Anda di halaman 1dari 2

Wawasan Dunia Tumpang Tindih

oleh: Imanuel Rahmani

Saya sudah mulai bosan mendengar orang bicara soal politik, ekonomi, dan
apapun yang carut-marut di negara ini. Saat ini sudah terlalu banyak “hakim” yang
suka menghakimi tanpa tahu duduk permasalahan yang sesungguhnya. Saat ini sudah
terlalu banyak orang pintar memainkan internet hingga meraih untung jutaan Rupiah,
dan juga terlalu banyak orang yang hanya meratapi nasib dan memohon belas kasihan
dari orang lain. Semuanya itu terlalu menunjukkan betapa kita selalu mengutamakan
ke”aku”an dalam diri kita. Saat senang, kita akan merasa bagai di awan-awan. Saat
berduka, kita merasa terpendam di lapisan bumi yang paling bawah.
Sekaranglah saatnya kita kembali melibatkan Sang Pencipta kita. Bukan hanya
karena ini bulan yang baik, tapi juga saat ini adalah waktu yang tepat. Saat ini bukan
berarti kemarin atau besok. Saat ini adalah saat dimana Anda berada, apa yang Anda
lakukan, dan bagaimana keadaan Anda. Coba renungkan, kapan terakhir kali Anda
menanyakan pendapat Sang Pencipta Anda tentang apa yang harus Anda lakukan?
Saat Perusahaan Anda mengalami masalah dengan pajak, pasti hal pertama yang
Anda lakukan adalah menanyakan pendapat konsultan pajak. Saat Anda tidak punya
uang, Anda mungkin akan berusaha mencari hutangan. Saat Anda merasa kesulitan
dengan hidup, Anda akan mencari seseorang untuk mencurahkan isi hati. Tapi
pernahkah Anda memakai lutut Anda untuk benar-benar mencari kehendak Sang
Khalik, untuk menanyakan pendapat-Nya?
Saya begitu percaya bahwa sebagian besar dari kita pasti sudah dipengaruhi
berbagai tata pandang dunia yang ada. Naturalis, rasionalis, liberalis, dan kawan-
kawannya. Saya bukannya tidak menghormati pandangan mereka, tapi satu hal yang
menjadi pertanyaan saya, bagaimana bisa pikiran seorang manusia melampaui
seorang Pribadi yang tak terbatas, Yang mengerti segala sesuatu dan mampu
melakukan segala sesuatu. Sebagian besar dari kita akan akan mengatakan,”Tidak
mungkin Anda menghormati pandangan saya bila Anda mencari kelemahan-
kelemahan dari apa yang saya yakini”. Satu hal, saat orang tersebut berpendapat
demikian, maka secara tidak langsung ia juga sedang tidak menghormati pandangan
saya. Dan sebenarnya, pertentangan tata pandang dunia (worldview) tersebut timbul
hanya karena adanya defense mechanism (strategi bertahan) yang secara alami
tertanam dalam diri setiap orang.
Semakin lama kita merenungkan, semakin terungkap kelemahan-kelemahan
manusia yang tidak dapat diatasi oleh manusia, baik oleh dirinya sendiri ataupun
orang lain. Manusia akhir-akhir ini terlalu disibukkan dengan rutinitas yang
memenatkan pikiran, saya pun merasakannya. Sehingga kebanyakan dari kita sudah
lupa akan keindahan hubungan yang akrab dengan Sang Pencipta kita. Kita sudah
kehilangan kepekaan akan suara Tuhan. Buktinya, pada waktu lampau, para Nabi bisa
sedemikian akrabnya bercakap-cakap dengan Sang Pencipta, namun saat ini, untuk
berkomunikasi dengan baik dengan orang lain pun seringkali kita mengalami
kesulitan. Jaman dahulu belum ada teknologi yang memanjakan manusia,
kekeluargaan dan gotong royong masih sangat dijunjung untuk dapat bertahan hidup,
segala sesuatunya masih begitu bersahaja. Bukannya saya seorang konvensionalis
yang tidak mendukung pemikiran futurustik, tapi marilah kita hendaknya mengambil
segi-segi positif dari akar kehidupan lampau untuk dapat kita gunakan kedepan.
Mungkin saya akan membuat istilah baru, konvensiofuturistik.