Anda di halaman 1dari 32

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat yang telah dilimpahkan-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah KDM I mengenai “Keamanan”
ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini izinkanlah kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah
ini, yakni :
1. Dosen KDM I Unmuh Jember, Bapak Sasmiyanto,S. Kep Ners atas waktu yang
diberikan seluas-luasnya sehingga penyusun sempat menyusun makalah ini.
2. Teman-teman sejawat di Unmuh Jember, yang memberi saran tentang
penyusunan makalah KDM I ini.
3. Dan semua pihak yang membatu penyusunan makalah ini.
Akhirnya kami mengharapkan segala masukan baik berupa kritik maupun saran-
saran demi perbaikan makalah ini dan dengan suatu harapan yang tinggi agar makalah
sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Jember, 2 Desember 2009


Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………… 1


DAFTAR ISI …………………………………………………… 2
BAB I
PENDAHULUAN …………………………………………………… 3
1.1 latar belakang …………………………………………………… 3
1.2 tujuan …………………………………………………… 5
BAB II
PEMBAHASAN …………………………………………………… 6
2.1 Pengurangan Bahaya Fisik …………………………………………………6

2.2 Proses Perawatan Dan Keamanan………………………………………… 10

2.3 Lembaga Pelayanan Kesehatan ………………………………………… 14

2.4 Hukum Terhadap Pasien Sebagai

Konsumen Jasa Dalam Pelayanan Medis……………………………………… 24

BAB III
PENUTUP …………………………………………………… 31
KESIMPULAN …………………………………………………… 31
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 31

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Keamanan, seringkali didefinisikan sebagai keadaan bebas dari cedera fisik dan
psoikologis, adalah salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi.
Lingkungan pelayanan kesehatan dan komunitas yang aman merupakan hal yang penting
untuk kelangsungan hidup klien.
1. Keamanan Lingkungan
Lingkungan klien mencakup semua factor fisik dan psikososial yang
mempengaruhi atau berakibat terhadap kehidupan dan kelangsungan hidup klien. Definisi
yang luas tentang lingkungan ini menggabungkan seluruh tempat terjadinya interaksi
antara perawat dan klien.contohnya: rumah, pusat komunitas, klinik, RS, dll. Keamanan
yang ada dalam lingkungan ini akan mengurangi insiden terjadinya penyakit dan cedera,
memperpendek lama tindakan dan/atau hospitalisasi, meningkatkan atau
mempertahankan status fungsi klien, dan meningkatkan kesejahteraan klien. Lingkungan
yang aman juga akan memberikan perlindungan kepada staffnya, dan memungkinkan
mereka untuk berfungsi pada tingkat yang optimal.
Lingkungan yang aman adalah salah satu kebutuhan dasar yang terpenuhi, bahaya
fisik akan berkuran, penyebaran organisme pathogen akan berkurang.sanitasi dapat
dipertahankan, dan polusi dapat dicontrol.
2. Kebutuhan dasar
Kebutuhan fisiologis terdiri dari kebutuhan terhadap oksigen, kelembaban yang optimum,
nutrisi, dan suhu yang optimum, akan mempengaruhi keamanan seseorang. Pemenuhan
kebutuhan dasar fisiologis manusia diperlukan untuk mencapai kebutuhan keamanan dan
keselamatan.

a. Oksigen
Perawat harus menyadari berbagai factor yang ada didalam lingkungan klien yang
dapat menurunkan jumlah oksigen yang tersedia. Bahaya umumnya yang ditemukan
dirumah adalah system pemanasan yang tidak berfungsi dengan baik.Pembakaran

3
yang tidak mempunyai pembuangan yang tepat akan menyebabkan penumpukan
karbon monksida di dalam ruangan.Karbon monoksida merupakan adalah suatu gas
beracun yang tidak berbau dan tidak berwarna yang dihasilkan dari pembakaran
karbon atau bahan bakar organic. Karbon monoksida berikatan erat dengan oksigen,
sehingga mencegah terbentuknya oksihemoglobin dan akhirnya akan mengurangi
persediaaan oksigen yang diberikan ke seluruh jaringan tubuh.

b. Kelembaban
Kelembaban relative udara dalam lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan dan
keamanan klien. Kelembaban relatif adalah jumlah uap air di udara dibandingkan
dengan jumlah uap air maksimum yang dapat dikandung oleh udara pada suhu yang
sama. Angka kelembaban yang nyaman bagi setiaporang bervariasi, tatapi
kebanyakan orang merasa nyaman pada kelembaban antara 60%-70%.
Jika kelembaban relatifnya cukup tinggi, maka kelembaban kulit akan terevaporasi
dengan lambat. Jadi pada cuaca panas, lembab, orang akan merasa tidak nyaman pada
lembab dan panas. Jika kelembaban relatif rendah maka kelembaban kulit akan
terevaporasi dengan cepat. Hal inilah sebabnya mengapa orang akan merasa lebih
dingin dan lebih nyaman pada suhu 32,2oC dengankelembaban relatif 30% daripada
berada pada suhu 32,2oC dengan kelembaban relatif 85%.

c. Nutrisi
Pemenuhan kebutuhan nutrisi secara adekuat aman memerlukan kontrol lingkungan
dan pengetahuan. Dirumah, klien memerlukan kulkas dan alat pembeku untuk
menjaga makanan yang cepat membusuk agar tetap segar. Persediaan air bersih dan
adekuat diperlukan untuk mencuci bahan makanan yang segar dan alat-alat makan.
Peraturan dalam pembuangan sampah diperlukan untuk memelihara kondisi yang
bersih.
Makanan yang tidak disiapkan atau disimpan dengan tepat,atau benda yang dapat
menyebabkan kondisi yang tidak bersih, akan meningkatkan resiko terjadi infeksi dan
keracunan makanan pada klien. Infeksi bakteri melalui makanan disebabkan karena
adanya kontaminasi makanan oleh bakteri seperti salmonela, Shingela, dan listeriosa.

4
Keracunan makanan disebabkan ingesti toksin bakteri yang di hasilkan dalam
makanan.
1.2 Tujuan
1) Untuk mengetahui berbagai risiko ancaman kemanan yang sfesifik yang
berhubungan dengan pertumbuhan usia, likungan, bahaya fisik dan pelayan
kesehatan.
2) Untuk mengetahui jalannya suatu proses keperawatan tentang keamanan.
3) Mengetahui perlindungan hukum bagi pasien sebagai konsumen jasa pelayanan
dibidang medis yang berhubungan dengan keamanan.

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengurangan Bahaya Fisik

Bahaya fisik yang ada di dalam komunitas dan tempat pelayanan kesehatan
menyebabkan klien berisiko mengalami cedera. Kecelakaan kendaraan bermotor
menempati urutan pertama kematian yang disebabkan kecelakaan. Jatuh merupakan
penyebab utama kematian akibat kecelakaan pada klien berusia 75 tahun atau lebih
(Accident Fact, 1993). Lebih dari 40% orang yang berusia 65 tahun mengalami jatuh
sedikitnya 1 kali dalam setahun, dengan 1% hingga 6% diantaranya menyebabkan cedera
yang serius. Banyak bahaya fisik, khususnya yang mengakibatkan jatuh, dapat
diminimalkan melalui pencahayaan yang adekuat, pengurangan penghalang fisik
pengontrolan bahaya yang mungkin ada di kamar mandi, dan tindakan pengamanan.
(Loew, 1993)

1) Menjamin Pencahayaan yang Adekuat

Pencahayaan yang adekuat akan mengurangi bahaya fisik dengan cara menerangi
tempat klien bergerak dan bekerja. Di dalam rumah, gang, tangga, dan ruangan individu
harus diberikan pencahayaan yang adekuat agar penghuninya dapat melakukan berbagai
aktivitas dengan aman. Pencahayaan di malam hari pada gang yang gelap, kamar mandi,
serta pada ruangan anak-anak dan lansia akan membantu memelihara keamanan mereka
dengan mengurangi risiko jatuh. Pencahayaan di malam hari pada kamar tamu dapat
membantu mengorientasikan malam hari pada tamu yang bangun tengah malam.
Pencahayaan buatan harus berupa cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan mata,
karena cahaya yang menyilaukan adalah salah satu masalah utama yang dihadapi oleh
lansia. (Ebersole dan Hess, 1994)

6
2) Mengurangi Penghalang Fisik

Risiko jatuh akibat berbagai penghalang dapat terjadi pada seluruh kelompok
usia, tetapi risiko terbesar dialami oleh lansia. Jatuh biasanya diakibatkan oleh kombinasi
antara faktor intrinsik, seperti penyakit dan pengaruh alkohol dengan faktor ekstrinsik
atau lingkungan. Faktor intrinsik sulit dimodifikasi atau dieliminasi, tetapi biasanya
faktor ekstrinsik dapat dimodifikasi atau dieliminasi.
Untuk mengurangi risiko cedera, seluruh penghalang harus dipindahkan dari
tempat lalu lalang. Benda-benda yang dibutuhkan, misalnya seperti jam, kacamata, tisu
atau obat-obatan harus tetap diletakkan di meja samping tempat tidur dalam jangkauan
klien tetapi tidak dapat dijangkau anak-anak di rumah.
Jika menggunakan keset, maka keset itu harus dilindungi dengan alas yang tidak
licin atau bahan perekat yang tahan licin. Keset dan alasnya tidak boleh digunakan di
tangga. Penggunaan karpet pada tangga harus dilindungi dengan paku karpet.

3) Mengontrol Bahaya yang Ada di Kamar Mandi

Kecelakaan, seperti jatuh, kebakaran, dan keracunan seringkali terjadi di dalam


kamar mandi. Pegangan yang mudah terlihat dan aman serta perekat yang berwarna dan
tidak licin yang ada di dasar bak mandi berguna untuk mengurangi risiko jatuh dalam bak
mandi. Tempat duduk toilet yang ditinggikan dengan pegangan tangan dan alas yang
tidak licin pada lantai depan toilet juga berguna mengurangi bahaya yang ada di dalam
kamar mandi. Perawatan harus dilakukan untuk menurunkan termostat yang terpasan
pada alat pemanas air untuk mengurangi risiko terjadi luka bakar. Dalam lemari obat,
obat-obatan harus diberikan tanda yang jelas dan diletakkan jauh dari jangkauan anak-
anak. Obat-obatan yang sudah kadaluarsa harus dibuang dengan cara membilas ke dalam
toilet (Tideiksaar, 1989).

7
4) Mengamankan Rumah

Saat perawat melakukan pengkajian terhadap keamanan rumah, maka klien harus
mengevaluasi keberadaan dan kualitas kunci pintu dan jendela. Klien harus didorong
untuk bergabung ke dalam kelompok yang ada di lingkungan rumah dan bekerjasama
dengan petugas keamanan untuk mengurangi kejahatan di lingkungan sekitar rumah.

a. Pengurangan Transmisi Patogen

Patogen adalah setiap mikroorganisme yang mampu menyebabkan penyakit.


Salah satu metode yang paling efektif untuk membatasi penyebaran patogen ialah
mencuci tangan sesuai dengan teknik aseptik.
Penyebaran penyakit dari orang ke orang juga dapat dikurangi dan pada beberapa
kasus dapat dicegah melalui pemberian imunisasi. Imunisasi adalah proses yang
menghasilkan atau menambah resistensi seseorang terhadap penyakit infeksi. Imunisasi
aktif diperoleh dengan cara menyuntikkan sejumlah kecil organisme yang telah
dilemahkan atau yang telah mati atau toksin dari organisme tertentu yang telah
dimodifikasi (toksoid) ke dalam tubuh. Imunisasi pasif diperoleh saat antibodi yang
dihasilkan oleh orang lain atau binatang dimasukkan ke dalam pembuluh darah seseorang
untuk melindunginya dari patogen (Phipps, dkk, 1995)
Human immunodeficiency virus (HIV), yaitu virus patogen yang menyebabkan
AIDS, dan virus hepatitis B yang disebarkan melalui darah dan cairan tubuh tertentu.
Pelaku penyalahgunaan obat-obatan seringkali menggunakan suntikan dan jarum suntik
secara bersama-sama, yang meningkatkan risiko tertularnya virus ini. Praktik seksual
yang aman, termasuk menggunakan kondom secara benar dan mengeliminasi kegiatan
seksual dengan pasangan yang berganti-ganti, akan mengurangi risiko terjadinya kedua
penyakit ini. Perawat menggunakan standar kewaspadaan saat memberikan perawatan
bagi seluruh klien untuk melindungi diri mereka dari kontak dengan darah dan cairan
tubuh.

8
b. Pengontrolan polusi

Lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bebas polusi.Polutan adalah zat
kimia atau sampah material yang berbahaya yang dibuang kedalam air, tanah atau
udara.Pada umumnya masyarakat hanya berfikir polusi dalam bentuk polusi udara,tanah,
dan air saja, tetapibunyi juga dapat menjadi salah satu bentuk polusi yang menimbulkan
resiko terhadap kesehatan.
Polusi udara adalah kontaminasi terhadap atmosfir.Pemaparan yang lama
terhadap polusi udara akan meningkatan resiko terjadinya penyakit par-paru.Pada
perkotaan,sampah industry dan zat buangan kendaraan bermotor pada umumnya menjadi
penyebab polusi udara.Di rumah,sekolah, tempat kerja, asap rokok menjadi penyebab
utama polusi udara.Polusi tanah dapat disebabkan oleh pembuangan radioakyif dan
sampah bioaktif yang tidak tepat,misalnya dioksin.
Polusi air adalah kontaminasi terhadap danau, sungai, dan aliran air,yng biasanya
disebabkan oleh polutan yang dihasilkan oleh industri.Fasilitas penyediaan air bersih
menyaring zat penyebab kontaminasi yang berbahaya dari air, tetapi cara ini memiliki
beberapa kekurangan. Jika air terkonyaminasi, maka masyarakat dianjurkan untuk
memasak air yang digunakan untuk minum dan masak,sampai mendidih. Banjir sering
kali menyebabkan kerusakan pada tempat penyediaan air bersih dan juga memerlukan
perebusan air hingga mendidih untuk air minum dan memasak.
Polusi suara terjadi bila tingkat bunyi pada lingkungan menyebabkan
ketidaknyamanan bagi penghuni dilingkungan tersebut. Tingkat bunyi diukur dengan
menggunakan satuan intensitas bunyi yang disebut desibel.Toleransi terhadap tingkat
bunyi bervariasi pada individu yang satu dengan yang lain dan dipengaruhi oleh status
kesehatan. Kehilangan pendengaran akibat bunyi yang terjadi didalam lingkungan
kerja,adalah suatu cedera yang ireversibel,merupakan salah satu dari 10penyebab terbesar
penyakit dilingkungan kerja yang terjadi di Amerika Serikat dan Kanada.
Lembaga pelayanan kesehatan seperti unit perawat intensif dapat juga mengalami
polusi kebisingan. Suara mesin, orang yang sedang berbicara, dan intercom dapat
menyebabkan peningkatn tingkat kebisingan. Walaupun tingkat kebisingan tidak cukup
tinggi untuk mempengarihi ketajaman pendengaran, tetapi kebisingan dapat

9
menghasilkan suatu sindrom yang disebut dengan kelebihan beban sensorik(sensory
overload).Kelebihan beban sensorik ditandai dengan peningkatan intensitas auditori dan
stimulus visual. Kelebihan beban sensorik akan mengganggu proses informasi dan klien
tidak lagi merasakan lingkungan yang berarti baginya (Potter & Perry, 2005).

2.2 Proses Perawatan Dan Keamanan

A. Pengkajian
Perawat memberikan perawatan pada klien dan keluarga di dalam komunitas
mereka dan tempat pelayanan kesehatan.Untuk memastikan lingkungan yang aman
perawat perlu memahami hal-hal yang member kontribusi keamanan rumah, komunitas,
atau lingkungan pelayan kesehatn dan kemudian mengkaji berbagai ancaman terhadap
keamanan klien dan lingkungan. Pengkajian yang dilakukan pada klien antar lin
pengkajian terhadap riwayat dan pemeriksaan fisik.Pengkajian terhadap lingkungan
termasuk rumah klien dan tempat pelayanan kesehatan mencakup inspeksi pad fasilitas
tersebut. Bagian pengkajian berikut ini mendiskusikan berbagai factor risiko yang
dihadapi dalam komunitasdan lembaga pelayanan kesehatan (Potter & Perry, 2005).

Komunitas
Risiko pada Tahap Perkembangan. Ancaman keamanan dalam komunitas
dipengaruhi oleh tahap perkembangan, gaya hidup, status mobilissi, perubahan sensorik
dan kesadaran klien terhadap keamanan.
Bayi, Todler, dan Prasekolah.Cedera merupakan penyebab terbesar kematian
anak-anak yang berusia lebih dari 1 tahun dan penyebab kematian dan kecacatan yang
lebih besar dari pada akibat penyakit lain.Sifat cedera yang dialami berhubunganerat
dengan perilaku pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Contohnya, bahaya
keracunan, biasanya disebabkan oleh ingesti kepingan cat yang mengandung logam ,
merupakn peristiwa terbanyak yang terjadi pada masa bayi akhir dan masa toddler karena
meningkatnya tingkat aktifitas oral dan kemampuan mengekplorasi lingkungan yang
terjadi pada anak-anak umumnya dapat dicegah, tetapi orang tua harus menyadari bahaya
yang spesifik pada setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan. Pencegahan kecelakaan

10
memerlukan pendidikan kesehatan untuk para orang tua dan penghilangan bahaya sebisa
mungkin. (Potter & Perry, 2005).

Anak usia sekolah. Saat seorang anak masih sekolah, lingkungannya meluas
sampai ke lingkungan sekolah, perjalanan pergi dan pulang sekolah, teman-teman
sekolah, dan aktifitas setelah pulang sekolah. Melalui diskusi yang disertai dengan
berbagai contoh, orang tua, guru, dan perawat harus memberi instruksi pada anak untuk
mengikuti kegiatan sekolah atau bermain dengan cara yang aman.
Karena anak usia sekolah lebih berpartisipasi dalam berbagai aktifitas di luar
rumah dan lingkungan sekitar rumahnya,maka mereka lebih berisiko cedera yang
disebabkan oleh orang asing. Oleh karena itu anak harus di peringatkan berulang kali
untuk tidak menerima permen,makanan,hadiah,atau naik kendaraan bersama dengan
orang asing. Selain itu, anak perlu mengetahui apa yang harus di lakukannya bila ia di
dekati oleh orang asing. Biasanya lingkungan disekitar rumah mempunyai “rumah dalam
blok” atau “rumah yang aman”. Pada rumah ini pemiliknya memastikan bahwa ada orang
dewasa yang tinggal dirumah selama waktu yang diperlukan anak untuk pergi dan pulang
dari sekolah.jika ada orang asing yang mendekati anak, maka anak tersebut dapat berlari
ke rumah itu, dan orang dewasa yang ada di dalamnya akan melindungi anak tersebut dan
meminta bentuan pada petugas yang tepat. Perawat dapat bekerja sama dengan pihak
sekolah atau lingkungan rumah untuk melaksanakan sistem tersebut untuk melindungi
anak-anak.
Olahraga yang aman ditekankan pada olahraga yang dilakukan di sekolah, tetapi
orang tua dan profesi tenaga kesehatan dapat menganjurkan kiat-kiat yang aman dengan
cara mengharuskan anak-anak menggunakan alat pelindung saat berolahraga di rumah.
Sebagai contoh, sekolah menyediakan helm yang digunakan pada pertandingan baseball,
dan orangtua harus menyediakan peralatan tersebut saat anak-anak bermain baseball di
halaman belakang rumah.
Cedera akibat bersepeda merupakan penyebab kematian dan kecacatan yang
utama pada anak-anak, yang setiap tahunnya lebih dari 600 kematian dan ribuan anak
dibawa ke ruang gawat darurat (Child Health Alert,1993). Sepeda harus dalam kondisi
baik dan ukuran yang sesuai untuk anak. Anak harus diajarkan peraturan di jalan raya dan

11
diperingatka untuk tidak melakukan gaya atau aktivitas yang berbahaya saat mengendarai
sepeda. Diantara anak-anak yang meninggal karena kecelakaan sepeda, terdapat 85%
meninggal karena cedera kepala. Penelitian menunjukkan bahwa 75% dari kematian ini
dapat dicegah dengan menggunakan helm saat bersepeda. Banyak negara bagian yang
secara hukum mewajibkan penggunaan helm saat bersepeda, dan hukum federal yang
mewajibkan hal yang sama saat ini masih sedang dalam pertimbangan (Child Health
Alert,1993).
Remaja. Ketika anak memasuki usia remaja, mereka mempunyai kemandirian
yang lebih besar dan mulai mengembangkan identitas dan nilai yang mereka miliki.
Selain itu, remaja secara emosional mulai terpisah dari keluarganya, dan kelompok teman
sebaya mulai memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap dirinya.
Pertentangan identitas menyebabkan remaja mengalami rasa malu, takut dan
cemas, yang mengakibatkan ia tidak dapat berfungsi di rumah, sekolah, atau dalam
kelompok teman sebayanya. Sebagai usaha untuk melepaskan tekanan akibat perubahan
fisik dan psikososial, dan tekanan dari teman sebayanya, maka remaja mungkin akan
beralih ke obat-obatan. Selain itu, risiko kesehatan yang disebabkan oleh obat-obatan,
ingesti obat-obatan, termasuk alkohol, meningkatkan terjadinya jenis kecelakaan lain
seperti tenggelam dan kecelakaan kendaraan bermotor. Cedera yang disebabkan
kecelakaan merupakan penyebab kematian yang terbesar pada remaja, dan sekitar 40%
dari cedera tersebut disebabkan karena penggunaan alkohol. Alkohol juga mempunyai
persentase yang berarti sebagai penyebab remaja melakukan pembunuhan dan bunuh diri
(U.S Public Health Services,1994).
Ketika remaja belajar mengemudi, maka lingkungan mereka semakin luas, begitu
pula dengan kemungkinan cedera. Pengemudi yang berusia muda harus diajarkan dan
diharapkan mematuhi peraturan tentang penggunan mobil. Tidak menggunakan sabuk
pengaman merupakan faktor risiko cedera yang utama. Banyak negara bagian memiliki
hukum yang mengharuskan penggunaan sabuk pengaman. Peraturan umu meliputi
penggunaan sabuk pengaman yang tepat, tidak mengkonsumsi alkohol, tidak
mengendarai saat pengemudi berada di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan, dan
ingin mengejar waktu untuk segera sampai di rumah.

12
Karena masa remaja adalah masa ketika terjadi perkembangan karakteristik fisik seksual
yang matang, maka remaja dapat mulai mempunyai hubungan fisik dengan orang lain.
Mereka memerlukan petunjuk yang benar dan tepat tentang penundaan dan/ atau praktik
seksual yang aman dan pencegahan kehamilan.
Masalah yang sedang muncul pada populasi remaja dan dewasa muda adalah
kekerasan. Pada tahun 1991, hampir setengah dari korban pembunuhan di Amerika
Orang Dewasa. Aancaman terhadap keamanan orang dewasa biasanya berhubungan
dengan kebiasaan gaya hidup. Contohnya,klien yang menggunakan alkoholn secara
berlebihan lebih besar beresiko mengalami kecelakaan kendaraan bermotor. Perokok
jangka panjang lebih besar beresiko mengalami penyakit kardiovaskular dan paru-paru
akibat inhalasi ke dalam paru-paru dan efek nikotin pada system sirkulasi. Begitu pula
orang dewasa yang mengalami tingkat strees yang tinggi mempunyai lebih besar
kemungkinan mengalami kecelakaan atau penyakit misalnya sakit kepala,gangguan
saluran cerna dan infeksi.

Lansia. Perubahan fisiologis yang terjadi selama proses penuaan meningkatkan resiko
klien untuk jatuh dan mengalami jenis kecelakaan lain seperti luka baker dan kecelakaan
mobil. Klien lansia mengalami kemungkinan jatuh di kamar tidur lebih besar,kamar
mandi,dan dapur,dan kemungkinan jatuh di luar rumah yang disebabkan oleh trotoar
yang tertutupi oleh es atau penghalang di kebun. Peristiwa jatuh paling sering terjadi pada
saat pindah dari tempat tidur,bangku,dan toilet;tersandung pinggiran karpet atau
pintu;terpeleset pada permukaan basah;dan turun tangga (Tideiskaar,1989).

Faktor Resiko yang Lain.Faktor resiko lain termasuk gaya hidup,mobilisasi,kerusakan


sensorik,dan kesadaran terhadap keamanan.

Gaya Hidup. Gaya hidup meningkatkan resiko keamanan. Orang yang beresiko cedera
yang lebih besar adalah mereka yang menjalankan atau mengemidikan mesin saat berada
di bawah pengaruh substansi kimia,mengerjakan pekerjaan yang berbahaya,dan orang
yang suka mengambil resiko. Selain itu,orang yang mengalami
strees,lemas,kelemahan,atau menarik diri dari penggunaan alcohol atau obat-obatan,atau

13
mereka yang mengkonsumsi obat yang di resepkan mungkin lebih cenderung mengalami
kecelakaan.karena factor-faktor ini,maka klien mungkin sangat memperhatikan potensial
sumber kecelakaan seperti tangga yang rapuh atau tanda berhenti.

Mobilisasi. Perubahan mobilisasi akibat kelemahan,kelumpuhan,dan koordinasi atau


keseimbangan yang buruk merupakan factor utama yangmenyebabkan klien jatuh.
Imobilisasi menyebabkan bertambahnya bahaya fisiologis dan emosional bagi klien,yang
nantinya akan menyababkan pembatasan mobilisasi dan kemandirian yang lebih lanjut.

Kerusakan Sensorik. Klien yang mengalami gangguan visual, pendengaran, atau


komunikasi, seperti afasia dan hambatan bahasa, lebih beresiko cedera dikomunitas. Lien
seperti itu tidak mampu merasakan bahaya yang tidak mampu terjadi dan tidak mampu
mengungkapkan kebutuhan mereka untuk mendapatkan bantuan ( lihat bab 39 ).

Kesadaran terhadap keamanan. Beberapa klien tindakan pencegahan untuk keamanan,


mislanya menyimpan obat – obatan jauh dari jangkauan anak – anak atau membaca
tanggal kadaluarsa pada bahan makanan. Pengkajian keperawatan lengkap yang
mencangkup inspeksi rumah harus dapat membantu perawat mengidentifikasi tingkat
pengetahuan klien tentang keamanan rumah sehingga berbagai kekurangan yang ada
dapat diperbaiki dalam rencana keperawatan individu. (Potter & Perry, 2005).

2.3 Lembaga Pelayanan Kesehatan

Jenis dasar resiko terhadap keamanan klien didalam lingkungan pelayanan


kesehatan adalah jatuh, kecelakaan yang disebabkan klien, kecelakaan yang disebabkan
prosedur, dan kecelakaan yang disebabkan penggunaan alat. Perawat harus mengkaji
keempat jenis masalah yang potensial ini, dan mempertimbangkan tingkat perkembangan
klien, mengambil langkah pencegahan atau meminimalkan kecelakaan di lembaga
tersebut.
Kecelakaan yang terjadi harus ditulus dalam laporan kejadian, yaitu dokumen
rahasia yang memberikan gambaran lengkap tentang kecelakaan klien yang terjadi di

14
lembaga pelayanan kesehatan. Laporan tersebut mencatat kecelakaan yang terjadi,
pengkajian klien, dan intervensi yang diberikan untuk klien. Selain melengkapi laporan
kejadian, perawat harus mencatat kecelakaan tersebut dalam rekam medis klien.
jatuh . jatuh merupakan 90% jenis kecelakaan yang dilaporkan dari seluruh
kecelakaan yang terjadi di rimah sakit. Risiko jatuh lebih besar dialami oleh klien lansia.
Selain usia, riwayat jatuh terdahulu, masalah pada sikap berjalan dan mobilisasi,hipotensi
postural, perubahan sensorik, disfungsi saluran dan kandung kemih, dan beberapa
kategoridiagnosa medis tertentu seperti kanker, penyakit kardivaskuler, neurologi,
serebrovaskulerdapat meningkatkan risiko.penggunaan obat-obatan dan interaksimobat
juga menyebabkan jatuh (brady dan chester, 1993).
Kecelakaan yang disebabkan klien. Kecelakaan yang disebabkan klien adalah
kecelakaan selain jatuh dimana klien menjadi factor penyebab yang utama. Contoh
kecelakaan yang disebabkan klien antara lain luka, cidera, dan luka bakar yang
disebabkan diri sendiri; menelan atau menyuntikkan substabsi asing; memotong atau
membakar diri; dan jari yang terjepit pada laci atau pintu.
Kecelakaan yang disebabbkan klien dapat terjadi akibat kejang. Kejang ditandai
dengan tangisan , hilangnya kesadaran dengan gerakan ke atas, tonik(kaku), dan
klonik(menghentak). Klien mungkin mengalami nafas dangkal, sianosis dan kehilangan
control berkemih dan devikasi. Setelah mengalami kejang , klien akan memasuki tahap
postiktal, yaitu klien mengalami amnesia, binging dan tertidur lelap(seizure recognition
and observation, 1992). Sebelum episode kejang beberapa klien mungkin melaporkan
adanya aura, yaitu peringatan atau perasaan akan mengalami kejang. Aura mungkin
berupa cahaya yang sangat terang, bau atau rasa(shatz dan spitz, 1993). Kejang yang
berakhir lebih 5 menit atau yang diikuti kejang berulang yang cepat disebut status
epileptikus. Kondisi ini merupakan kondisi kegawatan medis dan memerlukan
pengawasan dan tindakan pengobatan yang intensif.
Cedera yang berarti pada rongga mulut klien jarang ditemukan, walaupun dalam
masa kejang paling berat(ellis, 1993).cedera dapat terjadi akibat tekanansuatu benda
kedalam mulut dan akibat gigi yang menggigit benda keras. Benda yang lunak mungkin
akan pecah di dalam mulut selama kejang dan dapat teraspirasi. Oleh kerena itu, the
epilepsy foundation of America(yayasan epilepsy amerika), dalam rekomendasinya untuk

15
pertolongan pertama dalam kejang, antara lain menghindari pemasukan benda ke dalam
mulut(seizure recognition and observation, 1992).klien yang mengalami kejang tidak
perlu diikat, tetepi harus diberi kewaspadaan kejang dan perlu dilindungi secara adekuat
dari cedera traumatic.
Kecelakaan yang disebabkan prosedur. Kecelakaan yang disebabkan prosedur
terjadiselama terapi. Hal ini meliputi kesalahan pemberian medikasi dan cairan,
penggunaan peralatan eksternal yang tidak tepat, dan kecelakaan karena cara pelaksanaan
prosedur yang tidak tepat, seperti saat mengganti balutan.
mengikuti prosedur pemberian obat secara tepat akan mencegah terjadinya kesalahan
obat. Pemberian cauran intravena(IV) yang tepat akan mencegah terjadinya kelebihan
atau deficit cairan.potensial terjadinya infeksi akan berkurang bila teknik aseptic
diginakan saat menggantibalutan steril atau saat melakukan prosedur invasive, seperti
saat memasangkateter foley. Akhirnya, penggunaan mekanika tubuh dan
teknikpemindahan pasien yang benar akan mengurangi risiko cidera saat menggerakkan
dan mengangkat klien.
Kecelakaan yang disebabkan peralatan . kecelakaan yang disebabkan peralatan
terjadi karena alat yang digunakan tidak berfungsi, rusak, atau salah digunakan, atau
disebabkan karena bahaya akibat listrik. Untuk menghindari terjadinya cidera, perawat
tidak boleh menjalankan peralatan monitor atau terapi tanpa petunjuk.
Sebuah daftar pemeriksaan harus digunakan untuk mengkaji bahaya listrik yang
mungkin terjadi untuk mengurangi risiko kebakaran akibat listrik, kematian akibat
tersengat listrik, atau cidera Karena peralatan yang rusak. Pada tempat pelayanan
kesehatan, staf engineering melakukan pemeriksaan keamanan alat secara teratur. (Potter
& Perry, 2005).

B. Diagnosa Keperawatan
Pengkajian menunjukkan pengelompokan data yang mengindikasikan klien mempunyai
resiko keamanan yang actual atau potensial. Ketika mengembangkan suatu pernyataan
diaknosa keperawatan, perawat harus memastikan bahwa batasan karakteristik tertentu
yang tepat dalam data dasar pengajian (Potter & Perry, 2005).

16
C. Perencanaan
Perawat merencanakan intervensi terapeutik untuk klien dengan resiko tinggi ataunaktual
mengalami gangguan keamanan. Tujuan keseluruhan untuk klien yang mengalami
ancaman keamanan adalah klien terbebas cedera. Perawat merencanakan intervensi yang
individual dengan berdasarkan pada beratnya resiko yang dihadapi klien, tahap
perkembangan, status kesehatan, dan gaya hidup klien. Intervensi keperawatan dirancang
untuk memeberikan perawatan yang aman dan efisien. Berikut ini adalah tujuan potensial
yang berfokus pada kebutuhan klien terhadap keamanan :
a) Bahaya yang dapat dimodifikasi dalam lingkungan rumah akan berkurang.
b) Klien akan menggunakan obat – obatan dan peralatan dengan benar dan
melakukan tindakan pengobatan.
c) Klien mengidentifikasi dan menghindari resiko yang mungkin dialami
dalam komunitas.
Penting memperhatikan kondisi rumah klien ketika merencanakan terapi untuk
mempertahankan atau meningkatkan tingkat keamanan klien. Perencanaan keperawatan
juga melibatkan pemahaman kebutuhan klien untuk mempertahankan kemandiriannya.
Perawat dank lien bekerjasama dalam membuat cara mmepertahankan keterlibatan klien
dalam menciptakan lingkungan yang aman dirumah sakit dan di rumah. Pendidikan klien
dan keluarga merupakan intervensi keperawatan utama untuk menurunkan kecelakaan.
(Potter & Perry, 2005).

D. Implementasi
Inervensi keperawatan ditujukan untuk meningkatkan dan mempertahankan keamanan
klien. Karena sebagian besar tindakan keperawatan dapat diterapkan pada semua
lingkunagn, maka intervensi tersebutharus terdiri dari dua bagian, yaitu : pertimbangan
tahap perkembangn dan perlindungan lingkungan. Kategori pertama dari intervensi
mencakup intervensi yang spesifik untuk mengurangi resiko pada tiap kelompok
perkembangan usia. Intervensi lingkungan bertujuan untuk memodifikasi linkungan
sehingga dapat mengeliminasi atau meminimalkan bahaya yang ada atau berpotensial
(Potter & Perry, 2005)

17
a. Pertimbangan Tahap Perkembangan

Bayi, toddler, dan Anak Usia Prasekolah. Bayi, toddler sangat bergantung pada
orang dewasa untuk melindungi diri mereka dari cedera. Anak yang tumbuh mempunyai
rasa ingin tahu dan sepenuhnya percaya pada lingkungan mereka dan tida merasa sedang
berada dalam bahaya.
Perawat berfungsi untuk mendidik orang tua atau wali tentang cara mengurangi
resiko cedera pada anak-anak yang masih kecil. Perawat yang bekerja di klinik prenatal
dapat dengan mudah menggabungkan intervensi keamanan ke dalam rencana perawatan
keluarga menunggu kelahiran bayinya. Perawat kesehatan komunitas melakukan
pengkajian rumah dan menunjukkan kepada orang tua cara meningkatkan keamanan
dirumah mereka.
Anak Usia-Sekolah. Anak usia sekolah sedang mengalami peningkatan dalam
mengeksporasi lingkungan. Mereka memiliki teman diluar lingkungan rumah, dan
menjadi lebih aktif dalam kegiatan sekolah, keagamaan, dan masyarakat. Anak usia-
sekolah memerlukan pengajaran yang spesifik tentang keamanan di sekolah dan tempat
bermain. Bebrapa intervensi keperawatan membantu member keamanan pada anak usia-
sekolah.
Remaja. Resiko keamanan pada remaja melibatkanbanyak factor yang ada diuar
lingkungan rumah. Orang dewasa berfungsi sebagai contoh peran bagi remaja, dan
melalui contoh dan pendidikan yang diberikan, dapat membantu para remaja untuk
meminimalkan resiko terhadap keamanan mereka. Kelompok usia ini mempunyai angka
kejadian bunuh diri yang tinggi yang disebabkan karena perasaan harga diri yang rendah
dan keputusasaan. Perwat harus menyadari resiko yang mungkin terjadi pada masa
remaja ini dan disiapkan untuk mengajarkan berbagai tindakan pencegahan kecelakaan
dan cedera kepada remaja dan orang tuanya.
Dewasa. Resiko yang dihadapi oleh orang dewasa muda dan usia baya biasanya
disebabkan oleh factor gaya hidup pengasuhan anak, keadaan stress yang tinggi, nutrisi
yang tidak adekuat, komsumsi alcohol yang berlebihan, dan penyalah gunaan obat-

18
obatan. Orang dewasa perlu diajarkan bahwa keamanan mereka terancam dan
menyebabkan gaya hidup mereka perlu dimodifikasi. (Potter & Perry, 2005).
Pusat manajemen-stres dan aktivitas peningkatan kesehatan telah digabungkan ke
dalam program pelayanan komunitas dan rumah sakit
Selain itu, pusat kesehatan di perumahan, klinik komunitas, dan klinik rawat jalan
telah dilengkapi dengan peralatan yang berfungsi untuk membantu oramg dewasa
memodifikasi kebiasaan gaya hidup(mis. Merokok, makan yang berlibihan, kurang
olahraga, dan alkoholisme) yang menyebabkan risiko pada kesehatan.
Lansia. Interfensi keperawatan lansia dirancang untuk mengurangi risiko jatuh
dan kecelakaan yang lain dan mengimbangi perubahn fisiologis akibat proses
penuaan(lihat table 36-2 dan kotak di hlm.1171).
Lansia mempunyai kemungkinan mengalami kecelakaaan bermotor yang lebih
besar dikarenakan tiga macam perubahan fisiologis yang spesifik.Pertama, perubahan
pada ketajaman penglihata dan persepsi kedalaman menyebabkan klien tidak mampu
mengobservasi situasi dengan cepat sehingga terjadi kecelakaan. Kedua,penirunan
ketajaman pendengaran kemampuan lansia mendengar sirine kendaraan gawat darurat
atau klakson dari mobil atau truk lain. Ketiga, penurunan respons system saraf,sehingga
lansia tidak bereaksi cepat untuk menghindari kecelakaan (Ebersolaand Hess,1994).
Kecelakaan pada pejalan kaki pada lansia dan kelompok usia lain dapat dikurangi
dengan cara mengnjurkan masyarakat untuk memakai alat reflector pada pakaian ketika
berjalan di malam hari,tetap berdiri di trotoar dan tidak berdiri di jalan saat menunggu
giliran menyebrang jalan,selalu menyebrang di sudut jalan dan tidak menyebrang di
tengah-tengah blok (terutamajika menyebrangi jalanan besar), menyebrang jalan sesuai
dengan lampu lalu-lintas dan tidak berlawanan dengan lampu tersebut, dan melihat kekiri
dan kanan, dan ke arah kiri lagi sebelum mereka menyebrang jalan atau berjalan di
trotoar.
Luka bakar dan luka terkena air yang mendidih juga lebih mudah terjadi pada lansia,
dengan peningkatan risiko karena beberapa factor. Lansia mungkin lupa dan
meninggalkan air panas tetap di atas kompor atau mereka bingung saat memutar tombol
pada kompor. Tindakan keperawatan untuk mencegah terjadinya luka bakar di rancang

19
untuk meminimalkan risiko akibat perubahan penglihatan dan pendengaran. (Potter &
Perry, 2005).

b. Pertimbangan Lingkungan
Tindakan Pencegahan Umum. Perawat dapat menyediakan lingkungan yang lebih
aman dengan cara membantu klien memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikososial dasar.
Untuk mencegah infeksi,perawat menggunakan tindakan aseptik. Medis yang aseptic,
termasuk mencuci tangan dan kebersihan lingkungan, akan mengurangi perpindahan
organisme. Bedah yang aseptic, atau teknik steril, memberikan lingkungan yang bebas
dari spora. Orang tua bayi harus diajarkan tentang pentingnya pemberian imunisasi pada
anak. Seluruh klien harus menerima imunisasi sesuai jadwal(lihat bab28). Di rumah,
kesadaran terhadap metode penanangan makanan membantu mengurangi risiko
penyebaran mikroorganisme melaui kontaminasi makanan.
Perhatian Keamanan yang Spesifik. Perhatian keamanan yang spesifik antara
lain jatuh, kebakaran, keracunan, bahaya listrik, dan radiasi.
Jatuh. Berbagai modifikasi dalam lingkungan pelayanan kesehatan dengan
mudah mengurangi risiko jatuh. (Potter & Perry, 2005).

PRINSIP GERONTOLOGIS
untuk Pencegahan Kecelakaan
Lansia mengalami perubahan penglihatan dan pendengaran. Perawat harus
mendorong klien untuk melakukan pemeriksaan penglihatan dan pendengaran tiap tahun
sebagai salah satu mencegah terjadinya jatuh, luka bakar, dan kecelakaaan mobil.
Rentang gerak,fleksibilitas, dan kekuatan otot menurun. Perawat harus mengajarkan klien
lansia mencari bantuan untuk mengerjakan tugas rumah tangga yang diperlukan dan
menyimpan benda dalam jangkauan yang mudah.
Refleks menjadi lambat dan kemampuan berespons terhadap rangsang yang multiple akan
berkurang. Perawat harus memberikan rangsangan yang berarti dan adekuat, tetapi
mencegah kelebihan beban sensorik pada klien lansia.

20
Nokturia dan inkontensia sering terjadi pada lansia. Perawat harus mengimplementasi
menjadwal toilet dan membantu klien untuk mematuhinya. Pada malam hari,
pencahayaan harus adekuat untuk klien yang perlu ke kamar mandi dan bantuan harus
diberikan pada mereka . Berikan diuretic pada pagi hari.

Pegangan yang aman di toilet, kunci pada tempat tidur dan kursi roda, dan bel
pemanggil merupakan beberapa bentuk keamanan yang ditemukan dalam pelayanan
kesehatan(gambar 36-37 dan 36-38). Tindakan keperawatan diimplementasi untuk
mencegah jatuh tercantum dalam kotak di bawah, bagian kiri. Selain itu, penelitian telah
menunjukkan apabila kebutuhan klien terpenuhi maka akan menurunkan insiden
jatuh(lihat kotak di bawah, bagian kanan).
Klien yang mengalami kejang mempunyai risiko cedera akibat jatuh. Prosedur 36-
1 menggambarkan inervensi keperawatan ketika merawat klien yang mengalami kejang.
Pagar Tempat Tidur. Bab 37 mendiskusikan fungsi pagar tempat tidur sebagai alat
untuk meningkatkan mobilisasi dan stabilisasi klien ketika berada di tempat tidur atau
ketika berpindah dari tempat tidur ke kursi. Sisi pembatas tempat tidur juga mencegah
klien yang tidak sadar jatuh dari tempat tidur atau dari brankar. Tetapi, penggunaan sisi
pembatas tempat tidur untuk klien yang disorientasi menyebabkan kebingungan yang
lebih besar dan cidera yang lebih berat. Srringkali pada klien bingung yang memutuskan
untuk keluar dari tempat tidur, mencoba menaiki sisi pembatas tempat tidur atau ujung
kaki tempat tidur. Bviasanya semua usaha tersebut menyebabkan klien jatuh. Jika
mengguankan sisi pembatas, maka tempat tidur harus d atur pada posisi yang serendah
mungkin. (Potter & Perry, 2005).

21
Tindakan untuk
Mencegah Jatuh
di Lembaga Pelayanan Kesehatan

Orientasikan klien terhadap lingkungan fisik sekitarnya.


Jelaskan penggunaan system bel pemanggil
Kaji risiko klien untuk jatuh.
Tempatkan klien yang berisiko jatuh pada ruangan yang dekat dengan ruang perawat.
Ingatkan seluruh petugas terhadap risiko klien untuk jatuh.
Intruksikan klien dan keluarga untuk mencari bantuan bila klien bangun dari tempat tidur.
Jawablah panggilan bel klien dengan tepat.
Jaga agar tempat tidur klien tetap berada pada posisi rendah dengan sisi pembatas tempat
tidur yang terpasang jika diperlukan.
Jaga barang-barang pribadi tetap berada dalam jangkaun klien.
Kurangi kekacauan pada kamar klien.
Kunci seluruh tempat tidur, kursi roda, dan brankar.
Pertahankan jadwal toilet klien selama satu hari.
Observasi klien secara teratur, orientasikan kembali bila perlu.

Restrein . pada beberapa kasus yang luar biasa klien yang berisiko cedera perlu di
restrein. Restrein ialah salah satu dari sekian banyak peralatan yang digunakan untuk
membatasi mobilasi klien. Restein fisik adalah metode manual atau peralatan mekanik,
bahan atau perlengkapan yang bersentuhan atau berdekatan dengan tubuh klien sehingga
klien tidak dapat bberpindah dengan mudah dan membatasi untuk bergerak atau
menyentuh tubuh seseorang. The Omnibus Budget Reconciliation Act (OBRA) tahun
1987 mendefinisakn hak hak dan piloiha klien untuk menggunakan restrein. Dibawah
pedoman ini , alas an mengguankan restrein fisik telah menjadi bagian dari tindakan
pengobatan klien, seluruh intervensi yang membutuhkan pembatasan minimal harus
dicoba terlebih dahulu, disiplin ilmu yang harus digunakan, dan dokumentasi yang harus
tersedia (Health Care Financing Administration, 1990)

22
Restrein tidak mencegah klien jatuh atau cidera. Bahkan bukti menunjukan bahwa
klien akan mengalami cedera yang lebih sedikit jika tidak di lakukan restrein. Telah
dilaporkan bahwa perlengkapan seperti sabuk pengikat, jaket pengikat, dan alat restrein
extermitas digunakan untuk sekitar 500.000 warga Amerika setiap hari (Weick, 1992).
Angka ini merupakan peringatan statistic, dengan mempertimbangkan bahwa restrein
menyebabkan berbagai komplikasi. Hamper seluruh jenis restreinmempunyai implikasi
terhadap kematian klien, sebagian besar karena asfiksia yang disebabkan penguna rompi
atau jaket pengikat (Weick, 1992). The Food and Drug Administration (Badan
Administrasi Makanan dan Obat-obatan), yang mengatur pengikatan sebagai peralatan
medis dan mengharuskan pabrik pembuat alat tersebut mencamtumkan label”harus sesuai
dengan resep dokter” memperkirakan bahwa setaip tahun telah terjadi ratusan cedera
akibat rstrein, dengan sedikitnya 100 kematian yang terjadi di rumah perawatan, rumah
sakit, dan rumah sendiri (Lambert, 1992). Selainitu, Immobilisasi yang dilakukan dengan
cara mengikat klien menyebabkan pembentukan dekubitus, pneumonia, hipostatik,
konstipasi, inkontenesia urin dan feses, dan retensi urine. Kontraktur, kerusakan saraf,
dan perubahan sirkulasi juga menjadi bahaya yang potensial. Kehilangan harga diri,
malu, takut dan marah juga dapat terjadi. Oleh karena itu perawat mempunyai tanggung
jawab untuk menggunakan seluruh alternative lain sebelum sampai pada keputusan
untuk mengikat klien. (Weick,1992).

c. Menciptakan lingkungan bebas restrein.


Perawat mempunyai kewajiban untuk mengkaji klien dan merencanakan
kebutuhan mereka secara hati hati tanpa mengunakan restrein. Salah satu peralatan yang
digunakan untuk mengguanakn penggunaan restrein sama seperti jumlah kejadian jatuh
dalam lembaga pekayanan kesehatan adalah ABULARM. Alat ini, yang aman digunakan
untuk bagian paha klien, akan mengeluarkan bunyi jika kaki klien terangkat 450 dari
tempat tidur, misalnya saaat kaki klien melewati pagar tempat tidur.
Apabila perlu dilakukan restrein, maka order dokter harus menentukan jenus
restrein, prilaku klien yang spesifik hingga perlu di gunakan restrein, dan batas waktu
restrein. Order ini harus di perbarui dalam waktu tertentu sesuai dengan kebijakan
lembaga. Order restrei tidak di berikan dengan cara PRN (“tidak diperlukan”). Alas an

23
dilakukan restrein harus diberikan kepada klien dan keluarga, dan dapat memungkinkan
harus ada izin dari mereka.pengkajian klien yang sedang di ikat harus di lakukan terus
menerus. Dokumentasi yang tepat antara lain mencakup prilaku yang membuat klien
perlu di ikat, prosedur yang digunakan dalam tindakan restrein, dan evaluasi respon klien
perlu dilakukan. Klien juga harus diberikan suatu “ percobaan pelepasan ikatan”. Ikatan
pada klien secara teratur harus dilepaskan dan perawat mangkaji kondisi klien untuk
menentukan apakah pengikatan masih tetap di perlukan.
Kebakaran. Rumah dan rumah sakit selalu berasa salam resiko terjadi kebakaran.
Kebakaran di rumah biasanya di sebabkan karena meroko di tempat tidur, mematikan
rokok di tempat pembuangan sampah, kebakaran akibat minyak, atau kebakaran akibat
listrik yang di akibatkan oleh kabel atau alt alat lisrik yang rusak. Kebakaran yang terjadi
pada keluarga biasanya disebabkan karena listrik atau anestetik.
Intervensi yang digambarkan disini ditujukan untuk kebakaran yang terjadi pada lembaga
pelayanan kebakaran di rumah. Rumah harus di lengkapi dengan alarm. (Potter & Perry,
2005).

E. Evaluasi
Rencana perawatan, yang dirancang untuk mengurangi resiko cedera pada klien,
Di evaluasi dengan cara membandingkan criteria hasil dengan tujuan yang ditetapkan
selama tahap perencanaan. Jika tujuan telah dicapai, maka interpensi keperawatan
dianggap efektif dan tepat. Jika tidak tercapai, maka perawat harus menentukan apakah
ada resiko baru yang berkembang pada klien atau apakah resiko sebelumnya tetap ada.
Klien dan keluarga harus berpartisipasiuntuk menentukan cara permanen untuk
mengurangi resiko yang mengancam keamanan. Perawat mengkaji kebutuhan klien dan
keluarga secara terus menerus untuk menentukan pelayanan dukungan tambahan seperti
perawatan dirumah, terapi fisik, konseling, dan pendidikan lanjutan.
Lingkungan yang aman berperan penting dalam meningkatkan, mempertahankan
dan memulihkan kesehatan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat
mengkaji klien dan lingkungannya untuk menentukan factor resiko cedera,
menegelompokkan factor – factor resiko tersebut, membuat diagnosa keperawatan dan
merencanakan intervensi yang spesifik, termasuk pendidikan kesehatan klien. Hasil yang

24
diharapkan meliputi lingkungan fisik yang aman, pengetahuan klien tentang factor –
fakto yang menunjang keamanan, tindakan pencegahan dank lien terbebas dari cedera.
(Potter & Perry, 2005).

2.4 Hukum Terhadap Pasien Sebagai Konsumen Jasa Dalam Pelayanan Medis

A. Hak Dan Kewajiban Pasien Sebagai Konsumen

Pada hakekatnya, terdapat dua instrumen hukum penting yang menjadi landasan
kebijakan perlindungan konsumen di Indonesia, yakni:

Pertama, Undang-Undang Dasar 1945, sebagai sumber dari segala sumber hukum
di Indonesia, mengamanatkan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk
mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Tujuan pembangunan nasional diwujudkan
melalui sistem pembangunan ekonomi yang demokratis sehingga mampu menumbuhkan
dan mengembangkan dunia yang memproduksi barang dan jasa yang layak dikonsumsi
oleh masyarakat. Kedua, Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen (UUPK). Lahirnya Undang-undang ini memberikan harapan bagi masyarakat
Indonesia, untuk memperoleh perlindungan atas kerugian yang diderita atas transaksi
suatu barang dan jasa. UUPK menjamin adanya kepastian hukum bagi konsumen.
Sesuai dengan pasal 3 Undang-undang Perlindungan Konsumen, tujuan dari
Perlindungan Konsumen adalah :

1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk


melindungi diri
2. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari
ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa,
3. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan
menuntut hak-haknya sebagai konsumen,
4. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian
hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi,

25
5. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam
berusaha,
6. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan
keselamatan konsumen.

Pada dasarnya Undang-undang Perlindungan Konsumen memiliki Azas Perlindungan


Konsumen, yaitu :

1. Asas Manfaat; mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan


perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi
kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan,
2. Asas Keadilan; partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan
memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh
haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil,
3. Asas Keseimbangan; memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen,
pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual,
4. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen; memberikan jaminan atas
keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalarn penggunaan, pemakaian dan
pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan;
5. Asas Kepastian Hukum; baik pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum
dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta
negara menjamin kepastian hukum.

Mengenai hak-hak konsumen diatur dalam Undang – Undang Perlindungan


Konsumen , pasal 4 menyebutkan , diantaranya:

a) hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkomsumsi


barang dan / atau jasa
b) hak untuk memilih barang dan / atau jasa serta mendapatkan barang dan / atau
jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang

26
dijanjikan; hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi
dan jaminan barang dan / atau jasa;
c) hak untuk di dengar pendapat dan keluhannya atas barang dan / atau jasa yang
digunakan;
d) hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut;
e) hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
f) hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g) hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, dan / atau penggantian,
apabila barang dan / atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian
atau tidak sebagaimana mestinya;
h) hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya

Dari sembilan butir hak konsumen yang diatas, terlihat bahwa masalah
kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen merupakan hal yang paling pokok
dan utama dalam perlindungann konsumen. Barang dan / atau jasa yang penggunaannya
tidak memberikan kenyamanan, terlebih lagi yang tidak aman atau membahayakan
keselamatan konsumen jelas tidak layak untuk diedarkan dalam masyarakat. Selanjutnya,
untuk menjamin bahwa suatu barang dan / atau jasa dalam penggunaannya akan nyaman,
aman maupun tidak membahayakan konsumen penggunanya, maka konsumen diberikan
hak untuk memilih barang dan /jasa yang dikehendakinya berdasarkan atas keterbukaan
informasi yang benar, jelas, dan jujur. Jika terdapat penyimpangan yang merugikan,
konsumen berhak untuk didengar, memperoleh advokasi, pembinaan, perlakuan yang
adil, konpensasi sampai ganti rugi.( Wila Chandrawila Supriadi, 2001)

B. Perlindungan Hukum Bagi Pasien Sebagai Konsumen Pelayanan Jasa Pelayanan


Di Bidang Medis

Mengenai perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen di bidang


medis sudah ada ketentuan yang mengatur. Pada dasarnya ketentuan yang mengatur
perlindungan hukum bagi konsumen dapat dijumpai pasal 1365 KUH Perdata yang
berisikan ketentuan antara lain sebagai berikut: “Tiap perbuatan melawan hukum,

27
yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena
salahnya menerbitkan kerugian tersebut”.

Di dalam UU RI No. 23 / 1992 tentang kesehatan disebutkan juga


perlindungan terhadap pasien, yaitu pasal 55 yang berisikan ketentuan antara lain
sebagai berikut :

1. Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang
dilakukan tenaga kesehatan,
2. Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pemberian hak atas ganti rugi merupakan suatu upaya untuk memberikan
perlindungan bagi setiap orang atas suatu akibat yang timbul, baik fisik maupun non
fisik karena kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan. Perlindungan ini sangat
penting karena akibat kelalaian atau kesalahan itu mungkin dapat menyebabkan
kematian atau menimbulkan cacat yang permanen.

Yang dimaksud dengan kerugian fisik adalah hilangnya atau tidak berfungsinya
seluruh atau sebagian organ tubuh, sedangkan kerugian non fisik berkaitan dengan
martabat seseorang.

Jika seseorang merasa dirugikan oleh warga masyarakat lain, tentu ia akan menggugat
pihak lain itu agar bertanggung jawab secara hukum atas perbuatannya. Dalam hal ini
diantara mereka mungkin saja sudah terdapat hubungan hukum berupa perjanjian di
lapangan hukum keperdataan, tetapi dapat pula sebaliknya, sama sekali tidak ada
hubungan hukum demikian.

Jika seseorang sebagai konsumen melakukan hubungan hukum dengan pihak lain,
dan pihak lain itu melanggar perjanjian yang disepakati bersama, maka konsumen
berhak menggugat lawannya berdasarkan dalih melakukan wanprestasi (cedera janji).
Apabila sebelumnya tidak ada perjanjian, konsumen tetap saja memiliki hak untuk
menuntut secara perdata, yakni melalui ketentuan perbuatan melawan hukum.

28
Dari ketentuan tersebut diberikan kesempatan untuk menggugat sepanjang terpenuhi
empat unsur, yaitu terjadi perbuatan melawan hukum, ada kesalahan (yang dilakukan
pihak lain atau tergugat), ada kerugian (yang diderita si penggugat) dan ada hubungan
kausal antara kesalahan dengan kerugian itu.

Apabila terdapat kesalahan / kelalaian dari tindakan medik yang dilakukan


oleh tenaga medis ( dokter, perawat atau asisten lainnya ), dalam hal ini dari pihak
konsumen yang menderita kerugian dapat menuntut ganti rugi.
Dari kerugian yang di alami oleh konsumen, dalam hal ini mungkin tidak sedikit atau
bisa juga dari kerugian tersebut berakibat kurang baik bagi konsumen. Seseorang
dapat dimintakan tanggung jawab hukumnya (liable), kalau dia melakukan kelalaian /
kesalahan dan kesalahan / kelalaian itu menimbulkan kerugian. Orang yang menderita
kerugian akibat kelalaian / kesalahan orang itu, berhak untuk menggugat ganti rugi.
Begitu pula terhadap kerugian yang dialami pasien dalam pelayanan medis, pasien
dalam hal ini dapat menuntut ganti rugi atas kesalahan ataupun kelalaian dokter
ataupun tenaga medis lainnya. (Wila Chandrawila Supriadi,2001)

C. Dasar Penuntutan Ganti Rugi Terhadap Pasien Sebagai Konsumen Jasa Pelayanan
Jasa Di Bidang Medis

Mengenai tuntutan ganti kerugian secara perdata menurut pasal 1365 KUH
Perdata, pelaku harus mengganti kerugian sepenuhnya.6 Akan tetapi terdapat juga
suatu ketentuan hukum yang menentukan bahwa apabila kerugian ditimbulkan karena
kesalahan sendiri, ia harus menanggung kerugian tersebut. Dari rumusan tersebut
dapat disimpulkan bahwa pihak yang dirugikan cukup membuktikan bahwa kerugian
yang diderita adalah akibat perbuatan pelaku.

Dasar tuntutan dari pihak pasien (konsumen) dapat dilihat dalam UU No. 23
Tahun 1992 tentang kesehatan yaitu pasal 55. Dari ketentuan pasal tesebut maka dari
pihak paramedis diharuskan berhati hati di dalam melakukan tindakan medis yang
mana dari pihak pasien mempercayakan sepenuhnya akan tindakan tersebut.

29
Dalam konsep dan teori dalam ilmu hukum, perbuatan yang merugikan tersebut dapat
lahir karena :

1. Tidak ditepatinya suatu perjanjian atau kesepakatan yang telah dibuat


(yang pada umumnya dikenal dengan istilah wan-prestasi) ; atau
2. Semata-mata lahir karena suatu perbuatan tersebut (atau yang dikenal
dengan perbuatan melawan hokum.

Dalam perlindungan terhadap pasien sebagai konsumen jasa yang mana


merasa dirugikan oleh dokter ataupun pihak rumah sakit, dan tindakan tersebut
menimbulkan suatu kerugian yang tidak sedikit ataupun dari tindakan tersebut
menimbulkan kematian, maka dalam hal ini si pelanggar hukum masih tetap berwajib
memberi ganti rugi

D. Pihak Yang Bertanggung Jawab Atas Kerugian Terhadap Pasien Sebagai


Konsumen Pelayanan Jasa Di Bidang Medis.

Kasus hukum dalam pelayanan medis umumnya terjadi di rumah sakit dimana
tenaga kesehatan bekerja. Rumah sakit merupakan suatu yang pada pokoknya dapat
dikelompokkan menjadi : pelayanan medis dalam arti luas yang menyangkut kegiatan
promotif, preventif, kuratif ,dan rehabilitative pendidikan dan latihan tenaga medis
penelitian dan pengembangan ilmu kedokteran.

Pertanggung jawaban hukum rumah sakit, dalam hal ini badan hukum yang
memilikinya bisa dituntut atas kerugian yang terjadi, bisa secara :

1. Langsung sebagai pihak, pada suatu perjanjian bila ada wanprestasi,


2. Tidak langsung sebagai majikan bila karyawannya dalam pengertian peraturan
perundang-undangan melakukan perbuatan melanggar hukum.

30
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep keamanan berperan penting
dalam suatu individu dimana mereka menjaga status fisik, psikososial dan intelektual
dengan cara memenuhi kebutuhan fisiologis, mengurangi penyebaran kuman pathogen,
mengontrol polusi udara dan menjaga risiko ancaman keamanan yang spesidik yang
berhubungan dengan perkembangan usia. Serta hokum yang berhubungan dengan
keamanan pasien adalah sebagai berikut :

1. Bahwa perlindungan hukum terhadap pasien ada, hal ini diatur di dalam UU No.
23/ 1992 Tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah RI No. 32 / 1996 Tentang
Tenaga Kesehatan dan KUH Perdata.
2. Pihak pasien, dapat menuntut ganti rugi terhadap kesalahan / kelalaian tenaga
medis, yang didasarkan ketentuan Pasal 1365-1366 KUH Perdata, Pasal 55 dari
UU No. 23 / 1992 Tentang Kesehatan dan Pasal 23 dari PP RI No. 32 / 1996
Tentang Tenaga Kesehatan.
3. Mengenai siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kerugian pasien yaitu
rumah sakit tidak selalu bertanggung jawab jika terjadi kesalahan dari tenaga
kesehatan di Rumah Sakit bersangkutan, karena dari tenaga kesehatan sendiri ada
yang langsung bertangung jawab atas kerugian yang dialami pasien.

31
DAFTAR PUSTAKA

Perry dan Potter. 2006. Fundamental Keperawatan Volume 2. Jakarta : EGC


Hidayat, Alimul Azis A. S. Kp, dkk. 2005. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta :
EGC
Wila Chandrawila Supriadi /http:www./Wikipedia.com/hukum_perjanjian/CV.
Mandar Maju, 2001
Jusuf Hanafiah & Amir Amri, Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, Cet. III,
Kedokteran EGC, Jakarta 1999

32