Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI I

PENANGANAN HEWAN PERCOBAAN

Disusun oleh :

Syifa Fatasyaa 10060308088

Githa Destrian Lestari 10060308089

Putri Peramasari 10060308090

Nandini Madya Utari 10060308091

Misanti Noviana 10060308092

Kelompok C2

Hari,Tanggal Praktikum : Rabu, 6 Oktober 2010

Hari, Tanggal Laporan : Rabu, 13 Maret 2010

Asisten : Ratu Choesrina, S.Si., Apt

LABORATORIUM TERPADU FARMASI UNIT D

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

2010

PENANGANAN HEWAN PERCOBAAN


I. Tujuan Percobaan
Setelah menyelesaikan percobaan ini, mahasiswa diharapkan :
a. Dapat menjelaskan kembali karakteristik hewan-hewan yang lazim dipergunakan
dalam percobaan.
b. Dapat memperlakukan dan menangani hewan percobaan, seperti mencit, tikus,
kelinci, dan marmot, untuk percobaan farmakologi dengan baik.

II. Teori Dasar


Hewan mencit atau Mus musculus adalah tikus rumah biasa termasuk ke dalam
ordo rodentia dan family Muridae. Mencit dewasa biasa memiliki berat antara 25-40
gram dan mempunyai berbagai macam warna. Mayoritas mencit laboratorium adalah
strain albino yang mempunyai warna bulu putih dan mata merah muda (Hrapkiewicz et
al, 1998). Mencit merupakan hewan yang tidak mempunyai kelenjar keringat, jantung
terdiri dari empat ruang dengan dinding atrium yang tipis dan dinding ventrikel yang
lebih tebal. Percobaan dalam menangani hewan yang akan diuji cenderung memiliki
karakteristik yang berbeda, seperti mencit lebih penakut dan fotofobik, cenderung
sembunyi dan berkumpul dengan sesama, mudah di tangani, lebih aktif pada malam
hari (nocturnal), aktivitas terganggu dengan adanya manusia, suhu normal 37,4 0 C, laju
respirasi 163/ menit sedangkan pada hewan tikus sangat cerdas, mudah ditangani, tidak
bersifat fotofobik, lebih resisten terhadap infeksi, kecenderungan berkumpul dengan
sesama sangat kurang, jika makanan kurang atau diperlakukan secara kasar akan
menjadi liar dan galak, suhu normal 37,50 C, laju respirasi 210/ menit pada mencit dan
tikus persamaannya gigi seri pada keduanya sering digunakan untuk mengerat /
menggigit benda-benda yang keras. Dengan mengetahui sifat-sifat karakteristik hewan
yang akan diuji diharapkan lebih menyesuaikan dan tidak diperlakukan tidak wajar. Di
dalam suatu dosis yang dipakai untuk penggunaan suatu obat harus sesuai dengan data
mengenai penggunaan dosis secara kuantitatif, dikarenakan bila obat itu diaplikasikan
kepada manusia dilakukan perbandingan luas permukaan tubuh.
Rute pemberian obat, dapat diberikan secara peroral, subkutan, intramuscular,
intravena, dan intraperitonial. Rute peroral dapat diberikan dengan mencampurkan obat
bersama makanan, bisa pula dengan jarum khusus ukuran 20 dan panjang kira-kira 5
cm untuk memasukkan senyawa langsung ke dalam lambung melalui esophagus, jarum
ini ujungnya bulat dan berlubang ke samping. Rute subkutan paling mudah dilakukan
pada mencit. Obat obat dapat diberikan kepada mencit dengan jarum yang panjangnya
0,5-1,0 cm dan ukuran 22-24 ( 22-24 gauge ). Obat bisa disuntikkan di bawah kulit di
daerah punggung atau di daerah perut. Kekurangan dari rute ini adalah obat harus dapat
larut dalam cairan hingga dapat disuntikkan. Rute pemberian obat secara intramuscular
lebih sulit karena otot mencit sangat kecil, obat bisa disuntikkan ke otot paha bagian
belakang dengan jarum panjang 0,5-1,0 cm dan ukuran 24 gauge, suntikkan tidak boleh
terlalu dalam agar tidak terkena pembuluh darah. Rute pemberian obat secara intravena
haruslah dalam keadaan mencit tidak dapat bergerak ini dapat dilakukan dengan mencit
dimasukkan ke dalam tabung plastic cukup besar agar mencit tidak dapat berputar ke
belakang dan supaya ekornya keluar dari tabung, jarum yang digunakan berukuran 28
gauge dengan panjang 0,5 cm dan suntikkan pada vena lateralis ekor, cara ini tidak
dapat dilakukan karena ada kulit mencit yang berpigmen jadi venanya kecil dan sukar
dilihat walaupun mencit berwarna putih. Cara intraperitonial hampir sama dengan cara
IM, suntikkan dilakukan di daerah abdomen diantara cartilage xiphoidea dan symphysis
pubis ( “Mangkoewidjojo, 1998” ).
Volume obat maksimal untuk tiap rute pemberian obat
Nama Obat Dosis Sumber
Acetylpromazine 5 mg / kg, IP ( “Harkness and Wagner, 1995” )
Cholarhydrate 400 mg / kg, IP ( “White, 1987” )
Propofol 25 mg / kg, IP ( “Harkness and Wagner, 1995” )
Xylazine 6 mg / kg, IM (-)
Acetylpromazine 1 mg / kg, IM (-)
Ketamin 100 mg / kg, IP ( “White, 1987” )

Volume maksimum yang disarankan untuk injeksi pada mencit


SC 10 ml / kg bb
IP 20 ml / kg bb
IM 0,05 ml / site
IV 10 ml / kg bb
Intradermal 0,05 ml / site
( “Sirois, 2004” )

Volume pemberian obat pada hewan percobaan tidak boleh melebihi batas
maksimal yang telah ditetapkan, seperti yang ditunjukkan di bawah ini.
Hewan Volume Maksimal ( ml ) untuk Rute pemberian
Percobaan i.v i.m i.p s.c p.o
Mencit 0,5 0,05 1 0,5 1
Tikus 1 0,1 3 2 5
Kelinci 5-10 0,5 10 3 20
Marmot 2 0,2 3 3 10
(“Subarnas dkk, 2008”).

Anastesi yang digunakan, volume dan lokasi pemberian :


Obat Dosis Rute Pemberian
Kloral hidrat 400 mg / kg IP
Ketamin Hidroklorida 22-44 mg / kg IM
Eter - Inhalasi
Barbiturate ( Pentabarbital ) 35 mg / kg IV
50 mg / kg IP
( Tiopental ) 25 mg / kg IV
50 mg / kg IP
Halothane 2-5% Inhalasi
Acepromazine 0,5-1,0 mg / kg IM
Diazepam 5 mg / kg IP
3-5 mg kg IM
Ketamin 22-44 mg / kg IM
Yohimbine 0,5-1,0 mg / kg IV
Propofol 12,0-26,0 mg / kg IV
( “Sirois, 2004” )

Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi hasil percobaan ialah faktor


internal dan faktor eksterna, adapun faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil
percobaan meliputi variasi biologik (usia, jenis kelamin) pada usia hewan semakin
muda maka semakin cepat reaksi yang di timbulkan, ras dan sifat genetic, status
kesehatan dan nutrisi, bobot tubuh, luas permukaan tubuh.
Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil percobaan meliputi suplai
oksigen, pemeliharaan lingkungan fisiologik (keadaan kandang, suasana asing atau
baru, pengalaman hewan dalam penerimaan obat keadaan ruangan tempat hidup seperti
suhu, kelembaban, ventilasi, cahaya, kebisingan serta penempatan hewan),
pemeliharaan keutuhan struktur ketika menyiapkan jaringan atau organ untuk
percobaan.

III. Alat dan Bahan


o Bahan : makanan hewan dan air matang
o Alat : kandang hewan
o Hewan : mencit, tikus, kelinci dan marmot .
IV. Prosedur
1.4.1 Cara memegang Hewan Percobaan sehingga Siap untuk Diberi Sediaan Uji
a. Mencit
Ujung ekor mencit diangkat dengan tangan kanan, letakkan pada suatu tempat
yang permukaannya tidak licin (misal rem kawat pada penutup kandang), sehingga
bila ditarik mencit akan mencengkeram lalu kulit pada tengkuk mencit dijepit
dengan telunjuk dan ibu jari tangan kiri sedangkan ekornya tetap di pegang dengan
tangan kanan kemudian tubuh mencit dibalikkan sehingga permukaan perut
menghadap kita dan ekor di jepitkan di antara jari manis dan kelingking tangan
kiri.
b. Tikus
Tikus diperlakukan sama seperti mencit dengan cara di atas, tetapi bagian
pangkal ekor yang di pegang dan pada tengkuk tikus yang di pegang.
Cara memegang tikus :
Bagian ekor belakang tikus di angkat kemudian diletakkan di atas permukaan kasar
lalu bagian belakang kepala di pegang dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri
kemudian di selipkan ke depan dan kaki kanan dijepit di antara kedua jari tersebut.
c. Kelinci
Kelinci diperlakukan dengan halus tetapi sigap karena kadang-kadang
memberontak. Menangkap kelinci dengan telinga diangkat kemudian kulit leher di
pegang dengan tangan kiri lalu pantatnya diangkat dengan tangan kanan dan di
didekapkan ke dekat tubuh.
d. Marmot
Bagian punggung atas marmot diangkat dengan tangan kiri lalu bagian
punggung bawah di pegang dengan tangan kanan.

1.4.2 Cara Memberikan Obat Pada Hewan Percobaan


a. Mencit
Oral :
Cairan obat diberikan dengan menggunakan sonde oral, sonde oral
ditempelkan pada langit-langit mulut atas mencit kemudian masukkan perlahan-
lahan sampai ke esophagus dan cairan obat dimasukkan.
Subkutan :
Kulit di daerah tengkuk di angkat dan di bagian bawah kulit dimasukkan obat
dengan menggunakan alat suntik 1 ml.
Intra vena :
Mencit dimasukkan ke dalam kandang restriksi mencit dengan bagian ekor
menjulur keluar. Bagian ekor dicelupkan ke dalam air hangat agar pembuluh vena
ekor mengalami dilatasi lalu pemberian obat ke dalam pembuluh vena menjadi
mudah. Pemberian obat dilakukan dengan jarum suntik no.24.
Intramuskular :
Obat disuntikkan pada paha posterior dengan jarum suntik no.24.
Intra peritoneal :
Mencit dipegang dengan cara seperti pada 1.4.1, pada penyuntikkan posisi
kepala lebih rendah dari abdomen. Jarum disuntikkan dengan sudut sekitar 10 0 dari
abdomen pada daerah yang sedikit menepi dari garis tengah, agar jarum suntik
tidak terkena kandung kemih dan tidak terlalu tinggi supaya tidak terkena
penyuntikkan pada hati.
b. Tikus
Pemberian secara oral, intra muscular dan intra peritoneal dilakukan dengan
cara sama pada mencit. Secara sub kutan dilakukan penyuntikkan di bawah kulit
tengkuk atau kulit abdomen dan pemberian secara intra vena dilakukan pada vena
penis ketimbang vena ekor.
c. Kelinci
Oral : Jarang dilakukan pemberian obat secara oral pada kelinci, tetapi dilakukan
dengan cara alat penahan rahang dan pipa lambung.
Subkutan :
Dilakukan dengan penyuntikkan pada sisi sebelah pinggang atau tengkuk
dengan kulit pada tengkuk diangkat lalu ditusukkan jarum no.15 dengan arah
anterior. Penyuntikkan dilakukan pada vena marginalis di daerah dekat ujung
telinga sebelum disuntik ujung telinga dibasahi dahulu dengan alcohol atau air
hangat. Pada kelinci gelap di cukur dahulu bulunya sebelum disuntik.
Intra muscular :
Pemberian intra muscular dilakukan pada otot kaki belakang.
Intraperitonial :
Posisi kelinci diatur sehingga letak kepala lebih rendah daripada perut.
Penyuntikkan di lakukan pada garis tengah di muka kandung kencing.
d. Marmot
Oral :
Dilakukan dengan menggunakan sonde oral.
Intra dermal :
Bulu marmot dicukur dahulu kemudian disuntikkan obat ke dalam kulit secara
perlahan-lahan.
Subkutan :
Bagian kulit dicubit lalu ditusukkan jarum suntik ke bawah kulit dengan arah
paralel dengan otot dibawahnya.
Intraperitonial :
Bagian punggung marmot dipegang sehingga perutnya agak menjolok ke
muka. Jarum suntik ditusukkan dengan cara subkutan, sesudah masuk ke dalam
kulit jarum di tegakkan sehingga menembus lapisan otot dan masuk ke dalam
daerah peritoneum.
Intramuskular :
Jarum ditusukkan pada jaringan otot sampai menyentuh tulang paha. Pada
penyuntikkan di bagian otot paha daerah posterior-lateral.
Intra vena :
Jarang dilakukan.

1.4.3 Cara Menganastesi Hewan Percobaan


a. Mencit
Senyawa-senyawa yang dapat digunakan untuk anastesi adalah :
Eter
Digunakan untuk anastesi singkat, dengan obat diletakkan pada suatu wadah
kemudian hewan dimasukkan dan wadah ditutup. Bila hewan sudah kehilangan
kesadaran hewan dikeluarkan dan siap dibedah. Pemberian berikutnya diberikan
bantuan kapas yang di basahi dengan obat itu.
Halotan :
Obat ini digunakan untuk anestesi yang lebih lama.
Pentobarbital natrium dan heksobarbital natrium :
Dosis Pentobarbital natrium adalah 45-60 mg / kg untuk pemberian intra
peritoneal dan 35 mg / kg untuk cara pemberian intra vena. Dosis heksobarbital
natrium adalah 75 mg / kg untuk intraperitonial dan 47 mg / kg untuk pemberian
intra vena.
Uretan ( etil karabamat )
Uretan diberikan pada dosis 1000-1250 mg / kg secara intraperitonial dalam
bentuk larutan 25% dalam air.
b. Tikus
Senyawa penganastesi sama dengan cara anastesi pada tikus umumnya sama
seperti pada mencit.
c. Kelinci
Obat anastesi yang digunakan pentobarbital natrium dengan disuntik perlahan-
lahan. Dosis untuk anastesi umum sekitar 22 mg / kg bb. Untuk anastesi singkat di
gunakan setengah dosis di atas dengan di tambah eter agar pembiusan sempurna.
d. Marmot
Anastesi marmot dilakukan dengan menggunakan eter atau pentobarbital
natrium. Eter di gunakan untuk anastesi singkat setelah hewan dipuasakan selama
12 jam. Dosis pentobarbital natrium adalah 28 mg / kg bb.

1.4.4 Cara Mengorbankan Hewan Percobaan


Dilakukan untuk keperluan pengamatan. Dilakukan jika proses percobaan
telah selesai dan hewan tidak digunakan untuk tahap percobaan selanjutnya.
Berdasar pada pertimbangan ekonomis. Pemeliharaan hewan harus disertai tujuan
jelas agar tidak menghamburkan biaya dan tempat. Hewan biasanya langsung
dikorbankan dengan prinsip mematikan dalam waktu sesingkat mungkin dan rasa
sakit seminimal mungkin. Mengorbankan hewan percobaan dilakukan dengan cara
kimia atau cara fisika.
a. Mencit
Cara kimia dengan menggunakan eter atau pentobarbital natrium pada dosis
mematikan.
Cara fisik dilakukan dengan dislokasi leher.
Proses dislokasi dilakukan dengan cara sbb :
Ekor mencit di pegang kemudian ditempatkan pada permukaan yang bisa
dijangkau (ram kawat penutup kandang) dengan begitu mencit akan meregangkan
badannya kemudian pada tengkuk ditempatkan suatu penahan misalnya, pensil atau
batang logam yang dipegang dengan tangan kiri kemudian bagian ekor ditarik
keras dengan tangan kanan sehingga lehernya akan terdislokasi dan mencit akan
terbunuh.
b. Tikus
Cara kimia dengan menggunakan eter atau pentobarbital natrium pada dosis
mematikan.
Cara fisik dilakukan dengan dislokasi leher.
Tikus diletakkan di atas kain, kemudian badan tikus dibungkus dan kedua kaki
depannya ikut terbungkus dengan kain kemudian dipukul bagian belakang telinga
dengan tongkat atau tikus dipegang dengan perut menghadap ke atas kemudian
bagian belakang kepala dipukul keras pada permukaan yang keras pada meja atau
ekor tikus dipegang lalu diayunkan sampai tengkuknya terkena permukaan benda
keras seperti bagian pinggir meja.
c. Kelinci
Cara kimia dengan menggunakan eter atau pentobarbital natrium pada dosis
mematikan secara intra vena.
Cara fisik dilakukan dengan proses sbb :
Kaki belakang kelinci dipegang dengan tangan kiri sehingga badan dan kepala
tergantung ke bawah menghadap ke kiri kemudian sisi telapak tangan kanan
dipukulkan keras pada tengkuk kelinci dengan tongkat.
d. Marmot
Cara kimia dengan menggunakan eter atau pentobarbital natrium pada dosis
mematikan secara intra vena.
Cara fisik dilakukan dengan proses sbb :
Tengkuk marmot dipukul keras dengan alat atau bagian belakang kepala marmot di
pukul pada permukaan keras atau dapat dilakukan dengan dislokasi leher dengan
tangan.

V. Data Pengamatan
Cara memegang
1. Mencit
Angkat mencit bagian ekornya dan usahakan mencit meregang badannya lalu
cengkram tengkuknya dengan tangan kiri sampai mencit tidak bisa bergerak kesana
kemari dan bagian mulut mencit akan terbuka sendirinya.

Pemberian Obat dengan Sonde Oral


Sonde Oral
Mencit harus dalam keadaan menengadah ke atas, lalu cengkram kuat dan
masukkan sonde oral ke langit-langit mulut pastikan masuk karena bila tidak pasti
sudah masuk akan keluar cairan obat dari mulut, tempelkan masukkan perlahan-
lahan sampai cairan masuk ke tubuh. Dengan pemberian dosis 1 ml.
Pemberian Obat dengan Subkutan
Subkutan
Mencit di pegang seperti cara sebelumnya, cubit bagian kulit tengkuk bila
perlu basahi dengan air sampai terlihat kulit pada tengkuk suntikkan ke bawah kulit
dengan cepat sampai menembus kulit pastikan mencit tidak bergerak kesana kemari
agar penyuntikkan sempurna.

VI. Pembahasan
Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah di bidang kedokteran atau
biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Sebagai pola kebijaksanaan
pembangunan keselamatan manusia di dunia adalah adanya Deklarasi Helsinki,yang
dihasilkan oleh Sidang Kesehatan Dunia ke-16 di Helsinki, Finlandia, pada tahun 1964.
Deklarasi tersebut merupakan rekomendasi kepada penelitian kedokteran, yaitu
tentang segi etik penelitian yang melibatkan manusia sebagai obyek penelitian.
Disebutkan, perlunya dilakukan percobaan pada hewan sebelum percobaan di bidang
biomedis maupun riset lainnya dilakukan atau diperlakukan terhadap manusia.
Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-
persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis/ keturunan dan lingkungan yang
memadai dalam pengelolaannya, di samping faktor ekonomis, mudah tidaknya
diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada
manusia. (Sulaksono, M.E., 1987)
Ditinjau dari segi sistem pengelolaannya atau cara pemeliharaannya, di mana
faktor keturunan dan lingkungan berhubungan dengan sifat biologis yang
terlihat/karakteristik hewan percobaan, maka ada 4 golongan hewan, yaitu :
1. Hewan liar.
2. Hewan yang konvensional, yaitu hewan yang dipelihara secara terbuka.
3. Hewan yang bebas kuman spesifik patogen, yaitu hewan yang dipelihara dengan
sistim barrier (tertutup).
4. Hewan yang bebas sama sekali dari benih kuman, yaitu hewan yang dipelihara
dengan sistem isolator. Sudah barang tentu penggunaan hewan percobaan tersebut
di atas disesuaikan dengan macam percobaan biomedis yang akan dilakukan.
Semakin meningkat cara pemeliharaan, semakin sempurna pula hasil percobaan
yang dilakukan. Dengan demikian, apabila suatu percobaan dilakukan terhadap
hewan percobaan yang liar, hasilnya akan berbeda bila menggunakan hewan
percobaan konvensional ilmiah maupun hewan yang bebas kuman. (Sulaksonono,
M.E., 1987)
Jenis-jenis Hewan percobaan:
No Jenis hewan percobaan Spesies
1. Mencit (Laboratory mince) Mus musculus
2. Tikus (Laboratory Rat) Rattus norvegicus
3. Golden (Syrian) Haruster Mescoricetus auratus
4. Chinese Haruster Cricetulus griseus
5. Marmut Cavia porcellus (Cavia cobaya)
6. Kelinci Oryctolagus cuniculus
7. Mongolian gerbil Meriones unguiculatus
8. Forret Mustela putorius furo
9. Tikus kapas (cotton rat) Sigmodon hispidus
10. Anjing Canis familiaris
11. Kucing Fells catus
12. Kera ekor panjang (Cynomolgus) Macaca fascicularis (Macaca irus)
13. Barak Macaca nemestrina
14. Lutung/monyet daun Presbytis ctistata
15. Kera rhesus Macaca mulata
16. Chimpanzee Pan troglodytes
17. Kera Sulawesi Macaca nigra
18. Babi Sus scrofa domestica
19. Ayam Gallus domesticus
20. Burung dara Columba livia domestica
21. Katak Rana sp.
22. Salamander Hynobius sp.
23. Lain-lain

Tabel 1. Jenis-Jenis Hewan Percobaan


(Sulaksonono, M.E., 1987)
Pada percobaan kali ini praktikan menggunakan hewan percobaan mencit, tikus,
kelinci, dan marmot. Tetapi yang benar-benar dilakukan untuk percobaan adalah mencit
saja. Hewan-hewan tersebut dapat digunakan sebagai hewan percobaan untuk
praktikum farmakologi ini karena struktur dan sistem organ yang ada di dalam
tubuhnya hampir mirip dengan struktur organ yang ada di dalam tubuh manusia.
Sehingga hewan-hewan tersebut biasa digunakan untuk uji praklinis sebelum nantinya
akan dilakukan uji klinis yang dilakukan langsung terhadap manusia.
Sebelum melakukan percobaan, terlebih dahulu praktikan harus mengetahui
volume pemberian obat pada hewan percobaan. Volume cairan yang diberikan pada
setiap jenis hewan percobaan tidak boleh melebihi batas maksimal yang telah
ditetapkan. Karena kalau melebihi batas maksimal kemungkinan hewan percobaan akan
mengalami efek farmakologis yang dapat membahayakannya. Berikut adalah daftar
volume maksimal pemberian obat.
Jenis hewan dan Cara pemberian dan volume maksimum dalam mililiter
BB i.v i.m i.p s.c p.o
Mencit (20-30 g) 0,5 0,05 1,0 0,5-1,0 1,0
Tikus (100 g) 1,0 0,1 2,0-5,0 2,0-5,0 5,0
Hamster (50 g) - 0,1 1,0-5,0 2,5 2,5
Marmut (250 g) - 0,25 2,0-5,0 5,0 10,0
Merpati (300 g) 2,0 0,5 2,0 2,0 10,0
Kelinci (2,5 kg) 5,0-10,0 0,5 10,0-20,0 5,0-10,0 20,0
Kucing (3 kg) 5,0-10,0 1,0 10,0-20,0 5,0-10,0 50,0
Anjing (5 kg) 10,0-20,0 5,0 20,0-50,00 10,0 100,0
    
Tabel 2. Volume Maksimal Cairan yang Boleh Diberikan pada Hewan Percobaan
Keterangan : didistribusikan kedaerah yang lebih luas
BB       =          bobot badab
i.v        =          Intra Vena
i.m       =          Intra Muscular
i.p        =          Intra Peritoneal
s.c        =          Sub Kutan
p.o       =          Per Oral     
Untuk bahan senyawa aktif yang tidak larut air dapat diberikan dalam bentuk
suspensi menggunakan gom sebagai suspensi dan dapat diberikan secara oral atau
intraperitoneal.
Untuk memperoleh efek farmakologis yang sama dari suatu obat pada spesies
hewan percobaan, diperlukan data penggunaan dosis dengan menggunakan
perbandingan luas permukaan tubuh setiap spesies.

Perbandingan Luas Permukaan Tubuh Hewan Percobaan


(Untuk Konversi Dosis)
Hewan Menci Tikus Marmu Kelinc Kucing Kera Anjing Manusia
dan BB t 20 g 200 g t 400 g i 1,5 2 kg 4 kg 12 kg 70 kg
rata-rata kg
Mencit 1,0 7,0 12,29 27,8 28,7 64,1 124,2 387,9
20 g
Mencit 0,14 1,0 1,74 3,9 4,2 9,2 17,8 60,5
20 g
Marmut 0,08 0,57 1,0 2,25 2,4 5,2 10,2 31,5
400 g
Kelinci 0,04 0,25 0,44 1,0 1,06 2,4 4,5 14,2
1,5 kg
Kucing 0,03 0,23 0,41 0,92 1,0 2,2 4,1 13,0
 2 kg
Kera 0,016 0,11 0,19 0,42 0,45 1,0 1,9 6,1
4 kg
Anjing 0,008 0,06 0,10 0,22 0,24 0,52 1,0 3,1
12 kg
Manusia 0,0026 0,018 0,031 0,07 0,76 0,16 0,32 1,0
70 kg

Tabel 3. Perbandingan Luas Permukaan Tubuh Hewan Percobaan


(Untuk Konversi Dosis)
(Anonim, 2010)
Cara mempergunakan tabel :
Bila diinginkan dosis absolute pada manusia dengan BB 70 kg dari data dosis pada
anjing  10 mg/kg (untuk anjing dengan bobot 12 kg), maka lebih dahulu dihitung dosis
absolute pada anjing, yaitu (10 × 12) mg = 120 mg.
Dengan mengambil factor konversi 3,1 dari table diperoleh dosis untuk manusia = (120
× 3,1) mg = 372 mg.
Dengan demikian dapat diramalkan efek farmakologis suatu obat yang timbul pada
manusia dengan dosis 382 mg / 70 kg BB adalah sama dengan yang timbul pada anjing
dengan dosis 120 mg/ 12 kg BB, dari obat yang sama.
Pada hewan percobaan ini ada faktor-faktor yang dapat memperngaruhi hasil
percobaan, yaitu faktor internal dan eksternal.

1. Faktor internal
Faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil percobaan antara lain adalah
variasi biologik (usia, jenis kelamin), ras dan sifat genetik, status kesehatan dan
nutrisi, bobot tubuh, dan luas permukaan.
Usia dan jenis kelamin berpengaruh pada hasil percobaan karena pada usia yang
tepat pada fase hidup hewan tersebut, efek farmakologi yang dihasilkan akan lebih
baik. Beda hasilnya jika usia hewan tersebut masih bayi. Jenis kelamin juga
berpengaruh di lihat dari literature bobot badan hewan akan berbeda. Hal ini
berpengaruh pada dosis yang akan di gunakan pada hewan percobaan tersebut.
Begitu juga dengan ras dan sifat genetik, berpengaruh karena jika menggunakan
hewan percobaan dengan ras dan sifat genetik yang berbeda-beda, maka hasil
percobaannya juga akan berbeda. Hal ini karena gen pada setiap individu berbeda.
Dengan gen yang berbeda-beda dan karakteristik yang berbeda pula, maka masing-
masing memiliki perbedaan dalam perilaku, kemampuan imunologis, infeksi
penyakit, kemampuan dalam memberikan reaksi terhadap obat, kemampuan
reproduksi dan lain sebagainya.
Status kesehatan dan nutrisi berpengaruh terhadap hasil percobaan karena efek
yang dihasilkan dalam dosis akan cepat diserap oleh tubuh dan berlangsung cepat
efek yang di hasilkan.
Selain itu, bobot tubuh dan luas permukaan tubuh juga berpengaruh dalam hasil
percobaan. Bobot dan luas permukaan tubuh hewan yang besar akan lebih
membutuhkan lebih banyak dosis dibandingkan dengan yang memiliki bobot dan
luas permukaan tubuh yang kecil untuk mendapatkan data kuantitatif yang akurat
pada efek farmakologis yang terjadi.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil percobaan antara lain adalah
pemeliharaan lingkungan fisiologik (keadaan kandang, suasana asing atau baru,
pengalaman hewan dalam penerimaan obat, keadaan ruangan tempat hidup seperti
suhu, kelembaban udara, ventilasi, cahaya, kebisingan serta penempatan hewan),
suplai oksigen, pemeliharaan keutuhan struktur ketika menyiapkan jaringan atau
organ untuk percobaan.
Meningkatnya kejadian penyakit infeksi pada hewan percobaan, disebabkan
karena kondisi lingkungan yang jelek di mana hewan itu tinggal. Maka dengan
meningkatnya kejadian penyakit infeksi dan disertai dengan keadaan nutrisi yang
jelek pula, akan berakibat resistensi tubuh menurun, sehingga akan berpengaruh
terhadap hasil suatu percobaan.
Jadi, untuk menghasilkan hasil percobaan yang baik, faktor eksternal tersebut
harus disesuaikan dengan karakteristik hewan percobaan agar hewan tersebut tidak
stres. Karena kalau hewan tersebut stres akan menghambat percobaan.

Gambar 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Reaksi pada Hewan Percobaan


(Sulaksonono, M.E., 1992)
Masih dalam rangka pengelolaan hewan percobaan secara keseluruhan, cara
memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya perlu pula diketahui. Cara
memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah berbeda-beda dan ditentukan
oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya. Kesalahan dalam
caranya akan dapat menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan
(ini akan menyulitkan dalam melakukan penyuntikan atau pengambilan darah,
misalnya) dan juga bagi orang yang memegangnya. (Sulaksono, M.E., 1992)
a. Mencit
Mencit adalah hewan percobaan yang sering dan banyak digunakan di dalam
laboratorium farmakologi dalam berbagai bentuk percobaan. Hewan ini mudah
ditangani dan bersifat penakut, fotofobik, cenderung berkumpul sesamanya dan
bersembunyi. Aktivitasnya di malam hari lebih aktif. Kehadiran manusia akan
mengurangi aktivitasnya
Mencit dapat dipegang dengan memegang ujung ekornya dengan tangan kanan,
Biarkan menjangkau / mencengkeram alas yang kasar (kawat kandang). Kemudian
tangan kiri dengan ibu jari dan jari telunjuk menjepit kulit tengkuknya seerat /
setegang mungkin. Ekor dipindahkan dari tangan kanan, dijepit antara jari
kelingking dan jari manis tangan kiri. Dengan demikian, mencit telah terpegang oleh
tangan kiri dan siap untuk diberi perlakuan.
Jika cara penanganan mencit tidak sesuai, biasanya mencit akan buang air besar
atau buang air kecil. Hal ini terjadi karena mencit merasa stres dan ketakutan. Selain
itu, juga merupakan pertahanan diri untuk melindungi dirinya dengan mengeluarkan
fesesnya. Begitu juga apabila hewan-hewan lain seperti tikus, kelinci, dan marmut
akan melakukan hal yang sama jika mereka merasa terancam.
b. Tikus
Tikus berukuran lebih besar daripada mencit dan lebih cerdas. Umumnya tikus
putih ini tenang dan demikian mudah digarap. Tidak begitu bersifat fotofobik dan
tidak begitu cenderung berkumpul sesamanya seperti mencit. Aktivitasnya tidak
begitu terganggu oleh kehadiran manusia di sekitarnya. Bila diperlakukan kasar atau
mengalami defisiensi makanan, tikus akan menjadi galak dan sering dapat
menyerang si pemegang.
Seperti halnya pada mencit, tikus dapat ditangani dengan memegang ekornya
dengan menarik ekornya bagian pangkal, biarkan kaki tikus mencengkeram alas
yang kasar (kawat kandang), kemudian secara hati–hati luncurkan tangan kiri dari
belakang ke arah kepalanya seperti pada mencit tetapi dengan kelima jari, kulit
tengkuk dicengkeram. Cara lain yaitu selipkan ibu jari dan telunjuk menjepit kaki
kanan depan tikus sedangkan kaki kiri depan tikus di antara jari tengah dan jari
manis. Dengan demikian tikus akan terpegang dengan kepalanya di antara jari
telunjuk dan jari tengah. Pemegangan tikus ini dilakukan dengan tangan kiri
sehingga tangan kanan kita dapat melakukan perlakuan.
c. Kelinci
Kelinci jarang sekali bersuara kecuali bila dalam keadaan nyeri yang luar biasa.
Kelinci cenderung berontak bila merasa terganggu. Kelinci hendaklah diperlakukan
dengan halus namun sigap karena ia cenderung berontak. Hewan ini dapat ditangkap
dengan memegang kulit pada tengkuknya dengan tangan kiri kemudian pantatnya
diangkat dengan tangan kanan dan didekapkan ke badan.
Untuk perlakuan tertentu dapat digunakan kotak / kandang individual kelinci
yang dapat menjaga kelinci agar tak dapat banyak bergerak (restriction box).
d. Marmot
Marmot sebenarnya jinak dan mudah diperlakukan. Marmot dipegang dengan
mengangkat badannya dengan kedua tangan.
Selain cara memegang hewan yang berbeda-beda, cara pemberian sediaan uji
juga berbeda pada setiap hewan. Cara pemberian ini merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi respon obat pada hewan percobaan. Bentuk sediaan yang akan
digunakan perlu disesuaikan dengan cara pemberian yang dipilih disamping juga sifat
obat yang akan digunakan.
a. Mencit
 Oral
Pemberian secara oral pada mencit dilakukan dengan alat suntik yang
dilengkapi jarum oral atau sonde oral (berujung tumpul). Hal ini untuk
meminimalisir terjadinya luka atau cedera ketika hewan uji akan diberikan sedian
uji. Sonde oral ini dimasukkan ke dalam mulut, kemudian perlahan-lahan
diluncurkan melalui langit-langit ke arah belakang sampai esophagus kemudian
masuk ke dalam lambung. Perlu diperhatikan bahwa cara peluncuran/pemasukan
sonde yang mulus disertai pengeluaran cairan sediaannya yang mudah adalah cara
pemberian yang benar. Sebaiknya sebelum memasukan sonde oral, posisi kepala
mencit adalah menengadah dan mulutnya terbuka sedikit, sehingga sonde oral
akan masuk secara lurus ke dalam tubuh mencit. Cara pemberian yang keliru,
masuk ke dalam saluran pernafasan atau paru-paru dapat menyebabkan gangguan
pernafasan dan kematian.
Praktikan dapat mengetahui pemberian obat secara oral ini berhasil atau tidak.
Hal ini dapat dilihat dari cairan yang dimasukan tersebut. Bila dari hidung hewan
uji keluar cairan seperti yang kita berikan menunjukkan adanya kesalahan dalam
proses pemberian. Sedangkan bila berhasil, maka tidak akan terjadi apa-apa.

Gambar 2. Cara Memberikan Obat Secara Oral


(Agiel, 2010)
 Subkutan
Injeksi subkutan (SC) atau pemberian obat melalui bawah kulit, hanya boleh
digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Penyuntikkan
dilakukan di bawah kulit pada daerah kulit tengkuk dicubit di antara jempol dan
telunjuk. Bersihkan area kulit yang mau disuntik dengan alkohol 70 %. Masukkan
jarum suntik secara paralel dari arah depan menembus kulit.
Diusahakan dilakukan dengan cepat untuk menghindari pendarahan yang terjadi
karena pergerakan kepala dari mencit. Pemberian obat ini berhasil jika jarum
suntik telah melewati kulit dan pada saat alat suntik ditekan, cairan yang berada
di dalamnya dengan cepat masuk ke daerah bawah kulit.

Gambar 3. Cara Memberikan Obat Secara Subkutan


(Agiel, 2010)
 Intravena
Penyuntikan dilakukan pada vena ekor. Hewan dimasukkan ke dalam kandang
individual yang sempit dengan ekor dapat menjulang ke luar. Untuk memudahkan
penyuntikan, dapat dilakukan dengan pemanasan di bawah lampu atau dengan air
hangat untuk dilatasi vena.
Pada saat melakukan injeksi, di dalam alat suntik tidak boleh ada udara. Karena
jika di dalamnya ada udara, pada saat dimasukan ke dalam vena ekor, vena akan
rusak dan tidak stabil serta ekor akan menggelembung. Untuk menanggulanginya
keluarkan jarum dan masukkan kembali itu sedikit di atas awal injeksi. Jika
pemberian obat secara intravena berhasil dengan posisi yang benar, maka akan
terlihat pada vena jarum warnanya menjadi pucat.

Gambar 4. Cara Memberikan Obat Secara Intravena


(Agiel, 2010)
 Intramuskular
Penyuntikan dilakukan ke dalam otot pada daerah otot paha.

Gambar 5. Cara Memberikan Obat Secara Intramuskular


(Agiel, 2010)
 Intraperitonial
Mencit dipegang pada kulit punggungnya sehingga kulit abdomennya tegang,
kemudian jarum disuntikkkan dengan membentuk sudut 10° dengan abdomen
pada bagian tepi abdomen dan tidak terlalu ke arah kepala untuk menghindari
terkenanya kandung kemih dan hati. (Sukati, 2010)
Gambar 6. Cara Memberikan Obat Secara Intraperitoneal
(Agiel, 2010)

b. Tikus
Cara-cara pemberian oral, intraperitoneal, subkutan, intramuskular, dan intravena
dapat dilakukan seperti pada mencit. Penyuntikan subkutan dapat dilakukan pula
pada daerah kulit abdomen. Tetapi penyuntikan secara intravena lebih mudah
dilakukan pada vena penis tikus jantan dengan bantuan pembiusan hewan
percobaan. Karena vena penis tikus lebih terlihat dibandingkan dengan vena ekor
tikus.
c. Kelinci
 Oral
Pemberian obat dengan cara oral pada kelinci jarang dilakukan. Tetapi bila
dilakukan biasanya menggunakan alat penahan rahang dan pipa lambung.
 Subkutan
Cara pemberian ini dilakukan di bawah kulit di daerah tengkuk atau daerah sisi
pinggang. Cara pemberian dilakukan dengan mengangkat kulit dan kemudian
jarum ditusukkan ke bawah kulit.
 Intravena
Dilakukan pada vena marginalis telinga dan penyuntikan dilakukan pada
daerah dekat ujung telinga. Untuk memperluas vena (mendilatasi vena), telinga
diulas terlebih dahulu dengan air hangat atau alkohol. Pencukuran bulu bila perlu
dapat dilakukan terutama pada hewan yang bulunya berwarna.
 Intramuskular :Dilakukan pada otot kaki belakang.
 Intraperitoneal
Kelinci dipegang menggantung pada kaki belakangnya sehingga perut maju ke
depan. Penyuntikan dapat dilakukan pada daerah garis tengah di muka kandung
kemih. (Sukati, 2010)
d. Marmot
 Oral
Pemberian oral kepada marmot dapat dilakukan dengan pipa lambung dengan
bantuan hewan dianestetik lemah terlebih dahulu.
 Intradermal
Pemberian obat secara intradermal dilakukan dengan memasukan jarum suntik
ke dalam kulit secara perlahan-lahan. Agar terlihat, bulu marmot dicukur terlebih
dahulu.
 Subkutan
Penyuntikan dapat dilakukan pada daerah tengkuk: kulit dicubit kemudian
jarum disuntikkan ke bawah kulit.
 Intraperitoneal
Penyuntikan dilakukan pada daerah perut agak ke kanan dari daerah garis
tengah dan di atas tulang kematian.
 Intramuskular
Penyuntikan dilakukan ke dalam otot paha kaki belakang.
 Intravena
Pada marmot cara ini jarang digunakan. Penyuntikan dapat digunakan pada
vena marginalis dengan jarum yang halus dan pendek (cara ini dapat dilakukan
untuk marmot yang cukup besar) atau pada vena pada bagian paha dan penis
dengan bantuan anestetik terlebih dahulu. (Sukati, 2010)
Pada tiap cara pemberian ini kecuali oral, pembersihan dengan antiseptik pada
daerah penyuntikan perlu dilakukan pada sebelum penyuntikan dan setelah
penyuntikan. Jumlah volume penyuntikan dari tiap cara pemberian dan pada berbagai
hewan percobaan berbeda-beda, sesuai dengan tabel kedua.
Untuk kelancaran percobaan uji efek farmakologis suatu obat yang dilakukan
pada hewan percobaan sebaiknya digunakan perlakuan anestesi. Perlakuan anestesi
terhadap hewan percobaan kadang kala diperlakukan untuk memudahkan cara
pemberian senyawa bioaktif tertentu (pemberian i.v pada vena penis tikus) dan untuk
percobaan-percobaan tertentu, misalnya pengukuran tekanan darah insitu pada karotid
hewan dengan manometer condon. (Sukati, 2010)
Senyawa-senyawa yang dapat digunakan untuk anestesi adalah eter, halotan,
pentobarbital natrium, heksobarbital natrium, dan uretan (etil karabamat). Pada setiap
hewan percobaan yang berbeda, perlakuan anastesi, senyawa penganestesi serta
dosisnya yang dipakai juga berbeda.
a. Mencit
 Eter
Eter digunakan untuk anestesi singkat. Cara perlakuan anestesi adalah dengan
meletakkan obat di dalam suatu wadah dan hewan dimasukan ke dalamnya dan
wadah ditutup rapat. Bila hewan sudah kehilangan kesadaran , maka hewan sudah
siap dilakukan uji percobaan.
 Halotan
Halotan digunakan untuk anestesi yang lebih lama.
 Pentobarbital natrium dan heksobarbital natrium
Senyawa pentobarbital natrium dan heksobarbital natrium dapat diberikan
secara intravena dan intraperitonial dengan dosis yang berbeda. Dosis
pentobarbital natrium untuk pemberian intravena adalah 35 mg/kg. Sedangkan
dosis untuk pemberian intraperitoneal adalah 45-60 mg/kg. Dosis heksobarbital
natrium untuk pemberian intravena adalah 47 mg/kg. Sedangkan dosis untuk
pemberian intraperitoneal adalah 75 mg/kg.
 Uretan
Uretan diberikan dengan cara intraperitoneal pada dosis 1000-1250 mg/kg
dalam bentuk larutan 25% dalam air.
b. Tikus
Senyawa untuk perlakuan anestesi yang digunakan pada tikus umumnya sama
dengan yang dilakukan pada mencit.
c. Kelinci
Obat anestetika yang paling sering digunakan untuk kelinci adalah
pentobarbital natrium dengan cara menyuntikkannya secara perlahan. Dosis untuk
anestesi umum adalah 22 mg/kg. Untuk anestesi singkat biasanya digunakan
setengah dosis dari 22 mg/kg.
d. Marmot
Obat anestetika untuk marmot biasanya digunakan eter atau pentobarbital
natrium. Eter dapat digunakan untuk anestesi singkat setelah hewan dipuasakan
selama kurang lebih 12 jam. Sedangkan dosis untuk pentobarbital natrium adalah 28
mg/kg.
Apabila pada hewan percobaan terjadi keadaan rasa sakit yang hebat atau lama
akibat suatu percobaan atau apabila mengalami kecelakaan, menderita sakit atau
jumlahnya terlalu banyak dibandingkan dengan kebutuhan, maka perlu dilakukan
pengorbanan hewan.
Etanasi atau cara kematian tanpa rasa sakit perlu dilakukan sedemikian rupa
sehingga hewan akan mati dengan seminimal mungkin rasa sakit. Pada dasarnya cara
fisik yaitu dengan melakukan dislokasi leher adalah cara yang paling cepat, mudah dan
berprikemanusiaan, tetapi cara perlakuan kematian juga perlu ditinjau bila ada tujuan
dari pengorbanan hewan percobaan dalam rangkaian percobaan. (Sukati, 2010)
Cara mengorbankan hewan percobaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
cara kimia dan cara fisik. Pada umumnya untuk mengorbankan mencit, tikus, kelinci,
dan marmot dilakukan dengan cara yang sama. Tetapi ada beberapa cara yang biasa
dilakukan untuk mengorbankan tikus, kelinci, dan marmot.
Cara kimia untuk mengorbankan mencit, tikus, kelinci, dan marmot adalah
dengan menggunakan eter atau pentobarbital natrium pada dosis letalnya sehingga
dapat membunuh hewan-hewan tersebut.
Untuk cara fisik ada beberapa yang berbeda. Untuk mencit dan marmot bisa
digunakan dislokasi leher. Caranya adalah dengan memegang ekor mencit atau marmot
dan kemudian ditempatkan di ram kawat sampai hewan tersebut meregangkan
badannya. Ketika hewan meregangkan badannya, pada bagian tengkuk diberi suatu
penahan yang keras dan dipegang dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan menarik
ekornya dengan keras sampai lehernya terdilokasi dan hewan akan terbunuh.
Untuk mengorbankan tikus, kelinci, dan marmot dapat dilakukan cara fisik
sebagai berikut :
Untuk tikus dilakukan dengan cara membungkus tubuh tikus didalam sehelai kain
yang selanjutnya tikus dibunuh dengan cara memukul bagian belakang telinganya. Cara
lain adalah dengan cara memegang perut tikus yang menghadap ke atas, kemudian
bagian belakang kepalanya dipukulkan dengan keras pada permukaan yang keras atau
dengan cara memegang ekor tikus yang kemudian diayunkan sampai tengkuknya tepat
mengenai permukaan benda keras sehingga tikus akan terbunuh.
Untuk kelinci dilakukan dengan cara memegang kaki belakang kelinci, sedangkan
badan dan kepalanya tergantung ke bawah. Dengan menggunakan benda keras seperti
tongkat, bagian tengkuk kelinci dipukul dengan keras sehingga kelinci dapat terbunuh.
Untuk marmot, selain dilakukan dislokasi leher dapat juga dilakukan dengan cara
memukul bagian tengkuk dengan keras menggunakan alat dan juga bisa dengan cara
memukulkan bagian belakang kepala marmot pada permukaan keras.

VII. Kesimpulan
 Penggunaan hewan percobaan sangat penting dalam penelitian ilmiah di bidang
kedokteran/biomedis.
 Volume cairan obat yang diberikan pada hewan percobaan tidak boleh melebihi
batas maksimal yang telah ditetapkan.
 Untuk memperoleh efek farmakologis yang sama dari suatu obat pada spesies hewan
percobaan, diperlukan data penggunaan dosis dengan menggunakan perbandingan
luas permukaan tubuh setiap spesies.
 Terdapat faktor internal dan eksternal pada hewan percobaan yang dapat
memperngaruhi hasil percobaan.
 Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan berbeda-beda dan
ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya.
 Cara pemberian sediaan uji juga berbeda pada setiap hewan percobaan, dapat secara
oral, subkutan, intravena, intramuskular, intraperitoneal, dan intradermal.
 Untuk kelancaran percobaan uji efek farmakologis suatu obat yang dilakukan pada
hewan percobaan sebaiknya digunakan perlakuan anestesi dengan senyawa eter,
halotan, pentobarbital natrium, heksobarbital natrium, dan uretan (etil karabamat).
 Apabila pada hewan percobaan terjadi keadaan rasa sakit yang hebat atau lama
akibat suatu percobaan atau apabila mengalami kecelakaan, menderita sakit atau
jumlahnya terlalu banyak dibandingkan dengan kebutuhan, maka perlu dilakukan
pengorbanan hewan engan cara kima ataupun cara fisik.
Daftar Pustaka

Anonim. 2010. Penanganan Hewan Percobaan. Jakarta.


http://medicafarma.blogspot.com/2010/04/penanganan-hewan-percobaan_24.html.
Diakses tanggal 8 Oktober 2010 pukul 18.04 WIB.
Kadis, Sukati dan Kus Haryono. Penanganan Umum dan Cara Pemberian Senyawa Bioaktif
pada Beberapa Hewan Percobaan.
http://www.scrib.com/doc/28455157/penanganan-hewan-coba. Diakses tanggan 8
Oktober 2010 pukul 20.46 WIB.
Novianto, Agiel. 2010. Cara Pemberian vs Profil Farmakokinetik Obat. Surakarta.
http://agiel-novianto-blogspot.com/2010/02/pengaruh-cara-pemberian-versus-
absorbsi.html. Diakes tanggal 8 Oktober 2010 pukul 20.08 WIB.
Sulaksono, M.E., 1987. Peranan, Pengelolaan dan Pengembangan Hewan Percobaan.
Jakarta.
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16_PerkembangbiakanHewanPercobaan.pdf/16
_PerkembangbiakanHewanPercobaan.html. Diakses tanggal 8 Oktober 2010 pukul
20.00 WIB.
Sulaksono, M.E., 1992. Faktor Keturunan dan Lingkungan Menentukan Karakteristik Hewan
Percobaan dan Hasil Suatu Percobaan Biomedis. Jakarta.
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15_FaktorKeturunandanLingkungan.pdf/15_Fa
ktorKeturunandanLingkungan.html
http://Ariani88.blogspot.com/../mencit.html. di akses tanggal 10-10-10 pukul 19.00
http://eprints.usm.my/6462/1cirimencit/com. di akses tanggal 10-10-10 pukul 19.05
http://kamus.lamdak.com/cari/cirri-cirimencit. di akses tanggal 10-10-10 pukul 19.00
http://top-pdf.com/cirri-mencit.html. di akses tanggal 10-10-10 pukul 19.00

Anda mungkin juga menyukai