Anda di halaman 1dari 10

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Air

Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Sekitar tiga

perempat dari bagian tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorang pun dapat bertahan

hidup lebih dari 4 – 5 hari tanpa minum. Selain itu, air juga diperlukan untuk

kepentingan memasak, mencuci, mandi dan membersihkan kotoran. (Chandra, 2006)

Air sangat dibutuhkan manusia dan makhluk hidup lainnya dalam jumlah yang

besar dan apabila terjadi kekurangan air yang disebabkan oleh perubahan iklim akan

mengakibatkan bahaya yang fatal bagi makhluk hidup. Dapat dinyatakan bahwa

kualitas air merupakan syarat untuk kualitas kesehatan manusia, karena tingkat

kualitas

air

dapat

digunakan

sebagai

indikator

tingkat

kesehatan

masyarakat.

Kebutuhan

akan

air

bersih

meningkat

sesuai

dengan

pertambahan

penduduk.

Dibeberapa tempat dapat terjadi kasus – kasus air yang terkontaminasi bakteri

(Situmorang, 2007).

Sama halnya dengan udara, pengaruh air yang tidak langsung adalah pengaruh

yang

timbul

sebagai

akibat

pendayagunaan

air

yang

dapat

meningkat

atau

menurunkan

kesejahteraan

masyarakat.

Misalnya,

air

yang

dimanfaatkan

untuk

Pembangkit Tenaga Listrik, untuk industri, irigasi, pertanian, perikanan, dan regreasi

dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh adalah pengotor badan

Universitas Sumatera Utara

– badan air dengan zat – zat kimia yang dapat menurunkan kadar oksigen terlarut, zat

– zat kimia tidak beracun yang sukar diuraikan secara alamiah dan menyebabkan

masalah khusus, seperti estetika dan kekeruhan karena adanya zat tersuspensi.

Zat – zat pengikat oksigen kebanyakan adalah zat kimia orgnik. Zat kimia

organik

banyak

dimanfaatkan oleh

mikroorganisme

sebagai

sumber

energi dan

dibutuhkan untuk pertumbuhannya. Zat – zat kimia organik tersebut diuraikan dalam

proses metabolisme mikroorganisme dan terbentuklah senyawa – senyawa yang lebih

sederhana, dan pada hakikatnya menjadi zat – zat organik (Slamet, 2002).

2.2. Pencemaran Air

Pencemaran air yaitu masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, atau

komponen lain oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air menurun ketingkat

tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Kualitas air sangat berpengaruh terhadap kesehatan bagi makhluk hidup. (Pramudya

sunu, 2001)

Pencemaran air dapat berupa gas, bahan – bahan terlarut, dan partikulat.

Pencemaran memasuki badan air dengan berbagai cara, misalnya melalui tanah,

limpahan pertanian, limbah domestik dan perkotaan, pembuangan limbah industri, dan

lain – lain. (Effendi, 2003)

2.2.1. Bahan Pencemar air ( Polutan)

Polutan air yaitu merupakan komponen yang mengakibatkan polusi atau pencemaran

didalam air. Ciri – ciri air yang mengalami pencemaran sangat bervariasi, tergantung

dari jenis air dan polutannya. Polusi air dapat disebabkan oleh sumber dan jenis

polutan yang sangat bervariasi. (Pramudya Sunu, 2001)

Universitas Sumatera Utara

Bahan pencemar atau polutan adalah bahan – bahan yang berisfat asing bagi

alam atau bahan yang berasal dari alam itu sendiri yang memasuki suatu tatanan

ekosistem sehingga menggangu peruntukan ekosistem tersebut. Berdasarkan cara

masuknya kedalam lingkungan, polutan dikelompokkan menjadi :

1. Polutan alamiah

Yaitu polutan yang memasuki suatu lingkungan secara alami, misalnya akibat letusan

gunung berapi, tanah longsor, banjir, atau fenomena alam lainnya.

2. Polutan antropogenik

Yaitu polutan yang masuk kebadan air akibat aktivitas manusia, misalnya kegiatan

domestik, kegiatan perkotaan, maupun kegiatan industri.

Berdasarkan sifat toksik nya polutan atau bahan pencrmar juga di bagi menjadi

dua yaitu :

1. Polutan Tak Toksik

Polutan/pemcemar tak toksik biasanya telah berada pada ekosistem secara

alami. Sifat destruktif pencemar ini muncul apabila berada dalam jumlah yang

berlebihan sehingga dapat mengganggu kesetimbangan ekosistem melalui perubahan

proses fisika –

kimia perairan.

tersuspensi dan nutrient

2. Polutan Toksik

Polutan tak

toksik

terdiri dari

bahan –

bahan

Polutan toksik dapat menyebabkan kematian (lethal) maupum bukan kematian

(sub-lethal), misalnya terganggunya pertumbuhan, tingkah laku dan karakteristik

morfoligi berbagai bentuk organisme akuatik. Polutan toksik ini biasanya berupa

bahan – bahan yang bukan alami, misalnya pestisida, detergen, dan bahan artifisil

lainnya.

Universitas Sumatera Utara

Mason

berikut :

(1993)

mengelompokkan

pencemar

toksik

menjadi

lima,

sebagai

a. Logam (metals), meliputi : timbale (lead), nikel, kadmium, seng, dan merkuri.

Logam berat diartikan sebagai logan dengan nomor atom 20, tidak termasuk

logam alkali, alkali tanah, lantanida dan aktinida.

b. Senyawa organik, meliputi pestisida, organoklorin, herbisida, PCB, hidrokarbon

alifatik berklor, pelarut, surfaktan rantai lurus, hidrokarbon petroleum, aromatic

polinuklir,

dibenzodioksin

berklor,

organometalik,

fenol

dan

formaldehid,.

Senyawa ini berasal dari kegiatan industri, pertanian dan domestik.

c. Gas, misalnya klorin dan ammonia

d. Anion, misalnya sianida, flourida, sulfide dan sulfat.

e. Asam dan alkali (Effendi, 2003).

2.3. Analisa Pencemaran Air

2.3.1. Analisa Oksigen Terlarut (OT)

Oksigen Terlarut (OT) merupakan parameter mutu air yang penting karena nilai

oksigen terlarut dapat menunjukkan tingkat pencemaran atau tingkat pengolahan air

limbah. Oksigen terlarut ini akan menentukan kesesuaian suatu jenis air sehingga

sebagai sumber kehidupan biota (Pramudya Sunu, 2001).

Oksigen terlarut dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air, dalam

jumlahnya tidak tetap tergantung pada jumlah tanamannya, dan dari atmosfer yang

masuk kedalam air dengan kecepatan terbatas. Konsentrasi oksigen terlarut yang

terlalu rendah akan mengakibatkan ikan – ikan atau binatang air lainnya yang

membutuhkan oksigen akan mati. Sebaliknya konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu

Universitas Sumatera Utara

tinggi juga

mengakibatkan proses pengkaratan

semakin

cepat,

karena

mengikat

hydrogen yang melapisi permukaan logam (Srikandi Fardiaz, 1992).

Atmosfer bumi mengandung oksigen sekitar 210 ml/L. Oksigen merupakan

salah satu gas yang terlarut dalam perairan. Kadar oksigen terlarut diperairan alami

bervariasi, tergantug pada suhu, semakin besar suhu dan ketinggian serta semakin keci

tekanan atmosfer kadar oksigen terlarut semakin kecil. Semakin tinggi suatu tempat

dari permukaan laut , tekanan atmofer semakin rendah.

Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian dan musiman, tergantug

kepada pencemaran dan pergerakan massa air, aktivitas foto sintesis, respirasi air

limbah yang masuk kedalam badan air (Effendi, 2003).

Adapun konsentrasi oksigen terlarut dapat diukur dengan Winkler DO test,

cara pengukuran ini berdasarkan atas reaksi kimia yaitu :

1. Ion magnesium ditambahkan pada sampel dan mengikat oksigen dan terjadi

endapan MnO 2 .

2. Kemudian

iodide

membentuk iodide.

ditambahkan

dan

bereaksi

dengan

magnesium

oksida

3. Konsentrasi iodide diukur melelui titrasi dengan sodium thiosulfat (Totok

Sutrisno, 2004).

2.3.2. Analisa KOB

Kebutuhan Oksigen Biologi (KOB) atau Biological Oxygen Demand (BOD) adalah

banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme pada waktu melakukn

prosese dekomposisi bahan organik yang ada diperairan. Pengukuran konsentrasi

oksigen yang digunakan untuk dekomposisi lebih penting daripada pengukuran

oksigen terlarut (Totok Sutrisno, 2004).

Universitas Sumatera Utara

Nilai KOB tidak menunjukkan jumlah bahan organik yang sebenarnya, tetapi

hanya mengukur secara relative jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi

bahan – bahan buangan tersebut. Jika konsumsi oksigen tinggi yang ditunjukkan

dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut, maka berarti kandungan bahan – bahan

buangan yang membutuhkan oksigen tinggi.

Organisme hidup yang bersifat aerobik membutuhkan oksigen untuk beberapa

reaksi biokimia, yaitu untuk mengoksidasi bahan organik, sintesis sel, dan oksidasi

sel. Reaksi – reaksi tersebut adalah sebagai berikut :

2. Oksidasi Bahan Organik

(CH 2 O) n + nO 2 → nCO 2

3. Sintesis Sel

+ nH 2 O + panas

(CH 2 O)

+ NH 3

4. Oksidasi Sel

+ O 2 → komponen sel +

CO 2 +

H 2 O + panas

Komponen sen +

O 2

→ CO 2

+

H 2 O +

NH 3 + panas

Komponen organik yang mengandung nitrogen dapat pula dioksidasi menjadi

Nitrat, sedangkan komponen organik

yang

mengandung

sulfur dapat

dioksidasi

menjadi sulfat. Konsumsi oksigen dapat diketahui dengan mengoksidasi air pada suhu

20 o C

selam

5

hari,

dan

nilai

BOD

yang

menunjukkan

jumlah

oksigen

yang

dikonsumsi dapat diktahui dengan menghitung selisih konsentrasi oksigen terlarut

sebelum dan setelah inkubasi. Pengukuran selama 5 hari pada suhu 20 o C ini hanya

menghitung sebanyak 68 persen bahan organik yang teroksidasi, tetapi suhu dan

waktu yang digunakan tersebut merupakan standart uji karena untuk mengoksidasi

bahan organik seluruhnya secara sempurna diperlukan waktu yang lama, yaitu 20 hari,

sehingga dianggap tidak efisien.

Uji BOD memiliki beberpa kelemahan, diantaranya adalah sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

1.

Dalam uji BOD ikut terhitung oksigen yang dikonsumsi oleh bahan – bahan

anorganik

atau

bahan

bahan

“intermediate oxygen demand”

tereduksi

lainnya

yang

disebut

juga

2. Uji BOD memerlukan waktu yang lama yaitu minimal lima hari

3. Uji BOD yang dilakukan selama lima hari masih belum bisa mnunjukkan nilai

total BOD melainkan hanya kira – kira 68 persen dari total BOD

4. Uji BOD tergantung dari adanya senyawa penghambat dalam air tersebut,

misalnya adanya klorin yang dapat menghambat pertumbukan mikroorganisme

yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik, sehingga hasil uji BOD

mejadi kurang teliti (Srikandi Fardiaz, 1992).

BOD juga suatu analisis empiris yang mencoba mendekati secara global proses-

proses mikrobiologis yang benar – benar terjadi didalam air. Penguraian limbah

organik melalui proses oksidasi oleh organisme di dalam air lingkungan adalah

merupakan proses alamiah yang mudah terjadi apabila air lingkungan mengandung

oksigen yang cukup.

Angka kebutuhan oksigen adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri

untuk menguraikan hampir semua zat organik yang terlarut dan sebagian zat – zat

yang tersuspensi dalam air (Pramudya Sunu, 2001).

2.3.3. Prinsip Analisa

Pemeriksaan BOD didasarkan atas reaksi oksidasi zat organik dengan oksigen didalam

air, dan proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerobik.Sebagian hasil

oksidasi akan terbentuk karbondioksida, air dan amioniak. Atas dasar reaksi tersebut,

yang memerlukan kira – kira 2 hari dimana 50 % reaksi telah tercapai, 5 hari supaya

75% dan 20 hari supaya 100% tercapai, maka analisa BOD dapat dipergunakan untuk

Universitas Sumatera Utara

menaksir beban pencemaran zat organik. Tentu saja, reaksi tersebut juga berlangsung

pada badan air sungai, air danau maupun di instalasi pengolahan air buangan yang

menerima air buangan yang mengandung zat organik tersebut. Dengan kata lain, tes

BOD berlaku sebagai simulasi (berbuat seolah – olah terjadi) suatu proses biologis

secara alamiah.

Reaksi biologis pada tes BOD dilakukan pada temperature inkubasi 20 o c dan

dilakukan selama 5 hari, hingga mempunyai istilah yang lengkap BOD 20 5 (angka 20

menunjukkan temperatur inkubasi dan 5 menunjukkan lama waktu inkubasi), namun

di beberpa literatur terdapat lama inkubasi 6 jam atau 2 hari atau 20 hari.

Demikian, jumlah zat organik yang ada didalam air diukur melalui jumlah

oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk mengoksidasi zat tersebut. Karena reaksi

BOD dilakukan didalam botol yang tertutup, maka jumlah oksigen yang telah dipakai

adalah perbedaan antara kadar oksigen didalam larutan pada t = 0 (biasanya baru

ditambah oksigen dengan aerasi, hingga = 9 mg O 2 /L, yaitu konsentrasi kejenuhan)

dan kadarnya pada t = 5 hari (konsentrasi sisa≥ 2 mg O

2 /L agar hasi cukup teliti).

Oleh karena itu, semua sampel yang mengandung BOD 6 mg O 2 /L harus diencerkan

supaya syarat tersebut dapat dipenuhi.

2.3.4. Gangguan – ganguan pada analisa BOD

Ada 5 jenis gangguan yang umumnya terdapat pada analisa BOD yaitu nitrifikasi, zat

beracun,

kemasukan

udara

pada

botolnya,

kekurangan

nutrient

(garam)

dan

kekurangan bakteri yang dibutuhkan proses tersebut. Gangguan – ganguan tersebut

akan diuraikan sebagai berikut :

a. Proses nitrifikasi dapat mulai terjadi didalam botol BOD setelah 2 sampai 10

hari; NH 3 amoniak berubah menjadi NO 3 - (nitrat) lewat NO 2 - (nitrit) oleh jenis

Universitas Sumatera Utara

bakteri tertentu.Nitrifikasi juga membutuhkan oksigen. Di alam terbuka ada 2

sebab yang mencegah pertumbuhan bakteri nitrrifikasi: seringkali nitrifikasi ini

tidak terjadi (misalnya karena suhu 10 0 C atau karena air sungai yang tercemar

telah sampai ke muara). Hal ini menunjukkan nitrifikasi pada botol BOD tidak

berlaku, seperti pada raksi karbon yang menstimulasi suatu proses alam.Oleh

karena itu di dalam analisa BOD baku pertumbuhan bakteri penyebab proses

nitrifikasi harus di halangi dengan inhibitor, walaupun kemungkinan suhu tinggi

seperti di daerah tropis, mempercepat proses nitrifikasi secara alamiah.

b. Zat beracun dapat memperlambat pertumbuhan bakteri (yaitu memperlambat reaksi

BOD) bahkan membunuh organisme tersebut. Kalau zat tersebut memang sangat

beracun

hingga

bakteri –

bakteri tidak

bisa

hidup

sama

sekali

atau

sukar

berkembang, maka hanya sebagian jumlah bakteri akan aktif dalam oksidasi zat

organik tersebut, hingga BOD yang tercatat akan lebih rendah dari angka COD

suatu sampel yang tidak mengandung zat beracun.

c. Masuk (keluarnya) oksigen dari botol selama waktu inkubasi harus di cegah.

Botolnya harus ditutup dengan hati – hati (diatas tutup botol) bisa di beri air,

gelembung

udara

tidak

boleh

ada

di

dalam

botol,

gelembung

udara

dapat

dikeluarkan dengan mengetuk botol.Oleh karena itu pada waktu inkubasi botol

BOD harus disimpang ditempat gelap.

d. Nutrien merupakan slah satu syarat bagi kehidupan bakteri – bakteri. Nutrien

terbentuk dari bermacam – macam garam (Fe, K, Mg dan sebagainya). Karena

kekurangan nutrient secukupnya sebelum masa inkubasi, yaitu pada saat t = 0.

e. Karena benih dari bermacam – macam bakteri kurang jumlahnya atau kurang cocok

bagi jenis air buangan yang akan dianalisa, maka cara pembenihan selalu harus

diikuti dengan baik, sehingga menjamin jumlah populasi bakteri yang diperlukan.

Universitas Sumatera Utara

Catatan :

Kalau smpel mengandung racun, pertumbuhan bakteri terhalang maka angka BOD

rendah. Cara lain untk mendeteksi gangguan – gangguan tersebut adalah dengan

pengenceran sampel supaya dosis zat beracun dapat berada di bawah konsentrasi yang

berbahaya,

memang

cara

ini

terbatas,

hingga

pengenceran

maksimum

yang

di

perbolehkan adalah kira – kira 10 kali (Alaerts, 1987).

Universitas Sumatera Utara