Anda di halaman 1dari 22

BAB I

OBAT JANTUNG, PEMBULUH DAN DARAH


(CARDIOVASKULAR DAN HEMATOPOIETIKA)

Pendahuluan
Di negara industri, penyakit jantung dan pembulu (PJP) seperti angina pectoris,
infark jantung, gagal jantung dan hipertensi merupakan penyebab kematian terbesar. Hal
ini terutama disebabkan oleh faktor makanan, yang kaya kalori, protein, lemak (jenuh) dan
miskin serat – serat nabati.

Beberapa pengertian :
1. Atherosclerosis : adalah gangguan pembuluh yang disebabkan karena menebal dan
mengerasnya dinding pembuluh nadi (arteri) besar dan sedang. Hal ini diakibatkan
oleh endapan dari kolesterol, lemak, kalsium dan fibrin (plak) di dinding pembuluh.
2. Hipertensi : adalah tingginya tekanan darah yang berhubungan dengan pengerasan /
penebalan pembuluh darah
3. Angina pectoris adalah penyakit jantung, dimana jantung tidak menerima cukup
darah (dan oksigen) karena cabang arteri jantung hampir tertutup oleh plak.
4. Bila arteri jantung atau arteri otak tersumbat sama sekali, maka timbul infark
jantung atau infark otak (stroke).
5. Kalau jantung tidak sanggup lagi memeliharan peredaran darah selayaknya, maka
akan timbul gagal jantung (dekompensasi)

A. Obat Jantung
Obat – obat jantung atau cardiaca adalah obat yang secara langsung dapat
memulihkan fungsi otot jantung yang terganggu ke keadaan normal.

Gambar : Kerja jantung

1
Gambar : Sirkulasi darah
1. Gangguan – Gangguan Jantung
(a) Infark Jantung
Infark jantung atau trombosis koroner, umunya disebut serangan jantung, adalah
keadaan tersumbatnya suatu cabang pembuluh jantung yang menyalurkan darah ke
jantung oleh gumpalan darah beku (trombus).
Gejalanya berupa nyeri yang hebat dibelakang tulang dada, rasa gelisah, tidak
mampu mengerakkan tangan dan kaki, muka mebiru dan debar jantung (tachycardia).
(b) Angina Pectoris
Angina pectoris adalah gangguan yang timbul sebagai akibat hipoxia (kekurangan
oksigen) otot jantung karena kelelahan fisik atau emosional dan dapat juga
disebabkan oleh penciutan arteri jantung, infark, kejang – kejang atau adanya
tachycardia tertentu, anemia hebat atau penciutan aorta.
Gejalanya adalah rasa sakit hebat di bawah tulang dada yang menjalar ke pindak kiri
dan lengan bagian atas, terutama bila berjalan atau sesudahnya ; nyeri tersebut akan
hilang bila berhenti dan istirahat.
Tindakan umum untuk mengurangi serangan angina adalah berupa tindakan :
- tidak merokok (karena merokok dapat menciutkan pembuluh) dan diet (kolesterol
dan lemak)
- menghindari beban fisik maupun mental
- berolah raga, sekurang – kurangnya jalan kaki selama 1 jam sehari guna
memperbaiki sirkulasi di jantung
- mengobati hipertensi
(c) Aritmia
Adalah gangguan ritme berupa kelainan dalam frekwensi (kecepatan) denyut jantung
karena serambil (atrium) dan bilik (ventrikel) berdenyut lebih cepat (tachycardia) atau
lebih lambat (bradycardia) dari normal. Dapat pula karena terjadinya kekacauan
dalam ritme (irama) denyutan jantung, misalnya vibrasi (flutter), getaran (fibrilasi)
ataupun extrasistole.
Heartblock merupakan suatu jenis aritmia yang disebabkan oleh gangguan penyaluran
listrik dari serambi kanan ke bilik kiri. Terapinya adalah dengan pacemaker, yaitu
suatu alat kecil yang dapat mengirimkan impluls – impuls listrik ke jantung guna
menormalisir frekwensi kontraksinya.

2
(d) Dekompenasi Jantung
Adalah keadaan dimana sirkulasi darah jantung dan cardiac output menurun, misalnya
akibat infark atau katup – katup jantung yang tidak bekerja sempurna, atau karena
proses penuaan.
Gejalanya adalah sukar bernafas bila berbaring (dyspnea), muka membiru (cyanosis),
dan oedema.
(e) Shock
Adalah salah satu komplikasi dari infark jantung yang sangat ditakuti karena biasanya
berakibat fatal. Sebanya adalah tachycardia yang hebat, myocarditis dan sebagainya.

2. Penggolongan Obat Jantung


(a) Kardiotonika
Yaitu glikosida – glikosida jantung, yang berkhasiat mempertinggi kontraktilitas
jantung hingga cardiac output (volume menitnya) bertambah, sedangkan denyutnya
dikurangi (efek chronotrop negatif). Disamping itu glikosida jantung ini juga
merintangi sistem penyaluran impuls A-V (atrioventikuler, yakni dari serambi ke
bilik) hingga penyaluran tersebut di perlambat.Kegunaan utamanya adalah pada
kelemahan otot jantung (myocard) yang terjadi pada dekompensasi dan fibrilasi
serambi.

Termasuk kedalam golongan obat ini adalah :


(1) Digitalis folium
Merupakan preparat galenika, berupa tinctura digitalis, yang diperoleh dari
digitalis pupurea dan digitalis lanata. Daun digitalis mengandung dua glikosida
yaitu lanatosida A dan Lanatosida B. Sedangkan digitalis lanata mengandung zat
ke tiga, yaitu lanatosida C.
Pada terapi dengan digitalis, dikenal dua jenis dosis, yaitu dosis digitalisasi
(selama 1 – 6 hari pertama) dan dosis pemeliharaan. Dosis ini sangat individual,
tergantung apda kepekaan seseorang terhadap glikosida jantung.
(2) Digoksin
Zat ini mulai bekerja setelah 2 – 4 jam dan bertahan sampai 3 hari. Umumnya
diberikan per oral. Dalam hati mengalami biotransformasi menjadi metabolit –
metabolit in aktif yang dileluarkan oleh ginjal. Kinidin dapat memperlambat
eliminasi digoksin, sehingga dosisnya perlu dikurangi hingga setengahnya bila
kedua obat ini digunakan secara bersamaan.
(3) Digitoksin
Zat ini terutama digunakan pada terapi menahun dari dekompensasi. Mulai
kerjanya setelah 1 jam dan bertahan 2 – 3 minggu. Oleh karena itu bahaya
kumulasi lebih besar. Dalam hati diubah menjadi beberapa metabolit aktif, antara
lain digoksin, yang dengan perlahan diekskresi oleh ginjal. Disamping itu juga
mengalami siklus enterohepatik, yang lebih besar dari pada digoksin.
(4) Quabain
Glikosida ini diperoleh dari biji tumbuhan Strophantus gratus. Mulai bekerjanya
setelaj injeksi i.v. adalah lebih kurang 5 menit dan bertahan lebih kurang 24 jam.
Zat ini tidak mengalami biotransformasi dan dikeluarkan dalam kedaaan utuh oleh
ginjal. Juga tidak mengalami siklus enterohepatik, sehingga kemungkinan
kumulasi kecil.
(5) Proscilaridin
Zat ini diperoleh dari glikosida scillaren A yang terdapat dalam umbi tumbuhan
Scilla maritima. Disamping berkhasiat sebagai kardiotonik, zat ini juga bersifat

3
diuretik. Mulai bekerja setelah penggunaan oral adalah lebih kurang satu jam,
lama kerjanya relatif singkat, sehingga risikokumulasi ringan.

(b) Obat – Obat Angina Pectoris


Keadaan kekurangan darah (ischemia) pada angina pectoris dapat diobati dengan
vasodilator – vasodilator arteri jantung dan zat yang mengurangi kebutuhan jantung
akan oksigen. Diobati dengan :
 Vasodilator koroner
Memperlebar arteri jantung, memperlancar pemasukan darah beserta oksigen,
sehingga meringankan beban jantung. Obat pilihan utama untuk serangan akut
adalah nitrogliserin. Obat lainnya adalah Dipiridamol.
 Antagonis – antagonis kalsium
Kalsium merupakan elemen essensial bagi fungsi myocard dan otot polos dinding
arteriole. Pada kadar kalsium intrasel tertentu, sel mulai berkontraksi ; otot jantung
dan arteriole - arteriole menciut (vasokonstriksi).
Antagonis kalsium menghambat pemasukan kalsium ke dalam sel – sel myocard
dan otot polos dinding arteriole, sehingga dapat mencegak kontraksi dan
vasokonstriksi..Termasuk ke dalam antagonis kalsium antara lain Nifedipin,
Diltiazem, Verapamil.
 Beta blockers
Pada reseptor β1 di jantung, berefek inotrop negatif dan efek kronotrop positif, yaitu
mengurangi daya dan frekwensi kontraksi jantung, serta memperlambat penyaluran
impuls pada nosus AV.
Sedangkan pada reseptor β2 di bronchia (juga dinding pembuluh dan usus),
memberikan efek vasokonstriktor. Semua β – blockers dapat digunaan untuk
mengobati angina pectoris, tachy aritmia, hipertensi, infark jantung. Efek samping
dari obat golongan ini adalah :
 dekompensasi jantung, akibat bradycardia, dengan gejala sesak napas
 bronchokonstriksi dengan gejala sesak napas dan serangan serupa asma
 persaaan dingin (pada jari kaki – tangan) dan terasa lemah (akibat
berkurangnya sirkulasi perifer dan oksigen di otot).
 Hipoglikemia
 Efek sentral seperti gangguan tidur dengan mimpi – mimpi ganjil
(nightmare), lesu, bahkan depresi dan halusinasi
 Gangguan lambung dan usus seperti mual, muntah, diare
 Penurunan HDL-kolesterol
Tergolong ke dalam obat ini antara lain Propanolol, Acebutolol

(c) Antiaritmia
Adalah obat – obat yang dapat menormalisasi frekwensi dan ritme pukulan jantung.
Disamping menurunkan frekwensi denyutan jantung (efek chronotrop negatif),
umumnya obat – obatan ini juga mengurangi daya kontraksi jantung (efek inotrop
positif). Berdasarkan mekanisme kerjanya, pengobatan aritmia dibagi 4 golongan,
yaitu :
 Zat – zat dengan daya anestetika lokal, disebut juga efek kinidin atau efek
stabilisasi membran. Zat ini mengurangi kepekaan membran sel – sel jantung
untuk rangsangan dengan jalan menghambat pemasukan ion natrium di
membran dan memperlambat depolarisasinya. Akibatnya ritme dan frekwensi
jantung menjadi normal kembali. Termasuk zat ini adalah kelompok kinidin
dan lidokain.

4
 Zat perintang reseptor β adrenergik atau beta blockers, yang mengurangi
aktivitas saraf adrenergik di otot jantung, sehingga frewensi dan daya
kontraksi jantung menurun. Contohnya Timolol dan Propranolol.
 Zat yang memperpanjang masa refrakter, dengan jalan memperpanjang aksi
potensial. Contohnya Amiodaron dan Sotalol.
 Antagonis kalsium, contohnya Verapamil, Nifedipin, Diltiazem.

3. Zat tersendiri
(a) Digoksin
Indikasi : Payah jantung kronik, payah jantung akut, payah jantung
pada lansia tanpa gangguan ginjal, payah jantung pada
anak – anak, aritmia
Kontra indikasi : Bradikardia, pasien dengan suntikan kalium
Efek samping : Dosis berlebihan berakibat anoreksia, mual, muntah,
disorientasi, ataksia, urtikaria
Sediaan : Tablet 0,25mg

(b) Propranolol
Indikasi : Angina pectoris, tachy aritmia, hipertensi, infark jantung.
Kontra indikasi : Asma, hipotensi
Efek samping : Gangguan saluran cerna, kelemahan otot, lelah.
Sediaan : Tablet

(c) Acebutolol
Indikasi : Angina pectoris, hipertensi, mengontrol aritmia
Kontra indikasi : Shock kardiogenik, asma bronchial, obstruksi paru,
bradikardia
Efek samping : Bradikardia, ekstremitas dingin, mata kering, ruam,
bronkospasme, mialgia
Sediaan : Kapsul, tablet

(d) Verapamil
Indikasi : Angina pektoris, hipertensi
Kontra indikasi : Hipotensi, bradychardia, gagal jantung akut, wanita hamil
dan menyusui
Efek samping : Konstipasi, hipotensi, pusing, sakit kepala, kemerahan
pada wajah, ruam kulit, gangguan lambung
Sediaan : Tablet 80 mg, , kapsul sustained release 240 mg,

(e) Nifedipin
Indikasi : Digunakan untuk profilaksis dan terapi angina pectoris.
Mekanisme : Zat ini mencegah transpor ion kalsium ke dalam otot
kerja jantung dan otot dinding pembuluh dengan efek
vasodilatasi, sehingga pemasukan oksigen ke myocard
bertambah. Nifedipin mengalami perombakan di hati
menjadi metabolit in aktif. Dan 75 % pengeluarannya
melalui kemih
Kontra indikasi : Hipotensi, glaucoma, anemia
Efek samping : udema pada mata kaki. Pada dosis awal yang terlalu tinggi
dapat menyebabkan hipotensi, menyebabkan serangan
angina dan kadang – kadang infark.
5
Interaksi obat : Efek hipotensi diperkuat oleh adanya alkohol, anti
hipertensi, antidepresan dan narkotika.
Sediaan : Tablet 10 mg, 20 mg, 40 mg ; tablet sub lingual 5mg ;
injeksi 10 mg / 10 ml ; aerosol 17 g

(f) Diltiazem
Indikasi : Angina pectoris, hipertensi
Kontra indikasi : Hipotensi, wanita hamil / menyusui, gagal jantung
kongestif.
Efek samping : Konstipasi, hipotensi, pusing, sakit kepala, kemerahan
pada wajah, ruam kulit, gangguan lambung
Sediaan : Kaplet / tablet salut selaput 30 mg ; tablet 60 mg ; injeksi
10 mg, 50 mg.

(g) Isosorbid Dinitrat


Indikasi : Angina pektoris, infark jantung
Kontra indikasi : Hipotensi, shock kardiogenik
Efek samping : Sakit kepala
Sediaan : Tablet sub lingual

(h) Dipyridamol
Indikasi : derivat dipiperidino ini berdaya vasodilatasi terhadap
arteri jantung. Berkhasiat inotrop positif lemah tanpa
menaikkan penggunaan oksigen.
Digunakan untuk insufisiensi jantung, myocardial, angina
pectoris
Kontra indikasi : -
Efek samping : nyeri kepala, palpitasi dan gangguan lambung
Interaksi obat : Golongan xantine dapat menghilangkan efek vasodilatasi
Sediaan : Tablet salu selaput 25 mg

(i) Dopamin
Indikasi : Payah jantung akut, penunjang pada pengobatan dengan
diuretika.
Kontra indikasi : Phaechromocytoma, hipertropi ventrikel kiri,
Efek samping : Mual, muntah, aritmia
Sediaan : Injeksi

(j) Nitroglyceryl
Indikasi : mengontrol hipertensi sebelum, selama dan sesudah
operasi ; gagal jantung kongestif yang berhubungan
dengan infar myocard ; mengontrol hipotensi.
Efek pada penggunaan secara sub lingual sangat cepat
( lebih kurang setelah 1 – 3 menit).
Kontra indikasi : hipotensi, idiosinkrosi, anemia, hipoksemia arteri
Efek samping : perasaan nyeri di kepala dan tachycardia ringan, pada
dosis yang besar jantung berdebar, pusing, penglihatan
buram lalu menjadi pucat. Jika efek ini terjadi, maka
pasien harus mengeluarkan sisa tablet dari mulut dan
segera berbaring.
Interaksi obat : efek hipotensi ditingkatkan oleh alkohol, β-blocker, anti

6
hipertensi. Meningkatkan efek anti histamin, anti
kolinergik.
Sediaan : kapsul 5 mg, injeksi 50 mg / 10 ml

4. Spesilite :
NO. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
1. Digoksin Lanoxin 0,25mg / tablet Glaxo-Wellcome
Fargoxin Fahrenheit

2. b-Metil Digoxin Lanitop 0,1mg / tablet Rajawali Nusindo

3. Digoksin Lanoxin 0,25mg / tablet Glaxo-Wellcome


Fargoxin Fahrenheit

4. Nifedipine Adalat 10mg, 20mg, 30mg / tablet Bayer

5. Diltiazem Herbesser 30mg, 60mg / tablet Tanabe-Abadi


90mg, 180mg / kapsul

6. Isosorbid Dinitrate Cedocard 5mg, 10mg, 20mg / tablet Darya-Varia

7. Dipyridamol Persantin 25mg, 75mg / tablet Boehringer

8. Glyceryl Trinitrate Glyceryl Trinitrate DBL 50mg / 10ml ampul Tempo Scan
Pacific

9. Nitrogliceryn Nitradisc Tetes : 5mg, 10mg / 24 jam Soho

NO. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen


10. Propranolol HCl Inderal 10mg, 40mg / tablet Zeneca

11. Acebutolol Corbutol 400mg / tablet Otto

12. Verapamil HCl Isoptin 80 mg / dragee Tunggal

13. Quinidine Sulfate Sulfas Chinidin 100mg / tablet Kimia Farma

14. Dopamin Cetadop 10mg, 40mg / ml ampul Ethica

Doperba 40mg / ml ampul Kalbe Farma

Proinfark 20 mg / ml ampul Phapros

B. Antihipertensi

1. Pendahuluan
Tekanan darah ditentukan oleh 2 faktor, yaitu :
(a) Curah jantung
Ialah hasil kali denyut jantung dan isi sekuncup jantung. Besarnya isi sekuncup
ditentukan oleh kekuatan kontraksi otot jantung dan volume darah yang kembali
ke jantung.

7
(b) Resistensi perifer
Adalah gabungan tekanan otot polos arteri dan viskositas darah. Resistensi
disebabkan oleh berkurangnya elastisitas dinding pembuluh darah akibat adanya
arteriosclerosis yang terjadi karena meningkatnya usia atau karena pengendapan.

Ada 2 macam tekanan darah, yaitu :


(a) Tekanan darah sistolik
Adalah tekanan darah yang terjadi pada saat jantung berkontraksi. Tekanan ini
selalu lebih besar dari tekanan diastolik
(b) Tekanan darah diastolik
Adalah tekanan darah yang terjadi pada saat jantung berelaksasi (mengembang)
Tekanan darah dinyatakan dengan satuan mm Hg, misalnya 150 / 80 mm Hg, artinya
tekanan daras sistolik 150 dan tekanan darah diastolic 80 mm Hg.
Tabel tekanan darah menurut WHO :
Jenis tekanan darah Sistolik Diastolik
Normotensi < 140 < 90
Borderline 140 – 160 90 – 95
Hipertensi > 160 > 95
Dikatakan hipertensi bila ada peningkatan tekanan (lebih besar dari normal) darah sistolik
atau diastolik yang kronis.
Tekanan darah tubuh diatur oleh Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAAS).
Hormon renin dihasilkan oleh ginjal. Bila aliran darah dalam glomeruli berkurang, ginjal
akan melepaskan renin. Dalam plasma renin bergabung dengan protein membentuk
Angiotensin I yang oleh enzim ACE (Angiotensin Converting Enzyme) dirubah menjadi
Angiotensin II, yang aktif dan bersifat vasokonstriksi dan menstimulir hormon aldosteron
yang mempunyai efek retensi air dan garam, sehingga volume darah bertambah,
mengakibatkan tekanan darah meningkat.
Disamping RAAS, tekanan darah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain :
(a) Volume denyut jantung : makin besar volume denyut jantung, tekanan darah makin
tinggi.
(b) Elastisitas dinding arteri : makin kurang elastis, tekanan darah makin tinggi.
(c) Neurohormon (adrenalin dan noradrenalin) : lepasnya neurohormon dirangsang
oleh emosi, gelisahm stress, takut, marah, lelah atau rokok. Neurohormon bersifat
vasokonstriksi perifer sehingga tekanan darah naik.
Tekanan darah tinggi bukanlah penyakit, tapi hanya kelainan atau gejala yang disebabkan
oleh penyakit ginjal, penciutan aorta atau tumor pada anak ginjal (menyebabkan produksi
hormon berlebihan), yang mempunyai efek adanya gangguan pada sistem regulasi tekanan
darah. Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya disebut hipertensi essensial.
Hipertensi mengakibatkan resiko besar seperti kerusakan jantung (infark jantung),
pembuluh darah (bila pembuluh darah di otak pecah dapat menyebabkan infark otak
sehingga badan menjadi lumpuh separuh), kerusakan ginjal, selapu mata dan komplikasi
lain. Faktor lain yang menyebabkan hipertensi :
(a) Garam, ion Na+ bersifat retensi air sehingga memperbesar volume darah, juga
memperkuat noradrenalin, dengan demikian memperkuat vasokonstriksi.
(b) Asam glizirizat (yang terkandung dalam succus), dapat mempertinggi tekanan
darah pada orang tertentu.
(c) Hormon estrogen dalam pil KB bersifat menahan air dan garam, demikian juga
hormon androgen.

8
(d) Stress (ketegangan emosional) akibat pelepasan hormon adrenalin yang bersifat
vasokonstriktif
(e) Kehamilan
Gejala hipertensi :
Gejala yang khas tidak ada, penderita kadang – kadang hanya merasa nyeri kepala pada
pagi hari sebelum bangun tidur, tetapi setelah bangun rasa nyeri akan hilang.

2. Macam – Macam Hipertensi


Berdasarkan etiologi, hipertensi dibagi dua yaitu :
(a) Hipertensi essensial atau hipertensi primer, disebut juga hipertensi isiopatik, yaitu
hipertensi yang tidak jelas penyebabnya. Hipertensi ini merupakan 90% dari kasus
hipertensi. Faktor yang mempengaruhinya antara lain usia, jenis kelamin,
merokok, kolesterol, berat badan dan aktifitas renin plasma.
(b) Hipertensi sekunder, prevalensi hipertensi ini hanya 6 – 8 % dari seluruh penderita
hipertensi. Disebabkan oleh penyakit, obat, dll. Yang disebabkan oleh penyakit
ginjal disebut hipertensi renal, sedangkan yang disebabkan oleh penyakit endokrin
disebut hipertensi endokrin. Sedangkan obat – obat yang dapat menyebabkan
hipertensi misalnya hormon kontrasepsi, hormon kortikosteroid, antai depresan,
dll.

3. Pencegahan
Berhubung gejala khas tidak ada, sedangkan hipertensi beresiko besar, maka perlu
mengenal lebih awal gangguan ini, yaitu dengan mengukur tekanan darah secara berkala
(minimal sekali dalam satu tahun), terutama bagi yang sudah berusia 45 tahun ke atas.
Beberapa tindakan umum yang perlu dilakukan oleh pasien meskipun hanya
menderita hipertensi ringan antara lain :
(a) Bagi yang obesitas : menurunkan berat badan, sebab dengan menurunkan berat
badan, volume darah juga akan berkurang. Penurunan berat badan 1 kg akan
menurunkan tensi darah lebih kurang 0,5 / 0,7 mm Hg.
(b) Diet garam : maksimum 2 gram per hari. Mengurangi konsumsi lemak termasuk
daging, sebaliknya memperbanyak konsumsi makanan nabati.
(c) Tidak merokok, mengurangi minum kopi dan alkohol, sebab nikotin mempunyai
efek vasokonstriksi dan karbondioksida dalam asap rokok mengganggu
pernafasan. Kafein dapat menstimulir kontraksi jantung. Demikian pula alkohol,
karena tiap 10 gram alkohol dapat meingkatkan 0,5 mm Hg tekanan darah.
(d) Istirahat yang cukup
(e) Olah raga teratur, dapat merangsang saraf parasimpatis untuk lebih aktif sedangkan
saraf simpatis yang mempunyai efek vasokonstriksi kurang aktif.

4. Pengobatan
Prinsip pengobatan hipertensi adalah menurunkan tekanan darah, bila mungkin
sampai pada tekanan normal atau pada tekanan yang tidak mengganggu fungsi ginjal, otak
dan jantung. Ada dua cara pengobatan hipertensi, yaitu terapi farmakologi dan terapi non
farmakologi.
Terapi non farmakologi, adalah terapi tanpa menggunakan obat – obatan,
misalnya dengan m,enurunkan berat badan, diet garan dan sebagainya (lihat tindakan
umum).
Terapi farmakologi, ialah cara bertahap (stepped care = SC), ada empat tahap, yaitu :
(a) Tahap pertama, dengan satu obat diuretika tiazida atau beta bloker dengan dosis
kecil kemudian dosis dinaikkan.
(b) Tahap kedua, dengan dua obat : diuretika tiazida dan alfa atau beta bloker

9
(c) Tahap ketiga, dengan tiga obat : diuretika tiazida dan beta bloker dan vasodilator
(biasanya Hidralazin) atau penghambat ACE
(d) Tahap keempat, dengan empat obat : diuretika tiazida, beta bloker, vasodilator dan
guanetidin atau penghambat ACE

5. Penggolongan Obat Hipertensi


Tekanan darah ditentukan oleh volume menit jantung dan daya tahan dinding
arteriol, yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

TD = tekanan darah
TD = VM x DTP VM = volume menit jantung
DTP = daya tahan perifer

Dari rumus di atas, tekanan darah dapat diturunkan dengan mengurangi VM atau
DTP. Obat – obat hipertensi bekerja atas dasar prinsip tersebut.
Penurunan VM dilakukan dengan blokade reseptor beta jantung dan dengan
mengecilkan volume darah oleh diuretika.
Penurunan DTP diatur oleh faktor yang bekerja melalui susunan saraf sentral
maupun perifer. Sedangkan zat –zat vasodilatasi bekerja langsung terhadap perifer diluar
sistem adrenergik. Menurut zat khasiat farmakologinya, anti hipertensi dibagi atas :
(a) Zat – zat penekan SSP, misalnya reserpin
(b) Zat – zat penekan sistem adrenergik perifer, misalnya Propanolol
(c) Zat – zat diuresis, lebih praktis bila diberikan dalam bentuk long acting atau dosis
tunggal, misalnya Klortalidon
(d) Zat – zat vasodilator, misalnya Hidralazin
(e) Zat – zat antagonis kalsium, misalnya Nifedipine
(f) Zat –zat ACE bloker dan Angiotensin II antagonis, misalnya Losartan K dan
Captopril

6. Penggunaan
Kebanyakan obat hipertensi bekerja lambat, efeknya baru terlihat setelah beberapa
hari, sedangkan efek maksimal setelah beberapa minggu. Obat – obat dengan plasma t ½
antara 2 – 5 jam efek hipotensinya dapat bertahan sampai 20 jam, misalnya Reserpin,
Metildopa, Hidralazin, Propanolol dan Metoprolol. Kombinasi antara obat – obat tersebut
menghasilkan potensiasi, dengan demikian dosis dapat diturunkan dan efek samping lebih
ringan. Obat – obat dengan titik kerja sama (termasuk dalam satu kelompok) jika
dikombinasikan tidak menghasilkan potensiasi.

7. Efek Samping
Semua obat hipertensi menimbulkan efek samping seperti hidung tersumbat
(karena vasodilator mukosa), mulut kering, rasa letih dan lesu, gangguan lambung-usus
(mual, diare), gangguan penglihatan dan bradycardia (terkecuali Hidralazin yang justru
menyebabkan tachycardia).
Waktu menelan obat sebaiknya pada pagi hari setelah makan, sebab tekanan darah
paling tinggi pada pagi hari. Dosis pemberian obat maupun penghentian sebaiknya secara
berangsur, ini untuk menghindari penurunan dan kenaikan drastis.

8. Obat – Obat Tersendiri :


(a) Labetolol
Indikasi : Hipertensi sedang sampai berat
Kerjanya : Merupakan derivat Salbutamol dengan kerja yang cepat

10
setelah 2 – 4 jam. Efek menguat dengan meningkatnya
dosis. Obat ini dapat diberikan pada wanita hamil
Efek samping : Hidung tersumbat, gangguan gastrointestinal, letih, lemah,
kejang dan hipotensi ortistatik.
(b) Klonidina
Indikasi : Semua bentuk hipertensi
Kontra indikasi : Sick-sinus syndroma
Mekanisme : Merupakan turunan imidazol yang kerjanya kuat
kerja berdasarkan efek adrenolitik sentral. Dalam dosis kecil
bersifat vasokonstriksi perifer
Sediaan : Injeksi 0,15 mg/ml
(c) Metildopa
Indikasi : Hipertensi ringan sampai sedang
Mekanisme kerja : Bekerja kuat pada SSP dengan stimulasi reseptor pusat
vasomotor, sehingga menekan saraf adrenergik perifer.
Kontra indikasi Hepatitis, sirosis hati
Efek samping :
Interaksi obat : Sering dikombinasi dengan diuretik.
Sediaan : Tablet salut selaput 250 mg
(d) Hidralazin
Indikasi : Semua tingkatan hipertensi
Mekanisme Mempunyai efek vasodilatasi langsung terhadap dinding
kerja arteri.
Kontra indikasi : Hipotensi
Efek samping : Gangguan lambung-usus, nyeri kepala dan tachycardia.
Pada penggunaan dosis tinggi yang lama berakibat borok
kulit dan habituasi.
Sediaan : Tablet
(e) Reserpin
Adalah salah satu alkaloida dari Rauwolfia serpentina
Indikasi : Hipertensi ringan dan sedang
Mekanisme : Efek supresi yang tidak begitu kuat terhadap SSP. Plasma
kerja t ½ pendek, yaitu ¼ sampai 3 jam, tetapi efek hipotensi
bertahan sampai 36 jam, sebab dapat terakumulasi.
Efek samping : Depresi psikis dan hipotensi ortostatik, pada permulaan
pengobatan timbul gangguan lambung, lelah, mengantuk
dan hidung tersumbat.
Interaksi obat : Gagal ginjal dan hati, hipokalsemia
Sediaan : Tablet 0,1 mg
9. Spesialite
NO. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
1. Kaptopril Capoten Tablet 12,5mg ; 25mg; Bristol Myers
50mg
2. Klonidin Catapres Injeksi 0,15mg/ml ; Boehringer
tablet 0.075mg, 0.15mg

3. Metildopa Dopamet Tablet 250mg Alpharma

4. Labetolol Trandate Tablet 50mg ; 100mg Glaxo Wellcome

5. Atenolol Betablok Tablet 50mg; 100mg Kalbe Farma


Internolol Interbat

6. Atenolol HCl + Tenoretic Tiap tablet :Atenolol 50mg, Astra Zenecca


11
Klortalidon klortalidon 25mg

NO. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen


7. Reserpin + Hidralazin Ser-ap-es Tiap tablet : Reserpin 0,1mg Novartis
hidralazin HCl 25 mg

8. Prazosin HCl Minipress Tablet 1mg, 2mg Pfizer

9 Reserpin Serpasil Tablet 0,25mg ; 0,1mg Novartis


Resapin Soho

10 Propranolol Farmadral Tablet 10mg Fahrenheit


Inderal Astra Zenecca

C. Diuretika
Diuretika adalah zat – zat yeng memperbanyak pengeluaran urine (diuresis)
akibat pengaruh langsung terhadap ginjal. Zat – zat lain yang meskipun juga menyebabkan
diuresis tetapi tidak mempengaruhi ginjal secara langsung, adalah :
a. Obat – obat yang memperkuat kontraksi jantung, misalnya Digitalis, Teofilin, dll.
b. Zat – zat yang memperbesar volume darah, seperti Plasma, Dextran
c. Zat yang merintangi sekresi hormon anti diuretik, misalnya air, alkohol, dan larutan
– larutan hipotonik.
Fungsi utama ginjal adalah memelihara kemurnian darah dengan jalan
mengeluarkan semua zat asing dan sisa metabolisme dalam darah. Disamping itu
berperan juga memelihara homeostatis, yaitu keseimbangan dinamis antara cairan intra dan
ekstra sel, serta memelihara volume total dan susunan cairan ekstra sel.
Proses diuresis dimulai dengan proses filtrasi yang terjadi di glomeruli, yang
hasilnya berupa ultra filtrat (mengandung air dan elektrolit), ditampung pada kapsul
Bowman yang terdapat disekeliling glomeruli. Kemudian disalurkan ke kandung kemih
dengan melintasi saluran – saluran seperti tubuli proksimal, lengkung Henle, tubuli distal
dan saluran pengumpul (ductus colligens). Pada tiap saluran yang dilewati, terjadi
reabsorpsi zat tertentu.

Gambar : Nefron dan tempat kerja diuretika di tubuli

1. Mekanisme Kerja

12
Kebanyakan diuretika bekerja dengan mengurangi reabsorpsi ion – ion Na+,
sehingga pengeluarannya bersama air diperbanyak. Obat ini bekerja khusus terhadap tubuli
ginjal pada tempat yang berlainan, yaitu :
(a) Pada tubuli proksimal, disini 70% ultra filtrat diserap kembali (Glukosa, Ureum,
ion Na+ dan Cl- ). Filtrat tidak berubah dan tetap isotonik terhadap plasma. Diuretik
osmotik (Manitol, Sorbitol, Gliserol) juga bekerja di tempat ini dengan mengurangi
reabsorpsi ion Na+ dan Cl- .
(b) Pada lengkungan Henle (Henle’s loop), di sini 20% ion Cl- diangkut secara aktif ke
dalam sel tubuli dan disusul secara pasif oleh ion Na+, tetapi tanpa air, sehingga
filtrat menjadi hipotonik terhadap plasma. Diuretika lengkungan (diuretika kuat
seperti Furosemida, Bumetamida, Asam Etakrinat) bekerja di sini dengan
merintangi transpor Cl- .
(c) Pada tubuli distal bagian depan ujung Henle’s loop dalam cortex, di sini ion Na+
diserap kembali secara aktif tanpa penarikan air, sehingga filtrat menjadi lebih cair
dan lebih hipotonik. Saluretika (zat –zat Thiazida, Klortalidon, Mefruzida dan
Klopamida) bekerja di sini dengan merintangi reabsorpsi ion Na+ dan Cl- .
(d) Pada tubuli distal bagian belakang, di sini ion Na+ diserap kembali secar aktif, dan
terjadi pertukaran dengan ion K+, H+ dan HH4+. Proses ini dikendalikan oleh
hormon anak ginjal aldosteron. Zat – zat penghemat kalium (Spirolanton,
Thiamteren dan Amilorida) bekerja di sini dengan mengurangi pertukaran ion K+
dengan ion Na+, dengan demikian terjadi retensi kalium (antagonis aldosteron).
Reabsorpsi air terutama berlangsung di saluran pengumpul (ductus colligens), dan
di sini bekerja hormon anti diuterik (vasopresin).

2. Penggolongan
Diuretika dapat di bagi atas dua golongan, yaitu :
(a) Diuretika dengan kerja umum
Berdasarkan daya diuretiknya, diuretik kerja umum dapat dibagi 3 golongan :
 Berdaya kerja kuat (diuretika lengkungan), misalnya Furosemida, Bumetanida
dan Asam Etakrinat. Diuretika ini bekerja cepat tetapi singkat, hanya 4 - 6
jam. Lebih kurang 20% dari jumlah ion Na+ dalam filtrat diekskresi.
Digunakan dalam keadaan akut, misalnya pada udema otak atau paru – paru.
 Berdaya kerja sedang (saluretika), misalnya Hidroklorthiazida, Klortalidon,
Klopamida, Indapamida. Mengekskresi 5% - 10% ion Na+ dalam tubuli distal
bagian depan. Digunakan pada terapi pemeliharaan hipertensi atau bermacam
– macam udema.
 Berdaya kerja lemah (diuretika hemat kalium), misalnya Spironolakton,
Amilorida dan Traimteren. Hanya sedikit mengekskresi ion Na+ (kurang dari
5%) pada tubuli distal bagian atas.

(b) Diuretika dengan kerja khusus


Di bagi 2 kelompok, yaitu ;
 Diuretika osmotika, misalnya Manitol, Sorbitol, Gliserol dan Ureum.
Reabsorpsinya bersifat non elektrolit dan tidak lengkap, dengan demikian
tekanan osmotik ultra filtrat dipertinggi dan kadar Na menurun dalam cairan
tubuh.
Kejelekan diuretika ini adalah :
Ureum : daya kerja lemah, rasa tidak enak, menyebabkan gangguan usus
Manitol dan Sorbitol, hanya dapat digunakan secara parenteral (i.v) dan dapat
menyebabkan udema paru – paru.
Penggunaan kelompok diuretika ini sudah terdesak oleh Furosemida.
13
 Perintang karbo – anhidrase, misalnya Asetazolamida dan Diklofenamida,
bekerja dengan merintangi enzim karbo-anhidrase di sel – sel tubuli, sehingga
ion – ion HCO3-, Na+ dan K+ diesksresi bersama air. Penggunaan sekarang
hanay pada glaukoma, untuk mengurangi produksi cairan dalam mata.

Obat – obat lain yang mempunyai efek samping diuresis karena mempertinggi
filtrasi glomeruli dengan beberapa cara, yaitu :
1. Mempertinggi volume menit jantung, misalnya Digitalis
2. Memperbesar volume darah, seperti plasma
3. Vasodilatasi di dalam ginjal, misalnya Teofilin

3. Penggunaan
Diuretika digunakan pada keadaan dimana dikehendaki pengeluaran urine lebih
banyak, terutama pada :
(a) Udema
Yaitu suatu keadaan kelebihan air dijaringan, misalnya pada dekompensasi jantung
setelah infark, dimana sirkulasi darah tidak berlangsung sempurna lagi, dan air
tertimbun di paru – paru ; atau pada ascites (busung perut) dimana air tertimbun di
dalam rongga perut ; atau pada penyakit – penyakit ginjal.
(b) Hipertensi
Untuk mengurangi volume darah agar tekanan menurun. Diuretika mempunyai
sifat memperkuat obat – obat hipertensi sehingga sering dikombinasi dengan obat –
obat tersebut.
(c) Diabetes inspidus
Produksi air kemih berlebihan, dalam hal ini diuretika justru mengurangi poliurea.
(d) Batu ginjal
Untuk membantu mengeluarkan endapan kristal dari ginjal dan saluran kemih.

4. Efek Samping
Efek samping yang sering timbul adalah :
(a) Hipokalemia, yaitu kekurangan kalium dalam darah. Disebabkan oleh diuretika
yang bekerja pada tubuli distal bagian depan memperbesar eksksresi ion K+ dan H+
yang ditukar dengan ion Na+.
(b) Hiperurikemia, disebabkan oleh adanya saingan antara diuretika dengan asam urat
pada transportasi di tubuli. Dapat dicegah dengan pemberian Allupurinol dan
Probenesid.
(c) Hiperglikemia, yaitu meningginya kadar kolesterol dan trigliserida disebabkan
karena menurunnya kadar HDL terutama oleh Klortalidon. Kecuali Indapamin
tidak mempengaruhi lipida.
(d) Hipoatremia dan alkalosis, terutama oleh diuretika kuat sehingga kadar Na+ dalam
plasma menurun drastis. Disamping itu juga meningkatkan ekskresi asam, sehingga
terjadi alkalosis. Gejalanya : gelisah, kejang otot, haus, letargi (selalu mengantuk
dan kolaps). Berkurangnya ion Na+ dan K+ dapat menyebabkan hipotensi.
Furosemida dan Asam Etakrinat dapat pula menyebabkan alkalosis, karena
banyaknya pengeluaran ion Cl-.
(e) Gangguan lain, pada lambung, usus, mual, muntah, diare, rasa letih, nyeri kepala,
dan pusing.

5. Obat Tersendiri
(a) Amilorida
Indikasi : Udema dan hipertensi apabila hipokalemia sulit dihindarkan

14
dengan kalium tambahan
Mekanisme kerja : Turunan Triamterene ini bekerja lambat (setelah 6 jam),
efeknya bertahan selama 24 jam.
Kontra indikasi : Gagal ginjal kronik dan akut, anuria, hiperkalemia, anak –
anak , pasien yang sedang diobati dengan diuretika hemat
kalium.
Efek samping : Fotosensibilisasi, impotensi (jarang terjadi)
Sediaan : Tablet 50 mg (Lorinid®)
(b) Furosemida
Indikasi : Efektif pada udema otak dan paru – paru yang akut,
insufisiensi ginjal dan hipertensi, keracunan barbiturat
(diuresis paksa)
Mekanisme kerja : Merupakan diuretika kuat, bekerja pada Henle’s loop. Efek
per oral cepat (1/2 – 1 jam), bertahan selama 4 – 6 jam.
Kontra indikasi : Anuria, nefritis akut.
Efek samping : Gangguan saluran cerna (mual dan mulut kering), pada
injeksi i.v. yang terlalu cepat dapat terjadi ketulian (jarang
terjadi), hipotensi
Sediaan : Injeksi, tablet
(c) Hidroklortiazida
Sering dipakai dalam kombinasi dengan anti hipertensi yang berhubungan dengan
berkurangnya volume plasma dan penurunan daya tahan dinding pembuluh. Titik
kerja pada tubli distal bagian depan. Efek setelah 1 jam, bertahan selama 12 – 18
jam.
(d) Glukosa
Diuretika terhadap udema otak dan paru – paru.

(e) Asam Etakrinat


Indikasi : Efektif pada udema otak dan paru – paru yang akut.
Digunakan juga pada insufisiensi ginjal dan hipertensi.
Mekanisme kerja : Merupakan diuretika kuat, bekerja pada Henle’s loop. Efek
per oral cepat (1/2 – 1 jam), bertahan selama 6 – 8 jam.
Kontra indikasi : Tidak boleh diberikan pada anak – anak dibawah 2 tahun dan
pada wanita hamil / menyusui.
Efek samping : Gangguan lambung
Sediaan :
(f) Klortalidon
Indikasi : Udema yang disebabkan gangguan fungsi hati, ginjal,
jantung. Sering juga dipakai dalam kombinasi dengan anti
hipertensi yang berhubungan dengan berkurangnya volume
plasma dan penurunan daya tahan dinding pembuluh.
Mekanisme kerja : Titik kerja pada tubli distal bagian depan. Efek setelah 2 jam,
bertahan selama 24 – 48 jam.
Kontra indikasi : Insufisiensi ginjal, aterosklerosis koroner atau otak. Hati –
hati pada penderita diabetes mellitus.
Efek samping :
Sediaan : Tablet
(g) Spironolakton
Indikasi : Daya diuresisnya lemah, karena itu digunakan sebagai
kombinasi bersama diuretik umum. Penggunaannya pada
hipertensi essensial, udema pada payah jantung kongestif

15
Mekanisme kerja : Merupakan penghambat aldosteron, mulai kerja lambat
(sesudah 2 – 4 jam), efek bertahan selama beberapa hari
setelah pemberian dihentikan. Termasuk diuretika hemat
kalium.
Kontra indikasi : Hiperkalemia, gagal ginjal parah
Efek samping : Berupa umum, pada penggumaan yang lama dapat
menimbulkan impotensi (pada pria) dan nyeri payudara dan
gangguan haid (pada wanita)
Sediaan : Tablet
(h) Triamterene
Kerjanya mirip spironolakton, menghambat pertukaran ion Na+, K+ dan H+ dalam
tubuli distal. Efeknya setelah 2 – 4 jam, bertahan selama 8 jam.
(i) Asetazolamida
Indikasi : Jarang digunakan sebagai diuretika. Hanya digunakan untuk
mengurangi sekresi cairan dalam mata untuk menurunkan
tekanan intra okuler (pada kasus glaukoma)
Mekanisme kerja : Kerjanya sebagai perintang enzim karbo-anhidrase, ekskresi
ion Na+, K+ dan bikarbonat bertambah.
Kontra indikasi : Disfungsi ginjal dan hati,tTidak dianjurkan penggunaannya
pada wanita hamil

Efek samping :
Sediaan : Tablet
(j) Kaptopril
Indikasi : Hipertensi, gagal jantung
Kontra indikasi : Tidak dianjurkan penggunaannya pada wanita hamil karena
dapat berakibat kelainan pada fetus.
Efek samping : Ruam kulit, pruritus, fotosensitif, sakit kepal, pusing, mual,
insomnia
Sediaan : Tablet

6. Spesilaite
No. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
1 Spironolakton Spirolacton Tablet 25 mg Phapros
Letonal Tablet 25mg; 100mg Otto

2 Hidroklortiazida Tenazide Tablet 25mg Combiphar


Capozide Tablet 12,5mg Bristol M

3 Klortalidon Hygroton Tablet 50mg Novartis

4 Furosemida Furosemida Tablet 40mg Kimia Farma


Uresix 20mg/2ml ampul, 250mg/25 ml Sanbe Farma
infus
Lasix 10mg/ml injeksi, tablet 40mg Aventis
Impugan Dumex

5 Asetazolamida Diamox Lederle

Kaptopril Capoten Tablet 12,5mg; 25mg; 50mg Bristol M.


Vapril Tablet 12,5mg; 50mg Phapros

16
D. Hematinika
1. Pendahuluan
Hematinika atau obat-obat pembentuk darah yaitu obat-obat yang khusus
digunakan untuk merangsang atau memperbaiki proses pembentukan sel darah merah
(erythropoesis).
Sel darah merah dibentuk dalam sumsum tulang yang pipih. Untuk itu dibutuhkan
zat besi, vitamin B12 dan asam folat. Zat besi untuk membentuk hemoglobin, vitamin B12
dan asam folat untuk membentuk sel darah merah. Zat tersebut diperoleh dari makanan dan
ditimbun dalam jaringan, terutama hati dan sumsum tulang. Vitamin B12 dapat disintesa
dalam usus besar dalam bakteri tetapi tidak dapat untuk memenuhi kebutuhan tubuh, sebab
vitamin ini terikat dengan protein dan penyerapannya berlangsung dalam ileum.
Anemia adalah keadaan dimana kadar Hb dan atau eritrosit berkurang. Orang
dikatakan menderita anemi bila kadar Hb kurang dari 8 mmol/liter pada pria
atau 7 mmol/liter pada wanita.

Ada dua jenis anemi yaitu anemi ferriprive dan anemi megaloblaster.
(a) Anemi ferriprive
Disebabkan oleh kekurangan zat besi, dengan tanda-tanda kadar Hb dibawah normal
(hypochrom), eritrosit lebih kecil (microcyter). Anemi ini sering disebut anemi
hypochrom, anemi microcyter atau anemi sekunder.
(b) Anemi megaloblaster
Disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 atau asam folat, dengan tanda-tanda sel darah
merah membesar (macrocyter) dengan kadar Hb normal atau lebih tinggi
(hyperchrom), disebut juga anemi primer. Dalam keadaan yang lebih berat disebut
anemi pernisiosa
(c) Anemia lainnya
Merupakan bentuk anemia serius yang tidak ada hubungannya dengan kekurangan zat
besi atau vitamin. Termasuk kedalam golongan ini adalah :
 Anemia aplastis, yaitu eritrosit atau unsur darah lainnya tidak terbentuk.
Penyebabnya antara lain karena faktor keturunan (disebut juga anemia aplastis
primer atau congenital); rusaknya sumsum tulang akibat efek samping obat seperti
kloramfenikol, karbimazol, sitostatika (disebut juga anemia aplastis sekunder).
 Anemia haemolitis, yaitu eritrosit dirusak, Hb dilarutkan dalam serum dan
diekskresikan lewat urin, misalnyapada malaria tropika.

2. Pengobatan
Berhubung anemi hanya merupakan gejala, maka sebelum melakukan pengobatan
perlu ditentukan lebih dahulu jenis anemi dengan menemtukan kadar zat besi, vitamin B12
dan asam folat dalam darah, agar dapat diberikan terapi yang tepat.
Anemi ferriprive dapat dihilangkan dengan pemberian preparat zat besi,
sedangkan penyebabnya mungkin tetap ada misalnya tumor atau borok lambung yang juga
harus diobati, sebab bila hanya memberi preparat zat besi tanpa mengobati penyebabnya,
anemi tidak akan dapat diatasi. Dalam hal ini pemberian vitamin B 12 atau asam folat tidak
berguna bahkan dapat merugikan, karena menyulitkan diagnosa anemi primer berhubung
megaloblaster lenyap dari sumsum tulang. Pada anemi pernisiosa, asam folat tidak dapat
diberikan

3. Zat – zat anti anemi


(a) Asam folat

17
Sumbernya sayuran berwarna hijau, hati, ragi, buah – buahan. Dalam bahan
makanan tersebut asam folat terdapat dalam senyawa konjugasi (poliglutamat).
Senyawa ini dalam hati akan diuraikan oleh enzim dan direduksi menjadi zat aktifnya
(tetrahidro folic acid). Zat ini untuk sintesa DNA dan RNA serta pembelahan sel.
(b) Zat besi (Fe)
Dalam makanan, zat besi terikat sebagai ferri kompleks, tetapi dalam lambung
diubah menjadi ferro klorida. Resorpsi hanya berlangsung dalam duodenum, dalam
lingkungan asam netral garam ferro lebih mudah larut. Setelah diserap dalam darah ,
maka akan bergabung dalam protein menjadi ferritin yang disimpan sebagai cadangan,
sebagian diangkut ke sumsum tulang, hati dan sel-sel lain untuk sintesa hemoglobin
dan enzim zat besi (metalo enzim). Kebutuhan zat besi sehari 1-2 mg.
Gejala kekurangan zat besi seperti anemi hipokrom, yaitu pucat, letih dan lesu,
jari-jari dingin, jantung berdebar, nyeri lidah, kuku dan kulit keriput. Defisiensi ini
dapat diobati dengan pemberian garam-garam ferro per-oral, misalnya ferro fumarat,
ferro sulfat, ferro klorida, dan lainnya. Pemberian parenteral hanya bila ada kelainan
lambung (perdarahan) atau rangsangan yang hebat. Lagipula ada bahaya over dosis,
sedangkan peroral tidak akan terjadi over dosis sebab ada rintangan kontrol usus,
kecuali pada anak-anak dimana kontrol usus belum sempurna.

(c) Vitamin B12(Cyanocobalamin)


Sumber vitamin ini adalah makanan dari hewani : hati, daging, telur, susus, dalam
bentuk ikatan dengan protein. Kebutuhan orang sehari 2-5 mcg.
Dalam lambung vitamin B12 dilepas dari ikatan kompleksnya dengan protein oleh
HCL yang segera diikat oleh glukoprotein yang disebut instrinsik factor (Castle
1929) yang dihasilkan oleh mukosa lambung bagian dasar. Dengan pengikatan ini zat
tersebut baru dapat diserap oleh reseptor spesifik di usus halus(ileum). Setelah
diserapvitamin B12 diangkut dan ditimbun dalam hati yang secara bertahap dilepas
sesuai kebutuhan tubuh.
Defisiensi vitamin B12 dengan gejala-gejala megaloblaster, nyeri lidah, degenerasi
otak, sumsum tulang, depresi psikis. Pengobatan terutama dengan injeksi, oral
vitamin B12 dengan kombinasi instrinsic factor (serbuk pylorus).

4. Obat – Obat Anti Anemia (hematinika)


No. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
1 Ferrosi sulfas + Ferolat Tiap tablet : Indofarma
Asam Folat Fe.Sulfat eksikatus 200 mg,
asam folat 0,25 mg
2 Cyanokobalamin Vitamin B-12 50mg / tablet IPI
500 g / 5ml ampul Kimia Farma
1000 g / ml vial Soho

3 Fe Fumarat + Vit C Ferofort Per Kapsul : Kalbe Farma


+ Vit. B, dll Ferro Fumarate + Vit.C +
Folic Acid + Vit.B1 +
Vit.B2 + Vit.B6 + Vit.B12
+ Niacinamide + Ca
Panthothenat + Lysin +
Dioctyl Na Sulfasuccinate

Hemafort Per tablet salut gula : Phapros


Ferro Fumarate + Vit.C +
Folic Acid + Vit.B12 +
Mn Sulfate + CuSO4 +
Sorbitol + Intrinsik Factor

18
No. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
4 Fe Sulfat + Asam Iberet - 500 Per Tablet Salu Selaput : Abbot
Folat + Vit C + Fe-Sulfat + Vit.B1 + Vit.B2
Vit. B + Vit.B6 + Vit.B12 + Na
Ascorbate + Niacinamide +
Ca Pantho - thenat

Fe-Sulfat + Vit.A +Vit.B1 +


Vitral Vit.B2 + Vit.B6 + Vit.B12 Darya-Varia
+ Vit.C + Vit.D2 + Vit.E +
Vit.K3 + Nicotin -amide +
Ca Panthothenat + Folic
Acid + Inositol + Cholin +
Dicalcium Phos -phate +
Mg + Cu + F + I + Mn +
Mo + Se + Zn

5 Fe Gluconat + As. Livron B-Plex Per Tablet Salut Gula : Phapros


Folat + Vit. C + Fe-Gluconate + CuSO4 +
Nicotinamida + Vit.C + Folic Acid + Ca
Vit. B-1, B-2, B-5, Panthothenat + Vit.B1 +
B-12 Vit.B2 + Vit.B6 + Vit.B12
+ Nicotinamide + Dried
Liver

6 Fe Gluconat + Vit Sangobion Per Kapsul : Merck


C + Asam Folat Fe-Gluconate + CuSO4 +
Mn Sulfate + Vit.C + Folic
Acid + Vit.B12 + Sorbitol

E. Hemostatika dan Oksitosikum

Hemostatika
Hemostatik adalah zat atau obat yang digunakan untuk menghentikan pendarahan.
Obat-obat ini diperlukan untuk mengatasi pendarahan.
Perdarahan dapat disebabkan oleh defisiensi satu factor pembekuan darah dan dapat
pula akibat defisiensi banyak faktor yang mungkin sulit untuk didiagnosis dan diobati.
Hemostatik dibagi dua, yaitu hemostatik lokal dan hemostatik sistemik.

1. Hemostatik Lokal
Yang termasuk golongan ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa kelompok
berdasarkan mekanisme hemostatiknya :
(a) Absorbable haemostatics
Obat golongan ini menghentikan perdarahan dengan pembentukan suatu bekuan
buatan atau memberikan jaringan yang mempermudah pembekuan bila
diletakkan langsung pada luka. Dengan kontak permungkaan benda asing,
trombosit akan pecah dan membebaskan factor pembekuan. Termasuk golongan
ini spons gelatin dan selulosa oksida (oksisel).

(b) Astringen
Zat ini bekerja dengan memgendapkan protein darah sehingga perdarahan dapat
dihentikan. Contoh : Ferri Klorida, Nitras argenti dan asam tanat.
19
(c) Koagulan
Dapat menimbulkan hemostasis dengan dua cara, yaitu dengan mempercepat
perubahan protrombin menjadi trombin dan secara langsung menggumpalkan
fibrinogen.
(d) Vasokonstriktor
Dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan kapiler dan cara pakainya
dengan mengoleskan kapas yang telah dibasahi dengan obat ini pada
permungkaan luka. Contoh : Epinefrin, Norepinefrin dan Vasoprin.

2. Hemostatik Sistemik
Dengan memberikan transfusi darah, seringkali perdarahan dapat dihentikan segera.
Hal ini terjadi karena penderita mendapatkan semua faktor pembekuan darah yang
terdapat dalam darah transfusi. Keuntungan lainnya ialah perbaikan volume sirkulasi.
Perdarahan yang disebabkan oleh defisiensi factor pembekuan darah tertentu dapat
diatasi dengan menggantikan/memberikan faktor pembekuan yang kurang tersebut.

Zat – zat tersendiri :


1. Faktor antihemofilik (faktor VII)
Berguna untuk mencegah atau mengatasi perdarahan pada penderita hemofilia A
(defisiensi faktor VIII) dan penderita yang darahnya mengandung inhibitor faktor
VIII
2. Kompleks faktor IX
Sediaan ini mengandung faktor II, VII, IX dan X; serta sejumlah kecil protein
plasma lain. Digunakan untuk pengobatan hemofilia B, atau bila diperlukan faktor
- faktor yang terdapat dalam sediaan tersebut untuk mencegah perdarahan. Akan
tetapi karena ada kemungkinan timbulnya hepatitis, sebaiknya preparat ini tidak
diberikan pada penderita non hemofilia. Efek sampingnya berupa trombosis,
demam, menggigil, sakit kepala dan shock anafilaksis.
3. Human fibrinogen
Sediaan ini hanya digunakan bila dapat ditentukan kadar fibrinogen dalam darah
penderita, dan daya pembekuan yang sebenarnya.
4. Vitamin K
Sebagai hemostatik, vitamin K memerlukan waktu untuk menimbukan efek, sebab
vitamin K harus merangsang pembentukan darah terlebih dahulu.
5. Asam aminokaproat
Merupakan competitiv inhibitor dari aktivator plasminogen dan penghambat
plasmin. Plasmin sendiri berperan menghancurkan fibrinogen, fibrin dan faktor
pembekuan darah lainnya. Oleh karena itu asam aminokaproat dapat membantu
mengatasi perdarahan berat akibat fibrinolisis yang berlebihan.
6. Asam traneksamat
Indikasi dan mekanisme kerja yang sama dengan asam aminokaproat, tetapi 10 kali
lebih kuat dengan efek samping lebih sedikit.
7. Karbozokrom
Dapat memperbaiki permeabilitas kapiler dan untuk mencegah dan mengobati
perdarahan kapiler

Spesialite :
No Nama Generik Nama Dagang Bentuk Sediaan Produsen
1. Karbazokrom Adona AC Tablet 10mg Tanabe
Danachrom Dankos
Adrome Landson
20
2. Asam traneksamat Kalnex Kapsul 250mg, tablet salut Kalbe Farma
500mg, injeksi 50mg/ml

Transamin Injeksi 250ng/ml Otto


Tranexamic Harsen

3. Vitamin K-1 Kaywan Tablet 5mg Eisai


(Fitonadion)

4. Vitamin K-3 Kavitin Soho


(menadion)

5. Serbuk faktor VIII Koate-HP Vial 280 UI; 290 UI; 300 UI Dipa
Pharmalab
6. Serbuk kompleks Konyne-80 Vial 20ml 500 UI Dipa
faktor IX Pharmalab

Oksitosik
Oksitosik adalah obat yang merangsang kontraksi uterus. Obat ini berguna dalam
praktek kebidanan.
1. Zat – Zat Tersendiri
(a) Alkaloid Ergot
Sumber alkaloid ergot adalah Claviseps purpurea, suatu jamur yang hidup sebagai
parasit pada tanaman gandum. Khasiatnya yang terpenting adalah stimulus otot
polos, terutama dari pembuluh darah perifer dan rahim, dengan efek vasokonstriksi
dan oksitosik.
Alkaloid – alkaloid ini merupakan turunan asam lisergat, dan dapat dibagi dalam 3
kelompok, yaitu :
 Ergotamin
Indikasi : Meningkatkan kontraksi uterus, migrain
Mekanisme kerja Oksitosik dan vasokonstriksi kuat
Kontra indikasi : Wanita yang habis melahirkan, sepsis, gagal ginjal dan hati
Efek samping : Berdebar, naiknya tekanan darah, perasaan dingin, haus,
muntah, diare
Sediaan : Tablet, injeksi

 Ergometrin
Khasiat vasokonstriksi lebih lemah dari pada ergotamin, namun efek
oksitosiknya lebih kuat. Turunannya metilergometrin, memiliki efek oksitosik
yang lebih kuat dan lebih lama.
Indikasi : Meningkatkan kontraksi uterus, migrain
Kontra indikasi : Wanita yang habis melahirkan, sepsis, gagal ginjal dan hati
Efek samping : Berdebar, naiknya tekanan darah, perasaan dingin, haus,
muntah, diare
Sediaan : Tablet, injeksi

 Ergotoksin
Terdiri dari ergokristin, ergokriptin dan ergokonin. Yang digunakan hanya
derivat dihidro – nya. Terutama digunakan pada gangguan sirkulasi
dipermukaan, hipotensi ringan dan migrain.

(b) Oksitosin

21
Merangsang otot polos uterus dan kelenjar mamae. Fungsi perangsangan ini
bersifat selektif dan cukup kuat.
2. Obat – Obat Oksitosik
No. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
1. Ergometrine Maleate Ermetrine 300mg / tablet Organon

2. Methyl Ergometrine Methergin 0,125mg / dragee Novartis


0,2mg / ml ampul

3. Methyl Ergometrine Methovin 0,125mg/ tablet salut Kimia Farma


Maleate

4. Synthetic Oxytocin Piton S 10 IU / ml ampul Organon

Syntocinon 10 IU / 2 ml ampul Novartis


40 IU / 5 ml vial

Oxytocin S 10 IU / ml ampul Ethica

22