Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

PENYELENGGARAAN SEKOLAH GRATIS MELALUI


MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN
KUALITAS PENDIDIKAN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
NEGERI 6 PALEMBANG

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Landasan Dan Problematika Pendidikan

Oleh :

Nama : Yuhanah Mulyadi


Program Studi : Teknologi Pendidikan
NIM : 200925113040

PROGRAM PASCASARJANA
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2009
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu cara untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah
melalui pendidikan, baik secara pendidikan formal, nonformal dan informal.
Pendidikan yang lebih banyak dirasakan seorang manusia dari lahir hingga
mencapai tahap dewasa adalah pendidikan informal dan nonformal tapi
pendidikan yang membuat seoarang manusia mengalami lingkungan sosial
adalah pendidikan formal karena memiliki jenjang yang akan memenuhi
kebutuhan yang sesuai dengan tingkat usia. suatu kewajiban seorang
manusia belajar dan untuk mendapatkan pendidikan formal. Selanjutnya
pendidikan pun harus dilangsungkan seumur hidup.
Untuk mendapatkan pendidikan di lingkungan rumah tangga dan
masyarakat tidak perlu dirisaukan hambatannya karena merupakan bagian
dari kehidupan sehari hari. Tetapi yang masih menjadi kendala adalah hak
untuk mendapatkan pendidikan dari lingkungan sekolah. Indonesia adalah
sebuah negara berkembang sehingga masih ada masyarakat yang dibawah
garis hidup kemiskinan. untuk menjalani pendidikan merupakan suatu hal
yang tidak diutamakan. Sekolah merupakan suatu hal yang sangat mahal
yang dirasakan oleh masyarakat pada lapisan tersebut.
Pemerintah pun dalam rangka menyelesaikan masalah tersebut
menyelenggarakan suatu program dengan nama Sekolah Gratis. Kebijakan
tersebut merupakan salah satu strategi pemerintah dalam mewujudkan
program jangka menengah untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan
sasaran sebagai berikut:
• APK SMP/MTs= 98%; APK Perguruan Tinggi= 18%
• Memberi kesempatan yang sama pada seluruh peserta didik dari
berbagai golongan menurut kategori tingkat ekonomi, gender, wilayah,
tingkat kemampuan intelektual dan kondisifisik
• Memperluas daya tampung satuan pendidikan sesuai dengan prioritas
nasional
• Penggunaan TIK untuk menjangkau daerah terpencil/sulitdijangkau.

Program tersebut juga sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 yang


menyatakan bahwa (1) Setiap warga negara berhak mendapatkan
pendidikan; (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan
pemerintah wajib membiayainya; (3) Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan
keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa; (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan
sekurang- kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan
belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk
memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; serta (5)
Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung
tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban
serta kesejahteraan umat manusia.
Program pemerintah tersebut membawa angin segar bagi warga
negara Indonesia yang kurang mampu untuk mengikuti pendidikan disekolah.
Memberi harapan untuk tidak pantang menyerah dalam menuntut ilmu.
Namun dalam aplikasi pelaksanaan peraturan yang diberlakukan memberi
problema-problematik pendidikan meskipun sisi lain menguntungkan salah
satu pihak. Namun dari segi pihak penyelenggara sekolah, siswa hingga
paradigma masyarakat yang tidak melihat secara menyeluruh dan bijak
sehingga dapat mempengaruhi manajemen sekolah dan sikap yang dapat
mempengaruhi kualitas pendidikan.
Terjadi masalah dalam proses penyelenggaraan, persoalan dana
pendidikan untuk sekolah gratis mulai terasa. Ketika kegiatan belajar-
mengajar berjalan. Di sinilah terlihat, bahwa tak ada pendidikan yang gratis.
Kegiatan dan sarana infrastruktur apapun, tentunya membutuhkan biaya. Tak
dapat dipungkiri, bahwa kualitas peserta didik dan tenaga pendidik, harus
ditunjang oleh faktor dana. Meski demikian, sesuai falsafah dunia pendidikan,
faktor dana bukanlah satu-satunya penentu kegiatan belajar-mengajar.
Makalah ini akan mengangkat kesenjangan yang terjadi di SMA Negeri
6 Palembang. Pada SMA Negeri 6 selain sudah menyelenggarakan program
Sekolah Gratis, juga menyelenggarakan RSBI atau Rencana Sekolah
Berstandar Internasional, meskipun baru diperuntukkan kelas X. Disinilah
kesenjangan mulai terjadi.
Terjadi perbedaan pemberian sarana dan prasrana antara peserta
didik kelas RSBI dan kelas yang mengenyam Sekolah Gratis. Peserta didik
yang masuk program Sekolah Gratis mendapat bantuan subsidi dari
pemerintah untuk membayar biaya sekolah SPP sebesar Rp80.000. Fasilitas
yang mereka dapatkan dari sekolah hanya kelas untuk belajar, dan guru.
Siswa sekolah gratis tidak mendapatkan fasilitas les tambahan lagi.
Sedangkan peserta didik pada kelas RSBI yang membayar sendiri sebesar
Rp 495.000,00 mendapat perlakukan mendapatkan fasilitas lebih untuk
pembelajaran. Rincian pembayaran tersebut adalah Rp 150.000, untuk SPP,
Rp 200.000 uang makan, dan 145.000, untuk pembayaran les tambahan dari
sekolah. Perlakuan lain yaitu siswa kelas RSBI mendapatkan fasilitas dalam
pembelajaran seperti penggunaan LCD, menggunakan Laboratorium
Komputer satu siswa satu komputer, sarana dan prasarana lain cukup
lengkap.
Dampak lain yang terjadi adalah siswa sekolah gratis, mereka menjadi
tidak serius dalam belajar karena merasa tidak dibebani biaya. Dampak pada
pendidik yaitu guru tidak menerima uang transport dari komite, selama ini
guru menerima transpot jumlahnya dihitung per jam pelajaran (Rp.7500).
Perbedaan tersebut tidak sepantasnya terjadi, karena adanya sekolah
gratis untuk membantu siswa yang tidak mampu melanjutkan sekolah.
Meskipun gratis penjaminan mutu tetap diutamakan, dimana memang sudah
hak siswa yang tidak mampu untuk mendapat pendidikan. Hak tersebut juga
dijamin oleh pemerintah yang dituangkan dalam Undang–Undang NO. 20
TH.2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam hal hak peserta didik
yang berbunyi ”mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang
tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya”.
Sekolah Gratis bukan berarti semua siswa disamaratakan mendapat
kebijakan sekolah gratis. Khususnya dalam membayar biaya sekolah karena
tidak semua siswa yang sekolah adalah siswa yang tidak mampu dan
sebagian juga pasti ada siswa yang kaya. Adanya hak berarti ada suatu
kewajiban kewajiban peserta didik ikut menanggung biaya penyelenggaraan
pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban
tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sekolah gratis juga bukan berarti tidak mengutamakan kualitas hasil
pendidikan. Meskipun sekolah gratis penjaminan mutu pendidikan tetap
diutamakan, termasuk juga pada kebijakan apa-pun yang dikeluarkan
pemerintah. Agar sekolah gratis dapat berjalan tanpa mengesampingkan
kualitas pendidikan, enyelenggaraan sekolah gratis di setiap lembaga
sekolah harus dikelola dengan baik. Pengelolaan yang baik yaitu
memperhitungkan aspek dalam merencanakan, mengorganiasikan,
melaksanakan dan evaluasi secara sistematis beradsarkan kebutuhan
sekolah atau melaksanakan dengan menerapkan manajemen berbasis
sekolah sehingga program Sekolah Gratis tepat pada sasaran sesuai yang
membutuhkan.
Kebijakan pemerintah yang dicantumkan dalam undang-undang
hingga peraturan daerah harus dilaksanakan tidak dengan mentah-mentah
tapi tidak memperhatikan aspek lain untuk meningkatkan kulitas pendidikan.
Manajemen yang baik sesuai kebutuhan sekolah sangat mempengaruhi
kualitas tersebut. Tidak hanya program sekolah gratis juga dengan kebijakan
lain. Masalah yang timbul dari kebijakan sekolah gratis diharapkan dapat
diselesaikan dengan penerapan manajemen berbasis sekolah yang
merupakan proses pengintegrasian, pengkoordinasian dan pemanfaatan
dengan melibatkan secara menyeluruh elemen-elemen yang ada pada
sekolah untuk mencapai tujuan (mutu pendidikan) yang diharapkan secara
efisien. Betapa pentingnya dilakukan kajian mendalam tentang masalah
pelaksanaan sekolah gratis dengan menerapkan Manajemen Berbasis
Sekolah hingga kualitas pendidikan meningkat dan dapat terjamin.
Berdasarkan hal tersebut makalah ini mengangkat masalah penyelenggaraan
sekolah gratis melalui manajemen berbasis sekolah dalam meningkatkan
kualitas pendidikan di SMA Negeri 6 Palembang?

B. Rumusan Masalah.
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas maka masalah yang
akan dibahas dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Bagaimana penyelenggaraan program sekolah gratis?
2. Bagaimana penerapan Manajemen Berbasis Sekolah dalam
meningkatkan kualitas pendidikan?

C.Tujuan Penulisan Makalah.


1. Untuk mendapatkan pemahaman tentang penyelenggaraan
program sekolah gratis.
2. Untuk memahami Manajemen Berbasis Sekolah dalam
meningkatan kualitas pendidikan
D. Program Sekolah Gratis
Kebijakan ini adalah aplikasi dari kebijakan Undang-Undang Dasar
1945 sebagai dasar negara telah memberikan jaminan bagi setiap warga
negara untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan adalah hak setiap warga
negara. Pemerintah wajib membuat anggaran biaya untuk warga negara
yang memadai sehingga pendidikan dapat diselenggarakan tanpa memungut
biaya atau gratis melalui pembiayaan kas negara.
UUD 1945 hasil amandemen juga telah mengamanatkan 20%
anggaran pendidikan. Sebagai upaya untuk mewujudkan amanat tersebut,
pemerintah sejak bulan Juli 2005 telah mengeluarkan kebijakan tentang
Bantuan Operasional sekolah (BOS). Tahun 2009 biaya satuan Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) mengalami peningkatan. Peningkatan biaya
tersebut telah dijadikan pilar utama bagi pemerintah untuk mewujudkan
pendidikan gratis pada tingkat pendidikan dasar terutama pada sekolah-
sekolah negeri dan menggratiskan seluruh siswa miskin pada sekolah
swasta.
Sekolah Gratis merupakan program pemerintah untuk membebaskan
biaya sekolah dari Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tinggat
Pertama (SLTP). Pada Tahun 2009 Anggaran berasal dari 20 % persen dari
anggaran pendidikan atau kurang lebih Rp 207 triliun. Rinciannya, Rp 105
triliun gaji guru, Rp 60 triliun khusus buat Depdiknas, Rp 16 triliun
pembiayaan BOS, sisanya 26 triliun untuk alokasi lain. Sekolah gratis juga
dilandasi oleh kebijakan hukum dari Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun
2008 tentang Pendanaan. Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2008 tentang
Pendanaan Pendidikan, jenis-jenis biaya pendidikan semakin jelas dan
gamblang. Menurut Peraturan Pemerintah ini biaya pendidikan dikategorikan
menjadi 3 jenis, yaitu Biaya Satuan Pendidikan, Biaya Penyelenggaraan
dan/atau Pengelolaan Pendidikan, serta Biaya Pribadi Peserta Didik. Untuk
biaya satuan pendidikan adalah biaya penyelenggaraan pendidikan pada
tingkat satuan pendidikan meliputi; biaya investasi, biaya operasional,
bantuan biaya pendidikan, dan beasiswa. Adapun BOS merupakan program
pemerintah untuk penyediaan pendanaan biaya operasional bagi satuan
pendidikan dasar.
Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan
martabat manusia secara holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi
kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal.
Dengan demikian, pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi
upaya mengembangkan segenap potensi individu, sehingga cita-cita
membangun manusia seutuhnya dapat terpecahkan. Pemerintah dengan
segenap usaha melalui kebijakan harus merujudkan pendidikan yang
berjalan sesuai undang-undang yang dibuat dan diselaraskan sesuai
kebutuhan daerah oleh pemerintah daerah. Salah satu propinsi yang telah
membuat peraturan tentang sekolah gratis adalah Pemerintah Propinsi
Sumatera Selatan. Provinsi ini juga mengeluarkan Perda tentang
Penyelenggaraan Program Sekolah Gratis.
Pada 19 Maret 2009 diterbitkan Perda Provinsi Sumatera Selatan No 3
tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan. Kemudian ditindaklanjuti dengan
Peraturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 31 tahun 2009 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Program Sekolah Gratis di Provinsi Sumatera
Selatan. Berdasarkan Perda, setiap penduduk Sumatera Selatan dalam usia
sekolah berhak mendapatkan pelayanan sekolah gratis. Program tersebut
ditujukan kepada siswa mulai dari jenjang SD/SDLB/MI,SMP/SMPLB/MTs,
SMA/SMALB/MA/SMK baik negeri maupun swasta, kecuali SSN (Sekolah
Standar Nasional), RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional), SBI
(Sekolah Bertaraf Internasional), Kelompok Belajar (Kejar) Paket dan
Diniyah. (Amzulian Rifai: 2009) Untuk penerapan peraturan tersebut
pemerintah memberikan subsidi Rp 80 ribu/bulan untuk setiap siswa. Namun
jumlah tersebut berbeda jauh antara subsidi dari pemerintah dengan
kebutuhan ril sekolah.
Meskipun pemerintah menjamin pendidikan setiap warga negara dan
adalah hak setiap warga negara mendapatkan pendidikan. Sedangkan
pemerintah sebagai pihak mengelola pendidikan secara sistematis tapi pihak-
pihak terkait harus ikut serta dalam kelangsungan pendidikan yang
berkualitas yaitu dari warga itu sendiri atau masyarakat. UU Sisdiknas telah
mensinyalir bahwa pembiayaan pendidikan tidak hanya merupakan peran
pemerintah saja, didalamnya juga melibatkan pemerintah daerah dan peran
serta masyarakat. Meskipun program penuntusan masalah APK dengan
mengadakan sekolah gratis tetapi perlu dilihat siapa saja siswa yang
membutuhkan sekolah gratis tidak menyamaratakan semua siswa untuk di
gratiskan.
Kemungkinan kondisi setiap lembaga sekolah yang berbeda dapat
dipastikan terjadi perbedaan taraf hidup setiap siswa, ada siswa yang mampu
membayar uang sekolah ada pula siswa yang mencukupi bahkan lebih.
Berdasarkan Undang–Undang NO. 20 TH.2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional menyebutkan bahwa ada hak dan kewajiban dari peserta didik.
Salah satu hak peserta didik adalah mendapatkan biaya pendidikan bagi
mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya. Untuk
kewajiban peserta didik adalah ikut menanggung biaya penyelenggaraan
pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban
tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jelas
sekali kewajiban tersebut diperuntukkan bagi siswa yang mampu membayar
sekolah sendiri bahkan untuk yang lebih. Kewajiban tersebut juga memberi
pengecualian untuk siswa yang tidak mapu membayar. Untuk pengaturan
hak dan kewajiban tersebut tentu yang paling tepat untuk mengolahnya dalah
pihak sekolah sendiri. Pengolahan yang baik kebijakan pemerintah di
masing-masing sekolah menuju pada suatu pendekatan yaitu manajemen
berbasis sekolah agar hambatan dan kesenjangan yang terjadi dapat
diminimalisir. Sehingga pemeratan pendidikan melalui sekolah gratis dapat
mencapai tujuan dan kualitas pendidikan tidak terabaikan.

A. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah


Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan kebijakan
publik Departemen Pendidikan Nasional untuk memberikan otonomi kepada
sekolah, sebagai dukungan terhadap diberlakukannya otonomi daerah
(desentalisasi pendidikan). MBS pada intinya adalah untuk penyeimbangan
struktur kewenangan antara sekolah, pemerintah daerah pelaksanaan proses
dan pusat sehingga manajemen menjadi lebih efisien. Kewenangan terhadap
pembelajaran di serahkan kepada unit yang paling dekat dengan
pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri yaitu sekolah.
Pengertian manajemen menurut (Depdiknas, 2006) adalah ”proses
mencapai hasil dengan mendayagunakan sumber daya yang tersedia secara
produktif ”. Sedangkan menurut Nanang Fatah (1996: 1) mengartikan
manajemen sebgai ilmu, yaitu bidang pengetahuan yang secara sistematik
berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama.
Pasal 51 UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20/2003 menyatakan
bahwa “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan ndasar,
dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan
minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”. Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) merupakan konsep pengelolaan sekolah yang
ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di era desentralisasi
pendidikan. MBS merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan
otonomi luas pada tingkat sekolah dengan maksud agar sekolah leluasa
mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya
sesuai dengan prioritas kebutuhan.
Mulyasa (2002: 11) mengungkapkan bahwa manajemen berbasis
sekolah merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah
yang menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu,
efisiensi dan pemeretaan poendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan
masyarakt setempat serta saling menjaling kerjasama yang erat antara
sekolah masyarakat dan pemerintah (Nur Ainy:2005) .
Menurut buku Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (2002:
3) mengartikan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
sebagai bagian dari Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu model
manajemen yang memberikan otonomi lebih besar pada sekolah dan
mengorong pengambilan keputusan partisipasif yang melibatkan secara
langsung semua warga sekolah (guru, kepala sekolah, karyawan, orang tua
siswa dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan
kebijakan nasional.
Manajemen berbasis sekolah bertujuan untuk "memberdayakan"
sekolah, terutama sumber daya manusianya (kepala sekolah, guru,
karyawan, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat sekitarnya), melalui
pemberian kewenangan, fleksibilitas, dan sumber daya lain untuk
memecahkan persoalan yang dihadapi oleh sekolah yang bersangkutan.
Selain itu, MBS bertujuan untuk:
1. meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif
sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang
tersedia;
2. meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam
menyelenggarakan pendidikan melalui pengambilan keputusan
bersama;
3. meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orangtua, masyarakat,
dan pemerintah tentang mutu sekolahnya; dan
4. meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu
pendidikan yang akan dicapai.

Prinsip dan Implementasi MBS Prinsip utama pelaksanaan MBS ada 5


(lima) hal yaitu:

1. Fokus pada mutu

2. Bottom-up planning and decision making

3. Manajemen yang transparan

4. Pemberdayaan masyarakat

5. Peningkatan mutu secara berkelanjutan

Strategi Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah Pada dasarnya,


mengubah pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen
berbasis sekolah bukanlah merupakan one-shot and quick-fix, akan tetapi
merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus dan melibatkan
semua unsur yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan
persekolahan. Oleh karena itu, strategi utama yang perlu ditempuh dalam
melaksanakan manajemen berbasis sekolah adalah sebagai berikut (Slamet
PH, 2000; Direktorat Dikmenum, 2000):

1. Mensosialiasikan konsep manajemen berbasis sekolah keseluruh


warga sekolah, yaitu guru,siswa, wakil-wakil kepala sekolah, konselor,
karyawan dan unsur-unsur terkait lainnya (orangtua murid, pengawas,
wakil kandep, wakil kanwil, dsb.) melalui seminar, diskusi, forum
ilmiah, dan media masa. Hendaknya dalam sosialisasi ini juga dibaca
dan dipahami sistem, budaya, dan sumber daya sekolah yang ada
secermat-cermatnya dan direfleksikan kecocokannya dengan sistem,
budaya, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan
manajemen berbasis sekolah.
2. Melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya
berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam
rangka mengubah manajemen berbasis pusat menjadi manajemen
berbasis sekolah. Tantangan adalah selisih (ketidaksesuaian) antara
keadaan sekarang (manajemen berbasis pusat) dan keadaan yang
diharapkan (manajemen berbasis sekolah). Karena itu, besar kecilnya
ketidaksesuaian antara keadaan sekarang (kenyataan) dan keadaan
yang diharapkan (idealnya) memberitahukan besar kecilnya tantangan
(loncatan).

3. Merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan


manajemen berbasis sekolah berdasarkan tantangan nyata yang
dihadapi (butir 2). Segera setelah tujuan situasional ditetapkan, kriteria
kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya ditetapkan. Kriteria inilah
yang akan digunakan sebagai standar atau kriteria untuk mengukur
tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya.

4. Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai


tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya.
Untuk mencapai tujuan situasional yang telah ditetapkan, maka perlu
diidentifikasi fungsi-fungsi mana yang perlu dilibatkan untuk mencapai
tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya.
Fungsi-fungsi yang dimaksud meliputi antara lain: pengembangan
kurikulum, pengembangan tenaga kependidikan dan nonkependidikan,
pengembangan siswa, pengembangan iklim akademik sekolah,
pengembangan hubungan sekolah-masyarakat, pengembangan
fasilitas, dan fungsi-fungsi lain.

5. Menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya


melalui analisis SWOT (Strength, Weaknes, Opportunity, and Threat).
dilakukan dengan maksud mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi
dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk mencapai tujuan
situasional yang telah ditetapkan. Analisis SWOT dilakukan terhadap
keseluruhan faktor dalam setiap fungsi, baik faktor yang tergolong
internal maupun eksternal. yang dinyatakan sebagai: kekuatan, bagi
faktor yang tergolong internal; peluang, bagi faktor yang tergolong
faktor eksternal. Sedang tingkat kesiapan yang kurang memadai,
artinya tidak memenuhi ukuran kesiapan, dinyatakan bermakna:
kelemahan, bagi faktor yang tergolong faktor internal; dan ancaman,
bagi faktor yang tergolong faktor eksternal.

6. Memilih langkah-langkah pemecahan (peniadaan) persoalan, yakni


tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap
menjadi fungsi yang siap. Selama masih ada persoalan, yang sama
artinya dengan ada ketidaksiapan fungsi, maka tujuan situasional yang
telah ditetapkan tidak akan tercapai. Oleh karena itu, agar tujuan
situasional tercapai, perlu dilakukan tindakan-tindakan yang
mengubah ketidaksiapan menjadi kesiapan fungsi. Tindakan yang
dimaksud lazimnya disebut langkah-langkah pemecahan persoalan,
yang hakekatnya merupakan tindakan mengatasi makna kelemahan
dan/atau ancaman, agar menjadi kekuatan dan/atau peluang, yakni
dengan memanfaatkan adanya satu/lebih faktor yang bermakna
kekuatan dan/atau peluang.

7. Berdasarkan langkah-langkah pemecahan persoalan tersebut, sekolah


bersama-sama dengan semua unsur-unsurnya membuat rencana
untuk jangka pendek, menengah, dan panjang, beserta program-
programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. Sekolah tidak
selalu memiliki sumber daya yang cukup untuk melaksanakan
manajemen berbasis sekolah idealnya, sehingga perlu dibuat sekala
prioritas jangka pendek, menengah, dan panjang.

8. Melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka


pendek manajemen berbasis sekolah. Dalam pelaksanaan, semua
input yang diperlukan untuk berlangsungnya proses (pelaksanaan)
manajemen berbasis sekolah harus siap. Jika input tidak siap/tidak
memadai, maka tujuan situasional tidak akan tercapai. Yang perlu
diperhatikan dalam pelaksanaan adalah pengelolaan kelembagaan,
pengelolaan program, dan pengelolaan proses belajar mengajar.

9. Pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil manajemen


berbasis sekolah perlu dilakukan. Hasil pantauan proses dapat
digunakan sebagai umpan balik bagi perbaikan penyelenggaraan dan
hasil evaluasi dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian
tujuan situasional yang telah dirumuskan. Demikian kegiatan ini
dilakukan secara terus-menerus, sehingga proses dan hasil
manajemen berbasis sekolah dapat dioptimalkan.

Kewenangan yang Didesentralisasikan :

1. Perencanaan dan Evaluasi Sekolah diberi kewenangan untuk


melakukan perencanaan sekolah sesuai dengan kebutuhannya
(school-based plan). Oleh karena itu, sekolah harus melakukan
analisis kebutuhan mutu dan berdasarkan hasil analisis kebutuhan
mutu inilah kemudian sekolah membuat rencana peningkatan mutu.
Sekolah diberi wewenang untuk melakukan evaluasi, khususnya
evaluasi yang dilakukan secara internal. Evaluasi internal dilakukan
oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan dan untuk
mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan.
Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. Evaluasi diri harus
jujur dan transparan agar benar-benar dapat mengungkap informasi
yang sebenarnya.
2. Pengelolaan Kurikulum Kurikulum yang dibuat oleh Pemerintah
Pusat adalah kurikulum standar yang berlaku secara nasional.
Padahal kondisi sekolah pada umumnya sangat beragam. Oleh
karena itu, dalam impelentasinya sekolah dapat mengembangkan
(memperdalam, memperkaya, dan memodifikasi), namun tidak boleh
mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional. Selain itu,
sekolah diberi kebebasan untuk mengembanhgkan kurikulum muatan
lokal.
3. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar
merupakan kegiatan utama sekolah. Sekolah diberi kebebasan
memilih strategi, metode, dan teknik-teknik pembelajaran dan
penagjaran yang paling efektif, sesuai dengan karakteristik mata
pelajaran, karakteristik siswa, karakteristik guru, dan kondisi nyata
sumber daya yang tersedia di sekolah. Secara umum,
strategi/metode/teknik pembelajaran yang berpusat pada siswa
(student-centered) lebih mampu memberdayakan pembelajaran siswa.
4. Pengelolaan Ketenagaan Pengelolaan ketenagaaan, mulai dari
analisis kebutuhan, perencanaan, rekrutmen, pengembangan, hadiah
dan sanksi (reward and punishment), hubungan kerja, sampai evaluasi
kinerja tenaga kerja sekolah (guru, tenaga administrasi, laboran, dan
sebagainya) dapat dilakukan oleh sekolah, kecuali yang menyangkut
pengupahan/imbal jasa dan rekrutmen guru pegawai negeri yang
sampai saat ini masih ditangani oleh Pemerintah Pusat/Daerah.
5. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan)
Pengelolaan fasilitas sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah, mulai
dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan, hingga sampai
pengembangan. Hal ini didasarkan oleh kenyataan bahwa sekolahlah
yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas, baik kecukupan,
kesesuaian, maupun kemutakhirannya.
6. Pengelolaan Keuangan Pengelolaan keuangan, terutama
pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh
sekolah. Hal ini juga didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang
paling memahami kebutuhannya sehingga desentraslisasi
pengalokasian/penggunaan uang sudah seharusnya dilimpahkan ke
sekolah. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan ?
kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan? (income
generating activities) sehingga sumber keuangan tidak semata-mata
tergantung pada pemerintah.
7. Pelayanan Siswa Pelayanan siswa, mulai dari penerimaan
siswa baru, pengembangan/pembinaan/ pembimbingan, penempatan
untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja hingga
sampai pada pengurusan alumni, sebenarnya dari dahulu sudah
didesentralisasikan. Karena itu, yang diperlukan adalah peningkatan
intensitas dan ekstensitasnya.
8. Hubungan Sekolah-Masyarakat Esensi hubungan sekolah-
masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian,
kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat terutama dukungan moral
dan finansial. Dalam arti yang sebenarnya, hubungan sekolah-
masyarakat dari dahulu sudah didesentraslisasikan. Oleh karena itu,
sekali lagi yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan
ekstensitas hubungan sekolah-masyarakat.
9. Pengelolaan Iklim Sekolah Iklim sekolah (fisik dan non fisik)
yang kondusif-akademik merupakan prasyarat bagi terselenggaranya
proses belajar mengajar yang efektif. Lingkungan sekolah yang aman
dan tertib, optimisme dan harapan/espektasi yang tinggi dari warga
sekolah, kesehatan sekolah, dan kegiatan-kegiatan yang terpusat
pada siswa (student-centered activities) adalah contoh-contoh iklim
sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. Iklmi
sekolah sudah merupakan kewenangan sekolah sehingga yang
diperlukan adalah upaya-upaya yang lebih intensif dan ekstensif.
Bahwa penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) akan
menghasilkan nilai positif bagi sekolah antara lain :
1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan
ancaman bagi sekolah yang bersangkutan sehingga sekolah dapat
lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada.
2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan skala prioritas.
3. Pengambilan keputusan lebih partisipatif terutama dalam hal :
a. Menetapkan sasaran peningkatan mutu
b. Menyusun rencana peningkatan mutu
c. Melaksanakan rencana peningkatan mutu
d. Melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan mutu.
4. Penggunaan dana lebih efektif dan efisien sesuai dengan skala
prioritasnya
Pada sistem MBS sekolah dituntut secara mandiri menggali,
mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan, dan
mempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada
masyarakat maupun pemerintah. MBS juga merupakan salah satu wujud dari
reformasi pendidikan yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan
pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi siswa. Hal ini juga berpotensi
untuk meningkatkan kinerja staf, menawarkan partisipasi langsung kepada
kelompok-kelompok terkait, dan meningkatkan pemahaman kepada
masyarakat terhadap pendidikan. Ketelitian dalam pengelolaan semua aspek
yang ada di sekolah dan sesuai karakteristik sekolah akan membantu
penyelenggraan sekolah gratis yang tepat sasaran dan kebutuhan sehingga
tidak mengesampingkan kualitas atau mutu pendidikan.
Anggaran sebesar berapapun yang diturunkan jangan sampai
membuat sekolah menjadikan alasan untuk menghambat proses
pembelajaran bagi peserta didik karena sudah menjadi hak peserta didik
untuk mendapatkan pendidikan. Dan pihak harus dengan bijak mengatur
pendanaan yang didapatkan. Masyarakat harus menjadi kontrol atau
pengawas secara nonformil yang mengingatkan jika terjadi penyimpangan
dalam pelaksanaan. Kerjasama antara masyarakat dengan pihak sekolah
akan lebih mengefisenkan tugas-tugas yang sudah dibentuk untuk mengatasi
masalah yang terjadi. Peran serta masyarakat sebagaimana disinnyalir dalam
Undang-Undang Sisdiknas masih sangat diperlukan untuk mewujudkan
sekolah gratis di tanah air. Pendidikan gratis yang diprogramkan pemerintah
pada saat ini pada hakikatnya merupakan cikal bakal pendidikan gratis di
masa yang akan datang atau mungkin lebih tepat disebut sebagai pendidikan
murah bagi rakyat.

E. Manajemen Berbasis Sekolah dalam Meningkatkan


Kualitas Pendidikan
Secara umum kualitas atau mutu adalah gambaran dan karakteristik
menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam
memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau tersirat. Mutu pendidikan dapat
dilihat dalam dua hal, yakni mengacu pada proses pendidikan dan hasil
pendidikan. Proses pendidikan yang bermutu apabila seluruh komponen
pendidikan terlibat dalam proses pendidikan itu sendiri. Faktor-faktor dalam
proses pendidikan adalah berbagai input, seperti bahan ajar, metodologi,
saran sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber
daya lainnya serta penciptaan suasana kondusif. Sedangkan, mutu
pendidikan dalam konteks hasil pendidikan mengacu pada prestasi yang
dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu
Kualitas pendidikan dapat terlihat secara kasat adalah hasil belajar
siswa, atau dari segi jumlah siswa yang lulus di akhir tahun sekolah. Tetapi
dari segi kulitas penyelenggaran menuju hasil adalah yang terpenting karena
akan berdampak dari hasil akhir. Kualitas pendidikan dari segi
penyelenggaraan dapat tercapai maksimal dengan adanya pengelolaan yang
baik pula. Dalam hal ini penerapan Manajemen Berbasis Sekolah untuk
meningkatkan kualitas adalah jalan yang tepat mengingat setiap lembaga
mempunyai kondisi yang berbeda, namun akan tetap dilaksanakan mengacu
pada Standar Pendidikan Nasional dari kebijakan pemerintah.
Manajemen sekolah, dukungan kelas berfungsi mensinkronkan
berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam
interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana
pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun
ekstra-kurikuler, baik dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang
non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. Antara
proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi
agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam artian hasil
(ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah, dan harus jelas target
yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai
input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin
dicapai.
Ada empat hal yang terkait dengan prinsip - prinsip pengelolaan
kualitas total yaitu; (i) perhatian harus ditekankan kepada proses dengan
terus - menerus mengumandangkan peningkatan mutu, (ii) kualitas/mutu
harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah, (iii) prestasi harus diperoleh
melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaan aturan, (iv) sekolah harus
menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap
arief bijaksana, karakter, dan memiliki kematangan emosional (Umaedi:
1999).
Upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat ditempuh dalam
menerapkan Total Quality Management (TQM). TQM pertama kali
dikemukakan dan dikembangkan oleh Edward Deming, Paine, dkk tahun
1982. TQM dalam pendidikan adalah filosofi perbaikan terus-menerus
dimana lembaga pendidikan menyediakan seperangkat sarana atau alat
untuk memenuhi bahkan melampaui kebutuhan, keinginan dan harapan
pelanggan saat ini dan dimasa yang akan datang. TQM merupakan suatu
pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk
memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus
atas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan. Namun pendekatan TQM
hanya dapat dicapai dengan memperhatikan karakteristiknya, yaitu: 1) fokus
pada pelanggan baik internal maupun eksternal, 2) memiliki obsesi yang
tinggi terhadap kualitas, 3) menggunakan pendekatan ilmiah dalam
pengambilan keputusan dan pemecahan masalah, 4) memiliki komitmen
jangka panjang, 5) membutuihkan kerjasama tim, 6) memperbaiki proses
secara berkesinambungan, 7) menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan,
8) memberikan kebebasan yang terkendali, 9) memiliki kesatuan tujuan, dan
10) adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan
Konsep peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah muncul dalam
kerangka pendekatan manajemen berbasis sekolah. Pada hakekatnya MBS
akan membawa kemajuan dalam dua area yang saling tergantung, yaitu,
pertama, kemajuan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa-orang
tua, siswa dan masyarakat. Kedua, kualitas lingkungan kerja untuk semua
anggota organisasi.13 Wohlstetter dalam Watson (1999) memberikan
panduan yang komprehensif sebagai elemen kunci reformasi MBS yang
terdiri dari atas: 1) menetapkan secara jelas visi dan hasil yang diharapkan,
2) menciptakan fokus tujuan nasional yang memerlukan perbaikan, 3) adanya
panduan kebijakan dari pusat yang berisi standar-standar kepada sekolah, 4)
tingkat kepemimpinan yang kuat dan dukungan politik serta dukungan
kepemimpinan dari atas, 5) pembagunan kelembagaan (capacity building)
melalui pelatihan dan dukungan kepada kepala sekolah, para guru, dan
anggota dewan sekolah, 6) adanya keadilan dalam pendanaan atau
pembiayaan pendidikan (Feiby Ismail: 2008)
Model MBS di Indonesia disebut Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah (MPMBS). MPMBS dapat diartikan sebagai model
manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah,
fleksibilitas kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung
warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah
berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-
undangan yang berlaku. MPMBS merupakan bagian dari manajemen
berbasis sekolah (MBS).
Otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan
mengurus kepentingan warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-
undangan pendidikan nasional yang berlaku. Sedangkan pengambilan
keputusan partisipatif adalah cara untuk mengambil keputusan melalui
penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik dimana warga sekolah
di dorong untuk terlibat secara langsung dalam proses pengambilan
keputusan yang dapat berkontribusi terhadap pencapaian tujuan sekolah.
Sehingga diharapkan sekolah akan menjadi mandiri dengan ciri-ciri sebagai
berikut: tingkat kemandirian tinggi, adaptif, antisipatif, dan proaktif, memiliki
kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumber dayanya, memiliki
kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja, komitmen yang tinggi pada dirinya
dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya

F. Kesimpulan
Sekolah Gratis merupakan program pemerintah suatu aplikasi
kebijakan yang tertulis Pembukaan Undang-Undang 1945 dan Undang-
Undang Negara Indonesia hingga peraturan daerah. Negara juga untuk biaya
sekolah dari Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tinggat Pertama
(SLTP) hingga SMA. Setiap daerah pun dalam rangka otonomi daerah
diberikan kebijakan untuk menyelenggarakan Sekolah Gratis yang mengacu
pada standar pendidikan nasional dan Undang-Undang. Negara pun
memberi anggaran sebesar 20% untuk untuk pendidikan untuk
penyeleggaraan program tersebut.
Untuk menerapkan sekolah gratis yang ideal tanpa penyelewangan
kebijakan baru disekolah, akibat kebijakan tersebut maka sekolah harus
diberikan sosialisasi dari pemerintah secara lengkap tentang manajemen
berbasis sekolah sehingga tidak melupakan tujuan utama sebagai alat untuk
memberi pendidikan semua warga.
Kewenangan yang diberikan pemerintah dalam bentuk Manajemen
Berbasis Sekolah merupakan otonomi untuk sekolah agar mengelola sesuai
karakteristik dan kebutuhan sekolah sehingga setiap kebijakan baru seperti
“Sekolah Gratis” dapat diselenggarakan sesuai kondisi sekolah, dan siswa
yang ada. Sehingga pembelajaran dapat berjalan maksimal dan peningkatan
kualitas pendidikan dapat tercapai. Pemberdayaan semua komponen suatu
lembaga sekolah dan pengolaan yang baik dapat mengefisienkan kinerja
hingga tujuan lembaga dapat tercapai.

G. Saran
Setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah harus diujicoba yaitu
diteliti terlebih dahulu untuk mengetahui efektifitas dan efiseiensi sehingga
mendapatkan kekurangan dari kebijakan. Selanjutnya dapat merancang
kebijakan baru untuk petunjuk teknis dari penyelenggaraan program tersebut.
Sosialisasi secara serius dari pemerintah harus dilakukan sehingga
penyelewengan kebijakan dari pihak sekolah dapat dihindari. Selain itu
setelah sosialisasi dan penyelenggaraan dari pihak sekolah berlangsung
pemerintah secara berkala memonitoring atau mengawasi penyelenggaraan
program tersebut. Masyarakat pun dalam bentuk warga sekolah atau komite
sekolah diharapkan ikut andil dan berperan dalam pengawasan program
tersebut.
Sekolah pun harus mengadakan analisis kebutuhan untuk mengetahui
siswa yang layak mengikuti program sekolah gratis. Untuk selanjutnya
melakukan program dengan manajemen berbasis sekolah agar mencapai
sekolah gratis yang berkualitas dalam rangka meningkatkan kualitas
pendidikan. Meskipun yang program sekolah gratis diharapkan tapi adalah
kualitas tetap dijaga bahkan ditingkatkan. Masyarakat pun harus berperan
serta dalam pelaksaaan setiap kebijakan pemerintah termasuk juga
pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

________(2002). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Buku 1


Konsep Dasar. Jakarta : depdiknas.

_______(2004) Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka


Menengah 2005- 2009 [Online] Tersedia:
http://bos.fkip.uns.ac.id/pub/ono/pendidikan/pelajaran-sekolah/ktsp-smk/03.ppt.
Daniel C. Kambey, Landasan Teori Administrasi/Manajemen (Sebuah
Intisari), (Manado:Yayasan Tri Ganesha Nusantara, 2004), hlm. 34-45

Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 2000. Manajemen Peningkatan


Mutu Berbasis Sekolah (Buku 1). Jakarta: Direktorat Pendidikan
Menengah Umum, Departemen Pendidikan Nasional

Edward dan Sallis, 2004, Manajemen Kualitas Total Dalam Pendidikan (Total
Quality Managementin Education) Penerjemah : Kambey Daniel C.,
Manado : Program Pascasarjana Universitas Negeri Manado

Fatah, Nanang. (1999). Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: remaja


Rosdakarya

Feiby Ismail (2008) Manajemen Berbasis Sekolah Solusi Peningkatan


Kualitas Pendidikan [Online] Tersedia:
http://jurnaliqro.files.wordpress.com/2008/08/01-eby-1-12.pdf [1
Agustus 2008

Mulyasa E., (2002) Menjadi Kepala Sekolah Profesional, dalam


Menyukseskan MBS dan KBK, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Nur, Ainy (2005) Pelaksanaan manajemen Berbasis Sekolah di SDN Berjo I


Ngarso Kabupaten Karanganyar: Universitas Negeri Yogyakarta

Rifai, Amzulian (2009) Mengaudit Sekolah Gratis [Online] Tersedia:


http://www.sripoku.com//pdf/15289/mengaudit_sekolah_gratis.pdf [21
Juli 2009]

Slamet PH (2000). Menuju Pengelolaan Pendidikan Berbasis Sekolah.


Makalah pada Acara Seminar dan Temu Alumni Fakultas Ilmu Sosial,
Universitas Negeri Yogyakarta dengan Tema "Pendidikan yang
Berwawasan Pembebasan: Tantangan Masa Depan" pada Tanggal
27 Mei 2000 di Ambarukmo Palace Hotel, Yogyakarta.
LAMPIRAN

Laporan Presentasi Sesi Tanya Jawab :


No Sesi Nama Penanya Pertanyaan
1 Sesi 1 Ibu Sumarni 1. Tolong Jelaskan kembali prinsip
dan implementasi MBS dan berikan
contohnya?
2 Ibu Anerly Agung 1. Bagaimana penyelenggaraan
sekolah gratis di SMA 6?
2. Apakah sekolah gratis dapat
meningkatkan kualitas terhadap
output di SMA 6?
3 Ibu Evi 1. Apakah ada landasan hukum yang
menyebabkan ada 2 kelompok di
SMA 6, ada yang RSBI dan ada
yang Gratis?

4 Ibu Muliadiniarti 1. Apakah kaitan MBS dengan


permasalahan sekolah gratis?
5 Pak Amrulah 1. Masukan: Dengan adanya MBS,
Sesi 2 campur tangan pemerintah harus
sudah dikurangi sekolah harus
membiyayai sendiri tidak
tergantung dengan pemerintah,
yang ada sekarang kita ingin MBS
tapi biaya masih minta di tanggung
pemerintah.
6 Ibu Sumarni 1. Masukan: SMA 3 sudah sekolah
gratis tapi tidak ada RSBI