Anda di halaman 1dari 5

Bayu Krisnamurthi

KECENDERUNGAN PROSES PEMBARUAN PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA

Jika kita yakin bahwa kebenaran dan kebaikan itu datangnya dari Tuhan Yang Maha Benar
dan Maha Baik, maka kita juga tentu yakin bahwa proses mencari kebenaran dan kebaikan
itu pada akhirnya akan menang menghadapi segala rintangan dan kendala yang
menghalangi jalur perjalanannya. Dan jika kita percaya akan hal tersebut maka sebenarnya
arus proses mencari kebenaran dan kebaikan itulah sesungguhnya hakekat realita
kehidupan. Segala sesuatu yang mencoba menghalangi atau membendung merupakan
sesuatu yang bertentangan dengan realita, dan sebaliknya realita akan sejalan seiringan
dengan kebenaran dan kebaikan. Sebagai mahluk yang menghamba kepada kehendak
Tuhan, manusia sebenarnya hanya memiliki dua tugas, yaitu untuk terus mempelajari,
memahami dan menghayati arti dan wujud kongkrit kebenaran dan kebaikan itu; serta terus
menerus berusaha, berikhtiar untuk mewujudkannya. Bagi manusia, pertanggung-jawaban
yang harus diberikan adalah mengenai bagaimana proses pemahaman tersebut terus
dikembangkan dan bagaimana konsistensi usaha dan ikhtiar yang dilakukannya. Hasil paling
akhirnya sudah pasti: kebenaran dan kebaikan akan menang; manusia tidak dapat
mempengaruhi hal tersebut. Manusia hanya menikmati hasil dari pemahaman dan ikhtiar
yang dilakukannya.

***

Pemikiran dasar di atas kiranya berlaku untuk setiap aspek kehidupan di dunia ini, termasuk
-bahkan mungkin terutama- dalam kegiatan ekonomi. Bahwa memang terdapat
kecenderungan pembaruan menuju kebenaran dan kebaikan ekonomi yang bergerak
sepanjang sejarah manusia. Hal tersebut dapat dilihat dengan mencermati tonggak-tonggak
sejarah perkembangan ekonomi dunia mulai dari perekonomian pada masa awal sejarah,
perkembangan ekonomi di Yunani, di Cina, di Jazirah Arab, perdagangan Timur-Barat,
hingga ke Depresi tahun 1930-an, kemerdekaan bangsa-bangsa setelah Perang Dunia, apa
yang disebut sebagai "Asian Miracle" dan krisis ekonomi Asia, serta rangkaian teori yang
dihasilkan oleh para peraih hadiah Nobel. Perkembangan tersebut sejalan dengan
perkembangan peradaban manusia, dan tampaknya terdapat suatu kecenderungan pokok
bahwa ekonomi -dan ilmu ekonomi- semakin realistis mencoba untuk selalu lebih dapat
mencerminkan kehidupan manusia dan masyarakat yang kompleks. Dalam tataran teori dan
konsep, ilmu ekonomi semakin banyak membahas berbagai hal yang pada kondisi riilnya
dalam masyarakat memang menentukan keputusan ekonomi yang sebelumnya hampir selalu
menjadi objek asumsi "ceteris paribus". Aspek-aspek seperti informasi yang tidak sempurna,
adanya harapan (ekspektasi) yang rasional dalam pengambilan keputusan, adanya pengaruh
demokratisasi terhadap penanggulangan kemiskinan, atau kesatuan keputusan produksi dan
konsumsi dalam rumah tangga semakin mendapat perhatian dalam pembahasan teori.

Kondisi tersebut kemudian juga beriringan dengan perkembangan yang terjadi pada ilmu
ekonomi yang dipergunakan sebagai "panduan" dalam merancang proses pembangunan
ekonomi, sehingga pada gilirannya proses pembangunan itu sendiri juga mengalami
perkembangan. Lingkaran deduktif-induktif yang terdiri dari (1) teori dan konsepsi ekonomi;
(2) strategi pembangunan ekonomi; dan (3) realitas ekonomi; menjadi "roda" yang
memfasilitasi berjalannya pemahaman terhadap perkembangan arus besar pembaruan
pembangunan ekonomi. Jika hal tersebut dicermati untuk konteks Indonesia -katakanlah
dalam lima tahun terakhir- maka akan diperoleh gambaran mengenai arus besar
kecenderungan pembaruan apa yang tengah bergerak membentuk ekonomi Indonesia yang
lebih baik.

Pertama, kecenderungan perkembangan yang sangat kuat untuk menuju pada kegiatan
ekonomi yang adil tanpa eksploitasi dan penindasan. Kita sama menyadari bahwa
Indonesai telah (pernah) mengalami kondisi perekonomian di bawah rezim yang otoriter
dalam berbagai bentuknya mulai sejak penjajahan hingga masa pergantian abad.
Otoriterisme hampir selalu menghasilkan ekonomi yang eksploitatif dan penuh penindasan,
tidak hanya kepada manusia tetapi juga kepada alam dan lingkungan. Otoriterisme juga
cenderung melahirkan dominasi yang juga sering kali melahirkan eksploitasi. Sifat yang
otoriter dan dominatif yang juga sering sekali melahirkan eksploitasi. Sifat yang otoriter dan
dominatif tersebut umumnya lahir dari pandangan yang terlalu mengedepankan persaingan
serba bebas (free fight liberalism) dengan dukungan paradigma kekuasaan yang kuat.

Arus proses menuju ekonomi yang adil itulah sebenarnya yang mendorong kita menjebol
rezim otoriter yang telah berkuasa sekian lama di Indonesia. Pertumbuhan material yang
dihasilkan rezim otoriter itu memang tinggi, tetapi ternyata dihasilkan dari proses yang sangat
eksploitatif. Alam dieksploitasi tidak berkesudahan. Ribuan hektar hutan berikut isinya
musnah, lautan dikuras tanpa henti, bumi pertambangan dikeruk hingga hanya menyisakan
tanah yang membatu. Kondisi itu tentu memiliki korelasi yang jelas dengan pemberian hak-
hak pengusahaan hingga jutaan hektar pada beberapa gelintir orang, dan pemberian konsesi
pertambangan yang tidak terkontrol. Buruh juga dieksploitasi. Upah buruh yang murah justru
dinyatakan sebagai faktor keunggulan. Posisi buruh selalu diusahakan untuk tetap berada
pada sisi yang lemah dengan dalih karena besarnya supply tenaga pada pasar kerja. Sifat
"ilegal" dari buruh yang sekarang menjadi masalah sebenarnya sudah mendapat
"pembenaran" lama di dalam negeri sebelum mereka berangkat ke tanah seberang. Petani
merupakan korban eksploitasi berikutnya. Harga produk pertanian yang harus dijaga stabil
pada tingkat yang rendah dipandang menjadi salah satu komponen strategi utama
pembangunan secara keseluruhan karena hal itu akan berarti pula pada dapat
dipertahankannya upah buruh yang murah. Kondisi eksploitatif tersebut juga menimbulkan
"paradox": produksi pertanian harus ditingkatkan tetapi insentif natural untuk meningkatkan
produksi tersebut (harga) tidak (boleh) diberikan. Dan kita akhirnya tidak lagi dapat menerima
perlakuan yang tidak adil dan eksploitatif itu dan menggulirkan proses reformasi.

Kecenderungan kedua dalam perkembangan perekonomian Indonesia adalah apresiasi


yang makin tinggi terhadap keberagaman. Indonesia merupakan negara dengan ciri
keragaman yang sangat tinggi. Ribuan pulau, puluhan suku bangsa, puluhan dialek dan
bahasa, ribuan spesies fauna dan varietas tanaman, dan puluhan jenis bentuk ekosistem
merupakan beberapa bentuk keragaman Indonesia. Jika kita percaya bahwa apa yang
diciptakan Tuhan selalu merupakan yang terbaik bagi manusia, maka proses perkembangan
ekonomi akan selalu mengarah pada apresiasi yang semakin tinggi terhadap keberagaman
tersebut. Dilihat dari dimensi dunia maka akan sangat sulit bagi Indonesia untuk unggul
bersaing jika basis keunggulannya adalah efisiensi. Efisiensi ekonomi yang hampir selalu
berarti proses produksi yang seragam dan kontinyu mensyaratkan adanya skala usaha yang
cukup besar untuk itu. Ini merupakan ciri keunggulan negara "benua" seperti Amerika Serikat,
Australia, atau Cina. Itulah sebabnya -misalnya- petani kita sangat sulit bersaing dengan
petani dari negara-negara tersebut jika basis keunggulan persaingannya adalah efisiensi.
Tetapi petani kita akan unggul justru jika mengusahakan kegiatan-kegiatan pertanian yang
khas dan unik. Salak pondoh, beras Cianjur atau beras Rojolele, kayumanis Kerinci, talas
Bogor, duku Palembang, rambutan Binjai, pisang Barangan, dan lain-lain unggul terutama
bukan karena tingkat efisiensi produksi yang dicapainya tetapi lebih karena aspek
diferensiasinya yang menonjol. Demikian juga kegiatan ekonomi di Bali, Jogja, Jepara, atau
karya batik Iwan Tirta, yang relatif tidak terpengaruh oleh krisis finansial (penurunan kegiatan
ekonominya lebih karena faktor keamanan) memiliki basis keunggulan diferensiasi.

Keberagaman juga sebenarnya merupakan hal yang paling mendasar yang membuat
ekonomi berjalan. Bayangkan, jika di pasar semua pedagang menjual produk yang seragam
maka tentu tidak akan terjadi transaksi. Dalam keseharian kita berekonomi maka kita
cenderung untuk lebih senang dan nyaman pada suasana dimana terdapat banyak pilihan.
Itulah yang menjadi faktor pendorong berkembangnya supermarket, misalnya. Oleh sebab itu
keberagaman dalam kegiatan ekonomi semakin menjadi keharusan yang tidak terbendung.
Hal ini juga didukung oleh kenyataan bahwa selain berlainan dengan kodrat manusia yang
memang berbeda satu sama lain, keseragaman yang berlebihan ternyata juga telah
menimbulkan berbagai kerusakan. Contoh-contoh bisa dikemukakan dalam berbagai
kegiatan ekonomi, seperti terlihat pada penyeragaman koperasi, monokulturisme usahatani
tanaman pangan, dan sebagainya.
Kecenderungan yang ketiga merupakan konskuensi logis dari arus yang pertama dan kedua,
yaitu semakin jelas dan tegasnya kebutuhan desentralisasi dan otonomi ekonomi.
Sentralisasi adalah "adik kandung" otoriterisme dan praktek eksploitatif, karena hanya
dengan sentralisasi yang hampir mutlak maka pendekatan otoriter dapat efektif. Sentralisasi
tersebut kemudian akan cenderung mengabaikan keberagaman, karena yang beragam itu
lebih sulit dikontrol dan dikelola. Padahal setiap daerah memiliki ciri dan kondisinya masing-
masing yang hanya dapat dikembangkan secara optimal jika pengelolaannya dilakukan
secara terdesentralisasi dan otonom di daerah yang bersangkutan. Bahkan seharusnya
otonomi itu juga dimiliki oleh masyarakat dan para pelaku ekonomi untuk lebih
mengoptimalkan potensi dan karakter masing-masing. Desentralisasi dan otonomi ekonomi
bukan sesuatu yang sempit terbatas hanya pada desentralisasi pemerintah dari pemerintah
pusat ke pemerintah daerah (sehingga menimbulkan "sentralisasi" baru di daerah), tetapi
harus menjadi suatu proses untuk lebih meningkatkan otonomi masyarakat secara luas.

Ketiga arus besar di atas kiranya saling jalin menjalin menjadi suatu "larutan" yang menyatu.
Ekonomi yang adil tanpa eksploitasi mengharuskan penghargaan atas keberagaman,
keberagaman membutuhkan desentralisasi dan otonomi, dan otonomi hanya dapat
dikembangkan secara produktif dan memberi manfaat jika ada keadilan. Ketiganya saling
mensyaratkan dan menguatkan dan menjadi satu kesatuan proses. Fenomena itulah yang
tampaknya semakin kuat mewarnai perekonomian Indonesia, dan pembangunan ekonomi
semakin tidak bisa menghindari diri untuk tidak mengakomodasikan berbagai unsur yang
terkandung dalam ketiga komponen di atas.

***

Mencermati tingkat perkembangannya yang sekarang ada di Indonesia, apakah proses


perubahan tersebut sudah selesai? Apakah kecenderungan pembaruan perekonomian
Indonesia itu sudah menemukan "samudra" tujuannya? Jawabannya tentu belum. Proses
yang terjadi masih jauh dari tujuan akhirnya. Di satu sisi, ketiga arus besar yang telah
diungkapkan di atas masih berada pada tahap yang awal. Di sisi lain, masih ada unsur lain
yang akan segera menjadi "ingredient" dari arus besar perubahan tersebut.

Pengikisan praktek ekonomi yang tidak adil dan eksploitatif masih memiliki perjalanan yang
panjang. Kegiatan ekonomi berbasis "keluarga-keluarga" (bukan ekonomi kekeluargaan)
memang mungkin sudah mulai berkurang, tetapi dominasi beberapa perusahaan besar
berbasis sumberdaya impor, mengekspoitasi sumberdaya lokal, dan menguasai
pasardomestik masih terus berlanjut. Buruh memang sudah mulai mendapat hak-haknya,
tetapi itupun masih sangat terbatas. Petanilah yang masih belum banyak beranjak
kondisinya. Perlindungan hukum atas akses produktifnya masih terbatas, kapital hasil usaha
produktif di pedesaan disedok oleh sistem perbankan dan hanya separuhnya yang
dikembalikan, posisinya dalam persaingan internasional juga belum mendapat cukup
perlindungan. Apresiasi terhadap keberagaman juga masih menghadapi tantangan
kebutuhan pencapaian efisiensi-segera (instant efficiency) yang selama ini tampak diperoleh
dari proses produksi yang serba seragam. Proses desentralisasi dan otonomi juga masih
menghadapi tantangan proses belajar (learning process) dalam berbagai hal di samping
timbulnya gejala "re-sentralisasi" di daerah. Intinya, arus besar pembangunan ekonomi
sedang bergerak, walaupun mungkin kecepatan dan percepatannya belum sebesar yang
diharapkan.

Untuk itu, usaha terus menerus untuk mendorong percepatan itu akan selalu berguna.
Namun perlu pula disadari bahwa tantangan untuk itu cukup besar. Tantangan itu tidak cukup
hanya diatasi dengan mengganti seorang presiden atau membatasi peran keluarga tertentu.
Tantangan terhadap arus progresif perkembangan ekonomi tersebut mencakup pula sistem
manajemen perekonomian, sebagian dalam lingkup ekonomi mikro tetapi terutama ada pada
manajemen ekonomi makro. Hal ini terlihat dari berbagai bentuk kebijakan fiskal, moneter,
perdagangan internasional, dan berbagai kebijakan pengaturan kelembagaan ekonomi yang
"lebih pro" pada pola ekonomi "lama". Para pengambil keputusan itu lebih memperhatikan
indikator perkembangan ekonomi yang semu dan tidak mengakar pada kegiatan ekonomi riil
yang dilakukan oleh masyarakat, seperti indeks harga saham atau nilai tukar rupiah. Mereka
juga cenderung menutup mata pada kenyataan bahwa ekonomi sebenarnya dijalankan oleh
jutaan rakyat kecil yang dengan caranya sendiri mampu mengatasi berbagai kesulitan dan
terus berkembang. Lebih dari itu, tantangan terbesar dari bergeraknya arus besar adalah pola
pikir serta landasan teori dan konsep yang diyakini oleh banyak pengambil kebijakan, guru-
gurunya, dan murid-muridnya. Dasar pemikiran yang diimpor dari sistem ekonomi yang
berbeda dari masyarakat dengan latar belakang dan kondisi sosial budaya yang berbeda
tersebut ternyata telah sangat berurat berakar dalam elite pengambilan keputusan ekonomi,
walaupun sebenarnya mereka adalah juga orang-orang yang cerdas, rasional, dan memiliki
daya nalar tinggi untuk menilai apakah sesuatu itu sesuai dengan kepentingan rakyat auat
tidak. Tidak mengherankan jika kondisi ini ditengarai juga merupakan hasil dari usaha
sistemis yang dilakukan pihak lain.

Dengan kembali menegaskan bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya dibangun terutama oleh
ekonomi rakyat banyak yang multidimensi dan dengan dinamika yang sangat tinggi, maka
perkembangan ekonomi tidak dapat lagi dipisahkan dari perkembangan aspek lain dalam
masyarakat seperti perkembangan sosiologis, politik, teknologi, dan sebagainya. Oleh sebab
itu disamping ketiga kecenderungan di atas, masih terdapat pula beberapa komponen
kecenderungan yang akan segera pula bergerak, dan tidak adak dapat lebih lama lagi
ditahan oleh pemikiran "lama" tersebut. Pertama, dorongan untuk membangun kegiatan
ekonomi yang mandiri dan berdaulat. Aspek ini terkait erat dengan tiga kecenderungan
pertama yang telah diuraikan di atas. Eksploitasi dan ketidak-adilan akan terus berlanjut jika
tidak ada demokrasi. Demokrasipun hanya akan menjadi rangkaian "mekanis-formalistik" jika
tidak terdapat kemandirian dan kedaulatan. Kemandirian dan kedalulatan itu harus
ditegakkan mulai dari para pelaku usaha individual hingga tingkat negara. Banyak contoh
dapat dikemukakan bahwa proses yang ekploitatif "terpaksa diterima" karena tidak ada
kemandirian dan kedaulatan dalam berekonomi.

Kecenderungan penting yang juga akan segera dan harus didorong prosesnya adalah
kecenderungan untuk membangun kegiatan ekonomi yang taat hukum, beretika, dan
bermoral. Demokrasi hanya akan menjadi unjuk kekuatan dan pencarian jumlah suara
mayoritas jika tidak ada hukum, etika, dan kesantunan berkehidupan. Hukumpun hanya akan
menjadi tumpukan peraturan tanpa jiwa jika tidak ada moral "baik" yang melandasinya.

Tampaknya kecenderungan ke arah kemandirian dan kedaulatan ekonomi plus ekonomi yang
mematuhi hukum, etika dan bermoral sudah tidak dapat dibendung lagi untuk harus segera
digulirkan. Memang akan sangat sulit memperkirakan bagaimana wujud dari pergerakan
kecenderungan itu nantinya, mungkin akan memakan "biaya yang besar" tetapi mudah-
mudahan dapat bergerak secara natural walaupun tetap diharapkan dapat dipercepat.
Apapun bentuknya,kelima elemen tersebut di atas tampaknya akan menjadi elemen-elemen
utama yang membentuk arus besar perubahan perkembangan ekonomi Indonesia.
Kecenderungan perubahan itu bukan merupakan suatu alternatif, tetapi sebaliknya
sebenarnya adalah arus utama dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Saat ini memang
seperti tidak terlihat demikian, terutama karena memang masih banyak pikiran, sistem, dan
usaha untuk menghalanginya.

***

Catatan khusus tentang Prof. Mubyarto dan Ekonomi Pancasila. Sangat sedikit akademisi di
Indonesia yang memiliki karakter pemikiran tersendiri, konsisten dan berintegritas dalam
pemikiran itu, sekaligus mendapat kesempatan untuk membawakan pemikirannya dalam
berbagai panggung pengambilan keputusan ekonomi. Diantara yang sangat sedikit itu Prof.
Mubyarto adalah salah seorang diantaranya. Dimulai dengan tonggak 1979-1981 dengan
menyatakan pemikiran mengenai Ekonomi Pancasila, dalam 20 tahun terakhir Prof. Mubyarto
telah menjalani berbagai "liku-liku" perjalanan mewujudkan suatu konsep pemikiran, mulai
dari debat diantara akademisi hingga menjadi pejabat tinggi negara yang diberi mandat
menjalankan suatu program yang dirancang sesuai dengan pemikiran tersebut, hingga
"diakhiri" dengan kesempatan menyusun kembali undang-undang dasar. Dalam semua
kesempatan ini Prof. Mubyarto selalu memberikan tampilan konsistensi dan integritas yang
sangat tinggi. Sungguh suatu referensi penting yang mampu memberi inspirasi.
Melihat 20 tahun ke depan, mungkin baik jika sedikit dicermati apa yang terjadi 20 tahun yang
lalu. Pertanyaan pertama yang muncul adalah mengapa perjuangan itu belum menunjukkan
hasil seperti yang diharapkan? Jawabannya bisa beragam. Mungkin karena "lawan" yang
dihadapi memang sangat "besar dan kuat" sehingga sulit untuk ditaklukkan, bahkan hanya
untuk mempengaruhinyapun sangat sulit walaupun kita sudah berada di "dalam". Atau
mungkin cara yang selama ini dilakukan yang sebenarnya kurang tepat.

Dalam ilmu perang, menyesali mengapa lawan begitu kuat tidak ada gunanya, yang lebih
penting adalah bagaimana menyusun strategi untuk dapat mengatasi lawan yang kuat
tersebut. Apakah strategi yang ditawarkan 20 tahun yang lalu masih tepat dan relevan?
Ataukah ada tawaran strategi yang berbeda yang bisa diajukan untuk mewujudkan idealisme
yang tetap konsisten. Mungkin pertanyaan itu sebenarnya adalah pertanyaan yang diajukan
Prof. Mubyarto sendiri kepada mereka yang bersedia menerima mandat untuk melanjutkan
perjuangannya.

Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi : Direktur Pusat Studi Pembangunan (PSP) Institut
Pertanian Bogor (IPB)
Makalah disampaikan pada Seminar "Pembangunan Alternatif di Indonesia" ISEI Cabang Yogyakarta dan Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta 12 Agustus 2002.