Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai bahasa yang hidup, pembinaan dan pengembangan bahasa
Indonesia harus semakin ditingkatkan. Hal itu dapat dilakukan pada semua bidang
yang dianggap tepat dan dapat menunjang kesempurnaan bahasa Indonesia. Pada
bidang morfologi misalnya, pembinaan dan pengembangan biasanya diarahkan
pada proses pembentukan kata. Proses pembentukan kata tersebut dapat dilakukan
dengan cara, antara lain: proses pembubuhan afiks atau afiksasi, pemajemukan,
dan pengulangan atau reduplikasi.
Khusus mengenai proses pembentukan kata melalui afiksasi atau
pembubuhan afiks (imbuhan), pada umumnya sangat berpotensi mengubah makna
dan bentuk kata. Sebagai contoh, dapat dilihat pada kata-kata tersebut seperti:
temu, amen, lempar, dan sebagainya. Jika Kata-kata itu dibubuhi afiks menjadi
penemu, temuan, penemuan, dan sebagainya, demikian pula terhadap kata amen
dan lempar, maka makna dan bentuk kata-kata tersebut akan berubah, misalnya:
temu (muka berhadapan muka ; tatap muka), penemu (orang yang menemukan);
temuan (hasil menemukan); penemuan (proses atau cara menemukan). Jadi,
proses pembubuhan afiks atau afiksasi sangat penting dan memerlukan ketelitian
karena jika salah akan menjadi makna dan bentuknya tidak komunikatif.
Berdasarkan kenyataan itu, media massa, dalam hal ini surat kabar
sebagaimana diketahui, merupakan salah satu media yang dianggap resmi dalam
pemakaian bahasa. Asep menjelaskan bahwa berita dalam televisi, radio, surat
kabar, majalah, serta tulisan dalam buku-buku, yang merupakan produk wartawan
dan penerbit, sangat mewarnai pemakaian bahasa dalam masyarakat. Oleh karena
itu, suatu hal yang sangat masuk akal jika wartawan dan penerbit perlu
meningkatkan kemahiran dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar
dalam penyebaran informasi, baik secara lisan maupun tulisan. Hal tersebut tidak
2

dapat dipungkiri karena di samping sebagai salah satu media resmi, juga media
massa sangat berpotensi dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa
Indonesia yang balk dan benar. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah media
massa, dalam hal ini surat kabar, sudah patut menjadi panutan berbahasa
Indonesia yang baik dan benar? Apakah sudah menerapkan kaidah-kaidah
morfologis dalam penulisan berita-beritanya? Ataukah lebih mengutamakan
prinsip ekonomi bahasa sebagai salah satu cirinya. Dalam pemakaian bahasa di
surat kabar, terdapat istilah “ekonomi bahasa”. Artinya, kita dapat menggunakan
kata atau kalimat dengan sehemat-hematnya. Akan tetapi, penghematan itu jangan
sampai merusak kaidah bahasa, apalagi menimbulkan salah paham (Suroso,
2001: 6).
Salah satu kolom yang terdapat dalam surat kabar atau media massa ini
adalah tajuk rencana yang membahas masalah atau informasi yang sedang hangat
berkembang dalam masyarakat. Tujuan utama penulisan tajuk rencana adalah
menyampaikan tulisan disertai dengan argumentasi dan logika yang jelas. Bahkan,
untuk memperjelas pandangan penulis dalam tajuk rencana disertakan fakta
pendukung. Secara umum karakteristik bahasa yang digunakan pada wacana tajuk
rencana adalah padat, logis, singkat, menarik, dan bertujuan mempengaruhi
pembaca. Penulisan tajuk rencana harus berpijak pada kaidah jurnalistik dan hal
ini memungkinkan pada hasil tulisannya terdapat kesalahan karena hanya
memenuhi target yang telah disebutkan di atas.
Bertolak pada uraian di atas, penulis tertarik pada salah satu media cetak
yang terbit di kawasan Indonesia barat, yakni surat kabar harian KOMPAS
sebagai objek penelitian. Surat kabar KOMPAS merupakan salah satu surat kabar
harian yang paling sering ditemukan pada pedagang koran dan terlaris di wilayah
Indonesia barat. Penulis juga memilih wacana Tajuk Rencana sebagai kajian
penelitian karena wacana tersebut sering dijadikan bahan pembelajaran bahasa
Indonesia di sekolah. Sering kali guru kurang memperhatikan struktur
morfologinya terutama menyoroti afiksasi atau kata berimbuhan pada wacana
tersebut. Pada saat sesorang membaca surat kabar, pertama kali yang ia baca
adalah isi berita tersebut. Setelah selesai dibaca, kemudian koran akan dilipat dan
3

dimasukan ke dalam tas bahkan dibiarkan begitu saja. Jarang sekali seorang
pembaca meneliti kebahasaannya padahal, belum tentu setiap wacana tidak
terdapat kesalahan. Misalnya saja kesalahan penulisan atau penggunaan EYD,
tidak terdapatnya kekohesian pada wacananya, juga kaidah gramatikalnya yang
kurang diperhatikan khususnya pada bidang kajian morfologi yaitu afiks pada kata
kerja yang berupa prefiks atau awalan yang sering dihilangkan. Berdasarkan yang
tercantum dalam surat kabar harian KOMPAS, terutama dalam hal pembentukan
kata melalui afiksasi atau pembubuhan afiks (imbuhan).

B. Rumusan Masalah
Pada umunya, pembahasan afiksasi merupakan hal yang cukup rumit
sering menemui kesulitan. Melihat kenyataan itu, penulisan skripsi ini akan
dipusatkan pada masalah :

1. Afiks apa sajakah yang digunakan pada wacana “Tajuk Rencana” dalam
surat kabar KOMPAS ?
2. Afiks apakah yang dominan digunakan dalam wacana “Tajuk Rencana”
di KOMPAS dan apa fungsinya?
C. Batasan Masalah
Afiksasi mempunyai jangkauan yang cukup luas. Agar pembahasan yang
dilakukan lebih terarah dan terinci, maka penulis membatasi ruang lingkup
penelitian ini. Aspek yang akan ditelaah dalam penelitian ini adalah pemakaian
afiks pada wacana kolom “Tajuk Rencana” dalam surat kabar harian KOMPAS.
sebanyak 10 terbitan, edisi Januari 2010. Afiks yang dimaksud adalah afiks asli
bahasa Indonesia.

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, tujuan yang ingin dicapai dari
penelitian ini untuk mendeskripsikan:

1. Jenis-jenis afiks yang digunakan pada wacana “Tajuk Rencana” dalam


surat kabar KOMPAS.
4

2. Jenis afiks yang dominan digunakan dalam wacana “Tajuk Rencana” di


KOMPAS dan fungsinya.

E. Manfaat Teoritik dan Praktis


Adapun manfaat yang diperoleh baik secara teoritik maupun secara praktis
diantaranya :
 Manfaat Teoritik
Memberikan masukan bagi media massa pada umumnya dan lebih khusus
bagi harian KOMPAS, sejalan dengan keberadaan media massa sebagai salah
satu panutan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
 Manfaat Praktis
a. Bagi siswa, memperdalam pemahaman afiks dalam wacana
sehingga siswa dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut secara praktis
dalam pemakaian kalimat.
b. Bagi guru, khususnya guru bahasa Indonesia sebagai tambahan
pengetahuan dalam memahami afiks pada wacana yang nantinya dapat
digunakan sebagai bahan materi pelajaran bagi siswa untuk menambah
kosakata.
c. Bagi peneliti lain sebagai sumber informasi pengetahuan dalam
bidang linguistic dan para jurnalis, khususnya pemakaian afiks dalam
wacana sehingga dapat menulis wacana sesuai dengan tata gramatikal
yang berlaku.
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

1. Pengertian Wacana
Isttilah wacana diperkenalkan oleh para linguis di Indonesia dan
negeri-negeri berbahasa Melayu lainnya sebagai terjemahan dari istilah bahasa
Inggris discourse yang berarti wacana. Crystal sebagaimana dikutip oleh Dede
Oetomo (1993: 4) menyatakan bahwa wacana adalah suatu rangkaian
sinambung bahasa (khususnya lisan) yang lebih luas dari pada kalimat.
Di sisi lain, Moeliono (1988: 334) mengungkapkan bahwa wacana
adalah rentetan kalimat yang menghubungkan proposisi yang satu dengan
proposisi yang lain membentuk kesatuan. Sementara itu, Harimurti
Kridalaksana (1996: 94) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa
terlengkap, dalam hhierarki gframatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi
atau terbesar. Wacana direalisasikan dalam bentuk yang utuh (novel, buku,
dan sebagainya), pafragraf, kalimat, ataupun kata yang membawa amanat
lengkap.
2. Analisis Wacana
Analisis wacana menurut pendapat Stubs seperti dikutip Dede Oetomo
(1993: 5) adalah sebagai berikut:
Analisis wacana adalah upaya untuk mengkaji pengaturan bahasa di atas
kalimat/ di atas klausa, dan karenanya mengkaji satuan-satuan kebahasaan
yang lebih luas, seperti pertukaran percakapan atau teks tertulis.
Konsekuensinya, analisis wacana juga memperhatikan bahasa pada waktu
digunakan dalam konteks sosial, dan khususnya interaksi dialog
antarpenutur.”
Senada dengan pendapat di atas, Soesono Kartomiharjo (1996: 21)
menyatakan bahwa analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang
dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar dari
pada kalimat. Dalam upaya menguraikan suatu unit bahasa, tambahnya,
analisis wacana tidak terlepas dari penggunaan piranti cabang ilmuu bahasa
6

lainnya seperti yang dimiliki semantik, sintaksis, fonologi, morfologi, dan


sebagainya.
Sejalan dengan Soesono, Purwadi (2000: 37) membagi pokok bahasan
dalam menganalisis berrdasarkan bidang kajian ilmu linguistik lainnya, salah
satunya bidang morfologi. Pada bidang ini Purwadi menambahkan ada dua
macam kesalahan, yaitu: pembentukan kata dan pemakaian kata. Kesalahan
pembentukan kata mencakup kesalahan memilih afiks yang tepat untuk
mengungkap makna kata dan kesalahan dalam membuat variasi
bentuk/alomorf. Kesalahan pembentukan kata terjadi karena salah dalam
memilih afiks sebagai pembentuk kata, dapat kita lihat pada kata yang
bercetak miring dalam kalimat:
 Ia berziarah ke kuburan ayahnya.
 Mereka saling ketemu.
 Adik sedang nggambar pemandangan.
 Di daerah kami sedang membangun jembatan.
Kesalahan-kesalahan lain yang termasuk kelompok ini adalah pemakaian kata-
kata: idiil, analisa, memproklamirkan, dsb. Pemakaian afiks –il salah
seharusnya –al, kecuali pada kata materiil dan spirituil sebab maknanya
berbeda dengan material dan spiritual. Pemakaian kata analisa dan
semacamnya seharusnya analisis, memproklamirkan dan semacamnya
seharusnya memproklamasikan.
3. Tajuk Rencana
Tajuk rencana adalah tulisan kolom yang dibuat oleh redaksi penerbit
pers. Ia dimuat dihalaman khusus bagi tulisan- tulisan opini tentang suatu
masalah atau peristiwa (Asep, 2003 : 88).
Berdasarkan pendapat di atas, dijelaskan bahwa tajuk rencana
merupakan tulisan-tulisan berupa opini tentang suatu masalah yang biasanya
dimuat dihalaman khusus dan ditulis oleh pemimpin redaksi..
Jika sesorang membaca koran, maka ia akan menemukan nama kolom
opini. Halaman opini ini biasanya berisikan tajuk rencana / pojok, artikel,
surat pembaca, karikatur dan kolom. Pada halaman opini terkecuali tajuk
7

rencana, opini biasanya ditulis khusus oleh penulis ternama, pengamat, para
pakar, atau analisis. Opini atau pemikiran yang disuarakan lewat tajuk adalah
visi, misi dan penilaian orang, kelompok, atau suatu organisasi mengenai
suatu hal haruslah orang terpercaya yang mengetahui kebijakan pemerintahan.
Asep (2003 : 89) mengemukakan bahwa Tajuk rencana (editorial)
biasa disingkat “Tajuk” saja disebut juga “induk karangan” “opini
redaksi”, atau “Leader”. Tajukrencana merupakan Jatidiri atau identitas
sebuah media massa sesuai dengan visi dan misi tersebut
Dari pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa tajukrencana juga
biasanya disebut sebagai editorial. Seseorang bisa menilai baik atau tidaknya
kualitas suatu koran dapat dilihat dari hasil tulisan tajukrencana. Karena ia
merupakan jatidiri dari sebuah media massa sesuai dengan visi dan misi media
tersebut.
4. Morfologi
Morfologi ialah cabang dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk-
beluk bentuk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap
arti (makna) dan kelas kata (Supriyadi, 1996: 5).
Senada dengan pendapat di atas, Sumarwati mengemukakan morfologi
merupakan kaidah atau tata bahasa sebab di dalamnya terkandung seperangkat
kaidah tentang penggunaan bentuk kata. Adapun penyimpangan-
penyimpangan di dalamnya, membuktikan bahwa bahasa itu hidup dan bukan
semata pencerminan logika. Jadi morfologi adalah cabang tata bahasa yang
membicarakan saluk beluk terjadinya kata. (1999: 2).
Berdasarkan pendapat di atas bahwa morfologi merupakan ilmu yang
mengkaji tentang bentukan kata serta menganalisis penyimpangan dalam
pemakaian bentuk kata tersebut. Ini berarti morfologi di dalamnya terdapat
proses morfologis. Seperti yang diungkapkan Supriyadi proses morfologis
adalah proses gramatis dalam pembentukan kata. Ada tiga kebahasaan yang
terlibat dalam proses ini yaitu segi bentuk, segi kategori, dan segi makna.
Salah satu jenis proses morfologis adalah afiksasi (1996: 61).
8

5. Kata Berimbuhan (Afiksasi)


Afiksasi atau kata berimbuhan adalah proses pembubuhan afiks pada
kata dasar. Afiksasi ini dibedakan menjadi empat macam, yaitu: prefiksasi,
infiksasi, sufiksasi, dan konfiksasi (Sumarwati, 1999: 20).
Dalam bahasa Indonesia, imbuhan terdiri atas awalan, sisipan, akhiran,
dan gabungan awalan dengan akhiran yang disebut konfiks dan gabungan
afiks dalam ilmu bahasa. Awalan yang terdapat di dalam bahasa Indonesia
terdiri atas me(N)-, be(R)-, di-, te(R), -pe(N)-, pe(R)-, ke-, dan se-, sedangkan
sisipan terdiri atas -el-, -em-, dan -er-; akhiran terdiri atas -kan, -i, dan -an;
konfiks atau gabungan afiks terdiri atas gabungan awalan dengan akhiran.
Awalan dan akhiran masih sangat produktif digunakan, sedangkan sisipan
tidak produktif. Walaupun demikian, semua imbuhan termasuk sisipan di
dalamnya, apabila diperlukan, masih dapat kita manfaatkan, misalnya, dalam
penciptaan kosakata baru atau dalam penerjemahan atau penyepadanan istilah
asing (Agus, dkk, 2007: 19-27).
a. Awalan me(N)-
Proses pengimbuhan dengan awalan me(N)- terhadap bentuk dasar
dapat mengakibatkan munculnya bunyi sengau atau bunyi hidung dapat pula
tidak. Hal tersebut bergantung pada bunyi awal bentuk dasar yang dilekati
awalan tersebut. Bunyi awal bentuk dasar dapat luluh, dapat pula tidak
bergantung pada jenis bunyi bentuk dasar yang dilekati awalan. Untuk
memperjelas hal tersebut, perhatikan contoh berikut:
me(N)- + buat → membuat me(N)- + kikis→ mengikis
me(N)- + pakai→ memakai me(N)- + hadap→ menghadap
me(N)- + fotokopi → memfotokopi me(N)- + undang→ mengundang
me(N)- + dengar→ mendengar me(N)- + muat→ memuat
me(N)- + tatar → menatar me(N)- + nilai → menilai
me(N)- + jabat → menjabat me(N)- + nyanyi → menyanyi
me(N)- + colok→ mencolok me(N)- + nganga → menganga
9

me(N)- + suruh→ menyuruh me(N)- + lepas→ melepas


me(N)- + ganti→ mengganti me(N)- + rusak→ merusak

Apabila bentuk dasar yang dilekati hanya berupa satu suku kata, me(N)-
berubah menjadi menge-, misalnya, dalam contoh berikut.

me(N)- + cap → mengecap


me(N)- + pak → mengepak

Namun demikian, perlu kita perhatikan jika bentuk dasar tersebut ditempeli
awalan di-, bentuk yang ditempelinya tidak mengalami perubahan. Kita
perhatikan contoh berikut.
di- + pak → dipak
di- + tik→ ditik
di- + cap→ dicap
Berdasarkan contoh-contoh yang sudah kita kenal dengan baik, dapat kita
impulkan bahwa untuk membentuk kata secara benar, kita harus mengetahui
bentuk dasarnya.

b. Awalan be(R)-
Awalan be(R)- memiliki tiga variasi, yaitu ber-, be-, dan bel-. Variasi tersebut
muncul sesuai dengan bentuk dasar yang dilekatinya, misalnya, dalam contoh
berikut:
be(R)- + usaha→ berusaha be(R)- + kerja→ bekerja
be(R)- + diskusi→ berdiskusi be(R)- + serta→ beserta
be(R)- + korban→ berkorban be(R)- + ajar → belajar
be(R)- + rencana → berencana
Kata beruang sebagai kata dasar berarti sejenis binatang, sedangkan sebagai
kata berimbuhan, yang terdiri atas ber- dan uang memiliki arti mempunyai
uang; ber- dan ruang berarti memiliki ruang’. Kata tersebut akan menjadi jelas
artinya jika terdapat dalam konteks kalimat. Begitu pula halnya dengan kata
berevolusi yang terdiri atas ber- dan evolusi atau ber- dan revolusi.
10

Dalam keseharian kini sering digunakan kata berterima atau keberterimaan.


Dalam hal ini awalan ber- sejajar dengan awalan di-. Jadi, berterima sama
dengan diterima, misalnya, dalam kalimat Usulan yang disampaikan kepada
Bapak Gubernur sudah berterima. Kata berterima dan keberterimaan
merupakan padanan acceptable dan acceptability dalam bahasa Inggris.
Dalam bahasa Melayu, imbuhan ber- yang sepadan dengan di- merupakan hal
yang lazim, peribahasa gayung bersambut, kata berjawab berarti gayung
disambut, kata dijawab.
c. Awalan te(R)-
Awalan te(R)- memiliki variasi ter-, te-, dan tel-. Ketiga variasi tersebut
muncul sesuai dengan bentuk dasar yang dilekatinya. Layak diingat bahwa
awalan ini memiliki tiga macam arti dalam pemakaiannya. Pertama, artinya
sama dengan paling. Kedua, menyatakan arti tidak sengaja. Ketiga,
menyatakan arti sudah di- Misalnya dalam contoh di bawah ini.
te(R)- + dengar→ terdengar te(R)- + kerjakan→ tekerjakan
te(R)- + pandai→ terpandai te(R)- + perdaya→ teperdaya
te(R)- + rasa → terasa te(R)- + percaya→ tepercaya
Selanjutnya, cobalah Anda menggunakan awalan itu dalam kata lain dan
kalimat lain yang sesuai dengan tautannya.

d. Awalan pe(N)- dan pe(R)-


Awalan pe(N)- dan pe(R)- merupakan pembentuk kata benda. Kata benda
yang dibentuk dengan pe(N)- berkaitan dengan kata kerja yang berawalan
me(N)-. Kata benda yang dibentuk dengan pe(R)- berkaitan dengan kata kerja
yang berawalan be(R)-. Awalan pe(N)- memiliki variasi pe-, pem-, pen-,
peny-, peng-, dan penge-. Variasi tersebut muncul bergantung pada bentuk
dasar yang dilekati pe(N)-. Kitaihat contoh berikut:
pe(N)- + rusak→ perusak pe(N)- + cari → pencari

pe(N)- + laku → pelaku pe(N)- + suluh→ penyuluh

pe(N)- + beri → pemberi pe(N)- + guna→ pengguna


11

pe(N)- + pasok→ pemasok pe(N)- + kirim→ pengirim

pe(N)- + daftar→ pendaftar pe(N)- + tik → pengetik

pe(N)- + teliti→ peneliti pe(N)- + cap→ pengecap

pe(N)- + jual → penjual pe(N)- + las → pengelas

Dalam keseharian sering dijumpai bentuk pengrajin yang berarti orang yang
pekerjaannya membuat kerajinan’. Bila kita bandingkan dengan kata pe(N)- +
rusak menjadi perusak yang berarti orang yang membuat kerusakan’, bentuk
pengrajin merupakan bentuk yang tidak tepat. Kita ingat saja bahwa kedua
kata tersebut, rajin dan rusak, merupakan kata sifat. Karena itu, bentuk
tersebut harus dikembalikan pada bentuk yang tepat dan sesuai dengan kaidah,
yaitu perajin.
Awalan pe(R)- memiliki variasi bentuk pe-, per-, dan pel-. Variasi tersebut
muncul sesuai denngan bentuk dasar yang dilekati awalan pe(R)-. Kita lihat
contoh berikut:
pe(R)- + dagang → pedagang
pe(R)- + kerja→ pekerja
pe(R)- + tapa → pertapa
pe(R)- + ajar → pelajar
Kata-kata sebelah kanan berkaitan dengan awalan ber- yang dilekati dengan
kata dasar dagang, kerja, tapa, dan ajar. Jadi, kata-kata tersebut berkaitan
dengan kata berdagang, bekerja, bertapa, dan belajar. Selain kata-kata itu,
kita sering melihat kata-kata lain seperti pesuruh dan penyuruh. Kata pesuruh
dibentuk dari pe(R)- + suruh, sedangkan penyuruh dibentuk dari pe(N)- +
suruh. Pesuruh berarti yang disuruh’ dan penyuruh berarti yang menyuruh’.
Beranalogi pada kedua kata tersebut kini muncul kata-kata lain yang sepola
dengan pesuruh dan penyuruh, misalnya, kata petatar dan penatar, pesuluh
dan penyuluh.
Dalam bahasa Indonesia sekarang muncul pula bentuk kata yang sepola
dengan kedua kata di atas, tetapi artinya berlainan. Misalnya, pegolf, pecatur,
12

perenang, pesenam, dan petenis. Awalan pe- pada kata-kata tersebut berarti
pelaku olah raga golf, catur, renang, senam, dan tenis. Selain itu, muncul juga
bentuk lain seperti pemerhati ‘yang memperhatikan’, pemersatu ‘yang
mempersatukan’ dan pemerkaya ‘yang memperkaya’. Bentuk-bentuk itu
merupakan bentuk baru dalam bahasa Indonesia. Kata-kata yang termasuk
kata benda itu berkaitan dengan kata kerja yang berawalan memper- atau
memper- + kan. Kini mari kita mencoba menaruh perhatian pada pemakaian
bentuk kata yang dicetak miring dalam kalimat berikut.
o Pertamina akan mendatangkan alat pembor minyak dari Amerika
Serikat.
o Generasi muda sekarang merupakan pewaris Angkatan 45.

o Sebagai pengelola administrasi, dia begitu cekatan.

o Betulkah bangsa Indonesia sebagai pengkonsumsi barang buatan


Jepang.
o Siapa pun pemitnahnya harus dihukum.

o Mereka adalah pemrakarsa pembangunan gedung ini.

o Setiap peubah dalam penyusunan harus dapat diuji.

o Orang yang memfotokopi bisa disebut pengopi.

o Dapatkah Anda membedakan siapa petembak dan siapa penembak?

o Orang yang memberikan atau memiliki saham suatu perusahaan


bisa disebut penyaham perusahaan.
e. Konfiks pe(N)-an dan pe(R)-an
Kata benda yang dibentuk dengan pe(N)-an menunjukkan proses yang
berkaitan dengan kata kerja yang berimbuhan me(N)-, me(N)-kan, atau me(N)-
i. Kata benda yang dibentuk dengan pe(R)-an ini menunjukkan hal atau
masalah yang berkaitan dengan kata kerja yang berawalan be(R)-. Kita
perhatikan contoh berikut:
pe(N)- + rusak + -an → perusakan pe(N)- + tik + -an → pengetikan
pe(N)- + lepas + -an → pelepasan pe(R)- + kerja + -an → pekerjaan
13

pe(N)- + tatar + -an → penataran pe(R)- + ajar + -an → pelajaran


pe(N)- + sah + -an → pengesahan
Selain kata-kata yang dicontohkan, kita sering menemukan kata-kata yang
tidak sesuai dengan kaidah di atas seperti pengrumahan, pengrusakan,
pengluasan, penyucian (kain), penglepasan, penyoblosan, dan pensuksesan.
Kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah ini harus dikembalikan pada
bentuk yang tepat (Bagaimana bentuk yang tepat dari kata-kata di atas
menurut Saudara?).

f. Akhiran -an dan Konfiks ke-an


Kata benda dapat dibentuk dengan bentuk dasar dan akhiran –an atau konfiks
ke-an. Kata benda yang mengandung akhiran -an umumnya menyatakan hasil,
sedangkan kata benda yang mengandung konfiks ke-an umumnya menyatakan
hal. Untuk memperjelas uraian di atas, kita perhatikan contoh berikut:
o Dia mengirimkan sumbangan sepekan lalu, tetapi kiriman itu
belum kami terima.
o Sebulan setelah dia mengarang artikel, karangannya itu dikirimkan
ke sebuah media massa.
Kata benda yang mengandung ke-an diturunkan langsung dari bentuk
dasarnya seperti contoh berikut:

o Beliau hadir untuk meresmikan penggunaan gedung baru.


Kehadiran beliau disana disambut dengan berbagai kesenian tradisional.
o Mereka terlambat menyerahkan tugasnya. Keterlambatan itu
menyebabkan mereka mendapatkan nilai jelek.
Isilah rumpang kalimat berikut dengan kata benda yang mengandung akhiran
-an atau konfiks ke-an.

o Sejak lama ia dididik orang tuanya. ... yang diberikan orang tuanya
itu menyebabkan dia menjadi orang besar.
o Mereka membantu kami sepekan lalu. ... itu sangat bermanfaat bagi
kami.
14

o Masyarakat di pulau terpencil itu masih terbelakang. ... itu


menyebabkan taraf hidup mereka masih rendah.
o Anak itu sangat pandai di kelasnya. Karena ... itu, dia memperoleh
beasiswa dari pemerintah.
o Usaha yang ditempuhnya selalu gagal. Akan tetapi, dia tidak
pernah putus asa akibat ...nya itu.
g. Kata Kerja Bentuk me(N)- dan me(N)-kan
Akhiran -kan dan -i pada kata kerja dalam kalimat berfungsi menghadirkan
objek kalimat. Beberapa kata kerja baru dapat digunakan dalam kalimat
setelah diberi akhiran -kan atau -i. Mari kita perhatikan contoh untuk
memperjelas uraian.
o Beliau sedang mengajar di kelas.

o Beliau sedang mengajarkan bahasa Indonesia.

o Beliau mengajari kami bahasa Indonesia di kelas.

o Atasan kami menugasi kami mengikuti penyuluhan ini.

o Atasan kami menugaskan pembuatan naskah pidato kepada


sekretaris.
o Pemerintah menganugerahi rakyat Jawa Barat tanda kehormatan.

o Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan kepada rakyat


Jawa Barat.
o Kami membeli buku-buku baru untuk perpustakaan.

o Kami membelikan mereka buku baru untuk perpustakaan.

o Setiap 28 Oktober kami memperingati hari Sumpah Pemuda.

h. Awalan ke-
Awalan ke- berfungsi membentuk kata benda dan kata bilangan, baik bilangan
tingkat maupun bilangan yang menyatakan kumpulan. Kata benda yang
dibentuk dengan awalan ke- sangat terbatas, yaitu hanya pada kata tua, kasih,
hendak yang menjadi ketua, kekasih, dan kehendak.
15

Penentuan apakah awalan ke- sebagai pembentuk kata bilangan tingkat atau
kata bilangan yang menyatakan kumpulan harus dilihat dalam hubungan
kalimat. Misalnya kalimat berikut:

o Tim kami berhasil menduduki peringkat ketiga dalam MTQ tingkat


Jawa Barat.
o Ketiga penyuluh itu ternyata teman kami waktu di SMA.

Dalam percakapan sehari-hari, awalan ke- sering mengganti awalan ter-


sebagai bentuk pasif. Hal ini terjadi karena pengaruh bahasa daerah atau
dialek tertentu. Dalam situasi resmi, hal ini harus dihindari.
Kita perhatikan contoh berikut:
 Menurut laporan yang dapat dipercaya, korban tanpa identitas itu
ketabrak mobil.
Seharusnya:
 Menurut laporan yang dapat dipercaya, korban tanpa identitas itu
tertabrak mobil.

i. Akhiran Lain
Selain akhiran asli bahasa Indonesia -kan, -i, dan -an, terdapat pula beberapa
akhiran yang berasal dari bahasa asing, misalnya, -wan, -man, dan -wati dari
bahasa Sanskerta; akhiran -i, -wi, dan -iah dari bahasa Arab. Akhiran -wan
dan -wati produktif, sedangkan akhiran –man tidak demikian. Akhiran -wi
lebih produktif daripada akhiran -i dan -iah. Akhiran -wi tidak hanya terdapat
dalam bentukan bahasa asalnya, tetapi juga terdapat dalam bentukan dengan
bentuk dasar bahasa Indonesia.
Perhatikan beberapa contoh kata berikut:
karyawan seniman
karyawati manusiawi
olahragawan surgawi
olahragawati badani
budiman badaniah
16

Beberapa contoh bentuk kata yang salah dan yang benar didaftarkan berikut
ini.

Salah:

memparkir

menterjemahkan

mentafsirkan

mensukseskan

memitnah

menyolok

menyintai

Benar:

memarkir dikata beserta


menerjemahkan dipensiun berwarna
menafsirkan terlantar bekerja sama
menyukseskan terlanjur berterima kasih
memfitnah pengrusakan dikatakan
mencolok pengletakan dipensiunkan
mencintai penglepasan telantar
mengontrakan pengrajin telanjur
membanding nampak perusakan
mengundur dibanding peletakan
memberitahu diselusuri pelepasan
berserta mengontrakkan perajin
bewarna membandingkan tampak
bekerjasama mengundurkan dibandingkan dengan
berterimakasih memberi tahu ditelusuri
17

6. Jurnalistik
Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang dipergunakan dalam bidang
pers. Bahasa yang dipergunakan dalam bidang pers adalah bahasa yang
praktis, efisien, dan efektif bagi semua orang (Badudu, 1988: 119).
Bahasa jurnalistik merupakan bahasa komunikasi massa sebagaimana
tampak dalam surat kabar dan majalah. Dengan fungsi yang demikian itu
bahasa jurnalistik harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran
intelektual minimal. Oleh karena itu, beberapa ciri yang harus dimiliki bahasa
jurnalistik seperti yang dikemukakan Rosihan Anwar (1991: 1-2) di antaranya:
1. Singkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang
panjang dan bertele-tele.
2. Padat, artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu sudah mampu
menyampaikan informasi yang lengkap. Semua yang diperlukan pembaca
sudah tertampung di dalamnya. Menerapkan prinsip 5 W + 1 H,
membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata.
3. Sederhana, artinya bahasa pers sedapat-dapatnya memilih kalimat tunggal
dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan
kompleks. Kalimat yang efektif, praktis, sederhana pemakaian kalimatnya,
tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis)
4. Lugas, artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan pengertian atau
makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang
berbunga-bunga .
5. Menarik, artinya dengan menggunakan pilihan kata yang masih hidup,
tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.
6. Jelas, artinya informasi yang disampaikan jurnalis dengan mudah dapat
dipahami oleh khalayak umum (pembaca). Struktur kalimatnya tidak
menimbulkan pengertian makna yang berbeda, menghindari ungkapan
bersayap atau bermakna ganda (ambigu). Oleh karena itu, seyogyanya
bahasa jurnalistik menggunakan kata-kata yang bermakna denotatif.
Namun, seringkali kita masih menjumpai judul berita “Tim Ferrari
18

Berhasil Mengatasi Rally Neraka Paris-Dakar”. Jago Merah Melahap Mall


Termewah di Kawasan Jakarta”. “Polisi Mengamankan Spesialis
Perampok Bank”.

Berdasarkan ciri di atas, sering wartawan kurang teliti menulis dan


menyusun berita, sehingga tidak jarang adanya kesalahan. Asegaf (1982, 20)
menyebutkan penyebab wartawan melakukan kesalahan bahasa dari faktor
penulis karena minimnya penguasaan kosakata, pengetahuan kebahasaan
yang terbatas, dan kurang bertanggung jawab terhadap pemakaian bahasa,
karena kebiasaan lupa dan pendidikan yang belum baik. Sedangkan faktor di
luar penulis, yang menyebabkan wartawan melakukan kesalahan dalam
menggunakan bahasa Indonesia karena keterbatasan waktu menulis, lama
kerja, banyaknya naskah yang dikoreksi, dan tidak tersedianya redaktur
bahasa dalam surat kabar.
Terdapat beberapa penyimpangan bahasa jurnalistik dibandingkan
dengan kaidah bahasa Indonesia baku salah satunya penyimpangan
morfologis. Penyimpangan ini sering terjadi dijumpai pada judul berita surat
kabar yang memakai kalimat aktif, yaitu pemakaian kata kerja tidak baku
dengan penghilangan afiks. Afiks pada kata kerja yang berupa prefiks atau
awalan dihilangkan. Kita sering menemukan judul berita misalnya, Polisi
Tembak Mati Lima Perampok Nasabah Bank. Israil Tembak Pesawat Mata-
mata. Amerika Bom Lagi Kota Bagdad.

B. Kajian Relevansi
Untuk menghindari terjadinya kesalahan, seorang peneliti harus mengkaji
Skripsi sebelumnya yang sama dengan kajian yang penulis teliti. Sugiono (2005 :
1) mengatakan bahwa adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan
dan kegunaan tertentu. Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa cara ilmiah
yang gunakan oleh seorang peneliti bukanlah cara yang dilakukan dengan
rekayasa atau kebohongan untuk memperoleh data. Data yang didapatkan,
digunakan untuk memahami dan memperjelas masalah, serta melakukan antisipasi
19

guna mencegah timbulnya masalah. Oleh karena itu, penulis mencoba semaksimal
mungkin untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah yang ada
dalam proses belajar mengejar khususnya pelajaran bahasa Indonesia yang
menyangkut tentang wacana.
Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa orang yang melakukan
penelitian yang sejenis dengan proposal yang penulis ajukan yaitu penelitian
tentang wacana. Adapun judul penelitian yang telah dilakukan diantaranya:
Penelitian yang dilakukan oleh Nida Ul Husna dengan judul “Analisis Kesalahan
Morfologi dalam wacana publik Radar Banten Edisi Juni 2005 dan model
pembelajaran di kelas I SMA”. Menyimpulkan bahwa kesalahan morfologi pada
wacana tersebut sebanyak 35 kesalahan. Adapun kesalahan tersebut berupa : (1)
penulisan afiksasi sebanyak 18 kesalahan, (2) pemilihan afiks sebanyak 7
kesalahan, (3) penggunaan kata ulang sebanyak 2 kesalahan, (4) penulisan kata
majemuk sebanyak 8 kesalahan. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan
oleh peneliti tersebut, dapat disusun model rencana pembelajaran bahasa (aspek
morfologi) di kelas 1 SMA.
Dari penelitian yang telah dipaparkan menganalisis kesalahan morfologi,
sedangkan dua di antaranya membahas tentang kohesi dan koherensi. Akan tetapi,
penulis memilih menganalisis wacana dari segi morfologi khususnya pada
pemakaian kata berimbuhan atau afiksasi sehingga dapat menghasilkan penelitian
mikro.
C. Kerangka Berfikir
Kerangka berpikir merupakandalam
Ujaran-ujaran alur berpikir
Wacanayang dipergunakan dalam
penelitian yang digambarkan“Tajuk
secaraRencana”
menyeluruh dan sistematis setelah
mempelajari teori yang mendukung kerangka berpikir yang akan dipakai dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
Analisis Wacana

Kata Pendekatan
Berimbuhan Morfologis

Prefiksasi Infiksasi Sufiksasi Konfiksasi


20
21

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini bukan termasuk dalam penelitian lapangan, karena itu
penelitian ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, antara bulan Maret
sampai dengan bulan Juni 2011. Jadwal kegiatan selengkapnya dapat dilihat pada
tabel berikut ini:

Tahun 2011, Bulan


No. Kegiatan
Maret April Mei Juni
1 Pengajuan Judul v
2 Penyusunan Proposal v v
3 Pelaksanaan Penelitian v v
4 Analisis Data v v
5 Penyusunan Laporan v

B. Metode Pendekatan Penelitian


Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Subroto mengatakan bahwa penelitian kualitatif bersifat deskriptif, artinya peneliti
mencatat dengan teliti dan detail data yang berwujud kata-kata, kalimat, wacana,
gambar, catatan harian, memorandum, video, dan lain-lain (1992: 7).
Metode deskriptif kualitatif dalam penelitian ini digunakan penulis untuk
mendeskripsikan penyimpangan afiks pada wacana kolom “Tajuk Rencana”
dalam surat kabar harian KOMPAS edisi bulan Januari 2011.

C. Sumber Data
Penelitian ini diawali dengan tahap pencarian data. Data adalah semua
informasi/bahan yang disediakan alam (dalam arti luas) yaitu segala sesuatu yang
menjadi bidang dan sarana penelitian yang harus dicari/dikumpulkan dan dipilih
oleh peneliti. (Edy Subroto, 1992: 34). Sumber yang dipakai adalah:
1. Dokumen
22

Sumber data primer yang dipakai penulis adalah Koran KOMPAS pada
wacana “Tajuk Rencana” Edisi Januari 2011. Sedangkan data sekunder yang
dipakai adalah semua buku-buku maupun artikel-artikel kajian morfologi dan
bahasa jurnalistik yang mendukung penelitian ini.
2. Informan
Peneliti dapat mengambil data dengan wawancara kepada sejumlah
tokoh pengamat bahasa khususnya kajian morfologis yaitu afiksasi serta
pendidik/pakar pendidikan

D. Teknik Pengambilan Sampel


Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah internal
sampling. Internal sampling menurut Bogdan dan Biklen (dalam Sutopo, 1988:
22) merupakan pengambilan sampel atas dasar pemikiran umum peneliti tentang
apa yang dipelajari, berapa jumlah dokumen, serta macam data yang akan direviu,
dengan siapa akan berbicara, dan kapan akan melakukan observasi. Teknik
internal sampling ini diterapkan dengan cara memberikan bukti nyata tentang hal
yang dikaji sesuai denga yang diinginkan atau dibutuhkan, dan sesuai pula dengan
teori para ahli seperti yang ditunjuk pada landasan teoritis.

E. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis dokumen yang berupa kajian morfologis dengan teknik studi pustaka
(Library research) dan teknik catat, yaitu mencatat dokumen-dokumen atau arsip
yang berkaitan dengan masalah dan tujuan penelitian. Adapun langkah-langkah
pengumpulan data yang ditempuh adalah sebagai berikut: (1) membaca wacana
tajuk rencana pada surat kabar KOMPAS; (2) mencatat kata-kata yang
mengandung afiks; (3) menggolongkan afiks berdasarkan jenis dan fungsinya;
serta (4) menganalisis afiks yang domain digunakan pada wacana tajuk rencana
tersebut.
Sedangkan wawancara dilakukan kepada orang-orang yang dianggap
kompeten dalam dunia bahasa khususnya afiksasi untuk mengetahui seberapa jauh
23

jenis dan fungsi afiks yang digunakan pada surat kabar KOMPAS khususnya
dalam wacana tajuk rencana.

F. Validitas Data
Penelitian kualitatif menuntut kesahihan data yang dapat diperoleh melalui
triangulasi. Triangulasi ada empat macam, yaitu triangulasi sumber/ data
triangulasi teori, triangulasi peneliti, dan triangulasi metode (Sutopo, 1988: 31).
Untuk menguji validitas data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan
triangulasi teori dan triangulasi peneliti. Triangulasi teori digunakan dengan
merujuk silang teori yang diperoleh dari perspektif satu dengan perspektif yang
lain untuk mengecek kebenarannya sedangkan triangulasi peneliti digunakan
dengan merujuk silang informasi yang diperoleh dari peneliti yang sebaya atau
yang lebih tau.
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah teknik
analisis jalinan atau mengalir (flow model of analysis) yang meliputi tiga
komponen, yaitu: 1. reduksi data (data reduction); 2. sajian data (data display);
dan 3. penarikan simpulan (cunclution drawing). Berikut penjelasannya:

1. Reduksi data (Data Reduction)


Pada langkah ini yang dilakukan peneliti adalah mencatat data yang diperoleh
dalam bentuk uraian yang terperinci.

2. Sajian Data (Data Display)


Pada langkah ini, peneliti menyusun informasi/data secara teratur dan
terperinci sehingga mudah dipahami. Data-data yang digunakan peneliti
analisis secara teliti untuk menunjukkan jawaban yang diharapkan. Kegiatan
analisis data dilakukan sebagai berikut: (1) membaca wacana tajuk rencana
pada surat kabar KOMPAS; (2) mencatat kata-kata yang mengandung afiks;
(3) menggolongkan afiks berdasarkan jenis dan fungsinya; serta (4)
menganalisis afiks yang domain digunakan pada wacana tajuk rencana
tersebut.
24

3. Penarikan Simpulan (Conclution Drawing)


Pada langkah ini peneliti sudah memasuki tahap membuat simpulan dari data
yang sudah diperoleh sejak awal penelitian. Simpulan ini masih bersifat
sementara, untuk itu perlu adanya verifikasi (penelitian kembali tentang
kebenaran laporan) selama penelitian berlangsung.

Ketiga komponen tersebut saling berkaitan dan dilakukan secara terus


menerus dari mulai awal, saat penelitian berlangsung dan sampai akhir
penelitian. Tahap-tahap kegiatan analisis data secara lebih jelas dapat dilihat
pada gambar berikut:

PENGUMPULAN DATA

REDUKSI DATA

Sebelum Selama Sesudah

DISPLAI DATA
ANALISIS
Selama Sesudah

PENARIKAN SIMPULAN/ VERIFIKASI

Selama Sesudah

Gambar 2. Analisis Data Model Mengalir (Miles and Huberman, 1994: 10)
25

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
ABSTRAK.......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A...................................................................................................Lat
ar Belakang.................................................................................. 1
B...................................................................................................Ru
musan Masalah............................................................................. 3
C...................................................................................................Bat
asan Masalah................................................................................ 3
D...................................................................................................Tuj
uan Penelitian............................................................................... 4
E...................................................................................................Ma
nfaat Teoritik dan Praktis............................................................. 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERFIKIR................. 5


A...................................................................................................Kaj
ian Pustaka................................................................................... 5
B...................................................................................................Kaj
ian Relevansi................................................................................ 18
C...................................................................................................Ker
angka Berfikir.............................................................................. 20

BAB III METODOLOGI PENELITIAN..................................................... 21


A...................................................................................................Te
mpat dan Waktu Penelitian.......................................................... 21
B...................................................................................................Me
tode Pendekatan Penelitian.......................................................... 21
C...................................................................................................Su
mber Data..................................................................................... 21
D...................................................................................................Tek
nik Pengambilan Sampel.............................................................. 21
26

E...................................................................................................Tek
nik Pengumpulan Data................................................................. 22
F...................................................................................................Tek
nik Uji Validitas Data.................................................................. 23
G...................................................................................................Tek
nik Analisis Data.......................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA

ii
27

DAFTAR PUSTAKA

Agus, dkk. 2007. Bahasa Indonesia dalam Penuisan Karya Ilmiah. Bandung:
Widyatama University.

Anton Moeliono. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Asep Syamsul. 2003. Jurnalistik Praktis Untuk Pemula (edisi revisi). Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.

Dede Oetomo. 1993. “Pelahiran dan Perkembangan Analisis Wacana”


(Bambang Kaswanti Purwo. ed.) PELLBA 6. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.

Dja’far H Asegaf. 1982. Jurnalistik Masa Kini: Pengantar ke Praktik


Kewartawanan. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Edi Subroto. 1992. Pengantar Metode Penelitian Struktural. Surakarta: UNS


Press.

Harimurti Kridalaksana.1996. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama.

J.S Badudu. 1988. Cakrawala Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Purwadi. 2000. Analisis Kesalahan Berbahasa Ind 4237/ 2 SKS (Hand Out).
Surakarta: UNS Press.

Rosihan Anwar. 1991. Bahasa Jurnalistik dan Komposisi. Jakarta: Pradnya


Paramita.

Soesono Kartomiharjo. 1996. “Analisis Wacana dengan Penerapannya pada


Beberapa Wacana” (Bambang Kaswanti Purwo. ed.) PELLBA 6.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
28

Sumarwati dan Purwadi. 1999. Analisis Morfologi (Buku Pegangan Kuliah FKIP-
PBS-Indonesia). Surakarta: Depdikbud

Supriyadi, dkk. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Suroso (2001). Menuju Pers Demokratis: Kritik atas Profesionalisme Wartawan.


Yogyakarta: LSIP.

Sutopo Heribertus. 1988. Pengantar Penelitian Kualitatif. Suarakarta: UNS Press.


29

PROPOSAL
ANALISIS PEMAKAIAN KATA BERIMBUHAN
PADA WACANA “TAJUK RENCANA”
SURAT KABAR KOMPAS
(edisi Januari 2011)

Oleh :
Nur Salamah Wijayanti
NIM : K1207026

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
30

PROPOSAL PENELITIAN

ANALISIS PEMAKAIAN KATA BERIMBUHAN


PADA WACANA “TAJUK RENCANA”
SURAT KABAR KOMPAS

Pengesahan

proposal metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekan kualittaif


untuk mengetahui penggunaan kata berimbuhan wacana “Tajuk Rencana” pada
surat kabar KOMPAS, telah disetujui oleh dosen mata kulia metode penelitian
kualitatif pada :

Hari :
Tanggal :

Surakarta, Oktober 2010


Dosen Pengampu

Dra. Sumarwati, M.Pd