Anda di halaman 1dari 33

PERATURAN BERSAMA

MENTERI KESEHATAN

DAN

KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA


NOMOR 1110/MENKES/PB/XII/2008
NOMOR 25 TAHUN 2008

TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN
JABATAN FUNGSIONAL BIDAN DAN ANGKA KREDITNYA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


MENTERI KESEHATAN
DAN
KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA,

Menimbang : a. bahwa dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan


Aparatur Negara Nomor 01/PER/M.PAN/1/2008 telah di
tetapkan Jabatan Fungsional Bidan dan Angka Kreditnya;

b. bahwa untuk tertib administrasi dalam pelaksanaannya,


dipandang perlu menetapkan Peraturan Bersama Menteri
Kesehatan dan Kepala Badan Kepegawaian Negara tentang
Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Bidan dan Angka
Kreditnya;
Mengingat : 1. Undang - Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-
pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3041), sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890);

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor
100, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3495);

3. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1966 tentang


Pemberhentian/Pemberhentian Sementara Pegawai Negeri
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1966 Nomor 7,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
2797);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang


Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 11, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3098),
sebagaimana telah sepuluh kali diubah terakhir dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2008 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 25);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang


Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 50, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3176);

2
6. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan
Fungsional Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1994 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3547);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga


Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996
Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3637);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang Formasi


Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2000 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4015), sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2003
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor
122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4332);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 tentang


Pengadaan Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 195, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4016), sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 31,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4192);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang


Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 196, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4017),
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah

3
Nomor 12 Tahun 2002 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2002 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4193);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang


Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor
198, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4019);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang


Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian
Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4263);

13. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang Rumpun


Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil;

14. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang


Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi
dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor
64 Tahun 2005;

15. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan,


Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Negara Republik Indonesia;

16. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara


Nomor 01/PER/M.PAN/1/2007 tentang Jabatan Fungsional
Bidan dan Angka Kreditnya;

4
MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN BERSAMA MENTERI KESEHATAN DAN KEPALA


BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA TENTANG PETUNJUK
PELAKSANAAN JABATAN FUNGSIONAL BIDAN DAN ANGKA
KREDITNYA.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Bersama ini yang dimaksud dengan:

1. Bidan adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas,


tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh
pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan
kebidanan pada sarana pelayanan kebidanan.

2. Bidan tingkat terampil adalah Bidan dengan kualifikasi teknis


atau penunjang profesional yang pelaksanaan tugas dan
fungsinya mensyaratkan penguasaan pengetahuan teknis di
bidang kebidanan.

3. Bidan tingkat ahli adalah Bidan dengan kualifikasi


profesional yang pelaksanaan tugas dan fungsinya
mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
di bidang kebidanan.

4. Pelayanan kebidanan adalah pelayanan profesional yang


merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada ibu dalam kurun waktu masa reproduksi,
bayi baru lahir, bayi dan balita.

5
5. Sarana pelayanan kebidanan adalah tempat yang digunakan
untuk menyelenggarakan pelayanan kebidanan, yaitu Rumah
Sakit, Rumah Bersalin, Puskesmas, Puskesmas Pembantu,
Klinik Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Pondok Bersalin Desa
(Polindes) dan/atau unit pelayanan kesehatan lainnnya.

6. Angka kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan


dan/atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang harus
dicapai oleh seorang Bidan dalam rangka pembinaan karier
kepangkatan dan jabatannya.

7. Tim penilai angka kredit adalah tim penilai yang dibentuk


dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang dan bertugas
menilai prestasi kerja Bidan.

8. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat adalah Menteri, Jaksa


Agung, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Kepresidenan,
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pimpinan
Lembaga Pemerintah Non Departemen, Pimpinan
Kesekretariatan Lembaga Tinggi Negara, Kepala Pelaksana
Harian Badan Narkotika Nasional serta Pimpinan
Kesekretariatan Lembaga lain yang dipimpin oleh pejabat
struktural eselon I dan bukan merupakan bagian dari
Departemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen.

9. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Provinsi adalah


Gubernur.

10. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota


adalah Bupati/Walikota.

11. Pemberhentian adalah pemberhentian dari jabatan Bidan


bukan pemberhentian sebagai Pegawai Negeri Sipil.

6
BAB II

USUL PENILAIAN DAN PENETAPAN ANGKA KREDIT

Pasal 2

(1) Bahan penilaian angka kredit Bidan disampaikan pimpinan


unit kerja paling rendah pejabat struktural eselon IV yang
bertanggung jawab di bidang kepegawaian setelah diketahui
oleh atasan langsung pejabat fungsional yang bersangkutan
kepada pejabat yang berwenang mengusulkan penetapan
angka kredit.

(2) Pejabat yang berwenang mengusulkan penetapan angka


kredit Bidan menyampaikan usul penetapan angka kredit
kepada pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit.

(3) Usul penetapan angka kredit Bidan dibuat menurut contoh


formulir, sebagai berikut:

a. lampiran I-A sampai dengan Lampiran I-D untuk Bidan


tingkat terampil; dan

b. lampiran II-A sampai dengan Lampiran II-C untuk Bidan


tingkat ahli.

(4) Setiap usul penetapan angka kredit Bidan harus dilampiri


dengan:

a. surat pernyataan melakukan kegiatan pelayanan


kebidanan, dibuat menurut contoh formulir sebagaimana
tersebut dalam Lampiran III Peraturan Bersama ini;

b. surat pernyataan melakukan kegiatan pengembangan


profesi, dibuat menurut contoh formulir sebagaimana
tersebut dalam Lampiran IV Peraturan Bersama ini;

7
c. surat pernyataan melakukan kegiatan penunjang tugas
Bidan, dibuat menurut contoh formulir sebagaimana
tersebut dalam Lampiran V Peraturan Bersama ini; dan

d. surat pernyataan telah mengikuti pendidikan dan


pelatihan, dibuat menurut contoh formulir sebagaimana
tersebut dalam Lampiran VI Peraturan Bersama ini.

(5) Surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus


disertai dengan bukti fisik.

Pasal 3

(1) Setiap usul penetapan angka kredit Bidan harus dinilai


secara seksama oleh Tim Penilai berdasarkan rincian
kegiatan dan nilai angka kredit sebagaimana tersebut dalam
Lampiran I atau Lampiran II Peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
01/PER/M.PAN/1/2008.

(2) Hasil penilaian Tim Penilai sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) disampaikan kepada pejabat yang berwenang
menetapkan angka kredit untuk ditetapkan angka kreditnya.

Pasal 4

(1) Penetapan angka kredit Bidan sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 3 ayat (2), ditetapkan oleh pejabat yang berwenang
menetapkan angka kredit, dibuat menurut contoh formulir
sebagaimana tersebut dalam Lampiran VII Peraturan
Bersama ini.

(2) Asli Penetapan Angka Kredit (PAK) disampaikan kepada


Kepala Badan Kepegawaian Negara/Kepala Kantor Regional
BKN, dan tembusan disampaikan kepada:

8
a. Bidan yang bersangkutan;

b. Sekretaris Tim Penilai Bidan yang bersangkutan;

c. Kepala Biro/Badan Kepegawaian Daerah/Bagian


Kepegawaian instansi yang bersangkutan; dan

d. Pejabat lain yang dipandang perlu.

Pasal 5

(1) Untuk kelancaran penilaian dan penetapan angka kredit,


setiap Bidan wajib mencatat dan menginventarisir semua
kegiatan yang dilakukan.

(2) Hasil penilaian kegiatan dalam bentuk daftar usul penetapan


angka kredit wajib diusulkan paling kurang 1 (satu) kali
dalam setahun.

(3) Penilaian dan penetapan angka kredit terhadap setiap Bidan


dilakukan paling kurang 1 (satu) kali dalam setahun.

(4) Penilaian dan penetapan angka kredit terhadap Bidan


dilakukan paling kurang 2 (dua) kali dalam setahun, dengan
ketentuan sebagai berikut:

a. untuk kenaikan pangkat periode April, angka kredit


ditetapkan paling lambat pada bulan Januari tahun yang
bersangkutan; dan

b. untuk kenaikan pangkat periode Oktober, angka kredit


ditetapkan paling lambat pada bulan Juli tahun yang
bersangkutan.

9
Pasal 6

(1) Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit dapat


mendelegasikan atau memberikan kuasa kepada pejabat lain
untuk menetapkan angka kredit sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 ayat (1) Peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 01/PER/M.PAN/1/
2008.

(2) Pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam rangka


pengendalian dan tertib administrasi harus membuat
spesimen tanda tangan pejabat yang berwenang menetapkan
angka kredit dan disampaikan kepada Kepala Badan
Kepegawaian Negara/Kepala Kantor Regional Badan
Kepegawaian Negara.

(3) Apabila terdapat pergantian pejabat yang berwenang


menetapkan angka kredit, spesimen tanda tangan pejabat
yang menggantikan tetap harus dibuat dan disampaikan
kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara/Kepala Kantor
Regional Badan Kepegawaian Negara yang bersangkutan.

Pasal 7

Apabila pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 berhalangan sehingga tidak
dapat menetapkan angka kredit sampai batas waktu yang
ditentukan dalam Pasal 5 ayat (2), angka kredit dapat ditetapkan
oleh pejabat lain satu tingkat dibawahnya yang secara fungsional
bertanggung jawab di bidang pelayanan kebidanan setelah
mendapatkan delegasi atau kuasa dari pejabat yang berwenang
menetapkan angka kredit atau atasan pejabat yang berwenang
menetapkan angka kredit.

10
BAB III
TIM PENILAI

Pasal 8

(1) Syarat untuk menjadi Anggota Tim Penilai adalah sebagai


berikut:

a. menduduki jabatan/pangkat paling rendah sama dengan


jabatan/pangkat Bidan yang dinilai;

b. memiliki keahlian serta mampu menilai prestasi kerja


Bidan; dan

c. dapat aktif melakukan penilaian.

(2) Masa jabatan Anggota Tim Penilai sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) adalah 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat
kembali untuk masa jabatan berikutnya.

(3) Anggota Tim Penilai yang telah menjabat dalam 2 (dua) kali
masa jabatan secara berturut-turut sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), dapat diangkat kembali setelah melampaui
tenggang waktu 1 (satu) masa jabatan.

(4) Dalam hal terdapat anggota Tim Penilai yang pensiun atau
berhalangan paling singkat 6 (enam) bulan, maka Ketua Tim
Penilai mengusulkan penggantian anggota Tim Penilai secara
definitif sesuai masa kerja yang tersisa kepada pejabat yang
berwenang menetapkan Tim Penilai.

(5) Dalam hal terdapat anggota Tim Penilai yang turut dinilai,
maka Ketua Tim Penilai dapat mengangkat anggota Tim
Penilai Pengganti.

(6) Susunan anggota Tim Penilai terdiri dari unsur kepegawaian,


unsur teknis, dan pejabat fungsional Bidan dengan
ketentuan sebagai berikut:

11
a. seorang ketua merangkap anggota dari unsur teknis;

b. seorang wakil ketua merangkap;

c. seorang sekretaris merangkap anggota anggota dari unsur


kepegawaian; dan

d. paling kurang 4 (empat) orang anggota.

(7) Anggota Tim Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (6)


huruf d, paling kurang 2 (dua) orang Bidan.

(8) Dalam hal komposisi jumlah anggota Tim Penilai


sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak dapat dipenuhi,
maka anggota Tim Penilai dapat diangkat dari pejabat lain
yang mempunyai kompetensi dalam penilaian prestasi kerja
Bidan.

(8) Tata kerja dan tata cara penilaian Tim Penilai dalam
melakukan penilaian ditetapkan oleh Menteri Kesehatan
selaku pimpinan instansi pembina jabatan fungsional Bidan.

Pasal 9
(1) Tugas Tim Penilai Departemen adalah:

a. membantu Direktur yang membina pelayanan kebidanan


Departemen Kesehatan dalam menetapkan angka kredit
Bidan Madya yang bekerja pada sarana pelayanan
kesehatan di lingkungan Departemen Kesehatan dan
instansi lain; dan

b. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh


Direktur yang membina pelayanan kebidanan Departemen
Kesehatan yang berhubungan dengan penetapan angka
kredit sebagaimana dimaksud huruf a.

12
(2) Tugas Tim Penilai Unit Kerja adalah:

a. membantu pimpinan unit kerja pelayanan kebidanan


pada sarana pelayanan kesehatan di lingkungan
Departemen Kesehatan (paling rendah eselon II) dalam
menetapkan angka kredit Bidan Pelaksana Pemula
sampai dengan Bidan Penyelia dan Bidan Pertama sampai
dengan Bidan Muda pangkat yang bekerja pada sarana
pelayanan kebidanan di lingkungan Departemen
Kesehatan; dan

b. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh


Pimpinan Unit Kerja pelayanan kebidanan pada sarana
pelayanan kesehatan di lingkungan Departemen
Kesehatan (paling rendah eselon II) yang berhubungan
dengan penetapan angka kredit sebagaimana dimaksud
huruf a.

(3) Tugas pokok Tim Penilai Provinsi adalah:

a. membantu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dalam


menetapkan angka kredit kredit Bidan Pelaksana Pemula
sampai dengan Bidan Penyelia dan Bidan Pertama sampai
dengan Bidan Muda yang bekerja pada sarana pelayanan
kebidanan di lingkungan provinsi; dan

b. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh


Kepala Dinas Kesehatan Provinsi yang berhubungan
dengan penetapan angka kredit sebagaimana dimaksud
huruf a.

(4) Tugas pokok Tim Penilai Kabupaten/Kota adalah:

a. membantu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota


dalam menetapkan angka kredit Bidan Pelaksana Pemula
sampai dengan Bidan Penyelia dan Bidan Pertama sampai

13
dengan Bidan Muda yang bekerja pada sarana pelayanan
kebidanan di lingkungan kabupaten/kota; dan

b. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang
berhubungan dengan penetapan angka kredit
sebagaimana dimaksud huruf a.

(5) Tugas pokok Tim Penilai Instansi adalah:

a. membantu pimpinan unit kerja instansi pusat di luar


Departemen Kesehatan dalam menetapkan angka kredit
Bidan Pelaksana Pemula sampai dengan Bidan Penyelia
dan Bidan Pertama sampai dengan Bidan Muda yang
bekerja pada sarana pelayanan kebidanan di lingkungan
masing - masing; dan

b. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh


pimpinan unit kerja instansi pusat di luar Depertemen
Kesehatan yang berhubungan dengan penetapan angka
kredit sebagaimana dimaksud huruf a.

(6) Dalam hal Tim Penilai Instansi belum terbentuk, penilaian


angka kredit Bidan dapat dimintakan kepada Tim Penilai
Departemen.

(7) Dalam hal Tim Penilai Provinsi belum terbentuk, penilaian


angka kredit Bidan dapat dimintakan kepada Tim Penilai
Provinsi lain terdekat atau Tim Penilai Departemen.

(8) Dalam hal Tim Penilai Kabupaten/Kota belum terbentuk,


penilaian angka kredit Bidan dapat dimintakan kepada Tim
Penilai Kabupaten/Kota lain terdekat atau Tim Penilai
Provinsi yang bersangkutan atau Tim Penilai Departemen.

14
Pasal 10

(1) Untuk membantu Tim Penilai dalam melaksanakan tugasnya,


dibentuk Sekretariat Tim Penilai yang dipimpin oleh seorang
Sekretaris yang secara fungsional dijabat oleh pejabat di
bidang kepegawaian.

(2) Sekretariat Tim Penilai dibentuk dan ditetapkan dengan


keputusan pejabat yang berwenang menetapkan angka
kredit.

Pasal 11

(1) Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit dapat


membentuk Tim Penilai Teknis yang anggotanya terdiri dari
para ahli, baik yang berkedudukan sebagai Pegawai Negeri
Sipil atau bukan Pegawai Negeri Sipil yang mempunyai
kemampuan teknis yang diperlukan.

(2) Tugas pokok Tim Penilai Teknis adalah memberikan saran


dan pendapat kepada Ketua Tim Penilai dalam hal
memberikan penilaian atas kegiatan yang bersifat khusus
atau kegiatan memerlukan keahlian tertentu.

(3) Tim Penilai Teknis menerima tugas dan bertanggung jawab


kepada Ketua Tim Penilai.

15
BAB IV

KENAIKAN JABATAN/PANGKAT

Pasal 12

Penetapan angka kredit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4


ayat (1), digunakan sebagai dasar untuk mempertimbangkan
kenaikan jabatan dan/atau pangkat Bidan sesuai peraturan
perundang-undangan.

Pasal 13

(1) Kenaikan jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12,


dapat dipertimbangkan apabila:

a. paling singkat telah 1 (satu) tahun dalam jabatan


terakhir;

b. memenuhi angka kredit kumulatif yang ditentukan untuk


kenaikan jabatan setingkat lebih tinggi;

c. telah mengikuti dan lulus diklat fungsional sesuai dengan


jenjang jabatan; dan

d. setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan


pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan
(DP3) paling rendah bernilai baik dalam 1 (satu) tahun
terakhir.

(2) Kenaikan jabatan dari jenjang Bidan Pelaksana Pemula untuk


menjadi jenjang Bidan Pelaksana sampai dengan jenjang
Bidan Penyelia dan dari jenjang Bidan Pertama untuk
menjadi jenjang Bidan Muda dan jenjang Bidan Muda untuk
menjadi jenjang Bidan Madya ditetapkan oleh Pejabat
Pembina Kepegawaian instansi masing–masing.

16
Pasal 14

(1) Kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12,


dapat dipertimbangkan, apabila:

a. paling singkat telah 2 (dua) tahun dalam pangkat


terakhir;

b. memenuhi angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan


pangkat setingkat lebih tinggi; dan

c. setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan


pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan
(DP3) paling rendah bernilai baik dalam 2 (dua) tahun
terakhir

(2) Kenaikan pangkat bagi Bidan Madya pangkat Pembina


Tingkat I golongan ruang IV/b menjadi Pembina Utama Muda
golongan ruang IV/c ditetapkan oleh Presiden setelah
mendapat pertimbangan teknis dari Kepala Badan
Kepegawaian Negara.

(3) Kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil Pusat yang


menduduki jabatan:

a. Bidan Pelaksana Pemula pangkat Pengatur Muda golongan


ruang II/a untuk menjadi Pengatur Muda Tingkat I
golongan ruang II/b sampai dengan Bidan Penyelia
pangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d; dan

b. Bidan Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a


untuk menjadi Penata Muda golongan ruang III/b sampai
dengan Bidan Madya pangkat Pembina Tingkat I golongan
ruang IV/b,

ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat yang


bersangkutan setelah mendapat persetujuan teknis Kepala

17
Badan Kepegawaian Negara /Kepala Kantor Regional Badan
Kepegawaian Negara.

(4) Kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil Daerah di lingkungan


Pemerintah Daerah Provinsi yang menduduki jabatan:

a. Bidan Pelaksana Pemula pangkat Pengatur Muda golongan


ruang II/a untuk menjadi Pengatur Muda Tingkat I
golongan ruang II/b sampai dengan Bidan Penyelia
pangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d; dan

b. Bidan Pertama pangkat Penata Muda golongan ruang III/a


untuk menjadi Penata Muda Tingkat I golongan ruang
III/b sampai dengan Bidan Madya pangkat Pembina
Tingkat I golongan ruang IV/b,

ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian Provinsi yang


bersangkutan setelah mendapat persetujuan teknis Kepala
Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara yang
bersangkutan.

(5) Kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil Daerah di lingkungan


Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang menduduki
jabatan Bidan Pelaksana Pemula pangkat Pengatur Muda
golongan ruang II/a untuk menjadi Pengatur Muda Tingkat I
golongan ruang II/b sampai dengan Bidan Penyelia pangkat
Penata Tingkat I golongan ruang III/d ditetapkan oleh
Pejabat Pembina Kepegawaian Kabupaten/Kota yang
bersangkutan setelah mendapat persetujuan teknis Kepala
Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara yang
bersangkutan.

(6) Kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil Daerah Kabupaten/


Kota yang menduduki jabatan Bidan Muda pangkat Penata
Tingkat I golongan III/d untuk menjadi Bidan Madya pangkat

18
Pembina, golongan ruang IV/a sampai dengan Pembina
Tingkat I golongan ruang IV/b ditetapkan oleh Gubernur yang
bersangkutan setelah mendapat persetujuan teknis Kepala
Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara yang
bersangkutan.

Pasal 15

(1) Kenaikan pangkat bagi Bidan dalam jenjang jabatan yang


lebih tinggi dapat dipertimbangkan jika kenaikan jabatannya
telah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Bidan yang memiliki angka kredit melebihi angka kredit yang
ditentukan untuk kenaikan jabatan/pangkat setingkat lebih
tinggi, kelebihan angka kredit dapat diperhitungkan untuk
kenaikan jabatan/pangkat berikutnya.

Pasal 16

(1) Bidan yang telah mencapai angka kredit untuk kenaikan


pangkat setingkat lebih tinggi pada tahun pertama dalam
masa pangkat yang didudukinya, pada tahun berikutnya
wajib mengumpulkan angka kredit paling rendah 20 % (dua
puluh persen) dari jumlah angka kredit yang dipersyaratkan
untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi yang berasal
dari kegiatan tugas pokok.

(2) Bidan Penyelia, pangkat Penata Tingkat I, golongan ruang


III/d, setiap tahun sejak menduduki pangkatnya wajib
mengumpulkan angka kredit dari kegiatan tugas pokok paling
rendah 10 (sepuluh) angka kredit.

19
(3) Bidan Madya, pangkat Pembina Utama Muda golongan ruang
IV/c, setiap tahun sejak menduduki pangkatnya wajib
mengumpulkan angka kredit dari kegiatan tugas pokok paling
rendah 20 (dua puluh) angka kredit.

(4) Bidan Madya pangkat Pembina golongan ruang IV/a untuk


menjadi pangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b dan
pangkat Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c, angka
kredit kumulatif yang dipersyaratkan untuk kenaikan
pangkat paling kurang 12 (dua belas) harus berasal dari
unsur pengembangan profesi.

Pasal 17

(1) Bidan Terampil yang memperoleh ijazah Sarjana


(S1)/Diploma IV Kebidanan dapat diangkat dalam jabatan
Bidan Ahli, apabila:

a. paling singkat telah 1 (satu) tahun dalam pangkat


terakhir;

b. setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan


pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksana Pekerjaan
(DP3) paling rendah bernilai baik dalam 1 (satu) tahun
terakhir; dan

c. memenuhi jumlah angka kredit yang ditentukan untuk


jenjang jabatan/pangkat yang didudukinya.

(2) Bidan terampil yang akan beralih menjadi Bidan ahli


diberikan angka kredit 65% (enam puluh lima persen) dari
angka kredit kumulatif Diklat, Tugas Pokok, dan
Pengembangan Profesi ditambah angka kredit ijazah Bidan
ahli, dengan tidak memperhitungkan angka kredit dari unsur
penunjang.

20
BAB V

PENGANGKATAN, PEMBEBASAN SEMENTARA DAN


PEMBERHENTIAN DALAM DAN DARI JABATAN

Bagian Pertama
Pengangkatan Dalam Jabatan

Pasal 18

(1) Pegawai Negeri Sipil yang diangkat pertama kali dalam


jabatan Bidan harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Bidan terampil harus memenuhi syarat:

1. berijazah paling rendah Sekolah Bidan/Diploma I


Kebidanan;

2. pangkat paling rendah Pengatur Muda, golongan ruang


II/a; dan

3. setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan


pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanan
Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam 1
(satu) tahun terakhir.

b. Bidan ahli harus memenuhi syarat:

1. berijazah paling rendah Sarjana (S1)/Diploma IV


Kebidanan;

2. pangkat paling rendah Penata Muda, golongan ruang


III/a; dan

3. setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan


pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanan
Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam 1
(satu) tahun terakhir.

21
(2) Pengangkatan pertama kali sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) adalah pengangkatan untuk mengisi lowongan
formasi jabatan Bidan melalui pengangkatan Calon Pegawai
Negeri Sipil.

(3) Surat Keputusan pengangkatan pertama kali dalam jabatan


Bidan dibuat menurut contoh formulir sebagaimana tersebut
dalam Lampiran VIII Peraturan Bersama ini.

Pasal 19

(1) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dari jabatan lain ke


dalam jabatan Bidan dapat dipertimbangkan dengan
ketentuan sebagai berikut:

a. memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27


ayat (1) atau ayat (2) dan Pasal 28 Peraturan Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
01/PER/M.PAN/1/2008;

b. memiliki pengalaman dalam pelayanan kebidanan paling


singkat 2 (dua) tahun;

c. usia paling tinggi 50 (lima puluh) tahun; dan

d. setiap unsur penilaian prestasi kerja dan pelaksanaan


pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan
(DP3) paling rendah bernilai baik dalam 1 (satu) tahun
terakhir.

(2) Pangkat yang ditetapkan bagi Pegawai Negeri Sipil


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sama dengan
pangkat yang dimilikinya, dan jenjang jabatan Bidan
ditetapkan sesuai dengan jumlah angka kredit yang
diperoleh setelah melalui penilaian dan penetapan angka

22
kredit dari pejabat yang berwenang yang berasal dari unsur
utama dan unsur penunjang.
(3) Surat Keputusan pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dari
jabatan lain ke dalam jabatan Bidan dibuat menurut contoh
formulir sebagaimana tersebut dalam Lampiran IX Peraturan
Bersama ini.

Pasal 20

Bagi Bidan yang karena perpindahan jabatan, memiliki


pangkat/golongan ruang yang lebih tinggi dari jabatan Bidan yang
diperolehnya dapat mengajukan kenaikan jabatan satu tingkat
lebih tinggi setelah 1 (satu) tahun dalam jabatannya dan
memenuhi angka kredit kumulatif yang diperlukan untuk kenaikan
jabatan.

Pasal 21

Di samping persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18


ayat (1), Pasal 19 ayat (1), pengangkatan Pegawai Negeri Sipil
dalam jabatan Bidan dilaksanakan sesuai formasi jabatan Bidan.

Bagian Kedua
Pembebasan Sementara
Pasal 22
(1) Bidan Pelaksana Pemula pangkat Pengatur Muda golongan
ruang II/a sampai dengan Bidan Penyelia pangkat Penata
golongan ruang III/c dan Bidan Pertama pangkat Penata
Muda golongan ruang III/a sampai dengan Bidan Madya
pangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b dibebaskan
sementara dari jabatannya apabila dalam jangka waktu 5
(lima) tahun:

23
a. sejak menduduki pangkat terakhir tidak dapat
mengumpulkan angka kredit yang ditentukan untuk
kenaikan jabatan/pangkat setingkat lebih tinggi; dan
b. sejak menduduki jabatan terakhir tidak dapat
mengumpulkan angka kredit untuk kenaikan jabatan
setingkat lebih tinggi, dalam hal jabatan yang
bersangkutan lebih rendah dari jabatan yang seharusnya
setara dengan pangkat yang dimiliki.
(2) Bidan Penyelia pangkat Penata Tingkat I golongan ruang
III/d dibebaskan sementara dari jabatannya, apabila setiap
tahun sejak diangkat dalam pangkatnya, tidak dapat
mengumpulkan angka kredit paling kurang 10 (sepuluh) dari
kegiatan tugas pokok.
(3) Bidan Madya pangkat Pembina Utama Muda, golongan ruang
IV/c, dibebaskan sementara dari jabatannya apabila setiap
tahun sejak diangkat dalam pangkatnya tidak dapat
mengumpulkan angka kredit paling kurang 20 (dua puluh)
dari kegiatan tugas pokok.
(4) Pembebasan sementara bagi Bidan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) didahului dengan Surat
Peringatan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum batas
waktu pembebasan sementara dibuat menurut contoh
formulir sebagaimana tersebut dalam Lampiran X Peraturan
Bersama ini.
(5) Bidan yang dibebaskan sementara sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) selama pembebasan
sementara tetap melaksanakan tugas pokoknya dari kegiatan
tersebut ditetapkan angka kreditnya.

24
(6) Di samping pembebasan sementara sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) Bidan dibebaskan
sementara dari jabatannya, apabila:

a. dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau tingkat


berat berupa jenis hukuman disiplin penurunan pangkat;

b. diberhentikan sementara sebagai Pegawai Negeri Sipil;

c. ditugaskan secara penuh di luar jabatan Bidan;

d. cuti di luar tanggungan negara, kecuali untuk persalinan


keempat dan seterusnya; atau

e. tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan.

(7) Bidan yang dibebaskan sementara sebagaimana dimaksud


pada ayat (5) huruf a, selama menjalani masa hukuman
disiplin tetap melaksanakan tugas pokoknya dan kegiatan
tersebut dapat ditetapkan angka kreditnya.

(8) Surat Keputusan pembebasan sementara dari jabatan Bidan


dibuat menurut contoh formulir sebagaimana tersebut dalam
Lampiran XI Peraturan Bersama ini.

Bagian Ketiga
Pengangkatan Kembali

Pasal 23

(1) Bidan yang dibebaskan sementera karena tidak dapat


mengumpulkan angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan
pangkat setingkat lebih tinggi, diangkat kembali dalam
jabatan Bidan apabila telah memenuhi angka kredit yang
ditentukan.

25
(2) Bidan yang dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau
tingkat berat berupa penurunan pangkat berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980, dapat diangkat
kembali dalam jabatan Bidan, apabila masa berlakunya
hukuman disiplin tersebut telah berakhir.

(3) Bidan yang dibebaskan sementara karena diberhentikan


sementara sebagai Pegawai Negeri Sipil berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1966, diangkat
kembali dalam jabatan Bidan, apabila berdasarkan
keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap dinyatakan tidak bersalah atau dijatuhi pidana
percobaan.

(4) Bidan yang dibebaskan sementara karena ditugaskan secara


penuh di luar jabatan Bidan sesuai jabatan terakhir yang
diduduki, dapat diangkat kembali dalam jabatan Bidan
apabila telah selesai melaksanakan tugas di luar jabatan
Bidan.

(5) Bidan yang dibebaskan sementara karena cuti di luar


tanggungan negara dan telah diangkat kembali pada instansi
semula, dapat diangkat kembali dalam jabatan Bidan.

(6) Bidan yang dibebaskan sementara karena tugas belajar lebih


dari 6 (enam) bulan, dapat diangkat kembali dalam jabatan
Bidan apabila telah selesai melaksanakan tugas belajar.

(7) Pengangkatan kembali dalam jabatan Bidan sebagaimana


dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat dilakukan apabila
usia yang bersangkutan paling kurang 2 (dua) tahun sebelum
mencapai batas usia pensiun.

26
(8) Surat Keputusan pengangkatan kembali dalam jabatan Bidan
dibuat menurut contoh formulir sebagaimana tersebut dalam
Lampiran XIII Peraturan Bersama ini.

Pasal 24

Pegawai Negeri Sipil yang diangkat kembali dalam jabatan Bidan


sebagaimana tersebut dalam Pasal 23, jenjang jabatannya
ditetapkan berdasarkan angka kredit terakhir yang dimiliki dan
dapat ditambah angka kredit yang diperoleh selama tidak
menduduki jabatan Bidan.

Bagian Keempat
Pemberhentian dari Jabatan

Pasal 25

(1) Bidan diberhentikan dari jabatannya karena:

a. dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat, kecuali jenis


hukuman disiplin tingkat berat berupa penurunan
pangkat; atau

b. dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibebaskan


sementara dari jabatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 22 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) tidak dapat
mengumpulkan angka kredit yang ditentukan.

(2) Surat Keputusan pemberhentian dari jabatan Bidan dibuat


menurut contoh formulir sebagaimana tersebut dalam
Lampiran XII Peraturan Bersama ini.

27
BAB VI
PENYESUAIAN / INPASSING
DALAM JABATAN DAN ANGKA KREDIT

Pasal 26

(1) Pegawai Negeri Sipil yang pada saat ditetapkan Peraturan


Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
01/PER/ M.PAN/1/2008 telah dan masih melaksanakan tugas
pelayanan kebidanan berdasarkan keputusan pejabat yang
berwenang, dapat diangkat dalam jabatan Bidan melalui
penyesuaian/inpassing dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Bidan terampil harus memenuhi syarat:

1. berijazah paling rendah Sekolah Bidan/Diploma I


Kebidanan;

2. pangkat paling rendah Pengatur Muda, golongan ruang


II/a; dan

3. setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan


pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanan
Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam 1
(satu) tahun terakhir.

b. Bidan ahli harus memenuhi syarat:

1. berijazah paling rendah Sarjana (S1)/Diploma IV


Kebidanan;

2. pangkat paling rendah Penata Muda, golongan ruang


III/a; dan

3. setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan


pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanan
Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam 1
(satu) tahun terakhir.

28
(2) Pegawai Negeri Sipil yang telah diangkat dalam jabatan
fungsional Bidan berdasarkan Keputusan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 93/M.PAN/11/2001
yang pada saat ditetapkan peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 01/PER/M.PAN/
01/2008 telah memiliki ijazah Sarjana (S1)/Diploma IV
Kebidanan di inpassing dalam jabatan fungsional Bidan Ahli.

(3) Jenjang jabatan dan jumlah angka kredit penyesuaian/


inpassing sebagaimana dimaksud pada ayat (1), didasarkan
pada pendidikan, pangkat, dan masa kerja dalam pangkat
terakhir, sebagaimana tersebut dalam Lampiran III Peraturan
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
01/PER/M.PAN/1/2008.

(4) Masa kerja dalam pangkat terakhir untuk penyesuaian/


inpassing sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor 01/PER/M.PAN/1/2008 dihitung dan ditetapkan
dalam pembulatan ke bawah, yaitu:

a. kurang dari 1 (satu) tahun dihitung kurang 1 (satu) tahun;

b. 1 (satu) tahun sampai dengan kurang dari 2 (dua) tahun,


dihitung 1 (satu) tahun;

c. 2 (dua) tahun sampai dengan kurang dari 3 (tiga) tahun,


dihitung 2 (dua) tahun;
d. 3 (tiga) tahun sampai dengan kurang dari 4 (empat)
tahun, dihitung 3 (tiga) tahun; atau
e. 4 (empat) tahun atau lebih dihitung 4 (empat) tahun.
(5) Surat keputusan penyesuaian/inpassing dalam jabatan dan
angka kredit Bidan, ditetapkan oleh pejabat yang berwenang
mengangkat Bidan dibuat menurut contoh formulir

29
sebagaimana tersebut dalam Lampiran XIV Peraturan
Bersama ini.

(6) Penyesuaian/inpassing dalam jabatan dan angka kredit Bidan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah
memperhitungkan formasi jabatan Bidan.

Pasal 27

(1) Penyesuaian/inpassing dalam jabatan dan angka kredit Bidan


di lingkungan instansi pusat dan daerah ditetapkan mulai
tanggal 1 Januari 2009 dan harus sudah selesai ditetapkan
paling lambat tanggal 31 Desember 2009 dengan ketentuan
berlakunya surat keputusan penyesuaian/inpassing terhitung
mulai tanggal 1 (satu) bulan berikutnya dari tanggal
penetapan.

(2) Pegawai Negeri Sipil yang dalam masa penyesuaian/


inpassing telah dapat dipertimbangkan kenaikan pangkatnya,
maka sebelum disesuaikan/diinpassing dalam jabatan dan
angka kredit Bidan, yang bersangkutan terlebih dahulu
dipertimbangkan kenaikan pangkatnya agar dalam
penyesuaian/inpassing jabatan dan angka kredit telah
digunakan pangkat yang terakhir.

BAB VII
KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 28

Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam jabatan Bidan tidak


dapat menduduki jabatan rangkap, baik dengan jabatan
fungsional lainnya maupun dengan jabatan struktural.

30
Pasal 29

Pegawai Negeri Sipil yang pada saat penyesuaian/inpassing telah


memiliki pangkat tertinggi berdasarkan pendidikan terakhir yang
dimiliki atau jabatan terakhir yang diduduki serta telah memiliki
masa kerja 4 (empat) tahun atau lebih dalam pangkat terakhir,
kenaikan pangkatnya setingkat lebih tinggi dapat
dipertimbangkan mulai periode kenaikan pangkat berikutnya,
apabila telah mengumpulkan angka kredit paling kurang 10%
(sepuluh persen) dari jumlah angka kredit untuk kenaikan
pangkat setingkat lebih tinggi yang berasal dari kegiatan tugas
pokok.

Pasal 30

(1) Untuk menjamin adanya persamaan persepsi, pola pikir dan


tindakan dalam melaksanakan pembinaan Bidan,
Departemen Kesehatan selaku Instansi Pembina Jabatan
Bidan melaksanakan sosialisasi dan fasilitasi kepada pejabat
yang berkepentingan dan Bidan.

(2) Untuk meningkatkan karier Bidan secara profesional sesuai


kompetensi jabatan, Departemen Kesehatan selaku Instansi
Pembina, antara lain melakukan:

a. penetapan pedoman formasi jabatan Bidan;

b. penetapan standar kompetensi jabatan Bidan;

c. pengusulan tunjangan jabatan Bidan;

d. sosialisasi jabatan Bidan serta petunjuk pelaksanaannya;

e. penyusunan kurikulum pendidikan dan pelatihan


fungsional/ teknis fungsional Bidan;

31
f. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan fungsional/
teknis fungsional Bidan dan penetapan sertifikasi;

g. pengembangan sistem informasi jabatan Bidan;

h. fasilitasi pelaksanaan jabatan Bidan;

i. fasilitasi pembentukan organisasi profesi dan penyusunan


kode etik Bidan; dan

j. melakukan monitoring dan evaluasi jabatan Bidan.

BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 31

Ketentuan teknis yang belum diatur dalam Peraturan Bersama ini


akan diatur kemudian oleh Menteri Kesehatan dan Kepala BKN
baik secara bersama-sama atau sendiri-sendiri sesuai dengan
bidang tugas masing-masing.

Pasal 32

Untuk mempermudah pelaksanaan Peraturan Bersama ini, maka


dilampirkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara Nomor 01/PER/M.PAN/1/2008 tentang Jabatan Fungsional
Bidan dan Angka Kreditnya sebagaimana tersebut dalam
Lampiran XV Peraturan Bersama ini.

32
Pasal 33

Dengan berlakunya Peraturan Bersama ini maka Keputusan


Bersama Menteri Kesehatan dan Kepala Badan Kepegawaian
Negara Nomor 1351/MENKES/SKB/XII/2001 dan Nomor 52 Tahun
2001 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Bidan dan
Angka Kreditnya dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 34

Peraturan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 Desember 2008

KEPALA MENTERI KESEHATAN,


BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA,

EDY TOPO ASHARI Dr. dr. SITI FADILAH SUPARI, Sp.JP (K)

33