Anda di halaman 1dari 3

Selamatan Orang Meninggal

Ki Sondong Mandali

Tradisi “nylamêti tiyang tilar donyâ” merupakan tradisi Jawa yang asli. Adanya sejak jaman
peradaban nenek moyang Jawa. Dalam perjalanan sejarahnya kemudian bersinkretisme dengan agama
Hindu-Buddha-Islam. Tradisi slamêtan tersebut berdasarkan pada ajaran Kejawen: “Sangkan
Paraning Dumadi”. Yaitu falsafah yang mengajarkan bahwa semua mahluk ciptaan berasal dari Yang
Maha Kuasa dan akan kembali kepada Yang Maha Kuasa lagi. Suksmâ (roh) kembali ke sumber
suksmâ yang disebut Dzat Sêjatining Urip, sedang wadhag (raga) kembali sempurna ke asalnya, alam
semesta.
Mati, menurut pengertian Jawa adalah pisahnya suksmâ dan raga yang kemudian masing-
masing kembali sempurna kepada sumber-sumbernya sebagaimana disebutkan di atas. Suksmâ setelah
pisah dengan raga semestinya kembali sempurna menyatu dengan Dzat Sêjatining Urip. Namun
ketentuan Yang Maha Kuasa menyatakan bahwa yang demikian itu adalah bagi manusia-manusia yang
memenuhi persyaratan “titis ing pati”. Artinya, seluruh perjalanan hidupnya sesuai dengan persyaratan
“nglakôni urip sing bênêr, bêcik lan pênêr”. Ketika persyaratan tersebut tidak dipenuhi, maka suksmâ
tidak bisa kembali sempurna. Dikatakan dalam Serat Wirid Hidayat Jati karangan pujangga R.Ng.
Ranggawarsita, bahwa kembalinya suksmâ bisa kesasar ke alam lelembut, alam binatang, dan mungkin
kêsangsang di kayu-watu dan menjadi danyang di situ.
Kembalinya suksmâ setelah mati menurut ajaran Jawa merupakan hukum Tuhan yang mutlak dan
tanggung jawabnya oleh pribadi masing-masing. Kemutlakan tanggung jawab pribadi tersebut tidak
bisa ditawar (dinyang, jw.). Artinya, ketentuan keadilan Tuhan dalam menentukan kembalinya roh
secara “sempurna” atau “kesasar” tadi adalah tanggung jawab masing-masing orang. Maka
sesungguhnya, menurut pandangan Jawa yang asli, “slamêtan tiyang tilar donyâ” bukan untuk
memohonkan maaf atas kesalahan dan dosa orang yang telah meninggal dan dislameti. Tetapi lebih
ditujukan sebagai ritual ngrukti layôn mengiringi ‘penguraian kembali’ jasad si mati kembali ke
sumbernya, alam semesta.. Diawali sejak meninggal sampai dianggap sempurna pada 1000 hari setelah
meninggal.
Ribuan tahun Jawa telah memahami lingkungannya yang tropis udaranya bekelembaban
tinggi. Dengan demikian, kondisi dan situasinya memang cepat membusukkan semua jasad mahluk
hidup yang mati. Juga merupakan media berkembang cepat bagi berbagai kuman penyakit. Maka
ketika ada “kematian” semua kemungkinan yang ‘negatif’ perlu ditangkal dan dinetralkan. Caranya
dengan memberi berbagai macam ubârampé dan sesaji untuk ngrukti layôn.
Karena dasarnya merupakan pangrukti layôn, maka ‘jenius lokal Jawa’ menemukan berbagai daun,
bunga, rempah-rempah, dupa kemenyan, ratus, dan sebagainya untuk menangkal dan menetralisir
lepasnya “enerji negatif” pada kematian manusia. Wujud lahiriah “enerji negatif kematian” berupa bau
busuk mayat dan penyebaran kuman penyakit. Enerji negatif kematian yang bersifat spirituil (gaib)
oleh orang Jawa salah satunya dinamakan “sawan”. Penetralisiran enerji negatif spirituil (gaib) ini
tidak seketika bisa selesai sempurna. Namun perlu waktu sampai 1000 hari.
Dalam pengertian Kejawen, maka sempurnanya jasad mengurai di dalam kubur melalui
periodisasi waktu: sejak dikubur (surtanah, bêdhah bumi), 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun
(mêndhak pisan), 2 tahun (mêndhak pindho) dan 1000 hari. Periodisasi tersebut dalam buku Wirid
Hidayat Jati disertai gambar proses mengurainya jasad kembali ke alam semesta hasil “investigasi
gaib” R.Ng. Ranggawarsita. Demikianlah sesungguhnya tradisi slamêtan Jawa yang asli adalah “ritual
upacara” sebagai upaya penetralisiran pengaruh ‘enerji negatif’ kematian yang bersifat gaib sekaligus
untuk mengiringi kembalinya unsur-unsur pembentuk jasad ke alam semesta.
Slamêtan wông mati merupakan budaya Jawa yang berlandaskan pada: keber-Tuhan-an,
kesadaran semesta (kosmis) dan keberadaban manusia. Adalah bagian dari karya cipta ‘jenius lokal
Jawa’ yang menemukan periode waktu “kesempurnaan” kembalinya jasad mayat ke alam semesta.
Sementara pada budaya dan peradaban bangsa-bangsa lain di dunia barangkali saja tidak dikenal.
Ritual untuk kematiannya juga tidak serumit di Jawa. Setelah jenasah dikubur atau dikremasi maka
selesai semua urusannya. Tidak memerlukan ritual “slamêtan” lain sesudahnya.
Ketika masuknya agama-agama ke Jawa, maka tradisi slamêtan diadopsi dan diberi warna
sesuai ajaran agama-agama tersebut. Selanjutnya “slamêtan” tersebut menjadi bernuansa “ritual
keagamaan”. Yang semula ritual untuk penetralan pengaruh enerji negatif kematian dan mengiringi
mengurainya jasad ke alam semesta berubah menjadi upacara berdoa memohonkan maaf atas kesalahan
dan dosa “si mati”. Periode waktu kembali sempurnanya jasad ke alam semesta ikut disesuaikan
dengan ajaran agama. Dalam hal ini yang paling kentara adalah penyesuaian dengan Islam.
Sinkretisme Jawa dengan Islam membuahkan konsep “Islam Kejawen” dalam menjelaskan
perkara “hidup-mati” manusia. Diantaranya, bahwa manusia hidup disebut utuh (jangkêp, jw.)
bilamana telah bersatu dan “kasuksmâ” 8 Roh: Roh Idhofi (Suksmâ Sêjati), Roh Rohani, Roh Jasmani,
Roh Nurani, Roh Rahmani, Roh Nabati, Roh Rewani dan Roh Rabani. Ketika manusia meninggal,
maka roh-roh yang manuksmâ pada jasad manusia tersebut secara bergiliran melepaskan diri. *

Keterangannya sebagai berikut :


1. Pada saat meninggal yang terlepas adalah roh utama manusia yang disebut Suksmâ
Sêjati atau Roh Idhofi yang semasa manusianya hidup roh tersebut menyatu dengan karakter dan
watak manusianya.
2. Hari ke tiga, yang terlepas adalah Roh Rohani yang menyatu dengan nafsu.
3. Hari ke tujuh yang terlepas Roh Jasmani yang menyatu dengan sifat baik manusia.
4. Hari ke empat puluh, yang terlepas Roh Nurani yang menyatu dengan akal budi
manusia.
5. Hari ke seratus, yang terlepas Roh Rahmani yang mengatur iman dan budi pekerti
manusia.
6. Tahun pertama, yang melepaskan diri Roh Nabati yang mengatur perkembangan fisik
manusia.
7. Tahun kedua, yang terlepas Roh Rewani yang juga mengatur perkembangan fisik
manusia.
8. 1000 hari, yang terakhir melepaskan diri adalah Roh Rabani yang semasa manusia
hidup mengatur peredaran darah.
Dalam sinkretisme Islam-Kejawen, semua ubârampé atau abôn-abôn berupa ambêng dan
sesaji macam-macam dalam selamatan orang meninggal menjadi simbolisasi “niat” atau “ujub” doa.
Modin (kaum) pemimpin doa slamêtan dengan tètèh (jelas) menerangkan simbolisasi tersebut saat
memberi “kata pengantar” sebelum acara berdoa dilaksanakan. Diantaranya menyebutkan ambêng ini
dipersembahkan kepada “nabi”. Ambêng yang itu persembahan untuk para “sahabat nabi”, leluhur
cikal bakal desa, dan sebagainya. Namun kemudian, sinkretisme tersebut mengurai kembali oleh
intensitas pendidikan agama. Generasi baru pemimpin doa dalam slamêtan “mengharamkan” doa dan
persembahan yang tidak tertuju kepada Tuhan. Maka simbolisasi “warna Jawa” dalam “selamatan
orang meninggal” tidak dilakukan lagi. Bahkan kemudian, di jaman ini, acara selamatan orang
meninggal berubah menjadi “ajang pesta tanpa makna”. Ambêng dan sajèn sebagai simbolisasi “doa”
berubah sekedar pembagian makanan sebagai “upah mendoakan”. Atas proses perubahan tersebut,
menjadikan sebagian kalangan pemuka agama (Islam) berpendapat bahwa “slamêtan wông mati”
sebagai musyrik dan bid’ah.
Barangkali saja kenjlimêtan Jawa dalam urusan “slamêtan wông mati” memang mengherankan
dan sulit dipahami. Maka kemudian, saking tidak pahamnya, menganggap “slamêtan wông mati”
sebagai kemusyrikan. Ya, slamêtan wông mati memang kemusyrikan setelah diadopsi oleh agama.
Masalahnya, pada ajaran murni agama-agama memang tidak ada slamêtan wông mati tersebut.
Demikian pula slamêtan wông mati untuk mendoakan arwahnya ‘si mati’ menjadi salah pula menurut
pandangan falsafah Jawa yang asli. Karena menurut ajaran falsafah Jawa yang asli tidak ada ajaran
mendoakan arwah orang meninggal. Selamatan orang mati lebih ditujukan kepada ritual
penyempurnaan kembalinya jasad si mati ke alam semesta. Di Bali, kesempurnaan tersebut
dituntaskan dengan upacara “Ngaben”. Mungkin pula di jaman kuno, di Jawa, juga ada upacara
“perabuan” semacam ”Ngaben” di Bali tersebut.
Untuk menghindari silang sengketa adanya “cap” musyrik untuk selamatan orang mati, maka
sebaiknya dipahami dengan meletakkan kembali kepada falsafah Jawa yang asli, kemanunggalan
kosmis – sangkan paraning dumadi. Dengan demikian “slamêtan wông mati” adalah “laku budaya
Jawa” dan merupakan bagian dari “pembelajaran umum” perlunya manusia memiliki kesadaran
semesta. Kesadaran semesta Jawa dalam hal orang meninggal: “Roh orang mati kembali ke sumbernya,
Dzat Sêjatining Urip, sedangkan jasadnya mengurai dan kembali ke sumbernya pula, alam semesta”.
Kalau pemahaman yang seperti ini masih dianggap ketahayulan, maka sebenarnya memang
banyak orang yang “samar kalingan padhang, kêtatab suwung kêsandhung râtâ”. Silau memandang
“sesuatu” karena berpijak kepada fanatisme keyakinan agamanya. Memandang upacara “slamêtan
wông mati” bukan sebagai tingkat ‘keberadaban’ umat manusia, tetapi sebagai kemusyrikan atau
ketahayulan. Padahal hanya jenis binatang saja yang tidak butuh nylamêti kerabat binatangnya yang
mati, bukan?

________________

Catatan:
Tulisan ini memenuhi permintaan ‘Eyang Kendro’ (alm) yang tinggal di Hawai dan pernah dimuat
pada majalah SASMITA.