Anda di halaman 1dari 29

Laporan PPDH

Koasistensi Diagnostik Laboratorik


Gelombang IV Group N

STUDI KASUS
COLIBASILLOSIS PADA BABI LANDRACE
(Nomor Protokol 304/N/10)

Oleh :
Johan Josias Manery
0409005033

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat dan karunia-
Nya yang telah dilimpahkan sehingga penyususunan laporan koasistensi diagnostik
laboratorik yang berjudul “COLIBASILLOSIS PADA BABI LANDRACE” dapat
terselesaikan.
Laporan ini disusun sebagai salah satu prasyarat kelulusan bagi mahasiswa
yang melaksanakan koasistensi diagnostik laboratorik di Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana. Pada kesempatan ini penyusun tidak lupa mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Drh. I.B. Oka Winaya, M. Kes sebagai Kepala Laboratorium Patologi
Veteriner Fakultas Kedoteran Hewan Universitas Udayana.
2. Drh. Ketut Tono PG, M. Kes sebagai Kepala Laboratorium Mikrobiologi
Veteriner Fakultas Kedoteran Hewan Universitas Udayana.
3. Drh. Ida Bagus Made Oka, M. Kes sebagai Kepala Laboratorium
Parasitologi Veteriner Fakultas Kedoteran Hewan Universitas Udayana.
4. Dr. Drh. I.G. N. Kadek Mahardika sebagai Kepala UPT Laboratorium
Biomedik Fakultas Kedoteran Hewan Universitas Udayana.
5. Drh. I.B. Kadek Suardana, M. Kes sebagai Kepala Laboratorium Virologi
Veteriner Fakultas Kedoteran Hewan Universitas Udayana.
6. Dr. Drh. I. B. K. Ardana, M. Kes sebagai Kepala Laboratorium Patologi
Klinik Veteriner Fakultas Kedoteran Hewan Universitas Udayana.
Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
saran dan kritik sangat diharapkan guna menyempurnakan laporan ini.

Denpasar, September 2010

Penyusun.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1


1.1 Riwayat Kasus .......................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 1
1.3 Manfaat Penulisan ..................................................................................... 2

BAB II MATERI DAN METODA ....................................................................... 3


2.1 Materi ....................................................................................................... 3
2.1.1 Laboratorium Patologi Veteriner ....................................................... 3
2.1.2 Laboratorium Mikrobilogi Veteriner ................................................. 3
2.1.3 Laboratorium Parasitologi Veteriner ................................................. 3

2.1 Metoda ...................................................................................................... 3


2.1.1 Laboratorium Patologi Veteriner ....................................................... 3
2.1.2 Laboratorium Mikrobilogi Veteriner ................................................. 4
2.1.3 Laboratorium Parasitologi Veteriner ................................................. 7
2.1.4 Laboratorium Virologi Veteriner ....................................................... 8

BAB III HASIL .................................................................................................... 11


3.1 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Patologi Veteriner ................................. 11
3.2 Hasil Pemeriksaan Histopatologi ............................................................... 11
3.3 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi Veteriner ......................... 12
3.4 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Parasitologi Veteriner ............................ 12
3.5 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Virologi Veteriner .................................. 13

BAB IV PEMBAHASAN ..................................................................................... 14


4.1 Epidemologi ............................................................................................ 14
4.2.Gejala Klinis dan Perubahan Patologi Anatomi ......................................... 14
4.3 Diagnosa Sementara................................................................................... 14
4.4 Diagnosa Banding ...................................................................................... 14
4.5 Pemeriksaan Laboratorium ........................................................................ 15
4. 5.1 Pemeriksaan Histopatologi ..................................................... 15

ii
4.5.2 Pemeriksaan Laboratorium Parasitologi Veteriner .................... 15
4.5.3 Pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi Veteriner ................. 15
4.6 Colibasillosis ........................................................................................ 17
4.7 Escherichia coli ...................................................................................... 17

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ...................................................................... 20


5.1 Simpulan ................................................................................................... 20
5.2 Saran ......................................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Riwayat Kasus


Pemeriksaan babi landrace dengan nomor protokol 304/N/10 yang berasal
dari Jln. Tukad Kresek Kecamatan Denpasar Kabupaten Badung telah dilaksanakan
pada tanggal 26 juli 2010. Peternakan ini milik Bapak Teji dengan jumlah ternak
babi sebanyak 230 ekor yang terdiri dari 200 ekor babi dewasa dan 30 ekor anak
babi. Dari 30 ekor anak babi terdapat 5 ekor anak babi yang sakit dan telah
dikarantina. Anak babi yang sakit telah mendapatkan pengobatan dari petugas
setempat.
Sistem pemeliharaan secara intensif, terlihat lantai kandang jarang
dibersihkan dan lantai kandang berlubang-lubang sehingga banyak terdapat
genangan air. Pakan yang diberikan adalah sisah makanan dan air minum berasal dari
sumur didekat kandang. Ternak telah mendapatkan vaksin.
Berat badan babi yang dinekropsi adalah ± 10 kg, gejala yang terlihat adalah
Diare, kaheksia dan anoreksia. Menurut pemilik, babi telah mengalami sakit selama
2 minggu dan telah mendapatkan pengobatan sebanyak satu kali.
Perubahan patologi anatomi yang menciri adalah terlihat adanya fibrin yang
melapisi hampir semua organ-organ abdomen dan thorak, adanya akumulasi cairan
pada rongga abdomen, nekrosis pada organ paru-paru dan pendarahan pada organ
otak.
Untuk mendukung hasil diagnosa kasus ini, telah dilakukan pemeriksaan
darah, pemeriksaaan apusan darah, penanaman sample organ pada Media Blood
Agar, MacConkey, dan dilanjutkan dengan uji biokimia dan uji gula-gula. Selain itu
juga dilakukan pemeriksaan histopatologi pada organ yang mengalami perubahan.

1.2. Tujuan Penulisan


1. Pelaporan kasus penyakit pada hewan dan pemeriksaan sampel di
laboratorium.
2. Menentukan diagnosa penyakit pada babi landrace dengan nomor protokol
304/N/10.

1
3. Mengetahui agen infeksius yang menyerang babi landrace dengan nomor
protokol 304/N/10.

1.3. Manfaat Penulisan


1. Memberikan informasi mengenai kejadian kasus penyakit pada babi landrace
dengan nomor protokol 304/N/10 sehingga dengan mengetahui penyebab
penyakit diharapakan peternak dapat memberikan pengobatan yang tepat dan
pencegahan terhadap penyakit colibasillosis.
2. Memberikan gambaran secara lengkap kepada mahasiswa PPDH mengenai
metode diagnosa yang digunakan untuk menentukan kejadian suatu penyakit
pada hewan.

2
BAB II
MATERI DAN METODE

2.1. Materi
2.1.1. Laboratorium Patologi Veteriner
Spesimen yang digunakan dalam pemeriksaan histopatologi diambil dari
organ yang mengalami perubahan secara makroskopis maupun organ yang diduga
mengalami perubahan berdasarkan gejala klinis. Organ yang diambil untuk
pemeriksaan histopatologi adalah otak, paru-paru, jantung, hati, limpa, ginjal dan
usus.

2.1.3. Laboratorium Mikrobiologi Veteriner


Spesimen yang digunakan dalam pemeriksaan bakteri adalah Paru-paru dan
usus.

2.1.4. Laboratorium Parasitologi Veteriner


Spesimen yang digunakan dalam pemeriksaan parasit berupa feses. Selain itu
untuk mengetahui kemungkinan adanya protozoa darah maka dilakukan pemeriksaan
ulas darah tipis.

2.2. Metode
2.2.1. Laboratorium Patologi Veteriner
Materi : organ yang mengalami perubahan secara makroskopis.
Metode : pembuatan dan pemeriksaan preparat histopatologi.
Cara kerja :
1. Sampel organ yang akan diperiksa dipotong dengan ukuran 1x1x1 cm, kemudian
direndam dalam larutan neutral buffer formalin (NBF).
2. Sampel organ selanjutnya diperkecil lagi dengan irisan tipis untuk disimpan
dalam tissue cassette dan dilakukan fiksasi dalam larutan NBF.
3. Setelah fiksasi, dilakukan proses dehidrasi dan clearing dengan satu sesi larutan
yang terdiri dari: alkohol 70 %, alkohol 80 %, alkohol 90 %, alkohol 96 %,
alkohol absolut, toluene, dan parafin, secara bertahap dalam waktu satu hari.

3
4. Sampel organ di blocking dengan embedding set yang dituangi parafin cair
kemudian didinginkan.
5. Blok yang sudah dingin di sectioning menggunakan microtome dengan ketebalan
± 4 – 5 mikron.
6. Proses yang terakhir adalah pewarnaan dengan metode Harris Hematoxylin –
Eosin dan mounting media.
7. Preparat histopatologi diamati di bawah mikroskop dan dicatat perubahan
mikroskopik yang ditemukan.

2.2.2 Laboratorium Mikrobiologi Veteriner


Materi : organ yang mengalami perubahan makroskopis berupa paru-paru dan
usus.
Metode : isolasi bakteri pada media umum Sheeo Blood Agar (SBA) dan media
selektif MacConkey Agar (MCA), serta identifikasi bakteri dengan
pengamatan pertumbuhan koloni pada media, pewarnaan Gram, uji
katalase, uji oksidase, uji biokimia dengan penanaman pada media
Triple Sugar Iron Agar (TSIA), Sulfite Indol Motility (SIM), Simmon
Citrate Agar, Methyl Red Voges Proskauer (MRVP) Medium, dan uji
gula-gula dengan penanaman pada media yang mengandung laktosa dan
glukosa.
Cara kerja :
1. Penanaman pada Media Sheep Blood Agar (SBA)
Media yang digunakan untuk penanaman adalah Sheep Blood Agar (SBA).
Media dibagi menjadi dua bagian karena ada dua spesimen yang akan ditanam.
Spesimen organ dilukai atau dikoyak dengan gunting steril, kemudian
menggunakan ossa cairannya diambil dan diusapkan pada media biakan secara
berturut-turut dengan menggunakan metode multiple line. Media biakan yang
sudah dipupuk kemudian diinkubasikan dalam inkubator dengan suhu 37 °C
selama 18-24 jam. Pertumbuhan koloni pada media diamati secara makroskopis
untuk melihat bentuk, warna, elevasi, tepian dan diameter koloni.

4
2. Pewarnaan Gram
Koloni pada media biakan diambil dengan ossa steril dan dioleskan pada obyek
glass kemudian difiksasi. Olesan tersebut ditetesi dengan larutan Crystal Violet
dan didiamkan selama 2 menit kemudian dicuci dengan air mengalir. Tahap
selanjutnya ditetesi dengan Iodine dan didiamkan selama 2 menit lalu dicuci
dengan air mengalir. Setelah itu ditetesi alkohol 96% selama 30 detik dan dicuci
dengan air mengalir. Tahap yang terakhir adalah pewarnaan menggunakan
Safranin dengan cara diteteskan dan didiamkan selama 30 detik kemudian dicuci
dengan air mengalir. Setelah kering teteskan minyak emersi secukupnya lalu
diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 100X. Bakteri gram positif
akan berwarna ungu karena menyerap zat warna Crystal Violet sedangkan bakteri
gram negatif akan berwarna merah karena menyerap zat warna Safranin.
3. Penanaman Pada Media MacConkey Agar (MCA)
Cara penanaman sama dengan penanaman pada media Sheep Blood Agar.
4. Uji Katalase
Koloni pada media diambil dengan ossa steril dan dioleskan pada obyek glass
dan ditetesi dengan larutan H2O2 10 % kemudian homogenkan. Tahap
selanjutnya amati ada atau tidaknya gelembung gas yang terbentuk.
5. Uji Oksidase
Uji oksidase dilakukan dengan cara mencelupkan ujung stick oksidase pada
aquades kemudian ujung stick tersebut disentuhkan pada koloni kuman dan
diamati perubahan warna yang terjadi. Hasil positif ditandai dengan perubahan
warna stick oksidase menjadi ungu.
6. Pengujian pada Media TSIA, SIM, Simmon Citrat dan MRVP
Penanaman kuman pada media Triple Sugar Iron Agar (TSIA) untuk mengetahui
adanya tidaknya fermentasi karbohidrat, produksi H2S dan gelembung gas.
Koloni kuman diambil dengan ossa steril kemudian ditusukkan pada bagian tegak
dari medium lalu digoreskan pada bagian miring medium, selanjutnya medium
tersebut diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 24 jam. Fermentasi karbohidrat
ditandai adanya perubahan warna pada media TSIA dari merah menjadi kuning.
Produksi H2S ditandai dengan perubahan warna media menjadi hitam. Adanya
gas dapat diamati dengan adanya gelembung gas dan keretakan pada media.

5
Penanaman pada media Sulfite indol Motility (SIM) untuk mengetahui sifat
kuman dalam memproduksi H2S, indol dan pergerakan kuman. Koloni kuman
diambil dengan menggunakan ossa steril kemudian ditusuk secara tegak lurus
pada medium dan diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 24 jam. Produksi H 2S
ditandai dengan media berwarna hitam, produksi indol dapat dilihat setalah
ditetesi dengan reagen Erlich/Kovac’s sebanyak 3-5 tetes ke dalam media, bila
indol positif akan terbentuk cincin merah pada permukaan medium dan kuman
motil akan terlihat kekaburan media di tempat tusukan ossa.
Penanaman pada media Methyl Red Voges Proskauer (MRVP) untuk mengetahui
sifat kuman dalam memproduksi asam tunggal atau campuran dan asam metal
karinol. Koloni diambil dengan ossa steril kemudian dicelupkan ke dalam media
tersebut selanjutnya media diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 24 jam.
Kemudian media tersebut di bagi ke dalam dua tabung yang steril. Tabung
pertama ditetesi dengan reagen MR dan tabung kedua ditetesi dengan reagen VP.
Hasil positif ditandai dengan adanya warna merah pada medium.
Penanaman pada media Simmon Citrat Agar (SCA) untuk mengetahui sifat
kuman dalam menggunakan sitrat sebagai sumber karbon atau tidak. Koloni
kuman diambil dengan ossa steril kemudian diusapkan pada permukaan medium
mulai dari pangkal sampai ke ujung yang sama. Medium kemudian diinkubasikan
pada suhu 37ºC selama 24 jam. Hasil positif ditandai dengan perubahan warna
menjadi biru.
Setiap identifikasi pada media dicatat sifat pertumbuhan bakteri dan dicocokkan
dengan tabel identifikasi yang ada.
7. Uji Gula-gula
Uji gula-gula meliputi uji glukosa dan uji laktosa. Uji ini dilakukan untuk
mengetahui adanya fermentasi gula. Koloni pada media biakan diambil dengan
ossa steril. Kemudian dicelupkan pada masing-masing media tersebut yang
berbentuk cair dan di dasar tabung terdapat tabung durham. Media diinkubasikan
dengan suhu 37 °C selama 24 jam. Selain itu dapat diamati adanya produksi gas
dengan adanya gas di dalam tabung Durham.

6
2.2.3. Laboratorium Parasitologi Veteriner
Materi : feses dan ulas darah tipis.
Metode : pemeriksaan feses dengan metode natif, pengapungan, dan
sedimentasi, dan pemeriksaan ulas darah tipis dengan pewarnaan
Giemza.
Cara kerja :
1. Pemeriksaan feses dengan metode natif dilakukan dengan cara: feses sebesar
pentolan korek api diambil dan diletakkan di atas kaca obyek. Ditambahkan air
dan diaduk sampai homogen. Serat kasar dibuang, kemudian kaca obyek ditutup
dengan cover dan diperiksa di bawah mikroskop untuk menemukan telur cacing
dan melakukan identifikasi.
2. Pemeriksaan feses dengan metode pengapungan dilakukan dengan cara: feses ±
sebesar biji kemiri dicampur dengan air sampai konsentrasi 10 %, dan diaduk
hingga homogen. Campuran disaring dan cairannya ditampung dengan tabung
centrifuge sampai skala 10. Selanjutnya cairan tersebut dicentrifuge dengan
kecepatan 1500 rpm selama 3 menit. Supernatan dibuang dan endapan ditambah
larutan garam jenuh (NaCl jenuh) sampai skala 10. Kemudian campuran diaduk
hingga homogen dan dicentrifuge kembali dengan kecepatan 1500 rpm selama 3
menit. Kemudian ditambahkan lagi larutan NaCl jenuh setetes demi setetes
hingga permukaan cairan cembung. Setelah didiamkan selama 2 menit, cover
disentuhkan pada permukaan cairan pengapung dan langsung ditempelkan pada
kaca obyek. Diamati di bawah mikroskop untuk menemukan telur cacing dan
melakukan identifikasi.
3. Pemeriksaan telur cacing dengan metode sedimentasi ; feses sebesar biji kemiri
dimasukan kedalam gelas beker dan tambahkan aquades agar konsentrasinya
kira-kira 10% kemudian aduk sampai homogen. Saring dengan menggunakna
saringan the untuk menyingkirkan bagian yang besar, masukan kedalam tabung
sentrifuge dengan kecepatan 1.500 rpm selam 2-3 menit. Tabung sentrifuge di
keluakan dari centrifugator, supernatannya di buang sedangkan sediment yang
tertinggal didasar tabung diaduk kemudian buat preparat seperti pada
pemeriksaan langsung dan lakukan pemeriksaan di bawah mikroskop dengan
pembesaran objektif 10 X. Adapun prinsip dari metode ini adalah dengan

7
menggunakan cairan dengan berat jenis (BJ) yang lebih rendah dari berat jenis
telur cacing akan mengendap. Metode ini biasa digunakan untuk cacing kelas
trematoda.
4. Pemeriksaan parasit cacing dengan metoda permanen dilakukan dengan cara :
cacing diletakkan pada kaca obyek dan diamati di bawah mikroskop stereo untuk
memperbaiki posisinya agar bagian yang menjadi cirri khas dapat terlihat.
Setelah diperoleh posisi yang baik, cacing dijepit dengan kaca obyek yang lain
lalu diikat dengan karet gelang. Proses berikutnya adalah perendaman dalam
alkohol 70 % selama 24 jam. Untuk cacing nematoda dan trematoda dilakukan
pewarnaan dengan ditetesi zat warna Eosin. Perendaman dilanjutkan dengan
alkohol 70 %, 80 %, 90 %, dan 95 % masing-masing selama 30 menit. Setelah
dikeringkan, preparat ditetesi minyak kayu putih dan dibiarkan selama 30 menit.
Langkah terakhir adalah merekatkan cacing pada kaca obyek menggunakan
Canada balsam. Preparat dapat diamati di bawah mikroskop untuk identifikasi
cacing.
5. Pemeriksaan ulas darah tipis dilakukan dengan cara: ulas darah yang telah
diwarnai dengan Giemza diamati di bawah mikroskop untuk identifikasi adanya
protozoa darah.

2.2.5. Laboratorium Virologi Veteriner


Materi : otak, paru-paru, trakea, ginjal, usus, jantung dan hati
Metode : pembuatan inokulum dari spesimen organ, isolasi RNA, uji RT-PCR
dan uji HA-HI.
Cara kerja :
a. Penyiapan inokulum
Spesimen berupa organ dipotong menjadi bagian lebih kecil dan digerus
dengan mikropastel sambil ditambahkan larutan phospate buffered saline (PBS)
sedikit demi sedikit hingga diperoleh konsentrasi 10 %. Kemudian suspensi
disentrifuge dengan kecepatan 15000 rpm selama 10 menit. Supernatan diambil
sebanyak 400 μl dan dimasukkan kedalam eppendorf baru, lalu ditambahkan
antibotik Penstrep sebanyak 40 μl, divortek dan diinkubasikan selama 30 menit pada
suhu 37 °C.

8
b. Isolasi RNA Trizol
RNA virus diisolasi dari membran korioalantois. Sampel digerus dalam
eppendorf dengan tujuan menghancurkan sel sehingga virus yang merupakan
mikroba obligat intraseluler dapat dikeluarkan. Hasil gerusan tersebut ditambah
dengan 1000 μl PBS untuk mengencerkannya lalu disentrifuge dengan kecepatan
15000 rpm selama 10 menit. Supernatan dipisahkan kedalam tabung eppendorf,
selanjutnya diproses untuk isolasi RNA.
Sebanyak 750 μl cairan spesimen diambil dengan menggunakan mikropipet
dan ditampung dalam tabung eppendorf steril. Spesimen ditambahkan 250 μl Trizol
Ls Reagent, lalu diaduk dengan vortex selama 1 menit dan diinkubasikan pada suhu
kamar selama 5 menit. Kemudian ditambahkan 200 μl Chloroform, vortex selama 15
detik dan inkubasikan pada suhu kamar selama 15 menit. Sentrifugasi dengan
kecepatan 12000 rcf selama 15 menit. Bagian aquaeus dipisahkan ketabung
eppendorf steril dan ditambahkan Isopropil alkohol 500 μl dan homogenkan.
Kemudian inkubasikan pada suhu kamar selama 10 menit. Supernatan dibuang dan
ditambah alkohol 70 % sebanyak 1000 μl dan dihomogenkan. Kemudian sentrifugasi
dengan kecepatan 7500 rcf selama 5 menit. Supernatan dibuang sedangkan peletnya
dikeringkan (air dry) selama 5-10 menit. Kemudian disuspensi kembali dengan
menambahkan treated water 20 μl dan disimpan pada lemari es selama 1 malam atau
dalam freezer sampai digunakan.
c. Uji RT-PCR
Setelah RNA hasil isolasi RNA Trizol diperoleh, langkah selanjutnya adalah
RT-PCR. Kedalam tabung PCR dengan volume 200 μl dimasukkan 1 μl RNA yang
telah diisolasi, ditambahkan dengan 0,6 μl primer DDVP1 dan 0,6 μl primer DDVP2,
ditambahkan enzim SuperScript TM III One-Step RT-PCR System with Platinum® Taq
DNA Polymerase (Invitrogen) 0,25 μl, ditambahkan Rmix (dNTP, MgSO4 dan
buffer) 5 μl dan ditambahkan aquabides 1,55 μl. Kemudian tabung PCR dimasukkan
kedalam thermo-cycler Eppendorf Mastercycler personal atau PTC-100TM
Programable Thermal Controller MJ Research Inc. Mesin penyiklus panas
diprogram dengan kondisi 94 °C selama 60 detik, 52 °C selama 30 detik, dan
elongasi pada suhu 72 °C selama 1 menit 30 detik. Pada bagian akhir diinkubasikan
pada suhu 72 °C untuk memperoleh fragmen yang sempurna selama 5 menit. Tabung

9
PCR dimasukkan setelah thermo-cycler mencapai suhu 50 °C. Setelah RT-PCR, 4 μl
produk RT-PCR ditambahkan blue juice (Bromphenol-blue dan Cycline Cyanol),
dan selanjutnya dielektroforesis pada gel agarose 1 % yang telah diisi etidium
bromide dengan tegangan 100V selama 30 menit. Visualisasi DNA dilakukan dengan
lampu ultraviolet dan didokumentasikan dengan kamera dan film Polaroid.
d. Uji Hemaglutinasi
Dilakukan dengan cara: setiap lubang plat mikro diisi dengan larutan PBS.
Kemudian ditambahkan antigen pada lubang 1 dan diencerkan secara berseri hingga
lubang 11, dan diaduk dengan pengocok mikro. Selanjutnya ditambahkan suspensi
sel darah merah pada semua lubang dan diaduk kembali. Setelah didiamkan selama
30 menit, diamati ada tidaknya endapan sel darah merah.
e. Uji Hambatan Hemaglutinasi
Dilakukan dengan cara: setiap lubang plat mikro diisi dengan larutan PBS.
Kemudian ditambahkan serum yang mengandung virus Avian Influenza (AI) atau
virus New Castle Disease (ND) pada lubang 1 dan diencerkan secara berseri hingga
lubang 11, dilanjutkan dengan penambahan antigen 4 unit HA pada lubang 1 – 11.
Setelah itu, diaduk dengan pengocok mikro. Selanjutnya ditambahkan suspensi sel
darah merah pada semua lubang dan diaduk kembali. Setelah didiamkan selama 30
menit, diamati ada tidaknya endapan sel darah merah.

10
BAB III
HASIL

Sampel dari hewan yang telah dinekropsi dengan nomor protokol 304/N/10
dikirim ke beberapa laboratorium untuk mengetahui agen penyebab penyakit guna
meneguhkan diagnosa penyakit yang menyebabkan kematian pada hewan. Untuk
laboratorium patologi veteriner sampel berupa irisan organ otak, paru-paru, jantung,
hati, limpa, ginjal dan usus. Irisan organ paru-paru dan usus yang mengalami
perubahan dikirimkan ke laboratorium mikrobiologi veteriner. Pengiriman sampel
berupa feses dan ulas darah tipis ke laboratorium parasitologi veteriner.
Hasil dari pemeriksaan di beberapa laboratorium yang telah dilakukan,
disajikan dalam tabel-tabel berikut.
3.1 Hasil Pemeriksaan Patologi Anatomi Veteriner
Gambar 1. Tabel Hasil Pemeriksaan Patologi Anatomi
Sisitem organ Perubahan Patologi Anatomi
Sistem syaraf Organ otak mengalami perdarahan
Organ jatung mengalami perdarahan dan terbungkus
Sistem kardiovaskuler
oleh fibrin
Paru-paru mengalami nekrosis dan terbungkus oleh
Sistem respirasi
fibrin
Sistem gastrointestinal Seluruh organ abdomen terbungkus oleh fibrin.
Sistem integumen Tidak ada perubahan
Sistem otot dan tendon Tidak ada perubahan
Sistem tulang dan
Tidak ada perubahan
persendian
Sistem urinaria Ginjal terbungkus oleh fibrin
Sistem reproduksi Tidak ada perubahan

3.2 Hasil Pemeriksaan Histopatologi


Gambar 2. Tabel Hasil Pemeriksaan Histopatologi
Organ Perubahan Histopatologi
Otak Otak mengalami perdarahan ringan dan kongesti
Usus Halus Lamina profia usus membengkak disertai poliferasi sel radang
makrofag.
Paru-paru Perdarahan, infiltrasi sel neutrophil dari lumen bronkhiolus sampai
lumen alveoli. Septa alveoli banyak nekrosis.
Hati Ditemukanya sel radang neutrophil
Limpa Mengalami perdarahan

11
Usus Besar Mengalami perdarahan, nekrosis, ditemukan infiltrasi sel radang
makrofag dan sedikit neutrophil
Ginjal Mengalami perdarahan ringan pada medula nekrosis pada tubulus dan
glomerulus.

3.3 Hasil Pemeriksaan Mikrobiologi Veteriner


Gambar 3. Tabel Hasil Pemeriksaan Mikrobiologi
Pertumbuhan pada Blood Agar Pertumbuhan pada MCA
Kolon berwarna putih susu, bentuk bulat, Terdapat pertumbuhan dengan warna koloni
tepi rata dan licin, diameter ± 2 mm. pink, bentuk tidak beraturan, diameter ± 3
mm.
Primary Test
Katalase +
Oksidase -
Motilitas +
Fermentasi glukosa +
Secondary Test
TSIA
Bagian tegak : Kuning +
Bagian miring: Kuning +
Produksi H2S -
SIM
Indol +
Motil +
Produksi H2S -
MR : Merah +
VP : Hijau -
Simmon Citrat Agar -
Gula-gula:
Glukosa + (Terbentuk Gas)
Laktosa + (Terbentuk Gas)
Escherichia coli

3.4 Hasil Pemeriksaan Parasitologi Veteriner


Gambar 4. Tabel Hasil Pemeriksaan Parasitologi
Materi Metode Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan
Feses Natif Negatif
Sedimentasi Negatif
Pengapungan Negatif
Cacing Negatif
Darah Ulas Darah Tipis Negatif

12
3.5. Hasil Pemeriksaan Virologi Veteriner
Gambar 6. Tabel Hasil Pemeriksaan Virologi
Hasil Pemeriksaan : Tidak dilakukan pemeriksaan karena tidak ada indikasi ke
arah penyakit virus dan babi sudah divaksinasi.

13
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Epidemiologi
Sistem pemeliharaan ternak dilakukan secara intensif. Akan tetapi lantai
kandang jarang dibersihkan dan lantai kandang berlubang-lubang sehingga banyak
terdapat genangan air. Hal ini akan mempercepat penyebaran penyakit antar babi
dalam satu kandang. Ternak pernah divaksinasi sebelumnya.

4.2. Gejala Klinis dan Perubahan Patologi Anatomi


Gejala klinis yang teramati pada babi kasus dengan nomor protokol 304/N/10
yaitu gejala yang terlihat adalah Diare, kaheksia dan anoreksia. Menurut Dharma dan
Putra (1997), gejala klinis colibasillosis pada anak babi setelah disapih adalah diare
dan edema.
Perubahan patologi anatomi yang tampak pada babi kasus adalah terlihat
adanya fibrin yang melapisi hampir semua organ-organ abdomen dan thorak, adanya
akumulasi cairan pada rongga abdomen, nekrosis pada organ paru-paru dan
pendarahan pada organ otak. Menurut Nielsen dkk (1975), patologi anatomi yang
tampak pada colibasillosis adalah eksudat fibrin pada pleura, pericardial, dan rongga
peritonium.

4.3. Diagnosa Sementara


Berdasarkan hasil anamnesa, gejala klinis yang tampak serta hasil dari
pemeriksaan patologi anatomi setelah dilakukannya nekropsi dimana ditemukannya
beberapa kelainan berupa adanya fibrin yang melapisi hampir semua organ-organ
abdomen dan thorak maka dapat diambil diagnosa sementara bahwa babi dengan
nomor protokol 304/N/10 menderita colibasillosis.

4.4. Diagnosa Banding


Diagnosa banding dari kasus Escherichia colli adalah Transmissable
Gastroenteritis (TGE).

14
4.5. Pemeriksaan Laboratorium
4.5.1. Hasil Pemeriksaan Histopatologi
Perubahan histopatologi pada usus adalah Lamina profia usus
membengkak disertai poliferasi sel radang makrofag pada usus halus dan pada usus
besar mengalami perdarahan, nekrosis serta ditemukan infiltrasi sel radang
makrofag dan sedikit neutrophil. Pada histopatologi paru-paru terlihat adanya
perdarahan serta infiltrasi sel neutrophil dari lumen bronkhiolus sampai lumen
alveoli dimana septa alveoli banyak mengalami nekrosis. Pada otak ditemukan
perdarahan ringan dan kongesti. Pada hati ditemukanya sel radang neutrophil.
Gambaran histopatologi pada ginjal adalah perdarahan ringan pada medula serta
nekrosis pada tubulus dan glomerulus.
Dari hasil histopatologi diatas dapat dijelaskan bahwa babi kasus dengan
nomor protokol 304/N/10 merupakan kasus septicemia dimana terlihat hampir
seluruh organ mengalami kelainan jaringan dan disebabkan oleh infeksi
bakteri dilihat dari jenis sel radang yang ditemukan.

4.5.2. Hasil Pemeriksaan Pada Laboratorium Parasitologi


Pemeriksaan di laboratorium parasitologi tidak ditemukan adanya
endoparasit pada organ dan pada pemeriksaan feses juga tidak ditemukan
adanya telur cacing. Ini menunjukkan bahwa babi kasus tersebut tidak
terinfeksi parasit.

4.5.3. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi


Pada media Sheep Blood Agar koloni yang tumbuh berwarna putih
kekuningan (keruh), bentuk bulat, tepi rata, elevasi cembung, diameter ± 2
mm dan tidak menghemolisa darah. Pada media Mac Conkey Agar kuman
yang tumbuh berwarna merah muda (pink), bentuk tidak beraturan, dengan
tepi rata dan elevasi cembung. Pada pewarnaan gram, kuman berwarna merah
dan berbentuk batang pendek.
Setelah kuman diisolasi, dilanjutkan dengan identifikasi kuman, untuk
uji oksidase hasilnya negatif, karena tidak ada perubahan warna ungu menjadi
biru pada stick oksidase. Sedangkan untuk uji katalase hasilnya positif yang

15
ditandaidengan terbentuknya gelembung udara setelah kuman ditetesi dengan
larutan H2O2 3%.
Pada media Triple Sugar Iron Agar (TSIA) terbentuk asam pada
bagian media tegak dan miring, sehingga media berubah warna menjadi
kuning baik pada bagian tegak maupun pada bagian miring. Hal ini
menandakan kuman memfermentasi glukosa, laktosa, dan sukrosa, terdapat
gelembung gas pada media bagian tegak, hal ini mengindikasikan kuman
menghasilkan gas. Tidak ada perubahan warna media menjadi hitam. Kuman
yang ditanam pada media Sulphide Indol Motility (SIM), kuman bersifat
motil, media berubah menjadi kuning dan tidak menunjukkan adanya
pembentukan H2S (media tidak menjadi hitam), sedangkan indolnya positif.
Uji penggunaan sitrat, dengan menggunakan media simon citrate agar
menunjukkan hasil negatif dimana media tidak berubah dari hijau menjadi
biru. Hal ini karena mikro organisme tidak mampu menggunakan sitrat
sebagai sumber karbon dan energi. Pada uji MRVP menunjukkan hasil positif
pada MR yaitu ditandai dengan warna merah /terbentuk cincin setelah ditetesi
reagen MR dan VP negatif (warna tidak berubah setelah ditetesi reagen VP).
Pada uji fermentasi karbohidrat, dengan media kaldu karbohidrat
(glukosa dan laktosa) didapatkan hasil positif memfermentasi karbohirat dan
membentuk gas, dimana pada semua media berubah warnanya menjadi
kuning (bersifat asam), dan adanya udara pada ujung tabung durham. Setelah
diisolasi dan dicocokkan dengan table identifikasi Coween dan Steel, bakteri
yang berhasil diidentifikasi pada pemeriksaan adalah Escherichia coli.
Berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi, pemeriksaan
Laboratorium Mikrobilogi Veteriner dan Laboratorium Parasitologi Veteriner
yang menunjang diagnosa sementara, maka diagnosa akhir dari kasus babi
dengan nomor protokol 304/N/10 adalah Colibasilosis.

16
4.6. Kolibasillosis
Kolibasilosis disebabkan oleh bakteri Escherichia coli patogen yang biasanya
terjadi pada babi muda. Penyakit ini muncul karena kondisi lingkungan terutama
kandang dengan sanitasi yang buruk yaitu kotor dan lembab ditambah dengan
manajemen pakan dan pengendalian penyakit yang jelek.
Kolibasilosis adalah penyakit umum yang dapat menyerang banyak hewan
dan manusia yang disebabkan karena bakteri escherichia coli patogen. Penyakit ini
banyak menimbulkan kerugian karena angka morbiditas dan mortalitasnya yang
tinggi. Gejala klinis penyakit ini ditandai dengan diare bisa watery atau non watery.
Kolibasillosis dengan diare yang encer sekali atau watery biasanya disebabkan oleh
strain Enterotoxigenic E. coli (ETEC) karena produksi toksin yang bersifat heat
stabile atau heat labile. Sedangkan diare dengan gambaran non watery dan bahkan
dapat juga bercampur dengan darah dapat disebabkan oleh strain enteropatogenic,
enteroinvasive dan enterohemorragi E.coli (Doyle and Dolores, 2006).
Kolibasilosis pada gastrointestinal dapat dibagi dalam 3 bentuk, yaitu
neonetal diare, weaning diare, edema disease. Neonatal diare terjadi pada anak babi
yang berumur kurang dari 4 hari, dengan gejala klinis yaitu diare yang berwarna
putih. Weaning diare terjadi pada anak babi yang berumur 5 hari sampai dengan
sesaat setelah disapih, dengan gejala yang tampak adalah diare yang berwarna putih.
Edema disease, kejadian penyakit ini pada anak babi yang ditandai dengan adanya
odem diseluruh tubuh (Tona dan Besung, 1994).

4.7. Escherichia coli


Escherichia coli merupakan famili dari Enterobacteriaceae yang bersifat
fakultatif anaerob, gram negatif dan tinggal di usus hewan, tidak memproduksi gas
H2S. Isolasi bakteri ini pada media agar darah, koloni dapat dilihat dengan bentuk
bundar warna putih keruh dan dapat menghemolisa darah. Pada penelitian yang
dilakukan oleh Nielsen dkk (1975) menunjukan bahwa mayoritas E. coli yang
diisolasi dari babi dengan kasus septicemia merupakan E. coli yang non hemolitik.
Isolasi pada agar MacConkay, koloni terlihat khas dengan warna merah muda yang
menandakan bahwa bakteri ini dapat menggunakan laktosa untuk pertumbuhannya.

17
Secara umum bakteri Escherichia coli adalah flora normal dalam usus hewan
babi, selama dilaksanakan manajemen pemeliharaan yang baik bakteri ini akan
bersifat komensalisme dengan hostnya. Namun jika terjadi penurunan kondisi
lingkungan dan kondisi hewan yang kurang baik maka peluang terinfeksi bakteri
Escherichia coli patogen menjadi sangat besar. Infeksi dapat terjadi karena bakteri
Escherichia coli patogen tertelan oleh hewan baik melalui makanan dan minuman
yang terkontaminasi maupun puting susu yang tercemar (Moon et al, 1971).
Infeksi yang disebabkan oleh Escherichia coli dapat bersifat lokal atau
sistemik. Infeksi lokal terbatas pada satu atau lebih dari organ sedangkan infeksi
sistemik terjadi ketika bakteri menyebar keseluruh tubuh melalui aliran darah
(Nielsen dkk, 1975).
Mekanisme terjadinya diare pada kasus Escherichia coli adalah karena usus
halus tidak dapat mengeksresikan enzim pencernaan akibat rusaknya lapisan mukosa
sehingga zat makanan tidak tercerna secara kimiawi menyebabkan zat makanan tidak
dapat diserap oleh usus halus yang mengakibatkan tekanan osmotik di lumen
meningkat sehingga cairan yang berada didalam sel tertarik keluar sehingga terjadi
peningkatn jumlah cairan. Diare juga dapat terjadi karena dilepaskannya enterotoksin
tahan panas yang akan menyebabkan akumulasi cAMP, dimana dapat
mengakibatkan menurunnya absorbsi NaCl dan sekresi Clorida meningkat. Dengan
menurunnya absorbsi Natrium, pada usus dan lumen usus merenggang yang diikuti
oleh peningkatan peristaltik usus sehingga terjadi diare (Tono dan Besung, 1994).
Dari adanya diare ini menimbulkan dehidrasi, lemas, bulu kusam (kurangnya
cairan untuk membasahi bulu). Anorexia dan diare menyebabkan kekurusan. Adanya
peradangan pada paru-paru menyebabkan hewan sulit bernafas, sehingga tubuh
kekurangan oksigen menyebabkan pucatnya mukosa. Adanya infeksi ulang pasca
kesembuhan dikarenakan hewan yang sakit dengan hewan yang sehat dicampur
dalam satu kandang sehingga belum sepenuhnya sembuh akan terinfeksi lagi oleh
kuman tersebut
Diare yang terjadi dapat bersifat watery atau cair dan non watery biasanya
feses bercampur darah. Pembagian grup Escherichia coli patogen dapat dilihat
melalui tabel dibawah ini.

18
Virulen E. Coli

Noninvasive Invasive

Enteropathogenik Enterotoxigenik Nontoxigenik Toxigenik

Shigela-likecytotoxic

EHEC EPEC LT ST (Inhibits Protein Synthesis)

VT (Heat-labile (Heat-stabile
Increases cAMP) Increase CGMP)

Tabel Pembagian Grup Escherichia coli pathogen (Doyle and Dolores, 2006).

Escherichia coli patogen dapat dikelompokkan menjadi E.coli invasive dan


noninvasive. E.coli invasive dapat menimbulkan infeksi dengan cara menginvasif sel
sehingga disebut juga Enteroinvasive E.coli (EIEC). Escherichia coli non invasive
dapat dibagi lagi menjadi Enteropathogenik dan Enterotoxigenik. Enteropatogenik
dapat dikelompokkan menjadi dua grup patogen yaitu Enteropatogenic E. coli
(EPEC) dan Enterohemorragi E. coli (EHEC). Enterotoxigenic adalah jenis grup E.
coli patogen yang dapat memproduksi toksin baik yang tahan panas (Heat stabile
toxin) atau yang tidak tahan panas (Heat labile toxin) (Doyle and Dolores, 2006).
Diagnosa yang tepat untuk kasus Escherichia coli dapat dilakukan melalui
pemeriksaan labolatorium mikrobiologi dengan cara identifikasi melalui penanaman
dan uji lanjutan. Pengujian dapat juga dilakukan dengan tes serologi untuk
mengetahui strain Escherichia coli patogen dengan lebih spesifik. Pengobatan dapat
dilakukan dengan pemberian antibiotika yang sebelumnya telah diuji kepekaannya
untuk lebih memaksimalkan pengobatan.

19
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan
Babi dengan nomor protokol 304/N/10 berdasarkan hasil dari pemeriksaan di
empat laboratorium (patologi, bakteriologi, parasitologi dan virologi) didiagnosa
menderita penyakit kolibasilosis.

5.2. Saran
Perlu perbaikan manajemen kandang, pakan dan pengendalian penyakit.
Kandang harus dijaga kebersihan dan kelembabannya. Pengendalian penyakit dengan
cara pemberian vaksin, obat cacing dan antibiotika harus lebih diperhatikan serta
pemisahan hewan yang sakit dengan hewan yang sehat juga harus dilakukan untuk
mencegah terjadinya penularan antar ternak dalam satu kandang.

20
DAFTAR PUSTAKA

Dharma, Dewa Made Ngurah dan Anak Agung Gde Putra. 1997. Penyidikan
Penyakit Hewan. CV Bali Media. Denpasar.

Doyle, J. E and G. E. Dolares. 2006. Escherichia coli in Diarrheal Disease. Accessed


at

Moon, H.G., Sorensen, D.K., and Satter, J.H. 1971. Experimental Enteric
Colibacillosis in Piglets. College of veterinary Medicine University of
Minnesota

Nielsen, N. C., N. Bile., H. –J. Riising and A. Dam. 1975. Polyserositis in Pigs Due
to Generalized Escherichia coli Infection.

Tono, K.P.G and Besung, N.K. 1994. Ilmu Penyakit Bakterial. Program Studi
Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Denpasar.
LAMPIRAN

Gambar 1. Babi (304/N/10) Gambar 2. Fibrin pada abdomen

Gambar 3. Oedem pada abdomen Gambar 4. Fibrin dan Nekrosis Paru

Gambar 5. Fibrin pada hati Gambar 6. Fibrin pada limpa.


Gambar 7. Perdarahan pada otak Gambar 8. Koloni pada MCA

Gambar 9. Uji Oksidase Gambar 10. Koloni pada TSIA

Gambar 11. Uji Glukosa Gambar 12. Uji Laktosa


Gambar 13. Uji MR (kiri) dan Uji VP Gambar 14. Uji SIM

Gambar 15. Uji Simon Citrat Agar

Gambar 16. Pewarnaan Gram