Anda di halaman 1dari 3

Grup Rekso: Tak Lagi Sekadar Bisnis Minuman Teh

Thursday, January 21st, 2010


oleh : Dede Suryadi

Berawal dari teh, bisnis keluarga Sosrodjojo terus menggurita. Produknya yang
fenomenal, Teh Botol Sosro, telah menjadi mesin uang bisnis keluarga asal Slawi, Jawa
Tengah, ini. Setelah Teh Botol Sosro terus merajai pasar, keluarga Sosro pun mulai
melirik bisnis lain dengan mengibarkan bendera Grup Rekso (GR) atau PT Anggada
Putra Rekso Mulia yang berdiri pada 27 November 1997.

GR didirikan Soegiharto, generasi kedua keluarga Sosro. Memang harus diakui,


Soegiharto adalah motor penggerak bisnis keluarga Sosro. Pasalnya, adik dan kakak
kandung Soegiharto serta keturunan mereka lebih memilih membesut bisnis masing-
masing. Kendati ada saudaranya itu yang sama-sama membesarkan bisnis ini,
kepemilikan sahamnya tidak sebesar saham milik keluarga Soegiharto.

Bisnis GR pun sekarang tak hanya teh atau minuman, meski bisnis ini tetap menjadi
andalannya. GR telah merambah berbagai sektor bisnis: properti, kecantikan, hingga
yang terbaru adalah bisnis resto dengan mengakuisisi McDonald’s Indonesia (McD).

Soegiharto tak sendirian dalam membesarkan GR, tetapi dibantu lima anaknya yang
semuanya lulusan sekolah di luar negeri. Mereka adalah Peter Soekianto Sosrodjojo,
Joseph Soewito Sosrodjojo, Richard S. Sosrodjojo, Kurniati Sosrodjojo dan Sukowati
Sosrodjojo. Kelima anaknya itu ditempatkan Soegiharto di berbagai bisnis yang berada di
bawah GR.

Peter, anak tertua, duduk sebagai komisaris di GR. Adapun Joseph didapuk sebagai Chief
Executive Officer PT Sinar Sosro, produsen Teh Botol Sosro dan Teh Kotak yang
menjadi tambang uang grup ini. Laba bersih Sinar Sosro selama 2008 sebesar Rp 1,8
triliun — Rp 9 miliar berasal dari keuntungan ekspor; tujuan ekspornya adalah Brunei
Darussalam, Singapura, Malaysia, Australia, Amerika Serikat dan negara-negara Timur
Tengah.

Selanjutnya, Richard dipercaya mengelola PT Agropangan Putra Mandiri. Perusahaan


yang berdiri pada 30 Agustus 2000 ini memiliki lima anak usaha yang mengurusi
perkebunan, yakni PT Sinar Inesco, PT Cibuniwangi, PT Karya Sinar Ciguha, PT
Perkebunan Gunung Rosa Djaja dan PT Perkebunan Gunung Manik.

Satu-satunya wanita di keluarga Sosrodjojo, Kurniati, mengelola PT Puri Tirta Kencana.


Perusahaan termuda (berdiri pada 2004) dalam GR ini menekuni bidang yang
memanjakan kaum perempuan: perawatan kecantikan dan kesegaran tubuh dengan
fasilitas spa, bekerja sama dengan Martha Tilaar. Adapun si bungsu Sukowati memegang
PT Adhi Putra Mulia. Perusahaan ini menguasai Hotel Mercure di bilangan Hayam
Wuruk, Jakarta. Selain hotel, Suko juga yang membesut PT Rekso Nasional Food yang
mengakuisisi McD Indonesia.

Menurut Taufik, Chief Business Officer MarkPlus Inc., nama GR baru populer
belakangan ini dan menjadi sesuatu yang menarik. Grup ini secara nama memang baru,
tetapi pilar-pilar bisnisnya telah lama ada seperti PT Sinar Sosro (minuman), PT Gunung
Slamat (teh seduh dan celup), PT Sinar Jatimulia Gemilang (packaging), Adhi Putra
Mulia (properti), PT Agropangan Putra Mandiri (agribisnis), PT Puri Tirta Kencana
(kebugaran dan kecantikan), dan yang paling baru PT Rekso Nasional Food (divisi
pengembangan waralaba [resto]).

Taufik juga sepakat, kekuatan keluarga Sosro ada pada bisnis minuman dan agribisnis.
Menurutnya, di bisnis minuman, keluarga ini sudah tergolong lengkap, antara lain bisnis
minuman ready to drink dan air mineral.

Sebetulnya, sah-sah saja GR terjun ke bidang lain seperti properti atau bisnis kebugaran.
Hanya saja, menurut Taufik, grup besar harus bisa menciptakan pilar bisnisnya seperti
apa. Ketika orang berbicara tentang GR, maka karakternya seperti apa dan bagian mana
yang membedakannya dari grup lain. Kalau melihat bisnis minuman, Sosro sudah punya
keunggulan sebagai spesialis di bidang teh, sampai ada slogan “Sosro Ahlinya
Teh”. “Nah, Grup Rekso sendiri akan seperti apa karakternya ke depan. Apakah
ready drink product. Karena jika bicara konglomerasi, harus bicara kekuatannya ada di
mana,” ujar Taufik mempertanyakan.

Terlepas dari itu, Taufik melihat, GR merupakan perusahaan yang bagus dengan
penguasaan pasar yang inovatif. Hanya saja, ketika GR mengambil waralaba McD,
banyak orang kaget. Mereka bisa saja menjadi salah satu pemimpin ready to drink di
indonesia. Dari situ bisa meluas lini bisnisnya, sebagaimana dilakukan Grup Djarum
yang masuk ke bisnis perbankan atau properti, tetapi bisnis intinya tetap rokok.

Taufik juga mempertanyakan siapa yang membuat grup ini menjadi besar? Ini menarik
karena grup ini sangat low profile. Banyak orang yang penasaran mengapa perusahaan ini
tidak go public, dan tetap bertahan sebagai bisnis keluarga. “Grup Rekso termasuk
family bisnis yang modern karena dikelola dengan profesional. Ini sangat menarik karena
kalau dilihat dari produknya, sangatlah inovatif, mulai dari kemasan hingga varian rasa
sangat inovatif,” ungkap Taufik memuji.

Seorang pengamat yang namanya tak bersedia disebutkan mengatakan, putra-putri


Soegiharto memiliki peran besar dalam memajukan GR. Salah satu kunci sukses keluarga
ini: mereka sangat hati-hati melakukan sesuatu, tetapi cukup berani mengambil
momentum. “Umpamanya, saat pertama kali teh dimasukkan dalam botol di mana saat
itu belum ada perusahaan yang berani. Di balik grup yang tenang, ada inovasi yang
dahsyat. Hanya saja, hati-hati,” kata sang pengamat ini.

Teh Botol Sosro mulai diproduksi pada awal 1970-an. Tentu saja, itu menjadi momentum
bersejarah bagi keluarga Sosro karena kelak jenis produk inilah yang menjadi titik
keunggulan Sosro dibanding pemain bisnis teh lain di Indonesia. Saat itu, untuk
mengenalkan produk minuman teh siap saji ini, putra ketiga Sosrodjojo, Soetjipto, sabar
melakukan sampling dengan cara mempersilakan konsumen mencicipi rasa minuman
tehnya. Proses sampling banyak dilakukan di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Meski mulai populer, pada 1970 itu produksi Teh Botol Sosro belum melalui proses
manufacturing dalam pabrik besar. Proses pabrikan yang lebih serius baru dilakukan
tahun 1974, tepatnya 17 Juli, ketika PT Sinar Sosro berdiri di Ujung Menteng, Bekasi.
Pendiri perusahaan ini adalah tiga putra Sosrodjojo, yakni Soegiharto, Soetjipto dan
Surjanto. Dua tahun kemudian, sang sulung, Soemarsono, turut bergabung.

Buat keluarga Sosrodjojo, tahun 1974 selalu dikenang dengan penuh kebanggaan.
Bagaimana tidak, Sinar Sosro bukan saja pabrik minuman teh botol siap saji pertama di
Indonesia, tetapi juga di dunia. Sejak itulah, jalan peruntungan kian terbuka lebar karena
produk minuman tersebut terus merangsek pasar tanpa tanding. Bahkan, jadi ikon teh
dalam kemasan dan menjadi kebutuhan banyak orang sehingga satu demi satu pabrik pun
terus dibuka agar Teh Botol Sosro makin dekat dengan pelanggannya. Gresik, Ungaran,
Medan, Pandeglang, Gianyar dan Cibitung menjadi lokasi berdirinya pabrik Sosro.

Bak kuncup daun teh yang terus merekah, begitu juga bisnis keluarga Sosro. Tahun 1981,
mereka mendirikan PT Union Multipack, pabrik yang memungkinkan mereka
memproduksi minuman nonbotol. Bersamaan dengan berdirinya pabrik di Tambun,
Bekasi, dilakukan juga ekstensifikasi bisnis lewat strategi pengemasan. Tahun itu
meluncurlah Teh Botol kemasan kotak atau Teh Kotak.

Dari kesuksesan The Botol Sosro itulah, keluarga Sosro lewat GR mampu merambah
berbagai lini bisnis yang sekarang ditangani generasi ketiga keluarga Sosrodjojo.

Akan tetapi, tantangan yang dihadapinya tidaklah ringan. Munculnya berbagai jenis
minuman dalam kemasan, seperti Minute Maid Pulpy Orange dan teh hijau Nu Green
Tea, yang direspons pasar dengan baik serta makin tingginya kesadaran orang untuk
hidup sehat, sehingga lebih suka minum air mineral, jelas menjadi ancaman bagi bisnis
teh dalam botol perusahaan ini. Bahkan, seorang sumber yang dapat dipercaya
mengungkapkan, produksi Teh Botol Sosro sudah turun sekitar 30%, dan ada mesin
produksi yang telah ditutup.

Maka, masuk ke bisnis lain memang menjadi pilihan bagi kelompok perusahaan ini agar
bisa terus tumbuh dengan bisnis-bisnis baru. Bahkan, beberapa bisnis bisa disinergikan,
misalnya dengan menjadikan Teh Botol Sosro sebagai minuman “wajib” di gerai
McD yang dikelola Rekso Nasional Food. Dengan demikian, GR tetap perkasa sebagai
perusahaan andalan Indonesia di masa depan.