Anda di halaman 1dari 50

MANAJEMEN ORGANISASI DAN

KEPEMIMPINAN
'TEORI DASAR ORGANISASI', 'LEADERSHIF', 'MANAJEMEN DIRI', 'MANAJEMEN
KONFLIK', 'BIOGRAFI TOKOH', 'BIOGRAFI ORGANISASI', 'SIMBOL ORGANISASI',
'BUDAYA ORGANISASI', 'RESENSI BUKU', 'SISTEM DAN INFORMASI ORGANISASI'
Jumat, 21 Mei 2010
BUDAYA ORGANISASI DALAM RANGKA MENGHADAPI PERUBAHAN
LINGKUNGAN
Pendahuluan
Budaya yang kuat merupakan kunci kesuksesan sebuah organisasi. Budaya organisasi
mengandung nilai-nilai yang harus dipahami, dijiwai, dan dipraktikkan bersama oleh semua
individu/kelompok yang terlibat didalamnya. Budaya organisasi yang berfungsi secara baik
mampu untuk mengatasi permasalahan adaptasi eksternal dan integrasi internal. (Dharma,
2004).
Perubahan di lingkungan eksternal organisasi, antara lain perubahan situasi politik,
ekonomi, sosial serta lingkungan dalam persaingan yang sangat ketat. Perubahan situasi internal
organisasi meliputi visi, misi, strategi, struktur organisasi, dan teknologi. Organisasi harus
mengetahui bagian-bagian organisasi yang harus diubah agar tetap dapat bertahan dalam
lingkungan yang terus berubah, seperti Weick yang menerapkan teori survival of the fittest
Darwin’s ke organisasi.
Pettigrew dalam Dharma, 2004 menyarankan agar mempertimbangkan beberapa masalah
sebelum menetapkan rencana perubahan, antara lain budaya organisasi perlu diubah. Apakah
perlu perubahan sampai tingkat asumsi dasar atau kepercayaan anggota mengenai cara organisasi
menghadapi lingkungan eksternalnya ? Organisasi harus mempertimbangkan pandangan anggota
terhadap situasi internal organisasi. Para stakeholder perlu dilibatkan dalam penyelesaian
permasalahan.
Dalam kenyataannya seringkali visi dan misi dalam organisasi hanya sebagai slogan saja.
Orang yang terlibat didalamnya belum memberikan makna yang sebenarnya dari visi, misi
tersebut sehingga tidak terbentuk nilai-nilai, prinsip dasar dan aturan yang dapat mengarahkan
perilaku kearah tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi. Terjadi kelambanan dalam perubahan
perilaku yang mendukung keberadaan, pertumbuhan, dan perkembangan organisasi.
Arti Penting dan Peranan Budaya Organisasi
Pemahaman budaya organisasi sebagai kesepakatan bersama mengenai nilai-nilai yang
mengikat semua individu dalam sebuah organisasi seharusnya nementukan batas-batas normatif
perilaku angoota organisasi.
Secara spesifik, peranan budaya organisasi adalah membantu menciptakan rasa memiliki
terhadap organisasi, menciptakan jatidiri anggota organisasi, menciptakan keterikatan emosional
antara organisasi dan karyawan yang terlibat di dalamnya, membantu menciptakan stabilitas
organisasi sebagai sistem sosial dan menemukan pola pedoman perilaku sebagai hasil dari
norma-norma kebiasaan yang terbentuk dalam keseharian. Dengan demikian budaya organisasi
berpengaruh kuat terhadap perilaku para anggotanya.
Sepuluh karakteristik yang menggambarkan esensi budaya organisasi, menurut Dharma,
2004: 1) Identitas anggota, dimana karyawan lebihmengidentifikasi organisasi secara
menyeluruh; 2) penekanaan kelompok, dimana aktivitas tugas lebih diorganisir untuk seluruh
kelompok dari pada individu; 3) Fokus orang, dimana keputusan manajemen memperhatikan
dampak luaran yang dihasilkan oleh karyawan dalam organisasi; 4) penyatuan unit, dimana unit-
unit dalam organisasi didorong agar berfungsi dengan cara yang terkoordinasi atau bebas; 5)
pengendalian, dimana peraturan, regulasi dan pengendalian langsung digunakan untuk
mengawasi dan mengendalikan karyawan; 6) toleransi resiko, dimana pekerja didorong untuk
agresif, kreatif, inovatif dan mau mengambil resiko; 7) kriteria ganjaran, dimana ganjaran seperti
peringatan, pembayaran dan promosi lebih dialokasikan menurut kinerja karyawan dari pada

senioritas, favoritisme atau faktor non-kinerja lainnya; toleransi konflik, dimana karyawan
didorong dan diarahkan untuk menunjukkan konflik dan kritik secara terbuka; 9) orientasi sarana
tujuan, dimana manajemen lebih terfokus pada hasil atau luaran dari pada teknik dan proses yang
digunakan untuk mencapai luaran tersebut; 10) fokus pada sistem terbuka, dimana organisasi
memonitor dan merespons perubahan dalam lingkungan eksternal.
Gambaran karateristik tersebut akan memberikan gambaran mengenai budaya yang
dianut. Gambaran ini menjadi landasan untuk menyamakan pemahaman bahwa anggota
organisasi merasa memiliki organisasinya dan mendorong anggota organisasi agar berperilaku
sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang dianut organisasi.

Tingkatan budaya organisasi


Pada tingkatan teratas, budaya organisasi akan terwujud sebagai fenomena yang dapat
dilihat, didengar dan dirasakan ketika seseorang/individu berinteraksi dengan suatu organisasi.
Dalam hal ini budaya organisasi relatof lebih mudah diidentifikasi dan didefinisikan. Lewis
(1992) seperti dikutip Jalal, 2000 mengelompokkan budaya organisasi pada empat tingkatan:
1) Simbol-simbol, terdiri dari logo, slogan, upacara-upacara, cerita-cerita yang sering disampaikan
orang-orang dalam organisasi tersebut, cara kerja sehari-hari, pemegang kekuasaan dan kriteria
yang dipakai untuk menyingkirkan, mengangkat, dan menghargai anggotanya.
2) Proses, merupakan metode organisasi untuk melaksanakan tugasnya, seperti, jalur
pertanggungjawaban, desain pekerjaan, strategi manajemen dalam mengambil keputusan, jalur
komunikasi resmi, dan peraturan-peraturan tentang pertemuan.
3) Format, merupakan benda-benda yang bisa langsung diobservasi, seperti desain bangunan, tata
letak ruang, furnitur, dokumen-dokumen resmi, dan pidato-pidato.
4) Perilaku, merupakan manifes simbol-simbol, proses dan format yang ada di organisasi. Dengan
demikian ada kemungkinan perilaku yang tidak ada kaitannya dengan budaya organisasi.
Sedangkan nilai-nilai utama dari budaya organisasi terdiri dari kepercayaan (beliefs) dan nilai-
nilai (values). Kepercayaan merupakan asumsi yang dipercayai sebagai anggota organisasi,
tentang peran organisasi itu sendiri dalam lingkungannya, dan peran anggota organisasi dalam
organisasi. Sementara Rokeach dalam Lewis (1968) menyatakan nilai-nilai (values) merupakan
kepercayaan anggota organisasi tentang hal-hal yang sangat bernilai untuk dimiliki atau
dilakukan, atau perilaku yang harus dilakukan, atau tidak dilakukan, atau hal-hal yang perlu
dicapai atau tidak dicapai. Bagan: Budaya Organisasi (Lewis, 1992 dalam Jalal, 2000), sebagai
berikut:

Simbol-simbol

Proses

Format

Perilaku

Kepercayaan dan nilai-nilai

Asumsi-asumsi dasar
Budaya sebagai alat kontrol
Bisa dikatakan bahwa organisasi tidak akan bias berjalan denganbaik jika organisasi
tersebut tidak mempunyai sistem pengendalian yang memadai. Tanpa system pengendalian yang
memadai, aktivitas-aktivitas organisasi berjalan sendiri-sendiri tanpa ada yang mengarahkan dan
mengkoordinasikannya. Dengan demikian juga efisiensi dan efektivitas organisasi sangat
bergantung pada berfungsi tidaknya sistempengendalian tersebut. Pengertian sistem
pengendalian Legare, 1998 dalam Sobirin, 2007 adalah pengetahuan yang menyatakan bahwa
seseorang yang mengetahui dan peduli, mau memberi perhatian terhadap apa yang kita kerjakan
dan mau memberitahukannya manakala terjadi penyimpangan.

Diposkan oleh Ahmad Kurnia di 4:49 PM 0 komentar Link ke posting ini


Label: Budaya organisasi
Reaksi:
BUDAYA ORGANISASI

Sebagian para ahli seperti Stephen P. Robbins, Gary Dessler (1992) dalam bukunya yang
berjudul “Organizational Theory” (1990), memasukan budaya organisasi kedalam teori
organisasi. Sementara Budaya perusahaan merupakan aplikasi dari budaya organisasi dan apabila
diterapkan dilingkungan manajemen akan melahirkan budaya manajemen. Budaya organisasi
dengan budaya perusahan sering disalingtukarkan sehingga terkadang dianggap sama, padahal
berbeda dalam penerapannya.

Kita tinjau Pengertian budaya itu sendiri menurut : “The International Encyclopedia of the
Social Science” (1972) dpat dilihat menurut dua pendekatan yaitu pendekatan proses (process-
pattern theory, culture pattern as basic) didukung oleh Franz Boas (1858-1942) dan Alfred
Louis Kroeber (1876-1960). Bisa juga melalui pendekatan structural-fungsional (structural-
functional theory, social structure as abasic) yang dikembangkan oleh Bonislaw Mallllinowski
(1884-1942) dan Radclife-Brown yang kemudians dari dua pendekatan itu Edward Burnett
Tylor (1832-1917 secara luas mendefinisikan budaya sebagai :”…culture or civilization, taken
in its wide ethnographic ense, is that complex whole wich includes knowledge,belief, art, morals,
law, custom and any other capabilities and habits acquired by man as a memmmber of society”
atau Budaya juga dapat diartikan sebagai : “Seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan serta
karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya
melalui proses belajar(Koentjaraningrat, 2001: 72 ) sesuai dengan kekhasan etnik, profesi dan
kedaerahan”(Danim, 2003:148).

Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita lebih memahami budaya dari sudut sosiologi dan
ilmu budaya, padahal ternyata ilmu budaya bisa mempengaruhi terhadap perkembangan ilmu
lainnya seperti ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM). Sehingga ada beberapa istilah
lain dari istilah budaya seperti budaya organisasi (organization culture) atau budaya kerja
(work culture) ataupun biasa lebih dikenal lebih spesifik lagi dengan istilah budaya perusahaan
(corporate culture). Sedangkan dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah kultur
pembelajaran sekolah (school learning culture) atau Kultur akademis (Academic culture)
Dalam dunia pendidikan mengistilahkan budaya organisasi dengan istilah Kultur akademis yang
pada intinya mengatur para pendidik agar mereka memahami bagaimana seharusnya bersikap
terhadap profesinya, beradaptasi terhadap rekan kerja dan lingkungan kerjanya serta berlaku
reaktif terhadap kebijakan pimpinannya, sehingga terbentuklah sebuah sistem nilai, kebiasaan
(habits), citra akademis, ethos kerja yang terinternalisasikan dalam kehidupannya sehingga
mendorong adanya apresiasi dirinya terhadap peningkatan prestasi kerja baik terbentuk oleh
lingkungan organisasi itu sendiri maupun dikuatkan secara organisatoris oleh pimpinan akademis
yang mengeluarkan sebuah kebijakan yang diterima ketika seseorang masuk organisasi tersebut.
Fungsi pimpinan sebagai pembentuk Kultur akademis diungkapkan oleh Peter, Dobin dan
Johnson (1996) bahwa :
Para pimpinan sekolah khususnya dalam kapasitasnya menjalankan fungsinya sangat berperan
penting dalam dua hal yaitu : a). Mengkonsepsitualisasikan visi dan perubahan dan b). Memiliki
pengetahuan, keterampilan dan pemahaman untuk mengtransformasikan visi menjadi etos dan
kultur akademis kedalam aksi riil (Danim, Ibid., P.74).
Pola pembiasaan dalam sebuah budaya sebagai sebuah nilai yang diakuinya bisa membentuk
sebuah pola prilaku dalam hal ini Ferdinand Tonnies membagi kebiasaan kedalam beberapa
pengertian antara lain :
o Kebiasaan sebagai suatu kenyataan objektif sehari-hari yang merupakan sebuah kelajiman baik
dalam sikap maupun dalam penampilan sehari-hari.
o Kebiasaan sebagai Kaidah yang diciptakan dirinya sendiri yaitu kebiasaan yang lahir dari diri
pendidik itu sendiri yang kemudian menjadi ciri khas yang membedakan dengan yang lainnya.
o Kebiasaan sebagai perwujudan kemauan untuk berbuat sesuatu yaitu kebiasaan yang lahir dari
motivasi dan inisatif yang mencerminkan adanya prestasi pribadi.
• Budaya dan kepribadian
Oleh karena budaya secara individu itu berkorelasi dengan kepribadian, sehingga budaya
berhubungan dengan pola prilaku seseorang ketika berhadapan dengan sebuah masalah hidup
dan sikap terhadap pekerjaanya. Didalamnya ada sikap reaktif seorang pendidik terhadap
perubahan kebijakan pemerintah dalam otonomi kampus sebagaimana yang terjadi, dimana
dengan adanya komersialisasi kampus bisakah berpengaruh terhadap perubahan kultur akademis
penididik dalam sehari-harinya.
Dilihat dari unsur perbedaan budaya juga menyangkut ciri khas yang membedakan antara
individu yang satu dengan individu yang lain ataupun yang membedakaan antara profesi yang
satu dengan profesi yang lain. Seperti perbedaan budaya seorang dokter dengan seorang dosen,
seorang akuntan dengan seorang spesialis, seorang professional dengan seorang amatiran.
Ciri khas ini bisa diambil dari hasil internalisasi individu dalam organisasi ataupun juga sebagai
hasil adopsi dari organisasi yang mempengaruhi pencitraan sehingga dianggap sebagai kultur
sendiri yang ternyata pengertiannya masih relatif dan bersifat abstrak. Kita lihat pengertian
budaya yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Soerjono Soekanto mendefinisikan budaya sebagai :
“Sebuah system nilai yang dianut seseorang pendukung budaya tersebut yang mencakup
konsepsi abstrak tentang baik dan buruk. atau secara institusi nilai yang dianut oleh suatu
organisasi yang diadopsi dari organisasi lain baik melalui reinventing maupun re-
organizing”(Ibid, Soerjono Soekanto, P. 174)
Budaya juga tercipta karena adanya adopsi dari organisasi lainnya baik nilai, jargon, visi dan
misi maupun pola hidup dan citra organisasi yang dimanefestasikan oleh anggotanya. Seorang
pendidik sebagai pelaku organisasi jelas berperan sangat penting dalam pencitraan kampus jauh
lebih cepat karena secara langsung berhadapan dengan mahasiswa yang bertindak sebagai
promotor pencitraan di masyarakat sementara nilai pencitraan sebuah organisasi diambil melalui
adanya pembaharuan maupun pola reduksi langsung dari organisasi sejenis yang berpengaruh
dalam dunia pendidikan.
Sebuah nilai budaya yang merupakan sebuah sistem bisa menjadi sebuah asumsi dasar sebuah
organisasi untuk bergerak didalam meningkatkan sebuah kinerjanya yang salah satunya
terbentuknya budaya yang kuat yang bisa mempengaruhi. McKenna dan Beech berpendapat
bahwa : „Budaya yang kuat mendasari aspek kunci pelaksaan fungsi organisasi dalam hal
efisiensi, inovasi, kualitas serta mendukung reaksi yang tepat untuk membiasakan mereka
terhadap kejadian-kejadian, karena etos yang berlaku mengakomodasikan
ketahanan“( McKenna, etal, Terj. Toto Budi Santoso , 2002: 19)
Sedang menurut Talizuduhu Ndraha mengungkapkan bahwa “Budaya kuat juga bisa
dimaknakan sebagai budaya yang dipegang secara intensif, secara luas dianut dan semakin
jelas disosialisasikan dan diwariskan dan berpengaruh terhadap lingkungan dan prilaku
manusia”( Ndraha, 2003:123).
Budaya yang kuat akan mendukung terciptanya sebuah prestasi yang positif bagi anggotanya
dalam hal ini budaya yang diinternalisasikan pihak pimpinan akan berpengaruh terhadap sistem
prilaku para pendidik dan staf dibawahnya baik didalam organisasi maupun diluar organisasi.
Sekali lagi kalau Budaya hanya sebuah asumsi penting yang terkadang jarang diungkapkan
secara resmi tetapi sudah teradopsi dari masukan internal anggota organisasi lainnya. Vijay
Sathe mendefinisikan budaya sebagai “The sets of important assumption (opten unstated) that
member of a community share in common” ( Sathe, 1985: 18) Begitu juga budaya sebagai
sebuah asumsi dasar dalam pembentukan karakter individu baik dalam beradaptasi keluar
maupun berintegrasi kedalam organisasi lebih luas diungkapkan oleh Edgar H. Schein bahwa
budaya bisa didefinisikan sebagai :
“A pattern of share basic assumption that the group learner as it solved its problems of external
adaptation anda internal integration, that has worked well enough to be considered valid and
therefore, to be taught to new members as the correct way to perceive, think and feel in relation
to these problems”.
( Schein, 1992:16)
Secara lengkap Budaya bisa merupakan nilai, konsep, kebiasaan, perasaan yang diambil dari
asumsi dasar sebuah organiasasi yang kemudian diinternalisasikan oleh anggotanya. Seorang
professional yang berkarakter dan kuat kulturnya akan meningkatkan kinerjanya dalam
organisasi dan secara sekaligus meningkatkan citra dirinya.
• Organisasi dan budaya
Membahas budaya, jelas tidak bisa lepas dari pengertian organisasi itu sendiri dan dapat kita
lihat beberapa pendapat tentang organisasi yang salah satunya diungkapkan Stephen P. Robbins
yang mendefinisikan organisasi sebagai “…A consciously coordinated social entity, with a
relatively identifiable boundary that function or relatively continous basis to achieve a common
goal or set of goal”. ( Robbins, 1990: 4) Sedangkan Waren B. Brown dan Dennis J. Moberg
mendefinisikan organisasi sebagai “…. A relatively permanent social entities characterized by
goal oriented behavior, specialization and structure”(Brown,etal,1980:6) Begitu juga pendapat
dari Chester I. Bernard dari kutipan Etzioni dimana organisasi diartikan sebagai “Cooperation
of two or more persons, a system of conciously coordinated personell activities or
forces”( Etzioni, 1961:14.)
Sehingga organisasi diatas pada dasarnya apabila dilihat dari bentuknya, organisasi merupakan
sebuah masukan (input) dan luaran (output) serta bisa juga dilihat sebagai living organism yang
memiliki tubuh dan kepribadian, sehingga terkadang sebuah organisasi bisa dalam kondisi sakit
(when an organization gets sick). Sehingga organisasi dianggap Sebagai suatu output (luaran)
memiliki sebuah struktur (aspek anatomic), pola kehidupan (aspek fisiologis) dan system budaya
(aspek kultur) yang berlaku dan ditaati oleh anggotanya.
Dari pengertian Organisasi sebagai output (luaran) inilah melahirkan istilah budaya organisasi
atau budaya kerja ataupun lebih dikenal didunia pendidikan sebagai budaya akademis. Untuk
lebih menyesuaikan dengan spesifikasi penelitian penulis mengistilahkan budaya organisasi
dengan istilah budaya akademis.
Menurut Umar Nimran mendefinisikan budaya organisasi sebagai “Suatu sistem makna yang
dimiliki bersama oleh suatu organisasi yang membedakannya dengan organisasi lain”(Umar
Nimran, 1996: 11)
Sedangkan Griffin dan Ebbert (Ibid, 1996:11) dari kutipan Umar Nimran Budaya organisasi
atau bisa diartikan sebagai “Pengalaman, sejarah, keyakinan dan norma-norma bersama yang
menjadi ciri perusahaan/organisasi” Sementara Taliziduhu Ndraha Mengartikan Budaya
organisasi sebagai “Potret atau rekaman hasil proses budaya yang berlangsung dalam suatu
organisasi atau perusahaan pada saat ini”( op.cit , Ndraha, P. 102) Lebih luas lagi definisi yang
diungkapkan oleh Piti Sithi-Amnuai (1989) dalam bukunya “How to built a corporate culture”
mengartikan budaya organisasi sebagai :
A set of basic assumption and beliefs that are shared by members of an organization, being
developed as they learn to cope with problems of external adaptation and internal integration.(
Pithi Amnuai dari kutipan Ndraha, p.102)
(Seperangkat asumsi dan keyakinan dasar yang dterima anggota dari sebuah organisasi yang
dikembangkan melalui proses belajar dari masalah penyesuaian dari luar dan integarasi dari
dalam)
Hal yang sama diungkapkan oleh Edgar H. Schein (1992) dalam bukunya “Organizational
Culture and Leadershif” mangartikan budaya organisasi lebih luas sebagai :
“ …A patern of shared basic assumptions that the group learned as it solved its problems of
external adaptation and internal integration, that has worked well enough to be considered valid
and, therefore, to be taught to new members as the correct way to perceive, think and feel in
relation to these problems.( loc.cit, Schein, P.16)
(“… Suatu pola sumsi dasar yang ditemukan, digali dan dikembangkan oleh sekelompok orang
sebagai pengalaman memecahkan permasalahan, penyesuaian terhadap faktor ekstern maupun
integrasi intern yang berjalan dengan penuh makna, sehingga perlu untuk diajarkan kepada para
anggota baru agar mereka mempunyai persepsi, pemikiran maupun perasaan yang tepat dalam
mengahdapi problema organisasi tersebut).
Sedangkan menurut Moorhead dan Griffin (1992) budaya organisasi diartikan sebagai :
Seperangkat nilai yang diterima selalu benar, yang membantu seseorang dalam organisasi untuk
memahami tindakan-tindakan mana yang dapat diterima dan tindakan mana yang tidak dapat
diterima dan nilai-nilai tersebut dikomunikasikan melalui cerita dan cara-cara simbolis
lainnya(McKenna,etal, op.cit P.63).
Amnuai (1989) membatasi pengertian budaya organisasi sebagai pola asumsi dasar dan
keyakinan yang dianut oleh anggota sebuah organisasi dari hasil proses belajar adaptasi terhadap
permasalahan ekternal dan integrasi permasalahan internal.
Organisasi memiliki kultur melalui proses belajar, pewarisan, hasil adaptasi dan pembuktian
terhadap nilai yang dianut atau diistilahkan Schein (1992) dengan considered valid yaitu nilai
yang terbukti manfaatnya. selain itu juga bisa melalui sikap kepemimpinan sebagai teaching by
example atau menurut Amnuai (1989) sebagai “through the leader him or herself” yaitu
pendirian, sikap dan prilaku nyata bukan sekedar ucapan, pesona ataupun kharisma.
• Hal-hal yang mempengaruhi budaya organisasi
Menurut Piti Sithi-Amnuai bahwa : “being developed as they learn to cope with problems of
external adaptation anda internal integration (Pembentukan budaya organisasi terjadi tatkala
anggota organisasi belajar menghadapi masalah, baik masalah-masalah yang menyangkut
perubahan eksternal maupun masalah internal yang menyangkut persatuan dan keutuhan
organisasi).( Opcit Ndraha, P.76).
Pembentukan budaya akademisi dalam organisasi diawali oleh para pendiri (founder) institusi
melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
o Seseorang mempunyai gagasan untuk mendirikan organisasi.
o Ia menggali dan mengarahkan sumber-sumber baik orang yang sepaham dan setujuan dengan dia
(SDM), biaya dan teknologi.
o Mereka meletakan dasar organisasi berupa susunan organisasi dan tata kerja.
Menurut Vijay Sathe dengan melihat asumsi dasar yang diterapkan dalam suatu organisasi yang
membagi “Sharing Assumption”( loc.cit Vijay Sathe, p. 18) Sharing berarti berbagi nilai yang
sama atau nilai yang sama dianut oleh sebanyak mungkin warga organisasi. Asumsi nilai yang
berlaku sama ini dianggap sebagai faktor-faktor yang membentuk budaya organisasi yang dapat
dibagi menjadi :
o Share thing, misalnya pakaian seragam seperti pakaian Korpri untuk PNS, batik PGRI yang
menjadi ciri khas organisasi tersebut.
o Share saying, misalnya ungkapan-ungkapan bersayap, ungkapan slogan, pemeo seprti didunia
pendidikan terdapat istilah Tut wuri handayani, Baldatun thoyibatun wa robbun ghoffur
diperguruan muhammadiyah.
o Share doing, misalnya pertemuan, kerja bakti, kegiatan sosial sebagai bentuk aktifitas rutin yang
menjadi ciri khas suatu organisasi seperti istilah mapalus di Sulawesi, nguopin di Bali.
o Share feeling, turut bela sungkawa, aniversary, ucapan selamat, acara wisuda mahasiswa dan
lain sebagainya.

Sedangkan menurut pendapat dari Dr. Bennet Silalahi bahwa budaya organisasi harus diarahkan
pada penciptaan nilai (Values) yang pada intinya faktor yang terkandung dalam budaya
organisasi.( Silalahi,2004:8) harus mencakup faktor-faktor antara lain : Keyakinan, Nilai,
Norma, Gaya, Kredo dan Keyakinan terhadap kemampuan pekerja
Untuk mewujudkan tertanamnya budaya organisasi tersebut harus didahului oleh adanya
integrasi atau kesatuan pandangan barulah pendekatan manajerial (Bennet, loc.cit, p.43)
bisa dilaksanakan antara lain berupa :
o Menciptakan bahasa yang sama dan warna konsep yang muncul.
o Menentukan batas-batas antar kelompok.
o Distribusi wewenang dan status.
o Mengembangkan syariat, tharekat dan ma’rifat yang mendukung norma kebersamaan.
o Menentukan imbalan dan ganjaran
o Menjelaskan perbedaan agama dan ideologi.

Selain share assumption dari Sathe, faktor value dan integrasi dari Bennet ada beberapa faktor
pembentuk budaya organisasi lainnya dari hasil penelitian David Drennan selama sepuluh tahun
telah ditemukan dua belas faktor pembentuk budaya organisasi /perusahaan/budaya kerja/budaya
akdemis ( Republika, 27 Juli 1994:8) yaitu :
o Pengaruh dari pimpinan /pihak yayasan yang dominan
o Sejarah dan tradisi organisasi yang cukup lama.
o Teknologi, produksi dan jasa
o Industri dan kompetisinya/ persaingan.
o Pelanggan/stakehoulder akademis
o Harapan perusahaan/organisasi
o Sistem informasi dan kontrol
o Peraturan dan lingkungan perusahaan
o Prosedur dan kebijakan
o Sistem imbalan dan pengukuran
o Organisasi dan sumber daya
o Tujuan, nilai dan motto.

• Budaya dengan profesionalisme


Dalam perkembangan berikutnya dapat kita lihat ada keterkaitan antara budaya dengan disain
organisasi sesuai dengan design culture yang akan diterapkan. Untuk memahami disain
organisasi tersebut, Harrison ( McKenna, etal, 2002: 65) membagi empat tipe budaya organisasi
:
o Budaya kekuasaan (Power culture).
Budaya ini lebih mempokuskan sejumlah kecil pimpinan menggunakan kekuasaan yang lebih
banyak dalam cara memerintah. Budaya kekuasaan juga dibutuhkan dengan syarat mengikuti
esepsi dan keinginan anggota suatu organisasi.
Seorang karyawan butuh adanya peraturan dan pemimpin yang tegas dan benar dalam
menetapkan seluruh perintah dan kebijakannya. Kerena hal ini menyangkut kepercayaan dan
sikap mental tegas untuk memajukan institusi organisasi. Kelajiman yang masih menganut
manajemen keluarga, peranan pemilik institusi begitu dominan dalam pengendalian sebuah
kebijakan terkadang melupakan nilai profesionalisme yang justru hal inilah salah satu penyebab
jatuh dan mundurnya organisasi.
o Budaya peran (Role culture).
Budaya ini ada kaitannya dengan prosedur birokratis, seperti peraturan organisasi dan
peran/jabatan/posisi spesifik yang jelas karena diyakini bahwa hal ini akan mengastabilkan
sistem. Keyakinan dan asumsi dasar tentang kejelasan status/posisi/peranan yang jelas inilah
akan mendorong terbentuknya budaya positif yang jelas akan membantu mengstabilkan suatu
organisasi. Hampir semua orang menginginkan suatu peranan dan status yang jelas dalam
organisasi.
o Budaya pendukung (Support culture)
Budaya dimana didalamnya ada kelompok atau komunitas yang mendukung seseorang yang
mengusahakan terjadinya integrasi dan seperangkat nilai bersama dalam organisasi tersebut.
Selain budaya peran dalam menginternalisasikan suatu budaya perlu adanya budaya pendukung
yang disesuaikan dengan kredo dan keyakinan anggota dibawah. Budaya pendukung telah
ditentukan oleh pihak pimpinan ketika organisasi/institusi tersebut didirikan oleh pendirinya
yang dituangkan dalam visi dan misi organisasi tersebut. Jelas didalamnya ada keselaran antara
struktur, strategi dan budaya itu sendiri. Dan suatu waktu bisa terjadi adanya perubahan dengan
menanamkan budaya untuk belajar terus menerus (longlife education)
o Budaya prestasi (Achievement culture)
Budaya yang didasarkan pada dorongan individu dalam organisasi dalam suasana yang
mendorong eksepsi diri dan usaha keras untuk adanya independensi dan tekananya ada pada
keberhasilan dan prestasi kerja. Budaya ini sudah berlaku dikalangan akademisi tentang
independensi dalam pengajaran, penelitian dan pengabdian serta dengan pemberlakuan otonomi
kampus yang lebih menekankan terciptanya tenaga akademisi yang profesional, mandiri dan
berprestasi dalam melaksanakan tugasnya.
• Karakteristik budaya organisasi.
Untuk menentukan indikator secara pasti mengenai budaya organisasi jauh lebih sulit tetapi
penulis mengambil dari beberapa pendapat para ahli mengenai indikator yang menentukan
budaya organisasi.
Khun Chin Sophonpanich memasukan budaya pribadi ke dalam Bank Bangkok 50 tahun yang
lalu dengan beberapa indikator antara lain :
o Ketekunan (dilligency),
o Ketulusan (sincerity),
o Kesabaran (patience) dan
o Kewirausahaan (entrepreneurship).
Sedangkan Amnuai dan Schien membagi budaya organisasi kedalam beberapa indikator yaitu
antara lain
o Aspek kualitatif (basic)
o Aspek kuantitatif (shared) dan aspek terbentuknya
o Aspek komponen (assumption dan beliefs),
o Aspek adaptasi eksternal (eksternal adaptation)
o Aspek Integrasi internal (internal integration) sebagai proses penyatuan budaya melalui
asimilasi dari budaya organisasi yang masuk dan berpengaruh terhadap karakter anggota.
Selangkah lebih maju tinjauan dari Dr.Bennet Silalahi yang melihat budaya kerja dapat dilihat
dari sudut teologi dan deontology (Silalahi, 2004:25-32) seperti pandangan filsafat Konfutse,
etika Kristen dan prinsip agama Islam. Kita tidak memungkiri pengaruh tiga agama ini dalam
percaturan peradaban dunia timur bahkan manajemen barat sudah mulai memperhitungkannya
sebagai manajemen alternatif yang didifusikan ke manajemen barat setelah melihat kekuatan
ekonomi Negara kuning seperti Cina, Jepang dan Korea sangat kuat. Perimbangan kekuatan ras
kuning Asia yang diwakili Jepang, Korea dan Cina tentu saja tidak bisa melupakan potensi
kekuatan ekonomi negara-negara Islam yang dari jumlah penduduknya cukup menjanjikan untuk
menjadi pangsa pasar mereka.
Tinjauan ajaran Islam membagi budaya kerja kedalam beberapa indikator antara lain :
o Adanya kerja keras dan kerjasama (QS. Al-Insyiqoq : 6, Al-Mulk : 15, An-Naba : 11 dan At-
taubah : 105))
o Dalam setiap pekerjaan harus unggul/professional/menjadi khalifah (An-Nahl : 93. Az-Zumar : 9,
Al-An’am : 165)
o Harus mendayagunakan hikmah ilahi (Al-Baqoroh : 13)
o Harus jujur, tidak saling menipu, harus bekerjasama saling menguntungkan.
o Kelemah lembutan.
o Kebersihan
o Tidak mengotak-kotakan diri/ukhuwah
o Menentang permusuhan.
Sedangkan menurut ajaran konghucu budaya kerja ditinjau dari budaya Ren yang terdiri dari
lima sifat mulia manusia antara lain :
o Ren (hubungan industrial supaya mengutamakan keterbatasan, kebutuhan dan kualitas hidup
manusia)
o Yi (tipu muslihat, timbangan yang tidak benar, kualitas barang dan jasa supaya disngkirkan atau
dibenarkan agar tidak merugikan para stakehoulder)
o Li (Instruksi kerja, penilaian unjuk kerja, peranan manajemen harus dilandaskan pada kesopanan
dan kesantunan)
o Zhi (kearifan dan kebijaksanaan dituntut dalam perencanaan, pengambilan keputusan dan
ketatalaksanaan kerja, khususnya dalam perencanaan strategi dan kebijakan)
o Xing (setiap manajer dan karyawan harus saling dapat dipercaya)

Lebih jelas lagi diungkapkan oleh Desmond graves (1986:126) mencatat sepuluh item research
tool (dimensi kriteria, indikator) budaya organisasi yaitu :
o Jaminan diri (Self assurance)
o Ketegasan dalam bersikap (Decisiveness)
o Kemampuan dalam pengawasan (Supervisory ability)
o Kecerdasan emosi (Intelegence)
o Inisatif (Initiative)
o Kebutuhan akan pencapaian prestasi (Need for achievement)
o Kebutuhan akan aktualisasi diri (Need for self actualization)
o Kebutuhan akan jabatan/posisi (Need for power)
o Kebutuhan akan penghargaan (Need for reward)
o Kebutuhan akan rasa aman (Need for security).

Diposkan oleh Ahmad Kurnia di 4:36 PM 0 komentar Link ke posting ini


Label: Budaya organisasi
Reaksi:
Budaya organisasi
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari tidak terlepas dari ikatan budaya yang
diciptakan. Ikatan budaya tercipta oleh masyarakat yang bersangkutan, baik dalam
keluarga, organisasi, bisnis maupun bangsa. Budaya membedakan masyarakat satu
dengan yang lain dalam cara berinteraksi dan bertindak menyelesaikan suatu
pekerjaan. Budaya mengikat anggota kelompok masyarakat menjadi satu kesatuan
pandangan yang menciptakan keseragaman berperilaku atau bertindak. Seiring dengan
bergulirnya waktu, budaya pasti terbentuk dalam organisasi dan dapat pula dirasakan
manfaatnya dalam memberi kontribusi bagi efektivitas organisasi secara keseluruhan.
Berikut ini dikemukakan beberapa pengertian budaya organisasi menurut beberapa ahli
:
a. Menurut Wood, Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, Osborn (2001:391), budaya
organisasi adalah sistem yang dipercayai dan nilai yang dikembangkan oleh organisasi
dimana hal itu menuntun perilaku dari anggota organisasi itu sendiri.
b. Menurut Tosi, Rizzo, Carroll seperti yang dikutip oleh Munandar (2001:263), budaya
organisasi adalah cara-cara berpikir, berperasaan dan bereaksi berdasarkan pola-pola
tertentu yang ada dalam organisasi atau yang ada pada bagian-bagian organisasi.
c. Menurut Robbins (1996:289), budaya organisasi adalah suatu persepsi bersama
yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu.
d. Menurut Schein (1992:12), budaya organisasi adalah pola dasar yang diterima oleh
organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah, membentuk karyawan yang
mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mempersatukan anggota-anggota
organisasi. Untuk itu harus diajarkan kepada anggota termasuk anggota yang baru
sebagai suatu cara yang benar dalam mengkaji, berpikir dan merasakan masalah yang
dihadapi.

e. Menurut Cushway dan Lodge (GE : 2000), budaya organisasi merupakan sistem nilai
organisasi dan akan mempengaruhi cara pekerjaan dilakukan dan cara para karyawan
berperilaku. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan budaya organisasi dalam
penelitian ini adalah sistem nilai organisasi yang dianut oleh anggota organisasi, yang
kemudian mempengaruhi cara bekerja dan berperilaku dari para anggota organisasi.

Sumber-sumber Budaya Organisasi

Menurut Tosi, Rizzo, Carrol seperti yang dikutip oleh Munandar (2001:264), budaya
organisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Pengaruh umum dari luar yang luas


Mencakup faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan atau hanya sedikit dapat
dikendalikan oleh organisasi.
2. Pengaruh dari nilai-nilai yang ada di masyarakat
Keyakinan-keyakinan dn nilai-nilai yang dominan dari masyarakat luas misalnya
kesopansantunan dan kebersihan.
3. Faktor-faktor yang spesifik dari organisasi
Organisasi selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam mengatasi baik masalah
eksternal maupun internal organisasi akan mendapatkan penyelesaian-penyelesaian
yang berhasil. Keberhasilan mengatasi berbagai masalah tersebut merupakan dasar
bagi tumbuhnya budaya organisasi.

Fungsi Budaya Organisasi

Menurut Robbins (1996 : 294), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :


a. Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
b. Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
c. Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada
kepentingan diri individual seseorang.
d. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu
dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
e. Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan
membentuk sikap serta perilaku karyawan.

Ciri-ciri Budaya Organisasi


Menurut Robbins (1996:289), ada 7 ciri-ciri budaya organisasi adalah:
1. Inovasi dan pengambilan resiko. Sejauh mana karyawan didukung untuk menjadi
inovatif dan mengambil resiko.
2. Perhatian terhadap detail. Sejauh mana karyawan diharapkan menunjukkan
kecermatan, analisis dan perhatian terhadap detail.
3. Orientasi hasil. Sejauh mana manajemen memfokus pada hasil bukannya pada
teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
4. Orientasi orang. Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek pada
orang-orang di dalam organisasi itu.
5. Orientasi tim. Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim-tim, ukannya
individu.
6. Keagresifan. Berkaitan dengan agresivitas karyawan.
7. Kemantapan. Organisasi menekankan dipertahankannya budaya organisasi yang
sudah baik.
Dengan menilai organisasi itu berdasarkan tujuh karakteristik ini, akan diperoleh
gambaran majemuk dari budaya organisasi itu. Gambaran ini menjadi dasar untuk
perasaan pemahaman bersama yang dimiliki para anggota mengenai organisasi itu,
bagaimana urusan diselesaikan di dalamnya, dan cara para anggota berperilaku
(Robbins, 1996 : 289).

Tipologi Budaya
Menurut Sonnenfeld dari Universitas Emory (Robbins, 1996 :290-291), ada empat tipe
budaya organisasi :

1. Akademi
Perusahaan suka merekrut para lulusan muda universitas, memberi mereka pelatihan
istimewa, dan kemudian mengoperasikan mereka dalam suatu fungsi yang khusus.
Perusahaan lebih menyukai karyawan yang lebih cermat, teliti, dan mendetail dalam
menghadapi dan memecahkan suatu masalah.
2. Kelab
Perusahaan lebih condong ke arah orientasi orang dan orientasi tim dimana
perusahaan memberi nilai tinggi pada karyawan yang dapat menyesuaikan diri dalam
sistem organisasi. Perusahaan juga menyukai karyawan yang setia dan mempunyai
komitmen yang tinggi serta mengutamakan kerja sama tim.

3. Tim Bisbol
Perusahaan berorientasi bagi para pengambil resiko dan inovator, perusahaan juga
berorientasi pada hasil yang dicapai oleh karyawan, perusahaan juga lebih menyukai
karyawan yang agresif. Perusahaan cenderung untuk mencari orang-orang berbakat
dari segala usia dan pengalaman, perusahaan juga menawarkan insentif finansial yang
sangat
besar dan kebebasan besar bagi mereka yang sangat berprestasi.

4. Benteng
Perusahaan condong untuk mempertahankan budaya yang sudah baik. Menurut
Sonnenfield banyak perusahaan tidak dapat dengan rapi dikategorikan dalam salah
satu dari empat kategori karena merek memiliki suatu paduan budaya atau karena
perusahaan berada dalam masa peralihan

Diposkan oleh Ahmad Kurnia di 4:26 PM 0 komentar Link ke posting ini


Label: Budaya organisasi
Reaksi:
Senin, 22 Maret 2010
HUBUNGAN INTERNASIONAL
Hubungan Internasional, adalah cabang dari ilmu politik, merupakan suatu studi tentang
persoalan-persoalan luar negeri dan isu-isu global di antara negara-negara dalam sistem
internasional, termasuk peran negara-negara, organisasi-organisasi antarpemerintah, organisasi-
organisasi nonpemerintah atau lembaga swadaya masyarakat, dan perusahaan-perusahaan
multinasional. Hubungan Internasional adalah suatu bidang akademis dan kebijakan publik dan
dapat bersifat positif atau normatif karena Hubungan Internasional berusaha menganalisis serta
merumuskan kebijakan luar negeri negara-negara tertentu.

Selain ilmu politik, Hubungan Internasional menggunakan pelbagai bidang ilmu seperti
ekonomi, sejarah, hukum, filsafat, geografi, sosiologi, antropologi, psikologi, studi-studi budaya
dalam kajian-kajiannya. HI mencakup rentang isu yang luas, dari globalisasi dan dampak-
dampaknya terhadap masyarakat-masyarakat dan kedaulatan negara sampai kelestrarian
ekologis, proliferasi nuklir, nasionalisme, perkembangan ekonomi, terorisme, kejahatan yang
terorganisasi, keselamatan umat manusia, dan hak-hak asasi manusia
Sejarah
Sejarah hubungan internasional sering dianggap berawal dari [Perdamaian
Westphalia] pada [1648], ketika sistem negara modern dikembangkan.
Sebelumnya, organisasi-organisasi otoritas politik abad pertengahan [Eropa]
didasarkan pada tatanan hirarkis yang tidak jelas. Westphalia membentuk
konsep legal tentang kedaulatan, yang pada dasarnya berarti bahwa para
penguasa, atau kedaulatan-kedaulatan yang sah tidak akan mengakui pihak-pihak
lain yang memiliki kedudukan yang sama secara internal dalam batas-batas
kedaulatan wilayah yang sama. Otoritas Yunani dan Roma kuno kadang-kadang
mirip dengan sistem Westphalia, tetapi keduanya tidak memiliki gagasan
kedaulatan yang memadai.
[Westphalia] mendukung bangkitnya negara-bangsa (nation-state), institusionalisasi terhadap
diplomasi dan tentara. Sistem yang berasal dari Eropa ini diekspor ke Amerika, Afrika, dan Asia,
lewat kolonialisme, dan “standar-standar peradaban”. Sistem internasional kontemporer akhirnya
dibentuk lewat dekolonisasi selama [Perang Dingin]. Namun, sistem ini agak terlalu
disederhanakan. Sementara sistem negara-bangsa dianggap “modern”, banyak negara tidak
masuk ke dalam sistem tersebut dan disebut sebagai “pra-modern”. Lebih lanjut, beberapa telah
melampaui sistem negara-bangsa dan dapat dianggap “pasca-modern”. Kemampuan wacana HI
untuk menjelaskan hubungan-hubungan di antara jenis-jenis negara yang berbeda ini
diperselisihkan. “Level-level analisis” adalah cara untuk mengamati sistem internasional, yang
mencakup level individual, negara-bangsa domestik sebagai suatu unik, level internasional yang
terdiri atas persoalan-persoalan transnasional dan internasional level global.
Studi Hubungan internasional
Pada mulanya, hubungan internasional sebagai bidang studi yang tersendiri hampir secara
keseluruhan berkiblat ke Inggris. Pada 1919, Dewan Politik internasional dibentuk di University
of Wales, Aberystwyth, lewat dukungan yang diberikan oleh David Davies, menjadi posisi
akademis pertama yang didedikasikan untuk HI. Pada awal 1920-an, jurusan Hubungan
Internasional dari London School of Economics didirikan atas perintah seorang pemenang
Hadiah Nobel Perdamaian Phillip Noel-Baker. Pada 1927, Graduate Institute of International
Studies (Institut universitaire de hautes Ã(c)tudes internationales), didirikan di Jenewa, Swiss;
institut ini berusaha menghasilkan sekelompok personel khusus untuk Liga Bangsa-bangsa.
Program HI tertua di Amerika Serikat ada di Edmund A. Walsh School of Foreign Service yang
merupakan bagian dari Georgetown Unversity. Sekolah tinggi pertama jurusan hubungan
internasional yang menghasilkan lulusan bergelar sarjana adalah Fletcher Schooldi Tufts.
Meskipun pelbagai sekolah tinggi yang didedikasikan untuk studi HI telah didirikan di Asia dan
Amerika Selatan, HI sebagai suatu bidang ilmu tetap terutama berpusat di Eropa dan Amerika
Utara.
Teori hubungan internasional
Artikel utama: Teori hubungan internasional
Apa yang secara eksplisit diakui sebagai teori hubungan internasional tidak dikembangkan
sampai setelah Perang Dunia I, dan dibahas secara lebih rinci di bawah ini. Namun, teori HI
memiliki tradisi panjang menggunakan karya ilmu-ilmu sosial lainnya. Penggunaan huruf besar
“H” dan “I” dalam hubungan internasional bertujuan untuk membedakan disiplin Hubungan
Internasional dari fenomena hubungan internasional. Banyak orang yang mengutip Sejarah
Perang Peloponnesia karya Thucydides sebagai inspirasi bagi teori realis, dengan Leviathan
karya Hobbes dan The Prince karya Machiavelli memberikan pengembangan lebih lanjut.
Demikian juga, liberalisme menggunakan karya Kant dan Rousseau, dengan karya Kant sering
dikutip sebagai pengembangan pertama dari Teori Perdamaian Demokratis. Meskipun hak-hak
asasi manusia kontemporer secara signifikan berbeda dengan jenis hak-hak yang didambakan
dalam hukum alam, Francisco de Vitoria, Hugo Grotius, dan John Locke memberikan
pernyataan-pernyataan pertama tentang hak untuk mendapatkan hak-hak tertentu berdasarkan
kemanusiaan secara umum. Pada abad ke-20, selain teori-teori kontemporer intenasionalisme
liberal, Marxisme merupakan landasan hubungan internasional.
Perkembangan fenomena hubungan internasional telah memasuki aspek-aspek baru, dimana
Hubungan Internasional tidak hanya mengkaji tentang negara, tetapi juga mengkaji tentang peran
aktor non-negara di dalam ruang lingkup politik global. Peran non-state actor yang semakin
dominan mengindikasikan bahwa non-state actor memegang peran yang penting.
Dewasa ini, fenomena hubungan internasional telah memasuki ranah budaya (seperti klaim tari
pendet Malaysia terhadap indonesia), sehingga Hubungan Internasional memerlukan kajian
teoritis dari dispilin ilmu lainnya

Teori Epistemologi dan teori HI


Teori-teori Utama Hubungan Internasional Realisme [[Neorealisme], Dipelopori oleh Kenneth
Waltz, istilah kunci : struktur, agen, sistem internasional Idealisme, Dipelopoeri oleh Imanuel
Kant, istilah kunci : Pacific UnION Liberalisme. Dipelopori oleh Robert Keohane, istilah kunci :
complex interdepency Neoliberalisme, Marxisme dan Neo Marxis Teori dependensi
Teori kritis dipelopori oleh Jurgen Habermas, istilah kunci : Paradigma Komunikasi, Paradigma
Kesadaran, Alienisasi, Emansipatoris.
Konstruksivisme Fungsionalisme Neofungsiionalisme Negativitas Total dari TW Adorno, untuk
memahami isu-isu lingkungan Masyarakat Konsumtif dari Herbert Marcuse, untuk memahami
hubungan antara masyarakat dengan budaya global
Secara garis besar teori-teori HI dapat dibagi menjadi dua pandangan epistemologis “positivis”
dan “pasca-positivis”. Teori-teori positivis bertujuan mereplikasi metode-metode ilmu-ilmu
sosial dengan menganalisis dampak kekuatan-kekuatan material. Teori-teori ini biasanya
berfokus berbagai aspek seperti interaksi negara-negara, ukuran kekuatan-kekuatan militer,
keseimbangan kekuasaaan dan lain-lain. Epistemologi pasca-positivis menolak ide bahwa dunia
sosial dapat dipelajari dengan cara yang objektif dan bebas-nilai. Epistemologi ini menolak ide-
ide sentral tentang neo-realisme/liberalisme, seperti teori pilihan rasional, dengan alasan bahwa
metode ilmiah tidak dapat diterapkan ke dalam dunia sosial dan bahwa suatu “ilmu” HI adalah
tidak mungkin.
Perbedaan kunci antara kedua pandangan tersebut adalah bahwa sementara teori-teori positivis,
seperti neo-realisme, menawarkan berbagai penjelasan yang bersifat sebab-akibat (seperti
mengapa dan bagaimana kekuasaan diterapkan), teori pasca-positivis pasca-positivis berfokus
pada pertanyaan-pertanyaan konstitutif, sebagai contoh apa yang dimaksudkan dengan
“kekuasaan”; hal-hal apa sajakah yang membentuknya, bagaimana kekuasaan dialami dan
bagaimana kekuasaan direproduksi. Teori-teori pasca-positivs secara eksplisit sering
mempromosikan pendekatan normatif terhadap HI, dengan mempertimbangkan etika. Hal ini
merupakan sesuatu yang sering diabaikan dalam HI “tradisional” karena teori-teori positivis
membuat perbedaan antara “fakta-fakta” dan penilaian-penilaian normatif, atau “nilai-nilai”.
Selama periode akhir 1980-an/1990 perdebatan antara para pendukung teori-teori positivis dan
para pendukung teori-teori pasca-positivis menjadi perdebatan yang dominan dan disebut sebagai
“Perdebatan Terbesar” Ketiga (Lapid 1989.)

Islam, yang hanya dipandang orang dan para akademisi hanya sebagai agama, ternyata
menyimpan pemikiran hubungan internasional. Sejarah mencatat kekuasaan Islam atau khalifah
pada sekitar abad 7M. Pada masa ini, khalifah Islam merupakan suatu global polis atau tatanan
hubungan internasional,karena menata hubungan wilayah-wilayah yang disatukan ke dalam
bentuk polis. Apabila dikaji lebih dalam, khalifah Islam merupakan suatu order atau tatanan yang
mengatur seluruh aspek-aspek kehidupan manusia. Misalnya hukum ekonomi global
berlandaskan pada hukum ekonomi Islam, dimana hukum ekonomi Islam tidak mengutamakan
riba ( keuntungan atau jiwa-jiwa kapitalis seperti yang diungkapkan oleh Pemikiran Marxis,
tetapi suatu sistem ekonomi yang win-win solution serta mengutamakan kesejahteraan bersama,
bukan keuntungan pihak tertentu saja. Bandingkan dengan pemikiran-pemikiran ekonomi
sekarang ini, seperti Neolib dll, dimana pemikiran telah menciptakan keterbelakangan dan
ketergantungan ( depedensi ) yang berakibat pada kesenjangan global.
Teori politik adalah salah satu kajian di dalam bidang hubungan internasional. Teori politik pada
dasarnya adalah tentang tata negara. Pemikiran sistem politik demokrasi yang diadopsi oleh
negara-negara berkembang merupakan kajian teori politik. Islam adalah sumber teori politik,
karena memuat seluruh aspek-aspek kehidupan manusia. Sebagai contoh, sistem ekonomi Islam
merupakan teori politik yang bertujuan menjamin kesejahteraan bersama sehingga manusia
menjadi "mansalahat" atau tentram. Teori politik yang bersumber dari pemikiran barat adalah
suatu mal-praktik bagi manusia itu sendiri, karena manusia tidak menerima esensinya sendiri,
tetapi mencari esensi lain yang berakibat pada jatuhnya manusia kepada jurang alienisasi.
Menurut Imanuel Kant, perdamaian akan tercipta apabila negara-negara menganut sistem
demokrasi. Perpertual peace adalah perdamaian yang timbul karena negara-negara menganut
sistem demokrasi. Ini adalah kesalahan besar. Perdamaian hanya akan timbul apabila manusia
menerima esensinya sebagai manusia, dengan cara menerapkan teori politik Islam yang
merupakan sumber dari order manusia itu sendiri...
Teori-teori Positivis
Realisme
Realisme, sebagai tanggapan terhadap liberalisme, pada intinya menyangkal bahwa negara-
negara berusaha untuk bekerja sama. Para realis awal seperti E.H. Carr, Daniel Bernhard, dan
Hans Morgenthau berargumen bahwa, untuk maksud meningkatkan keamanan mereka, negara-
negara adalah aktor-aktor rasional yang berusaha mencari kekuasaan dan tertarik kepada
kepentingan diri sendiri (self-interested). Setiap kerja sama antara negara-nge dijelaskan sebagai
benar-benar insidental. Para realis melihat Perang Dunia II sebagai pembuktian terhadap teori
mereka. Perlu diperhatikan bahwa para penulis klasik seperti Thucydides, Machiavelli, dan
Hobbes sering disebut-sebut sebagai “bapak-bapak pendiri” realisme oleh orang-orang yang
menyebut diri mereka sendiri sebagai realis kontemporer. Namun, meskipun karya mereka dapat
mendukung doktrin realis, ketiga orang tersebut tampaknya tidak mungkin menggolongkan diri
mereka sendiri sebagai realis (dalam pengertian yang dipakai di sini untuk istilah tersebut).
Liberalisme/idealisme/Internasionalisme Liberal
Teori hubungan internasional liberal muncul setelah Perang Dunia I untuk menanggapi
ketidakmampuan negara-negara untuk mengontrol dan membatasi perang dalam hubungan
internasional mereka. Pendukung-pendukung awal teori ini termasuk Woodrow Wilson dan
Normal Angell, yang berargumen dengan berbagai cara bahwa negara-negara mendapatkan
keuntungan dari satu sama lain lewat kerjasama dan bahwa perang terlalu destruktif untuk bisa
dikatakan sebagai pada dasarnya sia-sia. Liberalisme tidak diakui sebagai teori yang terpadu
sampai paham tersebut secara kolektif dan mengejek disebut sebagai idealisme oleh E.H. Carr.
Sebuah versi baru “idealisme”, yang berpusat pada hak-hak asasi manusia sebagai dasar
legitimasi hukum internasional, dikemukakan oleh Hans Kóchler
Neorealisme
Neorealisme terutama merupakan karya Kenneh Waltz (yang sebenarnya menyebut teorinya
“realisme struktural” di dalam buku karangannya yang berjudul Man, the State, and War).
Sambil tetap mempertahankan pengamatan-pengamatan empiris realisme, bahwa hubungan
internasional dikarakterka oleh hubungan-hubungan antarnegara yang antagonistik, para
pendukung neorealisme menunjuk struktur anarkis dalam sistem internasional sebagai
penyebabnya. Mereka menolak berbagai penjelasan yang mempertimbangkan pengaruh
karakteristik-karakteristik dalam negeri negara-negara. Negara-negara dipaksa oleh pencapaian
yang relatif (relative gains) dan keseimbangan yang menghambat konsentrasi kekuasaan. Tidak
seperti realisme, neo-realisme berusaha ilmiah dan lebih positivis. Hal lain yang juga
membedakan neo-realisme dari realisme adalah bahwa neo-realisme tidak menyetujui penekanan
realisme pada penjelasan yang bersifat perilaku dalam hubungan internasional.
Neoliberalisme
Neoliberalisme berusaha memperbarui liberalisme dengan menyetujui asumsi neorealis bahwa
negara-negara adalah aktor-aktor kunci dalam hubungan internasional, tetapi tetap
mempertahankan pendapat bahwa aktor-aktor bukan negara dan organisasi-organisasi
antarpemerintah adalah juga penting. Para pendukung seperti Maria Chatta berargumen bahwa
negara-negara akan bekerja sama terlepas dari pencapaian-pencapaian relatif, dan dengan
demikian menaruh perhatian pada pencapaian-pencapaian mutlak. Meningkatnya
interdependensi selama Perang Dingin lewat institusi-institusi internasional berarti bahwa neo-
liberalisme juga disebut institusionalisme liberal. Hal ini juga berarti bahwa pada dasarnya
bangsa-bangsa bebas membuat pilihan-pilihan mereka sendiri tentang bagaimana mereka akan
menerapkan kebijakan tanpa organisasi-organisasi internasional yang merintangi hak suatu
bangsa atas kedaulatan. Neoliberalimse juga mengandung suatu teori ekonomi yang didasarkan
pada penggunaan pasar-pasar yang terbuka dan bebas dengan hanya sedikit, jika memang ada,
intervensi pemerintah untuk mencegah terbentuknya monopoli dan bentuk-bentuk konglomerasi
yang lain. Keadaan saling tergantung satu sama lain yang terus meningkat selama dan sesudah
Perang Dingin menyebabkan neoliberalisme didefinisikan sebagai institusionalisme, bagian baru
teori ini dikemukakan oleh Robert Keohane dan juga Joseph Nye.
Teori Rejim
Teori rejim berasal dari tradisi liberal yang berargumen bahwa berbagai institusi atau rejim
internasional mempengaruhi perilaku negara-negara (maupun aktor internasional yang lain).
Teori ini mengasumsikan kerjasama bisa terjadi di dalam sistem negara-negara anarki. Bila
dilihat dari definisinya sendiri, rejim adalah contoh dari kerjasama internasional. Sementara
realisme memprediksikan konflik akan menjadi norma dalam hubungan internasional, para
teoritisi rejim menyatakan kerjasama tetap ada dalam situasi anarki sekalipun. Seringkali mereka
menyebutkan kerjasama di bidang perdagangan, hak asasi manusia, dan keamanan bersama di
antara isu-isu lainnya. Contoh-contoh kerjasama tadilah yang dimaksud dengan rejim. Definisi
rejim yang paling lazim dipakai datang dari Stephen Krasner. Krasner mendefinisikan rejim
sebagai “institusi yang memiliki sejumlah norma, aturan yang tegas, dan prosedur yang
memfasilitasi sebuah pemusatan berbagai harapan. Tapi tidak semua pendekatan teori rejim
berbasis pada liberal atau neoliberal; beberapa pendukung realis seperi Joseph Greico telah
mengembangkan sejumlah teori cangkokan yang membawa sebuah pendekatan berbasis realis ke
teori yang berdasarkan pada liberal ini. (Kerjasama menurut kelompok realis bukannya tidak
pernah terjadi, hanya saja kerjasama bukanlah norma; kerjasama merupakan sebuah perbedaan
derajat).
Teori-teori pasca-positivis/reflektivis
Teori masyarakat internasional (Aliran pemikiran Inggris)
Teori masyarakat internasional, juga disebut Aliran Pemikiran Inggris, berfokus pada berbagai
norma dan nilai yang sama-sama dimiliki oleh negara-negara dan bagaimana norma-norma dan
nilai-nlai tersebut mengatur hubungan internasional. Contoh norma-norma seperti itu mencakup
diplomasi, tatanan, hukum internasional. Tidak seperti neo-realisme, teori ini tidak selalu
positivis. Para teoritisi teori ini telah berfokus terutama pada intervensi kemanusiaan, dan dibagi
kembali antara para solidaris, yang cenderung lebih menyokong intervensi kemanusiaan, dan
para pluralis, yang lebih menekankan tatanan dan kedaulatan, Nicholas Wheeler adalah seorang
solidaris terkemuka, sementara Hedley Bull mungkin merupakan pluraris yang paling dikenal.
Konstruktivisme Sosial
Kontrukstivisme Sosial mencakup rentang luas teori yang bertujuan menangani berbagai
pertanyaan tentang ontologi, seperti perdebatan tentang lembaga (agency) dan Struktur, serta
pertanyaan-pertanyaan tentang epistemologi, seperti perdebatan tentang “materi/ide” yang
menaruh perhatian terhadap peranan relatif kekuatan-kekuatan materi versus ide-ide.
Konstruktivisme bukan merupakan teori HI, sebagai contoh dalam hal neo-realisme, tetapi
sebaliknya merupakan teori sosial. Konstruktivisme dalam HI dapat dibagi menjadi apa yang
disebut oleh Hopf (1998) sebagai konstruktivisme “konvensional” dan “kritis”. Hal yang terdapat
dalam semua variasi konstruktivisme adalah minat terhadap peran yang dimiliki oleh kekuatan-
kekuatan ide. Pakar konstruktivisme yang paling terkenal, Alexander Wendt menulis pada 1992
tentang Organisasi Internasional (kemudian diikuti oleh suatu buku, Social Theory of
International Politics 1999), “anarki adalah hal yang diciptakan oleh negara-negara dari hal
tersebut”. Yang dimaksudkannya adalah bahwa struktur anarkis yang diklaim oleh para
pendukung neo-realis sebagai mengatur interaksi negara pada kenyataannya merupakan
fenomena yang secara sosial dikonstruksi dan direproduksi oleh negara-negara. Sebagai contoh,
jika sistem internasional didominasi oleh negara-negara yang melihat anarki sebagai situasi
hidup dan mati (diistilahkan oleh Wendt sebagai anarki “Hobbesian”) maka sistem tersebut akan
dikarakterkan dengan peperangan. Jika pada pihak lain anarki dilihat sebagai dibatasi (anarki
“Lockean”) maka sistem yang lebih damai akan eksis. Anarki menurut pandangan ini dibentuk
oleh interaksi negara, bukan diterima sebagai aspek yang alami dan tidak mudah berubah dalam
kehidupan internasional seperti menurut pendapat para pakar HI non-realis, Namun, banyak
kritikus yang muncul dari kedua sisi pembagian epistemologis tersebut. Para pendukung pasca-
positivis mengatakan bahwa fokus terhadap negara dengan mengorbankan etnisitas/ras/jender
menjadikan konstrukstivisme sosial sebagai teori positivis yang lain. Penggunaan teori pilihan
rasional secara implisit oleh Wendt juga telah menimbulkan pelbagai kritik dari para pakar
seperti Steven Smith. Para pakar positivis (neo-liberalisme/realisme) berpendapat bahwa teori
tersebut mengenyampingkan terlalu banyak asumsi positivis untuk dapat dianggap sebagai teori
positivis.
Teori Kritis
(Artikel utama: Teori hubungan internasional kritis) Teori hubungan internasional kritis adalah
penerapan “teori kritis” dalam hubungan internasional. Pada pendukung seperti Andrew
Linklater, Robert W. Cox, dan Ken Booth berfokus pada kebutuhan terhadap emansipansi
(kebebasan) manusia dari Negara-negara. Dengan demikian, adalah teori ini bersifat “kritis”
terhadap teori-teori HI “mainstream” yang cenderung berpusat pada negara (state-centric).
Catatan: Daftar teori ini sama sekali tidak menyebutkan seluruh teori HI yang ada. Masih ada
teori-teori lain misalnya fungsionalisme, neofungsionalisme, feminisme, dan teori dependen.
Marxisme
Teori Marxis dan teori Neo-Marxis dalam HI menolak pandangan realis/liberal tentang konflik
atau kerja sama negara, tetapi sebaliknya berfokus pada aspek ekonomi dan materi. Marxisme
membuat asumsi bahwa ekonomi lebih penting daripada persoalan-persoalan yang lain; sehingga
memungkinkan bagi peningkatan kelas sebagai fokus studi. Para pendukung Marxis memandang
sistem internasional sebagai sistem kapitalis terintegrasi yang mengejar akumulasi modal
(kapital). Dengan demikian, periode kolonialisme membawa masuk pelbagai sumber daya untuk
bahan-bahan mentah dan pasar-pasar yang pasti (captive markets) untuk ekspor, sementara
dekolonisasi membawa masuk pelbagai kesempatan baru dalam bentuk dependensi
(ketergantungan). Berkaitan dengan teori-teori Marx adalah teori dependensi yang berargumen
bahwa negara-negara maju, dalam usaha mereka untuk mencapai kekuasaan, menembus negara-
negara berkembang lewat penasihat politik, misionaris, pakar, dan perusahaan multinasional
untuk mengintegrasikan negara-negara berkembang tersebut ke dalam sistem kapitalis
terintegrasi untuk mendapatkan sumber-sumber daya alam dan meningkatkan dependensi
negara-negara berkembang terhadap negara-negara maju. Teori-teori Marxis kurang
mendapatkan perhatian di Amerika Serikat di mana tidak ada partai sosialis yang signifikan.
Teori-teori ini lebih lazim di pelbagai bagian Eropa dan merupakan salah satu kontribusi teoritis
yang paling penting bagi dunia akademis Amerika Latin, sebagai contoh lewat teologi.
Teori-teori pascastrukturalis
Teori-teori pascastrukturalis dalam HI berkembang pada 1980-an dari studi-studi pascamodernis
dalam ilmu politik. Pasca-strukturalisme mengeksplorasi dekonstruksi konsep-konsep yang
secara tradisional tidak problematis dalam HI, seperti kekuasaan dan agensi dan meneliti
bagaimana pengkonstruksian konsep-konsep ini membentuk hubungan-hubungan internasional.
Penelitian terhadap “narasi” memainkan peran yang penting dalam analisis pascastrukturalis,
sebagai contoh studi pascastrukturalis feminis telah meneliti peran yang dimainkan oleh “kaum
wanita” dalam masyarakat global dan bagaimana kaum wanita dikonstruksi dalam perang
sebagai “tanpa dosa” (innocent) dan “warga sipil”. Contoh-contoh riset pasca-positivis
mencakup: Pelbagai bentuk feminisme (perang "gender" war—“gendering” war)
Pascakolonialisme (tantangan-tantangan dari sentrisme Eropa dalam HI)
Konsep-konsep dalam hubungan internasional
Konsep-konsep level sistemik
Hubungan internasional sering dipandang dari pelbagai level analisis, konsep-konsep level
sistemik adalah konsep-konsep luas yang mendefinisikan dan membentuk lingkungan (milieu)
internasional, yang dikarakterkan oleh Anarki.
Kekuasaan
Konsep Kekuasaan dalam hubungan internasional dapat dideskripsikan sebagai tingkat sumber
daya, kapabilitas, dan pengaruh dalam persoalan-persoalan internasional. Kekuasaan sering
dibagi menjadi konsep-konsep kekuasaan yang keras (hard power) dan kekuasaan yang lunak
(soft power), kekuasaan yang keras terutama berkaitan dengan kekuasaan yang bersifat
memaksa, seperti penggunaan kekuatan, dan kekuasaan yang lunak biasanya mencakup
ekonomi, diplomasi, dan pengaruh budaya. Namun, tidak ada garis pembagi yang jelas di antara
dua bentuk kekuasaan tersebut.
Polaritas
Polaritas dalam Hubungan Internasional merujuk pada penyusunan kekuasaan dalam sistem
internasional. Konsep tersebut muncul dari bipolaritas selama Perang Dingin, dengan sistem
internasional didominasi oleh konflik antara dua negara adikuasa dan telah diterapkan
sebelumnya. Sebagai akibatnya, sistem internasional sebelum 1945 dapat dideskripsikan sebagai
terdiri dari banyak kutub (multi-polar), dengan kekuasaan dibagi-bagi antara negara-negara
besar. Runtuhnya Uni Soviet pada 1991 telah menyebabkan apa yang disebut oleh sebagian
orang sebagai unipolaritas, dengan AS sebagai satu-satunya negara adikuasa. Beberapa teori
hubungan internasional menggunakan ide polaritas tersebut. Keseimbangan kekuasaan adalah
konsep yang berkembang luas di Eropa sebelum Perang Dunia Pertama, pemikirannya adalah
bahwa dengan menyeimbangkan blok-blok kekuasaan hal tersebut akan menciptakan stabilitas
dan mencegah perang dunia. Teori-teori keseimbangan kekuasaan kembali mengemuka selama
Perang Dingin, sebagai mekanisme sentral dalam Neorealisme Kenneth Waltz. Di sini konsep-
konsep menyeimbangkan (meningkatkan kekuasaan untuk menandingi kekuasaan yang lain) dan
bandwagoning (berpihak dengan kekuasaan yang lain) dikembangkan. Teori stabilitas
hegemonik juga menggunakan ide Polaritas, khususnya keadaan unipolaritas. Hegemoni adalah
terkonsentrasikannya sebagian besar kekuasaan yang ada di satu kutub dalam sistem
internasional, dan teori tersebut berargumen bahwa hegemoni adalah konfigurasi yang stabil
karena adanya keuntungan yang diperoleh negara adikuasa yang dominan dan negara-negara
yang lain dari satu sama lain dalam sistem internasional. Hal ini bertentangan dengan banyak
argumen Neorealis, khususnya yang dikemukakan oleh Kenneth Waltz, yang menyatakan bahwa
berakhirnya Perang Dingin dan keadaan unipolaritas adalah konfigurasi yang tidak stabil yang
secara tidak terelakkan akan berubah. Hal ini dapat diungkapkan dalam teori peralihan
Kekuasaan, yang menyatakan bahwa mungkin suatu negara besar akan menantang suatu negara
yang memiliki hegemoni (hegemon) setelah periode tertentu, sehingga mengakibatkan perang
besar. Teori tersebut mengemukakan bahwa meskipun hegemoni dapat mengontrol terjadinya
pelbagai perang, hal tersebut menyebabkan terjadinya perang yang lain. Pendukung utama teori
tersebut, A.F.K. Organski, mengemukakan argumen ini berdasarkan terjadinya perang-perang
sebelumnya selama hegemoni Inggris. Portugis, dan Belanda.
Interdependensi
Banyak orang yang menyokong bahwa sistem internasional sekarang ini dikarakterkan oleh
meningkatnya interdepedensi atau saling ketergantungan: tanggung jawab terhadap satu sama
lain dan dependensi (ketergantungan) terhadap pihak-pihak lain. Para penyokong pendapat ini
menunjuk pada meningkatnya globalisasi, terutama dalam hal interaksi ekonomi internasional.
Peran institusi-institusi internasional, dan penerimaan yang berkembang luas terhadap sejumlah
prinsip operasional dalam sistem internasional, memperkukuh ide-ide bahwa hubungan-
hubungan dikarakterkan oleh interdependensi.
Dependensi
Teori dependensi adalah teori yang paling lazim dikaitkan dengan Marxisme, yang menyatakan
bahwa seperangkat negara Inti mengeksploitasi kekayaan sekelompok negara Pinggiran yang
lebih lemah. Pelbagai versi teori ini mengemukakan bahwa hal ini merupakan keadaan yang
tidak terelakkan (teori dependensi standar), atau menggunakan teori tersebut untuk menekankan
keharusan untuk berubah (Neo-Marxisme).
Perangkat-perangkat sistemik dalam hubungan internasional
• Diplomasi adalah praktik komunikasi dan negosiasi antara pelbagai perwakilan negara-
negara. Pada suatu tingkat, semua perangkat hubungan internasional yang lain dapat
dianggap sebagai kegagalan diplomasi. Perlu diingat, penggunaan alat-alat yang lain
merupakan bagian dari komunikasi dan negosiasi yang tak terpisahkan di dalam
negosiasi. Pemberian sanksi, penggunaan kekuatan, dan penyesuaian aturan perdagangan,
walau bukan merupakan bagian dari diplomasi yang biasa dipertimbangkan, merupakan
perangkat-perangkat yang berharga untuk mempermudah serta mempermulus proses
negosiasi.
• Pemberian sanksi biasanya merupakan tindakan pertama yang diambil setelah gagalnya
diplomasi dan merupakan salah satu perangkat utama yang digunakan untuk menegakkan
pelbagai perjanjian (treaties). Sanksi dapat berbentuk sanksi diplomatik atau ekonomi dan
pemutusan hubungan dan penerapan batasan-batasan terhadap komunikasi atau
perdagangan.
• Perang, penggunaan kekuatan, sering dianggap sebagai perangkat utama dalam hubungan
internasional. Definisi perang yang diterima secara luas adalah yang diberikan oleh
Clausewitz, yaitu bahwa perang adalah “kelanjutan politik dengan cara yang lain.”
Terdapat peningkatan studi tentang “perang-perang baru” yang melibatkan aktor-aktor
selain negara. Studi tentang perang dalam Hubungan Internasional tercakup dalam
disiplin Studi Perang dan Studi Strategis.
• Mobilisasi tindakan mempermalukan secara internasional juga dapat dianggap sebagai
alat dalam Hubungan Internasional. Hal ini adalah untuk mengubah tindakan negara-
negara lewat “menyebut dan mempermalukan” pada level internasional. Penggunaan
yang terkemuka dalam hal ini adalah prosedur Komisi PBB untuk Hak-hak Asasi
Manusia 1235, yang secara publik memaparkan negara-negara yang melakukan
pelanggaran terhadap hak asasi manusia.
• Pemberian keuntungan-keuntungan ekonomi dan/atau diplomatik. Salah satu contohnya
adalah kebijakan memperbanyak keanggotaan Uni Eropa. Negara-negara kandidat
diperbolehkan menjadi anggota Uni Eropa setelah memenuhi kriteria Copenhagen.
Konsep-konsep unit level dalam hubungan internasional
Sebagai suatu level analisis level unit sering dirujuk sebagai level negara, karena level analisis
ini menempatkan penjelasannya pada level negara, bukan sistem internasional.
Tipe rezim
Sering dianggap bahwa suatu tipe rezim negara dapat menentukan cara suatu negara berinteraksi
dengan negara-negara lain dalam sistem internasional. Teori Perdamaian Demokratis adalah teori
yang mengemukakan bahwa hakikat demokrasi berarti bahwa negara-negara demokratis tidak
akan saling berperang. Justifikasi terhadap hal ini adalah bahwa negara-negara demokrasi
mengeksternalkan norma-norma mereka dan hanya berperang dengan alasan-alasan yang benar,
dan bahwa demokrasi mendorong kepercayaan dan penghargaan terhadap satu sama lain.
Sementara itu, komunisme menjustifikasikan suatu revolusi dunia, yang juga akan menimbulkan
koeksitensi (hidup berdampingan) secara damai, berdasarkan masyarakat global yang proletar.
asf
Revisionisme/Status quo
Negara-negara dapat diklasifikasikan menurut apakah mereka menerima status quo, atau
merupakan revisionis, yaitu menginginkan perubahan. Negara-negara revisionis berusaha untuk
secara mendasar mengubah pelbagai aturan dan praktik dalam hubungan internasional, merasa
dirugikan oleh status quo (keadaan yang ada). Mereka melihat sistem internasional sebagai untuk
sebagian besar merupakan ciptaan barat yang berfungsi mengukuhkan pelbagai realitas yang ada.
Jepang adalah contoh negara yang beralih dari negara revisionis menjadi negara yang puas
dengan status quo, karena status quo tersebut kini menguntungkan baginya.
Agama
Sering dianggap bahwa agama dapat memiliki pengaruh terhadap cara negara bertindak dalam
sistem internasional. Agama terlihat sebagai prinsip pengorganisasi terutama bagi negara-negara
Islam, sementara sekularisme terletak yang ujung lainnya dari spektrum dengan pemisahan
antara negara dan agama bertanggung jawab atas tradisi Liberal.
Konsep level sub unit atau individu
Level di bawah level unit (negara) dapat bermanfaat untuk menjelaskan pelbagai faktor dalam
Hubungan Internasional yang gagal dijelaskan oleh teori-teori yang lain, dan untuk beranjak
menjauhi pandangan yang berpusat pada negara (negara-sentris) dalam hubungan internasional.
• Faktor-faktor psikologis dalam Hubungan Internasional - Pengevaluasian faktor-
faktor psikologis dalam hubungan internasional berasal dari pemahaman bahwa negara
bukan merupakan kotak hitam seperti yang dikemukakan oleh Realisme bahwa terdapat
pengaruh-pengaruh lain terhadap keputusan-keputusan kebijakan luar negeri. Meneliti
peran pelbagai kepribadian dalam proses pembuatan keputusan dapat memiliki suatu
daya penjelas, seperti halnya peran mispersepsi di antara pelbagai aktor. Contoh yang
menonjol dalam faktor-faktor level sub-unit dalam hubungan internasional adalah konsep
pemikiran-kelompok (Groupthink), aplikasi lain yang menonjol adalah kecenderungan
para pembuat kebijakan untuk berpikir berkaitan dengan pelbagai analogi-analogi
• Politik birokrat – Mengamati peran birokrasi dalam pembuatan keputusan, dan
menganggap berbagai keputusan sebagai hasil pertarungan internal birokratis
(bureaucratic in-fighting), dan sebagai dibentuk oleh pelbagai kendala.
• Kelompok-kelompok keagamaan, etnis, dan yang menarik diri — Mengamati aspek-
aspek ini dalam level sub-unit memiliki daya penjelas berkaitan dengan konflik-konflik
etnis, perang-perang keagamaan, dan aktor-aktor lain yang tidak menganggap diri mereka
cocok dengan batas-batas negara yang pasti. Hal ini terutama bermanfaat dalam konteks
dunia negara-negara lemah pra-modern.
• Ilmu, Teknologi, dan Hubungan Internasional—Bagaimana ilmu dan teknologi
berdampak pada perkembangan, teknologi, lingkungan, bisnis, dan kesehatan dunia.
Institusi-institusi dalam hubungan internasional
Institusi-institusi internasional adalah bagian yang sangat penting dalam Hubungan Internasional
kontemporer. Banyak interaksi pada level sistem diatur oleh institusi-institusi tersebut dan
mereka melarang beberapa praktik dan institusi tradisional dalam Hubungan Internasional,
seperti penggunaan perang (kecuali dalam rangka pembelaan diri).
Ketika umat manusia memasuki tahap peradaban global, beberapa ilmuwan dan teoritisi politik
melihat hirarki institusi-institusi global yang menggantikan sistem negara-bangsa berdaulat yang
ada sebagai komunitas politik yang utama. Mereka berargumen bahwa bangsa-bangsa adalah
komunitas imajiner yang tidak dapat mengatasi pelbagai tantangan modern seperti efek Dogville
(orang-orang asing dalam suatu komunitas homogen), status legal dan politik dari pengungsi dan
orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan, dan keharusan untuk menghadapi pelbagai
masalah dunia seperti perubahan iklim dan pandemik. Pakar masa depan Paul Raskin telah
membuat hipotesis bahwa bentuk politik Global yang baru dan lebih absah dapat didasarkan
pada pluralisme yang dibatasi (connstrained pluralism). Prinsip ini menuntun pembentukan
institusi-institusi berdasarkan tiga karakteristik: ireduksibilitas (irreducibility), di mana beberapa
isu harus diputuskan pada level global; subsidiaritas, yang membatasi cakupan otoritas global
pada isu-isu yang benar-benar bersifat global sementara isu-isu pada skala yang lebih kecil diatur
pada level-level yang lebih rendah; dan heterogenitas, yang memungkinkan pelbagai bentuk
institusi lokal dan global yang berbeda sepanjang institusi-institusi tersebut memenuhi
kewajiban-kewajiban global.
PBB
(Artikel Utama: PBB) PBB adalah organisasi internasional yang mendeskripsikan dirinya sendiri
sebagai “himpunan global pemerintah-pemerintah yang memfasilitasi kerjasama dalam hukum
internasional, keamanan internasional, perkembangan ekonomi, dan kesetaraan sosial”. PBB
merupakan institusi internasional yang paling terkemuka. Banyak institusi legal memiliki
struktur organisasi yang mirip dengan PBB.
Institusi Ekonomi
• Bank Pembangunan Asia
• Dana Moneter Internasional
• Organisasi Perdagangan Dunia
• Bank Dunia
Badan Hukum Internasional
Hak Asasi Manusia
• European Court of Human Rights
• Human Rights Committee
• Inter-American Court of Human Rights
• Pengadilan Kriminal Internasional
• Pengadilan Internasonal untuk Rwanda
• Pengadilan Internasional untuk Bekas Yugoslavia
• Dewan Hak Asasi Manusia PBB
Hukum
• African Court of Justice
• European Court of Justice
• Mahkamah Internasional
• Mahkamah Internasional untuk Hukum Laut
Organisasi tingkat regional
• ASEAN
• Liga Arab
• Persemakmuran Negara-negara Merdeka
• Uni Eropa
• CSCAP
• GUAM Organisasi untuk Demokrasi dan Pembangunan Ekonomi
• NATO
• Organisasi Kerjasama Shanghai
• SAARC
SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_internasional

Diposkan oleh Ahmad Kurnia di 8:40 PM 0 komentar Link ke posting ini


Label: Komunikasi politik
Reaksi:
Posting Lama Beranda
Langgan: Entri (Atom)
# PENYUNTING

Ahmad Kurnia
Cikarang Barat, Kab. Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
lahir di kota kecil Garut yang saat ini Berprofesi sebagai seorang pendidik sejak tahun
1990 dan saat ini menjadi tenaga pengajar manajemen di STBA-JIA Bekasi, sangat
interest terhadap perkembangan pendidikan, Manajemen, komunikasi, manajemen
penelitian dan Budaya etnis Nusantara.
Lihat profil lengkapku

ARSIP
• ► 2007 (7)
○ ► September (3)
 STIGMA SOSIO-KULTURAL MASYARAKAT Di DAERAH
URBAN ...
 KURIKULUM MENTORING <!--[if !supportLists]-...
○ ► November (4)
 BUDAYA ORGANISASI Pendahuluan Sebagian para...
 Kepemimpinan Abad 21 Uraian dan pemikiran mengen...
 Perkembangan Paradigma Kepemimpinan : Gaya, Tipolo...
 Kepemimpinan karismatik kepemimpinan karis...
• ► 2009 (12)
○ ► Maret (1)
 Pengertian Kepemimpinan (Leadership)
○ ► April (1)
 Organisasi dan otoritas
○ ► Desember (10)
 Rizal Sukma Masuk 100 Pemikir Terkemuka Dunia
 KARAKTERISTIK SEORANG PEMIMPIN
 Kepemimpinan : Hakikat, prilaku dan konsep kekuasa...
 Mati karena tertawa
 Mengelola Konflik Organisasi
 Rahasia Bill Gate Dalam Memimpin Microsoft
 Menjadi pemimpin kharismatik
 Kepemimpinan dalam Islam
 PEMIMPIN KHARISMATIK ATAU DEMOKRASI
 NARSISME dalam KEPEMIMPINAN
• ▼ 2010 (32)
○ ► Januari (2)
 HAL PENTING YANG HARUS DIMILIKI SEORANG PEMIMPIN
 KUNCI SUKSES PEMIMPIN SUKSES
○ ► Februari (25)
 Kuatnya Kata-kata Dalam Kepemimpinan
 Tokoh Sejarah : "Prof Dr A Sartono Kartodirdjo"
 Max Weber
 Mochtar Lubis
 Mohammad Hatta
 Ibnu Sina
 KH Ahmad Dahlan
 Bacharuddin Jusuf Habibie
 Rene Descartes
 Jendral Soedirman
 Jendral Achmad Jani
 Imam Syafi'i
 Adam Malik
 Imam Al-Bukhori
 RA Kartini
 Muhammad Rosulullah SAW
 DR. Muhammad Natsir
 Ibnu Sina
 BIOGRAFI AL-FAROBI
 Amien Rais
 TAUFIK ABDULLAH
 Soekarno
 Al-Kindi
 Teori Kepemimpinan
 leader dan follower
○ ► Maret (2)
 TEORI ORGANISASI
 HUBUNGAN INTERNASIONAL
○ ▼ Mei (3)
 Budaya organisasi
 BUDAYA ORGANISASI
 BUDAYA ORGANISASI DALAM RANGKA MENGHADAPI
PERUBAHA...

KATEGORI
• Budaya organisasi (3)
• Definisi Leadership (1)
• humor organisasi (1)
• karakteristik pemimpin (2)
• Kepemimpinan (6)
• kepemimpinan Islam (1)
• Komunikasi politik (2)
• Konplik organisasi (1)
• konsep organisasi garis dan staf (2)
• Leadership (1)
• Manajemen haroqi (1)
• pemimpin kharismatik (3)
• Prilaku organisasi (1)
• Tokoh Agung (1)
• Tokoh budaya (2)
• Tokoh Filsafat (8)
• Tokoh organisasi (4)
• Tokoh sosial-politik (10)
• Wawasan organisasi (2)

# TOKOH LINK
- Inspiration Link -

LINK TUTORIAL
• ESQ Way
• 12 Manage.com

MEDIA ORGANISASI
MEDIA CETAK

 Antara
 Kompas
 Koran Tempo
 The Jakarta Post
 Media Indonesia
 Republika
 Suara Pembaruan
 Sinar Harapan
 Suara Merdeka
 Jawa Pos
 Bisnis Indonesia
 Suara Karya
 Harian Analisa
 Pos Kota
 detik.com
 Investor Indonesia
 Ekonomi Rakyat
MEDIA INTERNASIONAL

 Google News
 Yahoo News
 A B C News
 AOL
 Asahi Shimbun
 AP News
 Asia Gateway
 BBC
 Bloomberg
 CNN
 IHT
 Reuters
 New York Times
 RIA Novosti
 USA Today
 Washington Post
 The Straits Times Interactive
 The Sidney Morning Herald
 TIME
 South China Morning Post
 HRW
ORGANISASI INTELIJEN

 INTERPOL
 NATO
 FATF
Intelligence Agencies Link

 The Bloody C I A
 Homeland Security
 National Counterintelligence Executive
 NSA
 DIA
 FBI
 Secret Service
 Kantor James Bond
 MI5
 SIS
 Scotland Yard
 ACOS IS
 BND
 AIVD
 CNI
 mossad
 Shabak
 ASIS
 ASIO
 NZ-SIS
 CSIS
 CISC
 SVR
 FSB

# ANGGOTA BLOG

REFERENSI
International Herald Tribune
OhMyNews International
Daily News & Analysis
Frontline Weekly Mag
The New York Times
The Times of India
Al Jazera English
Media Indonesia
Outlook India
Detik News
Wikipedia
The Hindu
The Week
CNN
BBC
Kompas
Jawa Pos
NDTV 24x7
Republika
The Guardian
Hindustan Times
Reuters - India
Channel News Asia
Outlook Weekly Mag
The Washington Post
South Asian Media Net
South Asia Media Watch
The Jakarta Post Daily

# REFERENSI LINK
• Biografi tokoh
• Buku Budaya Organisasi
• Buku Kepemimpinan
• Buku Organisasi
• Buku Politik

undi ane bermasalah nih akh…………ga taat, ga perform. Payah !!!”


“sebagai jundi antum harus taat akh!!”
Mungkin para aktivis dakwah sering mendengar kata-kata tersebut dikeluarkan oleh
qiyadah-qiyadah-nya. Bahkan kata-kata tersebut jadi semacam kata-kata sakti
seorang qiyadah dakwah. Kita semua sepakat Qiyadah wal jundiyah adalah
keniscayaan dalam dakwah. Tanpa qiyadah wal jundiyah amal-amal dakwah tidak
akan berjalan. Tapi apakah konsep yang ideal itu telah diterapkan dengan “Benar”
dalam aktivitas dan amal kita sehari-hari. Masalah yang terjadi sekarang ini ialah
banyak terjadi fenomena “pembangkangan” yang dilakukan oleh aktivis dakwah
terhadap jamaah atau qiyadahnya yang mengakibatkan performa jamaah menjadi
tidak maksimal. Sebelum membahas itu, kita lihat dulu arti dari qiyadah wal
jundiyah. Qiyadah bisa diartikan sebagai kepemimpinan dan jundiyah sebagai
pengikut. Maka secara kasar qiyadah wal jundiyah bisa diartikan sebagai hubungan
antara pemimpin dengan yang dipimpin. Maka, qiyadah wal jundiyah adalah
hubungan timbal balik atau 2 arah antara si pemimpin dengan pengikutnya. Jika ini
yang terjadi, Pertanyaannya adalah, ketika seorang qiyadah menuntut haknya
kepada pengikutnya, apakah ia telah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang
qiyadah?
Menurut John C Maxwell, seorang leader atau pemimpin adalah “the one who knows
the way, shows the way and goes the way” berarti seorang pemimpin adalah orang
yang tahu mau dibawa kemana pengikutnya, menunjukkan arah dan jalannya serta
pergi bersama pengikutnya menuju tujuan tersebut. Menurut Jack Welch, seorang
ahli change management dan mantan CEO General electric, yang dibutuhkan
adalah seorang “pemimpin di semua lini yang dapat memompa semangat,
membangkitkan gairah dan memberi inspirasi. Bukan yang membuat lesu,
menimbulkan rasa tertekan dan menebar kontrol” atau kita bisa lihat kriteria
pemimpin menurut syaikh Mustapha Mansyur, seorang mursyid am gerakan islam
terbesar di dunia, ikhwanul muslimin. Dalam bukunya “al qiyadah wal jundiyah”, ia
mengatakan bahwa kriteria seorang qiyadah dakwah adalah :
• Ikhlas
• Peka terhadap pengawasan dan penjagaan Allah
• Selalu memohon pertolongan Allah SWT
• Memiliki tanggung jawab untuk menjaga diri dan amanah terhadap apa yang
diembannya
• Memberikan porsi untuk pendidikan
• Menyiapkan regenerasi
• Menjalin ukhuwah antar seluruh anggota
• Mampu merencanakan program dengan tepat, menentukan tahapan strategi,
sumber dana dan mengelola orang sesuai kemampuannya
• Membangun iklim saling percaya dan khusnudzon
• menyalakan cita-cita, mengukuhkan tekad, dan membangkitkan harapan anggota
atau jika kita liat ciri-ciri seorang pemimpin menurut Peter Drucker (bapak scientific
management), seorang leader selain memiliki kapabilitas (pengetahuan,
keterampilan, dan kebiasaan kerja yang bagus) ia juga harus memiliki :
• memiliki keteguhan hati dan daya tahan yang tangguh
• memiliki standar kerja yang tinggi dan mampu memotivasi seluruh jajarannya
untuk hanya menghasilkan yang terbaik
• berani merekrut orang-orang terbaik menempatkan dan mempertahankan
mereka di posisi yang tepat.
• Mampu membuat keputusan secara cepat, melaksanakannya dalam kerangka
waktu yang ketat, dan mengukur hasilnya.
• Memiliki passion terhadap apa yang dikerjakan.
• Melakukan segala sesuatu dengan tenang, tak banyak sesumbar.
• Rela menyalurkan ambisi untuk kemajuan organisasi, bukan pribadi.
• Hanya bersandar pada inspired standard dalam memotivasi
Jim collins dalam bukunya Good to great, menyatakan bahwa seorang pemimpin
level-5 atau seorang pemimpin hebat (great leader) adalah seorang pemimpin yang
bisa membangun kehebatan yang bertahan lama lewat bauran paradoks dari
kerendahan hati pribadi dan kemauan professional.
Karena jundi kita adalah kaca diri kita, maka jika kita protes kalau jundi atau staf
kita tidak taat dan tidak bekerja sesuai yang kita inginkan, kita harus berkaca pada
diri kita, apakah kita juga telah memenuhi kriteria seorang pemimpin yang
disebutkan para pakar leadership diatas? Apakah kita telah memaparkan visi kita
dengan baik kepada jundi kita sehingga mereka punya arahan dan tujuan yang jelas
dalam beramal? Seringkali yang kita berikan adalah rincian tugas, bukan visi.
Bahkan seringkali kita mengatur hal-hal teknis yang harus dilakukan seorang jundi
dalam mengerjakan amanahnya. Sehingga jundi-jundi kita didik untuk menjadi
seorang robot yang hanya menjalankan perintah, bukan seorang pemimpin-
pemimpin baru yang kreatif dalam mengerjakan amanah dan mencapai tujuan
jamaah.
Maka, Mulai sekarang yang kita berikan adalah apa yang ingin kita capai, bukan apa
yang harus dia kerjakan. Kita biarkan jundi-jundi kita berkreasi untuk mencapai visi
bersama yang telah ditentukan bersama sejak awal, jadi walaupun kontrol tetap
kita lakukan namun jundi-jundi kita tetap bisa bebas berekspresi dalam bergerak.
Seringkali karena kita berada di posisi puncak dan didukung oleh jamaah, kita
menganggap jundi kita sebagai robot yang siap diperintah sesuka hati kita. Kita
lupa jika seorang jundi juga seorang manusia yang mempunyai hati. Ia butuh
sentuhan personal, ia butuh didengarkan dan juga ia butuh dihargai eksistensinya
sebagai seorang manusia. Kita tidak boleh menjadi seorang pemimpin berhati es
yang tidak pernah mendengarkan jundi kita. Yang menutup kuping terhadap
keluhan dan kesulitan jundi kita. Menjadi seorang otoriter dengan berlindung dibalik
alasan kepentingan dakwah dan koordinasi. Tetapi kita harus menjadi seorang
pemimpin yang hangat. Yang mau mendengarkan keluhan dan kesulitan jundi kita.
Seorang pemimpin yang menghargai sang jundi sebagai manusia dengan mengajak
mereka berdiskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan organisasi terutama jika
keputusan itu berkaitan dengan dirinya secara langsung. Sudahkah kita?
Apakah rapat dan syuro yang kita lakukan bersama jundi kita merupakan sebuah
sarana mencari solusi bersama atau hanyalah ajang sosialisasi kebijakan? Jika
merupakan sarana mencari solusi bersama, maka kita harus mendengarkan
pendapat jundi-jundi kita dengan baik dan menggunakannya sebagai sebuah opsi
solusi. Karena, bagaimanapun merekalah orang-orang yang paling mengerti kondisi
di lapangan. Jika rapat dan syuro kita hanya sebagi ajang sosialisasi kebijakan,
cukup dengarkan pendapat mereka dan lupakan!!! Kemudian kita berikan pendapat
kita dan sahkan sebagai sebuah keputusan yang harus mereka taati.
Jika hal-hal diatas telah kita lakukan, maka tak ada alasan pembangkangan yang
dilakukan oleh jundi dan bawahan kita. Semoga ini akan membuat kita semua
belajar untuk lebih baik lagi.
Kita harus banyak belajar untuk saling menghargai……….kerja besar untuk
perubahan besar”

uhiyah, Bekal Berdakwah


Fiqih Dakwah
18/4/2007 | 01 Rabiuts Tsani 1428 H | Hits: 9.424
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

Ruhiyah adalah bekal yang terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seorang da’i. Ruhiyah
inilah yang akan memotivasi, menggerakkan dan kemudian menilai setiap perbuatan yang
dilakukannya.. Keberadaan ruhiyah yang baik dan stabil menentukan kualitas sukses hidup
seseorang, demikian juga dengan dakwah. Sangat tepat ungkapan yang menyatakan, “Ar-
Ruhiyah qablad dakwah kama Annal Ilma qablal qauli wal amal”. Ungkapan ini merupakan
“iqtibas” dari salah satu judul bab dalam kitab shahih Al-Bukhari, “Berilmu sebelum berbicara
dan beramal, demikian juga memiliki ruhiyah yang baik sebelum berdakwah dan berjuang”.
Dalam konteks dakwah, menjaga dan mempertahankan ruhiyah harus senantiasa dilakukan
sebelum beranjak ke medan dakwah, sehingga sangat ironis jika seseorang berdakwah tanpa
mempersiapkan bekal ruhiyah yang maksimal, bisa jadi dakwahnya akan ”hambar” seperti juga
ruhiyahnya yang sedang ”kering”. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman,
ruku’lah kalian bersama-sama, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu, kemudian lakukanlah amal
kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad”. (Al-Hajj: 77-78)
Menurut susunannya, ayat di atas memuat perintah Allah kepada orang-orang yang beriman
berdasarkan skala prioritas; diawali dengan perintah menjaga dan memperbaiki kualitas ruhiyah
yang tercermin dalam tiga perintah Allah: ruku’, sujud dan ibadah, kemudian diiringi dengan
implementasi dari ruhiyah tersebut dalam bentuk amal dan jihad yang benar. Yang diharapkan
dari menjalankan perintah ayat ini sesuai dengan urutannya adalah agar kalian meraih
kemenangan dan keberuntungan dalam seluruh aspek kehidupan, terlebih urusan yang kental
dengan ruhiyah yaitu dakwah. Tentunya susunan ayat Al-Qur’an yang demikian bijak dan tepat
bukan semata-mata hanya memenuhi aspek keindahan bahasa atau ketepatan makna, namun
lebih dari itu, terdapat hikmah yang layak untuk digali karena susunan ayat atau surah dalam Al-
Qur’an memang bersifat “tauqifiy” (berdasarkan wahyu, bukan ijtihad).
Peri pentingnya ruhiyah dalam dakwah dapat dipahami juga dari sejarah turunnya surah Al-
Muzzammil. Surah ini secara hukum dapat dibagikan menjadi dua kelompok; kelompok yang
pertama dari awal surah hingga ayat 19 yang berisi instruksi kewajiban shalat malam dan
kelompok kedua yang berisi rukhshah dalam hukum qiyamul lail menjadi sunnah mu’akkadah,
yaitu pada ayat yang terakhir, ayat 20. Bisa dibayangkan satu tahun lamanya generasi terbaik
dari umat ini melaksanakan kewajiban qiyamul lail layaknya sholat lima waktu semata-mata
untuk mengisi dan memperkuat ruhiyah mereka sebelun segala sesuatunya. Baru di tahun
berikutnya turun rukhshah dalam menjalankan sholat malam yang merupakan inti dari aktivitas
memperkuat ruhiyah. Hal ini dilakukan, karena mereka memang dipersiapkan untuk mengemban
amanah dakwah yang cukup berat dan berkesinambungan.
Pada tataran aplikasinya, stabilitas ruhiyah harus diuji dengan dua ujian sekaligus, yaitu ujian
nikmat dan ujian cobaan atau musibah. Karena bisa jadi seseorang mampu mempertahankan
ruhiyahnya dalam keadaan susah dan banyak mengalami ujian dan cobaan, namun saat dalam
keadaan lapang dan senang, bisa saja ia lengah dan lupa dengan tugas utamanya. Inilah yang
dikhawatirkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya, “Bukanlah kefaqiran yang sangat aku
khawatirkan terjadi pada kalian, tetapi aku sangat khawatir jika (kemewahan, kesenangan) dunia
dibentangkan luas atas kalian, kemudian karenanya kalian berlomba-lomba untuk meraihnya
seperti yang pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian. Maka akhirnya kalian binasa
sebagaimana mereka juga binasa karenanya”. (Bukhari dan Muslim). Maka seorang mukmin
yang kualitas ruhiyahnya baik adalah yang mampu mempertahankannya dalam dua keadaan
sekaligus. Demikianlah yang pernah Rasulullah isyaratkan dalam sabdanya, “Sungguh
mempesona keadaan orang beriman itu; jika ia mendapat anugerah nikmat ia bersyukur dan itu
baik baginya. Namun jika ia ditimpa musibah ia bersabar dan itu juga baik baginya. Sikap
sedemikian ini tidak akan muncul kecuali dari seorang mukmin”. (Al-Bukhari)
Dalam konteks ini, contoh yang sempurna adalah Muhammad saw. Beliau mampu memelihara
stabilitas ruhiyahnya dalam keadaan apapun; dalam keadaan suka dan duka, senang dan sukar,
ringan dan berat. Justru, semakin besar nikmat yang diterima seseorang, mestinya semakin
bertambah volume syukurnya. Semakin besar rasa syukurnya, maka akan semakin tinggi voltase
dakwahnya. Begitu seterusnya sehingga wajar jika Rasulullah tampil sebagai abdan syakuran.
Karena memang demikian jaminan Allah swt, “Barangsiapa yang bersyukur, maka pada
hakikatnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya” (Luqman: 12). Orang yang bersyukur akan
memperoleh hasil syukurnya, yaitu kenikmatan ruhiyah yang ditandai dengan hidup menjadi
lebih bahagia, tenteram dan sejahtera. Karena bersyukur hakikatnya adalah untuk dirinya sendiri.
Dan ternyata kesuksesan dakwah Rasulullah saw yang diteruskan oleh para sahabatnya sangat
ditentukan –selain dari pertolongan Allah- dengan kekuatan ruhiyahnya. Selain dari qiyamul lail
yang menjadi amaliyah rutin sepanjang masa, cahaya Al-Qur’an juga senantiasa menyinari
hatinya. Allah swt menegaskan dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-
benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Ia dibawa turun oleh Ar-ruhul Amin (Jibril), ke
dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang
memberi peringatan”. (Asy-Syu’ara’: 192-194). Demikian persiapan Muhammad sebelum
menjadi Rasul yang akan memberi peringatan yang merupakan tugas yang berat dan
mengandung resiko adalah dengan dibekali Al-Qur’an yang akan senantiasa mengarahkan
hatinya.
Dalam hal ini, Dr. Yusuf Al-Qaradawi pernah menyatakan dengan tegas rahasia kekuatan Al-
Qur’an, “
‫القرآن روح رباني تحيا به القلوب والعقول‬
“Al-Qur’an adalah kekuatan Rabbani yang akan menghidupkan hati dan pikiran”. Al-Qur’an
akan senantiasa memancarkan kekuatan Allah yang akan kembali menghidupkan hati dan pikiran
yang sedang dirundung duka dan kemaksiatan. Kekuatan nabi Muhammad sendiri ada pada
kekuatan hatinya yang senantiasa dicharge dengan cahaya Al-Qur’an. Dan demikian seharusnya,
kekuatan dakwah seseorang ditentukan oleh kekuatan ruhiyahnya, bukan dengan aspek
secondary dan formalitas lainnya.
Pada masa yang sama, agar ruhiyah tetap stabil terpelihara, maka harus dijaga dengan banyak
beramal, meskipun hanya sedikit. Karena amal yang terbaik menurut Rasulullah saw adalah amal
yang berkesinambungan, “Sebaik-baik amal adalah yang berkesinambungan meskipun sedikit
demi sedikit”. (Tirmidzi). Dalam konteks ini, Inkonsistensi ruhiyah pernah ditegur oleh
Rasulullah saw, “Janganlah kamu seperti si fulan; dahulu ia rajin qiyamul lail, kemudian ia
tinggalkan”.
Penguatan aspek ruhiyah sebelum yang lainnya pada hakikatnya merupakan bentuk kewaspadaan
seorang mukmin di hadapan musuh besarnya yaitu setan yang seringkali bergandeng bahu
dengan manusia untuk melancarkan serangannya dan merealisasikan misinya. Tepat ungkapan
Prof. Muhammad Mutawlli Asy-Sya’rawi:.
‫يأتى الشيطان من نقطة الضعف للنسان‬
“Setan akan senantiasa mengintai dan mencari titik lemah manusia”. Dengan licik dan komit,
setan senantiasa mengincar kelemahan manusia tanpa henti, karena ia tahu bahwa setiap manusia
memiliki kelemahan dan oleh karenanya manusia diperintahkan untuk berlindung hanya kepada
Allah dengan memperkuat aspek ruhiyahnya.
Demikianlah, aspek ruhiyah selalu menjadi potensi andalan para pemimpin dakwah yang telah
menoreh tinta emas dalam sejarah dakwah ini. Mereka adalah orang-orang yang terbaik dalam
kualitas ruhiyah dan amalnya. “Ruhbanun bil Lail wa Fursanun bin Nahar”. Bisa jadi kelemahan
dan kelesuan dakwah memang berpangkal dari kelemahan dan kelesuan ruhiyah. Saatnya para
da’i menyadari urgensi ruhiyah sebelum amal dakwah dengan memberi perhatian yang besar
tentang aspek ini dalam pembinaan. Karena demikianlah memang dakwah mengajari kita melalui
generasi terbaiknya. Wallahu ‘alam bis shawab

Beri Nilai Naskah Ini:

(16 orang menilai, rata-rata: 9,25 dalam skala 10)

Loading ...

Naskah Terkait Sebelumnya:


• Biografi Empat Pemimpin Dakwah Teladan
• Dakwah Tidak Dapat Dipikul Orang Manja
• Kisah Dakwah Nabi Nuh
• Menjadi Pelopor Kebajikan
• Kami Adalah Dai

Pembaca Naskah Ini, Juga Membaca:


• Kekuatan Ruhiyah Seorang Dai
• Gaza Bermanuver Sambut Armada Kebebasan
• Langkah-Langkah Cerdas Dalam Berdakwah
• Ilmuwan Muda RI Raih Penghargaan Internasional IEEE
• Bekal Utama Aktivis Dakwah

CSUI05
• Home
• About
• Archives
Oct 15
Berbagi.. Beberapa Ciri Rumah Tangga Islami
Posted by lenidisini
Assalammu’alaikum wr. wb.
Semoga artikel yang di-kopas dari sini bisa bermanfaat. Maaf yah kalo temanya dirasa agak
gimana gitu, cuman persiapan itu penting, kan?
Beberapa Ciri Rumah Tangga Islami
Pemateri: Ustz. Vivi (id: hifizahn)
*disampaikan di Kajian Muslimah Online, Senin, 22 Jan 2007
Rumah Tangga Islami merupakan dambaan bagi setiap insan yang menginginkan kebahagiaan di
dunia maupun di akhirat. Sayangnya, banyak orang yang ingin mendapatkan hasil tanpa mau
membayar harganya. Membangun rumah tangga islami memerlukan kerja keras dari seluruh
anggota keluarga, yang dikomandani oleh suami dan isteri sebagai pemimpin di dalam rumah
tangga.
Yang dimaksud dalam rumah tangga Islami adalah :
Rumah tangga yang di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik menyangkut individu
maupun keseluruhan anggota rumah tangga. Rumah tangga Islami adalah rumah tangga yang
didirikan atas landasan ibadah. Mereka bertemu dan berkumpul karena Allah, saling menasihati
dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling menyuruh kepada kebaikan dan mencegah
keburukan karena cinta mereka kepada Allah.
Konsep ideal ini sepintas sulit untuk diwujudkan, tetapi insya Allah seiring dengan berjalannya
proses belajar bagi suami, isteri dan seluruh anggota keluarga, rumah tangga seperti ini akan bisa
terwujud.
Berikut ini beberapa ciri rumah tangga Islami:
1. RT didirikan dengan berlandaskan ibadah.
Ini dimulai dari sebelum pernikahan berlangsung, bahkan sejak kedua belah pihak memilih
pasangan. Proses yang berlangsung mulai dari memilih pasangan, meminang sampai dengan
pernikahan sebaiknya tidak dikotori oleh maksiat kepada Allah. Hal ini sangan berpengaruh
dalam membangun rumah tangga yang diliputi dalam suasana ibadah. Dengan berpijak pada
ibadah, insya Allah permasalahan apapun akan mudah diselesaikan, karena keduanya tunduk
pada aturan Allah.
2. Nilai-nilai islam dapat terinternalisasi secara menyeluruh kepada setiap anggota keluarga.
Peran ayah dan ibu sangat penting untuk menurunkan nilai-ilai islam ini kepaa anak-anak. Oleh
karena itu, selain ayah dan ibu harus terus menerus belajar menyerap nilai-nilai islam ini ke
dalam sikap dan tingkah lakunya, menjadi kewajiban mereka juga untuk mengajarkan hal ini
kepada seluruh anggota keluarga yang lainnya. Termasuk khodimat/asisten rumah tangga. Ayah
yang menjadi direktur yang menerapkan kebijakan-kabijakan islami dalam rumah tangga, ibu
sebagai manajer yang mencari cara agar kebijakan tersebut bisa diterapkan di rumahtangganya.
3. Hadirnya Qudwah/teladan yang nyata
Hal ini perlu dilakukan oleh pemimpin dalam rumah tangga. Terutama penting bagi anak-anak.
Mereka perlu contoh yang nyata dalam menerapkan nilai-nilai islam dalam kehidupan sehari-
hari. Inilah kewajiban orang tua yang akan dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat nanti.
4. Terbiasa saling tolong menolong dalam menegakkan adab-adab Islam.
Setiap anggota keluarga memiliki kewajiban untuk membiasakan diri saling tolong menolong
dalam hal ini. Misalnya memberi nasihat dengan cara yang baik kepada anggota keluarga yang
melakukan kesalahan. Mengingatkan untuk sholat atau berdoa sebelum memulai suatu pekerjaan.
Juga adab mengucapkan terima kasih / jazaakallah khoiran atas pertolongan setiap anggota baik
kepada yang masih kecil maupun yag sudah besar.
5. Rumah terkondisi bagi terlaksananya peraturan Islam.
Dalam hal disain rumah, perlu diperhatikan aturan-aturan khusus yang dapat menjamin
terlaksananya adab-adab pergaulan dalam Islam. Misalnya kamar ayah-ibu yang terpisah dengan
anak-anak, kamar anak laki-laki yang terpisah dengan kamar anak perempuan.Hal ini untuk
menghindari terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam perilaku sang anak. Juga untuk
mengajarkan adab-adab pergaulan dengan setiap anggota keluarga.
6. Tercukupinya kebutuhan materi secara wajar
Ini menjadi tanggung jawab sang ayah untuk mencukupi kebutuhan materi untuk membangun
keluarga Islami. Bukan hanya sandang, pangan dan papan, tetapi juga sarana pendidikan islami,
seperti perpustakaan keluarga, juga bisa tercukupi. Kalau mau yang ideal, termasuk di dalamnya
terpenuhinya kebutuhan pendidikan sekolah yang bagus dan bermutu bagi anak-anak.
7. Rumah tangga dihindarkan dari hal-hal yang tidak sesuai dengan semangat islam
Misalnya benda-benda klenik yang dapat merusak aqidah setiap anggota keluarga. Tontonan atau
bacaan hiburan yang dapat merusak aqidah dan akhlak anak-anak. Hal ini perlu menjadi
perhatian orang tua yang ingin mewujudkan rumah tangga islami.
8. Anggota keluarga terlibat aktif dalam pembinaan masyarakat.
Lingkungan memiliki pengaruh yang besar bagi seluruh anggota keluarga. Bila ayah atau ibu
tidak berperan aktif membina masyarakat, dan membiarkan masyarakat melakukan perbutan
yang tidak sesuai dengan Islam, kemungkinan besar angota keluarga terlarut dalam kondisi
masyarakat tersebut.
9. Rumah Tangga dijaga dari pengaruh yang buruk
Bila hidup ditengah masyarakat yang sangat rusak, dan dikhawatirkan akan berpengaruh
terhadap aqidah dan perilaku anak, sementara upaya perbaikan sudah tidak dapat dilakukan,
maka “pindah” menjadi suatu hal yang perlu dipertimbangkan oleh keluarga ini.
10. Masing-masing anggota keluarga harus diposisikan sesuai syariat.
Isteri menghormati suami sebagai pemimpin dan mengambil keputusan. Suami menyayangi dan
menghargai siteri dengan cara mengajaknya bermusyawarah atas segala keputusan. Sang adik
diajarkan untuk menghormati kakak, sang kakak diajarkan untuk menyayangi adik. Semuanya
harus sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Islam.Bila ada khodimat, anak-anak diajarkan
untuk mengormati khodimat dan menghargai jasanya dalam membantu mengurus rumah tangga.

***
Ada beberapa hal tambahan, terutama bagi yang belum menikah. Apa yang perlu dipersiapkan?
Ada beberapa poin, yaitu:
1. Persiapan ruhiyah : tentang menyadari bahwa menikah itu adalah ibadah, tentang adab
berkeluarga
2. Persiapan fikriyah : menyiapkan ilmu tentang pernikahan, membaca buku-buku tentang fikih
nikah, ilmu mendidik anak, hak dan kewajiban dalam keluarga
3. Persiapan psikologis : siap menghadapi dan memahami perbedaan
4. Persiapan fisik
ira2 saya sudah siap belum yah???
Filed Under: Islam, My Short Story, Pernikahan, my artikel by Ahmad Shadiqin — 1 Comment
19 January 2009

Versi Nikah-ku (Insya Allah)


Pernikahan Suci yang Islami tentu saja hal ini adalah impian banyak orang. Lalu, apa saja yang
perlu disiapkan?
1. Persiapan Ruhiyah
Sasaran: mengambil posisi sedekat mungkin dengan Allah swt
Tujuan: mensucikan jiwa sehingga niat nikah yang sempurna hanya karena menginginkan ridha
Allah
Perangkat: kerendahan dan ketaatan di hadapan Allah
langkah-langkah:
- banyak berdzikir
- banyak bertaubat
- shalat tepat waktu dengan khusyu’
- shalat tahajjud setiap malam
- tadarrus Al Quran
- berpuasa sunnah
2. Persiapan Aqliyah (keilmuan)
sasaran: menguasai informasi sebanyak mungkin tentang kenapa manusia harus menikah, dan
segala persoalan yang melingkupinya di dunia serta konsekuensinya di akhirat
tujuan: memiliki road map yang lengkap menuju kesuksesan pernikahan dunia-akhirat
perangkat: Al Quran, Sunnah Rasulullah saw, kisah pernikahan shahabat dan shahabiyah
Rasulullah saw
action: memperbanyak membaca, mendengar, bertanya, dan mendiskusikan informasi-informasi
tentang hal ini dengan orang-orang berilmu, dalam majelis yang diadakan khusus.
3. Persiapan Syu-uriyah (emosional dan mental)
sasaran: mencapai keseimbangan mental dan emosional agar tetap fokus pada tujuan besar acara
pernikahan, yaitu meraih ridha Allah, sehingga tidak mudah tergoda untuk melakukan kegiatan
yang sia-sia atau mubadzir di mata Allah, dan tidak mudah terguncang oleh berbagai ‘insiden’
yang biasanya menjadi kerikil di sekitar hari-H pernikahan, dan sesudahnya.
tujuan: memelihara silaturrahim dengan sesama manusia, terutama dengan ibu, ayah, saudara,
tetangga, dll.
perangkat: akhlak mulia kepada siapapun
action: selalau sensitif atas kehadiran siapapun di sekitar kita, karena biasanya, menjadi calon
pengantin membuat kita merasa paling penting dan urusan orang lain menjadi kurang penting.
4. Persiapan Jismiyah
sasaran: mencapai kondisi fisik terbaik menjelang pelaksanaan pernikahan dengan niat agar bisa
melaksanakan ibadah kepada Allah dg sempurna
tujuan: melaksanakan pernikahan dengan lancar tanpa gangguan kesehatan
perangkat: makanan dan minuman yg halal, bergizi, tidak memicu timbulnya penyakit dan tidak
berlebihan. Olah raga yang terprogram dan teratur.
5. Persiapan Walimah
sasaran: mempersiapkan kepanitiaan serapi dan seefisien mungkin
tujuan: pernikahan berlangsung lancar dan khidmat, mengajak semua yang hadir berendah hati
kepada Allah
perangkat: sahabat dan kerabat
ada yang mau nambahin???
Tags: nikah, pasca kampus, persiapan
Comment
Menikah…..
Filed Under: Pernikahan by Ahmad Shadiqin — Leave a comment
20 October 2008
Oleh: DR. Amir Faishol Fath
“MENIKAH”

Kita hidup di zaman yang mengajarkan pergaulan bebas, menonjolkan aurat, dan
mempertontonkan perzinaan. Bila mereka berani kepada Allah dengan melakukan tindakan yang
tidak hanya merusak diri, melainkan juga menghancurkan institusi rumah tangga, mengapa kita
takut untuk mentaati Allah dengan membangun rumah tangga yang kokoh? Bila kita beralasan
ada resiko yang harus dipikul setelah menikah, bukankah perzinaan juga punya segudang resiko?
Bahkan resikonya lebih besar. Bukankankah melajang ada juga resikonya?
View full article »
Read More & Comment
Menanti Kehadiran Sang “Jundi Kecil”
Filed Under: My Short Story, Pernikahan by Ahmad Shadiqin — 1 Comment
27 March 2008
Dua hari yang lalu
Saya mendapat kabar dari seorang teman satu perjuangan
Seperti ini pesannya :
“Assalamu’alaikum. ..
kabar terbaru dari njum…
bulan ini istri njum telat ke bulan (eh telat dtg bulan deng)….
beberapa hari setelah telat,,,kita sepakat buat periksa….
dan hasil dari pemeriksaan oleh bidan setempat…adalah. ..
ternyata,,,eh ternyata….
ALHAMDULILLAH. …(+)
terhitung bulan ini usianya baru sekitar sebulan kurang…
dan setelah di forecast pake Analisis Deret Waktu diprediksi dalam selang bulan November-
Desember
kelahirannya. ..
asumsi umur kandungan sekitar 9 bln 10 hari…
NB:ada usulan nama?? klo ada silakan kasih tau aja….
Makasih…
itu kabar terbaru Njum&Istri”
Yah, menanti kehadiran sang buah hati memang anugrah terindah untuk kedua pasangan suami
istri. Akhirnya puisi berikut semoga menjadi inspirasi…..
Menanti Sang Buah Hati
kehadirannya sangat di nanti
memberikan senyum kebahagiaan tersendiri
meletupkan semangat yang berapi-api
subhanallah,
betapa rindu hati ini
menanti sang buah hati tercinta
generasi penerus perjuangan panji Ilahi Rabbi
kami merindukanmu duhai mujahid
kuatkan kami dalam jalan terbaik ini
kami akan terus dan terus menentramkan hati
untuk senantiasa bersabar atas setiap ujian yang datang menghampiri
selalu bersyukur atas setiap rezeki pemberian-Nya yang tiada henti
dan ikhlas atas kehendak Ilahi
karena kami yakin bahwa putusan Allah ta’ala adalah yang terbaik
asa kami mengharap deras tiada henti
semoga kau segera hadir sebagai buah cinta kami
cinta yang kami persembahkan hanya untuk-Nya Yang Maha Segala
menemani hari-hari dalam perjalanan panjang perjuangan meraih ridho Allah
Comment
Untuk Calon Istriku
Filed Under: Pernikahan by Ahmad Shadiqin — Leave a comment
16 February 2008

Assalammu’alaikum Wr… Wb…


Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care…
Allah selalu bersama kita
Ukhtiku…
Masihkah menungguku…?
Hm… menunggu, menanti atau whatever-lah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan.
Benarkah?!
Menunggu…
Hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang ‘istimewa’
Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa
Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu
Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat
View full article »
Kamis, 09 Juli 2009
Persiapan Puasa bagi Anak-anak
Bulan Romadhon adalah bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam.
Bulan utama dibandingkan bulan-bulan yang lain. Dalam bulan
inilah Allah Azza wa Jalla memberikan berbagai keberkahan dan
kemudahan. Inilah syahrul mubarokah (bulan berkah) karena
merupakan bulan yang penuh berkah. 10 hari pertama Allah SWT
mengucurkan rahmatnya (sehingga juga disebut syahrur
rahmat/bulan penuh rahmat), 10 hari kedua Allah SWT memberikan
maghfirohNya (ampunanNya) sehingga bisa disebut syahrul
maghfiroh/bulan pengampunan, 10 hari ketiga Allah SWT memelihara
manusia dari siksa api neraka. Di salah satu malamnya, Allah
adakan Lailatul Qodar. Pahala sunnah (ibadah yang disunnahkan)
sama pahalanya dengan ibadah wajib. Sedangkan pahala wajib
dilipatgandakan menjadi 70 kali lipat.
Seolah-olah Allah hamparkan beragam kesempatan dan tinggallah
kita sebagai hambaNya mau atau tidak mereguk dan meraih semua
bentuk kasih sayang Allah tersebut. Bagi hamba Allah yang dengan
segala keikhlasan dan kesadarannya, ia akan peroleh janji Allah.
Dan bagi sebagian hamba Allah yang lupa maka mereka tidak akan
temui keberkahan bulan ini. Jadilah bulan Romadhon sekarang
berlalu seperti Romadhon yang lalu. Waktu terus berlalu, umurpun
bertambah serta duniapun semakin tua untuk ditinggali. Allahu
Akbar!
Bulan Romadhon pun juga sering disebut syahrut tarbiyah/bulan
training. Kita dilatih untuk tidak makan, minum, dan menahan
hawa nafsu sejak fajar hingga terbenam matahari. Bahkan kita
ditraining untuk tidak manja dengan suasana musim. Karena bulan
Romadhon kadang datang di berbagai musim yang berbeda. Umat
Islam juga tidak diperbudak oleh kebiasaan. Karena dapat
berlatih menahan hawa nafsu buruk (marah, bohong, menyakiti
orang lain). Syahruth-tha’at (bulan taat) sebutan lainnya. Bulan
melatih ketaatan kepada perintah dan larangan Allah. Yang
terakhir sebutannya adalah syahrul A-Qur’an (bulan Al-Qur’an)
bulan dimana awal turunnya Al-Qur’an. Pedoman hidup, cahaya
penerang, obat/penyembuh penyakit dan sebagai pembeda antara
yang hak/benar dengan yang batil/buruk-salah.
Begitu banyak manfaat dan keutamaan bulan Romadhon sehingga
Rasulullah SAW dan para sahabat mempersiapkan diri dengan
serius. Ada masa warming upnya. Dua bulan sebelum bulan Romadhon
yaitu bulan Rajab dan Sya’ban, para sahabat dan para ulama telah
melatih diri dengan memperbanyak shoum/puasa sunnah. Semangat
berinfaq dan beribadah semakin mengental dalam kehidupan sehari-
hari.
Ibarat lampu teplok, di bulan Rajab semprong lampu dan tempat
minyaknya dibersihkan dan di bulan Sya’ban diisi dengan minyak,
sumbunya diganti sehingga ketika bulan Romadhon datang lampu
teplok bisa menyala dengan baik dan lama. Dengan kata lain,
harus ada warming up dan persiapan luar dalam.
Apa yang perlu kita siapkan? Pertama, mungkin mempersiapkan
fisik/jasad. Yaitu kalau punya penyakit berobatlah, latihan
shoum sunnah. Rumah harus dibersihkan, dicat. Bahkan lantainya
bukan hanya dipel tapi disikat. Juga berbelanja sebaiknya
dilakukan sebelum Romadhon terutama yang tahan lama. Untuk
persiapkan ruhiyah, sebaiknya kita mulai melatih bangun malam
(qiyamulail – sholat tahajud) agar tidak kesiangan bangun sahur.
Sesudah sholat subuh diusahakan untuk memegang dan mambaca Al-
Qur’an terlebih dahulu sebelum memegang yang lain. Mulailah kita
belajar kembali mengenal pelafan huruf-huruf Al-Qur’an. Semakin
lancar dalam membaca Al-Qur’an tentulah semakin mudah untuk
berinteraksi dengan pedoman hidup kaum muslimin tersebut.
Menjauhkan diri dari kebiasaan yang bernilai syirik/menduakan
Allah SWT. Juga saling memaafkan dari segala kesalahan sesama
manusia. Terutama kepada orang tua, suami/istri, anak dan
khodimah/pembantu tumah tangga dan kemudian kerabat serta handai
tolan. Secara sederhana begitulah gambaran yang perlu kita
persiapkan.
Tapi, bagaimana dengan anak-anak kita? Apakah yang perlu kita
kerjakan dan persiapkan buat mereka ketika Romadhon menjelang?
Apakah sudah kita (orang tua) mengetahui perkembangan terakhir
fisik dan emosi si anak? Ataukah selama ini kita lebih sibuk
mempersiapkan sesuatu buat anak yang berkaitan dengan lebaran
semata? Ataukah (mudah-mudahan tidak) selama ini kita tidak
pernah memikirkan untuk mensosialisasikan suasana shoum kepada
sang anak?
Membiasakan Anak Shoum/Puasa Sejak Dini
Anak yang sholih dan sholihah adalah aset yang berarti bagi
kedua orang tuanya, bagi ummat maupun bagi masa depan Islam.
Ummat Islam membutuhkan generasi yang berdaya guna, yang terus
berprestasi menyempurnakan bangunan Islam. Anak yang sholih dan
sholihah adalah anak-anak yang sejak usia dini jiwanya dipenuhi
dengan bimbingan keimanan. Anak sejak usia dini ditempa dengan
akhlaqul karimah (akhlak yang baik). Yang makan dengan makanan
halalan thoyyiban (halal dan baik), menerapkan pola hidup sehat
dengan berolah raga dan hidup bersih. Yang akalnya diasah dengan
ilmu yang berguna untuk dunia dan akhirat. Yang tumbuh dengan
bi’ah sholihah (lingkungan yang sholih). Dan tentu saja anak
yang sholih dan sholihah adalah anak-anak yang diusianya dini
telah diakrabkan dengan aktivitas ibadah ilaLloh (kepada Allah).
Allah Maha Besar dan Maha Mengetahui. Maka didatangkanlah kepada
manusia satu bulan yang luar biasa. Bulan Romadhon. Bulan yang
baik bagi pengkondisian pembentukan anak yang sholih dan
sholihah. Ini merupakan kesempatan baik untuk lebih dekat pada
anak dan mensyiarkan/menyebarkan misi Rasulullah saw.
Kata Rasulullah saw bersabda: ”Ajarilah anak-anakmu sholat pada
usia 7 tahun dan pukullah pada usia 10 tahun dan pisahkanlah
tempat tidurnya.” Abdullah Nashih ’Ulwan, seorang ulama pakar
pendidikan dalam bukunya Tarbiatul aulad fil Islam (Pendidikan
Anak dalam Islam) mengatakan bahwa perintah mengajar sholat ini
dapat disamakan untuk ibadah lainnya seperti shoum. Proses
pelatihan ini dapat saja dimulai lebih dini (kurang dari 7
tahun). Begitu pula jika kita lihat kisah para sahabat
Rasulullah saw yang melatih anak-anaknya shoum hingga mereka
perlu memboyongnya ke mesjid dan dihibur dengan mainan dari bulu
bila anak-anak tersebut merengek minta makan. Meski hal ini
tidak mendapat ketegasan dari Rasulullah berupa anjuran atau
pelarangan tetapi tetap dapat dijadikan sebagai contoh betapa
para sahabat sangat serius mendidik anak mereka beribadah dengan
metode pembiasaan anak sejak dini dengan kegiatan ibadah.
Kaidah Melatih Anak Shoum
Dalam mendidik anak shoum di usia dini ini ada beberapa hal yang
perlu mendapat perhatian khusus terutama oleh pendidik dalam hal
ini ibu dan bapak.
Pertama, anak-anak khususnya balita masih dalam proses tumbuh
kembang. Supaya diperhatikan agar proses shoum tidak mengabaikan
suatu kenyataan bahwa anak-anak terutama balita harus
diperhatikan kebutuhan gizi dan tidur selama pelatihan
berlangsung. Karena bila diabaikan kegiatan pelatihan ini bukan
lagi bernama pendidikan tapi penganiayaan (pendzaliman) anak-
anak yang dapat berakibat mengganggu proses tumbuh kembangnya.
Kedua, harus dipahami bahwa kegiatan ini adalah sebuah
pelatihan, pengkondisian, pembiasaan, dan penyiapan anak agar
akrab dengan aktifitas ibadah. Bukan sesuatu yang final sehingga
kebijaksanaan yang diterapkan harus tetap fleksibel tergantung
pada keadaan anak, umur, fisik, dan psikologisnya. Pendidik
sebaiknya tidak menyarankan untuk shoum sampai jam tertentu,
tapi bisa dilihat dan dicek sesuai dengan keadaan anak.
Ketiga, pendidik sebaiknya bersungguh-sungguh dalam niat dan
azamnya (tekad) menerapkan pelatihan ini semata-mata karena
Allah Azza wa Jalla bukan karena agar tidak malu bila ditanya
teman: apakah balitanya shoum? Atau dapat berapa hari shoum
anaknya?
Keempat, pendidik juga sebaiknya meluangkan waktu yang cukup
untuk menemani anak dan memprioritaskan pelatihan shoum ini
dibandingkan kegiatan lain.
Kiat Mendidik Anak Shoum Sejak Dini
Persiapan
Pertama, persiapan-ruhiyah. Anak-anak yang akan disertakan dalam
pelatihan hendaknya dipersiapkan ruhiyahnya. Mulailah dengan
menjelaskan kepada anak apa itu shoum secara santai dan pelan-
pelan sesuai kondisinya. Sebaiknya tidak mengatakan kepada anak
’tidak boleh makan’ tapi gunakan istilah ’makannya di malam hari
dan siangnya ditahan’. Sehingga tidak terkesan mengerikan bagi
anak. Ditambah dengan cerita-cerita seputar Romadhon tentang
pahala yang dilipatgandakan, kisah aktivitas Rasulullah dan para
sahabat selama Romadhon, tentang lailatul qodar dan cerita lain
yang sesuai dengan gambaran Al-Qur’an dan Hadits. Pendidik juga
bisa bisa secara nyata dan langsung mensosialisasikan (sudah
menggembar-gemborkan sebelumnya) dengan menanyakan siapa yang
mau shoum disambung dengan siapa yang mau ikut makan sahur dan
sholat tarawih.
Kedua, persiapan fisik. Pastikan anak-anak dalam kondisi prima
pada awal Romadhon, bila perlu lakukan check kesehatan. Rumah
pun perlu disiapkan untuk menyambut Romadhon. Berbelanjalah
keperluan buka dan sahur (tentunya tetap berpatokan pada
kesederhanaan dan tidak boros) juga bahan-bahan mentah yang awet
untuk persiapan membuat kue lebaran. Baju lebaran pun sebaiknya
dibeli sebelum Romadhon tiba selain untuk menggembirakan anak
dan memotivasi anak untuk bersemangat dalam melaksanakan shoum.
Karena setelah selesai satu bulan shoum boleh pakai baju baru
juga menghindari kelelahan ibu karena belanja di saat shoum.
Ketiga, persiapan akal. Anak diakrabkan dengan hadits Shummu
tashihuu (Shoumlah niscaya kalian akan sehat). Perlunya
menerangkan bahwa alat pencernaan makanan dalam tubuh manusia
makanan dalam tubuh manusia (pabrik penggilingan makanan)
memerlukan waktu istirahat. Karena dia pun bisa lelah. Atau
cerita sederhana yang lain, yang dapat dipahami akalnya bahwa
shoum dianjurkan. Untuk lebih memudahkan kerja ada baiknya para
orang tua melihatkan alat-alat pencernaan manusia melalui gambar
atau bentuk lain yang menarik perhatian anak. Kalau memungkinkan
terangkan pula beberapa masalah-masalah darurat yang menyebabkan
orang boleh membatalkan puasanya.
Atau cobalah cara yang ini. Bawalah anak-anak silaturrahmi ke
kantor untuk melihat orang yang bekerja di kantor juga shoum
dengan menunjukkan tidak adanya gelas di mejanya. Atau ke tempat
umum lain yang bisa mengesankan suasana puasa. Kalau memang ada
waktu luang, ada baiknya memotivasi anak dengan melakukan ifthor
(berbuka) bersama di masjid, panti asuhan, dan lain-lainnya.
Suasana ini akan membekas pada perkembangan emosi si anak.
Apalagi sebagai orang tua, kita dapat menjelaskan secara menarik
perjalanan dan tempat yang telah dikunjungi.
Pelaksanaan
Pertama, mambangunkan sahur.
Bangun sahur adalah permasalahan terbesar bagi anak dan mungkin
juga kita. Tentulah ada beberapa hal yang sangat perlu
diperhatikan agar tidak memberikan kesan trauma pada si anak.
Sebaiknya tidak membangunkan anak dengan mengatakan “Ayo bangun
makan sahur”. Atau hindarilah membuat suasana bangun pada sahur
tersebut seperti suasana yang serba terburu-buru dan tegang.
Tapi siapkan dulu makanan/minuman kesukaan anak dan bangunkan
dengan menyebut makanan kesukaannya. “Kakak Zahara, pepayanya
sudah siap, bangun yuk” atau “Bang Kamal air sirop, air madu dan
teh manisnya sudah siap, yuk diminum.” Atau “Mas Adji sholeh,
manisan mangganya sudah ibu siapkan, yuk dicobain…”
Ketika anak sudah bangun maka berikan terlebih dahulu makanan
dan minuman kesukaannya. Makanan pokok untuk sahur sebaiknya
dipotong-potong kecil-kecil (daging, sosis halal, ikan tongkol,
dll) atau dalam bentuk fillet/diiris tipis-tipis. Makanan sahur
harus disiasati yang tidak susah menggigitnya dan langsung
kunyah sebentar dan mudah ditelan.
Jangan lupa juga sediakan telor rebus dan segelas susu terutama
ketika anak sulit dibangunkan dan adzan subuh sudah dekat. Bisa
juga menyediakan jus buah kental masukkan dalam botol dan simpan
di lemari pendingin. Ketika anak bangun beri anak jus buah yang
sudah dicairkan dengan air hangat. Minum jus buah akan membuat
anak menjadi lebih segar dan intake/pemasukan cairan ke dalam
tubuh anak lebih banyak tanpa disadari anak untuk menghindari
dehidrasi (kekurangan cairan yang berbahaya bagi kesehatan
anak). Kadang-kadang sahur dengan nasi terus menerus bosan, bisa
diganti dengan kentang goreng ala fried chicken yang terkenal
atau roti, siomay, bakso, yang penting gizi bisa masuk ke tubuh
anak.
Kedua, saat shoum.
Bapak, Ibu, dan keluarga yang sudah besar lainnya diharapkan
bekerja sama menjadikan rumah bersuasana puasa dengan tidak
meletakkan makanan di tempat terbuka. Anak-anak akan tahu dengan
sendirinya, bahwa ada yang berubah di rumah ketika pagi dan
siang hari.
Tidak ada yang makan di depan anak yang menjadi peserta
pelatihan, termasuk tidak menyuapi adik dihadapan para peserta.
Menjauhkan dari teman-teman yang tidak puasa.
Menjelaskan kepada guru bahwa ia puasa, dengan harapan guru
maklum dan dapat membantu memberikan dorongan.
Bila anak merengek lapar besarkan hatinya, siapkan stok cerita
sebanyak-banyaknya, ajak bermain atau kegiatan kreativitas yang
tidak banyak membuang energi.
Siang hari upayakan untuk bisa tidur siang dengan anak sambil
sebelumnya bercengkerama di tempat tidur.
Buatlah jadwal imsakiyah khusus untuknya, dengan gambar dan
warna-warna yang menarik yang berfungsi pula untuk menghitung
telah berapa hari ia shoum. Dan setiap bertambah satu hari
balaslah dengan dekapan mesra, ciuman, pujian, atau hadiah
sederhana yang dia inginkan.
Tetap waspada dengan situasi dan kondisi anak selama masa
pelatihan. Karena bagaimana pun shoum/puasa itu bagi yang dewasa
dirasa berat apalagi anak-anak. Meskipun demikian jangan terlalu
khawatir dengan keadaan anak. Jika sahurnya cukup air/cairan dan
makanan insya Allah anak tidak akan mengalami dehidrasi
(kekurangan air) dan kekurangan energi.
Berikan hadiah yang menarik dan bermanfaat di akhir Romadhon
sesuai dengan prestasi masing-masing anak. Boleh memberikan
hadiah uang untuk menghargai prestasi ibadah shoum anak.
Ketiga, saat berbuka.
Sediakan makanan yang manis-manis terutama korma (3 butir korma
sama dengan 2.000 kalori) bisa ditambah kolak dan jus buah.
Kadang setelah makan yang manis-manis selera makan nasi dan
lauknya jadi berkurang karena sudah terasa kenyang. Siapkan saja
makanan untuk anak-anak setelah pulang sholat tarawih – biasanya
anak merasa lapar. Atau kurangi kolaknya atau bisa juga
disiasati dengan menanyakan kepada anak menu kesukaannya untuk
berbuka puasa. Dengan tetap berpatokan pada full gizi dan aman
bagi kesehatan (tidak terlalu asam, dingin, dan pedas) dan cukup
cairan. Ajaklah anak untuk berpartisipasi menyiapkan acara
berbuka.
Perlu juga dipikirkan untuk mengajak anak-anak terbiasa dengan
suasana masjid di malam hari bulan Romadhon. Kalau dimungkinkan
ajaklah mereka sholat bersama atau ikutkan mereka dalam suasana
suka cita di masjid. Biarkan mereka menikmati dan melihat orang-
orang asyik berzikir, bertilawah, sujud dan sebagainya. Anak-
anak akan mengingat suasana ini sampai ia besar. Dan apabila
mereka terbiasa, ini memudahkan kita untuk mensosialisasikan
ajaran Allah lainnya.
Penutup
Mengharapkan anak sholih dan sholihah membutuhkan serangkaian
rencana, persiapan dan tingkah laku nyata dalam pendidikan
selain do’a. Melatih anak shoum sejak dini merupakan salah satu
contoh kesungguhan orang tua untuk mewujudkan harapan yang mulia
itu.
Menganjurkan anak shoum ibarat menabur benih di sawah yang hasil
panennya tidak dapat langsung dan segera diperoleh melainkan
melalui proses dan membutuhkan waktu. Peranan orang tua dalam
hal ini dibutuhkan dan berpengaruh besar terhadap penghayatan
dan pemahaman ibadah shoum pada anak. Adalah sesuatu yang
mustahil bila orang tua mengharapkan anaknya taat kepada Allah
SWT, sementara orang tua tidak menganjurkan, mengarahkan, dan
mencontohkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semakin besar kesadaran peran orang tua dalam pembentukan
kepribadian, konsep diri, citra diri dan penanaman nilai-nilai
agama pada diri anak, insya Allah akan semakin besar pula
kesungguhan dan kesabaran orang tua dalam mendidik anak.
Disertai dengan do’a yang tak kunjung putus dimohonkan kepada
Allah semoga akan lahir generasi Islam yang kenyang iman, tinggi
ilmu, kuat amalnya, serta luhur budi pekertinya. Amin.
“Ya, Robb kami anugerahkanlah kami isteri-isteri kami sebagai
penyenang hari dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang
yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)
Wallahu a’lam bishowab.
http://fafaahmad.wordpress.com
Diposkan oleh Bang IT di 10:14
ntoh Doa Qunut Nazilah atas Tragedi Penyerangan Kapal Kemanusian MAVI
MARMARA

Ditulis oleh Administrator


Tuesday, 01 June 2010
Contoh Doa Qunut Nazilah
atas Tragedi Penyerangan Kapal Kemanusian MAVI MARMARA
ْ‫شْمَلُهم‬
َ ‫ت‬ْ ‫شّت‬
َ ‫ الّلُهّم‬، ‫ك‬ َ ‫جُزوَن‬ِ ‫ل ُيْع‬ َ ‫ك ِبِهْم َفِإّنُهْم‬
َ ‫عَلْي‬
َ ‫ الّلُهّم‬، ‫طْين‬ ِ‫س‬ ْ ‫ي ِفِل‬ ْ ‫ن ِف‬
َ ‫سِلِمْي‬
ْ ‫خَواَنَنا اْلُم‬
ْ ‫ن َقَتُلوا ِإ‬
َ ‫ك ِباْلَيُهوِد اْلُمْعَتِدْين اّلِذْي‬
َ ‫عَلْي‬
َ ‫الّلُهّم‬
‫عاَوَنُهْم‬ َ ‫ن‬ْ ‫ى َم‬
َ ‫عل‬
َ ‫عَلْيِهْم َو‬
َ ‫ل‬ ْ ‫ الّلُهّم َأْنِز‬، ‫حدًا‬
َ ‫ل ُتَغاِدْر ِمْنُهْم َأ‬
َ ‫عَددًا َواْقُتْلُهْم َبَددًا َو‬
َ ‫صِهْم‬ ِ ‫ح‬ ْ ‫ الّلُهّم َأ‬، ‫عَلْيِهْم‬
َ ‫ل الّداِئَرَة‬ ِ ‫جَع‬ ْ ‫جمَْعُهْم َوا‬َ ‫ق‬ ْ ‫َوَفّر‬
‫ظاِلِمْين‬
ّ ‫ن اْلَقْوِم ال‬ ِ‫ع‬َ ‫ل ُيَرّد‬ َ ‫ك اّلِذي‬ َ‫س‬َ ‫َبْأ‬

Ya Allah turunkanlah hukumanMu atas kaum Yahudi yang telah melakukan kezhaliman dengan
membunuh saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina, Ya Allah hukumlah mereka
sesungguhnya mereka tak mampu melemahkanMu, Ya Allah cerai beraikan mereka porak
porandakan kesatuan mereka dan turunkanlah balasanMu atas mereka, Ya Allah kumpukan dan
binasakanlah mereka dan jangalah Kamu sisakan sedikitpun dari mereka, Ya Allah turunkanlah
atas mereka dan semua pihak yang membantu mereka balasanMu yang tidak dapat ditolak oleh
kaum pembuat kezhaliman

ْ ‫ الّلُهّم َتَقّب‬، ‫صاِر‬


‫ل‬ َ ‫ح‬ِ ‫ق َواْل‬ِ ‫ضْي‬ّ ‫ن ال‬ َ ‫جُهْم ِم‬ْ ‫خِر‬
ْ ‫حْمُهْم َوَأ‬
َ ‫ف ِبِهْم َواْر‬
ْ ‫ط‬ ُ ‫ الّلُهّم اْل‬، ‫ن‬َ ‫طْي‬
ِ‫س‬ ْ ‫ي ِفِل‬
ْ ‫ن ِف‬
َِ ‫ضَعِفْي‬
ْ ‫سَت‬
ْ ‫سِلِمْين اْلُم‬
ْ ‫خَواَنَنا اْلُم‬
ْ ‫ج ِإ‬
ِ ‫الّلُهّم َأْن‬
َ ‫ل ِب‬
‫ك‬ ّ ‫ل ُقّوةَ ِإ‬
َ ‫ل َلُهْم َو‬
َ ‫حْو‬َ ‫ل‬
َ ‫عَلْيِهْم َفِإّنُه‬
َ ‫ن‬
ْ ‫ل َتُك‬
َ ‫ن َلُهْم َو‬ْ ‫ الّلُهّم ُك‬، ‫حى‬ َ ‫جْر‬َ ‫ضى َواْل‬ َ ‫ف ِمْنُهُم اْلَمْر‬ِ ‫ش‬ ْ ‫شَهَداَء َوا‬ ّ ‫ِمْنُهُم ال‬
Ya Allah selamatkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin yang lemah di Palestina, Ya Allah
sayangi dan kasihilah mereka dan keluarkanlah mereka dari isolasi dan keadaan sempit yang
mereka alami saat ini, Ya Allah terimalah syuhada mereka dan sembuhkanlah yang luka dan sakit
dari kalangan mereka, Ya Allah tetaplah bersama mereka dan jauhilah musuh-musuh mereka
karena tiada daya dan kekuatan bagi mereka kecuali dariMu

‫حْد‬
ّ ‫سْهَمُهْم َوَو‬
َ ‫سّدْد‬
َ ‫ الّلُهّم‬، ‫ن‬
َ ‫ن اْلُكّفاِر َواْلُمَناِفِقْي‬
َ ‫عاَوَنُهْم ِم‬
َ ‫ن‬
ْ ‫عَلى اْلَيُهْوِد َوَم‬
َ ‫صْرُهْم‬ ُ ‫ن الّلُهّم اْن‬
َ ‫طْي‬
ِ‫س‬ ْ ‫ي ِفِل‬
ْ ‫ن ِف‬
َ ‫جاِهِدْي‬َ ‫صِر اْلُم‬
ُ ‫الّلُهّم اْن‬
‫ي َياَقّيْوُم‬
ّ‫ح‬
َ ‫ق َيا‬ ّ‫ح‬ َ ‫عَلى اْل‬ َ ‫جَمْع َكِلَمَتُهْم‬ْ ‫صُفْوَفُهْم َوا‬
ُ

Ya Allah turunkanlah pertolonganMu buat kaum mujahidin di Palestina, Ya Allah tolonglah


mereka menghadapi kaum Yahudi dan penolong-penolong mereka dari kalangan kuffar dan kaum
munafiq, Ya Allah tepatkanlah bidikan mereka, rapatkanlah shaf perjuangan mereka dan
satukanlah kalimat mereka di atas kebenaran Ya Hayyu Ya Qayyum.

Sekilas Tentang Qunut Nazilah


Qunut, secara istilah adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani—rahimahullah,
"Suatu doa di dalam shalat pada tempat yang khusus dalam keadaan berdiri." (Fathul Bari,
2/490.) Dan nazilah artinya malapetaka atau musibah yang turun menimpa kaum muslimin dalam
bentuk gempa, banjir, peperangan, penganiayaan dan sebagainya.

Qunut nazilah adalah suatu hal yang disyariatkan dan amat disunnahkan ketika terjadi musibah
dan kezaliman.

Imam Syafi'i—rahimahullah—berkata, "Apabila turun musibah kepada kaum Muslimin,


disyariatkan membaca qunut nazilah pada seluruh shalat wajib." (Syarhus Sunnah karya Al-
Baghawi 2/279).

Soal lafal, tidak ada hadis dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam yang menunjukkan adanya doa
khusus dalam qunut nazilah. Karenanya, seseorang boleh berdoa dengan doa yang sesuai dengan
keadaan orang yang tertimpa musibah.
Lafal qunut di atas tidak semuanya dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam. Olehnya, tidak ada
keterkaitan dengannya apalagi menganggapnya sebagai doa yang disunnahkan. Dan bagi yang
mampu menyusun doa dalam bahasa Arab yang sesuai dengan keadaan musibah, tidak ada
larangan baginya untuk berdoa dengannya.

Di antara orang yang doanya mustajab adalah doa seorang Muslim terhadap saudaranya dari
tempat yang jauh. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam bersabda, artinya, “Tidaklah seorang
Muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak berada di hadapannya, maka malaikat yang
ditugaskan kepadanya berkata, "Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan".” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi berkata bahwa hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan seorang Muslim
mendoakan saudaranya dari tempat yang jauh. Jika seandainya dia mendoakan sejumlah atau
sekelompok umat Islam, maka ia tetap mendapatkan keutamaan tersebut. Karena itu, sebagian
ulama Salaf tatkala berdoa untuk diri sendiri, mereka menyertakan saudaranya dalam doa
tersebut, karena di samping terkabul, dia akan mendapatkan sesuatu semisalnya.

DOWNLOAD DOA QUNUT NAZILAH UKURAN BESAR


Terakhir Diperbaharui ( Tuesday, 01 June 2010 )