinkan dilakukannya
pengawasan oleh berbagai pihak untuk memitigasi risiko penyalahgunaan
kewenangan, dan melindungi semua pemangku kepentingan.

DAFTAR PUSTAKA

16
Anaroga, Panji dan Piji Pikarti. 2001. Pengantar Pasar Modal. STIE BPD
Jateng. Jakarta: Rineka Cipta.
Belkaoui, Ahmed Riahi. 2007. Accounting Theory Teori Akuntansi Buku
Dua Edisi 5, Jakarta: Salemba Empat.
Marisi P. Purba. 2009. Asumsi Going Concern, Suatu Tinjauan terhadap
Dampak Krisis Keuangan, Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sofyan Safiri. 2003. Teori Akuntansi. Yogyakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Suwardjono. 2008. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan,
Edisi Ketiga, Yogyakarta : Graha Ilmu.
Wirda, Fatkhiya. 2007. Faktor-faktor Yang Mmempengaruhi Tindakan
Perataan Laba (income smoothing) Pada Perusahaan. Jakarta :
Bina Aksara.

17