Anda di halaman 1dari 18

Kenaikan Titik Didih dan Penurunan Titik Beku

TITIK DIDIH (Tb)

Suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan sama dengan tekanan luarnya (tekanan pada permukaan
cairan) disebut dengan titik didih. Jika tekanan uap sama dengan tekanan luar, maka gelembung
uap yang terbentuk dalam cairan dapat mendorong diri ke permukaan menuju fase gas. Di
permukaan air laut dengan tekanan 760 mmHg, air mendidih pada suhu 100°C. Bagaimana jika air
dididihkan di tempat paling tinggi seperti di puncak Everest? Apakah titik didihnya sama dengan air
yang dididihkan di daerah permukaan air laut? Tentunya tidak sama, di puncak Everest yang
merupakan tempat tertinggi di dunia, air mendidih pada suhu 71°C. Titik didih yang diukur pada
tekanan 760 mmHg disebut titik didih normal (titik didih pada 760 mmHg). Titik didih normal air
adalah 100°C.

KENAIKAN TITIK DIDIH LARUTAN (ΔTb)

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa zat cair akan mendidih jika tekanan uap jenuh zat cair tersebut
sama dengan tekanan udara di sekitarnya. Jika air murni dipanaskan pada tekanan 1 atm (760 mmHg),
maka air akan mendidih pada suhu 100°C. Jika pada suhu yang sama dilarutkan gula, maka tekanan uap
air akan turun. Jika semakin banyak gula yang dilarutkan, maka makin banyak penurunan tekanan uapnya.
Hal ini mengakibatkan larutan gula belum mendidih pada suhu 100°C. Agar larutan gula cepat mendidih,
diperlukan suhu yang cukup tinggi, sehingga tekanan uap jenuhnya sama dengan tekanan uap di
sekitarnya. Selisih antara titik didih larutan dengan titik didih pelarut murni disebut kenaikan titik didih
(ΔTb).

ΔTb = Tb Larutan - Tb Pelarut atau ΔTb= Tb - T°b

Kenaikan titik didih hanya tergantung pada jenis pelarut dan molaritas larutan, tidak tergantung pada jenis
zat terlarut. Untuk larutan encer, hubungan antara kenaikan titik didih dengan molaritas larutan dinyatakan
sebagai berikut :

ΔTb = m x Kb

Dengan

ΔTb = kenaikan titik didih ......(°C)

m = molalitas larutan ..........(molal)

Kb = tetapan kenaikan titik didih molal ...... (°C molal-1)

CONTOH :

1. Tentukan kenaikan titik didih larutan gula 0,2 molal. jika Kb air = 0,52 °C molal -1.

Jawab

Larutan gula 0,2 molal.

ΔTb = m x Kb

= 0,2 molal x 0,52 °C molal-1

= 0,104°C
Jadi, titik didih larutan gula tersebut adalah 0,104°C.

2. Berapa titik didih dari 3,6 glukosa dalam 250 gram benzena, jika titik didih benzena 80,1 oC dan Kb =
2,52 °C molal-1?

Jawab

Larutan 3,6 gram glukosa dalam 250 gram benzena.

ΔTb = m x Kb

ΔTb = m x Kb

= 0,08 molal x 2,52 °C molal-1

= 0,2016°C

Titik didih larutan = titik didih pelarut + ΔTb

= 80,1°C + 0,2016°C

= 80,3016°C

Jadi, titik didih larutan gula tersebut adalah 80,3016°C.

http://smamuhwsb.freeoda.com/kenaikan_titik_didih_dan_penurunan_titik_beku.html

Sifat Koligatif Larutan


Kata Kunci: Penurunan Titik Beku, Sifat Koligatif Larutan, Tekanan Osmosis, Tekanan Uap Jenuh, titik
didih

Ditulis oleh Ratna dkk pada 16-04-2009


Gambaran umum sifat koligatif

Sifat  koligatif  larutan  adalah  sifat  larutan  yang  tidak tergantung pada macamnya zat
terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat
terlarut).

Apabila suatu pelarut ditambah dengan sedikit zat terlarut (Gambar 6.2), maka akan didapat
suatu larutan yang mengalami:

1. Penurunan tekanan uap jenuh


2. Kenaikan titik didih

3. Penurunan titik beku

4. Tekanan osmosis

Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu
sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel dalam
larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit
terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion.
Dengan demikian sifat koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit
dan sifat koligatif larutan elektrolit.

Penurunan Tekanan Uap Jenuh

Pada  setiap  suhu,  zat  cair  selalu  mempunyai  tekanan tertentu. Tekanan ini adalah tekanan
uap jenuhnya pada suhu tertentu. Penambahan suatu zat ke dalam zat cair menyebabkan
penurunan tekanan uapnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu mengurangi bagian atau
fraksi dari pelarut, sehingga kecepatan penguapan berkurang.
Gambaran penurunan tekanan uap

Menurut Roult :

p = po . XB

keterangan:

p     : tekanan uap jenuh larutan

po  : tekanan uap jenuh pelarut murni

XB  : fraksi mol pelarut

Karena XA + XB = 1, maka persamaan di atas dapat diperluas menjadi :

P = Po (1 – XA)

P = Po – Po . XA

Po – P = Po . XA

Sehingga :

ΔP = po . XA

keterangan:

ΔP   : penuruman tekanan uap jenuh pelarut

po    : tekanan uap pelarut murni

XA   : fraksi mol zat terlarut


Contoh :

Hitunglah penurunan tekanan uap jenuh air, bila 45 gram glukosa (Mr = 180) dilarutkan
dalam 90 gram air ! Diketahui tekanan uap jenuh air murni pada 20oC adalah 18 mmHg.

Kenaikan Titik Didih

Adanya penurunan tekanan uap jenuh mengakibatkan titik didih larutan lebih tinggi dari titik
didih pelarut murni. Untuk larutan non elektrolit kenaikan titik didih dinyatakan dengan:

ΔTb = m . Kb

keterangan:

ΔTb = kenaikan titik didih (oC)

m      = molalitas larutan

Kb = tetapan kenaikan titik didihmolal

(W menyatakan massa zat terlarut), maka kenaikan titik didih larutan dapat dinayatakan
sebagai:

Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik didih larutan dinyatakan sebagai :

Tb = (100 + ΔTb) oC

 .
Yang menjadi ukuran langsung dari keadaan (kemampuannya) untuk mengion adalah derajat
ionisasi. Besarnya derajat ionisasi ini dinyatakan sebagai :

α° = jumlah mol zat yang terionisasi/jumlah mol zat mula-mula

Untuk larutan elektrolit kuat, harga derajat ionisasinya mendekati 1, sedangkan untuk
elektrolit lemah, harganya berada di antara 0 dan 1 (0 < α < 1). Atas dasar kemampuan ini,
maka larutan elektrolit mempunyai pengembangan di dalam perumusan sifat koligatifnya.

 Untuk Kenaikan Titik Didih dinyatakan sebagai :

n menyatakan jumlah ion dari larutan elektrolitnya.


http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/sifat-koligatif-larutan/

Kenaikan Titik Didih


Kata Kunci: titik beku, titik didih

Ditulis oleh Zulfikar pada 24-08-2010

Hasil eksperimen Roult menunjukan bahwa Kenaikan titik didih larutan akan semakin besar
apabila konsentrasi (molal) dari zat terlarut semakin besar. Titik didih larutan akan lebih
tinggi dari titik didih pelarut murni. Hal ini juga diikuti dengan penurunan titik beku pelarut
murni, atau titik beku larutan lebih kecil dibandingkan titik beku pelarutnya. Hasil
eksperimen ini disederhanakan dalam Gambar 11.4.
Gambar 11.4. Diagram tekanan dan suhu untuk titik didih dan titik beku dari pelarut dan
larutan

Roult menyederhanakan ke dalam persamaan

Tb = kb . m

Tb = kenaikan titik didih larutan


kb = tetapan kenaikan titik didih molal pelarut (kenaikan titik didih untuk 1 mol zat dalam
1000 gram pelarut)
m = molal larutan (mol/100 gram pelarut)

Perubahan titik didih atau ΔTb merupakan selisih dari titik didih larutan dengan titik didih
pelarutnya, seperti persamaan : ΔTb = Tb – Tbº

Hal yang berpengaruh pada kenaikan titik didih adalah harga kb dari zat pelarut. Kenaikan
tidak dipengaruhi oleh jenis zat yang terlarut, tapi oleh jumlah partikel/mol terlarut
khususnya yang terkait dengan proses ionisasinya.

Untuk zat terlarut yang bersifat elektrolit persamaan untuk kenaikan titik didik harus
dikalikan dengan faktor ionisasi larutan, sehingga persamaannya menjadi :

dimana

n = jumlah ion-ion dalam larutan


α = derajat ionisasi

Contoh jumlah ion untuk beberapa elektrolit:

HCl → H+ + Cl-, jumlah n = 2

H2SO4 → 2 H+ + SO42-, jumlah n = 3

H3PO4 → 3 H+ + PO43-, jumlah n = 4

Agar mudah dimengerti kita ambil perhitungan kenaikan titik didih untuk zat non-elektrolit
dan non elektrolit sebagai perbandingannya.

Sebuah larutan gula C6H12O6 dengan konsentrasi sebesar 0.1 molal, jika pelarutnya air
dengan harga kb = 0.52 °C/molal. Tentukan titik didih larutan tersebut.

Larutan gula tidak mengalami ionisasi sehingga,

C6H12O6 → C6H12O6
0.1 molal → 0.1 mola
ΔTb = kb . m
ΔTb = 0.52 . 0.1
ΔTb = 0.052oC

Diketahui titik didih air adalah 100°C, maka titik didih larutan adalah

ΔTb = Tb – Tb0
Tb = 100 + 0.052
Tb = 100.052

Sekarang coba kita bandingkan dengan zat yang dapat terionisasi : Sebuah larutan 0.1 molal
H2SO4, zat tersebut merupakan asam kuat dengan derajat ionisasi D = 1. jika pelarutnya air,
dan harga kb air= 0.52 °C/molal.

Tentukan titik didih larutan tersebut. Penyelesaian soal ini ditampilkan pada Bagan 11.5. di
sebelah

Bagan 11.5. Penyelesaian soal Titik didih larutan elektrolit.

2. Kenaikan Titik Didih

Tahukah kamu bagaimana terjadinya pendidihan? Pendidihan terjadi karena panas


meningkatkan gerakan atau energi kinetik, dari molekul yang menyebabkan cairan berada pada
titik di mana cairan itu menguap, tidak peduli berada di permukaan teratas atau di bagian
terdalam cairan tersebut. Titik didih cairan berhubungan dengan tekanan uap. Bagaimana
hubungannya? Coba perhatikan penjelasan berikut ini. Apabila sebuah larutan mempunyai
tekanan uap yang tinggi pada suhu tertentu, maka molekul-molekul yang berada dalam larutan
tersebut mudah untuk melepaskan diri dari permukaan larutan. Atau dapat dikatakan pada suhu
yang sama sebuah larutan mempunyai tekanan uap yang rendah, maka molekulmolekul dalam
larutan tersebut tidak dapat dengan mudah melepaskan diri dari larutan. Jadi larutan dengan
tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu tertentu akan memiliki titik didih yang lebih rendah.

Cairan akan mendidih ketika tekanan uapnya menjadi sama dengan tekanan udara luar. Titik
didih cairan pada tekanan udara 760 mmHg disebut titik didih standar atau titik didih normal. Jadi
yang dimaksud dengan titik didih adalah suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan itu sama
dengan tekanan udara luar (tekanan pada permukaan cairan).

Telah dijelaskan di depan bahwa tekanan uap larutan lebih rendah dari tekanan uap pelarutnya.
Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu mengurangi bagian atau fraksi dari pelarut sehingga
kecepatan penguapan berkurang. Hubungan antara tekanan uap jenuh dan suhu air dalam
larutan berair ditunjukkan pada Gambar 1.4 berikut.

Garis mendidih air digambarkan oleh garis CD, sedangkan garis mendidih larutan digambarkan
oleh garis BG. Titik didih larutan dinyatakan dengan Tb1, dan titik didih pelarut dinyatakan
dengan Tb0. Larutan mendidih pada tekanan 1 atm. Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa titik
didih larutan (titik G) lebih tinggi daripada titik didih air (titik D).

http://hersipa.wordpress.com/sifat-koligatif-larutanpenurunan-titik-beku-2/

Hukum Raoult
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Francois M Raoult, pencetus Hukum Raoult

Hukum Raoult adalah hukum yang dicetuskan oleh Francois M Raoult (1830-1901) untuk
mempelajari sifat-sifat tekanan uap larutan yang mengandung zat pelarut yang bersifat
nonvolatil, serta membahas mengenai aktivitas air.[1]

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Hukum Raoult tentang Campuran Ideal


o 1.1 Hukum Raoult dalam Campuran Ideal

 1.1.1 Campuran Ideal

o 1.2 Penyimpangan Hukum Raoult

2 Hukum Raoult tentang Aktivitas Air

o 2.1 Referensi

[sunting] Hukum Raoult tentang


Campuran Ideal
Bunyi dari hukum Raoult adalah: “tekanan uap larutan ideal dipengaruhi oleh tekanan uap
pelarut dan fraksi mol zat terlarut yang terkandung dalam larutan tersebut”.[1]

Secara matematis ditulis sebagai[1]:

Plarutan= Xterlarut . Ppelarut


Hukum Raoult sangat penting untuk mempelajari sifat karakteristik fisik dari larutan seperti
menghitung jumlah molekul dan memprediksi masa molar suatu zat (Mr)[2].

Untuk larutan yang mengikuti hukum Raoult, interaksi antara molekul individual kedua
komponen sama dengan interaksi antara molekul dalam tiap komponen.[2] Larutan semacam
ini disebut larutan ideal[2] Tekanan total campuran gas adalah jumlah tekanan parsial masing-
masing komponen sesuai dengan hukum Raoult.[3]

[sunting] Hukum Raoult dalam Campuran Ideal

Campuran ideal adalah sebuah campuran yang menaati hukum Raoult[2]. Sebenarnya tidak
ada campuran yang bisa dibilang ideal.[2] Tapi beberapa campuran larutan kondisinya benar-
benar mendekati keadaan yang ideal. Berikut ini adalah contohnya[4]:

hexana dan heptana


benzena dan methylbenzena

propan-1-ol dan propan-2-ol

Dalam campuran dua larutan yang dapat menguap, hukum Raoult juga dapat digunakan.[4]

[sunting] Campuran Ideal

Dalam sebuah larutan, beberapa molekul yang berenergi besar dapat menggunakan energinya
untuk mengalahkan daya tarik intermolekuler permukaan cairan dan melepaskan diri untuk
kemudian menjadi uap.[4] Semakin kecil daya intermolekuler, semakin banyak molekul yang
dapat melepaskan diri pada suhu tertentu.[4] Pada suhu tertentu, sebagian dari molekul-
molekul yang ada akan mempunyai energi yang cukup untuk melepaskan diri dari permukaan
larutan.[4]

Pada sebuah campuran ideal dari kedua larutan tersebut, kecenderungan dari dua macam
molekul di dalamnya untuk melepaskan diri tidak berubah.[4] Jadi, apabila proporsi dari tiap
jenis molekul yang melepaskan diri tetap sama maka hanya ada separuh dari tiap jenis
molekul yang dapat melepaskan diri dari campuran larutan pada suatu waktu tertentu.[4]
Apabila komposisi tersebut berubah, kecenderungan molekul untuk melepaskan diri juga
akan berubah.[4] Oleh karena itu, campuran yang disebut larutan ideal biasanya adalah
campuran dua jenis zat yang memiliki besar molekul yang hampir sama dan mempunyai daya
tarik Van der Waals yang sama.[4] Namun besar molekul keduanya tidak persis sama sehingga
walaupun campuran ini mendekati campuran ideal, tetap saja bukan merupakan campuran
ideal.[4]

Campuran ideal dari dua larutan akan mempunyai energi entalpi sebesar nol.[4] Jadi, apabila
suhu campuran naik atau turun pada saat keduanya dicampur berarti campuran tersebut bukan
campuran ideal.[4]

[sunting] Penyimpangan Hukum Raoult

Tidak semua campuran bersifat ideal.[4] Campuran – campuran non ideal ini mengalami
penyimpangan/deviasi dari hukum Raoult.[4] Terdapat dua macam penyimpangan hukum
Raoult, yaitu:
a. Penyimpangan positif

Penyimpangan positif hukum Raoult terjadi apabila interaksi dalam masing–masing zat lebih
kuat daripada interaksi dalam campuran zat ( A – A, B – B > A – B).[5] Penyimpangan ini
menghasilkan entalpi campuran (ΔHmix) positif (endotermik) dan mengakibatkan terjadinya
penambahan volume campuran (ΔVmix > 0).[5] Contoh penyimpangan positif terjadi pada
campuran etanol dan n–hekasana.[5]

b. Penyimpangan negatif

Penyimpangan negatif hukum Raoult terjadi apabila interaksi dalam campuran zat lebih kuat
daripada interaksi dalam masing–masing zat ( A – B > A – A, B – B).[5] Penyimpangan ini
menghasilkan entalpi campuran (ΔHmix) negatif (eksotermik) dan mengakibatkan terjadinya
pengurangan volume campuran (ΔVmix < 0).[5] Contoh penyimpangan negatif terjadi pada
campuran aseton dan air.[5]

[sunting] Hukum Raoult tentang Aktivitas


Air
Aktivitas air adalah ukuran derajat keterikatan air.[5] Berdasarkan keterikatannya, air
dibedakan menjadi air bebas, air terikat fisik, dan air terikat kimia.[5]

Bunyi hukum Raoult tentang aktifitas air adalah[5]: "Aktivitas air berbanding lurus dengan
jumlah molekul di dalam pelarut dan berbanding terbalik dengan molekul di dalam larutan"

Secara matematis dapat ditulis sebagai[6]:

Dimana:

← Aw --> Aktivitas air


← n1 --> jumlah molekul yang dilarutkan

← n2 --> jumlah molekul pelarut

Aktifitas air minimal bagi beberapa organisme, sebagai berikut[6]:

← 0.90 : bakteri
← 0.88 : ragi

← 0.80 : kapang

← 0.75 : organisme halofilik

← 0.61 : organisme osmofilik

http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Raoult
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi
hanya bergantung pada konsentrasi pertikel zat terlarutnya[1]. Sifat koligatif larutan terdiri dari
dua jenis, yaitu sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif larutan nonelektrolit[1].

Daftar Isi:
1. Molalitas dan Fraksi Mol
2. Sifat Koligatif Larutan Nonelektrolit
3. Sifat Koligatif Larutan Elektrolit
4. Lihat Pula
5. Referensi
6. Pranala Luar

1. Molalitas dan Fraksi Mol

Dalam larutan, terdapat beberapa sifat zat yang hanya ditentukan oleh banyaknya partikel zat
terlarut[2]. Oleh karena sifat koligatif larutan ditentukan oleh banyaknya partikel zat terlarut,
maka perlu diketahui tentang konsentrasi larutan[2].
Larutan garam

1. 1. Molalitas (m)

Molalitas (kemolalan) adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1 kg (1000 gram) pelarut[2].
Molalitas didefinisikan dengan persamaan berikut [2]:

 Keterangan :

m = molalitas larutan (mol / kg)

n = jumlah mol zat terlarut (g / mol)

P = massa pelarut (g)

1. 2. Fraksi Mol

Fraksi mol merupakan satuan konsentrasi yang semua komponen larutannya dinyatakan
berdasarkan mol[2]. Fraksi mol komponen , dilambangkan dengan adalah jumlah mol
komponen dibagi dengan jumlah mol semua komponen dalam larutan[2]. Fraksi mol
adalah dan seterusnya[2]. Jumlah fraksi mol dari semua komponen adalah 1[2].
Persamaannya dapat ditulis[2]. Molalitas didefinisikan dengan persamaan berikut[2]:

2. Sifat Koligatif Larutan Nonelektrolit

Meskipun sifat koligatif melibatkan larutan, sifat koligatif tidak bergantung pada interaksi
antara molekul pelarut dan zat terlarut, tetapi bergatung pada jumlah zat terlarut yang larut
pada suatu larutan[3]. Sifat koligatif terdiri dari penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih,
penurunan titik beku, dan tekanan osmotik[3].
2. 1. Penurunan Tekanan Uap

Marie Francois Raoult (1830 - 1901) ilmuwan yang menyimpulkan tentang tekanan uap jenuh
larutan

Molekul - molekul zat cair yang meninggalkan permukaan menyebabkan adanya tekanan uap
zat cair[3]. Semakin mudah molekul - molekul zat cair berubah menjadi uap, makin tinggi pula
tekanan uapzat cair[3]. Apabila tekanan zat cair tersebut dilarutkan oleh zat terlarut yang tidak
menguap, maka partikel - partikel zat terlarut ini akan mengurangi penguapan molekul -
molekul zat cair[3]. Laut mati adalah contoh dari terjadinya penurunan tekanan uap pelarut
oleh zat terlarut yang tidak mudah menguap. Air berkadar garam sangat tinggi ini terletak di
daerah gurun yang sangat panas dan kering, serta tidak berhubungan dengan laut bebas,
sehingga konsentrasi zat terlarutnya semakin tinggi[3]. Persamaan penurunan tekanan uap
dapat ditulis[3] :

P0 - P

P0 > P

 Keterangan :

P0 = tekanan uap zat cair murni

P = tekanan uap larutan

Pada tahun 1808, Marie Francois Raoult seorang kimiawan asal Perancis melakukan
percobaan mengenai tekanan uap jenuh larutan, sehingga ia menyimpulkan tekanan uap jenuh
larutan sama dengan fraksi mol pelarut dikalikan dengan tekanan uap jenuh pelarut murni[3].
Persamaan penurunan tekanan uap dapat ditulis[3]. Kesimpulan ini dikenal dengan Hukum
Raoult dan dirumuskan dengan[3]. Persamaan penurunan tekanan uap dapat ditulis[3] :

P = P0 x Xp

= P0 x Xt

 Keterangan :

P = tekanan uap jenuh larutan

P0 = tekanan uap jenuh pelarut murni

Xp = fraksi mol zat pelarut

Xt = fraksi mol zat terlarut

2. 2. Kenaikan Titik Didih

Titik didih zat cair adalah suhu tetap pada saat zat cair mendidih. Pada suhu ini, tekanan uap
zat cair sama dengan tekanan udara di sekitarnya[4]. Hal ini menyebabkan terjadinya
penguapan di seluruh bagian zat cair. Titik didih zat cair diukur pada tekanan 1 atmosfer[4].
Dari hasil penelitian, ternyata titik didih larutan selalu lebih tinggi dari titik didih pelarut
murninya[4]. Hal ini disebabkan adanya partikel - partikel zat terlarut dalam suatu larutan
menghalangi peristiwa penguapan partikel - partikel pelarut[4]. Oleh karena itu, penguapan
partikel - partikel pelarut membutuhkan energi yang lebih besar[4]. Perbedaan titik didih
larutan dengan titik didih pelarut murni di sebut kenaikan titik didih yang dinyatakan dengan
( )[4]. Persamaannya dapat ditulis [4]:
 Keterangan :

Tb = kenaikan titik didih

kb = tetapan kenaikan titik didih molal

m = massa zat terlarut

Mr = massa molekul relatif

Tabel Tetapan Kenaikan Titik Didih (Kb) Beberapa Pelarut[5]

Pelarut Titik Didih Tetapan (Kb)


Aseton 56,2 1,71
Benzena 80,1 02,53
Kamfer 204,0 05,61
Karbon tetraklorida 76,5 04,95
Sikloheksana 80,7 02,79
Naftalena 217,7 05,80
Fenol 182 03,04
Air 100,0 00,52
http://wapedia.mobi/id/Sifat_koligatif_larutan