Anda di halaman 1dari 13

PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN DENGAN SISTEM

AGROFORESTRI

1. PENDAHULUAN

Penduduk Indonesia semakin bertambah, seiring dengan hal itu, terjadi


penyusutan lahan sekitar 50 ribu ha/tahun yang disebabkan oleh keperluan industri dan
keperluan non pertanian lainnya (Nasution dan Joyowinoto, 1995). Bertambahnya jumlah
penduduk juga menyebabkan peningkatan kebutuhan pangan, sehingga membutuhkan
lahan pertanian cukup besar.

Petani adalah subyek yang paling merasakan dampak dari semua itu sehingga
dengan terpaksa memanfaatkan lahan kering di daerah berlereng curam sebagai areal
pertanian. Lahan ini tergolong tanah-tanah marginal untuk usahatani tanaman semusim.
Kondisi lahan berlereng juga menyebabkan lahan kering ini menjadi rawan erosi
sehingga mengakibatkan lahan marginal dan terdegradasi semakin bertambah luas.

Degradasi lahan termasuk erosi tanah, penurunan tingkat kesuburan tanah,


salinisasi, degradasi sumberdaya air, degradasi dan penggundulan hutan, degradasi
sumberdaya pengembalaan ternak (pasture) dan menurunnya biodiversity (Young 1984
dan 1997, UNEP, 1995).

Untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan di lahan kering terutama bagian hulu


(up land), maka diperlukan sistem penggunaan lahan konservatif dan produktif secara
terus menerus, tidak hanya terhadap tanah tetapi juga secara keseluruhan dari sumberdaya
alam, termasuk air, hutan dan daerah pengembalaan (pastures) (Young, 1997).

Menurut Narain dan Grewal (1994), Nair 1989), Muthoo and Chipeta (1991),
agroforestri berpotensi sebagai suatu upaya konservasi tanah dan air, serta menjamin
keberlanjutan produksi pangan, bahan bakar, pakan ternak maupun hasil kayu, khususnya
dari lahan-lahan marginal dan terdegradasi. Agroforestri merupakan nama kolektif bagi
sistem-sistem dan teknologi penggunaan lahan yang sesuai diterapkan pada lahan-lahan
pertanian beresiko tinggi tehadap erosi, terdegradasi, dan lahan-lahan marginal. Sistem
ini merupakan salah satu praktek pertanian konservatif dan produktif, yang telah
diterapkan dan dikembangkan oleh petani di daerah tropika termasuk Indonesia, dimana
kemampuan pohon-pohon untuk tumbuh pada kondisi iklim dan tanah yang kurang
menguntungkan. Sistem tersebut memiliki potensi konservasi tanah dan air, serta
perbaikan bagi tanah-tanah marginal di daerah tropis, subtropis, humid, semiarid, dan
berlereng. Seperti halnya sistem indigenous dimana pohon-pohon sulit untuk tumbuh dan
kemampuan regenerasi tanah sangat rendah (Cooper et al, 1996).

2. PENGELOLAAN LAHAN BERKELANJUTAN MELALUI


AGROFORESTRI PADA LAHAN TERDEGRADASI

A. Kesuburan Tanah dan Degradasi Lahan


Kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan
tanaman, pada kondisi iklim dan lingkungan yang sesuai. Untuk mempertahankan
produksi tetap lestari, maka cara untuk memelihara atau mempertahankan kesuburan
adalah dengan memciptakan penggunaan lahan dalam kondisi ekosistem alami (Barrow,
1991). Dimana pengusahaan pertanian intensif secara monokultur yang menerapkan
berbagai teknologi high-input pada areal yang lebih subur, telah mengakibatkan lahan
marginal semakin luas (Reijntjes, 1999).

Bentuk-bentuk degradasi lahan antara lain: degradasi secara fisik (erosi tanah,
baik oleh air ataupun angin), kimia (kemasaman tinggi dan penurunan kandungan unsur
hara); dan biologi (penurunan kandungan bahan organik tanah dan aktivitas biologi
tanah), salinisasi dan pencemaran tanah (Young, 1997). Degradasi lahan adalah masalah
penggunaan tanah secara inherent yang mempunyai kesuburan rendah atau mempunyai
potensi relatif rendah sehingga disebut juga sebagai lahan “fragile” atau “marginal”.
Oleh karena itu, lahan marginal dan terdegradai adalah lahan yang dicirikan oleh tanah
dengan status hara dan kapasitas menahan air sangat rendah, dan telah mengalami
kerusakan serta kehilangan fungsi hidrologi dan ekonomi (Barrow, 1991).

Perubahan lingkungan daerah tropika berkaitan erat dengan pembukaan hutam,


terjadinya pergeseran lahan pertanian ke daerah tengah dan hulu dengan kemiringan
lahan lebih curam dan beresiko tinggi terhadap erosi. Degradasi lahan dan perluasan
lahan kritis. Permasalahan tersebut mendorong munculnya upaya untuk mengenali dan
mengembangkan sistem agroforestri yang telah diterapkan petani sejak dulu di daerah
tropika, termasuk di Indonesia.

Peranan sistem agroforestri sebagai tindakan konservasi tanah untuk menghindari


dan mengatasi masalah degradai lahan dan mencapai penggunaan yang berkelanjutan
telah diterima secara luas (Cooper et al, 1996).

Keberlanjutan sistem penggunaan lahan sangat tergantung pada fleksibilitasnya


dalam keadaan lingkungan yang terus berubah. Adanya keanekaragaman sumberdaya
genetik yang tinggi pada tingkat usahatani akan menunjang fleksibilitas ini (Reijntjes,
1999). Menurut FAO (1995), pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan dan konservasi
sumberdaya alam yang berorientasi teknologi dan perubahan institusi untuk menjamin
tercapainya kebutuhan manusia saat ini dan generasi yang akan datang. Pembangunan
berkelanjutan seperti itu akan melindungi sumberdaya lahan, air, tanaman, dan
sumberdaya genetik hewan dengan teknologi yang cocok, serta menguntungkan secara
ekonomi, dan dapat diterima secara sosial tanpa kerusakan lingkungan.

Dengan demikian agroforestri merupakan suatu sistem penggunaan lahan yang


tepat untuk mendukung pertanian berkelanjutan, karena disamping memiliki konstribusi
produksi yang nyata dan beragam, juga fungsi konservatif terhadap lingkungan dan
keadaan sosial sehingga menjamin ekonomi yang lebih luas dan keamanan pangan lebih
tinggi (FAO, 1989).

B. Bentuk-Bentuk Agroforestri dalam Pengelolaan Lahan


Klasifikasi sistem agroforestri dengan berbagai sistem penggunaan lahan dapat
dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi Sistem Agroforestri (Huxley, 1986; Young 1989; Nair ,1990)

Predominantly agrosilvicultural (tree with crops)

Rotational
Shifting cultivation

Managed tree fallows, including relay intercropping)

Taungya

Spatial mixed
Trees on cropland
Perennial-crop combination

Multistrata system (agroforests), including forest gardens, home gardens

Spatial zoned
Boundary planting

Trees on erosion-control structures

Windbreaks and shelterbelts (also sylvopastoral)

Hedgerow intercropping (allev cropping), including tree-row intercropping

Contour hedgerows

Biomass transfer (cut-and carry mulching)

Predominantly sylvopastoral (trees with pastures and livestock)

Spatial mixed
Trees on pastures (parkland systems)

Perennial crops with pastures (including orchard)

Spatial zoned
Hedges and live fences

Folder banks

Tree predominant (see also taungya)

Farm and village forestry

Reclamation agroforestry

Special components present

Entomoforestry (tree with insects)

Aquaforestry (tree with fish)

Sistem agroforestri menggabungkan ilmu kehutanan dan agronomi untuk


menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestariaan lingkungan,
karena didalamnya terdapat tanaman pertanian bernilai komersial, seperti rempah-rempah
dan kopi, juga berpeluang bagi tanaman pangan lainnya. Dengan kombinasi pohon, perdu
dan tanaman semusim, akan dapat memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem
perakarannya serta tanah menjadi produktif dan konservatif (de Foresta, 2000).

India dengan variasi iklim, altitude, topografi, tanah, ternak, dan budaya
masyarakat seperti halnya Indonesia merupakan daerah adopsi pengembangan
agroforestri. Dengan tradisi, sosial, agama, dan kepercayaan masyarakat tentang
penanaman pohon, mengangap hal itu merupakan bagian dari kehidupan mereka,
sehingga saat ini dijumpai adanya pohon asam jawa, mangga dan lain-lain yang berumur
100 hingga 500 tahun di seluruh India. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan, maka
integrasi tanaman hortikultura, kehutanan dan pertanian merupakan solusi utama yang
akan memberikan produksi yang beragam.

Bentuk agroforestri sederhana yang paling banyak dijumpai adalah


tumpangsari, \sistem taungnya versi Indonesia yang diwajibkan di areal hutan jati di
Jawa. Sistem ini dikembangkan dalam program perhutanan sosial Perum Perhutani.
Sistem agroforestri sederhana juga menjadi ciri umum pada pertanian komersil seperti:
tanaman kopi yang diselingi dengan tanaman dadap untuk naungan tanaman kopi
maupun untuk kebutuhan kayu bakar petani. Demikian pula pemanduan pohon kelapa
dengan pohon kakao juga semakin banyak dilakukan.

3. BEBERAPA KASUS PENGEMBANGAN AGROFORESTRI DI INDONESIA

A. Agroforest Damar di Pesisir Krui

Salah satu bentuk agroforestri di Indonesia yang telah banyak dijumpai sejak
berabad-abad yang lalu seperti Repong di pesisir Krui yang dikenal dengan forest Damar.
Agroforest Damar di pesisir Krui merupakan salah satu bentuk agroforestri di Indonesia.
Pesisir Krui adalah daerah di tepi Barat Propinsi Lampung, yang terletak di ujung Selatan
sisi Barat Pegunungan Bukit Barisan. Daerah ini terbagi ke dalam tiga Kecamatan yaitu :
Pesisir Selatan, Tengah, dan Utara yang luasnya sekitar 300.000 ha dengan dataran pantai
yang melebar dari Utara-Selatan hingga berbukit dan bergunung yang mencapai
ketinggian 2.000 m dpl. Topografi yang sulit dan kesuburan tanah yang relatif rendah
menjadi faktor pembatas dalam melakukan intensifikasi pertanian. Di sepanjang dataran
pantai terdapat banyak sawah dan daerah perbukitan didominasi oleh agroforest damar.
Agroforest damar tersebut awalnya berupa ladang padi, kebun kopi rakyat, dan vegetasi
sekunder yang secara bertahap berubah menjadi agroforest kompleks yang mirip hutan
alam, didominasi pohon penghasil getah damar.

Proses pembentukan agroforest damar secara umum meliputi:

Tahun ke-1 :

Pembukaan dan pembakaran vegetasi petak lahan (hutan rimba, belukar, atau
alang-alang), dan penanaman padi pertama, sayuran dan buah-buahan seperti
pisang dan pepaya.

Tahun ke-2:

Penanaman padi kedua, dan penanaman kopi diantara padi

Tahun ke-3 sampai 7 atau 8:

Penanaman bibit damar disela tanaman kopi, buah-buahan, penghasil kayu, dll.,
dan penanaman padi tidak lagi dilakukan. Panen kopi perrtama berlangsung pada
tahun ke 4 dengan hasil sekitar 600 kg/ha sampai 3 atau 4 tahun berikutnya,
hasilnya menurun menjadi sekitar 100 kg/ha.

Tahun ke-8 sampai 20-25:

Pohon-pohon damar berkembang diantara kopi yang mulai rusak, vegetasi


sejunder mulai tumbuh, dan petani mengendalikan pertumbuhannya dengan
penyiangan berkala. Buah-buahan (nangka, durian, duku, dll.) dan hasil kayu
(kayu bakar, kayu perkakas, kayu bangunan) mulai dipanen seperlunya.

Tahun ke-20 keatas:

Penyadapan pertama getah pohon damar. Keadaan ini dikembangkan terus


melalui penanaman kembali rumpang dan penganekaragaman alami.

Produksi damar di daerah Krui yang merupakan tanaman utama dari tahun
ketahun meningkat pesat. Pada tahun 1937 produk damar baru sekitar 358 ton dan
meningkat menjadi 8.000 ton tahun 1984, kemudian meningkat lagi menjadi 10.000 ton
pada tahun 1994.

Di kawasan pesisir Krui umumnya masyarakat membudidayakan tanaman damar.


Total desa didaerah ini 70 desa, namun yang paling banyak terlibat dan menjadi
pencaharian utama dalam produksi damar ini sekitar 46 desa dan sisanya menanaman
hanya sebagai penghasilan sampingan. Hingga saat ini 80% dari total hasil damar
indonesia diproduksi atau disuplai dari daerah pesisir Krui. Pada tahun 1993 nilai
pasokan damar daerah ini berkisar RP.6,5 milyar (Dupain, 1994 dalam de Foresta, 2000).
Produksi damar rata daerah pesisir Krui pada tahun 1994 disajikan dalam Tabel 14
sebagai berikut

Tabel 14. Produksi Damar rata-rata Daerah Krui tahun 1994

Kawasan geografis A B C D E
Jumlah Desa 20 16 10 14 10
Produksi 100 340 53 32 131

Setiap Desa 2.000 5.410 530 450 1.310


(ton/Thn)
20,6 55,9 5,4 4,6 13,5
Totaol (ton/Thn)

Prosentase

Keterangan: A=Pesisir Uta, B=Pesisir TengahUtara, C=Tengah Selatan, D=Pesisir Selata


dan E=Pesisir Selatan Ujung
Semua hasil getah damar ini diantar pulaukan ke pulau Jawa dan sebagian lagi
diekspor ke luar negeri. Rantai tata niaga damar relatif sangat sederhana dan stabil,
meskipun tejadi perubahan keagenan dan gangguan pada psar internasional. Rantai
tersebut muali petani, pedagang, pedagang pengumpuldi Krui, agen di Bandar Lampung ,
kemudian ke Jakarta untuk dioleh atau diekspor keluar negeri.

Dengan adanya usaha agroforestri damar ini telah mengangkat tingkat


kesejateraan masyarakat daerah pesisir Krui menjadi pesat. Ini berarti bahwa usahatani
dengan sistem agroforesti merupakan salah satu usaha yang dapat dikembang di daerah
lain, dengan tetap memperhatikan kesesuaian lahan, jenis tanaman agroforestri yang
spesifik dan memiliki nilai jual dan pasar yang pasti.

B. Peranan Ternak Dalam Keterpaduan Sistem Agroforestri :

Pola integrasi ternak dalam suatu sistem agroforestri atau berintegrasi dengan sub
sektor lain rupanya telah ditanggapi dan mendapat perhatian yang cukup baik dari
Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Hal ini dapat dilihat dari adanya paket
bantuan ternak yang dilaksanakan Proyek Pengembangan Infrastruktur di Areal
Perkebunan yang diberikan kepada para petani perkebunan teh rakyat di desa Cisitu,
Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Contoh keterpaduan lain seperti yang
telah diprogramkan oleh Departemen Pertanian adalah pola usahatani terpadu dalam
bentuk berbagai program seperti Sistem Integrasi Padi -Ternak (SIPT) (Direktorat
Pengembangan Peternakan, 2003 2)

Hidayat, Musofie, Wardhani, Prasetyo dan Subagiyo (2000), melaporkan


tentang keberhasilan integrasi ternak dengan pertanian di Jogjakarta, melalui penelitian
dengan 70 orang petani responden. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha
ternak kambing di Desa Jatimulyo berintegrasi tanaman tahunan seperti tanamankopi,
cengkih dan kelapa sedangkan usaha ternak kambing di Desa Girikerto berintegrasi
dengan tanaman salak pondoh. Untuk Desa Jatimulyo pendapatan yang diperoleh dari
usaha tersebut sebesar Rp.2.759.750 per tahun dengan tingkat efisiensi usaha 2,23.
Kontribusi pendapatan yang diberikan dari usahha ternak kambing P.E. di Desa
Jatimulyo adalah 59,78 persen sedang tanaman tahunan memberikan kontribusi
pendapatan sebesar 40,22 persen dari total pendapatan. Untuk Desa Girikerto pendapatan
yang diperoleh dari usaha tersebut sebesar Rp. 3.682.000,-per tahun dengan tingkat
efisiensi usaha 2,75. KOntribusi pendapatan yang diberikan usaha ternak kambing P.E di
Desa Girikerto adalah 46,71 persen sedangkan tanaman salak pondoh memberikan
kontrribusi pendapatan sebesar 53,29 persen dari total pendapatan.
Faktor Pendukung Ternak sebagai bagian dari sistem Agroforestri :

1. Ternak sebagai penyedia pupuk alami yaitu dari kotoran.

Sumber daya di alam ini dibagi dua bagian besar yaitu (1) bahan yang tidak dapat
diperbarui. Di banyak negara, alam dewasa ini telah dieksploitasi dan menghasilkan
polusi yang berasal dari perkembangan teknologi. Minyak yang berasal dari fosil,
batubara, telah digunakan dan menyebabkan emisi 50 % gas metan, 97 % Sulfor
Dioksida, 88 % Nitrogen Oksida, 50 % carbon oksida dan lebih dari 99 % carbon
dioksida. (2). Bahan yang dapat diperbarui, seperti air, dewasa ini merupakan bahan
ekonomi yang sangat penting. Semakin berkembang suatu masyarakat maka kebutuhan
air semakin meningkat (International Union for the Conservation of Nature, 1998).
Dalam menunjang ketersediaan sumber daya alam tersebut di atas, vegetasi dan hutan
memegang peranan penting.

Pertama bahwa hutan dengan proses fotosintesanya mengubah CO2 menjadi


sumber energi dalam tanaman itu sendiri yang juga menjadi bahan makanan bagi mahluk
yang mengkonsumsinya, serta O2 yang sangat penting bagi mahluk hidup di bumi. Kedua
dengan masih seimbangnya kawasan hutan akan menjadi depot penyimpan cadangan air
bagi umat manusia. Kondisi hutan sendiri akan selalu saling tergantung dengan kondisi
tanah, apakah tanah tersebut cukup subur atau tidak. Gambaran tersebut menunjukkan
bahwa dengan pemeliharaan dapat berperan dalam konservasi sumber daya alam.

Untuk kotoran itu sendiri dapat diupayakan suatu teknologi yang bermanfaat
meningkatkan manfaatnya. Hal ini guna mengurangi masalah yang disebabkan oleh
kotoran yang mana apabila ditumpuk begitu saja dapat mencemari air tanah. Suatu
contoh teknologi sederhana yang diterapkan Canadian Environmental Technology
Advancement Corporation (2002) dengan teknik liquid-solid separation system pada
kotoran babi, yang ternyata dapat mengurangi terutama masalah bau yang disebabkan
oleh kerja bakteri anaerob pada tumpukan kotoran yang di bagian bawah tumpukan.
Mekipun dalam contoh tersebut digunakan kotoran babi, untuk kotoran sapi dapat pula
diupayakan teknologi sederhana semacam ini.

2. Ternak memanfaatkan tanaman dalam sistem tersebut untuk pakannya.

Berdasarkan program Direktorat Pengemangan Peternakan (2003)1 maka


dicontohkan pula pemeliharaan sapi potong di bawah kebun kelapa sawit. Peningkatan
produksi daging sapi di dalam negeri saat ini terkendala sehubungan dengan terbatasnya
ketersediaan bibit ternak, pakan, lahan tempat usaha, modal dan daya saing. Perkebunan
kelapa sawit sangat sesuai untuk kawasan pengembangan ternak ruminansia karena
potensial sebagai sumber bahan pakan ternak, tersedianya lahan usaha, infrastruktur,
pasar dan modal. Ternak ruminansia seperti sapi potong dan perah, kambing/domba dapat
dipelihara di bawah pohon kelapa sawit atau dengan jalan dikandangkan (sistem cut-and-
curry).
Berdasarkan perhitungan, setiap satu
hektar kebun kelapa sawit dapat
memberikan pakan untuk 4 ekor ternak
sapi potong. Apabila pada saat ini
terdapat sekitar 4 juta ha lahan kebun
kelapa sawit di seluruh Indonesia maka
potensi yang dapat dikembangkan dapat
mencapai 16 juta ekor. Kalau saja hanya
sepertiga dari potensi ini yang dapat
direalisasikan maka akan ada tambahan
sekitar 5 juta ekor ternak sapi potong.
Tentu hal ini merupakan potensi yang
tidak boleh dianggap kecil, terutama
dalam upaya memenuhi peningkatan
kebutuhan daging sapi setiap tahunnya
dan sekaligus mendukung program
kecukupan daging 2005 (Direktorat
Pengembangan Peternakan (2003)1.
3. Ternak dapat berfungsi sebagai tabungan bagi petani yang dapat menjadi sumber
uang kontan di kala petani membutuhkan uang.

Hal ini dapat dijadikan penekanan mengingat kegagalan konservasi lahan dengan
cara reboisasi umumnya juga menyangkut kemiskinan manusianya.

Jenis Ternak sebagai bagian dari sistem Agroforestri


Pada prinsipnya semua ternak menghasilkan kotoran yang bermanfaat dalam
konservasi tanah, tetapi ternak-ternak tertentu mempunyai beberapa keunggulan apabila
dikembangkan di suatu kawasan hutan. Ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan
domba) lebih mempunyai keunggulan dibandingkan ternak nonruminansia, sebab kotoran
yang dihasilkan cukup banyak dan secara alami ternak ruminansia pemakan hijauan.

Menurut Teleni, Campbell dan Hoffman (1993), sapi dan kerbau menghasilkan
sejumlah besar kotoran per ekor per tahun. Kotoran tersebut mempunyai nilai ekonomis.
(1) Pada beberapa usaha peternakan rakyat, kotoran sapi dikumpulkan dan dijual sebagai
pupuk kandang. (2) Pada ternak-ternak yang dilepas, kotoran menumpuk di tanah dan
menyebar menjadi pupuk bagi vegetasi di atasnya. Nilai ekonomisnya, adalah bahwa
petani tidak terlalu tergantung pada pupuk kimia, sehingga mengurangi biaya untuk
pupuk.

Keuntungan lain dengan pemanfaatan ternak ruminansia, bahwa tidak perlu


mencari lahan khusus untuk pemeliharaan sapi/ kerbau. Dibandingkan ternak
nonruminansia, dalam hal mana cukup dapat diperlihara dengan sistem backyard
farming.
4. KESIMPULAN

1. Lahan marginal dicirikan dengan tanah dengan status hara dan kapasitas menahan air
sangat rendah, telah mengalami kerusakan dan kehilangan fungsi hidrologis maupun
ekonomi yang diakibatkan oleh erosi air atau angin, selain itu telah mengalami
penurunan status unsur hara, bahan organik, serta aktifitas biologi tanah, terjadi
salinitas dan pencemaran

2. Sistim agroforestri dengan berbagai bentuknya telah terbukti sebagai sistem


penggunaan lahan yang cukup ideal dan mampu mengendalikan degradasi lahan akibat
erosi air dan angin. Disamping itu secara ekonomi memberikan pendapatan yang
cukup tinggi

3. Peran agroforestri sebagai salah satu tindakan konservasi tanah dan air pada lahan
marginal kiranya menjadi salah satu pilihan yang dapat mengatasi degradasi lahan dan
penggunaan lahan yang bekelanjutan yang telah diterima oleh masyarakat. Sistem
agroforestri ini perlu dikembangkan dan modifikasi pada kondisi iklim dan budaya
masyarakat setempat.
Prospek Teknologi Olah Tanah
Konservasi Dalam Pembangunan
Hutan Tanaman Pola Tumpangsari
12/11/2007 08:02

Prospek Teknologi Olah Tanah Konservasi Dalam Pembangunan Hutan


Tanaman Pola Tumpangsari (Prospect of Conservation Tillage Technology
on Forest Plantation Development Using Agroforestry Pattern)

Ringkasan :

Pengelolaan hutan tanaman tumpangsari tanaman pangan terbukti memberikan nilai tambah
berupa meningkatnya pendapatan petani, dan terpeliharanya tanaman pokok yang lebih baik.
Namun demikian, pengelolaan yang eksploitatif tanpa memperhatikan kaidah konservasi tanah,
berpotensi menurunkan produktivitas lahan, sehingga dalam jangka panjang tidak
menguntungkan bagi manajemen kehutanan. Olah Tanah Konservasi (OTK) merupakan
alternatif teknologi yang mamou mengatasi masalah ini, disamping memberdayakan masyarakat
desa hutan melalui kemampuan menggarap lahan lebih luas untuk tumpangsari hutan tanaman.

Pengelolaan hutan tanaman tumpangsari ubi kayu sistem OTK dapat menghemat biaya
penyiapan lahan dan pemeliharaan tanaman sebesar Rp. 170.000/ha. Penerapan teknologi OTK
di areal hutan tanaman tumpangsari layak dikembangkan, karena berpotensi
mempertahankan/meningkatkan produktivitas, disamping meningkatkan pendapatan petani.
Dalam jangka panjang dapat mendukung pembangunan hutan tanaman berkelanjutan.

Summary :

Management of forest plantation using agro forestry pattern was proved to


have added value on increasing farmer income, and better tree growth.
However, exploitative management of forest land without considering
conservation principles could decrease land productivity and, in the long run
could provide negative impact for forest management. Conservation tillage
seems to be one alternative that could overcome this problem and empower
forest community surrounding forest area to cultivate more land for agro
forestry.

Forest plantation management using agro forestry pattern with cassava and
implementing of conservation tillage decreases land preparation and plant
maintenance cost about Rp. 170.000 per hectare. Conservation tillage in
forest plantation using agro forestry pattern is suitable to be implemented,
because it has the potential to increase land productivity and farmer income
and, in the long run, the method could support the development of
sustainable forest plantation.

Sumber : Pratiwi dan Agus S. Tjokrowardojo (Buletin Vol. 2 No. 1 Th 2001)

Kesimpulan :

Pengelolaan hutan tanaman monokultur maupun tumpangsari dengan tanaman


semusim yang selama ini dilaksanakan secara intensif (buldozer, bajak dan
garu) ternyata menjadi penyebab menurunnya kesuburan dan produktivitas
lahan akibat erosi dipercepat.

Hutan tanaman pola tumpangsari cukup berhasil memberikan peningkatan


pendapatan, memperluas kesempatan kerja bagi petani desa hutan, disamping
tanaman pokok tumbuh lebih baik. Namun dalam jangka panjang diragukan
keberhasilan dan keberlanjutannya karena pengelolaannya tidak
memperhatikan kaidah konservasi tanah. Olah Tanah Konservasi mampu
mengatasi permasalahan yang muncul dalam praktek pembangunan hutan
tanaman pola tumpangsari, karena lebih hemat biaya, energi dan waktu,
disamping berwawasan lingkungan. Dengan demikian OTK mempunyai prospek
yang lebih baik untuk dikembangkan guna mendukung terealisasinya program
hutan tanaman berkelanjutan.