P. 1
Dwi Fungsi ABRI

Dwi Fungsi ABRI

|Views: 4,205|Likes:
Dipublikasikan oleh Ricky Tea

More info:

Published by: Ricky Tea on Oct 14, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2013

pdf

text

original

Dwi Fungsi ABRI: Sebuah Kesalahan Sejarah?

PENGUPASAN sejarah Doktrin Dwifungsi ini memang penting, namun sudah waktunya dibutuhkan perdebatan-perdebatan secara terbuka dan referensi pembanding untuk semakin menguji kesahihan data dan analisis sejarah agar, generasi esok dapat menilai secara transparan. Niat baik Salim Said sebagai pengamat militer yang juga banyak bergaul dengan militer semenjak berdirinya Orde Baru harus mendapatkan penghargaan, karena buku ini penting. Buku ini berusaha mengupas pertanyaan-pertanyaan penting, bagaimana riwayat kelahiran dan perkembangan doktrin Dwifungsi, dan mengapa doktrin ini dapat bertahan selama tiga dasa warsa. Salim Said berusaha mengupas dengan dua pisau analisa yaitu dari sudut citra diri TNI, dan sudut hubungan militer dan politik sipil, bermuara pada satu kesimpulan yaitu ingin mengatakan bahwa doktrin tersebut sebenarnya baik hanya saja diselewengkan. Analisis diatas merupakan salah satu pandangan yang mewakili pembelaan terhadap doktrin Dwifungsi itu sendiri, dengan secara dingin melihat ekses yang muncul dalam persoalan HAM, Demokrasi dan efisiensi dan efektifitas bernegara. Dwi fungsi sebagai sebuah sistim yang telah diselewengkan oleh Soeharto dan Orde Barunya dari doktrin awal Nasution. Pandangan besar yang lain yang mewakili oposisi terhadap doktri Dwifungsi ini adalah bahwa Dwifungsi ABRI secara murni memang hanya untuk memastikan legitimasi kepentingan penguasaan ekonomi-politik tentara dari struktur nasional sampai yang terendah, sehingga sewaktu legitimasi itu dicabut, berbagai respon dari bagian-bagian tentara ikut mempengaruhi politik dan keamanan negara. Hal ini merupakan garis analisis peneliti semacam George Junus Aditjondro dan kawan-kawan. Juga merupakan pandangan sejumlah aktivis kiri, yang pernah menjadikan pencabutan Dwi fungsi ABRI dan 5 UU Politik sebagai program perjuangan melawan Orde Baru. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap penulis, namun terasa data-data yang dikemukakan terlalu dipaksakan untuk membenarkan alur analisis diatas. Misalnya saja soal PRRI dan Permesta, adalah tidak benar J. Warouw, Kawilarang dan Sumual termasuk dalam barisan anti pusat dan anti Soekarno. Mengapa Salim Said tidak mengungkap bahwa lahirnya PRRI dan Permesta berawal dari konflik intern angkatan darat antara Nasution dan perwira-perwira lainnya, yang berlanjut dengan kemarahan dan protes perwira di daerahdaerah justru terhadap Nasution sendiri. Dasar dari analisa Salim Said pada persoalan antara Soekarno dan militer sampai kelahiran Dwifungsi dan Orde Baru diwarnai dengan politik anti komunis pada waktu itu, yang belakangan bertemu degan kepentingan blok barat dan keberhasilan tentara mengambil alih kekuasan Hal ini benar, namun harus ditambahkan catatan bahwa warna politik yang pernah ada di bangsa ini merupakan sebuah kesalahan sejarah yang berakibat fatal karena latar belakang itulah yang menjadi landasan berdirinya rezim diktaktor militer-Orde Baru yang mengorbankan rakyatnya sendiri selama 30-an tahun. Penghapusan Dwifungsi ABRI adalah adalah satu pilar utama tuntutan dalam perlawan rakyat terhadap Orde Baru. Karena ekspose yang luas tentang pelanggaran HAM, anti demokrasi dan in-efisiensi birokrasi, yang menjadi warna kediktaktoran Orde Baru Soeharto telah sampai kekalangan rakyat menengah sampai bawah. Sehingga ketika hak politik ABRI yang selama ini melegitimasikan kekuasaan mereka dalam Orde Baru, harus dicabut secara resmi oleh Panglima TNI, Laksmana Widodo Adisubroto, 20 April 2000, mengharuskan tentara untuk benar-benar menjadi profesional hanya pada persoalan pertahanan negara. Pemisahan antara TNI dan Polri sebagai salah satu konsekwensi pencabutan Dwi-fungsi ABRI, masih mendatangkan ekses instabilitas, akibat beralihnya penguasaan keamanan dari tangan tentara ke polisi. Hal ini disebabkan ”lahan subur” di bidang keamanan harus diserahkan ke Polri. Persoalan yang mendesak sekarang, adalah bagaimana mengatasi ekses pencabutan Dwifungsi tersebut. Pertanyaan ini seharusnya ditujukan pada penguasa sipil demi supremasi sipil. Karena saatnya politik sipil baik legilatif maupun eksekutif tegas mengontrol militer di bawah TNI. Kontroversi terbaru adalah persoalan militer yang memegang jabatan sipil. Seorang perwira

Tidak mungkin kedua jabatan publik boleh dipegang oleh satu orang. Walau demikian tak bisa dilupakan bahwa antara pencipta. Pikiran semacam ini yang ternyata cukup kuat dikalangan perwira TNI generasi sekarang. walau harus menghadapi tekanan kaum konservatif dalam TNI dan desakan dari kekuatan masyarakat sipil agar reformasi didalam tubuh TNI dipercepat. pejabat publik ada dua yaitu sipil dan militer. karena ini akan justru mengacaukan konsistensi tanggung jawab dan wewenang. pelaksana dan doktrin beserta sistim dari Dwifungsi ABRI itu sendiri menjadi satu kekuatan dalam sejarah bangsa ini. (web) .tinggi menjelaskan bahwa.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->