Anda di halaman 1dari 3

Sisi Gelap Dunia Sufi

Kehidupan para sufi bukanlah sekedar sebuah dimensi kehidupan orang-orang suci yang
begitu cemerlang menghiasi lembar sejarah umat di masa keemasan Islam. Sufisme dan
ilmu tasawuf telah mengalami perkembangan, masa cemerlang, dan juga masa-masa
surutnya. Ajaran sufi dengan berbagai tarekat dan kitab-kitab tasawuf karangan para
syekh sufi merupakan salah satu buah karya ilmu dan peradaban Islam yang ikut
berperan dalam memperkaya khazanah umat terutama pada periode keemasan Islam di
abad pertengahan. Juga telah banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama dan orang-orang
saleh.

Namun, di balik sisi kecemerlangan akidah para sufi pada prakteknya banyak dijumpai
berbagai penyimpangan yang bertentangan dengan akidah, syariat, dan akhlak Islam
yang sempurna. Sebagian sufi ada yang menempuh cara menghadirkan ruh, dengan
keyakinan, bahwa itu dari tasawuf. Sebagian lagi ada yang menempuh cara-cara mistik
dan magis. Mereka memberi perhatian khusus kepada makam para wali. Makamnya
dibangun diberinya lampu, diziarahinya dan dimintanya berkah, dengan segala bentuk
bid’ah yang sama sekali tidak dibenarkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Pada tingkat
yang lebih ekstrem ada sebagian sufi yang berpendapat tentang tidak berlakunya taklif
<menjalankan kewajiban-kewajiban agama> bagi seorang wali. Artinya, bahwa ibadah
tidaklah menjadi keharusan bagi seorang wali sebab ia telah mencapai suatu tingkatan ,
dimana ia tak perlu lagi melakukan kewajiban-kewajiban itu. Sebab jika ia sibuk dengan
pekerjaan-pekerjaan syar’I dengan segala fenomenanya maka ia akan terputus dari
keterpeliharaan batinnya. Selanjutnya ia akan dikacaukan oleh bermacam ragam
pemikiran yang mempengaruhi batinnya untuk melihat yang lahir.

Imam Ghazali mengkritik mereka yang telah diselimuti sifat sombong, antara lain
terhadap kelompok-kelompok berikut ini:
- mereka yang merasa bangga terhadap pakaian, sikap, dan logika
- mereka yang mengklaim ilmu ma’rifat menyaksikan Yang Haq dan melampui
maqam dan ahwal
- mereka yang terjerumus ke dalam perilaku permisif melipat hamparan syara’ dan
menolak ahwal dan menganggap sama antara yang halal dan haram
- mereka yang berkata: ”beramal secara fisik tidak mempunyai nilai sama sekali.
Sebab yang dilihat itu hatinya. Sedangkan hati kami ini sangat rindu mencintai
ALLAH sebagai perekat bagi ma’rifat ALLAH. Kami hanya terjun ke dunia ini
dengan tangan-tangan kami, sementara hati kami berdiam di dalam rububiyah
ALLAH. Karena itu kalaulah kami masih punya keinginan, itu hanyalah di dalam
lahir, bukan dalam hati.

Banyak kata-kata yang dinisbatkan kepada Abu Yazid al-Bustami tetapi Abdullah al-
Harawi <wafat 481 H> dan seorang orientalis RA Nicholson meragukan hubungan kata-
kata itu dengan Abu Yazid, kata-kata itu antara lain
- ”Maha suci aku, betapa agungnya kedudukanku”
- ”sesungguhnya aku, tidak ada tuhan selain aku, maka sembahlah aku”
- ”kuselami lautan, sementara para Nabi hanya berada di pinggirnya saja”
- ”aku naik ke langit, dan ku pukulkan kubahku di depan arasy”

Bahkan yang lebih ekstrem lagi adalah ucapan-ucapan Husein bin Mansur ”al-Hallaj”
yang begitu fenomemal namun mengundang kontroversi bahkan fitnah di kalangan
umat, seperti:
- aku adalah Dia yang paling mencintai dan Dia yang paling mencintai adalah aku,
kami adalah dua ruh yang menyatu dalam satu tubuh, apabila Dia melihatku, aku
pun melihatnya dan apabila aku melihat-Nya, maka Dia pun melihatku
- Kau baurkan ruh Engkau dengan ruhku, bak tuak yang membaur dalam air, jika
Engkau disentuh sesuatu maka aku pun disentuhnya karena itu maka Engkau
adalah aku dalam segalanya

Para penganut sufisme ada yang menggunakan kalimat-kalimat bermakna ”Ghouts dan
Ghiyats” <pertolongan>. Tetapi kemudian dikritik oleh Ibnu Taimiyah yang akhirnya
menimbulkan perdebatan yang panjang dan sengit dengan kaum sufi. Karena yang
berhak memiliki sifat itu adalah hanya ALLAH. ALLAH pula yang memperkenankan
pertolongan kepada siapa saja yang dimohonkan pertolongan seperti para malaikat dan
para nabi dan rasul serta orang-orang suci dan saleh.

Perdebatan antara Ibnu Taimiyah dengan kaum sufi terutama berkisar mengenai metode
zikir yang diterapkan oleh para penganut tarekat sufisme. Sebagian besar tarekat
sepakat tentang keutamaan zikir yang menyebut sebanyak-banyaknya asma dan sifat-
sifat ALLAH dibarengi dengan menghayati artinya. Namun, disebabkan dalam keadaan
yang begitu ekstasenya para sufi akhirnya hanya menyebutkan kata-kata singkat yang
menggantikan asma ALLAH seperti ”hua-hua” yang artinya ”Dia Dia.”

Ibnu Taimiyah melalui kitabnya berkaitan dengan keadaan ekstase para sufi itu
berpendapat bahwa berzikir dengan satu kata baik dengan bersuara atau tersembunyi
adalah tidak berdasar sama sekali. Beliau menganggap hal itu sebagai salah satu bentuk
bid’ah dalam berzikir kepada ALLAH bahkan menyerupai perilaku para penganut paham
atheis dan ilmu kebatinan yang rusak. Ibnu Taimiyah juga menambahkan bahwa dengan
mengucapkan kata-kata itu nuraninya hanya kembali kepada apa yang digambarkan oleh
kalbu. Sedangkan kalbu itu kadang-kadang mendapat petunjuk dan kadang-kadang
tersesat.

Ada sebagian kaum sufi yang mengkaitkan tasawuf dengan melakukan berbagai
perbuatan yang aneh dan luar biasa seperti bermain dengan ular, membuka kepala dan
menganyam rambut atau justru membiarkannya panjang dan semrawut.. Berpenampilan
kusam dan compang camping sehingga auratnya tidak tertutup. Bila memang krn
keadaan yang miskin sebagaimana yang diutamakan oleh sufisme namun semestinya
para sufi pun harus bekerja keras demi mencukupi kebutuhannya seperti membeli
pakaian dan kain sehingga layak dikenakan. Jangan hanya bermalas-malasan atau setiap
waktu berdiam di mesjid-mesjid lalu shalat dan puasa tiada henti lalu untuk hidup
sekedar makan dan minum yang diperoleh dari mengemis atau meminta-minta.

Kritik lain Ibnu Taimiyah adalah mengenai nazar terhadap orang-orang mati yang
dilakukan oleh sebagian kaum sufi di zamannya kepada para nabi, syeikh, dan orang-
orang suci/saleh lainnya, atau terhadap kuburan mereka. Beliau secara tegas
menyatakan bahwa itu adalah syirik dan maksiat kepada ALLAH.

Mengenai sikap ”fana” yang menjadi trend di kalangan sufi Ibnu Taimiyah menjelaskan
bahwa dalam fana semacam itu seorang sufi kadang-kadang berkata ”aku adalah al-Haq”
atau ”Maha suci aku” atau ”di jubahku adalah ALLAH”. Dan sebagainya meski beliau
masih bersikap moderat dengan meyakini bahwa memang ada sebagian sufi yang benar-
benar mencapai tingkatan ketidaksadaran atau sakar rububiyah akibat begitu
masyhuknya berzikir dan taqarrub kepada ALLAH sehingga ucapannya tidak dapat lagi
berlaku secara normal. Kelezatan iman dan kedekatan yang begitu tinggi yang berhasil
diraih oleh seorang sufi, maka meski ucapannya dalam sudut pandang syariat dilarang,
namun tidaklah berdosa bagi sang sufi karena ia tidak sadar secara harfiah dengan
semua ucapannya itu. Meskipun mereka tidaklah berdosa namun haram mengikuti
ucapan-ucapan mereka dan tidak boleh pula menganggap bahwa apa yang mereka
ucapkan adalah sesuatu yang benar.
Begitu banyaknya persoalan dalam sufisme dan ilmu tasawuf dimana banyak ulama
berbedap pendapat mengenai berbagai praktek sufisme yang direalisasikan dalam
bentuk tarekat-tarekat yang terikat dengan para syekh/guru sufi masing-masing.
Sehingga memunculkan berbagai tindakan kultus individu terhadap banyak ulama sufi
yang begitu dimuliakan dan disucikan oleh para pengikutnya. Bahkan makam-makam
mereka dikeramatkan dan diziarahi secara rutin dengan melakukan zikir dan doa. Hal ini
menjadi kontra produktif dengan disiplin ilmu tasawuf yang menjadi dasar sufisme. Pada
prinsipnya ilmu tasawuf bertujuan mengajarkan setiap muslim agar memiliki ilmu yang
memadai berdasarkan petunjuk kitab suci al-Qur’an dan hadist Rasulullah untuk
mengenal, mendekatkan diri, dan beribadah/menyembah ALLAH dengan sikap
penyerahan diri yang seutuhnya dan dalam kerangka kwalitas keimanan yang sempurna.
Sehingga akan tercapai derajat taqwa yang tinggi sebagai puncak kemuliaan yang
menjadi parameter penilaian ALLAH kepada para hamba-Nya.

Persoalan-persoalan tersebut tidak dapat terhindarkan karena ruang lingkup


pembahasan sufisme dan ilmu tasawuf adalah sifat-sifat ALLAH Yang Maha Suci dan
Maha Tinggi. Sedangkan manusia adalah makhluk ALLAH yang memiliki banyak
keterbatasan dan kelemahan. Meski banyak tuduhan miring berkaitan dengan sejarah
awal berdirinya sufisme namun sebagai tolok ukur dari kesahihan ajaran sufi adalah
wahyu ALLAH yang termaktub dalam al-Qur’an dan hadist Rasulullah SAW. Sedikit saja
melenceng dari keduanya, maka dipastikan ia akan tersesat dan jatuh ke lembah
kekufuran.

Tasawuf dan sufisme akan senantiasa dibutuhkan untuk dipelajari dan dikaji sebagai
kekayaan ilmu umat. Sebagai penyempurna syariat dan penguat akidah serta penghalus
akhlaq dan budi pekerti. Tidak sedikit ulama sufi menjadi teladan dan pribadi mulia yang
layak dijadikan panutan karena menerapkan ajaran tasawuf sesuai dengan tuntunan al-
Qur’an dan as-Sunnah. Menjalankan syariat dengan sekaligus mencegah terjadinya
bid’ah, menolak kultus individu terhadap para syekh/guru sufi, dan membuang semua
infiltrasi akidah thagut yang dapat mencemari kemurnian Tauhid adalah cara yang
sangat efektif agar ajaran tasawuf dapat diterapkan sesuai petunjuk al-Qur’an dan as-
Sunnah. Wallahu ’alam.

-Ruslan

Referensi: Gerakan Keagamaan dan Pemikiran <Akar ideologis dan penyebarannya> -


WAMY, penerbit al-Ishlahy Press.