Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

1. Aborsi dengan cara apapun menimbulkan dampak yang serius terhadap kesehatan

fisik maupun psikologis.

2. Secara tegas agama Islam melarang keras praktek aborsi.

3. Aborsi bukan saja merupakan pembunuhan, tetapi pembunuhan secara amat keji.

Dan tidak manusiawi.

4.2. Saran

Solusi untuk seorang wanita

Jika ada yang memikirkan untuk melakukan aborsi, tenangkan pikiran. Aborsi

bukanlah suatu solusi sama sekali. Aborsi akan membuahkan masalah-masalah baru

yang bahkan lebih besar lagi bagi anda – di dunia dan di akhirat.

Ada beberapa pihak yang dapat diminta bantuannya dalam hal menangani

masalah aborsi ini, yaitu:

1. Keluarga dekat atau anggota keluarga lain.

2. Saudara-saudara seiman

3. Gereja-gereja, khususnya gereja Katolik

4. Organisasi-organisasi pelayanan Gereja

5. Orang-orang lain yang bersedia membantu secara pribadi


Pertama-tama, hubungi keluarga terlebih dahulu. Orang tua, kakak, om, tante

atau saudara-saudara dekat lainnya. Minta bantuan mereka untuk mendampingi di

saat-saat yang sukar ini.

Solusi untuk Bayi

Apapun alasannya, aborsi bukanlah jalan keluar. Setiap bayi yang dilahirkan,

selalu dipersiapkan Tuhan segala sesuatunya untukbayi tersebut. Jika saat ini merasa

tidak sanggup membiayai kehidupan bayi, berdoalah agar Tuhan memberikan jalan

keluar.

Jika benar-benar tidak menginginkan anak tersebut, carilah orang-orang dekat yang

bersedia untuk menerimanya sebagai anak angkat.

Khususnya, adalah:

1. Orang yang mempertimbangkan untuk melakukan aborsi

2. Orang Anda yang tahu akan rekan yang ingin melakukan aborsi

3. Orang yang ingin membimbing seseorang yang akan melakukan aborsi

4. Orang yang ingin mengadopsi anak dari wanita yang merencanakan

melakukan aborsi

Tuhan menciptakan kita semua sama. Tuhan mau kita saling membantu,

mengasihi dan menasehati. Mari kita bersama-sama menjaga kelangsungan

ciptaanNya yang paling mulia – manusia.

(www.aborsi.org)

Memang mencegah lebih baik daripada mengobati. Memberi pengetahuan

mengenai beresikonya melakukan seks pra nikah atau sex bebas adalah salah satu

metode paling tepat untuk menurunkan resiko kehamilan di luar nikah. Akan tetapi

ketika nasi telah menjadi bubur apa tindakan kita.Apakah kita hanya terbatas pada
menghukum dan

menghakimi mereka saja.

Kesalahan mereka tidak bisa dilepaskan dari kesalahan kita juga, baik sebagai

orang tua, pendidik maupun komponen masyarakat lainnya. Oleh karena itulah perlu

dicarikan sebuah solusi yang tepat dalam menangani masalah ini.

Indonesia memang bukan seperti negara maju, dimana mereka sudah

berpengalaman dalam menangani masalah-masalah seperti ini dengan melibatkan

semua pihak, baik orang tua, para guru, teman-temannya di sekolah bahkan juga

pemerintah. Sementara Indonesia yang merupakan negara yang bertransisi dari

masyarakat tradisonalis ke masyarakat modern bahkan pra modern tidak memiliki

kesiapan dalam menghadapi

persoalan ini. Sehingga aksi-aksi yang dilakukan pun lebih banyak merupakan aksi

panik seperti halnya mengeluarkan siswi hamil tersebut.

Resiko meningkatnya perilaku seks pra nikah dan seks bebas tidak dapat

dihindari akibat perkembangan budaya modern dan meningkatnya usia pasangan

nikah. Tapi sangat disayangkan apabila pemerintah dan juga kalangan pendidik dan

komponen masyarakat tidak memiliki sebuah konsep yang terarah dan jelas untuk

menghadap fenomena sosial ini. Peningkatan usia nikah harusnya juga diikuti dengan

pembekalan mengenai sex pada kalangan remaja sehingga mereka bisa

mengendalikan diri dan menjauhi perilaku sex beresiko tersebut. Akan tetapi budaya

sex tabu menempatkan kalangan remaja seperti anak kecil yang dipandang dan

dianggap tidak perlu tau masalah sex.

Selain itu perlu ada jaminan, bila memang pemerintah mengambil kebijakan

pro live seharusnya diikuti kebijakan-kebijakan lain yang sifatnya melindungi hak

kalangan remaja bila mereka mengalami kehamilan di luar nikah , diantaranya hak
untuk meneruskan pendidikan, hak untuk mendapatkan fasilitas perawatan medis dan

psikis yang memadai serta jaminan perawatan terhadap bayi yang akan dilahirkannya.

Apabila jaminan-jaminan seperti ini tidak mampu disediakan oleh pemerintah maupun

lembaga swadaya masyarakat maupun komponen masyarakat lainnya termasuk orang

tua dan pendidik, maka kebijakan pelarangan aborsi menjadi kontra produktif bagi

remaja, dan pencegahan praktek aborsi ilegal oleh remaja menjadi sia-sia.

(http://jadul.com)

Aborsi bukan sekedar masalah medis atau kesehatan masyarakat, namun juga

problem sosial yang muncul karena manusia mengekor pada peradaban Barat. Maka

pemecahannya haruslah dilakukan secara komprehensif-fundamental-radikal, yang

intinya adalah dengan mencabut sikap taqlid kepada peradaban Barat dengan

menghancurkan segala nilai dan institusi peradaban Barat yang bertentangan dengan

Islam, untuk kemudian digantikan dengan peradaban Islam yang manusiawi dan adil.

Sindroma Pasca-Abortus ditangani dengan konseling kejiwaan dan psikologis,

namun demikian penyembuhan secara rohani juga diperlukan.

Jika aborsi untuk alasan medis, aborsi adalah legal, untuk korban perkosaan,

masih di grey area, aborsi masih diperbolehkan walaupun tidak semua dokter mau

melakukannya. Kasus perkosaan merupakan pilihan yang sulit. Meskipun bisa saja

kita mengusulkan untuk memelihara anaknya hingga lahir, lalu diadopsikan ke orang

lain, itu semua tergantung kematangan jiwa si ibu dan dukungan masyarakat agar

anak yang dilahirkan tidak dilecehkan oleh masyarakat.

Untuk kehamilan diluar nikah atau karena sudah kebanyakan anak dan

kontrasepsi gagal perlu dipirkirkan kembali karena masih banyak orang

mendambakan anak.Sebaiknya kita jangan mencari pemecahan masalah yang

pendek / singkat / jalan pintas, tapi harus jauh menyentuh dasar timbulnya masalah itu
sendiri. Perempuan berhak dan harus melindungi diri mereka dari eksploitasi orang

lain, termasuk suaminya, agar tidak perlu aborsi. Sebab aborsi, oleh paramedis

ataupun oleh dukun, legal atau illegal, akan tetap menyakitkan buat wanita, lahir dan

batin meskipun banyak yang. menyangkalnya. Karena itu kita harus berupaya

bagaimana caranya supaya tidak sampai berurusan dengan hal yang akhirnya merusak

diri sendiri. Karena ada laki-laki yang bisa seenak melenggang pergi, dan tidak peduli

apa-apa meskipun pacarnya/istrinya sudah aborsi dan mereka tidak bisa diapa-apakan,

kecuali pemerkosa, yang jelas ada hukumnya.Jadi solusinya bukan cuma dari rantai

yang pendek, tapi dari ujung rantai yang terpanjang, yaitu : penyuluhan tentang seks

yang benar.

Jika dilihat kebelakang, mengapa banyak remaja yang aborsi, karena mereka

melakukan seks bebas untuk itu diperlukan pendidikan agama agar moral mereka

tinggi dan sadar bahwa free seks tidak sesuai dengan agama dan berbahaya.

Jika tidak ingin hamil gunakan kontrasepsi yang paling aman dan kontrasepsi

yang paling aman adalah tidak berhubungan seks sama sekali. Segala sesuatu itu ada

resikonya. Untuk itu sebelum bertindak, orang harus mulai berpikir : nanti bagaimana

bukannya bagaimana nanti.