Anda di halaman 1dari 114

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL KEPAILITAN

“Antisipasi Krisis Keuangan Kedua,


Sudah Siapkah Pranata Hukum
Kepailitan Indonesia?”

Jakarta, 29 Oktober 2008


Seminar Nasional tentang Kepailitan telah dilaksanakan oleh Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI)
dengan dukungan dari rakyat Amerika melalui USAID (United States Agency for International Development).
Materi yang terdapat dalam prosiding hasil seminar ini merupakan tanggung jawab penulis dan bukan
menggambarkan kebijakan dari USAID atau Pemerintah Amerika Serikat.
Susunan Acara Seminar Nasional Kepailitan

Rabu, 29 Oktober 2004

08:00 - 09:00 : Pendaftaran Peserta Seminar


09:00 - 09:45 : Sambutan
09:45 - 10:00 : Rehat
10:00 - 12:00 : Sesi Pertama, Moderator: GP. Aji Wijaya, S.H
1. Sepuluh Tahun Berlakunya Peraturan Perundang-undangan
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang di
Indonesia (Analisis Kritis mengenai Keberhasilan dan
Kegagalan)
Oleh: Kartini Muljadi, S.H.
2. Pemikiran tentang Penyempurnaan Undang-Undang Kepailitan
dari Segi Prosedural
Oleh: Prof. DR. Paulus Effendie Lotulung, S.H.
3. Kedudukan Tagihan Buruh, Tagihan Pajak Versus Kedudukan
Kreditur Separatis Dalam Kepailitan Perusahaan
Oleh: Elijana Tansah, S.H.
4. Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 dan Undang-
Undang Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007 sehubungan
dengan Penyelesaian Kewajiban Perseroan Pailit terhadap para
Krediturnya
Oleh: Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF.CIP
12:00 - 13:00 : Makan Siang
13:00 - 15:00 : Sesi Kedua, Moderator: Paul Sukran, S.H.
1. Permasalahan terhadap Kendala Efektifitas Undang-Undang
Kepailitan dan Pemecahannya dari Sudut Pandang Kurator
Oleh: Yan Apul Girsang, S.H.
2. Peran Hakim Pengawas dalam Pengurusan dan Pemberesan
Harta Pailit
Oleh: Agus Subroto, S.H., M.H.
3. Permasalahan terhadap Kendala Efektifitas Undang-Undang
Kepailitan dan Pemecahannya dari Sudut Pandang Penyidik
Oleh: AKBP. CH. Patoppoi, SSTMK, S.H.
15:00 - 15:15 : Rehat
15:15 - 17:00 : Sesi Ketiga, Moderator: Ali, Ak. BAP., M. Com., CPA.
Pilihan dalam Hukum Kepailitan: Sudut Pandang Internasional dan
Penerapannya
Oleh: Daniel J. Fitzpatrick, Esq.

i
Working Committee
Seminar Nasional Kepailitan
Kerjasama AKPI dan Proyek In-ACCE

Steering Committee
Fred B. G. Tumbuan, S.H.
DR. Syamsudin Manan Sinaga, S.H., M.H.
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF, CIP.
Yan Apul, S.H.
Gunawan Widyaatmadja, S.H.
Edino Girsang, S.H.
Mike Sheppard
Patrick J. Wujcik
Daniel J. Fitzpatrick
Organizing Committee
Ketua : Junaedi, S.H., LL.M.
Wakil Ketua : Ali, Ak., BAP, M.Comm, CPA
Muhammad Ismak, S.H.
Paul Sukran, S.H.
Marjan E. Pane, S.H.
Sekretaris : Ferhat Sartono, S.H., M.H.
Iva Diah Noor, S.H.
Sheila Salomo, S.H.
Bendahara : Duma Hutapea, S.H.
Ria Nuri Dharmawan, S.H.
Pengkaji Makalah : Timur Sukirno, S.H., LL.M.
DR. Andre Sitanggang, S.H., MM.
William E. Daniel, S.E., S.H., LL.M., MBL.
Chemby J. Hutapea, S.H.
Darwin Marpaung, S.H.
PR & LO : Safitri Hariyani Saptogino, S.H., M.H.
Denny A. Latief, S.H.
Desita Sari, S.H.
General Affair & : Jimmy Simanjuntak, S.H.
Dokumentasi Otto Bismark Simanjuntak, S.H.
Akomodasi : Maria Leweresia, S.H.
Titik Kiranawati Soebagjo, S.H.
Sahroni, S.H.
Other Contributors
Bellatrix Shaula Vanessa Bogar
Cucu Asmawati, S.H.
Diah Lestari Pitaloka, S.H., MKn.
Fitria Djemaat, S.H., MKn.
Nur Hayati, S.H.
Panji Nindyaputra Sudoyo, S.H.
Rizkiansyah
Seruni Lissari Saerang, S.H.
Susan Kumaat, MBA.
Editor Prosiding : Muhammad Faiz Aziz, S.H., S.IP

ii
Kata Pengantar
Asosiasi Kurator & Pengurus Indonesia (AKPI)

Pertama-tama, sebagai Ketua Umum Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI),
saya sangat mendukung dan mengucapkan terimakasih atas kerjasama Tim USAID In Acce
Project dan Media Hukumonline, sehingga dapat dipublikasikannya Prosiding dari Seminar
Nasional kepailitan dengan topik: ”Antisipasi Krisis Keuangan Kedua, Sudah Siapkah Pranata
Hukum Kepailitan Indonesia?” yang dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2008 lalu di
Jakarta, sebagai hasil Kerjasama USAID In ACCE Project dan AKPI sebagai suatu langkah
refleksi dari 10 tahun Reformasi Undang-Undang Kepailitan Indonesia (UU Kepailitan).
Melihat kebelakang, yaitu 10 tahun lalu, kebutuhan untuk mereformasi UU Kepailitan
diyakini oleh pemerintah Indonesia sebagai suatu kebutuhan yang sangat urgent, dan bahkan
bersifat emergency dalam upaya menyelesaikan konflik utang-piutang - yang diduga meningkat
secara luar biasa diantara kreditur dan debitur sebagai akibat dari krisis moneter yang melanda
Indonesia ketika itu – secara adil, cepat, terbuka dan efektif. Undang-Undang Kepailitan
peninggalan Belanda, Faillisements Verordening, Staatsblad 1905:217 juncto Staatsblad
1906:348 secara tegas-tegas dianggap tidak dapat diandalkan lagi begitu pula dengan
keberadaan Pengadilan Indonesia ketika itu. Sehingga, dalam keyakinan atas kepentingan
yang memaksa, reformasi UU Kepailitan ketika itu dilakukan dengan memberlakukan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU) no. 1 Tahun 1998.
Krisis ekonomi global yang juga mengalir ke Indonesia saat ini, membangunkan
kembali pertanyaan sampai sejauh mana Reformasi UU Kepailitan (yang dihadirkan melalui
PERPU No. 1 tahun 1998 dan kemudian diundangkan menjadi UU No. 4 tahun 1998 dan
kemudian disempurnakan melalui UU No. 37 tahun 2004 tersebut), telah mampu
menyelesaikan konflik utang piutang secara adil, cepat, terbuka dan efektif dan berkepastian
hukum? Masa 10 tahun keberlakuannya menjadi jawaban untuk dapat menyimpulkan apakah
Hukum Kepailitan Indonesia telah dapat diandalkan, atau malah sebaliknya, masih harus
mengalami penyempurnaan lagi? Mengapa kepercayaan pencari keadilan terhadap UU
Kepailitan tidak begitu menggembirakan?
Bentuk-bentuk pemikiran tersebut di ataslah yang menjadi latar belakang dari
kerjasama AKPI dan USAID In Acce project dalam menyelenggarakan Refleksi 10 tahun UU
Kepailitan Indonesia. Dari seminar nasional tersebut ternyata muncul keinginan untuk kembali
memperbaiki UU Kepailitan dan juga konsekuensi dari pelaksanaannya. Hal tersebut terlihat
dalam pembahasan-pembahasan yang dilakukan oleh para Pembicara begitu pula respons dari
beberapa peserta seminar yang hadir.
Untuk itulah Prosiding ini menjadi penting untuk dipublikasikan, untuk dapat dibaca dan
direspons oleh lebih banyak pihak, yang kesemuanya bertujuan untuk membangun suatu UU
Kepailitan dan Pengadilan Niaga yang benar-benar dapat menyelesaikan permasalahan-
permasalahan utang piutang secara adil, cepat, terbuka, efektif dan berkepastian hukum.

Hormat saya,
Jakarta, Juni 2009

Ricardo Simanjuntak, S.H.,LL.M.,ANZIIF.CIP


Ketua Umum

iii
Kata Pengantar
USAID Indonesia ACCE (In-ACCE) Project

Dalam tiga tahun terakhir ini, proyek In-ACCE (Proyek Peningkatan Pengadilan Tipikor &
Pengadilan Niaga – Indonesia) yang didanai oleh USAID telah bekerjasama erat dengan
Mahkamah Agung Republik Indonesia untuk mendukung upaya reformasi di lima pengadilan
negeri di Indonesia yang memiliki wilayah hukum Pengadilan Niaga dan Pengadilan Tipikor.
Karena perkara kepailitan dan PKPU merupakan bagian yang penting dalam agenda pengadilan
niaga, maka In-ACCE melakukan kerjasama dengan AKPI dalam menyelenggarakan Seminar
Nasional tentang Kepailitan dan Krisis Keuangan yang terjadi baru-baru ini.
Pertanyaan pokok pada seminar tersebut adalah apakah sistem kepailitan di Indonesia
telah siap untuk membantu debitor dan kreditor dalam menyelesaikan masalah keuangan yang
terjadi sebagai akibat dari krisis keuangan yang melanda Indonesia. Hampir sepenuhnya
disepakati di antara para pembicara dan kontributor bahwa masih banyak yang harus
diselesaikan. Sepuluh tahun setelah diberlakukannya undang-undang kepailitan “modern”
Indonesia, masih terdapat masalah-masalah, baik dalam teks undang-undang kepailitan itu
sendiri dan mungkin juga yang terlebih penting adalah tentang bagaimana pelaksanaannya.
Banyak pembicara memperhatikan bahwa secara relatif hanya sedikit permohonan
kepailitan yang diajukan setiap tahun, walaupun kita mendengar bahwa cukup banyak bukti yang
menunjukkan bahwa banyak utang yang tidak terbayar dan banyak terjadi kesulitan keuangan.
Ada kemungkinan bahwa baik kreditor dan debitor sudah kurang percaya lagi kepada pengadilan
dalam membantu mereka menyelesaikan masalah mereka.
Untuk memulihkan kepercayaan ini tidaklah mudah dan akan memakan waktu serta
kesabaran. Tetapi, tidak diragukan lagi bahwa hal ini patut diusahakan. Saya hanya ingin
memberi contoh mengenai negara asal saya, Amerika Serikat. Perusahaan Chrysler dan
General Motors telah mengajukan permohonan pailit atas desakan Washington. Negara Amerika
Serikat, yang mengusung reformasi undang-undang kepailitan di Eropa Timur, negara-negara
pecahan Uni Soviet, dan Asia Tenggara selama 15 tahun terakhir, pada akhirnya mempraktikkan
apa yang mereka selama ini wacanakan. Mereka telah mendorong dua perusahaan produsen
mobil terbesar di dunia untuk menyelesaikan kesulitan keuangan yang dihadapinya melalui
undang-undang kepailitan.
Pada pundak dua orang hakim kepailitan yang menyidangkan dua perkara tersebut
terletak nasib dari ribuan pekerjaan dan usaha kecil yang bergantung pada industri mobil
Amerika Serikat. Apabila berhasil, maka kedua perusahaan tersebut setelah proses kepailitan
akan menjadi perusahaan yang lebih kecil, tetapi akan dapat bersaing dengan Toyota dan
Volkswagen di kancah dunia. Tetapi apabila tidak berhasil, maka kedua perusahaan mobil
tersebut seperti berada di atas jembatan yang menghubungkan antara pengadilan akhirat dan
surga dimana di bawah jembatan tersebut terdapat neraka (shiroothol mustaqiim) selama
bertahun-tahun, karena bank, pemegang surat berharga dan buruh akan saling berebut harta
pailit dari proses tersebut.
Walaupun akan memakan waktu lama bagi kita untuk mengetahui nasib dari Chrysler
dan General Motors, setidak-tidaknya kita mengetahui bahwa Amerika Serikat mempunyai
keyakinan akan dapat mengatasinya melalui pengadilan yang menangani kepailitan pada saat
krisis terjadi.
Kapankah hal yang sama dapat terjadi pada sistem kepailitan di Indonesia?

iv
Publikasi prosiding ini mungkin tidak memberikan jawaban terhadap pertanyaan di atas.
Akan tetapi, perlahan-lahan harus ditanamkan untuk meningkatkan kepercayaan terhadap
undang-undang kepailitan serta pelaksanaannya yang saat ini masih dalam perjalanan menuju
arah yang tepat. Pembahasan dalam publikasi ini akan memberikan gambaran yang lebih jelas
mengenai bagaimana persepsi yang ada terhadap undang-undang kepailitan serta
pelaksanaannya, dan hal-hal apa yang masih harus ditangani untuk perkembangan selanjutnya.

Hormat Saya,
Jakarta, Juni 2009

Daniel J. Fitzpatrick
Bankruptcy Reform Specialist

v
Daftar Isi
Seminar Nasional Kepailitan
“Antisipasi Krisis Keuangan Kedua,
Sudah Siapkah Pranata Hukum Kepailitan Indonesia?”

Materi I – Sepuluh Tahun Berlakunya Peraturan Perundang-undangan Kepailitan dan


Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang di Indonesia .................................................................. 1
A. Catatan Pendek Sejarah Perundang-undangan Kepailitan di Indonesia .................................. 1
B. Apakah Banyak Perkara Kepailitan Yang Telah Masuk Pengadilan Niaga? Jika Tidak,
Mengapa? .................................................................................................................................. 1

Materi II – Pemikiran tentang Penyempurnaan Undang-Undang Kepailitan dari segi Prosedural


................................................................................................................................................................ 9
A. Pengantar .................................................................................................................................. 9
B. Pertimbangan Perlunya Perubahan Sistem Pemeriksaan ........................................................ 9
C. Peranan Pengadilan Tinggi Sebagai Hakim Instansi Pertama dalam Perkara Kepailitan ...... 10
D. Kendala-kendala Yang Dihadapi ............................................................................................. 10
E. Kesimpulan .............................................................................................................................. 11

Materi III – Kedudukan Tagihan Buruh, Tagihan Pajak versus Kedudukan Kreditur Separatis
dalam Kepailitan Perusahaan ............................................................................................................ 12
A. Arti Kepailitan ........................................................................................................................... 12
B. Lima Golongan Kreditur dalam Kepailitan ............................................................................... 12
C. Cara Kurator Melakukan Pembayaran Kepada Para Kreditur dari Debitur Pailit .................... 14
D. Batas Waktu Tanggung Jawab Kurator terhadap Pembayaran Utang Wajib Pajak Yang Pailit
dari Harta Pailit ........................................................................................................................ 16
E. Penutup .................................................................................................................................... 16

Materi IV – Undang-Undang Kepailitan No. 37 Tahun 2004 dan Undang-Undang Perseroan


Terbatas No. 40 Tahun 2007 sehubungan dengan Penyelesaian Kewajiban Perseroan Pailit
terhadap para Krediturnya ................................................................................................................. 17
A. Pendahuluan ............................................................................................................................ 17
B. Sebagai Legal Entity, Perseroan Dapat Mengajukan Permohonan Pailit Ataupun Dimohonkan
Pailit ......................................................................................................................................... 19
C. Tidak Dilunasinya Utang Yang Telah Jatuh Tempo Merupakan Dasar dari Dapat
Dipailitkannya Sebuah PT ....................................................................................................... 24
D. Kepailitan PT bukan Kepailitan Pemegang Saham, Direksi, Dewan Komisaris, Kecuali
Terbukti Terjadinya Pelanggaran Hukum ................................................................................ 26
E. Kedudukan Hukum PT Secara Tegas Dicantumkan dalam Anggaran Dasarnya ................... 28
F. Badan Hukum Persero Yang Juga Tunduk pada Ketentuan UU No. 40 Tahun 2007, Dapat
Dipailitkan Tanpa Membutuhkan Izin Menteri Keuangan ........................................................ 29
G. PT yang sedang Dilikuidasi Akibat dari Pembubaran (Winding Up) Masih Dapat Dipailitkan 30
H. Putusan Pailit Pengadilan Indonesia Tidak Dapat Dieksekusi di Negara Asing ..................... 34

Materi V – Permasalahan terhadap Kendala Efektifitas Undang-Undang Kepailitan dan


Pemecahannya dari Sudut Pandang Kurator................................................................................... 36
A. Pendahuluan ............................................................................................................................ 36
B. Peranan Kurator dalam Kepailitan ........................................................................................... 36

vi
C. Hambatan yang Ditemui Kurator dalam Praktek ..................................................................... 37
1. Asset Tracing dan Asset Recovery ..................................................................................... 37
2. Peranan Asosiasi Kurator .................................................................................................... 40
3. Hak Panitia Kreditur vs Kewenangan Kurator ..................................................................... 41
D. Solusi Yang Ditawarkan ........................................................................................................... 41
E. Penutup .................................................................................................................................... 41

Materi VI – Peran Hakim Pengawas dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit ............... 42
A. Pendahuluan ............................................................................................................................ 42
B. Proses Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit .................................................................. 44
C. Melanjutkan Usaha (On Going Concern)................................................................................. 47
D. Rapat Verifikasi (Pencocokan Piutang) ................................................................................... 47
E. Perdamaian (Akoord) ............................................................................................................... 48
F. Insolvensi ................................................................................................................................. 50
G. Penutup .................................................................................................................................... 52

Materi VII – Permasalahan terhadap Kendala Efektifitas Undang-Undang Kepailitan dan


Pemecahannya dari Sudut Pandang Penyidik ................................................................................. 69
A. Pengertian ................................................................................................................................ 69
B. Hukum Acara UU Kepailitan .................................................................................................... 70
C. Tugas POLRI yang Berkaitan dengan Kepailitan .................................................................... 70
D. Pasal KUHP yang terkait dengan Kepailitan ........................................................................... 71
E. Permasalahan dalam Penyidikan Tindak Pidana yang Berkaitan dengan Kepailitan ............. 74
F. Kesimpulan dan Saran Pemecahan ........................................................................................ 74

Materi VIII – Pilihan dalam Hukum Kepailitan: Sudut Pandang Internasional dan Penerapannya
.............................................................................................................................................................. 76
A. Pendahuluan ............................................................................................................................ 76
B. Bagian Pertama: Pilihan-pilihan Sehubungan Dengan Implementasi ..................................... 76
1. Haruskah AKPI dan IKAPI Mencalonkan Kurator atau Pengurus Untuk Setiap Perkara? . 77
2. Dapatkah Penjualan di Bawah Tangan Berdasarkan Undang-Undang Kepailitan Dibuat
Menjadi Lebih Kompetitif dan Transparan? ........................................................................ 78
3. Haruskah Kode Etik Hakim dan Kurator/Pengurus Melarang Adanya Komunikasi Selain di
Ruang Sidang dan Melalui Jalur Resmi?............................................................................ 79
4. Haruskah Pengadilan Niaga Membuat Contoh-contoh Formulir Untuk Setiap Permohonan
yang Akan Diajukan Oleh Debitor, Kurator, Pengurus atau Kreditor di Bawah UU No. 37?
............................................................................................................................................ 80
5. Haruskah Pengadilan Niaga dan Organisasi Kurator Membuat Formulir Rujukan Kepada
Jaksa Jika Terbukti Bahwa Terjadi Pelanggaran Atas Ketentuan-ketentuan Dalam Kitab
Undang-undang Hukum Pidana Yang Berhubungan Dengan Perkara Kepailitan? ........... 81
C. Bagian Kedua: Pilihan-Pilihan Sehubungan Dengan Perubahan atau Penggantian UU No. 37
................................................................................................................................................. 82
1. Haruskah Masing-masing Pengadilan Niaga Mempunyai Kewenangan Untuk
Mengeluarkan Peraturan Lokal Mereka Sendiri Sehubungan Dengan Praktek-praktek
Kepailitan? .......................................................................................................................... 82

vii
2. Haruskah Indonesia Memperkenalkan Ketentuan Mengenai “Awal Baru/Fresh Start”
(Contohnya: Memperbolehkan Penghapusan Utang) Untuk Debitor Perorangan? ........... 83
3. Haruskah Undang-Undang Mewajibkan Bahwa Untuk Setiap Putusan Kepailitan
Diumumkan Di Internet Sebagai Syarat Keabsahan? ........................................................ 84
4. Haruskah Kreditor Yang Berhasil Mengawali Proses Perkara Diberikan Status Istimewa
Sehubungan Dengan Surat Permohonan Mereka?............................................................ 85
5. Haruskah Peringkat Dari Berbagai Tagihan Dibuat Secara Ekslusif Berdasarkan Prioritas
Yang Ada di UU Kepailitan? ............................................................................................... 85
6. Haruskah Undang-Undang Diubah Agar Dapat Mengakomodasi Prosedur Perdamaian
Yang Lebih Rumit dan Menyeluruh? .................................................................................. 87
7. Apakah Prosedur Yang Mengizinkan Kurator Untuk Membatalkan Saham Debitor Pailit,
Menerbitkan Saham Baru dan Kemudian Menjualnya Secara Cepat akan Mendorong
Likuidasi yang Lebih Cepat Dan Lebih Efisien? ................................................................. 88
8. Haruskah Suatu Proses Formal Dibentuk Untuk Menangani Kepailitan Transnasional? ... 89
9. Jika Diperlukan Perubahan Yang Besar Terhadap UU No. 37, Haruskah Perubahan
Tersebut Dalam Bentuk Undang-Undang Baru ataukah Cukup Dengan Amandemen
Terhadap Undang-Undang Yang Ada Sekarang? .............................................................. 91
D. Bagian Ketiga: Pilihan Sehubungan Dengan Lingkungan Perundang-undangan Di Luar
Kepailitan Yang Dapat Mempengaruhi Pelaksanaan UU No. 37 atau yang Menggantikannya
................................................................................................................................................. 92
1. Haruskah Pihak-pihak Swasta, Dengan Lisensi, Diizinkan Untuk Melaksanakan Putusan
Pengadilan? ........................................................................................................................ 92
2. Apakah Mengurangi Prioritas yang Diberikan Terhadap Otoritas Pajak Dapat
Meningkatkan Jumlah yang Ditagih Melalui Proses Kepailitan Melalui Peningkatan Jumlah
Pengajuan Kepailitan? ........................................................................................................ 93
3. Haruskah Likuidator Perusahaan Di Luar Proses Kepailitan Dibuat Secara Eksplisit dan
Secara Penuh Bertanggung Jawab Terhadap Utang Perusahaan? .................................. 95
E. Kesimpulan .............................................................................................................................. 95

viii
Materi I Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Kartini Muljadi, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Materi I
Sepuluh Tahun Berlakunya Peraturan Perundang-undangan Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang di Indonesia

Oleh Kartini Muljadi, S.H.

A. Catatan Pendek Sejarah Perundang-undangan Kepailitan di Indonesia

Bermanfaat kiranya jika kita mulai dengan mengingat kembali pengaturan kepailitan di
Indonesia. Sudah sejak tahun 1906, di Indonesia (ketika itu “Hindia Belanda”), berlaku
Faillissements Verordening. Mulai tahun 1997, kita mengalami terpuruknya mata uang Rupiah
dan mulainya krisis ekonomi dan keuangan. Maka, dirasakan perlu untuk antara lain
mengadakan perbaikan/penyempurnaan peraturan perundang-undangan kepailitan. Pada
tanggal 22 April 1998, Faillissements Verordening tersebut diubah dengan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang (“Perpu”) No. 1 Tahun 1998 dan perubahan tersebut berlaku sejak
tanggal 20 Agustus 1998. Perpu tersebut kemudian diberlakukan sebagai undang-undang oleh
Undang-undang No. 4 Tahun 1998. Saya anggap tahun 1998 ini sebagai titik awal peraturan
kepailitan nasional. Pada tanggal 18 Oktober 2004 mulai berlaku Undang-Undang No. 37 Tahun
2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Pasal 307 Undang-
Undang No. 37 Tahun 2004 ini mencabut dan menyatakan tidak berlaku Faillissements
Verordening dan Undang-Undang No. 4 Tahun 1998.

B. Apakah Banyak Perkara Kepailitan Yang Telah Masuk Pengadilan Niaga? Jika
Tidak, Mengapa?

Hemat saya, belum banyak permohonan pernyataan pailit diajukan pada Pengadilan
Niaga di tahun-tahun belakangan ini. Apakah hal ini pertanda baik bahwa banyak Debitor
menepati kewajiban pembayaran utang mereka? Jika benar, hal ini merupakan suatu kemajuan
bagi dunia perbankan kita dan dunia usaha kita pada umumnya.
Ataukah kecilnya jumlah permohonan pernyataan pailit yang diajukan itu, disebabkan
karena UU No. 4 Tahun 1998 dan UU No. 37 tahun 2004 (“UU Kepailitan”) telah diberlakukan,
dan peraturan kepailitan ini memang memenuhi tujuannya untuk memberikan perlakuan yang
adil dan seimbang, baik bagi Kreditor maupun bagi Debitor, dan dengan demikian mengurangi
risiko bagi pihak yang meminjamkan dana kepada pihak lain?
Namun, hemat saya, sedikit sekali Kreditor dan Debitor mengajukan permohonan
kepailitan ke Pengadilan Niaga karena alasan utama sebagai berikut:
1. Saya peroleh kesan bahwa pencari keadilan kurang percaya pada jalannya peradilan
di Indonesia, dan pada konsistensi putusan Pengadilan Niaga;
2. Masing-masing pihak dalam perkara saling mencurigai pihak lainnya, karena mengira
bahwa pihak lawan mempunyai hubungan tertentu yang lebih baik dengan pihak,
yang baik langsung maupun tidak langsung, mempunyai hubungan di Pengadilan
Niaga, sehingga lebih mudah untuk memenangkan perkaranya walaupun sebenarnya
pihak lain tersebut tidak mempunyai posisi hukum yang kuat untuk memenangkan
perkaranya;
3. Selain alasan tersebut di atas, Debitor sendiri enggan mengajukan permohonan pailit,
karena kepailitan menunjukkan antara lain kegagalan Debitor dalam menjalankan
usahanya sebagaimana mestinya. Lagipula, akibat dinyatakan pailit, Debitor, demi
hukum kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang
termasuk harta pailit, sejak tanggal Putusan Pernyataan Pailit diucapkan. Yang
kemudian melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit adalah Kurator di
bawah pengawasan Hakim Pengawas (Pasal 24 dan Pasal 16 UU No. 37 Tahun 2004
tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). Mengingat
Putusan Pernyataan Pailit bersifat serta merta, maka baik upaya hukum kasasi
maupun peninjauan kembali tidak dapat mencegah terjadinya status pailit Debitor
tersebut di atas, sejak tanggal Putusan Pailit diucapkan;

1
Materi I Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Kartini Muljadi, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

4. Memang perkara kepailitan yang diajukan ke Pengadilan Niaga jumlahnya tidak


begitu banyak jika dibandingkan dengan jenis perkara lainnya. Karenanya, tidak dapat
diperoleh banyak yurisprudensi atau tulisan tentang kepailitan yang dapat membantu
para Hakim, Advokat, Kurator, Pengurus dan pihak lainnya untuk mengembangkan
pengetahuan dan pengalaman mereka dalam menangani dan menyelesaikan perkara
kepailitan. Dengan demikian, penyelesaian perkara kepailitan jarang berjalan lancar
sebagaimana diharapkan masyarakat pencari keadilan. Lagipula, terkesan ada
keterlambatan yang mengganggu pada waktu Pengadilan Niaga memutuskan perkara
permohonan pailit, mengeluarkan salinan putusan Pengadilan Niaga, putusan Kasasi
dan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung. Keterlambatan ini dapat mengakibatkan
ketidakpastian hukum.
5. Juga aspek biaya, yang mungkin membuat suatu pihak enggan untuk mengajukan
perkara kepailitan. Kenyataannya memang proses penyelesaian perkara pailit
membutuhkan biaya yang tidak kecil dan waktu yang relatif lama. Tampaknya muda
untuk menyatakan Debitor pailit karena secara teoritis menurut Pasal 2 UU Kepailitan,
hanya diperlukan bukti sederhana bahwa Debitor mempunyai 2 (dua) atau lebih
Kreditor dan Debitor tidak membayar lunas sedikit-dikitnya satu utangnya yang telah
jatuh waktu dan dapat ditagih.
6. Namun, menurut hemat saya, kendala utama bagi pihak-pihak untuk mengajukan
permohonan pernyataan pailit, adalah proses hukum berikutnya yang harus dijalani
untuk melaksanakan Putusan Pernyataan Pailit. Inilah yang pada kenyataannya
sangat sulit, rumit, dan sering terkesan bertele-tele sebagaimana akan diuraikan di
bawah ini.

a. Proses pencocokan piutang (verifikasi)

Menurut Pasal 26 & Pasal 27 UU Kepailitan, suatu tuntuntan mengenai hak dan
kewajiban yang menyangkut harta pailit harus diajukan oleh atau terhadap
Kurator, jadi tidak dapat langsung terhadap Debitor.
Tuntutan untuk memperoleh pemenuhan suatu perikatan dari harta pailit,
hanya dapat diajukan dengan mendaftarkannya untuk dicocokkan atau
verifikasi. Verifikasi diatur dalam Pasal 113 sampai dengan Pasal 143 UU
Kepailitan.
Proses verifikasi tidak sederhana karena ada piutang yang diakui dan ada yang
dibantah oleh Kurator. Dalam hal ada bantahan, dan Hakim Pengawas tidak
dapat mendamaikan Kreditor yang piutangnya dibantah oleh Kurator, maka
Hakim Pengawas dapat memerintahkan agar kedua belah pihak menyelesaikan
sengketa tersebut di Pengadilan Negeri (proses renvooi).
Kalau memang diajukan kepada Pengadilan Negeri, dan diputuskan oleh
Pengadilan Negeri, maka terhadap Putusan Pengadilan Negeri dalam perkara
tersebut, masih ada upaya hukum banding, kasasi, dan peninjauan kembali yang
dapat dilakukan sehingga prosesnya makin lama (Pasal 127 UU Kepailitan).
Jadi, proses verifikasi piutang dapat memerlukan waktu yang lama.
b. Proses perdamaian

Selanjutnya ada proses perdamaian (accoord). Sebagaimana diatur di dalam


Pasal 144 sampai dengan pasal 177 UU Kepailitan, Debitor berhak untuk
menawarkan suatu perdamaian kepada semua Kreditor.
Rencana perdamaian dibicarakan dalam Rapat Kreditor untuk dapat diterima
atau ditolak oleh Rapat Kreditor.
Kemudian usul perdamaian yang diterima baik oleh Rapat Kreditor tersebut
diajukan ke Pengadilan Niaga untuk disahkan (homologatie). Pengadilan Niaga
dapat menolak atau mengesahkan usul perdamaian tersebut.

2
Materi I Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Kartini Muljadi, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Jika Pengadilan Niaga menolak mengesahkan perdamaian, baik Kreditor yang


menyetujui perdamaian maupun Debitor pailit dalam waktu 8 (delapan) hari
setelah tanggal putusan Pengadilan diucapkan, dapat mengajukan kasasi
terhadap Putusan Pengadilan Niaga tersebut ke Mahkamah Agung (Pasal 160
ayat (1) UU Kepailitan).
Jika Pengadilan Niaga mengabulkan pengesahan perdamaian, maka terhadap
putusan tersebut dalam waktu 8 (delapan) hari setelah tanggal putusan
Pengadilan diucapkan, dapat diajukan kasasi oleh Kreditor yang menolak
perdamaian atau yang semula menyetujui perdamaian namun kemudian
mengetahui bahwa perdamaian dicapai karena penipuan (Pasal 160 ayat (2) UU
Kepailitan).
c. Proses pemberesan

Proses pemberesan harta pailit (vereffening) diatur dalam Pasal 178 sampai
dengan Pasal 203 UU Kepailitan. Menurut Pasal 178 ayat (1), jika dalam Rapat
Pencocokan Piutang tidak ditawarkan rencana perdamaian atau rencana
perdamaian yang ditawarkan tidak diterima atau pengesahan perdamaian ditolak
berdasarkan Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, maka demi hukum
harta pailit dalam keadaan insolven.
Lantas Hakim Pengawas mengadakan Rapat Kreditor untuk mengatur cara
pemberesan harta pailit (Pasal 187 UU Kepailitan). Kurator wajib menyusun dan
menyerahkan daftar pembagian harta pailit kepada Kreditor yang piutangnya
sudah dicocokkan. Daftar Pembagian tersebut harus disetujui oleh Hakim
Pengawas (Pasal 189 UU Kepailitan).
Terhadap Daftar Pembagian tersebut, Kreditor dapat mengajukan perlawanan ke
Pengadilan Niaga (Pasal 193 UU Kepailitan). Terhadap Putusan Pengadilan
Niaga atas perlawanan tersebut Kreditor/Kurator berhak mengajukan kasasi
(Pasal 196 UU Kepailitan).
Kepailitan baru berakhir setelah kepada Kreditor yang telah dicocokkan
dibayarkan penuh piutang mereka atau segera setelah daftar pembagian penutup
menjadi mengikat (Pasal 202 UU Kepailitan).
Dari uraian di atas, ternyata bahwa proses sejak diucapkannya Putusan
Pernyataan Pailit sampai berakhirnya kepailitan membutuhkan biaya dan waktu
yang tidak sedikit.
Oleh karenanya, kita seringkali melihat bahwa baik Debitor maupun Kreditor lebih
memilih jalan untuk berdamai dan menyelesaikan perselisihan mereka di luar
pengadilan daripada mengajukan permohonan pailit ke Pengadilan Niaga.
7. Alasan lain yang menyebabkan pencari keadilan enggan mengajukan permohonan
pailit ke Pengadilan Niaga, mungkin karena sering terjadi sikap Hakim Pengawas
yang tidak konsisten sebagaimana tampak dalam kasus di bawah ini.
Suatu Perseroan Terbatas (“PT Debitor”) dinyatakan pailit berdasarkan putusan
Pengadilan Niaga yang telah berkekuatan hukum tetap dan putusan peninjauan
kembali Mahkamah Agung tetap menyatakan pailit PT Debitor.
Setelah PT Debitor dinyatakan pailit, maka diselenggarakan Rapat Kreditor untuk
membicarakan rencana perdamaian yang diajukan oleh PT Debitor. Rapat ini
menerima baik rencana perdamaian yang diajukan oleh PT Debitor. Kemudian
Pengadilan Niaga menjatuhkan putusan mensahkan perdamaian yang berkekuatan
hukum tetap (Putusan Homologasi Perdamaian).
Kurator telah mengumumkan Putusan Homologasi Perdamaian tersebut dalam Berita
Negara Republik Indonesia dan dalam 2 (dua) surat kabar harian yang ditunjuk oleh
Hakim Pengawas.

3
Materi I Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Kartini Muljadi, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Setelah tanggal Putusan Homologasi Perdamaian diucapkan dan diumumkan,


ternyata PT Debitor menawarkan kepada para Kreditor separatis PT Debitor suatu
rencana perdamaian terhadap utang yang dijamin (juga disebut “Secured Debt
Restructuring Plan”). Ternyata mayoritas Kreditor separatis kemudian menyetujui
Secured Debt Restructuring Plan tersebut. Tetapi, ada 2 (dua) Kreditor separatis yang
tidak menyetujuinya (mereka kita sebut dengan “PT A” dan “PT B”), sehingga Secured
Debt Restructuring Plan tidak dapat dilaksanakan.
Atas permohonan Kurator, Hakim Pengawas mengeluarkan penetapan (kita sebut
“Penetapan I”) dengan pertimbangan hukum yang pada pokoknya menyatakan bahwa
karena PT A dan PT B tidak menyetujui Secured Debt Restructuring Plan, maka hal
ini mengganggu keseluruhan proses restrukturisasi utang Kreditor separatis lain pada
khususnya, dan semua Kreditor pada umumnya, berdasarkan rencana perdamaian
yang telah disahkan oleh Pengadilan Niaga.
Selanjutnya dipertimbangkan, bahwa Undang-undang Kepailitan bertujuan untuk
memenuhi rasa keadilan bagi semua pihak yang berkepentingan dan untuk mencegah
kesewenang-wenangan pihak Kreditor yang mengusahakan pembayaran atas
tagihannya masing-masing tanpa mempedulikan Kreditor lainnya.
Diktum Penetapan Hakim Pengawas berbunyi sebagai berikut:
“Menyatakan perjanjian perdamaian yang telah dihomologasi pada tanggal 16
Nopember 2005, dan rencana perdamaian terhadap utang yang dijamin/Secured Debt
Restructuring Plan tertanggal 29 Nopember 2005, yang ditawarkan oleh PT Debitor
kepada Kreditor Separatis adalah sah dan mengikat semua Kreditor baik Kreditor
konkuren maupun Kreditor separatis termasuk Kreditor separatis yang tidak
menyetujui Secured Debt Restructuring Plan (PT A dan PT B).”
Kemudian, PT A dan PT B sebagai Kreditor separatis mengajukan keberatan atas
Penetapan I tersebut di atas, dengan alasan bahwa PT A dan PT B sebagai Kreditor
separatis tidak menyetujui Secured Debt Restructuring Plan yang diajukan PT Debitor.
Kira-kira dua bulan setelah Penetapan I dikeluarkan, Hakim Pengawas yang sama
mengeluarkan Penetapan lagi yang merevisi Penetapan I (kita sebut “Penetapan II”).
Pertimbangan hukum Penetapan II antara lain menyebutkan Pasal 162 UU Kepailitan
yang berbunyi sebagai berikut:
“Perdamaian yang disahkan berlaku bagi semua Kreditor yang tidak mempunyai hak
untuk didahulukan, tanpa ada pengecualian, baik yang telah mengajukan diri dalam
kepailitan maupun tidak. Selanjutnya, dipertimbangkan bahwa Kreditor separatis yang
tidak menyetujui Secured Debt Restructuring Plan tidak dapat dipaksa untuk diikat
dan harus dikeluarkan dari Secured Debt Restructuring Plan tersebut.”
Hakim Pengawas tersebut memakai secara analogi Pasal 281 UU Kepailitan.
Diktum Penetapan II berbunyi:
• Menyatakan perjanjian perdamaian yang telah dihomologasi melalui Putusan
Homologasi nomor _______ tanggal ______ mengikat seluruh Kreditor
Konkuren tanpa terkecuali baik yang telah mengajukan diri dalam kepailitan
maupun tidak.
• Menyatakan Rencana Perdamaian terhadap hutang yang dijamin (Secured
Debt Restructuring Plan) tanggal ____ yang ditawarkan oleh PT Debitor
kepada seluruh Kreditor separatis, adalah sah dan mengikat kepada Kreditor
separatis yang telah menyetujui Rencana Perdamaian tersebut.”
Adapun pendapat saya atas Penetapan I dan Penetapan II tersebut adalah sebagai
berikut:
“Penetapan I dan Penetapan II tidak sesuai dengan tugas Hakim Pengawas,
sebagaimana diatur di dalam Undang-undang Kepailitan.”

4
Materi I Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Kartini Muljadi, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Dalam Putusan Pernyataan Pailit diangkat Hakim Pengawas yang bertugas untuk
mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit (Pasal 15 dan Pasal 65 UU
Kepailitan). Peran Hakim Pengawas krusial dalam proses penyelesaian kepailitan,
dan Hakim Pengawas harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Undang-
undang Kepailitan. Berdasarkan Pasal 166 UU Kepailitan, jika Putusan Pengadilan
mengenai pengesahan perdamaian (homologasi) telah berkekuatan hukum tetap,
maka kepailitan berakhir. Perdamaian tersebut wajib diumumkan oleh Kurator dalam
Berita Negara Republik Indonesia dan dalam 2 (dua) surat kabar harian yang
ditetapkan oleh Hakim Pengawas. Kurator wajib memberikan pertanggungjawaban
kepada Debitor dihadapan Hakim Pengawas dan Kurator wajib mengembalikan
kepada Debitor benda yang termasuk harta pailit (Pasal 167 UU Kepailitan). Dari
ketentuan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa Tugas Hakim Pengawas adalah
mengawasi pengurusan serta pemberesan harta pailit. Dengan adanya putusan
homologasi atas perdamaian, kepailitan berakhir. Jika pemberesan harta pailit selesai,
maka selesai pulalah tugas Hakim Pengawas. Debitor kembali berhak menguasai dan
mengurus kekayaannya sendiri. Jika masih ada Kreditor, Kreditor dapat menggugat
Debitor di Pengadilan Negeri sebagai gugatan perdata biasa.
Penetapan Hakim Pengawas yang menyatakan sah perdamaian sebenarnya tidak
diperlukan karena sudah ada putusan Pengadilan Niaga yang mensahkan
perdamaian tersebut. Hakim Pengawas juga tidak perlu menetapkan bahwa Secured
Debt Restructuring Plan mengikat semua Kreditor Separatis termasuk PT A dan PT B
yang tidak menyetujuinya. Untunglah kesalahan dalam Penetapan I diperbaiki dalam
Penetapan II. Perdamaian yang sudah disahkan tersebut tidak mengikat Kreditor yang
didahulukan (Kreditor yang dijamin dengan gadai, fidusia, hak tanggungan dan hipotik
serta Kreditor yang diistimewakan). Maka, diktum dalam Penetapan I adalah salah.
Syukurlah kekeliruan tersebut diperbaiki di dalam Penetapan II.
8. Sebelumnya, saya sudah kemukakan bahwa kurangnya pengajuan permohonan
pernyataan kepailitan, antara lain disebabkan karena pencari keadilan kurang percaya
pada jalannya peradilan di Indonesia dan pada konsistensi putusan Pengadilan
Niaga.
Apakah Putusan Kasasi Mahkamah Agung dalam perkara yang akan dibahas di
bawah ini merupakan salah satu alasan?
Suatu perseroan terbatas yang berpiutang atau Kreditor, mengajukan permohonan
kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri X terhadap Debitornya, agar
Debitor itu dinyatakan pailit. Kreditor bukan Kreditor dengan hak untuk didahulukan,
tetapi suatu Kreditor Konkuren. Petitum permohonan pailit yang diajukan itu berbunyi,
antara lain, sebagai berikut:
a. Mengabulkan permohonan pailit untuk seluruhnya;
b. Menyatakan debitor dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya;
c. Menunjuk Q sebagai kurator;
d. Menghukum debitor supaya membayar hutangnya kepada pemohon pailit,
Kreditor, sebesar US$ 25.000 (dua puluh lima ribu dollar Amerika Serikat).
Termohon (Debitor) kemudian menolak semua dalil Pemohon (Kreditor). Kemudian,
Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri X menjatuhkan putusan yang menolak
seluruh permohonan Kreditor. Selanjutnya, Kreditor mengajukan kasasi ke Mahkamah
Agung. Mahkamah Agung kemudian menjatuhkan putusan dengan diktum sebagai
berikut:
Mengadili:
a. Mengabulkan permohonan kasasi dari pemohon kasasi (Kreditor);
b. Membatalkan Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri X tanggal ____,
nomor _____.

5
Materi I Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Kartini Muljadi, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

MENGADILI SENDIRI:
1. Mengabulkan permohonan pailit untuk seluruhnya;
2. Menyatakan debitor dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya;
3. Menunjuk Q sebagai kurator;
4. Menghukum debitor untuk membayar hutang kepada pemohon pailit (Kreditor)
sebesar US$ 25.000 (dua puluh lima ribu dollar Amerika Serikat);
5. Menghukum termohon kasasi untuk membayar biaya perkara,…….dan
sebagainya
Perlu dipertanyakan, mengapa dalam Putusan Kasasi ini tidak ada diktum
pengangkatan Hakim Pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (i)
Undang-undang Kepailitan? Tentunya ini merupakan kelalaian yang sangat
mengganggu.
Lagipula, diktum yang berbunyi: menghukum Debitor untuk membayar utangnya
kepada Pemohon Pailit/Kreditor sebesar US$ 25.000 (selanjutnya disebut dengan
“Diktum nomor 4”) tidak sesuai dengan Undang-undang Kepailitan, yakni:
a. Asas di dalam Undang-undang Kepailitan
Dalam Penjelasan Umum Undang-undang Kepailitan dikemukakan bahwa:
1. Sebab perlunya diadakan pengaturan mengenai kepailitan dan penundaan
kewajiban pembayaran utang (PKPU) adalah untuk menghindari perebutan
harta Debitor, apabila pada waktu yang sama ada beberapa Kreditor yang
menagih piutangnya dari Debitor dan untuk menghindari adanya Kreditor
pemegang hak jaminan kebendaan yang menuntut haknya dengan cara
menjual milik Debitor tanpa memperhatikan kepentingan Debitor atau para
Kreditor lainnya.
2. Kalau kita teliti, maka asas-asas Undang-undang Kepailitan adalah:
a) Asas keseimbangan. Dalam Undang-undang Kepailitan terdapat
ketentuan yang merupakan perwujudan asas keseimbangan, yaitu di satu
pihak terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya
penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh Debitor yang tidak
jujur. Di lain pihak, terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya
penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh Kreditor yang
beritikad tidak baik.
b) Asas keadilan. Asas keadilan ini adalah untuk mencegah terjadinya
kesewenangan pihak penagih utang yang mengusahakan penerimaan
pembayaran atau realisasi tagihan masing-masing terhadap Debitor
tanpa menghiraukan Kreditor lainnya.
Jadi, Undang-undang Kepailitan bermaksud memberikan perlakuan yang baik dan
seimbang kepada para Kreditor. Para Kreditor dengan peringkat yang sama harus
mendapat perlakuan yang sama, jadi dihindarkan tindakan yang diskriminatif.
Undang-undang Kepailitan sangat mendukung perlakuan yang seimbang dan
bukan perlombaan dimana Kreditor yang pertama menagih dibayar didahulukan
dan dibayar seluruh tagihannya.
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa diktum Putusan Pailit yang
menghukum Debitor untuk membayar seluruh tagihan satu Kreditor Konkuren,
sangat tidak adil dan bertentangan dengan maksud dan tujuan pengaturan
kepailitan dan asas keseimbangan yang diusahakan oleh Undang-undang
Kepailitan.

6
Materi I Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Kartini Muljadi, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

b. Diktum nomor 4 melanggar ketentuan tentang pencocokan piutang


Pencocokan piutang diatur dalam Pasal 113 sampai dengan Pasal 143 UU
Kepailitan. Pencocokan atau verifikasi tagihan adalah suatu proses untuk
menentukan nilai suatu tagihan, proses untuk mengakhiri atau menolak
(mempersengketakan) adanya suatu tagihan.
Dalam kasus yang kita bahas sekarang ini, Kreditor sebagai pemohon pailit
merupakan Kreditor Konkuren. Kreditor tersebut tidak dijamin dengan gadai,
jaminan fidusia, hak tanggungan atau hipotik, dan bukan Kreditor dengan hak
istimewa, dan karenanya Kreditor ini baru akan dibayar tagihannya setelah semua
Kreditor lainnya dengan peringkat piutang yang lebih tinggi menerima
pembayaran. Karenanya, pada umumnya, Kreditor Konkuren hanya akan
menerima sebagian kecil tagihan mereka.
Pada Pasal 27 UU Kepailitan disebutkan bahwa selama berlangsungnya
kepailitan, tuntutan untuk memperoleh pemenuhan perikatan dari harta pailit yang
diajukan terhadap Debitor pailit hanya dapat diajukan dengan mendaftarkannya
untuk dicocokkan (verifikasi) dalam Rapat Verifikasi. Kemudian, di Pasal 115 ayat
(1) UU Kepailitan disebutkan bahwa semua Kreditor wajib menyerahkan
piutangnya masing-masing kepada Kurator disertai perhitungan atau keterangan
tertulis lainnya yang menjukkan sifat dan jumlah piutang, disertai dengan suatu
bukti atau salinannya, dan surat pernyataan ada atau tidaknya Kreditor yang
mempunyai hak istimewa, hak gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotik,
hak agunan atas kebendaan lainnya, atau hak untuk menahan benda. Jadi,
sebelum dicocokkan atau sebelum “diverifikasi”, tidak dapat langsung diputuskan
dalam suatu Putusan pernyataan Pailit besarnya tagihan yang harus dibayar
Debitor pailit kepada Kreditor.
Tagihan kreditor yang besarnya US$ 25.000 adalah tagihan dalam mata uang
asing dan perlu dirujuk kepada Pasal 139 UU Kepailitan. Pasal tersebut
menyebutkan bahwa pada pokoknya piutang yang tidak dinyatakan dalam mata
uang Republik Indonesia wajib dicocokkan sesuai dengan nilai taksirannya dalam
mata uang Republik Indonesia. Penetapan nilai piutang ke dalam mata uang
Republik Indonesia tersebut dilakukan berdasarkan nilai yang berlaku pada
tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan.
Rapat Kreditor yang diadakan untuk verifikasi yang akan menentukan berapa nilai
mata uang dollar Amerika Serikat dalam Rupiah pada waktu Putusan Pailit
diucapkan. Kemungkinan ada tagihan yang diakui ada pula tagihan yang
dibantah. Jika ada bantahan sedangkan Hakim Pengawas tidak dapat
mendamaikan Debitor dan Kreditor yang tagihannya dibantah, maka Hakim
Pengawas memerintahkan mereka untuk menyelesaikan sengketa di Pengadilan
Negeri (Pasal 127 Undang-undang Kepailitan). Menurut penjelasan Pasal 127
tersebut, yang dimaksud dengan pengadilan adalah Pengadilan Negeri,
Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung. Ini berarti terhadap putusan sengketa
sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 127 dapat diajukan banding, kasasi, dan
peninjauan kembali. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Diktum nomor 4
menyalahi ketentuan tentang “verifikasi”.
Upaya hukum terhadap putusan hakim yang telah berkekuatan hukum tetap
dalam kasus ini adalah dengan mengajukan permohonan peninjauan kembali
(PK) ke Mahkamah Agung sebagaimana diatur di dalam Pasal 14 juncto Pasal 12,
Pasal 13 serta Pasal 295 UU Kepailitan. Alasan untuk mengajukan PK diatur di
dalam Pasal 295 UU Kepailitan yang yakni jika setelah perkara diputus ditemukan
bukti baru yang bersifat menentukan yang pada waktu diperiksa di Pengadilan
sudah ada, tapi belum ditemukan atau dalam Putusan hakim yang bersangkutan
terdapat kekeliruan yang nyata. Diktum nomor 4 merupakan kekeliruan Hakim
yang nyata.

7
Materi I Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Kartini Muljadi, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Jangka waktu untuk mengajukan PK dengan alasan “kekeliruan yang nyata” diatur
di dalam Pasal 296 ayat (2) huruf b UU Kepailitan, yaitu dalam jangka waktu
paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan PK
itu memperoleh kekuatan hukum tetap.
Sebenarnya Pasal 296 ayat (2) tersebut di atas harus ditambah dengan kalimat:
“dan setelah Putusan yang dimohonkan PK diberitahukan kepada pihak
berpekara”.
Silahkan membaca Pasal 69 huruf c Undang-undang No. 14 tahun 1985 jo.
Undang-undang No. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung (selanjutnya
disebut sebagai “UU Mahkamah Agung”).
Alasan untuk PK tercantum di dalam Pasal 295 ayat (2) huruf a UU Kepailitan juga
tidak tegas menyebutkan bahwa bukti baru tersebut harus bukti yang tertulis
(novum) sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 67 huruf b UU Mahkamah Agung.
Apakah memang bukti baru yang dimaksud dalam Pasal 295 ayat (2) huruf a
tersebut meliputi juga bukti tidak tertulis? Misalnya saksi? Pertanyaan ini sukar
untuk dijawab karena tidak ada penjelasan di dalam Pasal 295 UU Kepailitan
tersebut. Kita semua berharap kasus ini dapat diselesaikan sesuai dengan rasa
keadilan dan tanpa merugikan pihak manapun.
Perkenankan saya menambahkan beberapa saran kepada Pengadilan Niaga agar
Pengadilan Niaga dapat lebih efektif melayani kebutuhan masyarakat usaha di Indonesia dalam
masa sulit sekarang ini yang kelihatannya juga akan menimbulkan banyak perkara kepailitan.
1. Sebaiknya Pengadilan Niaga lebih menaati displin waktu dalam memeriksa dan
memutuskan perkara permohonan pailit di semua tingkat Pengadilan Niaga, baik dalam
kasasi dan upaya hukum khusus “PK”, serta memegang teguh waktu-waktu
penyampaian salinan putusan/memori kasasi/PK/kontra memori kasasi/PK kepada
pihak-pihak yang berpekara dan juga kurator. Sedih sekali sampai saat ini, hal-hal
tersebut selalu terlambat khususnya dari Mahkamah Agung. Keterlambatan memutuskan
perkara ataupun menyampaikan salinan putusan akan mengakibatkan ketidakpastian
hukum dan melanggar asas transparansi, karena putusan pailit bersifat serta merta.
Misalnya dalam hal yang dipailitkan tersebut adalah PT Tbk, maka akan terjadi
kekacauan jika status pailit PT tersebut diketahui oleh publik 6 (enam) bulan kemudian
setelah tanggal putusan diucapkan. Ketepatan waktu bersidang di Pengadilan Niaga
yang tidak indispliner, seperti panggilan untuk sidang pukul 10.00 WIB, tetapi dalam hal
kenyataan sidang Pengadilan dimulai pada pukul 12.00 WIB. Hal ini akan sangat
mempengaruhi disiplin dalam persidangan di lingkungan semua Pengadilan serta
mempengaruhi ketidakpastian hukum dalam pelaksanaannya.
2. Indonesia ternyata tidak dapat menghindar dari keadaan ekonomi dan finansial global
yang sangat memprihatinkan yang dampaknya sudah mulai kita rasakan. Maka,
sebaiknya kita segera mempersiapkan diri membaca, mempelajari pengaturan
pelaksanaan kepailitan serta pengaturan hak-hak dan kedudukan buruh dalam
kepailitan, karena pengaturan ini hampir pasti dibutuhkan baik oleh dunia usaha maupun
karyawan pada umumnya.

8
Materi II Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Prof. DR. Paulus Effendie Lotulung, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Materi II
Pemikiran tentang Penyempurnaan Undang-Undang Kepailitan
dari segi Prosedural

Oleh Prof. DR. Paulus Effendie Lotulung, S.H. 1

A. Pengantar

Sebagaimana kita ketahui pranata kepailitan sudah lama ada (sejak 1905 yaitu
Faillessements Verordening Staatsblad tahun 1905 No. 217 juncto Staatsblad 1906 No. 348)
yang kemudian beberapa kali diubah, namun dalam praktek peradilan tidak begitu populer,
sebab prosedurnya yang tidak mudah. Dalam beberapa penelitian melalui data statistik perkara
di pengadilan, jumlahnya tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan perkara-perkara perdata
pada umumnya.
Pembaruan dalam hukum kepailitan di Indonesia diawali sejak tahun 1998 dengan
keluarnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) Nomor 1 Tahun 1998
yang diundangkan pada tanggal 22 April 1998 dan dinyatakan berlaku 120 hari kemudian.
Penerbitan PERPU Nomor 1 Tahun 1998 tersebut secara politis yuridis adalah merupakan
langkah penanggulangan dalam rangka mengatasi dan usaha menyikapi krisis ekonomi yang
melanda Indonesia saat itu, dengan mendasarkan pada konsideran/pertimbangan adanya
keadaan darurat/memaksa.
Dengan disertai perubahan-perubahan yang mendasar, diharapkan bahwa prosedur
hukum melalui proses kepailitan di badan peradilan pada waktu itu dapat menjadi upaya
perangkat hukum untuk mengatasi krisis moneter, dengan secepatnya memberikan terapi
psikologis dalam rangka pemulihan kepercayaan bagi perspektif penyelesaian utang-piutang
agar ada kepastian hukum.
PERPU No. 1 Tahun 1998 tersebut kemudian ditingkatkan menjadi Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 1998 dengan isi substansi, dan prosedur, maupun struktur organisasi yang
sama sebagai bentuk perubahan terhadap peraturan Kepailitan yang lama, yaitu Faillessements
Verordening tahun 1905 tersebut diatas.
Perkembangan kemudian sejak tahun 1998 dalam praktek pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 1998 tersebut dengan berbagai pertimbangan dan konsideran membawa
penyempurnaan hukum kepailitan dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang berlaku
hingga sekarang.
Dari perbandingan terhadap peraturan kepailitan yang mengalami ”re-inkarnasi” sejak
1905 sampai sekarang, dapat dikatakan telah menunjukkan adanya beberapa perkembangan
secara substantif, prosedural maupun organisatoris yang menyangkut aspek hukumnya.
Namun dengan melihat pada beberapa segi dalam praktek pelaksanaannya, terutama
dari segi proses peradilan, penulis merasakan adanya suatu perubahan prinsipiil dalam sistem
jenjang pemeriksaannya yang dapat menjadi wacana perubahan menuju penyempurnaannya
peraturan kepailitan. Sudah barang tentu wacana perubahan ini akan mengandung implikasi-
implikasi dan konsekwensi-konsekwensi yang perlu dipikirkan dan diatasi agar dapat
direalisasikan.

B. Pertimbangan Perlunya Perubahan Sistem Pemeriksaan

Sesuai dengan hukum positif yang berlaku, yaitu Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004,
perkara permohonan kepailitan diajukan dalam pemeriksaan tingkat pertama ke Pengadilan

1
Ketua Muda Mahkamah Agung RI dan Ketua Tim Pembaharuan Mahkamah Agung RI. Makalah disampaikan pada Seminar
Nasional tentang Hukum Kepailitan yang diselenggarakan oleh AKPI (Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia) dan In-ACCE
USAID (Indonesia Anti Corruption & Commercial Court Enhancement Project) di Jakarta pada tanggal 29 Oktober 2008.
9
Materi II Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Prof. DR. Paulus Effendie Lotulung, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Niaga. 2 Upaya hukum yang terbuka terhadap putusan tingkat pertama tersebut adalah langsung
upaya hukum kasasi dan selanjutnya bisa Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung.
Sehingga, karenanya tidak terbuka adanya pemeriksaan banding di Pengadilan Tinggi.
Sistem penjenjangan pemeriksaan yang demikian, dalam tataran prakteknya memang
menguntungkan dari segi kecepatan proses perkara yang memang menjadi salah satu asas
prosedur kepailitan agar ada kepastian hukum yang cepat. Tetapi dari sudut pandang yang
lain, jenjang pemeriksaan yang demikian juga dapat menimbulkan aspek negatif yang lain,
yaitu:
1. Kerugian sistem karir bagi hakim khusus kepailitan yang telah menempuh pendidikan
kekhususan (dengan mendapat pengangkatan Surat Keputusan yang khusus) dan
menjalani praktek memutus perkara kepailitan dalam tingkat pertama dengan segala
tingkat kesulitannya dan kompleksitasnya kasus kepailitan. Apabila hakim yang
bersangkutan mendapat promosi diangkat sebagai Hakim Tinggi maka terputuslah ilmu
dan pengalamannya sebagai hakim kepailitan, yang sudah dipersiapkan dan investasi
susah payah sebagai hakim khusus kepailitan selama beberapa tahun. Pengalaman dan
kekhususannya dalam hukum kepailitan, baru akan kembali diterapkannya manakala
diangkat sebagai Hakim Agung di Mahkamah Agung (Itupun kalau ada kesempatan dan
keberuntungannya diangkat sebagai Hakim Agung !).
2. Pengalaman dan kekhususan dalam hukum kepailitan yang diperoleh hakim-hakim
tingkat pertama seolah-olah tidak akan dimanfaatkan lagi dalam posisinya sebagai
hakim tinggi di Pengadilan Tinggi karena tidak akan ada kasus-kasus tingkat banding
tentang perkara kepailitan yang akan mereka tangani dalam praktek peradilan. Hal ini
juga merupakan kerugian bagi perkembangan keilmuan mereka yang sudah
diinvestasikan dengan susah payah, dan tidak ada kesempatan untuk
mengamalkannya.

C. Peranan Pengadilan Tinggi Sebagai Hakim Instansi Pertama dalam Perkara


Kepailitan

Aspek negatif apabila Pengadilan Tinggi tidak diberdayakan sebagai pemutus perkara
kepailitan, dapat dihindari dengan mengubah sistem pemeriksaan perkara kepailitan dengan
menjadikan Pengadilan Tinggi sebagai lembaga pemeriksa tingkat pertama (judex factie).
Keuntungan dari sistem demikian adalah sebagai berikut:
1. Pengalaman dan penguasaan ilmu hukum serta jam terbangnya yang tinggi sebagai
hakim akan banyak menentukan arah penyelesaian dan perkembangan hukum dalam
putusan-putusannya.
2. Sistem karir dalam promosi ataupun mutasi jabatannya tidak terhambat sebab ada
jaminan kelangsungan pengalamannya yang khusus dan profesionalisme dalam
memutus perkara-perkara kepailitan.

D. Kendala-kendala Yang Dihadapi

Apabila sistem tersebut akan diterapkan, maka dengan melihat pada sistem yang berlaku
sekarang, akan dapat menimbulkan kendala-kendala atau implikasi negatif yang perlu
diantisipasi.
Pengadilan Tinggi sebagai lembaga peradilan banding dalam sistem yang berlaku
sekarang, tidak mempunyai jurusita yang akan melakukan panggilan-panggilan atau tindakan-
tindakan lain yang harus dilakukan oleh seorang juru sita. Secara umum, Pengadilan Tinggi tidak
dilengkapi dengan unit-unit atau petugas sebagai aparat di Pengadilan tingkat pertama. Hal-hal
semacam inilah yang harus segera dilengkapi dalam undang-undang, apabila sistem Pengadilan
Tinggi sebagai instansi tingkat pertama akan diterapkan.

2
Saat ini ada 5 (lima) Pengadilan Niaga di Indonesia yaitu di Jakarta Pusat, Surabaya, Semarang, Medan, dan Makassar.
10
Materi II Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Prof. DR. Paulus Effendie Lotulung, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Sebagai gambaran perbandingan, di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dikenal


adanya peranan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara sebagai instansi tingkat pertama, yaitu
dalam perkara-perkara yang sebelumnya melalui upaya banding administrasi (administratief-
beroep), misalnya: putusan-putusan BAPEK (Badan Pertimbangan Kepegawaian). Demikian
juga di lingkungan Peradilan Umum dahulu dikenal sistem yang demikian itu, ialah sengketa
tentang besarnya ganti rugi sebagai akibat diterapkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun
1961 tentang Pencabutan Hak Milik untuk Kepentingan Umum.

E. Kesimpulan

Dalam perbandingan dengan lingkungan peradilan lain, ada kemungkinan Pengadilan


Tinggi berdasarkan alasan-alasan tertentu menjadi peradilan tingkat pertama, misalnya di
lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara ataupun di lingkungan Peradilan Umum. Oleh
karenanya, dalam hukum kepailitan dimungkinkan juga Pengadilan Tinggi menjadi peradilan
tingkat pertama, dan upaya kasasi langsung ke Mahkamah Agung serta Peninjauan Kembali,
asalkan struktur organisasi dan aparat-aparat di Pengadilan Tinggi disempurnakan dan
disesuaikan dengan kebutuhan penerapan hukum kepailitan, baik substansial maupun
prosedurnya.

11
Materi III Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Eljana Tansah, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Materi III
Kedudukan Tagihan Buruh, Tagihan Pajak versus Kedudukan Kreditur
Separatis dalam Kepailitan Perusahaan

Oleh Elijana Tansah, S.H.

A. Arti Kepailitan

Undang-Undang Kepailitan yang sekarang berlaku adalah Undang-Undang No. 37


Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaaan Kewajiban Pembayaran Utang
menggantikan Undang-Undang No. 4 Tahun 1998.
Berdasarkan undang-undang tersebut di atas, Kepailitan adalah sita umum terhadap
seluruh harta kekayaan Debitur pailit yang sudah ada pada saat Debitur dinyatakan pailit oleh
Pengadilan Niaga yang berwenang maupun yang akan diperoleh selama kepailitan
berlangsung, kecuali yang ditentukan dalam pasal 22 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004
tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, dengan tujuan akhir untuk
mempergunakan seluruh harta Debitur pailit tersebut (harta pailit) membayar semua
Krediturnya secara adil dan merata berimbangan oleh seorang Kurator dibawah pengawasan
Hakim Pengawas.
Pembayaran utang Debitur pailit dilakukan oleh Kurator berdasarkan Pasal 1131
sampai dengan Pasal 1138 KUH Perdata. Jadi pembayaran oleh Kurator kepada Kreditur
dilakukan berdasarkan asas paritas creditorum, kecuali diantara para kreditur ada alasan
yang sah untuk didahulukan pembayaran piutangnya.

B. Lima Golongan Kreditur dalam Kepailitan

Penentuan golongan kreditur di dalam Kepailitan adalah berdasarkan Pasal 1131


sampai dengan Pasal 1138 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) jo.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang No. 6
Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (“UU KUP”); dan Undang-
Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) (selanjutnya disebut sebagai “UU Kepailitan”).
Berdasarkan peraturan-peraturan di atas, golongan kreditur tersebut meliputi:
1. Kreditur yang kedudukannya di atas Kreditur pemegang saham jaminan kebendaan
(contoh utang pajak) dimana dasar hukum mengenai kreditur ini terdapat di dalam Pasal
21 UU KUP jo Pasal 1137 KUH Perdata;
2. Kreditur pemegang jaminan kebendaan yang disebut sebagai Kreditur Separatis (dasar
hukumnya adalah Pasal 1134 ayat 2 KUH Perdata). Hingga hari ini jaminan kebendaan
yang dikenal/diatur di Indonesia adalah:
a. Gadai;
b. Fidusia;
c. Hak Tanggungan; dan
d. Hipotik Kapal; 1

1
Gadai dan Hipotik (kini termasuk Fidusia dan Hak Tanggungan) adalah lebih tinggi daripada hak istimewa, kecuali dalam
hal-hal dimana oleh Undang-Undang ditentukan sebaliknya (Pasal 1134 ayat 2 KUH Perdata), sedangkan Pasal 1137
KUH Perdata menentukan bahwa hak dari kas Negara, Kantor Lelang dan lain-lain badan umum yang dibentuk oleh
pemerintah untuk didahulukan, tertibnya melaksanakan hak itu dan jangka waktu berlangsungnya hak tersebut, diatur
dalam berbagai undang-undang khusus yang mengenai hal-hal itu. Hal-hal yang sama mengenai peraturan-peraturan atau
perkumpulan-perkumpulan yang berhak atau kemudian akan mendapat hak untuk memungut bea.

12
Materi III Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Eljana Tansah, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

3. Utang harta pailit. Yang termasuk utang harta pailit antara lain adalah sebagai berikut:
a. Biaya kepailitan dan fee Kurator;
b. Upah buruh, baik untuk waktu sebelum Debitur pailit maupun sesudah Debitur pailit
(Pasal 39 ayat (2) UU Kepailitan); 2 dan
c. Sewa gedung sesudah Debitur pailit dan seterusnya (Pasal 38 ayat (4) UU
Kepailitan);
4. Kreditur preferen khusus, sebagaimana terdapat di dalam Pasal 1139 KUH Perdata, dan
Kreditur preferen umum, sebagaimana terdapat di dalam Pasal 1149 KUH Perdata; dan
5. Kreditur konkuren. Kreditur golongan ini adalah semua Kreditur yang tidak masuk Kreditur
separatis dan tidak termasuk Kreditur preferen khusus maupun umum (Pasal 1131 jo.
Pasal 1132 KUH Perdata).
Dari lima golongan kreditur yang telah disebutkan di atas, berdasarkan Pasal 1134
ayat 2 jo. Pasal 1137 KUH Perdata dan Pasal 21 UU KUP, Kreditur piutang pajak mempunyai
kedudukan di atas Kreditur Separatis. Dalam hal Kreditur Separatis mengeksekusi objek
jaminan kebendaannya berdasarkan Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan, maka kedudukan
tagihan pajak di atas Kreditur Separatis hilang. Pasal 21 ayat (3) Undang-Undang No. 28
Tahun 2008, menentukan :
“Hak mendahului untuk pajak melebihi segala hak mendahului lainnya kecuali
terhadap :
a. biaya perkara yang hanya disebabkan oleh suatu penghukuman untuk melelang
suatu barang bergerak dan atau barang tidak bergerak;
b. biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud; dan atau
c. biaya perkara yang hanya disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaian suatu
warisan.”
Bagaimana dengan kedudukan tagihan buruh? Tidak demikian halnya untuk piutang
para buruh karena upah buruh tidak termasuk hak dari kas Negara. Meskipun Pasal 95 ayat 4
UU Kepailitan menentukan bahwa dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau likuidasi
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya
dari pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya. Dan, penjelasannya
menyebutkan yang dimaksud didahulukan pembayarannya adalah upah pekerja/buruh harus
dibayar lebih dahulu daripada utang-utang lainnya. Kedudukan tagihan upah buruh tetap tidak
dapat lebih tinggi dari kedudukan piutang Kreditur Separatis karena upah buruh bukan utang
kas Negara.
Pasal 1134 ayat 2 jo. Pasal 1137 KUH Perdata justru merupakan rambu-rambu agar
tidak setiap undang-undang dapat menentukan bahwa utang yang diatur dalam undang-
undang tersebut mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari tagihan Kreditur Separatis
maupun tagihan Pajak.
Dalam Pasal 39 ayat (2) UU Kepailitan telah ditentukan bahwa upah buruh untuk
waktu sebelum dan sesudah pailit termasuk utang harta pailit artinya pembayarannya
didahulukan dari Kreditur Preferen Khusus dan Preferen Umum yang diatur dalam Pasal
1139 dan Pasal 1149 KUH Perdata.
Lalu, bagaimana dengan objek jaminan kebendaan yang termasuk harta pailit?
Kreditur pemegang jaminan kebendaan/separatis bukan pemilik objek jaminan kebendaan,
objek jaminan tetap milik Debitur pailit, jadi termasuk harta pailit hanya objek jaminan
kebendaan tidak terkena sita umum. Kreditur pemegang jaminan kebendaan hanya
mempunyai hak untuk mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan/eksekusi objek
jaminan kebendaan lebih dahulu dari Kreditur lain. Apabila setelah Kreditur pemegang
jaminan kebendaan tersebut melunasi piutangnya, dari hasil eksekusi/penjualan objek
jaminan tersebut masih ada sisa uang, maka Kreditur tersebut harus mengembalikan sisa

2
Sebelum berlakunya Undang-Undang No. 37 Tahun 2004, hanya upah buruh untuk waktu setelah Debitur pailit, masuk
utang harta pailit, untuk upah buruh sebelum Debitur pailit masuk utang preferen ke-4 (pasal 1149 ayat 4 KUH Perdata).

13
Materi III Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Eljana Tansah, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

uang tersebut kepada boedel pailit melalui Kurator. Sedangkan apabila hasil penjualan tidak
cukup untuk melunasi piutangnya, maka sisa piutang yang tidak terbayar tersebut dapat
diajukan/didaftarkan kepada Kurator untuk diverifikasi sebagai tagihan/piutang konkuren.

C. Cara Kurator Melakukan Pembayaran Kepada Para Kreditur dari Debitur Pailit

Dalam hal Kreditur Separatis melaksanakan Hak Eksekusinya sesuai Pasal 55 ayat (1)
UU Kepailitan yaitu mengeksekusi objek jaminan kebendaannya dalam jangka waktu setelah
“stay” terangkat sampai 2 (dua) bulan setelah insolvensi, Kreditur Separatis tersebut tidak
terkena akibat kepailitan pemilik objek jaminan kebendaannya (Kreditur Separatis dapat
melaksanakan Hak Eksekusinya seperti tidak ada kepailitan) artinya Kreditur Separatis
tersebut setelah biaya lelang dan pajak penjualan objek jaminan dibayar, berhak untuk
mengambil pelunasan piutangnya dari hasil lelang eksekusi tersebut. Kemudian
menyerahkan sisanya kepada Kurator/harta pailit tidak ada kewajiban untuk membayar utang
pajak dari Debitur pailit (vide pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan).
Kedudukan tagihan pajak adalah lebih tinggi dari kedudukan tagihan Kreditur
Separatis hanya dalam hal Kurator yang menjual lelang objek jaminan kebendaan, karena
Kreditur Separatis tersebut tidak melaksanakan Hak Eksekusinya dalam jangka waktu setelah
Stay terangkat sampai 2 (dua) bulan setelah insolvensi. Pasal 60 ayat (2) UU Kepailitan yang
menentukan bahwa: …..“atas tuntutan Kurator atau Kreditur yang diistimewakan, yang
kedudukannya lebih tinggi daripada Kreditur pemegang hak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) (Kreditur Separatis), maka Kreditur pemegang hak tersebut wajib menyerahkan
bagian dari hasil penjualan tersebut untuk jumlah yang sama dengan jumlah tagihan yang
diistimewakan…..” tentunya jelas bertentangan dengan Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan. Oleh
karenanya sebaiknya dihapus saja dan untuk sementara ini sebaiknya diabaikan saja oleh
Pengadilan Niaga seandainya sampai ada gugatan/tuntutan dari Kurator atau Menteri
Keuangan terhadap Kreditur Separatis yang telah bertindak sesuai Pasal 55 ayat (1) UU
Kepailitan tersebut.
Di dalam prakteknya Pasal 60 ayat (2) UU Kepailitan berpotensi menyebabkan
Kreditur Separatis enggan untuk berpartisipasi dalam pemberesan harta pailit, karena hal-hal
berikut:
1. Kreditur Separatis enggan melaksanakan hak eksekusinya sesuai Pasal 55 ayat (1) UU
Kepailitan, Kreditur Separatis tidak mau mengambil resiko digugat oleh Kreditur piutang
pajak (Menteri Keuangan) atau Kurator;
2. Setelah jangka waktu 2 (dua) bulan setelah insolvensi berlalu, Kreditor Separatis akan
berusaha sekuat tenaga menggagalkan upaya Kurator mengeksekusi/menjual lelang
objek jaminan kebendaannya, untuk menghindari resiko tagihan separatisnya menjadi
tagihan konkuren.
Perlu dipertanyakan, apakah tindakan Kreditur Separatis berdasarkan Pasal 55 ayat
(1) UU Kepailitan dapat dikategorikan sebagai tindak pidana penggelapan? Jawabannya
tentu saja tidak, karena tindakan Kreditur Separatis mengambil pelunasan dari hasil eksekusi
objek jaminan kebendaan, seperti tidak ada kepailitan, adalah sesuai Pasal 55 ayat (1) UU
Kepailitan, sehingga tindakan tersebut adalah tindakan menurut hukum dan jelas bukan
tindakan melawan hukum. Dengan demikian, salah satu unsur dari tindak pidana
penggelapan sebagaimana diatur dalam pasal 372 KUH Pidana tidak mungkin terbukti. 3
Dengan adanya Pasal 21 ayat (3a) UU KUP, sering dipertanyakan apakah Kurator
yang tidak mengajukan tuntutan/gugatan berdasarkan Pasal 60 ayat (2) UU Kepailitan
terhadap Kreditor Separatis yang melaksanakan hak eksekusinya berdasarkan Pasal 55 ayat

3
Pasal 372 KUH Pidana menentukan:
“barang siapa dengan sengaja dan dengan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian
adalah kepunyaan orang lain tetapi berada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan
dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah”

14
Materi III Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Eljana Tansah, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

(1) UU Kepailitan dan mengambil pelunasan bagi piutangnya dari hasil eksekusi objek
jaminan kebendaannya, telah melanggar Pasal 21 ayat (3a) UU KUP? 4 Tentu saja tidak,
karena larangan bagi Kurator berdasarkan pasal tersebut adalah membagikan harta wajib
pajak dalam pailit kepada pemegang saham atau Kreditor lainnya sebelum menggunakan
harta pailit untuk membayar utang wajib pajak tersebut. Dalam hal Kreditor Separatis
bertindak sesuai Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan, maka yang membayar piutang Kreditor
Separatis dari hasil eksekusi adalah Kreditur Separatis sendiri bukan Kurator.
Pembayaran dilakukan oleh Kurator berdasarkan urutan peringkat piutang Kreditor
seperti disebut diatas Nomor 2 sebagai hasil rapat verifikasi. Kurator hanya melakukan
pembayaran terhadap piutang yang telah diverifikasi, kecuali utang harta pailit yang tidak
perlu diverifikasi tetapi akan langsung dibayar dari harta paiilt. Setelah piutang diverifikasi dan
harta pailit likuidasi, Kurator akan melakukan pembayaran kepada Kreditur menurut
peringkatnya. Jadi, pertama, Kurator akan membayar Kreditur piutang pajak (utang kepada
Kas Negara yang diatur dalam Undang-Undang yang bersangkutan).
Pada umumnya Kurator tidak membayar Kreditur Separatis karena umumnya Kreditur
Separatis begitu stay 90 hari lewat, langsung mengeksekusi objek jaminan kebendaan
seolah-olah tidak ada kepailitan Debiturnya/pemilik objek jaminan. Kurator baru melakukan
pembayaran terhadap Kreditur Separatis manakala ada Kreditur Separatis yang sampai 2
(dua) bulan setelah insolvensi, Kreditur yang bersangkutan belum melakukan eksekusi
sendiri, sehingga Kurator yang berhak mengeksekusi objek jaminan.
Setelah pembayaran terhadap Kreditur piutang pajak dan Kreditur Separatis yang
sampai 2 (dua) bulan setelah insolvensi belum mengeksekusi objek jaminan sehingga Kurator
yang mengeksekusi, baru Kurator melakukan pembayaran terhadap Kreditur piutang harta
pailit (utang harta pailit tidak diverifikasi tetapi langsung dibayar dari harta pailit).
Pembayarannya dilakukan secara paritas creditorum.
Masalah akan timbul bila harta pailit tidak cukup untuk membayar semua utang
boedel pailit. Piutang boedel pailit siapa yang wajib dibayar terlebih dahulu? Apakah biaya
pailit termasuk fee Kurator, atau upah buruh, atau sewa gedung, dan lain-lain? Perlu
direnungkan bahwa apabila biaya kepailitan yang meliputi tiap bagian dari harta pailit (kecuali
benda yang menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 telah dijual sendiri
oleh Kreditur pemegang jaminan kebendaan), termasuk fee Kurator, tidak dibayar lebih
dahulu dari harta pailit sebelum utang harta pailit lainnya dibayar apakah masih ada Kurator
yang mau melakukan pengurusan harta pailit dan pemberesan harta pailit, yaitu menjadikan
harta pailit uang (melikuidasi harta pailit)? Karena untuk menjadikan uang harta paiilt
diperlukan biaya, disamping tentunya pembayaran jasa Kurator untuk itu.
Bisa saja Indonesia mengikuti praktek di Belanda bahwa meskipun biaya kepailitan
termasuk di dalamnya fee Kurator sama dengan upah buruh merupakan utang harta pailit
tetapi peringkat utang harta pailit yang berupa biaya kepailitan termasuk fee Kurator peringkat
lebih tinggi dari utang harta pailit yang lain.
Setelah semua utang harta pailit dibayar oleh Kurator kemudian Kurator melakukan
pembayaran kepada Kreditur preferen khusus sesuai Pasal 1139 KUH Perdata. Kemudian,
setelah itu melakukan pembayaran kepada Kreditur preferen umum sesuai Pasal 1149 KUH
Perdata baru setelah itu/terakhir Kurator melakukan pembayaran terhadap Kreditur Konkuren
secara Paritas Creditorum.

4
Pasal 21 ayat 3a Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 menentukan:
“Dalam hal wajib pajak dinyatakan pailit, bubar atau likuidasi, maka Kurator, Likuidator, atau orang atau badan yang
ditugasi untuk melakukan pemberesan dilarang membagikan harta wajib pajak dalam pailit, pembubaran, atau likuidasi
kepada pemegang saham atau Kreditor lainnya sebelum menggunakan harta tersebut untuk membayar utang pajak
wajib tersebut”

15
Materi III Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Eljana Tansah, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

D. Batas Waktu Tanggung Jawab Kurator terhadap Pembayaran Utang Wajib Pajak
Yang Pailit dari Harta Pailit

Dalam hal kepailitan seorang subjek hukum (pribadi maupun badan hukum) berakhir,
maka:
1. Dengan insolvensi maka kepailitan tersebut berakhir pada saat Kurator telah
membayar seluruh harta pailit kepada para Kreditur dari debitur pailit sesuai daftar
Kreditur sebagai hasil Rapat Verifikasi dalam hal harta pailit sudah habis sedangkan
utang pajak Debitur pailit belum terbayar lunas maka, setelah Kurator memberikan
pertanggungjawabannya tentang pelaksanaan tugasnya pada Hakim Pengawas
berakhirlah kepailitan wajib pajak tersebut. Sisa utang wajib pajak yang tidak terbayar
dari harta pailit bukan menjadi tanggung jawab Kurator lagi. Karena dengan
berakhirnya kepailitan tugas Kurator sudah selesai.
2. Putusan Pernyataan Pailit dibatalkan oleh Pengadilan yang lebih tinggi maka utang
pajak yang belum terbayar bukan tanggung jawab Kurator lagi. Karena dengan
dibatalkannya Putusan Pernyataan Pailit, kepailitan telah berakhir demikian juga
tugas Kurator.
Dalam hal tagihan pajak/utang telah kadaluarsa, maka Kurator tidak boleh membayar
utang pajak tersebut dari harta pailit karena utang yang sudah kadaluarsa tidak ada hak
tagihnya. Justru, Kurator yang telah membayar utang pajak yang telah kadaluarsa dan
menimbulkan kerugian bagi Kreditur yang peringkatnya dibawah utang pajak harus
bertanggung jawab atas kerugian tersebut dengan seluruh harta kekayaan pribadinya (Pasal
72 UU Kepailitan)

E. Penutup

Mudah-mudahan pointers ini dapat menjadi bahan tambahan diskusi para peserta
Seminar 10 tahun berlakunya undang-undang kepailitan sejak berlakunya PERPU No. 1
Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Tentang Kepailitan.

16
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

Materi IV
Undang-Undang Kepailitan No. 37 Tahun 2004 dan Undang-Undang Perseroan
Terbatas No. 40 Tahun 2007 sehubungan dengan Penyelesaian Kewajiban
Perseroan Pailit terhadap para Krediturnya 1

Oleh Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF.CIP 2

A. Pendahuluan

Reformasi Undang-Undang Kepailitan Indonesia yang dimulai pada tahun 1998


merupakan suatu reformasi undang-undang – upaya penyelesaian konflik utang-piutang
antara kreditur dan debitur – diyakini ketika itu – lahir dari suatu kebutuhan yang sangat
mendesak dalam suatu krisis moneter yang melanda Indonesia sejak tahun 1997, sehingga
dalam upaya untuk mewujudkannya pun dilakukan dengan luar biasa pula yaitu melalui
Peraturan Pemerintah pengganti Undang-undang (Perpu) No. 1 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Kepailitan, yang ditetapkan menjadi Undang-Undang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) No. 4 tahun 1998 pada
tanggal 9 September 1998.
Begitu besarnya harapan yang diletakkan pada Undang-Undang Kepailitan tersebut
sehingga pemerintah tidak hanya melakukan perbaikan terhadap ketentuan-ketentuan dari
Undang-Undang kepailitan tersebut sebagai upaya upaya mewujudkan mekanisme
penyelesaian sengketa secara adil, cepat, terbuka dan efektif, akan tetapi secara khusus juga
menghadirkan Pengadilan Niaga sebagai suatu pengadilan yang khusus memeriksa dan
memutuskan perkara kepailitan dan PKPU 3 dengan tata pengaturan waktu (time frame) yang
sangat ketat. Selain itu, Undang-Undang Kepailitan juga memperkenalkan Kurator dan
Pengurus swasta 4 sehubungan dengan tugas dan kewenangan untuk melakukan pengurusan
dan pemberesan harta pailit, ataupun pengurusan debitur dalam PKPU.
Sepuluh tahun sudah Undang-Undang Kepailitan diberlakukan, dari Perpu No. 1 Tahun
1998 yang kemudian ditetapkan menjadi UU No. 4 Tahun 1998, dan selanjutnya 6 (enam)
tahun kemudian mengalami revisi untuk penyempurnaan menjadi Undang-Undang No. 37
tahun 2004 (UU Kepailitan No.37/2004), merupakan suatu masa waktu yang cukup untuk
mempertanyakan, apakah memang benar undang-undang kepailitan Indonesia tersebut telah
memberikan warna yang berbeda bagi penyelesaian perkara-perkara, secara adil, cepat,
terbuka dan efektif? Apakah memang Pengadilan Niaga – yang secara khusus dibangun untuk
melaksanakan misi dari Undang-Undang Kepailitan ini - telah bisa melakukan fungsinya
secara berbeda dengan pengadilan-pengadilan lain yang ada di Indonesia? 5
Begitu pula dalam hal pengurusan dan pemberesan harta dari debitur pailit ataupun
pengurusan harta debitur yang dinyatakan PKPU, apakah Kurator ataupun Pengurus telah
menjadi bagian yang secara nyata mendorong pencapaian misi dari reformasi undang-

1
Dipresentasikan pada “National Seminar on Bankruptcy Law” diselenggarakan oleh AKPI – In ACCE Working Committee,
di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, tanggal 29 Oktober 2008.
2
Pemakalah adalah seorang Advokat senior, Partner (pendiri) Law Firm, Ricardo Simanjuntak & Partners beralamat di
Wirausaha Building Lt. 1 Jl. Rasuna Said Kav. C-5, Kuningan Jakarta Selatan. Selain itu Pemakalah juga berprofesi sebagai
Kurator dan Pengurus di Pengadilan Niaga, serta juga authorized mediator di pengadilan, dan juga dosen Pasca Sarjana.
3
Pengadilan khusus di lingkungan Peradilan Umum, yang berdasarkan Pasal 280 UU Kepailitan No. 4/1998 yang telah
digantikan dengan UU Kepailitan No. 37/2004 dalam Pasal 300-nya, pada umumnya dimaksudkan sebagai pengadilan yang
khusus memeriksa kasus-kasus yang berhubungan dengan kasus-kasus komersial, yang sejak mulai beroperasinya pada
tanggal 20 Agustus 1998 hingga saat ini masih sebatas untuk mengadili perkara kepailitan dan PKPU serta juga sengketa
Merek dan Hak Milik Intelektual lainnya.
4
Profesi Kurator dan Pengurus sebelumnya berasal dari Balai Harta Peninggalan (BHP).
5
Putusan Pertama Pengadilan Niaga ditetapkan pada tanggal 14 September 1998 terhadap permohonan PKPU dengan
register perkara No. 01/PKPU/1998/PN.Niaga.Jkt.Pst. yang diajukan oleh PT. Karabha Digdaya sebagai reaksi terhadap
permohonan pailit yang diajukan terhadapnya oleh PT. Jaya Obayashi dan PT. Nusa Raya Cipta dengan register perkara
No. 01/Pailit/1998/PN.Niaga/Jkt.Pst pada tanggal 26 Agustus 1998.

17
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

undang kepailitan tersebut di atas, yaitu penyelesaian sengketa utang piutang antara kreditur
dengan debiturnya? Dengan kalimat lain, apakah fungsi kurator yang pada prinsipnya
melakukan upaya maksimalisasi jumlah dan nilai harta pailit (boedel pailit) untuk dapat
dibagikan secara maksimal terhadap krediturnya telah dapat dilakukan secara benar dan adil
dalam waktu yang wajar?
Sebagai salah satu topik yang dipilih dalam seminar nasional ini, Makalah ini, memang
tidak dipersiapkan untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas dari seluruh aspek, akan tetapi
memberikan jawaban yang lebih difokuskan dari sisi kehadiran dan peran Undang-Undang
No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas – sebagai pengganti Undang-Undang No. 1
tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas – terhadap keberlakukan dan pelaksanaan UU
Kepailitan No. 37/2004 dalam hal debitur yang dinyatakan pailit ataupun PKPU tersebut
adalah Perseroan Terbatas (PT) melalui pengalaman perkara-perkara kepailitan di Pengadilan
Niaga selama ini.
Kehadiran PT sebagai suatu badan usaha yang berbentuk badan hukum, merupakan
salah satu kendaraan bisnis yang semakin banyak dipilih oleh pelaku usaha dalam
menjalankan aktivitas komersialnya di Indonesia. Corporate legal entity ini tidak saja
digunakan oleh pemilik-pemilik modal ataupun pelaku-pelaku usaha domestik, akan tetapi juga
pelaku usaha internasional dalam aktivitas penanaman modal di Indonesia, serta juga oleh
pemerintah dalam bentuk PT Persero, ataupun perusahaan milik Pemerintah Daerah.
Sehingga, tidak mengherankan bila mayoritas debitur yang diputuskan pailit oleh Pengadilan
Niaga dalam kurun waktu satu dekade ini adalah perusahaan yang berbadan hukum
Perseroan Terbatas.
Aktivitas korporasi PT (atau badan hukum korporasi yang sama dengannya di Negara
lain) yang bergerak lintas batas negara (transnational corporations) membuat pertumbungan
hak dan kewajiban terhadapnya sering susah dibaca, karena pada satu waktu, sering tiba-tiba
merupakan fakta pencapaian prestasi yang mengagumkan, akan tetapi pada waktu lain, juga
dapat tiba-tiba diumumkan dalam keadaan ketidakmampuan lagi untuk menjalankan bisnisnya
sehingga harus di pailitkan. Kasus Enron, Lehman Brothers merupakan bagian dari
keterkejutan dunia terhadap fakta bagaimana suatu korporasi yang kelihatan begitu besar,
sehat dan powerful tiba-tiba begitu saja dipailitkan. Istilah transparansi yang menjadi bagian
yang tidak terpisahkan dari doktrin good corporate governance hanya merupakan debat atau
tudingan-tudingan pelipur lara setelahnya. Situasi yang sangat sulit yang merupakan bola
panas perekonomian global saat ini suka atau tidak suka telah tergulir masuk pada wilayah
perekonomian Indonesia, yang sangat memungkinkan mendorong peningkatan konflik utang-
piutang dikalangan pelaku usaha.
Oleh karena itulah komitmen besar yang menjadi dasar perubahan Undang-Undang
Kepailitan dan pengoperasian Pengadilan Niaga dalam upaya mewujudkan mekanisme
penyelesaian sengketa secara adil, cepat, terbuka dan efektif menjadi penting untuk dievaluasi
setelah sepuluh tahun pelaksanaan UU Kepailitan dan Pengadilan Niaga tersebut. Apakah
memang UU Kepailitan dan Pengadilan Niaga Indonesia telah mampu meyakinkan dunia
usaha sebagai tempat penyelesaian sengketa yang adil, cepat, terbuka dan efektif dan
berkepastian hukum?
Sehubungan dengan itu, maka pembahasan makalah ini akan difokuskan antara lain
pada bagaimana kedudukan hukum PT sebagai suatu legal entity dan bagaimana sebuah
utang tersebut timbul dan menjadi kewajiban PT, dan bagaimana seharusnya penyelesaian
terhadap utang-utang tersebut harus dilakukan? Bagaimana bila ternyata utang-utang tersebut
timbul akibat dari ketidakhati-hatian, atau bahkan penyalahgunaan kewenangan atau tindakan
melawan hukum yang dilakukan oleh Pemegang Saham, lembaga direksi, atau salah satu
direktur ataupun dewan komisaris dari PT tersebut, Bagaimana bila PT yang merasa tidak lagi
dapat memenuhi utang-utangnya kepada krediturnya, tidak memilih jalur kepailitan, akan
tetapi mengambil langkah untuk membubarkan (winding up) PT tersebut, apakah kreditur
dapat menghindarinya dengan cara mengajukan permohonan pailit terhadap PT yang sedang
dibubarkan tersebut? Atau dengan pertanyaan lain, dapatkah sebuah PT yang sedang dalam
likuidasi dipailitkan atau sebaliknya? Bagaimana pentingnya waktu dalam hal yang dipailitkan

18
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

adalah PT terbuka dan bagaimana sikap dari otoritas Bursa terhadap saham-saham PT
terbuka dalam hal PT tersebut telah dinyatakan pailit?
Selanjutnya, dalam proses pengurusan dan pemberesan harta pailit, bagaimana bila
ternyata ditemukan bahwa harta-harta PT tersebut, telah dialihkan secara tidak seharusnya
kepada pihak lain ataupun telah dikuasai ataupun secara formal didokumentasikan atas nama
pribadi, pemegang saham, pribadi komisaris, ataupun pribadi direksi? Bagaimana mengatasi
terjadinya kreditur fiktif, bagaimana mengatasi permasalahan dalam hal aset-aset PT pailit
tersebut berada di luar negeri?

B. Sebagai Legal Entity, Perseroan Dapat Mengajukan Permohonan Pailit Ataupun


Dimohonkan Pailit

Telah tegas diatur dalam Paragraf 2 dan Paragraf 3 dari Pasal 1 tentang Ketentuan
Umum di dalam UU Kepailitan No. 37/2004, bahwa yang dapat menjadi kreditur ataupun
debitur adalah “orang”. Pengertian kata “orang” dalam pengertian kreditur dan debitur dalam
undang-undang kepailitan tersebut meliputi orang pribadi (personal entity) ataupun badan
hukum (legal entity). Perseroan Terbatas (PT) adalah “orang” dalam bentuk badan hukum
(legal entity). 6 Sebagai suatu legal entity PT merupakan pribadi hukum yang mandiri yang
secara tegas mempunyai keterpisahan dalam pelaksanaan hak dan kewajiban dengan
masing-masing pribadi pemegang saham ataupun pengurusannya (separate entity separate
liability).
Dengan kalimat lain, walaupun PT merupakan wadah persekutuan modal 7 dari para
pemodalnya, akan tetapi pada saat PT disahkan menjadi suatu badan hukum oleh
Departemen Hukum dan HAM berdasarkan Pasal 7 ayat (4) jo. Pasal 1 ayat (1) UU No. 40
tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), maka sejak saat itulah PT lahir menjadi
“orang” yang memiliki kekayaan sendiri – yang terpisah dari masing-masing pemegang
sahamnya – yang secara mandiri dapat digunakan untuk melaksanakan aktivitas bisnisnya
dengan pihak lain, begitu pula penyelesaian kewajibannya ataupun utang-utangnya kepada
krediturnya dengan menggunakan hartanya tersebut berdasarkan Pasal 1131 KUH Perdata
dan Pasal 1 angka 6 UU Kepailitan No. 37/2004 8 .
Hal tersebutlah yang menjadi dasar bahwa dalam UU Kepailitan No. 37/2004, PT
dapat dikategorikan sebagai kreditur ataupun sebagai debitur, sehingga sebagai kreditur PT
mempunyai kewenangan (persona standi judicio) untuk mengajukan permohonan pernyataan
pailit terhadap debiturnya, ataupun sebaliknya dapat dimohonkan pailit oleh krediturnya
ataupun secara volunteer oleh dirinya sendiri atas terpenuhinya bukti bahwa PT tersebut
memiliki minimal 2 (dua) kreditur dimana salah satu utangnya tersebut telah jatuh tempo dan
dapat ditagih seperti diatur dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 8 ayat (4) UU Kepailitan
No.37/2004.
Berbeda dengan badan usaha yang tidak berbentuk badan hukum, karena bukan
merupakan “orang” maka secara hukum tidak dapat didudukkan sebagai “kreditur” ataupun
sebagai “debitur”. Hal tersebut tegas diatur dalam Pasal 5 UU Kepailitan No. 37/2004 9 yang
menyatakan bahwa dalam hal yang dimohonkan pailit adalah persekutuan perdata Firma,

6
Selain Perseroan Terbatas, dikenal juga badan hukum lainnya, seperti Yayasan, Koperasi dan badan hukum khusus
lainnya.
7
Seluruh modal dasarnya terbagi atas saham.
8
Pasal 1131 KUH Perdata menegaskan bahwa harta debitur demi hukum akan menjadi jaminan terhadap pembayaran
seluruh utang-utangnya, dikutip sebagai berikut:
“Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang
baru aka nada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan.”
9
Ketentuan tentang Firma, yang sebelumnya terdapat dalam Pasal 4 ayat (7) UU Kepailitan (lama) No. 4 tahun 1998, diatur
dalam Pasal 5 UU Kepailitan No. 37/2004, sebagai berikut: “Permohonan pernyataan pailit terhadap suatu firma harus
memuat nama dan tempat tinggal dari masing-masing persero yang secara tanggung renteng terikat untuk seluruh utang
firma.”

19
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

maka bukan persekutuan Firma tersebut yang dijadikan sebagai termohon pailit, akan tetapi
masing-masing dari pribadi persero (firmant) yang secara tanggung renteng bertanggung-
jawab terhadap seluruh utang Firma tersebut.
Ketidakpahaman Pengadilan Niaga terhadap siapa sebenarnya yang dapat didudukkan
sebagai kreditur dan siapa sebagai debitur dalam hal suatu hak dan kewajiban muncul
sebagai konsekuensi dari aktivitas suatu persekutuan perdata, telah muncul pada awal-awal
pelaksanaan Pengadilan Niaga, ketika memutuskan permohonan pailit yang diajukan oleh PT.
Jaya Readymiz dan PT. Primacoat Lestari sebagai kreditur kepada Hutama Bina Maint Joint
Operation dalam perkara No. 24/Pailit/1998/PN.Niaga/Jkt.Pst pada tanggal 22 Desember 1998
dan juga permohonan pailit yang diajukan oleh PT. Bangun Prima Graha Persada terhadap
Daito Kogyo Co. Ltd-PT. Bina Baraga Utama Joint Operation dalam perkara No.
30/Pailit/1998/PN.Niaga/Jkt.Pst pada tanggal 14 Januari 1999.
Dalam putusan tersebut, Majelis Pengadilan Niaga berpendapat bahwa Joint Operation
(OP) dapat menjadi pihak ataupun sebagai subjek dalam melakukan perbuatan hukum
sehingga oleh karena itu juga dapat dipailitkan. Pertimbangan hukum tersebut menjadi dasar
dari Majelis Hakim Niaga Jakarta Pusat menolak permohonan pailit yang diajukan oleh PT.
Jaya Readymix dan PT. Primacoat Lestari terhadap PT. Hutama Karya langsung terhadap
PT. Bina Maint masing-masing sebagai Termohon I dan II yang menurut pemohon sebagai
pihak yang bertanggungjawab terhadap aktivitas dari Hutama Bina Maint Joint Operation, dan
sebaliknya menerima permohonan pailit yang diajukan oleh PT. Bangun Prima Graha
Persada secara langsung kepada Daito Kogyo Co.Ltd-PT. Bina Baraga Utama Joint
Operation, dan menyatakan Daito Kogyo.Ltd-PT Bina Baraga Utama Joint Operation pailit.
Kedua putusan Pengadilan Niaga tersebut kemudian dibatalkan oleh Majelis Hakim
Niaga tingkat kasasi Mahkamah Agung (MA) dalam putusannya No. 01 K/N/1999 tanggal 28
Februari 1999 dan oleh Majelis Hakim Peninjauan Kembali (PK) dalam putusannya No. 7
PK/N/1999 tanggal 14 Mei 1999. 10 Dalam pertimbangan hukumnya terhadap pembatalan
putusan No. 24/Pailit/1998/PN.Niaga/Jkt.Pst, Majelis Hakim Kasasi Niaga MA menolak
pertimbangan hukum Majelis Hakim Niaga Jakarta Pusat - yang pada intinya menyatakan
bahwa Hutama Bina Main Joint Operation merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam
melunasi utangnya kepada masing-masing pemohon pailit tersebut – antara lain dengan
mempertimbangkan hukum sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa dengan memperhatikan cara-cara pembentukan Hutama Bina Maint Joint
Operation yakni merupakan usaha bersama yang tidak berbentuk badan hukum antara PT
Hutama Karya dan PT Bina Maint dengan tujuan mencari keuntungan bersama dan masing-
masing dengan perbandingan 60% dan 40%. Mahkamah Agung berpendapat bahwa usaha
bersama tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah perseroan sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan pasal 1618 KUH Perdata, dan apabila diperhatikan cara penggunaan nama bersama
yakni Hutama Bina Maint Joint Operation, maka perseroan yang merupakan usaha bersama dari
para termohon kasasi dapat dikategorikan sebagai perseroan firma sebagaimana dimaksud
dalam pasal 16 KUH Dagang.
Menimbang, bahwa sesuai dengan ketentuan pasal 1643 KUH Perdata atau pasal 18 KUH
Dagang, masing-masing persero mempunyai tanggung jawab secara tanggung renteng…”” 11

10
Terhadap putusan Pengadilan Niaga, pemohon pailit tidak mengambil upaya hukum kasasi, akan tetapi mengambil upaya
hukum khusus Peninjauan Kembali.
11
Putusan No. 01 K/N/1999 tanggal 28 Februari 1999 yang memutuskan masing-masing PT. Hutama Karya dan PT. Bina
Maint pailit, dimana kemudian putusan MA tersebut dibatalkan kembali oleh Putusan Peninjauan Kembali No. 04 PK/N/1999
tanggal 6 April 1999, AKAN TETAPI bukan karena pertimbangan hukum tentang Persona Standi in Judicio akan tetapi
karena akhirnya dapat dibuktikan tidak adanya kreditur lain, karena adanya Novum yang membuktikan bahwa utang
termohon pailit tersebut kepada kreditur lainnya telah dilunasi sebelumnya. Lebih jauh, baca Himpunan Putusan-Putusan
Pengadilan Niaga dalam Perkara Pailit (HPPN) jilid 1, terbitan PT. Tatanusa hal.309-317 dan Himpunan Putusan-Putusan
Mahkamah Agung dalam Perkara Kepailitan (HPPMA) jilid 2, terbitan Tatanusa hal. 1-14 dan hal. 189-203.

20
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

Pertimbangan hukum yang sama juga diberikan oleh Majelis Hakim PK MA dalam
putusannya, yang antara lain dikutip sebagai berikut:
“Bahwa…walaupun yang menjadi pihak-pihak dalam perjanjian Padang Area Flood Control
Project Package I adalah Daito Kogyo Co. Ltd-PT. Bina Baraga Utama Joint Operation dan PT.
Bangun Prima Graha Persada, akan tetapi Daito Kogyo Co. Ltd-PT. Bina Baraga Utama Joint
Operation bukanlah suatu badan hukum yang dapat dituntut dimuka pengadilan…Karena itu
walaupun secara format, Pemohon Pailit berhubungan langsung dengan Daito Kogyo Co. Ltd-
PT. Bina Baraga Utama Joint Operation dalam membuat perjanjian Padang Area Flood Control
Project Package I, namun segala pertanggungjawaban yang timbul…tetap berada pada kedua
badan hukum Daito Kogyo Co. Ltd-PT. dan PT. Bina Baraga Utama,…
Bahwa oleh karena yang dimohon untuk dinyatakan pailit dalam perkara ini adalah suatu badan
kerjasama yang bukan merupakan badan hukum dan tidak memiliki aset sebagai kekayaan
sendiri yang dapat memenuhi tagihan-tagihan para kreditur, maka permohonan Permohon Pailit
harus ditolak.”
Dari pertimbangan hukum tersebut diatas, jelas ditegaskan bahwa badan usaha yang
tidak berbentuk badan hukum bukanlah “orang” atau bukan merupakan pendukung hak dan
kewajiban yang mandiri, sehingga tanggungjawab pelaksanaan hak dan kewajiban yang
timbul merupakan tanggung jawab dari masing-masing anggota persekutuan perdata tersebut
sebagai “orang” ataupun “badan hukum” yang sebenarnya.
Secara hukum, status “orang” atau badan hukum dari suatu persekutuan perdata tidak
secara otomatis terjadi hanya karena persekutuan ataupun perkumpulan tersebut telah
memenuhi persyaratan-persyaratan teori untuk dapat dikualifikasikan sebagai badan hukum,
akan tetapi sangat ditentukan oleh adanya pengesahan terhadap status badan hukum dari
badan usaha tersebut oleh Menteri Hukum dan HAM seperti yang diatur dalam Pasal 7 ayat
(4) UUPT. Selanjutnya dalam Pasal 14 dan Pasal 13 ayat (1)-nya ditegaskan bahwa dalam hal
suatu PT yang didirikan belum memperoleh status badan hukum, maka seluruh perbuatan
hukum yang dilakukan oleh pendiri untuk kepentingan PT tersebut, merupakan tanggung
jawab dari masing-masing pendirinya, ataupun bahkan pengurus dan komisaris yang secara
perjanjian (anggaran dasar) telah diangkat untuk melakukan pengurusan dan pengawasan
terhadap PT yang sedang didirikan tersebut dalam hal ikut secara bersama-sama
menandatangani perbuatan hukum untuk kepentingan PT, sebagai berikut:
Pasal 14:
(1) Perbuatan hukum atas nama Perseroan yang belum memperoleh status badan hukum,
hanya boleh dilakukan oleh semua anggota Direksi bersama sama dengan semua pendiri
serta semua anggota Dewan Komisaris Perseroan dan mereka semua bertanggung jawab
secara tanggung renteng atas perbuatan hukum tersebut.
(2) Dalam hal perbuatan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh pendiri
atas nama Perseroan yang belum memperoleh status badan hukum, perbuatan tersebut
menjadi tanggung jawab pendiri yang bersangkutan dan tidak mengikat Perseroan.
(3) Perbuatan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), karena hukum menjadi
tanggungjawab Perseroan setelah perseroan menjadi badan hukum.
Pasal 13 ayat (1):
“Perbuatan hukum yang dilakukan calon pendiri untuk kepentingan Perseroan yang belum
didirikan, mengikat Perseroan setelah perseroan menjadi badan hukum apabila RUPS pertama
Perseroan secara tegas menyatakan menerima atau mengambil alih semua hak dan kewajiban
yang timbul dari perbuatan hukum yang dilakukan oleh calon pendiri dan kuasanya.”
Ketentuan tersebut di atas telah secara benar digunakan sebagai dasar pertimbangan
dari Majelis Hakim Niaga dalam putusan pailit yang menolak permohonan pailit yang diajukan
oleh Hin Hin Trading Pte Ltd terhadap PT. Rawai Tajur Aspalindo (dalam pendirian) No.
28/Pailit/2002/PN.Niaga/Jkt.Pst tanggal 10 Oktober 2002 dengan pertimbangan hukum antara
lain sebagai berikut:

21
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

“Menimbang, akan tetapi dengan memperhatikan bukti…dan diperkuat dengan bukti T-2 tentang
keterangan dari Notaris yang bersangkutan yang menyatakan bahwa Akta pendirian
sebagaimana tersebut dalam bukti T-1 belum mendapatkan pengesahan dari Menteri Kehakiman
dan HAM RI didapat adanya suatu fakta hukum yang memperlihatkan bahwa perbuatan hukum
yang menimbulkan adanya Permohonan Pailit ini dilakukan oleh Debitur selaku PT yang belum
didaftarkan dan diumumkan, sehingga berdasarkan Pasal 11 ayat (2) jo. Pasal 23 UU No. 1
tahun 1995 12 tentang PT yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah para pendirinya…”
Selanjutnya pertimbangan hukum Majelis Hakim Niaga tersebut didukung dan
ditegaskan oleh Majelis Hakim Niaga pada Tingkat Kasasi Mahkamah Agung dalam
putusannya No. 29 K/N/2002 tertanggal 18 November 2002 dengan pertimbangan hukum
antara lain sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa berdasarkan bukti-bukti T1 dan T2 ternyata bahwa PT. Rawai Tajur
Aspalindo tersebut belum disahkan oleh Menteri Kehakiman dan HAM, dengan demikian maka
perseroan tersebut belum berstatus badan hukum seperti yang dimaksud dalam Pasal 7 (6) UU
No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.
Bahwa oleh karena PT. Rawai Tajur Aspalindo tersebut belum berstatus badan hukum, maka PT
tersebut bukan merupakan subjek hukum, sehingga tidak dapat digugat/dimohonkan pernyataan
pailit dimuka Pengadilan Niaga.
Bahwa permohonan pernyataan pailit dalam perkara aquo haruslah ditujukan langsung kepada
pengurus PT. Rawai Tajur Aspalindo sebagaimana yang tercantum dalam akta pendirian PT.
tersebut.”
Dari beberapa dasar hukum dan contoh kasus tersebut di atas, seharusnya telah
terlihat sikap dari Pengadilan Niaga terhadap siapa sebenarnya pihak yang dapat dipailitkan
dalam hal suatu badan usaha yang digunakan untuk melakukan perbuatan hukum tersebut
merupakan persekutuan perdata atau tidak berbentuk bandan hukum.
Akan tetapi sayangnya hal tersebut tidak terjadi dalam hal yang dimohonkan pailit
tersebut adalah badan usaha dalam bentuk Persekutuan Komanditer atau yang lebih dikenal
dengan CV (Commanditaire Vennootschap) dimana sikap Pengadilan Niaga terhadap status
CV tersebut masih belum menunjukkan keseragaman. Dalam putusan terhadap permohonan
pailit yang diajukan oleh PT. Mustika Ratu Buana Internasional terhadap Decky Tambayong
selaku direktur CV. Daitia, dalam pertimbangan hukumnya Majelis Hakim Niaga tidak dengan
tegas melakukan pembahasan tentang status dan tanggung jawab dari CV, akan tetapi
menerima didudukkannya Decky Tambayong selaku pesero pengurus dari CV tersebut untuk
bertanggungjawab, antara lain dikutip sebagai berikut: 13
“…sehingga permohonan Pemohon untuk mempailitkan Termohon dalam kedudukannya
sebagai direktur CV. Daitia yang bertanggungjawab penuh atas semua harta kekayaannya,
terhadap kewajiban CV. Daitia tersebut, telah memenuhi semua persyaratan seperti diatur dalam
Pasal 1 dan Pasal 6 ayat (1)a dan (3) Undang-Undang Nomor 4 tahun 1998, sehingga dengan
demikian permohonan Pemohon haruslah dikabulkan dan Termohon harus dinyatakan pailit.”
Dalam putusan yang tidak dilakukan upaya hukum tersebut, majelis hakim niaga
secara tegas berpendapat bahwa tanggung jawab dari CV sebagai persekutuan komanditer
merupakan tanggung jawab dari masing-masing pesero pengurusnya, bukan tanggungjawab
CV. Hal yang sama juga ditegaskan dalam putusan Pengadilan Niaga No.
35/Pailit/2000/PN.Niaga/Jkt.Pst tanggal 27 Juni 2000 dimana dalam permohonan pailit yang
diajukannya, PT. Dainipon Ink & Chemicals Indonesia mendudukan CV. Mantrade secara
langsung sebagai debitur ataupun Termohon pailit. Majelis Hakim Pengadilan Niaga
menyatakan permohonan pailit tersebut tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijk Verklaard)
karena CV bukan merupakan badan hukum yang dapat didudukkan sebagai pihak dalam
permohonan pailit tersebut, dimana pertimbangan hukum tersebut antara lain sebagai berikut:

12
Ketentuan tersebut didasarkan pada UU No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang telah diubah menjadi UU No.
40 Tahun 2007 dan diatur dalam Pasal 13 ayat (1) jo. Pasal 14 seperti yang dikutip di atas.
13
Putusan No. 28 Pailit/1998/PN.Niaga/Jkt.Pst tertanggal 15 Januari 1999 dimana terhadap putusan tersebut tidak diajukan
upaya hukum yang membuat putusan tersebut menjadi final.

22
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

“Menimbang, bahwa oleh karena itu CV tidak merupakan suatu Perusahaan/perseroan yang
berbadan hukum, maka CV tidak dapat bertindak atau dijadikan sebagai subjek hukum
(Rechtpersoon), oleh karena itu pula CV tidak dapat dijadikan pihak di dalam perkara ini; dan
dengan demikian permohonan Pemohon tidak dapat ditujukan atau dialamatkan kepada CV.
Mantrade, seharusnya permohonan Pemohon ditujukan dan dialamatkan kepada
komplementaris CV. Mantrade; oleh karena itu pula permohonan Pemohon harus dinyatakan
tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijk Verklaard).”
Akan tetapi Majelis Hakim Kasasi MA dalam putusannya No. 22 K/N/2000 tertanggal 1
Agustus 2000 membatalkan putusan Pengadilan Niaga tersebut, dengan pertimbangan hukum
bahwa CV dapat dinyatakan pailit sehingga memutuskan CV. Mantrade Pailit. Dalam
pertimbangan hukumnya Majelis Hakim Kasasi MA menyatakan antara lain, dikutip sebagai
berikut:
“Bahwa, …meskipun CV bukan merupakan badan hukum, namun tidak berarti suatu CV tidak
dapat bertindak sebagai pihak dalam perkara.” 14
Pendapat tersebut tentu saja menimbulkan kebingungan, karena walaupun MA
mengakui bahwa CV bukan merupakan badan hukum, akan tetapi menyatakan bahwa CV
bisa bertindak sebagai “orang” dan mempailitkan CV tersebut tanpa mempailitkan para
persero aktifnya.
Berbeda pula dengan Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. 01/Pailit/
2003/PN.Niaga/Jkt.Pst tanggal 13 Januari 2003 terhadap Permohonan Pailit yang diajukan
oleh Samsung Corporation terhadap CV. WiraMustika Indah bersama-sama dengan Persero
pengurusnya, Soesanto Leo, serta juga kedua Persero Pasifnya, Tansri Benui dan Yulia Luplo
Intan sebagai Termohon Pailit I s/d IV. Pengadilan Niaga dalam putusannya menerima CV
didudukkan sebagai debitur Termohon Pailit, dan bahkan memutuskan pailit CV tersebut
beserta dengan seluruh persero aktif dan pasifnya. Terhadap putusan tersebut, Majelis Hakim
Niaga tingkat kasasi dalam putusannya No. 05/K/N/2003 15 April 2003 yang dikuatkan oleh
Putusan Majelis Hakim PK No. 05/PK/N/2003 tanggal 20 Juni 2003 tetap menerima CV
sebagai pihak yang dapat dipailitkan bersama dengan persero aktif dan salah satu persero
pasif yang telah bertindak secara aktif, dan membebaskan Termohon IV yang merupakan
persero pasif.
Tiga putusan Pengadilan Niaga tersebut ternyata menghasilkan putusan yang berbeda-
beda yang semakin mengaburkan pengertian CV sebagai persekutuan komanditer yang
bukan merupakan badan hukum. Secara logis, bahwa dengan dinyatakannya CV bukan
badan hukum, maka CV tersebut bukanlah “orang” atau subjek pendukung hak dan kewajiban
yang dimaksud oleh Paragraf 2 dan Paragraf 3 dari Pasal 1 tentang Ketentuan Umum dalam
UU Kepailitan No. 37/2004 karena tidak dapat memiliki harta yang digunakan sebagai jaminan
pelunasan utangnya kepada krediturnya seperti yang diatur dalam pasal 1131 KUH Perdata.
Sebagai persekutuan perdata, maka secara tegas, tanggung jawab akibat dari hubungan
hukum yang dengan menggunakan persekutuan komanditer tersebut merupakan tanggung
jawab dari masing-masing anggota peseronya.
Yang berbeda adalah bahwa tanggung jawab pesero aktif (pesero pengurus)
merupakan tanggung jawab personal yang meliputi seluruh harta bendanya. Sedangkan
tanggung jawab dari pesero pasif (sekutu komanditer) hanya terbatas pada modal yang
dimasukkannya ke persekutuan perdata tersebut 15 , sehingga logikanya pesero aktif dapat
dipailitkan, sementara pesero pasif tidak. Adanya sekutu komanditer tidak dapat dijadikan
alasan bahwa CV menjadi persekutuan perdata yang dapat memiliki kekayaan 16 , sehingga

14
Dari data putusan, tidak dilakukan upaya hukum khusus PK terhadap putusan Kasasi ini.
15
Kecuali sekutu komanditer tersebut bertindak aktif dalam mengurus CV tersebut, maka dia akan secara otomatis
bertanggungjawab secara pribadi terhadap seluruh kewajiban yang ditimbulkan oleh CV tersebut sesuai dengan Pasal 21
KUH Dagang.
16
Khusus terhadap benda tidak bergerak yang wajib dinyatakan kepemilikannya dalam sertifikat kepemilikan sesuai dengan
ketentuan Pasal 617 KUH Perdata, tidak dapat dinyatakan atas nama CV karena CV bukan badan hukum. Hal tersebut
membuktikan CV tidak dapat memiliki harta yang terpisah dari harta peseronya.

23
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

dapat didudukkan sebagai Termohon Pailit, karena tetap saja pemasukan dari pesero aktif
tersebut merupakan harta langsung dari pesero pasif tersebut karena tidak terdapat
perbedaan entity. 17 Sehingga pengajuan permohonan pailit terhadap CV secara langsung
tidak dapat diterima, akan tetapi hanya dapat diajukan kepada masing-masing sekutu
komplementer (pesero pengurusnya).

C. Tidak Dilunasinya Utang Yang Telah Jatuh Tempo Merupakan Dasar dari Dapat
Dipailitkannya Sebuah PT

Pengertian tentang Utang merupakan suatu permasalahan yang memudarkan


kepercayaan pencari keadilan terhadap kesungguhan pelaksanaan UU Kepailitan serta juga
kemampuan dari hakim-hakim niaga pada masa sebelum UU Kepailitan No. 4 Tahun 1998
diubah menjadi UU No. 37 Tahun 2004. Betapa tidak, pengertian tentang definisi “utang” yang
secara beragam dipahami oleh Hakim-Hakim Niaga ketika itu, memberikan konsekuensi
terjadinya ketidakpastian hukum dalam memutuskan apakah seorang (termohon) yang
dimohonkan pailit, memang mempunyai utang atau tidak.
Perdebatan tentang definisi utang pada awalnya muncul ketika Johan Subekti cs
mengajukan permohonan pailit kepada PT. Modernland Realty Ltd 18 dimana terjadi
permasalahan utang-piutang antara Pemohon tersebut dengan Termohon akibat dari
berhentinya pembangunan Apartemen yang telah disepakati untuk dibeli oleh Pemohon
tersebut, padahal Pemohon telah membayar uang pesanan dan cicilan pembelian apartemen
tersebut seperti yang telah disepakati dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli Satuan Rumah
Susun Golf Modern diantara mereka.
Pada tingkat Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Modernland Realty dinyatakan pailit
karena tidak melunasi utangnya kepada Pemohon sebagai konsekuensi dari terhentinya
pembangunan Apartemen tersebut. Dalam perdebatan tentang pengertian utang Majelis
Hakim Niaga Jakarta Pusat pada dasarnya berpendapat bahwa utang bukan hanya
merupakan kewaijban yang timbul dari perjanjian pinjam meminjam uang semata, akan tetapi
juga lahir akibat dari tidak terpenuhinya suatu perjanjian atau kontrak (wanprestasi).
Akan tetapi pada tingkat Kasasi 19 , Majelis hakim kasasi MA membatalkan putusan
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tersebut 20 , dengan pertimbangan hukum yang pada dasarnya
menyatakan bahwa utang tidak meliputi suatu kewajiban yang timbul akibat dari tindakan
wanprestasi, yang dikutip antara lain sebagai berikut:
“…pada hakekatnya hubungan hukum yang ada antara para Termohon kasasi (dahulu
termohon asal/PT. Modernland Realty Ltd.) adalah hubungan hukum perikatan jual beli
mengenai satuan rumah susun Golf Modern yang dibangun oleh Pemohon Kasasi dengan
pembayaran secara angsuran oleh para Termohon Kasasi sehingga karenanya merupakan
perikatan antara produsen dan konsumen.
Sedangkan dalam ketentuan Pasal 1 ayat (1) UU No. 4/1998 beserta penjelasannya telah
dicantumkan dengan jelas adanya hubungan hukum utang dan bahwa pengertian utang yang
tidak dibayar oleh debitur sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini adalah utang pokok dan
bunganya.
Bahwa dengan demikian pengertian “utang” dalam Pasal 1 ayat (1) UU No. 4/1998 harus
diartikan dalam konteks pemikiran konsiderans tentang maksud diterbitkannya undang-undang
tersebut dan tidak dapat dilepaskan kaitan itu daripadanya, yang pada dasarnya menekankan

17
Dalam pertanggungjawaban terhadap pihak ketiga, Prof. Abdulkadir Muhammad dalam bukunya yang berjudul “Hukum
Perusahaan Indonesia” cet. I 1999 terbitan PT. Citra Aditya Bakti hal. 57 menegaskan, antara lain sebagai berikut: “Sekutu
komanditer hanya bertanggungjawab kepada sekutu komplementer dengan menyerahkan sejumlah pemasukan (Pasal 19
ayat (1) KUHD). Sedangkan yang bertanggung jawab terhadap pihak ketiga hanyalah sekutu komplementer.”
18
Putusan Pengadilan Niaga No. 07/Pailit/1998/PN.Niaga/Jtk.Pst tanggal 12 Oktober 1998.
19
Putusan Kasasi MA No. 03 K/N/1998 tanggal 2 Desember 1998.
20
Dimana Putusan tersebut juga didukung oleh Majelis Hakim Niaga PK MA dalam Putusan No. 06 PK/N/1999 tanggal 14
Mei 1999.

24
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

pada pinjam meminjam swasta. Sehingga karenanya tidak meliputi wanprestasi lain yang tidak
berawal dari konstruksi pinjam meminjam.”
Akan tetapi sikap Majelis Hakim Kasasi MA terhadap pengertian “utang” berbeda
ketika PT. Djawa Barat Indah dimohonkan pailit juga oleh konsumennnya. Dalam substansi
kasus yang tidak berbeda dengan kasus Modernland Realty tersebut di atas, Majelis Hakim
Kasasi mendukung putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang menjatuhkan putusan pailit
terhadap PT. Djawa Barat Indah dengan pertimbangan hukum antara lain sebagai berikut:
“Bahwa Undang-undang No. 4 tahun 1998 tidak memberikan penjelasan apa yang dimaksud
dengan utang, namun menurut majelis yang dimaksud dengan utang adalah: “Suatu hak yang
dapat dinilai dengan sejumlah uang tertentu, yang timbul karena perjanjian/perikatan atau
karena undang-undang, termasuk tidak hanya kewajiban debitur untuk membayar, akan tetapi
juga hak dari kreditur menerima dan mengusahakan pembayaran.”
(…)
Bahwa dengan demikian maka kedudukan Termohon Kasasi sebagai konsumen dapat disebut
Kreditur sedangkan kedudukan Pemohon Kasasi sebagai produsen dapat disebut Debitur.” 21
Walaupun pada akhirnya putusan Pengadilan Niaga yang didukung oleh MA tersebut
dibatalkan kembali oleh Majelis Hakim PK MA dalam putusannya No. 05 PK/N/1999 tanggal
14 Mei 1999, sangat terlihat ketidakkonsistenan Pengadilan Niaga dalam membangun
pengertian utang yang sebenarnya. Dalam putusan-putusan berikutnya pengertian “utang”
terus mengalami ketidakpastian, karena di masing-masing tingkat Pengadilan Niaga pada
Pengadilan Negeri, pada tingkat kasasi dan pada upaya hukum khusus PK, masih terjadi
keragaman tentang pengertian utang, hingga akhirnya terus membutuhkan ketegasan definisi
yang dicantumkan dalam Pasal 1 angka 6 dari UU No. 37/2004 sebagai penyempurnaan dari
UU No. 4 tahun 1998 yang menyatakan sebagai berikut:
“Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam
mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan
timbul di kemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan
wajib dipenuhi oleh Debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada Kreditor untuk
mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan debitur.”
Dari pengertian tentang definisi utang tersebut sangat diharapkan dapat terbangunnya
kepastian hukum tentang pengertian utang.
Melihat dari pengertian utang dalam UU No. 37 tahun 2004 tersebut diatas, maka
sebagai suatu badan hukum, kewajiban dari suatu PT tidak saja muncul dari suatu kewajiban
melunasi utang yang timbul dari Perjanjian pinjam meminjam uang, akan tetapi juga timbul
akibat dari tindakan wanprestasi (breach of contract) terhadap kewajiban-kewajiban yang
harus dipenuhinya sesuai dengan kontrak yang telah disepakatinya, termasuk juga kewajiban
yang muncul sebagai akibat hukum dari Penjaminan (corporate guarantee) 22 yang diberikan
PT terhadap pihak ketiga sehubungan dengan kepastian pelaksanaan prestasi dari mitra
berkontrak 23 pihak ketiga tersebut.
Akan tetapi pemberian corporate guarantee dari suatu PT harus sesuai dengan
ketentuan yang diatur dalam Pasal 35 ayat (2)c yang pada dasarnya membutuhkan alasan
hukum terhadap penerbitan dari corporate guarantee yang merupakan kewajiban yang bersifat
kontijen terhadap PT tersebut. Dengan kalimat lain, UUPT baru mensyaratkan bahwa
penerbitan corporate guarantee tersebut hanya memungkinkan untuk diterima sebagai
kewajiban dari PT apabila terhadap penerbitan corporate guarantee tersebut PT menerima
manfaat berupa uang atau barang yang dapat dinilai dengan uang yang langsung atau tidak
langsung secara nyata diterima oleh PT.

21
Putusan MA No. 04/K/N/1999 tanggal 9 Maret 1999.
22
Yang secara tegas telah mengesampingkan pasal-pasal istimewa Penjamin (guarantor) yang diatur dalam Pasal 1430,
1831, 1833, 1837 dan 1847 KUH Perdata.
23
Corporate guarantee tersebut bagi pihak Bank telah diciptakan menjadi suatu produk komersial yang dikenal dengan
nama Bank Guarantee, Produk yang sama juga diterbitkan oleh perusahaan asuransi dalam produk yang dikenal dengan
nama Surety Bond.

25
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

Selain itu, kewajiban tersebut juga dapat timbul sebagai konsekuensi dari keberlakukan
undang-undang, misalnya dalam hal kewajiban dari perusahaan untuk membayar gaji,
jaminan sosial ataupun pesangon, dan bentuk penghargaan lainnya terhadap buruhnya sesuai
dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang perburuhan, ataupun kewajiban-
kewajiban lainnya yang harus dipenuhi oleh PT sebagai perusahaan dalam menjalankan
aktivitas bisnisnya sesuai dengan ketentuan undang-undang ataupun peraturan yang berlaku
di wilayah pelaksanaan aktivitas komersialnya, misalnya kewajiban royalti sehubungan
dengan pelaksanaan kuasa pertambangan, ataupun retribusi dalam hal pemenuhan kewajiban
kepada pemerintah daerah.

D. Kepailitan PT bukan Kepailitan Pemegang Saham, Direksi, Dewan Komisaris,


Kecuali Terbukti Terjadinya Pelanggaran Hukum

Seperti yang telah dijelaskan tersebut di atas, sebagai suatu badan hukum, kewajiban
pemenuhan utang-utang PT terhadap krediturnya sesuai dengan yang dimaksud oleh Pasal
1131 KUH Perdata dan Pasal 1 angka 6 UU Kepailitan No. 37/2004 hanya dipenuhi dari harta
milik PT tersebut. Dalam Pasal 21 UU Kepailitan No. 37/2004 ditegaskan bahwa dalam hal
sebuah PT dinyatakan pailit, maka pembayaran kewajiban PT terhadap kreditur-krediturnya
akan dilakukan dengan menggunakan harta PT tersebut yang telah ada pada saat kepailitan
diucapkan serta segala sesuatu yang diperoleh PT tersebut selama kepailitan berlangsung.
Dalam Pasal 3 ayat (1) UUPT yang baru disebutkan bahwa pemegang saham PT tidak
bertanggungjawab secara pribadi atas utang-utang PT melebihi saham yang dimilikinya.
Batasan tersebut juga berlaku bagi direksi sesuai dengan Pasal 97 ayat (5) dan juga terhadap
Dewan Komisaris berdasarkan Pasal 114 ayat (5). Pasal-pasal tersebut menegaskan
kemandirian PT tidak saja dalam kepemilikan terhadap harta-hartanya secara mandiri, akan
tetapi juga terhadap penyelesaian kewajiban ataupun utang-utangnya.
Akan tetapi selanjutnya Pasal 3 ayat (2), menegaskan bahwa dalam hal utang tersebut
terjadi:
• pada saat badan hukum dari perseroan tersebut belum lahir;
• akibat dari itikad buruk dari pemegang saham yang secara melawan hukum
memanfaatkan PT untuk kepentingan pribadinya; atau
• pemegang saham terlibat dalam perbuatan hukum yang dilakukan PT yang
menimbulkan kewajiban ataupun utang PT tersebut;
maka dalam hal harta dari PT tersebut tidak mencukupi dalam penyelesaian utang-utangnya,
pemegang saham tersebut bertanggungjawab secara pribadi terhadap penyelesaian utang-
utang PT tersebut (piercing the corporate veil). Hal yang sama juga berlaku pada Direksi dan
Dewan Komisaris yang mengharuskan bertanggungjawab secara pribadi dalam hal kesalahan
atau kelalaian tersebut menimbulkan kerugian PT seperti yang diatur dalam Pasal 115 ayat (1)
dan (2) jo. Pasal 97 ayat (3) dan Pasal 114 ayat (3).
Sehingga dengan dapat dibuktikan bahwa kerugian dari PT tersebut terjadi akibat
kesalahan ataupun kelalaian dari pemegang saham, direksi ataupun Dewan Komisaris, maka
pengajuan permohonan pailit terhadap PT dapat juga dilakukan bersamaan dengan
pengajuan permohonan pailit terhadap masing-masing pemegang saham ataupun direksi
ataupun komisaris dari PT tersebut secara sekaligus ataupun secara terpisah.
Harus diakui bahwa pelaksanaan dari ketentuan-ketentuan UUPT tersebut di atas
tidaklah semudah memahaminya karena hingga saat sekarang sangat sulit meminta
pertanggungjawaban pemegang saham, pengurus ataupun Dewan komisaris secara pribadi
walaupun ditemukan alasan bahwa kepailitan tersebut terjadi akibat dari kesalahan ataupun
kelalaian dari Direksi ataupun Dewan Komisaris PT yang pailit tersebut ataupun kesalahan
dari para pemegang sahamnya, misalnya; beberapa temuan yang menunjukkan bahwa
pemegang saham banyak menggunakan harta-harta ataupun kekayaan-kekayaan dari PT
tersebut untuk kepentingan perusahaan-perusahaan lain dalam grupnya ataupun untuk
kepentingan pribadinya, yang menjadi dasar dari ketidakmampuan dari PT tersebut untuk
menyelesaikan kewajibannya sehingga harus dipailitkan.

26
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

Ketidakmampuan dalam mengungkap sisi ini (yang secara teori dapat digunakan
sebagai upaya untuk memperbesar kemampuan debitur pailit untuk membayar utang-
utangnya secara lebih baik kepada masing-masing krediturnya) selain tidak saja disebabkan
karena pengadilan Indonesia tidak memberikan perhatian yang serius untuk itu, dalam konteks
UU Kepailitan, Pasal 3 ayat (1) 24 yang mewajibkan kasus-kasus sehubungan dengan dugaan
pelanggaran Pasal 3 ayat (2) dan pelanggaran Pasal 115 ayat (1) UUPT oleh pemegang
saham, direksi ataupun dewan komisaris diajukan ke Pengadilan Niaga, sampai saat ini hanya
menimbulkan ketidakpastian hukum 25 .
Pengadilan Niaga kewenangannya pada saat diberlakukan hanya dikhususkan untuk
memeriksa dan memutuskan permohonan pernyataan pailit ataupun permohonan PKPU,
secara tegas mempunyai keterbatasan wewenang untuk hanya dapat memeriksa sengketa
utang-piutang yang didasarkan “pembuktian sederhana” 26 bahwa adanya utang debitur yang
telah jatuh tempo dan dapat ditagih kepada salah satu krediturnya, dimana utang tersebut
belum dilunasi pada saat permohonan pernyataan pailit tersebut diajukan. Dalam perluasan
kewenangannya seperti yang diatur dalam Pasal 300 (dahulu pasal 280 ayat 2) secara tegas
dinyatakan akan membutuhkan pengaturan tersendiri. Hal tersebut telah dilakukan pada saat
kewenangan Pengadilan Niaga diperluas pada pemeriksaan dan pemutusan sengketa-
sengketa Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) seperti yang diatur antara lain dalam Undang-
Undang Merek No. 15 tahun 2001 dan Undang-Undang Paten No. 14 tahun 2001.
Tentunya, adanya tudingan bahwa kepailitan yang dialami oleh PT diakibatkan oleh
kesalahan dari pemegang saham, ataupun kesalahan pengurusan dari direksi dan
pengawasan dari dewan Komisaris, tidak dapat dilakukan sekedar dengan mengajukan
permohonan, karena sifat dari tuduhan tersebut tidak dapat diperiksa secara sepihak (ex
parte) mengingat UUPT Pasal 115 ayat (5) memberikan kewenangan pada direksi dan
komisaris untuk membela diri begitupun pembelaan diri pemegang saham sehubungan
dengan tuduhan Pasal 3 ayat 2 UUPT. Begitu pula dengan memberikan kewenangan untuk
mengadili pada Pengadilan Niaga, hingga sampai saat ini sangat sulit didapatkan kepastian
hukumnya, karena Pengadilan Niaga tidak mempunyai kewenangan untuk memeriksa kasus
selain dengan penggunaan ketentuan Pasal 8 ayat (4) yang memberikan konsekuensi tata
penggunaan waktu (time frame) maksimum 60 hari di Pengadilan Niaga, maksimum 60 hari di
Tingkat Kasasi MA dan 30 hari Upaya Hukum Khusus PK di MA.
Misalnya, dalam hal diduga bahwa pemegang saham menggunakan utang PT untuk
membeli aset-aset yang secara formal dibuat atas nama pribadinya, ataupun atas nama
perusahaan lainnya? Atau tindakan pemegang saham yang memaksa PT untuk meminjam
uang untuk digunakan menutupi kebutuhan pribadinya atau PT lainnya, ataupun tindakan
pemegang saham untuk menjaminkan asset PT untuk kepentingan dirinya ataupun PT
miliknya yang lain yang membuat PT tersebut sulit untuk menggunakan harta tersebut untuk
kebutuhannya, tindakan pemegang saham atau direksi atau komisaris yang menggelapkan
harta perusahaan, tindakan direksi yang menggunakan perusahaan untuk melakukan aktivitas
pidana.
Semua contoh-contoh tersebut bukanlah kasus-kasus yang dapat dengan begitu begitu
saja diajukan ke Pengadilan Niaga karena jika mempunyai unsur pidana, harus dilakukan
sesuai dengan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) ataupun jika
24
Pemberian kewenangan terpadu kepada Pengadilan Niaga untuk memeriksa seluruh kasus-kasus yang timbul setelah
kepailitan pada dasarnya untuk memberikan sinkronisasi waktu. Akan tetapi pembuat undang-undang kurang
memperhatikan dasar dari kewenangan Pengadilan Niaga untuk memeriksa perkara-perkara yang sangat bervariasi yang
mungkin muncul setelah kepailitan tersebut.
25
Untuk perbandingan, baca putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. 47/Pailit/2006/PN. Niaga/Jkt.Pst, sehubungan
dengan permohonan pailit yang diajukan kepada para pemegang saham, pengurus, komisaris dari PT. Citra Hidayat
Komunikaputra yang telah dinyatakan pailit dimana harta dari PT dalam pailit tersebut sangat tidak cukup untuk melunasi
kewajiban kepada kreditur-krediturnya. Putusan Pengadilan Niaga menyatakan masing-masing dari pribadi pemegang
saham, pengurus dan komisaris dari PT pailit tersebut pailit. Akan tetapi pada upaya hukum khusus PK, putusan Pengadilan
Niaga tersebut dibataslkan dengan pertimbangan antara lain, bahwa perkara yang menjadi substansi permohonan pailit
tersebut dinyatakan tidak sederhana, sehingga bukan kewenangan Pengadilan Niaga untuk memutuskannya.
26
Pasal 8 ayat 4 jo. Pasal 2 ayat 1 UU Kepailitan No. 37 tahun 2004.

27
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

harus dipaksakan ke Pengadilan Niaga maka sangat sulit Pengadilan Niaga untuk
memutuskan perkara tersebut dalam waktu 60 hari. Hal inilah yang antara lain menjadi
kendala dari Kurator dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit. Oleh karena
itu, jikapun dengan keinginan membangun suatu sinkronisasi kualitas penanganan dan waktu
sehubungan kasus-kasus yang timbul dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit,
haruslah diatur lebih jauh, seharusnya tidak hanya dengan sekedar menghadirkan Pasal 3
ayat (1) UU Kepailitan No.37/2004 saja.

E. Kedudukan Hukum PT Secara Tegas Dicantumkan dalam Anggaran Dasarnya

Pada prinsip umumnya 27 , kewenangan mengadili dari suatu pengadilan adalah


ditentukan oleh domisili ataupun kedudukan hukum dari Tergugat atau Termohonnya. Secara
khusus, berdasarkan Pasal 3 ayat (1) UU Kepailitan No. 37/2004 dinyatakan bahwa
Pengadilan Niaga yang berwenang memeriksa dan memutuskan permohonan pailit adalah
Pengadilan Niaga yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum debitur.
Selanjutnya, di dalam Pasal 3 ayat (5) lebih ditegaskan lagi bahwa dalam hal debitur
merupakan badan hukum, maka tempat kedudukan hukumnya adalah sebagaimana dimaksud
dalam anggaran dasarnya. Ketentuan tersebut sejalan dengan Pasal 15 ayat (1) dan Pasal 17
yang menegaskan tentang kedudukan dari PT yang secara tegas diatur dalam anggaran
dasarnya.
Sehubungan dengan kehadiran Pengadilan Niaga yang hingga pada saat ini masih
terbatas hanya pada lima wilayah Indonesia 28 yang dasar pendirian dan pembagian
kewenangannya diatur berdasarkan Keputusan Presiden No. 97 Tahun 1999, sebagai berikut:
1. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makasar (d/h. Ujung Pandang), wilayah
hukumnya meliputi Propinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah,
Sulawesi Utara, Maluku dan Papua (d/h. Irian Jaya).
2. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan, wilayah hukumnya meliputi
Propinsi Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi dan Nangroe Aceh
Darussalam (d/h. Daerah Istimewa Aceh).
3. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya, wilayah hukumnya meliputi
Propinsi Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Bali,
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Timor-Timur (sebelum merdeka).
4. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang, wilayah hukumnya meliputi
Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
5. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, wilayah hukumnya meliputi
Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Lampung,
dan Kalimantan Barat.
Dengan pengaturan domisili yang disesuaikan terhadap wilayah hukum yang menjadi
kewenangan kelima Pengadilan Niaga tersebut menjadi ketentuan yang sangat penting untuk
dipahami sehubungan dengan pengajuan permohonan pailit ataupun PKPU terhadap seorang
debitur.
Sayangnya, ketentuan yang secara tegas telah mengatur wilayah kewenangan
Pengadilan Niaga tersebut dilanggar begitu saja dalam Putusan Pengadilan Niaga No.
04/PKPU/2006/PN.Niaga.Jkt.Pst. jo. No. 11/Pailit/2006/PN.Niaga.Jkt.Pst yang mengabulkan
permohononan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan oleh PT.
Indoveneer Utama terhadap dirinya sebagai respons terhadap permohonan pailit yang
diajukan oleh CV. Indo Djati terhadap dirinya, padahal telah tegas dalam Anggaran Dasarnya
bahwa kedudukan hukum dari PT. Indoveneer Utama tersebut adalah di Surakarta. Walaupun
terhadap putusan tersebut Pengadilan Niaga Jakarta Pusat akhirnya melakukan koreksi
berdasarkan Putusan No. 02/Perlawanan Pailit/2006/PN.Niaga.Jkt.Pst tanggal 15 Agustus

27
Berdasarkan pasal 118 HIR.
28
Lihat Pasal 281 ayat (1) dan ayat (2) UU Kepailitan No. 4 Tahun 1998 yang pada dasarnya mengatur tentang
pembangunan Pengadilan Niaga diseluruh Indonesia secara bertahap.

28
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

2006, akan tetapi akhirnya dibatalkan oleh Majelis Hakim Kasasi MA dalam putusannya No.
027 K/N/2006 begitu juga dengan putusan PK No. 05 PK/N/2007 tanggal 23 Juli 2007.
Putusan yang memperbolehkan debitur yang berkedudukan hukum di Surakarta
dimohonkan pailit ataupun PKPU di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, jelas merupakan
pelanggaran terhadap Pasal 3 ayat (1) dan (5) dari UU No. 37 Tahun 2004 jo. Keputusan
Presiden No. 97 Tahun 1999. Selain itu juga, akan memberikan potensi terjadinya
pelanggaran dan ketidakpastian hukum tentang ketentuan domisili pengajuan permohonan
pailit dan PKPU di kemudian hari.
Sayangnya, Mahkamah Agung yang pada Penjelasan Umum angka 3 huruf c Undang-
undang No. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dinyatakan sebagai pengadilan tertinggi
dalam melakukan pengawasan tertinggi atas perbuatan pengadilan, hanya memberi
pertimbangan hukum yang pada dasarnya bahwa pelanggaran terhadap Pasal 3 ayat (1) yang
sebenarnya telah tegas mengatur tentang domisili hukum mengajukan permohonan pailit
tersebut, tidak dapat diperbaiki, karena tidak diatur di dalam UU Kepailitan ketentuan untuk itu.
Dengan pengertian lain bahwa walupun Mahkamah Agung telah jelas melihat bahwa telah
terjadi pelanggaran tentang domisili Termohon yang menjadi dasar kewenangan Pengadilan
Niaga untuk mengadili, akan tetapi tidak melakukan perbaikan (koreksi) terhadap pelanggaran
Pasal 3 ayat (1) UU Kepailitan jo. Keputusan Presiden No. 97 Tahun 1999 tersebut hanya
dengan alasan bahwa upaya hukum terhadap putusan PKPU tidak diperobolehkan.
Yang sulit diterima adalah pertimbangan hukum tersebut dinyatakan oleh sebuah
lembaga pengawas peradilan tertinggi -terhadap putusan pengadilan niaga sebagai
pengadilan yang berada dalam pengawasannya- yang jelas-jelas telah dilakukan secara
melawan hukum, yaitu melawan Pasal 3 ayat (1) dan Pasal 3 ayat (5) UU Kepailitan No.
37/2004.
Fakta putusan ini akan memicu ketidakpastian hukum dalam menentukan Pengadilan
Niaga sebagai pengadilan yang secara hukum berwenang memutuskan permohonan pailit
atau PKPU. Artinya, jika Debitur dalam kasus di atas yang jelas-jelas mempunyai domisili
hukum di Surakarta (seharusnya permohonan kepailitan ataupun PKPU kepadanya diajukan
di Pengadilan Niaga Semarang) dapat dipailitkan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, maka
bukan tidak mungkin debitur yang berdomisili di Medan juga dapat dipailitkan di Pengadilan
Niaga Makassar, dengan menggunakan putusan Mahkamah Agung tersebut diatas sebagai
pedoman.

F. Badan Hukum Persero Yang Juga Tunduk pada Ketentuan UU No. 40 Tahun 2007,
Dapat Dipailitkan Tanpa Membutuhkan Izin Menteri Keuangan

Kasus permohonan pailit yang diajukan oleh Haryono dan kawan-kawan (yang
merupakan buruh yang telah di PHK oleh PT. Dirgantara Indonesia (Persero)) terhadap PT.
Dirgantara Indonesia (Persero) kembali meminta perhatian terhadap sampai seberapa besar
kepastian hukum sehubungan dengan UU Kepailitan No. 37 Tahun 2004 dapat diwujudkan.
Dalam Pasal 2 ayat (5) UU No. 37 Tahun 2004 diatur bahwa dalam hal debitur adalah
BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik, permohonan pernyataan pailit hanya
dapat diajukan oleh Menteri Keuangan. Selanjutnya, dalam penjelasan Pasal 2 ayat (5)
tersebut ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan “Badan Usaha Milik Negara yang bergerak
di bidang kepentingan publik” adalah BUMN yang tidak terbagi atas saham. Lebih jauh lagi
berdasarkan Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN, yang dimaksud dengan
BUMN yang modalnya tidak terbagi atas saham adalah BUMN yang berbentuk PERUM.
Sementara BUMN yang modalnya terbagi atas saham adalah BUMN yang berbentuk
PERSERO.

29
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

Bila berdasarkan pada ketentuan-ketentuan tersebut di atas, maka sebagai Persero,


pengajuan permohonan pailit terhadap PT. Dirgantara Indonesia tidak harus diajukan oleh
Menteri Keuangan, akan tetapi dapat secara langsung diajukan oleh krediturnya, sepanjang
persyaratan untuk memohonkan pailit sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 2
ayat (1) UU No. 37/2004 telah terpenuhi. Hal tersebutlah yang menjadi dasar dari
beralasannya secara hukum Pengadilan Niaga Jakarta Pusat memutuskan PT. Dirgantara
Indonesia pailit dalam putusannya No. 41/Pailit/2007/PN.Niaga/Jkt.Pst tanggal 4 September
2007, yang antara lain dikutip sebagai berikut:
“menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas maka Majelis Hakim
sependapat dengan Pemohon bahwa Termohon Pailit PT. Dirgantara Indonesia (Persero) tidak
termasuk dalam kategori BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik yang seluruh
modalnya dimiliki oleh Negara dan tidak terbagi atas saham sebagaimana yang dimaksud dalam
penjelasan Pasal 2 ayat (5) UU Kepailitan dan PKPU, sehingga dengan demikian Pemohon
Pailit mempunyai kapasitas hukum untuk mengajukan Permohonan Pailit terhadap Termohon
Pailit, PT. Dirgantara Indonesia (Persero).”
Pada dasarnya, permohonan pailit kepada BUMN Persero, bukan baru pertama kali
diajukan ke Pengadilan Niaga. Pengajuan Pailit telah pernah diajukan kepada PT. Hutama
Karya (Persero) yang pada Tingkat Kasasi telah diputuskan pailit. Akan tetapi, kemudian
putusan kasasi tersebut dibatalkan oleh Majelis Hakim PK MA, tidak dengan menggunakan
alasan hukum seperti yang diajukan dalam putusan PT. Dirgantara Indonesia (Persero), akan
tetapi dengan membuktikan fakta bahwa kewajiban PT persero tersebut kepada kreditur
lainnya, ternyata telah dilunasi, sehingga tidak terbukti mempunyai kreditur lainnya seperti
yang dipersyaratkan oleh Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan No. 37/2004. Begitu pula terhadap
permohonan pailit yang diajukan oleh The Vietnam Forntier Fund terhadap PT. DOK &
Perkapalan Kodja Bahari (Persero) yang ditolak oleh Pengadilan Niaga hingga pada tahap
kasasi, tidak didasarkan oleh adanya hak khusus terhadap Persero.
Akan tetapi, terhadap Putusan Pengadilan Niaga yang menyatakan PT. Dirgantara
Indonesia (Persero) pailit, Majelis Hakim Niaga tingkat Kasasi MA membatalkan putusan
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tersebut dalam putusannya No. 075 K/Pdt.Sus/2007 yang
diputus pada tanggal 22 Oktober 2007 dengan pertimbangan antara lain sebagai berikut:
“Bahwa oleh karena itu, Pemohon Kasasi I/Termohon sebagai Badan Usaha Milik Negara yang
keseluruhan modalnya dimiliki Negara dan merupakan objek vital industri, adalah Badan Usaha
Milik Negara yang bergerak dibidang kepentingan publik yang hanya dapat dimohonkan pailit
oleh Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud oleh Pasal 2 ayat (5) UU No. 37/2004.”
Pemakalah berpendapat, bahwa Pengadilan Niaga harus secara berani mengambil
sikap yang tegas dan berkepastian hukum sehubungan dengan kedudukan BUMN dalam hal
permohonan pailit yang tetap akan memungkinkan diajukan kepadanya sebagai badan hukum
pendukung hak dan kewajiban. Mahkamah Agung tidak dapat dengan begitu saja
mengesampingkan ketentuan yang telah ditegaskan dalam Pasal 2 ayat (5) UU Kepailitan No.
37/2004 dan juga dalam penjelasannnya serta juga UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN
yang secara tegas dimaksudkan dalam hal BUMN tersebut adalah Persero, maka
permohonan pailit terhadapnya dapat diajukan secara langsung oleh krediturnya.

G. PT yang sedang Dilikuidasi Akibat dari Pembubaran (Winding Up) Masih Dapat
Dipailitkan

Secara hukum dalam hal Perseroan Terbatas, antara lain, sudah merasa tidak lagi
memiliki kemampuan untuk menjalankan usahanya, baik karena ijin usahanya dicabut,
ataupun usahanya mengalami kerugian yang terus menerus sehingga PT tersebut
menghentikan kegiatannya, maka langkah yang memungkinkan yang dilakukan oleh PT untuk
mengakhiri permasalahan tersebut adalah dengan “membubarkan” atau “mempailitkan” PT
tersebut. Hal tersebut secara tegas dimungkinkan berdasarkan Pasal 142 ayat (1) a dan c
UUPT yang baru dan Pasal 2 ayat 1 UU Kepailitan No. 37 Tahun 2004.

30
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

Tindakan Likuidasi yang wajib segera harus dilakukan pasca pembubaran PT secara
hukum dilakukan oleh Likuidator yang diangkat untuk itu ataupun jika Likuidator tidak diangkat,
maka direksi akan bertindak sebagai Likuidator. Pada dasarnya tugas dari seorang Likuidator
adalah tidak hanya untuk membereskan ataupun menjual aset-aset PT yang telah dibubarkan
tersebut agar dapat digunakan untuk melunasi kewajiban PT bubar tersebut kepada kreditur-
krediturnya, akan tetapi juga untuk melakukan pengurusan, termasuk melakukan pencarian
secara maksimal aset-aset dari PT tersebut (asset recovery) sesuai dengan maksud dari
Pasal 1131 KUH Perdata dalam hal untuk memaksimalisasi jumlah aset, dimana pada saat
yang bersamaan juga melakukan upaya maksimalisasi dari nilai aset-aset tersebut agar dapat
menghasilkan harga jual yang terbaik untuk dapat digunakan secara maksimal melunasi
kewajiban PT dalam likuidasi tersebut kepada masing-masing krediturnya sesuai dengan hak-
hak yang dimiliki oleh kreditur tersebut.
Hal inilah yang sering sulit dilakukan oleh seorang Likuidator, apalagi fungsi Likuidator
tersebut dilakukan oleh Direksi, dalam hal Likuidator tersebut harus berhadapan dengan
kewenangan RUPS yang mengangkatnya ataupun yang menjadi tempat pertanggungjawaban
pelaksanaan tugas dan kewenangannnya seperti yang diatur dalam Pasal 152 UUPT No. 40
Tahun 2007. Tidak sedikit ditemukan pemasalahan bahwa langkah pembubaran tersebut
merupakan suatu langkah yang digunakan oleh para pemilik saham untuk dapat lari dari
kewajibannya (ataupun mengamankan harta-harta PT yang telah disembunyikan ataupun
yang dibuat secara formal atas namanya), karena Likuidator yang diangkatnya sulit untuk
memaksa masing-masing pemegang saham tersebut untuk terbuka atau tunduk padanya
sehubungan dengan dugaan penyalahgunaan aset PT yang sedang dipailitkan tersebut,
karena kewenangan yang dimiliki Likuidator yang diangkat RUPS adalah kewenangan yang
diberikan dan akan dipertanggungjawabkan kemudian ke RUPS tersebut.
Sehingga tidak sedikit kasus pembubaran PT yang menimbulkan kerugian kepada
kreditur PT tersebut atas keterbatasan dari kreditur tersebut untuk memperoleh kemandirian
dari Likuidator yang diangkat oleh RUPS. Keadaan inilah yang menimbulkan pertanyaan
kembali pada maksud dari Pasal 1131 KUH Perdata serta status keterpisahan kepemilikan
harta PT dengan masing-masing pemegang sahamnya sebagai entitas yang terpisah. Dan,
permasalahan ini pulalah yang men-trigger timbulnya pertanyaan, apakah PT yang
dibubarkan dan sedang berada dalam proses likuidasi masih dapat dipailitkan?
Pertanyaan tersebut diatas awalnya muncul pada kasus permohonan pailit yang
diajukan oleh LG Electronic, Inc. terhadap PT. LG Bangunindo Electronic. Dalam putusannya
No. 06/Pailit/1998/PN.Niaga/Jkt.Pst tanggal 7 Oktober 1998 Pengadilan Niaga menolak
Permohonan Pernyataan Pailit tersebut dengan pertimbangan hukum bahwa PT. LG
Bangunindo Electronic telah dibubarkan dengan alasan ketentuan Pasal 119 UUPT No. 1
tahun 1995 yang pada dasarnya menyatakan bahwa Perseroan dalam Likuidasi tidak dapat
melakukan perbuatan hukum, kecuali sehubungan dengan tindakan pemberesan kekayaan
Perseroan dalam pailit tersebut. Putusan tersebut selanjutnya didukung oleh Majelis Hakim
Kasasi dalam putusannya No. 02/K/N/1998 tanggal 26 November 1998 walaupun pemohon
pailit mengajukan bukti-bukti bahwa proses likuidasi belum selesai dan tidak dilaksanakan
dengan seharusnya.
Putusan yang menyatakan bahwa Perseroan dalam Likuidasi tidak lagi dapat
dipailitkan juga menjadi dasar pertimbangan putusan hakim Niaga dan Majelis Hakim Kasasi
MA dalam kasus permohonan pailit yang diajukan oleh Badan Penyehatan Perbankan
Nasional (BPPN) terhadap PT. Ometraco Corporation Tbk yang telah dibubarkan dan sedang
dalam proses likuidasi, dengan pertimbangan hukum yang merujuk pada putusan kasasi
dalam kasus LG Bangunindo Electronic tersebut di atas 29 , yang menyatakan bahwa PT yang
sedang dalam likuidasi tidak dapat dipailitkan.

29
Putusan Pengadilan Niaga No. 20/Pailit/2000/PN. Niaga/Jkt.Pst tanggal 26 April 2000, dan Putusan Kasasi MA No. 17
K/N/2000 tanggal 9 Juni 2000.

31
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

Putusan tersebut mulai menunjukkan perbedaan dalam kasus Permohonan Pailit yang
diajukan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) terhadap PT. Muara Alas
Prima. Walaupun putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No.
71/Pailit/2000/PN.Niaga/Jkt.Pst tanggal 21 Oktober 2000 menolak permohonan pailit dengan
alasan bahwa PT. Muara Alas Prima telah dibubarkan akan tetapi Majelis Hakim Kasasi
membatalkan putusan Pengadilan Niaga tersebut dan menyatakan PT. Muara Alas Prima
Pailit. Pertimbangan Majelis Hakim Niaga tingkat Kasasi MA tersebut antara lain sebagai
berikut:
“Bahwa apa yang telah dilakukan Termohon Kasasi baru dalam proses pemberesan (dalam
likuidasi), oleh karena itu pembubaran PT in casu tidak mempunyai ketentuan hukum yang
berlaku, sehingga karenanya PT. Muara Alas Prima masih exist (ada). Bahwa suatu Perseroan
Terbatas dalam Likuidasi masih dapat dimohonkan untuk dinyatakan pailit.”
Sayangnya pada tingkat upaya hukum khusus PK di Mahkamah Agung, pembatalan
terhadap putusan kasasi tersebut dibatalkan oleh Majelis Hakim PK No. 01 PK/N/2001 tanggal
2 Februari 2001, akan tetapi bukan karena pertimbangan hukum Majelis Hakim Kasasi yang
memutuskan bahwa PT dalam likuidasi dapat dipailitkan, akan tetapi lebih pada tidak
dipenuhinnya syarat formal pengajuan permohonan kasasi yang seharusnya dilakukan
maksimum 8 (delapan) hari sejak tanggal putusan kasasi ditetapkan.
Sangat disayangkan, setelah beberapa perdebatan penting pada kasus-kasus
sebelumnya, Mahkamah Agung tidak siap menuntaskan sikap Mahkamah Agung terhadap
pertanyaan apakah PT yang sedang dilikuidasi dapat dipailitkan, dan mengambil langkah
aman dalam menolak putusan Hakim Niaga tingkat Kasasi tersebut dengan menggunakan
alasan formalitas pendaftaran permohonan pailit.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, maka proses likuidasi merupakan suatu proses
yang dilakukan oleh Likuidator untuk melakukan pemberesan aset yang secara prioritas
digunakan untuk menyelesaikan kewajiban PT dalam likuidasi tersebut kepada masing-masing
krediturnya berdasarkan hak-hak yang dimilikinya. Dan, jika masih ada tersisa maka sisa dari
harta PT tersebut akan dikembalikan kepada masing-masing pemegang saham sesuai
dengan perimbangan kepemilikan sahamnya (modal yang disetornya) di PT yang telah bubar
tersebut. Artinya, kemampuan seorang likuidator untuk dapat bertugas secara maksimal akan
sangat memberi peluang bagi peningkatan potensi kreditur untuk dibayar dengan lebih baik.
Dalam hal inilah, Pemakalah berpendapat bahwa Kreditur berhak untuk menentukan
apakah proses pemberesan seorang debitur dilakukan melalui likuidasi ataupun kepailitan.
Dengan pengertian lain, dalam hal Likuidator di mata kreditor telah menunjukkan
ketidakmampuannya dalam mengurus dan membereskan aset PT dalam likuidasi tersebut,
serta juga tidak dapat secara mandiri dan profesional dalam melaksanakan tugasnya, maka
kreditur tersebut dapat memilih proses kepailitan sebagai dasar hukum proses pemberesan
tersebut karena dengan diangkatnya Kurator, maka kewenangan RUPS dalam proses likuidasi
aset akan hilang.
Pemakalah tidak sependapat dengan Majelis Hakim Kasasi Ometraco Corporation,
yang pada dasarnya menyatakan bahwa kepailitan suatu PT yang sedang dalam Likuidasi
hanya dapat dimungkinkan dalam hal aset PT tersebut ternyata lebih kecil dari kewajibannya
kepada krediturnya. Pendapat tersebut justru menghilangkan maksud dan prinsip dari
Kepailitan itu sendiri. Dimana kebenarannya? Jika majelis hakim meyakini bahwa proses
Likuidasi oleh Likuidator setelah pembubaran adalah sama dengan Proses Likuidasi oleh
Kurator setelah Kepailitan, maka mengapa Majelis Hakim Kasasi baru memperbolehkan PT
yang sedang dalam likuidasi untuk dipailitkan hanya jika harta PT yang sedang dalam likuidasi
tersebut dinyatakan lebih kecil dari kewajiban terhadap krediturnya? Justru yang terjadi
seharusnya kebalikannya, yaitu dalam hal PT yang dipailitkan ternyata hartanya lebih kecil
dari kewajibannya kepada krediturnya, maka debitur pailit tersebut harus dibubarkan karena
prinsip tersebut sejalan dengan prinsip Limited Liability Company.
Prinsip tersebut sejalan dengan ketentuan tentang Pembubaran Perseroan yang diatur
dalam Pasal 142 ayat (1) huruf d dan e UUPT No. 40/2007 yang menyatakan sebagai berikut:

32
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

(1) Pembubaran Perseroan terjadi:


d. dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup untuk membayar
biaya kepailitan;
e. karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan
insolvensi sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang Kepailitan dan PKPU.
Oleh karena itu, pendapat Majelis Hakim Niaga tingkat kasasi tersebut sulit untuk
didukung, dan seharusnya kewenangan untuk menentukan apakah suatu PT yang akan
dibereskan dilakukan lebih dahulu melalui proses pembubaran atau kepailitan merupakan
kewenangan ataupun hak dari kreditur untuk menentukan bagaimana tagihannya kepada
debitur tersebut dapat dibayarkan dengan lebih baik. Jika memang Likuidator dapat bekerja
profesional dan independen, maka pemberesan melalui Likuidator akan memenuhi harapan
tersebut, akan tetapi sebaliknya, jika tidak, maka kreditur dengan membuktikan fakta-fakta
bahwa proses likuidasi tidak dilakukan dengan semestinya dapat meminta ke Pengadilan
Niaga agar PT yang sedang dalam likuidasi tersebut untuk dipailitkan.
Sehubungan dengan pembahasan tersebut di atas, Pemakalah mempertanyakan
kepastian hukum dari Pasal 142 ayat (1) huruf e tersebut di atas karena menyatakan bahwa
Pembubaran Perseroan terjadi pada saat harta pailit perseroan yang telah dinyatakan pailit
berada dalam keadaan insolvensi sebagaimana diatur dalam UU Kepailitan No. 37/2004. Bila
dihubungkan dengan pengertian Insolvent yang diatur dalam Pasal 178 UU Kepailitan No.
37/2004, dengan tegas diatur bahwa Insolvent adalah keadaan dimana debitur yang telah
dinyatakan pailit tidak mengajukan usulan perdamaian atau usulan perdamaian yang diajukan
oleh debitur tersebut ditolak oleh krediturnya.
Dengan ketentuan tersebut, maka sangat tidak beralasan hukum dan keadilan bila
perusahaan yang dinyatakan insolvent secara bersamaan juga harus dinyatakan “bubar”
dalam konteks Pasal 142 ayat (1) huruf e UUPT No. 40/2007. Insonlvensi pada UU Kepailitan
adalah awal dari langkah pemberesan yang dilakukan oleh Kurator, sehingga dengan
sekaligus dibubarkan, apakah juga pada saat yang bersamaan harus diangkat Likuidator?
Pasal ini memberikan kekaburan tidak saja pada para kreditur akan tetapi juga para kurator
dalam melaksanakan pekerjaannya, sehingga sebaiknya harus diperbaiki. Yang benar adalah
pembubaran suatu PT yang setelah dilakukan pemberesan ternyata harta dari debitur
insolvent tersebut tidak mencukupi untuk membayar kewajibannya kepada krediturnya.
Dengan kata lain, setelah pembagian akhir dari harta debitur pailit (insolvent) dilakukan
dan tidak ada lagi harta yang tersisa sementara kewajibanya masih banyak, maka barulah
langkah pembubaran Perseroan terjadi. Hal tersebut sejalan dengan Pasal 18 UU Kepailitan
yang mengangkat status pailit dari PT yang sama sekali tidak ada lagi hartanya, yang secara
hukum dapat dibubarkan dengan menggunakan Pasal 142 ayat (1) huruf d UUPT No. 40
Tahun 2007.
Selain itu, Pemakalah juga mengkritisi ketentuan Pasal 149 ayat (2) UUPT No. 40
Tahun 2007 yang menyatakan sebagai berikut:
“Dalam hal likuidator memperkirakan bahwa utang perseroan lebih besar daripada kekayaan
perseroan, Likuidator wajib mengajukan permohonan pailit Perseroan, kecuali peraturan
perundang-undangan menentukan lain dan semua kreditur yang diketahui identitasnya dan
alamatnya, menyetujui pemberesan dilakukan diluar kepailitan.”
Pada satu sisi, pasal ini semakin menguatkan bahwa PT yang sedang dalam likuidasi
dapat dipailitkan. Yang menjadi pertanyaan, apa dasar pemberian kewajiban untuk
mempailitkan tersebut kepada Likuidator hanya karena ditemukan bahwa utang PT lebih besar
dari kekayaan PT yang sedang dalam likuidasi? Apakah dimaksudkan bahwa PT hanya dapat
dibubarkan dalam hal harta kekayaan sebuah PT dipastikan lebih besar dari kewajibannya
barulah sebuah PT dapat dibubarkan untuk memastikan proses pemberesannya dapat
dilakukan oleh Likuidator? Ataukah pasal ini dimaksudkan bahwa Likuidator kurang layak
untuk melakukan langkah pemberesan suatu harta PT dibubarkan dalam hal harta tersebut
lebih kecil dari kewajibannya? Kata “wajib” dalam pasal ini semakin menunjukkan bahwa
seakan-akan proses pemberesan dalam pailit berbeda dengan proses pemberesan dalam

33
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

pembubaran, padahal tidak! Keduanya sama, yaitu melakukan pengurusan dan pemberesan
terhadap harta tersebut PT untuk dapat digunakan secara maksimal melunasi kewajiban
debitur pailit atau bubar tersebut kepada krediturnya sesuai dengan hak-hak yang dimiliknya
berdasarkan Pasal 1132, Pasal 1139, Pasal 1149, Pasal 1134 dan pasal 1137 KUH Perdata.
Sehingga, seharusnya kewenangan untuk memilih langkah pemberesan harta PT melalui
kepailitan atau pembubaran, bukanlah kewajiban dari Likuidator, akan tetapi hak dari kreditur
untuk menentukan bagaimana selayaknya proses pemberesan harta debitur tersebut
dilakukan. Artinya, jika kreditur menemukan bahwa Likuidator tidak berani berhadapan dengan
direksi yang sekaligus merupakan pemegang saham yang mengangkat Likuidator tersebut
dalam RUPS, sehingga dugaan-dugaan terhadap penyembunyian aset tidak dapat dibuka,
maka tentulah hak dari kreditur yang dirugikan oleh itu untuk memilih pemberesan melalui
kepailitan.
Selain itu, pasal tersebut juga memberikan ketentuan bahwa kewajiban tersebut dapat
tidak dilaksanakan kecuali ada peraturan perundang-undangan yang mengatur sebaliknya,
atau semua kreditur yang diketahui identitas dan alamatnya menyetujui pemberesan dilakukan
di luar kepailitan. Ketentuan ini semakin menimbulkan ketidakpastian, karena dalam konteks
PT tidak ada ketentuan lain dalam proses pemberesan aset selain dari ketentuan yang diatur
oleh UU Kepailitan dan UUPT. Jikapun dalam PP No. 25 tahun 1999 diatur tentang langkah
likuidasi bank, akan tetapi ketentuan tersebut tetap masih sejalan dengan kedua UUPT dan
UU Kepailitan. Selanjutnya, “kata semua kreditur” merupakan suatu syarat yang tidak mungkin
atau akan sangat sulit untuk terwujud, karena sulit untuk mendapatkan persetujuan seratus
persen.

H. Putusan Pailit Pengadilan Indonesia Tidak Dapat Dieksekusi di Negara Asing

Salah satu kesulitan yang dialami oleh Kurator dalam melakukan pengurusan dan
pemberesan harta debitur pailit adalah dalam hal ditemukannya harta si debitur pailit berada di
luar negeri. Walaupun pada prinsipnya UU Kepailitan No. 37/2004 menganut prinsip
universalitas yang memberikan pengertian bahwa putusan pailit tersebut memberikan
konsekuensi dilakukannya sita umum terhadap harta debitur pailit dimanapun berada,
termasuk yang berada diluar negeri, akan tetapi dalam pelaksanaannya di luar negeri prinsip
universalitas tersebut dihadang oleh prinsip regionalitas yang dianut oleh negara-negara
berdaulat, yang membuat putusan Pengadilan Niaga Indonesia tersebut tidak dapat
dieksekusi di luar negeri dimana aset debitur pailit berada. Dengan pengertian lain, bahwa
pailitnya suatu PT di Indonesia, tidak pailit di mata hukum asing. Prinsip tersebut sebenarnya
juga berlaku di Indonesia, yang tidak mengenal keberlakuan putusan pailit dari pengadilan
asing (foreign judgment).
Solusi yang dapat digunakan hanyalah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
Pasal 212 sampai dengan Pasal 214 UU Kepailitan No. 37/2004 yang pada dasarnya tidak
memberikan kewenangan bagi kreditur konkuren untuk melakukan upaya mendapatkan
pembayaran secara sepihak terhadap harta debitur pailit yang berada di luar negeri tersebut
dengan cara mengambil langkah hukum terhadap debitur di negara dimana aset tersebut
berada, ataupun menjual tagihannya kepada pihak luar negeri dimana aset tersebut berada
agar orang tersebut dapat dengan lebih mudah mendapatkan pembayaran dengan
mengeksekusi asset tersebut, ataupun menjual piutang atau utangnya kepada pihak ketiga
dalam upaya untuk melakukan perjumpaan utang diluar wilayah Indonesia, yang membuat
kreditur konkuren tersebut mendapatkan pembayaran lebih tinggi dari kreditur konkuren
lainnya, wajib mengembalikan segala apa yang diperolehnya tersebut kepada boedel pailit.
Akan tetapi, ketentuan tersebut tidak mudah untuk diketahui, apalagi bila kreditur konkuren
tersebut adalah pihak asing yang tidak berdomisili di wilayah Indonesia.
Solusi lain dalam bentuk penandatanganan kesepakatan internasional ataupun traktat
sehubungan dengan mutual enforcement of foreign bankruptcy judgment masih sebatas teori,
begitu pula dengan langkah harmonisasi hukum kepailitan di wilayah tertentu, seperti ASEAN,
masih merupakan suatu wacana yang membutuhkan waktu yang lama dalam
mewujudkannya.

34
Materi IV Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Ricardo Simanjuntak, S.H., LL.M., ANZIIF. CIP USAID In ACCE Project & AKPI

Oleh karena itu, solusi yang paling cepat dalam hal untuk memberikan kewenangan
pada Kurator dalam mengurus dan membereskan harta debitur pailit yang berada di luar
Indonesia, maka perlu dipikirkan tentang keharusan bagi direksi PT yang telah dipailitkan
untuk memberikan Kuasa kepada kurator untuk melakukan pengurusan dan pemberesan
terhadap harta debitur pailit tersebut yang berada di luar negeri. Walaupun berdasarkan Pasal
24 ayat (1) UU Kepailitan No. 37/2004 yang menyatakan bahwa debitur pailit demi hukum
telah kehilangan haknya untuk melakukan penguasaan dan pengurusan terhadap harta pailit,
akan tetapi mengingat kewenangan yang telah dipindahkan kepada kurator berdasarkan Pasal
21, Pasal 24 dan Pasal 16 UU Kepailitan No. 37/2004 tersebut tidak dapat dilaksanakan di
luar negeri dimana aset dari debitur tersebut berada, maka kewenangan tersebut, dalam
wilayah hukum asing, dapat ditegaskan kembali dengan pemberian Surat Kuasa dari direksi
debitur pailit ataupun RUPS-nya sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar PT pailit tersebut.
Di mata Negara Asing, pemberian Kuasa kepada Kurator dalam melakukan
pengurusan dan pemberesan aset tersebut akan sama dengan kuasa ataupun kewenangan
yang diberikan kepada Likuidator dalam melakukan pemberesan terhadap harta yang dalam
likuidasi yang berada di luar negeri.
Secara keseluruhan, kehadiran UU Kepailitan di Indonesia yang melibatkan
Pengadilan Niaga sebagai suatu pengadilan khusus yang memeriksa dan memutuskan
kepailitan akan memberi arti dalam penyelesaian sengketa utang-piutang yang selalu mungkin
saja terjadi, sepanjang undang-undang, hakim, perangkat pengadilan dan kurator atau
pengurus bertekad untuk memberikan keadilan bagi semua pihak. Keterbatasan undang-
undang kepailitan dalam memberikan pengaturan yang sempurna tidak akan memberikan
akibat yang terlalu mengecewakan jika undang-undang tersebut berada di tangan hakim yang
berkemampuan baik dan jujur serta juga di tangan Kurator dan Pengurus yang berkualitas dan
bermoral baik. Karena jika tidak, maka UU Kepailitan hanya akan menimbulkan kejutan-
kejutan yang semakin mengecilkan kepercayaan pencari keadilan terhadap dunia peradilan
dan hukum Indonesia.

35
Materi V Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Yan Apul, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Materi V
Permasalahan terhadap Kendala Efektifitas Undang-Undang Kepailitan dan
Pemecahannya dari Sudut Pandang Kurator

Oleh Yan Apul, S.H. 1

Setelah berlangsung hampir satu abad, aturan yang termuat dalam S. 1905 No. 217 jo
S. 1906 No. 348 digantikan dengan Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perpu) No. 1 tahun
1998 dan selanjutnya menjadi UU No. 4 tahun 1998.
Selanjutnya, UU tersebut diperbaharui dengan UU No. 37 tahun 2004 (LNRI tahun
2004 Nomor 131; TLNRI Nomor 4484, tanggal 18 Oktober 2004) dari awalnya suatu peraturan
Kepailitan didasarkan pada kebutuhan untuk “Pemecahan sengketa utang piutang, dengan
mewujudkan mekanisme penyelesaian yang adil, cepat, terbuka dan efektif dalam suatu
pengadilan dalam rangka penyelenggaraan kegiatan usaha dan kehidupan perekonomian
pada umumnya” 2

A. Pendahuluan

Penyelesaian sengketa Kepailitan memang memerlukan suatu aturan yang disamping


menyelesaikan sengketa utang piutang itu sendiri, juga harus tetap menjaga berjalannya roda
usaha dan perekonomian suatu bangsa.
Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila suatu peraturan cepat berubah dan
diganti dengan yang baru guna menampung gejolak perubahan yang ada dalam masyarakat,
khususnya dunia usaha dan dunia perekonomian pada umumnya.
Perubahan dari aturan kolonial (S.1905 – 1906) menjadi UU No. 4 tahun 1998,
selanjutnya diubah lagi menjadi UU No. 37 tahun 2004 didasarkan atas: 3
1. Adanya kebutuhan yang sesaat dan sifatnya mendesak untuk secepatnya
mewujudkan sarana hukum bagi penyelesaian yang cepat, adil, terbuka dan efektif
guna menyelesaikan utang piutang perusahaan yang besar pengaruhnya terhadap
kehidupan perekonomian Nasional
2. Dalam kerangka penyelesaian akibat-akibat dari gejolak moneter yang terjadi sejak
pertengahan 1997, khususnya terhadap masalah utang piutang di kalangan dunia
usaha Nasional, penyelesaian yang cepat mengenai masalah ini akan sangat
membantu mengatasi situasi yang tidak menentu di bidang perekonomian.

B. Peranan Kurator dalam Kepailitan

Undang-Undang No. 37 tahun 2004 terdiri dari 308 (tiga ratus delapan) pasal, kurang
lebih sepertiganya atau 30 % (tiga puluh persen) mengatur mengenai Kurator. Secara khusus,
Pasal 69 ayat (1) mengatur mengenai tugas Kurator, yaitu:
“Tugas Kurator adalah melakukan pengurusan dan/atau pemberesan harta pailit.”

Tentang arti Kurator itu sendiri dinyatakan secara tegas (expersis verbis) dalam Pasal
1 angka 5 sebagai berikut:
“Kurator adalah Balai Harta Peninggalan atau orang perseorangan yang diangkat oleh
Pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta Debitor Pailit dibawah pengawasan Hakim
Pengawas sesuai dengan Undang-undang ini.”

1
Advokat/Kurator pada Yan Apul Law Firm, dan Staf Pengajar pada Universitas Atma Jaya-Jakarta.
2
Penjelasan Undang-Undang No. 37 tahun 2004.
3
UU No. 37 Tahun 2004 – Penjelasan – I – Umum – TLNRI Nomor 4443.

36
Materi V Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Yan Apul, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Salah satu kewenangan dari Kurator ditegaskan dalam Pasal 16 ayat (1):
“Kurator berwenang melaksanakan tugas pengurusan dan/atau pemberesan atas harta pailit
sejak tanggal putusan pailit diucapkan meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi
atau peninjauan kembali.”
Tentang putusan Pengadilan itu sendiri, harus diucapkan paling lambat 60 (enam
puluh) hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan (Pasal 8 ayat (5)) yaitu
setelah Pengadilan mengabulkan permohonan pernyataan pailit karena terdapat fakta atau
keadaan yang terbukti secara sederhana (prima facie) bahwa persyaratan untuk dinyatakan
pailit telah dipenuhi (Pasal 8 ayat (4)).
Pasal 21 menyatakan: “Kepailitan meliputi seluruh kekayaan Debitor pada saat
putusan penyataan pailit diucapkan serta segala sesuatu yang diperoleh selama kepailitan.”
Menurut Jerry Hoff (h-248) 4 aset atau kekayaan tersebut meliputi:
− rekening bank;
− suatu daftar dari dan dokumen yang membuktikan kepemilikan dari kekayaan
tidak bergerak yang dipegang oleh Debitor dan setiap perseroan dalam kelompok;
− semua saham dalam perusahaan lokal dan asing;
− daftar paten, merek dagang dan nama dagang;
− daftar piutang dan syarat-syarat pembayaran;
− daftar persediaan;
− daftar surat-surat berharga; dan
− spesifikasi dari pekerjaaan yang sedang berlangsung.
Sedangkan yang tidak termasuk kedalam harta pailit adalah sebagaimana yang dinyatakan
dalam Pasal 22.
Kewenangan Kurator tersebut diimbangi dengan tanggungjawab terhadap kesalahan
atau kelalaiannya dalam melaksanakan tugas pengurusan dan pemberesan yang
menyebabkan kerugian terhadap harta pailit, hal mana ditegaskan dalam Pasal 72 UU No. 37
Tahun 2004.
Sebagaimana dikemukakan dimuka bahwa salah satu faktor perlunya pengaturan
tentang kepailitan adalah untuk menghindari kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh
salah satu Kreditor atau Debitor sendiri. Sesuai dengan standar 340.02.AKPI, maka beberapa
tindakan yang wajib dilakukan Kurator dalam permulaan kepailitan adalah sebagai berikut:
a. mengidentifikasi seluruh rekening bank dan harta kekayaan penting atau material
lain yang dimiliki Debitor Pailit;
b. mengumpulkan informasi sehubungan dengan tempat, jenis, dan skala kegiatan
usaha debitur;
c. mengumpulkan informasi tentang keuangan debitur; dan
d. membuka rekening bank baru atas nama Kurator qq. Debitor Pailit untuk
menampung seluruh dana dari rekening debitur pailit.
Pasal 81 ayat (2) UU No. 37 Tahun 2004 mewajibkan Kurator untuk memberikan
kepada Panitia Kreditur semua keterangan yang dimintanya, yaitu meliputi semua buku,
dokumen dan surat mengenai kepailitan dan dalam hal diperlukan Kurator dapat mengadakan
rapat dengan panitia kreditur untuk meminta nasehat.

C. Hambatan yang Ditemui Kurator dalam Praktek

1. Asset Tracing dan Asset Recovery

Adakalanya Kurator berhadapan dengan debitur yang tidak menghormati “status sita
umum”. Sejak putusan pailit diucapkan, debitur kehilangan haknya, untuk menguasai dan
mengurus kekayaannya (Pasal 24 ayat (1)). Namun, debitur seringkali tidak kooperatif dengan
cara-cara antara lain:

4
Jerry Hoff – Undang-undang Kepailitan di Indonesia – PT. Tata Nusa – Cetakan 1 – Oktober 2000 – Jakarta.

37
Materi V Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Yan Apul, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

- harta pailit sudah dialihkan sebelum putusan;


- harta pailit tumpang tindih kepemilikannya, sengaja dipindahtangankan,
disewakan atau dijadikan jaminan hutang;
- dokumennya kadang-kadang cacat hukum sehinga sulit dilakukan eksekusi;
dan/atau
- sikap manajemen yang tidak kooperatif dalam penyerahan harta pailit dengan
melakukan perlawanan terhadap Kurator dengan cara:
a. menghalangi Kurator untuk tidak menyentuh atau mengambil harta pailit;
atau
b. menghalangi Kurator memasuki area perusahaan pailit dengan cara
antara lain menutup akses, mengancam Kurator baik langsung atau
dengan menggunakan oknum-oknum, kadang pula menjaga lokasi
tersebut dengan pengawalan baik dengan pengawalan orang maupun
hewan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Kurator seringkali mengalami kesulitan dalam
praktek, sebagai berikut:
a. Asset Tracing

Saat ini informasi mengenai aset debitur pailit diperoleh Kurator dari para kreditur dan
debitur yang kooperatif saja. Sangat jarang Kurator berhasil melakukan investigasi untuk
menemukan aset debitur yang memang sengaja disembunyikan debitur.

1) Belum ada sinkronisasi peraturan perundang-undangan


Belum ada koordinasi dengan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang sebenarnya
dapat sangat mudah memberikan instruksi kepada seluruh bank yang terdaftar. Selama ini,
Kurator harus mengirim surat satu persatu kepada setiap Bank yang diperkirakan memiliki
rekening debitur. Bank Indonesia selama ini berlindung pada ketentuan tentang rahasia bank,
dimana bank harus menjaga kerahasiaan nasabahnya.
Hal yang paling nyata adalah tentang aturan kerahasiaan bank. Sesuai dengan
ketentuan Pasal 40 UU No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No. 7 tahun 1992
tentang Perbankan, diatur bahwa Bank wajib merahasiakan keterangan mengenai nasabah
penyimpan dan simpanannya. Pengecualian atas hal tersebut, diatur secara limitatif dalam
Pasal 41, Pasal 41A, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44 dan Pasal 44A jo. Peraturan Bank
Indonesia No. 2/19/PBI/2000 Pasal 2 yaitu bahwa peraturan kerahasiaan tidak berlaku untuk 5 :
a) kepentingan perpajakan;
b) penyelesaian piutang bank yang sudah diserahkan kepada BUPLN;
c) kepentingan peradilan dalam perkara pidana;
d) kepentingan peradilan perkara perdata antara bank dengan nasabahnya;
e) permintaan nasabah yang bersangkutan yang dibuat secara tertulis; dan/atau
f) permintaan ahli waris yang sah.
Kurator tidak dapat dengan mudah menggunakan kewenangan yang dimilikinya
berdasarkan UU Kepailitan untuk mencari data debitur melalui Bank Sentral. Padahal menurut
UU Kepailitan, keadaan pailit debitur dimulai sejak putusan pailit diucapkan. Dalam hal ini,
kurator tentu saja diharapkan dapat bertindak cepat untuk langsung memblokir rekening
debitur agar tidak dialihkan ke tempat lain
Namun, hal ini belum dapat dilakukan dengan cepat, karena Kurator harus mengirim
satu persatu surat kepada setiap bank yang ada untuk menanyakan apakah ada debitur A
tercatat mempunyai account di bank tersebut. Pada akhirnya, Kurator tidak dapat menjangkau
seluruh bank yang ada, biasanya dipilih bank yang mungkin terkait saja, misalnya kalau yang

5
Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan
dan Peraturan Bank Indonesia No. 2/19/PBI/2000 Tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pemberian Perintah Atau Ijin Tertulis
Membuka Rahasia Bank.

38
Materi V Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Yan Apul, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

dipailitkan adalah perusahaan PMA atau perusahaan yang cukup besar, maka bank yang
dikirimi surat adalah bank besar dalam wilayah hukum kedudukan perseroan. Surat yang
demikian ini biasanya akan dijawab oleh pihak bank dalam waktu 1-2 minggu, dan hanya
apabila ada kecocokan data nasabah 100% (nama lengkap, alamat, nomor KTP). Dalam
praktek, sangat jarang terdapat dana yang cukup besar.
Seharusnya, apabila peraturan perbankan bisa disesuaikan agar dapat mengakomodir
pelaksanaan tugas kurator, mungkin saja Kurator cukup mengirim 1 (satu) surat ke Bank
Indonesia (sebagai bank sentral), yang kemudian bisa menginstruksikan kepada seluruh Bank
yang terdaftar di seluruh Indonesia melalui kawat/faksimili internal, sehingga informasi tersebut
langsung sampai kepada setiap bank yang ada dan rekening debitur dapat langsung diblokir
untuk mengamankan aset pailit.
Kemudian, disamping itu, Kurator juga tidak jarang mengalami kendala memperoleh
data dari Badan Pertahanan Nasional (BPN) karena data di BPN tidak terintegrasi secara
nasional. Bahkan belum tentu BPN di daerah mengenal apa sebenarnya Kurator itu.
Satu-satunya nilai positif saat ini adalah dari Kantor Pajak. Sistem di Kantor Pajak saat
ini sudah terintegrasi secara nasional yang memungkinkan diperolehnya data aset wajib pajak
secara nasional. Hanya saja data yang diperoleh tentu saja terbatas pada data aset yang
memang secara sukarela dilaporkan oleh wajib pajak pada saat membuat laporan SPT. Data
ini belum tentu akurat. Dalam hal ini, Kurator dapat bekerjasama dengan Kantor Pajak untuk
mencari data aset seperti ini.

2) Kepailitan belum cukup dikenal secara luas, terutama pada lingkungan instansi
penegak hukum sendiri
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) telah mengatur tindak pidana yang
dilakukan oleh debitur (pengusaha, pengurus atau komisaris PT, Maskapai Andil Indonesia
atau Perkumpulan Koperasi), yaitu Pasal 396, 397, 398 dan 400 KUHP.
Pasal-pasal KUHP tersebut sebenarnya dapat dijadikan “senjata pamungkas” oleh
Kurator terhadap debitur pailit yang tidak kooperatif dengan melakukan perbuatan pidana
seperti: tidak bersedia memberikan dokumen; tidak memberikan laporan keuangan
perusahaan pailit; dan atau manipulasi dokumen atau penggelapan harta pailit. Namun, harus
diakui bahwa upaya ini memang tidak pernah dilakukan oleh Kurator karena belum
terkoordinasi baik dengan aparat penegak hukum, yang sebenarnya memegang peranan
penting dalam hal ini, pihak Kepolisian dan Kejaksaaan.

3) Tidak berfungsinya lembaga paksa badan


Kendala yang paling utama saat ini adalah tidak ada alat yang dapat digunakan untuk
memaksa debitur bertindak kooperatif dengan Kurator. Satu-satunya alat yang ada, yaitu
Lembaga Paksa Badan, sampai saat ini belum dapat dilaksanakan karena belum ada aturan
pelaksanaan yang jelas.
Menurut Pasal 93 UU Kepailitan, pengadilan dengan putusan pernyataan pailit atas
usul Hakim Pengawas, permintaan Kurator atau atas permintaan kreditur atau lebih dan
setelah mendengar Hakim Pengawas dapat memerintahkan supaya debitur pailit, dengan
alasan bahwa debitur pailit tersebut dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 98, 110, atau Pasal 121 ayat (1) dan ayat (2) UU Kepailitan.
Dalam prakteknya penerapan pasal ini hampir tidak pernah terjadi, walaupun
Mahkamah Agung RI telah menerbitkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. 1 tahun
2000 Tentang Pengaktifan Lembaga Penyanderaan (gizjeling) hal mana harus diajukan
permohonan kepada pengadilan. Permohonan tersebut tidak pernah dikabulkan oleh
pengadilan dengan alasan infrastruktur atau hal-hal yang dibutuhkan untuk pelaksanaan
lembaga paksa badan tersebut belum jelas.
Dengan tidak adanya lembaga pemaksa ini, maka masih sangat sering dijumpai,
Kurator yang berkunjung harus berhadapan dengan ancaman kekerasan, misalnya “anjing

39
Materi V Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Yan Apul, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

galak” atau preman yang disewa oleh debitur atau juga dengan cara yang halus, debitur tiba-
tiba menghilang. Hal ini terutama sekali dapat terjadi pada debitur perorangan. Apabila yang
pailit adalah perseroan, maka yang hilang adalah Direkturnya.

b. Asset Recovery

1) Sistem lelang yang menunjang tercapainya harga maksimal


Sistem lelang yang ada saat ini harus benar-benar diperbaiki, karena penjualan dengan
cara lelang ternyata dapat memberikan hasil yang maksimal. Hasil penjualan barang yang
berhasil dilelang biasanya di bawah 1% dari harga limit, kurang lebih antara Rp. 1.000.000,-
atau Rp. 3.000.000,-.
Kendala yang muncul adalah pada penentuan harga limit, apabila kurator menentukan
harga limit yang tinggi, barang tersebut juga tidak akan laku terjual, karena biasanya calon
pembeli akan menunggu lelang kedua yang harganya pasti diturunkan dari waktu lelang
pertama.
Banyak sekali calon peserta lelang yang terdaftar dan memberikan uang jaminan hanya
supaya memperoleh uang mundur dari calon pembeli yang memang benar-benar berminat.
Hal nyata, yang pernah terjadi dalam praktek, dalam suatu lelang, ada peserta yang telah
membayar uang jaminan sampai dengan 200 orang, namun pada saat dilaksanakan lelang,
ternyata yang menawar hanya 1 atau 2 orang, dan itu pun sudah disepakati diantara mereka,
yaitu harga penawaran hanya dilebihkan Rp. 1.000.000 atau malahan pas pada harta limit.
Selanjutnya mereka akan melakukan lelang sendiri di tempat lain antara mereka. Selisih harga
lelang resmi dengan harga lelang intern mereka dibagi diantara mereka.
Salah satu cara yang mungkin dapat membantu mengurangi apa yang disebut dengan
istilah ‘mafia lelang’ adalah dengan membuat aturan yang tegas bahkan kalau perlu
menetapkan ketentuan denda kepada calon peserta yang sudah menyetor uang jaminan
sebagai peserta lelang, tapi tidak ikut menawar atau menawar dibawah harga. Tetapi akan
lebih baik, apabila Kurator dibolehkan menjual di bawah tangan, maka pembeli akan terlepas
dari “persekongkolan lelang” dan memasukkan surat dengan bebas.

2) Actio Pauliana
Actio Pauliana sebenarnya juga merupakan salah satu cara asset recovery yang bisa
meningkatkan aset pailit. Namun, hal ini ternyata masih sangat tidak efektif. Sudah 10
(sepuluh) tahun Pengadilan Niaga didirikan, ternyata masih juga belum jelas apakah
Pengadilan Niaga berwenang mengadili perkara Actio Pauliana?
Belum lama ini ada putusan dari Mahkamah Agung RI di tingkat kasasi yang
menyatakan bahwa actio pauliana bukan kewenangan Pengadilan Niaga karena pembuktian
dalam actio pauliana tidak sederhana. Salah satu syarat dalam actio pauliana adalah “debitur
dan pihak dengan siapa perbuatan hukum itu dilakukan mengetahui atau sepatutnya
mengetahui bahwa perbuatan hukum tersebut akan menimbulkan kerugian bagi kreditur”.
Menurut majelis hakim, syarat tersebut mengakibatkan pembuktian tidak mungkin dilakukan
secara sederhana, sehingga Pengadilan Niaga tidak berwenang mengadili perkara actio
pauliana.

2. Peranan Asosiasi Kurator

Asosiasi Kurator memegang peranan yang sangat penting untuk meningkatkan


efektivitas UU No. 37 tahun 2004. Sosialisasi yang intentif ke instansi yang terkait dengan
pelaksanaan kepailitan harus dilakukan. Selain itu, perlu juga untuk memanfaatkan teknologi
informasi yang terus berkembang, diantaranya dengan membuat website yang bisa menjadi
tempat yang murah bagi para kurator anggota asosiasi untuk memperdalam ilmu dan
keahliannya dengan melakukan diskusi atau bahkan untuk membantu menyebarkan informasi
mengenai aset yang akan dijual sehingga memungkinkan diperolehnya calon pembeli yang

40
Materi V Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Yan Apul, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

tepat dengan harga yang baik. Kemudian, menjaga tingkah laku anggota dengan penegakan
“code of conduct”. Terakhir, menyelenggarakan pendidikan lanjutan bagi para kurator untuk
menjaga kualitas anggota tetap terjaga dan selanjutnya setiap tahun organisasi profesi
mengeluarkan daftar rekomendasi Kurator yang “qualified”. Tentang hal ini sebenarnya sudah
diatur dalam Anggaran Dasar Asosiasi Kurator & Pengurus Indonesia (AKPI), namun sampai
saat ini memang belum bisa dilaksanakan secara optimal.
Cara-cara ini mungkin lebih baik dibandingkan dengan mengubah ketentuan pemilihan
kurator bukan lagi kepada pemohon pailit melainkan memberikan kewenangan kepada
asosiasi untuk mengusulkan kurator yang akan ditunjuk.

3. Hak Panitia Kreditur vs Kewenangan Kurator

Sebagaimana diatur dalam Pasal 79 sampai dengan Pasal 84 UU No. 37 tahun 2004,
diatur tentang pembentukan Panitia Kreditur yang dapat memberikan nasehat kepada Kurator
dan juga dapat memeriksa semua buku, dokumen dan surat mengenai kepailitan. Hak Panitia
Kreditur ini pada hakekatnya sangat membantu pelaksanaan tugas dari Kurator. Hanya saja
permasalahan yang sering muncul dengan adanya Panitia Kreditur adalah anggota Panitia
Kreditur sering kali hanya mementingkan kepentingan diri sendiri, tanpa memperhatikan
bahwa sebagai Panitia Kreditur ia juga harus memperhatikan kepentingan seluruh kreditur.
Adakalanya, antara Kreditur juga mempunyai kepentingan yang berbeda. Masalah dapat
bertambah apabila anggota Panitia Kreditur juga tidak memahami dengan jelas mekanisme
yang diatur dalam Hukum Kepailitan.

D. Solusi Yang Ditawarkan

Dari apa yang telah dikemukakan sebelumnya di atas, solusi yang hendak ditawarkan
adalah sebagai berikut:
1. sosialisasi yang terus-menerus kepada seluruh instansi yang terkait;
2. melakukan revisi atas UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang;
3. pendidikan berkelanjutan untuk seluruh anggota asosiasi; dan
4. memanfaatkan teknologi informasi, dengan membangun website resmi dari asosiasi
agar dapat dimanfaatkan oleh anggota untuk menambah ilmu maupun membantu

E. Penutup

Demikianlah makalah yang dapat Saya sampaikan, semoga memberikan manfaat bagi
para pembaca, mohon maaf apabila masih terdapat kekurangan dan kelemahan. Terima kasih
dan sekian.

41
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Materi VI
Peran Hakim Pengawas dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit 1

Oleh Agus Subroto, S.H., M.H. 2

A. Pendahuluan

Sebagaimana dipahami bersama bahwa setelah proses pemeriksaan terhadap


permohonan pernyataan pailit dilakukan, maka Majelis Hakim pada Pengadilan Niaga harus
menjatuhkan putusan dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung semenjak
permohonan tersebut didaftarkan di kepaniteraan Pengadilan Niaga. Ketentuan Pasal 6 ayat
(4) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (“UUK dan PKPU”) tidak mengatur konsekuensi yuridis jika tenggang
waktu 60 (enam puluh) hari tersebut terlampaui.
Berbeda halnya dengan ketentuan hukum acara perdata biasa yang mengatur bahwa
suatu putusan baru dapat dilaksanakan manakala ia telah berkekuatan hukum tetap (inkracht
van gewijsde), terkecuali bila ternyata ditetapkan dalam amar bahwa putusan bersifat serta
merta (uit voorbaar bij voorrad); berdasarkan ketentuan Pasal 8 ayat (7) UUK dan PKPU
putusan dalam kepailitan pada prinsipnya dapat dijalankan terlebih dahulu, betapapun atas
putusan tersebut diajukan permohonan upaya hukum kasasi. Apakah sesungguhnya yang
menjadi dasar filosofi yuridis ketentuan tersebut? Tujuan kepailitan pada dasarnya adalah
melakukan distribusi aset untuk membayar utang debitor kepada para kreditornya. Oleh
karena itu, jika faktanya debitor telah terlanjut membayar utangnya kepada para kreditornya
karena putusan pailit yang bersifat langsung dijalankan, namun pada sisi yang lain ternyata
putusan pailit aquo dibatalkan oleh Mahkamah Agung, dalam hubungan ini tidak merugikan
debitor. Sebab, yang namanya utang harus tetap dibayar, baik sekarang ataupun masa nanti.
Dalam putusan pernyataan pailit, disamping amar yang menyatakan debitor pailit
dengan segala akibat hukumnya, juga ditetapkan adanya Hakim Pengawas dan Kurator.
Siapakah yang ditunjuk sebagai Hakim Pengawas? Biasanya Hakim Pengawas yang ditunjuk
adalah salah satu hakim pada Pengadilan Niaga yang tidak menjadi hakim pemeriksa dan
pemutus dalam permohonan pernyataan pailit aquo. Sementara itu, mengenai kurator yang
ditunjuk adalah kurator yang diusulkan oleh pihak pemohon pernyataan pailit. Bila ternyata
pihak tersebut tidak mengusulkan nama kurator, maka Pengadilan Niaga akan menunjuk Balai
Harta Peninggalan (“BHP”) sebagai kurator untuk melakukan tugas pengurusan dan
pemberesan dalam kepailitan.
Betapapun kurator yang akan ditunjuk dan ditetapkan oleh Pengadilan Niaga atas
dasar usulan dari pemohon, akan tetapi ketentuan undang-undang membatasi bahwa seorang
kurator hanya dapat menangani kepailitan maksimal 3 (tiga) kasus dalam waktu yang berjalan.
Filosofi yuridis atas ketentuan tersebut adalah agar kurator terfokus pada kasus yang
ditanganinya, disamping adanya maksud pemerataan penanganan kepailitan di antara para
kurator tersebut.
Di dalam proses kepailitan dijumpai lembaga hukum baru yang tidak pernah ada
ataupun diatur dalam ketentuan hukum acara perdata. Lembaga dimaksud adalah Hakim
Pengawas. Lembaga semacam ini sesungguhnya telah ada dan diatur dalam ketentuan
peraturan kepailitan pada zaman Hindia Belanda, hanya saja terminologinya adalah hakim
komisaris.

1
Makalah ini disampaikan pada acara NATIONAL SEMINAR OF BANKRUPTCY LAW PRACTICES yang diselenggarakan
kerjasama antara Asosiasi Kurator & Pengurus Indonesia (AKPI) dengan Indonesia Anticorruption Commercial Court
Enhancement (In ACCE) Project, Grand Hyatt Hotel – Jakarta, 29 Oktober 2009.
2
Penulis adalah Hakim/Ketua Pengadilan Negeri Tanjung Pinang serta Dosen tidak tetap pada Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, Yogyakarta.

42
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Apakah sesungguhnya tugas dan wewenang hakim pengawas dalam proses


kepailitan? Tugas dan wewenangnya adalah mengawasi pengurusan dan pemberesan harta
pailit yang dilakukan oleh kurator. Dari kalimat “mengawasi” tersebut, terkesan bahwa tugas
seorang hakim pengawas bersifat pasif saja. Ternyata pandangan demikian adalah keliru,
sebab bila ketentuan peraturan perundangan yang mengaturnya dipelajari secara seksama
ternayta tugas dan wewenang hakim pengawas tidak sebatas bersifat pasif saja, melainkan
banyak pula sifat aktifnya, sebagai contohnya hakim pengawas menyusun penetapan,
memimpin rapat-rapat kreditor dan rapat verifikasi.
Berbicara tentang tugas dan wewenang hakim pengawas, bila ditelaah secara
seksama lampiran Pasal 63 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 (“UUK”) jo. Pasal 65
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 diatur bahwa ia mengawasi pengurusan dan
pemberesan harta pailit. Lebih dari hal itu, ketentuan undang-undang menggariskan pula
bahwa sebelum memutuskan sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan pengurusan dan
pemberesan harta pailit, Pengadilan Niaga wajib mendengar nasehat terlebih dahulu dari
Hakim Pengawas.
Selain dari hal itu, Hakim Pengawas berwenang untuk mendengar keterangan saksi-
saksi atau memerintahkan para ahli untuk menyelidikinya. Para saksi ini akan dipanggil oleh
Hakim Pengawas, bila ternyata saksi tidak memenuhi panggilan tersebut ataupun menolak
memberikan kesaksiannya, maka bagi yang bersangkutan berlaku ketentuan Pasal 140, 141,
148 HIR atau Pasal 167, 176 RBg yaitu:
a. Saksi dihukum untuk membayar segala biaya yang telah dikeluarkan untuk
pemanggilan saksi-saksi tersebut;
b. Ia dipanggil sekali lagi atas biayanya sendiri;
c. Saksi dibawa oleh polisi menghadap ke pengadilan untuk memberikan kesaksiannya;
d. Apabila seorang saksi datang ke persidangan akan tetapi enggan memberikan
keterangan; maka permintaan yang berkepentingan, Ketua Pengadilan boleh
memerintahkan supaya saksi itu ditahan dalam penjara dengan biaya dari pihak itu,
sampai saksi bersedia memenuhi kewajibannya (Pasal 65 ayat (3) UUK).
Dari berbagai macam tugas dan wewenang Hakim Pengawas sebagaimana diatur
dalam ketentuan Bagian Ketiga paragraf 1 Pasal 65 sampai dengan Pasal 68 UUK dan PKPU,
secara ringkas dapat kiranya dirumuskan sebagai berikut:
1. memimpin rapat verifikasi;
2. mengawasi tindakan dari kurator dalam melaksanakan tugasnya, memberikan nasihat
dan peringatan kepada kurator atas pelaksanaan tugasnya tersebut;
3. menyetujui atau menolak daftar-daftar tagihan yang diajukan oleh kreditor;
4. meneruskan tagihan-tagihan yang tidak dapat diselesaikannya dalam rapat verifikasi
kepada Hakim Pengadilan Niaga yang memutus perkara itu;
5. mendengarkan saksi-saksi dan para ahli atas segala hal yang berkaitan dengan
kepailitan (misalnya: tentang keadaan boedel, perilaku si pailit dan sebagainya); dan
6. memberikan izin atau menolak permohonan si pailit untuk bepergian (meninggalkan
tempat) kediamannya.
Ketentuan UUK dan PKPU, perihal pengurusan harta pailit diatur pada bagian
tersendiri adalah pada Bab II tentang Kepailitan, Bagian Ketiga Pengurusan Harta Pailit, yang
terdiri dari lima paragraph sebagai berikut:
1. Paragraf 1 tentang Hakim Pengawas (Pasal 65 – Pasal 68);
2. Paragraf 2 tentang Kurator (Pasal 69 – Pasal 78);
3. Paragraf 3 tentang Panitia Kreditor (Pasal 79 – Pasal 84);

43
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

4. Paragraf 4 tentang Rapat Kreditor (Pasal 85 – Pasal 90);


5. Paragraf 5 tentang Penetapan Hakim (Pasal 91 – Pasal 92).
Bagaimanakah peran Hakim Pengawas dalam pengurusan dan pemberesan harta
pailit? Penulis mencoba untuk menguraikannya dalam tulisan berikut ini.

B. Proses Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit

Hakikat kepailitan adalah sita umum yang meliputi seluruh kekayaan milik debitor pailit,
termasuk dalam pengertian ini kekayaan yang diperoleh debitor selama berlangsungnya
kepailitan. Oleh sebab itu setelah putusan pernyataan pailit dijatuhkan, maka si pailit
langsung kehilangan hak untuk melakukan pengurusan dan penguasaan atas harta kekayaan
debitor pailit? Dalam hubungan ini, oleh karena segenap harta kekayaan si pailit menjadi
boedel pailit maka kurator yang ditunjuk dalam putusan pernyataan pailit tersebut segera
melakukan pengurusan dan penguasaan boedel pailit di bawah pengawasan hakim
pengawas. Sesuai dengan sifat pembawaan putusan pernyataan pailit yang dapat dijalankan
terlebih dahulu, maka dalam kaitannya dengan tugas seorang kurator untuk melakukan
pengurusan dan pemberesan atas boedel pailit, tugas dan wewenang tersebut dijalankannya
betapapun termohon mengajukan upaya hukum kasasi maupun peninjauan kembali.
Aktifitas apakah yang dilakukan kurator dalam kaitannya dengan pengurusan boedel
pailit? Pengurusan itu meliputi menginventarisasi, menjaga dan memelihara agar harta pailit
tidak berkurang dalam tataran:
1. jumlah;
2. nilai; dan
3. bahkan jika memungkinkan diupayakan untuk bertambah dalam jumlah dan nilainya.
Dari uraian tersebut diperoleh pemahaman bahwa demikian besarnya wewenang
kurator terhadap harta benda pailit. Oleh sebab itu, dituntut bagi seorang kurator untuk
bersikap independen, pada dirinya tidak boleh ada conflict of human interest. Dalam
hubungannya dengan kewenangan yang demikian besar tersebut, kurator senantiasa harus
mempertanggungjawabkan atas segala apa yang telah dilakukannya atas harta benda pailit,
sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan Pasal 72 UUK dan PKPU bahwa kurator
bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam melaksanakan tugas
pengurusan dan/atau pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit.
Ketentuan tersebut merupakan landasan hukum (bagi hakim pengawas) untuk mengawasi
tindakan hukum kurator.
Demikian besarnya tanggung jawab seorang kurator atas tindakan hukum yang
berkaitan dengan pengurusan dan pemberesan harta pailit, namun dalam hubungan ini Jerry
Hoff menguraikan pendapatnya dalam buku yang berjudul “Indonesian Bankruptcy Law”
sebagai berikut:
In My opinion, this article does not create a stricter liability than would arise under the applicable
rules for tort (article 1365 CC). A receiver may be held liable if he has committed a tort. Any
degree of faulth is sufficient to create liability. The acts of the receiver will presumably be
compared with the acts a reasonably competent receiver. It maybe argued, however, that the
liability of a reciever must to be judged by a higher standard if he has more than average
expertise or experience.
Lebih lanjut Hoff menguraikan pandangannya tentang tanggungjawab kurator dalam
dua bingkai yang berbeda, ialah sebagai kurator pada satu sisi dan tanggungjawab pribadi
pada sisi yang lain selengkapnya sebagai berikut ini:
Liability of the reciever in its capacity as a reciever :
In this case, the bankrutpcy estate, and not the receiver personally, must pay for the damages.
The claimant has a claim on the bankruptcy estate, and his claim is an estate debt. Examples,
the receiver forgets to include one of the creditors in the distribution plan, the receiver sells the

44
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

debtor’s assets which are not included in the bankrutpcy estate, the receiver sells the assets for
third party, the receiver tries to collect a claim of the bankrupt debtor, attaches the property of
this debtor to the end, and it is subsequently proven that debtor’s claim is false, the receiver
continues a business without due consideration or research, the receiver enter into a contract
while he knows or should know that the consideration due cannot be met, the receiver fails to
dispute a claim or to limit liabilities, for example, by lodging an appeal against a tax assessment,
the receiver does not inform a creditor of its statutory priority right when he should suspect that
a creditor is ignorant of that right, that receiver brings civil proceeding and incurs irrecoverable
legal cost while there is no reasonable chance of success.
Personal liability of receiver:
In this case the receiver is personally laible; he has to pay for the damages himself. The liability
may occur, for example, if the receiver embezzled the property of the bankruptcy estate. In
Netherlands, the personal liability of receiver will be established if the receiver intentionally
acted recklessly or if there was a willfull misconduct on his part (Jerry Holf, 1999: 70-71).
Dalam hubungannya dengan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya, kurator menyusun working paper, sebagai pengejawantahan akuntabilitas atas
tugasnya. Apakah yang dimaksudkan dengan working paper tersebut? Pada galibnya, ia
merupakan kumpulan setiap dan seluruh dokumentasi yang diselenggarakan oleh kurator atau
pengurus beserta kompilasi segala data atau informasi yang berhubungan dengan penugasan
dalam kepailitan. Working paper bersifat rahasia, terkecuali dokumen di dalamnya yang
dinyatakan oleh undang-undang sebagaai dokumen publik. Working paper berfungsi untuk
membantu kurator agar dapat bekerja secara terstruktur dan efisien, dan pula mempermudah
akuntabilitas atau pertanggungjawaban kurator atas pelaksanaan tugasnya.
Hal apa sajakah yang dimuat dalam working paper? Ternyata, working paper memuat
hal-hal sebagai berikut:
1. dokumentasi administratif yang menjadi dasar penugasan;
2. rencana kerja yang dipersiapkan oleh kurator pada awal penugasan;
3. korespondensi dengan para pihak yang terkait dalam proses kepailitan;
4. dokumentasi (termasuk dokumentasi pendukung) yang berhubungan dengan harta
pailit atau kewajiban harta pailit, termasuk namun tidak terbatas pada catatan atau
uraian atas harta pailit atau pertelaannya;
5. catatan hal-hal yang dianggap penting oleh kurator dalam menjalankan tugasnya;
6. minuta rapat-rapat yang diselenggarakan sehubungan dengan penugasan,
termasuk namun tidak terbatas pada rapat kreditor dan konsultasi kurator dengan
hakim pengawas;
7. kesimpulan-kesimpulan, analisis, memorandum, dan representasi yang dibuat
kurator selama penugasan; dan
8. laporan-laporan kurator sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Kepailitan.
Hal apa sajakah yang harus dilakukan oleh kurator dalam hubungannya dengan tugas
melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit? Langkah pertama yang harus dilakukan
oleh kurator setelah adanya putusan pernyataan pailit dalam hubungannnya dengan proses
pengurusan dan penguasaan harta pailit adalah mengumumkan putusan tersebut. Untuk
melaksanakan tugas tersebut kurator berkonsultasi dengan Hakim Pengawas guna
membicarakan media apa yang akan dipergunakan untuk mengumumkan. Sebagaimana
dipahami bersama bahwa ketentuan undang-undang mengatur:
1. dalam waktu paling lama 5 (lima) hari sejak putusan pernyataan pailit ditetapkan
kurator mengumumkan putusan tersebut dalam Berita Negara RI dan 2 (dua) surat
kabar harian yang ditetapkan oleh hakim pengawas;

45
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

2. pengurus wajib mengumumkan penundaan kewajiban pembayaran utang


sementara dalam Berita Negara RI dan surat kabar harian yang ditetapkan oleh
Hakim Pengawas.
Dari ketentuan tersebut diperoleh pemahaman bahwa ketentuan undang-undang
mengamanatkan kepada Hakim Pengawas untuk memerintahkan kurator (dalam kepailitan)
ataupun pengurus (dalam PKPU), untuk mengumumkan pernyataan pailit atau PKPU tersebut.
Dalam konteks ini adalah merupakan titik awal hubungan kerja antara seorang Hakim
Pengawas dengan seorang atau lebih kurator ataupun pengurus. Jalinan hubungan kerja
tersebut seyogyanya senantiasa dijaga dan dipelihara dengan baik, sebab Hakim Pengawas
dengan kurator/pengurus merupakan dua aktor yang nantinya menentukan arah penyelesaian
kepailitan (ataupun PKPU) dalam hubungannya dengan mengurus kepentingan para kreditor
dan debitor.
Materi apakah yang diumumkan oleh kurator? Pengumuman tersebut meliputi
penetapan hari dan tanggal serta tempat diselenggarakannya rapat kreditor pertama, pun pula
tentang deadline (batas waktu) pengajuan tagihan oleh para kreditor kepada kurator.
Sesungguhnya perintah melakukan pengumuman atas putusan pernyataan pailit
tersebut mengandung makna agar para kreditor mengetahui bahwa debitor dinyatakan pailit,
lebih-lebih bagi debitor yang memiliki banyak kreditor yang masing-masing domisilinya
tersebar diberbagai tempat yang saling berjauhan. Dalam kondisi demikian, pengumuman
kepailitan melalui media surat kabar harian memiliki makna strategis, lebih-lebih surat kabar
yang jangkauan edarnya luas secara nasional bahkan regional. Adalah hal tidak mungkin
terjadi, debitor memberitahukan statusnya yang pailit kepada para kreditornya.
Apakah arti pentingnya pengumuman tentang kepailitan tersebut bagi para kreditor?
Dengan mengetahui bahwa debitor dinyatakan dalam keadaan pailit, maka para kreditor
mempunyai hak dan pula kesempatan yang cukup untuk mengajukan tagihannya serta
melakukan verifikasi utang. Tanpa melalui proses pengajuan tagihan dan verifikasi utang,
sudah barang tentu kreditor tersebut tidak tercatat sebagai kreditor pailit, yang konsekuensi
hukumnya ia tidak akan mendapatkan pembagian harta pailit untuk perluasan piutangnya. Hal
yang dimuat dalam pengumuman tersebut adalah meliputi:
1. nama, alamat, dan pekerjaan debitor yang dinyatakan pailit;
2. nama hakim pengawas;
3. nama, alamat dan pekerjaan kurator;
4. nama, alamat dan pekrejaan panitia kreditor sementara apabila ditunjuk; dan
5. tempat serta waktu penyelenggaraan rapat kreditor pertama.
Berkaitan dengan rapat kreditor pertama, hal tersebut harus diselenggarakan dalam
jangka waktu paling lama 15 (lima belas) hari terhitung semenjak putusan pernyataan pailit
ditetapkan. Tempat penyelenggaraan rapat-rapat kreditor biasanya di gedung Pengadilan
Niaga setempat.
Tugas dan tanggung jawab kurator tidak ringan. Ia harus bertanggung jawab terhadap
keselamatan harta pailit. Dalam hubungannya dengan menjaga keselamatan harta pailit,
kurator segera menentukan langkah pengamanan atas keselamatan harta pailit, misalnya
menyimpan segala surat-surat berharga, uang, perhiasan atau barang-barang berharga
lainnya. Itu sebabnya, dengan persetujuan hakim pengawas kurator dapat melakukan
penyegelan terhadap harta pailit. Selain itu, ia atas dasar persetujuan hakim pengawas
dimungkinkan pula untuk mengalihkan harta pailit, dengan catatan sepanjang hal tersebut
diperlukan untuk ongkos pailit, atau jika dibiarkan maka akan menimbulkan kerugian bagi
harta pailit.

46
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

C. Melanjutkan Usaha (On Going Concern)

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, bahwa tugas dan wewenang kurator


adalah untuk menjaga dan memelihara agar harta pailit tidak berkurang; dalam hubungan
dengan hal tersebut kurator juga mempunyai wewenang atas persetujuan panitia kreditor
untuk melanjutkan usaha (going concern) debitor, utamanya bila langkah tersebut dipandang
akan menguntungkan harta pailit. Jika debitor pailit adalah merupakan suatu perusahaan,
langkah demikian ini adalah strategis, lain halnya jika debitor pailit adalah perseorangan
kebijakan demikian tentu sulit dilakukan.
Hal yang sepatutnya dipertimbangkan bahwa sebelum kurator menentukan langkah
untuk melanjutkan usaha debitor, ia harus mempertimbangkan secara matang apakah kiranya
langkah melanjutkan usaha debitor tesebut akan mendatangkan pendapatan (keuntungan)
yang lebih bila diperhitungkan dengan ongkos operasionalnya, serta harus pula
diperhitungkan tentang dari manakah modal kerja untuk melanjutkan usaha tersebut diperoleh,
apakah untuk itu harus membuka kredit?
Jika setelah dipertimbangkan secara seksama ternyata keuntungannya tidak memadai,
sudah barang tentu kurator sepatutnya memutuskan untuk tidak melanjutkan usaha debitor
tersebut. Justru sebaliknya, langkah yang ditempuh adalah berupaya untuk menjualnya
dengan memperoleh harga yang tertinggi.
Para kreditor mengajukan tagihannya kepada kurator dengan melampirkan surat-surat
atau bukti-bukti perhitungan, dengan maksud agar dapat diketahui apakah kreditor yang
mengajukan hak tagih tersebut mempunyai hak kebendaan seperti misalnya, hak tanggungan,
gadai, fidusia dan lain-lainnya. Segala tagihan tersebut diteliti oleh kurator dan dicocokkan
dengan catatan dan keterangan dari debitor, untuk kemudian dimasukkan dalam suatu daftar.
Untuk melancarkan tugas-tugasnya tersebut kurator harus menyediakan daftar utang-utang
dan piutang-piutang harta pailit, serta nama-nama dan tempat kedudukan pihak berpiutang
dan jumlahnya.
Setelah kurator menyelenggarakan penelitian, maka dipilah-pilah piutang yang disetujui
untuk dimasukkan ke dalam daftar pitang yang diakui, sementara itu yang dibantah
dimasukkan ke dalam daftar yang terpisah dan mencantumkan alasan-alasan bantahannya,
serta daftar piutang yang diragukan atau sementara diakui jika kurator hanya membantah
adanya hak untuk didahulukan atau adanya hak retensi pada suatu piutang. Masing-masing
daftar tersebut harus pula disediakan salinannya yang harus diletakkan di kantor kurator
selama 7 (tujuh) hari sebelum rapat verifikasi piutang; serta secara cuma-cuma diperlihatkan
kepada siapa saja yang berkehendak untuk mengetahuinya. Sebelum rapat verifikasi
diselenggarakan, kurator harus mengundang para kreditor untuk menghadiri rapat verifikasi
tersebut.

D. Rapat Verifikasi (Pencocokan Piutang)

Pada saat dan tempat yang telah ditetapkan, rapat verifikasi diselenggarakan dengan
dipimpin oleh Hakim Pengawas. Rapat verifikasi utang adalah rapat untuk mencocokkan
utang-utang si pailit sebagai penentuan klasifikasi tentang tagihan-tagihan yang masuk
terhadap harta pailit, guna memerinci tentang berapa besarnya piutang-piutang yang dapat
dibayarkan kepada masing-masing kreditor, yang diklasifikasikan menjadi daftar piutang yang
diakui, piutang yang diragukan (sementara diakui), maupun piutang yang dibantah, yang akan
menentukan pertimbangan dan urutan hak dari masing-masing kreditor. Dalam rapat verifikasi
tersebut hadir kreditor baik yang menghadiri sendiri atau mewakilkan kepada kuasanya dan
juga kurator. Debitor wajib hadir dalam rapat-rapat kreditor, lebih-lebih dalam rapat verifikasi.
Jika debitor adalah badan hukum maka yang menghadirinya adalah direksinya.
Dalam kaitannya dengan rapat verifikasi tersebut, dalam prakteknya Hakim Pengawas
meminta kepada kurator untuk menyelenggarakan mekanisme pra-verifikasi di suatu tempat di
luar gedung Pengadilan Niaga tanpa dihadiri oleh Hakim Pengawas. Hal demikian sangat
efektif untuk menunjang proses verifikasi karena pada saat pra-verifikasi yang dimotori oleh

47
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

kurator, baik debitor maupun kreditor dapat saling mencocokkan supporting document masing-
masing dan pada saat terdapat titik temu, maka angka-angka yang telah disepakati dalam
rapat pra-verifikasi dalam kesempatan rapat verifikasi tinggal disahkan saja. Mengapa hal
demikian terjadi? Karena Hakim Pengawas mempunyai keterbatasan ruang gerak terkait
dengan tempat dan waktu, terlebih lagi sarana dan prasarana pengadilan juga terbatas.
Ada kalanya dalam proses verifikasi tersebut baik debitor maupun kreditor tetap
mempertahankan pendirian masing-masing atas jumlah utang-piutangnya atau bahkan
bantahannya. Dalam keadaan demikian, Hakim Pengawas berupaya sedemikian rupa untuk
mendamaikan kedua belah pihak, namun bila ternyata tetap tidak berhasil maka persoalan
tersebut oleh Hakim Pengawas diserahkan kepada Majelis Hakim untuk diperiksa dan diputus.
Untuk itulah, Hakim pengawas menetapkan hari persidangannya dengan agenda yang dikenal
istilah Renvooi Procedure atau prosedur renvooi. Tujuan dari prosedur renvooi ini adalah
untuk menyelesaikan sengketa-sengketa yang timbul dalam rapat verifikasi, yang
pemeriksaannya dilakukan secara sederhana.
Apakah arti pentingnya rapat verifikasi? Filosofi diselenggarakannya rapat verifikasi
adalah bahwa harta pailit akan dibagi secara proporsional (pari passu pro rata parte) di antara
kreditor konkuren. Oleh sebab itulah, maka perlu disediakan lembaga untuk melakukan
pengujian yang disebut rapat verifikasi, dimaksudkan untuk meneliti dan mengkaji atas klaim-
klaim piutang yang diajukan oleh para kreditor. Dalam rapat verifikasi tersebut, Hakim
Pengawas akan membacakan daftar piutang yag dibuat oleh kurator, baik yang diakui,
dibantah ataupun diragukan. Langkah demikian memang teramat penting artinya untuk
menghindari hadirnya kreditor-kreditor fiktif yang sengaja ditampilkan oleh debitor yang
beritikad tidak baik. Debitor berkepentingan untuk menampilkan kreditor fiktif, karena ia
berkepentingan untuk membagi habis harta pailit sehingga kreditor lain hanya akan
mendapatkan sedikit bagian proporsionalnya mengingat demikian banyak munculnya kreditor
fiktif. Lebih dari hal tersebut, dimunculkannya banyak kreditor fiktif terkait dengan pengambilan
suara dalam rangka perdamaian.
Dalam hal rapat verifikasi piutang telah selesai, adalah kewajiban kurator untuk
memberikan laporan mengenai keadaan harta pailit dengan memberikan keterangan kepada
kreditor tentang segala apa yang dipandang perlu. Lebih dari hal itu, berita acara rapat
verifikasi harus ditempatkan di kepaniteraan Pengadilan Niaga, sementara itu salinannya
diletakkan di kantor kurator, dengan tujuan agar hal tersebut dapat dilihat dan dibaca secara
cuma-cuma bagi siapa saja yang berkepentingan.

E. Perdamaian (Akoord)

Betapapun debitor telah dinyatakan pailit oleh putusan Pengadilan Niaga, bukan berarti
dunia menjadi gelap baginya. Mengapa? Sebab ketentuan undang-undang telah mengatur
bahwa bagi debitor yang telah dinyatakan pailit tersebut diberi kesempatan untuk mengajukan
rencana perdamaian kepada para kreditornya. Perdamaian yang dimaksudkan dalam hal ini
berbeda dengan perdamaian sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 130 HIR/Pasal 154
Rbg jo. Peraturan Mahkamah Agung (“PERMA”) Nomor 2 Tahun 2003 sebagaimana
kemudian disempurnakan dalam PERMA Nomor 1 Tahun 2008. Mengapa dikatakan berbeda?
Sebab perdamaian sebagaimana dimaksudkan dalam ketentuan hukum acara tersebut pada
hakikatnya dapat dilakukan oleh para pihak yang tengah bersengketa, tanpa melibatkan
siapapun, termasuk dalam pengertian ini tanpa perlu adanya campur tangan dari pihak
pengadilan. Perdamaian dalam perkara kepailitan senantiasa melibatkan peran atau campur
tangan pengadilan, yang dalam hal ini adalah hakim pengawas.
Jika ditelaah secara seksama, perdamaian dalam hubungannya dengan pemberesan
harta pailit, ternyata berbeda karakteristiknya dengan perdamaian dalam PKPU. Letak
perbedaan dimaksud adalah perdamaian dalam kaitannya dengan kepailitan lebih lanjut pada
bagaimanakah penyelesaian utang-piutang debitor melalui harta pailit. Sementara itu,
perdamaian dalam kaitannya dengan PKPU lebih diarahkan pada rencana penawaran
pembayaran atau dikenal dengan istilah restrukturisasi pembayaran utang.

48
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Bagaimanakah prosedur perdamaian dalam perkara kepailitan? Setelah verifikasi


selesai dilakukan, debitor pailit diberi kesempatan untuk mengajukan rencana perdamaian
kepada keseluruhan kreditornya. Rencana perdamaian tersebut harus diajukan debitor pailit
dalam jangka waktu 8 (delapan) hari sebelum rapat verifikasi utang serta diletakkan di
kepaniteraan Pengadilan Niaga dan kantor kurator serta salinan yang ada harus dikirimkan
kepada masing-masing anggota panitia sementara para kreditor. Dalam hubungannya dengan
rencana perdamaian yang diajukan oleh debitor pailit tersebut, dari kurator maupun panitia
para kreditor diharapkan nasihat atau penilaian secara tertulis yang disampaikannya dalam
rapat.
Atas rencana perdamaian yang diajukan oleh debitor pailit tersebut kemudian dibawa
ke forum rapat, guna diputuskan apakah kiranya rencana perdamaian tersebut diterima atau
tidak. Siapakah yang mempunyai wewenang untuk menyampaikan pendapatnya menerima
atau menolak rencana perdamaian tersebut? Ketentuan undang-undang mengatur bahwa
yang berhak memutuskan menerima atau tidaknya rencana perdamaian tersebut adalah
mereka yang mempunyai hak surat dalam rapat, yaitu para kreditor konkuren yang hadir
dalam rapat. Sementara itu, para kreditor yang tidak hadir dalam rapat tidak berpengaruh
pada diterima atau tidaknya rencana perdamaian tersebut, betapapun jumlahnya signifikan.
Apa sebabnya demikian? Rasio logisnya adalah kreditor yang tidak hadir dianggap telah
melepaskan haknya (rechtsverwerking), karenanya akan menerima putusan apapun yang
diambil serta untuk menghindari tirani minoritas dalam proses pengambilan keputusan
perdamaian tersebut. Perlu kiranya dipahami bahwa dalam hubungannya dengan rapat
perdamaian tersebut tidak dikenal kuorum minimal untuk sahnya suatu rapat perdamaian.
Rasio dari ketentuan ini adalah untuk melindungi debitor pailit utamanya yang beritikad baik
yang berkeinginan untuk menyelesaikan kepailitan melalui mekanisme perdamaian.
Apakah yang menjadi tolok ukur rencana perdamaian tersebut diterima? Rencana
perdamaian diterima jika ternyata disetujui dalam rapat kreditor oleh lebih dari ½ (satu perdua)
dari jumlah kreditor konkuren yang hadir dalam rapat dan haknya diakui atau yang untuk
sementara diakui, yang mewakili paling sedikit 2/3 (dua pertiga) dari seluruh jumlah piutang
konkuren yang diakui atau yang untuk sementara diakui dari kreditor konkuren atau kuasanya
yang hadir dalam rapat tersebut. Jika ternyata lebih dari ½ (satu perdua) jumlah kreditor yang
hadir pada rapat kreditor dan mewakili paling sedikit ½ (satu perdua) dari jumlah piutang
kreditor yang mempunyai hak suara menyetujui untuk menerima rencana perdamaian, maka
dalam kurun waktu paling lambat 8 (delapan) hari setelah pemungutan suara pertama
diadakan, diselenggarakan pemungutan suara kedua tanpa diperlukan pemanggilan. Pada
penyelenggaraan pemungutan suara kedua ini, kreditor tidak lagi terikat pada suara yang
dikeluarkan pemungutan suara yang pertama.
Jika ternyata hasil rapat pengambilan suara dalam perdamaian menolak rencana
perdamaian yang ditawarkan oleh debitor pailit tersebut, maka bagi yang bersangkutan tidak
ada celah lagi untuk mengajukan rencana perdamaian kedua; hal demikian membawa
konsekwensi yuridis bahwa proses kepailitan dilanjutkan dengan memasuki tahapan
insolvensi.
Sebaliknya, jika ternyata rencana perdamaian disetujui dalam rapat, maka langkah
berikutnya adalah meminta pengesahan pada Pengadilan Niaga. Hal demikian disebut
sebagai homologasi. Tidak selamanya rencana perdamaian yang telah disetujui tersebut
disahkan oleh Pengadilan Niaga. Dalam hubungan ini berdasarkan ketentuan Pasal 159 ayat
(2) UUK dan PKPU, Pengadilan Niaga akan menolak homologasi jika ternyata:
1. harta debitor, termasuk benda untuk mana dilaksanakan hak untuk menahan suatu
benda, jauh lebih besar daripada jumlah yang disetujui dalam perdamaian.
2. pelaksanaan perdamaian tidak cukup terjamin; dan/atau
3. perdamaian itu dicapai karena penipuan, atau persekongkolan dengan satu atau lebih
kreditor, atau karena pemakaian upaya lain yang tidak jujur dan tanpa menghiraukan
apakah debitor atau pihak lain bekerja sama untuk mencapai hal itu.

49
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Apakah rasio ketentuan tersebut? Jika ternyata harta debitor lebih besar dari jumlah
yang disetujui dalam perdamaian, maka akibatnya kreditor yang dirugikan. Untuk apa
perdamaian tersebut diselenggarakan jika harta pailit sesungguhnya masih mampu meng-
cover utang-utang debitor kepada para kreditornya, akan lebih memenuhi rasa keadilan jika
dilakukan pemberesan pailit tanpa melalui perdamaian, yang jika hal terakhir ditempuh justru
kreditor akan memperoleh bagian yang lebih kecil dari yang semestinya diterimanya. Begitu
pun jika pelaksanaan perjanjian perdamaian tidak cukup terjamin, seyogyanya majelis hakim
tidak menghomologasi perdamaiannya, sebab hal demikian sama halnya dengan putusan
ompong kosong karena tidak dapat dilaksanakan. Majelis hakim sepatutnya juga tidak
memberikan homologasi atas perdamaian yang dilakukan dengan cara tidak jujur karena reka
daya tipu muslihat ataupun persekongkolan, sebab hal sedemikan cenderung merugikan
kreditor, sebagaimana dicontohkan betapa kreditor dirugikan jika ternyata banyak kreditor fiktif
yang ditampilkan pada waktu pengambilan putusan.
Bila ternyata rencana perdamaian yang diajukan oleh debitor pailit tersebut
dihomologasi oleh Pengadilan Niaga, maka akan menimbulkan akibat hukum sebagai berikut
ini:
a. kepailitan dinyatakan berakhir;
b. perdamaian tersebut mengikat bagi seluruh kreditor konkuren, namun demikian tidak
berlaku bagi kreditor separatis dan yang diistimewakan;
c. perdamaian tidak dapat diajukan untuk dua kali;
d. perdamaian merupakan alas hak bagi garantor;
e. hak-hak kreditor tetap berlaku terhadap guarantor dan rekan debitor;
f. hak-hak kreditor tetap berlaku terhadap benda-benda pihak ketiga;
g. penangguhan eksekusi jaminan utang berakhir;
h. actio pauliana berakhir; dan
i. debitor pailit dapat direhabilitasi.

F. Insolvensi

Jika setelah verifikasi dilakukan ternyata debitor pailit tidak menawarkan perdamaian,
atau debitor pailit telah menawarkan perdamaian akan tetapi ternyata ditolak oleh para
kreditornya, atau tawaran perdamaian yang dikemukakan oleh debitor pailit disetujui oleh para
kreditornya, namun ternyata Pengadilan Niaga tidak mengesahkannya (homologasi), maka
saat itu telah terjadi insolvensi.
Apakah yang dimaksudkan dengan insolvensi tersebut? Yang dimaksudkan dengan
insolvensi dalam kepailitan ini adalah suatu tahap dimana akan terjadi jika ternyata tidak dapat
diwujudkannya suatu perdamaian sampai dihomologasi, dan dalam tahapan ini akan dilakukan
suatu pemberesan terhadap harta pailit.
Adapun konsekwensi yuridis atas insolvensi tersebut ialah terhadap harta pailit akan
dilakukan pemberesan. Dalam hubungannya dengan hal ini, kurator akan mengadakan
pemberesan dengan jalan menjual harta pailit di muka umum ataupun di bawah tangan serta
menyusun daftar pembagian dengan izin hakim pengawas, pada sisi yang lain hakim
pengawas menyelenggarakan rapat kreditor dengan agenda menentukan cara pemberesan.
Dari hasil penjualan harta pailit ditambah dengan hasil penagihan piutang, setelah
dikurangi biaya kepailitan dan utang, harta pailit merupakan harta yang dapat dibagikan
kepada para kreditor dengan urutan sebagai berikut:

50
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

a. Kreditor dengan hak istimewa (preferen);


b. Sisa tagihan kreditor dengan hak gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, atau
hipotik yang belum dilunasi dan untuk sisa tersebut para kreditor tersebut didaftar
sebagai kreditor konkuren; dan
c. Kreditor konkuren.
Bagi kreditor separatis, hak atas perluasan piutangnya telah terjamin pembayarannya
atas dasar hak kebendaan yang dipegangnya, seperti gadai, hak tanggungan fidusia, maupun
hipotik. Jika ternyata jaminan atas hak kebendaan yang dipegangnya tidak mencukupi untuk
pelunasan piutangnya, maka sisa piutang yang belum dibayarkan akan menjadi tagihan dalam
kapasitanya sebagai kreditor konkuren. Sebaliknya, jika ternyata jaminan atas hak kebendaan
yang dipegangnya hasil penjualan lelang terlebih untuk pelunasan piutangnya, maka
kelebihannya tersebut dikembalikan sebagai harta pailit. Oleh karena mekanisme yang
demikian ini, maka diatur ketentuan Pasal 56 ayat (1) UUK dan PKPU bahwa kreditor
separatis dikenai masa tunggu (stay) selama 90 (Sembilan puluh) hari. Makna filosofis yang
dapat ditangkap dalam masa syat ini adalah bahwa para pemegang hak jaminan dalam
prakteknya senantiasa akan menjual benda jaminannya tersebut dengan harga yang sangat
rendah, ia hanya mengedepankan tagihannya saja. Namun dengan adanya masa stay selama
90 (sembilan puluh) hari tersebut diharapkan memberi kesempatan pada kurator untuk
memperoleh harga yang layak bahkan kemungkinan harga yang terbaik.
Sedangkan yang dimaksud dengan kreditor istimewa (kreditor preferen) adalah
kreditor yang mempunyai preferensi karena perintah undang-undang. Kreditor preferen
diwajibkan untuk mengajukan tagihan mereka kepada kurator untuk dicocokkan sehingga
kreditor istimewa dibebani sebagian biaya kepailitan secara prorate parte.
Kreditor istimewa yang mempunyai prioritas berdasarkan perundang-undangan terdiri
dari yang mempunyai prioritas khusus sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 1139 KUH
Perdata, sementara kreditor istimewa yang mempunyai prioritas umum diatur dalam ketentuan
Pasal 1149 KUH Perdata. Perihal kreditor istimewa yang bukan berdasarkan undang-undang
terdiri dari hak untuk menahan barang, penahanan atas titel (retention of title), perjumpaan
utang (kompensasi, set off), hak penjual untuk menuntut kembali barangnya dan untuk
mengakhiri suatu perjanjian. Sedangkan estate creditor adalah kreditor yang mempunyai
piutang atas harta pailit seperti upah kurator, biaya pemberesan harta pailit, upah karyawan
sejak tanggal pailit.
Setelah dilakukan pemberesan ternyata harta pailit mencukupi untuk membayar
keseluruhan utang debitor pailit, maka langkah berikutnya yang ditempuh adalah rehabilitasi
sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 215 UUK dan PKPU. Dalam fase ini, status
debitor pailit dipulihkan, ia menjadi subyek hukum penuh atas harta kekayaannya. Untuk
mengajukan permohonan rehabilitasi, syarat yang harus dipenuhi adalah si pailit telah
membayar semua utangnya kepada para kreditor yang dibuktikan dengan surat tanda bukti
pelunasan dari para kreditor bahwa utang debitor pailit telah dibayar lunas semuanya. Selain
hal itu, syarat lain yang harus dipenuhi adalah permohonan rehabilitasi tersebut diumumkan
dalam 2 (dua) surat kabar harian yang ditunjuk oleh Pengadilan Niaga. Setelah selang 2 (dua)
dua bulan kemudian dari masa pengumuman tersebut, Pengadilan Niaga harus memutus
permohonan rehabilitasi tersebut. Putusan menerima atau menolak permohonan rehabilitasi
dari Pengadilan Niaga tersebut bersifat final, dalam arti kata tidak ada upaya hukum apapun
atas putusan Pengadilan Niaga yang menyatakan mengabulkan ataupun menolak
permohonan rehabilitasi tersebut.
Sebaliknya, jika ternyata harta pailit tidak mencukupi untuk melunasi utang-utangnya
kepada para kreditor, maka:
1. jika debitor pailit merupakan suatu badan hukum, maka demi hukum badan hukum
tersebut menjadi bubar. Seiring dengan bubarnya badan hukum tersebut, maka
utang-utang badan hukum yang belum terbayarkan menjadi utang di atas kertas

51
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

saja. Berarti atas utang tersebut tidak dapat dimintakan pembayarannya,


mengingat badan hukum yang mempunyai utang tersebut telah bubar;
2. badan hukum (pailit) juga tidak dapat mengajukan permohonan pencabutan
kepailitan, mengingat badan hukum tersebut telah bubar;
3. jika debitor pailit tersebut adalah perseorangan, maka kepailitan akan dicabut oleh
pengadilan. Setelah kepailitan dicabut, debitor pailit menjelma menjadi subyek
hukum yang sempurna, tanpa status pailit. Mengenai sisa utang yang belum
dibayar tetap mengikuti yang bersangkutan, yang konsekwensi hukumnya debitor
dapat dimohonkan pailit lagi, mengingat menurut sistem hukum kepailitan di
Indonesia ternyata tidak mengenal lembaga pengampunan utang terhadap debitor
pailit.

G. Penutup

Dari sajian makalah tersebut kiranya diperoleh pemahaman yang mendasar bahwa
Hakim Pengawas mempunyai peranan dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit. Hakim
Pengawas mempunyai tugas dan wewenang untuk mengawasi pengurusan dan pemberesan
harta pailit yang dilakukan oleh kurator.
Keberadaan Hakim Pengawas sangat penting dalam hubungannya dengan tugas dan
tanggung jawab kurator yang sedemikian berat, terlebih-lebih bila debitor pailit berbentuk
perseroan. Hakim pengawas berfungsi sebagai pengawas tugas-tugas kurator. Karena itulah,
kurator dan hakim pengawas merupakan dua variabel penting dalam pengurusan dan
pemberesan harga pailit. Kedua lembaga tersebut masing-masing berdiri sendiri-sendiri, akan
tetapi sulit sekali untuk memisahkannya. Yang patut dicatat disini bahwa bukanlah
superordinasi bagi kurator; dan kurator bukan pula sebagai subordinasi dari hakim pengawas.
Keduanya mempunyai tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam proses
pengurusan dan pemberesan harta pailit.

52
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Lampiran Slide Presentasi

PERAN HAKIM PENGAWAS


DALAM PENGURUSAN DAN PEMBERESAN
HARTA PAILIT

Oleh:
AGUS SUBROTO

Perbandingan Peraturan Mengenai Kepailitan dan PKPU


(Fv, PERPU/UUK No. 4 Tahun 1998 dan UUK No. 37 Tahun 2004)
Materi yang diatur Fv. PERPU No. 1/1998 atau UUK UUK No. 37/2004
No. 4/1998
I. Kepailitan
Pengertian Setiap berutang yang berada Debitur yang mempunyai dua atau Kepailitan adalah sita umum
dalam keadaan telah berhenti lebih kreditur dan tidak membayar atas semua kekayaan Debitor
membayar utang-utangnya, sedikitnya satu utang yang telah jatuh pailit yang pengurusan dan
dengan putusan hakim, baik waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pemberesannya dilakukan oleh
atas pelaporan sendiri, baik pailit dengan putusan Pengadilan Kurator di bawah pengawasan
atas permintaan seseorang yang berwenang sebagaimana Hakim Pengawas sebagaimana
atau lebih para berpiutangnya, dimaksud dalam Pasal 2, baik atas diatur dalam Undang-undang ini
dinyatakan dalam keadaan permohonannya sendiri, maupun atas (Pasal 1 ayat 1)
pailit (Pasal 1 ayat 1). permintaan seorang atau lebih
krediturnya (Pasal 1 ayat 1).

Syarat Pengajuan Pailit a) Setiap berutang yang a) Debitur punya dua atau lebih a. Debitur punya dua atau
berada dalam keadaan kreditur lebih kreditur
telah “telah berhenti b) Tidak membayar sedikitnya satu b. Tidak membayar lunas
membayar utang- utang jatuh waktu dan sedikitnya satu utang telah
utangnya” jatuh waktu dan dapat
c) Atas permohonannya sendiri atau
b) Atas pelaporan sendiri, permintaan seorang atau lebih ditagih
baik atas permintaan krediturnya c. Atas permohonannya
seseorang atau lebih para sendiri atau permohonan
berpiutangnya (Pasal 1 ayat (1))
satu atau lebih krediturnya
(Pasal 1 ayat 1) (Pasal 2 ayat 1)

53
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

…….Lanjutan

Materi yang diatur Fv. PERPU No. 1/1998 atau UUK No. 37/2004
UUK No. 4/1998
Yang dapat 1. Debitur sendiri 1. Debitur sendiri 1. Debitur sendiri
Mengajukan Pailit
2. Seorang atau lebih 2. Seorang atau lebih 2. Satu atau lebih krediturnya
kreditur krediturnya 3. Kejaksaan untuk kepentingan umum
3. Jaksa Penuntut 3. Kejaksaan untuk 4. Bank Indonesia dalam hal debitor
Umum kepentingan umum adalah bank
4. Bank Indonesia, dalam hal 5. Badan Pengawas Pasar Modal dalam
debitor adalah bank hal debitornya Perusahaan Efek,
5. Badan Pengawas Pasar Lembaga Kliiring, dan Penajaminan,
Modal dalam hal debitornya Lembaga Penyimpanan dan
Perusahaan Efek Penyelesaian
(Pasal 1 ayat (1) – (4)) 6. Menteri Keuangan dalam hal
debitornya Perusahaan Asuransi,
Reasuransi, dana Pensiun atau BUMN
yang bergerak dalam bidang publik.
(Pasal 2 ayat (1) – (5))

Yang Dinyatakan Pailit a) Orang atau badan a) Orang atau badan pribadi a) Orang atau badan pribadi (pasal 2)
pribadi (pasal 1) (pasal 1) b) Debitur yang telah menikah (pasal 4)
b) Debitur yang telah b) Debitur yang telah menikah c) Badan-badan Hukum
menikah (pasal 3)
d) Harta Warisan (pasal 207-211)
c) Badan-badan c) Badan-badan Hukum (pasal
Hukum 113)
d) Harta Warisan d) Harta Warisan (pasal 97)

…….Lanjutan
Materi yang diatur Fv. PERPU No. 1/1998 atau UUK UUK No. 37/2004
No. 4/1998
Syarat Permohonan Setiap perempuan bersuami, a) Dalam hal permohonan a) Dalam hal permohonan
bagi debitur menikah yang dengan tenaga sendiri pernyataan pailit diajukan oleh pernyataan pailit diajukan
melakukan suatu pekerjaan debitur yang menikah, oleh debitur yang masih
tetap atau suatu perusahaan, permohonan hanya dapat terikat dalam pernikahan
ataupun mempunyai suatu diajukan atau persetujuan suami yang sah, permohonan
kekayaan sendiri, iapun dapat atas isterinya. hanya dapat diajukan atas
dinyatakan Pailit, oleh persetujuan suami atau
Pengadilan Negeri tempat ia b) Ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat 1 tidak isterinya.
melakukan pekerjaan atau
perusahaan tersebut, atau oleh berlaku apabila tidak ada b) Ketentuan sebagaimana
Pengadilan Negeri tempat percampuran harta dimaksud pada ayat 1 tidak
kediamannya (Pasal 3) (Pasal 3). berlaku apabila tidak ada
persatuan harta
(Pasal 4).

Akibat-akibat Kepailitan 1. Terhadap Debitur pailit dan 1. Terhadap Debitur Pailit dan 1. Terhadap Debitur Pailit dan
hartanya (pasal 19) hartanya (pasal 19) hartanya (pasal 21-22)
2. Terhadap eksekusi atas 2. Terhadap eksekusi atas harta 2. Terhadap eksekusi atas
harta kekayaan Debitur pailit kekayaan Debitur pailit (pasal 32) harta kekayaan Debitur pailit
(pasal 32) 3. Terhadap perjanjian timbal balik (pasal 31 ayat (1))
3. Terhadap perjanjian timbal yang dilakukan sebelum kepailitan 3. Terhadap perjanjian timbal
balik yang dilakukan (pasal 36 ayat (1)) balik yang dilakukan
sebelum kepailitan (pasal 36 4. Terhadap Kewenangan berbuat sebelum kepailitan (pasal 36
berubah) Debitur pailit dalam bidang hk ayat (1) – (5))
harta kekayaan (pasal 41) 4. Terhadap Kewenangan
5. Terhadap Barang jaminan (pasal berbuat Debitur pailit dalam
56, 56 A, 57, 58) bidang hk harta kekayaan
(pasal 41)

54
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

…….Lanjutan
Materi Fv. PERPU No. 1/1998 atau UUK No. 37/2004
yang diatur UUK No. 4/1998
Akibat-akibat 1. Terhadap Kewenangan berbuat Terhadap Barang jaminan (pasal 55-
Kepailitan Debitur pailit dalam bidang hk harta 56)
(…lanjutan) (pasal 41, berubah)
2. Terhadap Barang Jaminan (pasal
36 berubah)

Pengurusan 1. Hakim Pengawas 1. Hakim Pengawas (pasal 13) 1. Hakim Pengawas (pasal 65–68)
Harta Pailit 2. Balai Harta Peninggalan (BHP)
2. Kurator (pasal 12) 2. Kurator (pasal 16, 69-78)
3. Balai Harta Peninggalan 3. Balai Harta Peninggalan (BHP)
(BHP) (pasal 67 A) (pasal 70 ayat (2))

Berakhirnya a) Akur/Perdamaian (Pasal 143-167) a) Akur/Perdamaian (Pasal 143- a) Akur/Perdamaian (Bagian


Pailit 167) Keenam: Pasal 144-177)
b) Insolvensi/ Pemberesan Harta Pailit
(Pasal 168) b) Insolvensi/Pemberesan Harta b) Insolvensi/Pemberesan Harta
c) Rehabilitasi (pasal 205) Pailit (Pasal 168) Pailit (Bagian Ketujuh: 178-203)
c) Rehabilitasi (pasal 205) c) Rehabilitasi (Bagian Kesebelas:
pasal 215-221)

Pengadilan Pengadilan Negeri Pengadilan Niaga (Bab III, pasal Pengadilan Niaga (Pasal 1 ayat (7),
yang 280-289) pasal 300-303
berwenang
Penundaan Diatur dalam Bab II: Pengunduran Diatur dalam Bab II, Pasal 212- Diatur dalam Bab III, Pasal 222-294
Kewajiban pembayaran (pasal 212-279) 279
Pembayaran
Utang

…….Lanjutan
Materi yang diatur Fv. PERPU No. 1/1998 atau UUK No. 37/2004
UUK No. 4/1998
Yang Berhak Minta Debitur sendiri (pasal 212) Debitur sendiri (pasal 212) 1. Debitur sendiri
PKPU
2. Krediturnya
3. Bank Indonesia dalam hal debitor
adalah bank
4. Badan Pengawas Pasar Modal dalam
hal debitornya Perusahaan Efek,
Bursa Efek, Lembaga Kliiring dan
Penjaminan, Lembaga Penyimpanan
dan Penyelesaian
5. Menteri Keuangan dalam hal
debitornya Perusahaan Asuransi,
Reasuransi, Dana Pensiun atau
BUMN yang bergerak di bidang publik.
(Pasal 222-223)

Syarat untuk Bisa Setiap berutang yang Debitur yang tidak dapat atau Debitur yang tidak dapat atau
PKPU menduga, bahwa ia takkan memperkirakan bahwa ia tidak memperkirakan bahwa ia tidak akan
dapat melanjutkan akan dapat melanjutkan dapat melanjutkan membayar utang-
membayar utang-utangnya membayar utang-utangnya yang utangnya yang sudah jatuh waktu dan
yang dapat ditagih, sudah jatuh waktu dan dapat dapat ditagih, dapat mohon PKPU,
diperbolehkan meminta ditagih, dapat mohon PKPU, dengan maksud pada umumnya untuk
akan pengunduran dengan maksud pada umumnya mengajukan rencana perdamaian yang
pembayaran (Pasal 212) untuk mengajukan rencana meliputi tawaran pembayaran seluruh
perdamaian yang meliputi atau sebagian utangnya kepada kreditur
tawaran pembayaran seluruh (Pasal 222 ayat (2))
atau sebagian utangnya kepada
kreditur konkuren (Pasal 212)

55
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

…….Lanjutan

Materi yang Fv. UUK No. 4/1998 UUK No. 37/2004


diatur
Akibat PKPU Diatur dalam Bab II, Diatur dalam Bab II, pasal Diatur dalam Bab III, Bagian
Bagian kesatu, pasal 212-279 kesatu, pasal 222-264
212-248 1. Terhadap Tindakan 1. Terhadap Tindakan Hukum
Hukum Debitur(pasal Debitur (pasal 240)
226) 2. Terhadap utang-utang Debitur
2. Terhadap utang-utang (pasal 228 jo pasal 231)
Debitur (pasal 228 jo 3. Terhadap perjanjian timbal
pasal 231) balik (pasal 249)
3. Terhadap perjanjian 4. Terhadap Perjanjian untuk
timbal balik (pasal 234) menyerahkan Barang (pasal
4. Terhadap perjanjian 250)
untuk menyerahkan 5. Terhadap Debitur Penyewa
Barang (pasal 251)
5. Terhadap Debitur
Penyewa
Pengadilan Yang Pengadilan Negeri Pengadilan Niaga Pengadilan Niaga
Berwenang

…….Lanjutan
Materi yang diatur UUK No. 4/1998 UUK No. 37/2004

II. PENGADILAN Tugas dan 1. Memeriksa dan memutuskan 1. Memeriksa dan memutuskan
NIAGA Wewenang permohonan pernyataan pailit. permohonan pernyataan pailit.
2. Penundaan kewajiban pembayaran 2. Penundaan kewajiban pembayaran
utang. utang.
3. Memeriksa perkara lain di bidang 3. Memeriksa perkara lain di bidang
perniagaan yang penetapannya perniagaan yang penetapannya
dengan peraturan pemerintah. dengan peraturan pemerintah.
(Pasal 280) (Pasal 300 ayat (1))

Pembentukan 1. Untuk pertama kali pengadilan niaga Pembentukan pengadilan niaga


Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta dilakukan secara bertahap dengan
Pusat. Keputusan Presiden, dengan
2. Pembentukan pengadilan niaga memperhatikan kebutuhan dan
dilakukan secara bertahap dengan kesiapan sumber daya yang
Keputusan Presiden, dengan diperlukan.
memperhatikan kebutuhan dan
kesiapan sumber daya yang (Pasal 300 ayat (2))
diperlukan.
3. Sebelum pengadilan niaga terbentuk,
semua perkara yang menjadi lingkup
kewenangan pengadilan niaga
diperiksa dan diputuskan oleh
pengadilan niaga Jakarta Pusat.
4. Pembentukan pengadilan niaga
dilakukan paling lambat dalam jangka
waktu 120 (seratus dua puluh) hari
terhitung sejak berlakunya peraturan
pemerintah pengganti undang-undang
No. 1 Th 1998 (yakni tanggal 22 April
1998). (Pasal 281)

56
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

…….Lanjutan
Materi yang UUK No. 4/1998 UUK No. 37/2004
diatur
II. PENGADILAN Pemeriksaan 1. Pengadilan niaga memeriksa dan 1. Pengadilan niaga memeriksa dan
NIAGA Perkara oleh memutuskan perkara pada tingkat memutuskan perkara pada tingkat
Hakim pertama dan hakim majelis. pertama dan hakim majelis.
2. Dalam hal menyangkut perkara lain di 2. Dalam hal menyangkut perkara lain di
bidang perkara lain di bidang perniagaan bidang perniagaan sebagaiman
sebagaimana dimaksud dalam pasal 280 dimaksud dalam pasal 280 ayat (2),
ayat (2), ketua Mahkamah Agung dapat ketua Mahkamah Agung dapat
menetapkan jenis dan nilai perkara yang menetapkan jenis dan nilai perkara yang
pada tingkat pertama diperiksa dan pada tingkat pertama diperiksa dan
diputuskan oleh hakim tunggal. diputuskan oleh hakim tunggal.
3. Dalam menjalankan tugasnya, hakim 3. Dalam menjalankan tugasnya, hakim
pengadilan niaga dibantu oleh seseorang pengadilan niaga dibantu oleh seseorang
panitera atau seseorang pengganti dan panitera atau seseorang pengganti dan
juru sita. (Pasal 282) juru sita. (Pasal 301)

Syarat 1. Hakim pengadilan niaga diangkat 1. Hakim pengadilan niaga diangkat


Pengangkatan berdasarkan surat keputusan ketua berdasarkan surat keputusan ketua
Hakim Mahkamah Agung. Mahkamah Agung.
2. Syarat-syarat untuk dapat diangkat 2. Syarat-syarat untuk dapat diangkat
sebagai hakim adalah: sebagai hakim adalah:
a) Telah berpengalaman sebagai hakim a) Telah berpengalaman sebagai hakim
dalam lingkungan pengadilan umum. dalam lingkungan pengadilan umum.
b) Mempunyai dedikasi dan menguasai b) Mempunyai dedikasi dan menguasai
pengetahuan di bidang masalah- pengetahuan di bidang masalah-
masalah yang menjadi lingkup masalah yang menjadi lingkup
kewenangan pengadilan niaga. kewenangan pengadilan niaga.
c) Berwibawa, jujur, adil dan berkelakuan c) Berwibawa, jujur, adil dan
tidak tercela. berkelakuan tidak tercela.

…….Lanjutan
Materi yang UUK No. 4/1998 UUK No. 37/2004
diatur
II. PENGADILAN Syarat Telah berhasil menyelesaikan program Telah berhasil menyelesaikan program
NIAGA Pengangkatan pelatihan khusus hakim pada pengadilan pelatihan khusus hakim pada pengadilan
Hakim niaga. niaga.
(…lanjutan)
(Pasal 283) (Pasal 283)
Upaya Hukum Kasasi (Pasal 8-10, 284 (2)-285) Kasasi (Pasal 11-14, 256, 293)
Terhadap putusan pengadilan niaga di Terhadap putusan pengadilan niaga di
tingkat pertama yang menyangkut tingkat pertama yang menyangkut
permohonan pernyataan pailit dan permohonan pernyataan pTailit dan
penundaan kewajiban pembayaran penundaan kewajiban pembayaran
utang, hanya dapat diajukan kasasi utang, hanya dapat diajukan kasasi
kepada Mahkamah Agung kepada Mahkamah Agung
Pemeriksaan atas permohonan kasasi Pemeriksaan atas permohonan kasasi
dilakukan oleh sebuah majelis hakim dilakukan oleh sebuah majelis hakim
pada Mahkamah Agung yang khusus pada Mahkamah Agung yang khusus
dibentuk untuk memeriksa dan dibentuk untuk memeriksa dan
memutuskan perkara yang menjadi memutuskan perkara yang menjadi
lingkup kewenangan pengadilan niaga lingkup kewenangan pengadilan niaga

Peninjauan Kembali (PK) (Pasal 286-289) Peninjauan Kembali (PK) (Pasal 286-289)
Terhadap putusan pengadilan niaga Terhadap putusan pengadilan niaga
yang telah memperoleh kekuasaan yang telah memperoleh kekuasaan
hukum yang tetap, dapat diajukan hukum yang tetap, dapat diajukan
peninjauan kembali kepada Mahkamah peninjauan kembali kepada Mahkamah
Agung. Agung.

57
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

…….Lanjutan
Materi yang UUK No. 4/1998 UUK No. 37/2004
diatur
II. PENGADILAN Permohonan peninjauan kembali Permohonan peninjauan kembali
NIAGA dapat dilakukan apabila: dapat dilakukan apabila:
a) Terdapat bukti tertulis baru yang a) Setelah perkara diputus ditemukan
penting, yang apabila diketahui bukti baru yang bersifat menentukan
pada tahap persidangan, pada waktu perkara diperiksa di
sebelumnya akan menghasilkan pengadilan sudah ada tetapi belum
putusan yang berbeda, atau ditemukan, atau
b) Pengadilan niaga yang b) Pengadilan niaga yang
bersangkutan telah melakukan bersangkutan telah melakukan
kesalahan berat dalam penerapan kesalahan berat dalam penerapan
hukum. hukum.

KEPAILITAN

• Adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit


yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh
Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas
sebagaimana diatur dalam Undang- undang ini (Bab I,
Pasal 1, angka 1 UU No. 37 tahun 2004)

58
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Putusan Pailit
• Pernyataan termohon pailit dengan segala
akibat hukumnya
• Pengangkatan Hakim Pengawas
• Penunjukan Kurator
• Biaya perkara

Faktor perlunya Kepailitan:


• Untuk menghindari perebutan harta debitor apabila
dalam waktu yang sama ada beberapa kreditor yang
menagih piutangnya dari debitor;
• Untuk menghindari adanya kreditor pemegang hak
jaminan kebendaan yang menuntut haknya dengan cara
menjual barang milik debitor tanpa memperhatikan
kepentingan debitor atau para kreditor lainnya;
• Untuk menghindari adanya kecurangan-kecurangan
yang dilakukan oleh salah seorang kreditor atau debitor
sendiri.

59
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Empat Asas Hukum Kepailitan


1. Asas Keseimbangan
Terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya pranata dan
lembaga kepailitan oleh debitor yang tidak jujur; dan pula terdapat
ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan
lembaga kepailitan oleh kreditor yang tidak beritikad baik
2. Asas Kelangsungan Usaha
Memungkinkan perusahaan debitor yang prospektif tetap dilangsungkan;
3. Asas Keadilan
Mencegah terjadinya kewenang-wenangan pihak penagih yang
mengusahakan pembayaran atas tagihan masing-masing terhadap
debitor, dengan tidak memperdulikan kreditor lainnya.
4. Asas Integrasi
Sistem hukum formil dan materiilnya merupakan satu kesatuan yang utuh
dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata nasional.

Pengurusan Harta Pailit Menurut


UU No. 37 Tahun 2004

• Bab II tentang Kepailitan, Bagian Ketiga Pengurusan Harta


Pailit terdiri atas:
1. Paragraf 1 tentang Hakim Pengawas (Pasal 65-Pasal 68);
2. Paragraf 2 tentang Kurator (Pasal 69-Pasal 78);
3. Paragraf 3 tentang Panitia Kreditor (Pasal 79-Pasal 84);
4. Paragraf 4 tentang Rapat Kreditor (Pasal 85-Pasal 90);
5. Paragraf 5 tentang Penetapan Hakim (Pasal 91-Pasal 92)

60
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Tugas dan Kewenangan Hakim Pengawas


(Pasal 65-68)

1. Memimpin Rapat Verifikasi;


2. Mengawasi tindakan dari kurator dalam
melaksanakan tugasnya, memberikan nasihat
dan peringatan kepada kurator atas
pelaksanaan tugas tersebut;
3. Menyetujui atau menolak daftar- daftar tagihan
yang diajukan oleh para kreditor;

Tugas dan Kewenangan Hakim Pengawas


(Pasal 65-68)…(lanjutan)
4. Meneruskan tagihan-tagihan yang tidak dapat
diselesaikannya dalam rapat verifikasi kepada Hakim
Pengadilan Niaga yang memutus perkara tersebut;
5. Mendengar keterangan saksi-saksi dan para ahli atas
segala hal yang berkaitan dengan kepailitan
(misalnya: tentang keadaan budel pailit, perilaku
pailit)
6. Memberikan ijin atau menolak permohonan si pailit
untuk bepergian (meninggalkan tempat
kediamannya).

61
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Hambatan

Debitur tidak kooperatif;


Harta Kekayaan debitor tidak ada
atau tidak mencukupi

Jalan Keluar

• Penerapan paksa badan (Gijzeling )


Diatur Pasal 93-96 UUK
Teknis diatur PERMA No. 1 Tahun 2000
Pasal 209-224 HIR (dibekukan SEMA
No. 2/1964 dan No. 4/1975)

62
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Disharmonis ketentuan Gijzeling dalam


UUK, PERMA dan HIR

1. Pasal 4 Perma No. 1/2000 mengatur paksa


badan dapat diterapkan untuk debitor yang
beritikad tidak baik yang mempunyai utang
sekurangnya Rp.1.000.000.000,00 (Satu Milyar
Rupiah). Dalam UUK maupun HIR tidak
mengatur hal tersebut

Disharmonis ketentuan Gijzeling dalam


UUK, PERMA dan HIR …(lanjutan)

2. Jangka waktu pelaksanaan paksa badan


• Dalam UUK penahanan paling lama 30 (tiga puluh) hari
terhitung sejak penahanan dilakukan dan dapat
diperpanjang 30 (tiga puluh) hari.
• Dalam Perma No.1/2000 diatur, paksa badan ditetapkan 6
(enam) bulan, dapat diperpanjang setiap 6 (enam) bulang
dengan keseluruhan maksimum 3 (tiga) tahun.

63
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Disharmonis ketentuan Gijzeling dalam


UUK, PERMA dan HIR …(lanjutan)

3. Usia Debitor
• UUK dan HIR tidak mengatur
• Perma No.1/2000 menentukan paksa
badan tidak dapat dikenakan terhadap
debitor yang beritikad tidak baik yang telah
berusia 75 (tujuh puluh lima) tahun.

Disharmonis ketentuan Gijzeling dalam


UUK, PERMA dan HIR …(lanjutan)
4. Ruang lingkup debitor tidak beritikad baik
• UU
Debitor pailit dengan sengaja dan tanpa alasan hukum yang
sah tidak memenuhi kewajiban hukum seperti yang diatur
Pasal 98, 110, 121 ayat (1) dan (2)

• Perma No. 1/2000


Debitor beritikad tidak baik, ia mampu tapi mau memenuhi
kewajiban membayar utang-utangnya

64
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Disharmonis ketentuan Gijzeling dalam


UUK, PERMA dan HIR …(lanjutan)
5. Tujuan Gijzeling
• UUK
Semata-mata untuk menekan debitor pailit agar kooperatif dalam
proses kepailitan
• HIR
Menekan debitor supaya ia membayar utangnya, betapapun debitor
sudah tidak memiliki harta, dengan harapan kerabatnya membantu
• Perma No.1/2000
Ditujukan kepada debitor atau juga penjamin utang yang mampu
tetapi tidak mau membayar utangnya.

ACTIO PAULIANA

1. Actio pauliana umum diatur dalam Pasal 1341


KUHPerd.
2. Actio pauliana (Waris) diatur dalam Pasal
1061 KUHPerd.
3. Actio pauliana dalam kepailitan diatur dalam
Pasal 41-47 UUK
4.

65
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Actio pauliana dalam kepailitan diajukan oleh Kurator


atas persetujuan Hakim Pengawas
Actio pauliana dalam kepailitan harus memenuhi
kriteria :
1. Perbuatan hukum yang digugat merupakan perbuatan yang
merugikan kreditor yang dilakukan dalam jangka waktu 1 (satu) tahun
sebelum putusan pailit.
2. Perbuatan hukum yang digugat actio pauliana tersebut merupakan
perbuatan yang merugikan kreditor yang tidak wajib dilakukan oleh
debitor pailit.
3. Perbuatan hukum yang digugat actio pauliana dalam kepailitan
merupakan perbuatan yang merugikan kreditor yang merupakan
perjanjian dimana kewajiban debitor jauh melebihi kewajiban pihak
dengan siapa perjanjian tersebut dibuat
5.

Actio pauliana dalam kepailitan harus memenuhi


kriteria:…(lanjutan)

4. Perbuatan hukum yang digugat actio pauliana dalam


kepailitan merupakan perbuatan yang merugikan kreditor
yang merupakan pembayaran atas, atau pemberian
jaminan untuk utang yang belum jatuh tempo dan/atau
belum atau tidak dapat ditagih.
5. Perbuatan hukum yang digugat actio pauliana dalam
kepailitan merupakan perbuatan yang merugikan kreditor
yang dilakukan terhadap pihak terafiliasi sebagaimana
ditentukan Pasal 42 UUK.

66
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

TERIMA KASIH

67
Materi VI Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Agus Subroto, S.H., M.H. USAID In ACCE Project & AKPI

DAFTAR PUSTAKA

- Asser-Rutten, Verbintenissenrecht I, Zesde druk, 1981.


- Hartini, Rahayu, Hukum Kepailitan, edisi revisi, UMM Press, Malang, 2007.
- Hartono, Siti Soemarti, Pengantar Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran, Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1993.
- Hartono, Sri Redjeki, Civil Laws as Foundation For Modern Laws on Bankruptcy, Paper, Jakarta 1999.
- Hoff, Jerry, Indonesian Bankruptcy Law, Tatanusa, Jakarta 1999.
- Hornby, As. Oxford Advanced Learn’s Dictionary of Current English, Oxford University Press, 1987.
- John Ayto, Dictionary of Word Origin, Bloomsbury Publishing Plc. London, 1990.
- Juwana, Hikmahanto, Relevansi Hukum Kepailitan dalam Transaksi Bisnis Internasional, Jurnal Hukum
Bisnis, Vol. 17, Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, Jakarta, 2002.
- Lontoh, Rudhy A: A. Kailimang, Denny Pontoh, Benny (Ed.), Penyelesaian Utang-Piutang: Melalui Pailit
atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Alumni, Bandung, 2001.
- Muljadi, Kartini, Kepailitan dan Penyelesaian Utang-Piutang, dalam Rudhy A. Lontoh, Penyelesaian
Utang-Piutang: Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Alumni, Bandung, 2001.
- Muljadi, Kartini dan Gunawan Widjaja, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan, Raja Grafindo, Jakarta,
2003.
- Nusantara, Abdul Hakim Garuda & Harman Benny K, Analisa Kritis Putusan-Putusan Pengadilan Niaga,
CINCELS, Jakarta, 2000.
- Pahpahan, Normin S., Hukum Perusahaan Indonesia, Tinjauan Terhadap Undang-undang Nomor 1
Tahun 1995 Tentang Perseroan Terbatas, ELIPS, Jakarta, Juni 1995.
- Purba, A. Zein Umar: Rancangan Undang-Undang Perseroan Terbatas, ELIPS (Proyek Pengembangan
Hukum Ekonomi dan Penyempurnaan Sistem Pengadaan), Jakarta, Juni 1995.
- Remy Sjahdeni, Sutan, Hukum Kepailitan, Pustakan Utama, Grafiti, Jakarta, 2002.
- Republik Indonesia, Faillisemenstsverordening dan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 Tentang Perubahan
atas Undang-Undang tentang Kepailitan (Lembaran Negara Republik Indonesia 1998 Nomor 135).
- Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang, (Lembaran Negara Republik Indonesia 2004 Nomor 87).
- Sutadi, Marianna, Hukum Acara pada Pengadilan Niaga, dalam Litbang Mahkamah Agung RI, Makalah
para Pakar yang Berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 jo Perpu Nomor 1 Tahun 1998
tentang Kepailitan, Mahkamah Agung RI, Jakarta 1999.
- Suyudi, Aria, et.al., Kepailitan di Negeri Pailit: Analisis Hukum Kepailitan Indonesia, Pusat Studi Hukum
dan Kebijakan Indonesia, Jakarta, 2004.
- Suyuthi, Wildan (ed), Perkara Kepailitan dalam Putusan Kasasi dan Peninjauan Kembali, Puslitbang
Mahakamah Agung, Jakarta, 2000.
- Simanjuntak, Ricardo, Kemandirian Tugas Kurator dalam Melakukan Pengurusan dan Pemberesan
dalam Kepailitan, dalam Emmy Yuhassarie, et.al., Revitalisasi Tugas dan Wewenang Kurator/Pengurus,
Hakim Pengawas dan Hakim/Niaga dalam rangka Kepailitan, Pusat Pengkajian Hukum (PPH), Jakarta,
2004.
- Tim Pengarah Pengadilan Niaga, Cetak Biru dan Rencana Aksi Pengadilan Niaga, Kantor Menteri Negara
Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Jakarta, 2004.
- Tumbuan, Fred B.G., Pokok-pokok Undang-undang Kepailitan Sebagaimana diubah oleh Perpu No. 1
Tahun 1998., Dalam: Rudhy A. Lontoh, Penyelesaian Utang-Piutang Melalui Pailit atau Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang, Alumni, Bandung, 2001.
- Wignjosumarto, Parwoto, Tugas dan Wewenang Hakim Pemeriksa/Pemutus/Perkara, Hakim Pengawas
dan Kurator/Pengurus, PT. Tatanusa, Jakarta, 2000.

68
Materi VII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
AKBP. CH. Patoppol, SSTMK, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Materi VII
Permasalahan terhadap Kendala Efektifitas Undang-Undang Kepailitan dan
Pemecahannya dari Sudut Pandang Penyidik

Oleh AKBP. CH. Patoppol, SSTMK, S.H. 1

Secara umum pailit berarti suatu keadaan dimana pihak yang dinyatakan pailit tidak
memiliki kekuasaan lagi untuk mengelola kekayaannya yang telah dinyatakan pailit. Kepailitan
merupakan suatu proses dimana seorang debitor yang berada dalam keadaan kesulitan
keuangan untuk membayar utangnya dinyatakan pailit oleh pengadilan. Dengan demikian,
kepailitan bertujuan untuk menjamin pembagian yang adil terhadap harta kekayaan debitur
diantara para krediturnya dengan memperhatikan hak-hak mereka masing-masing.
Lebih lanjut, beberapa pertimbangan diundangkannya UU No. 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (“UUK dan PKPU”) adalah sebagai
berikut:
1. Bahwa pembangunan hukum nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil
dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD1945 harus mendukung dan menjamin
kepastian, ketertiban, penegakkan dan perlindungan hukum yang berintikan keadilan
dan kebenaran.
2. Bahwa dengan makin pesatnya perkembangan perekonomian dan perdagangan, makin
banyak permasalahan utang piutang yang timbul di masyarakat.
3. Bahwa krisis moneter yang terjadi di Indonesia telah memberikan dampak yang tidak
menguntungkan terhadap perekonomian nasional sehingga menimbulkan kesulitan
besar terhadap dunia usaha dalam menyelesaikan utang piutang untuk meneruskan
kegiatannya.
4. Bahwa sebagai salah satu sarana hukum untuk penyelesaian, utang piutang dan
undang undang yang lama belum juga memenuhi perkembangan dan kebutuhan hukum
masyarakat.
UUK dan PKPU merupakan UU perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 1998 tentang
Kepailitan (“UUK”) yang disahkan oleh DPR RI pada tanggal 22 September 2004 dan telah
diundangkan pada tanggal 18 Oktober 2004. Lahirnya UU Kepailitan di Indonesia secara
prinsip didasari terjadinya krisis moneter yang terjadi dimana hal ini memberikan dampak bagi
pelaku usaha dengan banyaknya pelaku usaha mengalami kesulitan keuangan yang pada
akhirnya tidak mampu membayar utang-utangnya. Dengan adanya UU Kepailitan diharapkan
akan memberikan kepastian dan penjaminan atas pembagian harta kekayaan debitur kepada
para krediturnya dengan cara adil.

A. Pengertian

Pengertian Kepailitan menurut Pasal 1 angka 1 Ketentuan Umum UUK dan PKPU
adalah sebagai berikut:
“Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan
pemberesannya dilakukan oleh kurator dibawah pengawasan hakim pengawas sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang ini.”
Dari definisi kepailitan yang dirumuskan dalam Ketentuan Umum Pasal 1 angka 1 UUK
dan PKPU tersebut dan menghubungkannya dengan Pasal 2 ayat (1) UUK dan PKPU, maka
dapat disimpulkan adanya beberapa pihak yang terkait dalam kepailitan, yaitu debitor, debitor
pailit, kreditor, kurator, hakim pengawas dan pengadilan.

1
Pemakalah adalah Ajun Komisaris Besar POLRI dengan jabatan sebagai Penyidik Madya Unit Perbankan DIT II Eksus
Bareskrim POLRI.

69
Materi VII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
AKBP. CH. Patoppol, SSTMK, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

• Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-
Undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.
• Debitor adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau Undang-Undang
yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan.
• Debitor pailit adalah debitor yang sudah dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan.
• Kurator adalah balai harta peninggalan atau orang perseorangan yang diangkat oleh
pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta debitor pailit dibawah
pengawasan hakim pengawas.
• Hakim pengawas adalah hakim yang ditunjuk oleh pengadilan dalam putusan pailit
atau putusan penundaan kewajiban pembayaran utang.
• Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam lingkungan peradilan umum.

B. Hukum Acara UU Kepailitan

Hukum acara yang berlaku dalam mengadili perkara kepailitan dan PKPU adalah
Hukum Acara Perdata sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 299 UUK dan PKPU. Selain
itu, badan peradilan yang berwenang memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit
dan PKPU adalah pengadilan niaga.
Dengan demikian, hukum acara kepailitan yang dipergunakan pada pengadilan niaga
dalam pemeriksaan perkara permohonan pernyataan pailit adalah sesuai dengan asas lex
specialis derogat lex generalis. Selain ketentuan khusus tentang hukum acara sebagaimana
diatur dalam UU Kepailitan, ketentuan hukum acara perdata yang bersifat umum tetap berlaku
dalam pemeriksaan sengketa perdata umum pada pengadilan negeri.
UUK dan PKPU mengatur tentang pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan
pernyataan pailit selain kreditor dan debitor, yaitu Kejaksaan RI dalam hal untuk kepentingan
umum; Bank Indonesia dalam hal debitor adalah bank; Badan Pengawas Pasar Modal &
Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dalam hal debitor adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek,
Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian; dan Menteri
Keuangan dalam hal debitor adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Dana
Pensiun atau BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik. Dengan demikian, baik
dalam UUK maupun UUK dan PKPU tidak mengatur secara khusus peranan POLRI dalam
kepailitan, akan tetapi bukan berarti POLRI tidak memiliki peranan dalam kepailitan.
Selain bertugas melakukan pengamanan atas timbulnya berbagai gangguan keamanan
akibat diputuskan pernyataan pailit, apabila terjadi tindak pidana terkait dengan kepailitan
sebagaimana diluar dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), POLRI memiliki
peranan dalam kepailitan diantaranya melakukan penyelidikan dan penyidikan atas dugaan
terjadinya tindak pidana tersebut.

C. Tugas POLRI yang Berkaitan dengan Kepailitan

Seperti telah dibahas, meskipun ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang


kepailitan tidak menyebutkan dengan jelas peranan POLRI dalam kepailitan, akan tetapi
bukan berarti POLRI tidak memiliki peranan sama sekali. Secara rinci, peranan POLRI
berkaitan dengan Kepailitan adalah sebagai berikut:
• Melakukan pengamanan berkaitan dengan kemungkinan/potensi munculnya
gangguan Kantibmas 2 pada saat pelaksanaan sidang kepailitan sampai dengan
pasca putusan pailit.

2
Kantibmas adalah Keamanan dan Ketertiban Masyarakat.

70
Materi VII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
AKBP. CH. Patoppol, SSTMK, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

• Melakukan pengamanan terhadap harta debitor pailit sampai dengan pelaksanaan


lelang, atas permintaan kurator.
• Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap tindak pidana yang terjadi akibat
dampak putusan pailit (pihak yang ditimbulkan unjuk rasa anarkis, pembakaran,
pengrusakan, dan sebagainya).
• Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap tindak pidana yang diatur dalam
KUHP yang berkaitan dengan kepailitan.

D. Pasal KUHP yang terkait dengan Kepailitan

Terdapat beberapa ketentuan pidana yang terkait dengan kepailitan sebagaimana


diatur dalam Pasal 226, Pasal 231, Pasal 396 s/d Pasal 402 KUHP, dimana penyelidik dan
penyidik POLRI memiliki peranan dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan atas tindak
pidana tersebut. Semua unsur pasal tersebut diatas dapat dipersangkakan apabila sudah ada
putusan pailit. Beberapa tindak pidana terkait dengan Kepailitan tersebut meliputi sebagai
berikut:
1. Debitor pailit dengan sengaja tidak hadir dengan alasan yang sah atau tidak mau
memberikan keterangan atau memberikan keterangan yang salah, sebagaimana diatur
dalam Pasal 226 KUHP. Apabila pasal ini terpenuhi, maka penyidik POLRI dapat
dimintakan bantuannya untuk menghadirkan debitor secara paksa di muka pengadilan
atau melakukan penyidikan terhadap debitor atas tindak pidana memberikan
keterangan yang salah dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan.
2. Dengan sengaja menarik, menyembunyikan, membinasakan, menghancurkan,
merusak, membuat tidak dapat dipakai barang yang telah disita menurut perundang-
undangan (Pasal 231 KUHP). POLRI berwenang melakukan penyelidikan dan
penyidikan atas tindak pidana tersebut dimana ancamannya adalah pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun. Apabila tindak pidana tersebut dilakukan karena kealpaan
penyimpan barang, maka ancamannya adalah pidana kurungan paling lama satu
bulan atau pidana denda.
3. Perbuatan-perbuatan yang merugikan kreditor atau orang yang berhak sebagaimana
diatur dalam Pasal 396 s/d Pasal 402 KUHP yaitu:
a. bila debitor dalam pailit memiliki pengeluaran melewati batas, meminjam uang
dengan syarat-syarat yang memberatkan dengan maksud untuk menangguhkan
kepailitan sedang si debitor mengetahui bahwa pinjaman tersebut tidak dapat
mencegah kepailitan;
b. untuk mengurangi hak kreditor secara curang, debitor dalam pailit membuat
pengeluaran fiktif atau tidak membukukan pendapatan atau menarik barang dari
boedel, dan dengan suatu cara menguntungkan salah satu kreditor;
c. pengurus atau komisaris perseroan terbatas, maskapai Indonesia atau koperasi
dalam pailit turut membantu untuk melakukan perbuatan yang bertentangan
dengan anggaran dasar yang menyebabkan kerugian besar; dengan maksud
menangguhkan kepailitan atau penyelesaian pembayaran, turut membantu atau
mengizinkan melakukan perjanjian utang dengan syarat-syarat yang
memberatkan;
d. pengurus atau komisaris perseroan terbatas, maskapai Indonesia atau koperasi
dalam pailit mengurangi secara curang hak-hak kreditor untuk membuat
pengeluaran fiktif atau tidak membukukan pendapatan; telah melakukan
pemindahtanganan barang secara cuma-cuma atau dibawah harga atau dengan
suatu cara menguntungkan salah seorang kreditor pada waktu kepailitan atau
penyelesaian;

71
Materi VII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
AKBP. CH. Patoppol, SSTMK, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

e. setiap orang melakukan penipuan untuk mengurangi hak-hak kreditor dalam hal
pelepasan boedel pailit, kepailitan atau penyelesaian; atau menarik barang dari
boedel pailit atau menerima pembayaran baik dari piutang yang belum dapat
ditagih maupun yang sudah dapat ditagih;
f. kreditor menyetujui tawaran persetujuan di muka pengadilan karena telah ada
persetujuan dengan kreditor atau pihak ketiga dengan ketuntungan istimewa bagi
kreditor;
g. setiap orang melakukan kecurangan mengurangi hak-hak kreditor dengan
membuat pengakuan atas pengeluaran fiktif atau menyembunyikan pendapatan
atau menarik barang dari boedel pailit atau telah memindahtangankan barang
secara cuma-cuma atau jelas dibawah harga;
Adapun isi dari pasal-pasal KUHP tentang tindak pidana terkait dengan Kepailitan
adalah sebagai berikut:
• Pasal 226 KUHP
Barangsiapa dinyatakan pailit atau dalam keadaan tidak mampu membayar utangnya atau
sebagai suami/istri orang yang pailit dalam perkawinan dengan persatuan harta kekayaaan
atau sebagai pengurus atau komisaris suatu perseroan, perkumpulan atau yayasan yang
dinyatakan pailit, dan dipanggil menurut ketentuan undang-undang tidak memberi
keterangan, dengan sengaja tidak hadir tanpa alasan yang sah, atau enggan memberi
keterangan yang diminta ataupun dengan sengaja memberi keterangan yang salah,
diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan.
• Pasal 231 KUHP
1) Barangsiapa dengan sengaja menarik suatu barang yang disita berdasarkan ketentuan
undang-undang atau dititipkan atas perintah hakim, atau menyembunyikan barang itu,
padahal ia tahu bahwa barang itu ditarik dari sitaan atau simpanan itu, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun.
2) Diancam dengan pidana yang sama barangsiapa dengan sengaja menghancurkan,
merusak atau membuat tak dapat dipakai barang yang disita berdasarkan ketentuan
undang-undang.
3) Penyimpan barang yang dengan sengaja melakukan atau membiarkan dilakukan salah
satu kejahatan itu, atau membantu pelaku dalam perbuatan itu, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun.
4) Bila salah satu perbuatan dilakukan karena kealpaan penyimpan barang, maka ia
diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling
banyak seribu delapan ratus rupiah.
• Pasal 396 s/d 402 KUHP
Pasal 396
Seorang pengusaha yang dinyatakan dalam keadaan pailit atau yang diizinkan melepaskan
budel oleh pengadilan, diancam karena merugikan pemiutang dengan pidana penjara
paling lama satu tahun empat bulan:
1. bila pengeluarannya melewati batas;
2. bila yang bersangkutan dengan maksud untuk menangguhkan kepailitannya telah
meminjam uang dengan syarat-syarat yang memberatkan, padahal dia tahu bahwa
pinjaman itu tidak dapat mencegah kepailitan;
3. bila dia tidak dapat memperlihatkan dalam keadaan tidak dapat diubah buku-buku dan
surat-surat untuk catatan menurut Pasal 6 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan
tulisan-tulisan yang harus disimpannya menurut pasal itu.

72
Materi VII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
AKBP. CH. Patoppol, SSTMK, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Pasal 397
Seorang pengusaha yang dinyatakan dalam keadaan pailit atau diizinkan melepaskan
budel oleh pengadilan, diancam karena merugikan pemiutang secara curang bila yang
bersangkutan untuk mengurangi hak pemiutang dengan cara curang:
1. membuat pengeluaran yang tidak ada, atau tidak membukukan pendapatan, atau
menarik barang sesuatu dari budel;
2. telah memindahtangankan barang sesuatu dengan cara cuma-cuma atau jelas di
bawah harganya;
3. dengan suatu cara menguntungkan salah seorang pemiutang pada waktu ia pailit atau
pada saat dia tahu bahwa kepailitan tak dapat dicegah lagi;
4. tidak memenuhi kewajibannya untuk membuat catatan menurut pasal 6 alinea pertama
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang atau untuk menyimpan dan memperlihatkan
buku-buku, surat-surat, dan tulisan-tulisan seperti tersebut dalam alinea ketiga pasal
tersebut.
Pasal 398
Seorang pengurus atau komisaris perseroan terbatas, maskapai andil Indonesia atau
perkumpulan koperasi yang dinyatakan pailit atau yang penyelesaiannya oleh pengadilan
telah diperintahkan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan:
1. bila yang bersangkutan turut membantu atau mengizinkan untuk melakukan perbuatan-
perbuatan yang bertentangan dengan anggaran dasar, yang menyebabkan seluruh
atau sebagaian besar dari kerugian yang diderita oleh perseroan, maskapai atau
perkumpulan;
2. bila yang bersangkutan dengan maksud untuk menangguhkan kepailitan atau
penyelesaian perseroan, maskapai atau perkumpulan, turut membantu atau
mengizinkan peminjaman uang dengan syarat-syarat yang memberatkan, padahal dia
tahu bahwa kepailitan atau penyelesaiannya tidak dapat dicegah lagi;
3. bila yang bersangkutan dapat dipersalahkan tidak memenuhi kewajiban seperti
tersebut dalam Pasal 6 alinea pertama Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan
Pasal 27 ayat (1) Ordonansi tentang Maskapai Andil Indonesia, atau bahwa buku-buku
dan surat-surat yang memuat catatan-catatan dan tulisan-tulisan yang disimpan
menurut pasal tadi, tidak dapat diperlihatkan dalam keadaan tak diubah.”
Pasal 399
Seorang pengurus atau komisaris perseroan terbatas, maskapai andil Indonesia atau
perkumpulan koperasi yang dinyatakan pailit atau yang penyelesaiannya oleh pengadilan
telah diperintahkan, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun, bila yang
bersangkutan mengurangi secara curang hak-hak pemiutang pada perseroan, maskapai
atau perkumpulan untuk:
1. membuat pengeluaran yang tidak ada, atau tidak membukukan pendapatan atau
menarik barang sesuatu dari budel;
2. telah memindahtangankan barang sesuatu dengan cuma-cuma atau jelas di bawah
harganya;
3. dengan suatu cara menguntungkan salah seorang pemiutang pada waktu kepailitan
atau penyelesaian, ataupun pada saat dia tahu bahwa kepailitan atau penyelesaian
tadi tak dapat ditagih lagi;
4. tidak memenuhi kewajibannya untuk membuat catatan menurut Pasal 6 alinea pertama
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan Pasal 27 ayat (1) Ordonansi tentang
Maskapai Andil Indonesia, dan tentang menyimpan dan memperlihatkan buku-buku,
surat-surat dan tulisan-tulisan menurut pasal-pasal itu.”

73
Materi VII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
AKBP. CH. Patoppol, SSTMK, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

Pasal 400
Diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan, barang siapa yang
untuk mengurangi dengan penipuan hak-hak pemiutang:
1. dalam hal pelepasan budel, kepailitan atau penyelesaian, atau pada waktu diketahui
akan terjadi salah satu diantaranya dan kemudian benar-benar terjadi pelepasan budel,
kepailitan atau penyelesaian, menarik barang sesuatu dari budel atau menerima
pembayaran, baik dari piutang yang belum dapat ditagih maupun pitang yang sudah
dapat ditagih, dalam hal terakhir dengan diketahuinya bahwa kepailitan atau
penyelesaian pengutang sudah dimohonkan, atau akibat rundingan dengan pengutang;
2. pada waktu verifikasi piutang-piutang dalam hal pelepasan budel, kepailitan atau
penyelesaian, mengaku adanya piutang yang tidak ada, atau memperbesar jumlah
piutang yang ada.
Pasal 401
1) Seorang pemiutang yang menyetujui tawaran persetujuan di muka pengadilan karena
telah ada persetujuan dengan pengutang maupun pihak ketiga dimana si pengutang
meminta keuntungan istimewa, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun
empat bulan, bila persetujuan itu diterima.
2) Dalam hal demikian itu pengutang juga diancam dengan pidana sama, atau bila
pengutang adalah perseroan, maskapai, perkumpulan atau yayasan, yang diancam
adalah pengurus atau komisaris yang mengadakan persetujuan.
Pasal 402
Barangsiapa dinyatakan dalam keadaan jelas tidak mampu atau bila bukan pengusaha,
dinyatakan pailit atau dibolehkan melepaskan budel, diancam dengan pidana penjara paling
lama lima tahun enam bulan, bila yang bersangkutan secara curang mengurangi hak-hak
pemiutang dengan mengaku adanya pengeluaran yang tidak ada, atau menyembunyikan
pendapatan, atau menarik barang sesuatu dari budel, ataupun telah memindahtangankan
barang sesuatu dengan cuma-cuma atau jelas dibawah harganya, atau pada waktu
ketidakmampuannya, pelepasan budelnya atau kepailitannya, atau pada saat dia tahu
bahwa salah satu dari keadaan tadi tak dapat dicegah, menguntungkan salah seorang
pemiutang dengan suatu cara.

E. Permasalahan dalam Penyidikan Tindak Pidana yang Berkaitan dengan


Kepailitan

Dari kondisi yang terjadi sehubungan dengan peranan POLRI dalam kaitannya dengan
Kepailitan, diakui terdapatnya beberapa permasalahan yang dihadapi penyidik POLRI dalam
melakukan penyidikan tindak pidana yang berkaitan dengan kepailitan, yaitu sebagai berikut:
• Kurangnya informasi bagi penyidik tentang terjadinya tindak pidana yang berkaitan
dengan kepailitan. Hal ini dikarenakan tidak ada laporan dari pejabat pengadilan tentang
terjadinya tindak pidana yang terjadi terkait dengan kepailitan. Penyelidik maupun
penyidik POLRI dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan berdasarkan adanya
laporan tentang terjadinya suatu tindak pidana.
• Apabila tindak pidana terjadi masih dalam lingkup wewenang pengadilan, penyidik
mengalami kesulitan dalam melakukan pengumpulan alat bukti dan keterangan
(pemeriksaan saksi dan penyitaan barang bukti) dikarenakan keterbatasan peraturan
yang berlaku. Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) RI Nomor 4 Tahun
2002 tentang Pejabat Pengadilan yang Melaksanakan Tugas Yustisial, diatur bahwa
penyidik tidak dapat memeriksa pejabat pengadilan yang melakukan tugas justisia
sabagai saksi atau tersangka, kecuali ditentukan oleh Undang-undang.

F. Kesimpulan dan Saran Pemecahan

Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa POLRI memiliki peranan dalam
kepailitan terutama apabila terdapat persangkaan terjadinya tindak pidana yang berkaitan

74
Materi VII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
AKBP. CH. Patoppol, SSTMK, S.H. USAID In ACCE Project & AKPI

dengan kepailitan sebagaimana diatur dalam KUHP dan UUK & PKPU termasuk melakukan
pengamaman apabila terjadi kemungkinan/potensi munculnya gangguan Kantibmas pada saat
pelaksanaan sidang kepailitan sampai dengan pasca putusan pailit; pengamanan terhadap
harta debitor pailit sampai dengan pelaksanaan lelang, atas permintaan kurator dan
penyelidikan dan penyidikan terhadap tindak pidana yang terjadi akibat dampak putusan pailit
(pihak yang ditimbulkan unjuk rasa anarkis, pembakaran, pengrusakan, dan sebagainya).
Dalam praktek, terdapat beberapa permasalahan dalam melakukan penyidikan
terhadap tindak pidana yang terjadi terkait dengan kepailitan yaitu kurangnya laporan tentang
dugaan tindak pidana yang terkait dengan kepailitan yang dilaporkan kepada Penyidik POLRI
dan adanya pembatasan untuk dapat memeriksa pejabat pengadilan yang melakukan tugas
justisia sabagai saksi atau tersangka. Melihat permasalahan yang terjadi tersebut, berikut
saran pemecahan yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:
• Pejabat pengadilan yang menangani kepailitan melaporkan indikasi terjadinya tindak
pidana kepailitan kepada POLRI
• Perlunya koordinasi untuk memudahkan penyidik dalam proses pengumpulan alat bukti
dan keterangan dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap tindak pidana
yang berkaitan dengan kepailitan.

75
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

Materi VIII
Pilihan dalam Hukum Kepailitan: Sudut Pandang Internasional dan
Penerapannya

Oleh Daniel J. Fitzpatrick, Esq.

A. Pendahuluan

Salah satu hal yang membuat kebijakan mengenai kepailitan sangat sulit, dan untuk
sebagian orang, sangat menarik, adalah putusan-putusan yang benar-benar penting. Ketika
aset debitor tidak cukup untuk membayar seluruh kreditornya, suatu putusan untuk membayar
Kreditor A mungkin membawa dampak yang besar bagi Kreditor C, D dan E. Ketika suatu
perusahaan dalam pailit mengajukan rencana perdamaian, putusan oleh kreditor-kreditor
untuk mendukung atau menolak rencana tersebut dapat membuat suatu perbedaan yang
berarti antara penutupan perusahaan atau perbaikan perusahaan.
Pentingnya suatu pilihan, bagaimanapun juga, muncul jauh sebelumnya. Seperti halnya
hakim-hakim dan para kreditor dalam suatu perkara kepailitan, pembuat keputusan mendapat
tantangan ketika memutuskan tipe hukum kepailitan mana yang harus digunakan. Hukum
yang terlalu kaku dapat membatasi hakim dalam membuat keputusan yang tepat dalam suatu
perkara yang sulit atau unik. Hukum yang terlalu luas dan terbuka dapat memungkinkan hakim
menyalahgunakan kekuasaan untuk melakukan diskresi yang diberikan kepadanya.
Dapat dikatakan bahwa dekade pertama hukum kepailitan Indonesia lebih ditandai
dengan terlalu sedikitnya pilihan dibandingkan dengan banyaknya pilihan. Sepuluh tahun yang
lalu, Indonesia menghadapi Krisis Asia dengan hukum kepailitan Belanda tahun 1906 yang
telah diadopsi. Perubahan yang memodifikasi undang-undang insolvensi Belanda dikeluarkan
melalui peraturan darurat dalam masa krisis ekonomi. Perubahan kedua terjadi pada tahun
2004, walaupun dengan bentuk hukum yang baru, terlihat bahwa ternyata hanya merupakan
sedikit penyesuaian terhadap peraturan yang dikeluarkan pada tahun 1998. Sebagai hasilnya,
negara terbesar di Asia ini masih terpaku pada peraturan kepailitan yang asal-mulanya dibuat
di Belanda untuk orang Belanda lebih dari seratus tahun yang lalu.
Tapi mungkin ini merupakan hal yang baik. Kepailitan, pada dasarnya, adalah hukum
acara. Masalah dapat terjadi ketika hukum kepailitan bergerak terlalu jauh dari prosedur atau
acara yang biasanya digunakan oleh pengadilan. Karena hukum acara yang digunakan oleh
Indonesia berasal dari hukum Belanda, mungkin akan lebih masuk akal jika perubahan
undang-undang kepailitan secara keseluruhan hanya dilakukan setelah ada perubahan-
perubahan atas hukum acara. Dengan kata lain, seperti dalam perkara kepailitan itu sendiri,
tidak ada solusi yang mudah ketika merumuskan kebijakan dalam kepailitan.
Dari penjelasan tersebut diatas, makalah ini akan memfokuskan lebih kepada
pengidentifikasian permasalahan dan penyajian pilihan-pilihan, daripada memberikan
rekomendasi-rekomendasi yang spesifik. Bagian Pertama akan fokus kepada pilihan-pilihan
sehubungan dengan implementasi dari undang-undang yang telah ada. Bagian Kedua akan
fokus kepada pilihan-pilihan sehubungan dengan perubahan atau penggantian undang-
undang kepailitan. Bagian Ketiga akan menjelaskan pilihan-pilihan yang berkaitan kepada
peraturan-peraturan diluar kerangka kepailitan yang mempengaruhi bagaimana kepailitan
diimplementasikan.

B. Bagian Pertama: Pilihan-pilihan Sehubungan Dengan Implementasi

Pijakan asumsi dalam pilihan-pilihan pada Bagian Pertama ini adalah bahwa undang-
undang tetap sama, dan pilihan kebijakan apapun harus sesuai dengan ketentuan yang ada
dibawah UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (untuk selanjutnya disebut “UU No. 37 atau UU Kepailitan”). Untungnya, adanya
perubahan teknologi, 10 tahun pengalaman, dan ketentuan-ketentuan dalam UU No. 37 itu

76
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

sendiri menyediakan banyak kesempatan untuk memperbaiki sistem kepailitan tanpa harus
mendapatkan persetujuan DPR.

1. Haruskah AKPI dan IKAPI Mencalonkan Kurator atau Pengurus Untuk Setiap
Perkara?

Sejak kurator privat diperkenalkan sepuluh tahun yang lalu, praktek umum dari
pengadilan adalah menunjuk kurator yang namanya tercantum dalam surat permohonan
kepailitan oleh pihak yang sukses mengawali proses kepailitan. Dalam kasus-kasus
Penundaan Kewajiban Penyelesaian Utang (selanjutnya disebut PKPU), Pengurus juga
ditunjuk dengan cara yang mirip.
Praktek ini tidak diatur secara kaku oleh UU No. 37. Dalam proses kepailitan, Pasal 15
(2) menyebutkan bahwa Balai Harta Peninggalan (selanjutnya disebut BHP) akan ditunjuk jika
pihak pemohon tidak mengajukan usul pengangkatan kurator dalam surat permohonannya.
Hal ini menyiratkan bahwa nama orang/kurator yang tersebut dalam surat permohonan harus
ditunjuk, tapi mengharuskan seperti itu. Dalam proses PKPU, tidak terdapat yang menyiratkan
demikian sama sekali. Pengadilan, dibawah Pasal 225, bebas untuk menunjuk pengurus
berlisensi manapun tanpa mengindahkan pilihan dari pemohon.
Praktek yang mengikuti keinginan pemohon dalam penunjukan kurator ataupun
pengurus menjadikan lebih sulit untuk memastikan apakah orang-orang tersebut bebas/tidak
berpihak dan tidak memiliki konflik kepentingan – suatu syarat dalam proses kepailitan dan
PKPU. 1 Selain itu, ketika orang-orang ini telah ditunjuk, kreditor-kreditor akan sulit untuk
mengganti mereka, meskipun terdapat ketentuan yang menyebutkan bahwa mereka dapat
mengganti kurator/pengurus. 2
Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak negara melakukan pendekatan yang
berbeda dari yang digunakan oleh Indonesia. Pengadilan dapat membuat keputusan yang
bebas dalam hal siapa yang harus ditunjuk, atau sebuah lembaga pemerintah yang terpisah,
yang bertanggung jawab atas kurator dan pengurus, yang akan melakukan penunjukan
tersebut.
Indonesia tidak memiliki lembaga yang mengatur kurator dan pengurus. Untuk hal
tersebut, asosiasi atau organisasi profesi yang mengurusnya. Saat ini terdapat 2 (dua)
organisasi profesi: Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI) dan Ikatan Kurator dan
Pengurus Indonesia (IKAPI).
Dengan tidak memperhatikan apakah pengaturan dua organisasi ini optimal atau tidak,
mungkin hal tersebut dapat dijadikan sarana untuk membentuk suatu sistem pencalonan yang
memberikan kepastian yang lebih besar bahwa kurator atau pengurus yang ditunjuk
merupakan kurator/pengurus yang tepat. Tidak akan sulit bagi pengadilan niaga, ketika
menerima permohonan kepailitan atau PKPU, untuk meminta dari setiap organisasi untuk
mengirimkan daftar nama maksimal tiga orang kandidat kurator/pengurus dan menjamin
bahwa kandidat-kandidat tersebut memenuhi standar untuk ditunjuk berdasarkan UU No. 37,
bahwa masing-masing mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang sesuai dengan
perkara yang bersangkutan, dan bersedia untuk bekerja jika nantinya ditunjuk.
Prosedur ini sebenarnya akan mengambil keuntungan dari pengaturan dua organisasi
tersebut di Indonesia dimana hal ini akan membawa kompetisi laten diantara keduanya ke
arah yang positif. Dua organisasi tersebut akan berkompetisi untuk mencari kandidat yang
tepat dan untuk mengungkapkan informasi yang berguna mengenai kandidat tersebut. Hal ini
juga akan membantu masing-masing organisasi untuk mengelola dan mengatur anggota-

1
Pasal 15(3), 234.
2
Pengadilan setiap waktu dapat mengabulkan usul penggantian kurator, atas permohonan debitor atau hakim pengawas
(Pasal 71 (1)). Kreditor konkuren dapat memberhentikan kurator berdasarkan putusan Rapat Kreditor (Pasal 71 (2)).
Diskusi dengan hakim-hakim pengawas menunjukkan bahwa hal ini jarang terjadi.

77
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

anggota mereka. Bagaimana cara melakukan pencalonan merupakan kebijakan masing-


masing organisasi.
Pada saat yang bersamaan, pendekatan ini juga mempunyai risiko. Sistem ini dapat
menyebabkan terjadinya lebih banyak keberatan atas penunjukan kurator/pengurus, meskipun
mengenai hal ini tidak seharusnya dapat diajukan keberatan. Lebih lanjut, tidak jelas peraturan
seperti apa yang harus dibuat untuk pengaturan seperti ini. Walaupun Mahkamah Agung
dapat mengeluarkan peraturan untuk hal tersebut, tapi jika tindakan serupa dilakukan oleh
pengadilan niaga tingkat pertama akan ada kemungkinan diajukan keberatan atas peraturan
tersebut.

2. Dapatkah Penjualan di Bawah Tangan Berdasarkan Undang-Undang Kepailitan


Dibuat Menjadi Lebih Kompetitif dan Transparan?

Pasal 187 UU No.37 menyebutkan bahwa hakim pengawas dapat mengadakan suatu
rapat kreditor untuk mendiskusikan mengenai cara pemberesan harta pailit. Keputusan yang
diambil berdasarkan Pasal 187 tersebut harus sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan
dalam Pasal 185. Ayat 1 pasal tersebut mewajibkan bahwa semua harta debitor harus dijual
di muka umum sesuai dengan tata cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-
undangan. Ini berarti harta tersebut harus dilelang di Balai Lelang Negara dan dilaksanakan
berdasarkan atas peraturan yang berlaku disana.
Namun, Pasal 185 ayat (2) menyebutkan bahwa “dalam hal penjualan di muka umum
tidak tercapai maka penjualan di bawah tangan dapat dilakukan dengan izin Hakim
Pengawas.”
Hakim Pengawas jarang membuat Rapat Kreditor untuk mendiskusikan pendekatan-
pendekatan yang akan dilakukan untuk menjual harta debitor. Tidak adanya panduan
mengenai hal ini, membuat kurator mengikuti Pasal 185 (1) dan melakukan penjualan melalui
pusat pelelangan pemerintah/Balai Lelang Negara.
Metode tersebut tidak terlalu efektif. Banyak lelang yang gagal karena para penawar
menolak untuk mengikuti harga dasar yang telah ditetapkan. Banyak pihak yang menyatakan
bahwa dalam banyak perkara, para penawar dalam proses lelang bersengkongkol untuk
menawar tidak jauh dari harga dasar atau tidak menawar sama sekali, membuat kurator harus
membatalkan lelang dan mencoba lagi pada harga yang jauh lebih murah.
Proses tersebut dapat terjadi dua hingga tiga kali. Sebelum lelang pertama, dilakukan
penilaian terhadap harta untuk menentukan nilai pasar dan nilai likuidasinya. Pada lelang
kedua, harga dasar yang ditetapkan adalah setengah dari nilai pasar dan nilai likuidasi. Pada
lelang ketiga, harga dasar adalah nilai likuidasi.
Ketika harta tidak menarik pembeli melalui lelang-lelang ini, pembeli biasanya datang
dan bersedia membeli harta pada harga yang sama dengan harga dasar terakhir. Seringkali,
pembeli ini adalah salah satu partisipan lelang atau koleganya. Dengan adanya pembeli dan
perasaan yang lega, kurator akan datang kepada Hakim Pengawas untuk meminta
persetujuan atas lelang di bawah tangan pada harga yang sesuai dengan harga dasar pada
lelang terakhir yang gagal. Pada saat ini, kurator telah mendapatkan serangkaian fakta yang
seakan-akan menjustifikasi penjualan pada harga tersebut.
Pendekatan ini pada dasarnya membutuhkan tiga kali lelang dan sekitar satu tahun
untuk menghasilkan harga yang rendah tapi dapat dipertahankan, dimana harta dipindahkan
melalui “lelang di bawah tangan”.
Tidak terdapat satupun ketentuan dalam undang-undang yang sekiranya dapat
menahan kurator untuk mencoba metode alternatif dalam mencari pembeli ketika lelang
pertama gagal. Tapi ini dapat berarti menggunakan pendekatan baru untuk mendapatkan
persetujuan hakim untuk menyetujui penjualan di bawah tangan.
Daripada menunggu gagalnya tiga lelang, mencoba mencari pembeli dan kemudian
datang ke Hakim Pengawas untuk meminta persetujuan, lebih baik kurator

78
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

mempertimbangkan untuk mencoba lelang sebanyak satu kali dan kemudian datang ke Hakim
Pengawas dengan membawa solusi alternatif. Idenya adalah untuk mendapatkan persetujuan
awal dari Hakim Pengawas mengenai proses penjualan daripada mengenai hasil penjualan.
Selama harga dasar untuk usaha penjualan di bawah tangan adalah sama dengan atau lebih
tinggi daripada harga dasar yang telah ditentukan pada lelang yang telah gagal maka
penjualan di bawah tangan seperti ini akan dapat dibenarkan dan dipertahankan.
Selama disetujui oleh kreditor dalam rapat kreditor sesuai dengan ketentuan Pasal 187,
seluruh prosedur penjualan di bawah tangan sesudah lelang dapat diusulkan. Hal yang paling
mudah dilakukan adalah kurator membuat daftar harta tidak bergerak melalui agen real estate.
Pendekatan lain yang lebih aktif adalah dengan mengorganisasi lelang di bawah tangan
melalui perusahaan lelang swasta. Alternatifnya, organisasi kurator dapat membuat situs
internet dimana ditampilkan semua harta yang gagal dilelang dan kemudian dijual melalui situs
internet pada harga yang sama dengan atau diatas harga dasar yang telah ditetapkan pada
lelang yang gagal tersebut.
Pendekatan ini tidak membutuhkan perubahan pada undang-undang atau peraturan
lokal. Ini hanya membutuhkan perubahan pada praktek.
Tentunya, pada sesuatu yang baru, selalu terdapat risiko dimana hakim mungkin
menolak usul tersebut, pembeli juga menolak, atau bahkan Mahkamah Agung berpendapat
bahwa hal tersebut bertentangan dengan semangat dari Undang-undang. Ada juga
kemungkinan dimana pihak ketiga atau Departemen Keuangan akan menolak penjualan
seperti itu dengan alasan penjualan dilakukan tanpa adanya izin.

3. Haruskah Kode Etik Hakim dan Kurator/Pengurus Melarang Adanya Komunikasi


Selain di Ruang Sidang dan Melalui Jalur Resmi?

Larangan tersebut berarti bahwa kurator dan pengurus tidak lagi dapat bertemu dengan
hakim untuk memutuskan bagaimana menjalankan perkara. Permohonan apapun yang
membutuhkan persetujuan hakim harus diajukan dalam bentuk tertulis yang formal dengan
juga memberitahukan pihak-pihak lain yang terkait. Diskusi antara hakim dengan
kurator/pengurus harus dilakukan di sidang terbuka, dengan dihadiri oleh para kreditor.
Peraturan seperti itu akan, secara substansial, mengubah cara kurator dan pengurus
dalam berhubungan dengan pengadilan niaga. Kebanyakan kurator dan pengurus bertemu
secara rutin dengan hakim pengawas perkara mereka, untuk mendiskusikan pilihan-pilihan
dan untuk mendapatkan konfirmasi atas tindakan yang dilakukan, bahkan meskipun
konfirmasi tersebut sebenarnya tidak diwajibkan. Hal-hal tersebut tidak akan terjadi lagi jika
peraturan yang diusulkan diterima.
Usulan tersebut berasal dari kekhawatiran yang sama yang melarang komunikasi diluar
pengadilan antara hakim dengan para pihak. Lihat Pedoman Perilaku Hakim, Pedoman
No.1.2. 3 Penerapan larangan yang sama untuk para kurator dan pengurus layak untuk
didiskusikan.
Sebagai titik awal, sangat penting untuk dimengerti adanya konflik yang potensial yang
dimiliki oleh kurator atau pengurus dalam suatu perkara serupa. Di satu pihak, tugas
kurator/pengurus adalah untuk melayani kepentingan kreditor secara keseluruhan. Tanggung
jawab kepada kreditor ini dapat saja bentrok dengan kebutuhan untuk menjaga agar hakim
tetap senang. Kurator dan pengurus ditunjuk oleh pengadilan dan pengadilanlah yang

3
Pedoman Perilaku Hakim No. 1.2.1 menyebutkan bahwa hakim harus memberikan kesempatan yang sama kepada setiap
orang khususnya pencari keadilan atau kuasanya yang mempunyai kepentingan dalam suatu proses hukum di Pengadilan.
Selanjutnya, dalam rangka menjamin terciptanya keadilan tersebut, Pedoman Nomor 1.2.2 menetapkan bahwa hakim tidak
boleh berkomunikasi:
Dengan pihak yang berperkara di luar persidangan, kecuali dilakukan di dalam lingkungan gedung pengadilan demi
kepentingan kelancaran persidangan yang dilakukan secara terbuka, diketahui pihak-pihak yang berperkara, tidak
melanggar prinsip persamaan perlakukan dan ketidak berpihakan.

79
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

menetapkan gaji mereka. Ini mungkin saja membuat kurator/pengurus menjadi


mengkompromikan tugasnya kepada kreditor demi membuat hakim senang.
Di negara-negara lain, ketika hakim dan kurator/pengurus sudah terlalu akrab dan
santai satu sama lain maka yang akan terbentuk adalah “mafia kepailitan” (bankruptcy mafia) 4 .
Hakim dan kurator bersekongkol, kadang-kadang juga dengan debitor, untuk mengambil harta
dari debitor dengan biaya yang ditanggung oleh kreditor. Hal tersebut akan lebih sulit lagi
ditolak dan lebih mudah untuk dilakukan ketika hakim dan kurator/pengurus dapat berbicara
dengan hakim di ruang tertutup secara rutin.
Peraturan untuk tidak boleh melakukan kontak akan membuat hal tersebut sulit
dilakukan. Kurator atau pengurus tidak boleh berada di pengadilan selain hari-hari dimana
ada sidang. Hubungan via telepon memang mungkin terjadi, tapi teknologi saat ini
memungkinkan pembicaraan via telepon dapat dilacak dan disadap. Lebih lanjut lagi,
hubungan via telepon merupakan merupakan cara pengganti yang buruk dibandingkan
dengan hubungan langsung tatap muka dalam hal salah satu pihak berusaha untuk
meyakinkan pihak lain untuk “berkompromi”.
Jika peraturan ini diterapkan, mungkin pertama-tama akan terdapat kebingungan dan
ketidakteraturan tapi kemudian para pihak pasti akan cepat beradaptasi. Sebenarnya, ini
merupakan hal yang diinginkan oleh UU No. 37 dimana kurator dan pengurus diharapkan
bertindak secara independen. Hanya terdapat beberapa kecil contoh dalam UU Kepailitan
dimana kurator atau pengurus diwajibkan untuk meminta persetujuan hakim untuk
melanjutkan jalannya perkara. Peraturan ini akan memaksa kurator dan pengurus untuk
bertanggung jawab atas setiap tindakannya. Jika kurator atau pengurus memaksa untuk
mendapatkan persetujuan atas tindakan sementara hal tersebut tidak diwajibkan, maka hal itu
tetap dapat dilakukan tapi hanya melalui jalur resmi yaitu surat dan sidang/rapat yang terbuka.
Pada saat bersamaan, terdapat alasan untuk berpikir bahwa peraturan seperti itu dapat
membatasi kebebasan kemajuan jalannya perkara kepailitan dan PKPU dengan hanya
memberi sedikit manfaat sebagai kompensasinya. Jika kurator dan hakim ingin berkolusi
secara ilegal, mereka tentunya akan menemukan jalan meskipun terdapat larangan formal
apapun. Hal ini hanya akan berpengaruh terhadap hakim-hakim dan kurator/pengurus yang
jujur dimana mereka terikat oleh hambatan secara hukum ketika hal paling penting yang harus
dilakukan adalah menyelamatkan debitor dan hartanya.

4. Haruskah Pengadilan Niaga Membuat Contoh-contoh Formulir Untuk Setiap


Permohonan yang Akan Diajukan Oleh Debitor, Kurator, Pengurus atau Kreditor
di Bawah UU No. 37?

Terdapat lusinan contoh dalam UU No. 37 dimana seorang hakim harus membuat
keputusan untuk kepentingan debitor dan para kreditor. Kebanyakan dari keputusan-
keputusan tersebut disebabkan oleh adanya permohonan yang diajukan oleh salah satu pihak
yang terlibat dalam perkara kepailitan. Permohonan yang rasional dan terfokus untuk satu
keputusan atau tindakan sangat mungkin membantu agar hakim mengambil keputusan yang
cepat dan efektif.
Proses ini dapat dipermudah dengan membuat serangkaian contoh permohonan untuk
para pihak dalam perkara kepailitan. Contoh formulir biasa akan menyajikan elemen-elemen
dimana pemohon harus menjelaskan atau membuktikan agar hakim mau mengeluarkan
penetapan atau putusan yang diminta. Formulir-formulir semacam ini akan berguna jika
komunikasi informal sepihak antara hakim dengan kurator/pengurus dilarang.

4
Ini adalah istilah yang digunakan oleh media di Serbia untuk mendeskripsikan salah satu skandal korupsi terbesar
beberapa tahun terakhir.

80
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

Namun, terdapat beberapa hambatan untuk membuat hal ini menjadi kenyataan.
Membuat satu paket model formulir permohonan akan membutuhkan tingkat kerjasama dan
komunikasi yang terjaga dengan baik antara pengadilan-pengadilan niaga, dua organisasi
kurator/pengurus, dan para kreditor. Lebih lanjut, tidak ada kepastian apakah pengadilan
niaga mempunyai kewenangan untuk menjadikan formulir-formulir tersebut sebagai bentuk
yang resmi. Selama ini, Mahkamah Agung dipandang sebagai instansi tunggal yang dapat
mendistribusikan buku-buku pedoman dan model-model formulir.

5. Haruskah Pengadilan Niaga dan Organisasi Kurator Membuat Formulir Rujukan


Kepada Jaksa Jika Terbukti Bahwa Terjadi Pelanggaran Atas Ketentuan-
ketentuan Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Yang Berhubungan
Dengan Perkara Kepailitan?

Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Undang-Undang No.1 Tahun 1946


(selanjutnya disebut KUHP), mengenali beberapa tindak pidana yang berhubungan dengan
perkara kepailitan. Contoh tindakan yang dikategorikan sebagai tindak pidana, dari pihak
debitor, adalah lalai menyerahkan laporan perusahaan, tidak dapat
mempertanggungjawabkan harta, dan menciptakan atau menggembungkan nilai tagihan
kreditor tertentu. Kreditor juga dapat dipidana, misalnya dalam kasus dimana mereka
memalsukan tagihan atau menggembungkan jumlah tagihan yang mereka miliki. 5
Pada umumnya, setiap orang yang membuat kesaksian palsu dibawah sumpah, baik
lisan maupun tulisan dapat dipidana. Dengan tidak memperhatikan apakah orang tersebut
bersaksi secara langsung atau dengan surat kuasa khusus. 6
Yang selama ini diketahui tindak pidana seperti ini sering sekali dilakukan dalam kurun
waktu sepuluh tahun terakhir. Namun, jikapun ada laporan mengenai tindak pidana ini, hanya
sedikit yang kemudian dituntut.
Kewenangan untuk memeriksa perkara pidana dibawah KUHP bukan merupakan
yurisdiksi pengadilan niaga. Pengajuan perkara pidana merupakan tanggung jawab pihak
Kejaksaan.
Baik di Indonesia maupun di negara lain, banyak prosedur telah dikembangkan untuk
mempermudah pelaporan tindak pidana kepada pihak yang berwenang. Di Indonesia, contoh
yang paling mudah dilihat adalah pelaporan kegiatan yang mencurigakan dibawah Undang-
undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Di negara-negara lain, instansi pemerintah
diwajibkan mengajukan formulir rujukan adanya tindak pidana kepada pihak yang berwenang
ketika mereka menemukan adanya bukti bahwa suatu tindak pidana telah terjadi.
Kelihatannya akan ada manfaatnya untuk membuat suatu prosedur laporan yang
serupa jika tampak bukti adanya tindak pidana sehubungan dengan perkara kepailitan.
Program ini dapat dilakukan secara sukarela atau wajib. Pelaporan tindak pidana tersebut
dapat dipermudah dan didorong dengan membuat formulir pelaporan baku dan
mengumumkan mengenai pasal-pasal KUHP yang terkait di papan pengumuman di gedung
pengadilan. Dari pihak Kejaksaan, dapat dilakukan klarifikasi atas beberapa perbedaan kecil
dalam UU No. 37 dan bagaimana cara menginterpretasikan formulir saat diterima oleh
Kejaksaan.
Agar adil dan seimbang, harus diingat bahwa pihak Kejaksaan sudah mempunyai
banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan ancaman hukuman yang tidak terlalu berat
tersedia pada pengadilan niaga dan kurator/pengurus. Para pembuat kebijakan harus hati-hati
dalam menimbang biaya dan usaha dalam pembuatan sistem pelaporan ini hingga ke potensi
keuntungan yang mungkin didapatkan dari sistem ini.

5
Lihat KUHP, Pasal 396-402.
6
Ibid., Pasal 242.

81
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

C. Bagian Kedua: Pilihan-Pilihan Sehubungan Dengan Perubahan atau Penggantian


UU No. 37

Bagian Kedua dari makalah ini memperkirakan bahwa terdapat kelompok orang-orang
yang tertarik untuk melakukan perubahan atas UU No. 37 atau membuat undang-undang yang
baru sama sekali. Selama satu tahun terakhir, proyek In-ACCE telah menelusuri dan mencatat
bidang-bidang yang potensial dapat dipertimbangkan untuk dilakukan pembaharuan. Berikut
ini adalah contoh beberapa bidang dimana diskusi yang lebih luas akan sangat mungkin
menuju kesepakatan yang lebih besar mengenai bagaimana hal ini akan ditindaklanjuti.

1. Haruskah Masing-masing Pengadilan Niaga Mempunyai Kewenangan Untuk


Mengeluarkan Peraturan Lokal Mereka Sendiri Sehubungan Dengan Praktek-
praktek Kepailitan?

Kecil kemungkinan bahwa adanya perubahan atau penggantian UU No. 37 akan dapat
mengatur secara keseluruhan seluruh pertanyaan yang ada dalam suatu perkara kepailitan.
Dalam rangka meningkatkan praktek-praktek yang lebih dapat diprediksi dan seragam,
merupakan hal yang masuk akal untuk memiliki peraturan yang mengikat untuk mengisi
kekosongan yang ada.
Peraturan lokal yang mengatur mengenai praktek bagi masing-masing pengadilan telah
dikenal di banyak negara. 7 Peraturan tersebut dapat menciptakan kepastian, dimana pada
saat yang bersamaan juga memberikan pemegang kebijakan lokal kebebasan untuk
memodifikasi praktek-praktek yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Tentunya
peraturan tersebut dibatasi, yaitu tidak boleh bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam
Undang-undang dan tidak boleh melanggar kemandirian hakim dalam memutus perkara.
Kerangka hukum yang ada saat ini, yang berhubungan dengan kekuasaan kehakiman,
nampaknya tidak memberikan kekuasaan seperti itu dengan jelas. Lebih lanjut, tampaknya
tidak banyak preseden mengenai tipe peraturan seperti ini. Maka, pemberian kekuasaan
secara eksplisit dalam perubahan atau penggantian apapun atas UU No. 37 mungkin
diperlukan untuk pengadilan dapat mengambil langkah tersebut.
Apakah peraturan lokal seperti ini berguna bagi Indonesia? Seperti yang telah
didiskusikan di atas, peraturan lokal dapat meningkatkan kepastian dan memperbolehkan
faktor lokal. Namun, terdapat risiko yaitu dalam hal pembuat peraturan lokal pada suatu
pengadilan setempat tidak cukup terlatih dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk
membuat suatu peraturan yang efektif. Atau lebih buruk lagi, orang-orang setempat tersebut
mungkin saja membuat peraturan yang bertentangan dengan undang-undang atau
membuatnya untuk kepentingan kelompok tertentu dengan merugikan kelompok lain.
Tentunya telah diketahui bahwa Mahkamah Agung mempunyai kepentingan dalam
menjaga agar hukum acara di seluruh Indonesia adalah sama. Bagaimanapun juga,
kekuasaan untuk mengeluarkan peraturan lokal dapat dibatasi hanya untuk proses kepailitan
saja, dengan kata lain hanya untuk sedikit jumlah perkara dalam kelompok kecil pengadilan
khusus. Jika ide ini dapat diterima, maka Mahkamah Agung tentunya memiliki kekuasaan
untuk melakukan standardisasi atas peraturan-peraturan lokal jika diperlukan.

7
Salah satu contoh peraturan lokal (local rule) dalam konteks ini dapat berupa daftar jenis-jenis dokumen penting guna
mendukung pelaksanaan persetujuan penjualan harta pailit oleh kurator berdasarkan Pasal 185 UU No. 37. Daftar tersebut
dapat dibuat dalam bentuk surat edaran yang diterbitkan oleh ketua pengadilan niaga tertentu.

82
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

2. Haruskah Indonesia Memperkenalkan Ketentuan Mengenai “Awal Baru/Fresh


Start” (Contohnya: Memperbolehkan Penghapusan Utang) Untuk Debitor
Perorangan?

Undang-undang Kepailitan Belanda yang asli mengatur agar pengusaha individu dapat
menghadapi penahanan atau “gijzeling” misalnya penahanan karena mempunyai utang. UU
No. 37 juga mengatur hal yang sama. Pernyataan pailit berarti pembebasan dari tahanan atau
ancaman akan hal itu. 8 Namun sekarang, hal ini bukan lagi merupakan ancaman. Meskipun
dalam gijzeling masih terdapat kemungkinan teknis bagi orang yang tidak membayar, tapi
dalam praktek hal ini hampir tidak pernah terjadi.
Tanpa adanya ancaman penjara bagi debitor, seseorang hanya mempunyai sedikit, jika
ada, alasan untuk secara sukarela mendapat “pengampunan” kepailitan. Keuntungan
tambahannya sangat sedikit. Satu-satunya harapan untuk mendapat pembebasan dari utang
adalah dengan bernegosiasi mengenai “rencana perdamaian” dengan mayoritas kreditor
konkuren, dimana jika dikabulkan oleh pengadilan, akan mengikat kreditor minoritas yang
mempunyai pendapat berbeda. Tapi rencana perdamaian tersebut tidak ada kepastiannya,
dan itu akan tidak berpengaruh terhadap utang yang dijamin dan kreditor preferen, bahkan jika
rencana tersebut dikabulkan.
Ketentuan mengenai “rehabilitasi” dalam UU No. 37 hanya melakukan sedikit perbaikan
atas akibat yang berat ini. Pasal 215-221 memperbolehkan debitor setelah berakhirnya
kepailitan untuk mengajukan permohonan rehabilitasi. Hal ini tentunya harus disertai dengan
bukti bahwa semua kreditor yang diakui sudah memperoleh pembayaran lunas. Jika bukti
tersebut dapat ditunjukkan, maka putusan pengadilan yang mengabulkan permohonan dapat
dicatat dalam Daftar Umum di Kepaniteraan. Putusan ini nampaknya tidak mempunyai akibat
hukum secara langsung. Satu-satunya keuntungan nampaknya hanya dari segi reputasi.
Diskusi dengan hakim-hakim menunjukkan bahwa tidak ada debitor yang repot-repot
mengejar rehabilitasi dibawah pengaturan seperti ini. Maka, tidaklah heran jika kita mendengar
dalam perkara kepailitan dimana debitor perorangan gagal untuk bekerja sama dan kadang-
kadang secara sadar menghalangi jalannya proses kepailitan.
Pembuat kebijakan mungkin mau mempertimbangkan untuk memodifikasi undang-
undang dalam hal memperbolehkan debitor perorangan mempunyai kemungkinan untuk
mendapatkan pembebasan secara penuh dari utang-utang mereka jika mereka bekerja sama
dalam kepailitan. Selain untuk mendapatkan kerja sama yang lebih baik dalam proses
kepailitan, pembebasan akan membuat debitor dapat kembali berbisnis dan mempunyai
kesempatan bekerja tanpa adanya perasaan takut akan dikejar-kejar oleh kreditor karena
utang dimasa lalu.
Tidak diragukan lagi bahwa ide ini akan menjadi perubahan yang dramatis dari praktek
masa lalu. Kreditor tentunya akan khawatir mereka akan kehilangan uang jika debitor dapat
bebas melenggang setelah adanya putusan kepailitan. Pada saat bersamaan, bagaimanapun
juga, kreditor harus bertanya pada diri mereka sendiri mengenai berapa banyak uang yang
telah berhasil mereka terima dari debitor perorangan yang melewati proses kepailitan, tanpa
adanya pembebasan utang.
Selain itu juga harus dicatat bahwa Amerika Serikat, salah satu yurisdiksi paling bebas
dalam mendapatkan awal baru/pembebasan utang, baru-baru ini mempersulit proses tersebut.
Di sisi lain, Belanda, yang secara tradisional tidak menyukai pembebasan utang, telah
merubah undang-undangnya untuk memperbolehkan hal ini terjadi dengan syarat setelah

8
Pasal 31(3) UU No. 37 menyatakan bahwa debitor yang berada dalam penahanan harus dilepaskan seketika setelah
putusan pernyataan pailit diucapkan. Pasal 32 dari Undang-undang Belanda menyatakan hal yang hampir sama, secara
rinci menyebutkan debitor yang sedang berada dalam “tahanan karena tidak membayar utang.”

83
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

adanya pembayaran kepada kreditor selama beberapa tahun berdasarkan jadwal yang
ditetapkan oleh pengadilan. 9

3. Haruskah Undang-Undang Mewajibkan Bahwa Untuk Setiap Putusan Kepailitan


Diumumkan Di Internet Sebagai Syarat Keabsahan?

Perkara kepailitan dan PKPU adalah unik karena secara potensial mempunyai akibat
langsung terhadap banyak orang, terutama para kreditor. Pihak-pihak ini berhak mendapatkan
perlakuan yang adil. Komponen kunci dalam perlakuan yang adil adalah mendapatkan
pemberitahuan atas setiap aspek dalam proses perkara. Tanpa pemberitahuan, kreditor tidak
dapat menjaga hak-hak mereka secara wajar selama proses berlangsung.
Mengakui akan hal ini, UU No. 37 mewajibkan dokumen-dokumen dalam perkara
kepailitan tersedia bagi kreditor untuk dapat diperiksa dan diperbanyak. 10 Beberapa dokumen
harus tersedia bagi publik secara umum 11 dan beberapa yang lain harus diumumkan.
Melakukan hal ini, bagaimapun juga, merupakan hal yang sulit. Banyak kreditor yang tidak
bertempat tinggal di wilayah hukum pengadilan yang memeriksa perkara dan seringkali jumlah
tagihan mereka membuat tidak layak untuk melakukan perjalanan ke kepaniteraan
pengadilan. Publikasi di media cetak dapat menghemat kreditor untuk pergi ke pengadilan,
tapi mahal dan tidak ada jaminan bahwa kreditor berada dalam wilayah distribusi media yang
bersangkutan atau dapat membacanya di hari pemberitahuan tersebut diumumkan.
Hanya sedikit orang yang mungkin tidak setuju bahwa peningkatan penggunaan
internet oleh pengadilan-pengadilan ditujukan untuk meningkatkan transparansi.
Pertanyaannya disini adalah apakah undang-undang harus dirubah untuk menyatakan bahwa
pengumuman di internet adalah syarat untuk keputusan apapun dalam perkara kepailitan agar
mempunyai keabsahan.
Ini dapat berarti perubahan yang besar dalam praktek. Dapat diambil contoh, suatu
permohonan untuk mengabulkan penjualan di bawah tangan (telah dibahas sebelumnya
diatas). Kurator dapat datang ke hakim dengan seorang pembeli yang mau membeli suatu
properti, yang dalam beberapa lelang yang telah terjadi, tidak juga terjual. Permohonan
tersebut adalah agar hakim mengabulkan penjualan di bawah tangan yang dimaksud dalam
pasal 185 (2) Undang-undang Kepailitan. Dalam beberapa perkara, hakim akan
menandatangani kontrak penjualan tersebut sebagai bukti dari persetujuan formal yang dia
berikan. Dibawah usulan perubahan, persetujuan formal hakim tidak akan mempunyai dasar
hukum hingga keputusan yang menyetujui penjualan di bawah tangan tersebut dibuat secara
tertulis dan dipublikasikan melalui internet.
Membuat publisitas sebagai dasar untuk keabsahan secara hukum sehubungan
dengan hak-hak banyak orang adalah praktek yang sudah lama dikenal. Contohnya mengenai
hal ini dapat dilihat dari pendaftaran hak tanggungan atas tanah dimana hak tanggungan tidak
berlaku hingga hak tersebut terdaftar. 12 Membuat pendaftaran sebagai syarat dalam suatu
perkara akan memastikan pihak-pihak yang terkait dengan tanah yang bersangkutan
mendapatkan pemberitahuan yang layak mengenai hak-hak mereka.
Pendekatan seperti itu, bagaimanapun juga, dapat terlihat seperti menciptakan lebih
banyak kertas kerja bagi kurator dan hakim dengan sedikit keuntungan sebagai timbal
baliknya. Hal ini juga tidak bisa dengan mudah dibuat. Sistem seperti ini membutuhkan
pengembangan dari sistem pemberkasan berbasis web bagi dokumen-dokumen dalam

9
J. Appeldorn, The ‘Fresh Start’ for Individual Debtors: Social, Moral and Practical Issues, International Insolvency Review,
Volume 17, Edisi 1 (Spring 2008), hal. 57-72, tersedia secara online pada: www3.interscience.wiley.com/cgi-
bin/fulltext/118479716/PDFSTART
10
Lihat Pasal 112 UU No. 37.
11
Sebagai contoh, laporan tiga bulanan dari kurator mengenai pengaturan harta debitor. Lihat Pasal 74.
12
Pasal 13 UU Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-benda yang Berkaitan dengan
Tanah mengatur bahwa Hak Tanggungan “lahir pada hari tanggal” buku tanah Hak Tanggungan pada Kantor Pertahanan.

84
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

perkara kepailitan, yang dapat diandalkan, atau menggunakan sistem yang sekarang sudah
ada. 13

4. Haruskah Kreditor Yang Berhasil Mengawali Proses Perkara Diberikan Status


Istimewa Sehubungan Dengan Surat Permohonan Mereka?

Dapat dikatakan bahwa kepailitan adalah prosedur yang jarang digunakan di Indonesia.
Orang-orang dapat menunjuk bermacam-macam masalah yang ada dalam sistem saat ini
sebagai alasan terjadinya hal tersebut. Tapi, meskipun sistemnya berjalan dengan sempurna,
atau mendekati sempurna, banyak kreditor konkuren yang tetap berkeberatan untuk
mendaftar perkara. Biaya perkaranya tinggi dan mengawali proses perkara bukan berarti
mendapatkan jaminan.
Namun, jika ada kreditor yang mengawali proses perkara kepailitan walaupun terdapat
risiko-risiko tersebut, keuntungannya akan mengalir ke kreditor-kreditor yang pasif dan lebih
senior yang tidak melakukan apapun untuk mempertahankan hak-hak mereka. Sementara,
pemohon yang mengawali proses perkara beruntung jika dia bisa mendapat kembali uang
biaya perkara yang dia bayarkan saat pertama mengawali proses perkara.
Karena tindakan dari pemohon pailit yang berhasil itu merupakan suatu layanan
masyarakat, maka memberikan layanan publik atas performa pemohon kepailitan yang sukses
mungkin masuk akal untuk mempertimbangkan semacam kompensasi secara resmi bagi
kreditor konkuren yang sukses mengawali suatu proses perkara kepailitan. Selain
pengembalian biaya yang mereka keluarkan, kreditor-kreditor tersebut seharusnya menerima
pembayaran kembali setidak-tidaknya bagian dari piutang mereka sebagai biaya administratif
atas proses kepailitan. Agar adil, jika tagihan kreditor termasuk besar, maka pengembalian
kepada kreditor yang berada dibawah status istimewa ini harus dibatasi tidak lebih dari 5
hingga 10 persen dari total hasil penjualan harta debitor.

5. Haruskah Peringkat Dari Berbagai Tagihan Dibuat Secara Ekslusif Berdasarkan


Prioritas Yang Ada di UU Kepailitan?

Pasal 1131 hingga 1149 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menjelaskan klasifikasi
dari piutang kreditor dan prioritasnya atas satu terhadap yang lain. Ketentuan-ketentuan ini,
yang berasal dari tahun 1847, tidak sedikitpun menyebutkan tentang kepailitan atau PKPU.
Juga tidak ada yang menyebutkan aspek tertentu dari proses-proses tersebut seperti misalnya
utang-utang harta pailit yang timbul sepanjang jalannya perkara kepailitan. Alih-alih, hal
tersebut terdapat sesudah ketentuan-ketentuan mengenai warisan dan pembagian harta pailit.
Rujukan terhadap “biaya pemakaman” dan biaya yang timbul sehubungan dengan penyakit
yang terakhir” dalam ketentuan-ketentuan 14 memang menunjukkan bahwa penulis lebih
memfokuskan pada memperlancar disahkannya ketentuan yang diinginkan dari pada
memenuhi kebutuhan masalah insolvensi perusahaan modern.
Ketentuan-ketentuan ini juga ditambah dengan peraturan lain yang berhubungan
dengan tenaga kerja dan pajak. Pasal 95 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan menyatakan bahwa ketika suatu perusahaan pailit atau berada dalam proses
likuidasi maka gaji karyawan perusahaan tersebut harus menjadi utang yang diprioritaskan
dibandingkan dengan utang lain. Penjelasan pasal ini menyatakan bahwa utang ini harus
“dibayarkan terlebih dahulu sebelum utang-utang lain dibayar.”

13
Hukum Online adalah salah satu contoh organisasi yang meyediakan layanan database tersebut di Indonesia.
Selanjutnya, contoh lain yang sama adalah Australia Legal Information Institute (www.austii.edu.au) yang merupakan
sumber informasi hukum di Negara lain. Hingga kini, kedua contoh tersebut sepertinya tidak menyediakan informasi secara
rinci tentang putusan-putusan yang dibuat oleh hakim pengadilan niaga dalam menangani perkara kepailitan di pengadilan.
14
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pasal 1148.

85
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

Berdasarkan Undang-Undang Pajak yang terkait, kurator mempunyai kewajiban untuk


membayar pajak-pajak terutang dari debitor. 15 Dibalik itu, undang-undang menyatakan bahwa
negara mempunyai “hak terdahulu terhadap aset yang dimiliki oleh penanggung pajak untuk
maksud menagih pajak.” 16 Dengan demikian, jika terdapat kasus dimana Wajib Pajak telah
dinyatakan pailit, berdasarkan UU Pajak kurator dilarang “membagikan harta” Wajib Pajak
dalam pailit dengan pemegang saham atau kreditur lainnya “sebelum menggunakan harta
tersebut untuk membayar utang pajak Wajib Pajak tersebut.” 17
Pihak otoritas pajak dapat menyita atau menjual properti penanggung pajak manapun,
bahkan jika properti tersebut telah dibebani hak tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang
tertentu. 18 Yang lebih tidak jelas lagi adalah status kreditur yang klaimnya (piutang) dijamin
dengan hak tanggungan setelah properti tersebut dijual. Bahkan yang lebih tidak jelas lagi
adalah status hak-hak para kreditur pemegang hak tanggungan pada saat jaminan dijual
karena adanya putusan pengadilan tentang pailit.
Berbeda dengan ketentuan-ketentuan ini, ternyata, Undang-undang No. 37 hanya
memberikan sedikit sekali petunjuk mengenai urutan para kreditor. Referensi terdapat dalam
banyak tulisan mengenai hak prioritas tanpa keterangan yang jelas mengenai maksudnya.
Penjelasan Pasal 60(1) menjelaskan mengenai kreditor yang diistimewakan sebagaimana
kreditor yang dijelaskan menurut Pasal 1139 dan 1149 dari Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata. Tidak satu pun dari pasal-pasal yang tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata tersebut menyebutkan tagihan negara terhadap pajak-pajak yang belum dibayar dan
rujukan mengenai tagihan buruh yang harus didahulukan berbeda dengan yang terdapat
dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003.
Hasilnya masih merupakan kontroversi sampai saat ini, mengenai siapa yang harus
dibayar terlebih dahulu berkenaan dengan pembagian hasil penjualan dalam kepailitan.
Ketidakpastian ini menunda penyelesaian perkara. Biaya yang timbul sehubungan dengan
gugatan mengenai hal ini akan menghabiskan penghasilan yang seharusnya tersedia bagi
para kreditor. 19
Dalam menangani masalah prioritas penagihan secara universal, diperlukan
pertimbangan yang seksama, dengan menjelaskan urutan prioritasnya secara jelas dalam
undang-undang kepailitan. Hal ini sangat masuk akal berdasarkan beberapa alasan. Yang
pertama adalah sangat sederhana. Suatu perkara kepailitan (dimana nilai tagihan melebihi
nilai aset) pada dasarnya hanyalah satu-satunya situasi dimana urutan peringkat kreditor
merupakan hal yang penting. Jika debitor dapat membayar lunas kreditor, siapa yang peduli
mengenai siapa yang berada pada urutan pertama?
Kedua, pendekatan ini memaksa para pembuat kebijakan untuk membuat suatu
keputusan yang sulit terhadap prioritas antara yang satu dengan yang lainnya. Kelihatannya
mudah ketika merumuskan undang-undang tenaga kerja dengan memasukkan ketentuan
yang membuat para pekerja adalah kreditor nomor satu. Tetapi mungkin tidak begitu mudah
jika hal-hal yang memiliki kepentingan yang bersaing juga dipertimbangkan.
Ketiga, pendekatan ini membuat pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan hal-hal
lain yang berdampak terhadap pemberian prioritas seperti dalam melakukan perundingan

15
UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor
28 Tahun 2007, Pasal 32(1).
16
Ibid., Pasal 21.
17
Ibid., Pasal 21 ayat (3a) UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
18
UU No. 19 Tahun 1997 Tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa, Pasal 14.
19
Pola yang serupa juga terjadi di Filipina. Pada tahun 1949, prioritas yang diatur dalam Kitab Hukum Perdata yang baru
diadopsi menggantikan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Kepailitan. Kemudian, undang-undang yang lain
tentang buruh menetapkan aturan tambahan mengenai prioritas, dan Keputusan Mahkamah Agung nampaknya
memberikan prioritas tertinggi untuk tagihan pajak diatas pihak lainnya, termasuk tagihan kreditor yang dijamin. Hasilnya
adalah kebingungan yang serupa. Lihat Pendidikan Kehakiman Filipina (Philippine Judicial Academy), Benchbook on
Liquidation Proceedings in Insolvency (2004), pp. 81-83.

86
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

rencana perdamaian yang mungkin dapat menyelamatkan perusahaan. Dengan membuat


beberapa tingkatan kreditor yang dibedakan menurut status prioritas pembayaran akan
terbentuk kelompok-kelompok individu yang mempunyai harapan yang berbeda terhadap
pembayaran jika likuidasi harus dilakukan. Hal ini tentunya akan sangat mengurangi
solidaritas kreditor yang diperlukan dalam merundingkan suatu rencana perdamaian yang
wajar dan realitis.
Pada akhirnya, menangani masalah ini hanya dengan menggunakan satu undang-
undang akan memberikan pihak swasta suatu pemahaman yang lebih baik mengenai risiko
yang ada dalam memberikan pinjaman kepada individu dan perusahaan. Seperti yang dapat
disimak dari Pedoman Peraturan mengenai Undang undang Kepailitan yang dikeluarkan oleh
PBB baru-baru ini :
Dalam hal prioritas dicantumkan dalam undang-undang kepailitan atau dalam hal prioritas yang
terdapat dalam undang-undang lain selain dari undang-undang kepailitan diakui dan berdampak
terhadap proses kepailitan, diharapkan bahwa prioritas-prioritas tersebut dinyatakan secara
eksplisit atau dirujuk dalam undang-undang kepailitan (dan bila perlu dibuatkan urutan
prioritasnya dengan tagihan-tagihan lain). Hal ini untuk memastikan pihak yang berkepentingan
dalam kepailitan mengetahui dengan jelas dan mengetahui dampaknya terhadap kreditor serta
memungkinkan pihak pemberi pinjaman untuk dapat mempertimbangkan secara lebih seksama
mengenai risiko yang terkait dengan pinjaman. 20 (Penekanan ditambahkan).
Dengan kata lain, sama pentingnya untuk mendapatkan hak-hak yang kuat dalam kepailitan
dengan memahami apa yang dimaksudkan dengan hak-hak tersebut. Dengan memiliki
pemahaman ini, pihak-pihak swasta dapat setidak-tidaknya membuat penyesuaian dalam
mengelola pinjaman dengan memperhitungkan juga risiko-resiko yang ada. Dengan
ketidakpastian saat ini, hal ini tidak mungkin dilakukan.
Tentu saja, mengkonsolidasikan aturan-aturan mengenai prioritas ini sulit dilaksanakan.
Mengubah Kitab Undang-undang Hukum Perdata secara politis tidaklah mudah dan pihak
yang berhak dan sangat berkepentingan seperti buruh dan negara mungkin akan
berkeberatan terhadap setiap perubahan yang mungkin dilakukan terhadap undang-undang
tenaga kerja dan perpajakan. Lebih lanjut, jika aturan mengenai prioritas ini dikonsolidasikan,
tidak ada jaminan bahwa Parlemen kemudian tidak akan memberlakukan undang-undang
tenaga kerja dan perpajakan yang baru untuk mendapatkan manfaat bagi pihaknya.

6. Haruskah Undang-Undang Diubah Agar Dapat Mengakomodasi Prosedur


Perdamaian Yang Lebih Rumit dan Menyeluruh?

Sistem kepailitan Belanda diuraikan sebagai “sistem yang berbasis likuidasi .........
dengan ketentuan reorganisasi yang paling sederhana.” 21 Sistem kepailitan Indonesia secara
aman dapat dikarakterisasikan dengan cara yang sama. Proses Kepailitan tetap merupakan
aturan dan PKPU tetap merupakan pengecualian. Rencana perdamaian biasanya merupakan
usaha terakhir untuk mencegah terjadinya likuidasi lebih dari pada melakukan suatu
pendekatan proaktif untuk merestrukturisasi utang dan mengurangi biaya-biaya.
Dalam 15 (lima belas) tahun terakhir ini banyak negara di Eropa dan Asia telah
merombak undang-undang kepailitan mereka dengan memberlakukan langkah-langkah
reorganisasi yang lebih canggih dan terperinci, yang sebagian terinspirasi oleh ketentuan-
ketentuan reorganisasi Chapter 11 Undang-undang Kepailitan Amerika Serikat. Ketentuan-
ketentuan ini memungkinkan antara lain: (a) beberapa tingkatan kreditor yang memberikan
suara tersendiri; (b) menolak hak istimewa kreditor dalam hal-hal tertentu; dan (c) prosedur
yang relatif baru, seperti dalam hal konversi utang menjadi modal (debt-equity swaps). Tujuan

20
Komisi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Undang Undang Perdagangan Internasional Legislative Guide on Insolvency
Law 2005, p. 271 (selanjutnya disebut dengan “UNCITRAL Legislative Guide). Dapat diunduh di
www.uncitral.org/pdf/english/texts/insolven/05-80722_Ebook.pdf.
21
O. Couwenberg and A. de Jong, Cost and Recovery Rates in the Dutch Liquidation-Based Bankruptcy System (rancangan
Juni 2007), p. 6 tersedia di http://papers.ssrn.com/sol3/ papers.cfm?abstract_id=1008667

87
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

dari pembaharuan semacam ini adalah untuk menghindari terjadinya likuidasi perusahaan-
perusahaan yang seharusnya dapat diselamatkan melalui prosedur reorganisasi.
Indonesia dapat membuat langkah yang maju dan membuat suatu bab yang canggih
dan terperinci mengenai reorganisasi perusahaan. Banyak tersedia bentuk baku mengenai
pengelolaan hal-hal seperti ini.
Namun harap diketahui, bahwa ketentuan-ketentuan mengenai reorganisasi
perusahaan yang rumit tidak mudah untuk dijalankan dalam praktek. Walaupun banyak
perusahaan yang dapat menyelamatkan perusahaan mereka dengan menerapkan ketentuan-
ketentuan ini, banyak juga dan mungkin lebih banyak lagi perusahaan yang memanfaatkan
ketentuan-ketentuan ini hanya untuk menunda terjadinya likuidasi. Terdapat banyak kasus
dimana kreditor telah menyetujui suatu rencana reorganisasi tetapi pada akhirnya gagal
(dengan penghasilan yang lebih sedikit karena penundaan likuidasi).
Mungkin karena alasan-alasan itulah, pemerintah Belanda belum mengadopsi proses-
proses sejenis ini. Ketentuan-ketentuan mengenai rekonsiliasi berdasarkan undang-undang
Belanda dan Indonesia secara relatif tetap serupa.
Hal ini mungkin tidaklah merupakan sesuatu hal yang buruk. Setidak-tidaknya suatu
pengkajian yang mendalam mengenai bisnis kepailitan berdasarkan Undang-undang Belanda
memberikan pandangan bahwa praktek-praktek di Belanda telah berkembang menjadi suatu
cara ketiga di antara dua cara tradisional mengenai likuidasi dengan cara berangsur-angsur
atau suatu tata cara reorganisasi yang rumit dan mahal. Hasil yang positif diperoleh dengan
cepat jika aset debitor dijual melalui lelang sementara bisnis debitor dapat terus beroperasi. 22

7. Apakah Prosedur Yang Mengizinkan Kurator Untuk Membatalkan Saham Debitor


Pailit, Menerbitkan Saham Baru dan Kemudian Menjualnya Secara Cepat akan
Mendorong Likuidasi yang Lebih Cepat Dan Lebih Efisien?

Pada saat ini Amerika Serikat sedang mengalamai krisis keuangan dimana perusahaan
swasta dan semi-swasta berisiko gagal. Namun, beberapa dari perusahaan-perusahaan
tersebut terlalu besar atau terlalu penting untuk gagal. Hasilnya adalah, dalam beberapa
kasus, mereka mendapatkan penyaluran dana dari pemerintah Amerika Serikat – seperti
misalnya penyuntikan modal atau jaminan pembiayaan yang dapat meneruskan operasi
perusahaan-perusahaan tersebut.
Namun, dalam banyak kasus ini, Amerika Serikat memberikan syarat bahwa jumlah
pemegang saham dikurangi sebagai akibat dari penyaluran dana tersebut. Misalnya dalam hal
penyaluran dana untuk menyelamatkan AIG, sebuah perusahaan induk asuransi Amerika
yang besar, jumlah pemegang saham dikurangi sampai kurang lebih hanya 20% dari tingkat
sebelum dilakukan penyaluran dana. Ini dapat menyelamatkan perusahaan sementara
membuat para pemegang saham AIG menderita karena biaya atas penyaluran dana tersebut.
Pertimbangan harus diberikan untuk melembagakan berbagai jenis kepailitan dimana
kepemilikan debitor yang dilikuidasi dan bukan debitor itu sendiri. Saham debitor pailit
dibatalkan dan saham baru diterbitkan. Saham-saham ini, dan bukanlah aset debitor, dijual
dan hasil penjualan dipakai untuk membayar kreditor berdasarkan berbagai urutan yang
ditentukan oleh undang-undang. Tagihan-tagihan yang belum terbayar karena tidak ada sisa
dari hasil penjualan dibatalkan. Aset debitor dan operasi perusahaannya tetap tidak diganggu
sampai ada pemilik baru atau pemilik yang dapat mengambil alih kendali dan membuat
keputusan sulit yang diperlukan untuk melakukan restrukturisasi operasional perusahaan
debitor.
Sampai taraf tertentu, ini merupakan suatu kemajuan dibandingkan dengan praktek
yang diterapkan di Belanda. Seorang komentator memperhatikan bahwa kurator di Belanda
sering menggunakan ketentuan lelang kepailitan sebagai “cara untuk melakukan reorganisasi

22
Ibid., pasal. 18.

88
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

suatu usaha dan bukan cara untuk melikuidasi usaha” 23 Pendekatan ini timbul berdasarkan
praktek yang berkembang dan keputusan pengadilan yang bersifat ad hoc, dan bukan
berdasarkan kerangka kerja undang-undang. Dengan demikian, isu yang ada ditangani lebih
kepada kasus per kasus.
Indonesia sepertinya belum berada dalam jalur yang serupa. Terdapat beberapa
perkara yang mengkhawatirkan dimana perusahaan-perusahaan tetap beroperasi sementara
dilakukan pelelangan. Mungkin hal ini terjadi karena kurangnya kualitas dan kemampuan
bertahan dari perusahaan-perusahaan yang ada dalam proses kepalitan. Mungkin karena
Undang-undang No. 37 tidak memberikan pedoman secara spesifik yang memadai dalam hal
melakukan atau memberikan persetujuan untuk transaksi-transaksi seperti itu.
Mengembangkan ketentuan-ketentuan terperinci secara memadai akan memungkinkan
kurator untuk menangani masalah utang perusahaan dengan melikuidasi kepemilikan
memberikan cara yang lebih cepat dan sederhana dalam menyelamatkan perusahaan serta
pada secara bersamaan melindungi hak para kreditor di Indonesia.
Walaupun demikian, harus diperhatikan bahwa solusi semacam ini harus
memperhatikan beberapa faktor. Misalnya, bagaimana para karyawan dari perusahaan
tersebut diperlakukan? Apakah mereka akan tetapi terikat dengan perusahaan tersebut
dengan kemungkinan diberhentikan oleh pemilik yang baru? Bagaimana ketentuan-ketentuan
ini menangani hak-hak para kreditor yang dijamin dengan hak tanggungan atas properti
debitor? Peraturan-peraturan jenis apa yang mengatur mengenai penjualan saham-saham
yang baru diterbitkan? Mungkin sebaiknya melakukan praktek yang mendekati praktek yang
dianut Belanda dan tidak melakukan hal-hal yang jauh di luar itu. Jenis-jenis permasalahan
tersebut akan dibahas secara terperinci.

8. Haruskah Suatu Proses Formal Dibentuk Untuk Menangani Kepailitan


Transnasional?

Dengan semakin banyaknya perusahaan dan pengelolaan keuangan lintas batas orang
semakin mendengar lebih banyak mengenai aspek transnasional dalam proses kepailitan.
Banyak artikel yang telah ditulis dalam bidang ini dan PBB bahkan telah mengembangkan
suatu model dari undang-undang yang telah diadopsi oleh sekurang-kurangnya lima belas
negara. 24 Pada tingkat regional di Uni Eropa telah dikeluarkan peraturan kepailitan yang pada
dasarnya dirancang untuk melakukan hal yang sama.
Isu kepailitan transnasional cenderung menjadi berita utama jika suatu perusahaan
yang terkenal didirikan di negara A dan berdasarkan proses kepailitan disana mempunyai aset
dalam jumlah besar di Negara B. Kurator perusahaan debitor ingin dapat pergi ke Negara B
dan menagih atau menjual aset tersebut dengan hasil yang dapat dibawa kembali ke proses di
Negara A. Kreditor dari debitor di Negara B pada umumnya berkeberatan. Seringkali
Pengadilan di negara B menyetujui karena merasa mendapat tekanan untuk mengurus
warganegaranya sendiri, sering kali, dan menolak untuk membiarkan kurator mengembalikan
aset untuk dipakai dalam proses di Negara A. Hal ini disebut ring fencing (memagari aset).
Hal ini juga biasanya ditandai dengan adanya ketegangan antara pendekatan universal
terhadap kepailitan dan pendekatan teritorial. Pihak universalis berpendapat bahwa semua
aset dan tagihan kreditor harus ditangani secara terpusat. Pihak teritorialis menentang untuk
melakukan pengajuan tagihan kreditor melalui proses di negara asing. Jika aset ditemukan
setempat, pihak teritorialis berpendapat bahwa kreditor domestik harus mendapatkan prioritas
pertama terhadap aset tersebut.

23
P. Declerq, Netherlands Insolvency Law (2002), hal. 60.
24
Mulai bulan Mei 2008, negara-negara tersebut mencakup Australia (2008), the British Virgin Islands (2005), Kolumbia
(2006), Eritrea, Inggris (2006), Jepang (2000), Meksiko (2000), Montenegro (2002), Selandia Baru (2006), Polandia (2003),
Republik Korea (2006), Rumania (2003), Serbia (2004), Afrika Selatan (2000), dan Amerika Serikat (2005). Untuk siaran
pers PBB yang menjelaskan proses ini terkait dengan perundang-undangan Australia, lihat
www.unis.unvienna.org/unis/pressrels/ 2008/unisl118.html.

89
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

Model Undang-undang tersebut adalah pendekatan internasional. Jika Indonesia


mengadopsi ketentuan-ketentuan tersebut, kurator yang mewakili debitor Indonesia akan lebih
mudah untuk menagih aset yang telah dipindahkan ke luar negeri. Memang, PBB mengetahui
bahwa membantu melakukan reakuisisi aset yang dipindahkan secara curang merupakan
tujuan utama dari model undang-undang tersebut. 25 Hal ini tentunya yang mungkin terjadi di
negara-negara yang telah mengeluarkan undang-undang tersebut. Hal tersebut mungkin juga
bermanfaat di negara-negara dimana Model Undang Undang belum diberlakukan, tetapi
meskipun demikian tetap mengizinkan kurator asing untuk mendapatkan akses terhadap aset
lokal atas dasar timbal balik. Kedua negara tersebut adalah Malaysia dan Singapura. Akibat
dari usaha penagihan di kedua negara tersebut dibahas dalam laporan mengenai Komisi
Undang-undang Selandia Baru sebelum Model Undang-Undang diberlakukan.
Mitra dagang lain yang utama di Selandia Baru [Singapura dan Malaysia], walaupun
mempunyai ketentuan undang-undang yang memungkinkan pengadilan untuk memberikan
bantuan kepada pengurus kepailitan asing dalam penerapan bantuan, mewajibkan untuk
memberikan bantuan yang atas dasar timbal-balik. Timbal-balik berarti bahwa pengadilan yang
diminta untuk memberikan bantuan harus mempertimbangkan apakah pengadilan negara yang
meminta bantuan tersebut, jika posisinya ditukar, akan memberikan bantuan dalam hal yang
diminta tersebut. 26
UU No. 37 pada saat ini tidak memiliki ketentuan-ketentuan yang berorientasi universal
seperti Model Undang-Undang tersebut. Memang, kita mendengar bahwa kerangka kerja
peraturan undang-undang di Indonesia tidak terlalu ramah terhadap kemungkinan adanya
perwakilan debitor asing yang mencoba untuk mengendalikan hasil penjualan dengan
kemungkinan adanya kerugian yang diderita oleh kreditor Indonesia. Hal ini kemungkinan
dapat menghambat usaha-usaha dari kurator Indonesia untuk mendapatkankan kerjasama di
Malaysia atau Singapura, atau negara-negara yang mengggunakan pendekatan timbal balik
yang serupa.
Meskipun demikian, bahkan bila Indonesia memberlakukan Model Undang-Undang,
pihak lawan yang berbuat segalanya untuk memperoleh aset yang berada di luar negeri
kemungkinan akan memberikan argumentasi bahwa tidak ada kepastian bahwa ketentuan-
ketentuan dalam Model Undang-Undang yang melindungi kurator asing yang datang ke
Indonesia akan dilaksanakan. Sehingga, mungkin akan memakan waktu yang cukup lama
bagi pengadilan-pengadilan Indonesia untuk mengenali dan menerima proses kepailitan asing
(yang kemungkinan mengakibatkan ketidaknyamanan dan kerugian pada pihak kreditor lokal)
sebelum kurator Indonesia menerima perlakuan yang serupa di Indonesia.
Secara singkat, dilihat dari sudut perundang-undangan, mengembangkan Model
Undang-undang secara relatif mudah dilakukan. Namun memberlakukan ketentuan-ketentuan
demikian dapat berarti bahwa kreditor lokal, daripada dapat memagari asetnya disini, harus
mencari bantuan melalui proses kepailitan asing dimana mereka mungkin tidak memperoleh
perlakuan istimewa. Manfaat yang dapat mengimbangi adalah kurator domestik mungkin
akan dapat lebih berhasil untuk memulihkan asetnya di luar negeri.
Keputusan ini membutuhkan pertimbangan yang berimbang dan hati-hati dalam hal
kepentingan nasional dan ideologi yang jauh lebih rumit dan banyak variasinya dibandingkan
dengan membuat ketentuan-ketentuan itu sendiri.

25
UNCITRAL Legislative Guide, hal. 310 (“Kecurangan yang dilakukan oleh debitor insolven, khususnya dengan
menyembunyikan hartanya atau memindahkannya ke luar negeri adalah masalah yang terus meningkat. . . Mekanisme
kerjasama lintas batas yang ditetapkan oleh Model Undang-undang dirancang untuk menghadapi kecurangan internasional
semacam itu.”).
26
Laporan Komisi Hukum Selandia Baru No. 52: Haruskah Selandia Baru Mengadopsi Model Undang-undang UNCITRAL
tentang Kepailitan Lintas Batas? (1999), hal. 25. Tersedia di www.lawcom.govt.nz/
UploadFiles/Publications/Publication_51_97_R52.pdf.

90
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

9. Jika Diperlukan Perubahan Yang Besar Terhadap UU No. 37, Haruskah


Perubahan Tersebut Dalam Bentuk Undang-Undang Baru ataukah Cukup Dengan
Amandemen Terhadap Undang-Undang Yang Ada Sekarang?

Walaupun UU No. 37 diberlakukan sebagai undang-undang baru, dalam kenyataannya


undang-undang tersebut adalah perubahan atas PERPU ketika terjadi Krisis Asia pada tahun
1998. 27 Analisis yang dilakukan terhadap kedua undang-undang tersebut oleh Proyek
Peningkatan Pengadilan Tipikor & Pengadilan Niaga – Indonesia (“In-ACCE”) menunjukkan
bahwa dari 306 pasal dalam UU No. 37, sedikitnya delapan puluh lima persen (85 %) pada
dasarnya tidak berbeda dari undang-undang sebelumnya.
Jika anggota DPR yang nanti mengubah UU Kepailitan tetap mengikuti pola evolusi
tersebut, nampaknya akan lebih masuk akal untuk mengamandemen undang-undang yang
ada sekarang ini daripada menggantinya dengan undang-undang yang sama sekali baru.
Langkah demikian akan menghindari risiko terjadinya bentrokan antara undang-undang baru
dengan kerangka kerja perundang-undangan yang ada saat ini. Hal ini juga berarti investasi
untuk melatih para hakim dan staf lainnya mengenai prinsip-prinsip dan ketentuan-ketentuan
mengenai undang-undang yang ada sekarang tidak sia-sia.
Tetapi UU No. 37 merupakan undang-undang yang cukup rumit dan cenderung tidak
mudah dipahami pada saat pertama kali membacanya. 28 Hal ini sangat disayangkan terutama
dalam hal hakim pengadilan niaga digantikan oleh hakim-hakim baru, yang sering kali belum
mendapatkan banyak pengalaman dengan undang-undang tersebut, dimana hal ini terjadi
setiap tiga atau empat tahun. Sekurang-kurangnya dibutuhkan waktu beberapa bulan bekerja
dengan menggunakan undang-undang tersebut sebelum merasa nyaman
menggunakannya. 29 Melakukan perubahan atas UU Nomor 37 akan memberikan dampak
yang tidak signifikan atas keadaan tersebut.
Undang-undang baru, yang dibuat dari nol, dapat dibuat dan dirancang sesuai dengan
keadaan di Indonesia. Negara Cina, Serbia, dan Brazil adalah contoh negara-negara yang
baru saja membuat undang-undang baru dari nol dan hasil yang dicapai pada umumnya
sangat baik.
Sehingga pembuat kebijakan mempunyai pilihan: bekerja dengan infrastruktur hukum
yang sudah ada atau membuat undang-undang yang sama sekali baru, yang ditata ulang. Jika
kita memilih yang pertama, harus dipikirkan bagaimana mengurangi penggantian hakim-hakim
yang akan melaksanakan UU No. 37 dalam versi yang telah diamandemen. Jika mereka
memilih untuk melakukan yang kedua, maka sistem rotasi yang diterapkan saat ini terhadap
hakim-hakim pengadilan niaga hanya dapat berjalan jika undang-undang baru dirancang
dengan memberikan prioritas terhadap kemudahan menerapkannya.

27
Peraturan Pemerintah sebagai pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 1998. Sesuai persyaratan, peraturan ini
disahkan oleh DPR beberapa bulan setelah dikeluarkan dan kemudian disahkan menjadi undang-undang pada tanggal 8
September 1998.
28
Walaupun sulit untuk menunjukkan secara obyektif, salah satu indikator dari kerumitan yang dapat diukur adalah jumlah
dari referensi silang. Perancang undang-undang cenderung untuk menghindari referensi silang yang akhirnya mengarah
pada bahasa yang membingungkan. Jumlah referensi silang dalam undang-undang kepailitan Belanda adalah 210. Tidak
mengherankan, UU No. 37, mempunyai 209. Dua undang-undang yang baru-baru ini diterbitkan yang secara relatif diterima
dengan cukup baik mempunyai jauh lebih sedikit referensi silang. Undang-undang kepailitan Cina mempunyai 12. Undang-
undang kepailitan Republik Serbia mempunyai 45. Sebagai perbandingan dengan undang-undang yang bukan kepailitan,
UU No. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial mempunyai 43 referensi silang. Penjelasan
mengenai metodologi yang dipakai untuk mengukur referensi silang, lihat Lampiran 1.
29
Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mencoba untuk menangani masalah ini, sekurang-
kurangnya sebagian dari masalah ini, dengan cara menyusun suatu buku panduan tentang bagaimana membuat berbagai
keputusan yang harus diundangkan.

91
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

D. Bagian Ketiga: Pilihan Sehubungan Dengan Lingkungan Perundang-undangan Di


Luar Kepailitan Yang Dapat Mempengaruhi Pelaksanaan UU No. 37 atau yang
Menggantikannya

Sistem kepailitan tidak berjalan dalam keadaan kosong. Perundang-undangan lain


dapat memberikan dampak yang besar terhadap pelaksanaannya. Bagian Ketiga menawarkan
3 (tiga) area dimana pembuat kebijakan mungkin dapat mempengaruhi pelaksanaan kepailitan
tanpa harus mengubah undang-undang kepailitan atau praktek-praktek berdasarkankan
undang-undang tersebut.
1. Haruskah Pihak-pihak Swasta, Dengan Lisensi, Diizinkan Untuk Melaksanakan
Putusan Pengadilan?

Suatu sistem kepailitan berjalan dengan baik bila debitor, yang mendapatkan tekanan
untuk melaksanakan prosedur yudisial yang standar, secara sukarela bersedia menjalankan
proses kepailitan. Proses tersebut bekerja kurang efektif jika hal tersebut dimanfaatkan
sebagai alternatif mekanisme penagihan utang dimana debitor diambil alih, kadang-kadang
dengan cara yang tidak bersahabat.
Sehingga, salah satu cara untuk memperbaiki sistem dalam menyelesaikan suatu
kesulitan keuangan adalah dengan cara memperbaiki prosedur penagihan utang melalui
sistem pengadilan yang biasa.
Usaha jangka panjang yang dilakukan di Indonesia selama ini sangat berat, dan akan
terus demikian, dengan berbagai pembaharuan dan intervensi yang berjalan terus pada waktu
yang bersamaan. Salah satu pembaharuan yang dapat dilakukan yang mungkin dapat
memperoleh hasil yang secara relatif cepat dan signifikan dan dapat berdampak terhadap
proses kepailitan secara langsung adalah memanfaatkan individu swasta yang berlisensi
untuk melaksanakan putusan.
Secara tradisi, tanggung jawab demikian berada di tangan juru sita yang dipekerjakan
pemerintah. Begitu mereka diberi tugas untuk menjalankan suatu putusan, mereka
mengeluarkan anmaning, mencari lokasi properti, menjual properti melalui kantor lelang dan
membagikan hasil penjualan berdasarkan undang-undang.
Setiap pengadilan memiliki alokasi untuk individu-individu demikian. Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat memiliki empat orang jurusita. 30 Pada saat ini, pelaksanaan putusan tidak dapat
dilihat dari statistik pengadilan berbasis nasional (a country-wide basis). Menurut survei
terakhir tentang “Doing Business” yang dilakukan oleh Bank Dunia, diperkirakan bahwa
diperlukan 180 hari untuk melaksanakan putusan dan biaya yang digunakan mencapai 8,3%
dari jumlah tagihan. 31
Dalam menghadapi hambatan yang serupa, Belanda mengenalkan sistem juru sita
swasta pada tahun 2001. Beberapa negara lain yang bahkan mengalami permasalahan yang
lebih besar dalam melaksanakan putusan pengadilan juga ikut menerapkan. 32 Walaupun
secara rinci berbeda dari satu negara ke negara lainnya, tetapi kita dapat melihat adanya
beberapa kebijakan umum yang muncul. Karena tugas layanan untuk masyarakat yang

30
Laporan Tahunan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Tahun Fiskal 2007, hal. 23.
31
Data statistik terakhir dapat dilihat di situs www.doingbusiness.org/ExploreTopics/EnforcingContracts/
Details.aspx?economyid=90. Sebagai contoh eksekusi pada tingkat lokal, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memiliki 70
putusan pengadilan yang belum dapat dieksekusi hingga akhir tahun 2006. Sementara itu selama tahun 2007, terdapat
lebih dari 33 putusan pengadilan telah diputus untuk eksekusi akan tetapi hanya dua dari jumlah tersebut yang selesai
dieksekusi, sehingga keadaan ini menggambarkan adanya peningkatan yang tajam perbandingan antara jumlah putusan
yang belum dieksekusi dengan yang telah diekseksi. Jumlah hak tanggungan yang belum dieksekusi juga meningkat.
Laporan Tahunan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Tahun Fiskal 2007, hal. 15. Namun demikian, perlu dicatat bahwa
jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan pengalaman beberapa negara lain sebelum mengadopsi reformasi
hukum kepailitannya dimana terdapat ribuan kasus yang tidak dapat diproses secara hukum.
32
Contohnya Negara Polandia dan Bulgaria. Akan tetapi nampaknya belum ada negara-negara Asia Tenggara yang
mengadopsi reformasi tersebut.

92
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

dilakukannya, individu-individu ini berlisensi dan harus mematuhi peraturan yang ada. 33
Walaupun demikian, mereka bersaing untuk usahanya dan mereka mendapatkan pembayaran
atas jasanya. Mereka biasanya dipilih oleh orang yang bermaksud untuk melaksanakan
putusan.
Sebagian besar dari juru sita swasta mengikuti sistem yang ada. Mereka juga diizinkan
untuk menelepon polisi jika memerlukan bantuan terhadap debitor yang tidak mau
bekerjasama dan tidak bersahabat.
Karena Indonesia mengizinkan pihak swasta (kurator) untuk melaksanakan putusan
dalam proses kepailitan maka tidaklah sulit untuk membayangkan hal tersebut juga dilakukan
untuk putusan pengadilan yang lain, setidak-tidaknya yang terkait dengan kompensasi
keuangan yang dicari. Jika memang benar Indonesia memilih untuk mempercayakan pihak
swasta untuk menangani pelaksanaan hak-hak kreditor ketika debitor berada dalam kesulitan
yang besar, nampaknya pihak swasta yang berlisensi dan diatur menurut undang-undang ini
dapat menangani masalah ini bila keadaan keuangan debitor sudah lebih baik.
Untuk menangani tugas-tugas demikian, Indonesia dapat melihat dari jumlah kurator
dan pengurus yang telah mengikuti pelatihan dan mendapatkan lisensi tentang bagaimana
mereka menangani perkara kepailitan. Dengan mengizinkan kurator dan pengurus untuk
melaksanakan pekerjaan ini (setelah menerima pelatihan tambahan dan mendapatkan lisensi)
akan meningkatkan reputasi mereka di masyarakat dan meningkatkan keahlian mereka dalam
menangani debitor yang sulit.
Tentu saja pembaharuan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Yang penting
adalah sampai dimana pengadilan dan polisi bersedia untuk bekerjasama dengan juru sita
swasta dan apakah pemerintah Indonesia bersedia untuk membentuk suatu institusi yang
dapat memberikan lisensi dan mengeluarkan peraturan untuk juru sita tersebut. Yang juga
penting adalah sampai dimana publik dapat menerima pihak swasta melaksanakan putusan
pengadilan. Beberapa penolakan yang dihadapi kurator di Indonesia dalam usahanya
mengumpulkan harta debitur dapat membantu di sini.

2. Apakah Mengurangi Prioritas yang Diberikan Terhadap Otoritas Pajak Dapat


Meningkatkan Jumlah yang Ditagih Melalui Proses Kepailitan Melalui
Peningkatan Jumlah Pengajuan Kepailitan?

Seperti dapat dilihat dalam pembahasan di Bagian Kedua Angka 5 (sub materi C angka
5) di atas, terdapat kontroversi seputar posisi otoritas pajak yang sebenarnya dalam
hubungannya dengan penagih lainnya dalam perkara kepailitan. Tujuan dari bagian ini tidak
untuk menyelesaikan kontroversi tersebut berdasarkan undang-undang yang ada saat ini,
tetapi untuk menawarkan pendekatan dalam menetapkan kebijakan yang optimal berdasarkan
perundangan yang ada di kemudian hari.
Di banyak negara selama bertahun-tahun, negara diberikan hak yang istimewa dalam
hal kepailitan. Namun, selama lebih dari dua puluh tahun, beberapa yurisdiksi telah
mempertanyakan hak istimewa tersebut, dan meneliti secara mendalam biaya yang
ditimbulkan dan manfaat serta pijakan moral dari kebijakan tersebut. 34
Sama seperti pertanyaan mengenai juru sita swasta, suatu pembahasan mendalam
mengenai kebijakan ini adalah di luar lingkup tulisan ini. Cukup dikatakan disini bahwa
seharusnya fokus utama dari pengkajian lebih lanjut mengenai isu ini adalah pengaruh
perilaku akibat kebijakan ini versus pendapatan yang diperoleh.
Dalam hal pengaruh perilaku, tidak sulit dibayangkan pengaruh terhadap kreditor
preferen atas perlakuan istimewa yang dimiliki oleh otoritas pajak. Dibawah peraturan yang
ada saat ini, kreditor yang tidak dijamin tidak mendapatkan apa-apa, kecuali tagihan pihak
33
Di beberapa negara upaya reformasi tersebut menimbulkan permasalahan dimana juru sita swasta tidak lebih adalah
penagih hutang yang kejam dengan lisensi dari pemerintah. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi masalah lagi.
34
Di tiga negara ini, Australia, Selandia Baru, dan Inggris, hak istimewa tersebut telah dihapuskan.

93
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

otoritas pajak yang harus didahulukan telah dibayar penuh. Hal ini hampir menghabiskan atau
secara signifikan akan mengurangi pembayaran untuk kreditor yang tidak dijamin. Akibatnya,
kelompok ini tidak termotivasi untuk mengajukan perkara kepailitan dan hanya sedikit
termotivasi untuk secara aktif turut serta dalam perkara kepailitan.
Ironisnya disini adalah UU No. 37 memberikan kreditor yang tidak dijamin suatu hak
untuk mengawasi dan, sampai hal-hal tertentu, memberikan panduan dalam proses perkara.
Ketika tagihan pajak mengancam hilangnya motivasi bagi kreditor untuk berpartisipasi, sistem
pengawasan tidak berjalan. Tanpa adanya pengawasan, pihak-pihak lainnya hanya sedikit
termotivasi untuk bertindak secara jujur dan tekun.
Kebijakan yang memprioritaskan gugatan atas hutang pajak juga mempersulit upaya
yang dilakukan seorang kurator dalam menjual harta debitur yang dibebankan hak
tanggungan. UU Nomor 37 dan UU pajak terkait mengatur dengan jelas bahwa kurator harus
mentransfer hasil penjualan harta pailit kepada otoritas pajak guna membayar pajak terhutang
yang menjadi prioritas, bahkan termasuk hasil penjualan harta yang dibebankan hak
tanggungan. Tetapi, dalam menjual harta yang dibebankan hak tanggungan, kurator harus
bekerjasama dengan kreditur guna mendapatkan persetujuan tentang pelepasan hak
tanggungannya. Kreditur yang memiliki piutang dengan hak tanggungan mengetahui hal ini
dan seringkali menolak untuk melepaskan hak tanggungannya, kecuali semua piutangnya
dibayar secara penuh. Kantor Pertanahan sering memihak kepada pemilik hak tanggungan
dalam kasus ini.
Keadaan ini menjadikan kurator berada pada posisi yang sulit. Kurator harus menjual
harta debitur dan tunduk terhadap ketentuan membayarkan hasil penjualan tersebut atas
gugatan hutang pajak. Selain itu, kurator tidak dapat menjual harta debitur tanpa kerjasama
dari pemegang hak tanggungan. Hal ini mengakibatkan jalan buntu, dimana nilai harta
menurun sementara para pihak saling berargumentasi mencari solusi hukum atas masalah
tersebut. Tidak satu pihak pun yang akan menang dalam masalah ini.
Jika kebijakan-kebijakan perpajakan benar berlaku demikian, pembuat kebijakan harus
mempertimbangkan apakah dana yang diperoleh oleh kas negara memang setimpal.
Sayangnya, jumlah dana yang didapat setiap tahun oleh pembendaharaan negara melalui
kasus-kasus kepailitan sangatlah kecil dibandingkan sumber pendapatan lainnya. Salah satu
alasan rendahnya jumlah pengembalian tersebut kemungkinan bahwa banyak perusahaan
dan individu yang mengalami kesulitan finansial pada dasarnya tidak masuk dalam sistem
kepailitan, sebagian dikarenakan kebijakan perpajakan menjadikan para kreditur enggan untuk
mengajukan gugatan pailit.
Secara garis besar, hal ini mengakibatkan kebijakan perpajakan menjadi tidak efektif
dengan pilihan: menagih hutang pajak terhadap wajib pajak yang kurang mampu dengan
tingkat yang sangat tinggi, atau menagih hutang pajak terhadap wajib pajak yang mampu
dengan tingkat yang lebih rendah. Mengingat bahwa masyarakat luas secara umum
diuntungkan jika kesulitan finansial yang dialami perusahaan dan individu dapat diatasi, jika
pilihan atas dua opsi yang relatif hampir sama maka alangkah lebih baik memilih opsi yang
mendukung penyelesaian formal atas utang.
Tentu saja tidak diragukan lagi adanya pandangan-pandangan yang bertolak belakang
atas kebijakan ini. Sangatlah dimungkinkan adanya pandangan bahwa (a) negara menagih
utang pajak dalam jumlah besar dari perusahaan-perusahaan atau individu yang mengalami
kesulitan finansial hingga tidak dapat melanjutkan kegiatan usahanya diluar sistem kepailitan
(kemungkinannya kecil); dan (b) permasalahan lainnya yang terdapat dalam sistem kepailitan
akan menjadikan para pihak enggan untuk mengajukan gugatan pailit tanpa memperhatikan
prioritas pajak (kemungkinannya lebih besar). Banyak pihak juga mempertanyakan apakah
dengan menyelesaikan masalah finansial yang dihadapi melalui cara formal memberikan
manfaat sosial. Mungkin sebaiknya solusi atas masalah ini ditempatkan dalam area abu-abu
dimana para pihak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa terlalu banyak birokrasi
atau formalitas.

94
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

3. Haruskah Likuidator Perusahaan Di Luar Proses Kepailitan Dibuat Secara


Eksplisit dan Secara Penuh Bertanggung Jawab Terhadap Utang Perusahaan?

Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,


seseorang yang ditunjuk untuk melikuidasi perusahaan diluar proses kepailitan perlu
mengajukan permohonan kepailitan jika ia memperkirakan bahwa utang perusahaan melebihi
aset perusahaan. 35 Namun, undang-undang tidak memberikan sanksi ataupun konsekuensi
jika ia tidak melakukannya.
Situasi ini sangat tidak menguntungkan. Di banyak negara, posisi kreditor menjadi
sangat rentan ketika para pemegang saham memutuskan untuk melikuidasi perusahaan yang
berada dalam kesulitan diluar proses kepailitan. Likuidator yang ditunjuk oleh para pemegang
saham dalam hal demikian mempunyai insentif untuk lebih berpihak kepada mereka
dibandingkan kepada kreditor. Hal ini tidak menjadi masalah pada saat terdapat cukup aset
untuk membayar semua kreditor secara penuh. Tapi merupakan suatu sandiwara belaka bila
tidak.
Masalahnya adalah mengetahui kapan hal ini terjadi. Dalam banyak hal adalah tidak
mungkin untuk mengetahui kapan debitor dalam keadaan insolven sampai asetnya dilikuidasi
seluruhnya. Pada saat ini mungkin kerugian telah terjadi, akibat penjualan aset yang tidak
transparan atau melalui transaksi yang lebih mementingkan pemegang saham dibandingkan
kreditor.
Cara yang paling sederhana dalam menangani masalah ini adalah membuat likuidator
sepenuhnya bertanggung jawab (misalnya, bertanggung jawab tanpa memperhatikan
kesalahan yang ada) untuk tagihan kreditor yang belum terbayar bila ia melikuidasi sebuah
perusahaan diluar proses kepailitan dan hasil penjualannya tidak mencukupi. Hal ini akan
memaksa proses kepailitan diakhiri, yang memungkinkan kreditor konkuren untuk dapat lebih
menentukan bagaimana melaksanakan likuidasi. 36
Tentu saja, aturan demikian dapat menambah kerumitan dan ketidakpastian terhadap
suatu proses likuidasi yang dapat berdampak terhadap pemegang saham dan sejumlah besar
kreditor senior. Mungkin saja demikian. Dalam hal tersebut, tidak ada alasan mengapa
likuidator atau pemegang saham tidak dapat mengatur untuk memberikan kompensasi yang
cukup terhadap kreditor yang mempunyai resiko tidak terbayar, dengan membayarnya penuh
(dalam hal mana mereka tidak lagi menjadi kreditor) atau bila tidak membujuk mereka untuk
mengizinkan dilakukannya likuidasi diluar proses kepailitan.

E. Kesimpulan

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengajukan pertanyaan lebih daripada memberikan
jawaban. Tentunya, masih terdapat bias dalam makalah ini. Kecenderungan untuk memihak
beberapa kebijakan mungkin terlihat di beberapa pembahasan. Namun demikian perlu
ditekankan disini bahwa walaupun terdapat praktek internasional terbaik dalam kepailitan,
keputusan mengenai kapan dan bagaimana menerapkan prinsip-prinsip ini dalam situasi yang
ada, harus ditentukan oleh Indonesia.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat memulai pembahasan tentang hal tersebut.
Kepailitan adalah suatu bidang hukum dimana dampaknya terhadap penduduk jauh
melampaui kepentingan umum yang terdapat di dalamnya. Sayang sekali hanya sedikit orang
yang benar-benar peduli terhadap masalah kepailitan. Sepanjang tulisan ini bermanfaat bagi
kalangan yang berminat terhadap masalah ini, terdapat kemungkinan yang lebih besar dimana
Indonesia dapat meraih sukses dalam perjalanannya menuju pembaharuan.

35
Undang-undang No 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Pasal 150.
36
Lihat Pasal 187 UU No. 37 (membahas suatu krapat kreditor tentang prosedur likuidasi).

95
Materi VIII Prosiding Seminar Nasional Kepailitan
Daniel J. Fitzpatrick, Esq. USAID In ACCE Project & AKPI

Lampiran 1
Metodologi dan Hasil dari Penilaian Kerumitan dalam Perundang-undangan

Untuk setiap peraturan perundang-undangan, kami mengidentifikasi Bahasa dalam pasal-


pasal yang mereferensi pembacanya untuk melihat pasal lain di dalam UU yang
bersangkutan. Kemudian, kami menghitung referensi ini dengan menggunakan program
Adobe Reader’s Search.

Hasilnya adalah sebagai berikut:

Referensi Silang antar pasal ‐ Perbandingan dalam beberapa UU Kepailitan

400
350
300
250
Jumlah Pasal
200
Jumlah Referensi Silang
150
100
50
0
UU Kepailitan UU Kepailitan UU Kepailitan UU Kepailitan
Indonesia Belanda Cina Serbia

Referensi silang antar pasal ‐ Perbandingan antara UU Kepailitan 
dan UU Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PHI)

350
300
250
200 Jumlah Pasal
150 Jumlah referensi silang

100
50
0
UU Kepailitan UU
Penyelesaian
PHI

Penulis memahami bahwa banyaknya referensi silang antar pasal bukan suatu indikator yang
sempurna atas rumitnya suatu undang-undang.

96
APENDIKS

Perilaku Peserta
Seminar Nasional tentang Kepailitan

Pendahuluan dan Hasil Ringkasan

Pada tanggal 29 Oktober 2008 Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI)
bekerjasama dengan Proyek Peningkatan Pengadilan Tipikor dan Pengadilan Niaga –
Indonesia yang didanai oleh USAID (Proyek “In-ACCE”) menyelenggarakan seminar nasional
tentang kepailitan.
Sebanyak lebih dari 220 orang diundang untuk menghadiri seminar ini. Namun, sekitar
130 undangan yang menghadiri seminar ini. Peserta yang hadir sebagian besar terdiri dari
kurator, kreditor, hakim dan pihak lain yang tertarik dengan praktek kepailitan di Indonesia.
Peserta yang hadir mewakili sebagian kecil dari populasi yang memperhatikan permasalahan
kepailitan. In-ACCE berpendapat bahwa hal ini penting guna mendapatkan masukan-masukan
tentang reformasi atau perbaikan apa yang mungkin memberikan pengaruh terbesar.
Hasil kuesioner yang dibagikan menunjukkan bahwa para peserta mengharapkan
adanya peningkatan transparansi dan kompetensi para hakim. Peserta terlihat kurang tertarik
dengan permasalahan yang berpotensi timbul akibat tindakan korupsi di peradilan. Peserta
juga sangat antusias terhadap penyederhanaan dan kejelasan tentang bagaimana
pengkategorian status kreditor.

Metodologi

Selama seminar berlangsung, In-ACCE membagikan 2 (dua) buah kuesioner kepada


para peserta. Kuesioner pertama dibagikan kepada peserta ketika baru datang yang
berisikan “daftar harapan” tentang perbaikan-perbaikan dalam praktek kepailitan. Para peserta
dimintakan untuk memilih 3 (tiga) dari beberapa perbaikan yang ditawarkan dalam daftar yang
dianggap sebagai pengaruh yang paling positif. Formulir kuesioner terlampir dalam Lampiran
1. Pada akhir seminar, In-ACCE telah mengumpulkan sebanyak 68 (enam puluh delapan)
kuesioner yang telah diisi oleh peserta.
Kuesioner kedua dibagikan pada saat presentasi yang dilakukan oleh tenaga ahli In-
ACCE, Daniel Fitzpatrick,. Bapak Daniel Fitzpatrick mempresentasikan sejumlah rekomendasi
kebijakan dalam mereformasi kepailitan. Setiap rekomendasi ditampilkan dalam bentuk
pertanyaan. Misalnya, pertanyaan 1:

Saat ini kurator melakukan pemberesan dalam suatu perkara kepailitan karena
diminta/dipilih oleh pihak pemohon. Haruskah kurator, dalam menangani
perkara kepailitan, dipilih berdasarkan rekomendasi organisasi kurator
daripada dipilih oleh pemohon?

Setelah mendengarkan argumentasi singkat yang diperagakan oleh staf In-ACCE,


para peserta diminta untuk mengangkat kartu merah atau kartu hijau di atas kepala masing-
masing. Kartu merah berarti peserta tidak setuju atas rekomendasi. Kartu hijau berarti peserta
setuju dengan rekomendasi. Latihan ini didokumentasikan dengan pengambilan foto.
Diperkirakan sekitar 80 (delapan puluh) peserta mengambil bagian dalam latihan ini.

Hasil

Survei Daftar Harapan

Dari sejumlah jawaban atas daftar harapan tentang perbaikan sistem kepailitan yang
diperoleh, tiga pilihan yang paling banyak diminati adalah:

97
Perbaikan yang diharapkan Proporsi Pilihan
Peserta
1. Para hakim memiliki kemampuan yang lebih baik untuk dapat 44%
menghasilkan putusan yang adil, rasional dan cepat atas perkara
Kepailitan dan PKPU. (ditekankan di awal).
2. Pihak yang berkepentingan dapat memantau penyelesaian perkara 41%
kepailitan dan PKPU dengan mudah dan murah dengan dilakukannya
persidangan dan pemberkasan perkara secara transparan..
3. Mereka yang menyalahgunakan atau menghambat efektivitas perkara 41%
Kepailitan dan PKPU akan diberikan sanksi yang layak (contohnya
denda, pidana penjara).

Tidak ada harapan lain yang mendekati kebenaran. Tiga harapan setidaknya popular
adalah sebagai berikut:

Perbaikan yang diharapkan Proporsi Pilihan


Peserta
1. Prosedur mengenai pengumpulan utang unilateral diperbaiki sehingga 4%
perusahaan dan individu dapat mengajukan permohonan Pailit dan
PKPU sebagai upaya perlawanan.
2. Aturan mengenai peringkat kreditur dibuat lebih mudah dimengerti, 10%
tanpa menghiraukan pihak yang harus didahulukan atau tidak.
3. Para hakim memiliki insentif yang lebih baik dalam menghasilkan 12%
putusan yang adil, rasional dan cepat atas perkara Kepailitan dan PKPU
(ditekankan di awal).

Pengambilan Suara atas Rekomendasi Kebijakan

Pengambilan suara tentang rekomendasi dicatat melalui pengambilan gambar dengan


kamera. Secara umum, gambar dalam foto dihitung oleh Bapak Daniel Fitzpatrick saat beliau
berdiri di atas podium pembicara. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Usulan Kebijakan Setuju, Tidak Setuju,


atau Ragu-ragu?

1. Saat ini kurator melakukan pemberesan dalam suatu perkara Tidak Setuju
kepailitan karena diminta/dipilih oleh pihak pemohon. Haruskah
kurator dalam menangani perkara kepailitan dipilih berdasarkan
rekomendasi AKPI dan/atau IKAPI daripada dipilih oleh pemohon?
2. Haruskah kreditor yang sukses memohon pailit diberikan status Tidak Setuju
sebagai kreditor yang didahulukan dalam kaitannya dengan
pembayaran tagihannya?
3. Haruskah peringkat berbagai tagihan ditentukan secara Setuju
eksklusif melalui prioritas yang terdaftar dalam UU Kepailitan?
4. Haruskah masing-masing pengadilan niaga diberikan wewenang Tidak Setuju
untuk membuat aturan sendiri untuk mengklarifikasi dalam praktek
berdasarkan UU Kepailitan?
5. Haruskah debitor perorangan dibolehkan dibebaskan dari Setuju
kewajibannya jika mereka dapat menunjukkan telah kooperatif
dalam menyerahkan semua aset-asetnya kepada kreditor?
6. Haruskah UU Kepailitan mewajibkan agar setiap putusan oleh Setuju
hakim dalam perkara kepailitan dipublikasikan dalam situs
internet agar dianggap sah?

98
Usulan Kebijakan Setuju, Tidak Setuju,
atau Ragu-ragu?

7. Haruskah tagihan pajak dan buruh dimasukkan sejajar dengan Tidak Setuju
tagihan kreditor konkuren?
8. Haruskah hubungan antara kurator dan hakim dibatasi dalam sidang Ragu-ragu
pengadilan dan permohonan formal?
9. Haruskah kurator dibolehkan melaksanakan putusan pengadilan Tidak Setuju
dalam perkara-perkara kontrak dan perkara penyitaan hak
tanggungan?

Interpretasi dan Kesimpulan

Pertama-tama, disclaimer. Kuesioner yang diisi oleh para peserta selama seminar
berlangsung bukan dibuat oleh tenaga yang profesional di bidang polling. Besaran sampel
relatif kecil jumlahnya dan banyak pertanyaan yang tidak mempengaruhi respon peserta.
Namun demikian, dalam kondisi dimana informasi tentang perilaku kepailitan cukup terbatas,
hasil sampel memiliki beberapa nilai marjinal. Setidaknya, hasil sampel memberikan beberapa
masukan tentang pilihan-pilihan spontan dari orang-orang yang terlibat dan tertarik dengan
praktek dan reformasi kepailitan di Indonesia.

Minat terhadap Transparansi yang Lebih Besar

Berbagai LSM telah menuntut beberapa lembaga pemerintah Indonesia agar


meningkatkan transparansi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Hasil sampel
menunjukkan keinginan yang besar dan menyeluruh dari para peserta atas terciptanya
transparansi yang lebih besar.
Diantara perbaikan yang diharapkan dalam daftar harapan, terdapat satu harapan,
dimana setiap pihak yang berkepentingan dapat memantau penyelesaian perkara kepailitan
dan PKPU dengan mudah dan murah, paling banyak dipilih dalam urutan nomor dua.
Hal ini kemudian berbalik ke jajak pendapat tentang rekomendasi kebijakan.
Rekomendasi yang mewajibkan putusan pengadilan agar dipublikasikan dalam situs Internet
dalam rangka pengesahan, mendapat respon dukungan yang banyak (dalam foto yang
diambil menghasilkan setidaknya sekitar 80% setuju atas rekomendasi ini). Hasil jajak
pendapat ini cukup mengejutkan; upaya reformasi tersebut akan sangat progresif. Beberapa
Negara telah mengambil langkah ini.
Akan tetapi, salah satu peserta, setelah dilakukannya jajak pendapat, mengamati
bahwa walaupun langkah tersebut cukup radikal, akan tetapi nampaknya memungkinkan,
dengan merujuk kepada semua kesulitan di masa lalu dalam memperoleh data dan
dokumentasi dari pengadilan.

Perbaikan dalam hal Kompetensi Lebih Penting daripada Perbaikan dalam hal Kejujuruan dan
Integritas Para Hakim

Perbaikan yang paling diharapkan diantara harapan yang ditawarkan dalam daftar
tersebut adalah bahwa hakim seharusnya memiliki “kemampuan yang lebih dalam membuat
putusan-putusan pailit dan PKPU yang adil, rasional dan cepat” (ditekankan di awal).
Tepat dibawah pertanyaan tersebut adalah pernyataan yang hampir sama, akan tetapi
secara krusial merupakan perbaikan yang berbeda: bahwa hakim seharusnya memiliki
“insentif yang lebih besar dalam membuat putusan-putusan pailit dan PKPU yang adil,
rasional dan cepat” (ditekankan di awal). Hanya sebesar 12% dari responden yang terdaftar
yang menganggap bahwa perbaikan ini akan memiliki pengaruh yang sangat besar.

99
Kurangnya perhatian dalam memperbaiki integritas dan kejujuran tergambarkan dari
jawaban tentang rekomendasi kebijakan dalam hal pembatasan hubungan antara kurator dan
hakim “dalam sidang pengadilan dan permohonan formal.” Dukungan atas rekomendasi ini
adalah ragu-ragu.

Minat terhadap Penyederhanaan yang Lebih Besar

Beberapa responden berharap “agar aturan tentang peringkat kreditor dibuat agar
dapat diprediksi dan lebih mudah dipahami terlepas siapa yang didahulukan dan siap yang
tidak.” Perbaikan ini adalah urutan nomor dua yang paling tidak populer.
Akan tetapi, pada sesi akhir seminar, rekomendsai agar peringkat tagihan “dibuat
secara eksklusif melalui prioritas yang terdaftar dalam UU Kepailitan” sangat didukung oleh
peserta.
Hal yang bertolak belakang ini kemungkinan dijelaskan melalui diskusi yang panjang
dan kompleks diantara para pembicara tentang prioritas urutan kreditor. Dengan melihat
adanya beberapa ahli yang setuju tentang bagaimana menginterpretasikan antara ketentuan
UU Kepalitan, KUH Perdata, UU Perpajakan dan UU di bidang Perburuhan, para peserta
terbukti memberikan kesimpulan bahwa kejelasan dan penyederhanaan atas peringkat
kreditor sangatlah diperlukan.

100
Lampiran 1
Contoh Kuesioner yang Dibagikan pada Awal Seminar

Terdapat banyak aspek dalam suatu perkara Kepailitan atau PKPU, yang jika diperbaiki, dapat
mempengaruhi bagaimana perkara tersebut dapat ditangani.
Dari DUA BELAS (12) perbaikan di bawah ini, pilih TIGA (3) yang dapat memberikan pengaruh
terbesar dalam hal penyelesaian perkara secara lebih cepat, efisien, dan dapat diprediksi.
Tentukan tiga pilihan dari daftar di bawah ini Beri Tanda “X”

Saya berharap agar…


1. Hakim yang memeriksa suatu perkara kepailitan akan mengawasi pelaksanaan
putusan perkara tersebut hingga tuntas.
2. Undang-undang Kepailitan dan Penyelesaian Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU) dibuat lebih pendek, sederhana dan modern
3. Pihak yang berkepentingan dapat memantau penyelesaian perkara kepailitan
dan PKPU dengan mudah dan murah dengan dilakukannya persidangan dan
pemberkasan perkara secara transparan
4. Para kurator dapat lebih mudah mengambil alih aset-aset debitur yang telah
dinyatakan pailit
5. Metode penjualan aset debitur pailit diperbaiki sehingga dapat diperoleh harga
pasar yang realistis tanpa melakukan pelelangan berulang kali
6. Para hakim memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghasilkan putusan
yang adil, rasional, dan cepat atas perkara Kepailitan dan PKPU
7. Para hakim memiliki insentif yang lebibh baik dalam menghasilkan putusan
yang adil, rasional, dan cepat atas perkara Kepailitan dan PKPU
8. Terdapat pembatasan terhadap kriteria kreditur preferen, sehingga untuk
tagihan tertentu, seperti upah buruh dan pajak, dapat ditempatkan sebagai
kreditur konkuren lain
9. Peraturan peringkat kreditur dibuat lebih mudah dimengerti, tanpa
menghiraukan pihak yang harus didahulukan atau tidak.
10. Dibuatkan suatu prosedur yang membantu kurator Indonesia untuk
memperoleh aset-aset di luar negeri dan pada waktu yang sama mengizinkan
kurator asing untuk memperoleh aset-aset yang berada di Indonesia
11. Prosedur pengumpulan utang unilateral diperbaiki sehingga perusahaan dan
individu dapat mengajukan permohonan Pailit dan PKPU sebagai upaya
perlawanan
12. Mereka yang menyalahgunakan atau menghambat efektifitas perkara
Kepailitan dan PKPU akan diberikan sanksi yang layak (contohnya denda,
pidana penjara)

Apakah harapan anda tidak ada di atas? Jelaskan harapan anda di bawah ini:

1. ________________________________________________________________

2. ________________________________________________________________

3. ________________________________________________________________

NAMA ANDA: ___________________________________________


(jika anda tidak keberatan, kami menindaklanjuti harapan/keinginan anda)
Serahkan daftar harapan ini. Kami akan mengumpulkan, memilah dan mengungkap harapan
yang paling populer di ujung hari.

101
Lampiran 2
Contoh Bagaimana Pengambilan Suara Dilakukan

102
Indeks

Actio Pauliana, 40 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 37, 38, 39,
Advokat, 2, 17, 36 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50,
badan hukum, 16, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 51, 52, 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 83,
25, 26, 28, 30, 47, 51, 52 85, 86, 88, 94
buruh, 8, 13, 15, 29, 86, 87 pajak, 12, 13, 14, 15, 16, 39, 85, 86, 93, 94
Debitor, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 25, 36, 37, 47, Panitia Kreditur, 37, 41
48, 70, 71, 80, 83, 88 paritas creditorum, 12, 15
Faillessements Verordening, 9 pemberesan, 1, 3, 5, 14, 15, 17, 19, 28, 31,
Faillissements Verordening, 1 32, 33, 34, 35, 36, 37, 42, 43, 44, 45, 48,
fidusia, 5, 7, 47, 51 50, 51, 52, 78
gadai, 5, 7, 47, 51 Penetapan, 4, 5, 7, 44, 68
hak tanggungan, 5, 7, 47, 51, 84, 86, 89, Pengadilan Negeri, 2, 5, 7, 25, 28, 42, 91,
92, 94 92
Hakim Pengawas, i, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 12, Pengadilan Niaga, 1, 2, 3, 4, 5, 8, 10, 12,
16, 36, 39, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 52, 14, 17, 18, 20, 22, 23, 24, 25, 27, 28, 29,
68, 78 30, 31, 32, 33, 34, 35, 40, 42, 43, 46, 47,
harta pailit, 1, 2, 3, 5, 7, 12, 13, 14, 15, 16, 48, 49, 50, 51, 68, 70, 80, 81, 82, 91
17, 18, 19, 28, 33, 35, 36, 37, 38, 39, 43, pengurusan, 1, 5, 15, 17, 19, 21, 27, 28,
44, 45, 46, 47, 48, 50, 51, 52, 78, 82, 85, 31, 34, 35, 36, 37, 42, 43, 44, 45, 52, 69
94 Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,
hipotik, 5, 7, 51 i, 1, 9, 12, 17, 28, 41, 42, 68, 69, 76
insolvensi, 14, 15, 16, 33, 49, 50, 76, 85 perdamaian, 2, 3, 4, 5, 33, 48, 49, 50, 76,
Kasasi, 2, 5, 6, 20, 22, 23, 24, 25, 27, 29, 83, 87
30, 31, 32, 68 pernyataan pailit, 1, 2, 7, 19, 22, 27, 29,
kepailitan, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 37, 39, 42, 44, 45, 46, 70, 83
12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 26, 27, 29, persekutuan, 19, 20, 21, 22, 23
32, 33, 34, 35, 37, 40, 41, 42, 43, 44, 45, piutang, 2, 3, 7, 9, 13, 14, 15, 17, 18, 24,
46, 48, 49, 50, 51, 52, 69, 70, 71, 72, 73, 27, 34, 35, 36, 37, 38, 47, 48, 49, 50, 51,
74, 75, 76, 77, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 69, 70, 72, 74, 85, 86, 94
87, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95 preferen, 13, 15, 51, 83, 93
Konkuren, 4, 5, 6, 7, 15 Putusan, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 16, 17, 20,
Kreditor, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 14, 15, 25, 37, 22, 23, 24, 25, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 34,
43, 44, 51, 70, 76, 77, 78, 80, 81, 83, 85, 51, 68, 83, 84, 92
89 Rapat Kreditor, 2, 3, 77
KUH Perdata, 12, 13, 15, 19, 20, 23, 25, renvooi, 2, 48
26, 31, 34, 51 Separatis, i, 4, 5, 12, 13, 14, 15
Kurator, i, 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9, 12, 13, 14, 15, serta merta, 1, 8, 42
16, 17, 28, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, Staatsblad, 9
40, 41, 42, 43, 68, 70, 77, 79, 80, 81, 84, teritorial, 89
88, 89, 94 tindak pidana, 14, 39, 70, 71, 72, 74, 75,
lelang, 14, 40, 51, 71, 75, 78, 79, 84, 88, 81
92 transnasional, 89
Likuidator, 15, 31, 32, 33, 35, 95 universal, 86, 89, 90
Mahkamah Agung, 10 verifikasi, 2, 7, 15, 43, 46, 47, 48, 49, 50,
Majelis Hakim, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 29, 74
30, 31, 32, 33, 42, 48 wanprestasi, 24, 25
pailit, 1, 2, 3, 5, 6, 7, 8, 12, 13, 14, 15, 16,
17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27,

103
Notes:

104